Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pengelolaan B3 adalah kegiatan yang menghasilkan, mengangkut,
mengedarkan,menyimpan,menggunakan dan atau membuang B
3.Penyimpanan B3 adalah teknik kegiatan penempatan B3 untuk
menjaga kualitas dan kuantitas B3 dan atau mencegah dampak negative
B3 terhadap lingkungan hidup,kesehatan manusia,dan makhluk
hiduplainnya .Pengemasan B3 adalah kegiatan mengemas,mengisi atau
memasukkan B3 kedalam satu wadah dan atau kemasan,menutup dan
atau menyegelnya.Baik pengelolaan,penyimpanan,maupun pengemasan
B3 harus dilakukan sedemikian rrupa sesuai dengan aturan untuk
menghindari terjadinya bahaya.

B3 dapat diklasifikasikan sebagai berikut :


Mudah meledak (eksposive),pengoksidasi (oxidizing),sangat mudah sekali
menyala (extremely flammable),sangat mudah menyala (highly
flammable),mudah menyala (flammable),amat sangat beracun (extremely
toxic),sangat beracun (highly toxic),beracun (moderately toxic) ,berbahaya
(hamful),korosif (corrosive),bersifat iritasi (irritant),berbahaya bagi
lingkungan (dangerous to the environment),karsinogenik
(carsinogenic),teratogenik ( teratogenic ),mutagenic ( mutagenic ).
Narkotika dan psikotropika dapat merugikan apabila disalah gunakan
atau digunakan tanpa pengendalian dan pengawasan yang ketat.salah
satu efek samping dari pemakaian obat ini yaitu seseorang dapat
mengalami ketergantugan berat terhadap obat dan dapat menyebabkan
fungsi vital organ tubuh bekerja secara tidak normal seperti
jantung,peredaran darah,pernafasan,dan terutama padaa kerjaa otak (
susunan saraf pusat )

Pengelolaan sediaan farmasi dan alat kesehatan harus


aman,bermanfaat,bermutu dan terjangkau bagi seluruh masyarakat
,serta pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan diselenggarakan
untuk melindungiseluruh masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh
penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi
persyaratan mutu dan keamanan.Oleh karena itu,pengelolaan bahan
berbahaya dan beracun,narkotika,serta sikotropika harus diataur dan
diawasi.

B. TUJUAN
1. Menghindari bahaya B 3 terhadap petugas,makluk hidup
lain,maupun terhadap lingkungan.
2. Menjamin ketersediaan B 3 ,narkotika dan psikotropika untuk
kepentingan pelayanan kesehatan.
3. Melindungi narkotika dan psikotropika dari pencurian.
4. Mencegah terjadinya penyalah gunaan narkotika dan psikotropika.
5. Memelihara mutu B 3,narkotika,dan psikotropika yang akan
digunakan untuk pelayanan kesehatan.

C. PENGERTIAN
1. Bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat dengan B3
adalah bahan yang karena sifatnya dan atau konsentrasinya dan
ataujumlahnya,baik secara langsung maupun tidak langsung,dan
dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup,dan atau
dapat membahayakan lingkungan hidup,kesehatan,kelangsungan
hidup manusiaserta makhluk hidup lainnya
2. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan
tanaman,baik sintetis maupun semi sintetis,yang dapat menyebabkan
penurunan atau perubahan kesadaran,hilangnya rasa,mengurangi
sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan yang dibedakan kedalam golongan sebagaimana
terlampir dalam Undang Undang tentang Narkotika.
3. Psikotropika adalah zat/bahan baku atau obat ,baik alamiah maupun
sintetis bukan narkotika,yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas
pada aktifitas mental dan prilaku.

BAB II

RUANG LINGKUP

Kegiatan penyimpanan perbekalan farmasi dilakukan di instalasi Farmasi


dan semua ruangan pelayanan pasien yang terdapat persediaan perbekalan
farmasi , diantaranya adalah :

1. Instalasi Rawat Inap


a. Rawat inap Asoka ( Penyakit Dalam )
b. Rawat Inap Nusa Indah (Penyakit Dalam)
c. Rawat Inap Anggrek (Bedah)
d. Rawat Inap Azalea ( Anak dan Perinatologi)
e. Rawat Inap Kenanga (Kebidanan )
2. Instalasi Rawat Jalan
3. Intensive Care Unit ( ICU )
4. Instalasi Bedah Central ( Kamar Operasi )
5. Instalasi Gawat Darurat
6. Instalasi Laboratorium
7. Instalasi Radiologi

Penanggung jawab penyimpanan Perbekalan Farmasi adalah masing-


masing kepala ruangan yang diperiksa secara berkala oleh petugas farmasi
sesuai dengan prosedur yang berlaku.

BAB III

KEBIJAKAN

1. Produk B3,obat narkotika dan psikotropika diterima, disimpan, dan


didistribusikan sesuai dengan semua persyaratan yang tercantum pada
pedoman ini.
2. Jika obat dan bahan B 3 sudah tersedia di RSUD dr.Achmad Darwis,
penyimpanannya dilakukan sesuai persyaratan untuk bahan B 3 yang
tercantum pada pedoman ini.
3. Prosedur penerimaan dan penyimpanan bahan B 3 ,obat narkotika
psikotropika yang dibawa pasien dilakukan sebagaimana tercantum pada
pedoman ini.

BAB IV

TATA LAKSANA

4.1. BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

A. PENERIMAAN DAN IDENTIFIKASI


 Pada saat penerimaan B 3,langsung dilakukan identifikasi B3
untuk menetapkan pelabelan kemasan dan pengelompokan B3
 B 3 yang diterima diperiksa kesesuaiannya sebagai berikut :
 Nama B3 dan kesesuaian kemasan.
 Jumlah dan satuan
 Kelengkapan dokumen
 Bukti serah terima
 Batas Expired date.
B. PENANDAAN DAN PENYIMPANAN
1. Setiap kemasan B 3 harus diberi symbol dan label B 3 sesuai sifat
bahan B 3.
2. B 3 disertai lembar data keselamatan bahan material yang berisi :
 Merek dagang
 Rumus kimia B 3
 Jenis B 3
 Klasifikasi B 3
 Teknik penyimpanan
 Tata cara penanganan bila terjadi kecelakaan
Lembar data keselamatan bahan dapat diperbanyak dengan
cara menggandakan sesuai kebutuhan.
3. Sebelum menyimpan,setiap petugas harus memahami dengan baik
sifat/karakter B 3 dengan membaca MSDS.
4. Penyimpanan B 3 memperhatikan kesesuaian suhu penyimpanan
sesuai dengan yang dipersyaratkan/tertulis pada kemasan dari
pabrik.
5. Setiap tempat penyimpanan B 3 diberikan symbol dan label serta
daftar B 3 yang disimpan.
6. Ruang tempat penyimpanan B 3 memiliki sirkulasi dan ventilasi
yang baik.
7. Ruang tempat penyimpanan B 3 jauh dari sumber panas/api atau
disimpan pada lemari besi.
8. Tempat penyimpanan B 3 dilengkapi dengan alat pelindung seperti
masker,sarung tangan dan baju.
9. Tempat penyimpanan B 3 dilengkapi dengan system tanggap
darurat,alat pemadam api ringan.

C. PENDISTRIBUSIAN
1. Pendistribusian B 3 dilakukan secara hati hati sesuai dengan sifat
B3 masing masing dan selalu disertai dengan MDSS.
2. Penanganan B 3 menggunakan alat pelindung diri yaitu
masker,sarung tangan ,baju pelindung dan atau kaca mata
pelindung
D. PELAPORAN
 B3 yang dikelola dicatat dalam kartu stok mulai dari stok
awal,penerimaan,jumlah keluar/distribusi dan sisa stok serta
dibuatkan laporan mutasinya setiap bulan.
 Petugas yang bertanggung jawab terhadap penyimpanan B3
membuat laporan B 3 yang mendekati kadaluarsa .
 Petugas yang bertanggung jawab terhadap penyimpanan B 3
membuat laporan B 3 yang sudah kadaluarsa untuk diproses
pemusnahannya.
 Dalam hal terjadi kecelakaan dan atau keadaan darurat yang
diakibatkan B 3,maka petugas melakukan kegiatan pengelolaan B
3 wajib mengambil langkah langkah :
1. Mengamankan/mengisolasi tempat kejadian kecelakaan.
2. Menanggulangi kecelakaan
3. Melaporkan kecelakaan dan atau keadaan darurat kepada
komite K 3 RS.

4.2 . NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA


A. PENERIMAAN.
1. Gudang farmasi menerima narkotika dan psikotropika dari panitia
penerima hasil pekerjaan RSUD dr Achmad Darwis dari proses
pengadaan.
2. Depo farmasi menerima obat dari gudang farmasi .
3. Pada saat penerimaan,dilakukan pemeriksaan kesesuaian barang
yang diterima dengan surat pesanan/kontrak,meliputi :
 Nama narkotika/psikotropika,bentuk ,kekuatan sediaan.
 Satuan
 Jumlah
 Expired date
4 pencatatan dilakukan pada kartu stok sesuai nama
barang,jumlah,expired date,tanggal penerimaan,paraf petugas yang
menerima dan nama distributor.

B. PENYIMPANAN
Tempat penyimpanan narkotika,psikotropikadan precursor farmasi di
fasilitas pelayanan kefarmasian harus mampu menjaga
keamanan,khasiat,dan mutu narkotika,psikotropika dan precursor
farmasi.Ketentuan tempat penyimpanan narkotika dan psikotropika
adalah sebagai berikut :
1. Tempat penyimpanan narkotika,psikotropika dapat berupa
gudang,ruangan atau lemari khusus.
2. Tempat penyimpanan narkotika dilarang digunakan untuk
menyimpan barang selai dari narkotika.
3. Di Instalasi farmasi RSUD dr Achmad Darwis,obat narkotika
psikotropika disimpan didalam lemari sesuai ketentuan yaitu
terbuat dari bahan yang kuat dan lemari double lock ( berkunci
ganda )
4. Kondisi kunci dapat berfungsi dengan baik dan dalam kondisi
terkunci guna pembatasan akses pengambilan obat.
5. Lemari tersebut terpasang menempel pada dinding sehingga tidak
mudah dipindahkan.
6. Pada jam kerja,kunci lemari penyimpanan narkotika dan
psikotropika dibawahtanggung jawab petugas yang ditunjuk,baik
digudang farmasi maupun di depo farmasi,sedangkan diluar jam
kerja,kunci lemaripenyimpan narkotika dan psikotropika diserah
terima kan dengan apoteker penanggung jawab.serah terima kunci
dilakukan pencatatan dalam buku serah terima kunci.
7. Dilengkapi kartu stok.
8. Pelaksanaan pengaturan penyimpanan obat narkotika dan
psikotropika oleh petugas farmasi dengan berpedoman pada
ketentuan dan persyaratan sebagai berikut :
 Menurut bentuk sediaan dan jenisnya.
 Menurut suhudan kestabilan sediaan.
- Obat disimpan dalam suhu dingin yaitu 2-8 C
- Obat disimpan dalam suhu kamar yaitu 15- 25 C
9. Pelaksanaan penyusunan penyimpanan sediaan narkotika dan
psikotropika oleh petugas farmasi berdasarkan sistim FIFO ( first in
first out ) dan FEFO ( firs expire date first out )
10. Pengecekan penyimpanan sesuai dengan SPO

C. PENDISTRIBUSIAN
1. Obat narkotika dan psikotropika didistribusikan dari :
 Gudang farmasi ke depo farmasi.
 Depo farmasi ke pasien ( rawat jalan )
 Depo farmasi ke perawat ( rawat inap )
2. Distribusi obat narkotika dan psikotropika dari gudang ke depo
farmasi sesuai dengan dokumen permintaan.
3. Obat narkotika dan psikotropika didistribusikan sesuai dengan
resep dokter RSUD dr achmad Darwis.
4. Bukti distribusi obat narkotika dan psikotropika berupa buktiserah
terima yang ditanda tangani oleh yang menerima dan yang
menyerahkan.
D. PENCATATAN KARTU STOK.
1. Kartu stok narkotika dan psikotropika diisi real time secara lengkap
mulai dari tanggal transaksi , asal narkotika / psikotropika,jumlah
masuk,jumlah keluar / distribusi ,nama pasien,sisa stok,paraf
petugas yang menerima/mengeluarkan narkotika /psikotropika
2. Sepanjang waktu obat narkotika/psikotropika harus sesuai jumlah
fisiknya dengan yang tercantum pada kartu stok.
3. Bila ditemukan adanya ketidak sesuaian ,maka dilakukan
klarifikasi dengan pihak terkait/pemeriksaan dokumen hingga
dapat ditemukan penyelesaian masalah.

E. PELAPORAN
1. Laporan narkotika dan psikotropika disampaikan secara online
melalui SIDNAP (sistim informasi pelaporan narkotika dan
psikotropika) Kementerian kesehatan dan secara online ke Dinas
Kesehatan setempat.
2. Laporan narkotika dan psikotropika ini didapat dari rekap laporan
mutasi secara bulanan dari gudang dan depo farmasi.
3. Untuk laporan morfin injeksi,petidine injeksi,MST tablet dibuat
secara rinci yang memuat nama pasien,alamat pasien,jumlah
obat,nama dokter,alamat dokter.
4. Resep narkotika /psikotropika diarsipkan secara terpisah dari
resep lainnya untuk keperluan penelusuran saat diperlukan.

F. PEMUSNAHAN
1. Obat narkotika/psikotropika mendekati expired,dilaporkan dalam
laporan obat mendekati expire ( 3 bulan sebelum expired ) sesuai
SPO obat mendekati expired.
2. Obat narkotika/psikotropika yang sudah expired,dilaporkan dalam
laporan obat expired secara terpisah dengan obat lainnya,untuk
dimusnahkan sesuai aturan pemusnahan narkotika,dengan
menerbitkan berita acara yang memuat :
 Hari,tanggal,bulan dan tahun pemusnahan.
 Tempat pemusnahan
 Nama penanggung jawab Instalasi farmasi
 Nama petugas kesehatan yang menjadi saksi dan saksi lain
di Instalasi farmasi.
 Nama dan jumlah narkotika,psikotropika yang
dimusnahkan.
 Cara pemusnahan.
 Tanda tangan pihak yang terkait dengan kegiatan
pemusnahan.
BAB V

DOKUMENTASI

Kepatuhan petugas terhadap pelaksanaan pengaturan bahan


berbahaya,narkotika dan psikotropika sesuai pedoman yang berlaku akan
menghasilkan suatu sistim pengelolaan yang aman,bermutu,minim penyalah
gunaan dan minim bahaya.Sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.hal ini tidak dapat dilakukan oleh salah satu pihak saja,tetapi
membutuhkan kolaborasi antar profesi yang terlibat didalamnya baik itu
tenaga kefarmasian,dokter,perawat,petugas laboratorium maupun petugas
yang mengurus logistic di ruangan.

Dokumen yang terkait dengan pedoman ini adalah :

1. Laporan narkotika
2. Laporan psikotropika.