Anda di halaman 1dari 3

NARASI SIMULASI BANTUAN HIDUP DASAR

Cerita :
Pada hari Senin, akan dilaksanakan rangkaian garjas dalam rangka seleksi calon bintara di
lapangan MAKODAM XIII Merdeka dan diikutsertakan tim dukkes dari detasemen
kesehatan lapangan (Denkeslap).

Pada hari jumat minggu sebelumnya, KAKESDAM XIII Merdeka memberikan pengarahan
pada saat apel pagi untuk penyelenggaraan garjas calon bintara hari senin.
Narasi
“Pada hari senin nanti akan diselenggarakan pelaksanaan Garjas Calon bintara, saya
harapkan pelaksanaan dukkes nanti dijalankan dengan maksimal, jangan LENGAH, tetap
lakukan sesuai prodesur yang berlaku, serta maksimalkan pemantauan pada peserta terutama
saat tes lari berlangsung, karena itu sangat rawan, aplikasikan ilmu-ilmu kesehatan lapangan
yang pernah didapatkan”

Hari senin 04.30


Dandenkeslap memberikan pengarahan sebelum kegiatan dimulai
“Disini saya akan mengingatkan apa yang telah disampaikan Kakesdam XIII Merdeka Jumat
pagi kemarin, lakukan dukkes sesuai prosedur yang berlaku, serta maksimalkan pemantauan
peserta terutama saat tes lari, lihat tanda-tanda bahaya pada peserta, dan jangan lupa ambil
peserta dan berikan pengarahan, Tanya apa ada yang sakit, dan berikan pengarahan tanda-
tanda untuk segera menghentikan kegiatan.”

PENGUKURAN TENSI

PENGAMBILAN PESERTA
“Ada yang sakit”
“Tidak”
“Ada yang merasa lemas-lemas atau pusing?”
“Tidak”
“Bagus kalau tidak ada, lakukan garjas semaksimal mungkin, jangan dipaksa, apabila
penglihatan tiba-tiba gelap, mata berkunang-kunang, dada kiri sakit menjalar, segera hentikan
kegiatan dan melapor ke pelatih atau tim kesehatan terdekat, PAHAM?”
“Siap PAHAM”

Cerita :
Tes lari garjas Calon Bintara dimulai, peserta tiap masing-masing kelompok 20 Orang, total
peserta 40 orang. Saat diputaran ke-4 terlihat peserta dengan no punggung 21 memegang
dada kirinya, berlari lambat, terlihat pucat kemudian terjatuh.

PELATIH JAS
“TIMKES Peserta NO.20 terjatuh”
1 Orang Timkes Mendekat
Penolong Pertama : Serka Riston
Urutan Tindakan :
Identifikasi BAHAYA :
Aman diri, Aman korban, Aman lingkungan
1. Penolong menilai kesadaran melalui rangsang taktil dan verbal Pasien tidak sadar
2. Penolong meminta bantuan sekitar untuk mengevakuasi pasien ke tempat yang aman
(3 anggota timkes lain)
3. Ketiga penolong mengevakuasi pasien dengan metode transportasi dengan tiga
penolong, Serka Riston berfungsi sebagai Leader.
4. Penolong mengecek nafas dan nadi pasien
- Cek hembusan nafas, dan dada mengembang atau tidak
- meraba denyut nadi a. Karotis tidak lebih dari 10 detik
5. Nafas tidak ada Nadi pasien tidak teraba.
6. Penolong 2 (Prada Sitorus) melakukan kompresi dada dan Penolong 3 (Prada
Juwida) membersihkan jalan nafas dan memberikan nafas buatan Penolong 4 (Prada
Kadek) melakukan pemasangan IV line.
Langkah Kompresi dada
- Letak di os.sternum di bawah pertengahan papila mammae
- Dengan dua penolong, dapat menggunakan 30:2 (30 kali kompresi dada dan 2 kali
pemberian nafas buatan)
- Posisi telapak tangan saling mengunci, lengan tegak lurus dengan bidang horizontal.
Tumpuan pada telapak tangan dengan kekuatan dari otot bahu.
- High Quality CPR (Push hard yaitu +- 5cm, push fast yaitu 100-120x/menit, recoil
sempurna, interupsi minimal, hindari hiperventilasi)
- Untuk pemberian nafas buatan, mulut penolong menutup seluruh permukaan mulut
korban. Hidung korban ditutup (mulut/tangan penolong). Mata penolong
memperhatikan pergerakan dada
7. IV line terpasang setelah siklus pertama
“Prada Kadek : IV LINE TERPASANG”
8. Setelah siklus ke-5, Lakukan pengecekan nadi  NADI TERABA
9. Lakukan Pengecekan Nafas  NAFAS SPONTAN
“Prada Sitorus : NADI TERABA DAN NAFAS SPONTAN”
“Serka Riston : SEGERA EVAKUASI”
10. EVAKUASI pasien untuk penanganan lebih lanjut.