Anda di halaman 1dari 15

VITAL SIGN

Vital sign atau tanda vital merupakan parameter tubuh yang terdiri dari
tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernafasan, dan suhu tubuh untuk menilai
fungsi fisiologis organ vital tubuh. Tanda vital mempunyai nilai sangat penting
pada fungsi tubuh. Adanya perubahan tanda vital, misalnya suhu tubuh dapat
menunjukkan keadaan metabolisme dalam tubuh, denyut nadi dapat
menunjukkan perubahan pada sistem kardiovaskuler, frekuensi pernafasan dapat
menunjukkan fungsi pernafasan dan tekanan darah dapat menilai kemampuan
sistem kardiovaskuler yang dapat dikaitkan dengan denyut nadi. Semua tanda
vital tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi. Perubahan tanda vital
dapat terjadi bila tubuh dalam dalam kondisi aktivitas berat atau dalam keadaan
sakit dan perubahan tersebut merupakan indikator adanya gangguan sistem
tubuh (Alimul, 2002).
1. Tekanan Darah
Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah adalah curah jantung,
tahanan pembuluh darah tepi, volume darah total, viskositas darah, dan
kelenturan dinding arteri. Sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh pada
interpretasi hasil yaitu :
a. Lingkungan: suasana bising,kurangnya privasi, suhu ruangan terlalu panas
b. Peralatan: kalibrasi, tipe manometer dan stetoskop, ukuran cuff (manset)
c. Pasien: obat, status emosional, irama jantung, merokok, kopi, obesitas, olahraga
d. Tehnik pemeriksaan: penempatan cuff, posisi lengan, kecepatan pengembangan
dan pengempisan cuff, pakaian terlalu tebal, kesalahan membaca
sfigmomanometer (Bates, 1995).
Parameter yang diukur pada pemeriksaan tekanan darah yaitu tekanan maksimal pada
dinding arteri selama kontraksi ventrikel kiri, tekanan diastolik yaitu tekanan minimal
selama relaksasi, dan tekanan nadi yaitu selisih antara tekanan sistolik dan diastolik
(penting untuk menilai derajat syok).
Komponen suara jantung disebut suara korotkoff yang berasal dari suara vibrasi saat
manset dikempiskan. Suara korotkoff sendiri terbagi menjadi 5 fase yaitu:
a. Fase I: Saat bunyi terdengar, dimana 2 suara terdengar pada waktu bersamaan,
disebut sebagai tekanan sistolik. 2.
b. Fase II: Bunyi berdesir akibat aliran darah meningkat, intensitas lebih tinggi dari
fase I. 3.
c. Fase III: Bunyi ketukan konstan tapi suara berdesir hilang, lebih lemah dari fase
I. 4.
d. Fase IV: Ditandai bunyi yang tiba-tiba meredup/melemah dan meniup. 5.
e. Fase V: Bunyi tidak terdengar sama sekali,disebut sebagai tekanan diastolik
(Bates, 1995).

Interpretasi hasil pengukuran tekanan darah berdasarkan Joint National Committee VII
adalah sebagai berikut:
Kategori Sistole Diastole
(mmHg) (mmHg)
Pada masa bayi 70 – 90 50
Pada masa anak- 80 – 100 60
anak
Pada masa remaja 90 – 110 60
Dewasa 110 – 125 60 – 70
Lansia 130 – 150 80 – 90

Kategori Sistole Diastole


(mmHg) (mmHg)
Hipotensi < 90 < 60
Optimal < 120 < 80
Normal < 130 < 85
Normal tinggi 130 – 139 85 – 89
Hipertensi ringan 140 – 159 90 – 99
(stadium 1)
Hipertensi sedang 160 – 179 100 – 109
(stadium 2)
Hipertensi berat 180 – 209 110 – 119
(stadium 3)
Hipertensi berat ≥ 210 ≥ 120
(stadium 4)

2. Frekuensi Pernafasan
Proses fisiologis yang berperan pada proses pernafasan adalah : ventilasi
pulmoner, respirasi eksternal dan internal. Laju pernafasan meningkat pada
keadaan stres, kelainan metabolik, penyakit jantung paru, dan pada peningkatan
suhu tubuh. Pernafasan yang normal bila kecepatannya 14-20x/menit pada
dewasa, dan sampai 44x/menit pada bayi.
Kategori Frekuensi nafas (per
menit)
Bayi baru lahir 30 – 40
Umur 1 tahun 30
Umur 2 – 5 tahun 24
Dewasa 10 – 20

Kecepatan dan irama pernafasan serta usaha bernafas perlu diperiksa


untuk menilai adanya kelainan:
a. Kecepatan
1) Takipnea : pernafasan cepat dan dangkal (lebih dari 24x/menit)
2) Bradipnea : pernafasan lambat (kurang dari 10x/menit)
3) Hiperpnea/hiperventilasi : pernafasan dalam dan cepat (Kussmaul)
4) Hipoventilasi : bradipnea disertai pernafasan dangkal
b. Irama
1) Reguler
2) Pernafasan cheyne-stoke : Periode apnea diselingi hiperpnea
3) Pernafasan Biot’s (ataksia) : Periode apnea yang tiba-tiba diselingi periode
pernafasan konstan dan dalam (Alimul, 2002).

3. Denyut Nadi
Denyut nadi adalah getaran atau denyut darah didalam pembuluh darah arteri
akibat kontraksi ventrikel kiri jantung yang diatur oleh sistem saraf otonom. Denyut ini
dapat dirasakan dengan palpasi yaitu dengan menggunakan ujung jari tangan
disepanjang jalannya pembuluh darah arteri, terutama pada tempat- tempat tonjolan
tulang dengan sedikit menekan diatas pembuluh darah arteri. Pada umumnya ada 9
tempat untuk merasakan denyut nadi yaitu temporalis, karotid, apikal, brankialis,
femoralis, radialis, poplitea, dorsalis pedis dan tibialis posterior, namun yang paling
sering dilakukan yaitu :
a. Radialis
Terletak sepanjang tulang radialis, lebih mudah teraba diatas pergelangan tangan
pada sisi ibu jari. Relatif mudah dan sering dipakai secara rutin.
b. Brankialis
Terletak di dalam otot biceps dari lengan atau medial di lipatan siku (fossa
antekubital). Digunakan untuk mengukur tekanan darah dan kasus cardiac arrest
pada infant
c. Karotid
Terletak dileher dibawah lobus telinga, dimana terdapat arteri karotid berjalan
diantara trakea dan otot sternokleidomastoideus. Sering digunakan untuk bayi,
kasus cardiac arrest dan untuk memantau sirkulasi darah ke otak.
d. Femoral
Terletak disebelah inferomedial ligamentum inguinalis.
e. Popliteal
Terletak di belakang lutut, sedikit ke lateral dari garis tengah.
f. Tibia posterior
Terletak di belakang dan sedikit ke arah inferior dari maleolus medialis.
g. Pedis dorsalis
Terletak di lateral dari tendo m. Extensor hallucis longus (Bates, 1995).

Kategori Denyut nadi (per


menit)
Pada bayi yang baru 140
lahir
Selama tahun 120
pertama
Selama tahun kedua 110
Umur 5 tahun 96 – 100
Umur 10 tahun 80 – 90
Dewasa 60 – 80

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat melalukan pemeriksaan denyut nadi yaitu:
a. Kecepatan
1) Bradikardia
Denyut jantung lambat (<60x/menit), didapatkan pada atlet yang sedang
istirahat, tekanan intrakranial meningkat, peningkatan tonus vagus,
hipotiroidisme, hipotermia dan efek samping beberpa obat
2) Takikardia
Denyut jantung cepat (>100x/menit), biasa terjadi pada pasien dengan
demam, feokromositoma, congestif heart failure, syok hipovolemik,
aritmia kordis, pecandu kopi dan perokok.
b. Volume Nadi
1) Volume nadi kecil
Tahanan terlalu besar terhadap aliran darah, darah yang dipompa jantung
terlalu sedikit (pada efusi perikardial, stenosis katup mitral, payah jantung,
dehidrasi, syok hemoragik).
2) Volume nadi yang berkurang secara lokal
Peningkatan tahanan setempat
3) Volume nadi besar
Volume darah yang dipompakan terlalu banyak, tahanan terlalu rendah
(pada bradikardia, anemia, hamil, hipertiroidisme) (Alimul, 2002).

4. Suhu Tubuh
Suhu tubuh mencerminkan keseimbangan antara pembentukan dan
pengeluaran panas. Pusat pengaturan suhu terdapat di hipotalamus yang
menentukan suhu tertentu dan bila suhu tubuh melebihi suhu yang ditentukan
hipotalamus tersebut, maka pengeluaran panas meningkat dan sebaliknya bila
suhu tubuh lebih rendah. Suhu tubuh dipengaruhi oleh irama sirkadian, usia,
jenis kelamin, stres, suhu lingkungan hormon, dan olahraga. Suhu normal
berkisar antara 36,5°C – 37,5°C. Lokasi pengukuran suhu adalah oral (dibawah
lidah), aksila, dan rektal. Pada pemeriksaan suhu per rektal tingkat kesalahan
lebih kecil daripada oral atau aksila. Peninggian semua terjadi setelah 15 menit,
saat beraktivitas, merokok, dan minum minuman hangat, sedangkan pembacaan
semu rendah terjadi bila pasien bernafas melalui mulut dan minum minuman
dingin.
Pengukuran suhu tubuh dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
a. Melaui Oral
Pengukuran suhu pada rongga mulut yang dapat menggunakan sebuah termometer
air raksa atau dengan termometer digital. Suhu pada daeral mulut: 36,8 0C + 0,35
0
C.
b. Melalui Rektal
Pengukuran suhu pada daerah rektal/anus menggunakan termometer air raksa atau
digital. Pengukuran suhu rektal cenderung lebih tinggi dari oral. Suhu : 37,2 0C +
0,3 0C.
c. Melalui Aksial
Pengukuran dilakukan di ketiak menggunakan termometer air raksa atau digital.
Pengukuran suhu di ketiak cenderung lebih rendah dari mulut sekita 0,6 0C.
d. Melalui Telinga
Pengukuran dilakukan di telinga menggunakan termometer khusus yang bisa
mencatat suhu tubuh dengan cepat melalui silinder telinga. Pengukuran pada
bagian ini dapat mewakili suhu tubuh inti tubuh (organ-organ dalam) (Bates,
1995).

HECTING

Ada tiga hal yang menentukan pemilihan jenis benang jahit, yaitu jenis
bahannya, kemampuan tubuh untuk menyerapnya dan susunan filamennya. Benang
yang dapat diserap melalui reaksi enzimatik pada cairan tubuh kini banyak dipakai
Penyerapan benang oleh jaringan dapat berlangsung antara tiga hari sampai tiga bulan
bergantung pada jenis benang dan kondisi jaringan yang dijahit. Menurut bahan asalnya,
benang dibagi dalam benang yang terbuat dari catgut dan dibedakan dalam catgut murni
yang tanpa campuran dan catgut kromik yang bahannya bercampur larutan asam
kromat. Catgut murni cepat diserap, kira-kira dalam waktu satu minggu, sedangkan
catgut cromik diserap lebih lama, kira-kira 2-3 minggu. Disamping itu, ada benang yang
terbuat dari bahan sintetik, baik dari asam poliglikolik maupun dari poliglaktin dan
memiliki daya tegang yang besar. Benang ini dapat dipakai pada semua jaringan
termasuk kulit. Benang yang dapat diserap menimbulkan reaksi jaringan setempat yang
dapat menyebabkan fistel benang atau infiltrat jaringan yang mungkin ditandai indurasi.
Benang yang tidak dapat diserap oleh tubuh umumnya tidak menimbulkan reaksi
jaringan karena bukan merupakan bahan biologik. Benang ini dapat berasal dari sutra
yang sangat kuat dan liat, dari kapas yang kurang kuat dan mudah terurai, dan dari
poliester yang merupakan bahan sintetik yang kuat dan biasanya dilapisi teflon.selain itu
terdapat pula benang nilon yang berdaya tegang besar, yang dibuat dari polipropilen,
dan baja yang terbuat dari baja tahan karat. Karena tidak dapat diserap maka benang
akan tetap berada di jaringan tubuh. Benang jenis ini biasanya dipakai pada jaringan
yang sukar sembuh. Bila terjadi infeksi akan terbentuk fistel yang baru dapat sembuh
setelah benang yang bersifat benda asing, dikeluarkan. Benang alami terbuat dari bahan
sutra atau kapas. Kedua bahan alami ini dapat bereaksi dengan jaringan tubuh meskipun
minimal karena mengandung juga bahan kimia alami. Daya tegangnya cukup dan dapat
diperkuat bila dibasahi terlebih dahulu dengan larutan garam sebelum digunakan
(Karnadihardja, 2004)
Benang sintetik terbuat dari poliester, nilon, atau polipropilen yang umumnya
dilapisi oleh bahan pelapis teflon atau dakron. Dengan lapisan ini permukaannya lebih
mulus sehingga tidak mudah bergulung atau terurai. Benang ini mempunyai daya tegang
yang besar dan dipakai untuk jaringan yang memerlukan kekuatan penyatuan yang
besar. Menurut bentuk untaian seratnya, benang dapat berupa monofilamen bila hanya
terdiri atas satu serat saja dan polifilamen bila terdiri atas banyak serat yang diuntai
menjadi satu. Ukuran benang merupakan salah satu faktor yang menentukan kekuatan
jahitan. Oleh karena itu, pemilihan ukuran benang untuk menjahit luka bedah
bergantung pada jaringan apa yang dijahit dan dengan mempertimbangkan faktor
kosmetik. Sedangkan kekuatan jaringan ini ditentukan oleh jumlah jahitan yang dibuat,
jarak jahitan, dan jenis benangnya. Pada daerah wajah digunakan ukuran yang kecil (5,0
atau 6,0) (Karnadihardja, 2004).
1. Jarum Jahit Bedah
Jarum jahit bedah, yang lurus maupun yang lengkung, berbeda-beda bentuknya.
Perbedaan bentuk ini pada penampang batang jarum yang bulat atau bersegi tajam, dan
bermata atau tidak bermata. Panjang jarum pun beragam dari 2-60 mm. Masing-masing
berbeda kegunaannya, berbeda cara mempersiapkan dan memasang benangnya.
kelengkungan jarum berbeda untuk kedalaman jaringan yang berbeda, sedangkan
penampang batang jarum dipilih berdasarkan lunak kerasnya jaringan. Jarum yang
sangat lengkung untuk luka yang dalam dan penampang yang bulat untuk jaringan lunak
dan yang bersegi untuk kulit. Jarum yang bermata akan membuat lubang tusukan lebih
besar, sedangkan jarum yang tidak bermata yang disebut atraumatik akan membuat
lubang yang lebih halus.
2. Jenis Jahitan
Jenis jahitan yang umum dipakai yaitu sebagai berikut:
a. Jahitan tunggal/ terputus/ interuptus
b. Jahitan jelujur/ kontinyu
c. Jahitan jelujur/ kontinyu terkunci
d. Jahitan matras vertikal
e. Jahitan matras horisontal.
3. Perawatan Luka Bedah
Biasanya luka bedah yang selesai dijahit ditutup dengan alasan untuk
melindungi dari infeksi, di samping agar cairan luka yang keluar terserap, luka tidak
kekeringan, dan luka tidak tergaruk oleh penderita. Selain itu, perdarahan dihentikan
dengan memberi sedikit tekanan pada luka. Jenis penutup luka dapat berupa kasa yang
diolesi vaselin atau salep antibiotik, atau kasa kering. Sebenarnya luka operasi yang
kering yang ditutup primer lebih baik dibiarkan terbuka, tetapi umumnya secara
psikologis kurang berkenan bagi penderita maupun keluarganya. Penutup luka yang
sudah basah oleh darah atau cairan luka harus diganti. Penggantiannya harus dilakukan
dengan tehnik aseptik. pada kesempatan mengganti balutan ini, sekaligus dicari
kemungkinan asal perdarahan atau kebocoran cairan luka tersebut. Kemudian sumber
kebocoran harus ditangani, misalnya dengan tindakan hemostasis. Bila tidak dipasang
penyalir pada luka bedah, penutup luka dapat dibiarkan sampai 48 jam pasca bedah agar
tujuan penutupan luka dapat dicapai. Luka bedah perlu diawasi pada masa pascabedah.
Luka tidak perlu dilihat setiap hari dengan membuka penutup luka, kecuali jika ada
gejala atau tanda gangguan penyembuhan luka atau radang. Bila luka sudah kuat dan
sembuh primer, jahitan atau benangnya dapat diangkat. Saat pengambilan benang
tergantung pada kondisi luka waktu diperiksa. Umumnya luka didaerah wajah
memerlukan waktu 3-4 hari, di daerah lain 7- 10 hari. Salah satu faktor penting dalam
menentukan saat pencabutan jahitan adalah tegangan pada tepi luka bedah. Tepi luka
yang searah dengan garis lipatan kulit tidak akan tegang, sementara luka yang arahnya
tegak lurus terhadap garis kulit atau yang dijahit setelah banyak bagian kulit diambil,
akan menyebabkan ketegangan tepi luka yang besar. Dalam hal ini pengambilan jahitan
harus ditunda lebih lama sampai dicapai kekuatan jaringan yang cukup sehingga bekas
jahitan tidak mudah terbuka lagi (Wijdjoseno, 2004).
4. Prosedur Tindakan Penjahitan
a. Menentukan jenis luka menilai bentuk luka
1) Menilai bentuk luka: Teratur/tidak menilai tepi luka
2) Menilai tepi luka: Teratur/tidak, jembatan jaringan menilai luas luka
3) Menilai luas luka: Panjang lebar dalam cm menilai kedalaman luka
4) Menilai kedalaman luka: Dalam cm
b. Memberikan penjelasan dan meminta persetujuan tindakan medik:
1) menjelaskan kondisi luka
2) menjelaskan prosedure tindakan
3) menjelaskan tujuan tindakan,keuntungan dan kerugian
4) meminta persetujuan tindakan
c. Menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam keadaan steril
d. Menentukan jenis benang dan jarum yang diperlukan
e. Memilih antiseptik, desinfektan yang diperlukan
f. Melakukan cuci tangan secara foerbringer
g. Memakai sarung tangan steril
h. Melakukan tindakan aseptik anti septik

i. Melakukan anestesi lokal (secara infiltrasi atau lapangan)


cara: menusukkan jarum sub kutan menyusuri tepi luka sampai seluruh luka
teranestesi dengan baik. Lakukan aspirasi untuk memastikan bahwa ujung jarum
tidak masuk pembuluh darah (terlihat cairan darah dalam spuit). infiltrasikan
lidokain bersamaan waktu menarik mundur jarum 2-4 cc (tergantung luas luka)
j. Melakukan debridemen luka
cara : Setelah luka teranestesi dengan baik, desinfeksi luka menggunakan
perhidrol 3%, agar kotoran yang menempel terangkat. Untuk mengangkat tanah/
pasir yang melekat dapat menggunakan kasa atau sikat halus. Lanjutkan dengan
irigasi menggunakan NaCl fisiologis sampai semua kotoran terangkat.
k. Pasang kain steril
l. Lakukan eksplorasi luka untuk mencari perdarahan aktif, jaringanjaringan mati/
rusak. Perdarahan dari vena cukup dihentikan dengan penekanan menggunakan
kasa steril beberapa detik. Perdarahan arterial dihentikan dengan jahitan ligasi.
Jaringan mati/ rusak dibuang menggunakan gunting jaringan. Lakukan
aproksimasi tepi luka. Buang tepi luka yang mati, tidak teratur. Passing the
needle through the vessel before securing the tie around the vessel.
m. Desinfeksi menggunakan povidon Iodine
n. Menjahit luka
1) Gunakan needle holder untuk memegang jarum. Jepit jarum pada ujung
pemegang jarum pada pertengahan atau sepertiga ekor jarum. Jika penjepitan
kurang dari setengah jarum, akan sulit dalam menjahit. Pegang needle holder
dengan jari-jari sedemikian sehingga pergelangan tangan dapat melakukan
gerakan rotasi dengan bebas
2) masukkan ujung jarum pada kulit dengan jarak dari tepi luka sekitar 1cm,
membentuk sudut 90˚
3) dorong jarum mengikuti kelengkungan jarum.
4) Jahit luka lapis-demi lapis dari yang terdalam. Aproksimasi tepi luka harus
baik.
5) Penjahitan luka bagian dalam menggunakan benang yang dapat di serap atau
monofilament.
6) Jarak tiap jahitan sekitar 1cm. Jahitan yang terlalu jarang luka kurang
menutup dengan baik. Bila terlalu rapat meningkatkan trauma jaringan dan
reaksi inflamasi.

a) Suture interuptus

b) Suture jelujur
c) Suture jelujur terkunci

d) Suture matras vertikal

e) Suture matras horisontal

o. Melakukan dressing Setelah penjahitan selesai, lakukan eksplorasi. Jahitan yang


terlalu ketat/ kendor diganti. Desinfeksi luka dengan povidone iodine. Tutup
dengan kasa steril beberapa lapis untuk menyerap discharge yang mungkin
terbentuk. Dan diplester
p. Melakukan dekontaminasi: Untuk menghindari penularan penyakit yang
menular lewat serum/ cairan tubuh. Alat-alat direndam dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit.
q. Memberikan edukasi perawatan luka Berikan edukasi tentang makanan, cara
merawat luka, mengganti kasa. Waktu kontrol.
r. Menentukan prognosis penyembuhan Menjelaskan lama penyembuhan, waktu
pengangkatan jahitan, hasil jahitan, penyulit-penyulit yang mempengaruhi
penyembuhan luka (Wijdjoseno, 2004).

Adapun komlikasi yang terjadi saat melalukan penjahitan luka yaitu sebagai
berikut:
1. Overlapping
Terjadi sebagai akibat tidak dilakukan adaptasi luka sehingga luka menjadi tumpang
tindih dan luka mengalami penyembuhan yang lambat dan apabila sembuh maka
hasilnya akan buruk.
2. Nekrosis
Jahitan yang terlalu tegang dapat menyebabkan avaskularisasi sehingga menyebabkan
kematian jaringan.
3. Infeksi
Infeksi dapat terjadi karena tehnik penjahitan yang tidak steril, luka yang telah
terkontaminasi, dan adanya benda asing yang masih tertinggal.
4. Perdarahan
Terapi antikoagulan atau pada pasien dengan hipertensi.
5. Hematoma
Terjadi pada pasien dengan pembuluh darah arteri terpotong dan tidak dilakukan
ligasi/pengikatan sehingga perdarahan terus berlangsung dan menyebabkan bengkak.
6. Dead space (rongga mati)
Adanya rongga pada luka yang terjadi karena penjahitan yang tidak lapis demi lapis.
7. Sinus
Bila luka infeksi sembuh dengan meninggalkan saluran sinus, biasanya ada jahitan
multifilament yaitu benang pada dasar sinus yang bertindak sebagai benda asing.
8. Dehisensi
Luka yang membuka sebelum waktunya disebabkan karena jahitan yang terlalu kuat
atau penggunaan bahan benang yang buruk.
9. Abses
Infeksi hebat yang telah menghasilkan nanah (Karnadihardja, 2004).

REFERENSI
1. Itthagarun, A., King, N.M., 2000, Oral rehabilitation of hypohidrotic ectodermal dysplasia patient: a 6-
year follow-up. Quintessence, 312: 642-8.

Alimul, A., 2002, Buku saku praktikum : Kebutuhan Dasar Manusia, Jakarta,
EGC.

Bates, B., 1995, Buku Saku Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan. Jakarta,
EGC.

Karnadihardja, W., 2004, Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta, EGC.


Wijdjoseno, G., Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2, Jakarta, EGC.