Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH SISTEM PENYEDIAAN DAN

DISTRIBUSI AIR MINUM LOMBOK


BARAT
MAKALAH
SISTEM PENYEDIAAN DAN DISTRIBUSI AIR MINUM
LOMBOK BARAT

OLEH :

NAMA : RENDI HARTONO


NIM : (1501060003)

FAKULTAS TEKNIK
PRODI TEKNIK LINGKUNGAN UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA
NUSA TENGGARA BARAT
2017

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar belakang .......................................................................................... 1
B. Rumusan maslah ...................................................................................... 2
C. Tujuan penulisan ...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................... 3
A. Penyediaan Air Minum di Indonesia Menurut Undang-undang .............. 3
B. Standar penyediaan air minum ................................................................. 3
C. Skematik Sistem Penyediaan Air Minum................................................. 5
D. Sistem pengaliran ..................................................................................... 7
E. Sistem distribusi ....................................................................................... 10
F. Jenis-jenis Jaringan Distribusi ................................................................. 11
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 13
A. Kesimpulan .............................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 14

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu Kabupaten di
Propinsi Nusa Tenggara Barat yang keadaan geografisnya meng-untungkan.
Pemandangan alamnya yang indah, tanah yang subur, serta cadangan air
yang melimpah menjadi potensi yang dimanfaatkan dengan baik oleh
Kabupaten ini. Secara geografis, Kabupaten ini berada di 115° 49,12’ 04” – 116° 20’15,62”
Bujur Timur dan 8° 24’ 33,82” -8° 55’ 19” Lintang Selatan. Dengan luas wilayah sebesar
1.053,92 Km². Sebelah utaranya berbatasan dengan Kabupaten Lombok Utara, sedangkan
sebelah Selatannya berbatasan dengan Samudra Indonesia.
Air bersih siap minum menjadi isu utama pemerintah baru 2014-2019 dalam mencapai
target universal yaitu akses air minum 100%. Akses air minum 100% adalah seluruh masyarakat
Indonesia mampu mendapatkan air bersih diseluruh wilayah Indonesia. Akses penyediaan air
minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar
mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI
Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan System Penyediaan Air Minum, air minum yang
dimaksudkan adalah air rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
Dalam rangka penyediaan air minum ini, harus ada suatu ystem dan kerjasama dari
berbagai pihak agar air dapt disalurkan dengan baik keseluruh konsumen Sistem Penyediaan Air
Minum (SPAM) dilakukan dengan jaringan perpipaan sehingga apspek teknis mencakup unit air
baku, unit produksi, unit distribusi, unit pelayanan, dan unit pengelolaan. Untuk meningkatkan
pelayanan air minum bagi masyarakat, perlu adanya SPAM baik secara teknis,
peraturan/kelembagaan, ysteme dan lingkungan. Selain itu, berbagai masalah yang mungkin
timbul akibat kurang baiknya unit pengelolaan dan ystem pengelolaan yang dilakukan, baik oleh
pihak pemerintah maupun pihak swasta. Oleh karena itu diperlukan pembahsan khusus mengenai
pengelolaan SPAM tersebut agar masalah yang ada dapat teratasi dengan baik dan mencegah
maslah yang sama terulang kembali.

B. Rumusan Masalah
1. Mengetahui Tentang Undang-Undang/ Peraturan Menyangkut Penyediaan Air Minum di
Indonesia.
2. Skematik Sistem Penyediaan Air Minum
3. Mengetahui Standar Penyediaan Air Minum
4. Mengetahui Bagaimana Sistem Pengaliran
5. Mengetahui Apa Saja Sistem Distribusi
6. Mengetahui Apa Saja Jenis-jenis Jaringan Distribusi

C. Tujuan
1. Mahaiswa dapat mengetahui Undang-undang yang mengatur penyediaan Air Minum di
Indonesia.
2. Mahaiswa dapat mengetahui Skematik Sistem Penyediaan Air Minum
3. Mahaiswa dapat mengetahui Standar dalam penyediaan Air Minum.
4. Mahaiswa dapat mengetahui Bagaimana Sistem Pengaliran
5. Mahaiswa dapat mengetahui Apa Saja Sistem Distribusi
6. Mahaiswa dapat mengetahui Apa Saja Jenis-jenis Jaringan Distribusi

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Air Bersih


Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan menjadi air
minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih adalah air yang
memenuhi persyaratan bagi system penyediaan air minum. Adapun persyaratan yang dimaksud
adalah persyaratan dari segi kualitas yang meliputi kualitas fisik, kimia, biologi dan radiologis,
sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping (ketentuan umum permenkes No
416/Menkes/PER/IX/1990) dan penyediaan air berish yang layak untuk dikonsumsi harus
memenuhi Permenkes No. 173/Menkes/Per/VII/1997.
Sistem adalah seperangkat elemen atau komponen yang saling bergantung atau
berinteraksi satu sama lain menurut pola tertentu dan membentuk satu kesatuan untuk mencapai
tujuan tertentu (sinulingga, 2008).
B. Penyediaan Air Minum di Indonesia Menurut Undang-undang
1. UUD 1945 pasal 33 : “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh sistem dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Landasan filosofis
untuk menentukan bagaimana pengelolaan sumber daya alam termasuk termasuk sumber daya
air. Akses terhadap air adalah merupakan hak asasi manusia.
 Kewajiban sistem menjamin kesejahtraan warga.
 Kewajiban sistem menjamin SDA dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat.
2. PP 16 tahun 2005
 Pengembangan SPAM
 Hak masyarakat berdasarkan PP 16 tahun 2005:
 Memperoleh pelayanan air minum yang memenuhi syarat kualitas, kuantitas, dan kontinuitas
sesuai sesuai dengan standar yang ditetapkan.
 Mendapatkan informasi tentang struktur dan besaran sistem serta tagihan
 Mendapatkan ganti rugi yang layak sebagai akibat kelalaian pelayanan
3. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 18/PRT/M/2007 Tentang Penyelenggaraan
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
4. Air Minum Kep. MenKes No 492/MENKES PER /IV/2010
Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Akses masyarakat terhadap
ketersediaan air minum dapat dilihat melalui lima sistem :
 Kualitas
 Kuantitas
 Kontinounitas
 Kehadalan system penyediaan air minum (reliability)
 Serta kemudahan baik harga maupun jarak/waktu tempuh (affordability).

5. Air Bersih
Peraturan Mentri Kesehatan No 416 Tahun 1990. Tentans Syarat-syarat dan Pengawasan
Kualitas Air.
 Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan seharihari yang kualitasnya memenuhi
syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak.
 Sudah tidak ada istilah tsb di aturan baru.
6. Kualitas Air minum
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010
 Persyaratan fisik: ditinjau dari segi kesehatan dan estetika.
 Persyaratan kimia: tidak mengandung zat yang membahayakan kesehatan manusia atau makhluk
hidup lainnya, pertumbuhan tanaman, fungsi industry dan tidak menimbulkankerusakan pada
instalasi SPAM sendiri.
 Persyaratan bakteriologis: ditentukan jumlah batasan untuk bakteri coli dan bakteri lainnya.
 Radioaktif
7. Kuantitas dan kontinuitas Air Minum
Penyediaan air minum harus dapat memenuhi setiap segi kehidupan masyarakat dan
tersedia dalam jumlah yang cukup baik untuk disalurkan secara terus menerus maupun untuk
jam-jam tertentu.
C. Standar Penyediaan Air Minum
1. Standar Penyediaan Air Domestik
 Standar penyediaan air sistem ditentukan oleh jumlah konsumen sistem yang dapat diketahui
dari data penduduk yang ada.
 Satndar penyediaan kebutuhan air sistem ini meliputi minum, mandi, memasak, da lain-lain.
 Kecendrungan meningkatnya kebutuhan dasar air ditentukan oleh kebiasaan pola hidup
masyarakat setempat dan didukung oleh kondisi social ekonomi.
 Faktor-faktor yang mempengaruhi perkiraan besar kebutuhan air yang digunakan untuk keperluan
sistem adalah :
 Ketersediaan air
 Kebiasaan hidup
 Perkembangan social ekonomi
 Pola dan tingkat hidup masyarakat
 Perbedaan iklim
 Jumlah penduduk
 Ada 2 kategori fasilitas penyediaan air minum yaitu :
1. Fasilitas perpipaan
 Sambungan rumah dimana kran disediakan di dalam bangunan.
 Sambungan halaman dimana kran hanya disediakan di halaman rumah saja.
 Sambungan umum yakni berupa kran umum atau bak air yang digunakan berssama oleh
sekelompok rumah atau bangunan.
2. Fasilitas non perpipaan
 Fasilitas non perpipaan meliputi sumur umum, mobil air, jrigen air.
 Jumlah penduduk suatu kota sangat mempengaruhi kebutuhan perorangan.
 Kebutuhan ini bias dilihat dalam table
2. Standar Penyediaan Air Non Domestik
 Kategori konsumsi non domestik tidak meningkat karena pembagian tersebut berdasarkan atas
pertimbangan operasional.
 Untuk memperediksi perkembangan kebutuhan air non domestik perlu diketahui rencana
pengembangan kota serta aktifitasnya.
 Apabila tidak diketahui, maka prediksi dapat didasarkan pada satuan ekivalen penduduk,
dimana konsumen non domestik dapat dihitung mengikuti perkembangan standar penyediaan air
domestik.
 Secara lebih lengkap, silahkan lihat table.

Pyoyeksi Penduduk (Jiwa)


Kecamatan 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Sekotong 56514 57505 58511 59499 60423 61447 62408 63355
Lembar 44650 45433 46228 47008 47793 48548 49307 50055
Gerung 74702 76013 77342 78648 80009 81223 82493 83744
Labuapi 61062 62134 63221 64288 65371 66393 67431 68454
Kediri 54477 55433 56403 57355 58254 59233 60159 61072
Kuripan 34192 34791 35400 35998 36587 37176 37758 38330
Narmada 88339 89891 91464 93005 94587 96052 97553 99034
Lingsar 63729 64847 65981 67095 68235 69292 70376 71443
Gunungsari 79030 80416 81823 83204 84527 85929 87272 88596
Batu Layar 45617 46417 47229 48026 48800 49599 50375 51139
Kabupaten
Lombok 602312 612880 623602 634126 644586 654892 665132 675222
Barat

D. Skematik Sistem Penyediaan Air Minum


1. Unit Air Baku, dapat terdiri dari bangunan penampungan air, bangunan
pengambilan/penyadapan, alat pengukuran dan peralatan pemantauan, sistem pemompaan,
dan/atau bangunan sarana pembawa serta perlengkapannya. Unit air baku, merupakan sarana
pengambilan dan/atau penyediaan air baku. Air baku wajib memenuhi baku mutu yang
ditetapkan untuk penyediaan air minum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Unit Produksi, merupakan prasarana dan sarana yang dapat digunakan untuk mengolah air baku
menjadi air minum melalui proses fisik, kimiawi, dan/atau biologi. Unit produksi, dapat terdiri
dari bangunan pengolahan dan perlengkapannya, perangkat operasional, alat pengukuran dan
peralatan pemantauan, serta bangunan penampungan air minum.
3. Unit Distribusi, terdiri dari sistem perpompaan, jaringan distribusi, bangunan penampungan,
alat ukur dan peralatan pemantauan. Unit distribusi wajib memberikan kepastian kuantitas,
kualitas air, dan kontinuitas pengaliran, yang memberikan jaminan pengaliran 24 jam per hari.
4. Unit Pelayanan, terdiri dari sambungan rumah, hidran umum, dan hidran kebakaran. Untuk
mengukur besaran pelayanan pada sambungan rumah dan hidran umum harus dipasang alat ukur
berupa meter air. Untuk menjamin keakurasiannya, meter air wajib ditera secara berkala oleh
instansi yang berwenang.
5. Unit Pengelolaan, terdiri dari pengelolaan teknis dan pengelolaan nonteknis. Pengelolaan teknis
terdiri dari kegiatan operasional, pemeliharaan dan pemantauan dari unit air baku, unit produksi
dan unit distribusi. Sedangkan pengelolaan nonteknis terdiri dari administrasi dan pelayanan.
E. Sistem Pengaliran
Sistem pengaliran dalam system distribusi air bersih dapat diklasifikasikan menjadi
sebagai berikut :
1. Sistem Gravitasi
Sistem ini digunakan bila elevasi sumber air baku atau pengolahan jauh berada diatas
elevasi daerah pelayanan dan system ini dapat memberikan sistem potensial yang cukup tinggi
hingga pada daerah pelayanan terjauh. Sistem ini merupakan yang paling menguntungkan karena
pengoperasion dan pemeliharaannya mudah dilakukan.

2. Sistem Pemompaan
Sistem ini digunakan bila beda elevasi antara sumber air atau instalasi dengan daerah
pelayanan yang cukup, sehingga air yang akan didistribusikan dipompa langsung ke jaringan
distribusi. Kelemahan sistem ini yaitu, dalam hal biaya yang besar karena dibutuhkan pompa
untuk pengalirannya.
3. Sistem Kombinasi
Sistem ini merupakan sistem gabungan dari sistem gravitasi dan sistem pemompaan.
Dimana air baku dari sumber air atau instalasi pengolahan dialirkan dengan menggunakan
pompa atau reservoir distribusi, baik dioperasikan secara bergantian atau bersamaan dan
disesuaikan dengan tofografi daerah pelayanan. System inilah yang paling sering digunakan.

F. Sistem Distribusi
Adapun sistem distribusi ada dua yaitu:
a. Continuous system
Dalam sistem ini, air minum yang akan disuplay dan didistribusikan kepada konsumen
secara terus menerus selama 24 jam. Sistem ini biasanya diterapkan bila pada setiap waktu
kuantitas air baku dapat mensuplay seluruh kebutuhan konsumen.
Keuntungan dari Continuous system :
 Konsumen akan mendapatkan air setiap saat.
 Air minum/bersih yang diambil dari titik pengambilan di didalam jaringan pipa yang
didistribusikan selalu dalam keadaan segar.
Kerugian dari Continuous system :
 Pemakaian air cendrung lebih boros.
 Jika ada sedikit kebocoran maka jumlah air yang terbuang besar.
b. Intermitten system
Dalam sistem ini, air minum yang akan disuplay dan didistribusikan kepada konsumen
hanya beberapa jam dalam satu hari. Biasanya berkisar anatara 2 hingga 4 jam untuk sore hari.
System ini biasanya diterapkan bila kuantitas dan tekanan air yang cukup tidak tersedia.
Keuntungan dari Intermitten system :
 Pemakaian air cendrung lebih hemat.
 Jika ada kebocoran maka jumlah air yang terbuang pada sistem ini kecil.
Kerugian dari Intermitten system :
 Bila terjadi kebakaran pada saat tida beroprasi maka air untuk pemadam kebakaran tidak dapt
disediakan.
 Setiap rumah perlu menyiapkan tempat penyimpanan air yang cukup agar kebutuhan air sehari-
hari dapat terpenihui. Dimensi pipa yang digunakan akan lebih besar akrena kebutuhan air yang
disuplay dan didistribusikan dalam sehari hanya ditempuh dalam jangka waktu pendek.

G. Jenis-Jenis Jaringan Distribusi


Jenis-jenis jaringan distribusi antara lain :
a. Sistem Percabangan
Pada sistem ini ujung pipa dari pipa utama biasanya tertutup sehingga menyebabkan
tertumpuknya kotoran yang dapat mengganggu pendistribusian air.Kerugian dari Sistem
Percabangan :
 Apabila terjadi kebocoran pada salah satu pipa-pipa yang lain maka alirannya akan terhenti, bila
pipa yang bocor tersebut diperbaiki.
Keuntungan dari Sistem Percabanagan :
 Dari segi perhitungan lebih mudah, lebih ekonomis, dan lebih mudah dilaksanakan.
b. Sistem Gird (petak)
Pada sistem ini ujung-ujung pipa cabang disambungkan satu sama lain, sistem ini lebih
dari sitem pipa bercabang. Karena sirkulasinya lebih baik dan kecil kemungkinan menjadi
tertutup atau staguasi.
Kerugian dari Sistem Gird :
 Agak sulit dalam pelaksanaannya, karena pada akhir sambngan terdapat dau sambungan yang
saling terbalik ataupun membuka.
 Tidak ekonomis, karena banyak menggunakan sambungan-sambungan.
Keuntungan dari Sistem Gird :
 Sirkulasi air baik
 Pipa sulit tersumbat apabila terdapat kotoran, karena air di dalam pipa terus mengalir dan selalu
terjadi pergantian air. Sehingga sulit terjadi pengendapan.
c. SistemBerbingkai
Pada sistem ini pipa induknya dibuat melingkar dibandingkan sistem yang lain. System
ini lebih baik dan bila ada kerusakan pada saat perbaikan, maka distribusi air tidak terhenti.
Kerugian Sistem Berbingkai :
 Agak sulit dalam perbaikannya, prinsipnya sama dengan sistem petak karena terdapat dua
sambugan yang terbalik arah pada pipa yang paling luar ataupun pembentuk lingkaran.
 Tidak ekonomis, karena jaringan sistem berbingkai untuk perumahan yang besar. Sehingga
banyak menggunakan pipa dan sambungan-sambungan.
 Dari segi perhitungan cara ini lebih sulit.
Keuntungan Sistem Berbingkai :
 Tidak terjadi perhentian aliran pada saat perbaikan pada pipa yang bocor, karena air masih
mengalir pada pipa cabang yang lainnya.
 Tidak terjadi penyumbatan pada pipa.
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa yaitu :
1. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan menjadi air minum
setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih adalah air yang memenuhi
persyaratan bagi sistem penyediaan air minum. Persyaratan penyediaan air bersih diantaranya
meliputi persyaratan kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan tekanan air.
2. Tentang Penyediaan Air Minum yang diatur dalam Undang-Undang
 UUD 1945 pasal 33.
 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 18/PRT/M/2007 Tentang Penyelenggaraan
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.
 Air Minum Kep. MenKes No 492/MENKES PER /IV/2010.
 Peraturan Mentri Kesehatan No 416 Tahun 1990. Tentans Syarat-syarat dan Pengawasan
Kualitas Air.
3. Standar Penyediaan Air Minum yaitu :.
 Standar Penyediaan Air Domestik
 Standar Penyediaan Air Non Domestik.
4. Sistem Pengaliran yaitu :
a. Sistem Gravitasi
b. Sistem Pemompaan
c. Sistem Kombinasi
5. Sistem Distribusi yaitu :
a. Continuous system
b. Intermitten system
6. Jenis-Jenis Jaringan Distribusi yaitu :
a. Sistem Percabangan
b. Sistem Gird (petak)
c. Sistem Berbingkai

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005, Tentang Pengembangan


Sistem Penyediaan Air Minum.
Peraturan Menteri Kesehatan No 429/Menkes/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.
Asmadi, Khayan, dan Kasjono H. S., 2011. Teknologi Pengolahan Air Minum. Gosyen
Publishing. Yogyakarta.
Joko, T., 2010. Unit Produksi Dalam Sistem Penyediaan Air Minum. Graha Ilmu, Yogyakarta.
Joko, T., 2010. Unit Air Baku Dalam Sistem Penyediaan Air Minum. Graha Ilmu, Yogyakarta.