Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH TENTANG DEMAM BERDARAH

(DBD)
Mata Kuliah Epidemiologi

Disusun Oleh :

1. Ganesha (B120161002)
2. Arnollius Y.K (B120161011)

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS KRISTEN SURAKARTA
2018

BAB I
1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Demam berdarah merupakan penyakit yang digolongkan sebagai kejadian luar biasa
(KLB). Demam berdarah merupakan penyakit disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan
melalui nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus.

Penyakit demam berdarah perlu mendapat perhatian yang khusus karena kenyataan di
Indonesia bahwa penyakit ini memiliki prevalensi yang cukup tinggi. Selain itu juga berpeluang
untuk menyebabkan kematian. Indonesia pernah mengalami kasus terbesar (53%) DBD pada
tahun 2005 di Asia Tenggara yaitu 95.270 kasus dan kematian 1.298 orang (CFR = 1,36 %)
(WHO, 2006). Jumlah kasus tersebut meningkat menjadi 17% dan kematian 36% dibanding
tahun 2004. Pada akhir tahun 2004 penyakit demam berdarah telah mencapai 26.015 kasus.
Dengan jumlah kematian 389 orang, kasus tertinggi di DKI Jakarta yaitu 11.534 orang. Dan
CFR tertinggi di NusaTenggara Timur yaitu 3,96%.
Telah banyak berbagai upaya pencegahan dan penanganan yang telah dilakukan baik
individu, kelompok masyarakat, maupun dari pelayanan kesehatan. Upaya tersebut adalah
gerakan 3M dalam masyarakat, fogging, gerakan dasa wisma yang semuanya tergolong sebagai
pencegahan primer. Selain itu juga tim kesehatan telah melakukan pencegahan primer. Akan
tetapi kenyataannya kasus demam berdarah kembali terulang dan menimbulkan masalah yang
seakan tidak kunjung usai. Permasalahan ini muncul akibat kurangya pengetahuan masyarakat
terhaddap permasalahan demam berdarah. Sebagian masyarakat masih kurang paham mengenai
pertolongan terhadap penderita demam berdarah, terkadang mereka menganggap demam yang
terjadi pada anggota keluarganya. Sering kali penderita demam berdarah dating ke pelayanan
kesehatan dalam keadaan yang telah buruk, dengan kata lain keluarga terlambat membawa
pasien ke pusat pelayanan kesehatan.
Melihat kenyataan tersebut, penulis menyusun makalah dengan judul “ Demam
Berdarah” dengan harapan mampu menambah pengetahuan pada masyarakat mengenai penyakit
demam berdarah agar tumbuh kesadaran untuk mencegah demam berdarah atau jika memang
salah satu anggota keluarga ada gejala yang menunjukan bahwa ia terkena demam berdarah,
masyarakat memiliki kesadaran untuk segera membawa ke pusat pelayanan kesehatan. Sehingga
mampu mengurangi angkakematian yang ditimbulkan oleh demam berdarah. Selain itu juga
2
makalah ini diharapkan akan member pengetahuan kepada tenaga medis khususnya perawat
mengenai virus penyebab penyakit itu sendiri, gejala, pencegahan, dan asuhan keperawatan yang
harus diberikan terhadap penderita demam berdarah.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah makalah dengan judul “Demam Berdarah” Adalah:
1. Apa penyebab demam berdarah?
2. Apa gejala penyakit demam berdarah?
3. Apa saja pemeriksaan laboratorium pada penyakit demam berdarah?
4. Bagaimana pencegahan terhadap penyakit demam berdarah?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Virus Penyebab Demam Berdarah

3
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit yang penderitanya mengalami demam tinggi
akibat infeksi virus nyamuk Aedes aegypti (senang bersarang di dalam rumah) maupun Aedes
albopictus (nyamuk kebun). Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang
ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula
Dengue Haemoragic Fever ( DHF ).
1. Gambaran Virus dan Daur Hidup Virus
Demam berdarah (DB) termasuk ke dalam golongan penyakit berbasis lingkungan yang
dapat dipicu oleh perubahan cuaca yang ada di sekitar. Perubahan cuaca yang ekstrem, seperti
akibat dari pemanasan global dapat menyebabkan kepadatan vektor DB, seperti nyamuk Aedes
aegipty dan A. albopictus meningkat. Ketidak pedulian masyarakat pada lingkungan sekitar
makin memicu nyamuk tersebut berkembang biak pada air jernih, sejuk dan gelap. Pola cuaca
yang ada di Asia Tenggara juga sangat terkait dengan munculnya penyakit DB. Tingkat
penyebaran penyakit ini terjadi pada peralihan musim dengan curah hujan yang tinggi. Dengan
adanya kondisi tersebut menjadi semakin berat karena virus mudah bermutasi untuk tetap
bertahan hidup. Tipe virus baru muncul dari perubahan genetik secara evolutif akibat tekanan
terhadap habitat virus (vektornya).

Evolusi virus dengue kira - kira terjadi selama sekitar 200 tahun terakhir, termasuk juga
yang dipicu melalui induksi zat kimia. Varian - varian virus dengue menunjukkan pada gejala -
gejala yang berbeda jika menjangkit manusia. Kini diketahui terdapat 4 tipe virus dengue (1, 2, 3
dan 4) yag berkembang menjadi ratusan strain (tipe). Masing - masing strain menimbulkan reaksi
antigen dan antibodi yang sangat berbeda. Tidak ada manifestasi klinis yang khas pada setiap
tipe. Ada yang hanya menimbulkan gejala demam sehingga pasien sehingga menganggapnya
sebagai flue biasa. Ada juga yang berdampak perdarahan pada manusia yang dikenal sebagai
DBD. Infeksi virus yang menimbulkan manifestasi klinis yang berat di Indonesia adalah tipe 3.

Nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus tersebut, setelah sebelumnya menggigit penderita
demam berdarah. Secara lengkap siklus perjalanan virus berlangsung dalam tubuh manusia dan
nyamuk itu sendiri. Di dalam tubuh manusia berawal dari masuknya virus ke tubuh manusia
melalui liur nyamuk. Virus ini kemudian berkembang dalam tubuh, misalnya di kelenjar getah
bening dan hati. Selanjutnya virus menyebar melalui aliran darah untuk menginfeksi sel darah
putih dan jaringan getah bening lainnya. Dalam tubuh nyamuk itu sendiri, virus berkembang biak

4
dalam usus, indung telur, jaringan saraf dan lemak tubuh nyamuk. Selanjutnya virus berkembang
biak dalam kelenjar liur, dan jika nyamuk menggigit manusia maka siklus transmisi akan
berlanjut. Virus itu berasal dari nyamuk yang menelan darah penderita.

Penyakit DBD ditulaskan oleh vektor sejenis nyamuk yang disebut Aedes aegypti atau
Aedes albopictus (gambar 1) Nyamuk ini banyak terdapat di Indonesia, keluar dan mencari
makan pada siang hari dan berkembang biak pada tempat yang menampung air bersih.

Gambar 1: Nyamuk Aedes aegypti

2. Patofisologi
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala
karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi
ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system
retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada
DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan
DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin,
histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan
intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi,
hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan.

5
3. Klasifikasi Demam Berdarah Dengue (DBD)
 Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji
tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
 Derajat II :
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie,
ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
 Derajat III :
Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>120x/mnt)
tekanan nadi sempit (120 mmHg), tekanan darah menurun, (120/80, 120/100, 120/110,
90/70, 80/70, 80/0, 0/0 ) Derajat IV Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teratur
( denyut jantung 140x/mnt ) anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan kulit tampak
biru.

6
B. Tanda dan Gejala Manifestasi klinis
Gambaran klinis amat bervariasi dari yang ringan, sedang seperti DD sampai ke DBD dengan
manifestasi demam akut, serta kecenderungan terjadi renjatan yang dapat berakibat fatal. Masa
inkubasi dengue antara 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Pada DD terdapat peningkatan suhu secara
tiba-tiba, disertai sakit kepala, nyeri yang hebat pada otot dan tulang, mual, kadang muntah dan
batuk ringan.

7
Sakit kepala dapat menyeluruh atau berpusat pada supraorbital dan retroorbital. Nyeri di
bagian otot terutama dirasakan bila tendon dan otot perut ditekan. Pada mata dapat ditemukan
pembengkakan, injeksi konjungtiva, lakrimasi, dan fotofobia. Otot-otot sekitar mata terasa pegal.
Eksatem dapat muncul pada awal demam yang terlihat jelas di muka dan dada berlangsung
beberapa jam lalu akan muncul kembali pada hari ke-3-6 berupa bercak petekie di lengan dan
kaki lalu ke seluruh tubuh. Pada saat suhu turun ke normal, ruam berkurang dan cep-at
menghilang, bekas-bekasnya kadang terasa gatal. Pada sebagian pasien dapat ditemukan kurva
suhu yang bifasik. Dalam pemeriksaan fisik pasien DD hampir tidak ditemukan kelaianan. Nadi
pasien mula-mula cepat kemudian menjadi normal atau lebih lambat pada hari ke-4 dan ke-5.
Bradikardi dapat menetap beberapa hari dalam masa penyembuhan. Dapat ditemukan lidah kotor
dan kesulitan buang air besar. Pada pasien DBD dapat terjadi gejala perdarahan pada hari ke-3
atau hari ke-5 berupa petekie, purpura, ekimosis, hematemesis, melena, dan epistaksis. Hati
umumnya membesar dan terdapat nyeri tekan yang tidak sesuai dengan beratnya penyakit. Pada
pasien DSS, gejala renjatan ditandai dengan kulit yang terasa lembab dan dingin, sianosis perifer
yang terutama tampak pada ujung hidung, jari-jari tangan dan kaki, serta dijumpai penurunan
tekanan darah. Renjatan biasanya terjadi pada waktu demam atau saat demam turun antara hari
ke-3 dan hari ke-7 penyakit.
Diagnosis
Kriteria klinis DD adalah :
1. Suhu badan yang tiba-tiba meninggi
2. Demam yang berlangsung hanya beberapa hari
3. Kurva demam yang menyerupai pelana kuda
4. Nyeri tekan terutama di oto-otot dan persendian
5. Adanya ruam-ruam pada kulit
6. Leucopenia
Kriteria klinis DBD menurut WHO 1986, adalah :
1. Demam akut, yang tetap- tinggi selama 2-7 hari, kemudian turun secara lisis. Demam disertai
gejala tidak spesifik, seperti anoreksia, malaise, nyeri pada punggung, tulang, persendian, dan
kepala.
2. Manifestasi perdarahan, seperti uji turniket positif, petekie, purpura, ekimosis, epistaksis,
perdarahan gusi, hematemesis, dan melena.
3. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus.
4. Dengan atau tanpa renjatan. Renjatan yang terjadi saat demam biasanya mempunyai prognosis
yang buruk.
8
5. Kenaikan nilai Ht/hemokonsentrasi yaitu sedikitnya 20%.
Derajat beratnya DBD secara klinis dibagi sebagai berikut :
1. Derajat I (ringan), terdapat demam selama 2-7 hari disertai gejala klinis lain dengan
manifestasi perdarahan teringan, yaitu uji turniket positif.
2. Derajat II (sedang), ditemukan pula perdarahan kulit dan dan manifestasi perdarahan lain.
3. Derajat III, ditemukan tanda-tanda dini renjatan.
4. Derajat IV, terdapat DSS dengan nadi dan tekanan darah yang tak terukur.

C. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang penting ialah hemokonsentrasi ( Nilai Hematokrit ) dan
trombositopeni ( jumlah trombosit menurun). Hemokonsentrasi sesuai dengan patokan WHO
baru dapat dinilai setelah penderita sembuh. Penderita DBD yang sepenuhnya memenuhi kriteria
klinis WHO yaitu trombosit <100.000/uL dan hemokonsentrasi hanya berjumlah 20%.
Bila patokan hemokonsentrasi dan trombositopeni menurut kriteria WHO dipakai secara
murni maka banyak penderita DBD yang tidak terjaring dan luput dari pengawasan. Dalam
kenyataan di klinik tidak mungkin mengukur kenaikan hemokonsentrasi pada saat penderita
pertama kali datang sehingga nilai hematokritlah yang dapat dipakai sebagai pegangan.
Penelitian pada penderita DBD berkesimpulan nilai hematokrit <40% dapat dipakai sebagai
petunjuk adanya hemokonsentrasi dan selanjutnya diperhatikan kenaikannya selama
pengawasan. Pemeriksaan demam berdarah secara umum dilakukan dengan pemeriksaan sebagai
berikut:
1. Radiologi
Pencitraan dengan foto paru dapat menunjukan adanya efusi pleura dan pengalaman
menunjukkan bahwa posisi lateral dekubitus kanan lebih baik dalam mendeteksi cairan
dibandingkan dengan posisi berdiri apalagi berbaring.
2. Ultrasonografis
Pencitraan USG pada anak lebih disukai dengan pertimbangan dan yang penting tidak
menggunakan sistim pengion (sinar X) dan dapat diperiksa sekaligus berbagai organ dalam perut.
Adanya ascites dan cairan pleura pada pemeriksaan USG sangat membantu dalam
penatalaksanaan DBD. Pemeriksaan USG dapat pula dipakai sebagai alat diagnostik bantu untuk
meramalkan kemungkinan penyakit yang lebih berat misalnya dengan melihat penebalan dinding
kandung empedu dan penebalan pankreas .
3. Serologik
9
Dasar pemeriksaan serologis adalah membandingkan titer antibody pada masa akut dan
masa konvalesen. Pemeriksaan dapat berupa Neutralizing test, complement fixation test atau
hemagglutination inhibition test. Bergantung pada kebutuhannya. Pemeriksaan serologis dapat
membantu menegakkan diagnosis klinis. Untuk pemeriksaan serologis ini dibutuhkan 2 contoh
darah pada masa konvalesen yang diambil 1-4 minggu setelah perjalanan penyakit. Dalam
praktek sukar sekali mendapatkan contoh darah kedua karena biasanya penderita setelah sembuh
tidak bersedia diambil darahnya. Maksud diambil contoh darah yang kedua ialah selain untuk
menjaga kemungkinan tidak didapatkan contoh darah ketiga juga untuk mempercepat hasil akan
sudah cukup nyata sehingga dapat diinterpretasi. Apabila hanya diperoleh satu contoh darah,
penafsiran akan sulit atau bahkan sering tidak mungkin dilakukan.
Diagnosis pasti DBD ditegakkan dengan pemeriksaan serologis (tes hemaglutinasi
inhibisi, fiksasi komplemen, tes netralisasi, Elisa IgM dan IgG, PCR) serta isolasi virus.
Tes baku yang dianjurkan WHO ialah tes hemaglutinasi inhibisi (HI). Untuk konfirmasi
dilakukan pemeriksaan hemaglutinasi inhibisi (HI) dari sampel darah akut saat masuk dirawat,
sampel darah saat keluar, rumah sakit dan penderita diminta untuk kontrol kembali setelah 1
minggu pulang sekalian diambil sampel darah ketiga. Dari pengalaman hanya sekitar 50%
penderita kembali untuk pengambilan darah ketiga, akan tetapi hal ini sangat berarti dalam
penilaian hasil serologik. Pemeriksaan ini selain tidak spesifik tetapi juga harganya relatif mahal.
Pada keadaan diagnosis klinis sudah jelas maka pemeriksaan ini sebenarnya tidak perlu
dilakukan. Pada kasus yang tidak jelas mungkin pemeriksaan ini sering membantu menunjang
menegakkan diagnosis DBD. Hasil pemeriksaan dengue blot positif dapat terjadi pada penyakit
DBD dan DD.
Pemeriksaan uji Hemagglutination inhibition antibody dapat dilakukan dengan 2 cara :
a. Dalam bentuk serum yaitu dengan mengambik 2-5 ml darah vena dengan menggunakan
semprit atau vacutainer. Selanjutnya serum dipisahkan dan dimasukkan ke dalam botol steril
yang tertutup rapat. Sebelum dikirim serum disimpan dalam lemari es dan pada waktu
dikirim ke laboratorium dimasukkan ke dalam termos berisi es.
b. Dengan menggunakan kertas saring “filter paper disc”. Kerta saring ini khusus, dengan
diameter 12,7 mm, mempunyai tebal dan daya hisap tertentu. Darah dari tusukan pada ujung
jari atau darah vena dari semprit dikumpulkan pada kertas saring sampai jenuh bolak-balik,
artinya seluruh permukaan kertas saring harus tertutup darah. Diusahakan agar kertas saring

10
tidak diletakkan pada permukaan yang memudahkan kertas saring melekat, misalnya pada
kaca atau plastik. Kertas saring yang dikeringkan pada suhu kamar selama 2-3 jam dapat
dikirim dalam amplop dengan perantaraan pos ke laboratorium.

4. Widal
Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terhadap penyakit tifus. Kejadian seperti inilah
yang menimbulkan kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada penyakit demam tiphoid pada
minggu awal panas biasanya malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut. Bila hasil
pemeriksaan widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, tidak harus dicurigai sebagai
penyakit tifus. Sebaiknya pemeriksaan Widal dilakukan saat panas pada akhir minggu pertama
atau awal minggu ke 2.

5. Tes Tourniquet.
Test ini bersifat non invansiv untuk mendiagnosa dini DBD, penggunaannya dengan cara
mengobstruksi aliran vena, sehingga pada bagian distal lenan akan diperoleh gambaran petechie.
Meskipun cara ini mudah dan sarana yang ada dapat mudah diperoleh, namun cara ini
mengalami kelemahan diantaranya : dapat di lihat untuk panas setelah 3 hari dimana trombosit
telah berkurang, prosedur yang dijalani sangat tidak nyaman bagi pasien terlebih pada anak-anak.

Perbedaan hasil tes demam berdarah dibandingkan dengan demam yang lain:

Tanda dan gejala Tiphus Common cold Dbd


Abdominalis
Panas tinggi >38 C yang menetap ++ +++ +++
Respon terhadap antiperetik*) + +++ +
Nyeri abdomen ++ ++ ++
Mual +++ ++ +++
Tes tourniquet *) - - -

Respon terhadap antipiretik

11
D. Pencegahan
Masyarakat sekarang ini banyak mengandalkan pembrantasan DBD dengan melalui cara
fogging atau penyemprotan. Padahal untuk melakukan fogging tersebut diperlukan beberapa
ketentuan, mulai dari PE dan kemudian pengajuan surat penyemprotan kepada Rumah Sakit
terdekat. Hal ini karena fogging tidak baik apabila diterapkan terlalu sering. Disamping itu, untuk
memberantas nyamuk dan juga jentik, terdapat beberapa cara sederhana dan hanya diperlukan
kepedulian, ketelitian dan keuletan setiap penghuni rumah akan keadaan lingkungan. Cara paling
efektif untuk mencegah penularan DBD adalah dengan menghindari gigitan nyamuk penular,
mengurangi populasi nyamuk penular, dan mengenali cara hidup nyamuknya., pencegahan bisa
dilakukan dengan sederhana yaitu bisa dengan menggunakan istilah 3M, meguras , mengubur,
menutup.

Untuk mencehan penyakit DBD setiap keluarga dianjurkan untuk melaksanakan "3M" di
rumah dan halaman masing-masing dengan melibatkan seluruh keluarga, dengan cara sebagai
berikut :
 Menguras bak mandi sekurang-kurangnya 1 minggu sekali
 Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
 Mengganti air Vas bunga/tanaman air seminggu sekali
 Mengganti air tempat minum burung
 Menimbun barang-barang bekas yang dapat menampung air
Menabur bubuk abete atau altosid pada tempat-tempat penampungan air yang sulit
dikuras atau di daerah yang air bersih sulit didapat, sehingga perlu penampungan air hujan

12
Memelihara ikan di tempat-tempat penampungan air Takaran abate : 1 sendok peres (+ 10 gram)
untuk 100 liter air Takaran altosid : 1/4 sendok peres (+ 2,5 gram) untuk 100 liter Tetapi akhir-
akhir ini pencegahan dan pemberantasan DBD tidak hanya dapat ditempuh melalui 3M, cara
terefektif adalah melalui PSJN (Pemberantasan Sarang Jentik dan Nyamuk). Seperti yang telah
diungkapkan oleh dr. Ina di awal artikel bahwa PSJN merupakan cara paling ‘mujarab’ untuk
menekan angka kasus DBD. Selain karena tempat jentiknya yang jelas, yakni di Tempat
Penampungan Air (TPA), juga karena jentik merupakan awal fase hidup nyamuk. Dan upaya
dalam menerapkan PSJN ini ditempuh dengan beberapa cara diantaranya adalah melalui
Pemberdayaan masyarakat dengan pembinaan ratusan Kader Wamantik (Siswa Pemantau Jentik)
dan Bumantik (Ibu Pemantau Jentik), yang bertugas memantau 10 rumah di sekitarnya
menyangkut keberadaan jentik di rumah mereka. Tidak lupa juga memberikan penyuluhan
 Ikanisasi
 Abatesasi (temephos) Dilaksanakan di desa / kelurahan endemis terutama disekolah dan
di tempat-tempat umum. Semua tempat penampungan air dirumah dan bangunan yang
ditemukan jentik Aedes Aegypti. Ditaburi bubuk abate dengan dosisi satu sendok maka
(10 gr). Abate untuk 100 liter air.
 Fogging, dengan syarat dan persetujuan dari Rumah Sakit sekitar
Kesadaran dan kepedulian masyarakat merupakan kunci awal dari menurunnya angka
DBD di suatu wilayah. Sehingga DBD dapat terjadi di wilayah mana pun, termasuk di wilayah
elit. ”Hindari gigitan nyamuk dengan turunkan populasi,” pesan dr. Ina. Melalui kesadaran akan
pentingnya kebersihan lingkungan, maka secara otomatis akan menghambat perkembangan
jentik, dengan adanya kepedulian maka aplikasi dari upaya-upaya memberantas DBD pun akan
terealisasi, dengan begitu tidak akan memberi kesempatan bagi si nyamuk untuk berkembang

13

Pencegahan dilakukan dengan menghindari gigitan nyamuk diwaktu pagi sampai sore, karena
nyamuk aedes aktif di siang hari (bukan malam hari). Misalnya hindarkan berada di lokasi yang
banyak nyamuknya di siang hari, terutama di daerah yang ada penderita DBD nya.

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Penyebab DBD yaitu:
- Perubahan cuaca yang ekstrem
- Ketidak pedulian masyarakat pada lingkungan sekitar makin memicu nyamuk
tersebut berkembang biak pada air jernih, sejuk dan gelap
2. Pencegahan DBD:
- Fogging
- 3M
- Ikanisasi
- Abatesasi (temephos)

14
3. Pemeriksaaan DBD:
- Radiologi
- Ultrasonografi
- Serologik

B. Saran
Hendaknya masyarakat lebih peka terhadap keadaan lingkungan pada saat terjadi
perubahan cuaca atau pada saat lingkungan dalam keadaan tidak sehat. Selain itu untuk
mencegah terjadinya DBD masyarakat juga bisa melakukan dengan cara 3M di rumah
dan lingkungan sekitar. Dapat juga dilakukan penyuluhan seperti fogging, ikanisasi dan
abatesasi.

DAFTAR PUSTAKA

Hadinegoro, sri rejeki. 2002. Demam Berdarah Dengue Edisi 2. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI
Hadinegoro, Sri Rezeki H., dan Hindra Irawan Safari. 2001. Demam Berdarah Dengue. Jakarta:
Whimpeu,jim. 2009. “Pemeriksaan Serologi Demam Berdarah Dengue” jim’s blog
www.wordpress.com diakses pada 2 maret 2018

15