Anda di halaman 1dari 39

REFERAT

PELAYANAN DOKTER KELUARGA

Disusun oleh:
Tiara Roidah Marwasasmi
FAB 117 046

Pembimbing:
dr. Dian Mutiasari, M.Kes

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

REFERAT

PELAYANAN DOKTER KELUARGA

OLEH :

TIARA ROIDAH MARWASASMI, S.KED

FAB 117 046

Telah disetujui oleh:


Palangkaraya, Maret 2019
Pembimbing Materi

dr. Dian Mutiasari, M. Kes


KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas berkat,
rahmat, taufik, dan hidayah-Nya penyusunan referat yang berjudul Pelayanan
Kedokteran Keluarga dapat diselesaikan dengan baik. Referat ini disusun untuk
memenuhi salah satu tugas dalam kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kedokteran
Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya. Penulis sadar bahwa
dalam proses penulisan referat ini banyak mengalami kendala, namun berkat
bantuan, bimbingan, kerjasama dari berbagai pihak dan kasih dari Allah SWT
sehingga kendala-kendala yang dihadapi tersebut dapat diatasi.
Pada kesempatan ini saya juga mengucapkan terimakasih kepada pembimbing
saya dr. Dian Mutiasari, M.Kes yang turut membimbing dan membantu saya dalam
penyusunan referat ini, serta orang tua dan teman-teman yang saya sayangi.
Demikian yang dapat penyusun sampaikan. Kiranya referat ini dapat berguna
dan membantu generasi dokter-dokter muda selanjutnya maupun mahasiswa-
mahasiswi jurusan kesehatan lain yang sedang dalam menempuh pendidikan, referat
ini berguna sebagai referensi dan sumber bacaan untuk menambah ilmu pengetahuan.

Palangka Raya, Maret 2019

Tiara Roidah Marwasasmi


FAB 117 046
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................. i


LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 2
2.1 Definisi .................................................................................................. 2
2.3 Tujuan Pelayanan Dokter Keluarga ..................................................... 3
2.3 Manfaat Pelayanan Dokter Keluarga ................................................... 4
2.4 Fungsi Dokter Keluarga ....................................................................... 5
2.5 Ciri-ciri Pelayanan Dokter Keluarga ..................................................... 6
2.6 Tugas dan Wewenang Dokter Keluarga ............................................... 9
2.7 Kompetensi Dokter Keluarga ................................................................ 10
2.8 Prinsip Pelayanan Kedokteran Keluarga ............................................... 11
2.9 Perbedaan Dokter Praktek Umum dan Dokter keluarga ...................... 14
2.10 Pelayanan Kedokteran Keluarga di Indonesia ................................... 15
BAB III KESIMPULAN ....................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 17
BAB I
PENDAHULUAN

Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak tidak hanya


oleh orang per orang atau keluarga, tetapi juga oleh kelompok dan bahkan oleh
seluruh anggota masyarakat. Untuk mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak
upaya yang harus dilaksanakan, yang satu diantaranya adalah penyelenggaraan
pelayanan kesehatan. Upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan diharapkan
memenuhi faktor 3A 2C I dan Q, yaitu Available, Accesible, Affordable, Continue,
Comprehensive, Integrated dan Quality.1
Secara umum pelayanan kesehatan dibagi 2 yaitu pelayanan kesehatan personal
atau pelayanan kedokteran dan pelayanan kesehatan masyarakat. Pelayanan
kedokteran keluarga adalah termasuk dalam pelayanan kedokteran dimana pelayanan
dokter keluarga ini memiliki karakteristik tertentu dengan sasaran utamanya adalah
keluarga.1
Pelayanan dokter keluarga merupakan salah satu upaya penyelenggaraan
kesehatan perorangan di tingkat primer untuk memenuhi ketersediaan, ketercapaian,
keterjangkauan, kesinambungan dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Diharapkan akan mampu mengatasi permasalahan kesehatan yang hingga sekarang
belum terselesaikan karena belum jelasnya bentuk sub sistem pelayanan kesehatan
dan terkait dengan sub sistem pembiayaan kesehatan. 2
Sistem dokter keluarga merupakan antisipasi perkiraan bergesernya status
puskesmas menjadi sarana umum. Tugas puskesmas akan mengatur sanitasi dan
lingkungan atau yang bersifat Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), sedangkan
dokter keluarga menjadi private good, dokter akan menjadi bagian dari keluarga.
Kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau
merupakan sesuatu yang esensial, dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan
model dokter keluarga diharapkan dokter keluarga sebagai “ujung tombak” dalam
pelayanan kedokteran tingkat pertama, yang dapat berkolaborasi dengan pelayanan
kedokteran tingkat kedua dan yang bersinergi dengan sistem lain.2,3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Definisi dokter keluarga (DK) yang dibentuk oleh WONCA pada tahun 1991
adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan komprehensif bagi semua
orang yang mencari pelayanan kedokteran dan mengatur pelayanan oleh provider
lain bila diperlukan. Dokter ini adalah seorang generalis yang menerima semua orang
yang membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya pembatasan usia, jenis
kelamin ataupun oleh organ tubuh serta jenis penyakit tertentu. Secara klinis dokter
ini berkompeten untuk menyediakan pelayanan dengan sangat mempertimbangkan
dan memperhatikan latar budaya, sosial ekonomi dan psikologis pasien. Sebagai
tambahan, dokter ini bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang
komprehensif dan berkesinambungan bagi pasiennya (Danakusuma, 1996). 4,5
Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan
yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, ia tidak hanya
memandang penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian dari unit
keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif tetapi bila perlu aktif mengunjungi
penderita atau keluarganya (IDI 1982).5
Definisi kedokteran keluarga adalah ilmu kedokteran yang mencakup seluruh
spektrum ilmu kedokteran yang orientasinya untuk memberikan pelayanan kesehatan
tingkat pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada kesatuan individu,
keluarga, masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan, ekonomi dan
sosial budaya (IDI, 1983). Pelayanan kesehatan tingkat pertama dikenal
sebagai primary health care, yang mencangkup tujuh pelayanan (Muhyidin, 1996):
Promosi kesehatan, KIA, KB, Gizi, Kesehatan lingkungan, Pengendalian penyakit
menular, dan Pengobatan dasar.5

2.2 Tujuan Pelayanan Dokter Keluarga


Tujuan pelayanan dokter keluarga mencakup bidang yang amat luas sekali.
Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua macam (Azwar, 1995)
:6,7
1. Tujuan Umum
Tujuan umum pelayanan dokter keluarga adalah sama dengan tujuan pelayanan
kedokteran dan atau pelayanan kesehatan pada umumnya, yakni terwujudnya
keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga.
2. Tujuan Khusus
Sedangkan tujuan khusus pelayanan dokter keluarga dapat dibedakan atas dua
macam:
a. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih
efektif. Dibandingkan dengan pelayanan kedokteran lainnya, pelayanan
dokter keluarga memang lebih efektif. Ini disebabkan karena dalam
menangani suatu masalah kesehatan, perhatian tidak hanya ditujukan
pada keluhan yang disampaikan saja, tetapi pada pasien sebagai manusia
seutuhnya, dan bahkan sebagai bagian dari anggota keluarga dengan
lingkungannya masing-masing. Dengan diperhatikannya berbagai faktor
yang seperti ini, maka pengelolaan suatu masalah kesehatan akan dapat
dilakukan secara sempurna dan karena itu penyelesaian suatu masalah
kesehatan akan dapat pula diharapkan lebih memuaskan.
b. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih
efisien. Dibandingkan dengan pelayanan kedokteran lainnya, pelayanan
dokter keluarga juga lebih mengutamakan pelayanan pencegahan
penyakit serta diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan. Dengan diutamakannya pelayanan pencegahan
penyakit, maka berarti angka jatuh sakit akan menurun, yang apabila
dapat dipertahankan, pada gilirannya akan berperan besar dalam
menurunkan biaya kesehatan. Hal yang sama juga ditemukan pada
pelayanan yang menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Karena
salah satu keuntungan dari pelayanan yang seperti ini ialah dapat
dihindarkannya tindakan dan atau pemeriksaan kedokteran yang
berulang-ulang, yang besar peranannya dalam mencegah penghamburan
dana kesehatan yang jumlahnya telah diketahui selalu bersifat terbatas.
2.3 Manfaat Pelayanan Dokter Keluarga
Apabila pelayanan dokter keluarga dapat diselenggarakan dengan baik, akan
banyak manfaat yang diperoleh. Manfaat yang dimaksud antara lain adalah
(Cambridge Research Institute, 1976) :7
1. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai manusia
seutuhnya, bukan hanya terhadap keluhan yang disampaikan.
2. Akan dapat diselenggarakan pelayanan pencegahan penyakit dan dijamin
kesinambungan pelayanan kesehatan.
3. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis, pengaturannya akan lebih baik dan
terarah, terutama ditengah-tengah kompleksitas pelayanan kesehatan saat ini.
4. Akan dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga
penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan berbagai masalah
lainnya.
5. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan, maka segala
keterangan tentang keluarga tersebut, baik keterangan kesehatan dan ataupun
keterangan keadaan sosial dapat dimanfaatkan dalam menangani masalah
kesehatan yang sedang dihadapi.
6. Akan dapat diperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya
penyakit, termasuk faktor sosial dan psikologis.
7. Akan dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tata cara yang
lebih sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan meringankan biaya
kesehatan.
8. Akan dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih yang
memberatkan biaya kesehatan.

2.4. Fungsi Dokter Keluarga


Dokter keluarga memiliki 5 fungsi yang dimiliki, yaitu (Azrul Azwar, dkk.
2004) :8
a. Care Provider (Penyelenggara Pelayanan Kesehatan)
Yang mempertimbangkan pasien secara holistik sebagai seorang individu dan
sebagai bagian integral (tak terpisahkan) dari keluarga, komunitas,
lingkungannya, dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas
tinggi, komprehensif, kontinu, dan personal dalam jangka waktu panjang
dalam wujud hubungan profesional dokter-pasien yang saling menghargai dan
mempercayai. Juga sebagai pelayanan komprehensif yang manusiawi namun
tetap dapat dapat diaudit dan dipertangungjawabkan
b. Comunicator (Penghubung atau Penyampai Pesan)
Yang mampu memperkenalkan pola hidup sehat melalui penjelasan yang
efektif sehingga memberdayakan pasien dan keluarganya untuk meningkatkan
dan memelihara kesehatannya sendiri serta memicu perubahan cara berpikir
menuju sehat dan mandiri kepada pasien dan komunitasnya
c. Decision Maker (Pembuat Keputusan)
Yang melakukan pemeriksaan pasien, pengobatan, dan pemanfaatan teknologi
kedokteran berdasarkan kaidah ilmiah yang mapan dengan mempertimbangkan
harapan pasien, nilai etika, “cost effectiveness” untuk kepentingan pasien
sepenuhnya dan membuat keputusan klinis yang ilmiah dan empatik
d. Manager
Yang dapat berkerja secara harmonis dengan individu dan organisasi di dalam
maupun di luar sistem kesehatan agar dapat memenuhi kebutuhan pasien dan
komunitasnya berdasarkan data kesehatan yang ada. Menjadi dokter yang
cakap memimpin klinik, sehat, sejahtera, dan bijaksana
e. Community Leader (Pemimpin Masyarakat)
Yang memperoleh kepercayaan dari komunitas pasien yang dilayaninya,
menyearahkan kebutuhan kesehatan individu dan komunitasnya, memberikan
nasihat kepada kelompok penduduk dan melakukan kegaiatan atas nama
masyarakat dan menjadi panutan masyarakat.
 Selain fungsi, ada pula tugas dokter keluarga, yaitu :5,8
a. Mendiagnosis dan memberikan pelayanan aktif saat sehat dan sakit
b. Melayani individu dan keluarganya
c. Membina dan mengikut sertakan keluarga dalam upaya penanganan
penyakit
d. Menangani penyakit akut dan kronik
e. Merujuk ke dokter spesialis
 Kewajiban dokter keluarga :5,8
a. Menjunjung tinggi profesionalisme
b. Menerapkan prinsip kedokteran keluarga dalam praktek
c. Bekerja dalam tim kesehatan
d. Menjadi sumber daya kesehatan
e. Melakukan riset untuk pengembangan layanan primer

2.5. Ciri-ciri pelayanan dokter keluarga


Dokter dan pelayanan kedokteran keluarga memiliki beberapa karakteristik
tersendiri. Ciri-ciri tersebut diuraikan oleh para ahli secara sederhana dapat diuraikan
sebagai berikut:9
1. Menurut Lan R.McWhinney (1981)
 Lebih mengikatkan diri pada kebutuhan pasien secara keseluruhan, bukan
pada disiplin ilmu kedokteran, kelompok penyakit, dan atau teknik-teknik
kedokteran tertentu.
 Berupaya mengungkapkan kaitan munculnya suatu penyakit dengan
berbagai faktor yang mempengaruhinya.
 Menganggap setiap kontak dengan pasiennya sebagai suatu kesempatan
untuk menyelenggarakan pencegahan penyakit atau pendidikan kesehatan.
 Memandang dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang beresiko tinggi.
 Memandang dirinya sebagai bagian dari jaringan pelayanan kesehatan
yang tersedia di masyarakat.
 Diselenggarakan dalam satu daerah domisili yang sama dengan pasiennya.
 Melayani kepentingan pasien di tempat praktek, di rumah dan di rumah
sakit.
 Memperhatikan aspek subjektif dari ilmu kedokteran.
 Diselenggarakan oleh seorang dokter yang bertindak sebagai manager dari
sumber-sumber yang tersedia.
2. Menurut Lynn P.Carmichael (1973)
 Berorientasi pada pencegahan penyakit serta pemeliharaan kesehatan.
 Berhubungan dengan pasien sebagai anggota dari unit keluarga,
memandang keluarga sebagai dasar dari suatu organisasi sosial dan atau
suatu kelompok fungsional yang saling terkait, yang mana setiap individu
membentuk hubungan tingkat pertama.
 Memanfaatkan pendekatan menyeluruh, berorientasi pada pasien dan
keluarganya dalam menyelenggarakan setiap pelayanan kesehatan.
 Mempunyai keterampilan diagnosis yang andal serta pengetahuan
tentang epidemiologi untuk menentukan pola penyakit yang terdapat di
masyarakat dimana pelayanan tersebut diselenggarakan, dan selanjutnya
para dokter yang menyelenggarakan pelayanan harus memiliki keahlian
mengelola berbagai penyakit yang ditemukan dimasyarakat tersebut.
 Para dokternya memiliki pengetahuan tentang hubungan timbal balik
antara faktor biologis, sosial dan emosional dengan penyakit yang
dihadapi, serta menguasai teknik pemecahan masalah untuk mengatasi
berbagai penyakit yang mirip atau tidak khas serta berbagai penyakit
yang tergolong psikosomatik.
3. Menurut Debra P.Hymovic dan Martha Underwood Barnards (1973)
 Dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pelayanan
kesehatan yang lebih responsif serta bertanggung jawab.
 Dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan akan pelayanan kesehatan
tingkat pertama (termasuk pelayanan darurat) serta pelayanan lanjutan
(termasuk pengaturan rujukan).
 Dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan akan pelayanan pencegahan
penyakit dalam stadium dini serta peningkatan derajat kesehatan pasien
setinggi mungkin.
 Dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan untuk diperhatikannya pasien
tidak hanya sebagai orang perorang, tetapi juga sebagai anggota keluarga
dan anggota masyarakat.
 Dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan untuk dilayaninya pasien
secara menyeluruh dan dapat diberikan perhatian kepada pasien secara
lengkap dan sempurna, jauh melebihi jumlah keseluruhan keluhan yang
disampaikan.
4. Menurut Ikatan Dokter Indonesia (1982)
IDI melalui Muktamat ke-19 yang dilaksanakan di Surakarta pada tahun 1982
telah pula merumuskan ciri-ciri pelayanan dokter keluarga, yaitu:
 Melayani penderita tidak hanya sebagai orang-perorang melainkan
sebagai anggota satu keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat
sekitarnya.
 Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan memberikan
perhatian kepada penderita secara lengkap dan sempurna, jauh melebihi
jumlah keseluruhan keluhan yang disampaikan.
 Mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat
kesehatan seoptimal mungkin, mencegah timbulnya penyakit dan
mengenal serta mengobati penyakit sedini mungkin.
 Mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan ddan
berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.
 Menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat
pertama dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjutan.

2.6. Tugas dan Wewenang Dokter Keluarga


Tugas seorang dokter keluarga antara lain:6,8
 Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna menyeluruh, dan
bermutu guna penapisan untuk pelayanan spesialistik yang diperlukan,
 Mendiagnosis secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat,
 Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat
sehat dan sakit,
 Memberikan pelayanan kedokteran kepada individu dan keluarganya,
 Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan
taraf kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi,
 Menangani penyakit akut dan kronik,
 Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke rumah
sakit (RS),
 Bertanggung-jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau
dirawat di RS,
 Memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan,
 Bertindak sebagai mitra, penasihat dan konsultan bagi pasiennya,
 Mengkordinasikan pelayanan yang diperlukan untuk kepentingan pasien,
 Menyelenggarakan rekam medis yang memenuhi standar,
 Melakukan penelitian untuk mengembangkan ilmu kedokteran secara
umum dan ilmu kedokteran keluarga secara khusus.

Wewenang dokter keluarga antara lain:


 Menyelenggarakan rekam medis yang memenuhi standar,
 Melaksanakan pendidikan kesehatan bagi masyarakat,
 Melaksanakan tindak pencegahan penyakit,
 Mengobati penyakit akut dan kronik di tingkat primer,
 Mengatasi keadaan gawat darurat pada tingkat awal,
 Melakukan tindak prabedah, bedah minor, rawat pascabedah di unit
pelayanan primer,
 Melakukan perawatan sementara,
 Menerbitkan surat keterangan medis,
 Memberikan masukan untuk keperluan pasien rawat inap,
 Memberikan perawatan dirumah untuk keadaan khusus.

2.7. Kompetensi Dokter keluarga


Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang lebih dari pada
seorang lulusan fakultas kedokteran pada umumnya. Kompetensi khusus ini didapat
melalui program pelatihan dokter keluarga. Kompetensi tersebut antara lain:10
 Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran keluarga
 Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam
pelayanan kedokteran keluarga
 Menguasai ketrampilan berkomunikasi
Seorang dokter keluarga diharapkan dapat menyelenggarakan hubungan
dokter- pasien yang profesional untuk:
 Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua anggota keluarga
dengan perhatian khusus terhadap peran dan risiko kesehatan keluarga,
 Secara efektif memanfaatkan kemampuan keluarga untuk berkerjasana
menyelesaikan masalah kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan dan
penyembuhan penyakit, serta pengawasan dan pemantauan risiko kesehatan
keluarga,
 Dapat bekerjasama secara profesional dan harmonis dalam satu tim pada
penyelenggaraan pelayanan kedokteran/kesehatan.
Kompetensi dokter keluarga yang tercantum dalam Standar Kompetensi
Dokter Keluarga yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia tahun
2006 adalah (Danasari, 2008) :
 Keterampilan komunikasi efektif
 Keterampilan klinik dasar
 Keterampilan menerapkan dasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan
epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga
 Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun
masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan,
terkoordinir dan bekerja sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer
 Memanfaatkan, menilai secara kritis dan mengelola informasi
 Mawas diri dan pengembangan diri atau belajar sepanjang hayat
 Etika moral dan profesionalisme dalam praktek

2.8. Prinsip Pelayanan Kedokter Keluarga11


1. Pelayanan komprehensif dengan pendekatan holistik
Artinya kita memandang pasien tidak hanya dari sisi biologis saja tetapi juga
dari sisi sosial dan psikologisnya. Oleh sebab itu, seorang dokter keluarga
memandang pasiennya secara keseluruhan, dalam konteks memperhatikan
keseluruhan kebutuhan mereka.
2. Pelayanan yang kontinu
Adalah pelayanan kesehatan dimana satu dokter bertemu pasiennya dalam
keadaan sakit maupun keadaan sehat, dan mengikuti perjalanan penyakit dari
pasiennya hingga ia sembuh. Dengan pelayanan yang berkesinambungan akan
terbentuk hubungan yang didasari kepercayaan terhadap dokternya, dan
perjalanan waktu akan membentuk kepercayaan ini.
3. Pelayanan yang mengutamakan pencegahan (preventif)
Prinsip pencegahan memiliki multi aspek, termasuk mencegah penyakit
menjadi lebih berat, mencegah orang lain tertular, pengenalan faktor resiko dari
penyakit, dan promosi kesehatan (gaya hidup sehat). Pencegahan juga
termasuk mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin mempunyai efek
terhadap kesehatan emosional pasien dan keluarganya.
- Melayani KIA, KB, vaksinasi.
- Mendiagnosis dan mengobati penyakit sedini mungkin
- Mengkonsultasikan atau merujuk pasien pada waktunya
- Mencegah kecacatan.
4. Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif
Dokter keluarga itu seperti orkestrator pelayanan kesehatan bagi pasiennya,
yang mengkoordinasi-kan semua pelayanan kesehatan yg dibutuhkan pasien
seperti para dokter spesialis, dan pelayanan kesehatan lain diluar praktek dokter
keluarga. Dokter keluarga bertanggung jawab dan menjadi guide bagi
pasiennya.
 Kerjasama profesional dengan semua pengandil agar dicapai pelayanan
kesehatan yang bermutu dan mencapai kesembuhan optimal.
 Memanfaatkan potensi pasien dan keluarganya seoptimal mungkin untuk
penyembuhan. Sebagai contoh: melatih anggota keluarga untuk
mengukur dan memantau suhu tubuh pasien atau bahkan tekanan darah
dan kadar gula darahnya. Hasil itu selanjutnya dilaporkan secara berkala
kepada dokter yang bersangkutan.
5. Penanganan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari
keluarganya.
Seorang dokter keluarga memandang pasiennya sebagai bagian dari
keluarganya dan memahami pengaruh penyakit terhadap keluarga dan
pengaruh keluarga terhadap penyakit. Dokter keluarga juga mengenali
keluarga yang berfungsi baik dan keluarga yang disfungsi.
 Titik awal (entry point) pelayanan Dokter Keluarga adalah individu
seorang pasien.
 Unit terkecil yang dilayaninya adalah individu pasien itu sendiri sebagai
bagian integral dari keluarganya.
 Seluruh anggota keluarga dapat menjadi pasien seorang Dokter
Keluarga akan tetapi tetap dimungkinkan sebuah keluarga mempunyai
lebih dari satu dokter keluarga.
6. Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan
lingkungan tempat tinggalnya.
Pekerjaan, budaya, dan lingkungan adalah aspek-aspek dalam komunitas
(masyarakat) yang dapat mempengaruhi penatalaksanaan seorang pasien.
Berbagai pihak dalam masyarakat dapat digunakan oleh dokter keluarga
dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan yg optimal.
 Selalu mempertimbangkan pengaruh keluarga, komunitas, masyarakat
dan lingkungannya yang dapat mempengaruhi penyembuhan
penyakitnya.
 Memanfaatkan keluarga, komunitas, masyarakat dan lingkungannya
untuk membantu penyembuhan penyakitnya.
7. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum
 Mempertimbangkan etika dalam setiap tindak medis yang dilakukan
pada pasien.
 Meminta ijin pada pasien untuk memberitakan penyakitnya kepada
keluarganya atau pihak lain.
 Menyadari bahwa setiap kelalaian dalam tindakannya dapat menjadi
masalah hukum.
8. Pelayanan yang sadar biaya
Mempertimbangkan segi “cost-effectiveness” dalam merancang tindakan
medis untuk pasiennya.
 Mampu mengelola dan mengembangkan secara efisien dengan neraca
positif sebuah klinik Dokter Keluarga dengan tetap menjaga mutu
pelayanan kesehatan
 Mampu bernegosiasi dengan pelayanan kesehatan yang lain (Rumah
Sakit, Apotik, Optik dan lain-lain) secara berimbang sehingga tercapai
kerjasama yang menguntungkan semua pihak khususnya pasien.
 Mampu bernegosiasi dengan perusahaan asuransi kesehatan secara serasi
dan selaras sehingga tercapai kerjasama yang menguntungkan semua
pihak khususnya pasien.
9. Pelayanan yang dapat diaudit dan dapat dipertangungjawabkan
Rekam medís yang lengkap dan akurat yang dapat dibaca orang lain yang
berkepentingan.
 Menyediakan SOP untuk setiap layanan medis.
 Belajar sepanjang hanyat dan memanfaatkan EBM (Evidence Based
Medicine) serta menggunakannya sebagai alat untuk merancang tindakan
medis dan bukan sebagai pembuat keputusan.
 Menyadari keterbatasan kemampuan dan kewenangan.
 Menyelenggarakan pertemuan ilmiah rutin membahas berbagai kasus
sambil mengaudit penatalaksanaannya.

2.9. Perbedaan Dokter Praktek Umum dan Dokter Keluarga


Tabel ini menjelaskan tentang perbedaan antara dokter praktek umum dengan
dokter keluarga (Qomariah, 2000) :11
DOKTER PRAKTEK
DOKTER KELUARGA
UMUM
Cakupan Pelayanan Terbatas Lebih Luas
Menyeluruh, Paripurna,
Sifat Pelayanan Sesuai Keluhan bukan sekedar yang
dikeluhkan
Kasus per kasus dengan
Kasus per kasus dengan
Cara Pelayanan berkesinambungan
pengamatan sesaat
sepanjang hayat
Lebih kearah
Lebih kuratif hanya untuk pencegahan, tanpa
Jenis Pelayanan
penyakit tertentu mengabaikan pengobatan
dan rehabilitasi
Lebih diperhatikan dan
Peran keluarga Kurang dipertimbangkan
dilibatkan
Promotif dan pencegahan Tidak jadi perhatian Jadi perhatian utama
Dokter – pasien – teman
Hubungan dokter-pasien Dokter – pasien
sejawat dan konsultan
Secara individual sebagai
Awal pelayanan Secara individual bagian dari keluarga
komunitas & lingkungan

2.7. Pelayanan Kedokteran Keluarga di Indonesia


Pelayanan kedokteran keluarga di Indonesia sebenarnya sudah dikenal sejak
zaman penjajahan yang populer dengan sebutan dokter rumah (huisaris). Dokter
rumah lebih memusatkan perhatiannya kepada penderita sebagai manusia seutuhnya,
yang lebih terpadu dan berkesinambungan, yang lebih memperhatikan biaya
kesehatan, serta yang lebih proaktif, dalam arti lebih mengutamakan pelayanan
promotif dan preventif serta tidak hanya sekedar menunggu pasien di kamar praktek,
tetapi jika perlu juga mendatangi pasien di rumah. Lambat laun, pelayanan
kedokteran yang lebih profesional, lebih manusiawi, lebih efektif serta lebih efisien
ini menghilang. Pelayanan kedokteran yang lebih penuh pengabdian serta lebih luhur
tersebut, sejak awal tahun 1960-an mulai ditinggalkan.7,11
Perkembangan pelayanan kesehatan di Indonesia ditandai dengan munculnya
berbagai spesialis dan sub-spesialis, serta penggunaan berbagai peralatan kedokteran
canggih, yang tidak diikuti oleh penataan sub sistem pelayanan kesehatan dan sub
sistem pembiayaan kesehatan, menjadi penyebab munculnya berbagai perubahan
dalam pelayanan kedokteran keluarga. Sebagai akibat perkembangan spesialis dan
sub-spesialis, serta penggunaan berbagai peralatan kedokteran yang canggih,
pelayanan kesehatan di Indonesia menjadi terkotak-kotak, tidak berkesinambungan,
kurang personal serta mahal. Prinsip-prinsip pelayanan kedokteran keluarga yang
selama ini sangat kental melekat pada pelayanan kedokteran di Indonesia akhirnya
tidak ditemukan lagi.7
Menyadari pentingnya pelayanan kesehatan yang terpadu, berkesinambungan,
efektif, efisien, personal, serta manusiawi, dalam rangka menyempurnakan
pelayanan kesehatan, maka dilakukan upaya untuk mengembangkan kembali
pelayanan kedokteran keluarga. Untuk pengembangan tersebut, terdapat tiga pilihan,
yaitu:7,8,11
1. Mengembangkan pelayanan kedokteran keluarga melalui pemantapan
pelayanan kedokteran umum.
2. Mengembangkan pelayanan kedokteran keluarga sebagai salah satu pelayanan
kedokteran spesialis.
3. Mengembangkan pelayanan kedokteran keluarga melalui penerapan prinsip-
prinsip pelayanan kedokteran keluarga pada setiap pelayanan kedokteran yang
diselenggarakan, termasuk pelayanan kedokteran spesialis.
Jika diperhatikan ketiga pilihan diatas, serta disesuaikan dengan situasi dan
kondisi di Indonesia, dapat dilihat bahwa upaya untuk mengembangkan kembali
pelayanan kedokteran keluarga di Indonesia, bukanlah dengan melahirkan pelayanan
kedokteran keluarga yang bersifat spesialistik, atau bukan pula dengan mewajibkan
pelayanan kedokteran spesialis menerapkan prinsip-prinsip pelayanan kedokteran
keluarga. Upaya untuk mengembangkan pelayanan kedokteran keluarga di Indonesia
yang dipandang tepat tampaknya dengan lebih memantapkan dan menyempurnakan
pelayanan kedokteran umum.
BAB III
KESIMPULAN

 Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan


yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, seorang
generalis yang menerima semua orang yang membutuhkan pelayanan
kedokteran tanpa adanya pembatasan usia, jenis kelamin ataupun oleh organ
tubuh serta jenis penyakit tertentu.
 Secara klinis dokter ini berkompeten untuk menyediakan pelayanan dengan
sangat mempertimbangkan dan memperhatikan latar budaya, sosial ekonomi
dan psikologis pasien.
 Dokter keluarga juga dapat berperan sebagaimana layaknya dokter praktek
umum, yaitu berfungsi sebagai klinisi dimana mereka menjadi
communicator, care provider, decision maker, community
leader dan manager.
DAFTAR PUSTAKA

1. Azwar, A. Dokter Keluarga. Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Kesehatan


Masyarakat Departemen Kesehatan RI. 2002.

2. Wahyuni., Arlinda, S. Pelayanan Dokter Keluarga. Sumatera Utara : Fakultas


Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3. Konferensi Nasional Dokter Keluarga : Pengembangan Profesi Dokter


keluarga Sebagai Tulang Punggung Layanan Kedokteran di Indonesia. 2014.
Diakses tanggal 8 Maret 2019
http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=detail&mod=berita&view=1&id=
BRT070730143701.

4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dokter Keluarga. 2013. Diakses


tanggal 8 maret 2019
http://www.ppjk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&task=view&
id=61&Itemid=102

5. Sulistyo, RD. Dokter Keluarga. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas


Maranatha. 2014.

6. Azwar, A. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. Jakarta: Ikatan Dokter


Indonesia. 1995.

7. Dewantari, EO., Fauzi, FNF. Prinsip Pelayanan Dokter Keluarga. Bandar


lampung: Fakultas Kedokteran Universitas Bandar Lampung. 2015.

8. Wonodirekso, S. Praktik Dokter Keluarga. Majalah Kedokteran Indonesia,


Edisi September, 2013.

9. Qomariah. Sekilas Kedokteran Keluarga. Jakarta: Fakultas Kedokteran


Yarsi. 2013.

10. Danasari. Standar Kompetensi Dokter Keluarga. Jakarta: PDKI. 2008.

11. Wonodirekso, S. Sistem Pelayanan Dokter Keluarga Meningkatkan Kadar


Kesejawatan dan Profesionalisme. Majalah Kedokteran Indonesia Volume:
59, Nomor: 1. 2013.
Kepaniteraan Klinik Stase Ilmu Kedokteran Komunitas – Fakultas Kedokteran UPR

REFERAT
Pelayanan Dokter Keluarga

Pembimbing :
dr. Dian Mutiasari, M.Kes

Oleh :
Tiara Roidah Marwasasmi
FAB 117 046
Pendahuluan
Latar Belakang

Pelayanan kedokteran
Terwujudnya keadaan sehat Secara umum pelayanan keluarga adalah termasuk
merupakan kehendak semua kesehatan dibagi 2 yaitu dalam pelayanan kedokteran
pihak tidak hanya oleh orang pelayanan kesehatan personal dimana pelayanan dokter
per orang atau keluarga, atau pelayanan kedokteran keluarga ini memiliki
tetapi juga oleh kelompok dan pelayanan kesehatan karakteristik tertentu dengan
dan bahkan oleh seluruh masyarakat. sasaran utamanya adalah
anggota masyarakat. keluarga.
Definisi

Dokter keluarga

• Dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan


yang berorientasi pada komunitas dengan titik berat
kepada keluarga
• Memandang penderita sebagai individu yang sakit
tetapi sebagai bagian dari unit keluarga
• Tidak pasif menerima pasien tetapi aktif mengunjungi
penderita atau keluarganya
...Definisi
Dokter keluarga

• Seorang generalis yang menerima semua orang yang


membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya
pembatasan usia, jenis kelamin ataupun oleh organ
tubuh serta jenis penyakit tertentu.
• Secara klinis dokter ini berkompeten untuk
menyediakan pelayanan dengan sangat
mempertimbangkan dan memperhatikan latar
budaya, sosial ekonomi dan psikologis pasien.
• Sebagai tambahan, dokter ini bertanggung jawab atas
berlangsungnya pelayanan yang komprehensif dan
berkesinambungan bagi pasiennya
Tujuan Pelayanan
Dokter Keluarga

Tujuan Umum

• Terwujudnya keadaan sehat bagi setiap anggota


keluarga.

Tujuan Khusus

• Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan


pelayanan kedokteran yang lebih efektif.
• Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan
pelayanan kedokteran yang lebih efisien.
Prinsip
Kedokteran Keluarga
Continuity of Care
•Pelayanan yang berkesinambungan

Comprehensive of Care
•Pelayanan yang menyeluruh

Coordination of Care
•Pelayanan yang terkoordinasi

Community
•Masyarakat

Prevention
•Pencegahan

Family
•Keluarga
Kompetensi
Dokter Keluarga
Primary care management

Person-centred care

Spesific problem solving

Comprehensive approach

Community orientation

Holistic approach
Manfaat Pelayanan
Dokter Keluarga
Penanganan kasus sebagai manusia seutuhnya, Akan dapat diselenggarakan pelayanan
bukan hanya terhadap keluhan yang pencegahan penyakit dan dijamin
disampaikan kesinambungan pelayanan kesehatan.

Akan dapat diselenggarakan pelayanan


Pengaturan pelayanna spesialis akan lebih baik kesehatan yang terpadu sehingga penanganan
dan terarah suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan
berbagai masalah lainnya.

Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam


pelayanan, maka segala keterangan tentang
Dapat diperhitungkan berbagai faktor yang
keluarga tersebut, baik keterangan kesehatan
mempengaruhi timbulnya penyakit, termasuk
dan ataupun keterangan keadaan sosial dapat
faktor sosial dan psikologis.
dimanfaatkan dalam menangani masalah
kesehatan yang sedang dihadapi.

Akan dapat diselenggarakan penanganan


Akan dapat dicegah pemakaian berbagai
kasus penyakit dengan tata cara yang lebih
peralatan kedokteran canggih yang
sederhana dan tidak begitu mahal dan karena
memberatkan biaya kesehatan.
itu akan meringankan biaya kesehatan.
Fungsi Dokter
Keluarga
Care Provider (Penyelenggara
Pelayanan Kesehatan)
Comunicator (Penghubung atau
Penyampai Pesan)
Decision Maker (Pembuat
Keputusan)

Manager

Community Leader (Pemimpin


Masyarakat)
Tugas Dokter
Keluarga
Wewenang Dokter
Keluarga
Kesimpulan
Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan
kesehatan yang berorientasi komunitas dengan titik berat kepada
keluarga, seorang generalis yang menerima semua orang yang
membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya pembatasan usia,
jenis kelamin ataupun oleh organ tubuh serta jenis penyakit tertentu.

Secara klinis dokter ini berkompeten untuk menyediakan pelayanan


dengan sangat mempertimbangkan dan memperhatikan latar budaya,
sosial ekonomi dan psikologis pasien.

Dokter keluarga juga dapat berperan sebagaimana layaknya dokter


praktek umum, yaitu berfungsi sebagai klinisi dimana mereka menjadi
communicator, care provider, decision maker, community
leader dan manager.
Daftar Pustaka
• Azwar, A. Dokter Keluarga. Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat
Departemen Kesehatan RI. 2002.
• Wahyuni., Arlinda, S. Pelayanan Dokter Keluarga. Sumatera Utara : Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
• Konferensi Nasional Dokter Keluarga : Pengembangan Profesi Dokter keluarga Sebagai
Tulang Punggung Layanan Kedokteran di Indonesia. 2014. Diakses tanggal 8 Maret 2019.
http://www.depkominfo.go.id/portal/?act=detail&mod=berita&view=1&id=BRT0707301
43701.
• Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Dokter Keluarga. 2013. Diakses tanggal 8
maret 2019.
http://www.ppjk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=61&Itemid
=102
• Sulistyo, RD. Dokter Keluarga. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha. 2014.
• Azwar, A. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia. 1995.
• Dewantari, EO., Fauzi, FNF. Prinsip Pelayanan Dokter Keluarga. Bandar lampung: Fakultas
Kedokteran Universitas Bandar Lampung. 2015.
• Wonodirekso, S. Praktik Dokter Keluarga. Majalah Kedokteran Indonesia, Edisi September,
2013.
• Qomariah. Sekilas Kedokteran Keluarga. Jakarta: Fakultas Kedokteran Yarsi. 2013.
• Danasari. Standar Kompetensi Dokter Keluarga. Jakarta: PDKI. 2008.
• Wonodirekso, S. Sistem Pelayanan Dokter Keluarga Meningkatkan Kadar Kesejawatan dan
Profesionalisme. Majalah Kedokteran Indonesia Volume: 59, Nomor: 1. 2013.
TERIMA KASIH