Anda di halaman 1dari 30

PEMERINTAHKABUPATEN PINRANG

DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS SALO
Alamat : Jln. Salo (0421) 924101 Kode Pos 91212

KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS SALO


NOMOR :445. 018 /PKM-SL/SK/VI/2018

TENTANG
PENUNJANG LAYANAN KLINIS PUSKESMAS SALO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA PUSKESMAS SALO,

Menimbang : a. bahwa pelayanan klinis puskesmas dilaksanakan sesuai kebutuhan


pasien;
b. bahwa pelayanan klinis puskesmas perlu memperhatikan mutu dan
keselamatan pasien;
c. bahwa untuk menjamin pelayanan klinis dilaksanakan sesuai kebutuhan
pasien,bermutu,dan memperhatikan kesselamatan pasien maka perlu
disusun kebijakan pelayanan laboratorium di Puskesmas Salo;

Mengingat : 1. Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika (Lembaran


Negara RI Tahun 1997 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 3671);
2. Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
3. Undang – Undang No 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;
4. Undang – Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (Lembaran
Negara RI Tahun 2009 Nomor 143, Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 5062);
5. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
6. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pemeriksaan Laboratorium Yang Tersedia Publik;
7. PeraturanMenteri Kesehatan RINomor 269/MENKES/PER/III/2008
tentang Rekam Medis;
8. PeraturanMenteri Kesehatan RI Nomor 374/MENKES/PER/III/2010
tentang Pengendalian Vektor;
9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 161/MENKES/PER/I/2010 tentang
Registrasi Tenaga Kesehatan;
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.43 Tahun 2013
tentang Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik;
11. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 55 Tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Pekerjaan Perekam Medis;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014,
tentang Puskesmas;
13. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 30 Tahun 2014 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan
Lingkungan;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun;
16. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan
Penggolongan Psikotropika
17. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 tahun 2015,
tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;
18. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 37 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat;

MEMUTUSKAN
Menetapkan : SURAT KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS SALO TENTANG
PENUNJANG PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SALO
KESATU : Kebijakan penunjang pelayanan klinis di Puskesmas SALO sebagaimana
tercantum dalam Lampiran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
surat keputusan ini.
KEDUA : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan
perbaikan/perubahan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Salo
pada tanggal : 01 Juli 2018
KEPALA PUSKESMAS SALO,
NASRIWATI
LAMPIRAN
KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS SALO
NOMOR :445.018 /PKM-SL/SK/VI/2018
TENTANGPELAYANAN LABORATORIUM
PUSKESMAS SALO

PENUNJANG LAYANAN KLINIS PUSKESMAS SALO


A. PELAYANAN LABORATORIUM:
1. JENIS PEMERIKSAAN (8.1.1)
Jenis-jenis pelayanan laboratorium yang disediakan di Puskesmas meliputi;
NO SPESIMEN JENIS PEMERIKSAAN
1 Darah  Hematologi :
 Hb Sahli
 Golongan Darah
 Nesco :
 Gula Darah Sewaktu
 Gula Darah Puasa
 Cholesterol
 Asam urat
 Serologi :
 Widal
 HIV
 Malaria
 Hepatitis B
 Syphilis
 Kimia Darah
 Kolesterol Total
 Trigliserida
 SGOT
 SGPT
 Ureum
 Creatinin
2 Urine  Albumin
 Reduksi
 Tes Kehamilan
3 Sputum BTA (Basil Tahan Asam)

2. PERMINTAAN PEMERIKSAAN, PENERIMAAN SPESIMEN, PENGAMBILAN


DAN PENYIMPANAN SPESIMEN PUSKESMAS SALO (8.1.2)
a. Penerimaan spesimen : Menerima spesimen dengan menyediakan wadah sesuai
persyaratan.
b. Pengambilan spesimen dengan memperhatikan :
1) Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi syarat
2) Wadah
Wadah spesimen harus memenuhi syarat
3) Antikoagulan dan Pengawet
Beberapa spesimen memerlukan bahan tambahan berupa bahanpengawet
atau antikoagulan.
4) Waktu
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan memperhatikan waktu.
5) Lokasi
Sebelum mengambil spesimen, harus ditetapkan terlebih dahulu lokasi
pengambilan yang tepat sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta.
6) Volume
Volume spesimen harus mencukupi kebutuhan pemeriksaan
7) Teknik
Pengambilan spesimen harus dilakukan dengan cara benar
8) Penyimpanan Spesimen
Spesimen yang sudah diambil harus segera diperiksa, stabilitas spesimen
dapat berubah.

3. PELAYANAN DILUAR JAM KERJA(8.1.2.5)

a. Puskesmas Salo merupakan puskesmas perawatan yang mempunyai fasilitas


kamar bersalin dan pelayanan UGD 24 jam.
b. Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal maka harus ditunjang
dengan pelayanan Petugas Selama 24 jam.
c. Pelayanan laboratorium, termasuk yang diperlukan untuk gawat darurat, dapat
diberikan di dalam lingkungan Puskesmas Salo, atau dengan melakukan kerjasama
dengan pihak lain, atau keduanya.
d. Pelayanan laboratorium harus tersedia di luar jam kerja untuk gawat darurat.
e. Pengaturan petugas laboratorium terbagi dalam shift kerja

4. PEMERIKSAAN LABORATORIUM YANG BERISIKO TINGGI (8.1.2.6)

NO JENIS PEMERIKSAAN KET

1 PEMERIKSAAN SPUTUM / BTA

2 PEMERIKSAAN HIV
5. KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BAGI PASIEN (8.1.2.7)
a. Petugas laboratorium selalu memastikan suhu ruangan laboratorium sesuai standart,
b. Petugas laboratorium menempatkan reagen-reagen di tempat yang sesuai standart
(reagen tidak ditempatkan pada meja pengambilan specimen),
c. Petugas laboratorium selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum melakukan
pemeriksaan laboratorium,
d. Petugas laboratorium membersihkan meja dengan alcohol 70%
e. Petugas laboratorium selalu menggunakan alat pelindung diri sebelum melakukan
tindakan,
f. Petugas laboratorium selalu membaca petunjuk penggunaan peralatan dan reagen-
reagen sebelum menggunakannya,
g. Petugas laboratorium selalu mencuci glassware sebelum digunakan
h. Petugas laboratorium tidak boleh mencicipi dan menghirup bahan kimia,
i. Petugas laboratorium selalu mencuci glassware sesudah dilakukan,
j. Petugas laboratorium selalu membereskan peralatan reagen setelah setelah
digunakan,
k. Petugas laboratorium membuang alat dan bahan habis setelah digunakan ke dalam
sampah medis yang telah disediakan,
l. Petugas laboratorium selalu mencuci tangan dengan sabun setelah melakukan
pemeriksaan laboratorium,
m. Petugas laboratorium tidak boleh makan dan minum di dalam ruang laboratorium,
n. Petugas laboratorium tidak boleh merokok di dalm ruang laboratorium,

6. JENIS PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN STANDAR WAKTU YANG


DIGUNAKAN DALAM PEMERIKSAAN LABORATORIUM DI PUSKESMAS
SALO(8.1.3)
NO SPESIMEN JENIS PEMERIKSAAN LAMA
PEMERIKSAAN
1 Darah  Hematologi :
 Hb Sahli 5 Menit
 Golongan Darah 5 Menit
 Nesco :
 Gula Darah Sewaktu 5 Menit

 Gula Darah Puasa 5 Menit

 Cholesterol 5 Menit

 Asam urat 5 Menit


 Serologi : 15 Menit
 Widal 20 Menit
 HIV 3 Jam
 Malaria 15 Menit

 Hepatitis B 15 Menit

 Syphilis
 Kimia Darah 30 Menit

 Kolesterol Total 30 Menit


30 Menit
 Trigliserida
30 Menit
 SGOT
30 Menit
 SGPT
30 Menit
 Ureum
 Creatinin
2 Urine  Albumin 5 Menit
 Reduksi 5 Menit
 Tes Kehamilan 5 Menit
3 Sputum BTA (Basil Tahan Asam) 4 Jam

7. WAKTU PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM


UNTUK PASIEN URGEN (CITO) PUSKESMAS SALO (8.1.3.1)
NO SPESIMEN JENIS PEMERIKSAAN LAMA
PEMERIKSAAN
1 Darah  Hematologi :
 Hb Sahli 5 Menit
 Golongan Darah 5 Menit
 Nesco :
 Gula Darah Sewaktu 3 Menit

 Gula Darah Puasa 3 Menit

 Cholesterol 5 Menit

 Asam urat 5 Menit

 Serologi :
15 Menit
 Widal
20 Menit
 HIV
1 Jam
 Malaria
15 Menit
 Hepatitis B
15 Menit
 Syphilis
 Kimia Darah
 Kolesterol Total 20 Menit
 Trigliserida 20 Menit
 SGOT 20 Menit

 SGPT 20 Menit

 Ureum 20 Menit

 Creatinin 20 Menit

2 Urine  Albumin 5 Menit


 Reduksi 5 Menit
 Tes Kehamilan 5 Menit
3 Sputum BTA (Basil Tahan Asam) 3 Jam

8. REAGENSIA ESENSIAL DAN BAHAN LAIN YANG HARUS TERSEDIA DI


PUSKESMAS SALO (8.1.5.1)
a. HCl 0,1 N
b. Alkohol 70%
c. Giemza
d. Benedict
e. Strip GDS
f. Strip Asam Urat
g. Strip cholesterol
h. Reagen untuk widal
i. Reagen untuk golongan darah
j. Strip tes kehamilan
k. Strip Combur
l. RDT malaria.
m. Strip Hbs Antigen
n. Strip HIV
o. Strip Syphilis
p. Ziahl Nielsen

9. BATAS BUFFER STOCK UNTUK MELAKUKAN ORDER(8.1.5.2)

NO NAMA REAGENS & BAHAN BATAS BUFFER STOK


LAIN
1. Reagen golongan darah Sisa 1/2 botol
2. Reagen Widal Sisa ½ botol
3. Natrium Citrat 3,8% Sisa ½ botol
4. GDS strip Sisa 25 bh
5. Asam Urat strip Sisa 25 bh
6. Kolesterol strip Sisa 10 bh
7. Larutan HCL 0,1 N Sisa 1 botol
8. Alkohol 70% Sisa 1 botol
9 Larutan Giemza Sisa 1 botol
10. Larutan Benedict Sisa 1 botol
11. Test Kehamilan Sisa 10 bh
12. Combur Test Sisa 10 strip
13. RDT Malaria Sisa 10 strip
14. Strip Hbs Antigen Sisa 10 strip
15 Strip HIV Sisa 5 strip
16 Strip Syphilis Sisa 5 strip
17 Ziahl Nielsen Sisa 1 dos

10. RENTANG NILAI YANG MENJADI RUJUKAN HASIL PEMERIKSAAN


LABORATORIUM DI PUSKESMAS SALO(8.1.6)

JENIS NILAI NORMAL


PEMERIKSAAN
Hb Sahli L : 14-18 gr/dl
P : 12-16 gr/dl
Golongan Darah A,B,AB,O
Plano Test Negative
Widal Negative
Reduksi Negative
Albumin Negative
DDR Negative
BTA Negative
Gula Darah Sewaktu 70-150 mg/dl
Gula Darah Puasa 70-110 mg/dl
Kolesterol < 200 mg/dl
Trigliserida < 150 mg/dl
Ureum 20-50 mg/dl
Creatinin 0,6-1,2 mg/dl
SGOT 3-45 u/L
SGPT 0-35 u/L
Asam Urat L : 3-7 mg/dl
P : 2-6 mg/dl
Hbs Antigen Negative
Syphilis Negative
HIV Negative
11. PENGENDALIAN MUTU LABORATORIUM PUSKESMAS SALO (8.1.7)
a. Kegiatan ini berupa Pemantapan Mutu Internal (PMI), Pemantapan Mutu Eksternal
(PME) dan Peningkatan Mutu.
b. Proses pengendalian mutu laboratorium dilakukan dengan 3 (tiga) tahap yaitu tahap

pra analitik, analitik dan pasca analitik.

c. Prosedur pengendalian mutu laboratorium dilaksanakan sesuai Standar Prosedur

Operasional.

12. PEMANTAPAN MUTU EKSTERNAL TERHADAP PELAYANAN


LABORATORIUM PUSKESMAS SALO(8.1.7.5)

a. Pemantapan Mutu Eksternal (PME/External Quality Control) Pemantapan Mutu


Eksternal adalah kegiatan yang diselenggarakan secara periodik oleh pihak lain di
luar laboratorium yang bersangkutan untuk memantau dan menilai penampilan
suatu laboratorium dalam bidang pemeriksaan tertentu.
b. Penyelenggaraan kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal dilaksanakan oleh pihak
pemerintah, swasta atau internasional.
c. Laboratorium Puskesmas wajib mengikuti Pemantapan Mutu Eksternal yang
diselenggarakan oleh pemerintah secara teratur dan periodik meliputi semua
bidang pemeriksaan laboratorium.
d. Prosedur pelaksanaan Pemantapan Mutu Eksternal sesuai dengan Standar
Prosedur Operasional.

13. PEMANTAPAN MUTU INTERNAL TERHADAP PELAYANAN


LABORATORIUM(8.1.7.7)

a. Untuk menjamin mutu pelayanan laboratorium maka perlu dilakukan upaya


Pemantapan Mutu Internal.
b. Upaya Pemantapan Mutu Internal dilakukan sesuai dengan jenis dan
ketersediaan peralatan laboratorium yang digunakan dan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
c. Dilakukan kalibrasi atau validasi instrument/alat ukur tepat waktu dan oleh pihak
yang kompeten sesuai prosedur.
d. Apabila ditemukan penyimpangan dilakukan tindakan perbaikan.
e. Terdapat mekanisme rujukan specimen dan pasien bila pemeriksaan
laboratorium tidak dilakukan di Puskesmas, dan Puskesmas memastikan bahwa
pelayanan tersebut diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien.
f. Prosedur Pemantapan Mutu Internal laboratorium dilaksanakan sesuai dengan
Standar Operasional Prosedur .
14. PELAPORAN KEGIATAN PROGRAM KESELAMATAN LABORATORIUM
a. Program Keselamatan di Laboratorium termasuk :
1) Kebijakan dan prosedur tertulis yang mendukung pemenuhan standar dan
peraturan.
2) Kebijakan dan prosedur tertulis untuk penanganan dan pembuangan bahan
infeksius dan berbahaya.
3) Tersedianya peralatan keamanan sesuai praktik di laboratorium dan untuk
bahaya yang dihadapi.
4) Orientasi bagi semua staf laboratorium untuk prosedur dan praktik keamanan
kerja.
5) Pendidikan (in service education) untuk prosedur-prosedur baru dan
pengenalan bahan berbahaya yang baru dikenali/ diperoleh, maupun peralatan
yang baru.

b. Petugas Laboratorium melaporkan kegiatan pelaksanaan program keselamatan


kepada pengelola program keselamatan atau Tim PMKP sekurang-kurangnya
setahun sekali dan bila terjadi insiden. Selain itu petugas laboratorium melakukan
identifikasi, analisis dan tindaklanjut risiko keselamatan di laboratorium.

15. PENANGANAN DAN PEMBUANGAN BAHAN BERBAHAYA PUSKESMAS


SALO(8.1.8.4)
a. Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan
yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau
konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau
dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
manusia serta makhluk hidup lain.
b. Penanganan dan pembuangan limbah adalah rangkaian kegiatan yang mencakup
reduksi, penyimpanan, pengumpulan, dan pembuangan limbah B3.
c. Reduksi limbah B3 adalah suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi
jumlah dan mengurangi sifat bahaya limbah bahan berbahaya sebelum dihasilkan
dari suatu kegiatan.
d. Penghasil limbah B3 adalah orang yang usaha dan/atau kegiatannya
menghasilkan limbah B3.
e. Penyimpanan limbah B3 adalah kegiatan menyimpan limbah B3 yang dilakukan
oleh penghasil dan/atau pengumpul dan/atau pemanfaat dan/atau pengolah
dan/atau penimbun limbah B3 dengan maksud menyimpan sementara.
f. Pengumpul limbah B3 adalah badan usaha yang melakukan kegiatan
pengumpulan dengan tujuan untuk mengumpulkan limbah B3 sebelum dikirim
ke tempat pengolahan dan/atau pemanfaatan dan/atau penimbunan limbah B3.
g. Pembuangan limbah B3 adalah suatu kegiatan menempatkan limbah B3 pada
suatu fasilitas pembuangan dengan maksud tidak membahayakan kesehatan
manusia dan lingkungan hidup.
h. Prosedur Penanganan dan Pembuangan Bahan Berbahaya mengikuti Standar
Prosedur Operasional.

16. PELAKSANAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PETUGAS LABORATORIUM


(8.1.8)

B. PELAYANAN OBAT
1. PENILAIAN, PENGENDALIAN, PENYEDIAAN DAN PENGGUNAAN OBAT
(8.2.1.1)
a. Petugas membuat pengendalian penyediaan dan penggunaan obat dalam bentuk
kartu stok untuk setiap jenis obat.
b. Pengendalian penyediaan obat di Puskesmas Salo harus mengikuti standar
prosedur operasional pengendalian penyediaan dan penggunaan obat untuk
Puskesmas Salo
c. Petugas membuat daftar obat pemakaian terbanyak sebagai bentuk penilaian dan
pengendalian dari penggunaan obat.

2. PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN OBAT PUSKESMAS SALO (8.2.1.2)

1. PenanggungJawab
Nama : Rosmiati Mante, S.Si, Apt
NRPTD :19520709 1998 2 008
Jabatan : PengelolaObat
Tugas :Penanggung Jawab Pelayanan Kefarmasian
Penanggung jawab pelayanan Obat
2. Anggota
a. Nama : Heriah Safitri. H. B, S. Farm, Apt.
Tugas :Petugas Kamar Obat Puskesmas
b. Nama : Nuraeni Ramli, S. Si
Tugas : Petugas Kamar Obat Puskesmas
c. Nama : Hj. Mariani, AMK
NIP :19630714 198803 2 014
Tugas :Petugas Kamar Obat Puskesmas
d. Nama :Andi Dewi Pratiwi Hakim, Amd. Keb
Tugas :Petugas Kamar Obat Puskesmas

3. PENYEDIAAN OBAT YANG MENJAMIN KETERSEDIAAN OBAT (8.2.1.3)


a. Jenis obat yang harus tersedia untuk diresepkan dan dipesan oleh petugas harus
memenuhi kebutuhan pasien dan jenis pelayanan yang disiapkan.
b. Puskesmas Salo membuat daftar semua obat yang ada di stok (Formularium Obat).
c. Petugas membuat pengendalian ketersediaan obat dalam suatu daftar inventaris
obat.
d. Jika obat yang diresepkan kurang maka petugas mengingatkan dokter/dokter gigi
tentang kekurangan tersebut dan memberikan saran untuk menggantinya.
e. Penyediaan obat yang menjamin ketersediaan obat bagi keperluan puskesmas Salo
harus mengikuti standar prosedur operasional penyediaan obat yang menjamin
ketersediaan obat untuk Puskesmas Salo.

4. PELAYANAN OBAT 24 JAM (8.2.1.4)


Pelayanan Obat 24 Jam
a. Pelayanan obat selama 24 jam sehari di peruntukkan bagi pasien kamar bersalin
dan Instalasi Gawat Darurat Puskesmas Salo

b. Dalam melaksanakan kegiatan pelayanan obat selama 24 jam sehari tersebut


bertanggung jawab kepada Kepala Puskesmas Salo.

c. Petugas yang melayani diatur dalam jadual piket pelayanan obat.

5. PERSYARATAN PETUGAS YANG BERHAK MEMBERI RESEP (8.2.2.1)


a. DokterUmum yang telah memiliki ijin praktek dokter di Puskesmas Salo.
b. Dokter Gigi yang telah memiliki ijin praktek dokter gigi di Puskesmas Salo.
c. Perawat Umum yang telah memiliki ijin praktek keperawatan di Puskesmas Salo
yang disertai pelimpahan wewenang berdasarkan kompetensinya.
d. Perawatgigi yang telah memiliki ijin praktek perawatgigi di Puskesmas Salo yang
disertai pelimpahan wewenang berdasarkan kompetensinya.
e. Bidan yang telah memiliki ijin praktek bidan di Puskesmas Salo yang disertai
pelimpahan wewenang berdasarkan kompetensinya.

6. PERSYARATAN PETUGAS YANG BERHAK MENYEDIAKAN OBAT (8.2.2.2)


Persyaratan petugas yang berhak menyediakan obat :

1. Apoteker yang telah memiliki Surat Ijin Praktek Apoteker (SIPA) di Puskesmas
Salo
2. Asisten apoteker yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis
Kefarmasian ( STRTTK )
3. Tenaga non tekhnis kefarmasian terlatih, dibawah pengawasan dan tanggung
jawab langsung Apoteker.

7. PELATIHAN BAGI PETUGAS YANG DIBERI KEWENANGAN MENYEDIAKAN


OBAT (8.2.2.3)
Pelatihan Petugas Internal Puskesmas :
a. Dilaksanakan secara on the job training di Puskesmas Salo
b. Dilakukan oleh Apoteker selaku penanggung jawab pelayanan farmasi Puskesmas
Salo

8. PERESEPAN,PEMESANAN DAN PENGELOLAAN OBAT (8.2.2.4)

a. Peresepan
1) Penulisan Resep
Peresepan adalah proses pesanan atau permintaan obat tertulis dari dokter, dokter
gigi, dan praktisi lainnya yang berijin kepada pengelola obat di Puskesmas Salo
untuk menyediakan atau membuatkan obat dan menyerahkannya kepada pasien.
Resep merupakan sarana komunikasi professional antara dokter, penyedia obat
dan pasien (pengguna obat). Isi resep merupakan refleksi dari proses pengobatan.
Untuk itu, agar obat berhasil, resep harus rasional.
2) Kriteria resep yang tepat, aman dan rasional yaitu:
a) Tepat obat sesuai dengan diagnosis penyakitnya.
b) Tepat indikasi penyakit.
c) Tepat pemilihan obat.
d) Tepat dosis.
e) Tepat cara pemberian obat.
f) Tepat pasien.
3) Bahasa dalam penulisan resep menggunakan bahasa latin yang sudah digunakan
sebagai bahasa ilmu kesehatan karena bahasa latin tidak mengalami perubahan
(statis), sehingga resep obat yang ditulis dalam bahasa latin tidak akan terjadi
salah tafsir.
4) Penulisan resep yang baik harus lengkap dan jelas. Dalam resep untuk pasien
rawat jalan di Puskesmas Salo harus tercantum:
a) Tanggal penulisan resep.
b) Nama pasien.
c) Umur pasien.
d) Alamat pasien.
e) Nomor Rekam Medis
f) Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan obat.
g) Nama obat, jumlah dan dosis obat yang diberikan per oral.
h) Nama obat, jumlah dan dosis obat yang diberikan parenteral.
i) Tanda tangan dan nama terang petugas penulis resep.
j) Tanda seru dan paraf penulis resep untuk resep yang mengandung oba yang
jumlahnya melebihi dosis maksimum.
5) Penyiapan Obat
Petugas farmasi yang bertugas menyediakan obat yang diresepkan oleh dokter
atau praktisi lain yang berizin harus memahami isi resep dan memperhatikan:
a) Nama obat
b) Jenis dan bentuk sediaan obat
c) Nama dan umur pasien
d) Dosis
e) Cara pemakaian dan aturan pemberian
f) Menanyakan kepada penulis resep apabila tulisan tidak jelas
g) Konsultasi alternatif obat kepada penulis resep apabila obat yang
dimaksud tidak tersedia
h) Penggunaan sendok atau spatula pada saat mengambil obat dari
tempatnya
i) Pemasangan etiket / label obat pada kemasan obat
6) Penyerahan Obat
Petugas farmasi yang bertugas menyediakan obat yang diresepkan oleh dokter
atau praktisi lain yang berizin harus memperhatikan:
a) Pengecekan akhir pada identitas pasien dan isi resep
b) Pemberian obat melalui loket
c) Penerima obat adalah pasien atau keluarga pasien
d) Pemberian informasi tentang cara pemakaian, aturan pakai dan efek
samping obat kepada pasien atau keluarga pasien.

b. Pemesanan Obat
Sumber penyediaan obat di Puskesmas Salo berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Pinrang. Obat yang diperkenankan untuk disediakan Puskesmas Salo adalah obat –
obat yang tercantum dalam DOEN yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
Permintaan obat untuk mendukung pelayanan obat di Puskesmas Salo diajukan oleh
Kepala Puskesmas Salo kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang dengan
menggunakan format LPLPO, sedangkan permintaan dari sub unit ke Kepala
Puskesmas dilakukan secara periodik menggunakan LPLPO sub unit.
Tujuan dari permintaan obat adalah untuk memenuhi kebutuhan obat di Puskesmas
Salo sesuai dengan pola penyakit yang ada di wilayah Kabupaten Pinrang.
Kegiatan – kegiatan yang dilaksanakan dalam permintaan obat antara lain:
1) Menentukan jenis permintaan obat
a) Permintaan Rutin
Dilakukan sesuai dengan jadwal yang disusun oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Pinrang untuk Puskesmas Salo.
b) Permintaan Khusus
Dilakukan di luar jadwal distribusi rutin apabila:
 kebutuhan meningkat
 terjadi kekosongan
 ada KLB atau Bencana
2) Menentukan jumlah permintaan obat
Data yang diperlukan antara lain:
a. Data pemakaian obat periode sebelumnya.
b. Jumlah kunjungan resep.
c. Jadwal distribusi obat dari Gudang Farmasi Kabupaten Pinrang
d. Sisa Stok.
3) Menghitung kebutuhan obat dengan cara:
Jumlah untuk periode yang akan datang diperkirakan sama dengan pemakaian
pada periode sebelumnya.
SO = SK + SWK + SWT + SP

Sedangkan untuk menghitung permintaan obat dapat dilakukan dengan


menggunakan rumus:
Permintaan = SO – SS
Keterangan:
SO = Stok Optimum
SK = Stok Kerja (stok pada periode berjalan)
SWK = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu kekosongan obat
SWT = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu tunggu (Lead Time)
SP = Stok Penyangga
SS = Sisa Stok

Stok Kerja :Pemakaian rata – rata periode distribusi.


WaktuKekosongan :Lamanya kekosongan obat dihitung dalam hari.
WaktuTunggu :Dihitung mulai dari permintaan obat oleh Puskesmas
Salo sampaidengan penerimaan obat di Puskesmas Salo.
Stok Penyangga : Persediaan obat untuk mengantisipasi terjadinya
peningkatan kunjungan, keterlambatan kedatangan obat. Besarnya ditentukan
berdasarkan kesepakatan antara Puskesmas dan Gudang Farmasi Dinas
Kesehatan Kabupaten Pinrang.
Sisa Stok : Sisa obat yang masih tersedia di Puskesmas Salo pada
akhir periode distribusi.
Stok Optimum : Stok ideal yang harus tersedia dalam waktu periode
tertentu agar tidak terjadi kekosongan.

c. Pengelolaan Obat
Obat dan perbekalan kesehatan hendaknya dikelola secara optimal untuk menjamin
tercapainya tepat jumlah, tepat jenis, tepat penyimpanan, tepat waktu pendistribusian,
tepat penggunaan dan tepat mutunya di tiap unit pelayanan kesehatan.
Pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan meliputi kegiatan:
1) Perencanaan dan permintaan,
2) Penerimaan,
3) Penyimpanan dan distribusi,
4) Pencatatan dan pelaporan serta
5) Supervisi dan evaluasi pengelolaan obat.

9. LARANGAN MEMBERIKAN OBAT KADALUARSA DAN UPAYA UNTUK


MEMINIMALKAN ADANYA OBAT KADALUARSA(8.2.2.5)

a. Memisahkan obat/kadaluarsa dan disimpan pada tempat terpisah dan penyimpanan


obat lainnya.
b. Menempelkan label pada obat untuk menentukan masa kadaluarsa obat
1) Label merah masa kadaluarsa 1 tahun
2) Label kuning masa kadaluarsa 2 tahun
3) Label hijau masa kadaluarsa 3 tahun ke atas

10. PERESEPAN PSIKOTROPIKA DAN NARKOTIKA(8.2.2.7)


a. Peresepan Narkotika :
1) Dokter penulis resep adalah dokter yang telah memiliki ijin praktek dokter di
Puskesmas Salo.
2) Resep Narkotika ditulis dengan jelas dan dapat dibaca tanpa menimbulkan
kemungkinan salah tafsir.
3) Setiap R/ dilengkapi dengan; kekuatan takaran, jumlah yang harus diberikan,
dosis pemakaian, cara pemakaian dan dibubuhi tanda tangan penuh oleh dokter
penulis resep.
b. Peresepan Psikotropika:
1) Dokter penulis resep adalah dokter yang telah memiliki ijin praktek dokter di
Puskesmas Salo.
2) Resep Psikotropika ditulis dengan jelas dan dapat dibaca tanpa menimbulkan
kemungkinan salah tafsir.
3) Setiap R/ dilengkapi dengan; kekuatan takaran, jumlah yang harus diberikan, dosis
pemakaian, cara pemakaian dan dibubuhi paraf oleh dokter penulis resep.
Peresepan Narkotika dan Psikotropika ini berlaku untuk semua pelayanan pengobatan pada
pelanggan di Puskesmas Salo

11. PENGGUNAAN OBAT YANG DIBAWA SENDIRI 0LEH PASIEN(8.2.2.8)

Ketentuan tentang penggunaan obat yang dibawa sendiri oleh pelanggan/keluarganya


antara lain :
a. Bahwa obat yang dibawa sendiri oleh pelanggan/keluarga harus diketahui oleh dokter
pemeriksa pasien.
b. Bahwa obat yang dibawa sendiri oleh pelanggan/keluarga telah mendapat persetujuan
dari Apoteker Puskesmas Salo.
c. Bahwa obat yang dibawa sendiri oleh pelanggan/keluarga tidak mempunyai kontra
indikasi dengan kondisi fisik pasien.
d. Bahwa obat yang dibawa sendiri oleh pelanggan tidak mempunyai efek bertentangan
dengan obat yang dipergunakan dalam proses pengobatan oleh dokter di Puskesmas
Salo.
e. Bahwa obat yang dibawa sendiri oleh pelanggan/ keluarga tidak menimbulkan efek
ganda dengan obat yang dipergunakan dalam pengobatan pelanggan.
f. Bahwa obat yang dibawa sendiri oleh pelanggan/keluarga tidak menimbulkan
interaksi obat dan berdampak negatif terhadap pengobatan pelanggan.

12. PENYIMPANAN OBAT(8.2.3.1)

a. Penyimpanan obat harus mempertimbangkan sifat serta stabilitas obat


b. Obat-obat dan sediaan farmasi tertentu seperti narkotika dan psikotropika harus
disimpan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
c. Penyimpanan obat berdasarkan pengeluaran obat sistem FEFO (First Expire First
Out) dan FIFO (First In First Out) untuk mencegah terjadinya kadaluwarsa.

13. PEMBERIAN INFORMASI OBAT(8.2.3.4)

a. Memberikan dan menyebar informasi kepada konsumen secara pro aktif dan pasif.
b. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan lainnya melalui telepon,
surat atau tatap muka
c. Membuat leaflet, label obat, poster majalah dinding dan lain-lain.
d. Melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan, rawat inap, dan masyarakat.
e. Melakukan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan
lainnya terkait dengan obat dan bahan medis habis pakai.

14. PENANGANAN OBAT RUSAK/KADALUARSA(8.2.3.7)

Ketentuan tentang penanganan obat rusak dan kadaluarsa adalah sebagai berikut :
a. Obat rusak dan kadaluwarsa ditempatkan secara terpisah agar tidak terjadi hal-hal
seperti : salah ambil, cross contamination dan lain-lain yang dapat merugikan
pelanggan.
b. Semua obat rusak dan kadaluwarsa dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten
Pinrang tembusan ke Instalasi Farmasi Kabupaten Pinrang.
c. Semua obat rusak dan kadaluwarsa dikirimkan kembali ke Instalasi Farmasi
Kabupaten Pinrang dengan Berita Acara Serah Terima Barang.
d. Laporan secara berkala melalui LPLPO atas pengeluaran obat yang telah dikirim ke
Instalasi Farmasi.

15. PELAPORAN DAN TINDAK LANJUT EFEK SAMPING OBAT,KEJADIAN YANG


TIDAK DIHARAPKAN (KTD),KEJADIAN NYARIS CEDERA (KNC)(8.2.4.1)

a. Mencatat/mengisi formulir monitoring efek samping obat


b. Melaporkan kejadian yang dicurigai efek samping obat maupun yang sudah pasti
merupakan efek samping obat

16. PENANGGUNG JAWAB TINDAK LANJUT PELAPORAN (8.2.5.3)


Penanggung Jawab Tindak Lanjut Pelaporan Kesalahan Pemberian Obat adalah
Nama : Rosmiati Mante, S.si, Apt
NRPTT : 19820709 1998 2 008

17. PENYEDIAAN OBAT EMERGENSI DI UNIT KERJA (8.2.6.1)


DAFTAR OBAT EMERGENSI UNIT GAWAT DARURAT (UGD)

Lidocain : Dosis awal 1 – 1,5 mg/kg/bb/dosis.IV


Diazepam : Dosis dewasa 1 amp ( 10 mg) intravena dapat diulangi setiap 15 menit.
Deksamethason : Digunakan untuk perbaikan paru yang disebabkan gangguan inhalasi dan
untuk mengurangi edema cerebri
SulfasAtropin : Dosis 1 mg IV bolus dapat diulang dalam 3-5 menit sampai dosis total
0,03-0,04 mg/kg BB, untuk bradikardia 0,5 mg IV bolus setiap 3-5 menit
maksimal 3 mg, dapat diberikan intra trakeal atau transtrakeal dengan
dosis 2-2,5 kali dosis intravena diencerkan menjadi 10 cc.
Epinefrin : Dosis 1 mg IV bolus dapat diulangi setiap 3-5 menit, 2-2,5 kali dosis
intravena. Untuk reaksi-reaksi atau syok anafilaktik dengan dosis 0,3-0,5
mg sc dapat diulangi setiap 15-20 menit. Untuk terapi bradikardia atau
hipotensi dapat diberikan epinerphine perinfus dengan dosis 1 mg ( 1mg
= 1: 1000 ) dilarutkan dalam 500 cc NaCl 0,9% dosis dewasa 1 ug/ menit
dititrasi sampai menimbulkan reaksi hemodinamik, dosis mencapai 2-10
ug/menit.
Phenobarbital : Sebagai antikonvulsi, fenobarbital digunakan dalam penanganan seizure
tonik-klonik (grand mal) dan seizure parsial.Dosis: oral : 60-180 mg
(malam). Anak 5-8 mg/kg/hari. Injeksii.m./i.v. 50-200 mg, ulang setelah
6jam bila perlu, maksimal 600mg/hari. Encerkan dalam air 1:10 untuki.v.
Aminofillin : Pengobatan bronkospasme akut : i.v :dosis awal (pada pasien yang tidak
menerima aminofilin atau teofilin) : 5 mg/kg (berdasarkan aminofilin)
diberikan i.v lebih dari 20-30 menit, laju pemberian tidak boleh melebihi
25 mg/menit (aminofilin).
Perkiraan i.v. dosis pemeliharaan : berdasarkan infus kontinu, dosis bolus
dapat ditentukan dengan cara mengalikan kecepatan infus per jam dengan
24 jam dan membaginya dengan jumlah yang diinginkan dosis/hari.

DAFTAR OBAT EMERGENSI UNIT KIA


Epinefrin : Dosis 1 mg IV bolus dapat diulangi setiap 3-5 menit, dapat diberikan
intra trakeal atau trans trakeal dengan dosis 2-2,5 kali dosis intravena.
Untuk reaksi reaksi atau syok anafilaktik dengan dosis 0,3-0,5 mg sc dapat
diulangi setiap 15-20 menit. Untuk terapi bradikardia atau hipotensi dapat
diberikan epinerphine perinfus 1 mg ( 1mg = 1: 1000 ) dilarutkan dalam
500 cc NaCl 0,9% dosis dewasa 1 ug/ menit dititrasi sampai menimbulkan
reaksi hemodinamik, dosis mencapai 2-10 ug/menit.
Deksamethason : Digunakan untuk perbaikan paru yang disebabkan gangguan inhalasi dan
untuk mengurangi edema cerebri

DAFTAR OBAT EMERGENSI UNIT GIGI


Epinefrin : Dosis 1 mg IV bolus dapat diulangi setiap 3-5 menit, 2-2,5 kali
dosisintravena. Untuk reaksi reaksi atau syok anafilaktik dengan dosis
0,3-0,5 mg sc dapat diulangi setiap 15-20 menit. Untuk terapi bradikardia
atau hipotensi dapat diberikan epinerphine perinfus dengan dosis 1 mg (
1mg = 1: 1000 ) dilarutkan dalam 500 cc NaCl 0,9% dosis dewasa 1 ug/
menit dititrasi sampai menimbulkan reaksi hemodinamik, dosis mencapai
2-10 ug/menit.

DAFTAR OBAT EMERGENSI UNIT KAMAR BERSALIN


Epinefrin Dosis 1 mg IV bolus dapat diulangi setiap 3-5 menit, dapat diberikan
intra trakeal atau trans trakeal dengan dosis 2-2,5 kali dosis intravena.
Untuk reaksi reaksi atau syok anafilaktik dengan dosis 0,3-0,5 mg sc
dapat diulangi setiap 15-20 menit. Untuk terapi bradikardia atau
hipotensi dapat diberikan epinerphine per infuse dengan dosis 1 mg (
1mg = 1: 1000 ) dilarutkan dalam 500 cc NaCl 0,9% dosis dewasa 1 ug/
menit dititrasi sampai menimbulkan reaksi hemodinamik, dosis
mencapai 2-10 ug/menit.
Deksamethason Digunakan untuk perbaikan paru yang disebabkan gangguan inhalasi
dan untuk mengurang iedema cerebri.
Magnesium Sulfat Dosis untuk Torsades de pointes 1-2 g dilarutkan dengan dektrose 5%
diberikan selama 5-60 menit. Drip 0,5-1 g/ jam IV selama 24 jam

Nipedipin Dosis 20-40 mg tablet SR 2 x sehari, 10-20 mg 3x sehari, 10 mg


sublingual untuk hipertensi emergency.

Calsicus Glukonas :Dosis 4-8 mg/Kg BB untuk kalsium glukonat dan 2-4 mg/Kg
BB untuk Kalsium klorida. Dalam tranfusi, setiap 4 kantong
darah yang masuk diberikan 1 ampul Kalsium gluconat.

18. PENYIMPANAN OBAT DI UNIT PELAYANAN (8.2.6.2)


1. UNIT GAWAT DARURAT

a. Diazepam
b. Deksametason
c. Sulfasatropin
d. Epinefrin
e. Phenobarbital
f. Aminofilin
2. KIA
a. Epinefrin
b. Deksametason
3. GIGI
Epinefrin
4. KAMAR BERSALIN
a. Epinefrin
b. Deksametason
c. Magnesium Sulfat
d. Nifedipin
e. Calcium Gluconas

C. MANAJEMEN INFORMASI REKAM MEDIS


1. STANDARISASI KODE KLASIFIKASI DIAGNOSIS DAN TERMINOLOGI YANG
DIGUNAKAN (8.4.1)
Menggunakan klasifikasi kode diagnosis ICD X
NO ICD-X KLAFIKASI DIAGNOSIS
1 K.30 DISPEPSIA
2 I.20.9 ANGINA PEKTORIS
3 Z.34.8 PEMERIKSAAN KEHAMILAN
4 J.OO COMMON COLD
5 R.05 BATUK
6 I.10 HIPERTENSI
7 E.11 DIABETES MELLITUS
8 M.79.1 MIALGIA
9 J.06.8 ISPA
10 K.04.0 PULPITIS
11 S.16.2 TUBERCULOSSIS
12 L.04.9 LIMFADENITIS
13 K.29.7 GASTRITIS
14 A.01.0 DEMAM TYPHOID
15 A.09 GASTROENTERITIS
16 I.84.5 HEMOROID
17 H.00.0 HORDEOLUM
18 H.10.9 KONJUNGTIVITIS
19 H.57.8 PENDARAHAN SUBKONJUNGTIVA
20 T.14 FRAKTUR TERBUKA

2. PEMBAKUAN SINGKATAN YANG DIGUNAKAN (8.4.1.3)

NO KATEGORI SINGKATAN KETERANGAN

1. Hasil Pemeriksaan KU Keadaan Umum


PF Pemeriksaan Fisik
BB Berat Badan
TB Tinggi Badan
TD Tekanan Darah
S Suhu
N Nadi
RR Respiratory Rate
Dbn dalam batas normal
Aps Atas permintaan sendiri
Presbo Presentasi bokong
Presmuk Presentasi muka
Preskep Presentasi bokong
2. Diagnosis
1. BP UMUM DM Diabetes Melilitis

NIDDM Non Insulin Dependen Diabetes


Melilitus
DB Demam Berdarah
DBD Demam Berdarah Dengue
DD Demam Dengue
ISK Infeksi Saluran Kemih
Go Gonorrhoe
CRF Chronic Renal Fallure
GNA Gromerulo nefritis Akut
GNK Gromerulo Nefritis Kronik
TB Tuberculosis
PPOK Penyakit Paru Obstruksi Kronik
Br Bronchitis
DC Decompensasi Cordis
ISPA Infeksi Saluran Pernafasan Atas
RA Rheumathoid Athritis
AMI Akut Myocard Infark
OMA Otitis Media
OMP Otitis Media Perforate
OMK Otritis Media Kronik
SN Syndrome Netrotik
CC Common Cold
HT Hypertensi
Pn Pnemonia
Np Non Pnemonia
GEDS Gastroentritis Dehidrasi Sedang
DHF Dengue Hemoragic Fever
CKR Cedera Kepala Ringan
OBS Observasi
CKB Cedera Kepala Berat
2.KIA/KB PEB Pre Eklampsia Berat
KPD Ketuban Pecah Dini
KET Kehamilan Ektopik Terganggu
HDK Hipertensi Dalam Kehamilan
PAP Perdarahan Ante Partum
DKP Disproporsi Kepala Panggul
Inpartu Intra partum
Ab Abortus
3.Poli Gigi Pulp Pulpitis
GP Gangrenpulpa
GR Gangren radix
Perst Persistensi
Abs Abses
Pd Periodontitis
CKR Cederakepalaringan
CKB Ciderakepalaberat
Frc Fracture

3. Laboratorium Hb Haemoglobin
BTA Bakteri Tahan Asam
Golda Golongan Darah
GDS Gula darah sewaktu
HCG test Human Chorionic Gonadotropin
Tg Trigliserid
HbsAg Hepatitis B antigen
OT SGOT
PT SGPT
CT Clooting time
BT Blooding time
A.U AsamUrat
Mal Malaria
LED Laju Endap Darah
UR Urin Rutin
DR Darah Rutin
4. Farmasi
PCT Paracetamol
GV Gentian Violet
TM Tetes Mata
SM Salep Mata
SK Salep Kulit
PK Kalium Permanganat
Dexa Dexamethason
MpPulv Dibuat dalam sediaan puyer
AC AntecCunam (sebelummakan)
PC Post coenum (sesudahmakan)
Syr Syrup
Supp Supositoria
Vag tab Vaginal tablet
Dtd Dalam tiap dosis
Gtt Tetes
ISDN Isosorbiddinitrat
Bicnat Bicarbonat Natrikus
THP Tri HexilPenidil
HPD Halloperidol
IM Intra Muskuler
IC Intra Cutan
IV Intra Venous
SL Sub Lingual
3. AKSES TERHADAP REKAM MEDIK (8.4.2)
a. Berkas rekam medis adalah milik Puskesmas Salo.
b. Isi rekam medis adalah milik pasien.
c. Rekam medis dapat diberikan, dicatat dan dicopy oleh pasien atau pihak ke-3 atau
persetujuan pasien
d. Isi rekam medis baru akan diberikan kepada pasien atau pihak ke-3 yang telah
membuat surat ijin secara tertulis (tidak dengan lisan/kuitansi pembayaran) dan
surat ijin tersebut hanya berlaku 30 hari setelah tanggal pembuatan.
e. Bila pasien tidak dapat atau belum membuat surat ijin secara tertulis, maka pihak
Puskesmas akan menyediakan surat ijin tersebut dan harus ditanda tangani oleh
pasien yang bersangkutan.
f. Pihak yang berhak meminjam buku rekam medis:
1) Pihak yang bertanggung jawab langsung terhadap pasien (medis, paramedis,
dan tenaga kesehatan lain).
2) Pihak yang tidak bertanggung jawab langsung terhadap pasien yang diberi
wewenang untuk menggunakan rekam medis (petugas RM, staf medis
lainnya).
g. Akses rekam medis untuk keperluan pendidikan bagi mahasiswa atau dokter
diharuskan mendapatkan persetujuan dari Kepala Puskesmas Salo dan mengisi
formulir yang telah tersedia di unit rekam medis untuk menghindari
penyalahgunaan berkas rekam medis
h. Pihak diluar puskesmas yang tidak langsung bertanggung jawab dapat diberikan
resume medis (polisi, asuransi, peneliti, dsb)
4. PELAYANAN REKAM MEDIS DAN METODE IDENTIFIKASI (8.4.3.1)
a. Setiap pasien Puskesmas Salo memiliki satu nomor rekam medis
b. Penyimpanan rekam medis pasien disimpan didalam satu tempat.
c. Seluruh pelayanan dokumen rekam medis dilaksanakan oleh petugas rekam medis
d. Pasien yang datang ke Puskesmas Salo didata ditempat pendaftaran.
e. Permintaan rekam medis hanya bisa diberikan untuk kepentingan pengobatan
pasien dan untuk kepentingan lain harus sesuai aturan.
f. Setiap rekam medis yang didistribusikan ke poli pelayanan dikembalikan pada
hari yang sama.
g. Semua profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan kepada pasien
diwajibkan menulis seluruh pelayanan yang diberikan pada lembar rekam medis
yang sudah ditemukan, dilengkapi dengan tanda tangan/paraf dan inisial nama.
h. Penanggung jawab berkas rekam medis bertanggung jawab atas pengembalian dan
pendistribusian berkas rekam medis.
i. Berkas rekam medis yang telah dikembalikan ke instalasi rekam medis yang
belum lengkap, wajib dilengkapi oleh profesi tenaga kesehatan yang
bersangkutan.
j. Instalasi rekam medis bertanggung jawab atas laporan berkala yang telah
ditetapkan, baik untuk kepentingan eksternal dan internal.
k. Seluruh hasil pemeriksaan hasil pelayanan penunjang wajib ditempelkan pada
lembar rekam medis yang telah ditetapkan.
l. Instalasi rekam medis bertanggung jawab atas tersedianya informasi kegiatan
pelayanan dan indicator Puskesmas yang telah ditetapkan.
m. Seluruh pelayanan rekam medis wajib beriorentasi pada kepuasan pelanggan.

5. SISTEM PENGKODEAN, PENYIMPANAN DAN DOKUMENTASI REKAM MEDIS


PUSKESMAS SALO (8.4.3.2)
a. SISTEM PENGKODEAN
Sistem Pengkodean rekam medis sebagaimana berikut:
00. 00.00
Keterangan : digit pertama,kedua dan ketiga merupakan nomor urut langsung pasien
i. Sticker warna merah : laki-laki
ii. Sticker warna biru : perempuan
b. PENYIMPANAN REKAM MEDIS
a. Petugas poli mengembalikan berkas rekam medis ke loket
b. Petugas loket menerima berkas rekam medis
c. Memasukkan data pasienke dalam buku register/komputer
d. Petugas loket menyusun berkas rekam medis kedalam lemari arsip
e. Sistem pengarsipan berkas rekam medis berdasarkan nomor seri dari 00 00 01-00
00 99
c. DOKUMENTASI REKAM MEDIS
a. Pasien yang terdaftar di puskesmas salo di catat dalam buku pendaftaran sesuai
berkas pasien.
b. Penyimpanan berkas rekam medis sesuai dengan nomor rekam medis.

6. PENYIMPANAN REKAM MEDIS DAN MASA RETENSI REKAM MEDIS (8.4.3.3)


i. Rekam Medis Pasien Rawat Jalan
1) Rekam medis pasien rawat jalan disimpan sekurang – kurangnya dalam jangka
waktu 2 (dua) tahun terhitung dari tanggal terakhir pasien berobat.
2) Persetujuan tindakan medis disimpan dalam jangka waktu 4 (empat) tahun,
terhitung dari tanggal pembuatan persetujuan tindakan medis tersebut.

7. ISI REKAM MEDIK (8.4.4.1)


1. Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan pada sarana pelayanan kesehatan sekurang-
kurangnya memuat :
a. Identitas pasien
b. Tanggal dan waktu
c. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit
d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medic
e. Diagnosis
f. Rencana penatalaksanaan
g. Pengobatan dan/atau tindakan
h. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
i. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik
j. Persetujuan tindakan bila diperlukan
2. Isi rekam medis untuk pasien gawat darurat, sekurang-kurangnya memuat :
a. Identitas pasien
b. Kondisi saat pasien tiba di sarana pelayanan kesehatan
c. Identitas pengantar pasien
d. Tanggal dan waktu
e. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-0kurangnya keluhan dan riwayat penyakit
f. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medic
g. Diagnosis
h. Pengobatan dan/atau tindakan
i. Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit gawat darurat
dan rencana tindak lanjut
j. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan tertentu yang
memberikan pelayanan kesehatan
k. Sarana transportasi yang digunakan bagi pasien yang akan dipindahkan ke sarana
pelayanan kesehatan lain
l. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien

D. MANAJEMEN KEAMANAN LINGKUNGAN


1. PEMANTAUAN LINGKUNGAN FISIK (8.5.1.1)
Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam Pemantauan Lingkungan Fisik Puskesmas Salo
:
a. Pemantauan lingkungan fisik dilakukan secara rutin
b. Pelaksanaan pemantauan ada dalam jadual pemantauan lingkungan fisik Puskesmas
Salo

2. PENANGANAN KEBAKARAN (8.5.1.2)


Penanganan Kebakaran di Puskesmas Salo harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Penanganan Kebakaran di Puskesmas Salo harus sesuai dengan prosedur yang
berlaku.
2. Puskesmas Salo harus tersedia APAR.
3. Dilakukan pelatihan penggunaan APAR bagi petugas.
4. Harus ada petunjuk jalur evakuasi apabila terjadi kebakaran yang dikumpulkan
pada satu titik (locus).
5. Dilakukan pemantauan secara rutin terhadap instalasi listrik/api atau gas yang
berpotensi menyebabkan terjadinya kebakaran.

3. PEMANTAUAN, PEMELIHARAAN, PERBAIKAN SARANA DAN PERALATAN


(8.5.1.4)
Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam Pemantauan, pemeliharaan, perbaikan sarana
dan prasarana :
a. Pemantauan dilakukan secara rutin
b. Pelaksanaan pemantauan ada dalam jadual pemantauan, pemeliharaan, perbaikan
sarana dan prasarana Puskesmas Salo

4. INVENTARISASI PENGELOLAAN, PENYIMPANAN, DAN PENGGUNAAN


BAHAN BERBAHAYA (8.5.2.1)
Hal- hal yang perlu diperhatikan dalam Inventarisasi , pengelolaan , penyimpanan dan
penggunaan bahan berbahaya :
1. Inventarisasi bahan berbahaya di Laboratorium dan Gudang Obat.
2. Bahan berbahaya yang ada di Laboratorium dan Gudang obat harus dikelola dan
disimpan dengan baik.
3. Dalam menggunakan bahan berbahaya di laboratorium maupun di gudang obat harus
menggunakan peralatan dan prosedur perlindungan yang benar.
4. Pemasangan label yang benar pada bahan berbahaya.

5. PENGENDALIAN DAN PEMBUANGAN LIMBAH BERBAHAYA (8.5.2.2)


a. Sampah / Limbah Medis
1) Petugas ruangan memasukkan sampah medis dari ruangan kedalam kantong
plastik (SampahKering) kecuali botol bekas obat dan infuse set.
2) Setelah 24 jam/ pergantian shift atau sesudah kantong plastik terisi sampah medis
2/3 bagian.
3) Petugas kebersihan mengambil sampah medis tersebut dan memilah sampah
tersebut dalam sampah kering yang lain.
4) Petugas memilah lagi untuk sampah kering dengan memisahkan infuse set
tersendiri dari sampah kering yang lain.
5) Petugas kebersihan mengikat kantong dengan rapat dan mengangkut dengan
trolly khusus ke incinerator
6) Petugas kebersihan membakar sampah kering kecuali infuse set di incinerator.
7) Petugas perawatan mengumpulkan botol bekas tersebut dalam wadah khusus.

b. Sampah Non Medis


1) Petugas ruangan memasukkan sampah non medik kedalam plastic.
2) Petugas keperawatan mengganti kantong plastik baru apabila kantong plastik
terisi sampah 2/3 bagian.
3) Petugas kebersihan mengambil sampah tersebut memilah sampah kering dan
basah.
4) Petugas kebersihan membakar sampah kering langsung pada tempat yang sudah
di sediakan.
5) Petugas kebersihan membuang sampah basah ke TPA (Tempat Pembuangan
Akhir).

6. PENANGGUNG JAWAB PENGELOLAAN KEAMANAN LINGKUNGAN FISIK


PUSKESMAS (8.5.3.2)
Penanggung Jawab Pengelolaan Keamanan Lingkungan Fisik Puskesmas Salo ;
Penanggung Jawab : Nildawati
Anggota : Hj. Combong

E. MANAJEMEN PERALATAN
1. MEMISAHKAN ALAT YANG BERSIH DAN KOTOR, ALAT YANG
MEMERLUKAN STERILISASI, ALAT YANG MEMERLUKAN PERAWATAN
LEBIH LANJUT (TIDAK SIAP PAKAI), SERTA ALAT-ALAT YANG
MEMBUTUHKAN PERSYARATAN KHUSUS UNTUK PELETAKANNYA
(8.6.1.1)
a. Petugas memisahkan penempatan alat dan bahan yang bersih dan yang kotor seperti
linen, alat kesehatan
b. Petugas mempersiapkan alat medis yang kotor untuk dilakukan sterilisasi
c. Petugas memisahkan alat yang dikategorikan kurang baik untuk disimpan dan
diusulkan untuk mendapat perbaikan alat atau kalibrasi
d. Petugas meletakkan alat yang membutuhkan persyaratan khusus untuk peletakannya
sesuai dengan kondisi yang ada seperti barang pecah belah diletakkan ditempat yang
lebih aman, barang yang terbuat dari karet diletakkan ditempat yang sejuk agar tidak
mudah meleleh.
2. PETUGAS PEMANTAU PENGELOLA INSTRUMEN DAN STERILISASI (8.6.1.3)
a. Petugas Pemantau Pengelola Instrumen dan Sterilisasi
NO RUANGAN NAMA
1. UGD Ade Irmayani,Skep.Nurs
2. Poli Gigi Hariani
3. Kamar Bersalin Hj. Sumarni Amd.Keb
4. KIA/KB Hj. Hajerah Amd.Keb

b. Uraian tugas Petugas Pemantau Pengelola Instrumen dan Sterilisasi


1) Memastikan alat dan bahan sterilisasi dalam keadaan baik dan dapat digunakan
2) Memantau pelaksanaan sterilisasi alat medis
3) Mendokumentasikan hasil kegiatan
4) Melaporkan hail kegiatan kepada kepala Puskesmas Salo

3. BANTUAN PERALATAN (8.6.1.4)


a. Bantuan peralatan puskesmas diterima dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang
atau instansi lainnya.
b. Koordinator barang melakukan pengecekan dan peletakan secara khusus bantuan
barang yang diterima.

4. PENANGGUNG JAWAB PENGELOLAAN BARANG DAN KALIBRASI (8.6.2.2)


NO NAMA NIP PANGKAT/GOL
1. Hj. Combong 19730715 200701 2 028 III/d
Uraian Tugas dan Tanggung Jawab Pengelola Barang
a. Membuat daftar inventaris peralatan Puskesmas yang digunakan untuk pelayanan
maupun untuk penyelenggaraan program.
b. Menerima,menyimpan,memeihara peralatan Puskesmas
c. Melakukan pencatatan dan pelaporan barang inventaris
d. Membuat rencana kalibrasi alat kesehatan
e. Melakukan pemeriksaan standar jumlah,jenis dan komdisi alat
f. Melakukan pemeliharaan peralatansesuai program kerja
g. Melakukan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Puskesmas
F. PEMBENTUKAN TIM KREDENSIAL TENAGA KLINIS (8.7.1.3)
Penanggung Jawab : Kepala Puskesmas Salo
Ketua : Hj. Senneng,SKM
Anggota : Sulkifli, SKM
Dr. Lenny Wirawan
Muliati S.St
Ade irmayani S.kep.Ners
G. KETERLIBATAN PETUGAS PEMBERI PELAYANAN KLINIS DALAM
PENINGKATAN MUTU KLINIS (8.7.2.3)

H. PEMBERIAN KEWENANGAN KHUSUS JIKA TIDAK TERSEDIA TENAGA


KESEHATAN YANG MEMENUHI PERSYARATAN (8.7.4.2)
a. St. Husni M. Amd
b. Fitriani Alimuddin.Amd. Keb
c. Hj. Combong, SKM

KEPALA PUSKESMAS SALO,

NASRIWATI AMIR