Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

Landasan Komparatif

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan

Dosen pengampu:

Firstalenda Susgaleni, M.Pd.

Disusun oleh Kelompok 8:

1. Izani Nur (12208183039) 09


2. Mamila Putri Hapsari (12208183165) 10
3. Anita Miftahurrohmah Sulum (12208183025) 19
4. Isnaini Lutfiana (12208183037) 33
5. Ika lusiana (12208183102) 38
6. Nia Arun Anggraini (12208183036) 42

PROGRAM STUDI TADRIS BIOLOGI 2B

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG

APRIL 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa
atas berkat, rahmat, hidayah, dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik walaupun masih banyak kekurangan di
dalamnya. Makalah ini membahas mengenai “Landasan Komparatif”. Tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “Dasar- Dasar
Pendidikan”. Kami juga berharap semoga pembuatan makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

Kiranya dalam penulisan ini, kami menghadapi cukup banyak rintangan


dan selesainya makalah ini tak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu tak
lupa kami ucapkan terima kasih pada pihak-pihak yang telah membantu yaitu :

1. Dr. Maftukhin, M.Ag. selaku rektor IAIN Tulungagung.


2. Firstalenda Susgaleni, M.Pd. Selaku dosen pengampu.
3. Dan semua pihak yang telah membantu dalam proses pembuatan yang tidak
dapat disebutkan satu-satu, kami ucapkan terimakasih.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada makalah ini. Oleh
karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar
makalah ini menjadi lebih baik lagi. Kami berharap makalah ini dapat memberi
manfaat bagi kita semua.

Tulungagung, April 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2

C. Tujuan .......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

A. Landasan Komparatif dalam Pendidikan di Indonesia................................. 3

B. Sistem Pendidikan di Indonesia ................................................................... 4

C. Sistem Pendidikan di Firlandia .................................................................. 11

D. Sistem Pendidikan di Amerika ................................................................... 16

E. Sistem Pendidikan di Cina ......................................................................... 20

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 28

A. Kesimpulan ................................................................................................ 28

B. Saran ........................................................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 29

PERMASALAHAN ............................................................................................ 30

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan sesuatu hal yang mutlak ada dan harus dipenuhi
dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dimana pendidikan
harus bertumpuh pada pemberdayaan semua komponen masyarakat melalui
peran sertanya dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang dirumuskan secara
jelas dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003, bahwa pendidikan
nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, cerdas, kretif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam rangka menjadikan kehidupan sebuah bangsa lebih baik dan
tidak tertinggal dengan perkembangan zaman serta meningkatkan kualitas
hidup suatu masyarakat. Suatu proses “membandingkan “ dilakukan untuk
mengetahui seberapa jauh kemampuan yang kita miliki di dunia internasional
dan mengetahui perkembangan yang ada.
Studi perbandingan merupakan suatu proses yang memiliki manfaat
nyata, terutama untuk melakukan sebuah peningkatan terhadap kualitas
pendidikan suatu bangsa. Dengan mengkaji keunggulan-keunggulan dan hasil
yang telah dicapai oleh suatu negara yang menggunakan suatu sistem
pendidikan dan pedoman yang telah ditetapakan, kita dapat mengevaluasinya
dengan bagaimana sistem pendidikan dan pedoman yang ada di tanah air
Indonesia. Apakah kita telah memperoleh hasil yang optimal atau justru
sebaliknya.
Dengan menganalisis dan mengkaji, diharapkan kita mampu
memperbaiki ataupun mencba menerapkan apa yang negara lain terapkan
dengan melihat prosesdan hasil yang lebih baik. Tentunya dengan melihat
apakah bangsa kita mampu dan siap serta sesuai untuk melaksanakan sistem
yang akan diterapkan, sehingga kita dapat meniru sistem pendidikan dan

1
2

pedoman tersebut agar menuju ke arah yang lebih baik seperti negara yang
telah menganutnya.
Pendidikan komparatif membahas perbandingan secara ilmiah, dan
mempunyai tujuan untuk melihat persamaan dan perbedaan, kerjasama,
pertukaran pelajar antar bangsa dalam menciptakan perdamaian dunia.
Pendapat tersebut sebagai usaha menanamkan dan menumbuh kembangkan
rasa saling pengertian dan kerjasama antar bangsa, demi terpliharanya
perdamaian dunia, melalui proses pendidikan. Pendidikan komparatif juga
diperlukan,untuk melihat kemajuan,kuaitas pendidikan di negara maju
dibandingkan dengan negara berkembang.
B. Rumusan Masalah
1. Apa landasan koparatif dalam pendidikan di Indonesia?
2. Bagaimana sistem pendidikan di Indonesia?
3. Bagaimana sistem pendidikan di Firlandia?
4. Bagaimana sistem pendidikan di Amerika?
5. Bagaimana sistem pendidikan di Cina?
C. Tujuan
1. Mengetahui landasan koparatif dalam pendidikan di Indonesia.
2. Mengetahui sistem pendidikan di Indonesia.
3. Mengetahui sistem pendidikan di Firlandia.
4. Mengetahui sistem pendidikan di Amerika.
5. Mengetahui sistem pendidikan di Cina.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Landasan Komparatif dalam Pendidikan di Indonesia

Landasan mengandung arti sebagai alas, dasar, tumpuan, fondasi.


Landasan adalah suatu alas atau pijakan dari suatu hal. Komparatif adalah
suatu hal yang bersifat dapat diperbandingkan dengan suatu hal lainnya.
Landasan komparatif dalam pendidikan di Indonesia berarti dasar
untuk membandingkan sistem penyelenggaraan pendidikan di Indonesia
dengan negara lain.
Pendidikan menurut Undang-Undang Dasar 1945 terdapat pada 2 Pasal,
yakni Pasal 31 dan Pasal 32. Pada Pasal 31 Ayat 1 berbunyi: Tiap-tiap warga
negara berhak mendapatkan pengajaran. Ayat 2 pasal ini berbunyi: setiap
warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib
membiayainya. Ayat ini berkaitan dengan wajib belajar 9 tahun di SD dan
SMP.
Ayat 3 pasal ini berbunyi: pemerintah mengusahakan pendidikan
nasional. Ayat ini mengharuskan pemerintah mengadakan satu sistem
pendidikan nasional, untuk memberi kesempatan kepada setiap warga negara
mendapatkan pendidikan. Kalau karena suatu hal sekelompok masyarakat
tidak bisa mendapatkan kesempatan belajar, maka mereka bisa menuntut hak
itu kepada pemerintah.
Pasal 32 Undang-Undang Dasar itu pada ayat 1 bermaksud memajukan
budaya nasional serta memberi kebebasan kepada masyarakat untuk
mengembangkannya. Dan Ayat 2 menyatakan negara menghormati dan
memelihara bahsa daerah sebagai bagian budaya nasional. Mengapa pasak ini
juga berhubungan dengan pendidikan? Sebab penddikan adalah bagian dari
kebudayaan. Seperti yang kita ketahui bahwa kebudayaan adalah hasil dari
budi daya manusia. Kebudayaan akan berkembang bila budi daya manusia
ditingkatkan. Sementara itu sebagian besar budi daya bisa dikembangkan
kemampuannya melalui pendidikan. Jadi bila pendidikan maju, maka
kebudayaan pun akan maju, Begitupula sebaliknya.

3
4

Undang- Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan


nasional. Pertama pada pasal 1 ayat 2 dan ayat 5. Ayat 2 berbunyi sebagai
berikut: pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan pancasila
dan Undang-Undang Dasar 45 yang berakar pada nilai-nilai agama,
kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan
zaman. Undang-Undang ini mengharuskan pendidikan berakar pada
kebudayaan nasional dan nilai-nilai agama yang berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Ini berarti teori-teori pendidikan dan praktik-
praktik pendidikan yang diterapkan di Indonesia, tidak boleh tidak haruslah
berakar pada kebudayaan Indonesia dan agama. Tetapi kenyataan
menunjukkan bahwa kita belum mempunyai teori-teori pendidikan yang khas
yang sesuai dengan budaya bangsa. Kita sedang mulai membangunnya, teori
pendidikan kita masih dalam proses pengembangan(Sanusi, 1989).
Selanjutnya, Pasal 1 Ayat 5 berbunyi: Tenaga kependidikan adalah
anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan
pendidikan. Menurut ayat ini yang berhak menjadi tenaga kependidikan
adalah setiap anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya dalam
penyelenggaraan pendidikan. Sedang yang dimaksud dengan tenaga
kependidikan tertera dalam Pasal 39 Ayat 1, yang mengatakan tenaga
kependidikan mencakup tenaga administrasi, pengelola/kepala lembaga
pendidikan, penilik / pengawas, peneliti, dan pengembangan pendidikan,
pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar.1

B. Sistem Pendidikan di Indonesia

Pendidikan di Indonesia adalah seluruh pendidikan yang


diselenggarakan di Indonesia, baik itu secara terstruktur maupun tidak
terstruktur. Secara terstruktur, pendidikan di Indonesia menjadi tanggung
jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia (Kemdikbud), dahulu bernama Departemen Pendidikan Nasional
Republik Indonesia (Depdiknas). Di Indonesia, semua penduduk wajib
mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun,

1
Prof. Dr. Made Pidarta, Landasan Pendidikan, ( Jakarta: PT. RINEKA CIPTA, 2014), Hlm. 42-
46.
5

enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah pertama.
Saat ini, pendidikan di Indonesia diatur melalui Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan di Indonesia
terbagi ke dalam tiga jalur utama, yaitu formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan juga dibagi ke dalam empat jenjang, yaitu anak usia dini, dasar,
menengah, dan tinggi.Negara Indonesia merupakan negara yang mutu
pendidikannya masih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain
bahkan sesama anggota negara ASEAN pun kualitas SDM bangsa Indonesia
masuk dalam peringkat yang paling rendah. Hal ini terjadi karena pendidikan
di Indonesia belum dapat berfungsi secara maksimal untuk memperbaiki
pendidikan di Indonesia diperlukan sistem pendidikan yang responsif
terhadap perubahan dan tuntutan zaman. Perbaikan itu dilakukan mulai dari
pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Oleh karena
itu, bangsa Indonesia harus menggunakan sistem pendidikan dan pola
kebijakan yang sesuai dengan keadaan Indonesia.2

Sistem pendidikan di Indonesia, yang didasarkan pada sistem


pendidikan nasional, terdapat kesenjangan antara cita-cita dan kenyataan.
Hal ini dapat dilihat dari berbagai faktor seperti kelemahan pada sektor
manajemen, dukungan pemerintah dan masyarakat yang masih rendah,
efektifitas dan efisiensi pembelajaran yang masih lemah, inferioritas sumber
daya pendidikan, dan terakhir lemahnya standar evaluasi pembelajaran.
Akibatnya, harapan akan sistem pendidikan yang baik masih jauh dari sukses.
Berbagai solusi dikemukakan termasuk memperbarui kurikulum secara
nasional juga masih menemui berbagai kendala yang serius. Keadaan
tersebut membutuhkan reformulasi yang secara sistemik memperhatikan
berbagai faktor yaitu politik, ekonomi, sosial, dan budaya Indonesia.3

Dengan demikian jelaslah bahwa makna pendidikan sebagai sistema


dalah seluruh komponen yang ada dalam pendidikan (seperti lingkungan,

2
https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Indonesia, diakses pada tanggal 24 April 2019
pukul: 09.06 WIB
3
Munirah, SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA: antara keinginan dan realita Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar
6

masyarakat, sumber daya) dapat bekerja sama dalam mencapai tujuan


pendidikan pendidikan nasional, yang dalam implementasinya dapat
dilihat dari aspek-aspek sistem yaitu input-proses-output, dan hasil akhir
dari output dapat memberikan umpan balik terhadap input dan proses
sehingga dapat diketahui hasil akhir tujuan pendidikan.

Gambaran sistem pendidikan di Indonesia yang menganut Sistem


Pendidikan Nasional dapat dilihat dalam berbagai aspek antara lain sebagai
berikut:

1. Pengelolaan
Sistem Pendidikan dikelola sacara sentralistik, berlaku diseluruh
tanah air. Tujuan pendidikan, materi ajar, metode pembelajaran, buku ajar,
tenaga kependidikan, baik siswa, guru maupun karyawan, mengenai
persyaratan penerimaannya, jenjang kenaikan pangkatnya bahkan
sampai penilaiannya diatur oleh pemerintah pusat dan berlaku untuk
semua sekolah di seluruh pelosok tanah air. Di samping itu sistem
pendidikan diselenggarakan secara diskriminatif seperti masih terdapat
sekolah-sekolah atau perguruan tinggi yang dikelola oleh masyarakat.
Sekolah Swasta dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu terdaftar,
diakui, dan disamakan dengan sekolah Negeri. Perguruan negeri
dibiayai oleh pemerintah, sedang perguruan swasta dibiayai oleh
masyarakat. Sistem pendidikan berorientasi pada kepentingan dan bukan
untuk kepentingan anak didik, dan pengguna jasa pendidikan atau
masyarakat dengan dalih bahwa strategi pendidikan nasional adalah untuk
membekali generasi muda agar mampu membawa bangsa dan negeri ini
cepat sejajar dengan bangsa dan Negara lain yang lebih maju.
Pelaksanaan pendidikan dilakukan dengan mentalitas proyek dan bukan
dilaksanakan karena panggilan hati. Boleh jadi proyek pendidikan secara
hukum atau peraturan perundang-undangan telah dilaksanakan secara
benar, namun tidak ada jiwa pendidikan di dalamnya.
2. Peran Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah adalah pihak yang mengendalikan dan mengelola sistem
pendidikan secara nasional. Meskipun dalam UU SISDIKNAS dikatakan
7

bahwa masyarakat adalah mitra pemerintah dalam menyelenggarakan


pendidikan dan memiliki kesempatan yang seluas untuk berperan serta
dalam menyelenggarakan atau mengelola unit pendidikan, dengan tetap
pada ciri-ciri identitasnya. Namun dalam praktiknya, semuanya ditentukan
oleh pemerintah, lengkap dengan rambu-rambu dan ukuran-ukuran dalam
penilaiannya. Pemerintah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan
pendidikan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun
masyarakat, dalam rangka pembinaan dan perkembangan satuan
pendidikan yang bersangkutan. Peran masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan yang antara lain dimanifestasikan dalam penyelenggaraan
sekolah, keluarga, dan unit-unit pendidikan non-formal lainnya, formalis,
tidak berjiwa, terpisah-pisah, dan lepas dari sentuhan nilai-nilai
kemanusiaan, nilai-nilai agama, budaya, dan nilai-nilai keadaban lainnya.
Seperti disebutkan di muka, sekolah adalah milik masyarakat, bukan milik
pemerintah, individu dan kelompok.
3. Materi Ajar
Penyusunan materi ajar diarahkan untuk memenuhi kepentingan
pemerintah agar target pembangunan dapat mengejar pertumbuhan yang
telah ditetapkan. Pilihan dan penentuan serta level materi ajar
ditentukan pemerintah pusat, sedangkan sekolah dansatuan-satuan
penyelenggaraan pendidikan dibawahnya cukup sebagai pelaksana teknis
di lapangan. Dalam kaitannya dengan agama, ilmu dan agama diajarkan
secara terpisah yang disajikan secara fragmentaris, seperti halnya materi-
materi ajar untuk ilmu-ilmu umum. Terdapat dikotomi diantara
keduanya, tidak terdapat hubungan yang fungsional yang terjalin dalam
kesatuan yang integral diantara agama dan ilmu pengetahuan. Akibatnya
materi ajar lepas dari nilai agama dan hanya mampu mengembangkan
kecerdasan akal (intellectual quotient) dan tidak menyentuh
pengembangan kecerdasan emosi (emotional quotient) dan kecerdasan
spiritual (spiritual quotient), dan ketiga-tiganya (IQ, EQ, SQ) dalam
zaman modern ini diharapkan bersumber dari dan berkembang dalam RQ
(religious quotient).
8

4. Pendekatan dan Metodologi Pembelajaran


Sistem Pendidikan Nasional masih berpegang pada paradigm lama
bahwa ilmu diperoleh dengan jalan diberikan atau diajarkan oleh orang
lebih pandai atau guru kepada murid. Pola guru tahu murid tidak tahu, guru
memberi murid menerima, guru aktif murid pasif, masih terus
diparaktekkan. Tidak ada kritik atau koreksi terhadap pendapat guru, yang
ada adalah minta penjelasan kemudian menerima dan mengikutinya.
Paradigma itu jelas kehilangan tempat dalam konteks modern dimana ilmu
itu dicari. Polanya sudah berubah menjadi, guru memotivasi, mendorong,
memfasilitasi, menemani murid, mencari-bersama, menemukan ilmu.
Murid sendiri yang mencari ilmu dan memutuskannya. Kecuali itu
paradigma era reformasi ini, ilmu tidak dalam posisi dimiliki, tetapi
dalam proses menjadi, dimana pencari ilmu terus menerus dalam
proses menjadikan dirinya ilmuan atau cendekiawan yang tidak
kunjung berhenti. Dalam era global, sekolah boleh selesai, tetapi
belajar tidak pernah selesai.Bobot ilmu tidak terletakpada hasil akhir
atau final product, tetapi pada proses metodologi atau cara mencarinya.
Dengan kata lain, metode pembelajaran baru titik tekannya pada meneliti
dan bukan menerima barang jadi. Tidak ada yang salah dengan arah
model pembelajaran yang mengutamakan liability yaitu kerja keras,
penuh tanggung jawab, jujur, dan disiplin serta lurus.
5. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia dilaksanakan di bawah otorita kekuasaan
dan kekuatan administarsi birokrasi. Guru memerlukan sebagai pegawai
dan tidak sebagai tenaga pendidik dan pengajar. Perlakuan sebagai
pegawai mengutamakan kesetiaan, kejujuran, kedisiplinan, dan
produksi kerja. Sedangkan perlakuan sebagai pendidik atau pengajar,
selain mementingkan kejujuran (moral, kedisiplinan dan pengabdian), juga
sangat mementingkan kreativitas, inovasi dan dedikasi. Ada dua faktor
pokok mengapa sumber daya manusia pendidikan dapat bermutu rendah.
Pertama, kemiskinan karena penghasilan berada di bawah standar.
9

Kedua, sistem pengelolaan sebagai akibat penanganan sekolah dibawah


otorita kantor birokrasi dan bukan sebagai lembaga akademik.
6. Dana
Dana merupakan salah satu syarat yang ikut menentukan
keberhasilan penyelenggaraan pendidikan bermutu. Selama ini mutu
pendidikan nasional rendah dikeluhkan karena dana yang tidak
memadai. Penyelenggaraan pendidikan bermutu memang membutuhkan
dana. Tanpa adanya dana yang cukup berimplikasi pada rendahnya
pengelolaan pendidikan. Namun dana bukan satu-satunya unsure yang
menentukan keberhasilan usaha penyelenggaraan pendidikan. Hasil akan
tergantung pada tiga faktor kunci lainnya, yaitu: sistem, keahlian, dan
moral penyelenggara. Masalah yang dihadapi oleh pendidikan nasional
dalam memperoleh dan menggunakan anggaran pendidikan nasional ialah
banyak instansi atau departemen pemerintah yang terlibat, lengkap dengan
kewenangan dan otoritasnya masing-masing. Instansi itu adalah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri,
Kementerian Keuangan dan Departemen lainnya yang menyelenggarakan
kegiatan pendidikan, yang sesungguhnya bagian dari kegiatan pendidikan
nasional. Dalam mengajukan anggaran penyelenggaraan pendidikan ke
Bappenas dan anggaran rutin pendidikan ke Kementerian Keuangan tidak
ada koordinasi atau kerjasama dengan departemen- departemen tersebut.
Badan penelitian dan pengembangan Kementerian Pendidikan dan
Nasional mengidentifikasikan ada sejumlah masalah yang dihadapi sistem
pendidikan nasional, antara lain:
a. Orientasi dana dari pemerintah pusat dihitung persekolah dan bukan
dihitung permurid yang benar-benar aktif hadir mengikuti belajar
(jumlah resmi murid yang terdaftar pada awal penerimaan).
b. Pemerintah daerah kurang dilibatkan dalam mencari dana.
c. Sistem pendanaan tidak transparan.
d. Akibat ketidakjelasan sistem seperti sumber-sumber dana dari
pemerintah, daerah tidak pernah menyentuh sekolah.
10

e. Sistem pendistribusian buku-buku pelajaran melalui bantuan dana


menjadi tidak efektif dan tidak efisien.
f. Sampai saat ini dana pendidikan Indonesia berada jauh di bawah
standar dana pendidikan secara internasional.
g. Secara keseluruhan efek dari dana yang rendah lengkap dengan
sistemnya yang tidak transparan, dan tidak efektif menjadikan
pendidikan sebagai “investasi sumber daya manusia” tidak mampu
memberikan hasil yang cepat dan memadai baik untuk pertumbuhan
ekonomi secara kolektif maupun untuk pertumbuhan mengangkat
kesejahteraan kehidupan individual, terutama bagi anak-anak sekolah
dari kelompok tani miskin dan rakyat miskin lainnya.
7. Academic Atmosphere
Seperti dikemukakan diatas, unit pendidikan, sekolah-sekolah, dan
perguruan tinggi tidak diselenggarakan dibawah otoritas akademik, tetapi
dilaksanakan di bawah otoritas kekuasaan birokrasi atau perkantoran.
Oleh karenanya atmosfir akademik di kampus-kampus pada umumnya
banyak yang kurang mendorong kegairahan belajar-mengajar. Bangunan-
bangunan dan lokal-lokal belajar sempit dan saling berdekatan serta tidak
kedap suara, karena memang tidak didesain untuk kerja akademik.
Kebanyakan sekolah tidak memiliki halaman bermain, kepustakaan yang
cukup menampung civitas akademika untuk datang membaca dan belajar.
Tidak ada ruang khusus diskusi, seminar, ruang kerja dosen dan guru-guru
yang relative privacy, tidak memiliki laboratorium untuk melakukan
berbagai eksperimen baik di dalam maupun diluar ruangan.
8. Evaluasi Diri dan Akreditasi
Evaluasi diri dilakukan oleh penyelenggara sendiri dan
akreditasidilakukan oleh pihak luar, baik oleh pemerintah, pasar, dan
pengguna jasa pendidikan atau stake holder lainnya. Kedua evaluasi
tersebut kurang membudaya di lingkungan penyelenggara pendidikan,
sehingga peserta didik tidak mengetahui sekolah seperti apa tempat
mereka belajar. Pasar dan pengguna jasa pendidikan juga tidak
mengetahui lulusan dari sekolah sepertiapa yang mereka butuhkan dan
11

sebagainya.Kenyataannya,hinggasaatinidalamSistemPendidikanNasional
hanyaadasatuBadanAkreditasiNasionalPerguruanTinggi(BAN-
PT)(Mastuhu, 2003: 32-64).

C. Sistem Pendidikan di Firlandia

Saat ini, pendidikan di Indonesia masih di tingkat yang memprihatinkan


dan mutu pendidikan yang masih rendah. Berdasarkan hasil tes PISA
(Programme for International Student Assessment) yang dilakukan oleh
OECD (Organization for Economic Cooperation & Development), Indonesia
berada di urutan bawah dari 65 negara yang mengikuti tes PISA untuk
kategori math, sains, dan reading.
Lalu, negara manakah yang menduduki rangking pertama? Adalah
Finlandia, Negara yang mendominasi peringkat satu sejak pertama kali tes
PISA dilakukan pada tahun 2000 dan berhasil mempertahankan posisi
sebagai nomor satu hingga tahun 2009. Hasil tes 2009 menunjukkan
Finlandia menduduki rangking kedua untuk reading, rangking kedua untuk
matematika dan rangking pertama untuk sains. Secara keseluruhan,
newsweek melaporkan bahwa Finlandia nomor 1 di dunia di bidang
pendidikan, kewarganegaraan dan kualitas masyarakat. Tes seperti apakah
PISA itu sehingga masyarakat dunia sekarang memperhatikan Finlandia
karena menduduki peringkat satu terutama di bidang pendidikan? Programme
for International Student Assessment (PISA) adalah survey internasional tiga
tahunan yang bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan di dunia
dengan melakukan tes kemampuan dan pengetahuan siswa usia 15 tahun.
PISA pertama kali dilakukan pada tahun 2000. Dengan demikian, PISA
telah dilakukan sebanyak empat kali, yang kesemuanya rangking pertama
secara umum dimenangkan oleh Finlandia. Dan hasil tes 2012 akan
dikeluarkan pada 3 Desember 2013. Menurut Pasi Sahlberg, seorang ahli
pendidikan di Finlandia, keberhasilan Finlandia memang bertolak belakang
dengan arah Global Education Reform Movement (GERM), yang
menekankan pada kompetisi, standarisasi, akuntabilitas Berdasar nilai tes dan
kebebasan memilih sekolah pemerintah atau swasta. Sebenarnya, apa sih yang
dilakukan Finlandia untuk sistem pendidikan mereka? Tulisan ini akan
12

membahasnya satu per satu. Di Finlandia, profesi guru dipandang sangat


populer bukan karena gajinya yang tinggi melainkan karena status sosial yang
sangat terhormat di masyarakat.
1. Seleksi untuk jadi guru sangat kompetitif. Hanya siswa-siswa terbaik yang
melamar keprogram pendidikan guru, dan yang diterima hanya
10%.Pelamar dinilai berdasarkan nilai rapor SMA, aktifitas ekstra
kurikuler dan skor Matriculation Exam (kalau di Indonesia namanya UN).
Setelah lulus tes, kemudian mereka diobservasi dalam hal teaching-like
activity dan wawancara, karena syarat utama menjadi tenaga pendidik di
Finlandia adalah memiliki jiwa mendidik atau pedagogi.
2. Setiap guru di Finlandia minimal harus bergelar master alias S2. Hanya 11
universitas yang memiliki program pendidikan guru, jadi memudahkan
dalam mengontrol kualitas dan standar konsistensi program pendidikan.
Untuk mendapat gelar master, mahasiswa harus menyelesaikan 5 tahun
pendidikan research-based yang menekankan pengetahuan tentang
pedagogik. Sebelum lulus mahasiswa juga harus mengikuti magang
selama satu tahun penuh mengajar di sekolah yang bekerja sama dengan
universitas tempat mereka kuliah. Sekolah-sekolah ini adalah sekolah
model, dimana para guru dan peneliti mengembangkan metode-metode
baru dan menyelesaikan penelitian mengenai belajar mengajar.
3. Gaji guru bukanlah profesi yang bergaji paling tinggi, namun besarannya
tidak begitu jauh berbeda dengan penghasilan dokter, pengacara, atau
tenaga professional lainnya. Guru sekolah lanjutan tahun pertama gaji
minimal $34,707; dan gaji paling tinggi sebesar $54,181. Rata-rata OECD
untuk guru sekolah lanjutan tahun pertama bergaji $31,687; dan gaji
tertinggi sebesar $51,317. Dan jumlah gaji tersebut lebih rendah daripada
gaji-gaji tenaga professional di Finlandia. Ratio of Lower Secondary
Education Teachers’ Salary to GDP per Capita (2008) 4
4. Dalam hal kurikulum, pemerintah hanya membuat panduan umum berupa
target (goals). Dan guru diberi kebebasan bagaimana caranya untuk

4
http://www.nabawia.com/read/1322/12-perbedaan-sistem-pendidikan-Indonesia-finlandia.
diakses pada 02 Maret 16.00 wib
13

mencapai target tersebut. Guru bebas memakai metode mengajar maupun


buku teks apa pun.
5. Guru mengajar kelompok siswa yang sama sampai beberapa tahun.
Dengan demikian, guru dapat lebih mengenal siswa-siswanya sekaligus
dapat memantau perkembangan akademik, sosial dan emosionalnya.Dan
setiap guru wajib membuat evaluasi mengenai perkembangan belajar
setiap siswanya.Dan satu kelas maksimal jumlah siswa hanya 12 orang
sehingga guru dapat lebih mudah memantau seluruh siswanya.
6. Tidak ada standarisasi pendidikan di Finlandia karena berlawanan dengan
kreatifitas. Mereka percaya semakin standarisasi ditekankan, semakin
sempit ruang kreatifitas. Menurut guru di Finlandia, mata pelajaran
terpopuler di kalangan siswa adalah art & craft terutama kerajinan kayu
(woodwork). Selain itu, guru di Finlandia menekankan pentingnya waktu
bermain, yang dipercaya dapat meningkatkan performa akademik siswa,
membantu perkembangan kognitif, afektif dan sosial. Prinsipnya dalam 1
jam pelajaran, 45 menit dialokasikan untuk belajar dan 15 menit untuk
bermain bebas sesuai kehendak siswa. Karenanya, waktu istirahat sangat
banyak di sekolah-sekolah Finlandia bahkan hingga sekolah lanjutan atas.
Guru mengurangi mengajar dengan metode ceramah dengan persentase
40% guru dan 60% siswa.5
7. Waktu mengajar guru di Finlandia 4 jam sehari dan 2 jam per minggu
untuk “professional development”. Hasil PISA menunjukkan waktu
mengajar guru di Finlandia lebih rendah daripada guru-guru di negara lain
pada umumnya.
8. Wajib belajar adalah 9 tahun. Tidak memberlakukan pemisahan
pendidikan dasar dan lanjutan sehingga tidak perlu berganti sekolah di usia
13 tahun. Kebijakan ini dilakukan untuk menghindari masa transisi yang
perlu dialami oleh siswa, yang dianggap dapat mengganggu pendidikan
mereka.Pasi Sahlberg said "The first six years of education are not about
academic success. We don’t measure children at all. It’s about being

5
https://www1-media.acehprov.go.id/uploads/pendidikan_di_finlandia.pdf di akses pada 02
Februari 2019 12.29 WIB
14

ready to learn and finding your passion." (Selama enam tahun pertama,
anak-anak Finlandia tidak dituntut untuk pintar secara akademik
(menguasai pelajaran atau menjadi pintar dalam suatu bidang). Sama
sekali tidak ada tes. Masa itu adalah masa-masa penting bagi mereka untuk
belajar apa pun dan menentukan sendiri apa yang ingin mereka lakukan).
9. Di sekolah tidak ada PR dan tes. PR dan tes hanya diberikan pada remaja
dan itu pun jarang sekali. Terlalu banyak tes membuat guru cenderung
mengajar siswa hanya untuk lulus ujian, padahal banyak aspek dalam
pendidikan yang tidak bisa diukur hanya dengan ujian. Para guru sangat
menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Setiap siswa
diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta
membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan
nilai siswa lainnya.
10. Finlandia menganut automatic promotion, naik kelas otomatis. Guru siap
memberi perhatian lebih untuk membantu siswa yang tertinggal, berupa les
privat, sehingga semua naik kelas.
11. Di sekolah Finlandia tidak ada rapor maupun rangking karena dipandang
hanya membuat guru berfokus pada murid-murid terbaik saja, bukan
seluruh murid.Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya
masing-masing.
12. Tidak ada pengkotak-kotakkan siswa dalam kelas yang berbeda (kelas inti,
kelas regular, kelas berbahasa Indonesia, kelas bilingual), juga tidak ada
pengkastaan sekolah (sekolah berstandar nasional, sekolah nasional plus,
sekolah berstandar internasional). Bahkan sekolah swasta pun mendapat
besaran dana yang sama dengan sekolah negeri.Dengan demikian, tidak
ada kesenjangan.
13. Di Finlandia tidak ada standarisasi tes karena kemampuan tiap siswa tidak
sama. Melakukan tes baku untuk semua siswa sama sekali tidak
menghasilkan mutu pendidikan yang baik.
14. Pemerintah membuat kebijakan untuk menumbuhkan minat baca dengan
menjadikannya sebagai kultur. Cara-cara yang ditempuh oleh pemerintah
antara lain dengan membuka perpustakaan menyatu dengan pusat
15

perbelanjaan dan pustaka keliling bagi daerah yang sulit dijangkau serta
menyiarkan program berbahasa asing dengan teksterjemahan dalam bahasa
Finnish di stasiun TV sehingga anak-anak bahkan membaca saat menonton
TV.Selain itu, untuk tiap bayi yang lahir kepada keluarganya diberi
maternity package berisi 3 buku bacaan untuk ibu, ayah dan bayi itu
sendiri.
15. Pendidikan di Finlandia murni public good, yang berarti bahwa investasi
berasal dari publik melalui pajak, dan manfaat hasil pendidikan dinikmati
oleh publik juga. Pendidikan di Finlandia gratis dari sekolah dasar hingga
program doktoral. Hanya 4% dari keseluruhan institusi pendidikan di
Finlandia yang tidak didanai oleh pemerintah melalui pajak. Walaupun
gratis, pemerintah Finlandia juga berkomitmen untuk menjamin kualitas
tinggi pada semua sekolah tanpa kecuali. Ini berlaku bagi siswa dari
keluarga miskin atau kaya, didesa maupun di kota, di daerah jarang
penduduknya atau yang rapat penduduknya. Sekolah-sekolah di Finlandia
tidak menjual nama karena mutu semua sekolah adalah sama. Orang tua
dapat dengan mudah memilih sekolah mana saja untuk anaknya tanpa
harus ragu akan kualitas sekolah tersebut. Yang membedakan hanya 2 hal,
yaitu setiap sekolah memiliki pelajaran bahasa asing yang berbeda dan
olahraga khusus.
16. Kurikulum pendidikan di Finlandia tidak pernah berubah. Komitmen
untuk terus melaksanakan sistem pendidikan berkualitas tinggi ini dijaga
dengan baik walaupun sudah lebih dari 20 menteri pendidikan berganti
sejak reformasi pendidikan Finlandia diluncurkan sejak 1970. Finlandia
adalah negara yang tidak mempunyai sumber daya alam yang cukup dan
kondisi geografis yang kurang menguntungkan. Namun mereka menyadari
bahwa sumber daya sesungguhnya adalah ‘brain’, yaitu anak manusia.
Semua lapisan masyarakat dengan segala macam profesi apakah itu guru,
kepala sekolah, politisi, dokter, pengacara, setuju untuk membuat dan
konsisten akan suatu standar pendidikan yang tinggi.6

6
http://ahok.org/berita/news/buku-tentang-sistem-pendidikan-finlandia-oleh-oleh-dari-dubes-
finlandia-untuk-ahok/ di akses pada 02 Maret 2019 15.00 wib
16

Dari poin-poin yang diuraikan terlihat bahwa pendidikan di Finlandia


menjadi bagus mutunya karena mendapat dukungan penuh dari pemerintah,
sistem pendidikan yang fleksibel dan tidak memberatkan siswa sertatenaga
pendidik yang handal (baik dalam mengembangkan kurikulum maupun
sebagai peneliti).

D. Sistem Pendidikan di Amerika

Bangsa Amerika Serikat sangat megutamakan pendidikan warga


negaranya, karena melalui pendidikan inilah suatu bangsa dapat menjadi
negara yang maju dan sejahtera kehidupannya.Pada tahun 1872 pemerintah
pusat Amerika Serikat mengiventerasi kebijakan pemerintah pusat dengan
cara memberikan tanah negara untuk pembangunan fakultas-fakultas
pertanian,teknik,menyediakan pinjaman bagi mahasiswa, menyediakan
anggran penelitian mahasiswa dan lain sebagainya. Namun semenjak
pemerintahan Presiden Ronald Reagen intervensi pemerintah pusat Amerika
Serikat terhadap pendidikan mulai dikurangi dan selanjutnya tanggung jawab
dan inisiatif kebijakan pendidikan diserahkan kepada pemerintah provinsi dan
juga pemerintah distrik atau daerah yang diberi kewenangan dan otonomi
untuk mengelola pendidikan.

Amerika serikat tidak memiliki sistem pemerintahan nasional atau


terpusat,namun disana tetap ada beberapa tujuan pendidikan yang bersifat
nasional. Tujuan tersebut diantaranya adalah:

1. Mencapai kesatuan dalam keragaman


2. Mengembangkan cita-cita dan praktek demokrasi
3. Membantu mengembangkan individu
4. Memperbaiki kondisi sosial masyarakat
5. Mempercepat kemajuan nasional
Manajemen pendidikan Amerika Serikat sendiri dikelola berdasarkan
aspirasi dan kebutuhan masyarakat negara bagian dan pemerintah daerah
setempat. Departemen Pendidikan Federal merupakan suatu departemen yang
dibentuk di tingkat nasional yang dipimpin oleh seorang setaraf Sekretaris
17

Kabinet yang bertugas melaksanakan semua kebijakan pemerintah federal


dalam sector pendidikan disemua jenjang pendidikan dan menjalakan
monitoring serta pengawasan saja. Di tingkat negara bagian sendiri terdapat
suatu badan yaitu Board of Education yang bertugas membuat kebijakan serta
menentukan anggaran pendidikan untuk masing-masing wilayahnya,
khususnya pendidikan dasar dan menengah. Commisioner atau yang sering
disebut Superintendent menangani masalah yang lebih teknis yaitu tentang
guru-guru, kurikulum, persyaratan sertifikasi, dan pembiyaan sekolah.
Badan kebijakan Pendidikan Tinggi adalah Board of Trustess yang
menangani kebijakan akademik dan juga keuangan yang ditunujk oleh
Gubernur Negara Bagian. Ada juga yang dipilih dari dan oleh kelompok yang
akan diwakili, sedangkan untuk perguruan swasta anggota badan tersebut
dipilih dari perguruan tinggi masing-masing. Pendanaan pendidikan di
Amerika Serikat sendiri berasal dari anggaran pemerintah pusat (federal),
anggaran pemerintah negara bagian dan anggaran pemrintah daerah.

Pada tahun 1999 pemerintah Amerika Serikat mencanangkan reformasi


pendidikan dan AS George H.B. Bush serta gubernur negara bagian
menyetujuinya, reformasi pendidikan dengan mencanangkan 6 tujuan yang
berisi:7

1. Tahun 2000 seluruh anak di Amerika Serikat diwaktu mulai masuk


sekolah dasar sudah siap untuk belajar.
2. Tahun 2000 tamatan sekolah menengah naik sekurang-kurangnya 90%.
3. Tahun 2000 murid di Amerika Serikat yang menyelesaikan pendidikannya
pada grade 4, 8, 12 mampu menunjukkan kemampuannya dalam mata
pelajaran yang menantang, yaitu bahas inggris, matematika, sains, sejarah,
dan geografi.
4. Tahun 2000 murid Amerika Serikat diharapkan mampu menjadi murid
yang terbaik di dunia dalam bidang sains dan matematika.

7
Albab, Ulul, Perbandingan Kebijakan Pendidikan AS-Indonesia, (Surabaya, 2005), hlm 7.
18

5. Tahun 2000 orang dewasa dapat membaca, menulis, memiliki ilmu


pengetahuan, ketrampilan untuk bersaing dalam ekonomi global, serta
dapat melaksanakan hak dan juga kewajiban sebagai warga negaranya.
6. Tahun 2000 setiap sekolah di Amerika Serikat harus bebas dari obat
terlarang dan kekerasan.
Pokok-pokok reformasi ini digunakan sebagai pedoman membuat
kebijakan dan pokok-pokok reformasi ini telah ditindak lanjuti dengan
berbagai gebrakan kreasi salah satunya dari kalangan gubernur dipelopori
oleh Gubernur Bill Clinton dan Lamar Alexander yang membuat pendidikan
Amerika Serikat mengalami kemajuan yang sangat baik sehingga mendapat
perhatian khusus dari pemerintah. Gebrakan yang yang dilakukan itu
diantaranya:
1. Meningkatkan persyaratan untuk menamatkan suatu jenjang pendidikan8
2. Melaksanakan test untuk mengukur keberhasilan siswa.
3. Menjalankan penilaian sistem yang ketat terhadap guru sejalan dengan
pembenahan jenjang karir bagi guru-guru.
4. Memperbesar tambahan dana dari negara bagian bagi sekolah-
sekolah.Tambahan dana baru ini digunkan untuk meningkatkan gaji guru
yang pada saat itu masih rendah.
Keberhasilan Amerika Serikat membuat kebijakan inilah membuat
pendidikan di Amerika Serikat menjadi lebih maju sehingga mendapat
perhatian khusus. Namun, disamping keberhasilan tersebut pasti terdapat
berbagai problem. Problem tersebut dapat diketahui dari beberapa pertanyaan
sebagai berikut:
1. Bagaimana seharusnya hubungan pendidikan dengan organisasi
keagamaan?
2. Bagaimana seharusnya hubungan pendidikan dengan politik negara?
3. Bagaimana seharusnya hubungan pendidikan dengan masing-masing
individu warga negara?
4. Bagaimana seharusnya hubungan negara dengan individu warga negara
dan perkembangannya?

8
Albab, Ulul, Perbandingan Kebijakan Pendidikan AS-Indonesia, (Surabaya, 2005), hlm 8.
19

Dari pertanyaan ini dapat kita ketahui bagaimana pemerintah Amerika


Serikat menanggapi persoalan ini diantaranya:
1. Thomas Jeffreson Presiden Amerika Serikat 1776 memproklamasikan
tentang “The Declaration of Independence” (Deklarasi Kemerdekaan),
bahwa dalm mendirikan lembaga kependidikan bangsa Amerika Serikat
memiliki kebebasan sendiri yang dijamin oleh Undang-Undang Negara.9
Pemerintah pusat dan daerah tidak mencampuri urusan pendidikan
keagamaan dari masing-masing organisasi gereja, karena masalah agama
bukan urusan pemerintah, melainkan urusan pribadi rakyat Amerika.
Antara agama dan negara benar-benar dipisahkan dan warga negara
Amerika diberi kebebasan memeluk agamanya masing-masing.
2. Politk kenegaraan Amerika Serikat adalah demokrasi liberal berdasarkan
hak-hak asasi manusia yang dikemukakan oleh Franklin D. Roosevelt
tahun 1941 yang isinya adalah:
a. Bebas bicara dan mengeluarkan pendapat
b. Bebas beribadat menurut keyakinannya
c. Bebas dari kemiskinan
d. Bebas dari ketakutan(ancaman agresi bangsa lain)
Pendidikan di Amerika Serikat semua jenjang diarahkan untuk
membentuk watak negaranya menjadi manusia yang berjiwa demokratis,
bebas beragama, berpolitik anti10 komunisme bebas dari kemiskinan, bebas
dalam mengeluarkan pendapat dan juga bebas dari rasa takut.
3. Warga negara Amerika Serikat diberi kebebasan memilih pekerjaan dan
keahlian sesuai bakat dan kemampuan individual. Mereka diberi
kebebasan luas untuk memilih sekolah yang dapat mengembangkan bakat
dan kemampuan masing-masing. Hal ini berdasarkan pada kebijakan yang
daimbil dalam White House Conference yang menyatakan bahwa
kebijakan mendorong setiap anak untuk mengembangkan bakat
20

individualnya akan sangat berguna bagi bangsa, sehingga tak ada bakat
yang terbuang sia-sia dan taka da pula ketrampilan yang hilang di tanah air
kita .
4. Perkembangan pribadi warga negara Amerika Serikat lenih diutamakan.
Setiap orang dibina dan dikembangkan sesuai dengan kemampuannya,
serta didorong umtuk belajar berpikir dan mengevaluasi dirinya sendiri,
maka dia pun akan memberikan sumbangan yang lebih banyak untuk
membantu memberikan kesejahteraan negaranya.

E. Sistem Pendidikan di Cina

Negara Cina dengan populasi terbesar di dunia tentunya tidaklah mudah


untuk mengoorganisir sekolah-sekolah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan dasar sampai menengah, namun kendati demikian Cina sukses
memaksa penduduk usia sekolah sebanyak 85% untuk mengenyam wajib
belajar pada tahun 2000, dan mengalami peningkatan sebanyak 93% pada
tahun 2004.11
1. Struktur pendidikan Cina
Struktur pendidikan Cina tidak jauh beda dengan struktur pendidikan
Indonesia. Hal tersebut terlihat dari terbaginya pendidikan menjadikan
berbagai jenjang sesuai dengan perkembangan anak, yaitu: pendidikan
PAUD(Pendidikan Anak Usia Dini) selama tiga tahun, pendidikan dasar
yang setara dengan SD/MI selama 6 tahun, pendidikan menengah pertama
selama tiga tahun, dan pendidikan menengah atas selama tiga tahun pula.
Selain itu terdapat pula pendidikan tinggi setingkat akademisi 2-3 tahun,
pendidikan kejuruan teknik empat tahun, pendidikan gelar sarjana selama
empat tahun, pendidikan gelar magister 2-3 tahun , dan pendidikan doktor
selama tiga tahun. Kendati demikian, pemerintah Cina menetapkan sistem
wajib belajar selama 9 tahun , tiga tahun pendidikan dasar atau SD dan tiga
tahun pendidikan menengah pertama atau SMP.

11
Chaerun Anwar. “Sistem Pendidikan di Cina”,
(https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/37079307, diakses pada 04 Maret 2019
pukul 19.10 WIB).
21

Kemudian setelah menyelesaikan wajib belajar 9 tahun, siswa


menempuh ujian nasional untuk memasuki pendidikan menengah atas
yang terdiri dari tiga kategori, yaitu:
a. SMA umum, yaitu sekolah menengah atas yang mempersiapkan
siswanya untuk ke jenjang pendidikan tinggi.
b. SMA spesialis/teknik, yaitu sekolah menengah atas yang
mempersiapkan siswanya dengan keterampilan dan diklat khusus di
bidang teknik agar setelah lulus siap untuk terjun ke dunia kerja atau
bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi.
c. SMA vokasi/profesional, yaitu sekolah menegah atas yang
mempersiapkan siswanya dengan keterampilan dan diklat khusus di
bidang vokasi yang siap terjun ke dunia kerja. Untuk pendidikan tinggi,
diselenggarakan oleh berbagai perguruan tinggi seperti universitas,
institusi, universitas vokasi, dan akademisi.12
2. Kurikulum pendidikan
Kurikulum pendidikan di Cina setidaknya telah mengalami
perubahan sebanyak tujuh kali sejak Republik Rakyat Cina berdiri tahun
1949 hingga perubahan terakhir kali pada tahun 2007. Perubahan
kurikulum dilakukan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan agar Cina dapat
menyesuaikan dengan kebijakan ekonomi dan pasar kerja domestik
maupun global.
Kurikulum dirumuskan oleh Komisi Pendidikan Negara (SEDC)
yang sangat fleksibel dan bervariasi didasarkan pada kemampuan dan
karakteristik wilayah, kota, dan desa, dengan memberikan keleluasaan
bagai daerah/pedesaan untuk menambahkan kurikulum lokal, dengan
acuan sebagai berikut: SD memuat 10 mata pelajaran yang berbeda antara
perkotaan dan pedesaan, untuk SD pedesaan misalnya memuat mata
pelajaran pertanian selain mata pelajaran inti, moral, matematika, bahasa
Mandarin, sedangkan untuk SD perkotaan diwajibkan mata pelajaran

12
Chaerun Anwar. “Sistem Pendidikan di Cina”,
(https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/37079307, diakses pada 04 Maret 2019
pukul 19.10 WIB).
22

olahraga; SMP memberikan 13 mata pelajaran wajib, termasuk


diantaranya: pendidikan moral, politik, bahasa Mandarin, bahasa Asing,
dan matematika; sedangkan untuk SMA disesuaikan dengan keinginan
siswa, kebutuhan sosial masyarakat serta kondisi lembaga setempat,
dengan beberapa mata kuliah pilihan.13
Kemudian secara rinci tujuan kurikulum tertuang dalam falsafah
Su‐Shi‐Jiao‐Yu yang merupakan perwujudan pendidikan berorientasi
kualitas. Berikut tujuan kurikulum yang dimaksud:
a. Mengembangkan rasa patriotisme, kolektivisme, cinta sosialisme,
dan pelestarian tradisi budaya nasional.
b. Mengembangkan kesadaran/rasa demokrasi sosialis dan taat aturan
hukum serta mematuhi hukum dan norma‐norma sosial.
c. Mengembangkan cara pandang hidup sehat dan bertumpu pada
nilai‐nilai kehidupan.
d. Mengembangkan rasa tanggung‐jawab sosial dan kewajiban untuk
melayani rakyat.
e. Membudayakan semangat kreativitas, kemampuan praktek,
kompetensi ilmiah dan humanistik dan kesadaran lingkungan.
f. Mengembangkan dasar pengetahuan, keterampilan dan pendekatan
untuk belajar sepanjang hayat.
g. Mengembangkan tubuh yang sehat, kualitas psikologis yang solid,
apresiasi estetika dan cara‐cara hidup sehat.14
3. Sistem penjaminan mutu
a. Mekanisme penjaminan mutu
Mutu pendidikan sendiri bisa dinilai melalui hasil evaluasi
pendidikan. Evaluasi pendidikan dilakukan dengan pelaksanaan
berbagai sistem ujian.

13
Riyana, Cepi. 2008. Studi Perbandingan Kurikulum Cina, Korea, dan Jepang.
(http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/197512302
001121-CEPI_RIYANA/10_Perbandingan_Kurikulum.pdf), diakses pada 04 Maret 2019 pukul
19.30 WIB)
23

Untuk jenjang SD sendiri tidak diberlakukan ujian nasional.


Dalam proses penerimaan siswa SMP tidak menggunakan hasil UN,
namun dengan sistem regionalisasi yaitu siswa yang berada di wilayah
yang sama dengan SMP yang hendak dituju akan langsung diterima,
sedangkan siswa yang berasal dari lintas wilayah akan diberlakukan tes
untuk masuk ke SMP tersebut.
Kemudian standar kelulusan dan keberhasilan belajar siswa SD
ditentukan oleh nilai rapor selama belajar di SD dengan nilai terendah
80 untuk mata pelajaran utama (bahasa Mandarin, bahasa Inggris, dan
Matematika) dan untuk mata pelajaran lain diberlakukan standar nilai
kelulusan 70 (olahraga, IPS, IPA, musik, dan komputer).
Lain hal dengan jenjang SMP, kelulusan ditentukan dengan ujian-
ujian, sebagai berikut:
1) Ujian Huikao, yaitu ujian sekolah yang mengujikan mata pelajaran
selain mata pelajaran UN. Mata pelajaran tersebut meliputi:
Olahraga, IPS(Geografi, Sejarah, dan Ilmu Politik), IPA(Biologi,
Fisika, dan Kimia), musik, dan komputer.
2) Ujian Nasional, yaitu mengujikan mata pelajaran bahasa Mandari,
bahasa Inggris, dan Matematika. Dan selanjutnya nilai hasil UN
digunakan siswa untuk mendaftar ke jenjang SMA. Tiap SMA
menetapkan skor tersendiri kemudian dilaporkan hasilnya ke Dinas
Pendidikan Kota & Kabupaten untuk kemudian didaftarkan di bursa
penerimaan siswa.

Untuk jenjang SMA diberlakukan ujian berupa:

1) Ujian Huikao, yaitu ujian sekolah yang mengujikan mata pelajaran


komputer, seni, dan olahraga.
2) Ujian Gaokao/collegeentrancetest. Mata pelajaran yang diujikan
berupa bahasa Mandarin, bahasa Inggris, Matematika, IPA terpadu(
untuk jurusan IPA), dan IPS terpadu( untuk jurusan IPS). Standar
kelulusan untuk ujian Gaokao adalah 70 dengan deskripsi nilai
sebagai berikut:
24

a) Tidak lulus, nilai 0 s.d. 60


b) Lulus dan bisa melanjutkan ke program vokasinon-gelar, nilai 61
s.d. 75
c) Lulus dan bisa melanjutkan ke program pendidikan gelar, nilai 76
s.d. 100
Tercatat pada tahun 2013 sebanyak 72,04% siswa SMA
dinyatakan lulus. Siswa yang tidak puas dengan hasil ujian Gaokao
dapat mengulang kembali di tahun berikutnya, sedangkan bagi siswa
yang tidak lulus Gaokao tetap bisa menamatkan pendidikannya di SMA
dan tidak perlu mengulang dengan syarat membuat laporan atau tugas
akhir yang ditentukan oleh sekolah. Siswa tersebut akan diberi surat
tanda tamat belajar Xuewei, namun seumur hidup tidak bisa
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dari SMA.
Bila siswa kedapatan menyontek saat ujian, maka yang
bersangkutan akan dikenakan sanksi tidak boleh mengikuti Gaokao
pada tahun berikutnya dan surat tanda tamat belajar siswa tersebut akan
diberi tanda untuk mengindikasikan bahwa yang bersangkutan berbuat
curang selam ujian.15
b. Institusi penjaminan mutu
Institusi yang bertugas membuat penilaian pendidikan adalah Test
Center (TC) di bawah komisi penilaian pendidikan di setiap departemen
dan kementrian pendidikan. TC berada di setiap dinas pendidikan
provinsi, kabupaten, dan kota. Dalam pelaksanaan tugasnya TC
berkoordinasi dengan komisi pengawas pendidikan. TC berwenang
membuat kisi-kisi ujian, membuat soal dan menyeleksi soal yang dibuat
oleh guru atau kelompok kerja guru serta memberikan pelatihan kepada
guru bagaimana membuat perangkat penilaian.
4. Sistem Pendanaan Pendidikan
Cina sebagai salah satu negara penganut sosialis komunis, umumnya
sistem dan metode pendanaan pendidikan dikendalikan dan diatur oleh

15
Chaerun Anwar. “Sistem Pendidikan di Cina”,
(https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/37079307, diakses pada 04 Maret 2019
pukul 19.10 WIB).
25

pemerintah pusat dalam suatu konsep pasar ekonomi berencana.


Pengeluaran pendidikan sebagian besar berasal dari cadangan devisa
negara.
Dalam pendanaan pendidikan menggunakan metode pendanaan yang
disesuaikan dengan situasi dan kondisi pendidikan negara dan tidak boleh
bertentangan dengan ideologi sosialis yang dianut oleh partai komunis di
negara tersebut. Mengingat jumlah populasi yang semakin membesar
seiring bergantinya zaman serta terjadinya perkembangan budaya, adat
istiadat, dan kemajuan masing-masing provinsi yang berbeda-beda
menjadikan metode pendanaan juga berevolusi yang kemudian di bedakan
menjadi tiga kategori, yaitu:
a. Metode pendanaan sentralisasi terpusat
Metode ini diterapkan dari tahun 1949 sampai tahun 1980.
Prosedur pendistribusian dana dalam metode ini adalah dengan cara
mengalirkan dana dari pusat, ke provinsi, kabupaten, kelurahan sampai
ke sekolah-sekolah. pada awal tahun 1980 sistem ini dinilai tidak lagi
relevan dengan keadaan politik dan ekonomi Cina. Selain itu, meskipun
ekonomi Cina mengalami peningkatan secara signifikan, tetapi
tunjangan dan aliran dana pemerintah di bidang pendidikan tergolong
masih sangat sedikit. Tercatat pada tahun 1980, pemerintah hanya
mengalirkan dana ke bagian instansi pendidikan yang harus bergantung
pada pemungutan pajak atau subsidi lainnya untuk terus dapat bertahan
di Cina. 16
b. Metode pendanaan desentralisasi
Metode ini dilaksanakan mulai tahun 1980 sampai tahun 1990an.
Hal ini terjadi seiring dengan berubahnya sistem ekonomi Cina dari
sistem ekonomi terencana menjadi sistem ekonomi pasar ala sosialis.
Di dalam metode pendanaan desentralisasi ini, pemerintah Cina
memberikan otonomi dan kebebasan yang lebih kepada provinsi,
daerah, kabupaten, dan komunitas lokal lainnya dalam mengatur dan

16
Chaerun Anwar. “Sistem Pendidikan di Cina”,
(https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/37079307, diakses pada 04 Maret 2019
pukul 19.10 WIB).
26

mengelola instansi pendidikan di daerahnya masing-masing. Pada masa


ini ada beberapa perubahan mendasar dalam metode pendanaan di
bidang pendidikan, yaitu: pemerintah mulai melepaskan sedikit beban
pembangunan pendidikan sekolah ke masing-masing wilayah.
Pemerintah mempercayai desa untuk mengeluarkan dana dalam
membiayai pendidikan SD di wilayahnya masing-masing, mempercayai
pemerintah kecamatan untuk mengurus pendidikan SMP di wilayahnya
masing-masing dan mempercayai kabupaten untuk mengurus
pendidikan SMA di wilayahnya masing-masing.
Kendati demikian, karena perkembangan ekonomi Cina yang
melesat pada awal tahun 1990an menciptakan ketimpangan dan
kesenjangan di beberapa provinsi dan daerah. Dari hal itu Cina akhirnya
terbagi menjadi tiga daerah, yaitu “daerah timur” sebutan bagi daerah
yang maju atau mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah, “daerah
tengah” sebutan bagi daerah yang relatif kurang maju, dan “daerah
barat” sebutan bagi daerah yang miskin, daerah ras minoritas dan masih
kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Karena metode ini,
perkembangan dan aliran dana ke setiap daerah menjadi tidak
seimbang. Provinsi dan daerah yang lebih miskin tidak memiliki cukup
dana dan sumber daya untuk mengelola kualitas dan mutu pendidikan
di daerahnya. Kesenjangan sosial pun meningkat. Akibatnya, terdapat
perbedaan kualitas pendidikan antara daerah barat, daerah tengah, dan
daerah timur. 17
c. Metode pendanaan sentralisasi berencana
Metode ini dilaksanakan dari tahun 1990an sampai sekarang.
Pada tahun 1993, pemerintah Cina mengeluarkan kebijakan terbaru
terkait dnegan “Reformasi pendidikan di Cina menyambut abad ke-21”.
Di pernyataan tersebut, pemerintah mengubah arah haluan dan
konsentrasi sistem pendanaan untuk pendidikan di Cina dari yang

17
Chaerun Anwar. “Sistem Pendidikan di Cina”,
(https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/37079307, diakses pada 04 Maret 2019
pukul 19.10 WIB).
27

tadinya berkonsentrasi dalam perbaikan kualitas menjadi berkonsentrasi


dalam mengatasi kesenjangan pendidikan di Cina.
Pada tahun 1995, pemerintah meluncurkan proyek “Wajib belajar
di daerah yang miskin” dengan mengalirkan dana dari pemerintah yang
lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Proyek ini terfokus bagi
“daerah tengah” pada rentang tahun 1995-1997, dan kemudian mulai
dialokasikan bagi “daerah barat” pada tahun 1998-2000. Menurut data
yang dilansir, total dana yang dikeluarkan dalam proyek tersebut
berjumlah 12.5 miliar yuan, diantaranya 3.9 miliar dari pemerintah
pusat, 5.9 miliar yuan dari pemerintah provinsi, pemerintah setingkat
provinsi dan pemerintah daerah lainnya. Selanjutya pada tahun 2000
pemerintah pusat Cina tercatat telah mengalirkan 5 miliar yuandalam
proyek “wajib belajar di daerah miskin” periode 2. Selain itu,
pemerintah juga membentuk beberapa komisi baru untuk mengatasi
masalah kemiskinan, seperti: Education Fund yaitu beasiswa untuk
pelajar yang kurang mampu, pengiriman guru, dan lain-lain.18

18
Chaerun Anwar. “Sistem Pendidikan di Cina”,
(https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/37079307, diakses pada 04 Maret 2019
pukul 19.10 WIB).
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Landasan mengandung arti sebagai alas, dasar, tumpuan, fondasi.
Landasan adalah suatu alas atau pijakan dari suatu hal. Komparatif adalah
suatu hal yang bersifat dapat diperbandingkan dengan suatu hal lainnya.
Landasan komparatif dalam pendidikan di Indonesia berarti dasar untuk
membandingkan sistem penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dengan
negara lain.
2. Sistem pendidikan di Indonesia, yang didasarkan pada sistem pendidikan
nasional.
3. Sistem pendidikan di Finlandia fleksibel dan tidak memberatkan siswa
sertatenaga pendidik yang handal(baik dalam mengembangkan kurikulum
maupun sebagai peneliti).
4. Amerika serikat tidak memiliki sistem pemerintahan nasional atau
terpusat, Manajemen pendidikan Amerika Serikat sendiri dikelola
berdasarkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat Negara Bagian dan
Pemerintah daerah setempat.
5. Pada negara Cina, Struktur pendidikannya tidak jauh beda dengan struktur
pendidikan Indonesia. Dan terdapat Sistem penjaminan mutu dan sistem
pendanaan pendidikan.

B. Saran
Dengan adanya makalah ini kami berharap para pembaca dapat
mengetahui konsep-konsep landasan komparatif, bentuk sistem pendidikan di
Indonesia, Finlandia, Cina dan Amerika saat ini. Pendidikan itu sangatlah
penting, untuk itu kita harus tetap terus bersemangat dan berjuang untuk
meningkatkan kualitas pendidikan di negara tercinta kita ini. Semoga
makalah ini dapat dijadikan makalah yang relevan.

28
DAFTAR PUSTAKA

Albab, Ulul. 2005. Perbandingan Kebijakan Pendidikan AS-Indonesia. Surabaya


Pidarta, Made. 2014. Landasan Pendidikan Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.
Anwar, Chaerun. 2014. Sistem Pendidikan di Cina.
Riyana, Cepi. 2008. Studi Perbandingan Kurikulum Cina, Korea, dan Jepang.
Munirah. Sistem Pendidikan Di Indonesia. Makassar: Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan UIN Alauddin.
https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Indonesia, diakses pada tanggal 24
April 2019 pukul: 09.06 WIB.
http://www.nabawia.com/read/1322/12-perbedaan-sistem-pendidikan-Indonesia-
finlandia. diakses pada 02 Maret 16.00.
https://www1-media.acehprov.go.id/uploads/pendidikan_di_finlandia.pdf di akses
pada 02 Maret 2019 12.29 WIB.
http://ahok.org/berita/news/buku-tentang-sistem-pendidikan-finlandia-oleh-oleh-
dari-dubes-finlandia-untuk-ahok/ di akses pada 02 Maret 2019 15.00 wib
https://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/37079307 diakses pada 04
Maret 2019 pukul 19.10 WIB
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKA
N/197512302001121-CEPI_RIYANA/10_Perbandingan_Kurikulum.pdf
diakses pada 04 Maret 2019 pukul 19.30 WIB

29
PERMASALAHAN
Bagaimana pendapat kelompok Anda, apabila Indonesia menerapkan salah satu sistem
pendidikan dari negara lain (Firlandia, Amerika, Cina)?

30