Anda di halaman 1dari 45

ANTIMIKROBA

DALAM
KEDOKTERAN GIGI
KELOMPOK 1 - KELAS E
1. Nindya Virya Kumala 201811106
ABOUT 2. Nisrina Nanda Rosiwan 201811107
3. Noviana Rosanti 201811110
US
4. Nurrohmah Khalifatul Ilmi 201811112
5. Nurul Azizah Paramitha 201811113
6. Putu Deyana Tirka Pratiwi 201811116
7. Ridzky Rainrisa Arief 201811122
8. Salsabila Putri Uno 201811125
Tujuan Penggunaan, Mekanisme Kerja,
Penggolongan, Indikasi,
Kontraindikasi, Dosis dan Efek
Samping Penggunaan ANTIBIOTIKA

TUJUAN PENGGUNAAN
ANTIBIOTIKA
Untuk mengatasi infeksi yang
disebabkan oleh bakteri. Meluasnya
penggunaan obat-obatan antibakteri telah
menyebabkan munculnya bakteri
multiresisten. Akibatnya, obat antibakteri
tidak dapat digunakan pada semua
bakteri.
Penggunaan antibiotik pada kasus
infeksi yang belum diketahui jenis bakteri
1. ANTIBIOTIK penyebabnya.
TERAPI
EMPIRIS Tujuan pemberian antibiotik untuk terapi
empiris adalah penghambatan
pertumbuhan bakteri yang diduga menjadi
penyebab infeksi, sebelum diperoleh hasil
pemeriksaan mikrobiologi.
Penggunaan antibiotik pada kasus infeksi

2. ANTIBIOTIK yang sudah diketahui jenis bakteri penyebab


dan pola resistensinya.
TERAPI
DEFINITIF Tujuan pemberian antibiotik untuk terapi
definitif adalah eradikasi atau
penghambatan pertumbuhan bakteri yang
menjadi penyebab infeksi, berdasarkan hasil
pemeriksaan mikrobiologi.
Pemberian antibiotik sebelum,

3. ANTIBIOTIK saat dan hingga 24 jam pasca

PROFILAKSI operasi pada kasus yang secara

BEDAH klinis tidak didapatkan tanda-tanda


infeksi.

Tujuannya untuk mencegah


terjadi infeksi luka operasi.

MEKANISME KERJA
ANTIBIOTIK
Antibiotika bekerja seperti pestisida,
yaitu menekan atau memutus satu
mata rantai metabolisme dengan
targetnya adalah bakteri.

Mekanisme kerja antibiotik terbagi


menjadi lima kelompok, yaitu :
Dinding sel mengandung peptidoglikan yang
1. Antibiotik yang lapisannya jauh lebih tebal pada dinding sel

menghambat gram positif daripada sel gram negatif.

sintesis dinding
Jika dinding sel mengalami kerusakan, maka
sel
akan terjadi lisis (pecah). Hal ini disebabkan oleh
tekanan osmotik dalam sel bakteri lebih besar
dibandingkan tekanan di luar sel.
Permeabilitas selektif dari membran sel mikroba
2. Antibiotik yang dapat terjadi kerusakan apabila tegangan
permukaan diubah oleh antibiotik. Akibatnya,
menghambat
aktivitas kemoteraupetik selektif dapat terjadi.
permeabilitas atau
fungsi membran sel
Peran antibiotik yaitu menghambat fungsi sel
yaitu azoles, polien, dan polimiksin. Membran sel
dapat dirusak oleh polimiksin setelah bereaksi
dengan fosfat pada fosfolipid membran sel
mikroba.
Sintesis protein berlangsung di ribosom, dengan

3. Antibiotik yang bantuan mRNA dan tRNA. Sel bakteri dan sel
mamalia memiliki perbedaan tipe ribosom,
menghambat sintesis
komposisi kimiawi, dan spesifitas fungsional.
protein sel mikroba

Aminoglikosida, tetrasiklin, makrolida atau


eritromisin, kloramfenikol, dan linkomisin terbukti
dapat menghambat sintesis protein melalui kerja
pada ribosom bakteri.
Antibiotik ini bekerja dengan efek
4. Antibiotik yang bakteriostatik. Mikroba membutuhkan asam
menghambat metabolisme folat untuk kelangsungan hidupnya. Bakteri
patogen harus mensintesis sendiri asam folat
sel mikroba
dari para amino benzoic acid(PABA).

Sulfonamida bersaing dengan PABA dalam


pembentukan asam folat sehingga mencegah
bergabung ke dalam folat.
Kebanyakan antibiotik yang menghambat
sintesis asam nukleat digunakan sebagai obat
5.Antibiotik yang antikanker ataupun sebagai antivirus karena
menghambat sintesis sifat sitotoksisitasnya.

asam nukleat sel mikroba


Oleh karena itu, obat antibiotik yang akan
dipaparkan yaitu rifampisin, dan golongan
kuinolon. Rifampisin berikatan dengan enzim
polimerase-RNA sehingga menghambat
sintesis RNA dan DNA.

PENGGOLONGAN, INDIKASI,
KONTRADIKSI, DOSIS
Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada :
1. Antibiotik yang bersifat menghambat
pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai
aktivitas bakteriostatik,
2. Antibiotik yang bersifat membunuh mikroba,
dikenal sebagai aktivitas bakterisid.

Antimikroba yang tertentu aktivitasnya dapat


meningkat dari bakteriostatik menjadi
bakterisid bila kadarnya ditingkatkan.
1. Penisilin
Indikasi: Mengatasi infeksi Bakteri
(radang tenggorokan)
Kontraindikasi: Alergi penisilin
Dosis: Sesuai anjuran dokter (biasanya
250-500 mg per 6 jam atau per 12 jam)
2. Sefalosporin

Indikasi: Mengatasi infeksi Bakteri


(infeksi kulit)
Kontraindikasi: Alergi sefalosporin
Dosis: Sesuai anjuran dokter (biasanya
250 mg (2x1) atau 500 mg (1x1)
3. Kloramfenikol

Indikasi: Mengatasi infeksi Bakteri (infeksi mata)


Kontraindikasi: Alergi kloramfenikol (kloramfenikol
hampir tidak digunakan lagi karena toksisitasnya
yang kuat, resistensi dan tersedianya obat-obat lain
yang lebih efektif.)
Dosis: Sesuai anjuran dokter (biasanya 1 tetes per 2
jam dengan dosis 0,5%)
4. Tetrasiklin

Indikasi: Mengatasi infeksi Bakteri


(infeksi saluran kemih)
Kontraindikasi: Alergi tetrasiklin
Dosis: Sesuai anjuran dokter (biasanya
250-500 mg empat kali sehari)
5. Aminoglikosida

Indikasi: Mengatasi infeksi Bakteri


(infeksi pseudomonas)
Kontraindikasi: Alergi aminoglikosida
Dosis: Sesuai anjuran dokter (biasanya
250-500 mg empat kali sehari)
6. Makrolida dan Linkomisin

Indikasi: Mengatasi infeksi Bakteri


(infeksi saluran pernapasan)
Kontraindikasi: Alergi Makrolida dan
Linkomisin
Dosis: Sesuai anjuran dokter (biasanya
500 gram (1x1)

EFEK SAMPING
PENGGUNAAN ANTIBIOTIK
2. REAKSI IDIOSINKRASI
1.REAKSI ALERGI
Gejala ini merupakan reaksi abnormal
yang diturunkan secara genetik terhadap
Reaksi alergi dapat ditimbulkan oleh
pemberian anti mikroba tertentu.
semua antibiotik dengan melibatkan
Sebagai contoh 10% pria berkulit hitam
sistem imun tubuh hospes.Terjadinya
akan mengalami anemia hemolitik berat
tidak tergantung pada besarnya dosis
bila mendapat primakuin. Ini disebabkan
obat.
mereka kekurangan enzim
glukosa-6-fosfat-dehidrogenase (G6PD).
3. REAKSI TOKSIK 4. PERUBAHAN BIOLOGIK
DAN METABOLIK
Efek toksik pada hospes ditimbulkan
oleh semua jenis antimikroba. Penggunaan antimikroba berspektrum
Tetrasiklin dapat mengganggu luas dapat mengganggu keseimbangan
pertumbuhan tulang dan gigi. Dalam ekologi mikro-flora normal tubuh
dosis besar obat ini bersifat sehingga jenis mikroba yang meningkat
hepatotoksik. populasinya dapat menjadi patogen.
Tujuan Penggunaan, Mekanisme Kerja,
Penggolongan, Indikasi,
Kontraindikasi, Dosis dan Efek
Samping Penggunaan ANTIJAMUR

TUJUAN DAN PENGGUNAAN
ANTIJAMUR
Antijamur adalah antibiotik yang mampu
menghambat hingga mematikan pertumbuhan
fungi. Antijamur mempunyai dua pengertian
yaitu fungisidal dan fungistatik. Fungisidal
didefinisikan sebagai suatu senyawa yang dapat
membunuh jamur, sedangkan fungistatik dapat
menghambat pertumbuhan jamur tanpa
mematikannya.

MEKANISME KERJA
ANTIJAMUR
Pada dinding sel fungi tidak mengandung
Merusak peptidoglikan, β-laktam maupun glikopeptida yang

Dinding Sel merupakan target aksi antibiotik. Namun demikian,


dinding sel fungi merupakan struktur multilayer yang
terdiri dari tiga komponen utama yaitu kitin, glukan
dan mannoprotein
Menghambat Biosintesis Kitin Menghambat Biosintesis
Biosintesis kitin dihambat Glukan
dengan cara memblok kerja Dalam biosintesis glukan,
enzim kitin sintase yang enzim 1, 3–β–glukan sintase
berperan dalam mengkatalisis glukosa menjadi
pembentukan kitin dari 2 glukosa UDP yang tidak larut
molekul serta berperan sebagai
UDP–N–asetilglukosamin. Co: sumber energi. Co:
Polyoxin D. Echinocandin B dan
Caspofungin.
Kelompok paling besar dengan variasi molekul
Antifungsi yang berhubungan dengan struktur membran sel. Ada

Polien sekitar 200 polien yang dihasilkan oleh Streptomyces


spp dan tidak beracun untuk penggunaan klinis serta
efektif sebagai antifungi sistemik.
Contoh : Amphotericin B, Nistatin, dan Pimaricin.

PENGGOLONGAN
ANTIJAMUR
Mikosis sistemik (infeksi jamur sistemik) terdiri dari

PENGGOLONGAN deep mycosis (misalnya aspergilosis, blastomikosis,

JAMUR MENURUT
koksidioidomikosis, kriptokokosis, histoplasmosis,
mukormikosis, parakoksidioidomikosis, dan kandidiasis) dan
LOKASI sub – cutan mycosis (misalnya,kromomikosis, misetoma, dan

INFEKSINYA sporottrikosis).
Dermatofit, yaitu infeksi jamur yang menyerang kulit,
rambut, dan kuku, biasanya disebabkan oleh epidermofiton
dan mikrosporum.
Mikosis mukokutan, yaitu infeksi jamur pada mukosa
dan lipatan kulit yang lembab, biasanya disebabkan oleh
kandida.
Menurut indikasi klinis obat – obat antijamur dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu:

Antijamur untuk infeksi Antijamur untuk infeksi dermatofit dan


mukokutan
sistemik
termasuk griseofulfin, golongan imidazol
termasuk: amfoterisin B, (mikonazol, klotrimazol, ekonazol, isokonazol,
flusitosin, imidazol tiokonazol, dan bifonazol), nistatin, tolnaftat,

(ketokonazol, flukonazol, dan antijamur topikal lainnya (kandisidin,


asam undesilenat, dan natamisin).
mikonazol), dan
.
hidroksistilbamidin.

MACAM - MACAM INDIKASI
DAN KONTRADIKSI
ANTIJAMUR
Ketokonazol Ketokonazol terutama efektif terhadap histoplasmosis
1. Antijamur
paru, tulang, sendi, dan jaringan lemak. Obat ini efektif untuk

infeksi sistemik kriptokokosis nonmeningeal, parakoksidioidomikosis, beberapa bentuk


koksdioidomikosis, dermatomikosis, dan kandidosis (mukokutan,
(Golongan vaginal, dan rongga mulut).
Flukonazol Menurut FDA flukonazol efektif untuk mengatasi
Azol)
kandidiasis oral atau esophageal, criptococcal meningitis dan pada
penelitian lain dinyatakan efektif pada sporotrikosis (limfokutaneus
dan visceral). Flukonazol ditoleransi baik oleh geriatrik kecuali
dengan gangguan ginjal. Obat ini termasuk kategori C, sehingga tidak
direkomendasikan untuk wanita hamil dan menyusui.
Griseofulvin Griseofulvin berukuran mikro dengan dosis 1 gram / hari

2. Antijamur akan menghasilkan kadar dalam darah 0,5 – 1,5 mcg/ml. Griseofulvin
berukuran ultramikro diabsorpsi 2 kali lebih baik dari senyawa
untuk infeksi berukuran mikro. Metabolisme terjadi di hati. Metabolit utamanya
adalah 6- metilgriseofulvin. Waktu paruhnya kira – kira 24 jam.
dermatofit Mikonazol Pengobatan kandidiasis vaginalis diberikan dosis 200
selama 7 hari atau 100 mg selama 14 hari yang dimasukkan ke dalam
vagina. Pengobatan kandidiasis oral, diberikanoral gel (25 mg) 4 kali
sehari. Pengobatan infeksi jamur pada kulit digunakan mikonazol krim
2%, dosis dan lamanya pengobatan tergantung dari kondisi pasien.

DOSIS
● KETOKONAZOL
Dosis ketokonazol yang diberikan pada dewasa 400 mg/hari sedangkan dosis untuk

1.Antijamur anak-anak 3,3-6,6 mg/kgBB dosis tunggal. Lama pengobatan untuk tinea korporis
dan tinea kruris selama 2-4 minggu, 5 hari untuk kandida vulvovaginitis, 2 minggu
infeksi sistemik untuk kandida esofagitis, tinea versikolor selama 5-10 hari, 6-12 bulan untuk

(Golongan Azol)
mikosis dalam.

● FLUKONAZOL
Penggunaan untuk orang dewasa dan kandidiasis vagina adalah 150 mg dosis
tunggal. Pada kandidiasis vulvovaginal rekuren 150 mg tiap minggu selama 6 bulan
atau lebih. Tinea pedis dengan 150 mg tiap minggu selama 3-4 minggu, dengan
75% perbaikan pada minggu ke-4. Pada terapi onikomikosis, terbinafin 250 mg
sehari selama 12 minggu lebih utama dibandingkan flukonazol 150 mg tiap minggu
selama 24 minggu. Pada pitiriasis versikolor digunakan 400 mg dosis tunggal.

EFEK SAMPING
1. Antijamur
infeksi sistemik Flukonazol Ketokonazol
Efek samping yang sering adalah Anoreksia, mual dan muntah

(Golongan masalah gastrointestinal seperti merupakan efek samping yang sering


dijumpai terjadi pada 20% pasien yang
mual, muntah, diare, nyeri

Azol) abdomen dan juga sakit kepala. mendapat dosis 400 mg/hari. Alergi
dapat terjadi pada 4% pasien, dan gatal
Selain itu hipersensitivitas,
tanpa rash terjadi sekitar 2% pada
agranulositosis, sindroma Stevens
pasien yang diterapi ketokonazol.
Johnsons, hepatotoksik,
Hepatitis drug induced dapat terjadi
trombositopenia dan efek pada
pada beberapa hari pemberian terapi
sistem saraf pusat. atau dapat terjadi berbulan-bulan
setelah pemberian terapi ketokonazol.
2. Antijamur Mikonazol Griseofulvin
Efek samping pemakaian
untuk infeksi topikal vagina adalah rasa
Efek samping griseofulvin
biasanya ringan berupa sakit
terbakar, gatal atau iritasi 7%
dermatofit
kepala, mual, muntah, dan
kadang-kadang terjadi kram nyeri abdomen. Timbulnya
di daerah pelvis (0,2%), sakit reaksi urtikaria dan erupsi kulit
kepala, urtika, atau skin rash. dapat terjadi pada sebagian
Iritasi, rasa terbakar dan pasien.
maserasi jarang terjadi pada
pemakaian kutaneus.

THANK YOU :)