Anda di halaman 1dari 7

Nama: ANDIKA PUTRA PRATAMA

Kelas: IV A

1. Ciri Khas Rumah Joglo


Bagian atap rumah adat jawa tengah terbuat dari genteng tanah liat. Selain itu, masyarakat tradisonal juga
memakai ijuk, jerami, atau alang-alang untuk membuat atap rumahnya. Pemakaian bahan-bahan dari alam
dengan atap yang tinggi membuat penghuni merasa sejuk dan nyaman untuk ditempati.

rumah joglo modern

Sirkulasi udara di rumah Joglo sangat baik. Atap yang dibuat bertingkat-tingkat menyimpan makna tersendiri.
Ketinggian atap Joglo yang bertahap mempunyai hubungan dengan pergerakan manusia dengan udara yang
dirasakan olehnya .

Selain bentuk atap bertingkat, salah satu hal yang menjadi ciri khas dari rumah Joglo yaitu bentuk atapnya. Atap
rumah Joglo adalah perpaduan dari dua bidang atap segitiga dengan dua bidang atap trapesium. Di atap-atap itu
mempunyai sudut kemiringan yang beda. Atap Joglo selalu ada di tengah dan diapit oleh atap serambi.

Gabungan dari atap Joglo dan serambi itu ada dua macam. Gabungan pertama memiliki nama Lambang Sari.
Atap Joglo Lambang Sari merupakan atap Joglo yang disambung dengan atap serambi. Gabungan kedua yaitu
gabungan dengan menyisakan lubang-lubang udara pada atap. Gabungan ini memiloki nama Atap Lambang
Gantung.

Desain rumah Joglo sendiri tidak sembarangan. Desain-desain itu sudah mengerucut menjadi beberapa Joglo.
Nama-nama rumah Joglo yaitu Pangrawit, Jompongan, Limasan Lawakan, Tinandhu, Mangkurat, Sinom, dan
Hageng.
2. Ciri Rumah Adat Tongkonan
a. Struktur Rumah Adat Tongkonan

Struktur Rumah adat tongkonan ini memiliki filosofi tersendiri di setiap tingkatannya. Terdapat tiga
lapisan segi empat yang menggambarkan kehidupan manusia yakni kelahiran, Kehidupan, Pemujaan dan
Kematian.
Lapisan ini menggambarkan hubungan yang selaras antara makhluk mikrokosmos dan makrokosmos.
Setiap tongkonan menghadap ke utara sebagai simbol awal kehidupan. Segi empat sendiri melambangkan 4
penjuru Mata Angin.
b. Memiliki 3 tingkatan di dalam Rumah Tongkonan
Tingkatan yang pertama disebut dengan Bagian Atas(Rattiang Banua), Tempat ini dikhususkan untuk
menyimpan benda pusaka yang dianggap sakral oleh penduduk. Atap dari tongkonan ini kemudian di susun
dengan menggunakan bambu pilihan dan di ikat dengan rotan dan ijuk. Maka tak heran atap rumah ini bisa
bertahan sampai ratusan tahun sebab menggunakan bahan- bahan pilihan, kecuali terkena bencana Alam. Ruang
Tengah ditempatkan sebagai ruang keluarga untuk tempat tidur anak-anak. Selain itu digunakan sebagai tempat
sesaji dan terkadang juga digunakan untuk menyemayamkan mayat leluhur.
c. Ukiran Dinding Yang Khas

Dinding rumah adat tongkonan dibuat dari tanah liat. Ukiran pada dinding tongkonan biasanya memiliki
warna yang berbeda di keempat sisinya. Keempat warna dasar tersebut adalah Merah, Kuning, Putih dan Hitam.
Warna merah melambangkan kehidupan manusia, warna kuning melambangkan kekuatan adiduniawi
atau Sang Pencipta, Warna putih melambangkan kesucian sedangkan warna hitam melambangkan Kematian
atau duka. Keempat fase tersebut mempengaruhi kehidupan manusia.
Arah Mata angin merupakan suatu kesakralan bagi masyarakat Toraja, Arah utara melambangkan awal
kehidupan, Arah Utara atau Ulunna Langi melambangkan kekuatan Tuhan, Arah Timur atau Matta Allo
melambangkan sumber energi awal kehidupan dimulai.
Sedangkan Matampu atau Barat adalah Lawan kehidupan Kesusahan dan Kematian. Yang terkahir adalah arah
Selatan yang disebut Pollo’na Langi atau Pantat langit yang berarti tempat tinggal roh kejahatan.
d. Tanduk Kerbau
Kerbau merupakan binatang yang khas, unik dan memiliki nilai yang tinggi bagi Masyarakat Toraja.
Bagi Masyarakat Toraja Tanduk Kerbau merupakan simbol strata sosial, Tanduk kerbau biasanya diletakkan di
depan.
Semakin banyak tanduk kerbau yang di miliki semakin tinggi strata sosial yang dimiliki oleh pemilik
tongkonan tersebut. Adat pernikahan Toraja juga menggunakan kerbau sebagai mas kawin semakin banyak
kerbau yang dibawa semakin tinggi strata yang akan dimiliki pasangan tersebut.
e. Rumah Tongkonan Multifungsi

Sebuah Rumah Adat tongkonan dapat diisi oleh beberapa keluarga hingga empat puluh orang, dan
biasanya mereka memiliki hubungan darah. Yang lebih menarik lagi rumah adat ini juga merupakan aset adat
yang bernilai fantastis lebih dari 500 juta rupiah.

3. Ciri Rumah Adat Gadang

1. Bagian Atap Rumah Gadang

Atap runcing telah menjadi ciri khas dari rumah adat Sumatera Barat. Model atap yang bernama gonjong ini
terbuat dari bahan ijuk serupa atap rumah adat Papua. Sejarah mencatat bahwa desain gonjong tidak berubah
sejak zaman kerajaan Pagaruyuang.

Saat ini, gonjong banyak digunakan sebagai ornamen restoran Minang atau bangunan bertema suku Padang.
Maka, jangan heran bila nuansa rumah adat Padang mudah ditemui di berbagai wilayah nusantara, seperti
halnya adaptasi desain rumah adat Bali.
2. Motif dan Warna Ukiran Dinding

Keindahan rumah asal Padang makin bertambah dengan kehadiran ukiran yang mewarnai bagian-bagian
tertentu dari bangunan. Asal-usul dari motif ukiran dinding mempunyai filosofi yang berkaitan erat dengan
nilai-nilai agama Islam.
Ukiran ini dibuat berdasarkan “adat basandi syarak” yang berpedoman pada tiga filosofi, yaitu:
 Ukue Jo Jangka
Bermakna mengukur menggunakan jangka.
 Alue Jo Patuik
Bermakna memperhatikan alur dan kepatutan.
 Raso Jo Pariso
Bermakna mengandalkan rasa dan memeriksa atas rujukan bentuk-bentuk geometris.
Semua motif ukiran berasal dari keindahan alam dan lingkungan. Baik berupa tanaman, peralatan kehidupan
sehari-hari, hingga nama-nama hewan. Corak interior ini mirip dengan ukiran pada bagian-bagian dari rumah
adat Jawa Tengah.

3. Bentuk Bangunan

Tak jauh berbeda dengan rumah adat Jawa Barat, hunian suku Minangkabau dibangun tinggi atau yang
lazim dikenal dengan sebutan rumah panggung. Rumah adat Padang sengaja dibuat tinggi dengan fungsi untuk
menghindari masuknya hewan liar.
Walau rumah gadang dibuat pada posisi yang cukup tinggi, bangunan ini tahan terhadap berbagai
cuaca. Bahkan rumah adat Minangkabau terbukti tahan terhadap angin kencang dan tahan gempa.
Satu lagi keunikan dari bangunan rumah gadang, yaitu ruangan yang dibuat sesuai dengan jumlah anak
gadis di dalam satu keluarga. Khusus anak perempuan yang telah menikah, maka akan diberikan kamar terpisah
untuk dihuni bersama suaminya.
Lain halnya untuk anak-anak perempuan yang masih gadis. Mereka akan tinggal bersama-sama di dalam
satu kamar. Tentu saja, ukurannya akan menyesuaikan jumlah anak perempuan yang ada.
4. Tangga pada Pintu Masuk

Segala ornamen yang terdapat pada rumah adat memang tidak bisa terlepas dari makna filosofis.
Termasuk soal posisi tangga untuk memasuki rumah. Hanya ada satu tangga pada setiap rumah gadang yang
diletakkan di pintu depan.
Makna dari satu tangga berkaitan erat dengan agama Islam yang dianut oleh masyarakat Minangkabau.
Artinya, percaya pada Tuhan yang Maha Esa.
Arsitektur modern selayaknya berkaca pada keunggulan bangunan-bangunan rumah adat di nusantara.
Selain tahan lama dan kokoh, rumah gadang sebagaimana rumah adat suku lain, memanfaatkan bahan alami
yang ramah lingkungan.

4. Ciri Rumah Adat Honai

Honai merupakan rumah adat Papua yang menjadi tempat tinggal bagi suku Dani. Biasanya Honai dihuni oleh
laki-laki dewasa. Honai berasal dari kata “hun” atau laki-laki dan “ai” yang berarti rumah.

Biasanya Honai ditemukan di lembah dan pegunungan. Dinding rumah ini terbuat dari kayu dengan atap jerami
yang berbentuk kerucut, sekilas mirip seperti jamur.

Bentuk atap ini berfungsi untuk melindungi permukaan dinding dari air hujan, juga mengurangi hawa dingin
dari lingkungan sekitar.

Ciri Khas Dari Rumah Adat Papua Honai

Rumah ini tidak memiliki jendela, hanya terdapat satu buah pintu. Rumah ini memiliki tinggi 2,5 meter dan
memiliki ruangan yang sempit yaitu sekitar 5 meter. Hal tersebut bertujuan untuk menahan suhu yang dingin di
pegunungan. Di bagian tengahnya dibuat lingkaran yang berfungsi sebagai tempat membuat api untuk
menghangatkan badan sekaligus penerangan.
Ruangan Rumah Adat Papua Honai Dan Fungsinya

Ruangan di dalam rumah ini terdiri dari dua lantai. Lantai atas berfungsi sebagai tempat tidur sedangkan bagian
bawah sebagai tempat berkumpul dan berkegiatan. Masyarakat di sana menggunakan rumput yang dikeringkan
sebagai alas tidur. Meskipun sederhana namun rumah ini tetap menarik.

Bagian paling bawah dari Honai biasanya juga digunakan sebagai penyimpanan bagi mumi, yaitu jasad yang
telah diawetkan. Fungsi lain dari rumah honai yaitu sebagai tempat untuk menyimpan alat perang, benda-benda
warisan leluhur serta simbol dari adat suku tersebut.

5. Ciri Rumah Adat Aceh

Secara umum, rumah adat Aceh berbentuk rumah panggung dengan tinggi tiang antara 2,50-3 meter.
Bentuknya pun seragam, berupa persegi empat yang memanjang dari timur ke barat. Konon, bentuk memanjang
itu dipilih untuk memudahkan penentuan arah kiblat shalat.
Rumah adat Aceh biasanya terbuat dari kayu dan beratapkan daun rumbia. Bagian dalam rumoh Aceh
memiliki tiga atau lima ruang, dengan satu ruang utama yang disebut rambat. Rumah dengan tiga ruang
biasanya memiliki 16 tiang, sedangkan Rumah dengan lima ruang memiliki sebanyak 24 tiang.
Pintu utama dari Rumah Aceh ini tingginya selalu lebih rendah dari orang dewasa. Biasanya ketinggian
pintu ini ukurannya hanya 120-150 cm saja. Maka dari itu, sehingga setiap orang yang masuk ke Rumoh Aceh
harus menunduk.
Meskipun pintunya pendek, anda akan menemui rumah yang luas saat masuk kedalamnya. Tidak ada
perabot seperti kursi sofa dan meja. Tamu biasanya duduk diatas tikar yang disediakan pemilik rumah.
Apabila yang mempunyai rumah adalah orang yang berkecukupan, rumah Aceh memiliki ukiran dan
ornament yang rumit. Sementara pada rakyat biasa, cukup membuat rumah panggung tanpa ukiran dan
ornament apapun. Rumah adat Aceh ini juga tahan gempa dan banjir.
Rumoh Aceh di tiap kabupaten atau kota detilnya berbeda-beda. Meskipun detilnya berbeda, rumah adat
Aceh ini memiliki komponen utama yang sama secara umum. Komponen- komponen utama dalam rumoh Aceh
biasanya adalah:
1. Seuramoe-ukeu (Serambi Depan)
Seuramoe ini adalah ruangan yang berfungsi untuk menerima tamu laki-laki. Letaknya tepat di bagian depan
rumah. Ruangan ini juga berfungsi sekaligus untuk menjadi tempat tidur serta tempat makan tamu laki-laki.
2. Seuramoe-likoot (Serambi Belakang)
Fungsi utama dari ruangan ini adalah tempat untuk menerima tamu perempuan. Letaknya ada di bagian
belakang rumah. Sama seperti serambi depan tadi, serambi ini dapat sekaligus menjadi tempat tidur serta ruang
makan tamu perempuan.
3. Rumoh-Inong (Rumah Induk)
Letak dari ruang ini diantara serambi depan dan serambi belakang. Posisinya pun dibuat lebih tinggi dan terbagi
jadi dua kamar. Keduanya dipisahkan oleh gang yang menghubungkan serambi depan dan serambi belakang.
4. Rumoh-dapu (Dapur)
Letak dari dapur ini dekat atau tersambung dengan serambi belakang. Lantai dapur posisinya sedikit lebih
rendah dibanding lantai serambi belakang.
5. Seulasa (Teras)
Seulasa atau teras rumah ini terletak di bagian paling depan rumah. letaknya pun menempel dengan serambi
depan. Letak dari teras ini memang sudah ditentukan sejak jaman dulu dan tidak berubah sampai sekarang.
6. Kroong-padee (Lumbung Padi)
Masyarakat Aceh mayoritasnya bekerja sebagai petani. Oleh karena itu, Masyarakat Aceh menyediakan
lumbung padi yang berada terpisah dari bangunan utama. Meskipun terpisah, lumbung padi ini letaknya masih
berada di pekarangan rumah. Letaknya pun variatif, bisa di belakang, di samping, atau bahkan di depan rumah.
7. Keupaleh (Gerbang)
Biasanya gerbang ini tidak terlalu umum dijumpai di rumah adat Aceh. Gerbang biasanya dimiliki oleh
kalangan orang berada atau tokoh masyarakat. Inilah salah satu ciri-ciri dari rumah milik tokoh masyarakat
tersebut. Gerbang biasanya terbuat dari kayu dan dipayungi bilik di atasnya.
8. Tamee (Tiang)
Tiang adalah komponen paling utama yang wajib dimiliki oleh rumah adat Aceh. Kekuatan dari tiang inilah
yang menjadi tumpuan utama rumah adat ini. Tiang ini berbentuk bulat dengan diameter 20-35 cm dan setinggi
150-170 cm.
Jumlahnya dapat berupa 16, 20, 24, atau 28 batang. Keberadaan tiang-tiang ini juga fungsinya memudahkan
proses pemindahan rumah tanpa harus susah payah membongkarnya.