Anda di halaman 1dari 3

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pencegahan dan Pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
merupakan suatu upaya kegiatan untuk meminimalkan atau mencegah terjadinya infeksi
pada pasien. Ditinjau dari dapatnya infeksi dapat berasal dari komunitas (community
acquired ifection) atau berasal dari lingkugan rumah sakit (Hospital Acquired
Infections) yang sebelumya dikenal dengan istilah Infeksi Nosokomial dan diganti
dengan istilah baru yaitu “ Healthcare Associated Infections.
Infeksi Nosokomial ( HAIs) adalah komplikasi yang paling sering terjadi di pelayanan
kesehatan terutama rumah sakit. Menurut Center for Disease Control (CDC), 1.7
million pertahun, kematian 99.000 pertahun. Sedangkan data WHO, Insidens HAIs 3-
21% dengan rerata 9 %. United Kingdom (UK) pada tahun 2006 10% , Tahun 2005 Italy
6,7% , tahun 2006 France 6.7-7,4 %. Sedangkan di Indonesia belum ada data yang
akurat, dari hasil persentasi sangat rendah 0-1% surveilans. Di RS. Jantung Harapan
Kita, surveilans aktif dilaksanakan sejak tahun 2001.

Kasmad (2007) menyatakan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, kejadian


infeksi nosokomial jauh lebih tinggi. Menurut penelitian yang dilakukan di dua kota
besar Indonesia didapatkan angka kejadian infeksi nosokomial sekitar 39%-60%. Di
negara-negara berkembang terjadinya infeksi nosokomial tinggi karena kurangnya
pengawasan, praktek pencegahan yang buruk, pemakaian sumber terbatas yang tidak
tepat dan rumah sakit yang penuh sesak oleh pasien. Data survey yang dilakukan oleh
kelompok peneliti AMRIN (Anti Microbal Resistance In Indonesia ), di RSUP Dr.
Kariadi Semarang tahun 2002, angka kejadian infeksi luka operari profunda (Deep
Incisional) sebesar 3%, infeksi aliran darah primer (plebitis) sebesar 6% dan infeksi
saluran kemih merupakan angka kejadian yang paling tinggi yaitu sebesar 11%
Kasmad (2007) menyatakan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, kejadian
infeksi nosokomial jauh lebih tinggi. Menurut penelitian yang dilakukan di dua kota
besar Indonesia didapatkan angka kejadian infeksi nosokomial sekitar 39%-60%. Di
2

negara-negara berkembang terjadinya infeksi nosokomial tinggi karena kurangnya


pengawasan, praktek pencegahan yang buruk, pemakaian sumber terbatas yang tidak
tepat dan rumah sakit yang penuh sesak oleh pasien. Data survey yang dilakukan oleh
kelompok peneliti AMRIN (Anti Microbal Resistance In Indonesia ), di RSUP Dr.
Kariadi Semarang tahun 2002, angka kejadian infeksi luka operari profunda (Deep
Incisional) sebesar 3%, infeksi aliran darah primer (plebitis) sebesar 6% dan infeksi
saluran kemih merupakan angka kejadian yang paling tinggi yaitu sebesar 11%..
Menurut jurnal

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan pertanyaan
penelitian yaitu efektifitas aplikasi Bundle HAIs terhadap penurunan angka HAIs
A. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui sejauh mana efektifitas pengunaan Bundle VAP dan
IADP terhadap angka Infeksi Nosangan 5 moment terhadap infeksi Nosokomial
di ruang rawat intensive RSI Siti Rahmah.

2. Tujuan Khusus
a. Megetahui distribusi angka VAP dan IADP sebelum dilakukan pemantauan
memakai bundle HAIs.
b. Mengetahui perbedaan Sebelum dan sesudah dilakukan bundle HAIs
c. Mengetahui efek yang dominan
B. Manfaat Penelitian
1. Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi RSI Siti Rahmah
dalam menurunkan angka HAIs

2. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis tentang
Aplikasi Bundle HAIs
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelian selanjutnya.
3