Anda di halaman 1dari 242

Ilmu Politik

(2017-2018)

Leo Agustino
leoagustino@yahoo.com
@leoagustino_ind
081236059365
Perkuliahan PENGANTAR ILMU POLITIK hendak membangun
kompetensi mahasiswa agar mampu MENGUASAI TEORI
DAN KONSEP DASAR yang substantif dalam kajian akademik
politik, seperti: Negara, Kekuasaan, Sistem Perwakilan, Sistem
Kepartaian, Pemilu, Demokrasi, Konflik, dan lainnya.
METODE PEMBELAJARAN
Pewujudan tujuan perkuliahan ditempuh melalui cara (metode) belajar yang
mengakomodir filososi sistem satuan kredit semester (SKS).
Mata kuliah Ilmu Politik memiliki bobot 3 (tiga) SKS yang bermakna bahwa setiap
minggu dalam semester berjalan terdapat:
3 X 50 menit pertemuan tatap muka dosen dengan mahasiswa di kelas sesuai
dengan jadwal kuliah yang telah ditentukan FISIP Unpar.
3 X 60 menit mahasiswa mengerjakan tugas yang diberikan dosen.
3 X 60 menit mahasiswa melakukan kegiatan terstruktur mandiri seperti membaca
catatan kuliah dan buku referensi, mengunjungi perpustakaan, dan melakukan
diskusi secara berkelompok.
ARTINYA MAHASISWA MEMILIKI TANGGUNGJAWAB UNTUK MEMPELAJARI,
MEREFLEKSIKAN, DAN MEMPRAKTIKKAN MATA KULIAH ILMU POLITIK SELAMA 8 JAM 30
MENIT SETIAP MINGGUNYA.
Minggu 1 Awal perkuliahan
Minggu 2 Konsep Dasar Ilmu Politik
Minggu 3 Pendekatan Ilmu Politik Jadwal
Minggu 4 Kebaikan Bersama (1) Perkuliahan
Minggu 5 Kebaikan Bersama (2)
Minggu 6 Kekuasaan, Kewenangan, & Legitimasi
Minggu 7 Perilaku & Partisipasi Politik

UJIAN TENGAH SEMESTER Minggu 9 Kelompok Kepentingan & Sistem Perwakilan


Minggu 10 Partai Politik & Sistem Kepartaian
Minggu 11 Sistem Pemilihan Umum
Minggu 12 HAM & Demokrasi
Minggu 13 Konflik, Kekerasan, & Pembangunan Politik
Minggu 14 Gender & Feminisme
Minggu 15 Review Perkuliahan

UJIAN AKHIR SEMESTER


Latar belakang sejarah
• Politik sebagai ilmu (science) baru tumbuh dan
berkembang pada abad ke-19 (1870 & 1895); yang
awalnya bersandar pada ilmu filsafat dan hukum.

• Tetapi sebagai entitas sosial, politik sudah


tumbuh dan berkembang jauh sebelum itu (450
SM).
Contoh:

India sejak 500 SM: Dhramasastra & Arthasastra

Yunani sejak 450 SM: Herodotus, Plato, Aristoteles dlsb

China: Confucius (350 SM), Mencius (350 SM), Shang Yang


(350 SM)

Indonesia: Negarakertagama & Babad Tanah Jawi (13-15


M)
Apa definisi politik?
En dam onia (kehidupan yang baik atau kebaikan bersama)

Politik sebagai suatu asosiasi warganegara yang


berfungsi membincangkan dan menyelenggarakan hal
ihwal yang berkaitan dengan kebaikan bersama bagi
seluruh anggota masyarakat (Aristotle).

Politik adalah sejumlah sarana yang diperlukan untuk


mendapatkan, mempertahankan, dan memanfaatkan
kekuasaan bagi mencapai kegunaan yang maksimal
(Machiavelli).
Konsep Pokok Politik
(Prof. Miriam Budiardjo 2009: 17)

• Negara;

• Kekuasaan;

• Pengambilan Keputusan;

• Kebijakan; dan

• Distribusi dan alokasi.


NEGARA
• Max Webber Negara merupakan sebuah komunitas manusia yang
(sukses) mengklaim monopoli penggunaan paksaan fisik dalam
sebuah wilayah (teritori) paksaan fisik dilakukan hanya melalui
proses administrasi organisasi politik yang disepakati dalam kontrak
politik.
• Saltou Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau
mengendalikan masalah bersama atas nama rakyat.
• Laski Negara adalah suatu masyarakat yang diintegrasikan
karena mempunyai kewenangan yang bersifat memaksa dan secara
sah lebih agung daripada individu atau kelompok yang merupakan
bagian dari masyarakat tersebut.
KEKUASAAN
• Power is the ability of a person, group, or nation to get what it wants.

• As an equation, power is: The ability of A to get B to do X (or not do X)

• Politik terkait dgn upaya merebut, mempertahankan & memperluas

kekuasaan

• In the case of governments, they can use soft power (e.g. persuasion), or

hard power (e.g. military force)


PENGAMBILAN KEPUTUSAN

• Proses penetapan keputusan-keputusan strategis yang


mengikat secara kolektif seluruh warganegara untuk
menyelesaikan persoalan bersama atau memenuhi
kebutuhan bersama.

• Keputusan terkait dengan pilihan atas alternatif yang


tersedia.
• Produk dari proses pengambilan
KEBIJAKAN keputusan dalam masyarakat

berdasarkan berbagai aspek seperti

pemecahan masalah sosial, nilai-nilai yg

dijunjung tinggi dalam masyarakat,

aspirasi/keinginan masyarakat dan lain

sebagainya.
DISTRIBUSI &
ALOKASI
• Terkait dengan kebijakan untuk
penempatan penyediaan dan
pemerataan sumberdaya guna
pemenuhan kebutuhan masyarakat
Perkembangan politik sebagai ilmu

pendekatan ilmu politik


PENDEKATAN FILSAFAT
POLITIK

• Mengkaji penalaran yang diterapkan dalam problematika idealistik


yang dihadapi manusia seperti: keadilan, kesejahteraan, kekuasaan,
hukum, hak asasi manusia (HAM), agama, kontrak sosial, utopianisme,
sindikalisme hingga anarkisme.
PENDEKATAN TRADISIONAL

• Fokus utama: NEGARA (as formal institution) yang ditinjau dari aspek
KONSTITUSI DAN YURIDIS (selaku pemegang peran utama dalam
penyelenggaraan kekuasaan).
• Bahasan Pendekatan Tradisional menyangkut: sifat UUD serta
kedaulatan, kedudukan dan kekuasaan lembaga-lembaga politik
(parlemen, yudikatif, eksekutif), dan negara sebagai sarana mewujudkan
„kebaikan bersama.‟

• Pendekatan Tradisional disebut juga pendekatan institusional atau


legal-institusional.
• Struktur kelembagaan menentukan perilaku.
PENDEKATAN
PERILAKU

• Pendekatan ini merupakan kritik terhadap Pendekatan Tradisional sebab


dianggap tidak realistik & tidak mampu memberikan informasi
tentang proses dan fakta politik yang sesungguhnya.
• Pendekatan Perilaku (behavioralist) merupakan peralihan dari pendekatan
kelembagaan yang semula berfokus pada lembaga dan struktur menjadi
berfokus pada manusia, proses, dan dinamika politik.
• Kajian ilmu politik hendaknya difokuskan pada upaya untuk mempelajari
perilaku politik manusia (e.g. voting behavior) sebagai gejala-gejala yang
dapat diamati.
• Sebagai sebuah kajian ilmiah dalam perspektif pendekatan perilaku, maka
politik hendaknya value free.
KRITIK TERHADAP PENDEKATAN
PERILAKU

• Pendekatan perilaku yang steril dari nilai (value free) justeru tidak mampu
menjelaskan pertanyaan yang mengandung nilai seperti:

–“Bagaimana menciptakan masyarakat yang adil dan


sejahtera?” atau
–“Apakah negara demokrasi mampu mensejahterakan
masyarakat?”

• Pendekatan perilaku tidak menaruh perhatian pada kajian konflik.


TRADISIONALIS VS
BEHAVIORALIST
FAKTOR TRADISIONALIS BEHAVIORALIST
PEMBEDA
ASPEK YG Nilai & Norma Fakta
DIAMATI
WILAYAH Filsafat (Kajian Penelitian Empiris
KAJIAN Idealistik)
KEMANFAA Ilmu Terapan Ilmu Murni
TAN ILMU (Apllied Science) (Pure Science)
LANDASAN Historis-Yuridis Sosiologis-Psikologis
KAJIAN
METODE Metode Kualitatif Metode Kuantitatif
PENELITIAN
• Pendekatan Behavioralis yang menitikberatkan pada aspek penelitian
empiris dan kuantitatif membuat ilmu politik menjadi terlalu abstrak dan
tidak relevan terhadap masalah sosial yang dihadapi.

• Merubah orientasi pure science menjadi lebih humanis dengan rekomendasi


pemecahan masalah sosial yang lebih mengena pada kebutuhan
masyarakat.

post-behavioralist
PENDEKATAN PLURALISME

• Pendekatan ini menggabungkan beberapa unsur dalam pendekatan


kelembagaan (lembaga demokrasi, lembaga pemerintah, & lembaga
perwakilan) dengan pendekatan behavioralis.

• Meninjau kompetisi atau kerjasama yang terjadi antar-aktor politik baik


dalam sebuah lembaga maupun dalam lembaga politik yang berbeda
serta bagaimana pengaruh interaksi tersebut pada pola pengaturan
politik.
PENDEKATAN
STRUKTURAL

Pendekatan ini berkaitan dengan hubungan


individu dgn komunitas dalam konteks struktur
sosial (klas-klas dalam masyarakat).
PENDEKATAN
DEVELOPMENT
ALISME

• Mengkaji pertumbuhan industri &


perubahan sosial lainnya serta
dampaknya terhadap bentuk
pemerintahan & kebijakan yang
dihasilkannya.
BEBERAPA PENDEKATAN
LAINNYA

• NEO-MARXIS
– Menekankan pada aspek komunisme tanpa kekerasan dan juga tidak
mendukung kapitalisme

• PENDEKATAN DEPENDENSI
– Memposisikan hubungan antar negara besar dan kecil

• PENDEKATAN RATIONAL CHOICE


– Pilihan-pilihan yang rasional dalam pembuatan keputusan politik
Hubungan ilmu politik dengan ilmu lainnya
Filsafat: aspek bahasan
etika dan moral
Ekonomi: pemanfaatan sumberdaya
yang terbatas secara maksimal
untuk pemenuhan kebutuhan
manusia yang beragam
keterbatasan sumberdaya dapat
menimbulkan konflik,
kerjasama, & pengambilan
keputusan.
Sejarah: alat untuk mempelajari
data dan fakta politik pada
masa lampau untuk dijadikan
pertimbangan/proyeksi pada
masa depan
Sosiologi: berupaya memahami
latarbelakang, susunan, & pola
kehidupan masyarakat baik
golongan maupun kelompok
politik terkait dengan hubungan
struktur sosial dengan
kebijakan, legitimasi, sumber
kewenangan, kontrol, dan
perubahan sosial.
Bagaimanakah sarjana memahami politik
pada zaman klasik (Yunani Kuno)?
(Teori) Politik zaman klasik
(sebelum Plato)
• Negara

• Klas

• Lembaga politik

• Cita-cita politik

Kejayaan ekonomi Athena terjadi sebelum Abad


5 SM;
Sedangkan kegemilangan filsafat Athena
(Yunani) 5 M.
Penduduk
tidak
Lebih dari
300.000 orang
Klas dalam masyarakat (stratifikasi
sosiopolitik)

Budak
Pendatang (metics)
Warganegara

Hak & kewajiban


Lembaga-lembaga politik
• Sidang Ecclesia (legislatif, semua wn berusia 20th, bersidang 10 kali
dalam setahun & bisa lebih sesuai dengan keperluan)
• Dewan 500 (dipilih bergantian dari 10 suku yang ada di Athena,
setiap suku memilih 50 wakilnya & mereka tidak dapat dipilih lagi;
peranan: mengusulkan pajak, pernyataan perang, mengadakan
kerjasama dll.)
• Mahkamah (Mahkamah tertinggi 10 orang; anggota 501 orang
deme)
• Dewan Jenderal (10 orang jenderal, mengawasi legislatif & eksekutif)
Cita-cita politik
• Mengabdikan diri kepada polis (Thucydides).

• Memuliakan polis (Athena melebihi polis manapun juga) (Pericles).

Dalam arti kata lain, mewujudkan keselarasan.

Setelah perang peloponnesos


• Penghargaan hukum, toleransi, kebebasan, kebaikan bersama, dll. ????
Plato
Lahir dari keluarga bangsawan di Athena, pada 29
Mei ‘427’@’429’ SM, dan meninggal pada 347 SM.
Plato adalah penulis dan perevisi filsafat gurunya
(Socrates).
Karya-karya Plato, antaranya:
• Gorgias = Kebahagian
• Protagoras = Kebajikan
• Sophist = Pengetahuan
• Nomoi = Undang-undang@Hukum
• Politea (Republic) = Negara
• Politikos (Statemen) = Negarawan@Politisi

Cara pandangnya menentang demokrasi


Athena disebabkan oleh latar belakang
keluarganya yang aristokrat.
Dalil-dalil utama Plato
Ide dasar Filsafat politik ideal v. tak ideal (Manicheianisme)

Latar belakang Perang Peloponnesia@Peloponnesus


(Athens v. Sparta)
Perebutan kekuasaan
Cita-cita politik Plato Keadilan
1. Pendidikan (Academia = 389 SM)
2. Kebajikan
3. Keadilan

Masyarakat hubungan timbal-balik (saling


Jabatan publik bakat & latihan melengkapi kebutuhan yang berbeda)
Pendidikan

Pendidikan Dasar@Rendah: Pendidikan Lanjutan:


• s/d 20 tahun • s/d 35 tahun
• Olahraga & Seni • Logika, Filsafat, Astronomi, dll.

Nafsu - Kebutuhan Semangat - Keberanian Akal Budi


(Epithymia) (Thymos) (Logos)

Raja-Filosof
Allegory of the cave
Non-property right
• Hak milik mendorong
idealisme-utopian kompetisi tidak sehat,
• Termasuk lembaga
perkawinan (Bias gender)
Akibatnya, dianggap penggagas
awal kolektivisme
Bentuk-bentuk negara (negara buruk)
[367-361 SM]:
Negara Model Aristokrasi= pemerintah oleh cendekia
Timokrasi = pemerintah oleh orang-
Plato orang yang mencari
kemasyhuran@ketenaran
Aristokrat (Sparta) Oligarki = pemerintah oleh sekelompok
kecil orang (hartawan) yang bermotif
ekonomi
Demokrasi = pemerintah oleh rakyat
miskin
Tirani = kekuasaan yang tidak adil
Aristotle@Aristoteles
Lahir di Stagirus, Macedonia, 384-322 SM.
Anak seorang tabib Raja Macedonia,
Murid Plato,
Pendiri mazhab ‘Lyceum’ (lorong-lorong di kota
Macedonia) cara mengajar mirip Socrates
sehingga alirannya disebut ‘peripatetis,’
Guru bagi Alexander Agung (Iskandar Zulkarnain).

Karya-karya utama Aristotle:


– Politica (Politics), &
– Nicomachean Ethics,
> Aristotle tidak membedakan „dunia cita‟ & „dunia alam‟
> Negara dianggap seperti organisma (lahir-tumbuh-dewasa-layu-mati)
> Kemunculan negara akibat watak manusia yang zoon politicon
(berkumpul & bermasyarakat) sebagai wadah aktualisasi diri
dalam mencari kebahagiaan hidup (eudaimonia).
“Negara bertujuan untuk menciptakan hidup yang baik &
kebahagian bagi warganegara”
(i) Asal-usul negara,
(ii) Negara ideal,
(iii) Pembagian kekuasaan politik,
(iv) Keadilan & kedaulatan, dll
Tujuan negara Mencapai kebahagiaan & kesejahteraan
warganegara, maka hak milik individu diperbolehkan
keluarga diperbolehkan (sebagai unit terkecil dari negara) karena
menyediakan mekanisme pertanggungjawaban
Bentuk masyarakat = interdependensi
Kekuasaan harus berada di tangan masyarakat.
Matriks bentuk Negara ideal Negara buruk
negara

Seorang pemimpin Monarki Tirani


Sedikit pemimpin Aristokrasi Oligarki
Banyak pemimpin Republik Demokrasi

Enam bentuk negara Aristotle dipahaminya selama beliau melakukan penelitian


di 158 polis di Eropa dan Asia.
Secara teoretik yang ideal ‘Republik@Monarki’
Secara nyata yang ideal ‘Aristokrasi’
Teori Politik Abad Pertengahan
(Middle Ages)

St. Augustine (354-430)


Thomas Aquinas (1225-1274)
Dante (1265-1321)

Marsilius Padua (1270-1340)


St. Augustine (354-430 M)
Politik dalam Pemikiran Filsafat Mediavel

• Lahir di Thagaste, Numidia, Tunisia Ayah Pagan (Patricius) & Ibu Katolik
(Monica)
• Belajar di Cartagena menjadi pengikut sekte „Manichea‟ (Manikeanisme)
• Pada 387, merubah cara hidup (karena berkenalan dengan banyak
petinggi Kristiani) & mengembangkan pemikiran filsafat politiknya.
• Menulis 22 buku (413-426)
De Civitate@Civitas Dei (Negara Tuhan)
• Sebelum menulis De Civitate Dei, beliau menulis
The Confessions. Menjelaskan tentang pencarian
jadi dirinya.

• The Confessions pula sebagai pelatak dasar teori


politik tentang jati diri manusia Manikeanisme.
• De Civitate Dei ditulisnya atas dasar Keruntuhan
Imperium Romawi pada 410 M, di mana
sebelumnya Katolik diangkat sebagai agama
negara pada 393 M.
1. Apakah agama sebagai sumber kehancuran
Imperium Roma?
2. Atau kemarahan para dewa?

Kejatuhan Imperium Romawi:


1. Tidak kaitan dengan agama Katolik
2. Teori Organisma (terkait dekadensi moral &
spiritual)
3. Kehendak@Takdir Illahi („kejatuhan‟ manusia)
argumen teologi bersifat normatif-teologi

Manikeanisme menjadi landasan


Teori Politik Augustine
Terbitan pertama The city of God dalam Bahasa Latin (1610)
1. Konsep Civitas Dei v. Civitas Terrena
Civitas Diaboli
2. Konsep ‘Dua bilah pedang’
Manusia – Negara Dunia (Kota Dunia) – Negara Akhirat
(Kota Surga)
3. Konsep Commonwealth of Christianity
Civitate Dei v. Civitate Terrena@Diaboli
(Sikap atau kondisi perjuangan@pertarungan ke arah sesuatu yg positif)
Civitate Dei (negara Tuhan@negara langit) = Negara yang penuh cinta
kasih, kebaikan bersama, keadilan, kebahagiaan, perdamaian,
kepatuhan hukum, dlll.
Civitate Terrena (negara dunia@negara iblis)= Cinta diri, hedonis,
materialis, penuh kekerasan, ketidakadilan, pengkhianatan, dll.
Joan d‟Arc

The City of Men, illumination of fifteen-


century edition of St. Augustine's City of
God
St. Augustine dipengaruhi oleh gagasan:
1. Kodrat manusia (1,2,3) tertata baik harmonis;
2. Alat represi negara diperlukan untuk menundukkan
manusia berdosa;
3. Negara tirani tidak menjadi masalah selama berasal dari
Tuhan;
4. ... sekaligus menunjukkan ketaatan kepada Tuhan (Tuhan
menguji umatnya).

Negara Ideal St. Augustine

Monarki menertibkan manusia (civitate terrena)


mewujudkan keadilan dan kedamaian
kebaikan bersama (populas@res publica ).
Abad kegelapan & keemasan

Al-Jaziri

Al-Idris
Al-Biruni
St. Thomas Aquinas (1225/6-1274 M)
• Lahir di Roccasecca, Naples, Itali, berasal dari keluarga
aristokrat.
• Belajar di Naples, Cologne, & Paris (Ibn Rushd@Averoist ).
• De Regimine Principum, Summa theologiae,
On kingship, etc

• Filsafatnya pertama-tama bersifat


Finalitas „Tujuan haruslah diusahakan‟
• Konsep „Alam Semesta sebagai Hirarki‟
(yang sempurna@tinggi memimpin yang
tidak sempurna@rendah)
i. Tuhan Jiwa;
ii. Jiwa Tubuh;
iii. Penguasa Masyarakat.
Karya utama Aquinas
i. Konsep Manusia
Manusia terlahir berbeda
Social Animal: a. Man the substance (Watak ingin memiliki
sesuatu demi kebahagiaan)
b. Man the animal
c. Man the moral agent

ii. Konsep Bermasyarakat: Tukar menukar pelayanan (interdependensi)


iii. Konsep Negara: Pembimbing Masyarakat melalui Hukum
iv. Kewajiban penguasa: kekuasaan datang dari Tuhan
Perdamaian;
Mengusahakan kesejahteraan, keadilan, dan keselarasan;
Kebahagiaan setelah mati;
Hak rakyat untuk (civil) disobedience bersabar.
Tujuan Negara: i. Kebahagiaan hidup (bene vivere);
ii. Keabadian hidup (beate vivere).

Tugas Negara: i. Perdamaian;


ii. Mengusahakan sarana material;
iii. Menciptakan keadaan sesuai hukum.

Hukum menurut Thomas Aquinas:


a) Hukum Alam (Pengaturan alam semesta);
b) Hukum Tuhan (Wahyu (perintah & larangan));
c) Hukum Kodrat (Mencari kesenangan & Menjauhi
kesusahan);
d) Hukum Manusia: ius civile (hukum umum) & ius
gentile (hukum khusus).
Bentuk-bentuk negara Aquinas:
i. Negara dipimpin satu orang
[ Monarki v. Tirani ]
ii. Negara dipimpin beberapa orang
[ Aristokrasi v. Oligarki ]
Monarki adalah bentuk terbaik sesuai dengan konsep ‘Tuhan
yang membimbing umat’ (atau jiwa tubuh)
Konsep satu pembimbing

KEKUASAAN (Mengawal & Mengendalikan Penguasa):


i. Berdasar pemilihan (kualitas pribadi);
ii. Membatasi kekuasaan;
iii. Sharing of power;
iv. [jika tidak berhasil juga] Membunuh dilarang, tapi memungkinkan;
v. Berdoa kepada Tuhan menyadarkan penguasa zalim.
Teori Politik Abad Pencerahan
(Renaissance & enlightenment)
Niccolo Machiavelli
Jean Bodin
Hugo de Groot
Thomas Hobbes
John Locke
Montesquieu
Jean Jacques Rosseau
Imannuel Kant
Machiavelli (1467-1527)
• Peradaban Renaissance (Re - NaÎtre) &
perang salib (Abad X-XII) berdampak
positif terhadap Barat.

• Anak bangsawan (ayahnya pakar hukum)


yang mendapat pendidikan terbaik di
Florence.

• Sekretaris negara Florence


diberhentikan.
The Prince merupakan
terobosan besar dalam Teori
Politik sebab memutus
hubungan antara negara &
agama serta moralitas (bdk.
Augustine & Aquinas
(pemimpin baik))
Menolak kesusilaan@etika
Kristiani
The Prince
• Dianggap tidak ilmiah sebab lebih praktikal (realism)
(Arendt & Plamenatz).
• The Prince: Persyaratan apa saja yang harus dimiliki
seseorang dan metode apa saja yang mesti digunakan
untuk memperkuat & mempertahankan kekuasaan
(kancil & serigala).
• Tidak ada kaitan kekuasaan dengan teologi Kristiani.
Machiavelli menyangkal kekuasaan alat untuk
mempertahankan moralitas, etika & agama.
Menurutnya kekuasaan adalah tujuan angkatan
perang yang kuat, kekuasaan menggunakan
kekerasan, menghalal segala cara (taktik), menolak
tentara sewaan, dll.
Etika Politik Machiavelli
Dalam masyarakat • Semua Orang Kejahatan
jahat, orang baik baik Peraturan bukanlah tujuan,
menjadi tidak tetapi suatu
akan tersingkir.
penting instrumen bagi
penguasa untuk
• Semua orang mencapai kebaikan
Serigala jahat itupun apabila
& Peraturan tidak dapat
menjadi sangat dilakukan dengan
Kancil penting cara-cara lain

Machiavelli sadar bahwa teori politiknya hanya baik untuk menghadapi


orang jahat, tetapi buruk untuk menghadapi orang baik.
Gerakan awal protestanisme
– Menolak indulgengies;

– Menolak hak baca oleh kelompok tertentu;


– Menolak konsep “The Devine Right of King”;
– Menolak Pembelian Jabatan Gereja, dll.;

– Lahirnya Askestisme Dunia (Calvinis = Etika Protestan


Weber);
– Menolak perempuan sebagai sumber dosa ><
menyiakan waktu.
– Tokoh-tokoh: Martin Luther, Johanes Calvin, John
Knox, Zwingli, dll.
Teori politik abad pencerahan
Best Regime
Thomas Hobbes
• State of Nature manusia negatif (kehendak yang meluas).
• Bellum Omnium contra omnes, perlu adanya „Tatanan
Kemasyarakatan‟ Konsep negara Leviathan (perjanjian
sosiopolitik) Monarki Absolut.
• Konsep kekuasaan (i) kesadaran penguasa, (ii) formulasi undang-
undang & (iii) menjaga HAM.
John Locke
• State of Nature manusia positif (Manusia-Materi-State of War).
• Konsep negara adalah untuk mengantisipasi state of war.
• Konsep Kekuasaan: kekuasaan negara terbatas didistribusikan
(pembagian kekuasaan [legislatif, eksekutif, federatif]), negara
menjaga property right, dan kesepakatan sosial.
Montesquieu
• Konsep Manusia (determinisme-geografis).

• Konsep Negara:

a. Wilayah kecil = Republik

b. Wilayah sedang = Monarki

c. Wilayah besar = Despotik

• Konsep Kekuasaan = Trias Politica


J.J. Rousseau
• State of Nature manusia = keburukan manusia akibat social & political constructed Man
is born free, but everywhere he is in chains.

• Mayoritas manusia mempunyai pandangan mengenai common good social contract


konsep ketidaksamaan (fisik & sosial) + state of nature.

• Karena itu, diperlukan teori Kontrak Sosial

- Pemerintah & diperintah.

- Political rights.

- Negara menyediakan kehendak umum (volonte general).


IDEOLOGI
Peta sebaran ideologi
• Politik bukan hanya terkait dengan kekuasaan, tetapi juga berhubung
erat dengan idea.

• Peranan ide(a)logiwhat people think and believe about


society, power, rights, etc., determines their actions .
• Ide[o]logi menumpukan perhatian kepada peranan aktor
(perjuangan, keadilan, kebebasan, pendistribusian
ekonomi dan pelayanan, dll.)
• Ideologi politik bersumber pada pandangan pemikiran (filsafat@teori-
teori politik) para sarjana agung.
• Ideologi pertama ialah agama.
• Pada era modern, ideologi politik menjadi lebih
sekular (some anti-religious), tetapi agama kekal
digunakan sebagai sumber utama bagi ideologi
pada hari ini seperti Christian socialism,
Protestant fundamentalism, Islamic moderate,
dll.
• Untuk
memahami ideologi, sarjana sering
menggunakan „spektrum ideologi‟: kiri & kanan
(Dewan Parlimen di Perancis pada 1791–the French
Revolution).
Spektrum ideologi standard:

Far Left Centre- Left Centre Centre-Right Far


Right

Socialists Liberal Conservatives Ultraconservatives


Communists Liberals Conservatives Fascists
Radicals Reactionaries
Market

Welfare state Neoliberalism


liberalism
Social democracy Market
authoritarianism
Market socialism
Left Right

Traditional
conservatism
State socialism
(Communism) Fascism

State
Liberalisme
Far Left Centre-Left Centre Centre-Right Far
Right

Socialists Liberal Conservatives Ultraconservatives


Communists Liberals Conservatives Fascists
Radicals Reactionaries

Mengapa liberalisme cenderung berada di sebelah kiri (centre-left)?


1. Menyokong perubahan „Negara baik‟ adalah negara yang memainkan
peranan minimal.

2. Peranan negara yang terbatas adalah yang terbaik berorientasi


meningkatkan kemampuan manusia.

3. Percaya akan kesetaraan dan keupayaan nalar manusia.


L/b lahirnya liberalisme
• Absolutisme If people suffered
Monarchs; the devine right of king
under a bad king, it was God’s will. Disobeying a bad
king was a sin.
• Goyahnya pemahaman agama sebagai pandangan atau keyakinan hidup.

• Pernan negara yang minimalis,


• Individual ownership,
• Persaingan (free fight competition) ekonomi pasar,
• Darwinisme sosial ketidakmampuan beradaptasi
menyebabkan kepunahan.
Akar filsafat
• John Locke.

• Rousseau.

• Adam Smith.

• John Stuart Mill,

• Robert Nozick dan lain-lain.


John Locke:
1. Manusia pada asasnya rasional (tidak merugikan orang
lain), bebas, dan setara (equal). Manusia mampu
menjalankan kehidupan mereka masing-masing tanpa
intervensi negara.
2. Manusia mempunyai hak untuk hidup, bebas dan
kehendak tanpa ada rasa khawatir.
3. Untuk mengamankan hak mereka, warga memberi
sebagian kebebasan mereka dan mendirikan pemerintah
(individu lebih superior berbanding pemerintah) kontrak
politik atau kontrak sosial.
4. Jika pemerintah gagal menjaga hak-hak rakyat dan
menjadi tirani, maka kontrak tersebut batal pemerintah
hilang legitimasi dan rakyat bebas untuk membentuk
pemerintahan baru.
Rousseau:
1. State of nature positif (kebebasan mutlak) konflik
merupakan fenomena sosial akibat perbedaan
kepemilikan atau posisi sosial homo homini lupus
(manusia menjadi serigala bagi yang lainnya).

2. Agar tidak wujud homo homini lupus negara


(kontrak sosial) manusia pada dasarnya merdeka,
tetapi karena ada pelbagai konvensi (aturan, adat-
istiadat dll) membuatnya menjadi terbelenggu.

3. Sosial kontrak penyerahan sedikit hak


warganegara, tanpa mengurangkan hak utama warga
itu sendiri kuasa eksekutif & kuasa legislatif.
Adam Smith:
1. Pangkal tolak pemikiran filsafat Smith ialah rasionalitas,
keupayaan individu untuk membuat keputusan dalam
rangka memenuhi kepentingan mereka masing-masing
pemerintah mesti memberikan kesempatan kepada rakyat
untuk menetukan pilihannya sendiri (mencapai kebaikan
bersama) melalui the invisible hand.

2. Sebab itulah, ketimpangan ekonomi tidak selamanya


unfair jika dikaitkan dengan people’s free choices.

3. Dalam pandangannya kebebasan untuk membuat


keputusan merupakan nilai yang tinggi berbanding
equality.
Liberalisme & demokrasi:
• Hubungan erat liberalisme & demokrasi.

• Antaranya kebebasan, kesetaraan, limit kuasa,


kepastian undang-undang, dll.

• Pelibatan rakyat langsung (direct democracy)


maupun tidak (representative democracy).
Sosialisme
Asumsi umum:
Masyarakat lebih penting berbanding individu
kebijakan dan pelayanan pemerintah bersifat sosial ≠
individual.

Sebagai sebuah gerakan ideologi, sosialisme tumbuh pada


Abad ke-19 setelah ideologi liberalisme tidak berhasil
menyediakan keperluan dasar klas pekerja;
liberalisme klasik memandang bahwa kemiskinan
sebagai pilihan individual, bukan hasil struktur sosial.
perubahan
• Akar ideologi ini berasal daripada nilai-nilai Judeo-
Kristiani berpihak kepada kepentingan atau
kebaikan bersama.
• Plato (Republic), klas penguasa tidak memiliki
kekayaan pribadi dan sama-sama mendistribusikan
untuk kepentingan bersama.
• Thomas More (Utopia 1516), pemilikan tanah secara
komunal.
• Robert Owen (A new view of society 1813), orang
pertama menggunakan istilah sosialisme manusia
sebagai pencipta keuntungan finansial.
• Karena itu, nilai dasarnya ialah egalitarianisme &
moralisme.
Komunisme
Asumsi umum:
Kumpulan lebih penting berbanding individu.

Komunisme lahir sebagai reaksi atas pahaman


liberalisme yang memihak kumpulan borjuis.

Pengasas utama Marx.


• Super & sub-Struktur.
• Materialisme sejarah (mode of production).
• Alienasi.
• Revolusi.
Materialisme sejarah:
Sejarah kemasyarakatan hingga sekarang Communal Society /
Merupakan sejarah perjuangan klas Advance Communist

Teori nilai lebih


Sosialist
(Surplus value) Capitalist society
Proletariat

Feudal society Borjuis

Slave society / Barbarians


Empire

Ancient society / Pembahagian kerja, kepunyaan peribadi,


Primitive communism (tenaga)
Alienasi & Revolusi
• Dalam masyarakat industri, (i) manusia dialienasikan
dengan kerja (termasuk jiran, alam, lingkungan, dll.); (ii)
memaksa persaingan sesama klas pekerja (proletar); (iii)
eksploitasi tenaga kerja.

• Keadaan ini membuat manusia menjadi terpinggir, hampa


dst.

• Jalan keluar dari alienasi adalah revolusi (membangkitkan


kesadaran nyata) masyarakat komunis maju.

***
Fasisme
Sosiopolitik fasisme
• Fasisme pengorganisasisn pemerintah dan
masyarakat secara totaliter.
• Negara fasis mengingkari perbedaan kepentingan
dalam masyarakat jikapun ada, negara fasis
akan menghilangkannya dengan cara kekerasan
(ingat Rousseau general will ataupun will of all.
• Fasisme muncul di negara-negara yang relatif
makmur; komunisme di negara-negara miskin atau
membangun fasisme merupakan „produk‟
masyarakat industri.
Karena itu, ... komunisme adalah cara paksaan
untuk mengeliminasi industrialisasi, maka fasisme
adalah cara paksaan untuk menyelesaikan konflik
dalam masyarakat industri maju.
... produk negara industri modern sering melenyapkan
nilai tradisional dan tidak menawarkan nilai baru
yang lebih baik „perasaan tidak berguna.‟
... mencari kesamaan dalam semua kumpulan sosial
seperti rasa frustasi, marah dan tidak selamat.
Akar psikologi fasisme
• Hubunganbapak – anak [memberi rasa selamat,
aman melalui ketergantungan] bapak
mengetahui segala-galanya.
• Etnonastionalisme atau etnosentrisme.
Doktrin fasisme
1. Anti-rasional atau irrasionalisme fanatik &
dogmatik.
2. Pengingkaran terhadap persamaan derajat
manusia rasialis [lelaki lebih hebat berbanding
perempuan; militer daripada sipil].
3. Tidak mengenal oposisi hanya mengenal
konsep „kita‟ & „mereka‟ (musuh) brainwashing
atau dimusnahkan total(iter).
4. Prinsip kepemimpinan Pemerintahan oleh elit
konsep Philosopher king (Plato).
5. Perjuangan untuk survival bertahan
hidup imperialisme.
6. Sistem ekonomi fasisme menempatkan
negara sebagai segalanya [negara
korporatis].
Apakah arti kekuasaan?
• ”‟A‟ mempunyai kekuasaan terhadap B apabila ia
dapat menggerakkan ‟B‟ untuk melakukan
perintahnya yang sebenarnya tidak hendak
dilakukan oleh ‟B‟” (Robert Dahl)
• ”Kekuasaan adalah kemampuan untuk
melaksanakan kemauan kendati orang lain
menentangnya” (C. Wright Mills)
• “... suatu hubungan di mana seseorang atau
kelompok orang dapat menentukan tindakan
seseorang atau kelompok lain agar sesuai dengan
tujuan dari pihak pertama” (Laswell &Kaplan)
Konsep kekuasaan (i) pengaruh, (ii) persuasi (argumen),
(iii) paksaan (tekanan fisik), (iv) koersi (ancaman/intimidasi), (v)
manipulasi (rekayasa) & (vi) kewenangan.
Bagaimana dengan simbol?
Logika Kekuasaan
Kelas yang memerintah selalu sedikit; distribusi kekuasaan tidak selalu

merata (Piramida Kekuasaan).


• Adanya kesamaan persepsi atau nilai mengenai kekuasaan yang pahami
pemimpin (mempertahankan dan memperluas
kekuasaan).
• Akan terwujud jika ada relasional.

Kekuasaan soft power & hard power


Sumber Kekuasaan
1. Tradisi.
2. Perwahyuan (Tuhan atau Dewa).
3. Kharisma.
4. Perundangan Pemerintah.
5. Instrumental (kekayaan, keahlian, dll.).

Kewenangan Prosedural: (4)


Kewenangan Substansial: (1) (2) (3) (5)
Tipologi Kewenangan
(max weber)

• Legal-formal (Rasional), berdasar legalitas sistem


yang formal.

• Tradisional, berdasar kepercayaan/kesucian tradisi


yang telah berlaku sejak dulu (Raja, Sultan, Sunan).

• Karismatik, pengabdian yang total sikap dan perilaku


kepahlawanan, melalui asketisme,
perjuangan, dll.
Peralihan Kewenangan
(Paul Conn. 1971. Conflict and Decision Making: An Introduction to Political Science. New York: Harper & Ron
Publishing)

1. Turun-Temurun, dialihkan pada keturunan atau


keluarga pemegang jabatan terdahulu (politik
otokrasi tradisional).
2. Paksaan, peralihan kekuasaan pada kelompok lain
melalui partisipasi nonkonvensional (revolusi,
kudeta, dll.)
3. Pemilihan, peralihan kekuasaan melalui partisipasi
konvensional.
Legitimasi:
(Charles Andrain)
Penerimaan dan pengakuan masyarakat terhadap
hak moral pemimpin untuk memerintah,
membuat, dan melaksanakan keputusan
politik.
• Pralegitimasi pihak yg memerintah
meyakini bahwa telah ada dukungan moral
sedangkan yg diperintah belum.
• Tak berlegitimasi yang memerintah
Kadar memaksakan utk diakui secara moral oleh
masyarakat.
Legitima • Berlegitimasi yang diperintah mengakui
si dan mendukung pemerintah berkuasa.
• Pascalegitimasi Pemerintahan lama
sudah tidak diakui dan muncul dukungan
thd pemerintahan baru.
Cara Mendapatkan Legitimasi
1. Prosedural, melalui pemilihan umum.

2. Material, menjanjikan dan memberikan kesejahteraan materiil (basic


needs) pada masyarakat.

3. Simbolik, memanipulasi kecenderungan nilai, kepercayaan, tradisi,


dalam bentuk simbol-simbol.
Objek dalam sistem politik yang memerlukan
legitimasi agar suatu sistem politik tetap
berlangsung dan fungsional
i. Struktur-struktur politik, lembaga-lembaga politik;
ii. Keyakinan-keyakinan, baik nilai-nilai (kebebasan dan/atau
persamaan) maupun norma-norma (hukum, undang-undang, dll.);
iii. Kekuasaan oleh orang-orang tertentu;
iv. Kebijakan-kebijakan.
Krisis Legitimasi
• Pemerintah tak mampu mengelola dan
menjalankan kepemerintahan
(Crisis of Governability).
• Prinsip kewenangan yang beralih
(Tradisional Legal Formal).

• Kehancuran Ideologi (Ideological Bearkdown).


Perpecahan dalam tubuh pemerintah.
Distribusi Kekuasaan
1. Model elit berkuasa atau Model elit yang
memerintah
Elite

Middle level of power

Public

Pertama, klas yang memerintah (pemerintah), yang terdiri dari


sedikit orang, melaksanakan fungsi politik, memonopoli
kekuasaan, dan menikmatinya.
Kedua, klas yang diperintah, yang berjumlah banyak, cenderung
dimobilisasi oleh klas memerintah dengan cara yang kurang
lebih berdasar hukum dan juga paksaan.
lanjutan

Model Pluralis
Asumsi yang terbangun dalam masyarakat yang relatif
demokratis adalah setiap individu menjadi satu
anggota suatu kelompok atau lebih, berdasar pada
preferensinya atas kepentingan-kepentingan yang
melatarbelakanginya.
Mereka yang bergabung dalam kelompok-
kelompok berusaha untuk memperjuangkan
kepentingannya masing-masing dalam wadah negara
dengan pemerintah sebagai penyedia arena kompetisi.
Kelompok kepentingan berfungsi sebagai wadah
perjuangan, sehingga yang dimaksud dengan elit ialah
para kelompok yang saling bersaing dan berdialektika
dengan kelompok lain dalam mempengaruhi
keputusan-keputusan yang akan diformulasi oleh
pemerintah.
lanjutan

Model Populis
Asumsi yang mendasari model populis (popular) atau
kerakyatan adalah demokrasi. Pada sistem politik
demokrasi (liberal) yang dibangun adalah sikap
individualisme.
Individualisme sendiri diasumsikan sebagai: (i)
setiap warganegara yang telah dewasa mempunyai hak
memilih dalam pemilihan umum; (ii) setiap
warganegara yang sudah dewasa yang mempunyai
minat yang besar untuk aktif dalam proses politik; dan
(iii) setiap warganegara yang dewasa mempunyai
kemampuan untuk mengadakan penilaian terhadap
proses politik karena mereka memiliki informasi yang
memadai.
Distribusi Kekuasaan
(Charles Andrain. 1992. Kehidupan Politik dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Tiarawacana).

• Model Elit, kekuasaan yang dikuasai oleh sekelompok kecil orang.


Terdapat tiga tipe model elit:
(i) Elit Konservative; yang dalam segala tindakannya berorientasi
pada kepentingan pribadi atau golongannya saja.
(ii) Elit Liberal; elit yang membuka diri pada semua golongan/lapisan
masyarakat untuk menjadi bagian dari lingkungan elit sehingga
bersikap tanggap atas input sistem politik.
(iii) Counter-Elite; berorientasi pada cara pandang yang menentang
kemapanan (established order) –kelompok perlawanan elit sayap
kiri- maupun dengan cara menentang segala bentuk perubahan –
kelompok perlawanan elit sayap kanan-
• Model Pluralis, kekuasaan yang dipegang oleh banyak atau berbagai
kelompok/kekuatan sosial tertentu sesuai dengan aspirasi dan
kepentingan yang bersifat kultural dan ataupun ideologis, maupun
yang berdasar pekerjaan dan profesi.

• Model Populis, kekuasaan diturunkan pada seluruh masyarakat –


khususnya dalam hal pembuatan, pelaksanaan, serta evaluasi
kebijakan-.
Perilaku dan
Partisipasi Politik
PERILAKU POLITIK
Pengertian Perilaku Politik
Model Perilaku Politik
PARTISIPASI POLITIK
Pengertian Partisipasi Politik
Tipologi Partisipasi Politik
Model Partisipasi Politik
Perilaku Pemilih (Voting Behavior)
Perilaku Politik
Aktivitas yang dilakukan oleh negara &
masyarakat
berhubungan dengan proses pembuatan &
pelaksanaan keputusan politik
Aktivitas tersebut dikategorikan menjadi:
Fungsi Negara Aktivitas yang dijalankan oleh pejabat publik (supra-struktur
politik) dengan cara melaksanakan kewenangan yang dimilikinya untuk membuat
dan melaksanakan keputusan politik.
Fungsi Politik Aktivitas warganegara biasa (infra-struktur politik) dengan cara
mempengaruhi proses pembuatan & pelaksanaan keputusan politik.
Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Politik
• Lingkungan Sosial Politik Tidak Langsung
sistem politik, sistem ekonomi, sistem budaya, &
media massa.
• Lingkungan Sosial Politik Langsung Keluarga,
Agama, Sekolah, & Kelompok Pergaulan.
• Struktur Kepribadian Kepentingan, Adaptasi, &
Pertahanan diri.
• Situasi Ancaman & Politisasi.
Partisipasi Politik

Partisipasi politik keikutsertaan dalam proses pembuatan, pengesahan,


& pelaksanaan kebijakan pemerintah (Day, Parry & Mosley,
1992: 6).
Jenis Partisipasi Politik
• Partisipasi aktif (i) Mengajukan usul
mengenai suatu kebijakan umum, (ii)
Memberikan alternatif kebijakan yang
berbeda dengan kebijakan pilihan
pemerintah, (iii) Melakukan kritik serta
saran perbaikan bagi kebijakan pemerintah,
(iv) Membayar pajak, (v) Memilih anggota
legislatif, dan (vi) Memimilih kepala
pemerintahan.
• Partisipasi
Pasif Mentaati atau
menerima serta melaksanakan aturan
Bentuk Partisipasi Politik
GABRIEL ALMOND

PARTISIPASI PARTISIPASI NON-


KONVENSIONAL KONVENSIONAL
1. Pemberian Suara 1. Pengajuan Petisi
2. Diskusi Politik 2. Demonstrasi
3. Kampanye 3. Konfrontasi
4. Membentuk & 4. Mogok
Bergabung dlm 5. Vandalisme
kelompok kepentingan 6. Kekerasan terhadap
5. Komunikasi dgn individu
pejabat politik 7. Revolusi
8. Geriliya
Penggolongan Partisipasi Politik
• Milbrath & Goel membedakan partisipasi menjadi beberapa
golongan:
Apatis: Orang yg tidak berpartisipasi & menarik diri dari proses
politik
Spektator: Orang yg menjadi penonton tetapi setidak-tidaknya
pernah ikut memilih dalam pemilihan umum
Gladiator: Orang yg aktif dlm proses politik
Pengeritik: Kelompok Penekan atau juga kelompok ekstrimis
Piramida Partisipasi Politik Milbrath &
Goel

SANGAT AKTIF DALAM


DUNIA POLITIK

PERNAH IKUT MEMILIH

TIDAK AKTIF MENGGUNAKAN


HAK PILIH
Piramida
Roth & Partisipasi Politik
Wilson

SANGAT AKTIF

CUKUP AKTIF DALAM KEGIATAN


POLITIK

PEMILIH DAN PEMERHATI POLITIK

TIDAK BERPARTISIPASI DALAM


KEGIATAN POLITIK
Partisipasi Politik Stratifikasi
Sosial
Mancur
Olsen
• Pemimpin politik;

• Aktivis politik;

• Komunikator; Pemerhati Politik, ahli kebijakan dlsb

• Warganegara;

• Kelompok marginal; kelompok penderita cacat, kaum LGBT, kaum


miskin kota, masyarakat miskin di perdesaan, dsb.

• Kelompok terisolasi: masyarakat di daerah terpencil yang sulit


terjangkau oleh alat komunikasi maupun melalui transportasi.
Faktor Penentu Partisipasi Politik

1. Kesadaran Politik: kesadaran publik terhadap hak & kewajibannya


sebagai warganegara dipengaruhi oleh perubahan sosial &
pendidikan politik.

2. Konflik; dan

3. Kegagalan peran pemerintah derajat Kepercayaan masyarakat.


Perilaku Memilih
• Dalam negara demokrasi, memilih merupakan
salah satu bentuk partisipasi politik.
• Argumen yang melatari pemilih memilih adalah:
SOSIOLOGIS Kesamaan latarbelakang sosial,
tempat tinggal, agama, gender dan lainnya dengan
kontestan politik
PSIKOLOGI SOSIAL Persepsi dan ikatan
emosional terhadap kontestan politik (party id).
RASIONAL Kalkulasi atas manfaat program yang
ditawarkan oleh partai peserta pemilihan umum.
Kelompok
• Perikatan Kelompok:
1. Hubungan Darah, suatu komunitas yang diikat oleh
hubungan biologis (kekeluargaan dan kekerabatan)
di mana setiap individu di dalamnya
mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari suatu
keluarga besar.
2. Ikatan Ras, suatu komunitas yang dipersatukan oleh
kesamaan etno-biologis yang ditampilkan dalam cirri-
ciri fisik yang sama: warna kulit, jenis rambut, bentuk
wajah, dll.
3. Ikatan Adat-Istiadat, suatu komunitas dapat juga diikat
berdasarkan persamaan kebiasaan dan norma-norma
yang dianut.
4. Ikatan wilayah, fanatisme daerah yang dimiliki
kelompok tertentu biasanya berkembang menjadi
semangat kedaerahan yang sempit dengan
diwarnai oleh stereotype terhadap orang-orang dari
daerah lain.

5. Ikatan Agama.
Pengertian Kelompok
Kepentingan

Kelompok kepentingan adalah komunitas politik terorganisir yang terdiri


dari sejumlah orang yang memiliki ‘kesamaan pandangan’ dalam
berbagai aspek politik seperti persamaan afeksi & kognisi terhadap situasi
politik, kesamaan kepercayaan dan cita-cita politik secara ideologis.
Pentingnya Kelompok Kepentingan

Eksistensi kelompok kepentingan


(i) Heterogenitas komunitas didorong oleh:
dalam satu teritori (SARA),
dan
(i) Diversifikasi pekerjaan,
(ii) Luasnya wilayah.
(ii) Migrasi, &

(iii) Industrialisasi
Apa perbedaan antara kelompok
kepentingan dengan kelompok penekan?

Apa perbedaan antara kelompok kepentingan


dan kelompok penekan dengan partai politik?
Asal-usul Partai Politik
• Teori kelembagaan (institutional theory), partai politik
dibentuk oleh elit politik dalam lembaga (legislatif atau
eksekutif) karena ada keperluan para anggotanya untuk
mengadakan kontak dengan masyarakat dukungan publik.

• Teori situasi historis (historic situation theory) manakala


terjadi perubahan sosial dalam masyarakat (masyarakata
tradisional menuju masyarakat modern) yang terbangun adalah
tiga krisis sekaligus (legitimasi, integrasi, dan partisipasi). Untuk
mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa, maka
diperlukan wadah politik yang mampu mengatasi krisis tersebut.

• Teori Developmentalisme (modernisasi sosial-ekonomi),


kemajuan teknologi, perluasan peningkatan pendidikan,
industrialisasi, kompleksitas birokrasi, urbanisasi, dll.
melahirkan kebutuhan akan suatu organisasi politik yang mampu
memadukan pelbagai kebutuhan serta aspirasi masyarakat atas
kemajuan pembangunan itu sendiri.
Pengertian Partai Politik
• Karl J. Frederich sekelompok individu yang
terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut atau
mempertahankan kekuasaan atas lembaga negara bagi
pimpinan partainya dan melalui kekuasaan tersebut,
memberikan manfaat ideal dan materil kepada anggota
partainya.

• Sigmund Neumann organisasi yang


menghimpun aktivis-aktivis politik yang
berusaha untuk menguasai cabang-cabang
kekuasaan negara serta merebut
dukungan rakyat melalui persaingan
dengan suatu golongan atau golongan lain
yang mempunyai pandangan yang
• Giovanni Sartori Kelompok Politik yang
diidentifikasi dengan sebuah lambang resmi pada
saat pelaksanaan pemilu serta mampu
menempatkan kadernya untuk menduduki
jabatan-jabatan resmi pada lembaga-lembaga
negara melalui pemilu tersebut.

• R.H. Soltau sekelompok warganegara


yang relatif terorganisir dan bertindak
sebagai suatu kesatuan politik serta
bertujuan menguasai lembaga-lembaga
negara guna melaksanakan garis
kebijakan partainya.
Kategori Partai Politik

Terdapat tiga kategori Parpol yaitu:


Partai Elit (Partai Patronase)
Partai Kader (Partai Ideologis)
Catch All Party
Partai Elit (Elite Party)
Lahir dari kalangan kelompok-
kelompok elit politik di Kegiatan partai politik
lingkungan internal parlemen. hanya berfokus pada
Mekanisme pembentukan pemenangan pemilu
parpol bersifat top-down (election-related activities)
dan kurang aktif pada
diawali dari inisiatif elit-elit
masa pasca-pemilu.
politik di lingkaran kekuasaan
kemudian dibentuk Pendanaan partai tidak
kepengurusan hingga ke dilakukan secara swadaya
tingkat lokal. dari kalangan internal
Parpol. Cenderung
Disiplin partai tidak ketat
bergantung pada elit partai
sehingga tidak dilandaskan secara perseorangan
pada platform ideologi yang sebagai investor bahkan
jelas & keberadaan partai terkadang menggunakan
politik hanya dijadikan sumber keuangan negara
instrumen utk yg dilakukan secara tidak
mempertahankan status quo. sah.
Partai Kader (Cadres Party-mass Party)
• Keuangan partai
dikelola secara
• Kekecewaan terhadap Parpol transparan &
yang berasal dari internal
parlemen menyebabkan
melibatkan seluruh
kalangan eksternal parlemen anggota utk membiayai
bergerak untuk membentuk partai melalui iuran
parpol dengan idealisme bahwa
parpol merupakan jembatan • Parpol secara rutin dan
penghubung antara publik periodik melakukan
dengan pemerintah. kontak-kontak dengan
• Parpol memiliki basis platform masyarakat untuk
ideologis yang lugas sehingga
perumusan garis kebijakan
mensosialisasikan
partai menjadi konsisten, ideologi & program-
disiplin partai sangat ketat, & program kerja yang
proses kaderisasi berjalan akan, sedang, dan/atau
secara berkesinambungan yang telah diperjuangkan
memungkinkan rekruitmen
pemimpin politik yg lebih pada lembaga-lembaga
berkualitas. negara guna
dirumuskan menjadi
Catch All Party
• Catch All Party pertama kali muncul di wilayah Eropa
Timur setelah Perang Dunia Ke-2 sebagai respon terhadap
perubahan sosial hilangnya sekat tradisional dan
meningkatnya mobilitas penduduk.

• Catch All party berupaya untuk menarik dukungan dari


masyarakat yang memiliki kelompok pemilih
berlatarbelakang heterogen Secara politis, pemilih
heterogen cenderung moderat dan tidak terlalu ideologis,
tetapi menuntut pengelolaan urusan-urusan politik yang
lebih profesional & lebih menyentuh kebutuhan masyarakat
secara adil.

• Pendanaan partai menggunakan berbagai sumber


pendanaan yang ada termasuk sumbangan dari negara.

• Klaim dukungan terhadap partai politik bersumber dari


kompetensi kepemimpinan yg dimiliki oleh kader-kader
Perbandingan Partai Politik
Elit Massa Catch All
Abad 19 1880-1960 Setelah Perang
Kemunculan Dunia II
Asal-Muasal Dalam Luar Legislatif Dari Partai Yg Sdh
Legislatif Ada
Klaim Status Kelompok Kompetensi
Dukungan Tradisional Masyarakat

Keanggotaa Kecil dan Elitis Besar Berfokus Pd


n (Dibuktikan dgn Pemimpin
Kartu Anggota)
Sumber Perseorangan Iuran anggota Berbagai Sumber
Dana
Contoh Partai Partai Buruh Partai Republik &
Konservatif Inggris Demokrat di
Fungsi Partai Politik
Miriam Budiardjo: (i) sarana
komunikasi politik, interest aggregation
Gabriel Almond:
and articulation aggregation; (ii)
sosialisasi politik, wahana internalisasi (i) Sosialisasi Politik,
sikap dan nilai politik; (iii) rekrutmen
politik.
(ii) partisipasi politik,
(iii) rekrutmen politik,
(iv) komunikasi politik,
(v) artikulasi kepentingan,
dan
(vi) agregasi kepentingan.

Roy C. Macridis: (i) representasi (perwakilan), (ii)


konversi dan agregasi, (iii) integrasi, (iv) pemilihan
pemimpin, (v) kontrol terhadap pemerintah, dan (vi) fungsi
dukungan.
Sistem Perwakilan Parlemen

Sistem perwakilan parlemen (chambers of parliament) terdiri dari:

Unikameral
Bikameral
Trikameral
UNIKAMERAL

• Tidak ada pembagian majelis tinggi & majelis rendah


sehingga fungsi perwakilan dipusatkan pada satu
lembaga parlemen (general assembely).
• Negara yg menggunakan sistem ini umumnya
penduduknya relatif homogen dan wilayahnya tidak luas
seperti Albania, Angola, Armenia, Bangladesh, Kamerun,
Brunei, East Timor, dan macam sebagainya.
BIKAMERAL
Umumnya terdapat pembagian tingkatan parlemen yaitu
Upper & Lower House
Amerika Serikat: „Senate‟ dan „House of Representatives‟

Inggris: „House of Lords‟ dan „House of Commons‟

Belanda : „Eerste Kamer‟ dan „Tweede Kamer‟

Indonesia : DPR dan DPD


– Soft Bicameral: salah satu pengisi „Kamar Parlemen‟ sangat dominan
berbanding lainnya.

– Strong Bicameral: kedua kamar memiliki kekutan yang relatif berimbang.

– Perfect Bicameral: kedua kamar memiliki kekuatan yang benar-benar


berimbang.

(Giovani Sartori)
Bagaimana dengan
Trikameral?
PEMILIHAN UMUM
• Pemilihan umum (Pemilu) merupakan kontrak politik sekaligus
sebagai bentuk akomodasi hak politik warganegara untuk
berpartisipasi dalam memilih wakilnya baik di parlemen
maupun di pemerintahan secara demokratis Hal ini
dapat dilakukan secara langsung atau tidak.

• Sistem pemilu menekankan pd aspek CARA MENGHITUNG


PEROLEHAN SUARA yang diperoleh partai politik atau
kontestan politik dalam suatu penyelenggaraan pemilu
JENIS SISTEM PEMILU
VOTI SINGLE-MEMBER CONSTITUENCY
(DISTRIC SYSTEM)
NG
SYST MULTI-MEMBER CONSTITUENCY
EM (PROPORTIONAL SYSTEM)

• Single-member constituency (Sistem Distrik) Satu


daerah pemilihan memilih satu perwakilan.

• Multi-member constituency (Sistem Proporsional) Satu


daerah pemilihan memilih perwakilannya secara
proporsional
SISTEM DISTRIK
• Sistem distrik merupakan sistem pemilihan yang didasarkan atas kesatuan
geografis (distrik) setiap kesatuan geografis (distrik) menyumbang satu
kursi di parlemen.

• Sistem distrik membagi wilayah negara ke dalam distrik-distrik kecil yang


diperkirakan jumlah pemilihnya sama.

• Sistem distrik hanya membenarkan seorang wakil mewakili satu distrik melalui
mekanisme the first past the post (FPTF) kontestan yang memperoleh
suara terbanyak menjadi pemenang tunggal.

• Suara yg mendukung kontestan yang kalah dianggap hilang.


Keunggulan & Kelemahan
Sistem Distrik
• Pembagian distrik yang sangat banyak • Terjadi diskriminasi terhadap kelompok
membuat luas wilayah distrik menjadi kecil marginal & minoritas sebab sistem distrik

sehingga masyarakat lebih mengenal kurang peka terhadap kemajemukan atau

wakil yang akan dipilihnya. heterogenitas masyarakat.


• Kurang representatif sebab suara yang
• Fragmentasi Parpol rendah sebab mendukung kontestan yang kalah dianggap
pertarungan mendapat kursi di parlemen hilang mengabaikan pengorbanan
sangat ketat sehingga mendorong Parpol masyarakat yang sudah meluangkan waktu
saling bekerjasama. untuk mendukung & memilih Parpol
tertentu meskipun suara Parpol tsb kalah.
• Menekan minat politisi untuk
• Politisi terpilih cenderung lebih
membentuk Parpol baru.
mengedepankan kepentingan distrik
pemilihannya dibandingkan kepentingan
• Memungkinkan terbentuknya kursi
nasional.
mayoritas di parlemen (50% + 1) dan
meminimalisir pertikaian politik serta
menciptakan kondisi politik yang stabil.
SISTEM PROPORSIONAL

• Dalam sistem proporsional satu wilayah dianggap sebagai satu kesatuan.

• Sistem proporsional membagi jumlah kursi sesuai dengan jumlah suara


yang diperoleh kontestan secara nasional tanpa menghiraukan
distribusi suara tidak ada suara yang hilang.

• Terbagi kedalam proporsional terbuka & proporsional tertutup.


Keunggulan & Kelemahan
Sistem Proporsional
• Sistem Proporsional dianggap lebih • Mendorong terjadinya fragmentasi
demokratis, sebab asas one man one Parpol secara kuantitas sehingga
vote dilaksanakan secara penuh tanpa cenderung mengutamakan kepentingan
ada suara yang hilang. politik masing-masing bahkan hingga
kepentingan di tingkat individu aktor politik.
• Sistem ini dianggap representatif, karena
• Sulit menciptakan Parpol dengan kursi
jumlah kursi partai dalam parlemen
mayoritas di parlemen memicu
sesuai dengan jumlah suara yang
pertikaian & instabilitas politik.
diperolehnya dari masyarakat dalam
• Wakil rakyat bekerja untuk Parpol
Pemilu.
bukan untuk konstituen bahkan untuk
‘proporsional tertutup,’ wakil rakyat
cenderung mengabdi pada elit pimpinan
Parpol.
CONTOH PENGHITUNGAN
SUARA

• Suatu negara terdiri dari 100.000 orang yg memiliki hak pilih

• Kemudian terdapat 3 partai politik yg bersaing yaitu Partai A, Partai B dan


Partai C

• Jumlah Kursi di Parlemen yang diperebutkan adalah sebanyak 100 kursi


... MENGGUNAKAN SISTEM DISTRIK
• Negara dibagi ke dalam 100 distrik pemilihan sesuai dgn
jumlah kursi Masing-masing daerah pemilihan terdiri
dari 1.000 pemilih.

• Setiap distrik pemilihan hanya mengirimkan satu partai utk


mengisi 1 kursi di parlemen berdasarkan suara yg
terbanyak

• Misalnya partai A pada satu distrik mendapat suara 501


suara kemudian Partai B mendapat suara 499 suara dan
Partai C sama sekali tidak mendapat suara maka Partai A
... MENGGUNAKAN SISTEM PROPOSIONAL

• Tidak ada pembagian wilayah (distrik) pemilihan semua


dihitung sebagai satu kesatuan
• Misalnya Partai A mendapat 60% suara dari seluruh
pemilih kemudian Partai B mendapat 30% suara dan
Partai C mendapat 10% suara, maka Partai A berhak
untuk mendapatkan 60 kursi di Parlemen, kemudian
Partai B mendapat 30 kursi dan Partai C 10 kursi
sehingga tidak ada suara yg hilang
HAM & DEMOKRASI
Problem awal:
• Mengapa negara berkuasa?

• Dari manakah keabsahan negara untuk berkuasa (termasuk untuk


menggunakan kekerasan)?

• Jika kekuasaan negara begitu besar, di manakah letak hak asasi manusia?

• Apa kaitannya dengan demokrasi?


Negara dalam konteks Abad Pertengahan
• Negara menggunakan kuasanya untuk
menegakkan moral guna menciptakan ketertiban
sosial (individu sumber dosa; „konsep dosa awal
manusia‟)
St. Augustine.
• Kekuasaan negara pada masa itu dibatasi oleh
kuasa Gereja (Sacredotium di atas Imperium).
Negara dalam konteks Abad Modern
• Negara Organik: Negara merupakan badan yang
memiliki kehendaknya sendiri yang mandiri. Negara
bukan alat atau kehendak sekelompok orang atau
lainnya.
• Negara Fasis: Bentuk ekstrim dari negara organik;
Negara menjadi badan dan „jiwa‟ bangsa yang
total(iter). Semua orang menyerahkan daulatnya
kepada negara, karena negaralah yang tahu apa yang
baik untuk bangsa mereka.
• Negara Instrumentalis: Negara sebagai instrumen
kepentingan kelompok penguasa (ekonomi).
• Negara Pluralis: Negara netral yang ada di atas
semua kepentingan.
Negara berkembang
Negara yang berpihak
Pandangan Karl Marx (Negara Instrumentalis): Negara mengurusi kepentingan
kelompok borjuis.
Pandangan Ralph Miliband (Negara Elit Penguasa): Elit penguasa mempunyai
pertimbangan sendiri untuk menentukan kebijakan publik (Pertarungan Elit).
Pandangan Benedict Anderson; budaya masyarakat Negara Dunia Ketiga masih
feodal sehingga menciptakan keadaan paternalistik dan otokratik.
Teori Poskolonial
Otoritarianisme negara disebabkan sejarah bangsa
kolonial yang menciptakan asimetrisitas antara negara
dan masyarakat (negara di bawah kendali negara).
Birokrasi, militer hingga badan peradilan digunakan
untuk kepentingan negara kolonial. Ini berjalan terus
hingga kemerdekaan.
Teori Negara Otoriter Birokratik
Otoritarianisme negara berhubung rapat dengan proses
perkembangan ekonomi yang sedang berlangsung
(Pengindustrian Subtitusi Import & Pengindustrian
Orientasi Eksport); karena itu, negara bertindak
otoriter.

Teori Aliansi segitiga


- Kelanjutan Teori NOB.
- Aliansi Segitiga Terdiri atas: (i) Pemerintah lokal; (ii)
Kapitalis@pengusaha lokal; dan (iii) Investor asing.
• Negara menjadi aktor dominan
1950-1980-an:
era statisme • Penyelenggaraan pemerintahan terpusat
• Skop intervensi negara luas

• Pasar adalah aktor dominan


1980-2000-an: • Penyelenggaraan pemerintahan desentralistik
era • Lingkup intervensi negara seminimal mungkin
liberalisme/ (kapasitas negara menurun sebab delegitimasi
minimal state akibat amalan menyimpang yang menyebabkan
munculnya distrust)

2000-sekarang: • Berupaya mencapai keseimbangan antara


era state negara, pasar dan masyarakat (civil society)
building • Penyelenggaraan pemerintahan desentralistik
(penguatan • Lingkup intevensi negara disesuaikan dengan
negara) kapasitas negara
JENIS HAK ASASI MANUSIA

• Civil Rights
• Political Rights
• Economic Rights
• Social Rights
• Cultural Rights
UDHR HAM
• Hak Sipil & Politik:

Hak hidup, hak mengutarakan pendapat, hak


berserikat, hak berkeyakinan (beragama), hak
kesamaan di muka peradilan, hak untuk tidak
disiksa, dll.
• Hak Ekonomi, Sosial, & Budaya:

Hak atas pekerjaan, hak atas pensiun, hak


untuk hidup layak, hak pendidikan, dll.
Schmitter & Karl: Demokrasi ialah sistem
pemerintahan di mana penguasa wajib
mempertanggungjawabkan tindakannya kepada
rakyat melalui sistem perwakilan dan dipilih melalui
mekanisme pemilihan umum.

Bentuk pengambilan keputusan di mana


setiap orang yang terlibat memiliki hak dan
kemungkinan untuk berpartisipasi
setiap orang memiliki sedikit kuasa.
Akar demokrasi
• Yunani Kuno rakyat memilih pemimpin & „civic virtue’

• Romawi Kuno Republik (res + publica), rule of law untuk semua


individu & representative government@democracy

• Magna Carta limited government@power


Elemen asas demokrasi
• Pemilihan umum (partisipasi politik • Multiparti
konvensional & non-konvensional)
• Kebebasan media
• Hak asasi manusia
• Masyarakat sipil yang bebas
• Undang-undang
• Budaya politik yang terbuka
• Pembagian Kekuasaan
• ?????
• Pemerintah dan oposisi
Model demokrasi
• Elitist theories of democracy.

• Pluralism (wujudnya checks & balances sehingga none


become too strong; melindungi & mem-promotes
kepelbagaian kepentingan rakyat; protect citizens from
centralized power).
• Corporatism (Interest
groups berintegrasi dengan
pemerintah memudahkan formulasi kebijakan dll.;
mengurangi partisipasi warganegara).
• Participatory democracy.

• Illiberal & liberal democracy.

226
Demokratisasi
• Apa demokratisasi?

• Mengapa terjadi demokratisasi?

• Bagaimanakah demokratisasi
terwujud?
Apa?
• Demokratisasi adalah peralihan dari rejim nondemokratik ke rejim
demokratik.

• Gelombang pertama (1828-1926)

• Gelombang kedua (1943-1962)

• Gelombang ketiga (1974-?)


A. Australia, Canada, Finland, Iceland, Ireland, New
Zealand, Sweden, Switzerland, United Kingdom,
United States

B. Chile

C. Austria, Belgium, Colombia, Denmark, France, West


Germany, Italy, Japan, Netherlands, Norway

D. Argentina, Czechoslovakia, Greece, Hungary, Uruguay

E. East Germany, Poland, Portugal, Spain

F. Estonia, Latvia, Lithuania

G. Botswana, Costa Rica, Gambia, Israel, Jamaica,


Malaysia, Malta, Sri Lanka, Trinidad and Tobago,
Venezuela

H. Bolivia, Brazil, Ecuador, India, South Korea, Pakistan,


Peru, Philippines, Turkey

I. Nigeria

J. Burma, Fiji, Ghana, Guyana, Indonesia, Lebanon

K. Bulgaria, Dominican Republic, El Salvador,


Guatemala, Honduras, Mongolia, Namibia, Nicaragua,
Panama, Papua New Guinea, Romania, Senegal

L. Haiti, Sudan, Suriname


Mengapa?
• Merosotnya legitimasi dan dilema kinerja kerajaan/pentadbiran

• Perkembangan ekonomi dan krisis ekonomi

• Kebijakan luar negeri AS, UK dan negara-negara demokrasi mapan.

• Efek bola salju

• Perubahan kebijakan agama Katolik


Bagaimana?
• Transformation (pihak berkuasa mempelopori transformasi politik).

• Replacement (kekuatan rakyat, people power).

• Transplacement (gabungan antara pihak berkuasa dan rakyat).

• Abad 21? Arab Spring (Mideast uprisings)

(twitterrevolutions@facebookrevolutions)
Demokratisasi Bukan tanpa halangan ...
• Halangan politik: adanya elements of disloyalty (ekstremis, militer,
manipulator, dll.)

• Halangan kultural: demokrasi hanya sesuai bagi budaya Barat


(enlightenment, secularization) dan sebaliknya kurang sesuai bagi
budaya non-Barat

• ....
Konstruksi Teori
Konflik dapat diartikan sebagai interaksi antara
paling tidak dua aktor (individu atau kelompok)
yang memiliki tujuan berbeda (perbedaan
kepentingan, kebutuhan, & ideologi (nilai
hidup)).

Perbedaan ini secara umum merupakan


wujudnya gap antara pikiran, perkataan, dan
perbuatan aktor.
Makna Konflik

• Menurut Ralf Dahrendorf, konflik


memiliki dua makna:
Konflik merupakan akibat dari tidak
sempurnanya proses integrasi dalam
suatu entitas masyarakat.
Konflik merupakan proses alamiah yang
membawa pada rekonstruksi sosial.
Lanskap konflik ‘kekerasan’
(Selayang Pandang)

∞ Pelaku Kekerasan adalah Orang (yang) Jahat


‫ ﻤ‬Motif Kodrat Manusia (Hobbesian)

∞ Pelaku Kekerasan adalah Orang (yang) Perasa


‫ ﻤ‬Motif Kodrat Manusia (Osama Bin Laden, Adolf Eichkmann, Rudolf Heutz,
….)
‫ ﻤ‬Mencapai sebuah Tatanan Negara yang Baik (Devosi
Eksesif Manusia)
‫ ﻤ‬Rasa Takut, Panik, dan Eksistensi (Ekspansi Emosi)

∞ Konsep “Ours” dan “The Others”


Sumber Konflik

• Konflik Horizontal keragaman sosial


(perbedaan profesi, tempat tinggal (desa-kota),
dll) & kultural (perbedaan ras, etnis, agama,
dll).
• Konflik Vertikal perbedaan kekayaan
(kesenjangan ekonomi), pengetahuan, &
kekuasaan.
Tujuan Konflik

(i) Mendapat Sumber, karena manusia memerlukan


sumber-sumber tertentu yang bersifat material-
jasmaniah dan spiritual-rohaniah untuk dapat hidup
secara layak dan terhormat dalam masyarakat.
(ii) Mempertahankan Sumber, karena manusia pasti
mempertahankan sumber yang menjadi miliknya dan
berupaya mempertahankannya dari pihak lain untuk
merebut atau mengurangi sumber tersebut.
Struktur Konflik
• Struktur konflik dapat dibedakan ke dalam dua
tingkatan:
– ZERO SUM CONFLICT situasi konflik yang bersifat
anatagonistik sehingga tidak memungkinkan tercapainya
suatu kompromi di antara pihak-pihak yang bertikai
(win-lose) konflik destruktif.
– NON-ZERO SUM CONFLICT situasi konflik yang
memungkinkan terjadinya kompromi di antara pihak
yang bertikai untuk mencapai win-win situation sehingga
masing-masing pihak memperoleh keuntungannya
tersendiri sifat konflik konstruktif.
Pendakatan Konflik
(i) Pendekatan Sturktural-Fungsional, masyarakat
mencakup bagian-bagian yang berbeda fungsi tetapi
saling berhubungan satu sama lain secara fungsional.
(ii) Pendekatan Konflik, masyarakat mencakup berbagai
bagian yang memiliki kepentingan yang saling
bertentangan.
---------------------

(iii) Konflik merupakan sympton (gejala penyakit) akibat dari


proses integrasi di dalam masyarakat yang tidak tuntas
dapat yang dapat merusak persatuan dan kesatuan
masyarakat.
(iv) Konflik dapat pula dipahami sebagai sebuah proses
alamiah dalam rangka sebuah proyek rekonstruksi sosial.
Dalam hal ini konflik dapat dilihat secara fungsional
sebagai suatu strategi untuk menghilangkan unsur-unsur
disintegrasi di dalam masyarakat yang tidak terintegrasi
secara sempurna.
Pengaturan/Pengendalian Konflik
Menurut Ralf Dahrendorf: (i) konsiliasi (berpihak dan
berdiskusi secara terbuka untuk mencapai kesepakatan);
(ii) mediasi (mencari nasihat dari pihak ketiga); (iii)
arbitrase (kedua belah pihak sepakat mendapatkan
keputusan dari pihak ketiga (arbitrator)).

Menurut Eric Nordlinger: (i) koalisi pemerintahan yang


stabil di antara partai-partai politik; (ii) penerapan prinsip
proporsional; (iii) penerapan saling veto (suatu kebijakan
tak dapat diambil tanpa disetujui oleh semua pihak); (iv)
depolitisasi purposive (para pemimpin kelompok yang
berkonflik sepakat untuk tidak melibatkan pemerintah
dalam bidang kebijakan umum untuk mempengaruhi nilai
dan kepentingan berbagai kelompok yang berkonflik); (v)
kompromi (penyesuaian semua pihak yang konflik pada
satu bentuk kesepakatan); dan (vi) konsesi (kelompok yang
terkuat memberikan konsesi).
Sex, Gender, & Feminisme
• Sex?

• Gender?

• Feminin >< Maskulin?

• Feminisme?
1. Mengapa perempuan merasa terdominasi?

2. Mengapa perempuan perlu bebas?

3. Apakah faktor utama perempuan terdominasi?

4. Bagaimanakah meniadakan dominasi tersebut?


Mengapa perempuan merasa
terdominasi?
Mengapa perempuan merasa
terdominasi?
1. Nature theory perbedaan biologi dan sexual division of labor.

2. Nurture Theory konstruksi sosial dan keagamaan.

Patriarki, budaya, religi, kelas, dll.


Mengapa perempuan perlu bebas?
1. Perempuan harus menjadi manusia yang utuh.
2. Perempuan harus diberi peluang sama dengan
lelaki untuk membina struktur sosial dan
menentukan ketamadunan negara.
3. Menciptakan kesamarataan dan keadilan
terhadap perempuan.
Apakah sumber penindasan
perempuan?
• Teori
liberal wanita dianggap second sex &
wujudnya sexual division of labor.
• TeoriMarxis Tubuh@badan wanita ialah
komoditas dan lelaki mendominasi hak milik
(patriarki).
• Teori
psikoanalisis cara berfikir wanita (oedipus
complex & penis envy).
Bagaimana menyelesaikannya?
1. Memutuskan hubungan dengan lelaki (Feminis
radikal).
2. Memberdayakan perempuan konstruksi
pemikiran (kesadaran).
3. Mengubah ‘anatomy is destiny’ menjadi
‘language is destiny’ (Jacques Lacan).
Terimakasih