Anda di halaman 1dari 3

B.

Konsep Tentang Anak Didik

Peserta didik merupakan salah satu komponen terpenting dalam pendidikan, tanpa adanya
peserta didik tentunya proses pendidikan tidak akan terlaksana. Oleh karena itu pengertian
tentang anak didik dirasa perlu diketahui dan dipahami secara mendalam oleh seluruh pihak.
Sehingga dalam proses pendidikannya nanti tidak akan terjadi kemelencengan yang terlalu jauh
dengan tujuan pendidikan yang direncanakan.

Anak didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik fisik maupun psikis untuk
mencapai tujuan pendidikannya melalui proses pendidikan. Anak didik dalam arti umum adalah
setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang. Definisi tersebut
memberi arti bahwa anak didik adalah anak yang belum dewasa yang memerlukan orang lain untuk
menjadi dewasa.1

Menurut kamus besar bahasa Indonesia pengertian siswa berarti orang, anak yang sedang berguru
(belajar, bersekolah). Sedangkan menurut pasal 1 ayat 4 UU RI No. 20 tahun 2013, mengenai
sistem pendidikan nasional, dimana siswa adalah anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan diri mereka melalui proses pendidikan pada jalur dan jenjang dan jenis
pendidikan tertentu.2

Dalam paradigma pendidikan islam peserta didik adalah orang yang belum dewasa dan memiliki
potensi dasar yang perlu dikembangkan. Paradigma tersebut menjelaskan bahwa manusia atau anak
didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain(pendidik)
dalam mengembangkan potensinya dengan tepat serta membantunya menuju kedewasaan. Potensi
sendiri akan tumbuh dan berkembang secara optimal dengan adanya peran dari pendidik.3

Beberapa hal yang perlu dipahami dalam masalah anak didik adalah karakteristik yang dimiliki oleh
anak didik, yaitu:

1. Anak didik bukan miniatur orang dewasa, ia mempunyai dunia sendiri, sehingga metode
belajar yang digunakan anak didik tidak sama dengan orag dewasa.
2. Perkembangan anak didik mengikuti periode tahap perkembangan tertentu. Implikasinya
dalam pendidikan adalah bagaimana proses pendidikan itu dapat disesuaikan dengan
periode dan tahap perkembangan anak didik itu.
3. Anak didik memiliki kebutuhan dan menuntut untuk memenuhi kebutuhan itu semaksimal
mungkin. Kebutuhan anak, mencakup kebutuhan biologis, rasa aman, rasa kasih sayang, rasa
harga diri dan realisasi diri.

1
Abd. Aziz, Filsafat Pendidikan Islam: Sebuah Gagasan Membangun Pendidikan Islam(Surabaya: eLKAF, 2006),
hlm. 164.
2
Undang-Undang RI no. 20 tahun 2013 tentang sistem pendidikan nasional
3
M Ramli, “Hakikat Pendidik dan Peserta Didik”, diakses dari http://idr.uin-
antasari.ac.id/4626/1/M%20Ramli_Hakikat%20Pendidik.pdf, pada tanggal 24 Maret 2019 pukul 07.15 WIB
4. Anak didik memiliki perbedaan antara individu dengan individu yang lain, baik perbedaan
yang disebabkan dari faktor endogen(fitrah) maupun faktor eksogen(lingkungan) yang
meliputi segi jasmani, intelegensi, sosial, bakat, dan lingkungan yang mempengaruhinya.
5. Anak didik dipandang sebagai kesatuan sistem manusia, sesuai dengan hakikat manusia,
anak sebagai makhluk monopluralis, meskipun terdiri banyak segi pribadi anak didik
merupakan suatu kesatuan jiwa-raga (cipta, rasa, dan karsa).4

Anak didik adalah objek pendidikan yang unik. Mereka aktif, kreatif, serta produktif. Setiap anak
memiliki aktivitas sendiri(swadaya) dan kreativitas sendiri(daya cipta) sehingga dalam
pendidikan tidak memandang anak sebagai objek pasif yang bisanya hanya menerima dan
mendengarkan saja.

Dalam mencapai tujuan pendidikan Islam, maka hendaknya anak didik memiliki serta
menanamkan dalam diri dan kepribadian mereka dengan sifat-sifat yang baik. Diantara sifat-sifat
ideal yang perlu dimiliki peserta didik, misalnya: berkemauan keras atau pantang menyerah,
memiliki motivasi yang tinggi, sabar, dan tabah, tidak mudah putus asa, dan sebagainya.

Berkenaan dengan hal tersebut dalam Fatahiyah Hasan Sulaiman, Imam al-Ghazali merumuskan
sifat-sifat yang patut dan harus dimiliki oleh anak didik, yang terinci dalam 10 macam sifat, yaitu:

1. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah.


2. Mengurangi kecenderungan pada kehidupan duniawi dibanding ukhrawi dan sebaliknya.
3. Bersikap tawadhu’ (rendah hati).
4. Menjaga pikiran dari berbagai pertentangan yang timbul dari berbagai aliran.
5. Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji, baik ilmu umum maupun ilmu agama.
6. Belajar secara bertahap atau berjenjang.
7. Mempelajari suatu ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya.
8. Memahami nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
9. Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
10. Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan.3

Selain menanamkan sifat-sifat yang baik dalam diri dan kepribadian anak didik, mereka juga
harus melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai peserta didik. Sebagaimana yang telah
dikatakan oleh an-Namiri Al- Qurtubi, yang dikutip oleh Asma Hasan Fahmi yaitu antara lain:

1. Seorang murid harus membersihkan hatinya dari kotoran sebelum ia menuntut ilmu, karena
belajar adalah semacam ibadah dan tidak sah ibadah kecuali dengan hati bersih. Bersih hati
artinya menjauhkan diri dari sifat-sifat yang tercela, seperti dengki, benci, menghasud,
takabur, menipu, berbangga-bangga, dan memuji diri dan sebaiknya menghiasi diri dengan
akhlak mulia seperti taqwa, ikhlas, zuhud, dan rendah hati.
2. Hendaklah tujuan belajar ini ditujukan untuk menghiasi ruh dengan sifat mendekatkan diri
kepada Allah, dan buka untuk bermegah-megahan dan mencari kedudukan.
3. Dinasihatkan agar pelajar tabah dalam memperoleh ilmu meskipun ke tempat yang jauh.
Sekiranya keadaan menghendaki untuk membuatnya pergi merantau untuk memperoleh
seorang guru atau ilmu yang lebih banyak maka ia tidak boleh ragu-ragu untuk mengambil
keputusan itu.

4
Abd. Aziz, Filsafat Pendidikan Islam: Sebuah Gagasan Membangun Pendidikan Islam(Surabaya: eLKAF, 2006),
hlm. 165.
4. Wajib menghormati guru dan bekerja untuk memperoleh kerelaan guru, dengan
mempergunakan berbagai macam cara yang baik. 4
Selebihnya Al Abrasyi, menambahkan tentan tugas-tugas yang harus dilaksanakan ole
peserta didik dalam melaksanakan proses belajarnya:
1. Sebelum belajar, ia hendaknya terlebih dahulu membersihkan hatinya dari segala sifat
buruk.
2. Niat belajar hendaknya ditujukan untuk mengisi jiwa dengan berbagai fadhilah.
3. Hendaknya bersedia meninggalkan keluarga dan tanah air untuk mencari ilmu ke tempat
yang jauh sekalipun.
4. Jangan suka terlalu sering menukar guru, kecuali dengan pertimbangan yang matang.
5. Peserta didik wajib menghormati gurunya.
6. Jangan melakukan aktivitas ketika belajar kecuali atas petunjuk dan izin pendidik.
7. Memaafkan guru apabila dia bersalah, terutama dalam menggunakan lidahnya.
8. Wajib bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu dan tekun dalam belajar.
9. Peserta didik wajib saling mengasihi dan menyayangi di antara sesamanya, sebagai
wujud untuk memperkuat rasa persaudaraan.
10. Bergaul dengan baik terhadap guru-gurunya.
11. Peserta didik hendaknya mengulang setiap pelajaran dan menyusun jadwal belajar yang
baik guna meningkatkan kedisiplinan belajarnya.
12. Menghargai ilmu dan bertekad untuk terus menuntut ilmu sampai akhir hayat.5

Dengan adanya beberapa poin di atas semoga bisa dipahami oleh pendidik dan peserta didik maka
dapat menciptakan komunikasi yang harmonis antara keduanya.

5
Abd. Aziz, Filsafat Pendidikan Islam: Sebuah Gagasan Membangun Pendidikan Islam(Surabaya: eLKAF, 2006),
hlm. 166.