Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SECTIO CAESAR

OLEH :

I WAYAN KARDANA PUTRA


P07120319028

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2019

LAPORAN PENDAHULUAN NIFAS DENGAN


SECTIO CAESAREA

A. KONSEP DASAR NIFAS


1. Pengertian
Masa nifas (poerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan
sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil, lama masa nifas ini
yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 1998).
Masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan seperti sebelum hamil. Masa
nifas belangsung kira-kira 6 minggu (Saifudin, 2001).
Masa nifas (peurpenium )adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan
selesai sampai alat kandung kembali seperti semula/pra hamil dan lamanya
berlangsung yaitu 6 minggu (Obstetri Fisiologi,1998)
2. Pembagian masa nifas
a. Puerpenium dini : kepullihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan.
b. Puerpenium intermedial : kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang
lamanya 6-8 minggu.
c. Remote puerpenium : waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi . Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu,
bulanan atau tahunan.
3. Tujuan Asuhan Nifas
a. Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya.
b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah,
mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada
bayinya dan perawatan bayi sehat.
d. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

4. Perubahan pada masa nifas


a. Involusi.
Involusi adalah suatu keadaan dimana uterus secara berangsur-angsur
menjadi kecil sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Segera
setelah plasenta lahir, TFU kurang lebih 2 jari dibawah pusat. Pada hari
ke-5 TFU setengah pusat. Simpisis dan pada hari ke-12 uterus sudah tidak
teraba lagi diatas simpisis dan setelah 6 minggu uterus sudah mencapai
ukuran normal (Arif Mansjoer, 2000).
b. Luka-luka jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7
hari
c. Lochea : cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam
masa nifas
1) Lochea rubra : berisi darah segar dan sisa-sisa selaput
ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo, dan
mekonium,selama 2 hari pasca persalinan.
2) Lochea sanguinolenta : berwarna merah kuning berisi
darah dan lendir, hari ke 3-7 pasca persalinan.
3) Lochea serosa : warna kuning, cairan tidak berdarah
lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan
4) Lochea alba : cairan putih setelah 2 minggu
5) Lochea purulenta : terjadi infeksi, keluar cairan seperti
nanah berbau busuk
6) Locheastasis : pengeluaran lochea tidak lancer
d. Serviks
Setelah persalinan, bentuk servik agak menganga seperti corong berwarna
merah kehitaman, konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat
perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk
rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2-3 jari dan setelah 7 hari
hanya dapat dilalui 1 jari.
e. Payudara
1) Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak
karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang
tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting
mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan
mengecil pada 1-2 hari.
2) Keluar kolostrum
3) Hiperpigmentasi areola mamae
4) Buah dada agak bengkak dan membesar
f. Laktasi
Setelah partus, pengaruh menekan dari estrogen dan progesterone terhadap
hipofisis hilang. Timbul pengaruh lactogen hormone (prolaktin) kembali
dan pengaruh oksitosin mengakibatkan miopitelium kelenjar susu
berkontraksi, sehingga terjadi pengeluaran air susu. Umumnya produksi
ASI berlangsung betul pada hari ke-2-3 pp. Pada hari pertama, air susu
mengandung kolostrum yang merupakan cairan kuning lebih kental
daripada susu, mengandung banyak protein dan globulin.
B. KONSEP DASAR SECTIO CAESAREA
1. Pengertian Sectio Caesarea
Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat dalam
keadaan berat janin diatas 500 gram (Parworiharjo S, 1996).
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui depan perut atau vagina. Atau disebut
juga histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar, 1998).
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuka dinding perut dan dinding uterus. (Sarwono , 2005).
Dari pengertian Sectio caesarea dapat disimpulkan : seksio sesaria adalah
melahirkan janin melalui suatu pembedahan / insisi pada dinding perut dan
rahim.

2. Etiologi
Indikasi SC :
Indikasi klasik yang dapat dikemukakan sebagai dasar section caesarea
adalah :
a. Prolog labour sampai neglected labour.
b. Ruptura uteri imminen
c. Fetal distress
d. Janin besar melebihi 4000 gr
e. Perdarahan antepartum
(Manuaba, I.B, 2001)
Sedangkan indikasi menurut Amin dan Hardi (2013), dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Indikasi yang berasal dari ibu
Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua disertai
kelainan letak, disporporsi sefola pelvik (disproporsi janin/panggul), ada
sejarah kehamilan dan persalinan yang bururk, terdapat kesempitan
panggul, placenta previa terutama pada primigravia, solutsio plasenta
tingkat I-II, komplikasi kehamilan yaitu preeklamsi berat-eklamsi,
kehamilan yang disertai penyakit (jantung, DM, HIV), gangguan
perjalanan pesalinan (kista ovarium, mioma uteri.
b. Indikasi yang berasal dari janin
Fetal distress atau gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan
janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan
vakum atau forceps ekstraksi.
3. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan / hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal / spontan, misalnya
plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo
pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-eklamsia,
distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut menyebabkan perlu
adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio Caesarea (SC). Dalam proses
operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan pasien
mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi
aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan
menyebabkan pasien tidak mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien
secara mandiri sehingga timbul masalah defisit perawatan diri. Kurangnya
informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan perawatan post
operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain itu, dalam
proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding
abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan,
pembuluh darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan
merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan menimbulkan
rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir, daerah insisi
akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawat dengan
baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi.

Pathway Kelainan / hambatan selama hamil dan proses persalinan


Misalnya : plasenta previa sentralis / lateralis, panggul
sempit, disproporsi cephalo pelvic, ruptur uteri
mengancam, partus lama / tidak maju, preeklamsia,
distonia serviks, malpresentasi janin

Sectio Caesarea (SC)


Insisi dinding
Luka post op. SC Tindakan anastesi
abdomen
Risiko Infeksi Imobilisasi
Terputusnya
Trauma jaringan inkonuitas jaringan,
pembuluh darah, dan
Nyeri abdomen saraf - saraf di
Merangsang Defisit
sekitar daerah
pengeluaran insisi
histamin Perawatan
Pergerakan minimal
dan prostaglandin Diri
Penurunan tonus otot Nyeri Akut
Krisis Risiko
situasional konstipasi
Kurang Ansietas
Informasi
4. Jenis-jenis Operasi Sectio Caesarea
a. Abdomen (SC Abdominalis)
1) Sectio Caesarea Transperitonealis
a) Sectio caesarea klasik atau corporal : dengan insisi memanjang pada
corpus uteri.
b) Sectio caesarea profunda : dengan insisi pada segmen bawah uterus.
2) Sectio caesarea ekstraperitonealis
Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan
dengan demikian tidak membuka kavum abdominalis.
b. Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesaria dapat dilakukan apabila :
1) Sayatan memanjang (longitudinal)
2) Sayatan melintang (tranversal)
3) Sayatan huruf T (T Insisian)
c. Sectio Caesarea Klasik (korporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-
kira 10cm.
Kelebihan :
1) Mengeluarkan janin lebih memanjang
2) Tidak menyebabkan komplikasi kandung kemih tertarik
3) Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal
Kekurangan :
1) Infeksi mudah menyebar secara intraabdominal karena tidak ada
reperitonial yang baik.
2) Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan.
Ruptura uteri karena luka bekas SC klasik lebih sering terjadi
dibandingkan dengan luka SC profunda. Ruptur uteri karena luka
bekas SC klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan, sedangkan
pada luka bekas SC profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan.
Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri, dianjurkan supaya ibu
yang telah mengalami SC jangan terlalu lekas hamil lagi. Sekurang
-kurangnya dapat istirahat selama 2 tahun. Rasionalnya adalah
memberikan kesempatan luka sembuh dengan baik. Untuk tujuan ini
maka dipasang akor sebelum menutup luka rahim.
d. Sectio Caesarea (Ismika Profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang konkaf pada segmen
bawah rahim kira-kira 10cm
Kelebihan :
1) Penjahitan luka lebih mudah
2) Penutupan luka dengan reperitonialisasi yang baik
3) Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan isi
uterus ke rongga perineum
4) Perdarahan kurang
5) Dibandingkan dengan cara klasik kemungkinan ruptur uteri spontan
lebih kecil
Kekurangan :
1) Luka dapat melebar ke kiri, ke kanan dan bawah sehingga dapat
menyebabkan arteri uteri putus yang akan menyebabkan perdarahan
yang banyak.
2) Keluhan utama pada kandung kemih post operatif tinggi.
5. Gejala Klinis
Persalinan dengan Sectio Caesaria , memerlukan perawatan yang lebih
koprehensif yaitu: perawatan post operatif dan perawatan
post partum. Gejala klinis sectio caesarea menurut Doenges
(2010),antara lain :
1. Nyeri akibat ada luka pembedahan
2. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
3. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
4. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan
(lokhea tidak banyak)
5. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-
800ml
6. Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan
ketidakmampuan menghadapi situasi baru
7. Biasanya terpasang kateter urinarius
8. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
9. Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan
muntah
10. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
11. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang
paham prosedur
12. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari
kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada
pembedahan.
b. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
c. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
d. Urinalisis / kultur urine
e. Pemeriksaan elektrolit
7. Penatalaksanaan Medis Post SC
a. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian
cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar
tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh
lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi
dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila
kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu
dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian
minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10
jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
1) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
2) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang
sedini mungkin setelah sadar
3) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit
dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
4) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah
duduk (semifowler)
5) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan
belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan
sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
d. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada
penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan.
Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis
operasi dan keadaan penderita.
e. Pemberian obat-obatan
1) Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap
institusi
2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
a) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
c) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
3) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat
diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C
f. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan
berdarah harus dibuka dan diganti
g. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan
darah, nadi,dan pernafasan.
(Manuaba, 1999)
8. Komplikasi
a. Infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari
dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya peritonitis, sepsis
dan lain-lain. Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum pembedahan
sudah ada gejala - gejala infeksi intrapartum atau ada faktor - faktor yang
merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya
setelah ketuban pecah, tindakan vaginal sebelumnya). Bahaya infeksi
dapat diperkecil dengan pemberian antibiotika, tetapi tidak dapat
dihilangkan sama sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya
daripada SC transperitonealis profunda.
b. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang
arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri

C. KONSEP DASAR PREEKLAMPSIA


1. Definisi Preeklampsia
Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil,
bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria
tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi
sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan
berumur 28 minggu atau lebih (Rustam Muctar, 1998).
2. Klasifikasi
Menurut penggolongan dibagi menjadi 3 yaitu : PE ringan, sedang dan
berat (Menurut Sarwono, 2005 “Ilmu Kebidanan”)
Diagnosis Tekanan Darah Tanda Lain
Pre-Eklamsi Kenaikan TD diastolic 15Protein Urin +1
Ringan mmHg/79 mmHg dengan 2x
pengamatan berjarak 1
jam/tekanan diastolic
mencapai 110 mmHg.
Pre-Eklamsi Kenaikan TD systolic 30Protein urin positif 2 oedem
Sedang mmHg/lebih atau mencapaiumum, kaki, jari tangan dan
140 mmHg. muka, kenaikan BB 1 kg tiap
minggu.
Pre-Eklamsi Tekanan diastolic >110Protein urine positif ¾ oliguria
Berat mmHg (urine 5 gr/L) hiperefleksia,
gangguan penglihatan, nyeri
epigastrik, terdapat oedem paru
dan sinosis.

3. Tanda dan Gejala


Dua gejala yang sangat penting diatas pada preklampsia yaitu
hipertensi dan proteinuria yang biasanya tidak di sadari oleh wanita hamil,
penyebab dari kedua masalah diatas adalah sebagai berikut :
a. Tekanan darah
Peningkatan tekanan darah merupakan tanda peningkatan awal yang
penting pada preeklampsia. Tekanan diastolik merupakan tanda
prognostik yang lebih andal dibandingkan dengan tekanan sistolik.
Tekanan sistolik sebesar 90 mmHg atau lebih yang terjadi terus-
menerus menunjukkan kedaan abnormal.
b. Kenaikan berat badan
Peningkatan berat badan yang tiba-tiba mendahului serangan
preklampsia dan bahkan kenaikan berat badan (BB) yang berlebihan
merupakan tanda pertama preklampsia pada sebagian wanita.
Peningkatan BB normal adalah 0,5 Kg perminggu. Bila 1 Kg dalam
seminggu, maka kemungkinan terjadinya preklampsia harus
dicurigai. Peningkatan berat badan terutama di sebabkan kerena
retensi cairan dan selalu dapat ditemukan sebelum timbul gejala
edema yang terlihat jelas seperti kelopak mata yang bengkak atau
jaringan tangan yang membesar.
c. Proteinuria
Pada preklampsia ringan, proteinuria hanya minimal positif satu,
positif dua, atau tidak sama sekali. Pada kasus berat proteinuria
dapat di temukan dan dapat di capai 10 g/dL. Proteinuria hampir
selalu timbul kemudian dibandingkan hipertensi dan kenaikan BB
yang berlebihan.
D. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas klien dan penanggung
b. Keluhan utama klien saat ini
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi klien multipara
d. Riwayat penyakit keluarga
e. Keadaan klien meliputi :
1) Sirkulasi
Hipertensi dan pendarahan vagina yang mungkin terjadi.
Kemungkinan kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira
600-800 mL
2) Integritas ego
Dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda
kegagalan dan atau refleksi negatif pada kemampuan sebagai wanita.
Menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan, ketakutan,
menarik diri, atau kecemasan.
3) Makanan dan cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi (diet ditentukan).
4) Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anestesi spinal
epidural.
5) Nyeri / ketidaknyamanan
Mungkin mengeluh nyeri dari berbagai sumber karena trauma bedah,
distensi kandung kemih , efek - efek anesthesia, nyeri tekan uterus
mungkin ada.
6) Pernapasan
Bunyi paru - paru vesikuler dan terdengar jelas.
7) Keamanan
Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda / kering dan utuh.
8) Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus. Aliran lokhea sedang.

2. Diagnosa Keperawatan
3. Nyeri akut b/d peregangan perineum; luka episiotomi;involusi uteri.
4. Perubahan pola eleminasi BAB (konstipasi) b/d kurangnya mobilisasi; diet
yang tidak seimbang; trauma persalinan.
5. Risiko infeksi ditandai dengan trauma jalan lahir.

4. Implementasi
(Implementasi sesuai dengan intervensi)

5. Evaluasi
a. Nyeri berkurang atau terkontrol
b. Tidak terjadi tanda-tanda infeksi
c. Cemas yang dirasakan pasien berkurang, tidak terdapat tanda-tanda
objektif ansietas
d. Kebutuhan perawatan diri pasien terpenuhi sesuai
e. Tidak terjadi konstipasi, pola eliminasi fekal pasien kembali normal.
3. Rencana Keperawatan
DIAGNOSA RENCANA KEPERAWATAN (SIKI)
Tujuan (SLKI) Intervensi (SIKI)
KEPERAWATAN
(SDKI)
1. Nyeri akut SLKI: SIKI :
 Setelah dilakukan asuhan Manajemen nyeri
keperawatan selama 3 x 24 Observasi
jam diharapkan nyeri pada - Identifikasi lokasi,
pasien berkurang dengan karakteristik, durasi, frekuensi,
kriteria hasil : kualitas, intensitas nyeri
- Identifikasi skala nyeri
Tingkat Nyeri
- Identifikasi respon nyeri
1. Nyeri berkurang dengan
nonverbal
skala 2
- Identifikasi factor yang
2. Pasien tidak mengeluh
memperingan dan
nyeri
3. Pasien tampak tenang memperberat nyeri
4. Pasien dapat tidur - Identifikasi pengetahuan dan
dengan tenang keyakinan tentang nyeri
5. Frekuensi nadi dalam - Identifikasi budaya terhadap
batas normal (60-100 respon nyeri
- Identifikasi pengaruh nyeri
x/menit)
6. Tekanan darah dalam terhadap kualitas hidup pasien
- Monitor efek samping
batas normal (90/60
penggunaan analgetik
mmHg – 120/80 mmHg)
- Monitor keberhasilan terapi
7. RR dalam batas normal
komplementer yang sudah
(16-20 x/menit)
Kontrol Nyeri diberikan
1. Melaporkan bahwa
nyeri berkurang dengan Terapeutik
menggunakan - Fasilitasi istirahat tidur
- Kontrol lingkungan yang
manajemen nyeri
2. Mampu mengenali nyeri memperberat nyeri ( missal:
(skala, intensitas, suhu ruangan, pencahayaan
frekuensi dan tanda dan kebisingan).
- Beri teknik non farmakologis
nyeri)
untuk meredakan nyeri
Status Kenyamanan
(aromaterapi, terapi pijat,
1. Menyatakan rasa
hypnosis, biofeedback, teknik
nyaman setelah nyeri
imajinasi terbimbimbing,
berkurang
teknik tarik napas dalam dan
kompres hangat/ dingin)
Edukasi
- Jelaskan penyebab, periode
dan pemicu nyeri
- Jelaskan strategi meredakan
nyeri
- Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
- Anjurkan monitor nyeri secara
mandiri
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu

2. Perubahan pola SLKI SIKI


Manajemen Eliminasi Fekal
eleminasi BAB Setelah dilakukan asuhan
1. Identifikasi masalah usus dan
(konstipasi) keperawatan selama
penggunaan obat pencahar
.....x......jam, diharapkan 2. Identifikasi pengobatan yang
pola napas pasien membaik berefek pada kondisi
dengan gastrointestinal
3. Monitor buang air besar (mis.
Kriteria Hasil : warna, frekuensi, konsistensi,
Eliminasi fekal volume)
a. 4. Monitor tanda dan gejala
Tidak ada keluhan defekasi konstipasi
5. Sediakan makanan tinggi serat
lama dan sulit
6. Jelaskan jenis makanan yang
b.
membantu meningkatkan
Tidak mengejan saat
keteraturan peristaltik usus
defekasi 7. Anjurkan mengkonsumsi
c. makanan yang mengandung
Konsistensi feses tinggi serat
8. Anjurkan meningkatkan asupan
(berbentuk, lunak,
cairan, jika tidak ada
lembek, basah)
kontraindikasi
d.
9. Kolaborasi pembeian obat
Frekuensi defekasi (1 kali
supositoria anal, jika perlu
dalam sehari)
Manajemen Konstipasi
e.
1. Periksa tanda dan gejala
Peristaltik usus (5-35 x/
konstipasi
menit) 2. Periksa pergerakan usus,
karakteristik feses (konsistensi,
bentuk, volume, dan warna)
3. Identifikasi faktor risiko
konstipasi (mis. obat-obatan,
tirah baring, dan diet rendah
serat)
4. Anjurkan diet tinggi serat
5. Lakukan massage abdomen,
jika perlu
6. Ajarkan cara mengatasi
konstipasi
7. Kolaborasi penggunaan obat
pencahar, jika perlu
3. Resiko Infeksi SLKI SIKI
Setelah dilakukan asuhan Pencegahan Infeksi
keperawatan selama ...x...  Monitor tanda dan gejala
jam diharapkan klien infeksi
terhindar dari resiko infeksi
 Cuci tangan sebelum dan
dengan kriteria hasil:
Tingkat Infeksi sesudah kontak dengan pasien
a. Integritas Kulit Baik dan lingkungan pasien

 Lakukan perawatan tali pusat

 Ajarkan ibu cara cuci tangan


dengan benar

 Kolaborasi pemberian
imunisasi jika perlu
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Hardi. 2013. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &


NANDA NIC-NOC. Yogyakarta : Mediaction
Doengoes, Marylinn. 2010. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi.
Jakarta : EGC.
Johnson Marion, Maas Meridean, and Moorhead Sue. 2013. Nursing Outcomes
Classification (NOC) Second Edition. USA : Mosby.
Manuaba, I.B. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi
dan KB. Jakarta : EGC.
Manuaba, I.B. 1999. Operasi Kebidanan Kandungan Dan Keluarga Berencana
Untuk Dokter Umum. Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arif. 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jakarta : Media
Aesculapius.
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri, Edisi 2, Jilid 2. Jakarta : EGC.
Nanda. 2012. Buku Saku Diagnosa Keperawatan definisi keperawatan dan
klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.
Sarwono, Prawiroharjo,. 2005. Ilmu Kandungan, Cetakan ke-4. Jakarta : PT
Gramedia.
SDKI, DPP & PPNI.(2016).Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi
dan Indikator Diagnostik. (Edisi 1). Jakarta: DPP PPNI
Mengetahui Gianyar, Agustus 2019
Pembimbing Praktek Mahasiswa

I Wayan Kardana Putra


NIP. NIM. P07120319028

Mengetahui
Pembimbing Akademik

NIP.