Anda di halaman 1dari 68

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persyaratan Calon Pegawai Sipil ( CPNS ) menjadi Pegawai Negeri
Sipil ( PNS ) adalah mengikuti kegiatan Pelatihan Dasar ( Latsar ) sesuai
UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara dan Peraturan LAN
No. 12 Tahun 2018 tentang Pelatihan Dasar CPNS. Peraturan baru
tentang ASN tertuang dalam UU No.5 Tahun 2014 sudah secara implisit
menghendaki bahwa ASN yang umum disebut birokrat bukan sekedar
merujuk pada jenis pekerjaan tetapi merujuk kepada sebuah profesi
pelayanan public, maka dari itu sebagai ASN perlu membuat rancangan
aktualisasi khususnya dalam pelayanan bidang kesehatan yang
dilaksanakan di instansi Puskesmas.
Puskesmas sebagai instansi pelayanan kesehatan yang berhubungan
langsung dengan pasien harus mengutamakan pelayanan kesehatan
yang aman, bermutu, anti diskriminasi dan efektif dengan mengutamakan
kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan. Setiap orang
berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan
terjangkau, hal ini diatur dalam Undang-Undang Kesehatan Momor 36
Tahun 2019. Puskesmas dihadapkan pada risiko terjadinya infeksi baik
karena perawatan atau datang berkunjung ke puskesmas.Teknik
pengendalian infeksi harus diterapkan dalam praktik keseharian untuk
mencegah terjadinya infeksi. Cuci tangan merupakan salah satu
pemberian pelayanan bermutu yang dilakukan petugas kesehatan dalam
mencegah transmisi infeksi, baik pasien maupun petugas kesehatan.
Infeksi ini bisa ditularkan dari pasien ke petugas maupun sebaliknya, serta
antar orang yang berada di lingkungan Puskesmas.
Sesuai dengan Permenkes RI No 3 Tahun 2014 tentang sanitasi
berbasis masyarakat yang bertujuan untuk mewujudkan perilaku
masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya

1
dengan salah satu pilar yaitu cuci tangan menggunakan sabun. Cuci
tangan merupakan salah satu pemberian pelayanan bermutu yang
dilakukan petugas kesehatan dalam mencegah transmisi infeksi, baik
pasien maupun petugas kesehatan. Infeksi ini bisa ditularkan dari pasien
ke petugas maupun sebaliknya, serta antar orang yang berada di
lingkungan Puskesmas
Teknik pengendalian infeksi harus diterapkan dalam praktik keseharian
untuk mencegah terjadinya infeksi.. Salah satu hal yang terpenting dalam
mengurangi penyebaran infeksi adalah dengan mencuci tangan (Hand
Hygiene). Sehingga diperlukan kesadaran dan juga kepatuhan petugas
kesehatan terhadap pelaksanaan SOP Cuci Tangan, guna menjadi pusat
pelayanan kesehatan masyarakat yang berkualitas, efektif dan efisien
menuju pelayanan kesehatan yang berkualitas
WHO mencetuskan “global patient safety challenge dengan clean
care is safe care, yaitu merumuskan inovasi strategi penerapan hand
hygiene untuk petugas kesehatan dengan My Five Moments for Hand
Hygiene yaitu : melakukan cuci tangan sebelum bersentuhan dengan
pasien, sebelum melakukan prosedur bersih dan steril, setelah
bersentuhan dengan cairan tubuh pasien, setelah bersentuhan dengan
pasien, setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien”. Namun,
demikian kepatuhan tenaga kesehatan dalam penerapan praktik cuci
tangan pada saat pelayanan kesehatan masih belum optimal pada
beberapa situasi. Banyak faktor yang berperan dalam ketidakpatuhan cuci
tangan bagi petugas kesehatan di ruang Pengobatan Umum Puskesmas
Pandaran, diantaranya kurangnya kesadaran petugas kesehatan
pentingnya pelaksanaan cuci tangan 6 langkah five moment dikarenakan
belum sempurnanya SOP cuci tangan, belum meratanya penataan
handrub di tempat pemeriksaan dokter, handscrub/ handrub kadang
kosong, jumlah pasien saat pelayanan yang sangat banyak minimal 60
pasien dalam sehari di ruang Pengobatan Umum Puskesmas
Pandanaran. Sehingga pelaksanaan cuci tangan oleh petugas belum
optimal yang dapat berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan dan

2
status kesehatan petugas maupun pasien. Oleh karena itu diperlukan
adanya inovasi atau pembaharuan, perbaikan guna mencapai pelayanan
yang bermutu, berkualitas, sehat, efeketif dan efisien

B. Rumusan Masalah
Rencana kegiatan aktualisasi yang akan dilaksanakan di
Puskesmas Pandanaran dengan nilai dasar Aparatur Sipil Negara
(ASN) yaitu ANEKA dan berprinsip pada Manajemen Aparatur Sipil
Negara (ASN), Layanan Publik dan Whole of Government.
Rancangan program Aktualisasi dan habituasi dibuat berdasarkan
identifikasi isu dengan melihat dari penilaian cakupan kegiatan
peningkatan mutu pelayanan Puskesmas Pandanaran Kota
Semarang

1. Identifikasi isu
Isu yang menjadi prioritas segera diidentifikasi faktor
penyebabnya, sehingga terbentuk kegiatan-kegiatan yang
digagas untuk menyelesaikan permasalahan mengenai isu
prioritas di ruang BP Umum Puskesmas Pandanaran yaitu :
a) Belum optimalnya program prolanis di Puskesmas
Pandanaran Kota Semarang
b) Belum optimalnya Informed Consent Tindakan di Ruang
Pengobatan Umum Puskesmas Pandanaran Kota Semarang
c) Belum optimalnya pengisisan Rekam Medis pasien di
Puskesmas Pandanaran Kota Semarang
d) Belum optimalnya kepatuhan cuci tangan padapetugas di
balai pengobatan umum Puskesmas Pandanaran Kota
Semarang

3
e) Belum optimalnya penggunaan APD ( masker ) pada
petugas di Balai Pengobatan Umum Puskesmas Pandanaran
Kota Semarang

Tabel 1.1. Identifikasi Isu

No Identifikasi Isu Kondisi saat ini Kondisi yang


diharapkan
1 Belum optimalnya Pasien prolanis kurang Pasien prolanis
program prolanis di aktif dalam proaktif mengikuti
Puskesmas pelaksanaan program program prolanis
Pandanaran Kota Puskesmas
Semarang Pandanaran
2 Belum optimalnya Informed consent Informed consent
Informed Consent dilakukan setelah dilakukan sebelum
Tindakan di Balai dilakukan tindakan dilakukan tindakan
Pengobatan Umum medis medis
Puskesmas
Pandanaran Kota
Semarang
3 Belum optimalnya Penulisan rekam Penulisan rekam
pengisisan Rekam medis tidak lengkap ( medis lengkap
Medis pasien di identittas pasien ) dan sehingga petugas
Puskesmas menyulitkan petugas mudah dalam
Pandanaran Kota dalam identifikasi identifikasi ulang
Semarang ulang pada pasien pada pasien
4 Belum optimalnya Pelaksanaan SOP cuci Petugas Ruang
kepatuhan cuci tangan petugas di Pengobatan Umum
tangan petugas di Ruang Pengobatan dapat melaksanakan
Ruang Pengobatan Umum belum SOP cuci tangan
Umum Puskesmas menerapkan 5 moment dengan menerapkan
Pandanaran Kota cuci tangan menurut 5 moment cuci
Semarang WHO tangan sesuai
standar WHO
5 Belum optimalnya Penggunaan masker Penggunaan masker
penggunaan APD ( oleh petugas di Balai oleh petugas di Balai
masker ) pada Pengobatan Umum Pengobatan Umum
petugas di Ruang belum sesuai, masih sesuai standar
Pengobatan Umum ada petugas yang
Puskesmas menggantung masker
Pandanaran Kota di dagu
Semarang

4
2. Penetapan Isu
Penetapan Isu dilakukan melalui analisis isu dengan
menggunakan alat bantu penetapan kriteria kualitas isu. Analisis
isu ini bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan menentukan
prioritas isu yang perlu diangkat untuk diselesaikan melalui
gagasan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Analisis isu
dilakukan dengan menggunakan alat bantu APLK (Aktual,
Problematik, Kelayakan, Kekhalayakan) dan USG (Urgency,
Seriousness, dan Growth).
a) Identifikasi Isu dengan Metode APKL
Analisis Kriteria Isu Menggunakan APKL (Aktual,
Problematik, Kekhalayakan, Kelayakan) Analisis APKL
merupakan alat bantu untuk menganalisis ketepatan dan
kualitas isu dengan memperhatikan tingkat aktual, problematik,
kekhalayan, dan kelayakan dari isu-isu yang ditemukan di
lingkungan Puskesmas Pandanaran . Aktual artinya benar-
benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan masyarakat.
Problematik artinya isu yang memiliki masalah yang kompleks
sehingga perlu segera dicarikan solusinya. Kekhalayakan
artinya isu menyangkut hajat hidup orang banyak. Kelayakan
artinya isu yang masuk akal dan realistis serta relevan untuk
dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya.
Analisis APKL dilakukan dengan memberikan nilai positif
atau negatif pada masing-masing kriteria aktual, problematik,
kelayakan, dan kekhalayan. Jika isu yang ditemukan
memenuhi kriteria maka diberi nilai positif, sebaliknya jika tidak
memenuhi kriteria diberi nilai negatif. Jika semua kriteria
memiliki nilai positif, maka isu dinyatakan memenuhi
persyaratan dan berkualitas. Jika tidak, maka isu dinyatakan
tidak memenuhi persyaratan dan kurang berkualitas. Hasil
analisis APKL terkait isu-isu di Puskesmas Pandanaran Kota
Semar

5
Tabel 1.2 Identifikasi Isu dengan APKL
NO ISSUE A P K L Ket
1 Belum optimalnya program prolanis di
Puskesmas Pandanaran Kota Semarang + + + + MS
2 Belum optimalnya Informed Consent Tindakan di
Ruang Pengobatan Umum Puskesmas + + + + MS
Pandanaran Kota Semarang
3 Belum optimalnya pengisisan Rekam Medis
pasien di Puskesmas Pandanaran Kota + + - + TM
Semarang
4 Belum optimalnya kepatuhan cuci tangan
petugas di Ruang Pengobatan umum + + + + MS
Puskesmas Pandanaran Kota Semarang
5 Belum optimalnya penggunaan APD ( masker )
pada petugas di Ruang Pengobatan Umum + + + - TM
Puskesmas Pandanaran Kota Semarang
Keterangan : MS ( Memenuhi Syarat ), TM ( Tidak Memenuhi Syarat )

a) Identifikasi Isu dengan Metode USG


Setelah itu prioritas isu ditentukan dengan mengukur urgensinya
(Urgency), tingkat keseriusan masalah dan (Seriously) perkembangan
isu tersebut jika tidak dipecahkan (Growth), atau yang dikenal dengan
USG.Permasalahan yang teridentifikasi tersebut kemudian ditentukan
prioritas masalahnya dengan menggunakan metode Hanlon kualitatif
dengan 3 Kelompok kriteria :

1) Kelompok kriteria U : Mendesak (Urgency)


Pertimbangan ini dari aspek waktu, masih dapat ditunda atau harus
segera ditanggulangi. Semakin pendek tenggang waktunya, semakin
mendesak untuk ditanggulangi.
2) Kelompok Kriteria S : Kegawatan (Seriousness)
Besarnya akibat atau kerugian yang dinyatakan dalam besaran
kuantitatif berapa rupiah, orang dll.
3) Kelompok Kriteria G : Perkembangan (Growth)
Kecenderungan atau perkembangan akibat dari suatu
permasalahan. Semakin berkembang masalah, semakin diprioritaskan.

6
Tabel 1.3 Tabel identifikasi isu dengan USG
No Issue U S G Total Prioritas
1 Belum optimalnya kepatuhan cuci
tangan petugas di Ruang
Pengobatan Umum Puskesmas 5 5 5 15 1
Pandanaran Kota Semarang
2 Belum optimalnya program
prolanis di Puskesmas
Pandanaran Kota Semarang 4 5 4 13 2

3 Belum optimalnya Informed


Consent Tindakan di Ruang 4 4 4 12 3
Pengobatan Umum Puskesmas
Pandanaran Kota Semarang

Urutan masalah berdasarkan prioritas masalah adalah :


1) Belum optimalnya kepatuhan cuci tangan pada petugas di Ruang
Pengobatan Umum Puskesmas Pandanaran Kota Semarang
2) Belum optimalnya pendataan pasien prolanis di wilayah Puskesmas
Pandanaran Kota Semarang
3) Belum optimalnya Informed Consent Tindakan di Ruang Pengobatan
Umum Puskesmas Pandanaran Kota Semarang

3. Penetapan Isu yang Terpilih


Dari hasil analisis APKL dan USG, ditetapkan isu yang dipilih dan
ditindaklanjuti dengan gagasan rencana kegiatan yang akan dilakukan
untuk mengatasi isu tersebut. Langkah yang dilakukan dalam tahap ini
merumuskan isu yang memuat focus dan locus, menentukan gagasan
kegiatan yang akan dilakukan, mengidentifikasi sumber isu, actor yang
terlibat dan peran dari setiap actor dan mendeskripsikan keterkaitannya
dengan mata pelatihan yang relevan ( secara langsung maupun tidak
langsung ) dengan konteks isu. Hasil peruumusan isu yang terpilih di
Puskesmas Pandanaran adalah belum optimalnya kepatuhan cuci
tangan pada petugas di ruang Pengobatan Umum Puskesmas
Pandanaran.

7
C. Tujuan
Kegiatan mencuci tangan merupakan suatu kegiatan atau tindakan
sanitasi yang dilakukan dengan tujuan menghilangkan kuman dan bakteri
yang menempel pada tangan, jari serta kuku-kuku. Dalam pelayanan
kesehatan, kegiatan mencuci tangan merupakan pilar dasar untuk
mencegah transmisi bakteri baik dari petugas kesehatan ke pasien ataupun
sebaliknya. Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka diharapkan
sebagi PNS dapat mengaktualisasikan nilai-nilai dasar PNS yang
terkandung dalam akuntabilitas, nasionalisme, etika public, komitmen mutu
dan anti korupsi ( ANEKA ). Sehingga tercapainya pelayanan yang
berkualitas, bermutu, sehat, efektif dan efisien di ruang Pengobatan Umum
Puskesmas Pandanaran Kota Semarang

D. Manfaat
1. Bagi Puskesmas
a. Dapat meningkatkan kepatuhan cuci tangan pada petugas di ruang Pengobatan
Umum Puskesmas Pandanaran
b. Meningkatkan mutu pelayanan publik secara professional
c. Terwujudnya visi dan misi Puskesmas pandanaran Kota Semarang yaitu
Visi : Menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat Yang Berkualitas
Menuju Masyarakat Kecamatan Semarang Selatan Sehat Yang Mandiri
Untuk Hidup Sehat.
Misi : Meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan
Memberdayakan masyarakat untuk memiliki kemauan dan kemampuan
2. Bagi Masyarakat
a. Dapat meminimalisir transmisi infeksi, baik pasien maupun petugas
kesehatan.

8
b. Mendapatkan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan
dan harapannya dalam bidang akademik

9
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Sikap Perilaku Bela Negara


Sikap perilaku dan kedisiplinan yang harus dilimiliki oleh PNS untuk
menunjang fungsinya adalah nilai-nilai sikap perilaku, kesehatan jasmani dan
kesehatan mental, kesamaptaan jasmani dan kesamaptaan mental, dan tata
upacara sipil dan keprotokolan.
1. Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara
Pemahaman dan pemaknaan wawasan kebangsaan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi aparatur,
pada hakikatnya terkait dengan pembangunan kesadaran berbangsa
dan bernegara yang berarti sikap dan tingkah laku PNS harus sesuai
dengan kepribadian bangsa dan selalu mengkaitkan dirinya dengan
cita-cita dan tujuan hidup bangsa Indonesia (sesuai amanah yang
ada dalam Pembukaan UUD 1945) melalui:
1) Menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan bangsa dan negara
Indonesia yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang mendiami
banyak pulau yang membentang dari Sabang sampai Merauke,
dengan beragam bahasa dan adat istiadat kebudayaan yang
berbeda-beda. Kemajemukan itu diikat dalam konsep wawasan
nusantara yang merupakan cara pandang bangsa Indonesia
tentang diri dan lingkungannya yang berdasarkan Pancasila dan
UUD 1945.
2) Menumbuhkan rasa memiliki jiwa besar dan patriotisme untuk
menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sikap dan
perilaku yang patriotik dimulai dari hal-hal yang sederhana yaitu

10
dengan saling tolong menolong, menciptakan kerukunan
beragama dan toleransi dalam menjalankan ibadah sesuai agama
masing-masing, saling menghormati dengan sesama dan menjaga
keamanan lingkungan.
3) Memiliki kesadaran atas tanggungjawab sebagai warga
negara Indonesia yang menghormati lambang-lambang
negara dan mentaati peraturan perundang-undangan.
Berbagai masalah yang berkaitan dengan kesadaran
berbangsa dan bernegara perlu mendapat perhatian dan
tanggung jawab bersama. Sehingga amanat pada UUD 1945
untuk menjaga dan memelihara Negara Kesatuan wilayah
Republik Indonesia serta kesejahteraan rakyat dapat
diwujudkan. Hal yang dapat mengganggu kesadaran
berbangsa dan bernegara bagi PNS yang perlu di cermati
secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran dan
kepekaan sosial, padahal banyak persoalan-persoalan
masyarakat yang membutuhkan peranan PNS dalam setiap
pelaksanaan tugas jabatannya untuk membantu memediasi
masyarakat agar keluar dari himpitan masalah, baik itu
masalah sosial, ekonomi dan politik, karena dengan
terbantunya masyarakat dari semua lapisan keluar dari
himpitan persoalan, maka bangsa ini tentunya menjadi bangsa
yang kuat dan tidak dapat di intervensi oleh negara apapun,
karena masyarakat itu sendiri yang harus disejahterakan dan
jangan sampai mengalami penderitaan. Kesadaran bela
negara adalah dimana kita berupaya untuk mempertahankan
negara kita dari ancaman yang dapat mengganggu
kelangsungan hidup bermasyarakat yang berdasarkan atas

11
cinta tanah air. Kesadaran bela negara juga dapat
menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme di dalam diri
masyarakat. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban
dasar juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara
yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, penuh tanggung
jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara
dan bangsa. Keikutsertaan kita dalam bela negara merupakan
bentuk cinta terhadap tanah air kita. Nilai-nilai bela negara
yang harus lebih dipahami penerapannya dalam kehidupan
masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain:
1) Cinta Tanah Air
Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu
kita cintai. Kesadaran bela negara yang ada pada setiap
masyarakat didasarkan pada kecintaan kita kepada tanah air
kita. Kita dapat mewujudkan itu semua dengan cara kita
mengetahui sejarah negara kita sendiri, melestarikan budaya-
budaya yang ada, menjaga lingkungan kita dan pastinya
menjaga nama baik negara kita.
2) Kesadaran Berbangsa dan Bernegara
Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap
kita yang harus sesuai dengan kepribadian bangsa yang
selalu dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsanya.
3) Pancasila
Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para
pahlawan sungguh luar biasa, pancasila bukan hanya sekedar
teoritis dan normatif saja tapi juga diamalkan dalam kehidupan
sehari-hari. Kita tahu bahwa Pancasila adalah alat pemersatu
keberagaman yang ada di Indonesia yang memiliki beragam

12
budaya, agama, etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah
yang dapat mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan
hambatan.
4) Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara
Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela berkorban
untuk bangsa dan negara. Contoh nyatanya seperti sekarang ini
yaitu perhelatan seagames. Para atlet bekerja keras untuk bisa
mengharumkan nama negaranya walaupun mereka harus
merelakan untuk mengorbankan waktunya untuk bekerja
sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan hanya menjadi
seorang atlet saja, mereka juga memiliki pekerjaan lain.
Begitupun supporter yang rela berlama-lama menghabiskan
waktunya antri hanya untuk mendapatkan tiket demi mendukung
langsung para atlet yang berlaga demi mengharumkan nama
bangsa.
5) Memiliki Kemampuan Bela Negara
Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan dengan
tetap menjaga kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam menjalani
profesi masing-masing.Kesadaran bela negara dapat diwujudkan
dengan cara ikut dalam mengamankan lingkungan sekitar seperti
menjadi bagian dari Siskamling, membantu korban bencana
sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia sering sekali
mengalami bencana alam, menjaga kebersihan minimal
kebersihan tempat tinggal kita sendiri, mencegah bahaya narkoba
yang merupakan musuh besar bagi generasi penerus bangsa,
mencegah perkelahian antar perorangan atau antar kelompok
karena di Indonesia sering sekali terjadi perkelahian yang justru
dilakukan oleh para pemuda, cinta produksi dalam negeri agar

13
Indonesia tidak terus menerus mengimpor barang dari luar negeri,
melestarikan budaya Indonesia dan tampil sebagai anak bangsa
yang berprestasi baik pada tingkat nasional maupun internasional.

2. Analisis Isu Kontemporer


Ditinjau dari pandangan Urie Brofenbrenner (Perron, N.C.,
2017) ada empat level lingkungan strategis yang dapat
mempengaruhi kesiapan PNS dalam melakukan pekerjaannya
sesuai bidang tugas masing-masing, yakni: individu, keluarga
(family), Masyarakat pada level lokal dan regional (Community/
Culture), Nasional (Society), dan Dunia (Global).
Perubahan global ditandai dengan hancurnya batas (border)
suatu bangsa, dengan membangun pemahaman dunia ini satu
tidak dipisahkan oleh batas Negara. Hal yang menjadi pemicunya
adalah berkembang pesatnya teknologi informasi global, dimana
setiap informasi dari satu penjuru dunia dapat diketahui dalam
waktu yang tidak lama berselang oleh orang di penjuru dunia
lainnya.
Perubahan cara pandang tersebut, telah mengubah tatanan
kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini ditandai dengan
masuknya kepentingan global (Negara-negara lain) ke dalam
negeri dalam aspek hukum, politik, ekonomi, pembangunan, dan
lain sebagainya. Perubahan cara pandang individu tentang
tatanan berbangsa dan bernegara (wawasan kebangsaan), telah
mempengaruhi cara pandang masyarakat dalam memahami pola
kehidupan dan budaya yang selama ini dipertahankan/diwariskan
secara turun temurun. Perubahan lingkungan masyarakat juga

14
mempengaruhi cara pandang keluarga sebagai miniature dari
kehidupan sosial (masyarakat).
Tingkat persaingan yang keblabasan akan menghilangkan
keharmonisan hidup di dalam anggota keluarga, sebaga akibat
dari ketidakharmonisan hidup di lingkungan keluarga maka secara
tidak langsung membentuk sikap ego dan apatis terhadap tuntutan
lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pemahaman perubahan dan
perkembangan lingkungan stratejik pada tataran makro
merupakan factor utama yang akan menambah wawasan PNS.
Wawasan tersebut melingkupi pemahaman terhadap Globalisasi,
Demokrasi, Desentralisasi, dan Daya Saing Nasional. Bagaimana
semua hal tersebut bermuara pada tantangan penciptaan dan
pembangunan daya saing nasional demi kelangsungan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam lingkungan
pergaulan dunia yang semakin terbuka, terhubung, serta tak
berbatas.
PNS dihadapkan pada pengaruh yang datang dari eksternal
juga internal yang kian lama kian menggerus kehidupan
berbangsa dan bernegara (pancasila, UUD 1945, NKRI dan
Bhinneka Tunggal Ika) sebagai konsensus dasar berbangsa dan
bernegara. Fenomena-fenomena tersebut menjadikan pentingnya
setiap PNS mengenal dan memahami secara kritis terkait dengan
isu-isu kritikal yang terjadi saat ini atau bahkan berpotensi terjadi,
isu-isu tersebut diantaranya; bahaya paham radikalisme/
terorisme, bahaya narkoba, cyber crime, money laundry, korupsi,
proxy war. Isu-isu di atas, selanjutnya disebut sebagai isu-isu
strategis kontemporer.

15
3. Kesiapsiagaan Bela Negara
Untuk melatihan kesiapasiagaan bela negara bagi CPNS ada
beberapa hal yang dapat dilakukan, salah satunya adalah tanggap
dan mau tahu terkait dengan kejadian-kejadian permasalahan yang
dihadapi bangsa negara Indonesia, tidak mudah terprovokasi, tidak
mudah percaya dengan barita gossip yang belum jelas asal usulnya,
tidak terpengaruh dengan penyalahgunaan obat-obatan terlarang
dan permasalahan bangsa lainnya, dan yang lebih penting lagi ada
mempersiapkan jasmani dan mental untuk turut bela negara. Pasal
27 dan Pasal 30 UUD Negara RI 1945 mengamanatkan kepada
semua komponen bangsa berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan negara dan syarat-syarat tentang pembelaan negara.
Dalam hal ini setiap CPNS sebagai bagian dari warga masyarakat
tentu memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk melakukan bela
Negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD Negara RI 1945
tersebut. Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti
pada negara dan kesediaan berkorban membela negara. Cakupan
bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang
paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai
bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata.
Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi
bangsa dan negara. Setidaknya unsur Bela Negara antara lain :
1) Cinta Tanah Air
2) Kesadaran Berbangsa dan bernegara
3) Yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara
4) Rela berkorban untuk bangsa dan Negara
5) Memiliki kemampuan awal bela Negara

16
Beberapa contoh bela negara dalam kehidupan sehari-hari di
zaman sekarang di berbagai lingkungan:
1) Menciptakan suasana rukun, damai, dan harmonis dalam
keluarga. (lingkungan keluarga)
2) Membentuk keluarga yang sadar hukum (lingkungan keluarga).
3) Meningkatkan iman dan takwa dan iptek (lingkungan pelatihan)
Kesadaran untuk menaati tata tertib pelatihan (lingkungan
kampus/lembaga pelatihan)
4) Menciptakan suasana rukun, damai, dan aman dalam
masyarakat (lingkungan masyarakat)
5) Menjaga keamanan kampung secara bersama-sama
(lingkungan masyarakat)
6) Mematuhi peraturan hukum yang berlaku (lingkungan negara).
7) Membayar pajak tepat pada waktunya (lingkungan negara)

Terkait dengan Pelatihan Dasar bagi CPNS, sudah


barang tentu kegiatan bela negara bukan memanggul senjata
sebagai wajib militer atau kegiatan semacam militerisasi,
namun lebih bagaimana menanamkan jiwa kedisiplinan,
mencintai tanah air (dengan menjaga kelestarian hayati),
menjaga asset bangsa, menggunakan produksi dalam negeri,
dan tentu ada beberapa kegiatan yang bersifat fisik dalam
rangka menunjang kesiapsiagaan dan meningkatkan
kebugaran sifik saja. Oleh sebab itu maka dalam pelaksanaan
latihan dasar bagi CPNS akan dibekali dengan latihan-latihan
seperti :
1) Kegiatan Olah Raga dan Kesehatan Fisik
2) Kesiapsiagaan dan kecerdasan Mental

17
3) Kegiatan Baris-berbaris, Apel, dan Tata Upacara
4) Keprotokolan
5) Fungsi-fungsi Intelijen dan Badan Pengumpul Keterangan
6) Kegiatan Ketangkasan dan Permainan.

B. Nilai Dasar PNS


Pegawai ASN sebagai agen pemerintah harus memiliki nilai-nilai
dasar yang terinternalisasi dalam profesinya. Nilai-nilai tersebut
antara lain Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu
dan Anti Korupsi yang disingkat dengan kata ANEKA. Nilai-nilai
Dasar tenaga Aparatur Sipil.Negara telah dimuat dalam UU Nomor 5
tahun 2014 yang menyebutkan bahwa untuk mewujudkan tujuan
nasional, dibutuhkan Pegawai ASN yang dapat menjalankan tugas
pelayanan publik, tugas pemerintahan sebagai pelaksana kebijakan,
dan tugas untuk mempererat persatuan.

1. Akuntabilitas
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu,
kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang
menjadi amanahnya (LAN RI, 2015a). Amanah seorang PNS
adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik. Nilai-nilai publik
tersebut antara lain:
1) mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi
konflik kepentingan, antara kepentingan publik dengan
kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi
2) memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan
mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis

18
3) memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik
4) menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat
diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan.
Akuntabilitas adalah prinsip dasar bagi organisasi yang
berlaku pada setiap level/unit organisasi sebagai suatu kewajiban
jabatan dalam memberikan pertanggungjawaban laporan
kegiatan pada atasannya. Akuntabilitas mempunyai tiga fungsi
utama (Bovens dalam LAN RI, 2015) yaitu:
1) untuk menyediakan kontrol demokratis (peran demokrasi),
dengan membangun suatu sistem yang melibatkan stakeolder
dan users yang lebih luas (termasuk masyarakat, pihak swasta,
legistlatif, yudikatif dan di lingkungan pemerintah itu sendiri baik
ditingkat kementerian, lembaga maupun daerah)
2) untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan
(peran konstitusional)
3) untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas (peran belajar).
Tujuan utama akuntabilitas bagi PNS adalah untuk
memperbaiki kinerja PNS dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Seorang PNS yang akuntabel adalah PNS yang
dapat membuat pilihan tepat saat terjadi konflik kepentingan, tidak
terlibat politik praktis, melayani masyarakat secara adil, serta
konsisten menjalankan tugas dan fungsinya. Dalam menciptakan
lingkungan kerja yang akuntabel, ada beberapa indikator yang
harus dicapai yaitu:
1) Kepemimpinan
2) Transparansi
3) Integritas

19
4) tanggung jawab (responsibilitas)
5) keadilan
6) kepercayaan
7) keseimbangan
8) kejelasan
9) konsistensi
Suatu program/ kegiatan yang akuntabel dapat dibangun
melalui 10 tahapan berikut (LAN RI, 2015):
1. Menentukan individu/ kelompok/ komunitas sasaran dari
program/ kegiatan tersebut
2. Menetapkan tujuan yang diharapkan tercapai
3. Inventarisasi metode yang dijadikan dasar untuk mencapai
tujuan dan sasaran
4. Identifikasi aktivitas yang diperlukan
5.Memetakan kapasitas organisasi untuk
mengimplementasikan aktivitas tersebut
6. Menyusun rencana aksi
7. Evaluasi proses melalui pengukuran kualitas program/
kegiatan dan implementasi program/ kegiatan yang terukur
8. Review hasil capaian program/ kegiatan
9. Evaluasi proses dan capaian yang diintegrasikan
dengan peningkatan kualitas berkelanjutan
10. Jika program sukses, pikirkan bagaimana keberhasilan
tersebut dapat terus dipertahankan

2. Nasionalisme
Secara bahasa nasionalisme barasal dari kata nation, yang
berarti bangsa. Jadi nasionalisme adalah pemahaman mengenai

20
nilai-nilai kebangsaan. Nasionalisme memiliki pokok kekuatan dalam
menilai kecintaan individu terhadap bangsanya dengan penyerahaan
setinggi- tingginya. Dalam arti luas, nasionalisme diartikan sebagai
pandangan tentang rasa cinta yang wajar terhadap bangsa dan
negara, dan sekaligus menghormati bangsa lain. Nasionalisme
Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia
Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada
nilai-nilai Pancasila. Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi
nilai- nilai pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia
senantiasa menempatkan persatuan dan kesatuan, kepentingan dan
keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau
golongan, menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan
bangsa dan negara, bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah
air Indonesia serta tidak merasa rendah diri, mengakui persamaan
derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan
sesama bangsa, menumbuhkan sikap saling mencintai sesama
manusia, mengembangkan sikap tenggang rasa.
Sila pertama Pancasila yaitu Ketuhana Yang Maha Esa
mengandung nilai kemerdekaan dan kebebasan masyarakat dalam
memeluk agama dan kepercayaan masing-masing. Nilai-nilai
ketuhanan diimplementasikan dengan cara mengembangkan etika
sosial di masyarakat. Nilai-nilai ketuhanan menjiwai nilai- nilai lain
yang dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti
persatuan, kemanusiaan, permusyawaratan, dan keadilan sosial.
Dengan berpegang teguh pada nilai ketuhanan diharapkan dapat
memperkuat pembentukan karakter dan kepribadian, melahirkan etos
kerja yang positif, dan memiliki kepercayaan diri untuk

21
mengembangkan potensi diri dan kekayaan alam yang diberikan
Tuhan untuk kemakmuran masyarakat.
Sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi
landasan tindakan dan perilaku kita sebagai PNS. Negara
memerlukan sosok PNS yang mampu menentukan kebijakan dan
arah pembangunan dengan mempertimbangkan keselarasan antara
kepentingan nasional dan kemaslahatan global. Perpaduan antara
sila pertama dan kedua Pancasila menuntut pemerintah dan
peyelenggara negara untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan
yang luhur dan memegang cita-cita moral rakyat Indonesia. Dengan
berlandaskan prinsip kemanusiaan, berbagai tindakan perilaku yang
bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan tidak sepatutnya
mewarnai kebijakan dan perilaku aparatur negara. Aparatur negara
dan selurh komponen bangsa perlu bahu membahu menghapus
masalah yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan tersebut dari
kehidupan berbangsa.
Sila ketiga Persatuan Indonesia menggambarkan bahwa
bangsa Indonesia juga memiliki ciri-ciri gotong royong, guyub, rukun,
bersatu, dan kekeluargaan. Dengan semangat gotong royong,
Negara Indonesia harus mampu melindungi segenap bangsa dan
tumpah darah Indonesia. Negara diharapkan mampu memberikan
pelayanan kepada masyarakat tanpa memandang suku, agama, ras,
atau golongan. Semangat gotong royong jugadapat diperkuat dalam
kehidupan masyarakat sipil dan politik dengan terus menerus
mengembangkan pendidikan kewarganegaraan dan multi-
kulturalisme yang dapat membangun rasa keadilan dan
kebersamaan dilandasi dengan prinsip-prinsip kehidupan publik yang
lebih partisipatif dan non diskriminatif.

22
Sila keempat Pancasila yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Sila ini
mengandung ciri- ciri demokrasi yang dijalankan di Indonesia, yakni
kerakyatan (kedaulatan rakyat), permusyawaratan (kekeluargaan),
dan hikmat kebijaksanaan. Demokrasi yang bercirikan kerakyatan
bermakna negara menghendaki persatuan di atas kepentingan
perseorangan dan golongan. Kekeluargaan bermakna
penyelenggaraan pemerintah didasarkan atas semangat
kekeluargaan diantara keragaman bangsa Indonesia dengan
mengakui adanya kesamaan derajat. Dan hikmat kebijaksanaan
menghendaki adanya landasan etis dalam berdemokrasi.
Sila kelima Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Komitmen keadilan memiliki dimensi yang luas. Peran
negara dalam mewujudkan rasa keadilan sosial, setidaknya ada
dalam empat kerangka, yaitu:
1) perwujudan relasi yang adil disemua tingkat sistem
kemasyarakatan
2) pengembangan struktur yang menyediakan kesetaraan
kesempatan
3) proses fasilitasi akses atas informasi, layanan dan sumber daya
yang diperlukan
4) dukungan atas partisipasi bermakna atas pengambilan keputusan
bagi semua orang (LAN RI, 2015). Perwujudan negara sejahtera
sangat ditentukan oleh integritas dan mutu penyelenggara Negara,
disertai dukungan rasa tanggung jawab dan rasa kemanusiaan dari
semua warga.
Setiap pegawai ASN wajib memiliki jiwa nasionalisme
Pancasila yang kuat dalam menjalankan fungsi dan tugasnya. Jiwa

23
nasionalisme Pancasila ini harus menjadi dasar dan mengilhami
setiap gerak langkah dan semangat bekerja untuk bangsa dan
negara. Pegawa Negeri Sipil sebagai bagian dari ASN harus
senantiasa taat menjalankan nilai-nilai Pancasila dan
mengaktualisasikannya dengan semangat nasionalisme yang
kuat menjalankan tugasnya sebagai pelaksana kebijakan publik,
pelayan publik, dan perekat dan pemersatu bangsa.
ASN sebagai pelaksana kebijakan publik merupakan aparat
pelaksana (eksekutor) yang melaksanakan segala peraturan
perundang-undangan yang menjadi landasan kebijakan publik di
berbagai bidang dan sektor pemerintah. Undang-undang ASN juga
memberikan jaminan kepada aparatur sipil (birokrat) bebas dari
intervensi kepentingan politik, bahkan bebas dari intervensi atasan
yang memiliki kepentingan subyektif. Hal ini mendorong ASN yang
berorientasi pada kepentingan publik. Prinsip penting yang harus
diperhatikan ASN dalam menjalankankan fungsinya sebagai
pelaksana kebijakan publik adalah:
1) ASN harus mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat
luas dalam mengimplementasikan kebijakan publik
2) ASN harus mengutamakan pelayanan yang berorientasi pada
kepentingan publik
3) ASN harus berintegritas tinggi dalam menjalankan tugasnya.

Pelayanan masyarakat (publik) adalah segala bentuk


pelayanan sektor publik yang dilaksanakan aparatur pemerintah.
Tujuan penyelenggaraan Untuk dapat melakukan fungsi sebagai
pelayan publik, ASN harus memiliki profesionalisme yaitu keahlian
tertentu yang harus dimiliki sesuai dengan profesi ASN. Dengan
terwujudnya ASN yang profesional akan mendorong terwujudnya

24
reformasi birokrasi yang lebih baik yang mendorong terciptanya
kemajuan bangsa dan negara, karena pusat pelayanan publik ada
pada birokrasi.
Pentingnya peran PNS sebagai salah satu pemersatu bangsa,
secara implisit disebutkan dalam UU No. 5 tahun 2014 terkait asas,
prinsip, nilai dasar, dan kode etik dan kode perilaku, dimana dalam
pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa asas-asas dalam penyelenggaraan
dan kebijakan manajemen ASN ada 13, salah satunya adalah asas
persatuan dan kesatuan. Hal ini berarti seorang ASN dalam
menjalankan tugasnya senantiasa mengutamakan dan
mementingkan persatuan dan kesatuan bangsa. ASN dalam
menjalankan tugas dan fungsinya harus berpegang pada prinsip adil
dan netral. Netral dalam artian tidak memihak salah satu
kelompok/golongan. Sedangkan adil berarti ASN dalam
melaksanakan tugasnya tidak boleh diskriminatif dan harus
obyektif, jujur, transparan. Dengan bersikap netral dan adil dalam
melaksanakan tugasnya, ASN akan mampu menciptakan kondisi
yang aman, damai, dan tentram di lingkungan kerjanya dan di
masyarakatnya.

3. Etika Publik
Weihrich dan Koontz (dalam LAN RI, 2015) mendefinisikan
etika sebagai “the dicipline dealing with what is good and bad and
with moral duty and obligation”. Konsep etika sering digunakan
sinomim dengan moral. Dalam kaitannya dengan pelayanan publik,
etika publik adalah refleksi standar/norma yang menentukan baik dan
buruk, benar dan salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk

25
mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung
jawab pelayanan publik.
Pada prinsipnya ada tiga dimensi etika publik yaitu dimensi
kualitas pelayanan publik, dimensi modalitas, dan dimensi tindakan
integritas publik. Etika publik menekankan pada aspek nilai dan
norma, serta prinsip moral, sehingga etika publik membentuk
integritas pelayanan publik. Dengan adanya prinsip moral tersebut
diharapkan ASN mampu mengidentifikasi masalah-masalah dan
konsep etika yang khas dalam pelayanan publik. Dimensi modalitas
dalam etika publik dicerminkan oleh unsur-unsur akuntabilitas,
transparansi, dan netralitas. Sedangkan dimensi tindakan integritas
publik memiliki makna kualitas dari pejabat publik yang sesuai
dengan nilai, standar, aturan moral yang diterima masyarakat.
Seorang pelayan publik yang profesional membutuhkan tidak
hanya kompetensi teknis dan leadership, namun juga kompetensi
etika. Tanpa kompetensi etika, pejabat cenderung menjadi tidak
peka, tidak peduli dan diskriminatif terhadap masyarakat tertentu.
Etika publik merupakan refleksi kritis yang mengarahkan bagaimana
nilai-nilai dipraktikkan dalam wujud keprihatinan dan kepedulian
terhadap kesejahteraan masyarakat atau kebaikan orang lain. Nilai-
nilai dasar etika publik yang harus diinternalisasi dan diaktualisasikan
oleh ASN sebagaimana tercantum dalam Undang- Undang ASN
(LAN RI, 2015), yakni sebagai berikut:
1) Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila
2) Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia 1945
3) Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak
4) Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian

26
5) Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif
6) Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur
7) Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada
publik.
8) Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan
program pemerintah
9) Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap,
cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun
10) Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi
11) Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama
12) Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja
pegawai
13) Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan
14) Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis
sebagai perangkat sistem karir

4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu adalah kebulatan tekad, tanggung jawab yang terdiri
dari kegiatan perbaikan ( efektifitas, efisiensi, inovasi ) berkelanjutan
yang melibatkan setiap orang dalam organisasi melalui usaha yang
terintegrasi secara total untuk meningkatkan kinerja pada setiap level
oranisasi. Dengan afektivitas, efisiensi, dan inovasi akan dicapai hasil
kerja yang memenuhi standar mutu yang diharapkan. Kinerja aparatur
dalam memberikan layanan publik yang bermutu harus berlandaskan
prinsip efektivitas, efisiensi, dan inovasi (LAN RI, 2015). Nilai- nilai dasar
(Pasal 4) dan kode etik (Pasal 5) layanan publik sebagaimana
dituangkan dalam UU Nomor 5 Tahun 2014 tenang ASN, secara

27
keseluruhan mencerminkan perlunya komitmen mutu dari setiap
aparatur dalam memberikan layanannya dan kepada siapapun layanan
itu diberikan. Target utama kinerja aparatur yang berbasis komitmen
mutu adalah mewujudkan kepuasan msyarakat yang menerima layanan
(customer satisfaction). Uraian di atas menunjukkan nilai-nilai dasar
yang terkandung dalam komitmen mutu yaitu:
1) efektifitas
2) efisiensi
3) inovasi
4) orientasi mutu

a. Efektivitas
Richard L. Daft dalam Tita Maria Kanita (dalam LAN RI, 2015)
mendefinisikan efektivitas organisasi berarti sejauh mana organisasi
dapat mencapai tujuan yang ditetapkan, atau berhasil mencapai apapun
yang coba dikerjakannya. Efektivitas organisasi berarti memberikan
barang atau jasa yang dihargai oleh pelanggan. Efektivitas organisasi
tidak hanya diukur dari performan untuk mencapai target (rencana)
mutu, kuantitas, ketepatan waktu, dan alokasi sumber daya, melainkan
juga diukur dari kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan pelanggan
(customers). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa efektivitas
menunjukkan tingkat ketercapaian target yang telah direncanakan, baik
menyangkut jumlah maupun mutu hasil kerja

b. Efisiensi
Richard L. Daft dalam Tita Maria Kanita (dala LAN RI, 2015)
mendefinisikan efisiensi organisasi adalah jumlah sumber daya yang
digunakan untuk mencapai tujuan organisasional. Efisiensi organisasi di

28
t e nt uka n oleh berapa banyak bahan baku, uang, dan manusia yang
dibutuhkan untuk menghasilkan jumlah keluaran tertentu. Efisiensi dapat
dihitung sebagai jumlah sumber daya yang digunakan untuk
menghasilkan barang atau jasa. Efisiensi merupakan tingkat ketepatan
realisasi penggunaan sumberdayadan bagaimana pekerjaan
dilaksanakan, sehingga tidak terjadi pemborosan sumber daya,
penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur, dan mekanisme yang
keluar alur.
Karakteristik yang ideal dari tindakan yang efektif dan efisien antara
lain: penghematan, ketercapaian target yang secara tepat sesuai
dengan yang direncanakan, pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat
dan tepat, serta terciptanya kepuasan semua pihak yaitu pimpinan,
pelanggan, masyarakat, dan pegawai itu sendiri. Sementara itu
konsekuensi jika suatu pekerjaan tidak dilaksanakan secara efektif dan
efisien adalah ketidakcapaian target kerja, ketidakpuasan banyak pihak,
menurunkan kredibilitas instansi tempat kerja, bahkan akan
menimbulkan kerugian secara finansial.

c. Inovasi
Pengertian inovasi menurut Richard L. Daft (dalam LAN RI, 2015)
menyatakan bahwa inovasi barang dan jasa adalah cara utama dimana
suatu organisasi beradaptasi terhadap perubahan-perubahan di pasar,
teknologi, dan persaingan. Inovasi dalam layanan publik mestinya
mencerminkan hasil pemikiran baru yang konstruktif, sehingga akan
memotivasi setiap individu untuk membangun karakter dan mind-set
baru sebagai aparatur penyelenggara pemerintahan, yang diwujudkan
dalam bentuk profesionalisme layanan publik yang berbeda dari

29
sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau menggugurkan tugas
rutin.
Inovasi muncul karena adanya dorongan kebutuhan
organisasi/perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan tuntutan
perubahan. Dorongan ini bisa timbul dari dalam (internal) untuk
melakukan perubahan, atau bisa timbul dari adanya desakan kebutuhan
dari pihak luar (eksternal). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
esensi yang terkandung dalam istilah inovasi adalah perubahan (LAN RI,
2015). Inovasi dalam pelayanan publik merupakan sebuah keniscayaan.
Khususnya dalam rangka meningkatkan kepuasan publik atas layanan
aparatur. Upaya peningkatan produktivitas PNS sebagai aparatur
penyelenggara pemerintah dapat dilakukan melalui banyak cara,
misalnya peningkatan kompetensi, motivasi, penegakan disiplin, serta
pengawasan secara profesional untuk mengawal kinerja PNS agar tetap
berada di jalur yang tepat dan tidak melakukan penyimpangan.

d. Orientasi Mutu
Selain efektivitas, efisiensi, dan inovasi, mutu juga menjadi tema
sentral yang menjadi target capaian institusi, baik di lingkungan
pemerintah maupun perusahaan. Menurut definisi yang dirumuskan
Goetsch dan Davis (dalam LAN RI, 2015), mutu merupakan suatu
kondisi dinamis berkaitan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan
lingkungan yang sesuai atau bahkan melebihi harapan konsumen atau
pengguna. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa mutu
mencerminkan nilai keunggulan produk/ jasa yang diberikan kepada
pelanggan (customer) sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, dan
bahkan melampaui harapannya. Keberhasilan institusi pemerintah
memberikan layanan kepada masyarakat akan sangat bergantung

30
pada mutu sumberdaya manusia serta bagaimana potensi mereka
diberdayakan oleh pimpinannya (LAN RI, 2015).
Dalam kaitannya dengan fungsi ASN, penyelenggaraan pemerintah
layanan publik yang berorientasi mutu adalah pelayanan yang diarahkan
untuk meningkatkan kepuasan masyarakat sebagai pelanggan, baik
menyangkut layanan yang merujuk pada producer view maupun
costumer view. Zeithmalh, dkk (dalam LAN RI, 2015) menyatakan
bahwa terdapat sepuluh ukuran dalam menilai mutu pelayanan yaitu:

1)tangible (nyata/berwujud); 2)reliability (kehandalan); 3) responsiveness


(cepat tanggap); 4) competence (kompetensi); 5) access (kemudahan);
6) courtesy (keramahan); 7) communication (komunikasi); 8) credibility
(kepercayaan); 9) security (keamanan); dan 10) understanding the
customer ( pemahaman pelanggan)

4. Anti Korupsi
Korupsi berasal dari bahasa latin corruptio yang artinya kerusakan,
kebobrokan, dan kebusukan. Dalam bahasa Yunani corruptio yang artinya
perbuatan yang tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral,
menyimpang dari kesucian, melanggar norma agama, material, mental,dan
umum (LAN, 2015). Oleh karena itu, anti korupsi adalah pemikiran sikap
dan upaya untuk memberantas korupsi.
Kata kunci untuk menjauhkan diri dari korupsi adalah internalisasi
integritas pada diri sendiri dan hidup atau bekerja dalam lingkungan yang
menjalankan integritas dengan baik. Identifikasi nilai dasar anti korupsi
memberikan nilainilai dasar anti korupsi yang prioritas dan memiliki
signifikansi yang tinggi bagi kita. Nilai–nilai dasar anti korupsi penting untuk
mencegah terjadinya korupsi dan mendukung prinsip–prinsip anti korupsi
yang meliputi akuntabilitas, transparansi, kewajaran, kebijakan dan kontrol

31
kebijakan supaya semua dapat berjalan dengan baik serta, untuk mencegah
faktor eksternal penyebab korupsi.
Dalam sikap anti korupsi terkandung nilai-nilai dasar yang harus
diinternalisasi oleh setiap aparatur pemerintah, yaitu: 1) jujur; 2) peduli; 3)
mandiri; 4) disiplin; 5) tanggung jawab; 6) kesederhanaan; 7) kerja keras; 8)
berani; dan 9) adil
1) Jujur
Seseorang dituntut untuk bisa berkata jujur dan transparan
serta tidak berdusta baik terhadap diri sendiri maupun orang lain
2) Peduli
Kepedulian sosial kepada sesama menjadikan seseorang
memiliki sifat kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa sosial tinggi
akan memperhatikan lingkungan sekelilingnya di mana masih
terdapat banyak orang yang tidak mampu, menderita, dan
membutuhkan uluran tangan
3) Mandiri
Kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri
seseorang menjadi tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain
4) Disiplin
Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Ketekunan
dan konsistensi untuk terus mengembangkan potensi diri membuat
seseorang akan selalu mampu memberdayakan dirinya dalam
menjalani tugasnya
5) Tanggung Jawab
Segala tindak tanduk dan kegiatan yang dilakukannya akan
dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa,
masyarakat, negara, dan bangsanya. Dengan kesadaran seperti ini

32
maka seseorang tidak akan tergelincir dalam perbuatan tercela dan
nista
6) Kerja Keras
Individu beretos kerja akan selalu berupaya meningkatkan
kualitas hasil kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik yang
sebesar-besarnya
7) Sederhana
Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang
menyadari kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya
dengan semestinya tanpa berlebih-lebihan
8) Berani
Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki
keberanian untuk menyatakan kebenaran dan menolak
kebathilan. Ia tidak akanmentolerir adanya penyimpangan dan
berani menyatakan penyangkalan secara tegas
9) Adil
Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa
apa yang dia terima sesuai dengan jerih payahnya

C. Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI


Terkait dengan peran PNS dalam NKRI, diuraikan
manajemen ASN, Pelayanan Publik dan Whole of Government
(WoG)
1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan
pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi,
bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi, dan
nepotisme (LAN RI, 2016). Manajemen ASN lebih menekankan

33
kepada pengaturan profesi pegawai sehingga diahrapkan agar selalu
tersedia sumber daya aparatur sipil Negara yang unggul dan selaras
dengan perkembangan jaman. Sesuai dengan pengertian
manajemen ASN, Peran ASN sebagai aparatur pemerintah adalah
sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan
tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui
pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas
dari intervensi politik, serta bersih dari praktek korupsi, kolusi, dan
nepotisme.
Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur negara yang
menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi
pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua
golongan dan partai politik. Untuk menjalankan kedudukannya
tersebut maka pegawai ASN mempunyai fungsi sebagaimana diatur
dalam Pasal 10 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun
2014 Tentang Aparatur Sipil Negara, yaitu Pegawai ASN berfungsi
sebagai: 1) pelaksana kebijakan publik; 2) pelayan publik; dan 3)
perekat dan pemersatu bangsa. Pada bagian Kedua Tugas Pasal 11
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang
Aparatur Sipil Negara, pegawai ASN bertugas: 1) melaksanakan
kebijakan publik yang dibuat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; 2)
memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas; dan
3) mempererat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Agar dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya
dengan baik dapat meningkatkan produktivitas, menjamin
kesejahteraan ASN dan akuntabel, maka setiap ASN diberikan hak.
ASN juga mempunyai kewajiban sesuai dengan tugas dan tanggung

34
jawabnya. Hak PNS sesuai dengan ketentuan dalam UU ASN adalah
PNS berhak memperoleh: 1) gaji, tunjangan, dan fasilitas; 2) cuti; 3)
jaminan pensiun dan jaminan hari tua; 4) perlindungan; dan 5)
pengembangan kompetensi.
Sedangkan kewajiban dan tanggung jawab pegawai ASN
disebutkan dalam UU ASN adalah: 1) setia dan taat pada pancasila,
undang-undangdasar negara republik indonesia tahun 1945, negara
kesatuan republik indonesia, dan pemerintah yang sah; 2) menjaga
persatuan dan kesatuan bangsa; 3) melaksanakan kebijakan yang
dirumuskan pejabat pemerintah yang berwenang; 4) menaati
ketentuan peraturan perundangundangan; 5) melaksanakan tugas
kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran, kesadaran, dan
tanggung jawab; 6) menunjukkan integritas dan keteladanan dalam
sikap, perilaku, ucapan dan tindakan kepada setiap orang, baik di
dalam maupun di luar kedinasan; 7) menyimpan rahasia jabatan dan
hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan 8) mersedia
ditempatkan di seluruh wilayah negara kesatuan republik indonesia.
ASN sebagai profesi berlandaskan pada kode etik dan kode
perilaku. Kode atik dan kode perilaku ASN bertujuan untuk menjaga
martabat dan kehormatan ASN. Kode etik dan kode perilaku yang
diatur dalam UU ASN menjadi acuan bagi para ASN dalam
penyelenggaraan birokrasi pemerintah. Fungsi kode etik dan kode
perilaku ini sangat penting dalam birokrasi dalam menyelenggarakan
pemerintahan. Fungsi tersebut antara lain, yang pertama, sebagai
pedoman, panduan birokrasi publik/aparatur sipil negara dalam
menjalankan tugas dan kewenangan agar tindakannya dinilai baik.
Kedua,sebagai standar penilaian sifat, perilaku, dan tindakan

35
birokrasi publik/aparatur sipil negara dalam menjalankan tugas dan
kewenangannya.

2. Pelayanan Publik
Dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 Tentang
Pelayanan Publik, dijelaskan bahwa pelayanan publik adalah
kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan
kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau
pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara
pelayanan publik. Dari pengertian tersebut ada tiga unsur penting
pelayanan publik yaitu organisasi penyelenggara pelayanan publik,
penerima layanan (pelanggan) yaitu orang atau masyarakat atau
organisasi yang berkepentingan, dan kepuasan yang diberikan
dan/atau diterima oleh penerima pelayanan.
Seorang ASN terlibat baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Kesadaran
seluruh anggota ASN untuk memberikan kontribusi terhadap upaya
perbaikan kualitas Pelayanan publik di Indonesia akan memberikan
implikasi strategis jangka panjang untuk mengubah kinerja birokrasi
dalam memberikan pelayanan publik.Pelayanan publik yang baik
didasarkan pada prinsip-prinsip yang digunakan untuk merespon
berbagai kelemahan yang melekat pada tubuh birokrasi. Prinsip
pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima
adalah partisipatif, transparansi, responsif, tidak diskriminatif, mudah
dan murah, efektif dan efisien, aksesibel, akuntabel, berkeadilan.
Sebagaimana diatur dalam Undang-undang ASN, dijelaskan
bahwa ASN sebagai profesi berdasarkan pada prinsip-prinsip: 1) nilai

36
dasar; 2) kode etik dan kode perilaku; 3) komitmen, integritas moral,
dan tanggungjawab pada pelayanan publik; 4) kompetensi yang
diperlukan sesuai dengan bidang tugas; 5) kualifikasi akademik; 6)
jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas; dan
7)profesionalitas jabatan.

3. Whole of Government
Whole of Government atau disingkat WoG adalah sebuah
pendekatan penyelenggaraan pemerintah yang menyatukan
upaya-upaya kolaboratif pemerintah dari keseluruhan sektor dalam
ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-
tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan
publik (LAN RI, 2016). WoG juga dikenal sebagai pendekatan
interagency, yaitu pendekatan yang melibatkan sejumlah
kelembagaan yang terkait dengan urusan-urusan yang relevan.
United States Institute of Peace (USIP) (dalam LAN RI, 2016),
menyatakan “an approach that integrates the collaborative effort of
the departments and agencies of a government to achieve unity of
effort toward a shared goal. Also known as interagency approach.
The terms unity of effort and unity of purpose are sometimes used to
describe cooperation among all actors, government and otherwise.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik
pendekatan WoG dapat dirumuskan dalam prinsip-prinsip kolaborasi,
kebersamaan, kesatuan, tujuan bersama, dan mencakup
keseluruhan aktor dari seluruh sektor dalam pemerintahan.
Pentingnya WoG untuk diterapkan dalam pemerintahan saat ini.
Pertama, karena adanya faktor eksternal seperti dorongan publik
dalam mewujudkan integrasi kebijakan, program pembangunan dan

37
pelayanan agar tercipta penyelenggaraan pemerintah yang lebih
baik. Juga adanya perkembangan teknologi informasi, situasi dan
dinamika kebijakan yang lebih kompleks. Kedua, karena adanya
faktor internal yaitu ketimpangan kapasitas sektoral sebagai akibat
adanya nuansa kompetisi natar sektor pembangunan.
WoG sebagai pendekatan yang dilakukan pemerintah untuk
mendukung fungsi penting dan utama instansi pemerintah yaitu
sebagai perangkat pemberi pelayanan. Pelayan yang diberikan harus
memenuhi level atau kualitas yang diharapkan oleh masyarakat
umum. Terutama untuk menghadapi masyarakat yang semakin maju
dan persaingan global yang ketat. Pendekatan WOG dapat dilakukan
baik dari sisi penataan institusi formal maupun informal, diantaranya:
1) penguatan koordinasi antar lembaga; 2) membentuk lembaga
koordinasi khusus; 3) membentuk gugus tugas; dan 4) koalisi sosial.
Praktek WoG dalam pelayanan publik dilakukan dengan
menyatukan seluruh sektor yang terkait dengan pelayanan publik.
Pertama, pelayanan yang bersifat administratif, yaitu pelayanan yang
menghasilkan berbagai produk dokumen resmi yang dibutuhkan
masyarakat. Praktek WoG dalam jenis pelayanan administrasi dapat
dilihat dalam praktek-praktek penyatuan penyelenggaraan izin dalam
satu pintu seperti PTSP atau kantor SAMSAT. Kedua, pelayanan
jasa, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk jasa yang
dibutuhkan warga masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan,
ketenagakerjaan, perhubungan, dan lainnya. Ketiga, pelayanan
barang, yaitu pelayanan yang menghasilkan barang yang dibutuhkan
warga masyarakat misalnya jalan, perumahan, jaringan telepon,
listrik, air bersih, dan lainnya. Keempat, pelayanan regulatif, yaitu
pelayanan melalui penegakan hukuman dan peraturan perundang-

38
unndagan maupun kebijakan publik yang mengatur sendi-sendi
kehidupan masyarakat. Adapun pola pelayanan publik dibedakan
dalam 5 (lima) macam pola pelayanan yaitu pola pelayanan teknis
fungsional, pola pelayanan satu atap, pola pelayanan satu pintu, pola
pelayanan terpusat, dan pola pelayanan elektronik.

39
BAB III
TUGAS UNIT KERJA DAN TUGAS PESERTA

A. Profil Organisasi
1. Dasar Hukum Pembentukan Organisasi
Dasar hukum pembentukan pelayanan kesehatan masyarakat diatur
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun
2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.
Penjelasan mengenai Puskesmas tertuang dalam Pasal 1
Permenkes No. 75 Tahun 2014, Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah
suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan
kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang
dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan atau masyarakat.. Dan
pusat pelayanan kesehatan ini disebut dengan Puskesmas.

2. Visi, Misi, Nilai, Dan Tujuan Organisasi

a) VISI

“Menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat Yang Berkualitas


Menuju Masyarakat Kecamatan Semarang Selatan Sehat Yang
Mandiri Untuk Hidup Sehat”.
Semarang Selatan Sehat merupakan gambaran masyarakat kecamatan
masa depan ingin dicapai pembangunan yang ditandai penduduknya hidup
dalam lingkungan sehat dan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan
untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dengan
merata serta memiliki derajad kesehatan yang setinggi-tingginya

40
b) MISI
Untuk mewujudkan visi tersebut, maka ditetapkan misi sebagai berikut :
1) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
2) Memberdayakan masyarakat untuk memiliki kemauan dan
kemampuan untuk hidup sehat.

c) MOTO
4 ANDA, 4 KAMI
1) Melayani anda, Kewajiban kami.
2) Mengobati anda, Tugas kami.
3) Kesembuhan anda, Kebahagiaan kami.
4) Kesehatan anda, Harapan kami.

d) Dasar filosofi :
1) Setiap pegawai puskesmas adalah PNS, setiap PNS adalah abdi
negara, setiap abdi negara harus siap melayani masyarakat.
2) Tugas puskesmas terutama adalah dalam hal promosi dan prevensi,
namun kenyataan yang ada dan tidak dapat di pungkiri bahwa kuratif
atau pengobatan merupakan ujung tombak dan daya tarik utama
pelayanan kesehatan di puskesmas sehingga puskesmas dalam hal
ini tenaga medis harus selalu siap menjalankan tugas pengobatan di
bantú tenaga-tenaga lain yang ada.
3) Sebagai petugas kesehatan yang berupaya menyembuhkan pasien,
maka kesembuhan pasien tentulah merupakan kebahagiaan
tersendiri bagi para petugas puskesmas khususnya dokter.
4) Sebagai petugas puskesmas yang senantiasa mengupayakan
promotif dan prevensi di bidang kesehatan tentulah kesehatan
masyarakat merupakan sesuatu yang diharapkan.

41
3. Tugas Pokok Puskesmas
UPTD Puskesmas mempunyai tugas pokok melaksanakan
pelayanan, pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan secara
paripurna kepada masyarakat di wilayah kerjanya.Puskesmas juga harus
melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Dinas Kesehatan. Dengan
tujuan organisasi :
1) Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan

2) Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayah


kerjanya

3) Pusat Pemberdayaan Masyarakat

4) Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam


rangka peningkatan kemampuan hidup sehat

5) Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

6) Pelayanan Kesehatan Perorangan

7) Pelayanan Kesehatan Masyarakat

8) Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan


terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya.

4. Tata Nilai Puskesmas

Tata Nilai disusun sebagai acuan bagi insan Puskesmas dalam


berperilaku yang menunjang tercapainya Visi dan Misi Puskesmas
Pandanaran Kota Semarang. Nilai dasar tersebut diharapkan menjadi
budaya organisasi dan menjadi motivator bagi setiap individu untuk
senantiasa bekerja lebih baik dan profesional dalam memberikan
pelayanan kepada pasien. Individu Puskesmas bukan hanya dituntut

42
menjadi pintar, tetapi juga memiliki perilaku yang baik. Oleh karena itu,
Manajemen Puskesmas Pandanaran Kota Semarang berupaya
menumbuhkan sistem nilai yang diyakini dapat dijalani bersama dan
menjadi acuan berperilaku setiap insan Puskesmas yang andal dan
terpercaya, yaitu melalui pengembangan budaya ”SIPP”. Pengertian dan
penerapan budaya ”SIPP” dalam memberikan layanan kepada pasien
meliputi:
a. Santun
b. Inovatif
c. Profesional
d. Pelayanan bermutu

43
5. Struktur Organisasi Puskesmas Pandanaran Kota Semarang
Gambar 3.1 Struktur Organisasi Puskesmas Pandanaran Semarang

44
4. Deskripsi SDM, Sarpras, Dan Sumber Daya Lain
a) Gambaran secara Umum (Geografis) Puskesmas Pandanaran

Batas – batas wilayah antara lain :


Sebelah Utara : Kelurahan Pekunden
Sebelah Selatan : Kelurahan Lempongsari
Sebelah Timur : Kelurahan Peterongan
Sebelah Barat : Kelurahan Bojong Salaman

Gambar 3.2 Gambar wilayah kecamatan Semarang Selatan

Wilayah Kerja Puskesmas Pandanaran


Ada 6 (enam) wilayah kelurahan binaan.
 Kelurahan Mugassari
 Kelurahan Randusari
 Kelurahan Barusari
 Kelurahan Bulustalan
 Kelurahan Pleburan
 Kelurahan Wonodri
Luas wilayah : 405.89 Km2
Jumlah Penduduk th 2018 : 44.322 Jiwa

45
Jumlah Rt / Rw : 314 / 44
Berdasarkan Data Demografi dari Kecamatan Semarang
Selatan Tahun 2018, Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja
Puskesmas Pandanaran Kota Semarang tahun 2018 adalah
44.322 Jiwa, terdiri dari 22.670 laki-laki (51,15%) dan 21.652
perempuan (48,85%). Sedangkan jumlah Rumah Tangga
sebanyak 13.647 rumah tangga dengan rata-rata jiwa per rumah
tangga adalah sebanyak 4 (empat) jiwa.

Tabel 2.1 Data Ketenagaan Puskesmas Pandanaran Kota


Semarang
No. Jenis Pegawai SDM Kebutuhan Kekuraangan
yang SDM SDM
ada
1. Kepala 1 1 -
Puskesmas
2. Dokter Umum 4 4 -
3. Dokter Gigi 2 2 -
4. Perawat 6 6 -
5. Bidan 6 6 -
6. Perawat Gigi 2 2 -
7. Administrasi 1 1 -
KIA
8. Analis 3 3 -
9. Apoteker 1 1 -
9. A.A 1 1 -
10. Sanitarian 1 1 -
11. Promotor 2 2 (Dibantu
Kesehatan gasurkes KIA
dan P2P)
12. Epidemiolog 1 1 -
13. Gizi 1 1 -
14. Petugas 1 1 -
Rekam Medis
15. Ka Sub Bag TU 1 1 -
16. Administrasi 1 1 -
TU
17. Penjaga Malam 2 2 -

46
18. Petugas 2 2 -
Kebersihan
19. K3 1 1 -
20. Pengemudi 2 2 -
21. Bendahara 3 3 (2 dirangkap
oleh bidan dan
epidemiolog)
22. SP 3 1 1 (dirangkap AA)
23. Administrasi 4 4 -
pendaftaran
24. Fisioterapis 1 1 -
25. Tenaga 1 1 -
administrasi
keuangan
TOTAL 47 47

DATA PERALATAN

Tabel 2.2 Data Peralatan Puskesmas Pandanaran Kota Semarang


No. NAMA BARANG JUMLAH KONDISI
1 Ambulance 0 -
2 Mobil pusling 2 Kondisi Baik
3 Sepeda motor 7 Kondisi Baik
4 Dacin kuningan 10 Kondisi Baik
5 Mesin ketik manual
2 Kondisi Baik
standart
6 Mesin ketik elektronik 1 Kondisi Baik
7 Mesin antrian 2 Rusak
8 Lemari besi/ metal 1 Kondisi Baik
9 Rak besi/ metal 2 Kondisi Baik
10 Filling besi/ metal 1 Kondisi Baik
11 Brankas 1 Kondisi Baik
12 Lemari arsip 2 Kondisi Baik
13 Mesin absensi 1 Kondisi Baik
14 Laptop 12 Kondisi Baik
15 Papan bagan struktur 1 Kondisi Baik
16 Mesin laminating - -
17 Dustbin 4 Kondisi Baik
18 LCD Proyektor 2 Kondisi Baik
19 Meja periksa pasien 2 Kondisi Baik

47
20 Kursi rapat 55 Kondisi Baik
21 Bangku tunggu 20 Kondisi Baik
22 Sofa 1 Kondisi Baik
23 Lemari soud 1 Kondisi Baik
24 Bed Screen 1 Kondisi Baik
25 Almari 7 Kondisi Baik
26 Kursi staf 30 Kondisi Baik
27 Lemari kaca 1 Kondisi Baik
28 Kabinet besi 4 Kondisi Baik
29 Jas hujan 0 -
30 Mesin penghisap debu 1 Kondisi Baik
31 Mesin cuci 0 -
32 Kondisi Baik 3,
Lemari es 5
rusak 1
33 AC unit 11 Kondisi Baik
34 AC split 7 Kondisi Baik
35 Kipas angin 6 Kondisi Baik
36 Radio 1 Kondisi Baik
37 Kondisi Baik 2,
Televisi 5
rusak 3
38 Sound system 1 Kondisi Baik
39 Unit power supply 1 Kondisi Baik
40 Tustel 1 Kondisi Baik
41 Timbangan orang 4 Kondisi Baik
42 LCD 2 Kondisi Baik
43 Fire alarm 1 Kondisi Baik
44 Tabung pemadam 2 Kondisi Baik
45 Access Point 1 Kondisi Baik
46 PC unit 1 Kondisi Baik
47 Laptop 7 Kondisi Baik
48 Notebook 2 Kondisi Baik
49 CPU 6 Kondisi Baik
50 Printer 18 Kondisi Baik
51 Computer compatable 8 Kondisi Baik
52 Monitor 1 Kondisi Baik
53 Meja kerja pegawai
9 Kondisi Baik
non struktural
54 Kursi kerja pejabat
1 Kondisi Baik
eselon II
55 Kursi rapat ruangan
15 Kondisi Bai
rapat staf
56 Kursi tamu di ruangan
1 Kondisi Baik
ketua/ wakil ketua

48
DPRD
57 Lemari arsip untuk
2 Kondisi Baik
arsip dinamis
58 Buffet kaca 4 Kondisi Baik
59 Unintemuptible Power
2 Kondisi Baik
Supply
60 Slide Projector 1 Kondisi Baik
61 Megaphone 1 Kondisi Baik
62 Faxcimile 1 Kondisi Baik
63 Handphone 1 Kondisi Baik
64 Wireless amplifier 1 Kondisi Baik
65 Sterilisator 3 Kondisi Baik
66 Stetoscope 32 Kondisi Baik
67 Tensimeter 42 Kondisi Baik
68 Instrument table 1 Kondis Baik
69 Brankart 5 Kondisi Baik
70 Tempat tidur pasien
1 Kondisi Baik
(bed pasien)
71 Bed Fowler 2 Kondisi Baik
72 Dikembalikan
Pressure infusor 2
DKK
73 Alat peras infuse 1 Kondisi Baik
74 Tandu 1 Kondisi Baik
75 Gunting verband 1 Kondisi Baik
76 Nald vooder 1 Kondisi Baik
77 Scorsteen 1 Kondisi Baik
78 Tongue spatel 1 Kondisi Baik
79 Dental Chair 1 Kondisi Baik
80 Dental unit 5 Kondisi Baik
81 Scaler 1 Kondisi Baik
82 Poli gigi set 1 Kondisi Baik
83 Pengait IUD 1 Kondisi Baik
84 Cogel tang 1 Kondisi Baik
85 IUD remover forceps 1 Kondisi Baik
86 Implant kit 1 Kondisi Baik
87 Catarac set 1 Kondisi Baik
88 Blender obat 2 Kondisi Baik
89 Electro Cardiograph 1 Kondisi Baik
90 Vaginal specula small 1 Kondisi Baik
91 Gunting episiotomy 1 Kondisi Baik
92 Spirometer 1 Kondisi Baik
93 Nebulizer 1 Kondisi Baik
94 Regulator O2 2 Kondisi Baik

49
95 Alat asam urat 1 Kondisi baik
96 Manual resusisator 1 Kondisi Baik
97 Baby incubator 3 Kondisi Baik
98 Alat ukur tinggi badan 1 Kondisi Baik
99 Kursi roda 3 Kondisi Baik
100 Elektro stimulator 1 Kondisi Baik
101 Dragbar 1 Kondisi Baik
102 Lampu sorot 2 Kondisi Baik
103 Emergency kit 1 Kondisi Baik
104 Meja instrument 5 Kondisi Baik
105 Ultra sound therapy 1 Kondisi Baik
106 Compresor 3 Kondisi Baik
107 Mikroskop 2 Kondisi Baik
108 Beker glass 2 Kondisi Baik
109 Rak LED 1 Kondisi Baik
110 Freezer 1 Kondisi Baik
111 Hematology analyzer 1 Kondisi Baik
112 Micropipet fixed 20 ul 1 Kondisi Baik
113 Haematocrit reader 1 Kondisi Baik
114 Haemotocimeter 1 Kondisi Baik
115 HB meter 1 Kondisi Baik
116 Meja kerja 1 Kondisi Baik
117 Generator set (lab
1 Kondisi Baik
scale
118 Tensimeter scanner 4 Kondisi Baik
119 Tensimeter standing 2 Kondisi Baik

1. Prasarana
Tabel 2.3 Prasarana Puskesmas Pandanaran Kota Semarang

JUMLAH
NO. NAMA BANGUNAN KONDISI
RUANG

Puskesmas Pandanaran
sementara (Tri Lomba
Juang)
1 Loket 1 Kondisi Baik
2 KIA/ KB/ Gizi 1 Kondisi Baik
3 Laboratorium 1 Kondisi Baik
4 Gudang (Ruko 3 lantai di 1 Kondisi Baik

50
Barusari)
5 Kamar Mandi 3 Kondisi Baik
6 Ruang Tunggu 1 Kondisi Baik
Ruang periksa lansia/
7 1 Kondisi Baik
Umum/ MTBS
Ruang Obat dan gudang
8 1 Kondisi Baik
obat
Ruang Kepala Puskesmas/
9 Kasubag TU/ Fisiotherapi/ 1 Kondisi Baik
Kesling/ Promkes
10 Ruang BP Gigi 1 Kondisi Baik

b) Ruang Pengobatan UmumPuskesmas Pandanaran

b.1 Pola pengaturan ketenagaan Ruang Pengobatan Umum yaitu:

6 Dokter Umum, ruang pemeriksaan umum dan ruang pemeriksaan


lansia

5 Perawat untuk asisten dokter, pemeriksaan TTV awal,pengisian


simpus, dan administrasilain.

Untuk tenaga perawat yang memiliki keperluan penting pada hari


tertentu, maka perawat lain menghandle pekerjaan perawat lain
sehingga pelayanan menjadi kurang optimal.

51
Gambar 3.3 Denah Ruang Pengobatan Umum Puskesmas
Pandanaran

Fasilitas dan Sarana


Ruang Pengobatan Umum Puskesmas Pandanaran berlokasi di
gedung sementara Gor Tri Lomba, dan terdiri dari ruangan periksa
umum, ruang MTBS, dan ruang periksa lansia yang digabungkan
dengan ruang tindakan. Ruangan periksa terdiri dari 3 meja
pemeriksaan, dan 1 meja untuk mengukur TTV. Terdapat juga 6 buah
kursi pasien untuk pemeriksaan dengan dokter, sebuah AC dalam
ruang pemeriksaan umum, dan fasilitas cuci tangan dengan air
mengalir. Ruang tindakan terdapat 1 tempat tidur tindakan medis, 2
almari penyimpanan peralatan medis, 1 trolli non steril, tabung
oksigen, tempat sampah medis, alat ekg, 1 ember berisi larutan clorin,

52
lemari sterilisator. Antara ruang tindakan dan pemeriksaan lansia
dipisahkan oleh tirai.
Pada Ruang administrasi terdapat 1 meja pemeriksaan untuk
penatatan asuhan keperawatan, pemeriksaan TTV dan
penimbangan berat badan. Kemudian terdapat 2 meja dengan
komputer untuk pencatatan simpus, 1 meja untuk administrasi
lainnya.
a. Peralatan
Peralatan yang tersedia di ruang pemeriksaan umum
adalah peralatan pemeriksaan dasar meliputi stetoskop, tensi
digital, thermometer, timbangan berat badan & pengukur tinggi
badan, almari dan trolialat, lampusorot, dan sterilisator.
b. Tatalaksana Pelayanan
b.1. Tata Laksana Merujuk Pasien Ke Rumah Sakit Dari Ruang
PemeriksaanUmum
Setelah pemeriksaan dinyatakan dokter memerlukan
rujukan ke rumah sakit, maka pasien diantar ke UGD dulu
untuk mendapatkan penanganan awal, kemudian sesuai protap
rujukan pasien dariUGD

b.2 Tata Laksana Pemeriksaan Pasien di ruang Balai Pengobatan


Umum
Sebelum pemeriksaan pasien di ruang pemeriksaan umm,
petugas mengecek kelengkapan alat-alat penunjang pemeriksaan (
tensimeter, stetoskop, termometer ) dan dokumen pendukung, yang
kemudian ditulis dalam buku investaris poliumum.
Setelah selesai pemeriksaan pasien di ruang pemeriksan umum
petugas administrasi mengecek kembali kelengkapan alat-alat

53
penunjang pemeriksaan dan dokumen pendukung, kemudian dicatat
dalam buku investaris ruang pemeriksaan umum.

b.3 Tata Laksana PemberianResep


Pasien yang sudah di periksa oleh dokter maka diberikan resep
oleh dokter, dokter gigi, perawat atau bidan ( atas
sepengetahuandokter). Pasien yang memperoleh resep bisa langsung
mengambil di bagian farmasi.
Bagi pasien yang memerlukan tindakan, setelah mendapat obat
atau alkes dipersilahkan kembali ke tempat pemeriksaan untuk
mendapatkan tindakan yang diperlukan.

B. Tugas Jabatan Peserta Diklat


Adapun jabatan peserta diklat adalah sebagai perawat terampil
berdasarkan SKP Tahunan yang telah ditetapkan ada beberapa tugas
pokok dan fungsinya antara lain :
a) Melakukan pengkajian keperawatan dasarpada individu;
b) Mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehatpada individu dalam
rangka melakukanupaya promotif
c) Membuat media untuk peningkatan perilakuhidup bersih dan sehat
pada individu dalamrangka melakukan upaya promotif;
d) Memfasilitasi penggunaan alat-alatpengamanan atau pelindung
fisik padapasien untuk mencegah risiko cedera padaindividu dalam
rangka upaya preventif;
e) Memantau perkembangan pasien sesuai dengan kondisinya
(melakukan pemeriksaan fisik, mengamati keadaan pasien) dalam
rangka upaya preventif
f) Melakukan dokumentasi pelaksanaantindakan keperawatan
g) Menyusun rencana kegiatan individuperawat;
h) Melaksanakan kegiatan bantuan/partisipasikesehatan;
i) Melaksanakan tugas lapangan di bidangkesehatan

54
C. Role Mode

Gambar 3.4 Role Model dr. Antonia Sadniningtyas

Sosok yang saya jadikan teladan (role model) dalam bekerja


adalah ibu dr. Antonia Sadniningtyas. Beliau adalah sosok senior saya
yang sangat patut di contoh segala sikap dan perilakunya. Beliau selalu
menikmati segala pekerjaannya, selalu disiplin, tegas dan memiliki
wibawa yang banyak disegani banyak orang, baik rekan kerja dan
masyarakat. Dengan selalu mengedepankan Integritas, Kejujuran, Disiplin
serta Tanggung jawab yang tinggi, saat ini beliau mampu menduduki
jabatan sebagai Kepala Puskesmas Pandanaran Kota Semarang.

55
BAB IV
RENCANA KEGIATAN AKTUALISASI

A. Kegiatan yang Dilakukan dan Keterkaitan dengan


Substansi Mata Pelatihan
Rancangan aktualisasi merupakan dokumen atau produk
pembelajaran aktualisasi yang dihasilkan penulis dari Pelatihan
Dasar CPNS Golongan III. Dalam rancangan aktualisasi ini
terdiri atas tahapan:
1. Penyusunan perbaikan SOP Cuci Tangan dan
Pembuatan Poster 5 Moment Cuci Tangan
2. Koordinasi dengan Tim PPI dalam kegiatan
Sosialisasi SOP Cuci Tangan dan poster 5 momen
cuci tangan
3. Penataan handcsrub/ handrub di lokasi yang mudah
di jangkau oleh dokter, perawat, bidan saat
melakukan pemeriksaan di ruang Ruang
Pengobatan Umum Puskesmas Pandanaran
4. Pengecekan ketersedian Handscrub/ handrub di
Ruang Pengobatan Umum Puskesmas Pandanaran
5. Evaluasi kepatuhan cuci tangan di Ruang
Pengobatan Umum Puskesmas Pandanaran

56
l.4.1 Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi
No Kegiatan Tahap Kegiatan Output/Hasil Keterkaitan dengan Kontribusi Penguatan
Kegiatan Materi terhadap Visi Nilai-Nilai
Misi Organisasi Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
1. Penyusuna 1. Atur waktu -Jadwal sudah Saya berkonsultasi Penyusunan Dengan
n perbaikan pelaksanaan ditentukan dengan Pimpinan dan Tim perbaikan SOP inovasi
SOP Cuci untuk konsultasi PPI dalam penyusunan Cuci Tangan perbaikan
Tangan dengan Mentor -Pimpinan/ perbaikan SOP cuci berkontribusi SOP Cuci
dan Tim Mentor dan Tim tangan dengan sopan terhadap visi Tangan,
(Inovatif) Pencegahan Pencegahan serta didiskusikan dengan organisasi yaitu hal ini
Pengendalian Pengendalian musyawarah dan mufakat : menguatkan
Infeksi ( PPI ) Infeksi ( PPI ) ( Nasionalisme, Etika Menjadi Pusat nilai
setuju Publik ) Pelayanan organisasi
2. Konsultasi dan Kesehatan Inovatif dan
meminta - Penyusunan Materi SOP bisa di Masyarakat Pelayanan
persetujuan perbaikan SOP pertanggungjawabkan Yang Bermutu
Mentor Cuci Tangan ( Akuntabilitas, Etika Berkualitas
Publik ) Menuju
3. Konsultasi Masyarakat
dengan Tim PPI Pembuatan SOP kami Kecamatan
laksanakan sesuai dengan Semarang
4. Konsultasi anggaran yang ada ( Anti Selatan Sehat
dengan Tim Korupsi ) Yang Mandiri
Mutu Pelayanan Untuk Hidup
Puskesmas SOP dapat dilaksanankan Sehat”.
secara efektif dan efisien dan Misi
5. Konsultasi serta bermanfaat dalam organisasi yaitu
dengan Tim pelayanan kesehatan Meningkatkan

57
Perencanaan (Komitmen Mutu, pelayanan
Puskesmas Akuntabilitas ) kesehatan
yang
6. Penyusunan berkualitas.
perbaikan SOP Dan
Cuci Tangan Memberdayaka
n masyarakat
untuk memiliki
kemauan dan
kemampuan
untuk hidup
sehat
2. Pembuatan 1. Konsultasi -Pimpinan/ Saya berkonsultasi Pembuatan Dengan
Poster 5 dan meminta Mentor dan Tim dengan Pimpinan dan Tim Poster 5 Momen inovasi
Moment persetujuan Promkes setuju Promkes dalam Cuci Tangan pembuatan
Cuci Mentor pembuatan Poster 5 berkontribusi Poster 5
Tangan 2. Konsultasi - Pembuatan Moment Cuci Tangan terhadap visi Moment
dengan Tim Poster 5 Moment dengan sopan serta organisasi yaitu Cuci
( Inovatif ) Cuci Tangan didiskusikan dengan : Tangan, hal
Promkes (
musyawarah dan mufakat Menjadi Pusat ini
Promosi ( Nasionalisme, Etika Pelayanan menguatkan
Kesehatan ) Publik ) Kesehatan nilai
3. Pembuatan Masyarakat organisasi
Poster 5 Materi Poster 5 Moment Yang Inovatif dan
Moment Cuci Cuci Tangan dapat di Berkualitas Pelayanan
Tangan pertanggungjawabkan Menuju Bermutu
( Akuntabilitas, Etika Masyarakat
Publik ) Kecamatan
Semarang

58
Pembuatan SOP dan Selatan Sehat
Poster 5 moment cuci Yang Mandiri
tangan kami laksanakan Untuk Hidup
sesuai dengan anggaran Sehat”.
yang ada ( Anti Korupsi ) dan Misi
organisasi yaitu
Poster 5 Moment Cuci Meningkatkan
Tangan dapat pelayanan
dilaksanankan secara kesehatan
efektif dan efisien serta yang
bermanfaat dalam berkualitas.
pelayanan kesehatan Dan
(Komitmen Mutu, Memberdayaka
Akuntabilitas ) n masyarakat
untuk memiliki
kemauan dan
kemampuan
untuk hidup
sehat
3. Sosialisasi 1. Konsultasi Tersedianya Pembuatan undangan Sosialisasi SOP Dengan
SOP Cuci dan meminta wadah sosialisasi sesuai dengan cuci tangan mengadakan
Tangan persetujuan pertemuan dan anggaran yang ada ( Anti didampingi oleh sosialisasi
cuci tangan kepada solusi mengenai Korupsi ) TIM PPI SOP Cuci
didampingi Mentor. kepatuhan cuci Puskesmas Tangan di
oleh Tim 2. Koordinasi tangan di Ruang Pembuatan dan Pandanaran Puskesmas
PPI dengan Tim PPI Pengobatan pembagian undangan berkontribusi Pandanaran
(Tugas 3. Bersama Tim Umum secara jujur, adil serta terhadap visi untuk
dari PPI membuat Puskesmas bertanggung jawab ( organisasi yaitu membahas
Pimpinan) undangan Pandanaran Komitmen Mutu, Menjadi Pusat tentang

59
sosialisasi Kota Semarang Akuntabilitas ) Pelayanan belum
4. Menyediakan Kesehatan optimalnya
Sosialisasi daftar hadir Masyarakat kepatuhan
SOP Cuci untuk undangan Dalam penyampaian Yang cuci tangan
Tangan yang hadir. sosialisasi dilaksanakan Berkualitas petugas di
didampingi dengan ramah, penuh Menuju Ruang
oleh Tim tanggung jawab dari Masyarakat Pengobatan
PPI sumber referensi yang Kecamatan Umum
(Tugas bias Semarang Puskesmas
dari dipertanggungjawabkan Selatan Sehat Pandanaran,
Pimpinan) dan pelaksanaan secara Yang Mandiri hal ini
efektif dan efisien Untuk Hidup menguatkan
( Etika Publik, Sehat dan nilai
Akuntabilitas, Anti terhadap misi organisasi
Korupsi) organisasi yaitu santun,
Meningkatkan infovatif,
Penataan pelayanan profesional,
handcsrub/ kesehatan dan
handrub di yang pelayanan
lokasi yang berkualitas. bermutu
mudah di dan
jangkau Memberdayaka
oleh dokter, n masyarakat
perawat, untuk memiliki
bidan saat kemauan dan
melakukan kemampuan
pemeriksaa untuk hidup
n di ruang sehat
Ruang

60
Pengobata
n Umum
Puskesmas
Pandanara
n

(Inovatif)

Persetujuan Saya berkoordinasi Penataan dan Dengan


4. Penataan 1. Konsultasi penataan dengan Tim PPI untuk pengecekan inovasi
dan dan meminta handscrub/ melakukan pemetaan ketersediaan penataan
pengeceka persetujuan handrub di lokasi letak handscrub/handrub handscrub/hand dan
n Mentor. yang mudah di lokasi yang mudah srub di lokasi pengecekan
ketersediaa 2. Koordinasi dijangkau oleh terjangkau oleh petugas yang mudah di handscrub/h
n dengan Tim petugas di ruang adil, merata tanpa jangkau oleh andsrub di
handscrub/ PPI Ruang terkecuali dokter, perawat, lokasi yang
handrub di 3. Bekerjasama Pengobatan (AKUNTABILITAS) bidan mudah di
ruang dengan TIM Umum (KOMITMEN MUTU) berkontribusi jangkau oleh
pengobatan PPI untuk Puskesmas terhadap visi dokter,
umum penataan dan Pandanaran Saya berkoordinasi dan Organisasi perawat,
Puskesmas pengececeka bekerjasama dengan Tim yaitu, Menjadi bidan hal ini
Pandanara n PPI untuk pengecekan Pusat menguatkan
n ketersediaan Menjamin ketersediaan handrub Pelayanan nilai
handrub dan ketersediaan secara berkala dan Kesehatan organisasi,
mengisi ulang handscrub/ sehingga tercapainya Masyarakat Santun,
setiap pagi handrub jika pelayanan yang efektif Yang Inovatif,
sebelum dibutuhkan untuk dan efisien Berkualitas Profesional,
mulai mencuci tangan (Akuntabilitas, Menuju dan

61
pelayanan Nasionalisme, Masyarakat Pelayanan
Komitmen Mutu, Etika Kecamatan Bermutu.
Publik ) Semarang
Selatan Sehat
Yang Mandiri
Untuk Hidup
Sehat dan misi
organisasi yaitu
Meningkatkan
pelayanan
kesehatan
yang
berkualitas.
dan
Memberdayaka
n masyarakat
untuk memiliki
kemauan dan
kemampuan
untuk hidup
sehat

5. Evaluasi 1. Konsultasi dan Penilaian tingkat Bersama dengan Tim PPI Dengan Dengan
kepatuhan meminta kepatuhan cuci saya melakukan evaluasi mengevaluasi mengevalua
cuci tangan persetujuan tangan pada dan penilaian kepatuhan kepatuhan cuci si dan

62
di Ruang Mentor petugas di cuci tangan di Ruang tangan di Ruang menilai
Pengobata 2. Menilai dan Ruang Pengobatan Umum Pengobatan Ruang
n Umum mengevaluasi Pengobatan Puskesmas Pandanaran Umum Pengobatan
Puskesmas kepatuhan cuci Umum dengan jujur, adil Puskesmas Umum
Pandanara tangan di Ruang Puskesmas menyeluruh dan Pandanaran Puskesmas
n Pengobatan Pandanaran bertanggung jawab guna berkontribusi Pandanaran
(Tugas Umum tercapainya pelayanan terhadap visi hal ini
dari Puskesmas public yang efektif dan Organisasi menguatkan
Pemimpin) Pandanaran efisien yaitu, Menjadi nilai
3. Mendokumenta (Akuntabilitas, Pusat organisasi
sikan hasil Komitmen Mutu, Etika Pelayanan santun,
evaluasi Publik, Anti Korupsi ) Kesehatan inovatif,
Masyarakat profesional,
Lalu mendokumentasikan Yang dan
hasil evaluasi sehingga Berkualitas pelayanan
dapat dipertanggung- Menuju bermutu
jawabkan kebenarannya. Masyarakat
(AKUNTABILITAS). Kecamatan
Semarang
Selatan Sehat
Yang Mandiri
Untuk Hidup
Sehat danmisi
organisasi yaitu
Meningkatkan
pelayanan
kesehatan
yang
berkualitas.

63
dan
Memberdayaka
n masyarakat
untuk memiliki
kemauan dan
kemampuan
untuk hidup
sehat

64
C. Jadwal Rencana Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi
Rancangan aktualisasi yang akan dilakukan disajikan dalam bentuk
timeline sebagai mekanisme kontrol.
Rencana Jadwal Kegiatan Gagasan Pemecahan Isu :
Tabel 4.2. Timeline Pelaksanaan Kegiatan Aktualisasi

Mei Jun
No Kegiatan i Bukti Kegiatan
II III IV I
1. Penyusunan Hasil perbaikan SOP
perbaikan SOP Cuci
Tangan

2. Pembuatan Poster 5 Poster 5 Moment Cuci Tangan


Moment Cuci
Tangan
3. Sosialisasi SOP Dokumentasi hasil sosialisasi
Cuci Tangan
didampingi oleh Tim
PPI
4. Penataan dan Dokumentasi hasil penataan
pengecekan handscrub/ handrub dan
ketersedian pengecekan ketersediaan handrub
Handscrub/ handrub
5. Evaluasi kepatuhan Dokumentasi hasil evaluasi
cuci tangan

65
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan yang
berhubungan langsung dengan pasien harus mengutamakan
pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, anti diskriminasi dan
efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan
standar pelayanan fasilitas kesehatan, yang diwujudkan salah
satunya dengan pelaksaan praktik cuci tangan (Hand Hygiene) sesuai
standar WHO.WHO mencetuskan “global patient safety challenge
dengan clean care is safe care, yaitu merumuskan inovasi strategi
penerapan hand hygiene untuk petugas kesehatan dengan My Five
Moments for Hand Hygiene yaitu :
1. Melakukan cuci tangan sebelum bersentuhan dengan pasien
2. Sebelum melakukan prosedur bersih dan steril
3. Setelah bersentuhan dengan cairan tubuh pasien
4. Setelah bersentuhan dengan pasien
5. Setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien

B. Pentingnya Rancangan Aktualisasi


Kegiatan yang di usulkan dikaitkan dengan substansi mata
pelatihan Manajemen ASN, WoG dan Pelayanan Publik dan nilai-nilai
dasar PNS ( ANEKA ) yang mendasari kegiatan relevan baik secara
langsung maupun tidak langsungsehingga nilai-nilai ANEKA dapat
teraktualisasi dan terhabituasi pada setiap kegiatan yang dilakukan
yaitu :

66
1. Penyusunan perbaikan SOP Cuci Tangan dan Pembuatan Poster 5
Moment Cuci Tangan
2. Sosialisasi SOP Cuci Tangan dan Poster 5 Moment Cuci Tangan
3. Penataan handscrub/handrub di lokasi yang mudah terjangkau
oleh petugas di Balai Pengobatan umum Puskesmas Pandanaran
Kota Semarang
4. Pengecekan ketersedian handscrub/ handrub di Ruang
Pengobatan Umum Puskesmas Pandanaran Kota Semarang
5. Evaluasi kepatuhan cuci tangan di Ruang Pengobatan Umum
Puskesmas Pandanaran Kota Semarang

C. Dampak Apabila Tidak Dilaksanakan


Dampak apabila SOP cuci tangan tidak di aplikasikan pada
pelayanan di Balai Pengobatan Umum Puskesmas Pandanaran Kota
Semarang, maka akan menyebabkan :
1. Tingginya transmisi infeksi, baik pasien maupun petugas
kesehatan
2. Peningkatan patient safety masyarakat Kota Semarang dan
sekitarnya
3. Tidak tercapainya pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,
anti diskriminasi dan efektif dengan mengutamakan kepentingan
pasien sesuai dengan standar pelayanan fasilitas kesehatan

67
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur


Sipil Negara 2014.
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi
Pegawai Negeri Sipil. Modul Penyelenggaraan Perdana Pendidikan
dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan II.
Jakarta; Lembaga Administrasi Negara
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Akuntabilitas. Modul Pendidikan dan
PelatihanPrajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Nasionalisme. Modul Pendidikan dan
PelatihanPrajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Etika Publik. Modul Pendidikan dan
PelatihanPrajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Komitmen Mutu. Modul Pendidikan
dan PelatihanPrajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara
Lembaga Administrasi Negara. 2015. Anti Korupsi. Modul Pendidikan dan
PelatihanPrajabatan Golongan II. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara
Lembaga Administrasi Negara. 2017. Pelayanan Publik. Modul Pelatihan
Dasar Calon PNS. Jakarta; Lembaga Administrasi Negara
Lembaga Administrasi Negara. 2017. Manajemen Aparatur Sipil Negara.
Modul Pelatihan Dasar Calon PNS. Jakarta; Lembaga Administrasi
Negara
Lembaga Administrasi Negara. 2017. Whole of Government. Modul
Pelatihan Dasar Calon PNS. Jakarta; Lembaga Administrasi Negar

68