Anda di halaman 1dari 6

Berdasarkan analisis aspek demografis secara umum masalah urbanisasi belum sampai pada

kondisi kritis atau menghawatirkan, akan tetapi bila dilihat dari segi kecepatannya maka semesti
pemerintah memperhatikan atau melakukan tindakan antisipasi sejak awal, oleh karena itu
perhatian pemerintah harus diarahkan pada bagaimana mengontrol atau mengendalikan arus
urbanisasi sedemikian rupa sehingga selalu berjalan serasi dengan kemajuan di berbagai bidang
pembangunan yang ada.

Menurut Todaro (1997) berpendapat bahwa adapun strategi yang tepat untuk
menanggulangi persoalan migrasi dan kaitannya dengan kesempatan kerja secara komprehensif,
adalah sebagai berikut :
1. Penciptaan keseimbangan ekonomi yang memadai antara desa – kota.
Keseimbangan kesempatan ekonomi yang lebih layak antara desa dan kota merupakan suatu
unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam strategi untuk menanggulangi masalah
pengangguran di desa-desa maupun di perkotaan, jadi dalam hal ini perlu ada titik berat
pembangunan ke sektor perdesaan.
2. Perluasan industri-industri kecil yang padat karya.
Komposisi atau paduan output sangat mempengaruhi jangkauan kesempatan kerja karena
beberapa produk. Membutuhkan lebih banyak tenaga kerja bagi tiap unit output dan tiap unit
modal dari pada produk atau barang lainnya.
3. Penghapusan distorsi harga faktor-faktor produksi
Untuk meningkatkan kesempatan kerja dan memperbaiki penggunaan sumber daya modal
langka yang tersedia maka upaya untuk menghilangkan distorsi harga faktor produksi,
terutama melalui penghapusan berbagai subsidi modal dan menghentikan pembakuan tingkat
upah diatas harga pasar.
4. Pemilihan teknologi produksi padat karya yang tepat
Salah satu faktor utama yang menghambat keberhasilan setiap program penciptaan
kesempatan kerja dalam jangka panjang baik pada sektor industri di perkotaan maupun pada
sektor pertanian diperdesaan adalah terlalu besarnya kekaguman dan kepercayaan pemerintah
dari negara-negara dunia ketiga terhadap mesin-mesin dan aneka peralatan yang canggih
(biasanya hemat tenaga kerja) yang diimpor dari negara-negara maju.
5. Pengubahan keterkaitan langsung antara pendidikan dan kesempatan kerja.
Munculnya fenomena “pengangguran berpendidikan” dibanyak negara berkembang
mengundang berbagai pertanyaan tentang kelayakan pengembangan pendidikan khususnya
pendidikan tinggi secara besar-besaran yang terkadang kelewat berlebihan.
6. Pengurangan laju pertumbuhan penduduk melalui upaya pengentasan kemiskinan absolut
dan perbaikan distribusi pendapatan yang disertai dengan penggalakan program keluarga
berencana dan penyediaan pelayanan kesehatan di daerah perdesaan.
8. Bagaimana cara mensinergikan kawasan perkotaan dan perdesaan yang telah berimpit akibat
perkembangan kawasan sehingga dapat tumbuh dan berkembang menjadi kawasan yang
memakmurkan penghuninya

Jawab

Dengan menerapkan pembangunan Desa-Kota.

Kebutuhan untuk menerapkan konsep pembangunan desa-kota dapat dipastikan selalui berkaitan
dengan konsep pembangunan perdesaan dan pembangunan perkotaan. Sehubungan dengan itu,
perlu dipahami terlebih dahulu masing-masing konsep tersebut sesuai dengan karakter dan
fungsinya. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyia kegiatan utama pertanian,
termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Pusat perdesaan merupakan pusat pelayanan yang secara langsung daoat meningkatkan produksi
pertanian, pelayanan sosial maupun ekonomi desa

10. Bagaimana pandangan Anda mengenai Visi-Misi Nawacita Pemerintahan Jokowi-JK yang
menyatakan komitmennya "Membangun dari Pinggir" yakni dengan meningkatkan
pembangunan di daerah pedesaan, daerah terpencil, dan tertinggal, apakah hal tersebut sudah
tepat? Lalu, untuk mewujudkan Visi Misi tersebut, apa saja yang perlu dilakukan oleh
pemerintah pusat dan daerah? Berikan argumentasi Anda

Jawab

Pembangunan desa yang dikaitakan dalam satu kontinum dengan wilayah kota di Indonesia,
menemukan momentumnya kembali, pada saat Pemerintahan Jokowi-JK mencanangkan Nawa
Cita. Nawa Cita yang ketiga menyatakan bahwa pembangunan Indonesia dari wilayah penggiran
dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Pembangunan
dari pinggiran seperti yang sedang digalakkan oleh Presiden Joko Widodo pada hakekatnya
sejalan dengan pembangunan lokal, dimana wilayah kota atau desa di pinggiran harus memiliki
daya saing untuk suatu kegiatan ekonomi tertentu dengan melibatkan seluruh pemangku
kepentingan, dan diinisiasi secara lokal. Makna wilayah desa kota yang dikemukakan pada
dasarnya adalah agar terjadi hubungan fungsional jejaring desa dengan kota, serta pemunculan
desa-desa yang telah memiliki ciri serta kegiatan perkotaan, yang memiliki potensi sebagai
pendorong pertumbuhan bagi wilayah dimana desa kota itu berada. Namun fakta membuktikan
bahwa perjalanan perkembangan desa-kota sebagai ruang kehidupan tidak sejajar, bahkan
cenderung melebar sebagai persoalan kesenjangan desa-kota yang kronis dan laten
3. Apa ciri-ciri yang menonjol dari wilayah
Kota?

Jawab
1. Kota Ditinjau dari Aspek Fisik

a. bangunan-bangunan dan kegiatan-kegiatan yang berada di permukaan tanah, atau


dekat dengan muka tanah;
b. Instalasi-instalasi di bawah permukaan tanah; dan
c. Kegiatan-kegiatan di dalam ruangan kosong di angkasa. Pada skala yang lebih
luas, bentuk kota secara keseluruhan mencerminkan posisinya secara geografis
dan karakteristik tempatnya

2. Kota Ditinjau dari Aspek Sosial


perkotaan menurut aspek sosial merupakan konsentrasi penduduk yang membentuk
suatu komunitas yang pada awalnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas
melalui konsentrasi dan spesialisasi tenaga kerja dan meningkatkan adanya diversitas
intelektual, kebudayaan dan kegiatan rekreatif di kota-kota. Aspek yang berpengaruh
terhadap hal ini adalah (a) besaran dan komposisi penduduk dan (b) ke ruangan.

3. Kota Ditinjau dari Aspek Ekonomi


kota dan perkotaan menurut aspek ekonomi, berarti kota memiliki fungsi sebagai
penghasil produksi barang dan jasa, untuk mendukung kehidupan penduduknya dan
untuk keberlangsungan kota itu sendiri. Ekonomi perkotaan dapat ditinjau dari tiga
bagian yaitu ekonomi publik, ekonomi swasta (privat), dan ekonomi khusus
7. Kebijakan apa saja yang perlu dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah terjadinya
urbanisasi yang tak terkendali?

Jawab
Menurut Todaro (1997) strategi yang tepat untuk menanggulangi persoalan migrasi dan
kaitannya dengan kesempatan kerja secara komprehensif, adalah:
1. Penciptaan keseimbangan ekonomi yang memadai antara desa – kota.
Keseimbangan kesempatan ekonomi yang lebih layak antara desa dan kota merupakan suatu
unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam strategi untuk menanggulangi masalah
pengangguran di desa-desa maupun di perkotaan, jadi dalam hal ini perlu ada titik berat
pembangunan ke sektor perdesaan.
2. Perluasan industri-industri kecil yang padat karya.
Komposisi atau paduan output sangat mempengaruhi jangkauan kesempatan kerja karena
beberapa produk. Membutuhkan lebih banyak tenaga kerja bagi tiap unit output dan tiap unit
modal dari pada produk atau barang lainnya.
3. Penghapusan distorsi harga faktor-faktor produksi
Untuk meningkatkan kesempatan kerja dan memperbaiki penggunaan sumber daya modal
langka yang tersedia maka upaya untuk menghilangkan distorsi harga faktor produksi,
terutama melalui penghapusan berbagai subsidi modal dan menghentikan pembakuan tingkat
upah diatas harga pasar.
4. Pemilihan teknologi produksi padat karya yang tepat
Salah satu faktor utama yang menghambat keberhasilan setiap program penciptaan
kesempatan kerja dalam jangka panjang baik pada sektor industri di perkotaan maupun pada
sektor pertanian diperdesaan adalah terlalu besarnya kekaguman dan kepercayaan pemerintah
dari negara-negara dunia ketiga terhadap mesin-mesin dan aneka peralatan yang canggih
(biasanya hemat tenaga kerja) yang diimpor dari negara-negara maju.
5. Pengubahan keterkaitan langsung antara pendidikan dan kesempatan kerja.
Munculnya fenomena “pengangguran berpendidikan” dibanyak negara berkembang
mengundang berbagai pertanyaan tentang kelayakan pengembangan pendidikan khususnya
pendidikan tinggi secara besar-besaran yang terkadang kelewat berlebihan.
6. Pengurangan laju pertumbuhan penduduk melalui upaya pengentasan kemiskinan absolut dan
perbaikan distribusi pendapatan yang disertai dengan penggalakan program keluarga
berencana dan penyediaan pelayanan kesehatan di daerah perdesaan.
3. Apa ciri-ciri yang menonjol dari wilayah
Kabupaten?

a. Memiliki wilayah yang relative luas


b. pencaharian penduduk, penduduk kabupaten umumnya bergerak di bidang pertanian atau
bersifat agraris
c. syarat Administrasi Minimal Terdiri dari 5 Kecamatan
d. kepadatan penduduk relative lebih rendah
e. PDRB relative rendah

Ciri fisik kota meliputi hal sebagai berikut:

 Tersedianya tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan


 Tersedianya tempat-tempat untuk parkir
 Terdapatnya sarana rekreasi dan sarana olahraga
Ciri kehidupan kota adalah sebagai berikut:

 Adanya pelapisan sosial ekonomi misalnya perbedaan tingkat penghasilan, tingkat


pendidikan dan jenis pekerjaan.
 Adanya jarak sosial dan kurangnya toleransi sosial di antara warganya.
 Adanya penilaian yang berbeda-beda terhadap suatu masalah dengan
pertimbangan perbedaan kepentingan, situasi dan kondisi kehidupan.
 Warga kota umumnya sangat menghargai waktu.
 Cara berpikir dan bertindak warga kota tampak lebih rasional dan berprinsip
ekonomi.
 Masyarakat kota lebih mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan sosial
disebabkan adanya keterbukaan terhadap pengaruh luar.
 Pada umumnya masyarakat kota lebih bersifat individu sedangkan sifat solidaritas
dan gotong royong sudah mulai tidak terasa lagi. (stereotip ini kemudian
menyebabkan penduduk kota dan pendatang mengambil sikap acuh tidak acuh dan
tidak peduli ketika berinteraksi dengan orang lain. Mereka mengabaikan fakta
bahwa masyarakat kota juga bisa ramah dan santun dalam berinteraksi).

4. Apakah perencanaan wilayah Kabupaten sama


dengan Kota ?

Jawab

Berdasarkan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007


TENTANG PENATAAN RUANG pasal 28 bahwa Ketentuan perencanaan tata ruang
wilayah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25, Pasal 26, dan Pasal 27 berlaku
mutatis mutandis untuk perencanaan tata ruang wilayah kota, dengan ketentuan selain
rincian dalam Pasal 26 ayat (1).