Anda di halaman 1dari 12

SUMMARY

STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN, STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAH,

STANDAR AKUNTANSI SYARIAH, DAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

UNTUK ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK

Alfan Zafar Abdurachman


195217347
STIE Widya Wiwaha Yogyakarta

1. Standar Akuntansi Keuangan - IFRS

1.1 Pengertian Standar Akuntansi Keuangan

PSAK-IFRS merupakan akronim dari Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan –

International Financial Report Standard. PSAK ini adalah nama lain dari SAK yang sudah

diterapkan sepenuhnya pada tahun 2012.

Pada PSAK ini wajib diterapkan untuk entitas dengan akuntabilitas yang bersifat

umum seperti : Emiten, perusahaan publik, perbankan, asuransi, dan BUMN.

1.2 Tujuan Standar Akuntansi Keuangan

Tujuan dari PSAK ini adalah memberikan informasi yang relevan bagi pengguna

laporan keuangan. Lalu kenapa harus IFRS? Karena Indonesia adalah anggota dari IFAC

yang menjadikan IFRS sebagai standar akuntansinya, sehingga Indonesia harus mematuhi

kesepakatan sebagai anggota atau disebut Statement Membership Obligation (SMO)

Alasan lain IFRS ini diterapkan adalah karena dalam pertemuan pemimpin dunia

G20 Forum disepakati adanya “Strengthening Transparency and Accountability” pada 15

November 2008 yang diwujudkan pada 9 april 2009 dalam pertemuan di London untuk

meningkatkan kualitas laporan keuangan secara gobal.

1
PSAK memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut :

a. Daya banding laporan keuangan meningkat

b. Dalam lingkup pasar modal internasional informasi yang diberikan berkualitas

c. Perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan dikurangi sehingga hambatan arus

modal internasional bisa dihilangkan

d. Biaya untuk analisis keuangan bagi para analis dan biaya pelaporan keuangan

perusahaan multinasional bisa dihemat

e. kualitas pelaporan keuangan meningkatkan menuju best practice

Dengan menyesuaikan standar keuangan dengan IFRS Indonesia menjadi lebih

mudah untuk pelaporan keuangan meskipun ada perubahan dari penyusuna laporan itu

sendiri yang sifatnya menyeluruh.

Ciri khas dari IFRS adalah dari “Principles Base” nya, yaitu :

a. Interpretasi dan aplikasi atas standar lebih ditekankan sehingga berfokus pada spirit

penerapan prinsip tersebut

b. Presentasi aknuntansi harus mencerminkan realitas ekonomi, karenanya perlu adanya

penilaian atas substansi transaksi dan evaluasi

c. Membutuhkan professional judgement pada penerapan standard akuntansi.

IFRS juga menggunakan fair value dalam penilaian, jika tidak ada nilai pasar aktif

maka harus melakukan penilaian sendiri atau menggunakan jasa penilai. Selain itu IFRS

mengharuskan pengungkapan (disclosure) yang lebih banyak baik kwantitatif maupun

kualitati

2
2. Standard Akuntansi Keuangan Untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik

2.1 Pengertian SAK ETAP

SAK ETAP adalah Standard akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa

Akuntabilitas Publik. ETAP biasa digunakan untuk etenitas yang akuntanbilitas publiknya

tidak signifikan dan laporan keuangannya hanya untuk tujuan umum bagi pengguna

eksternal.

2.2 Ruang Lingkup SAK ETAP

a. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)

dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas

tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang:

1. Tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan.

2. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general financial

statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah

pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan

lembaga pemeringkat kredit.

b. Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika :

1. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran atau dalam proses pengajuan

pernyataan pendaftaran pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan

penerbitan efek di pasar modal.

2. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar

masyarakat, seperti bank, entitasasuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana

pensiun, reksa dana dan bank investasi.

3. Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK

ETAP jika otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan SAK

ETAP. (IAI,2016).

3
2.3 Manfaat SAK ETAP

1. Diharapkan dengan adanya SAK ETAP perusahaan kecil, menengah, mampu untuk :

a) Menyusun laporan keuangan sendiri;

b) Dapat diaudit dan mendapatkan opini audit, sehingga dapat menggunakan laporan

keuangannya untuk mendapatkan dana (misalnya dari bank) untuk pengembangan

usaha.

2. Lebih sederhana dibandingkan dengan PSAK-IFRS sehingga lebih mudah untuk

implementasinya.

3. Tetap memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan keuangan.

2.4 Karakteristik SAK ETAP

1. SAK ETAP : Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik.

2. ETAP adalah entitas yang :

a) Tidak memiliki akuntabilitas public signifikan;

b) Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial

statement) bagi pengguna eksternal.

3. Menggunakan acuan IFRS dan Small Medium Enterprises.

4. Lebih sederhana antara lain :

a) Aset tetap, tidak menggunakan harga perolehan.

b) Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai investasi dengan metode ekuitas.

c) Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan.

5. Kualitatif informasi dalam laporan keuangan :

a) Dapat Dipahami;

b) Relevan;

c) Materialitas;

d) Keandalan;

4
e) Substansi mengungguli bentuk;

f) Pertimbangan sehat;

g) Kelengkapan;

h) Dapat Dibandingkan;

i) Tepat Waktu;

j) Keseimbangan antara biaya dan manfaat.

6. SAK ETAP tidak mengijinkan pengakuan pos-pos dalam neraca yang tidak

memenuhi definisi asset atau kewajiban dengan mengabaikan apakah pos-pos tersebut

merupakan hasil dari penerapan “matching concept”.

7. Saling hapus tidak dipekenankan atas asset dengan kewajiban, atau penghasilan

dengan beban, kecuali diisyaratkan atau diijinkan oleh SAK ETAP.

3. Standar Akuntansi Pemerintah

2.1 Pengertian Standar Akuntansi Pemerintah

Standar akuntansi pemerintahan atau SAP adalah prinsip-prinsip akuntansi yang

diterapkan dalam menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan Pemerintah. Laporan

tersebut seperti misalnya Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan

Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).

Standarisasi ini dilakukan dalam rangka transparansi dan akuntabilitas

penyelenggaraan akuntansi pemerintahan. Sekaligus untuk memberikan peningkatan

kualitas dari LKPP dan LKPD.

Secara umum SAP berbentuk Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan

(PSAP) yang memiliki judul, nomor, dan tanggal efektif berlaku standar tersebut. Selain

itu SAP juga memiliki Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan yang menjadi

rangka penyusunan.

5
Dalam membantu penerapannya, PSAP ini dibarengi dengan Interpretasi

Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (IPSAP) atau Buletin Teknis SAP. Gunanya

adalah untuk menghindari salah arti ari penggunaan PSAP dan mengatasi permasalahn

teknis.

IPSAP dan Buletin Teknis SAP disusun dan diterbitkan oleh Komite Standar

Akuntansi Pemerintahan (KSAP) dan diberitahukan kepada Pemerintah dan Badan

Pemeriksa Keuangan (BPK). Rancangan IPSAP disampaikan kepada BPK paling lambat

empat belas hari kerja sebelum IPSAP diterbitkan.

2.2 Standar Akuntansi Pemerintahan di Indonesia dan Penerapannya

Berikut ini adalah 4 peraturan pemerintah mengenai standar akuntansi

pemerintahan di Indonesia :

a. Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010

b. Lampiran I Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual

c. Lampiran II Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas Menuju Akrual

d. Lampiran III Proses Penyusunan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual

Dari peraturan pemerintah No. 71 Tahun 2010 ini terdapat lampiran yang

mengatur tentang bagaimana standar akuntansi di Indonesia diterapkan yaitu :

a) Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual

Pemerintah menerapkan SAP Berbasis Akrual dimana SAP mengakui pendapatan,

beban, aset, utang, dan ekuitas dalam pelaporan finansial berbasis akrual. Selain itu juga

mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam pelaporan pelaksanaan anggaran

berdasarkan basis yang ditetapkan dalam APBN/APBD.

6
Basis Akrual untuk neraca berarti aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan

dicatat pada saat terjadinya transaksi, atau pada saat kejadian atau kondisi lingkungan

berpengaruh pada keuangan pemerintah, tanpa memerhatikan saat kas atau setara kas di

terima atau di bayar (PP No.71 tahun 2010).

SAP berbasis akrual di terapkan dalam lingkungan pemerintah yaitu pemerintah

pusat, pemerintah daerah, dan satuan organisasi di lingkungan pemerintah pusat/daerah,

jika menurut peraturan perundang-undangan satuan organisasi dimaksud wajib

menyajikan laporan keuangan (PP No.71 Tahun 2010).

Sejak tahun 2015, Indonesia sudah mengimplementasikan SAP berbasis akrual

(accrual basis) dengan karakteristik sebagai berikut:

1. Transaksi dicatat menggunakan accrual basis

2. Asset diukur menggunakan historical cost

3. Depresiasi untuk asset tetap

4. Accrual basis pada pendapatan dan beban

5. Cash basis pada Laporan Realisasi Anggaran

6. Full disclosure

Referensi utama untuk SAP berbasis akrual ini adalah International Public Sector

Accounting Standards (IPSAS) dan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Terdapat

kerangka konseptual dan 13 PSAP untuk SAP berbasis akrual ini, yaitu:

1. PSAP 01 Penyajian Laporan Keuangan

2. PSAP 02 Laporan Realisasi Anggaran Berbasis Kas

3. PSAP 03 Laporan Arus Kas

4. PSAP 04 Catatan atas Laporan Keuangan

5. PSAP 05 Akuntansi Persediaan

7
6. PSAP 06 Akuntansi Investasi

7. PSAP 07 Akuntansi Aset Tetap

8. PSAP 08 Akuntansi Konstruksi dalam Pengerjaan

9. PSAP 09 Akuntansi Kewajiban

10. PSAP 10 Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi

Akuntansi, dan Operasi yang Tidak Dilanjutkan

11. PSAP 11 Laporan Keuangan Konsolidasian

12. PSAP 12 Laporan Operasional

13. PSAP 13 Penyajian Laporan Keuangan Badan Layanan Umum (BLU)

KSAP juga telah menerbitkan IPSAP (Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi

Pemerintahan) yang merupakan klarifikasi, penjelasan dan uraian lebih lanjut atas PSAP.

Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan bertujuan menjelaskan lebih

lanjut topik tertentu guna menghindari salah tafsir penggunaan PSAP, yaitu terdiri dari:

1. Interpretasi SAP 01 tentang Transaksi Dalam Mata Uang Asing

2. Interpretasi SAP 02 tentang Pengakuan Pendapatan yang Diterima Pada Rekening

Kas Umum Negara/Daerah

3. Interpretasi SAP 03 tentang Pengakuan Penerimaan Pembiayaan yang Diterima Pada

Rekening Kas Umum Negara/Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan yang Dikeluarkan

Dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah

4. Interpretasi SAP 04 tentang Perubahan Kebijakan Akuntansi dan Koreksi Kesalahan

tanpa Penyajian Kembali Laporan Keuangan

Selain itu, KSAP juga telah menerbitkan beberapa Buletin Teknis yang

merupakan informasi yang berisi penjelasan teknis akuntansi sebagai pedoman bagi

pengguna. Buletin Teknis SAP dimaksudkan untuk mengatasi masalah teknis akuntansi

8
dengan menjelaskan secara teknis penerapan PSAP dan/atau IPSAP. Buletin Teknis SAP

terdiri dari:

1. Buletin Teknis 01 tentang Neraca Awal Pemerintah Pusat

2. Buletin Teknis 02 tentang Neraca Awal Pemerintah Daerah

3. Buletin Teknis 03 tentang Penyajian Laporan keuangan Pemerintah Daerah Sesuai

Dengan SAP dengan Konversi

4. Buletin Teknis 04 tentang Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah

5. Buletin Teknis 05 tentang Akuntansi Penyusutan (telah diganti dengan bultek 18)

6. Buletin Teknis 06 tentang Akuntansi Piutang (telah diganti dengan bultek 16)

7. Buletin Teknis 07 tentang Akuntansi Dana Bergulir

8. Buletin Teknis 08 tentang Akuntansi Utang (telah diganti dengan bultek 22)

9. Buletin Teknis 09 tentang Akuntansi Aset Tetap (telah diganti dengan bultek 15)

10. Buletin Teknis 10 tentang Akuntansi Belanja Bantuan Sosial

11. Buletin Teknis 11 tentang Akuntansi Aset Tak Berwujud (telah diganti dengan bultek

17)

12. Buletin Teknis 12 tentang Transaksi Dalam Mata Uang Asing

13. Buletin Teknis 13 tentang Akuntansi Hibah

14. Buletin Teknis 14 tentang Akuntansi Kas

15. Buletin Teknis 15 tentang Akuntansi Aset Tetap Berbasis Akrual

16. Buletin Teknis 16 tentang Akuntansi Piutang Berbasis Akrual

17. Buletin Teknis 17 tentang Akuntansi Aset Tak Berwujud Berbasis Akrual

18. Buletin Teknis 18 tentang Akuntansi Penyusutan Berbasis Akrual

19. Buletin Teknis 19 tentang Akuntansi Bantuan Sosial Berbasis Akrual

20. Buletin Teknis 20 tentang Akuntansi Kerugian Negara/Daerah

21. Buletin Teknis 21 tentang Akuntansi Transfer Berbasis Akrual

9
22. Buletin Teknis 22 tentang Akuntansi Utang berbasis Akrual

23. Buletin Teknis 23 tentang Akuntansi Pendapatan Nonperpajakan

Dengan SAP berbasis kas menuju akrual, laporan keuangan yang dibuat oleh

entitas pelaporan hanya empat laporan, yaitu: Neraca, Laporan Realisasi Anggaran,

Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Namun pada SAP berbasis

akrual, laporan keuangan yang harus dibuat ada tujuh, yaitu:

1. Neraca

2. Laporan Realisasi Anggaran

3. Laporan Operasional

4. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih

5. Laporan Perubahan Ekuitas

6. Laporan Arus Kas

7. Catatan atas Laporan Keuangan

b) Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas Menuju Akrual

Sebelum diterapkan SAP Berbasis Akrual terlebih dahulu dilakukan penerapan

SAP Berbasis Kas Menuju Akrual secara bertahap. SAP Berbasis Kas Menuju Akrual

adalah SAP yang mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan berbasis kas, serta

mengakui aset, utang, dan ekuitas dana berbasis akrual.

Aturan terkait penerapan SAP Berbasis Akrual yang dilakukan secara bertahap

pada pemerintah pusat diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan. Sedangkan pada

pemerintah daerah diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri.

Penerapan SAP Berbasis Akrual secara bertahap dilakukan dengan

memperhatikan urutan persiapan dan ruang lingkup laporan.

10
Sama seperti diatas SAP Berbasis Kas Menuju Akrual juga dinyatakan dalam

bentuk PSAP dan dilengkapi dengan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan.

Aturan ini tercantum Lampiran II Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.

Sebelumnya, SAP Berbasis Kas Menuju Akrual digunakan dalam SAP

berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005.

Karena dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 menyatakan bahwa selama

pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan,

digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas.

Pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual menurut Pasal

36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 dilaksanakan paling lambat lima

tahun. Karena itu, Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 digantikan dengan

Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.

Seperti yang disebutkan diatas SAP yang telah dibuat dilengkapi juga dengan

PSAP dan Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintah. Nah PSAP dan Kerangka

Konseptual Akuntansi Pemerintahan dalam rangka SAP Berbasis Akrual ini tercantum

dalam Lampiran I Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.

Sedangkan penyusunan SAP Berbasis Akrual dilakukan oleh KSAP melalui

proses baku penyusunan (due process). Proses baku penyusunan SAP tersebut merupakan

pertanggungjawaban profesional KSAP yang secara lengkap terdapat dalam Lampiran III

Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010.

4. Standar Akuntansi Syariah

Standar Akuntansi Syariah untuk digunakan oleh entitas yang melakukan transaksi

syariah baik entitas lembaga syariah maupun non lembaga syariah. PSAK Syariah

11
pengembangan dengan model PSAK Umum namun berbasis syariah dengan acuan Fatwa

Majelis Ulama Indonesia (MUI). Prinsip syariah yang berlaku umum dalam kegiatan

muamalah (transaksi syariah) mengikat secara hukum bagi semua pelaku dan stakeholder

entitas yang melakukan transaksi syariah.

Laporan Keuangan Syariah adalah suatu laporan keuangan yang dibuat oleh entitas

syariah untuk digunakan sebagai pembanding baik dengan laporan keaungan sebelumnya

atau laporan keuangan entitas syariah lainnya. Komponen laporan keuangan syariah terdiri

dari neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, laporan sumber

dan penggunaan zakat, laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan dan catatan atas

laporan keuangan. Terdapat 10 PSAK untuk SAK Syariah, yaitu:

a. PSAK 101 (Penyajian Laporan Keuangan Syariah)

b. PSAK 102 (Akuntansi Murabahah) Revisi 2013

c. PSAK 103 (Akuntansi salam)

d. PSAK 104 (Akuntansi Istishna)

e. PSAK 105 (AKuntansi Mudharabah)

f. PSAK 106 (Akuntansi Musyarakah)

g. PSAK 107 (Akuntansi Ijarah)

h. PSAK 108 (Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah)

i. PSAK 109 (Akuntansi Zakat, Infaq dan Shadaqoh)

j. PSAK 110 (Akuntansi Sukuk)

12