Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

TEORI BILANGAN

TENTANG:

SISTEM ANGKA ROMAWI

Disusun Oleh:

1. Villia E. Mangantes (18504124)


2. Amar Malanuwa (18504036)
3. Owen V.I Paat (1850

JURUSAN : MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MANADO

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungan dan
bimbingan kasihnya, sehingga kami dapat menyelesaikan dengan baik,dengan penuh campur
tangan Tuhan.

Makalah ini disusun dengan tujuan untuk melengkapi tugas mata kuliah Teori Bilangan
tentang “SISTEM ANGKA/BILANGAN ROMAWI”. Dalam pelaksanaan pembelajaran
maupun saat pembuatan makalah ini kami menyadari masih banyak masalah dan kendala
yang kami hadapi. Maka dari itu kami memohon bagi pembaca untuk memberikan saran dan
kritikan jika ada kesalahan yang pembaca dapati.

Demikianlah pembuatan makalah ini. Dan di kesempatan ini kami mengucapkan terima
kasih yang tak terhingga kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang turut membantu,
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Tondano, 24 Mei 2019


HALAMAN

KATA PENGENTAR………………………………………………………………………

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………..

PENDAHULUAN………………………………………………………………………….

A. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………….


B. Rumusan Masalah…………………………………………………………………...
C. Tujuan Masalah……………………………………………………………………..

PEMBAHASAN…………………………………………………………………………...

A. Sietem Angka Atau Bilang Romawi……………………………………………….


B. Sejarah Bilangn Romawi…………………………………………………………...
C. Aturan Penjumlahan Bilangan Romawi……………………………………………
D. Aturan Pengurangan Bilangaaan Romawi…………………………………………
E. Aturan Gabungan…………………………………………………………………..
F. Menuliskan Bilangan Romawi……………………………………………………..

PENUTUP…………………………………………………………………………………

A. KESIMPULAN……………………………………………………………………

DAFTAR PUSAKA……………………………………………………………………….
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bilangan Romawi sering ditemukan dalam beberapa penulisan, seperti penulisan nomor
bab pada buku, penulisan tingkatan kelas, dan penomoran alamat jalan. Hal tersebut
menunjukkan bahwa bilangan Romawi penting untuk dipelajari dan dikuasai.

Bilangan Romawi sering ditemukan dalam beberapa penulisan, seperti penulisan nomor bab
pada buku, penulisan tingakatan kelas, dan penomoran alamatjalan. Hal tersebut
menunjukan bilangan Romawi penting untuk di pelajari dan dikuasai. Dalam pembelajaran
matematika di sekolah dasar, salah satu materi yang berhubungan dengan bilangan Romawi
hanya diajarkan satu kali yaitu di kelas VI semester 2.

B. Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud dengan bilangan Romawi?

2. Bagaimana cara membaca bilangan romawi?

3. Model pembelajaran apa yang tepat digunakan dalam pembelajaran bilangan Romawi di
sekolah dasar?

4. Apa saja permasalahan yang sering muncul dalam pembelajaran bilangan Romawi di
sekolah dasar?

C. Tujuan masalah

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan bilanagn romawi

2. Untuk mengetahui cara membaca bilangan romawi

3. Untuk mengetahui Model pembelajaran apa yang tepat digunakan dalam pembelajaran
bilangan Romawi di sekolah dasar

4. Untuk mengetahui permasalahan yang sering mucul dalam pembelajaran bilangan


Romawi di sekolah dasar
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sistem Angka Atau Bilangan Romawi

Angka Romawi atau Bilangan Romawi adalah sistem penomoran yang berasal dari
Romawi kuno. Sistem penomoran ini memakai huruf Latin untuk melambangkan angka
numerik. Sebenarnya bilangan romawi adalah salah satu konsep matematika yang harus
dikuasai seorang anak SD namun dalam kenyataaanya, anak SMA pun kadang-kadang
cukup dipusingkan apabila berhadapan dengan soal yang berisikan bilangan Romawi.
Sebenarnya kunci dari bilangan Romawi ini adalah dengan memahami aturan dasar yang
berlaku di bilangan Romawi.

Selain bilangan asli, bilangan cacah, bilangan bulat, maupun bilangan pecahan yang
telah kita pelajari, satu lagi himpunan bilangan yang akan kita pelajari adalah bilangan
Romawi. Sebelum mengadopsi sistem bilangan Hindu Arab orang menggunakan
penyimbolan dengan tangan yang ditemukan oleh bangsa Romawi. Tepatnya digunakan
pada periode warisan bangsa Etruscan. Penomoran bangsa Romawi didasarkan pada
sistembiquinary.Asal Usul Bilangan Romawi I=1, V=5, dan X=10.

Sistem numerasi Romawi sudah dikenal sejak tahun 260 SM. Sistem numerasi yang kita
kenal saat ini adalah pengembangan dari sistem yang lama.

B. Sejarah Bilangan Romawi

Menurut sejarah,angka romawi udah ada sejak jaman romawi kuno. Pada zaman dahulu
kala orang romawikuno menggunakan penomoran tersendiri yang sangat berbeda dengan
sistem penomeran pada jaman seperti sekarang. Angka romawi hanya terdiri dari 7 nomor
dengan simbol huruf tertentu di mana setiap huruf melambangkan/ memiliki arti angka
tertentu. Awalnya system perhitungannya diadaptasi dari system perhitungan milik bangsa
Etruscan. Begitu dengan angka- angkanya, mirip banget dengan angka- angka milik bangsa
Etruscan (disimbolkan berdasarkan huruf dan gambar). Berhubung angka- angka
Etruscansusah buat ditulis maupun di baca, akhirnya pada abad pertengahan angka romawi
disederhanakan. Contoh dalam bahasa Etruscan tertulis angka-angka : I ^ X П 8 П . nah,
dalam deretan angka romawi yang baru angka–angka itu berubah menjadi : I V X L C M.

Secara umum, bilangan Romawi terdiri dari 7 angka (dilambangkan dengan huruf)
sebagai berikut:

 I melambangkan bilangan 1
 V melambangkan bilangan 5
 X melambangkan bilangan 10
 L melambangkan bilangan 50
 C melambangkan bilangan 100
 D melambangkan bilangan 500
 M melambangkan bilangan 1.000

Untuk bilangan-bilangan yang lain, dilambangkan oleh perpaduan (campuran) dari


ketujuh lambang bilangan tersebut.

C. Aturan Penjumlahan Bilangan Romawi

Untuk membaca bilangan Romawi, dapat kita uraikan dalam bentuk penjumlahan seperti
pada contoh berikut ini.Contoh:

a. II = I + I
=1+I
=2
Jadi, II dibaca 2
b. VIII = V + I + I + I
=5+1+1+1
=8
Jadi, VIII dibaca 8
c. LXXVI = L + X + X + V + I
= 50 + 10 + 10 + 5 + 1
= 76
Jadi, LXXVI dibaca 76
d. CXXXVII = C + X + X + X + V + I + I
= 100 + 10 + 10 + 10 + 5 + 1 + 1
= 137
Jadi, CXXXVII dibaca 137.

Dari contoh-contoh di atas maka dapat di ketahui bahwa : makin ke kanan nilainya
semakin kecil. Tidak ada lambang bilangan dasar yang berjajar lebih dari tiga. Dari contoh-
contoh tersebut dapat kita tuliskan aturan pertama dalam membaca lambang bilangan
Romawi sebagai berikut.

 Jika lambang yang menyatakan angka lebih kecil terletak di kanan, makalambang-
lambang Romawi tersebut dijumlahkan.
 Penambahnya paling banyak tiga angka.
D. Aturan Pengurangan Bilangan Romawi

Bagaimana jika lambang yang menyatakan angka lebih kecil terletak di sebelahkiri?
Untuk membaca bilangan Romawi, dapat kita uraikan dalam bentuk pengurangan seperti
pada contoh berikut ini.Contoh:

a. IV = V– I
= 5– 1
=4
Jadi, IV dibaca 4
b. IX = X– I
= 10– 1
=9
Jadi, IX dibaca 9
c. XL = L– X
= 50– 10
= 40
Jadi, XL dibaca 40

Dari contoh-contoh tersebut dapat kita tuliskan aturan kedua dalam membaca lambang
bilangan Romawi sebagai berikut.

 Jika lambang yang menyatakan angka lebih kecil terletak di kiri, maka lambang-
lambang Romawi tersebut dikurangkan.
 Pengurangan paling banyak satu angka.
 Angka I hanya boleh mengurangi angka V dan X.
 Angka X hanya boleh mengurangi angka L dan C.
 Angka C hanya boleh mengurangi angka D dan M.

E. Aturan Gabungan

Dari kedua aturan di atas (penjumlahan dan pengurangan) dapat digabung sehingga bisa
lebih jelas dalam membaca lambang bilangan Romawi. Mari kita perhatikan contoh berikut
ini.Contoh:

a. XIV = X + (V – I)
= 10 + (5– 1)
= 10 + 4= 14
Jadi, XIV dibaca 14
b. MCMXCIX = M + (M – C) + (C– X) + (X– I)
= 1.000 + (1.000– 100) + (100– 10) + (10– 1)
= 1.000 + 900 + 90 + 9= 1.999
Jadi, MCMXCIX dibaca 1.999

Adapun aturan dasarnya seperti ini :

1. Pengulangan hanya bisa dilakukan pada bilangan 1, 10, 100 dan 1000. Pengulangan
tidak berlaku untuk 5, 50 dan 500. Contoh : II = 2 atau CCC = 300. Tapi tidak boleh
VV untuk menyatakan 10 (10 dilambangkan dengan X).
2. Pengulangan hanya bisa dilakukan paling banyak tiga kali. Contoh : III = 3 dan
MMM = 3000.
3. Jika lambang bilangan yang lebih kecil berada di depan berarti kurang. Dan jika
berada di belakang lambang bilangan yang lebih besar berarti tambah. Contoh : IV=
4 karena 5 – 1 , VIII = 8 karena 5+3.
4. Aturan nomor 3 hanya berlaku bagi lambang bilangan yang berdekatan atau selang 1.
Contoh : XL = 40 karena 50-10, XC = 90 karena 100-10, Tapi tak bisa XD
melambangkan 490 (500-10) karena penulisan yang tepat untuk 490 adalah CDXC
(CD = 400 dan XC=90).
5. Untuk bilangan lebih dari 5000 terjadi pengulangan dengan menambah garis pada
bagian atas lambang bilangan romawi tersebut. Contoh 5000 = V (dengan tambahan
satu garis di atas V)

F. Menuliskan Bilangan Romawi

Angka Romawi sangat umum digunakan sekarang ini, antara lain digunakan di jam, bab
buku, penomoran sekuel film, penomoran seri event olahraga seperti Olimpiade. Namun
begitu, angka romawi memiliki kekurangan dalam penomoran yaitu:

1. Tidak ada angka nol / 0


2. Terlalu panjang untuk menyebut bilangan tertentu
3. Terbatas untuk bilangan-bilangan kecil sajaUntuk menutupi kekurangan angka
romawi pada keterbatasan angka kecil, maka dibuat pengali seribu dengan simbol
garis strip di atas simbol hurup (kecuali I).

V / v dengan garis di atas untuk angka lima ribu / 5000X / x dengan garis di atas untuk
angka sepuluh ribu / 10000L / l dengan garis di atas untuk angka lima puluh ribu / 50000C /
c dengan garis di atas untuk angka seratus ribu / 100000D / d dengan garis di atas untuk
angka lima ratus ribu / 500000M / m dengan garis di atas untuk angka satu juta / 10000
PENUTUP

A. KESIMPULAN
 Sistem numerasi Romawi sudah dikenal sejak tahun 260 SM
 Sistem numerasi romawi menggunakan basis 10 dengan angka dasar I, X, C, dan
M.Angka-angka yang lain, yaitu V, L, dan D sebagai dasar tambahan untuk
menyingkatangka dasar utama yang ditulis berulang.
 Dalam membaca bilangan Romawi ada beberapa aturan yaitu dengan penjumlahan,
pengurangan, serta aturan gabungan.
 Bilangan Romawi memiliki beberapa kekurangan dalam penomoran, yaitu: Tidak
ada angka nol / 0.
 Terlalu panjang untuk menyebut bilangan tertentu.
 Terbatas untuk bilangan-bilangan kecil saja.
DAFTAR PUSTAKA

Adjie, Nahrowi dan Rostika, Deti. (2006).Konsep Dasar Matematika. Bandung:UPIPress.

http://tugino230171.wordpress.com/2011/11/17/membaca-dan-menulis-bilangan-romawi/
http://www.google.co.id/#hl=id&sugexp=frgbld&gs_nf=1&cp=11&gs_id=21&xhr=t&q=bil
angan+romawi&pf=p&output=search&sclient=psyab&oq=bilangan+ro&aq=&aqi=&aql=&
gs_l=&pbx=1&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.r_qf.,cf.osb&fp=90c0f8c122a14d4&biw=1024&bih=
388

http://downloads.ziddu.com/downloadfiles/2951081/BILANGANROMAWI.dochttp://www.
anggareni.net/search/pelajaran-matematika-angka-romawi-sd-kls-4