Anda di halaman 1dari 3

Nama : I Ketut Widya

Nim : KP12.19.038

Ngayah sebagai hukum adat Bali

Hukum adat Bali adalah hukum yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat adat Bali yang berlandaskan
pada ajaran agama (agama Hindu) dan tumbuh berkembang mengikuti kebiasaan serta rasa kepatutan
dalam masyarakat hukum adat Bali itu sendiri. Sehingga di dalam masyarakat adat Bali, antara adat dan
agama tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dipisahkannya antara agama dan adat di dalam masyarakat
adat Bali, dikarenakan hukum adat itu bersumber dari ajaran agama. Menurut Wayan Windia dan Ketut
Sudantra, masyarakat Bali terikat oleh norma-norma hukum yang mengatur pergaulan hidup mereka,
baik berupa hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis, Hukum tertulis yang berlaku berasal dari
negara dalam bentuk peraturan perundang- undangan Republik Indonesia, sedangkan hukum tidak
tertulisnya (Hukum Adat) yang berlaku dalam masyarakat Bali bersumber dari kebiasaan-kebiasaan
masyarakat Bali yang disebut Dresta.

Masyarakat adat di desa pakraman di Bali selalu akan melaksanakan “Yadnya”, khususnya “Panca
Yadnya”. Yadnya dalam ajaran agama Hindu adalah sebuah korban suci yang tulus ihklas, yang ditujukan
kepada; 1) Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa (Dewa Yadnya; 2) Manusia atau sesama
(Manusia Yadnya); 3) Para bhuta/roh-roh halus (Bhuta Yadnya); 4) Para Rsi/Pendeta (Rsi Yadnya), dan; 5)
Para Pitra/roh leluhur (Pitra Yadnya). Kelima jenis “yadnya” di atas dikenal dengan istilah “Panca Yadnya”.
Umat Hindu akan menjalankan “Panca Yadnya” secara periodik dan berkesinambungan sebagai upaya
untuk menyeimbangkan kehidupan di bumi/alam nyata (Buana Alit) dengan kehidupan dunia lain dan
akhirat (Buana Agung).

Terkait dengan pelaksanaan yadnya tersebut, biasanya umat Hindu di masing-masing desa pakraman
akan melaksanakan kewajiban yang disebut “Ngayah”. Ngayah adalah kewajiban sosial masyarakat Bali
sebagai penerapan ajaran karma marga yang dilaksanakan secara gotong royong dengan hati yang tulus
ikhlas baik di banjar maupun di tempat suci. Kata ngayah secara harafiah dapat diartikan melakukan
pekerjaan tanpa mendapat upah (kamus Bali-Indonesia,1990). Istilah ini dari segi etimologis diadopsi
dari konteks politik dan kultur feudal dari zaman raja-raja Bali, yakni dari akar kata “Ayah” yang
terpancar dari budaya “Purusaisme” atau Patrilineal/Patrirhat, terutama berkaitan dengan sistem
pewarisannya.

Maka, kemudian menjadi “ayahan” yang secara sangat spesifik ialah mengacu pada :Tanah ayahan desa
(sebagai bagian integral tanah adat) dan konskuensinya. Kewajiban-kewajiban yang harus
dipenuhi/dijalani oleh orang bersangkutan (yang mendiami tanah ayahan). Sebagai salah satu wujud
tanggung jawab. Latar belakang sosiologis dan historis tersebut telah menunjukan bahwa semula
budaya ngayah itu berakar dari kata ayah , ayahan , pengayah , ngayahang (yang saling kait mengkait
dalam satu kesatuan konskuensi logis – eksistensialistis). Eksitensi tanah ayahan desa telah membawa
konsekuensi logis bagi pengayah untuk melakukan kewajiban sosio-religiuskultural, yakni ngayahang.
Dalam perkembangannya dewasa ini, “ngayah” bukan lagi monopoli atau menjadi kewajiban bagi para
pemilik tanah “ayahan desa” tetapi juga menjadi kewajiban krama yang sudah berkeluarga/menikah dan
usianya masih produktif. Karena konsep ngayah adalah melakukan pekerjaan dengan tulus ihklas, maka
dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan terkait dengan “Panca Yadnya” apakah pada saat pembangunan
fisik maupun persiapan pelaksanaan upakara dan pada saat pelaksanaan upacara yadnya tersebut,
masyarakat yang berniat “ngayah” tidaklah dilarang atau dibatasi. Intinya siapapun yang berminat
“ngaturang ayah” diperbolehkan oleh para prajuru di desa pakraman tersebut.

“Ngayah” berkaitan erat dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Pancasila yang terdiri dari 5 sila, yaitu; 1.
Ketuhanan Yang Maha Esa; 2 Kemanusian yang Adil dan beradab; 3. Persatuan Indonesia; 4. Kerakyatan
yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan/Perwakilan; 5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Ketika masyarakat adat Hindu Bali melakukan kegiatan “ngayah” tersebut berkaitan pelaksanaan yadnya,
sesungguhnya nilai-nilai dari kelima sila-sila di atas sudah diterapkan secara terintegrasi oleh masyarakat
adat di desa pakraman masing-masing.

Pada saat “ngayah” ada semacam keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan dengan segala ketulusan
akan memproleh pahala yang setimpal dari Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) sebagai
buah dari karma/perbuatan. Masyarakat Hindu menyakini adanya karma pala/buah dari perbuatan yang
mungkin segera bisa diterima, mungkin belakangan, atau bahkan di kehidupan yang akan datang sebagai
bentuk reinkarnasi. Karena itulah masyarakat Hindu akan berusaha meluangkan waktu untuk “ngayah”
walaupun sesungguhnya “dosa” denda yang diterapkan jika tidak hadir sangat kecil, bahkan terkadang
tanpa denda. Inilah merupakan wujud pelaksanaan sila pertama dari Pancasila (Ketuhanan Yang Maha
Esa).

Sila kedua, yaitu “Kemanusian yang Adil dan Beradab” akan tercermin pula di saat kegiatan “ngayah”
dilaksanakan. Wujudnya adalah tidak adanya unsur paksaan harus hadir. Jika krama sedang sakit atau
suntaka/sebel, mereka diperbolehkan untuk tidak hadir tanpa denda. Krama yang tidak bisa hadir karena
ada hal-hal kepentingan yang sangat mendesak atau tidak boleh ditinggalkan juga ditoleransi/dimaklumi
jika tidak hadir. Intinya kehadiran saat “ngayah” adalah keihklasan bukan paksaan. Di situlah tercermin
sila kedua dari Pancasila yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradad”.

Sila ketiga, “Persatuan Indonesia” juga sangat jelas tercermin dalam pelaksanaan ngayah. Nilai-nilai
gotong royong sebagai ciri budaya bangsa Indonesia terimplementasi dalam bentuk kerja bersama tanpa
adanya upah, malah terkadang “medana punia” (nyumbang) selain melakukan kegiatan “ngayah”. Tidak
adanya paksaan dan kegiatan didasari ketulusan memperkuat rasa persatuan di kalangan krama desa
adat tersebut.

Sila keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan/Perwakilan” akan tercermin dari
berbagai kesepakatan yang dibuat, baik secara lisan maupun tertulis (awig, pararem, bhisama, atau
purana) yang menjadi acuan tatanan bermasyarakat adat bagi krama Hindu di Bali. Semua aturan yang
dibuat akan dilengkapi sanksi sesuai kesepakatan bersama atas dasar musyawarah mupakat. Jika ada
yang melanggar, maka sanksi yang telah disepakati akan diterapkan. Hukum adat terkadang memiliki
kekuatan yang lebih besar di dalam mengikat anggotanya dari pada hukum nasional.
Sila kelima, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” akan tercermin di saat penerapan sanksi-
sanksi ataupun kewajiban-kewajiban yang telah disepakati secara adil dan merata, tidak “pandang bulu”,
jika krama yang melanggar kesepakatan tidak memiliki alasan yang dapat ditoleransi. Jika bagian dari
kegiatan “ngayah” itu ada sesuatu/rezeki yang diperoleh, maka rezeki itupun akan dibagi secara merata
kepada krama desa adat tersebut.

Jadi, “ngayah” sesungguhnya adalah wujud riil dari implementasi nilai-nilai Pancasila dari kelima sila yang
ada.

Sumber rujukan:

1. Wayan P Windia dan Ketut Sudantra, 2006, Pengantar Hukum Adat Bali, Lembaga Dokumentasi dan
Publikasi Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar.

2. http://inputbali.com/budaya-bali/ngayah-tradisi-yang-harus-tetap-ada-di-bali