Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEPERAWATAN JIWA

ASUHAN KEPERAWATAN WAHAM

DOSEN PEMBIMBING:

Ns.NOVI HERAWATI, S. Kep, M. Kep, Sp.Kep.jiwa

DISUSUN OLEH

OLEH KELOMPOK 4, III A

NISRINA NUR HANIFAH

NURFA RAHIM

PUJA OKTAFIA

PUTRI ADITYA ARIFANDA

RAHAYU PERMATA SARI

RETNO PUJI YANTI

RISKEN GANSEL

SRI AGUS UTAMI

YESSI CHANIA

POLTEKKES KEMENKES R.I PADANG

PRODI KEPERAWATAN SOLOK

TA 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.

Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Jiwa 1 yang di berikan oleh dosen
pengajar, penulis menyadari adanya berbagai kekurangan, baik dalam isi materi maupun
penyusunan kalimat.

Namun demikian, perbaikan merupakan hal yang berlanjut sehingga kritik dan saran
untuk menyempurnakan makalah ini sangat penulis harapkan. Penulis aturkan terimakasih
kepada dosen pembimbing penulis. yang telah memberi penjelasan kepada penulis yang telah
memberi doa dan dorongan kepada penulis dan teman-teman yang seperjuangan dengan
penulis.

Makalah ini penulis buat berdasarkan apa yang terkandung dalam asuhan keperawatan
tentang waham. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat, bagi yang membacanya
terutama bagi para perawat. Kritik dan saran sangat penulis harapkan, karena kita manusia
biasa yang tidak pernah luput dari salah dan dosa.

Solok, 19 Agustus 2019

Penulis
BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Modernisasi dan kemajuan teknologi membawa perubahan dalam cara berfikir


dam dalam pola hidup masyarakat luas. Sejalan dengan modernisasi dan kemajuan
tekhnologi, manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang akan membawa
konsekwensi di bidang kesehatan fisik dan jiwa. Perubahan-perubahan dalam
kehidupan seseorang, baik perubahan nilai budaya, perubahan system kemasyarakatan,
perkerjaan serta adanya ketegangan antara idealisme dan realitas, mengakibatkan
timbulnya stress. Bertambahnya stress dalam kehidupan tidak menyebabkan kematian
secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut menganggu produktivitas hidup
seseorang dan dapat menghambat pembangunan. Adannya perubahan dalam kehidupan
seseorang, membuat orang tersebut harus mengadakan adaptasi dan menanggulangi
stressor tersebut. Tetapi tidak semua orang mampu untuk menghadapi dan
menanggulangi stressor tersebut hal ini dapat menjadi sumber tekanan, frustasi dan
konflik yang akhirnya dapat menjadi stress baik fisik maupun mental. Kemampuan
dalam mengatasi masalah tersebut sangat tergantung pada kemampuan dan ketahanan
individu tersebut, sehingga tidak jarang pada beberapa individu akan timbul stress yang
memuncak bahkan mengarah pada gangguan jiwa.
Salah satu penyakit gangguan jiwa yang menyebabkan klien mengalami gangguan isi
pikir : waham Penyembuhan klien tidak saja dengan pemberian obat, tetapi lebih
penting adalah bagaimana perawatan yang diberikan dalam suasana lingkungan yang
therapiutik. Untuk itu perawat di tuntut memiliki ketrampilan yang khusus agar dapat
memberikan asuhan keperawatan secara optimal dengan menitik beratkan pada
keadaan psikososial tanpa mengabaikan fisiknya. Peran perawat dalam perawatan klien
dengan gangguan jiwa sangat penting terutama dalam memenuhi dan berupaya
seoptimal mungkin mengorentasikan klien ke dalam realita, dengan cara menciptakan
lingkungan yang terapiutik, melibatkan keluarga, menjelaskan pola prilaku klien (untuk
diskusi membagi pengalaman, mengatasi masalah klien), menganjurkan kunjungan
keluarga secara teratur.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian waham?
2. Apakah penyebab waham?
3. Apakah tanda dan gejala waham?
4. Apakah faktor presdisposisi?
5. Apakah faktor presipitasi?
6. Apa saja macam-macam waham?
7. Bagaimana penanganan masalah waham?
8. Seperti apa pohon masalah waham?
9. Bagaimana tindakan Keperawatan waham?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian waham
2. Untuk mengetahui penyebab waham
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala waham
4. Untuk mengetahui apa saja faktor predisposisi waham
5. Untuk mengetahui apa saja faktor presipitasi waham
6. Untuk mengetahui macam-macam waham
7. Untuk mengetahui penanganan masalah waham
8. Untuk mengetahui pohon masalah waham
9. Untuk mengetahui tindakan keperawatan waham

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian.
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang
salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar
belakang budaya klien.
Waham merupakan suatu kenyakinan yang salah yang secara kokoh
dipertahankan walaupun tidak dinyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan
realitas sosial.
. Waham adalah keyakinan terhadap sesuatu yang salah dan segera kukuh di
pertahankan walau pun tidak di yakini oleh orang lain yang bertentangan dengan
realita normal (Stuart dan sundeen,1998)

2. Proses Terjadinya Masalah


a) Penyebab
Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri
rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif
terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa
gagal mencapai keinginan.

b) Akibat
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang
ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi,
pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat
yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan
lingkungan.

3. Tanda Dan Gejala Waham


Tanda dan gejala waham antara lain :
a. Menyatakan dirinya orang besar
b. Mempunyai kekuatan pendidikan atau kekayaan yang luar biasa
c. Menyatakan perasaan di kejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang
d. Mengatakan perasaan mengenai penyakit yang ada di dalam tubuhnya
e. Menarik diri dan isolasi
f. Sulit menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain,
g. Rasa curiga yang berlebihan
h. Kecemasan meningkat
i. Sulit tidur
j. Suara monoton
k. Eksperi wajah datar
l. Kadang tertawa atau menangis sendiri
m. Rasa tidak percaya pada orang lain.

4. Faktor Presdisposisi
a) Faktor perkembangan
Hambatan perkembangan akan menggangu hubungan interpersonal seseorang.
Hal ini dapat meningkatkan stress dan ansietas yang berakir dengan gangguan
presepsi, klien menekankan perasaan nya sehingga pematangan fungsi
intelektual dan emosi tidak efektif

b) Faktor sosial budaya


Seseorang yang merasa di asingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbul
nya waham

c) Faktor psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda bertentangan dapat menimbulkan
ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan

d) Faktor biologis
Waham di yakini terjadi karena ada nya atrofi otak, pembesaran ventrikel di
otak atau perubahan pada sel kortikal dan lindik

e) Faktor genetik

5. Faktor Presipitasi

a. Faktor sosial budaya


Waham dapat di picu karena ada nya perpisahan dengan orang yang berarti atau di
asingkan dari kelompok.

b. Faktor biokimia
Dopamin, norepinepin, dan zat halusinogen lain nya di duga dapat menjadi
penyebab waham pada seseorang

c. Faktor psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasan nya kemampuan untuk mengatasi
masalah sehingga klien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang
menyenagkan.

6. Macam – Macam Waham

a. Waham agama
Kenyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, di ucapkan berulang-ulang
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan,
contoh : “ kalau saya mau masuk surga saya harus mengunakan pakaian putih setiap
hari “, atau klien mengatakan bahwa diri nya adalah tuhan yang dapat mengendalikan
mahkluk nya

·
b. Waham kebesaran
Keyakinan secara berlebihan bahwa diri nya memiliki kekuatan khusus atau
kelebihan yang berbeda dengan orang lain, di ucapkan berulang-ulang tetapi tidak
sesuai dengan kenyataan.
Contoh : “ saya ini pejabat di departemen kesehatan lhooooo........”
“ saya punya tambang emas !”

c. Waham curiga
Keyakinan bahwa seseorang tau sekelompok orang berusaha merugikan atau
mencederai diri nya, di ucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh : “ saya tau ...........semua saudara saya ingin menghancurkan hidup saya
karena mereka semua iri dengan kesuksesan yang di alami saya”.

d. Waham somatik
Keyakinan seseorang bahwa tubuh tau bagian tubuh nya terganggu atau terserang
penyakit, di ucapkan berulag-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan .
Contoh :” klien selalu mengatakan bahwa diri nya sakit kanker,namun setelah di
lakukan pemeriksaa laboraturium tidak di temuka ada nya sel kanker pada tubuh nya.

e. Waham nihilistik
Keyakinan seseorang bahwa diri nya sudah meninggal dunia, di ucapkan berulang-
ulang tetapi tidak sesuai denga kenyataan
Contoh :” ini akan alam kubur nya, semua yang ada di sini adalah roh-roh”.

7. Penanganan Medis

a) Terapi kejang listrik


Terapi kejang listrik adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang grandmall secara
artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang pada satu
atau dua temples, terapi kejang listrik dapat diberikan pada skizoprenia yang tidak
mempan dengan terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi kejang listrik 4-5
joule/detik.

b) Psikoterapi dan Rehabilitasi


Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat membantu karena berhubungan
dengan praktis dengan maksud mempersiapkan klien kembali ke masyarakat, selain itu
terapi kerja sangat baik untuk mendorong klien bergaul dengan orang lain, klien lain,
perawat dan dokter. Maksudnya supaya klien tidak mengasingkan diri karena dapat
membentuk kebiasaan yang kurang baik, dianjurkan untuk mengadakan permainan
atau latihan bersama.

8. Sensori dan kognisi


Tidak memiliki kelainan dalam orientasi kecuali klien waham spesifik terhadap
orang, tempat, dan waktu. Daya ingat atau kognisi lain biasa nya akurat.
Pengendaliaan implus pada klien waham perlu di perhatikan bila terlihat ada nya
rencana untuk bunuh diri, membunuh, atau melakukan kekerasan pada orang
lain.
Gangguan proses pikir : waham biasa nya di awali dengan ada nya
riwayat penyakit berupa kerusakan pada bagian kortkes dan lindik otak. Bisa di
karena kan terjatuh atau di dapat ketika lahir. Hal ini mendukung terjadi nya
perubuhan emosional seseoramg yang tidak stabil. Bila berkepanjangan akan
menimbulkan perasaan rendah diri, kemudian mengisolasi diri dari orang lain
dan lingkungan. Waham kebesaran akan timbul sebagai manivestasi
ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan nya. Bila respon
lingkungan kurang mendukung terhadap prilaku nya di mungkinkan aka timbul
resiko prilaku kekerasan pada orang lain.

9. Pohon masalah

Kerusakan Resiko tinggi


komunikasi verbal mencederai diri, orang
lain dan lingkungan

Perubahan isi
pikir: waham

Perilaku kekerasan
KONSEP DASAR KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
a. Identifikasi klien

Perawat yang merawat klien melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang:
Nama klien, panggilan klien, Nama perawat, tujuan, waktu pertemuan, topik
pembicaraan.
b. Keluhan utama / alasan masuk

Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang ke
Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah dan
perkembangan yang dicapai.
1) Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa
pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik, seksual,
penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal.
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin mengakibatkan
terjadinya gangguan:

1. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon psikologis dari klien.
2. Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan
dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-
anak.
3. Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan,
kerusuhan, kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress
yang menumpuk.

Intervensi Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI


1 proses pikir: waham 1. Klien dapat 1. Bina hubungan
berhubungan membina saling percaya :
dengan harga diri hubungan saling salam terapeutik,
rendah percaya perkenalan diri,
jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan
lingkungan yang
tenang, buat kontrak
yang jelas (waktu,
tempat dan topik
pembicaraan)
2. Beri kesempatan
pada klien untuk
mengungkapkan
perasaannya.
3. Sediakan waktu
untuk
mendengarkan klien
4. Katakan kepada
klien bahwa dirinya
adalah seseorang
yang berharga dan
bertanggung jawab
serta mampu
menolong dirinya
sendiri.
2. Klien dapat 1. Klien dapat menilai
mengidentifikasi kemampuan yang
kemampuan dan dapat Diskusikan
aspek positif kemampuan dan
yang dimiliki aspek positif yang
dimiliki
2. Hindarkan memberi
penilaian negatif
setiap bertemu
klien, utamakan
memberi pujian
yang realistis

3. Klien dapat menilai


kemampuan dan
aspek positif yang
dimiliki
3. Klien dapat 1. Diskusikan
menilai kemampuan dan
kemampuan aspek positif yang
yang dapat dimiliki
digunakan.
2. Diskusikan pula
kemampuan yang
dapat dilanjutkan
setelah pulang ke
rumah
4. Klien dapat 1. Rencanakan
menetapkan / bersama klien
merencanakan aktivitas yang dapat
kegiatan sesuai dilakukan setiap
dengan hari sesuai
kemampuan kemampuan
yang dimiliki 2. Tingkatkan kegiatan
sesuai dengan
toleransi kondisi
klien
3. Beri contoh cara
pelaksanaan
kegiatan yang boleh
klien lakukan

5. Klien dapat 1. Beri kesempatan


melakukan mencoba kegiatan
kegiatan sesuai yang telah
kondisi dan direncanakan
kemampuan 2. Beri pujian atas
keberhasilan klien
3. Diskusikan
kemungkinan
pelaksanaan di
rumah
6. Klien dapat 1. Beri pendidikan
memanfaatkan kesehatan pada
sistem keluarga tentang
pendukung yang cara merawat klien.
ada 2. Bantu keluarga
memberi dukungan
selama klien
dirawat.
3. Bantu keluarga
menyiapkan
lingkungan di
rumah.

4. Beri reinforcement
positif atas
keterlibatan
keluarga.
2 Resiko mencederai 1. Klien dapat 1. Bina hubungan
diri, orang lain dan membina saling percaya :
lingkungan hubungan saling salam terapeutik,
percaya dengan perkenalkan diri,
perawat. jelaskan tujuan
interaksi, ciptakan
lingkungan yang
tenang, buat kontrak
yang jelas (topik,
waktu, tempat).
2. Jangan membantah
dan mendukung
waham klien :
katakan perawat
menerima
keyakinan klien
"saya menerima
keyakinan anda"
disertai ekspresi
menerima, katakan
perawat tidak
mendukung disertai
ekspresi ragu dan
empati, tidak
membicarakan isi
waham klien.
3. Yakinkan klien
berada dalam
keadaan aman dan
terlindungi : katakan
perawat akan
menemani klien dan
klien berada di
tempat yang aman,
gunakan
keterbukaan dan
kejujuran jangan
tinggalkan klien
sendirian.
4. Observasi apakah
wahamnya
mengganggu
aktivitas harian dan
perawatan diri.

2. Klien dapat 1. Beri pujian pada


mengidentifikasi penampilan dan
kemampuan kemampuan klien
yang dimiliki yang realistis.
2. Diskusikan bersama
klien kemampuan
yang dimiliki pada
waktu lalu dan saat
ini yang realistis.
3. Tanyakan apa yang
biasa dilakukan
kemudian anjurkan
untuk
melakukannya saat
ini (kaitkan dengan
aktivitas sehari hari
dan perawatan diri).
4. Jika klien selalu
bicara tentang
wahamnya,
dengarkan sampai
kebutuhan waham
tidak ada.
Perlihatkan kepada
klien bahwa klien
sangat penting.

3. Klien dapat 1. Observasi


mengidentifikasi kebutuhan klien
kan kebutuhan sehari-hari.
yang tidak 2. Diskusikan
terpenuhi. kebutuhan klien
yang tidak terpenuhi
baik selama di
rumah maupun di
rumah sakit (rasa
sakit, cemas,
marah).
3. Hubungkan
kebutuhan yang
tidak terpenuhi dan
timbulnya waham.
4. Tingkatkan aktivitas
yang dapat
memenuhi
kebutuhan klien dan
memerlukan waktu
dan tenaga (buat
jadwal jika
mungkin).
5. Atur situasi agar
klien tidak
mempunyai waktu
untuk menggunakan
wahamnya.

4. Klien dapat 1. Rencanakan


berhubungan bersama klien
dengan realitas. aktivitas yang dapat
dilakukan setiap
hari sesuai
kemampuan
2. Tingkatkan kegiatan
sesuai dengan
toleransi kondisi
klien
3. Beri contoh cara
pelaksanaan
kegiatan yang boleh
klien lakukan

5. Klien dapat 1. Beri kesempatan


melakukan mencoba kegiatan
kegiatan sesuai yang telah
kondisi dan direncanakan
kemampuan 2. Beri pujian atas
keberhasilan klien
3. Diskusikan
kemungkinan
pelaksanaan di
rumah
6. Klien dapat 1. Diskusikan dengan
dukungan dari keluarga melalui
keluarga. pertemuan keluarga
tentang : gejala
waham, cara
merawat klien,
lingkungan keluarga
dan follow up obat.
2. Beri reinforcement
atas keterlibatan
keluarga

Evaluasi
1. Klien percaya dengan perawat, terbuka untuk ekspresi waham
2. Klien menyadari kaitan kebutuhan yg tdk terpenuhi dg keyakinannya (waham)
saat ini
3. Klien dapat melakukan upaya untuk mengontrol waham
4. Keluarga mendukung dan bersikap terapeutik terhadap klien
5. Klien menggunakan obat sesuai program
DAFTAR PUSTAKA

1. Aziz R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa.


Semarang: RSJD Dr. Amino Gondoutomo. 2003
2. Keliat Budi A. Proses keperawatan kesehatan jiwa.
Edisi 1. Jakarta: EGC. 1999
3. Tim Direktorat Keswa. Standart asuhan keperawatan
kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung: RSJP.2000
4. Stuart and sundeen, 1998, Buku Saku Keperawatan
Jiwa, Edisi 3 (Alih Bahasa), Achir Yani S, EGC, Jakarta