Anda di halaman 1dari 53

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Sekolah : SMA Negeri 1 Pantai Labu


Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : XII / Genap
Materi Pokok : Pola-pola Hereditas
Alokasi Waktu : 4 Minggu x 4 Jam Pelajaran @45 Menit

I. Kompetensi Inti
 KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya
tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah
 KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah
abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah
secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu
menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

II. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi


Kompetensi Dasar Indikator
3.6 Menganalisis pola-pola 3.6.1 Menyimpulkan pola pewarisan sifat
hereditas pada mahluk hidup non Mendelian didasarkan pada hasil
pengamatan adanya kenyataan sifat-
sifat pada anak yang tidak sama atau
menyimpang dari kedua orang tuanya
3.6.2 Menerapkan konsep gen letal, pautan,
pautan sex, pindah silang dan gagal
berpisah dalam menyelesaikan
persoalan dengan latihan soal
3.6.3 Mengaitkan adanya perbedaan variasi
dalam satu keturunan dengan pola
pewarisan sifat Mendelian
3.6.4 Menyimpulkan bahwa ada pewarisan
sifat non Mendelian
4.6 Menyajikan hasil penerapan 4.6.1 Menerapkan pola-pola hereditas dalam
pola-pola hereditas dalam perhitungan peluang dari persilangan
perhitungan peluang dari yang melibatkan peristiwa pautan dan
persilangan yang melibatkan pindah silang
peristiwa pautan dan pindah 4.6.2 Menyajikan hasil penerapan pola-pola
silang hereditas dalam perhitungan peluang
dari persilangan yang melibatkan

1
peristiwa pautan dan pindah silang

III. Tujuan Pembelajaran


1. Melalui pengamatan peserta didik diharapkan dengan percaya diri dapat
menyimpulkan pola pewarisan sifat non Mendelian didasarkan pada
adanya kenyataan sifat-sifat pada anak yang tidak sama atau menyimpang
dari kedua orang tuanya dengan benar.
2. Peserta didik dengan rasa percaya diri dapat menerapkan konsep gen letal,
pautan, pautan sex, pindah silang dan gagal berpisah dalam
menyelesaikan persoalan dengan benar.
3. Peserta didik dengan percaya diri dapat mengaitkan adanya perbedaan
variasi dalam satu keturunan dengan pola pewarisan sifat Mendelian
dengan baik dan benar
4. Peserta didik dengan penuh tanggung jawab dapat menyimpulkan bahwa
ada pewarisan sifat non Mendelian melalui pengamatan dengan benar.
5. Peserta didik dengan rasa percaya diri dapat menerapkan pola-pola
hereditas dalam perhitungan peluang dari persilangan yang melibatkan
peristiwa pautan dan pindah silang dengan benar.
6. Peserta didik dengan penuh tanggung jawab dapat menyajikan hasil
penerapan pola-pola hereditas dalam perhitungan peluang dari persilangan
yang melibatkan peristiwa pautan dan pindah silang dengan benar.

IV. Materi Pembelajaran


1. Pautan dan Pindah Silang

Peristiwa inheritansi baik pada hewan, tumbuhan, maupun manusia akan


mengikuti pola-pola hereditas. Hereditas (Latin: heres atau ahli waris) adalah
pewarisan sifat yang mengikuti pola-pola tertentu. Beberapa contoh peristiwa
hereditas adalah pautan dan pindah silang. Gen berpautan merupakan gen-gen
yang terletak pada kromosom yang sama. Adapun pindah silang merupakan
proses pertukaran segmen dari kromatid-kromatid dari sepasang kromosom
homolog. Hal ini terjadi dalam proses pembelahan meiosis.
1. Pautan

Pautan adalah peristiwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama tidak
dapat memisahkan diri secara bebas ketika pembelahan meiosis. Bagian
kromosom yang berperan dalam peristiwa pewarisan sifat keturunan adalah gen.
Satu kromosom dapat mengandung ratusan bahkan ribuan gen. Kondisi di mana
dalam satu kromosom yang sama terdapat dua atau lebih gen inilah yang disebut

2
tautan atau berangkai (linkage). Peristiwa ini pertama kali ditemukan oleh seorang
ahli Genetika dan Embriologi dari Amerika, yakni Thomas Hunt Morgan pada
tahun 1910.

Morgan menemukan keanehan pada penelitian mengenai pewarisan sifat yang


diturunkan pada lalat buah (Drosophila melanogaster). Lalat buah dipilih sebagai
objek penelitiannya karena mudah dan cepat berkembang biak, jumlah
kromosomnya hanya 4 pasang (8 kromosom) sehingga kromosomnya
mudah diamati dan dihitung, serta mudah dibedakan antara lalat jantan dan
betina. Perbandingan fenotipe dan genotipe yang ditemukannya ternyata berbeda
dengan apa yang dikemukakan oleh Mendel maupun perbandingan seperti
penyimpangan-penyimpangan hukum Mendel lainnya.

Dalam percobaannya Morgan mengawinkan Drosophila betina dengan warna


tubuh kelabu (B), sayap
panjang (V) dengan jantan warna tubuh hitam (b), sayap pendek (v). Dari
persilangan itu, Morgan mendapat persilangan F1 yang berwarna tubuh kelabu
dan bersayap panjang. Jika pada F1 individu jantan ditestcross dengan induk
resesif maka keturunannya hanya terdiri atas 2 kelas, yakni kelabu-panjang dan
hitam-pendek dengan rasio fenotipe 1:1.

Jika b dan v atau B dan V merupakan alel yang terdapat pada pasangan kromosom
yang berbeda, perhatikan persilangan di bawah ini!
Persilangan: Gen dan alel yang terletak pada pasangan kromosom yang berbeda

3
Fenotipe : kelabu panjang X hitam pendek

Genotipe : BBVV Bbvv

P Gamet : BV Bv

Kelabu Panjang Heterozigot


BbVv

F1 Ditestcross dengan induk resesif

BbVv X Bbvv

Menghasilkan :

Gamet BV Bv bV Bv

BbVv Bbvv bbVv bbvv


kelabu- kelabu- hitam- hitam-
bersayap bersayap bersayap bersayap
Bv panjang pendek panjang pendek

Jadi, seharusnya persilangan tersebut menghasilkan rasio fenotipe 1:1:1:1. Hal ini
disebabkan kromosom yang mengandung alel B atau b dan alel V atau v yang
pergi ke kutub atas atau bawah pada meiosis sama besar. Oleh karena itu, rasio
macam gamet, baik kombinasi parental maupun rekombinannya sama. Tetapi, hal
itu tidak terlihat pada hasil penemuan Morgan sebab BV dan bv tertaut dalam satu
kromosom, sehingga saat meiosis dihasilkan 2 variasi gamet BV dan bv. Turunan
pertama atau F1 bergenotipe BbVv, berwarna kelabu-sayap panjang, terlihat

4
seperti pada persilangan
berikut ini.

Persilangan: Gen dan alel yang terletak pada pasangan kromosom yang berbeda

Fenotipe : kelabu panjang X hitam pendek

Genotipe : BBVV Bbvv

P Gamet : BV Bv

Kelabu Panjang
BbVv

F1 Ditestcross dengan induk resesif

F1 BbVv X Bbvv

Menghasilkan :

Gamet BV - - Bv

BbVv
kelabu- bbvv
bersayap hitam-bersayap
Bv panjang - - pendek

Rasio fenotipe hasil testcross ialah kelabu-sayap panjang : hitam-sayap pendek


1:1. Ini berarti macam gamet rekombinan tidak muncul, sebab b bertaut V, b

5
bertaut v, sehingga gamet yang dihasilkan F1 hanya BV dengan bv. Karena rasio
gamet BV dengan bv 1:1 maka rasio fenotipe hasil testcross. Bbvv : bbvv = lalat
buah kelabu-sayap panjang : hitam-sayap pendek = 1:1. Penemuan Morgan ini
menunjukkan bahwa gen BV dan bv bukan terletak pada kromosom berbeda,
tetapi pada kromosom yang sama, artinya bertaut.

2. Pindah Silang.
Peristiwa pindah silang selain ditemukan oleh Morgan, juga dilaporkan oleh G. N.
Collins dan J. H. Kemton pada tahun 1911. Pada peristiwa meiosis, kromatid yang
berdekatan dari kromosom homolog tidak selalu berjajar berpasangan dan
beraturan, tetapi kadang-kadang saling melilit satu dengan lainnya. Hal ini
menyebabkan sering terjadi sebagian gen-gen suatu kromatid tertukar dengan gen-
gen kromatid homolognya. Peristiwa ini disebut dengan pindah saling atau
crossing over.

Pada gambar di bawah memperlihatkan terjadinya pembelahan meiosis. Sel-sel


yang mengadakan pembelahan bergenotipe AaBb. Gen A bertaut dengan gen B,
sedangkan gen a bertaut dengan gen b. Apabila tidak terjadi peristiwa pindah
silang maka sel-sel anakan yang terbentuk akan mempunyai susunan gen AB dan
ab dengan rasio 50%:50% atau 1:1 yang semuanya terdiri atas kombinasi parental
(KP). Tetapi, apabila sebagian sel yang membelah mengalami pindah silang maka
di samping kombinasi parental, akan terbentuk pula rekombinan atau kombinasi
baru (RK) yang frekuensinya masing-masing ditentukan oleh frekuensi sel yang
mengalami pindah silang.

Selama meiosis, pindah silang dapat terjadi antara gen-gen dalam kromosom yang
sama. Jumlah pindah silang yang terjadi tergantung pada jarak antara gen-gen itu,
seperti tampak pada gambar.

6
Pada gambar di atas terlihat bahwa sel yang mengalami pindah silang sebanyak
20% dari jumlah sel yang membelah. Hal ini berarti 80% sel lainnya tidak
mengalami pindah silang, sehingga kombinasi sel gamet yang dihasilkan dapat
dihitung sebagai berikut.
Keterangan:

Untuk kelompok sel yang tidak mengalami pindah silang yaitu sebanyak 80%.
Setiap sel yang membelah dalam kelompok ini akan menghasilkan 4 sel baru yang
haploid. Sel baru ini terdiri atas 2 macam kombinasi, yaitu AB dan ab, dengan
rasio 50% AB : 50% ab. Jadi frekuensi gamet AB=50% x 80%=40% dan
frekuensi gamet ab=50% x 80%=40%.

Untuk kelompok sel yang mengalami pindah silang, yaitu sebanyak 20%, setiap
selnya menghasilkan 4 sel gamet baru dengan kombinasi AB, Ab,aB terbentuk
karena adanya peristiwa pindah silang.

Berdasarkan hal tersebut maka frekuensi masing-masing kombinasi adalah


sebagai berikut:

7
AB = 25% x 20% = 5% ;
Ab = 25% x 20% = 5%
aB = 25% x 20% = 5% ;
ab = 25% x 20% = 5%
Apabila peristiwa a dan b digabungkan, maka akan dihasilkan macam dan
frekuensi kombinasi sebagai berikut:

AB = 40% + 5% = 45% ; Ab = 40% + 5% = 45%

AB dan ab yang merupakan kombinasi parental (KP), frekuensinya 90%. Ab =


5% ; aB = 5%

Ab dan aB yang merupakan kombinasi baru atau rekombinan (RK), frekuensinya


5%.

Apabila dalam peristiwa tautan tidak terjadi pindah silang, maka semua susunan
gen pada sel gametnya merupakan kombinasi parental, tetapi apabila dalam
peristiwa ini terjadi pindah silang maka susunan gen pada sel gametnya terdiri
atas 2 jenis yakni kombinasi parental dan dihasilkan F1 ada 4 macam, yaitu AB,
ab, Ab, dan aB. AB dan ab merupakan kombinasi parental, sedangkan Ab dan aB
merupakan rekombinan.
Pada peristiwa pindah silang ini frekuensi kombinasi parental (KP) lebih dari 50%
dan frekuensi rekombinan (RK) kurang dari 50%. Kombinasi baru atau
rekombinan yang terbentuk pada peristiwa pindah silang frekuensinya selalu lebih
kecil daripada kombinasi parental (RK<KP).

2. DETERMINASI SEKS (PROSES PENENTUAN JENIS KELAMIN)


Tipe Penentuan Jenis Kelamin
Sebagian besar mekanisme penentuan (determinasi) seks/jenis kelamin
brada di bawah kendali genetik dan dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu
ketegori berikut:
a. Jantan heterogamet
Pada manusia dan kebanyakan mamalia, adanya kromosom Y menentukan
suatu kecenderungan kepada sifat jantan. Jantan normal secara kromosomal

8
adalah XY dan betina XX. Hal ini menghasilkan rasio seks 1:1 pada setiap
generasi. Karena jantan menghasilkan menghasilkan dua buah gamet, maka
dikatakan berkelamin heterogamet. Sedangkan betina hanya menghasilkan satu
macam gamet, sehingga disebut homogamet. Cara penentuan seks ini umumnya
dinyatakan sebagai metode XY.
Contoh XY pada penentuan seks

Pada beberapa jenis serangga, terutama ordo Hemiptera (kepik sejati) dan
Orthoptera (belalang), hewan jantannya juga heterogamet. Tetapi menhasilkan
sperma yang menyandang X, atau gamet tanpa kromosom seks. Pada hewan
jantan spesies ini, kromosom X tidak mempunyai pasangan homolog karena tidak
adanya kromosom Y. Jadi komplemen kromosom hewan jantan memperlihatkan
jumlah ganjil. Adanya satu-X menentukan sifat jantan dan dua-X menentukan
sifat betina. Bila kromosom X tunggal selalu terkandung dalam salah satu dari dua
tipe gamet yang dibentuk pada hewan jantan, suatu rasio kelamin 1:1 akan
dihasilkan pada keturunannya. Metode penurunan seks seperti ini biasa disebut
sebagai metode XO, simbol O menyatakan tidak adanya kromosom yang analog
dengan Y pada sistem XY.

Metode XO pada penentuan seks:

b. Betina heterogamet

9
Metode penentuan seks ini ditemukan pada golongan hewan yang secara
komparatif besar, termasuk kupu-kupu, gegat, kepik air, ulat sutra dan pada
beberapa burung dan ikan. Adanya satu-X dan dua-X pada spesies-spesies ini
berturut-turut menentukan sifat betina dan sifat jantan. Hewan betina beberapa
spesies (misalnya ayam domestik) mempunyai kromosom yang mirip dengan
kromosom Y pada manusia. Kromosomnya diberikan lambang Z dan W berturut-
turut untuk menggantikan X dan Y.
Metode ZO pada penentuan seks

Metode ZW pada penentuan seks

Kromosom W pada ayam bukan merupakan unsur penentu jenis kelamin betina
yang kuat.

c. Tipe Ploidi
Beberapa serangga dapat melakukan partenogenesis, artinya dari sel telur
dapat terbentuk makhluk baru tanpa didahului oleh pembuahan oleh spermatozoa.
Contohnya lebah madu (Apis sp.)

10
Jelaslah bahwa penentuan jenis kelamin pada lebah madu tidak dipengaruhi oleh
kromosom kelamin pada makhluk lainnya, melainkan oleh sifat ploidi dari
makhluknya. Lebah yang diploid (2n) adalah betina, sedangkan yang haploid (n)
adalah jantan.
Determinasi Seks pada Drosophila
Sejak awal abad ini lalat Drosophila banyak digunakan dalam penelitian
Genetika karena lalat ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
a. Mudah dipelihara pada media makanan yang sederhana.
b. Mempunyai siklus hidup pendek (kira-kira 2 minggu), sehingga dalam 1 tahun
dapat diperoleh 25 generasi.
c. Memiliki tanda-tanda kelamin sekunder yang mudah dibedakan. Lalat betina lebih
besar daripada yang jantan, ujung abdomen meruncing dan pada abdomen
terdapat garis-garis hitam melintang. Lalat jantan lebih kecil, ujung abdomen
tumpul berwarna kehitam-hitaman dan pada abdomen terdapat sedikit garis-garis
hitam melintang. Ekstremitas (kaki) depan dari lalt jantan memilki sisir kelamin
(“sex comb”), tapi lalat betina tidak memilikinya.
d. Hanya mempunyai 8 kromosom saja, sehingga mudah menghitungnya. Delapan
buah kromosom yang terdapat di dalam inti sel itu dibedakan atas:
- Enam buah kromosom (atau tiga pasang) yang pada lalat betina maupun jantan
bentuknya sama dan karena itu disebut autosom (kromosom tubuh), disingkat A.
- Dua buah kromosom (atau 1 pasang) yang disebut kromosom kelamin (seks
kromosom) sebab anggota dari sepasang kromosom ini tak sama bentuknya pada
lalat betina dan jantan. Kromosom kelamin dibedakan atas:
1. Kromosom-X yang berbentuk batang lurus. Lalat betina memiliki 2 buah
kromosom-X.
2. Kromosom-Y yang lebih pendek daripada kromosom-X dan ujungnya sedikit
membengkok. Lalat jantan memiliki sebuah kromosom-X dan sebuah dan sebuah
kromosom-Y. Lalat betina normal tidak memiliki kromosom-Y. Karena lalat
betina memiliki 2 kromosom kelamin sejenis (yaitu 2 kromosom-X), maka lalat
betina dikatakan bersifat homogametik. Lalat jantan bersifat heterogametik,

11
karena memiliki kromosom-X dan kromosom-Y. Berhubung dengan itu formula
kromosom untuk lalat Drosophila adalah:
- Lalat betina = AAXX
- Lalat jantan = AAXY
Dalam keadaan normal, lalat betina membentuk satu mavcam sel telur
haploid (AX). Lalat jantan membentuk 2 macam spermatozoa, yaitu yang
membawa kromosom-X (AX) dan yang membawa kromosom-Y (AY). Apabila
spermatozoa pembawa kromosom-X membuahi ovum (AX) terjadilah anak lalat
betina (AAXX), sedangkan bila spermatozoa pembawa kromosom-Y membuahi
ovum terjadilah anak lalat jantan (AAXY). Kadang-kadang di waktu meiosis
selama pembentukan sel-sel kelamin, sepasang kromosom kelamin tidak memisah
diri, melainkan tetap berkumpul. Peristiwa tidak memisahnya sepasang kromosom
selama pembelahan sel dinamakan gagal memisah (“nondisjunction”) itu
berlangsung selama oogenesis, maka terbentuklah 2 macam ovum, yaitu sebuah
ovum yang memiliki dua kromosom-X dan sebuah ovum lainnya yang hanya
mengandung autosom saja tanpa kromosom-X.
Adanya nondisjunction ini tentu saja mengakibatkan terjadinya berbagai
macam kelainan dalam keturunan, yaitu:
a. Lalat betina super (AAXXX), yaitu apabila spermatozoa yang membawa
kromosom-X membuahi sel telur yang mempunyai dua kromosom-X. Lalat ini
tidak sempurna pertumbuhannya, sangat leamh dan hidup tidak lama.
b. Lalat AAXXY, yaitu apabila spermatozoa pembawa kromosom-Y membuahi
sel telur yang mempunyai 2 kromosom-X. Lalat ini betina, subur, tak ada
bedanya dengan lalat betina biasa. Berarti bahwa kromosom-Y pada
Drosophila tidak memberi pengaruh pada seks.
c. Lalat AAXO, yaitu apabila spermatozoa pembawa kromosom-X membuahi
sel telur tanpa kromosom-X. Lalat ini jantan dan steril. Sebaliknya, manusia
XO adalah perempuan steril. Tetapi tikus XO adalah betina fertil.
Drosophila YO tidak dikenal, sebab bila spermatozoa pembawa
kromosom-Y membuahi sel telur tanpa kromosom-X akan berakibat letal. Di
samping itu, masih dikenal beberapa kelainan lainnya pada Drosophila, misalnya:

12
a. Lalat ginandromorf, ialah lalat yang tubuhnya separoh bersifat betina dan
separoh lainnya jantan, dengan batas yang tegas. Berhubung dengan itu lalat
ini tidak dapat diberikan formula kromosomnya. Ginandromorf juga terjadi
cacing sutra dan lebah. Terjadinya ginandromorfisme pada vertebrata sulit
untuk dideteksi karena tergantung dari resiko dan perbedaan yang ditimbulkan
karena faktor ginandromorfisme dan interaksi antar efek hormon seksual.
b. Lalat interseks (AAAXX), yaitu lalat yang merupakan campuran antara lalat
betina dan jantan, triploid (3n) untuk autosomnya dan memiliki 2 kromosom-
X, steril. Lalat ini kini lazim disebut lalat interseks triploid setelah Bridges
berhasil membuat berbagai macam drosophila tetraploid seperti betina
tetraploid (AAAAXXXX), interseks tertraploid (AAAAXXX), jantan super
tetraploid (AAAAX).
c. Lalat jantan super (AAAXY) ialah lalat jantan triploid untuk autosomnya.
Seperti halnya dengan lalat betina super maka pertumbuhannya tidak
sempurna, steril, sangat lemah dan hidup tak lama.
d. Lalat dengan kromosom-X melekat pada salah satu ujungnya (“attached-X
chromosomes”). Lalat ini mempunyai fenotip seperti lalat betina normal,
tetapi bila diperiksa secara mikroskopis maka inti selnya mengandung
sepasang kromosom-X yang saling melekat pada salah satu ujungnya dan
ditambah dengan adanya kromosom Y. Berhubung dengan itu lalat Drosophila
dengan “attached-X chromosomes” mempunyai formula AAXXY.

Teori Keseimbangan Tentang Seks


Setelah mengetahui adanya berbagai macam kelainan kromosom yang
berpengaruh pada fenotip lalat Drosophila, maka Bridges mengambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Seks lalat Drosophila tidak semata-mata tergantung dari hadirnya kromosom-
X dan kromosom-Y, melainkan lebih tepat kalau dikatakan ditentukan oleh
indeks kelamin, yaitu perbandingan antara banyaknya kromosom-X terhadap

13
benyaknya set/stel autosom (disingkat dengan X/A). Teori ini dikenal dengan
nama teori keseimbangan tentang seks dari Bridges.
Formula kromosom Indeks Kelamin X/A Seks
AAXXX 3/2 = 1,50 Betina super
AAXX 2/2 = 1,00 Betina
AAAXX 2/3 = 0,67 Interseks
AAXY ½ = 0,50 Jantan
AAAXY 1/3 = 0,33 Jantan super

Dapat diketahui bahwa lalat betina mempunyai indeks kelamin 1, lalat jantan
0,5, antara kedua nilai ini adalah lalat interseks, kurang dari 0,5 adalah lalat
jantan super, sedangkan lebih dari 1 betina super.
2. Gen-gen yang menentukan jantan rupa-rupanya dibawa oleh autosom.
Sedangkan gen-gen yang menentukan betina dibawa oleh kromosom-X.
3. Kromosom-Y lebih banyak mengatur fertilisasi pada lalat jantan. Karena itu
lalat AAXY adalah jantan yang dapat membentuk spermatozoa. Kromosom-Y
tidak mempunyai pengaruh pada lalat AAXXY dan berdasarkan indeks
kelaminnya 1,00, maka lalat ini betina.
4. Indeks kelamin (X/A) > 1,00 atau < 0,50 menghasilkan kelainan pada
Drosophila (betina super dan jantan super)
5. Indeks kelamin < 1,00 tetapi > 0,50 menghasilkan lalat antara betina dan
jantan (interseks).
Heteropiknosis Seks Kromosom dan Vesikel Seks
Selama proses meiosis, pasangan XY tertanam dalam vesikel seks pada
kebanyakan mamalia. Vesikel ini muncul selama fase zygonema dan pakinema,
yang pada saat itu kromosom XY tidak heteropiknotik. Pada akhir fase profase,
XY yang bivalen menjadi heteropiknosis lagi.
Sebab adanya vesikel seks pada seks kromosom tikus, mempengaruhi
formasi nukleolus (misal: vesikel seks berisi nukleolar organizer). Pada kasus ini
vesikel memiliki dua zona: (1) zone kromatin, berbentuk oval dan menempel pada
membran nuklear dan (2) daerah memiliki RNA/zona nucleolar yang memiliki

14
warna abu-abu. Kromatin ini tipis, terdiri atas kumparan DNA mikrofibril dan
memiliki beberapa filamen. Zone nukleolar berisi RNA yang feulgen negatif.
Pada titik tengah zona tersebut terdapat bagian yang padat di sekeliling tepinya.
Selebihnya adalah struktur seperti spon terbuat dari granula kurang lebih sebesar
15 nm. Seks vesikel pada manusia tidak mengandung RNA dan zona nucleolar
pun tidak ada.
Sistem Neo-XY pada Determinasi Seks
Selain penentuan jenis kelamin dengan kromosom XY, di beberapa spesies
memiliki tipe determinasi seks menurut sistem neo-XY. Seperti yang ditunjukkan
pada gambar 16-5, sistem ini muncul dari patahan kromosom X, yang diikuti
dengan fusi (penyatuan) fragmen utama ke sebuah autosom. Penyatuan ini
membentuk kromosom neo-X. Pada meiosis, terbentuk pasangan autosom lain
yang disebut kromosom neo-Y dan membentuk sel kelamin jantan.
Terdapat bukti bahwa kromosom neo-Y berangsur-angsur menjadi
heterokromatin. Kejadian ini dibuktikan dengan radioautografi dengan H-
thymidin untuk melihat kromosom X, dan kromosom neo-Y bereplikasi pada
periode sintesis.
Diferensiasi Seks
Meskipun determinasi seks paling pertama terbentuk pada fertilisasi
embrio. Meskipun demikian, didapati bahwa kepastian karateristik kelamin
memiliki mekanisme yang lebih kompleks. Faktor epigenik (misalnya: hormonal)
sangat mungkin mengontrol determinasi genetik selama perkembangan, sehingga
menuju perubahan fenotip kelamin. Kondisi biseksual juga ditemukan diantara
hewan vertebrata. Contoh: amfibi jantan memiliki ovarium rudimenter
(Bidder’organ) dan vestigial oviduct.
Pada embrio manusia sampai minggu keenam, gonad dan saluran
primordial urogenital identik antara laki-laki dan wanita. Pada tahap ini, gonad
telah diinvasi oleh sel germinal XX atau XY. Gonad berdiferensiasi menjadi testis
pada minggu ke-7, sedangkan gonad betina berdiferensiasi antara minggu ke-8
dan ke-9 dari perkembangannya di dalam kandungan. Faktor epigenetik yang
penting pada masa diferensiasi adalah produksi androgen oleh sel somatik pada

15
embrio gonad jantan, sedangkan pada betina/wanita produksinya sangat kurang.
Pengaturan androgen kepada ibunya pada waktu ini mungkin diproduksi untuk
diferensiasi genital menjadi jantan (feminnine psoudhermaphroditism).
Diferensiasi gonad pada manusia laki-laki kemungkinan bergantung pada
produksi hormon lokal berhubungan dengan kehadiran kromosom Y. Hormon ini
mempercepat perkembangan testi, sedangkan pada wanita ketidakhadiran hormon
menyebabkan perlambatan perkembangan ovarium.
Seks Kromatin
Tahun 1940, Barr dari University of Western Ontario, USA dalam
peneylidikannya dapat menemukan adanya suatu badan kromatin di dalam sel-sel
saraf kucing betina, tetapi tida pada kucing jantan. Penyelidikan itu dilanjutkan
pada manusia dengan memeriksa sel-sel epitel tunika mukosa mulut (selaput
lendir mulut) di bagian dalam dari pipi dan juga sel-sel darah putih (leukosit. Inti
dari sel-sel selaput lendir mulut dari orang perempuan mengandung sebuah badan
kromatin pula dan bentuknya bulat. Sementara orang laki-laki tidak memilikinya.
Juga sel leukosit pada orang perempuan memperlihatkan adanya badan kromatin,
tetapi berbentuk khas yaitu sebagai pemukul genderang, maka dalam bahasa
inggris dinamakan “drumstick”. Oleh karena ada atau tidak adanya badan
kromatin itu ada hubungannya dengan perbedaan jenis kelamin, maka badan
kromatin itu disebut kromatin kelamin atau seks kromatin atau juga “Badan Barr”.
Karena orang perempuan memiliki seks kromatin, maka dikatakan bersifat seks
kromatin positif. Orang laki-laki dikatakan bersifat seks kromatin negatif.

Hipotesis Lyon, muncul sebagai bentuk jawaban dari apa yang menyusun
seks kromatin sesungguhnya. Lyon berhipotesis bahwa seks kromatin itu terdiri
dari salah satu dari 2 buah kromosom-X yang terdapat di dalam inti sel tubuh

16
wanita. Berhubung dengan itu apabila sebuah sel tidak mengalami mitosis, maka
substansi dari satu kromosom-X dalam keadaan kurang, sehingga tidak tampak.
Kromosom-X yang satunya tetap dalam keadaan kompak sehingga dapat
menghisap zat warna banyak dan dapat dikenal sebagai seks kromatin. Dikatakan
pula bahwa gen-gen di dalam kromosom-X yang substansinya berkurang adalah
aktif memberikan pengaruh pada fenotip. Gen-gen yang terdapat dalam
kromosom-X yang kompak yang membentuk seks kromatin adalah non aktif.
Berdasarkan hipotes Lyon yang menyatakan seks kromatin adalah sebuah
kromosom-X yang nonaktif, maka mudah dimengerti bahwa pada orang normal,
banyaknya seks kromatin dalam sebuah sel adalah sama dengan jumlah
kromosom-X dikurangi dengan satu. Jadi perempuan normal mempunyai dua
kromosom-X, maka ia memiliki sebuah seks kromatin, sehingga bersifat seks
kromatin positif. Sebaliknya laki-laki hanya memiliki sebuah kromosom-X saja,
maka ia tidak mempunyai seks kromatin sehingga bersifat seks kromatin negatif.
Dengan demikian, individu XO adalah wanita yang tidak mempunyai seks
kromatin, maka manusia XXY adalah pria yang memiliki satu seks kromatin,
XXXX adalah wanita dengan tiga seks kromatin.
Fakta bahwa X yang non-aktif muncul sebagai penyakit pada manusia
yang terpaut pada kromosom X. Penyakit ini disebut Lesch-Nyhan syndrom,
adalah suatu kondisi tubuh yang mengalami defisiensi salah satu enzim untuk
metabolisme purin (hipoxsanthine-guanine phosphoribosly transferase). Enzim ini
memproduksi perlambatan mental dan meningkatkan level asam uric sebagai hasil
mutasi kromosom-X yang resesif.
Hubungan Seks Kromatin dengan Ratio Seks dan Kematian
Tes seks kromatin juga dilakukan untuk mengetahui jumlah wanita
terhadap pria (ratio seks) sejak konsepsi. Hasil penelitian berdasarkan tes seks
kromatin menunjukkan bahwa lebih banyak terjadi konsepsi laki-laki
dibandingkan dengan perempuan, tetapi lebih banyak fetus laki-laki yang
mengalami abortus spontan. Contohnya: 106 laki-laki dilahirkan untuk 100
perempuan. Tetapi pada usia 20 tahun, rasio itu berkurang menjadi 100 laki-laki
terhadap 100 perempuan, sedang pada usia 85 tahun ratio itu berubah menjadi 62

17
laki-laki terhadap 100 perempuan. Angka kematian yang lebih tinggi pada laki-
laki dibandingkan dengan permpuan diduga disebabkan karena 2 buah kromosom-
X pada wanita itu menyediakan lebih banyak keuntungan untuk bertahan
dibandingkan dengan sebuah kromosom-X pada laki-laki.
Rangkai Kelamin
Gen rangkai kelamin dibawa oleh kromosom seks tetapi tidak telibat
dalam penentuan jenis kelamin. Rangkai kelamin pada Drosophila menunjukkan
ketika betina homozigot bermata merah (dominan) disilangkan dengan jantan
bermata putih (resesif). Individu F1 yang dihasilkan adalah semuanya bermata
merah, tetapi ketika persilangan terjadi antara betina bermata putih dan betina
bermata merah dari generasi F1 ternyata anakannya adalah jantan yang bermata
putih. Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa gen mata merah dibawa oleh
kromosom X, bukan oleh kromosom Y. Organisme dengan sistem determinasi
seks XY, gen menunjukkan diferensial sekgem dari X dan Y. Gen tersebut
bukanlah alel dan kromosomny nonhomolog. Mereka benar-benar terpaut dan
tidak terjadi crossing over di dalamnya.
Ada 3 jenis pautan seks yaitu:
(1) gen yang terpaut pada kromosom-X
Yaitu gen yang terlokalisasi pada X yang nonhomolog dan dan bukan
alel Y. Pada manusia muncul sebagai daltonisme (buta warna merah-hijau)
dan hemofilia yang terpaut pada kromosom-X. Sejumlah 8% dari laki-laki
mengalami daltonisme, sedangkan pada wanita hanya ditemukan 0,5% dari
jumlah wanita. Belakangan kedua kromosom X berubah pada lokus yang
sama. Hemofilia (kegagalan pada pembekuan darah) diwariskan sebagai
pautan seks yang resesif. Perempuan sangat jarang terkena hemofilia.
Beberapa kasus yang terjadi adalah ayah yang hemofilia dan ibunya merupkan
adalah karier hemofilia.
Gen yang terpaut pada kromosom X juga bisa berupa keabnormalan
pada manusia, yaitu: Ichthyosis, Myopia, Gower’s Muscular Athrophy, dan
sebagainya.
(2) gen yang terpaut pada kromosom-Y,

18
Yaitu gen yang terlokalosasi pada Y yang nonhomolag dan bukan alel-Y.
Gen-gen pada kromosom Y yang nonhomolog langsung diwariskan dari ayah
ke putranya. Contoh, ichthyosis hystrix gravis dan penyakit lainnya ditemukan
pada laki-laki.
(3) gen yang terpaut pada kromosom XY,
Yaitu gen yang terlokalisasi pada segmen kromosom yang homolog pada X
dan Y (disebut juga pautan yang tidak lengkap). Gen-gen tersebut diwariskan
sebagai gen-gen autosom. Mereka secara parsial terpaut pada seks. Terdapat
beberapa variasi kelainan, diantaranya buta warna total dan gangguan kulit
(xeroderma pigmentosum dan epidermolysis bullosa), retinitis pigmentosa,
spastic paraplegia dan penyakit lain
Sitogenetik Manusia
Sitogenetik merupakan ilmu yang berkembang dari ilmu pengetahuan
sitologi dan genetika. Ilmu ini mempelajari perilaku kromosom-kromosom selama
mitosis dan meiosis, hubungan kromosom dengan transmisi dan rekomendasi dari
gen-gen, dan mempelajari penyebab serta akibat perubahan struktur dan jumlah
kromosom. Salah satu contoh tehnik yang dikembangkan adalah kultur cairan
amniotik yang dipakai untuk diagnosis kromosom. Misalnya: untuk mengetahui
analisis abnormalitas anak-anak yang baru lahir.
Karyotipe Manusia Normal
Pada orang normal, formula kromosom untuk wanita dan pria dapat
dituliskan 46,XX untuk wanita dan 46,XY untuk pria. Gambar karyotipe pada
manusia normal ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

19
Di samping itu, berdasarkan posisi sentomer makan kromosom dikelompokkan
menjadi metasentris, submetasentris, dan akrosentris. Karateristik kromosom
kariyotipe manusia ditunjukkan dalam tabel di bawah ini menuru Denver dan
London Report.
Denver Report London Report Description
Golongan 1-3 Golongan 1-3 (A) Kromosom yang besar dengan
sentromer yang berada di tengah-
tengah: 1, 2 dan 3 biasanya bisa
diidentifikasi secara morfoogi
Golongan 4-5 Golongan 4-5 (B) Kromosom submetasentris yang besar
Golongan 6-12 Golongan X. 6-12 Kromoso submetasentris ukuran sedang
(C)

20
Golongan 13-15 Golongan 13-14 (D) Kromosom akrosentris yang besar
Golongan 16-18 Golongan 16-18 (E) No.16 adalah metasentris; no. 17-18
adalah kromosom submetasentris yang
kecil
Golongan 19-20 Golongan 19-20 (F) Kromosom metasentris kecil
Golongan 21-22 Golongan 21-22 + Y Kromosom akrosentris pendek
(G) (kromosom Y termasuk dalam
golongan ini, tapi tidak memiliki satelit,
ini ditentukan berdasarkan ukuran dan
bisa juga dikenali secara morfologi)
Kromosom seks
Y
X

1. Abnormalitas akibat perubahan jumlah kromosom


21-trisomy (mongolisme). Individu ini mengalami keterbelakangan mental,
pendek, mempunya lipatan-lipatan mata menyerupai bangsa mongol, mempunyai
jari-jari pendek gemuk, lidah yang membengkak dan sistem saraf yang tidak
sempurna. Pada kondisi bayi terlahir kembar, hanya satu saja yang mengalami
kelainan ini.
Ditemukan bahwa mongoloid memiliki kromosom ekstra pada pasangan 21
berupa trisomik. Kelainan ini disebabkan oleh nondisjunction pada pasangan 21
ketika meiosis. Pada kasus lain ditemukan bahwa kromosom ekstra ini menempel
pada autosom (mengalami translokasi), biasanya pada pasangan 22.
Fenotip mongoloid sejak kelahiran dengan ciri-ciri: memiliki ciri-ciri seperti
bulan dengan kemiringan yang nyata, jarak yang jauh antara kedua mata dan
lipatan kulit (epichantus) pada bagian dalam dari mata. Hidungya pesek,
telinganya tidak sempurna bentuknya, mulut selalu terbuka dan lidah yang
mencuat keluar. Presentasinya adalah 0,1% pada kelahiran dan mongolisme
karena translokasi terjadi 3 atau 4% saja dari kasus mongolisme. Analisis
karyotipe dilakukan untuk mengetahui penyakit ini. Maka orang tua harus

21
waspada karena penyakit ini semakin tinggi resiko terjadinya pada usia ibu yang
hamil di atas 35 tahun. Di samping itu, bisa terjadi pada saudara dari anak-anak
yang normal ataupun pada generasi selanjutnya dan tidak dapat ditentukan.
21-monosomi. Kehilangan salah satu kromosom pada pasangan 21 rupanya
letal. Anak yang lahir dengan kondisi ini beberapa kasus memiliki ciri yang
belawanan dengan mongolisme. Hidungnya menonjol, jarak antara kedua mata
lebih pendek dari jarak normal, telinga yang besar dan kejang otot.
18-trisomi. Anak yang mengalami kelainan ini kecil dan lemah, kepala agak
pipih di bagian lateral, lilitan/alur telinga tidak berkembang. Tangannya pendek
dan menunjukkan perkembangan yang kecil dari tulang jari kedua, digital imprints
(pengelihatan) lebih simpel. Anak ini mengalami keterbelakangan mental dan
biasanya mati sebelum umur satu tahun.
18-monosomi. Ini merupakan sindrom berlawanan dengan terjadinya
kehilangan pasangan kromosom. Telinganya memiliki banyak relief, jari panjang,
pengelihatan kompleks dan kacau balau.
13-trisomi. Bentuk tubuh yang tidak sempurna dan keterbelakangan mental
karateristiknya seperti Patau’s syndrome, yaitu terjadi trisomi pada kromosom ke-
13. Kepala kecil dan matanya kecil bahkan tidak ada. Bibir sumbing, palatum
yang terbelah dan seringkali bentuk otak tidak sempurna. Demikian juga dengan
organ internalnya, sehingga dalam banyak kasus segera meninggal tidak lama
setelah kelahiran. Meiosis disjunction diduga menjadi penyebab dari kelainan
kromosomal ini.
2. Abnormalitas akibat perubahan struktur kromosom
Abnormalitas ini berupa:
a. Delesi (defisiensi) pada manusia ialah peristiwa hilangnya sebagian dari
sebuah kromosom kerena kromosom itu patah. Potongan tersebut tidak memiliki
sentromer. Delesi yang peling dikenal adalah Cri du Chat (“Cat Cry”).
Frekuensinya masih 1:100.000 kelahiran. Tanda-tanda lain yang dapat dilihat
penderita ialah kepala kecil (mikrosefalus), muka lebar, hidung seperti pelana,
kedua mata berjauhan letaknya, kelopak mata mempunyai lipatan epikantus,
memperlihatkan gangguan mental, IQ rendah (20-40). Penderita biasanya

22
meninggal di waktu masih bayi atau diwaktu kanak-kanak. Penderita tidak
mewariskan kromoson yang mengalami defisiensi itu kepada keturunannya. Akan
tetapi kadang-kadang potongan dari autosom no.5 mengadakan translokasi dengan
autosom no.15.
b. Duplikasi adalah peristiwa suatu bagian dari sebuah kromosom memiliki
gen-gen yang berulang. Duplikasi ini bersangkutan dengan translokasi dn
duplikasi selalui disertai dengan terbentuknya kromosom defisiensi. Pasien yang
memiliki duplikasi pada sebagian dari autosom no.6. Bayi itu cepat sekali sekali
meninggal dunia sehingga belum sempat diperiksa mengenai fenotipnya.
c. Inversi adalah peristiwa bahwa suatu bagian dari sebuh kromosom
memiliki ukuran terbalik. Untuk terjadinya inversi, kromosom harus patah di dua
tempat, yang kemudian dilanjutkan dengan menempelnya kembali bagian yang
patah itu tetapi keadaan terbalik.
d. Kromosom cincin (ring chromosome) ialah sebuah kromosom yang
mengalami patah di dua tempat secara perisentris. Setelah bagian yang patah itu
lepas, bagian kromosom itu melekuk membulat dan ujung-ujungnya yang luka itu
saling melekat. Jika kromosom cincin muncul maka menyebabkan catat mental
dan fisik. Kromosom cincin pernah dijumpai pada autosom no.5, 13,18 dan 21
atau 22.
e. Hermafroditisme
- Hermaproditisme sejati adalah keadaan bahwa suatu individu mempunyai
jaringan testis maupun jaringan ovarium. Untuk menentukannya harus dilakukan
pemeriksaan kromosom kelaminnya serta ada/tidaknya seks kromatin. Sebuah
studi dari 108 kasus hermafroditismus sejadi didapatkan 59 individu 46,XX,
21individu 46,XY dan 28 individu mosaik (46,XX/46XY). Berdasarkan
penemuan itu tentunya ada yang seks kromatin positif dan ada yang negatif.
- Pseudohermafroditisme merupakan kondisi individu yang memiliki satu
jaringan gonad yaitu testis atau ovarium, tetapi rudimenter (salah satu jaringan
gonad tidak sempurna).
3. Kelainan kromosom seks

23
Kondisi ini terjadi akibat kelebihan jumlah kromosom kelamin. Jenis kelainan
kromosom kelamin dan frekuensi di tunjukkan pada tabel di bawah ini. Tabel
berdasarkan populasi tahun 1980 di Amerika Serikat sebanyak 226,5 juta dangan
rata-rata kelahiran 2,1 anak (data biro sensus Amerika menurut sensus tahun
1980)
a. Sindroma Turner
Sifat-sifat abnormal: tubuhnya pendek sekitar 120 cm pada usia dewasa, leher
pendek dan pangkalnya seperti bersayap, dada lebar, tanda kelamin sekunder tidak
berkembag. Dalam keadaan ekstrim, kulit pada leher sangat kendur sehingga
mudah ditarik ke samping. Sindroma turner mungkin terajdi karena adanya
nondisjunction di waktu ibu membentuk sel telur. Kemungkinan lain disebabkan
karena hilangnya sebuah kromosom kelamin selama mitosis setelah zigot XX atau
XY terbentuk. Belakangan juga menyebutkan sebabnya adalah mosaik dengan
kromosom kelamin X/XX.
a. Sindroma Klinefelter
Individu tersebut memiliki tanda-tanda wanita seperti tumbuhnya payudara,
pertumbuhan rambut kurang, lengan dan kaki ekstrim panjang sehingga seluruh
tubuh tampak tinggi, suara tinggi seperti wanita, testis kecil. Penderita biasanya
tuna mental. Sindroma klinfelter lebih banyak disebabkan oleh nondisjunction XX
selama oogenesis.
b. Sindroma Triplo-X (triple-X)
Individu ini mempunyai fenotip perempuan, tetapi pada umur 22 ia mempunyai
alat kelamin luar seprti kepunyaan bayi. Alat kelamin dalam dan payudara tidak
berkembang dan ia sedikit mendapat gangguan mental. Pernah juga ditemukan
wanita poli-X yang berupa tetra-X dan penta-X. Makin bertambah banyak jumlah
kromosom-X yang dimiliki seseorang, makin kurang intelegensinya dan semakin
bertambah gangguan mentalnya. Penyebab terbentuknya wanita triple-X adalah
adanya nondisjunction pada waktu ibu membentuk gamet.

c. Pria XYY

24
Ukuran tubuh ekstrim tinggi (rata-rata 183 cm, sedang laki-laki lainnya dalam
rumah penjara yang sama mempunyai ukuran tinggi tubuh rata-rata 165 cm).
Intelegensinya mempunyai IQ antara 80-118. Terdapat abnormalitas pada
genitalia luar dan dalam, namun tidak pada bentuk tubuh. Mereka umumnya
agresif dan suka berbuat jahat serta melanggar hukum. Karena pria XYY
mempunyai dua buah kromosom-Y maka nondisjunction tentunya berlangsung
pada waktu ayahnya membentuk spermatozoa. Nondisjunction berlangsung
selama meiosis II, sehingga ada spermatozoa yang memiliki kromosom-Y.
Apabila spermatozoa ini membuahi sel telur (membawa X) maka terjadilah zigot
yang kemudian berkembang menajdi laki-laki XYY.
3. Pautan Sex
Pautan sex (sex linkage) merupakan suatu keadaan dimana terdapat banyak gen
tertentu yang selalu terdapat pada kromosom sex. Adanya pautan sex
menyebabkan suatu sifat muncul hanya pada jenis kelamin tertentu. Ada dua jenis
pautan sex, yaitu pautan X dan pautan Y.

Contoh: persilangan antara lalat Drosophilla melanogaster bermata merah dan


putih.

P: jantan mata putih X betina mata merah


XmY XMXM

F1 : XMY : jantan mata merah


XMXm : betina mata merah

P2 : XMY x XMXm

FZ : XMY : jantan mata merah


XmY : jantan mata putih
XMXM : betina mata merah
XMXm : betina mata merah

25
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa gen yang menyebabkan warna mata pada lalat
terdapat pada kromosom X. Mata merah disebabkan gen dominan M, dan mata putih
disebabkan gen resesif m. Hasil persilangan pada F, induk jantan yang bermata putih
mewariskan gen m pada anak betina, sedangkan induk betina yang bermata merah
mewariskan gen M pada anak jantan.

Ingat
Pada anak jantan, X berasal dari induk betina
Pada anak betina, X berasal dari kedua induk
Inilah yang disebut konsep pewarisan sifat menyilang (criss cross inheritance)

4. Gagal Berpisah
Pada pembelahan meiosis, kromosom yang telah mengganda akan ditarik menuju kutup
yang berlawanan. Kromosom tersebut ditarik oleh benang spindel yang menempel pada
bagian sentromer. Normalnya, kromosom akan terpisah secara merata ketika ditarik
menuju kutup yang berlawanan. Satu kopian kromosom akan ditarik ke arah tertentu
dan kopian yang lain akan ditarik ke arah yang berlawanan. Namun kadang kala ada
kejadian dimana benang spindel tidak mampu menarik kromosom sehingga kromosom
yang telah mengganda tertarik semua ke salah satu kutup. Hal ini akan menyebabkan
terjadinya penambahan atau pengurangan kromosom pada gamet yang terbentuk.

Apabila peristiwa gagal berpisah ini hanya terjadi pada satu atau sedikit kromosom saja,
akan menghasilkan kelainan yang disebut aneuploidi, yaitu penambahan atau
pengurangan jumlah kromosom. Gamet manusia yang normalnya berjumlah 23 dapat
bertambah menjadi 24, dan bisa berkurang hanya 22 pada gamet lainnya.

Namun apabila peristiwa ini erjadi pada seluruh set kromosom, akan menghasilkan
kelainan yang disebut euploid, yaitu penambahan set kromosom. Gamet yang terbentuk
dapat memiliki 46 kromosom karena semua kromosom yang telah mengganda tidak
berpisah. Pembahasan tentang aneuploidi dan euploidi akan saya jelaskan lebih lanjut
dalam artikel tentang mutasi.

Perhatikanlah bagan di bawah ini, untuk gambaran tentang gagal berpisah.

26
Peristiwa gagal berpisah dapat menghasilkan keadaan yang menguntungkan atau
merugikan. Gagal berpisah pada kromosom nomor 21 pada manusia dapat
menyebabkan kelainan sindrom down, yaitu keterbelakangan mental yang dicirikan
dengan wajah yang khas. Gagal berpisah dimanfaatkan dalam dunia pertanian untuk
menghasilkan buah-buah tanpa biji.

Pada proses pembentukan gamet, petani memberikan zat kimia kolkisin untuk memicu
peristiwa gagal berpisah. Gagal berpisah akan menyebabkan gamet yang terbentuk
bersifat diploid (2n). Apabila gamet diploid ini dikawinkan (disatukan) dengan gamet
haploid (1n) akan menghasilkan keturunan triploid (3n). Individu triploid pada
tumbuhan biasanya memiliki buah besar dan tidak berbiji yang sangat diminati oleh
pasar. Buah semangka tanpa biji merupakan hasil rekayasa dengan kolkisin yang telah
banyak beredar dipasaran.

5. GEN LETAL
1. Pengertian Gen Letal
Gen letal (gen kematian) adalah gen yang dalam keadaan homozigotik atau
homozigot menyebabkan matinya individu. Berhubungan dengan itu hadirnya gen letal
pada suatu individu menyebabkan perbandingan fenotip dalam keturunan menyimpang
dari hukum Mendel.
2. Macam-macam Gen Letal
a. Gen Dominan Letal
Gen dominan letal ialah gen dominan yang bila homozigotik akan menyebabkan
individu mati. Beberapa contoh:
1) Ayam “Creeper”
Pada ayam ras dikenal:
C = gen untuk ayam Creeper (tubuh normal, tetapi kaki pendek)
27
c = gen untuk ayam normal
Gen dominan C bila homozigotik CC berakibat letal, sehingga perkawinan 2 ekor ayam
Creeper akan menghasilkan keturunan dengan perbandingan 2 Creeper : 1 Normal.
Contoh:
P ♀ Cc x ♂ Cc
Creeper Creeper

F1 CC = Letal
Cc = Creeper
Cc = Creeper
cc = Normal
2) Tikus Kuning
Pada tikus dikenal beberapa gen sebagai berikut:
AY = Untuk warna kuning
a = Untuk warna hitam
Genotip AYAY berakibat letal, tikus mati waktu embrio. Tikus AYa adalah
kuning, sedang tikus aa adalah hitam. Perkawinan dua ekor tikus kuning menghasilkan
keturunan dengan perbandingan 2 kuning : 1 hitam.
Contoh:
P ♀ AYa x ♂ AYa
Kuning Kuning

F1 AYAY = Letal
AYa = Kuning
AYa = Kuning
Aa = Hitam

3) Penyakit Manusia “Huntington’s chorea”


Pada manusia juga dikenal penyakit “Huntington’s chorea” yang untuk pertama
kali dikemukakan oleh Waters dalam tahun 1848, kemudian oleh Lyon dalam tahun
1863. Perkataan Latin “chorea” berarti tarian, karena pasien memperlihatkan gerakan
“tarian” yang abnormal, yaitu berupa gerakan memutar, merangkak, kejang-kejang dan
seringkali membuang barang yang dipegangnya tanpa disadari. Sistem saraf pusat
menjadi buruk dan rusaknya sel-sel otak menyebabkan depresi dan tak jarang pasien
melakukan bunuh diri. Dalam tahun 1872 George Huntington membawakan makalah
28
mengenai penyakit ini. Sekarang penyakit ini lebih dikenal dengan nama “Huntington’s
Disease” atau disingkat HD (penyakit Huntington).
Berdasarkan atas pengalaman saja, Huntington tidak mengetahui bahwa
penyakit ini tidak terdapat pada kanak-kanak. Ia mengira bahwa ini merupakan penyakit
orang dewasa saja. Tetapi data statistik kini menunjukkan bahwa HD kebanyakan
memang terdapat pada orang berusia 25-55 tahun, kira-kira 2% pada usia di bawah 12
tahun dan 5% pada usia di atas 60 tahun. Tanda-tanda pertama dari HD umumnya
tampak pada usia antara 30-45 tahun. Huntington juga mengatakan bahwa HD lebih
sering terdapat pada orang laki-laki. Pendapat ini dibenarkan pula oleh laporan
Brackenridge dalam tahun 1971. Tetapi apakah benar bahwa penyakit ini dipengaruhi
oleh seks, sampai sekarang masih belum jelas. Studi pada anak kembar satu telur yang
menderita HD menunjukkan bahwa penyakit yang diderita oleh dua anak itu tidak sama
berat. Berarti bahwa parahnya penyakit ini tergantung dari kerusakan yang terdapat
pada sel-sel otak.
Ada dua dugaan bahwa penyakit ini masuk ke Amerika Serikat dalam tahun
1630 melalui dua kakak beradik laki-laki yang sakit HD dan berpindah tempat tinggal
dari desa kecil Bures di Inggris ke Boston, USA. Kini penyakit keturunan ini terkenal di
seluruh dunia. Menurut laporan WHO (World Health Organization) penyakit ini paling
sedikit terdapat di Jepang.
Penyakit Huntington ini disebabkan oleh gen dominan letal H. orang bergenotip
homozigotik HH mula-mula tampak normal, tetapi umumnya mulai usia 25 tahun
memperlihatkan tanda-tanda penyakit itu. Karena ada kerusakan pada sel-sel otak, maka
fisik dan mental orang ini cepat memburuk dan berakhir dengan kematian. Orang yang
heterozigotik Hh juga sakit tetapi tidak parah, sedangkan orang yang bergenotip
homozigotik hh adalah normal.
4) Brakhidaktili
Kecuali orang dapat mempunyai jari lebih (polidaktili), maka ada sementara
orang yang memiliki jari-jari pendek (brakhidaktili). Ini disebabkan karena tulang-
tulang pada ujung jari-jari pendek dan tumbuh menjadi satu. Kelainan ini menurun dan
disebabkan oleh gen dominan B. Orang berjari normal adalah homozigotik resesip bb.
Orang brakhidaktili adalah heterozigotik Bb. Keadaan homozigotik dominan (BB) akan
berpengaruh letal.
Brakhidaktili mempunyai arti tersendiri dalam sejarah ilmu keturunan ini adalah
yang pertama kali dikenal pada manusia yang diketahui ditentukan oleh gen dominan.
b. Gen Resesip Letal
29
Gen resesip letal ialah gen resesip yang bila homozigotik akan menyebabkan
matinya individu. Beberapa contoh:
1. Tanaman jagung (Zea mays) berdaun putih
Pada jagung (Zea mays) dikenal dengan gen-gen sebagai berikut:
G = Membentuk klorofil (zat hijau daun)
g = Tidak membentuk klorofil bila homozigotik (gg), sehingga daun kecambah tidak
dapat menjalankan fotosintesis dan kecambah mati dalam beberapa hari.
Persilangan dua tanaman berdaun hijau heterozigotik semula menghasilkan
keturunan 75% tanaman berdaun hijau dan 25% tanaman berdaun putih. Tanaman yang
belum mempunyai akar sempurna itu selama kira-kira 14 hari menerima makanan dari
putih lembaga (endosperm). Sesudah itu, tanaman yang berdaun hijau di samping
menghisap makanan dengan akar, dapat pula menjalankan fotosintesis. Dengan
demikian persilangan dua tanaman monohibrid itu tidak menghasilkan keturunan
dengan perbandingan 3:1 seperti hukum Mendel, melainkan 3:0.
Contoh:
P ♀ Gg x ♂ Gg
Hijau Hijau

F1 GG = Hijau
Gg = Hijau
Gg = Hijau
gg = Putih (letal)
2. Ichtyosis congenital
Ichtyosis congenital, yaitu suatu penyakit bawaan pada manusia, yang letal. Bayi
lahir dengan kulit tebal dan banyak luka berupa sobekan terutama di tempat-tempat
lekukan, sehingga bayi biasanya meninggal dunia di dalam kandungan atau waktu lahir.
Jadi penyakit ini bersifat letal dan timbul bila individu homozigotik resesip ii. Alelnya
dominan I menentukan bayi normal.
Perkawinan dua orang normal tetapi heterozigotik untuk penyakit itu akan
menghasilkan keturunan normal semua, sebab perbandingannya menjadi 3:0.
Contoh:
P ♀ Ii x ♂ Ii
Normal Normal

F1 II = Normal
30
Ii = Normal
Ii = Normal
ii = Ichtyosis congenital (letal)
3. Anemia sel sabit (Sickle cell)
Anemia sel sabit yaitu sel darah merah penderita (manusia) berbentuk seperti
sabit. Sel darah merah ini kemampuan mengikat O2 sangat rendah. Pada individu
homozigotik resesip (ss) pertumbuhannya terhambat, jika mengalami infeksi dan
peradangan dapat mengakibatkan kerusakan darah, bahkan dapat mengakibatkan
kematian pada masa bayi atau anak-anak.
3. Mendeteksi dan Mengeliminir Gen-gen Letal
Gen letal dominan dalam keadaan heterozigotik akan memperlihatkan cacat,
tetapi gen letal resesip tidak demikian halnya. Berhubungan dengan itu lebih mudah
kiranya untuk mendeteksi hadirnya gen letal dominan pada suatu individu daripada gen
resesip.
Gen-gen letal dapat dihilangkan (dieliminir) dengan jalan mengadakan
perkawinan ulang kali pada individu yang menderita cacat akibat adanya gen letal.
Tentu saja hal ini lebih mudah dapat dilakukan pada hewan dan tumbuh-tumbuhan,
tetapi tidak pada manusia.
IV. Metode Pembelajaran
Pendekatan : saintific
Model Pembelajaran : Discovery Learning
Metode : Tanya jawab, wawancara, diskusi dan bermain peran

V. Media Pembelajaran
 Power point
 Buku
 LCD Proyektor dan laptop

VI. Sumber Belajar


 Irnaningtyas. 2018. Buku Biologi SMA/MA Kelas XII- Topik pola
hereditas.Jakarta: penerbit Erlangga Hal 170-216
 Sulistyowati dkk. 2016. Buku Biologi Siswa SMA/MA Kelas XII- Topik pola
hereditas. Klaten: Intan pariwara. Hal 147-149
 https://www.gurupendidikan.co.id/pautan-dan-pindah-silang/
 http://biologimanzapo.blogspot.com/2011/10/pola-hereditas.html
 http://endankbiologi.blogspot.com/2014/03/materi-gen-letal.html
 Lingkungan setempat

31
VIII. Langkah-Langkah Pembelajaran
1
Pertemuan Ke-1 (4 x 45 Menit)
.
Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
● Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan
YME dan berdoa untuk memulai pembelajaran
● Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
● Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
● Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan
pengalaman peserta didik dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
● Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
● Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan
dilakukan.
Motivasi
● Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari
dalam kehidupan sehari-hari.
● Apabila materitema/projek ini kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai
dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Pautan & pindah silang,

● Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung


● Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
● Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
● Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada
pertemuan yang berlangsung
● Pembagian kelompok belajar
● Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-
langkah pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 150 Menit )
Sintak Model
Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
Stimulation KEGIATAN LITERASI
(stimullasi/ Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian
pemberian pada topik materi Pautan & pindah silang, dengan cara :
rangsangan) → Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
→ Mengamati
● Lembar kerja materi Pautan & pindah silang,
● Pemberian contoh-contoh materi Pautan & pindah silang, untuk dapat
dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
→ Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan
membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari
internet/materi yang berhubungan dengan Pautan & pindah silang,
32
→ Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Pautan &
pindah silang,
→ Mendengar
Pemberian materi Pautan & pindah silang, oleh guru.
→ Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi
pelajaran mengenai materi :
Pautan & pindah silang,

untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian,


mencari informasi.
Problem CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
statemen Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi
(pertanyaan/ sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang
identifikasi disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
masalah) → Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Pautan & pindah silang,

yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk
mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari
pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) untuk
mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan
pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat.
Data KEGIATAN LITERASI
collection Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab
(pengumpulan pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:
data) → Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Pautan & pindah silang, yang
sedang dipelajari dalam bentuk gambar/video/slide presentasi yang
disajikan dan mencoba menginterprestasikannya.
→ Membaca sumber lain selain buku teks
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan
membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah
pengetahuan dan pemahaman tentang materi Pautan & pindah silang,
yang sedang dipelajari.
→ Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami
dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru
berkaitan dengan materi Pautan & pindah silang, yang sedang
dipelajari.
→ Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Pautan & pindah
silang, yang telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:

33
→ Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam
buku paket mengenai materi Pautan & pindah silang,
→ Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Pautan & pindah silang,
yang telah diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
→ Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan
materi dengan rasa percaya diri Pautan & pindah silang, sesuai dengan
pemahamannya.
→ Saling tukar informasi tentang materi :
Pautan & pindah silang,

dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga
diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan
diskusi kelompok kemudian, dengan menggunakan metode ilmiah yang
terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar kerja yang
disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan,
menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan
kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang
dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING
processing (BERPIKIR KRITIK)
(pengolahan Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil
Data) pengamatan dengan cara :
→ Berdiskusi tentang data dari Materi :
Pautan & pindah silang,

→ Mengolah informasi dari materi Pautan & pindah silang, yang sudah
dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil
dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang
sedang berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada
lembar kerja.
→ Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Pautan &
pindah silang,
Verification CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
(pembuktian) Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil
pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui
kegiatan :
→ Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan
informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang
memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan
untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja
keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir
induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Pautan & pindah silang,

antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama


34
membahas jawaban soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
(menarik Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
kesimpulan) → Menyampaikan hasil diskusi tentang materi Pautan & pindah silang,
berupa kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau
media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi,
kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan
sopan.
→ Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang
materi :
Pautan & pindah silang,

→ Mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan tentanag


materi Pautan & pindah silang, dan ditanggapi oleh kelompok yang
mempresentasikan.
→ Bertanya atas presentasi tentang materi Pautan & pindah silang, yang
dilakukan dan peserta didik lain diberi kesempatan untuk
menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
→ Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam
kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Pautan & pindah silang,

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Pautan & pindah silang, yang


terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah
disediakan.
→ Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan
beberapa pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Pautan &
pindah silang, yang akan selesai dipelajari
→ Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Pautan & pindah silang,
yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja
yang telah disediakan secara individu untuk mengecek penguasaan
siswa terhadap materi pelajaran.
Catatan : Selama pembelajaran Pautan & pindah silang, berlangsung, guru
mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme,
disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah
tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Peserta didik :
● Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting
yang muncul dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Pautan & pindah silang,
yang baru dilakukan.
● Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Pautan & pindah silang,
yang baru diselesaikan.
● Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus
mempelajarai pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
35
● Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa untuk materi pelajaran
Pautan & pindah silang,
● Peserta didik yang selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja
dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian tugas
● Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Pautan & pindah silang, kepada
kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

2
Pertemuan Ke-2 (4 x 45 Menit)
.
Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
● Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan
YME dan berdoa untuk memulai pembelajaran
● Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
● Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
● Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan
pengalaman peserta didik dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
● Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
● Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan
dilakukan.
Motivasi
● Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari
dalam kehidupan sehari-hari.
● Apabila materitema/projek ini kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai
dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

● Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung


● Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
● Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
● Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada
pertemuan yang berlangsung
● Pembagian kelompok belajar
● Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-
langkah pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 150 Menit )
Sintak Model
Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
Stimulation KEGIATAN LITERASI
(stimullasi/ Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian
pemberian pada topik materi Gagal berpisah, dan gen letal. dengan cara :
rangsangan) → Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
→ Mengamati
● Lembar kerja materi Gagal berpisah, dan gen letal.

36
● Pemberian contoh-contoh materi Gagal berpisah, dan gen letal. untuk
dapat dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
→ Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan
membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari
internet/materi yang berhubungan dengan Gagal berpisah, dan gen
letal.
→ Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Gagal
berpisah, dan gen letal.
→ Mendengar
Pemberian materi Gagal berpisah, dan gen letal. oleh guru.
→ Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi
pelajaran mengenai materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian,


mencari informasi.
Problem CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
statemen Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi
(pertanyaan/ sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang
identifikasi disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
masalah) → Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk
mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari
pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) untuk
mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan
pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat.
Data KEGIATAN LITERASI
collection Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab
(pengumpulan pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:
data) → Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Gagal berpisah, dan gen letal.
yang sedang dipelajari dalam bentuk gambar/video/slide presentasi
yang disajikan dan mencoba menginterprestasikannya.
→ Membaca sumber lain selain buku teks
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan
membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah
pengetahuan dan pemahaman tentang materi Gagal berpisah, dan gen
letal. yang sedang dipelajari.
→ Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami
dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru
berkaitan dengan materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang sedang
dipelajari.
37
→ Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Gagal berpisah, dan
gen letal. yang telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
→ Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam
buku paket mengenai materi Gagal berpisah, dan gen letal.
→ Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Gagal berpisah, dan gen
letal. yang telah diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi
dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
→ Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan
materi dengan rasa percaya diri Gagal berpisah, dan gen letal. sesuai
dengan pemahamannya.
→ Saling tukar informasi tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga
diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan
diskusi kelompok kemudian, dengan menggunakan metode ilmiah yang
terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar kerja yang
disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan,
menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan
kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang
dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING
processing (BERPIKIR KRITIK)
(pengolahan Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil
Data) pengamatan dengan cara :
→ Berdiskusi tentang data dari Materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

→ Mengolah informasi dari materi Gagal berpisah, dan gen letal. yang
sudah dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun
hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi
yang sedang berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada
lembar kerja.
→ Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Gagal
berpisah, dan gen letal.
Verification CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
(pembuktian) Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil
pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui
kegiatan :

38
→ Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan
informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang
memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan
untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja
keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir
induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama


membahas jawaban soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
(menarik Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
kesimpulan) → Menyampaikan hasil diskusi tentang materi Gagal berpisah, dan gen
letal. berupa kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis,
atau media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi,
kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan
sopan.
→ Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang
materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

→ Mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan tentanag


materi Gagal berpisah, dan gen letal. dan ditanggapi oleh kelompok
yang mempresentasikan.
→ Bertanya atas presentasi tentang materi Gagal berpisah, dan gen letal.
yang dilakukan dan peserta didik lain diberi kesempatan untuk
menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
→ Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam
kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Gagal berpisah, dan gen letal.

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Gagal berpisah, dan gen letal.


yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang
telah disediakan.
→ Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan
beberapa pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Gagal
berpisah, dan gen letal. yang akan selesai dipelajari
→ Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Gagal berpisah, dan gen
letal. yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar
lerja yang telah disediakan secara individu untuk mengecek penguasaan
siswa terhadap materi pelajaran.
Catatan : Selama pembelajaran Gagal berpisah, dan gen letal. berlangsung, guru
mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme,
disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah
tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
39
Peserta didik :
● Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting
yang muncul dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Gagal berpisah, dan gen
letal. yang baru dilakukan.
● Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Gagal berpisah, dan gen
letal. yang baru diselesaikan.
● Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus
mempelajarai pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
● Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa untuk materi pelajaran
Gagal berpisah, dan gen letal.
● Peserta didik yang selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja
dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian tugas
● Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Gagal berpisah, dan gen letal.
kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

3
Pertemuan Ke-3 (4 x 45 Menit)
.
Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
● Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan
YME dan berdoa untuk memulai pembelajaran
● Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
● Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
● Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan
pengalaman peserta didik dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
● Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
● Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan
dilakukan.
Motivasi
● Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari
dalam kehidupan sehari-hari.
● Apabila materitema/projek ini kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai
dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

● Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung


● Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
● Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
● Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada
pertemuan yang berlangsung
● Pembagian kelompok belajar
● Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-
langkah pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 150 Menit )
Sintak Model Kegiatan Pembelajaran

40
Pembelajaran
Stimulation KEGIATAN LITERASI
(stimullasi/ Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian
pemberian pada topik materi Penentuan jenis kelamin dengan cara :
rangsangan) → Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
→ Mengamati
● Lembar kerja materi Penentuan jenis kelamin
● Pemberian contoh-contoh materi Penentuan jenis kelamin untuk dapat
dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
→ Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan
membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari
internet/materi yang berhubungan dengan Penentuan jenis kelamin
→ Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Penentuan
jenis kelamin
→ Mendengar
Pemberian materi Penentuan jenis kelamin oleh guru.
→ Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi
pelajaran mengenai materi :
Penentuan jenis kelamin

untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian,


mencari informasi.
Problem CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
statemen Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi
(pertanyaan/ sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang
identifikasi disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
masalah) → Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk
mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari
pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) untuk
mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan
pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat.
Data KEGIATAN LITERASI
collection Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab
(pengumpulan pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:
data) → Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Penentuan jenis kelamin yang
sedang dipelajari dalam bentuk gambar/video/slide presentasi yang
disajikan dan mencoba menginterprestasikannya.
→ Membaca sumber lain selain buku teks

41
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan
membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah
pengetahuan dan pemahaman tentang materi Penentuan jenis kelamin
yang sedang dipelajari.
→ Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami
dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru
berkaitan dengan materi Penentuan jenis kelamin yang sedang
dipelajari.
→ Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Penentuan jenis
kelamin yang telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
→ Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam
buku paket mengenai materi Penentuan jenis kelamin
→ Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Penentuan jenis kelamin
yang telah diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
→ Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan
materi dengan rasa percaya diri Penentuan jenis kelamin sesuai dengan
pemahamannya.
→ Saling tukar informasi tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga
diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan
diskusi kelompok kemudian, dengan menggunakan metode ilmiah yang
terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar kerja yang
disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan,
menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan
kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang
dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING
processing (BERPIKIR KRITIK)
(pengolahan Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil
Data) pengamatan dengan cara :
→ Berdiskusi tentang data dari Materi :
Penentuan jenis kelamin

→ Mengolah informasi dari materi Penentuan jenis kelamin yang sudah


dikumpulkan dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil
dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang
sedang berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada
lembar kerja.
42
→ Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Penentuan
jenis kelamin
Verification CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
(pembuktian) Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil
pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui
kegiatan :
→ Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan
informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang
memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan
untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja
keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir
induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama


membahas jawaban soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
(menarik Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
kesimpulan) → Menyampaikan hasil diskusi tentang materi Penentuan jenis kelamin
berupa kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau
media lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi,
kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan
sopan.
→ Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang
materi :
Penentuan jenis kelamin

→ Mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan tentanag


materi Penentuan jenis kelamin dan ditanggapi oleh kelompok yang
mempresentasikan.
→ Bertanya atas presentasi tentang materi Penentuan jenis kelamin yang
dilakukan dan peserta didik lain diberi kesempatan untuk
menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
→ Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam
kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Penentuan jenis kelamin

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Penentuan jenis kelamin yang


terdapat pada buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah
disediakan.
→ Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan
beberapa pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Penentuan
jenis kelamin yang akan selesai dipelajari
→ Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Penentuan jenis kelamin
yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja
yang telah disediakan secara individu untuk mengecek penguasaan
43
siswa terhadap materi pelajaran.

Catatan : Selama pembelajaran Penentuan jenis kelamin berlangsung, guru


mengamati sikap siswa dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme,
disiplin, rasa percaya diri, berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah
tanggungjawab, rasa ingin tahu, peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Peserta didik :
● Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting
yang muncul dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Penentuan jenis kelamin
yang baru dilakukan.
● Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Penentuan jenis kelamin
yang baru diselesaikan.
● Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus
mempelajarai pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
● Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa untuk materi pelajaran
Penentuan jenis kelamin
● Peserta didik yang selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja
dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian tugas
● Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Penentuan jenis kelamin kepada
kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

4
Pertemuan Ke-4 (4 x 45 Menit)
.
Kegiatan Pendahuluan (15 Menit)
Guru :
Orientasi
● Melakukan pembukaan dengan salam pembuka, memanjatkan syukur kepada Tuhan
YME dan berdoa untuk memulai pembelajaran
● Memeriksa kehadiran peserta didik sebagai sikap disiplin
● Menyiapkan fisik dan psikis peserta didik dalam mengawali kegiatan pembelajaran.
Aperpepsi
● Mengaitkan materi/tema/kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dengan
pengalaman peserta didik dengan materi/tema/kegiatan sebelumnya
● Mengingatkan kembali materi prasyarat dengan bertanya.
● Mengajukan pertanyaan yang ada keterkaitannya dengan pelajaran yang akan
dilakukan.
Motivasi
● Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran yang akan dipelajari
dalam kehidupan sehari-hari.
● Apabila materitema/projek ini kerjakan dengan baik dan sungguh-sungguh ini dikuasai
dengan baik, maka peserta didik diharapkan dapat menjelaskan tentang materi :
Pautan seks

● Menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung


● Mengajukan pertanyaan
Pemberian Acuan
● Memberitahukan materi pelajaran yang akan dibahas pada pertemuan saat itu.
44
● Memberitahukan tentang kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan KKM pada
pertemuan yang berlangsung
● Pembagian kelompok belajar
● Menjelaskan mekanisme pelaksanaan pengalaman belajar sesuai dengan langkah-
langkah pembelajaran.
Kegiatan Inti ( 150 Menit )
Sintak Model
Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran
Stimulation KEGIATAN LITERASI
(stimullasi/ Peserta didik diberi motivasi atau rangsangan untuk memusatkan perhatian
pemberian pada topik materi Pautan seks dengan cara :
rangsangan) → Melihat (tanpa atau dengan Alat)
Menayangkan gambar/foto/video yang relevan.
→ Mengamati
● Lembar kerja materi Pautan seks
● Pemberian contoh-contoh materi Pautan seks untuk dapat
dikembangkan peserta didik, dari media interaktif, dsb
→ Membaca.
Kegiatan literasi ini dilakukan di rumah dan di sekolah dengan
membaca materi dari buku paket atau buku-buku penunjang lain, dari
internet/materi yang berhubungan dengan Pautan seks
→ Menulis
Menulis resume dari hasil pengamatan dan bacaan terkait Pautan seks
→ Mendengar
Pemberian materi Pautan seks oleh guru.
→ Menyimak
Penjelasan pengantar kegiatan secara garis besar/global tentang materi
pelajaran mengenai materi :
Pautan seks

untuk melatih rasa syukur, kesungguhan dan kedisiplinan, ketelitian,


mencari informasi.
Problem CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
statemen Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengidentifikasi
(pertanyaan/ sebanyak mungkin pertanyaan yang berkaitan dengan gambar yang
identifikasi disajikan dan akan dijawab melalui kegiatan belajar, contohnya :
masalah) → Mengajukan pertanyaan tentang materi :
Pautan seks

yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk
mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari
pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) untuk
mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan
pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas
dan belajar sepanjang hayat.
Data KEGIATAN LITERASI
collection Peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk menjawab
(pengumpulan pertanyan yang telah diidentifikasi melalui kegiatan:
45
data) → Mengamati obyek/kejadian
Mengamati dengan seksama materi Pautan seks yang sedang dipelajari
dalam bentuk gambar/video/slide presentasi yang disajikan dan
mencoba menginterprestasikannya.
→ Membaca sumber lain selain buku teks
Secara disiplin melakukan kegiatan literasi dengan mencari dan
membaca berbagai referensi dari berbagai sumber guna menambah
pengetahuan dan pemahaman tentang materi Pautan seks yang sedang
dipelajari.
→ Aktivitas
Menyusun daftar pertanyaan atas hal-hal yang belum dapat dipahami
dari kegiatan mengmati dan membaca yang akan diajukan kepada guru
berkaitan dengan materi Pautan seks yang sedang dipelajari.
→ Wawancara/tanya jawab dengan nara sumber
Mengajukan pertanyaan berkaiatan dengan materi Pautan seks yang
telah disusun dalam daftar pertanyaan kepada guru.

COLLABORATION (KERJASAMA)
Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk:
→ Mendiskusikan
Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam
buku paket mengenai materi Pautan seks
→ Mengumpulkan informasi
Mencatat semua informasi tentang materi Pautan seks yang telah
diperoleh pada buku catatan dengan tulisan yang rapi dan
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
→ Mempresentasikan ulang
Peserta didik mengkomunikasikan secara lisan atau mempresentasikan
materi dengan rasa percaya diri Pautan seks sesuai dengan
pemahamannya.
→ Saling tukar informasi tentang materi :
Pautan seks

dengan ditanggapi aktif oleh peserta didik dari kelompok lainnya sehingga
diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan
diskusi kelompok kemudian, dengan menggunakan metode ilmiah yang
terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar kerja yang
disediakan dengan cermat untuk mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan,
menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan
kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang
dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Data COLLABORATION (KERJASAMA) dan CRITICAL THINKING
processing (BERPIKIR KRITIK)
(pengolahan Peserta didik dalam kelompoknya berdiskusi mengolah data hasil
Data) pengamatan dengan cara :
→ Berdiskusi tentang data dari Materi :
Pautan seks

46
→ Mengolah informasi dari materi Pautan seks yang sudah dikumpulkan
dari hasil kegiatan/pertemuan sebelumnya mau pun hasil dari kegiatan
mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi yang sedang
berlangsung dengan bantuan pertanyaan-pertanyaan pada lembar kerja.
→ Peserta didik mengerjakan beberapa soal mengenai materi Pautan seks
Verification CRITICAL THINKING (BERPIKIR KRITIK)
(pembuktian) Peserta didik mendiskusikan hasil pengamatannya dan memverifikasi hasil
pengamatannya dengan data-data atau teori pada buku sumber melalui
kegiatan :
→ Menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan
informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang
memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan
untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja
keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir
induktif serta deduktif dalam membuktikan tentang materi :
Pautan seks

antara lain dengan : Peserta didik dan guru secara bersama-sama


membahas jawaban soal-soal yang telah dikerjakan oleh peserta didik.
Generalization COMMUNICATION (BERKOMUNIKASI)
(menarik Peserta didik berdiskusi untuk menyimpulkan
kesimpulan) → Menyampaikan hasil diskusi tentang materi Pautan seks berupa
kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media
lainnya untuk mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan
berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan sopan.
→ Mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal tentang
materi :
Pautan seks

→ Mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan tentanag


materi Pautan seks dan ditanggapi oleh kelompok yang
mempresentasikan.
→ Bertanya atas presentasi tentang materi Pautan seks yang dilakukan
dan peserta didik lain diberi kesempatan untuk menjawabnya.

CREATIVITY (KREATIVITAS)
→ Menyimpulkan tentang point-point penting yang muncul dalam
kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan berupa :
Laporan hasil pengamatan secara tertulis tentang materi :
Pautan seks

→ Menjawab pertanyaan tentang materi Pautan seks yang terdapat pada


buku pegangan peserta didik atau lembar kerja yang telah disediakan.
→ Bertanya tentang hal yang belum dipahami, atau guru melemparkan
beberapa pertanyaan kepada siswa berkaitan dengan materi Pautan
seks yang akan selesai dipelajari
→ Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi Pautan seks yang terdapat
pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar lerja yang telah
disediakan secara individu untuk mengecek penguasaan siswa terhadap
47
materi pelajaran.

Catatan : Selama pembelajaran Pautan seks berlangsung, guru mengamati sikap siswa
dalam pembelajaran yang meliputi sikap: nasionalisme, disiplin, rasa percaya diri,
berperilaku jujur, tangguh menghadapi masalah tanggungjawab, rasa ingin tahu,
peduli lingkungan
Kegiatan Penutup (15 Menit)
Peserta didik :
● Membuat resume (CREATIVITY) dengan bimbingan guru tentang point-point penting
yang muncul dalam kegiatan pembelajaran tentang materi Pautan seks yang baru
dilakukan.
● Mengagendakan pekerjaan rumah untuk materi pelajaran Pautan seks yang baru
diselesaikan.
● Mengagendakan materi atau tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja yang harus
mempelajarai pada pertemuan berikutnya di luar jam sekolah atau dirumah.
Guru :
● Memeriksa pekerjaan siswa yang selesai langsung diperiksa untuk materi pelajaran
Pautan seks
● Peserta didik yang selesai mengerjakan tugas projek/produk/portofolio/unjuk kerja
dengan benar diberi paraf serta diberi nomor urut peringkat, untuk penilaian tugas
● Memberikan penghargaan untuk materi pelajaran Pautan seks kepada kelompok yang
memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

IX. Penilaian, Pembelajaran Remedial dan Pengayaan


1. Teknik Penilaian (terlampir)

a. Pengetahuan
- Tertulis Uraian dan atau Pilihan Ganda

- Penugasan
Tugas Rumah
a. Peserta didik menjawab pertanyaan yang terdapat pada buku peserta
didik
b. Peserta didik memnta tanda tangan orangtua sebagai bukti bahwa
mereka telah mengerjakan tugas rumah dengan baik
c. Peserta didik mengumpulkan jawaban dari tugas rumah yang telah
dikerjakan untuk mendapatkan penilaian.

b. Sikap
- Penilaian Observasi
Penilaian observasi berdasarkan pengamatan sikap dan perilaku peserta
didik sehari-hari, baik terkait dalam proses pembelajaran maupun secara
umum. Pengamatan langsung dilakukan oleh guru. Berikut contoh
instrumen penilaian sikap
Aspek Perilaku yang
N Jumla Skor Kode
Nama Siswa Dinilai
o h Skor Sikap Nilai
BS JJ TJ DS
1 Soenarto 75 75 50 75 275 68,75 C
2 ... ... ... ... ... ... ...

48
Keterangan :
• BS : Bekerja Sama
• JJ : Jujur
• TJ : Tanggun Jawab
• DS : Disiplin

Catatan :
1. Aspek perilaku dinilai dengan kriteria:
100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Cukup
25 = Kurang
2. Skor maksimal = jumlah sikap yang dinilai dikalikan jumlah kriteria =
100 x 4 = 400
3. Skor sikap = jumlah skor dibagi jumlah sikap yang dinilai = 275 : 4 =
68,75
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)
5. Format di atas dapat diubah sesuai dengan aspek perilaku yang ingin
dinilai

- Penilaian Diri
Seiring dengan bergesernya pusat pembelajaran dari guru kepada peserta
didik, maka peserta didik diberikan kesempatan untuk menilai kemampuan
dirinya sendiri. Namun agar penilaian tetap bersifat objektif, maka guru
hendaknya menjelaskan terlebih dahulu tujuan dari penilaian diri ini,
menentukan kompetensi yang akan dinilai, kemudian menentukan kriteria
penilaian yang akan digunakan, dan merumuskan format penilaiannya
Jadi, singkatnya format penilaiannya disiapkan oleh guru terlebih dahulu.
Berikut Contoh format penilaian :
Jumlah Skor Kode
No Pernyataan Ya Tidak
Skor Sikap Nilai
Selama diskusi, saya ikut
1 serta mengusulkan 50
ide/gagasan.
Ketika kami berdiskusi,
setiap anggota
2 mendapatkan 50
250 62,50 C
kesempatan untuk
berbicara.
Saya ikut serta dalam
3 membuat kesimpulan 50
hasil diskusi kelompok.
4 ... 100

Catatan :
1. Skor penilaian Ya = 100 dan Tidak = 50

49
2. Skor maksimal = jumlah pernyataan dikalikan jumlah kriteria = 4 x 100
= 400
3. Skor sikap = (jumlah skor dibagi skor maksimal dikali 100) = (250 :
400) x 100 = 62,50
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)
5. Format di atas dapat juga digunakan untuk menilai kompetensi
pengetahuan dan keterampilan

- Penilaian Teman Sebaya


Penilaian ini dilakukan dengan meminta peserta didik untuk menilai
temannya sendiri. Sama halnya dengan penilaian hendaknya guru telah
menjelaskan maksud dan tujuan penilaian, membuat kriteria penilaian, dan
juga menentukan format penilaiannya. Berikut Contoh format penilaian
teman sebaya :

Nama yang diamati : ...


Pengamat : ...

Jumlah Skor Kode


No Pernyataan Ya Tidak
Skor Sikap Nilai
Mau menerima pendapat
1 100
teman.
Memberikan solusi
2 100
terhadap permasalahan.
Memaksakan pendapat 450 90,00 SB
3 sendiri kepada anggota 100
kelompok.
4 Marah saat diberi kritik. 100
5 ... 50

Catatan :
1. Skor penilaian Ya = 100 dan Tidak = 50 untuk pernyataan yang positif,
sedangkan untuk pernyataan yang negatif, Ya = 50 dan Tidak = 100
2. Skor maksimal = jumlah pernyataan dikalikan jumlah kriteria = 5 x 100
= 500
3. Skor sikap = (jumlah skor dibagi skor maksimal dikali 100) = (450 :
500) x 100 = 90,00
4. Kode nilai / predikat :
75,01 – 100,00 = Sangat Baik (SB)
50,01 – 75,00 = Baik (B)
25,01 – 50,00 = Cukup (C)
00,00 – 25,00 = Kurang (K)

c. Keterampilan
- Penilaian Unjuk Kerja
Contoh instrumen penilaian unjuk kerja dapat dilihat pada instrumen
penilaian ujian keterampilan berbicara sebagai berikut:
50
Instrumen Penilaian
Sangat Kurang Tidak
Baik
No Aspek yang Dinilai Baik Baik Baik
(75)
(100) (50) (25)
Kesesuaian respon dengan
1
pertanyaan
2 Keserasian pemilihan kata
Kesesuaian penggunaan tata
3
bahasa
4 Pelafalan

Kriteria penilaian (skor)


100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Kurang Baik
25 = Tidak Baik
Cara mencari nilai (N) = Jumalah skor yang diperoleh siswa dibagi jumlah
skor maksimal dikali skor ideal (100)

Instrumen Penilaian Diskusi


No Aspek yang Dinilai 100 75 50 25
1 Penguasaan materi diskusi
2 Kemampuan menjawab pertanyaan
3 Kemampuan mengolah kata
4 Kemampuan menyelesaikan masalah

Keterangan :
100 = Sangat Baik
75 = Baik
50 = Kurang Baik
25 = Tidak Baik

2. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan


a. Remedial
Bagi peserta didik yang belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal
(KKM), maka guru bisa memberikan soal tambahan misalnya sebagai
berikut :
1) Jelaskan tentang Sistem Pembagian Kekuasaan Negara!
2) Jelaskan tentang Kedudukan dan Fungsi Kementerian Negara
Republik Indonesia dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian!
3) Jelaskan tentang Nilai-nilai Pancasila dalam Penyelenggaraan
pemerintahan!

CONTOH PROGRAM REMIDI

Sekolah : ……………………………………………..
Kelas/Semester : ……………………………………………..
Mata Pelajaran : ……………………………………………..
Ulangan Harian Ke : ……………………………………………..

51
Tanggal Ulangan Harian : ……………………………………………..
Bentuk Ulangan Harian : ……………………………………………..
Materi Ulangan Harian : ……………………………………………..
(KD / Indikator) : ……………………………………………..
KKM : ……………………………………………..

Indikator
Nama Bentuk Nilai
Nilai yang
No Peserta Tindakan Setelah Keterangan
Ulangan Belum
Didik Remedial Remedial
Dikuasai
1
2
3
4
5
6
dst

b. Pengayaan
Guru memberikan nasihat agar tetap rendah hati, karena telah mencapai
KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Guru memberikan soal pengayaan
sebagai berikut :
1) Membaca buku-buku tentang Nilai-nilai Pancasila dalam kerangka
praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara yang relevan.
2) Mencari informasi secara online tentang Nilai-nilai Pancasila dalam
kerangka praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara
3) Membaca surat kabar, majalah, serta berita online tentang Nilai-nilai
Pancasila dalam kerangka praktik penyelenggaraan pemerintahan
Negara
4) Mengamati langsung tentang Nilai-nilai Pancasila dalam kerangka
praktik penyelenggaraan pemerintahan Negara yang ada di
lingkungan sekitar.

……………, 25 Juli 2017

Mengetahui
Kepala SMAN …………. Guru Mata Pelajaran

……………………………………
…………………………
………….
NIP/NRK. NIP/NRK.

Catatan Kepala Sekolah

52
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
.............................................................................................................................................
............................................................................................

53