Anda di halaman 1dari 35

GANGGUAN OBSESIF-KOMPULSIF

BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan obsesif-kompulsif merupakan sebuah gangguan kecemasan di


mana orang memiliki keinginan yang tidak diinginkan dan diulang, perasaan, ide,
sensasi (obsesi) atau tingkah laku yang membuat mereka selalu ingin melakukan
sesuatu (kompulsif).1
Istilah obsesi menunjuk pada suatu ide atau bayangan mental yang
mendesak ke dalam pikiran secara berulang. Pikiran atau bayangan obsesi dapat
kekhawatiran yang biasa tentang apakah pintu sudah dikunci atau belum sampai
fantasi aneh dan menakutkan tentang bertindak kejam terhadap orang yang
disayangi. Istilah kompulsi menunjuk pada dorongan atau impuls yang tidak dapat
ditahan untuk melakukan sesuatu. Sering suatu pikiran obsesif mengakibatkan
suatu tindakan kompulsif. Tindakan kompulsif dapat berupa berulang kali
memeriksa pintu yang terkunci, kompor yang sudah mati atau menelepon orang
yang dicintai untuk memastikan keselamatannya.2

1
BAB II
STATUS PSIKIATRI

IDENTITAS PASIEN
Tanggal : Sabtu,20 oktober 2018
Jam : 11.00 WIB
- Nama : Ny. N
- Jenis Kelamin : Perempuan
- Tempat, Tgl Lahir/Umur : Jambi, 03 juni 1958/ 60 Tahun
- Status Perkawinan : Menikah
- Bangsa : Indonesia
- Suku : Melayu
- Agama : Islam
- Pendidikan : Sekolah Dasar (SD)
- Pekerjaan : pedagang
- Alamat : RT.11 Kel Beringin Kec. Pasar Jambi
- Pernah Masuk Rumah Sakit : Tidak pernah

KETERANGAN DARI ALLO/INFORMAN


- Nama : Nn.p
- Jenis Kelamin : Perempuan
- Umur : 25 Tahun
- Pekerjaan : IRT
- Alamat : RT.11 Kel Beringin Kec. Pasar Jambi
- Telepon : 081369494384
- Hubungan dengan pasien : Anak Kandung
- Keakraban dengan pasien : Akrab
- Taraf dipercaya : Dapat dipercaya

2
I. ANAMNESIS
Keterangan/Anamnesis di bawah ini diperoleh dari:
 Informan (Autoanamnesis/pasien dan alloanamnesis/anak pasien)
1. Pasien datang ke fasilitas kesehatan ini atas keinginan:
Pasien dan keluarga pasien
2. Sebab Utama : Os datang dengan keluhan mencuci tangan
berulang-ulang >7 kali dalam sehari.
3. Keluhan Utama :
- Os datang dengan keluhan mencuci tangan berulang-ulang >7 kali
dalam sehari.
- Os juga suka bermain air sejak 40 tahun lalu
4. Riwayat Penyakit Sekarang :
Keluhan dan gejala
- Os datang dengan keluhan mencuci tangan berulang-ulang >7 kali
dalam sehari.
- Setelah buang air os mencuci tangannya berulang-ulang karena Os
merasa tangannya terkena air kencing
- Keluhan os berkurang saat os mandi karena os merasa badan nya agak
bersih setelah dia mandi
- Os juga sering merasa cemas dan khawatir akan kebersihannya
- Keluhan dirasakan sudah berlangsung 40 tahun yang lalu
5. Hendaya/disfungsi dalam hubungan sosial, pekerjaan, dan
penggunaan waktu senggangnya
- Os sulit beraktivitas seperti orang biasa karena merasa cemas dan
khawatir akan kebersihannya selalu kotor
6. Riwayat penyakit dahulu
- Keluhan serupa sudah ada sejak 40 tahun lalu
- Riwayat Hipertensi (-)
- Riwayat DM (-)

3
7. Riwayat Premorbid
a. Riwayat Kehamilan
 Kehamilan yang diinginkan
 Kesehatan fisik : dalam batas normal
 Kesehatan Mental : dalam batas normal
b. Riwayat Persalinan
 Os lahir cukup bulan

c. Kemampuan Bicara
 Os dapat berbicara dengan baik
d. Interaksi Sosial
 Interaksi sosial kurang baik
e. Perilaku
 Os sangat suka bermain air
 Os mencuci tangan berulang-ulang
 Os sering merasa cemas dan khawatir akan kebersihannya
f. Kepribadian serta tempramen : Pemarah (-)
g. Riwayat Sosial
 Interaksi sosial os kurang baik
h. Situasi sosial saat ini
1. Tempat tinggal : Rumah Os (+)
2. Polusi Lingkungan : Tenang(+)
8. Riwayat keluarga
a. Identitas keluarga
Identitas KELUARGA
Suami : Tn. AR Anak : Nn.P
Bangsa Indonesia Indonesia
Suku Melayu Melayu
Agama Islam Islam
Pendidikan SMA SMA
Pekerjaan Pedagang IRT
Umur 65 Tahun 25 Tahun
Alamat RT.11 Kel Beringin -
Kec. Pasar Jambi

4
Hubungan Suami Anak Kandung

b. Kepribadian, dijelaskan oleh pasien


 Suami : suami os seorang yang baik (+) perhatian (+)
 Anak : Anak os seorang yang baik (+) perhatian (+)

c. Riwayat tempat tinggal yang pernah didiami os :


Rumah tempat Keadaan Rumah
tinggal Tenang Cocok Nyaman
Rumah
Os bersama
suami dan ketiga √ √ √
anaknya

d. Faktor keturunan (Genetik)


Tidak ada keluhan serupa dalam keluarga
e. Faktor Organik : Kejang (-) Demam tinggi (-) Kelumpuhan
(-)Trauma kepala (-) lain-lain (-)
f. Faktor Pencetus
 Os merasa cemas dan khawatir akan kebersihannya
 Os juga merasa kotor setelah buang air
g. Riwayat penggunaan NAPZA : (-)
h. Persepsi dan tanggapan pasien mengenai diri dan kehidupannya :
Os kooperatif saat diajak berkomunikasi

5
1. AUTOANAMNESIS – TANGGAL 20/10/2018 DI POLIKLINIK JIWA
SM : Selamat pagi bu, perkenalkan saya dokter muda Sari. Boleh saya
bertanya-tanya sedikit?
A : Selamat pagi. Boleh.
SM : Apa keluhannya sekarang Bu?
A : Saya sering mencuci tangan berulang-ulang .
SM : Berulang-ulangnya seperti apa, Bu?
A : Setelah saya buang air kecil saya merasa tangan saya terkena air kencing
dan saya terus menerus mencucinya dan merasa bahwa tangan saya
masih kotor meskipun saya telah mencucinya
SM : Apakah memang tangan ibu terkena air kencing ?
A : Kadang ada. Kadang tidak. Kebanyakan tidak ada.
SM : Sejak kapan keluhan ini dirasakan?
A : Sejak 40 tahun lalu dok.
SM : Apakah keluhan ini muncul setiap hari?
A : Ya.
SM : Apakah ada waktu tertentu yang membuat keluhan ibu muncul?
A : Ya dok. Keluhan semakin menjadi ketika saya buang air kecil maupun
buang air besar.
SM : Apakah ada keluhan lain yang Ibu rasakan saat ini?
A : Ada. Banyak.
SM : Apa itu?
A : Saya merasa selalu cemas dan khawatir akan kebersihan diri saya dan
lingkungan dok saya baru merasa tenang dan bersih ketika saya mandi
tapi tak lama kemudia saya merasa kotor kembali.
SM : Ibu sudah pernah periksa di dokter sebelumnya?
A : Belum pernah dok.
SM : Ibu di rumah bagaimana hubungannya dengan keluarga?
A : Baik.
SM : Tidak pernah ada masalah?
A : Tidak ada dok

6
SM : Baik bu, kalo boleh saya tau Apa pekerjaannya Bu?
A : Pedagang dok tapi sekarang dilanjutkan dengan anak saya dok karena
penyakitku ini.
SM : Bagaimana perasaan Ibu setelah tidak bekerja?
A : Tidak enak perasaannya
SM : Apakah penyakit yang Ibu rasakan ini sampai mengganggu keseharian
BIbu seperti nonton, makan, dan waktu senggang Ibu?
A : Iya dokter sedikit mengganggu karena saya merasa cemas akan
kebersihan saya.tapi, Saya masih bisa sholat, makan, mandi, nonton,
mengobrol dengan keluarga, dan tetangga.
SM : Apakah Ibu pernah kecelakaan seperti jatuh dan kepalanya terbentur
atau dipukul orang?
A : Tidak pernah..
SM : Apakah ada obat-obatan yang Ibu konsumsi yang tidak dari resep
dokter?
A : Tidak.
SM : Apakah Ibu mengonsumsi alkohol?
A : Tidak juga.
SM: Bagaimana dengan napsu makan Ibu?
A : Baik.
SM : Saya nanti sebut 3 buah benda. Coba diulangi yah. Pulpen, televisi, hp.
A : Pulpen, televisi, hp. Kenapa ditanya seperti ini?
SM : Untuk tes saja ingatannya Ibu. Ibu ke sini dengan siapa, Bu?
A : Dengan Suami dan anak saya. Suami saya di mobil menunggu.
SM : Seratus dikurang tujuh berapa, Bu?
A : Sembilan puluh tiga.
SM : Ibu masih ingat dulu sekolah di mana saja?
A : Masih. Saya sekolahnya dari SD
SM : Ibu dulu kerja di mana?
A : Saya kerja di pasar, berdagang.
SM : Kalau misalnya dapat dompet di jalan, mau diapakan itu dompet?

7
A : Yah, dikembalikan ke yang punya atau kasih ke polisi.
DM : Oh, iya, bu. Terima kasih atas jawabannya.
A : Sama-sama.
II. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 20 oktober 2018 jam 10.00 WIB.
1. Penampilan
 Sikap Tubuh : Baik, Perhatian
 Cara Berpakaian : Tampak rapi
 Kesehatan fisik : Tampak sehat
2. Perilaku dan aktifitas psikomotor
 Cara Berjalan : Biasa
 Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif, kontak mata (+)
3. Pembicaraan
 Cara Berbicara : Biasa
 Produktifitas : Baik
4. Afek, mood, dan emosi lainnya
 Mood : cemas
 Afek : Depresif
5. Pikiran
 Bentuk Pikir : Realistik
 Arus Pikir : Koheren
 Isi Pikir : Baik
6. Persepsi
 Halusinasi : (-)
 Ilusi : Tidak ada
7. Sensorium
 Kesadaran : Compos mentis
 Orientasi :
a. Waktu : Baik
b. Tempat : Baik
c. Orang : Baik
 Konsentrasi dan kalkulasi : Cukup Baik
 Memori : Baik
 Pengetahuan Umum : Baik
8. Pengendalian Impuls : Cukup Baik
9. Daya Nilai : Cukup Baik
10. Tilikan : IV
11. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya

8
III. PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
Keadaan umum : Tenang
Kesadaran : kompos mentis
Status Gizi : baik
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 85x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu : 36,5oC
Kulit : Turgor baik
Kepala : Tidak ada deformitas
Mata : Tidak dilakukan pemeriksaan
Leher : dbn
Thoraks : dbn
Jantung : dbn
Pulmo : dbn
Abdomen : dbn
Ekstremitas : dbn

IV. STATUS NEUROLOGIS


N I-XII : Tidak ada kelainan
Gejala rangsang meningeal : Tidak ada
Gejala TIK meningkat : Tidak ada

V. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LAINNYA


Pemeriksaan Darah Rutin dalam batas normal

VI. DIAGNOSIS BANDING


1. F20.0 Skizofrenia Paranoid
2. F41.9 Gangguan Anxietas YTT
3. F42 Gangguan Obsesif-Kompulsif
4. F42.2 Campuran pikiran dan tindakan obsesif

9
VII. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Axis I : F42 Gangguan Obsesif-Kompulsif
Axis II : Tidak ada Diagnosa
Axis III : Tidak ada diagnosa
Axis IV : Tidak ada diagnosa
Axis V : GAF Scale saat ini 70-61 (beberapa gejala ringan dan menetap,
disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik. GAF Scale saat
pemeriksaan 70-61.)

VIII. SARAN/ USUL


Konsul ke dokter spesialis Jiwa

IX. TERAPI
1. Terapi perilaku-edukasi
Terapi perilaku berfungsi untuk membentuk dan meningkatkan perilaku
sosial dan untuk mengendalikan serta menekan perilaku Obsesif pasien. Jadi
terapi edukasi sangat membutuhkan keterlibatan keluarga dalam pengobatan
karena keterlibatan keluarga dalam perawatan dan intervensi dapat meningkatkan
keberhasilan terapi minimal keluhan dapat berkurang dan berjalan normal seperti
biasa.

2. Terapi Farmakologi
a. Terapi rawat jalan di poli jiwa :
- Erlixon 1x10 mg
- Abilify 1x1 mg
- PCT 300mg
- Clobazam 2,5 mg

10
X. PROGNOSIS
Beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis dari penyakit pasien:
1) Faktor penghambat
Tidak ada.
2) Faktor pendukung
- Keluarga mendukung kesembuhan pasien (ada dukungan dari suami
dan anak )
- Tidak ada riwayat anggota keluarga dengan keluhan yang sama
- Tidak ada kelainan organik
- Tingkat pendidikan pasien yang cukup.
- Stressor psikososial jelas.
Pasien memiliki keinginan yang kuat untuk sembuh
 Quo Ad Vitam : bonam
 Quo Ad Functionam : bonam
 Quo Ad Sanactionam : bonam

11
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Gangguan obsesif-kompulsif adalah suatu contoh dari efek positif dimana
penelitian moderen telah menemukan gangguan di dalam waktu singkat. Pada
awal tahun 1980-an gangguan obsesif-kompulsif dianggap sebagai gangguan yang
jarang dan berespon buruk terhadap terapi. Sekarang diketahui bahwa gangguan
obsesif-kompulsif adalah sering ditemukan dan sangat responsif terhadap terapi.3
Suatu obsesi adalah pikiran, perasaan, ide, atau sensasi yang mengganggu
(intrusif). Suatu kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan
dan rekuren, seperti menghitung, memeriksa atau menghindari. Obsesi
meningkatkan kecemasan seseorang sedangkan melakukan kompulsi menurunkan
kecemasan seseorang tetapi jika seseorang memaksa untuk melakukan suatu
kompulsi, kecemasan adalah meningkat. Seseorang dengan gangguan obsesif-
kompulsif biasanya menyadari irasionalitas dari obsesi dan merasakan bahwa
obsesi dan kompulsi sebagai ego-distonik. Gangguan obsesif-kompulsif dapat
merupakan gangguan yang menyebabkan ketidakberdayaan karena obsesi dapat
menghabiskan waktu dan dapat mengganggu secara bermakna pada rutinitas
normal seseorang, fungsi pekerjaan, aktivitas sosial yang biasanya atau hubungan
dengan teman dan anggota keluarga.3

B. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi seumur hidup gangguan obsesif-kompulsif pada populasi umum
diperkirakan adalah 2 sampai 3 persen dimana pria dan wanita memiliki resiko
sama. Beberapa peneliti telah memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif
ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatrik. Angka
tersebut menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik
tersering yang keempat setelah fobia, gangguan berhubungan zat, dan gangguan

12
depresif berat. Penelitian epidemiologis di Eropa, Asia, dan Afrika telah
menegakkan angka tersebut melewati ikatan kultural.3,4
Untuk orang dewasa, laki-laki dan wanita sama mungkin terkena; tetapi
untuk remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif
dibandingkan perempuan. Usia onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun walaupun
laki-laki memiliki onset usia yang agak lebih awal (rata-rata sekitar usia 19 tahun)
dibandingkan wanita (rata-rata sekitar 22 tahun). Secara keseluruhan, kira-kira
duapertiga dari pasien memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun, dan kurang
dari 15 persen pasien memiliki onset gejala setelah usia 35 tahun. Gangguan
obsesif-kompulsif dapat memiliki onset pada remaja atau masa anak-anak pada
beberapa kasus dapat pada usia 2 tahun. Orang yang hidup sendirian lebih banyak
terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah, walaupun
temuan tersebut kemungkinan mencerminkan kesulitan yang di miliki pasien
dengan gangguan obsesif-kompulsif dalam mempertahankan suatu hubungan.
Gangguan obsesif-kompulsif ditemukan lebih jarang diantara golongan kulit
hitam dibandingkan kulit putih walaupun tersedianya jalur ke pelayanan
kesehatan dapat menjelaskan sebagian besar variasi tersebut ketimbang perbedaan
prevalensi antara ras-ras. 3
Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya dipengaruhi oleh
gangguan mental lain. Prevalensi seumur hidup untuk gangguan depresif berat
pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah kira-kira 67 persen dan
untuk fobia sosial adalah 25 persen. Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada
pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah gangguan pengaruh alkohol,
fobia spesifik, gangguan panik, dan gangguan makan.3
Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif biasanya merupakan orang-
orang yang sukses, pemalu, keras kepala, perfeksionis, suka menghakimi, sangat
berhati-hati, kaku, dan pencemas yang kronis yang menghindari keintiman dan
hanya menikmati sedikit kesenangan dalam hidupnya. Mereka suka bimbang dan
banyak permintaannya dan sering kali dianggap sebagai orang yang dingin,
pendiam, dan tidak ramah. 5

13
C. ETIOLOGI
1. Faktor Biologis
a. Neurotransmiter
Banyak uji coba kinis yang telah dilakukan terhadap
berbagai obat mendukung hipotesis bahwa suatu disregulasi
serotonin adalah terlibat di dalam pembentukan gejala obsesi dan
kompulsi dari gangguan. Data menunjukkan bahwa obat
serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi
sistem neurotransmiter lain. Tetapi apakah serotonin terlibat di
dalam penyebab gangguan obsesif-kompulsif adalah tidak jelas
pada saat ini. Penelitian klinis telah mengukur konsentrasi
metabolit serotonin sebagai contohnya, 5-hydroxyndoleacetic acid
(5-HIAA) di dalam cairan serebrospinal dan afinitas sertai jumlah
tempat ikatan trombosit pada pemberian imipramine(yang
berikatan dengan tempat ambilan kembali serotonin) dan telah
melaporkan berbagai temuan pengukuran tersebut pada pasien
dengan gangguan obsesif-kompulsif. Beberapa penelitian telah
mengatakan bahwa sistem neurotransmiter kolinergik dan
dopaminergik pada pasien gangguan obsesif-kompulsif adalah dua
bidang penelitian riset untuk di masa depan.3

b. Penelitian pencitraan otak


Berbagai penelitian pencitraan otak fungsional, sebagai
contoh PET (positron emission tomography), telah menemukan
peningkatan aktifitas (sebagai contoh, metabolisme dan aliran
darah) di lobus frontalis, ganglia basalis (khususnya kaudata), dan
singulum pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif. Baik
tomografi komputer (CT scan) dan pencitraan resonansi magnetik
(MRI) telah menemukan adanya penurunan ukuran kaudata secara
biateral pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Baik
penelitian pencitraan otak fungsional maupun struktural konsisten

14
dengan pengamatan bahwa prosedur neurologis yang melibatkan
singulum kadang-kadang efektif dalam pengobatan pasien dengan
gangguan obsesif-kompulsif. Suatu penelitian MRI baru-baru ini
melaporkan peningkatan waktu relaksasi T1 di korteks frontalis. 3

c. Genetika
Penelitian kesesuaiaan pada anak kembar untuk gangguan
obsesif-kompulsif telah secara konsisten menemukan adanya angka
kesesuaian yang lebih tinggi secara bermakna pada kembar
monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. Penelitian keluarga
pada pasien gangguan obsesif kompulsif telah menemukan bahwa
35 persen sanak saudara derajat pertama pasien gangguan obsesif-
kompulsif juga menderita gangguan. 3

d. Data biologis lainnya


Penelitian elektrofisiologis, penelitian elektroensefalogram
(EEG) tidur, dan penelitian neuroendokrin telah menyumbang data
yang menyatakan adanya kesamaan antara gangguan depresif dan
gangguan obsesif-kompulsif. Suatu insidensi kelainan EEG
nonspesifik yang lebih tinggi dari biasanya telah ditemukan pada
pasien gangguan obsesif-kompulsif. Penelitian EEG tidur telah
menemukan kelainan yang mirip dengan yang terlihat pada
gangguan depresif, seperti penurunan latensi REM (rapid eye
movement). Penelitian neuroendokrin juga telah menemukan
beberapa kemiripan dengan gangguan depresif, seperti nonsupresi
pada dexamethasone-suppression test pada kira-kira sepertiga
pasien dan penurunan sekresi hormon pertumbuhan pada infus
clonidine (catapres). 3

15
2. Faktor Perilaku
Menurut ahli teori belajar, obsesi adalah stimuli yang dibiasakan.
Stimulus yang relatif netral menjadi disertai dengan ketakutan atau
kecemasan melalui proses pembiasaan responden dengan
memasangkannya dengan peristiwa yang secara alami adalah berbahaya
atau menghasilkan kecemasan. Jadi, objek dan pikiran yang sebelumnya
netral menjadi stimuli yang terbiasakan yang mampu menimbulkan
kecemasan atau gangguan. 3
Kompulsi dicapai dalam cara yang berbeda. Seseorang menemukan
bahwa tindakan tertentu menurunkan kecemasan yang berkaitan dengan
pikiran obsesional. Jadi, strategi menghindar yang aktif dalam bentuk
perilaku kompulsif atau ritualistik dikembangkan untuk mengendalikan
kecemasan. Secara bertahap, karena manfaat perilaku tersebut dalam
menurunkan dorongan sekunder yang menyakitkan (kecemasan), strategi
menghindar menjadi terfiksasi sebagai pola perilaku kompulsif yang
dipelajari. 3

3. Faktor Psikososial
a. Faktor kepribadian
Gangguan obsesif-kompulsif adalah berbeda dari gangguan
kepribadian obsesif-kompulsif. Sebagian besar pasien gangguan
obsesif-kompulsif tidak memiliki gejala kompulsif pramorbid.
Dengan demikian, sifat kepribadian tersebut tidak diperlukan atau
tidak cukup untuk perkembangan gangguan obsesif-kompulsif.
Hanya kira-kira 15 sampai 35 persen pasien gangguan obsesif-
kompulsif memiliki sifat obsesional pramorbid.3

b. Faktor psikodinamika
Sigmund Freud menjelaskan tiga mekanisme pertahanan
psikologis utama yang menentukanbentuk dan kualitas gejala dan

16
sifat karakter obsesif-kompulsif; isolasi, meruntuhkan (undoing),
dan pembentukan reaksi. 3
1) Isolasi
Isolasi adalah mekanisme pertahanan yang
melindungi seseorang dari afek dan impuls yang
mencetuskan kecemasan. Jika terjadi isolasi, afek dan
impuls yang didapatkan darinya adalah dipisahkan dari
komponen idesional dan dikeluarkan dari kesadaran. Jika
isolasi berhasil sepenuhnya, impuls dan afek yang terkait
seluruhnya terepresi, dan pasien secara sadar hanya
menyadari gagasan yang tidak memiliki afek yang
berhubungan dengannya. 3

2) Undoing
Karena adanya ancaman terus-menerus bahwa
impuls mungkin dapat lolos dari mekanisme primer isolasi
dan menjadi bebas, operasi pertahanan sekunder diperlukan
untuk melawan impuls dan menenangkan kecemasan yang
mengancam keluar ke kesadaran. Tindakan kompulsif
menyumbangkan manifestasi permukaan operasi defensif
yang ditujukan untuk menurunkan kecemasan dan
mengendalikan impuls dasar yang belum diatasi secara
memadai oleh isolasi. Operasi pertahanan sekunder yang
cukup penting adalah mekanisme meruntuhkan (undoing).
Seperti yang disebutkan sebelumnya, meruntuhkan adalah
suatu tindakan kompulsif yang dilakukan dalam usaha
untuk mencegah atau meruntuhkan akibat yang secara
irasional akan dialami pasien akibat pikiran atau impuls
obsesional yang menakutkan. 3

17
3) Pembentukan reaksi
Pembentukan reaksi melibatkan pola perilaku yang
bermanifestasi dan sikap yang secara sadar dialami yang
jelas berlawanan dengan impuls dasar. Seringkali, pola
yang terlihat oleh pengamat adalah sangat dilebih-lebihkan
dan tidak sesuai. 3

4) Faktor psikodinamik lainnya


Pada teori psikoanalitik klasik, gangguan obsesif-
kompulsif dinamakan neurosis obsesif-kompulsif dan
merupakan suatu regresi dari fase perkembangan oedipal ke
fase psikoseksual anal. Jika pasien dengan gangguan
obsesif-kompulsif merasa terancam oleh kecemasan tentang
pembalasan dendam atau kehilangan objek cinta yang
penting, mereka mundur dari fase oedipal dan beregresi ke
stadium emosional yang sangat ambivalen yang
berhubungan dengan fase anal. Adanya benci dan cinta
secara bersama-sama kepada orang yang sama
menyebabkan pasien dilumpuhkan oleh keragu-raguan dan
kebimbangan. Suatu ciri yang melekat pada pasien dengan
gangguan obsesif-kompulsif adalah derajat dimana mereka
terpaku dengan agresi atau kebersihan, baik secara jelas
dalam isi gejala mereka atau dalam hubungan yang terletak
di belakangnya. Dengan demikian, psikogenesis gangguan
obsesif-kompulsif, mungkin terletak pada gangguan dan
perkembangan pertumbuhan normal yang berhubungan
dengan fase perkembangan anal-sadistik. 3

5) Ambivalensi
Ambivalensi adalah akibat langsung dari perubahan
dalam karakteristik kehidupan impuls. Hal ini adalah ciri

18
yang penting pada anak normal selama fase perkembangan
anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta dan kebencian
kepada suatu objek. Konflik emosi yang berlawanan
tersebut mungkin ditemukan pada pola perilaku melakukan-
tidak melakukan pada seorang pasien dan keragu-raguan
yang melumpuhkan dalam berhadapan dengan pilihan. 3
6) Pikiran magis
Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan
cara pikiran awal, ketimbang impuls; yaitu fungsi ego, dan
juga fungsi id, dipengaruhi oleh regresi. Yang melekat pada
pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan. Orang
merasa bahwa mereka dapat menyebabkan peristiwa di
dunia luar terjadi tanpa tindakan fisik yang
menyebabkannya, semata-mata hanya dengan berpikir
tentang peristiwa tersebut. Perasaan tersebut menyebabkan
memiliki suatu pikiran agresif akan menakutkan bagi
pasien gangguan obsesif-kompulsif. 3

D. GEJALA KLINIS
Obsesif dan kompulsi memiliki ciri tertentu secara umum:
1. Suatu gagasan atau impuls yang memaksakan dirinya secara
bertubi-tubi dan terus-menerus ke dalam kesadaran seseorang.
2. Suatu perasaan ketakutan yang mencemaskan yang menyertai
manifestasi sentral dan seringkali menyebabkan orang
melakukan tindakan kebalikan melawan gagasan atau impuls
awal.
3. Obsesi dan kompulsi adalah asing bagi ego (ego-alien), yaitu
dialami sebagai suatu yang asing bagi pengalaman seseorang
tentang dirinya sendiri sebagai makhluk psikologis.

19
4. Tidak peduli bagaimana jelas dan memaksanya obsesi atau
kompulsi tersebut, orang biasanya menyadarinya sebagai
mustahil dan tidak masuk akal.
5. Orang yang menderita akibat obsesi dan kompulsi biasanya
merasakan suatu dorongan yang kuat untuk menahannya. 3

Gambaran obsesi dan kompulsi adalah heterogen pada dewasa, pada


anak-anak dan remaja. Gejala pasien individual mungkin bertumpang tindih dan
berubah dengan berjalannya waktu, tetapi gangguan obsesif-kompulsif memiliki
empat pola gejala yang utama. Pola yang paling sering ditemukan adalah suatu
obsesi tentang kontaminasi, diikuti oleh mencuci disertai penghindaran obsesif
terhadap objek yang kemungkinan terkontaminasi. Objek yang ditakuti seringkali
sukar untuk dihindari, sebagai contoh feses, urin, debu atau kuman. Pasien
mungkin secara terus-menerus menggosok kulit tangannya dengan mencuci
tangan secara berlebihan atau mungkin tidak mampu pergi keluar rumah karena
takut akan kuman. Walaupun kecemasan adaloah respon emosional yang paling
sering terhadap objek yang ditakuti, rasa malu dan rasa jijik yang obsesif juga
sering ditemukan. Pasien dengan obsesi kontaminasi biasanya percaya bahwa
kontaminasi ditularkan dari objek ke objek atau orang ke orang oleh kontak
ringan. 3
Pola kedua yang sering adalah obsesi keragu-raguan, diikuti oleh
pengecekan yang kompulsi. Obsesi seringkali melibatkan suatu bahaya kekerasan,
seperti lupa mematikan kompor atau tidak mengunci pintu. Pengecekan tersebut
mungkin menyebabkan pasien pulang beberapa kali ke rumah untuk memeiksa
kompor. Pasien memiliki keragu-raguan terhadap diri sendiri yang obsesional,
saat mereka selalu merasa bersalah karena melupakan atau melakukan sesuatu. 3
Pola ketiga yang tersering adalah pola dengan pikiran semata-mata
pikiran obsesional yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Obsesi tersebut
biasanya berupa pikiran berulang akan suatu tindakan seksual atau agresi yang
dicela oleh pasien. 3

20
Pola keempat yang tersering adalah kebutuhan akan simetrisitas atau
ketepatan, yang dapat menyebabkan perlambatan kompulsi. Pasien secara harfiah
menghabiskan waktu berjam-jam untuk makan atau mencukur wajahnya.
Penumpukan obsesi dan kompulsi religius adalah sering pada pasien obsesif-
kompulsif. Trichotillomania (menarik rambut kompulsif) dan menggigit kuku
mungkin merupakan kompulsi yang berhubungan dengan gangguan obsesif-
kompulsif. 3
Terdapat juga beberapa gangguan yang biasa merupakan bagian
merupakan bagian dari atau dengan kuat dihubungkan dengan spectrum GOK
(gangguan gangguan obsesif-kompulsif)
1. Gangguan dismorfik tubuh (body Dysmorphic Disorder)
Pada gangguan ini orang terobsesi dengan keyakinan bahwa
mereka buruk rupa atau bagian tubuh mereka berbentuk tidak
normal.
2. Trikhotilomania
Orang dengan Trikhotilomania terus menerus mencabuti
rambut mereka sehingga timbul daerah-daerah botak.
3. Sindrom Tourettes
Gejala sindrom Tourettes meliputi gerakan yang pendek
dan cepat, tik dan ucapan kata-kata kotor yang tak terkontrol. 2

E. DIAGNOSIS
Kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif-kompulsif menurut DSM V:
1. Salah satu obsesi atau kompulsi
Obsesi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:
a. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan yang
rekuren dan persisten yang dialami, pada suatu saat
dimana selama gangguan, sebagai intrusif dan tidak
sesuai, dan menyebabkan kecemasan dan
penderitaan yang jelas.

21
b. Pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tidak
semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang
masalah kehidupan yang nyata.
c. Orang berusaha untuk mengabaikan atau
menekan pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan
tersebut untuk mentralkannya dengan pikiran atau
tindakan lain.
d. Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau
bayangan-bayangan obsesional adalah keluar dari
pikirannya sendiri (tidak disebabkan dari luar
seperti penyisipan pikiran).

Kompulsi seperti yang didefinisikan sebagai berikut:


a. Perilaku (misalnya, mencuci tangan,
mengurutkan, memeriksa) atau tindakan mental
(misalnya berdoa, menghitung, mengulangi kata-
kata dalam hati) yang berulang yang dirasakannya
mendorong untuk melakukannya sebagai respon
terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan
yang harus dipatuhi secara kaku.
b. Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk
mencegah atau menurunkan penderitaan atau
mencegah suatu kejadian atau situasi yang
menakutkan, tetapi perilaku atau tindakan mental
tersebut tidak dihubungkan dengan cara yang
realistik dengan apa mereka dianggap untuk
menetralkan atau mencegah, atau jelas berlebihan.

2. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang telah


menyadari bahwa obsesi atau kompulsi adalah berlebihan atau
tidak beralasan. Catatan: ini tidak berlaku bagi anak-anak

22
a. Obsesi atau kompulsi menyebabkan penderitaan yang
jelas, menghabiskan waktu (menghabiskan lebih dari satu
jam sehari), atau secara bermakna mengganggu rutinitas
normal orang, fungsi pekerjaan (atau akademik) atau
aktivitas atau hubungan sosial yang biasanya.
b. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau
kompulsi tidak terbatas padanya (misalnya preokupasi
dengan makanan jika terdapat gangguan makan, menarik
rambut jika terdapat trikotilomania, permasalahan pada
penampilan jika terdapat gangguan dismorfik tubuh,
preokupasi dengan obat jika terdapat suatu gangguan
penggunaan zat, preokupasi dengan menderita suatu
penyakit serius jika terdapat hipokondriasis, preokupasi
dengan dorongan atau fanatasi seksual jika terdapat
parafilia, atau perenungan bersalah jika terdapat gangguan
depresif berat).
c. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat (misalnya
obat yang disalahgunakan, medikasi) atau kondisi medis
umum. Sebutkan jika: Dengan tilikan buruk: jika selama
sebagian besar waktu selama episode terakhir, orang tidak
menyadari bahwa obsesi dan kompulsi adalah berlebihan
atau tidak beralasan. 3

Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III:


1. Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau
tindakan kompulsif, atau kedua-duanya, harus ada hampir setiap
hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut.
2. Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau
mengganggu aktivitas penderita.
3. Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:
a. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.

23
b. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak
berhasil dilawan meskipun ada lainnya yang tidak lagi
dilawan oleh penderita.
c. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan
merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan
(sekedar perasaan lega dari ketegangan atau anxietas, tidak
dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas.
d. Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus
merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan
(unpleasantly repetitive).

4. Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif,


dengan depresi. penderita gangguan obsesif kompulsif seringkali
juga menunjukkan gejala depresif, dan sebaliknya penderita
gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran
obsesif selama episode depresifnya. Dalam berbagai situasi dari
kedua hal tersebut, meningkat atau menurunnya gejala depresif
umumnya dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala
obsesif. Bila terjadi episode akut dari gangguan tersebut, maka
diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang timbul lebih dahulu.
Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak
ada gangguan depresif pada saat gejala obsesif kompulsif tersebut
timbul. Bila dari keduanya tidak adayang menonjol, maka baik
menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada
gangguan menahun maka prioritas diberikan pada gejala yang
paling bertahan saat gejala yang lain menghilang.
5. Gejala obsesif ”sekunder” yang terjadi pada gangguan
skizofrenia, sindrom Tourette, atau gangguan mental organk, harus
dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut. 6

24
F42.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan
Pedoman Diagnostik
1. Keadaan ini dapat berupa gagasan, bayangan pikiran, atau
impuls (dorongan perbuatan), yang sifatnya mengganggu (ego
alien)
2. Meskipun isi pikiran tersebut berbeda-beda, umumnya hampir
selalu menyebabkan penderitaan (distress) 6

F42.1 Predominan Tindakan Kompulsif (obsesional ritual)


Pedoman Diagnostik
1. Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan kebersihan
(khususnya mencuci tangan), memeriksa berulang untuk
meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi bahaya
terjadi, atau masalah kerapian dan keteraturan. Hal tersebut
dilatarbelakangi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam
dirinya atau bersumber dari dirinya, dan tindakan ritual tersebut
merupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk menghindari
bahaya tersebut.
2. Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita banyak waktu
sampai beberapa jam dalam sehari dan kadang-kadang berkaitan
dengan ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan. 6

F42.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif


Pedoman Diagnostik
1. Kebanyakan dari penderita obsesif kompulsif memperlihatkan
pikiran obsesif serta tindakan kompulsif. Diagnosis ini digunakan
bialmana kedua hal tersebut sama-sama menonjol, yang umumnya
memang demikian.
2. Apabila salah satu memang jelas lebih dominan,sebaiknya
dinyatakan dalam diagnosis F42.0 atau F42.1. hal ini berkaitan

25
dengan respon yang berbeda terhadap pengobatan. Tindakan
kompulsif lebih respondif terhadap terapi perilaku. 6

F42.8 Gangguan Obsesif Kompulsif Lainnya


F42.9 Gangguan Obsesif Kompulsif YTT 6

F. TERAPI
1. Farmakoterapi
a. Penggolongan
1) Obat Anti-obsesif kompulsif trisiklik
Contoh: Clomipramine.
2) Obat Anti-obsesif kompulsif SSRI (Serotonin Reuptake
Inhibitors)
Contoh: Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine,
Fluoxetine, Citalopram.7

b. Indikasi Penggunaan
Gejala sasaran (target syndrome): Sindrom Obsesif
Kompulsif.
Butir-butir diagnostik Sindrom Obsesif Kompulsif:
1) Selama paling sedikit 2 minggu dan hampir setiap hari
mengalami gejala-gejala obsesif kompulsif yang memiliki ciri-ciri
berikut:
a) Diketahui/disadari sebagai pikiran, bayangan atau impuls
dari diri individu sendiri;
b) Pikiran, bayangan, atau impuls tersebut harus merupakan
pengulangan yang tidak menyenangkan (ego-distonik);
c) Melaksanakan tindakan sesuai dengan pikiran, bayangan
atau impuls tersebut diatas bukan merupakan hal yang
memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega
dari ketegangan atau ansietas);

26
d) Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang masih
tidak berhasil dilawan/dielakkan, meskipun ada lainnya
yang tidak lagi dilawan/dielakkan oleh penderita;

2) Gejala-gejala tersebut merupakan sumber penderitaan (distress)


atau menggangu aktivitas sehari-hari (disability)

Respon penderita gangguan obsesif kompulsif terhadap farmakoterapi


seringkali hanya mencapai pengurangan gejala sekitar 30%-60% dan kebanyakan
masih menunjukkan gejala secara menahun. Namun demikian, umumnya
penderita sudah merasa sangat tertolong. Untuk mendapatkan hasil pengobatan
yang lebih baik, perlu disertai dengan terapi perilaku (behavior therapy). 7
Clomipramine. Clomipramine biasanya dimulai dengan dosis 25
sampai 50 mg sebelum tidur dan dapat ditingkatkan dengan peningkatan 25 mg
sehari setiap dua sampai tiga hari, sampai dosis maksimum 250 mg sehari atau
tampak efek samping yang membatasi dosis. Karena Clopramine adalah suatu
obat trisiklik, obat ini disertai dengan efek samping berupa sedasi, hipotensi,
disfungsi seksual dan efek samping antikolinergik, seperti mulut kering.3
SSRI. Penelitian tentang Fluoxetine dalam gangguan obsesif-kompulsif
menggunakan dosis sampai 80 mg setiap hari untuk mencapai manfaat terapeutik.
Walaupun SSRI mempunyai efek seperti overstimulasi, kegelisahan, nyeri kepala,
insomnia, mual, dan efek samping gastrointestinal, SSRI dapat ditoleransi dengan
lebih baik daripada obat trisiklik. Dengan demikian, kadang-kadang SSRI
digunakan sebagai obat lini pertama dalam pengobatan gangguan obsesif
kompulsif. 3
Obat lain. Jika pengobatan dengan Clomipramine atau SSRI tidak
berhasil, banyak ahli terapi menambahkan lithium (Eskalith). Obat lain yang dapat
digunakan dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif adalah inhibitor
monoamin oksidase (MAOI = monoamine oxidase inhibitor), khususnya
Phenelzine (Nardil). 3

27
2. Terapi perilaku
Walaupun beberapa perbandingan telah dilakukan, terapi perilaku
sama efektifnya dengan farmakoterapi pada gangguan obsesif-kompulsif.
Dengan demikian, banyak klinisi mempertimbangkan terapi perilaku
sebagai terapi terpilih untuk gangguan obsesif-kompulsif. Terapi perilaku
dapat dilakukan pada situasi rawat inap maupun rawat jalan. Pendekatan
perilaku utama pada gangguan obsesif-kompulsif adalah pemaparan dan
pencegahan respon. Desensitisasi, menghentikan pikiran, pembanjiran,
terapi implosi, dan pembiasaan tegas juga telah digunakan pada pasien
gangguan obsesif kompulsif. Dalam terapi perilaku pasien harus benar-
benar menjalankannya untuk mendapatkan perbaikan. 3

3. Psikoterapi
Psikoterapi suportif jelas memiliki bagiannya, khususnya untuk
pasien gangguan obsesif-kompulsif, walaupun gejalanya memiliki
berbagai derajat keparahan, adalah mampu untuk bekerja dan membuat
penyesuaian sosial. Dengan kontak yang kontinu dan teratur dengan
tenaga yang profesional, simpatik, dan mendorong, pasien mungkin
mampu untuk berfungsi berdasarkan bantuan tersebut, tanpa hal tersebut
gejalanya akan menyebabkna gangguan. Kadang-kadang jika ritual dan
kecemasan obsesional mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleraansi,
perlu untuk merawat pasien di rumah sakit sampai tempat penampungan
institusi dan menghilangkan stres lingkungan eksternal menurunkan
gejala sampai tingkat yang dapat ditoleransi. 3
Anggota keluarga pasien seringkali menjadi putus asa karena
perilaku pasien. Tiap usaha psikoterapik harus termasuk perhatian pada
anggota keluarga melalui dukungan emosional, penentraman, penjelasan
dan nasihat tentang bagaimana menangani dan berespons terhadap
pasien. 3

28
4. Terapi lain
Terapi keluarga seringkali berguna dalam mendukung keluarga,
membantu menurunkan percekcokan perkawinan yang disebabkan
gangguan, dan membangun ikatan terapi dengan anggota keluarga untuk
kebaikan pasien. Terapi kelompok berguna sebagai sistem pendukung
bagi beberapa pasien. 3

5. Cognitive Behavior Therapy


Cognitive Behavior Therapy untuk mengatasi gangguan Obsesif-
Kompulsif. Mendasarkan pada perspektif kognitif dan perilaku, teknik yang
umumnya diterapkan untuk mengatasi gangguan obsesif-kompulsif adalah
exposure with response prevention. Pasien dihadapkan pada situasi dimana
ia memiliki keyakinan bahwa ia harus melakukan tingkah laku ritual yang
biasa dilakukannya namun mereka cegah untuk tidak melakukan ritual itu.
Jika klien dapat mencegah untuk tidak melakukan ritual tersebut dan
ternyata sesuatu yang mengerikannya tidak terjadi. Hal ini dapat
membantu dalam mengubah keyakinan individu akan tingkah laku ritual.
Teknik lain berupa terapi kognitif dimana mengajarkan jalan terbaik dan
efektif untuk merespon pikiran obsesif tanpa perlu sampai ke kompulsif. 8

G. DIAGNOSIS BANDING
1. Kondisi medis
Gangguan neurologis utama yang dipertimbangkan dalam
diagnosis banding adalah gangguan Tourette, gangguan tik lainnya,
epilepsi lobus temporalis, dan kadang-kadang komplikasi trauma dan
pascaensefalitik. Gejala karakteristik dari gangguan Tourette adalah tik
motorik dan vokal yang sering dan hampir setiap hari terjadi. 3
2. Kondisi psikiatrik
Pertimbangan psikiatrik utama di dalam diagnosis banding
gangguan obsesif-kompulsif adalah skizofrenia, gangguan kepribadian
obsesif-kompulsif, fobia, dan gangguan depresif. Gangguan obsesif

29
kompulsif biasanya dapat dibedakan dari skizofrenia oleh tidak adanya
gejala skizofrenik lain, oleh kurang kacaunya sifat gejala, dan oleh tilikan
pasien terhadap gangguan mereka. Gangguan kepribadian obsesif-
kompulsif tidak memiliki derajat gangguan fungsional yang berhubungan
dengan gangguan obsesif-kompulsif. Fobia dibedakan dengan tidak
adanya hubungan antara pikiran obsesif dan kompulsi. Gangguan
depresif berat kadang-kadang dapat disertai oleh gagasan obseisf, tetapi
pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif saja tidak memenuhi kriteria
diagnostik untuk gangguan depresif berat. 3
Kondisi psikiatrik lain yang dapat berhubungan erat dengan
gangguan obsesif-kompulsif adalah hipokondriasis, gangguan dismorfik
tubuh, dan kemungkinan gangguan impuls lainnya, seperti kleptomania
dan judi patologis. Pada semua gangguan tersebut pasien memiliki
pikiran yang berulang, sebagai contoh permasalahan tentang tubuhnya,
atau perilaku yang berulang sebagai contoh mencuri. 3

H. PROGNOSIS
Gangguan obsesif-kompulsif merupakan penyakit yang kronik dengan
perode dari gejala-gejala yang seiring dengan berjalannya waktu akan mengalami
peningkatan. Penderita gangguan ini tidak biasanya sembuh sempurna atau bebas
dari gejala. Walaupun demikian dengan pengobatan, banyak orang yang
mengalami perbaikan. Perbaikan tersebut berupa gejala yang berbeda seperti cara
merealisasikan suatu obsesif yang berbeda. Diagnosis awal dan terapi yang
dilakukan secepatnya akan memberikan hasil yang lebih baik di mana penekanan
onset usia dini adalah hal yang patut untuk segera didiagnosis. Selain itu, mereka
yang bergerak di bidang kesehatan mesti memahami perbedaan antara gangguan
obsesif-kompulsif dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif yang mana
untuk jenis gangguan kepribadian biasanya dimulai pada saat dewasa muda, yaitu
umur di atas 20 tahun sedangkan untuk gangguan obsesif kompulsif biasanya
dimulai pada usia anak-anak.1,9,10

30
BAB IV
ANALISA KASUS
Seorang perempuan berumur 60 tahun berkunjung ke poliklinik jiwa
HUH dengan keluhan utama mencuci tangan secara terus menerus dan suka
bermain air >7 kali dalam sehari keluhan dirasakan sudah ada sejak 40 tahun
lalu dan memberat 2 minggu SMRS. Setelah pasien buang air kecil dia harus
mencuci tanganya berulang-ulang karena merasa tanganya terkena air
kencingnya, pasien juga merasa dirinya selalu cemas dan khawatir akan
kebersihannya . Keluhan dirasakan berkurang saat mandi dan muncul kembali
apabila pasien buang air kecil.
Pada pemeriksaan status mental diperoleh penampilan seorang pasien
rapi dan bersih dengan kulit sawo matang, berjilbab berwarna hitam, memakai
baju gamis berwarna hijau, perawatan diri cukup, dan wajah tampak sesuai
dengan umur. Kesadaran baik, perilaku dan aktivitas psikomotor tenang,
pembicaraan spontan dengan lancar serta intonasi yang biasa juga jelas, dan
sikap terhadap pemeriksa kooperatif. Mood obssesif, afek sesuai. Fungsi
intelektual (kognitif) baik, tidak terdapat gangguan persepsi, proses berpikir,
pengendalian impuls, dan daya nilai. Pasien masuk pada tilikan IV (pasien
sadar bila dirinya sakit dan perlu pengobatan) dan dapat dipercaya.
Pada pemeriksaan status internus dan neurologis didapatkan dalam
batas normal.
 Aksis I :
Berdasarkan autoanamnesis didapatkan adanya gejala obsesif
berupa aktivitas yang berulang-ulang yaitu mencuci tangan diluar batas
normal dan tidak. Keadaan ini menimbulkan penderitaan (distress) pada
pasien dan keluarganya serta menimbulkan disabilitas dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari terutama hendaya pekerjaan sehingga dapat
disimpulkan bahwa pasien mengalami gangguan jiwa.
Pada pasien tidak didapatkan adanya hendaya berat dalam menilai
realitas sehingga dapat didiagnosis sebagai gangguan jiwa nonpsikotik.

31
Dari hasil pemeriksaan status internus dan status neurologis pasien, tidak
didapatkan adanya kelainan sehingga diagnosis gangguan jiwa organik
dapat disingkirkan.
 Aksis II : Tidak ada gangguan kepribadian maupun lingkungan.
 Aksis III : Tidak ada kelainan yang ditemukan.
 Aksis IV: Tidak ada kelainan yang ditemukan
Aksis V: GAF Scale 70-61 (beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas
ringan dalam fungsi, secara umum masih baik).
Pertimbangan psikiatrik utama di dalam diagnosis banding gangguan
obsesif-kompulsif adalah gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, fobia, dan
gangguan depresif. Gangguan obsesif kompulsif biasanya dapat dibedakan dari
skizofrenia oleh tidak adanya gejala skizofrenik lain, oleh kurang kacaunya sifat
gejala, dan oleh tilikan pasien terhadap gangguan mereka. Gangguan kepribadian
obsesif-kompulsif tidak memiliki derajat gangguan fungsional yang berhubungan
dengan gangguan obsesif-kompulsif. Fobia dibedakan dengan tidak adanya
hubungan antara pikiran obsesif dan kompulsi. Gangguan depresif berat kadang-
kadang dapat disertai oleh gagasan obseisf, tetapi pasien dengan gangguan
obsesif-kompulsif saja tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan
depresif berat. 3

Kondisi psikiatrik lain yang dapat berhubungan erat dengan gangguan


obsesif-kompulsif adalah hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, dan
kemungkinan gangguan impuls lainnya, seperti kleptomania dan judi patologis.
Pada semua gangguan tersebut pasien memiliki pikiran yang berulang, sebagai
contoh permasalahan tentang tubuhnya, atau perilaku yang berulang sebagai
contoh mencuri. 3

32
- Penatalaksanaan yang diberikan adalah edukasi pada keluarga
pasien agar dapat menerapkan di rumah pada aktivitas sehari-hari

- Farmakoterapi:
Erlixon 1x10 mg 1-0-0
Abilify 1x1 mg
PCT 300mg
Clobazam 2,5 mg
- Psikoterapi suportif:
a. Ventilasi: memberi kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan
isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa lega.
b. Konseling: memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien
tentang penyakitnya agar pasien memahami kondisi dirinya dan
memahami cara menghadapinya, serta memotivasi pasien agar tetap
minum obat secara teratur.
Sosioterapi: memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang
terdekat pasien tentang gangguan yang dialami oleh pasien, sehingga tercipta
dukungan sosial dalam lingkungan yang kondusif sehingga membantu proses
penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala

FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta
efektivitas terapi dan efek samping dari obat yang diberikan.

33
BAB V
KESIMPULAN

Gangguan obsesif–kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai


dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana
membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan
penderitaan (distress). Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala–gejala obsesif
atau tindakan kompulsif atau kedua–duanya harus ada hampir setiap hari selama
sedikitnya 2 minggu berturut–turut. Beberapa faktor berperan dalam terbentuknya
gangguan obsesif-kompulsif diantaranya adalah faktor biologi seperti
neurotransmiter, pencitraan otak, genetika, faktor perilaku dan faktor psikososial,
yaitu faktor kepribadian dan faktor psikodinamika. Ada beberapa terapi yang bisa
dilakukan untuk penatalaksanaan gangguan obsesif–kompulsif antara lain terapi
farmakologi (farmakoterapi) dan terapi tingkah laku. Prognosis pasien dinyatakan
tidak bisa sembuh sempurna. Dengan pengobatan bisa memberikan pengurangan
gejala.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Berger FK. Obsessive-Compulsive Disorder. MedlinePlus. 2012 Jul 03.


Diakses pada tanggal 19 Mei 2013 di
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000929.htm

2. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. 2rd rev. ed.
Surabaya: Airlangga University Press; 2009, 312-313 p.

3. Sadock BJ. Sadock VA. Kaplan & Sadock Comprehensive Textbook Of


Psychiatry Eleventh Edition. New York. 2011. Vol 2

4. Katona C, Cooper C, Robertson M. At a Glance Psikiatri. 4th rev. ed. Noviyanti


C dan Hartiansyah Vidya, translator. Jakarta: Erlangga; 2012, 31 p.

5. Tomb DA. Buku Saku Psikiatri (Psychiatry). 6th rev. ed. Nasrun MWS,
translator. Yogyakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2004, 238-239 p.

6. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ
– III. 1st ina. ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK – UNIKA Atmajaya;
2001, 76-77 p.

7. Maslim R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik (Psychotropic


Medication). 3rd rev. ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK – UNIKA
Atmajaya; 2001, 47-48 p.

8. Robinson L, Smith M, Segal J. Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).


Helpguide. 2013 Apr. Diakses pada tanggal 19 Mei 2013 di
http://www.helpguide.org/mental/obsessive_compulsive_disorder_ocd.htm

9. National Colaborating Centre for Mental Health, National Institute for Health
and Clinical Excellence. Obsessive-Compulsive Disorder: Core interventions in
the treatment of obsessive-compulsive disorder and body dysmorphic disorder.
National Clinical Practice Guideline. 2006; 31: 19-20.

10. Rogge T. Obsessive-Compulsive Personaliy Disorder. MedlinePlus. 2012 Nov


11. Diakses pada tanggal 19 Mei 2013 di
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000942.htm

35