Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACUAN BERMAIN PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH

DI RUANG ANAK ANGGREK RS NGUDI WALUYO WLINGI

Untuk memenuhi tugas kelompok


Stase Keperawatan Anak

Oleh
Elya Asasal Mahfudhoh 1601300080
Lavi Nur Isnaini 1601300086
Tri Yulianna 1601300087

KEMENTERIAN KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN BLITAR
PROGRAM D-III KEPERAWATAN BLITAR
April 2018
TERAPI AKTIVITAS BERMAIN ANAK USIA PRA SEKOLAH

A. Pengertian Bermain
Bermain merupakan cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan
sosial dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain,
anak-anak akan berkata-kata (berkomunikasi), belajar menyesuaikan diri dengan
lingkungan, melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan mengenal waktu, jarak serta
suara (Wong, 2000).
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa
mempergunakan alat yang menghasilkan atau memberikan informasi, memberi
kesenangan maupun mengembangkan imajinasi anak (Anggani Sudono, 2000).
B. Fungsi Bermain
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensoris-motorik,
perkembangan intelektual, perkembangan sosial, perkembangan kreativitas,
perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral dan bermain sebagai terapi.
 Perkembangan Sensoris – Motorik: Pada saat melakukan permainan, aktivitas
sensoris-motorik merupakan komponen terbesar yang digunakan anak dan bermain
aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi otot. Misalnya, alat permainan
yang digunakan untuk pra sekolah yang banyak membantu perkembangan aktivitas
motorik baik kasar maupun halus.
 Perkembangan Intelektual: Pada saat bermain, anak melakukan eksplorasi dan
manipulasi terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama
mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur dan membedakan objek. Pada saat bermain
pula anak akan melatih diri untuk memecahkan masalah. Semakin sering anak
melakukan eksplorasi seperti ini maka akan semakin terlatih kemampuan
intelektualnya.
 Perkembangan Sosial: Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan
berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar
memberi dan menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan sosial dan belajar memecahkan masalah dari hubungan
tersebut. Pada saat melakukan aktivitas bermain, anak belajar berinteraksi dengan
teman, memahami bahasa lawan bicara, dan belajar tentang nilai sosial yang ada
pada kelompoknya.
 Perkembangan Kreativitas: Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan
sesuatu dan mewujudkannya kedalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang
dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar dan mencoba untuk
merealisasikan ide-idenya. Misalnya, dengan membongkar dan memasang satu alat
permainan akan merangsang kreativitasnya untuk semakin berkembang.
 Perkembangan Kesadaran Diri: Melalui bermain, anak mengembangkan
kemampuannya dalam mengatur mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar
mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain dan menguji
kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah
lakunya terhadap orang lain. Misalnya, jika anak mengambil mainan temannya
sehingga temannya menangis, anak akan belajar mengembangkan diri bahwa
perilakunya menyakiti teman. Dalam hal ini penting peran orang tua untuk
menanamkan nilai moral dan etika, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan
untuk memahami dampak positif dan negatif dari perilakunya terhadap orang lain
 Perkembangan Moral: Anak mempelajari nilai benar dan salah dari lingkungannya,
terutama dari orang tua dan guru. Dengan melakukan aktivitas bermain, anak akan
mendapatkan kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat
diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan
kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak juga akan
belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan mana yang
salah, serta belajar bertanggung-jawab atas segala tindakan yang telah
dilakukannya. Misalnya, merebut mainan teman merupakan perbuatan yang tidak
baik dan membereskan alat permainan sesudah bermain adalah membelajarkan anak
untuk bertanggung-jawab terhadap tindakan serta barang yang dimilikinya. Sesuai
dengan kemampuan kognitifnya, bagi anak usia pra sekolah, permainan adalah
media yang efektif untuk mengembangkan nilai moral dibandingkan dengan
memberikan nasihat. Oleh karena itu, penting peran orang tua untuk mengawasi
anak saat anak melakukan aktivitas bermain dan mengajarkan nilai moral, seperti
baik/buruk atau benar/salah.
 Bermain Sebagai Terapi: Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami
berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas,
sedih, dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang
dialami anak karena menghadapi beberapa stressor yang ada dilingkungan rumah
sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari ketegangan
dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permainan anak akan depat
mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan relaksasi melalui
kesenangannya melakukan permainan. Dengan demikian, permainan adalah media
komunikasi antar anak dengan orang lain, termasuk dengan perawat atau petugas
kesehatan dirumah sakit. Perawat dapat mengkaji perasaan dan pikiran anak melalui
ekspresi nonverbal yang ditunjukkan selama melakukan permainan atau melalui
interaksi yang ditunjukkan anak dengan orang tua dan teman kelompok bermainnya.

C. Hal-hal yang Harus Diperhatikan


 Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
 Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
 Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
 Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
 Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

D. Bentuk-bentuk Permainan Usia Pra Sekolah (3-5 Tahun)


Tujuannya adalah:
 Menyalurkan emosi atau perasaan anak.
 Mengembangkan keterampilan berbahasa.
 Melatih motorik halus dan kasar.
 Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan
membedakan warna).
 Melatih kerjasama mata dan tangan.
 Melatih daya imajinansi.
 Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.
Alat permainan yang dianjurkan :
 Alat-alat untuk menggambar dan mewarnai.
 Lilin yang dapat dibentuk
 Puzzel sederhana.
 Manik-manik ukuran besar.
 Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.
 Bola.
Terapi Aktivitas Bermain

Pokok Bahasan : Terapi Bermain Pada Anak Di Rumah Sakit


Sub Pokok Bahasan : Terapi Barmain Anak Usia Pra Sekolah (3-5 tahun)
Tujuan : Mengoptimalkan Tingkat Perkembangan Anak
Tanggal / Jam : Hari / Tanggal : Sabtu / 7 April 2018
Jam / Durasi : Pkl. 10.00 sd selesai
Tempat Bermain : Ruang bermain
Peserta : Pasien di Ruang anak Anggrek RS Ngudi Waluyo Wlingi
Sarana dan Media
 Sarana: Ruangan tempat bermain
 Media: Gambar yang belum disusun
Alat dan Permainan yang Digunakan :
 Kertas bergambar
 Pensil warna / krayon warna
 Puzzle
Pengorganisasian
Jumlah leader 1 orang, co leader 1 orang, fasilitator 1 orang dan 1 orang observer dengan
susunan sebagai berikut:
Leader : Elya Asasal Mahfudoh
Observer : Lavi Nur Isnaini
Fasilitator : Tri Yulianna

Pembagian Tugas:
Peran Leader
 Mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan menciptakan situasi dan suasana
yang memungkinkan klien termotivasi untuk mengekspresikan perasaannya
 Sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau mendominasi
 Mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian tujuan dengan cara memberi motivasi
kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan
Peran Observer
 Mengamati keamanan jalannya kegiatan play therapy
 Memperhatikan tingkah laku peserta selama kegiatan
 Memperhatikan ketepatan waktu jalannya kegiatan play therapy
 Menilai performa dari setiap tim terapis dalam memberikan terapi
Peran Fasilitator
 Mempertahankan kehadiran peserta
 Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta
 Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar maupun dari
dalam kelompok
Susunan Kegiatan

No Waktu Terapy Anak Ket


1 5 menit Pembukaan :
Co-Leader membuka dan mengucapkan Menjawab salam
salam
2. Memperkenalkan diri Mendengarkan
5. Kontrak waktu dengan anak Mendengarkan
6. Mempersilahkan Leader Mendengarkan
2 20 Kegiatan bermain :
menit 1. Leader menjelaskan cara permainan Mendengarkan
2. Menanyakan pada anak, apakah mau Menjawab pertanyaan
bermain atau tidak
3. Menbagikan permainan Menerima permainan
4. Leader, co-leader, dan Fasilitator Bermain
memotivasi anak
5. Fasilitator mengobservasi anak dan Mengungkapkan
menanyakan perasaan anak perasaan
3 5 menit Penutup :
1. Leader Menghentikan permainan Selesai bermain
2. Menanyakan perasaan anak Mengungkapkan
perasaan
3. Menyampaikan hasil permainan Mendengarkan
4. Memberikan hadiah pada anak yang Senang
cepat menyelesaikan gambarnya dan
bagus
5. Membagikan souvenir/kenang- Senang
kenangan pada semua anak yang
bermain Mengungkapkan
6. Menanyakan perasaan anak perasaan
Mendengarkan
7. Co-leader menutup acara Menjawab salam
8. Mengucapkan salam

Evaluasi
Evaluasi struktur yang diharapkan
 Alat-alat yang digunakan lengkap
 Kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana

Evaluasi proses yang diharapkan


 Terapi dapat berjalan dengan lancar
 Anak dapat mengikuti terapi bermain dengan baik
 Tidak adanya hambatan saat melakukan terapi
 Semua anggota kelompok dapat bekerja sama dan bekerja sesuai tugasnya

Evaluasi hasil yang diharapkan


 Anak dapat mengembangkan motorik halus dengan menghasilkan satu gambar yang
diwarnai, kemudian digantung
 Anak dapat mengikuti kegiatan dengan baik
 Anak merasa senang
 Anak tidak takut lagi dengan perawat
 Orang tua dapat mendampingi kegiatan anak sampai selesai
 Orang tua mengungkapkan manfaat yang dirasakan dengan aktifitas bermain
PENUTUP

Kesimpulan
Bermain merupakan aspek penting dalam kehidupan anak yang mencerminkan
kemampuan fisik, intelektual, emosional, dan social anak tersebut, Salah satunya adalah
puzzrl. Menurut Patmonodewo (Misbach, Muzamil, 2010) kata puzzle berasal dari bahasa
Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang, media puzzle merupakan media
sederhana yang dimainkan dengan bongkar pasang.
Berdasarkan pengertian tentang media puzzle, maka dapat disimpulkan bahwa
media puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan
matematika anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle
berdasarkan pasangannya.

Saran
 Orang tua
Sebaiknya orang tua lebih selektif dalam memilih permainan bagi anak agar anak
dapat tumbuh dengan optimal. Pemilihan permainan yang tepat dapat menjadi poin penting
dari stimulus yang akan didapat dari permainan tersebut. Faktor keamanan dari permainan
yang dipilih juga harus tetap diperhatikan.
 Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan dapat tetap membantu anak untuk mengurangi dampak
hospitalisasi dengan terapi bermain yang sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak.
Karena dengan terapi bermain yang tepat, maka anak dapat terus melanjutkan tumbuh
kembang anak walaupun dirumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Rizal. 2013. Terapi Bermain Mewarnai. (online),


(http://belajarbarengrizalyuk.blogspot.com/2013/10/terapi-bermain-mewarnai.html, diakses
tanggal 4 April 2018).
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Supartini, Y. (2004). Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.