Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KELOMPOK LANSIA

DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS

Tugas Mata Kuliah : Keperawatan Kelompok Khusus

Dosen Pengampu: Dra. Suharyati Samba, S.Kp., M.Kes

Disusun Oleh :

IHDA AL ADAWIYAH MZ NPM 220120170009

EVA NURLAELA NPM 220120170037

ITA VUSFITA NPM 220120170042

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin dan
kehendakNya lah makalah ini dapat kami kumpulkan tepat pada waktunya.
Penulisan dan pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas pada mata
kuliah Keperawatan Kelompok Khusus. Dalam makalah ini kami membahas
tentang Asuhan Keperawatan Komunitas pada Lansia di Wilayah Kerja
Puskesmas .
Dalam penulisan makalah ini penyusun menemui berbagai hambatan yang
dikarenakan terbatasnya Ilmu Pengetahuan penyusun terkait dengan penulisan
makalah ini. Oleh karena itu, penyusun berterima kasih kepada dosen pengampu
yakni Ibu Dra. Suharyati Samba, S.Kp., M. Kes dan Tim Dosen yang telah
memberikan ilmu berguna kepada penyusun.
Penyusun menyadari makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu kami mengharapkan saran dan juga kritik membangun untuk lebih maju di
masa yang akan datang.

Bandung, Oktober 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................

DAFTAR ISI .............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................

1.2 Tujuan` .................................................................................................................

BAB II KONSEP DASAR DAN GAMBARAN PERMASALAHAN .................

2.1 Defenisi Agregat Lansia .......................................................................................

2.2 Masalah Kesehatan pada Kelompok Lansia di Indonesia ....................................

2.3 Indikator Kesehatan Kelompok Lansia ................................................................

2.4 Determinan Kesehatan Kelompok Lansia ............................................................

2.5 Konsep Puskesmas ...............................................................................................

2.6 Peran Perawat Komunitas pada Kelompok Lansia ..............................................

BAB III PEMBAHASAN ........................................................................................

3.1 Asuhan Keperawatan dengan Model Health Care System .................................

3.2 Asuhan Keperawatan dengan Model Ageing in Place .........................................

3.3 Diskusi Dampak Penerapan Model Health Care System dan Ageing in Place....

BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA LANSIA .............

BAB V KESIMPULAN ...........................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan kepada individu,
keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik dalam keadaan sehat maupun sakit
(Undang-Undang No.38 Tahun 2014). Pelayanan yang diberikan oleh perawat
dilakukan secara profesional dan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan.
Perawat komunitas merupakan salah satu bagian dari pelayanan keperawatan yang
memadukan antara pelayanan keperawatan profesional dengan kesehatan
masyarakat yang ditujukan pada seluruh masyarakat dengan penekanan pada
kelompok berisiko (Effendi & Makhfudli, 2010). Kelompok berisiko merupakan
bagian dari masyarakat yang memiliki risiko lebih besar untuk terpapar masalah
kesehatan dibanding kelompok umum salah satunya lanjut usia (lansia).
Berdasarkan data proyeksi penduduk, pada tahun 2015 penduduk lansia
yang berusia lebih dari 60 tahun di Dunia mencapai 12,3% dari jumlah penduduk
di Dunia, di Asia pada tahun 2015 mencapai 11,6%, sedangkan di Indonesia pada
tahun 2015 8,1%. Terjadi peningkatan jumlah penduduk lansia di Indonesia pada
tahun 2017 mencapai 9,03%. Di Indonesia terdapat 3 Provinsi dengan persentase
terbesar adalah DIY Yogyakarta (13,81%), Jawa Tengah (12,59%) dan Jawa
Timur (12,25%).
Data Susenas 2016, penduduk lansia di Indonesia sebesar 8,69 persen dari
populasi penduduk. Persentase lansia perempuan pada tahun 2016 sebesar 9,20
persen dan persentase lansia laki-laki sebesar 8,19 persen. sebagian besar
penduduk lansia di Indonesia masih tinggal bersama keluarganya masyarakat.
Bahkan 33,93 persen penduduk lansia tinggal bersama tiga generasi dalam satu
rumah tangga. Hasil proyeksi penduduk 2010-2035, Indonesia akan memasuki
periode ageing, dimana 10% penduduk akan berusia 60 tahun keatas (Infodatin
Lansia, 2016).
Seiring dengan meningkatnya jumlah lansia di Indonesia, maka angka
kesakitan lansia juga mengalami peningkatan .Pada tahun 2016 angka kesakitan
lansia mencapai 27,46 persen, yang artinya dari setiap 100 orang lansia terdapat
sekitar 27 orang diantaranya mengalami sakit. Hal ini disebabkan penurunan
fungsi pada lansia dan menyebabkan peningkatan risiko penyakit. Pada usia 60
tahun keatas sebagian besar gangguan kesehatan dan ketidakmampuan yang
dialami yaitu penurunan pendengaran, penglihatan dan pergerakan, peningkatan
penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, gangguan pernapasan kronis,
stroke, kanker dan demensia (WHO, 2015). Di Indonesia permasalahan kesehatan
yang dialami lansia adalah penyakit tidak menular (PTM) antara lain
hipertensi,artritis, stroke, Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) dan Diabetes
Mellitus (Riset Kesehatan Dasar, 2013).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada Tahun 2016
mencanangkan bahwa lansia yang sehat adalah lansia yang aktif dan produktif.
Menurut WHO (2015) proses menua yang sehat adalah proses menua yang
mampu mengembangkan dan mempertahankan kemampuan fungsi dan
memungkinkan untuk mencapai kesejahteraan. Dengan kata lain, penambahan
umur tidak mempengaruhi kemampuan lansia untuk tetap produktif dan sejahtera.
Fokus pembangunan kesehatan secara global adalah menciptakan manusia
yang sehat 2020. Kesehatan lansia merupakan salah satu fokus program dengan
meningkatkan promosi kesehatan dan tindakan pencegahan. Lansia diharapkan
memiliki kemampuan untuk hidup dan menjalankan fungsinya secara efektif di
masyarakat dan dapat melatih kemandirian dan otonomi semaksimal mungkin
meskipun tidak dapat terhindar dari penyakit (William dalam Anderson &
McFarlane, 2011). Lansia di komunitas diharapkan mendapatkan layanan
kesehatan untuk meningkatkan kemandirian dan fungsi lansia melalui pelayanan
kesehatan dan sosial yang diperlukan. Dengan kata lain tujuan pemberian layanan
kepada lansia di komunitas adalah untuk mendukung kemandirian lansia selama
tinggal di rumah, dan untuk mempertahankan serta meningkatkan kualitas hidup
selama mungkin (Low, Yap & Brodaty, 2011). Dengan demikian perawat
khususnya perawat komunitas diharapkan dapat menetapkan tujuan dan strategi
yang tepat dalam melakukan pelayanan keperawatan pada lansia.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan penelitian dalam bidang
keperawatan, pemberian asuhan keperawatan pada lansia juga terus berkembang.
Hal tersebut dikarenakan lansia sebagai salah satu bagian dari komunitas terbuka
terhadap praktek keperawatan yang baru dan berespon terhadap berbagai
pendekatan pelayanan yang berpotensi untuk meningkatkan derajat kesehatan
mereka (Anderson & McFarlane, 2011). Asuhan Keperawatan Komunitas pada
kelompok lansia di Masyarakat dapat dilakukan secara optimal dan efektif,
apabila perawat komunitas mampu memilih dan menerapkan teori/ model asuhan
keperawatan yang tepat.
Oleh karena itu, penyusun tertarik menulis makalah tentang asuhan asuhan
keperawatan komunitas pada lansia di Puskesmas dengan menggunakan
pendekatan model Betty Neuman dan Ageing in Place.

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Menjelaskan tentang asuhan keperawatan komunitas serta aplikasi teori
model Betty Neuman dan Ageing in Place pada kelompok lansia di Puskesmas.
1.2.2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan konsep dasar dan permasalahan pada agregat lansia;
b. Menjelaskan tentang Konsep Puskesmas;
c. Menjelaskan peran perawat komunitas pada agregat lansia di Puskesmas;
d. Menjelaskan tentang latar belakang perkembangan model Health Care
System dan Ageing in Place;
e. Menggambarkan aplikasi konsep model Health Care System dan Ageing
in Place dalam bentuk asuhan keperawatan;
f. Menjelaskan dampak positif dan negatif dari penerapan model Health
Care System dan Ageing in Place.
BAB II
TINJAUAN LITERATUR

2.1. Defenisi Agregat Lansia


Menurut WHO, lansia adalah seseorang yang berusia 60 tahun ke atas.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2014
menyebutkan lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh)
tahun ke atas. Menurut Departemen Kesehatan (Depkes) RI tahun 2006,
pengelompokkan lansia terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:
a. Virilitas (prasenium) yaitu masa persiapan sebelum masa lansia (55-59
tahun).
b. Usia lanjut dini (senescence) yaitu kelompok mulai masuk usia lansia dini
(60-64 tahun).
c. Lansia berisiko tinggi menderita penyakit degeneratif (> 65 tahun).
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur
kehidupan manusia.Usia lanjut juga dikatakan juga usia emas karena tidak semua
orang dapat mencapai usia tersebut.Pada tahap ini seseorang memerlukan
tindakan keperawatan,baik yang bersifat promotif dan preventif, maupun kuratif
dan rehabilitatif, agar dapat menikmati masa usia emas serta menjadi usia lanjut
yang berguna dan bahagia (Maryam et al, 2008).
Proses menua adalah proses yang terus-menerus (berlanjut) secara alami
yang dimulai sejak lahir dan umumnya terjadi pada semua makhluk hidup
(Bandiyah,2009). Menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang
telah melalui tahap-tahap kehidupannya, yaitu neonatus, toodler, pra school,
school, remaja, dewasa dan lansia. Semua tahap ini menyebabkan perubahan
secara biologis maupun psikologis (Padila,2013).

2.2. Masalah Kesehatan pada Kelompok Lansia


Umur yang semakin bertambah tua, menyebabkan penduduk lansia yang
mengalami keluhan kesehatan atau mengalami permasalahan kesehatan semakin
bertambah. Penduduk pra lansia mengalami keluhan kesehatan sebanyak 37,11%
dalam sebulan terakhir, mengalami peningkatan pada lansia muda sebanyak
48,39%, meningkat pada lansia madya sebanyak 57,65% dan keluhan terbanyak
dan meningkat pada lansia tua sebesar 64,01%. Jenis keluhan kesehatan yang
sering terjadi pada lansia yaitu asam urat, hipertensi, hipotensi, rematik, diabetes
dan berbagai jenis penyakit kronis lainnya.
Angka kesakitan lansia pada tahun 2014 sebesar 20,05%. Persentase
keluhan kesehatan meningkat maka angka kesakitan semakin tinggi dan akan
berdampak pada kesehatan lansia. Penyakit terbanyak pada lanjut usia
berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013), sebagai berikut:

Tabel: 10 Penyakit Terbanyak pada Lansia tahun 2013

No Jenis Penyakit Prevalensi Menurut Kelompok Umur (%)

55-64 tahun 65-74 tahun 75+ tahun

1 Hipertensi 45.9 57.6 63.8

2 Artritis 45.0 51.9 54.8

33 3 Stroke 33.0 46.1 67.0

4 Penyakit Paru 5.6 8.6 9.4


obstruksi kronik

5 DM 5.5 4.8 3.5

6 Kanker 3.2 3.9 5.0

7 Penyakit jantung 2.8 3.6 3.2


koroner

8 Batu ginjal 1.3 1.2 1.1

9 Gagal jantung 0.7 0.9 1.1

10 Gagal ginjal 0.5 0.5 0.6

Data dari tabel diatas, terlihat penyakit pada kelompok lansia paling
terbanyak adalah penyakit hipertensi, artritis dan stroke.Bertambahnya usia,
gangguan fungsional akan meningkat dengan ditunjukkan terjadinya disabilitas.
Dilaporkan bahwa disabilitas ringan yang diukur berdasarkan kemampuan
melakukan aktivitas hidup sehari-hari atau Activity of Daily Living (ADL)
dialami oleh lansia sekitar 51%.

2.3. Indikator Kesehatan Kelompok Lansia


2.3.1. Angka Morbiditas Lansia
Salah satu indikator pengukuran derajat kesehatan yaitu angka kesakitan.
Angka kesakitan merupakan indikator negatif. Angka kesakitan (morbidity rates)
lansia adalah proporsi lansia yang mengalami masalah kesehatan hingga
mengganggu aktivitas sehari-hari selama satu bulan terakhir (Infodatin,2016).
Rendahnya angka kesakitan menunjukkan derajat kesehatan penduduk semakin
baik. Perkembangan kesehatan lansia dari tahun 2005-2014, derajat kesehatan
penduduk lansia mengalami peningkatan terlihat dari menurunnya angka
kesakitan pada lansia. Pada tahun 2005 angka kesakitan sebesar 29,86%
sedangkan pada tahun 2014 sebesar 25,05% artinya pada tahun 2014 dari setiap
100 orang lansia terdapat 25 orang mengalami sakit.
Penyakit terbanyak pada lanjut usia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas, 2013) adalah hipertensi (57,6%), artritis (51,9%), Stroke (46,1%),
masalah gigi dan mulut (19,1%), penyakit paru obstruktif menahun (8,6%) dan
diabetes mellitus (4,8%). Bertambahnya usia, gangguan fungsional akan
meningkat dengan ditunjukkan terjadinya disabilitas. Dilaporkan bahwa
disabilitas ringan yang diukur berdasarkan kemampuan melakukan aktivitas hidup
sehari-hari atau Activity of Daily Living (ADL) dialami oleh lansia sekitar 51%.

2.3.2. Angka Mortalitas Lansia


Di Amerika Serikat, tercatat 1.922.271 lansia umur diatas 65 tahun
meninggal pada tahun 2014. Kematian paling banyak disebabkan oleh serangan
jantung, kanker dan penyakit paru kronik (CDC,2014). Di Indonesia menurut
penelitian yang dilakukan oleh Djaya (2012) dengan melakukan analisis terhadap
hasil riskesdas 2007 menyimpulkan bahwa penyakit yang paling banyak
menyebabkan kematian secara berurutan yaitu adalah penyakit sistem sirkulasi,
penyakit infeksi, sistem pernapasan, sistem pencernaan, otot rangka,endokrin,
neoplasma, dan kecelakaan.
2.4. Determinan Kesehatan Kelompok Lansia
Menurut Silva et al. (2014) faktor-faktor sosial penentu yang secara
signifikan terkait dengan mortalitas lansia: variasi perkotaan / pedesaan dan
antarbenua, menjadi bagian dari etnis minoritas, tekanan keuangan, kondisi
kehidupan, sekolah, partisipasi sosial, diskriminasi gender dan ras, merokok,
alkoholisme, aktivitas fisik, aktivitas instrumental sehari-hari hidup, liburan,
status perkawinan, kesetaraan dan gaya hidup sehat. Untuk lebih jelas perhatikan
figur berikut:

Figur 1. Model Social Determinant Mortality of Elderly

2.5. Konsep Puskesmas


2.5.1. Pengertian Puskesmasn
Puskesmas merupakan akronim dari Pusat Kesehatan Masyarakat.
Berdasarkan Permenkes No.75 Tahun 2014, “Puskesmas adalah fasilitas
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan
upaya kesehatan perorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya
promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya di wilayah kerjanya”. Pelayanan kesehatan adalah upaya yang
diberikan oleh Puskesmas kepada masyarakat, mencakup perencanaan,
pelaksanaan, evaluasi, pencatatan, pelaporan,dan dituangkan dalam suatu sistem.
Pada Pasal 4 Permenkes No 75 Tahun 2014 disebutkan Puskesmas
mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung
terwujudnya kecamatan sehat. Dalam rangka pelaksanaan tugas puskesmas
tersebut, dibedakan menjadi dua yaitu Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan
Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). UKP meliputi rawat jalan, pelayanan
gawat darurat, pelayanan satu hari, home care dan rawat inap berdasarkan
pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan. UKM terdiri UKM esensial dan
UKM Pengembangan. UKM esensial harus diselenggarakan oleh setiap
Puskesmas meliputi pelayanan promosi kesehatan, pelayanan, kesehatan
lingkungan, pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana, pelayanan
gizi,dan pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit.
UKM Pengembangan merupakan UKM yang kegiatannya memerlukan
upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi dan intensifikasi
pelayanan,disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah
kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas. Upaya
Kesehatan Lansia di Puskesmas termasuk kepada UKP yaitu berupa pelayanan
perorangan pada lansia di dalam gedung, tetapi pelayanan kepada lansia juga
termasuk kedalam kegiatan UKM Pengembangan melalui program pelayanan
kesehatan lanjut usia.

2.5.2. Program Kesehatan Lansia di Puskesmas


Penyelenggaran pelayanan kesehatan lanjut usia di Puskesmas telah diatur
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 67 Tahun 2015 (lampiran). Isi dari
kebijakan tersebut antara lain:
Sasaran program kesehatan lansia
1. Sasaran langsung:
- Pra lansia (45-59 tahun)
- Lansia (60-69 tahun)
- Lansia Risti (>70 tahun/60 tahun dengan masalah kesehatan)
2. Sasaran Langsung:
- keluarga,
- Masyarakat tempat lansia berada,
- Organisasi sosial,
- Petugas kesehatan masyarakat luas.
Jenis program yang harus dilaksanakan:
- Pelayanan dasar di puskesmas santun lansia,
- Pelayanan rujukan di rumah sakit,
- Pelayanan kesehatan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif di semua
fasyankes,
- Pelayanan kesehatan jiwa bagi lansia,
- Pelayanan Home Care yang terintegrasi dalam perawatan kesehatan
masyarakat,
- Peningkatan inteligensia kesehatan bagi lansia,
- Pencegahan Penyakit Tidak Menular melalui Posbindu PTM,
- Pelayanan Gizi bagi Lansia,
- Promosi Kesehatan.
Strategi yang diupayakan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan lansia
mengacu pada:
- Pendekatan siklus hidup,
- meliputi semua aspek,
- Terpadu, melibatkan lintas program dan lintas sektor,
- Pemberdayaan masyarakat dan keluarga.
Puskesmas santun lansia adalah Puskesmas yang menyediakan ruang
khusus untuk melakukan pelayanan bagi kelompok lansia yang meliputi
pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Ciri-Ciri Puskesmas Santun Lansia yaitu
- Pelayanannya secara pro-aktif, baik, berkualitas, sopan,
memberikan kemudahan dalam pelayanan kesehatan kepada lansia,
- memberikan keringanan penghapusan biaya pelayanan bagi lansia
yang tidak mampu,
- memberikan berbagai dukungan dan bimbingan kepada lansia
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan melalui kerjasama
dengan lintas program dan lintas sektor (Kemenkes RI, 2016).
2.6. Peran Perawat Komunitas pada Kelompok Lansia
Berdasarkan pernyataan dari American Nurses Association (2004)
mendefinisikan keperawatan kesehatan komunitas sebagai tindakan untuk
meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dari populasi dengan
mengintegrasikan keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan keperawatan
dan kesehatan masyarakat. Perawat kesehatan komunitas bekerja untuk
meningkatkan kesehatan individu, keluarga, komunitas, dan populasi melalui
fungsi inti dari pengkajian, jaminan dan kebijakan pengembangan (IOM, 2003).
Menurut Wong (2014) perawat komunitas dapat berperan sebagai pemberi
pelayanan kesehatan secara langsung melalui asuhan keperawatan atau secara
tidak langsung dengan cara memberikan pendidikan kesehatan, penghubung,
advokasi, konselor atau penemu kasus. Perawat komunitas diharapkan mampu
mendukung kelompok khusus lansia mencapai derajat kesehatan yang optimal
melalui pendekatan kepada komunitas sebagai mitra. Peran perawat komunitas
pada kelompok lansia, antara lain:
a. Care Provider (Pelaksana Pelayanan Keperawatan)
b. Health Educator (Pendidik)
c. Inovator (Pembaharu)
d. Health Monitor (Pemantau Kesehatan)
e. Coordinator of Service (Koordinator Pelayanan Kesehatan)
f. Fasilitator (Fasilitator)
g. Case Manager (Manajer kasus)
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Asuhan Keperawatan dengan Model Health Care System


Konsep yang dikemukan oleh Betty Neuman adalah konsep “Health Care
System” yaitu model konsep yang menggambarkan aktifitas keperawatan yang
ditujukan kepada penekanan penurunan stress dengan memperkuat garis
pertahanan diri secara fleksibel atau normal maupun resisten dengan sasaran
pelayanan adalah komunitas.Sistem Model Neuman dikembangkan dengan
memandang bahwa klien sebagai sistem terbuka yang bereaksi terhadap stresor,
baik stresor dalam diri klien (intrapersonal),dengan sesama klien (interpersonal)
dan klien dengan lingkungan (extrapersonal). Stresor yang dialami oleh klien
dapat berupa stresor fisik, psikologis, sosiokultural, perkembangan, spiritual dan
persepsi baik yang menguntungkan maupun merugikan.
Efek dari stresor terjadi ketika garis fleksibel antara pertahanan normal dan
garis resistensi tidak cukup kuat untuk menahan stresor. Ketika sistem klien
menerima stresor dengan persepsi menguntungkan maka stabilitas pusat inti akan
meningkat, sebaliknya jika sistem klien merespon stresor dengan persepsi
merugikan maka pusat inti akan mengkompromikan. Dan kekuatan garis
pertahanan fleksibel berbeda tiap klien.
Intervensi untuk meningkatkan kekuatan garis pertahanan fleksibel
dilakukan melalui tindak preventif. Dalam intervensi model Neuman dilakukan
dengan preventif primer, sekunder dan tersier. preventif primer digunakan untuk
menahan kondisi optimal dengan menguatkan garis pertahanan fleksibel agar
pusat inti dapat bertahan dari stresor yang merugikan. Tindakan preventif
sekunder digunakan untuk mengembalikan kondisi optimal setelah pusat inti
terpengaruh terhadap stresor yang merugikan. Sedangkan tindakan preventif
tersier dilakukan untuk mempertahankan kondisi optimal setelah pusat inti pulih
dari pengaruh stresor yang merugikan (Fawcett & Fourst, 2017).
Untuk memahami lebih lanjut terkait model health care system Betty
Neuman, perhatikan figur dibawah ini:
Figur 2. Teori Model Betty Neuman

Komponen Utama Model Health Care System


a. Pendekatan Holistik
Klien sebagai suatu system dapat didefinisikan sebagai orang,
keluarga, kelompok, masyarakat atau sosial. Klien digambarkan sebagai
sesuatu yang utuh bagian dari interaksi dinamis. Model ini
mempertimbangkan semua variabel yang secara simultan mempengaruhi
klien: fisiologi, psikologi, sosiokultural, perkembangan dan spiritual.
b. Open System
Elemen-elemen system secara continue bertukar informasi dan
energi dalam suatu organisasi yang kompleks. Stress dan reaksi terhadap
stress adalah komponen dasar pada suatu system terbuka.
c. Fungsi atau Proses
Klien sebagai system bertukar energi, informasi, berbagai hal dengan
lingkungannya dan menggunakan sumber energi yang didapat untuk
bergerak kearah stabilitas yang utuh.
d. Input dan Out put
Klien sebagai suatu system, input dan output adalah zat-zat, energy,
informasi yang saling bertukar antara klien dan lingkungan.
e. Feed Back
Sistem output dalam bentuk zat, energi, dan informasi memberikan
sebagai feed back untuk input selanjutnya untuk memperbaiki tindakan
untuk merubah, meningkatkan, atau menstabilkan system.
f. Negentropy
Suatu proses pemanfaatan energy konservasi yang membantu
kemajuan system kearah stabilitas atau baik.
g. Entropy
Suatu proses kehabisan energi atau disorganisasi yang menggerakkan
sistem kearah sakit atau kemungkinan kematian.
h. Stability
Suatu keinginan keadaan seimbang antara penanggulangan system
dan stressor untuk memelihara tingkat kesehatan yang optimal dan
integritas.
i. Enviroment :
Kekuatan internal atau eksternal disekitarnya dan mempengaruhi
klien setiap saat sebagai bagian dari lingkungan.
j. Created Enviroment :
Suatu pengembangan yang tidak disadari oleh klien untuk
mengekspresikan system secara simbolik dari keseluruhan system.
Tujuannya adalah menyediakan suatu arena aman untuk system fungsi
klien. Dan untuk membatasi klien dari stressor.
k. Client system :
Lima Variabel (fisiologi, psokologi, sosiokultural, perkembangan,
dan spiritual) klien dalam berinteraksi dengan lingkungan bagian dari klien
sebagai system.
l. Basic Clien Structure :
Klien sebagai system terdiri dari pusat inti yang dikelilingi oleh
lingkaran terpusat. Pusat diagram dari lingkaran menghadirkan faktor
kehidupan dasar atau sumber energi klien. Inti struktur ini terdiri dari
faktor kehidupan dasar yang umum untuk seluruh anggota organisme.
Seperti sebagai faktor bawaan atau genetik.
m. Lines of Resistance :
Serangkaian yang merusak lingkaran disekitar struktur inti dasar
disebut garis pertahanan, lingkaran ini menyediakan sumber-sumber yang
membantu klien mempertahankan melawan suatu stressor. Sebagai contoh
adalah respon system imun tubuh. Ketika garis pertahanan efektif, klien
dapat menyusun system kembali. Jika tidak efektif maka kematian dapat
terjadi. Jumlah pertahanan stressor ditentukan oleh interrelationship kelima
variable system klien.
 Normal line defence :
Garis pertahanan normal adalah suatu model diluar lingkaran padat.
Hal itu menghadirkan suatu keadaan stabil untuk individu atau
system. Itu dipelihara dari waktu ke waktu dan melayani sebagai
suatu standar untuk mengkaji penyimpangan dari kebiasaan baik
klien. Itu semua meliputi variabel system dan perilaku seperti
kebiasaan pola koping seseorang, gaya hidup, dan tahap
perkembangan. Pelebaran dari garis normal merefleksikan suatu
peningkatan keadaan sehat, pengecilan, suatu penyusutan keadaan
kesehatan.
 Garis Pertahanan Fleksibel :
Garis lingkaran patah-patah terluar dinamakan garis pertahanan
fleksibel. Hal ini dinamis dan dapat berubah dengan cepat dalam
waktu yang singkat. Hal ini dipersepsikan sebagai penahan yang
melindungi terhadap stressor dari pecahnya/berubahnya kondisi
kesehatan yang stabil yang di presentasikan sebagai garis
pertahanan normal. Hubungan antara variabel (fisiologi, psikologi,
sosoikultural, perkembangan, dan spiritual) dapat mempengaruhi
tingkat kemampuan individu untuk menggunakan pertahanan garis
fleksibel untuk melawan kemungkinan dari reaksi stressor seperti
gangguan tidur. Neuman menggambarkan pertahanan garis
fleksibel meluas, hal ini akan memberikan pertahanan yang lebih
besar dalam waktu yang singkat terhadap invasi stressor. Demikian
sebaliknya, akan memberikan lebih sedikit pertahanan.
n. Kesejahteraan (Wellness)
Keadaan sejahtera merupakan kondisi ketika tiap bagian dari sistem
klien berinteraksi secara harmoni dengan seluruh sistem. Kebutuhan
sistem terpenuhi.
o. Sakit (Illness)
Sakit terjadi ketika kebutuhan tidak terpenuhi yang mengakibatkan
keadaan tidak seimbang dan penurunan energy.
p. Stressor
Stressor adalah kekuatan yang secara potensial dapat mengakibatkan
gangguan pada system yang stabil. Stressor dapat berupa :
 Kekuatan intrapersonal yang ada pada tiap individu, seperti
respon kondisional seseorang.
 Kekuatan interpersonal yang terjadi antara satu atau lebih
individu, seperti harapan peran.
 Kekuatakn ekstrapersonal yang terjadi diluat individu, seperti
keadaan finansial.
q. Tingkat reaksi :
Tingkat reaksi merupakan jumlah energy yang diperlukan oleh klien
untuk menyesuaikan terhadap stressor.
r. Pencegahan sebagai intervensi :
Intervensi adalah tindakan yang bertujuan untuk membantu klien
menahan, mencapai, atau mempertahankan stabilitas system. Intervensi
dapat terjadi sebelum dan sesudah garis perlindungan dan perlawanan
yang dilakukan pada fase reaksi dan rekonstitusi. Intervensi didasarkan
pada kemungkinan atau faktual dari tingkat reaksi, sumber daya, tujuan,
dan hasil antisipasi. Neuman mengidentifikasi tiga level intervensi :
 Pencegahan primer, pencegahan primer dilakukan ketika stressor
dicurigai atau diidentifikasi. Reaksi belum terjadi tetapi tingkat resiko
diketahui. Neuman menyatakan sebagai berikut :Pelaku atau
pengintervensi akan berusaha untuk mengurangi kemungkinan
pertemuan individu dengan stressor, atau dengan kata lain usaha untuk
memperkuat seseorang bertemu dengan stressor, atau menguatkan
garis pertahanan fleksibel untuk menurunkan kemungkinan reaksi.
 Pencegahan sekunder, pencegahan sekunder meliputi intervensi atau
treatment awal sesudah gejala dari stress telah terjadi. Sumber daya
internal dan eksternal digunakan agar sistem stabil dengan
menguatkan garis internal resistensi, mengurangi reaksi, dan
meningkatkan faktor resistensi.
 Pencegahan tersier, pencegahan tersier terjadi sesudah treatment atau
pencegahan sekunder. Pencegahan ini difokuskan pada penyesuaian
kearah kestabilan sistem yang optimal. Tujuan utamanya yaitu
meningkatkan resistensi terhadap stressor untuk membantu mencegah
terjadinya kembali reaksi atau regresi. Proses ini mendorong untuk
kembali pada tipe siklus ke pencegahan primer. Sebagai contoh akan
dihindarinya suatu stressor yang telah diketahui akan membahayakan
klien.
s. Rekonstitusi
Rekonstitusi terjadi mengikut treatment reaksi stressor. Hal ini
menggambarkan kembalinya sistem stabil dimana tingkat
kesejahteraannya lebih tinggi atau lebih rendah dari sebelumnya untuk
melawan stressor.
Hal ini menacakup faktor interpersonal, intrapersonal, ekstrapersonal,
dan lingkungan yang berhubungan dengan variable sistem klien fisiologi,
psikologi, sosiokultural, perkembangan, dan spiritual).

3.2. Model Aging in Place


Model Aging in Place dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan terhadap
pelayanan terhadap lansia dari sisi klien, keluarga, dan pemberi pelayanan.
Ketidakpuasan terutama karena faktor biaya perawatan yang mahal untuk lansia
dengan masalah kesehatan jangka panjang, selain itu lansia memiliki kesulitan
untuk berpindah tempat. Model ini pertama dikembangkan oleh University of
Missouri Sinclair School of Nursing. Model ini memungkinkan lansia untuk
mendapat pelayanan kesehatan di rumah, apartemen khusus lansia atau di
komunitas. Dalam model ini segala kebutuhan lansia terhadap pelayanan
kesehatan akan didapatkan tanpa harus pergi ke tempat pelayanan dan petugas
pemberi pelayanan yang akan menyediakan segala jenis kebutuhan.
Kesuksesan penerapan model ini dipengaruhi oleh jarak antara tempat
tinggal lansia, dimana semakin dekat jarak antar lansia semakin sukses juga
penerapannya. selain itu penerapan model ini juga harus didukung oleh kesiapan
lingkungan sekitar lansia dan sistem pelayanan yang terkoordinasi (Marek &
Rantz 2000). Dalam evaluasi penerapan model ini menunjukan bahwa penerapan
model ini menggunakan biaya perawatan tidak melebihi biaya perawatan
kunjungan rumah oleh perawat seperti biasa. Selain itu pengukuran dari kondisi
fisik dan mental menunjukan model ini efektif dalam pemulihan kesehatan dan
kemandirian bagi lansia dengan masalah kesehatan jangka panjang (Rantz et al,
2011).

3.3. Diskusi Dampak Penerapan Model Health Care System


a. Kekuatan
(1) Neuman menggunakan diagram yang jelas , diagram ini digunakan
dalam semua penjelasan tentang teori sehingga membuat teori
terlihat menarik. Diagram ini mempertinggi kejelasan dan
menyediakan perawat dengan tantangan – tantangan untuk
pertimbangan.
(2) Model system Neuman lebih flexible bias digunakan pada area
keperawatan, pendidikan dan pelatihan keperawatan
b. Kelemahan
(1) Model Sistem Neuman dapat digunakan oleh semua profesi
kesehatan, sehingga untuk profesi keperawatan menjadi tidak
spesifik.
(2) Penjelasan tentang perbedaan stressor interpersonal dan
ekstrapersonal masih dirasakan belum ada perbedaan yang jelas
(3) Model system Neuman tidak membahas secara detail tentang
perawat –klien, padahal hubungan perawat klien merupakan
domain penting dalam Asuhan Keperawatan
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA LANSIA

Studi Kasus :
Kondisi kelompok lanjut usia di Desa S Wilayah Kerja Puskesmas
Kecamatan C didapatkan data bahwa proporsi penduduk Usia >=55 Tahun adalah
sebesar 22%. Dari Jumlah tersebut usia 55-59 tahun sebesar 45%, Usia 60-64
tahun sebesar 30% dan usia >=65 tahun sebesar 25%.42% jenis kelamin Laki-laki
dan 58% berjenis kelamin perempuan. Seluruh lansia tinggal di rumah dan 40%
tinggal bersama keluarga (anak), sisanya tinggal sendiri (bersama pasangan atau
tanpa pasangan). Masalah kesehatan yang umum dialami lansia adalah 32% lansia
mengalami hipertensi, 5% mengalami diabetes mellitus dan 7% mengalami
masalah nyeri otot dan sendi. Ketika dilakukan wawancara terhadap individu dan
keluarga mengenai masalah kesehatan yang dialami lansia mereka mengatakan
kalau kondisi tersebut wajar dialami oleh lansia karena faktor umur. Lansia
mencari pertolongan ketika terasa sakit dan tidak mencari pelayanan ketika dirasa
sehat. pelayanan kesehatan yang tersedia yaitu Puskesmas yang berjarak 5 km,
poskesdes yang berjarak 500 meter dan praktek dokter swasta yang berjarak 7 km.
lansia mengaku kesulitan untuk mencapai puskesmas dikarenakan akses jalan
yang belum sepenuhnya di aspal dan tidak adanya transportasi umum menuju ke
puskesmas. Petugas kesehatan dari Puskesmas datang ke Desa tidak rutin dan
belum ada kegiatan posbindu lansia. Sementara petugas poskesdes melakukan
pelayanan kepada lansia yang sakit saja.
Kegiatan sehari-hari yang dilakukan lansia adalah bekerja mencari
nafkah berupa menjadi buruh tani atau ada juga yang menggantungkan hidup pada
keluarga. sebagian besar lansia aktif berkebun dan mengikuti kegiatan
kemasyarakatan berupa pengajian mingguan. Seluruh lansia beragama ISlam dan
selalu menjalankan sholat 5 waktu. Lansia menyadari penurunan kondisi
kesehatan sebagai suatu proses dalam hidup dan menerima kondisi kesehatan.
keluarga yang tinggal dengan lansia mengatakan bahwa mereka ikhlas mengurusi
orang tua karena itu kewajiban sebagai anak. Sedangkan lansia yang tinggal
dengan pasangan atau sendiri mengaku tidak keseulitas bertemu dengan keluarga
karena rata-rata jarak rumah dengan anak berdekatan.

4.1. Pengkajian
1. Aspek Perkembangan
 Jumlah penduduk lansia 22%
 usia 55-59 tahun sebesar 45%, Usia 60-64 tahun sebesar 30% dan usia
>=65 tahun sebesar 25%.
 42% jenis kelamin Laki-laki dan 58% berjenis kelamin perempuan
 Seluruh lansia tinggal di rumah dan 40% tinggal bersama keluarga
(anak), sisanya tinggal sendiri (bersama pasangan atau tanpa
pasangan)
2. Aspek Fisik
 Masalah kesehatan yang umum dialami lansia adalah 32% lansia
mengalami hipertensi, 5% mengalami diabetes mellitus dan 7%
mengalami masalah nyeri otot dan sendi
 Lansia dan keluarga menganggap permasalahan kesehatan pada
lansia adalah hal yang wajar karena faktor umur
3. Aspek Psikologis
 Lansia menyadari penurunan kondisi kesehatan sebagai suatu
proses dalam hidup dan menerima kondisi kesehatan.
 keluarga yang tinggal dengan lansia mengatakan bahwa mereka
ikhlas mengurusi orang tua karena itu kewajiban sebagai anak.
 Sedangkan lansia yang tinggal dengan pasangan atau sendiri
mengaku tidak keseulitas bertemu dengan keluarga karena rata-rata
jarak rumah dengan anak berdekatan
4. Aspek Sosio-kultural
 pelayanan kesehatan yang tersedia yaitu Puskesmas yang berjarak
5 km, poskesdes yang berjarak 500 meter dan praktek dokter
swasta yang berjarak 7 km.
 lansia mengaku kesulitan untuk mencapai puskesmas dikarenakan
akses jalan yang belum sepenuhnya di aspal dan tidak adanya
transportasi umum menuju ke puskesmas.
 Petugas kesehatan dari Puskesmas datang ke Desa tidak rutin dan
belum ada kegiatan posbindu lansia. Sementara petugas poskesdes
melakukan pelayanan kepada lansia yang sakit saja.
 kegiatan sehari-hari yang dilakukan lansia adalah bekerja mencari
nafkah berupa menjadi buruh tani atau ada juga yang
menggantungkan hidup pada keluarga. sebagian besar lansia aktif
berkebun dan mengikuti kegiatan kemasyarakatan berupa
pengajian mingguan.
5. Aspek Spiritual
 Seluruh lansia beragama ISlam dan selalu menjalankan sholat 5
waktu.
 sebagian besar lansia aktif mengikuti kegatan pengajian mingguan.

Analisa Data

No. Data Masalah Etiologi


1.

DO : Tingginya masalah Pemahaman


kesehatan Penyakit tentang proses
 Masalah kesehatan yang
Tidak Menular menua tidak
umum dialami lansia adalah pada Lansia di adekuat
Desa C
32% lansia mengalami
hipertensi, 5% mengalami
diabetes mellitus dan 7%
mengalami masalah nyeri otot
dan sendi
DS :
 Lansia dan keluarga
menganggap permasalahan
kesehatan pada lansia adalah
hal yang wajar karena faktor
umur
 Lansia menyadari penurunan
kondisi kesehatan sebagai suatu
proses dalam hidup dan
menerima kondisi kesehatan.

2. DO: Resiko penurunan Hambatan


status kesehatan mencapai akses
 pelayanan kesehatan yang
lansia di Desa C pelayanan.
tersedia yaitu Puskesmas yang
berjarak 5 km, poskesdes yang
berjarak 500 meter dan
praktek dokter swasta yang
berjarak 7 km.
 Petugas kesehatan dari
Puskesmas datang ke Desa
tidak rutin dan belum ada
kegiatan posbindu lansia.
Sementara petugas poskesdes
melakukan pelayanan kepada
lansia yang sakit saja.
DS:
 lansia mengaku kesulitan untuk
mencapai puskesmas
dikarenakan akses jalan yang
belum sepenuhnya di aspal dan
tidak adanya transportasi umum
menuju ke puskesmas.

3. DS : Potensi Dukungan Tersedianya


 keluarga yang tinggal dengan Peningkatan Status sumber
lansia mengatakan bahwa Kesehatan Lansia dukungan
mereka ikhlas mengurusi Desa C keluarga.
orang tua karena itu kewajiban
sebagai anak.

4.2. Diagnosa Keperawatan


1. Tingginya permasalahan kesehatan Penyakit Tidak Menular pada Lansia
Desa C berhubungan dengan Pemahaman Proses Menua Tidak adekuat
2. Resiko penurunan status kesehatan lansia di Desa C berhubungan dengan
hambatan mencapai akses pelayanan
3. Potensi Peningkatan status kesehatan lansia Desa C berhubungan dengan
tersedianya sumber dukungan keluarga.

4.3. Perencanaan
1. Penentuan Skala Priroritas

2. Rencana Intervensi

4.4. Implementasi
4.5. Evaluasi
BAB V
KESIMPULAN
4.1. Kesimpulan
Kompleksnya masalah kesehatan pada lansia di komunitas membutuhkan
penanganan khusus yang komprehensif. Perawat komunitas dituntut untuk
menjalankan berbagai peran dalam memberikan asuhan keperawatan pada lansia
baik secara individu maupun kelompok. Program pelayanan kesehatanlansiasudah
diatur sangat baik dalam kebijakan pemerintah, hanya saja keberhasilan program
tersebut tergantung bagaimana penerapan kebijakan tersebut di lapangan. Model
health care system oleh Betty Neuman dipandang dapat menjadi pilihan dalam
melakukan asuhan keperawatan komunitas pada lansia selain model community as
partner dari Anderson& McFarlane yang sering digunakan.
Asuhan keperawatan komunitas dapat berjalan secara optimal apabila ada
kerjasama dari lintas program maupun lintas sektoral, maupun tokoh masyarakat
yang berpengaruh. Perawat komunitas dituntut untuk proaktif dalam
mengidentifikasi kebutuhan lansia pada suatu komunitas dan kemudian
melakukan intervensi keperawatans ebagai solusi masalah/kebutuhan di
masyarakat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

American Nurses Association. (2004). Scope and standards for nurse


administrators, 2nd edition. Washington, DC: Nursesbooks.org.
Bandiyah, S. (2009). Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik.
Yogyakarta:Nuhu Medika

Centers for Disease Control and Prevention .(2014). Older Persons Health.
diakses dari https://www.cdc.gov/nchs/fastats/older-american-health.htm

Djaja, S. (2013). Analisis Penyebab Kematian Dan Tantangan Yang Dihadapi


Penduduk Lanjut Usia Di Indonesia Menurut Riset Kesehatan Dasar 2007.
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 15(4 Okt).

Fawcett, J., Foust, J,B., (2017) Optimal Aging : A Neuman System Model
Perspective. Nursing Science Quarterly 2017, Vol 30(3) 269-276. DOI:
10.1177/0894318417708413

IOM (Institute of Medicine). (2010). Women’s Health Research: Progess, Pitfalls,


and Promise.Washington,DC; The National Academies Press.

Kesehatan, K., & RI, K. K. (2013). Riset kesehatan dasar. Jakarta: Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Low, L.F,. Yap, M,. Brodaty, H,. (2011). A Systematic Review of Different
model of home and Community care services for older persons. BMC
Health Services Research 2011,1193 avalibale at:
http://www.biomedcentral.com/1472-6963/11/93

Marek, K, D., Rantz, M, J. (2000) Aging in Place : A New Model for Long Term
Care. Nursing Administration Quarterly.

Maryam, S. et, al. (2008). Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannnya. Jakarta:
Salemba Medika

Padila, (2013). Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Yogyakarta:Nuhu Medika.

Rantz, M, J., Phillips L., Aud, M., Popejoy, L., Marek, D., Hicks, L,L., Zanitelli,
I., Miller, S,J. (2011). Evaluation of aging in place model with home care
services and registered nurse care coordination in senior housing. Nurse
Outlook 59 (2011) 37-46.

Silva, V. D. L., Cesse, E. Â. P., & Albuquerque, M. D. F. P. M. (2014). Social


determinants of death among the elderly: a systematic literature review.
Revista Brasileira de Epidemiologia, 17, 178-193.
Wong, Donna L.(2014). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa.
Monica Ester. Editor Sari Kurnianingsih. Edisi 4. Jakarta:EGC.