Anda di halaman 1dari 13

CLINICAL SCIENCE SESSION (CSS)

* Kepaniteraan Klinik Senior / G1A218033 / Agustus 2019


** Pembimbing / dr. H. Ali Imran Lubis, Sp. Rad

Diffusion Weighted Imaging

Fitrah Afdhal *

dr. H. Ali Imran Lubis, Sp. Rad **

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


ILMU BAGIAN RADIOLOGI
RSUD RADEN MATTAHER PROVINSI JAMBI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
2019
HALAMAN PENGESAHAN

CLINICAL SCIENCE SESSION (CSS)

Diffusion Weighted Imaging

Disusun Oleh
Fitrah Afdhal
G1A1218033

Kepaniteraan Klinik Senior

Bagian Ilmu Radiologi RSUD Raden Mattaher Prov. Jambi

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Jambi

Laporan ini telah diterima dan dipresentasikan


Pada Agustus 2019

Pembimbing

dr. Ali Imran Lubis, Sp.Rad

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat Clinical Science Session (CSS) yang
berjudul “Diffusion Weigthed Imaging” sebagai salaah satu syarat dalam
mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Ilmu Bagian Radiologi di Rumah Sakit
Umum Daerah Raden Mattaher Provinsi Jambi.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dr. Ali Imran Lubis, Sp.Rad,
yang telah bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing penulis
selama menjalani Kepaniteraan Klinik Senior di Ilmu Bagian Radiologi di Rumah
Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Provinsi Jambi.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada referat Clinical
Science Session (CSS) ini, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran untuk
menyempurnakan referat ini. Penulis mengharapkan semoga referat ini dapat
bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Jambi, Agustus 2019

Fitrah Afdhal

iii
DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................... i
Halaman Pengesahan .......................................................................................... ii
Kata Pengantar .................................................................................................... iii
Daftar Isi.............................................................................................................. iv
BAB I Pendahuluan .......................................................................................... 1
BAB II Tinjauan Pustaka ................................................................................. 2
2.1 Definisi Diffusion Weighted Imaging .......................................................... 2
2.2 Mekanisme Diffusion Weighted Imaging .................................................... 2
2.3 Indikasi Diffusion Weighted Imaging .......................................................... 7
BAB III Kesimpulan ......................................................................................... 8
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 9

iv
BAB I
PENDAHULUAN

Difusi-weighted imaging (DWI) adalah teknik pencitraan resonansi


magnetik (MR) yang melaporkan proses fisik gerakan termal mikroskopis
molekul air dalam jaringan biologis. Perbedaan dalam mobilitas proton air
menciptakan kontras gambar, yang merupakan dipengaruhi oleh interaksi molekul
air dengan membran seluler, makromolekul, tingkat kepadatan seluler, dan ukuran
ruang ekstravaskuler ekstraseluler. DWI didasarkan pada prinsip "gerak Brown";
yang menyatakan bahwa proton air memiliki kecenderungan untuk berdifusi
secara acak di ruang angkasa. DWI adalah metode untuk mengevaluasi fungsi
molekul dan mikro-arsitektur tubuh manusia. Kontras sinyal DWI dapat diukur
dengan peta koefisien difusi yang jelas dan bertindak sebagai alat untuk evaluasi
respons pengobatan dan penilaian perkembangan penyakit.1.2

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Diffusion Weighted Imaging

Difusi, yang sering disebut juga gerak Brown, merupakan proses


perpindahan molekul secara acak yang hanya terlihat secara mikroskopik. Difusi
molekul air berhubungan dengan pompa natrium dan kalium yang terdapat pada
membran sel sehingga terjadi pergerakan dari kompartemen intraseluler ke
ekstraseluler maupun kebalikannya. Difusi air pada otak tidak hanya dipengaruhi
interaksi kompleks kompartemen intraselular dan ekstraselular, tetapi juga oleh
sitoarsitektur mikrostruktur dan sawar permeabilitas. Difusi molekul air pada
gradien medan magnet menghasilkan dephasing intravoxel dan hilangnya
intensitas sinyal. Karena gerakan difusi secara mikroskopik ini sangat kecil, maka
kekuatan dan/atau durasi gradien magnetik yang besar diperlukan untuk
memperlihatkan proses kehilangan sinyal pada difusi. Dengan menggunakan
metode gradien pulsa bipolar pada MRI, gerakan difusi dapat terlihat dengan
adanya perubahan magnitudo putaran molekul akibat penyebaran fase. Untuk
mendeteksi gerakan yang sangat sensitif ini diperlukan teknik pengambilan
gambar yang cepat seperti teknik echoplanar imaging (EPI), yang dapat
memperoleh sejumlah gambar DWI pada MRI dalam hitungan milidetik.
Parameter sensitivitas difusi dinamakan nilai b yang berhubungan dengan durasi,
kekuatan, dan interval waktu antara gradien yang menghasilkan difusi. Nilai b
yang digunakan pada pemeriksan umumnya 500–1000 s/mm2. Nilai b yang
semakin tinggi akan menghasilkan gambar difusi yang lebih sensitif untuk
memperoleh kontras yang lebih baik dan area dengan restriksi gerakan air.1-3

2.2 Mekanisme Diffusion Weighted Imaging

Diffusi adalah istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan


pergerakan molekul secara acak pada jaringan. Gerakan ini dibatasi oleh batas-
batas seperti ligamen, membran dan macromolecul. Kadangkala terjadinya

2
pembatasan difusi adalah secara langsung tergantung pada struktur jaringan. Pada
stroke dini segera setelah terjadinya iskemia tapi sebelum terjadinya infark atau
kerusakan permanen pada jaringan otak, sel-sel membengkak dan menyerap air
dari ruang extraseluler. Ketika sel-sel penuh oleh molekul air dan dibatasi oleh
membran, maka diffusi yang terjadi akan terbatas dan nilai rata-rata difusi pada
jaringan tersebut akan berkurang.3-5
Gambaran dengan sekuen spin echo dapat memperlihatkan struktur dengan
tanda-tanda diffusi pada jaringan. Gambaran diffusi dapat diperoleh dengan lebih
efektif dengan mengkombinasikan dua pulsa gradient yang diapplikasikan setelah
eksitasi. Pulsa gradient digunakan untuk saling mempengaruhi jika spin-spin tidak
bergerak sementara spin-spin yang bergerak tidak dipengaruhi. Ini sebabnya
mengapa pada gambaran diffusi sinyal yang mengalami atenuasi terjadi pada
jaringan normal dengan pergerakan difusi yang random, dan sinyal yang
intensitasnya tinggi terjadi pada jaringan dengan difusi yang terbatas (restriksi)
misalnya pada stroke dini. Banyaknya atenuasi tergantung pada amplitudo dan
(mungkin) arah dari aplikasi gradien difusi.3-5
Pulsa gradient dapat diaplikasikan searah dengan sumbu X,Y, dan Z. Arah
difusi pada sumbu X,Y, dan Z dikombinasikan untuk menghasilkan gambaran
difusi weighted. Ketika gradien difusi hanya diaplikasikan sepanjang sumbu Y ,
atau pada arah sumbu X, perubahan sinyal yang terjadi hanya sedikit dan mungkin
hanya merefleksikan arah difusi pada axons. Istilah isotropic diffusion dipakai
untuk menggambarkan bahwa gradien difusi diaplikasikan pada ketiga sumbu
tersebut. Gradien difusi harus sangat panjang dan sangat kuat untuk dapat
memperoleh citra dengan pembobotan difusi (diffusion weighting).3-5
Citra DWI atau biasa juga disebut sebagai citra proton density (PD)
menggunakan rangkaian pulsa spin echo. Citra ini terjadi secara kesinambungan
dengan mekanisme pembobotan citra T1 dan T2, sehingga terdapat satu proses
yang ditingkatkan dan satu proses yang diturunkan maka citra DWI yang
dihasilkan akan dominan. DWI memaparkan area yang terdifusi terbatas dalam
molekul ekstraseluler air (H2O) pada jaringan yang terdapat kelainan didalamnya.
Area dengan signal yang tinggi terlihat dalam jaringan yang terdifusi terbatas

3
(abnormal). Peningkatan sensitifitas difusi diikuti dengan peningkatan b-value
dari molekul ekstraseluler air dalam jaringan. Biasanya rentang untuk pemberian
b-value adalah 500 s/mm2 sampai 1000 s/mm2 dalam pembobotan citra DWI
serta menggunakan waktu Short TE yang panjang. Adapun b-value dapat
dirumuskan sebagai berikut:
b = γ2 G2 δ2 (Δ–δ/3)
dengan b-value (s/mm2), γ adalah gyromagnetic ratio (MHz/T), G adalah
amplitude gradien difusi (mT/m), δ adalah durasi pulsa gradien (sekon) dan Δ
adalah waktu antar pulsa-pulsa (sekon).1,2
Semakin tinggi nilai ‘b’ value maka intensitas sinyal difusi dan sensitifitas
difusi akan meningkat, intensitas sinyal difusi yang meningkat pada jaringan otak
normal akan tampak lebih gelap pada citra otak yang ditampilkan.1
Penilaian intensitas sinyal difusi pada jaringan otak normal dinilai pada
white matter dan grey matter dan jika terdapat kelainan stroke maka jaringan otak
yang difusinya terbatas akan menghasilkan intensitas sinyal yang terlihat terang
dibandingkan jaringan yang normal. Untuk pencitraan difusi jika menggunakan
sekuen multishot maka perubahan phase akan berbeda untuk garis-garis yang
berbeda pada K space dan hal ini akan menghasilkan artefak yang terlihat
sepanjang phase direction. Karena alasan ini maka citra MRI dengan pembobotan
difusi pada umumnya diperoleh dengan teknik SE-EPI yang dilakukan dengan
gradient yang kuat. Echo tambahan yang dikenal sebagai navigator echo dapat
dihasilkan dan kemudian digunakan untuk mengkoreksi artefak selama post
processing.3-5

4
Gambar 2.1 DWI b = 0.5

5
Gambar 2.2 DWI b = 5005

6
Gambar 2.3 DWI b = 1000.5

2.3 Indikasi

Aplikasi klinis pencitraan difusi secara langsung adalah untuk


mendiagnosa stroke. Lesi-lesi iskemik yang masih dini dapat diperlihatkan dengan
pencitraan MRI difusi sebagai daerah dengan diffusi air yang lebih lambat akibat
akumulasi air intraseluler dan/atau akibat pengurangan ruang extra seluler.
Pencitraan MR difusi dapat memperlihatkan lesi-lesi iskemik baik
yang irreversible maupun yang reversible, sehingga potensial dapat membedakan
jaringan otak yang masih dapat diperbaiki dengan jaringan yang mengalami
kerusakan irreversible sebelum dilakukan tindakan terapi.1

7
BAB III

KESIMPULAN

Diffusi adalah istilah yang dipergunakan untuk menggambarkan


pergerakan molekul secara acak pada jaringan. Biasanya rentang untuk pemberian
b-value adalah 500 s/mm2 sampai 1000 s/mm2 dalam pembobotan citra DWI serta
menggunakan waktu Short Time Echo (TE) yang panjang. Semakin tinggi nilai
‘b’ value maka intensitas sinyal difusi dan sensitifitas difusi akan meningkat,
intensitas sinyal difusi yang meningkat pada jaringan otak normal akan tampak
lebih gelap pada citra otak yang ditampilkan. Aplikasi klinis pencitraan difusi
secara langsung adalah untuk mendiagnosa stroke. Lesi-lesi iskemik yang masih
dini dapat diperlihatkan dengan pencitraan MRI difusi sebagai daerah dengan
diffusi air yang lebih lambat akibat akumulasi air intraseluler dan/atau akibat
pengurangan ruang extra seluler.1,2

8
DAFTAR PUSTAKA

1. Jones DK. Fundamentals of diffusion MR imaging. Clinical MR


Neuroimaging: Diffusion, Perfusion, and Spectroscopy. 1st ed. Cambridge:
Cambridge University Press. p. 44-85.
2. Naidich TP, Castillo M, Cha S, Smirniotopoulos JG. Imaging of the Brain.
1st ed. Philadelphia: Saunders; 2012.
3. Law M, Yang S, Wang H, Babb JS, Johnson G, Cha S, et al. Glioma grading:
sensitivity, specificity, and predictive values of perfusion MR imaging and
proton MR spectroscopic imaging compared with conventional MR imaging.
American Journal of Neuroradiology. 2003;24:1989-98.
4. Hagmann P, Jonasson L, Maeder P, Thiran J-P, Wedeen VJ, Meuli R.
Understanding diffusion MR imaging techniques: from scalar diffusion
weighted imaging to diffusion tensor imaging and beyond. Radiographics.
2006;26:S205-23.
5. Moritani T, Ekholm S, Westesson PL. Basics of Diffusion Measurements by
MRI. Diffusion-Weighted MR Imaging of the Brain. 1st ed. Berlin: Springer;
2005. p. 1-5.