Anda di halaman 1dari 15

PEMERINTAH KABUPATEN PINRANG

DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS SALO
Alamat : Jln. Salo (0421) 924101 Kode Pos 91212

KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS SALO


NOMOR :445.017 /PKM-SL/SK/VII/2018

TENTANG
PELAYANAN KLINIS PUSKESMAS SALO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA PUSKESMAS SALO,

Menimbang : a. bahwa pelayanan klinis Puskesmas dilaksanakan sesuai kebutuhan


pasien;
b. bahwa pelayanan klinis Puskesmas perlu memperhatikan mutu dan
keselamatan pasien ;
c. bahwa untuk menjamin pelayanan klinis dilaksanakan sesuai kebutuhan
pasien, bermutu, dan memperhatiakan keselamatan pasien, maka perlu
disusun kebijakan pelayanan klinis di Puskesmas Salo;

Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997,tentang Psikotropika;


2. Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 116,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 4431);
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan;
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang
Rumah Sakit;
6. Peraturan Menteri Kesehaatan Republik Indonesia nomor
382/MENKES/SK/III/2007 Tentang Pedoman Pencegahan dan
Pengendalian infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan Lainnya;
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
269/MENKES/PER/III/2008 Tentang Rekam Medis
8. Peraturan Menteri Kesehatan No.290/MENKES/PER/III/2008 Tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran;
9. Peraturan Menetri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 001 Tahun
2012 Tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2014
Tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien
11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tahun 2014,
tentang Puskesmas;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 tahun 2015,
tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;
13. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 11 Tahun 2017
Tentang Keselamatan Pasien;
14. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017,
tentang Pedoman PPI;
15. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
Hk.02.02/Menkes/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama;

MEMUTUSKAN
Menetapkan : SURAT KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS SALO TENTANG
LAYANAN KLINIS PUSKESMAS SALO
KESATU : Kebijakan layanan klnis Puskesmas Salo sebagaimana tercantum dalam
lampiran merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari surat
keputusan
KEDUA : Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan
perbaikan/perubahan sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : Salo
pada tanggal : 01 Juli 2018

KEPALA PUSKESMAS SALO,

NASRIWATI
LAMPIRAN
KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS SALO
NOMOR :445.017/PKM-SL/SK/VII/2018
TENTANG LAYANAN KLINIS PUSKESMAS
SALO

A. PENDAFTARAN PASIEN (7.1)


1. Pendaftaran pasien harus dipandu dengan prosedur yang jelas
2. Pendaftaran dilakukan oleh petugas yang kompeten
3. Terdapat cara untuk mengetahui bahwa pelanggan puas terhadap proses pendaftaran
melalui survey pelanggan atau mekanisme lain (misalnya kotak saran,sms,facebook dsb)
4. Pendaftaran pasien memperhatikan keselamatan pasien
5. Identitas pasien harus dipastikan minimal dengan dua cara dari cara identifikasi sebagai
berikut : nama pasien, tanggal lahir pasien, alamat tempat tinggal, dan nomor rekam medis
6. Informasi tentang jenis pelayanan klinis yang tersedia, dan informasi lain yang dibutuhkan
masyarakat yang meliputi : tarif, jenis pelayanan, ketersediaan tempat tidur, dan informasi
tentang kerjasama dengan fasilitas kesehatan yang lain harus dapat disediakan di tempat
pendaftaran.
7. Hak dan kewajiban pasien harus diperhatikan pada keseluruhan akses pelayanan yang
dimulai dari pendaftaran.
8. Hak – hak pasien meliputi :
a. Pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib yang berlaku dan peraturan
yang berlaku di puskesmas
b. Pasien berhak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
c. Pasien berhak memperoleh pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar
profesi kedokteran, kedokteran gigi tanpa tanpa diskriminasi.
d. Pasien berhak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi
keperawatan.
e. Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinis dan
pendapat etisnya tanpa campur tangan pihak lain
f. Pasien berhak meminta konsultasi kepada dokter lainnya yang terdaftar di puskesmas
salo terhadap penyakit yang dideritanya sepengetahuan dokter yang merawat
g. Pasien berhak atas “privacy” dan kerahasiaan penyakit yang dideritanya termasuk data
- data medis.
h. Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi :
- Penyakit yang dideritanya
- Tindakan medis apa yang akan dilakukan
- Kemungkinan penyulit sebagai akibat tindakan tersebut atau tindakan untuk
mengatasinya
- Alternative terapi lainnya
- Prognosanya
- Perkiraan biaya pengobatan
i. Pasien berhak menyetujui /memberikan izin atas tindakan yang akan dilakukan
j. Pasien berhak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan
mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah
memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya
k. Pasien berhak didampingi keluarga dalam hal kritis
l. Pasien berhak menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaan yang dianutnya selama
hal itu tidak mengganggu pasien lain
m. Pasien berhak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di
puskesmas salimbongan
n. Pasien berhak mengajukan usul, saran , perbaikan atas perlakuan puskesmas
terhadapnya
o. Pasien berhak menerima atau menolak bimbingan moral atau spiritual.
9. Kewajiban pasien meliputi :
a. Pasien dan keluarganya berkewajiaban untuk mentaati segala peraturan dan tata tertib
puskesmas.
b. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala intruksi dokter dan perawat dalam
pengobatan.
c. Pasien berkewajiban memberi informasi dengan jujur dan selengkapnya tentang
penyakit yang dideritanya kepada dokter yang merawat.
d. Pasien dan atau penanggungnnya berkewajiban memenuhi hal-hal yang telah
disepakati / perjanjian yang telah dibuat.
10. Petugas pendaftaran bekerja dengan efisien,ramah dan responsive terhadap kebutuhan
pelanggan.
11. Pelaksanaan koordinasi dan komunikasi antara pendaftaran dengan unit-unit terkait
sesuai mekanisme
12. Tahapan pelayanan diinformasikan kepada pasien untuk menjamin kesinambungan
pelayana
13. Kendala fisik , bahasa, dan budaya serta penghalang lain wajib di identifikasi dan
tindak lanjuti

B. PENGKAJIAN (7.2)
1. Kajian awal dilakukan secara paripurna dilakukan oleh tenaga yang kompeten melakukan
pengkajian.
2. Kajian awal meliputi kajian medis, kajian keperawatan, kajian kebidanan, dan kajian lain
oleh tenaga profesi kesehatan sesuai dengan kebutuhan.
3. Proses kajian dilakukan mengacu standar profesi dan standar asuhan.
4. Proses kajian dilakukan dengan memperhatikan tidak terjadinya pengulangan yang tidak
perlu.
5. Informasi kajian baik medis,keperawatan , kebidanan,dan profesi kesehatan lain wajib
diidentifikasi dan dicatat dalam rekam medis
6. Koordinasi dan komunikasi antar praktisi klinis dalam pelayanan tercatat dalam rekam
medik
7. Proses kajian dilakukan sesuai dengan langkah-langkah SOAP
8. Pasien dengan kondisi gawat darurat,mendesak,atau segera diberikan prioritas untuk
asesmen dan pengobatan
9. Prioritas pasien dilakukan sesuai dengan triase
10. Pasien emergensi diperiksa dan dibuat stabil terlebih dahulu sebelum dirujuk ke
pelayanan yang mempunyai kemampuan lebih tinggi dan memastikan kesiapan tempat
rujukan untuk memerima rujukan.

C. KEPUTUSAN LAYANAN KLINIS (7.3)


1. Kajian dilakukan oleh tenaga kesehatan yang profesional dan kompeten
2. Jika dilakukan pelayanan secara tim, tim kesehatan antara profesi harus tersedia.
Tiim Kesehatan Antar Profesi Puskesmas Salo
Ketua : dr. Lenny Wirawan
Wakil Ketua : drg. Zakiah Daming
Sekretaris : Ade Irmayani,S.Kep. Ns
Anggota : Mulyati,S.ST
Hj. Rahmah Muis,SKM
Supartono,Amd.AK
Nuraeni,SKM
3. Pendelegaasian wewenang baik dalam kajian maupun keputusan layanan harus dilakukan
melalui proses pendegelasian wewenang.
4. Pendelegasian wewenang diberikan kepada tenaga kesehatan profesional yang memenuhi
persyaratan.

Pendelegasian Wewenang Klinis Dokter Kepada Tenaga Paramedis


NO NAMA DOKTER NIP PANGKAT/G JABATAN
OLONGAN
1. dr. Lenny Wirawan 19760304 200404 2 021 IV/b Dokter Poli Umum
2. dr. Muliani 19871214 201503 2 002 III/c Dokter Poli Umum
Memberikan kewenangan kepada petugas paramedis
1. Hj. Hasnawiah 19671211 198903 2 015 IV/b Perawat
S.Kep.Ns
2. Hj. Jumrah AMK 19630315 198602 2 009 III/d Perawat
3 Ade 19880730 2010 2 104 III/a Perawat
Irmayani,S.Kep.Ns
4. Mulyati, S.ST 19730316 199903 2 011 III/d Bidan
5. Asriyah 19850304 200804 2 002 III/b Bidan
Rahayu,S.ST
6. Hj. Hajarah 19640413 198502 2 001 III/d Bidan
7. Anita Sabir,S.ST 19810221 200604 2 108 III/c Bidan
8. Hj. Hamida 19680814 198910 2 001 IV/b Bidan Desa
Bitte,S.ST
9. Hj. Sumarni,S.ST 19700507 199110 2 001 IV/a Bidan Desa
10. Hariani Saad,S.ST 19811124 200502 2 005 III/c Bidan Desa
11. Martina 19741128 200604 2 017 III/b Bidan Desa
Manga,S.ST
12. Fitriani 19880214 201001 2 013 III/b Bidan Desa
A.,Amd.Keb
13. Asrianti Azis 19890526 2017 2 006 III/a Bidan Desa
Amd.Keb
14. Herianti,Amd.Keb PTT.204.047.8497 Bidan Desa
15. Rasdiana,Amd.Keb PTT. 204.302 693 Bidan Desa

Uraian Tugas dan Wewenang yang dilimpahkan meliputi :


a. Memeriksa pasien
b. Menentukan Diagnosa
c. Memberi tindakan sederhana
d. Membuat terapi pengobatan
Pendelegasian Wewenang Klinis Dokter Gigi Kepada Perawat Gigi
NO NAMA DOKTER NIP PANGKAT/ JABATAN
GOLONGAN
1. drg. Zakiah Daming 19830201 201101 2 009 III/d Dokter Poli Gigi
Memberikan Kewenangan Kepada Petugas Paramamedis
1. Haryani AMKG 19820815 200312 2 004 III/b Perawat Gigi

Uraian Tugas dan Wewenang yang dilimpahkan meliputi ;


a. Memeriksa gigi sulung
b. Mencabut gigi susu
c. Membersihkan karang gigi
d. Tumpatan sederhana
e. Membuat terapi pengobatan pasien gigi
5. Proses kajian, perencanaan, dan pelaksanaan layanan yang dilakukan dengan peralatan
dan tempat yang memadai.
6. Adanya jaminan kualitas terhadap peralatan di tempat layanan
7. Peralatan dan tempat pelayanan wajib menjamin keamanan pasien dan petugas
a. Pengelola alat-alat memantau sarana dan peralatan setiap bulan sekali.
b. Pengelola alat-alat melakukan pemeliharaan pada sarana dan peralatan.
c. Pengelola alat-alat mengecek jika ada gangguan yang ditemukan.
d. Pengelola alat-alat memastikan apakah jenis gangguan dapat diperbaiki atau tidak.
e. Pengelola alat-alat melakukan perbaikan jika ada sarana dan peralatan dapat
diperbaiki.
f. Pengelola alat-alat melaporkan kepada Kepala Puskesmas jika gangguan peralatan
tidak dapat diperbaiki.
g. Kepala Puskesmas memberikan arahan kepada pengelola alat-alat.
h. Pengelola alat-alat melakukan tindak lanjut sesuai dengan arahan Kepala
Puskesmas.

D. RENCANA LAYANAN KLINIS (7.4)


1. Terdapat prosedur yang efektif untuk menyusun rencana layanan baik layanan medis
maupun layanan terpadu jika pasien membutuhkan penanganan oleh tim kesehatan yang
terkoordinasi
a. Melibatkan pasien dalam penyusunan rencana layanan medis yang akan diberikan
kepada pasien.
b. Menjelaskan tujuan layanan medis yang akan diberikan.
c. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai penyakit yang diderita pasien.
d. Memberikan informed consent sebagai bukti tertulis telah dilakukan pelibatan
pasien dalam penyusunan rencana layanan medis.
2. Jika dibutuhkan rencana layanan terpadu, maka kajian awal, rencana layanan, dan
pelaksanaan disusun secara kolaboratif dalam tim layanan terpadu
3. Terdapat petugas yang terkait dalam pelayanan klinis mengetahui kebijakan dan
prosedur tersebut serta menerapkan dalam penyusunan rencana terapi dan/ atau rencana
layanan terpadu.
4. Adanya evaluasi kesesuaian pelaksanaan rencana terapi dan/atau rencana asuhan dengan
kebijakan dan prosedur
5. Adanya tindak lanjut jika terjadi ketidak sesusaian antara rencana layanan dengan
kebijakan dan prosedur
6. Dilakukan evaluasi terhadap pelaksnaam dam hasil tindak lanjut
7. Penyusunan rencana layanan mempertimbangkan kebutuhan biologis, psikologis, social,
spiritual, dan memperhatikan tata budaya pasien
8. Rencana layanan disusun untuk tiap pasien, dan melibatkan pasien
9. Adanya rencana layanan disusun untuk setiap pasien dengan kejelasan tujuan yang ingin
dicapai.
10. Bila memungkinan dan tersedia pasien/keluarga pasien diperbolehkan untuk memilih
tenaga/profesi kesehatan.
11. Bila memungkinan dan tersedia pasien/keluarga pasien diperbolehkan untuk memilih
tenaga/profesi kesehatan.
12. Tersedianya rencana layanan terpadu disusun secara komprehensif oleh tim kesehatan
antar profesi dengan kejelasan tanggung jawab dari masing masing anggotanya.
13. Terdapat layanan dilakukan secara paripurna untuk mencapai hasil yang diinginkan oleh
tenaga kesehatan dan pasien/keluarga pasien.
14. Adanya rencana layanan tersebut dilaksanakan dengan mempertimbangkan efisiensi
pemanfaatan Sumber Daya Manusia.
15. Adanya resiko yang mungkin terjadi pada pasien dipertimbangkan sejak awal dalam
menyusun rencana layanan.
16. Efek Samping dan resiko pengobatan diinformasikan.
17. Rencana layanan tersebut didokumentasikan dalam Rekam Medis.
18. Adanya Rencana layanan yang disusun juga memuat pendidikan/penyuluhan pasien.
19. Adanya persetujuan tindakan medis diminta sebelum pelaksanaan tindakan bagi yang
membutuhkan persetujuan tindakan medis.
20. Adanya pelaksanaan informed consent didokumentasikan
21. Tersedianya formulir dan prosedur persetujuan tindakan medis tertentu yang beresiko.
22. Dilakukan Evaluasi dan tindak lanjut terhadap pelaksanaan informed consent.

E. RENCANA RUJUKAN (7.5)


1. Adanya Rujukan sesuai kebutuhan pasien ke sarana lain diatur dengan proses yang jelas.
2. Terdapat proses rujukan dilakukan berdasarkan kebutuhan pasien untuk menjamin
kelangsungan layanan.
3. Dilakukan komunikasi dengan fasilitas kesehatan yang menjadi tujuan rujukan untuk
memastikan kesiapan fasilitas tersebut untuk menerima rujukan.
4. Adanya rencana rujukan dan kewajiban masing masing dipahami oleh tenaga kesehatan
dan pasien/keluarga pasien.
5. Adanya informasi tentang rujukan disampaikan dengan cara yang dipahami oleh
pasien/keluarga pasien.
6. Dilakukan kerjasama dengan fasilitas kesehatan lain untuk menjamin kelangsungan
asuhan.
7. Terdapat fasilitas rujukan penerima diberi resume tertulis mengenai kondisi klinis
pasien dan tindakan yang dilakukan oleh puskesmas pada saat mengirim pasien.
8. Adanya resume klinis berisi kondisi pasien,prosedur,dan tindakan yang telah dilakukan
dan memuat kebutuhan pasien akan pelayanan lebih lanjut.
9. Terdapat proses rujukan pasien secara langsung, staff yang kompeten terus memonitor
kondisi pasien.
10. Terdapat kompetensi staff yang melakukan monitor sesuai dengan kondisi pasien

F. PELAKSANAAN LAYANAN (7.6)


1. Adanya pelaksanan dan pedoman layanan dipandu oleh kebijakan, prosedur dan peraturan
yang berlaku dipakai sebagai dasar untuk melaksanakan layanan klinis.
2. Adanya penyusunan dan penerapan rencana layanan mengacu kepada pedoman dan
prosedur yang berlaku.
3. Adanya layanan yang diberikan pada pasien sesuai dengan rencana layanan dan
didokumentasikan.
4. Adanya perubahan rencana layanan dilakukan berdasarkan perkembangan pasien dan
perubahan tersebut dicatat dalam rekam medis.
5. Jika dilakukan tindakan medis, pasien/keluarga pasien memperoleh informasi sebelum
memberikan persetujuan mengenai tindakan yang dilakukan yang dituangkan dalam
informed consent.
6. Terlaksananya layanan bagi pasien gawat darurat dan/atau beresiko tinggi dipandu oleh
kebijakan dan prosedur yang jelas.
Kebijakan Umum:
a. Pelayanan di unit harus berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien
b. Setiap petugas harus bekerja sesuai standar profesi, standar prosedur operasional
yang berlaku, etika profesi, etika umum dan menghormati hak pasien
c. Peralatan di unit harus selalu dilakukan pemeliharaan secara teratur dan kalibrasi
sesuai ketentuan yang berlaku
d. Semua petugas unit wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan yang berlaku
e. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam
keselamatan pasien
f. Untuk melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat rutin
minimal 1 bulan sekali
g. Semua unit wajib membuat laporan bulanan, triwulan dan tahunan
Kebijakan Khusus:
Yang termasuk gawat darurat adalah:
1. Trauma Kapitis
2. Diare Dehidrasi Berat
3. Kejang Demam
4. Status Asmaticus
5. Infark Miokard
6. Luka Bakar
7. Keracunan Organofosfat
8. Stroke
9. Eklampsi
10. Perdarahan post Partum
7. Kasus-kasus gawat darurat dan atau berisiko tinggi yang biasa terjadi diidentifikasi.
Yang Termasuk Risiko Tinggi
1. Hipertensi
2. Diabetes Mellitus
3. Dislipidemia
4. Preeklampsi
5. Demam Berdarah Dengue
6. HIV
7. Hepatitis B kronik aktif
8. Kasus – kasus yang perlu kewaspadaan universal terhadap terjadinya infeksi harus
ditangani dengan memperhatikan prosedur pencegahan.
a. cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah melakukan tindakan
atau perawatan. Cuci tangan merupakan prosedur yang praktis dalam menghindarkan
kontaminasi silang.
b. penggunaan alat pelindung yang sesuai untuk setiap tindakan seperti misalnya :
sarung tangan, gaun pelindung, celemek, masker, kaca mata pelindung untuk setiap
kontak langsung / percikan dengan darah atau cairan tubuh lain.
c. pengelolaan dan pembuatan alat tajam dengan hati-hati.
d. pengelolaan limbah yang tercemar oleh darah atau cairan tubuh dengan aman.
e. pengelolaan alat kesehatan bekas pakai dengan melakukan dekontaminasi, disinfeksi
dan sterilisasi dengan benar.
f. pengelolaan linen yang tercemar dengan benar.
g. Bekerja dengan hati – hati ( perhatikan factor keamanan). Gunakan langkah dan
teknik yang baik dan aman pada saat menggunakan alat tajam ( jarum suntik, pisau
bedah)
9. Pemberian obat / cairan intravena harus dilakukan dengan prosedur pemberian obat /
cairan intravena yang baku.
a. Semua penggunaan dan pemberian obat dan atau cairan intravena dilakukan sesuai
dengan kebutuhan berdasarkan Standar Operasional Prosedur Puskesmas Salo.
b. Tindakan dilakukan oleh tenaga klinis yang berwenang, diobservasi dan
didokumentasikan
10. Ditetapkan indikator untuk memantau dan menilai pelaksanaan layanan klinis
11. Pelaksanaan pemantauan dan penilaian dengan menggunakan indikator yang ditetapkan
12. Dilakukan analisis terhadap indikator yang dikumpulkan.
13. Dilakukan tindak lanjut terhadap hasil analisis untuk perbaikan layanan klinis
14. Hak dan kebutuhan pasien harus diperhatikan pada saat pemberian layanan.
15. Keluhan pasien / keluarga wajib di identifikasi, didokumentasikan dan ditindak lanjuti.
16. Pelaksanaan layanan dilaksanakan secara tepat dan terencana untuk menghindari
pengulangan yang tidak perlu.
a. Semua pemeriksaan tanda vital, anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang
diagnostik, tindakan, dan pengobatan yang diberikan pada pasien di tulis lengkap
dalam rekam medis.
b. Kewajiban perawat dan petugas kesehatan lain untuk mengingatkan dokter jika terjadi
pengulangan yang tidak perlu.
17. Pelayanan dimulai dari pendaftaran, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,
perencanaan layanan, pelaksanaan layanan, pemberian obat/tindakan, sampai dengan
pasien pulang atau dirujuk harus dijamin kesinambungannya.
18. Layanan klinis dan pelayanan penunjang yang dibutuhkan dipadukan dengan baik
sehingga tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu.
19. Pasien dan keluarga pasien memperoleh penjelasan tentang hak dan tanggung jawab
mereka berhubungan dengan penolakan atau tidak melanjutkan pengobatan, termasuk
penolakan untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai.
20. Jika pasien menolak untuk pengobatan atau rujukan, wajib diberikan informasi tentang
hak pasien untuk membuat keputusan, akibat dari keputusan, dan tanggung jawab mereka
berkenaan dengan keputusan tersebut.
21. Petugas pemberi pelayanan memberitahukan pasien dan keluarganya tentang tersedianya
alternatif pelayanan dan pengobatan.

G. PELAYANAN ANESTESI LOKAL, SEDASI DAN PEMBEDAHAN (7.7)


1. Tersedianya pelayanan anastesi sederhana dan pembedahan minor untuk memenuhi
kebutuhan pasien.
a. Anastesi local
 Anestesi lokal dilakukan dalam tindakan bedah minor yang dapat dilakukan di
Puskesmas Salo
 Preparat yang digunakan adalah Lidocaine 2 %
b. Sedasi Per Rectal:
 Sedasi per rectal digunakan untuk pasien anak dengan kejang demam
sederhana maupun kompleks.
 Preparat yang digunakan adalah Diazepam injeksi
c. Sedasi Per Oral:
 Sedasi per oral untuk pasien anak diberikan dengan riwayat kejang demam,
preparat yang digunakan adalah Phenobarbital 30 mg dengan dosis berdasarkan
berat badan.
 Sedasi per oral untuk pasien dewasa dengan riwayat kejang, preparat yang
digunakan adalah Phenobarbital 30 mg dengan dosis 2x1
d. Anastesi topikal
 Anastesi dilakukan pada pencabutan gigi goyang, insisi abses
 Preparat yang digunakan adalah choler etyl
2. Tersedianya pelayanan anastesi lokal di lakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
Tenaga kesehatan yang berwenang melakukan anastesi lokal

1. drg. Nasriwati Amir


2. dr. Lenny Wirawan
3. dr. Muliani
4. drg. Zakiah Daming
5. Hj. Jasniwati,S.Kep.Ns
6. Hj. Hamida Bitte,S.ST
7. Hj. Sumarni,S.ST
8. Hj. Hajarah
9. Hj. Jumrah AMK
10. Mulyati,S.ST
11. Hariani Saad,S.ST
12. Anita Sabir,S.ST
13. Martina Manga,S.ST
14. Asriyah Rahayu,S.ST
15. Fitriani Alimuddin,Amd.Keb
16. Ade Irmayani,S.Kep.Ns
17. Asrianti Azis,Amd.Keb
18. Herianti,Amd.Keb
19. Rasdiana,Amd.Keb
20. Haryani,AMKG
3. Tersedianya pelaksanaan anastesi lokal di pandu dengan kebijakan dan prosedur yang jelas.
4. Selama pemberian anastesi lokal petugas melakukan monitoring status fisiologi pasien.
a. Keadaan umum pasien
b. Kesadaran pasien
c. Tanda vital pasien yang meliputi:
o Tekanan darah
o Nadi
o Pernafasan
o Suhu
5. Teknik anastesi lokal ditulis dalam rekam medik.
6. Terdapat pelayanan bedah di puskesmas direncanakan dan dilaksanakan memenuhi standar
di puskesmas, standar nasional, undang undang, dan peraturan serta standar profesi sesuai
dengan kebutuhan pasien.
7. Terdapat dokter atau dokter gigi yang melakukan pembedahan minor melakukan kajian
sebelum melaksanakan pembedahan.
Jenis Pembedahan Minor Yang Dapat Dilakukan Di Puskesmas Salo
1. UGD
a. Sirkumsisi
b. Insisi Abses
c. Ateroma
d. Lipoma
e. Veruka
f. Corpus Alienum
g. Jahit Luka
h. Necrotomy combutio
i. Ekstraksi Kuku
j. Insisi klavus
2. Poli Gigi dan Mulut
a. Ekstraksi gigi susu/tetap tanpa komplikasi
b. Insisi abses
c. Alveolectomy
d. Gingivektomy
e. Odontektomy
3. Klinik KB
a. Pasang Implan
b. Bongkar Implan
8. Terdapat dokter atau dokter gigi yang akan melakukan pembedahan minor merencanakan
asuhan pembedahan berdasarkan hasil kajian.
9. Dokter menjelaskan resiko, manfaat, komplikasi potensial, dan tindakan alternatif kepada
pasien/keluarga pasien.
10. Sebelum melakukan tindakan pembedahan harus mendapat persetujuan dari
pasien/keluarga pasien dan berdasarkan prosedur yang berlaku.
11. Laporan catatan operasi dituliskan dalam rekam medik serta status fisiologi pasien di
monitor terus menerus segera setelah pembedahan.

H. PENYULUHAN/ PENDIDIKAN KESEHATAN DAN KONSELING KEPADA


PASIEN/KELUARGA (7.8)
1. Penyuluhan kepada pasien/keluarga pasien mendukung peran serta mereka dalam setiap
pengambilan keputusan dan pelaksanaan layanan
2. Penyusunan dan pelaksanaan layanan mencakup aspek penyuluhan kesehatan
pasien/keluarga pasien.
3. Pedoman/materi penyuluhan kesehatan mencakup informasi mengenai
penyakit,penggunaan obat,peralatan medik,aspek etika dipuskesmas dan PHBS.
4. Tersedia metode dan media penyuluhan/pendidikan kesehatan bagi pasien dan keluarga
dengan memperhatikan kondisi sasaran/penerima informasi (misal bagi yang tidak bisa
membaca).
5. Dilakukan penilaian terhadap efektifitas penyampaian informasi kepada pasien/keluarga
pasien agar mereka dapat berperan aktif dalam proses layanan dan memahami konsekwensi
layanan yang diberikan

I. MAKANAN DAN TERAPI NUTRISI (7.9)


1. Petugas penanggung jawab pengelolaan makanan dan terapi nutrisi harus memberi
makanan dan terapi nutrisi sesuai dengan kebutuhan pasien dan ketentuan yang berlaku
2. Tersedianya makanan atau nutrisi yang sesuai untuk pasien secara regular.
3. Sebelum makanan diberikan makanan telah dipesan dan dicatat untuk semua pasien rawat
inap berdasarkan status gizi dan kebutuhan pasien.
4. Memberikan edukasi pada keluarga tentang pembatasan diet pasien bila keluarga ikut
menyediakan makanan bagi pasien.
5. Petugas penanggung jawab pengelolaan Makanan dan terapi nutrisi harus
menyimpan,menangani dan mendistribusikan makanan dengan aman dan memenuhi
peraturan perundangan yang berlaku.
6. Makanan disiapkan dan disimpan dengan cara yang baku untuk mengurangi risiko
kontaminasi dan pembusukan.
7. Pendistribusian makanan harus tepat waktu dan memenuhi permintaan dan/atau kebutuhan
khusus.
8. Petugas penanggung jawab pengelolaan Makanan dan terapi nutrisi
merencanakan,memberikan, dan memonitor pemberian asuhan gizi pada pasien yang
berisiko nutrisi.
9. Respon pasien terhadap asuhan gizi dimonitor dan dicatat dalam rekam medis.

J. PEMULANGAN DAN TINDAK LANJUT (7.10)


1. Pemulangan dan/ tindak lanjut pasien dilakukan dengan prosedur yang tepat.
2. Tersedianya prosedur pemulangan dan/ tindak lanjut pasien.
3. Adanya penanggung jawab dalam pelaksanaan proses pemulangan dan/ tindak lanjut
pasien
Penanggung Jawab Pemulangan Pasien
1. dr. Lenny Wirawan
2. dr. Muliani
4. Tersedianya kriteria yang digunakan untuk menetapkan saat pemulangan dan/tindak
lanjut pasien.
5. Dilakukan tindak lanjut terhadap umpan balik pada pasien yang dirujuk kembali sesuai
dengan prosedur yang berlaku, dan rekomendasi dari sarana kesehatan rujukan yang
merujuk balik.
6. Tersedianya prosedur dan alternatif penanganan bagi pasien yang memerlukan tindak
lanjut rujukan akan tetapi tidak mungkin dilakukan.
7. Pasien/keluarga pasien memperoleh penjelasan yang memadai tentang tindak lanjut
layanan saat pemulangan atau saat dirujuk ke sarana kesehatan lain.
8. Tersedianya informasi yang dibutuhkan mengenai tindak lanjut layanan diberikan oleh
petugas kepada pasien/keluarga pasien pada pemulangan atau jika dilakukan rujukan
kesarana kesehatan yang lain.
9. Petugas mengetahui bahwa informasi yang disampaikan dipahami pasien/keluarga
pasien
10. Dilakukan evaluasi periodik terhadap prosedur pelaksanaan penyampaian informasi
tersebut.

KEPALA PUSKESMAS SALO

NASRIWATI AMIR