Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sering dipandang sebagai suatu ilmu yang sulit
untuk dipahami oleh siswa. Terlebih lagi kecenderungan proses belajar-mengajar di
sekolah yang lebih berpusat pada guru (teacher oriented) mengakibatkan siswa
cenderung menerima materi pelajaran secara pasif. Padahal, proses pembelajaran IPA
sangat membutuhkan peran aktif siswa dalam proses pembelajaran. Akibatnya siswa
seringkali menemukan kesulitan untuk memecahkan masalah secara mandiri, terutama
yang berkaitan dengan persoalan materi pembelajaran IPA.

Kurang efektifnya metode dan strategi pembelajaran yang digunakan,


menyebabkan tidak seimbangnya kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa.
Pembelajaran yang bersifat monoton dari waktu ke waktu membuat siswa merasa bosan
dan kurang minat dalam belajar. Untuk itulah guru dituntut untuk dapat menerapkan
strategi dan model pembelajaran yang dapat membuat siswa aktif dalam menerima
materi pelajaran, sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan pada diri siswa
yang pada akhirnya meningkatkan motivasi belajar siswa.

Salah satu alternatif untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dipaparkan di


atas adalah strategi dan model pembelajaran yang tepat bagi siswa serta dapat
memecahkan masalah yang dihadapi. Model pembelajaran akan menentukan terjadinya
proses belajar mengajar yang selanjutnya menentukan hasil belajar. Salah satu strategi
dan model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan kemampuan akademik
siswa adalah strategi pembelajaran penemuan (discovery learning).

Teori dan hasil penelitian para ahli pendidikan menunjukkan bahwa pembelajaran
akan berhasil bila siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Hal inilah yang
menjadi dasar dan pentingnya kami untuk menyusun makalah yang berjudul “IPA dan
Strategi Pembelajaran Discovery Learning” dengan harapan menjadi pengetahuan serta
bahan diskusi untuk kita semua.

1
1.2. Rumusan Masalah

1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan IPA?


1.2.2 Apakah yang dimaksud dengan strategi pembelajaran discovery learning?
1.2.3 Apakah kelebihan dan kelemahan dari strategi pembelajaran discovery learning?
1.2.4 Bagimanakah langkah-langkah operasional discovery learning?
1.2.5 Bagaimanakah pengaruh strategi pembelajaran discovery learning terhadap
pemahaman konsep IPA dan sikap ilmiah siswa?

1.3. Tujuan Penulisan


1.3.1. Untuk menjelaskan pengertian dari IPA.
1.3.2. Untuk menjelaskan pengertian dari strategi pembelajaran discovery learning.
1.3.3. Untuk menjelaskan kelebihan dan kelemahan dari strategi pembelajaran discovery
learning.
1.3.4. Untuk menjelaskan langkah-langkah operasional discovery learning.
1.3.5. Untuk menjelaskan pengaruh strategi pembelajaran discovery learning terhadap
pemahaman konsep IPA dan sikap ilmiah siswa.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian IPA

IPA merupakan kumpulan pengetahuan yang diperoleh tidak hanya produk saja
tetapi juga mencakup pengetahuan seperti keterampilan dalam hal melaksanakan
penyelidikan ilmiah. Proses ilmiah yang dimaksud misalnya melalui pengamatan,
eksperimen, dan analisis yang bersifat rasional. Sedangkan, sikap ilmiah misalnya
objektif dan jujur dalam mengumpulkan data yang diperoleh. Dengan menggunakan
proses dan sikap ilmiah itu saintis memperoleh penemuan-penemuan atau produk yang
berupa fakta, konsep, prinsip, dan teori. IPA sebagai produk atau isi mencakup fakta,
konsep, prinsip, hukum-hukum, dan teori IPA. Jadi pada hakikatnya IPA terdiri dari
tiga komponen, yaitu sikap ilmiah, proses ilmiah, dan produk ilmiah. Hal ini berarti
bahwa IPA tidak hanya terdiri atas kumpulan pengetahuan atau berbagai macam fakta
yang dihafal, IPA juga merupakan kegiatan atau proses aktif menggunakan pikiran
dalam mempelajari gejala-gejala alam yang belum dapat direnungkan.
Pengertian IPA menurut Depdiknas dan beberapa ahli :
1) Depdiknas
IPA adalah pengetahuan yang sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum
(universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen.
2) Menurut Fowler (dalam Santi, 2006:2.9) menyatakan IPA adalah “Ilmu yang
sistematis dan di rumuskan, ilmu ini berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan
dan terutama di dasarkan atas pengamatan dan induksi”.
3) Menurut Nash (dalam Usman, 2006:2) IPA adalah “ Suatu cara atau metode untuk
mengamati alam yang bersifat analisi, lengkap cermat serta menghubungkan antara
fenomena lain sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru
tentang objek yang di amati”.
4) Nokes (dalam Abdullah, 2003:18) IPA adalah “Pengetahuan teoritis yang di
peroleh dengan metode khusus”.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan,


konsep, dan ilmu tentang alam sekitar yang tersusun secara sistematis, yang diperoleh

3
dengan metode khusus melalui serangkaian proses ilmiah seperti pengamatan,
penyelidikan, penyusunan hipotesis yang diikuti dengan pengujian gagasan-gagasan.

2.2. Pengertian Strategi Pembelajaran Discovery Learning


Penemuan (discovery) merupakan suatu model pembelajaran yang dikembangkan
berdasarkan pandangan konstruktivisme. Model ini menekankan pentingnya
pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu, melalui
keterlibatan siswa ssecara aktif dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran penemuan merupakan salah satu model pembelajaran yang
digunakan dalam pendekatan konstruktivis modern. Pada pembelajaran penemuan,
siswa didorong untuk terutama belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-
konsep dan prinsip-prinsip. Guru mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan
melakukan eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau
konsep-konsep bagi diri mereka sendiri.
Pembelajaran discovery learning adalah model pembelajaran yang mengatur
sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang belum diketahuinya itu
tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri.
Dalam pembelajaran discovery learning, mulai dari strategi sampai dengan jalan
dan hasil penemuan ditentukan oleh siswa sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat
Maier (Winddiharto:2004) yang menyatakan bahwa, apa yang ditemukan, jalan, atau
proses semata-mata ditemukan oleh siswa sendiri.
Pengertian discovery learning Menurut Para Ahli
1) Menurut Sund (dalam Roestiyah, 1998:22), discovery learning adalah proses
mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip.
2) Menurut Wilcox (Slavin, 1977), dalam pembelajaran dengan penemuan siswa
didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri
dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk
memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka
menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
3) Pengertian discovery learning menurut Jerome Bruner adalah metode belajar yang
mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan dan menarik kesimpulan dari
prinsip-prinsip umum praktis contoh pengalaman. Dan yang menjadi dasar ide J.
Bruner ialah pendapat dari piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan

4
secara aktif didalam belajar di kelas. Untuk itu Bruner memakai cara dengan apa
yang disebutnya discovery learning, yaitu dimana murid mengorganisasikan bahan
yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir.
4) Menurut Bell (1978) belajar penemuan adalah belajar yang terjadi sebagai hasil
dari siswa memanipulasi, membuat struktur dan mentransformasikan informasi
sedemikian sehingga ie menemukan informasi baru. Dalam belajar penemuan,
siswa dapat membuat perkiraan (conjucture), merumuskan suatu hipotesis dan
menemukan kebenaran dengan menggunakan proses induktif atau proses dedukatif,
melakukan observasi dan membuat ekstrapolasi.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran discovery


learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan
menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan
tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa. Dengan belajar
penemuan, siswa juga bisa belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri
masalah yang dihadapi. Kebiasaan ini secara tidak langsung akan diterapkan dalam
kehidupan bermasyarakat.

2.3. Kelebihan dan Kelemahan dari Strategi Pembelajaran Discovery Learning

1. Kelebihan Strategi Pembelajaran Discovery Learning


Kelebihan dari model penemuan terbimbing adalah sebagai berikut :
a. Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
b. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan).
c. Mendukung kemampuan problem solving siswa.
d. Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan
demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik
dan benar.
e. Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih
lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukanya.
f. Siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
g. Belajar menghargai diri sendiri.
h. Memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer.
i. Pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat.

5
j. Hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil
lainnya
k. Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas.
l. Melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan
memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.

2. Kelemalahan Strategi Pembelajaran Discovery Learning


Kendatipun mempunyai banyak keunggulan dan kelebihan, suatu strategi pasti
mempunyai kelemahan, antara lain:
a. Berkenaan dengan waktu, strategi discovery learning membutuhkan waktu yang
lebih
b. Kemampuan berfikir rasional siswa ada yang masih terbatas.
c. Kesukaran dalam menggunakan faktor subjektivitas, terlalu cepat pada suatu
kesimpulan.
d. Faktor kebudayaan atau kebiasaan yang masih menggunakan pola pembelajaran
lama.
e. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan,
beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
f. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik-topik
yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan Model
Penemuan Terbimbing.

2.4. Langkah-Langkah Operasional Discovery Learning

1. Langkah-Langkah Persiapan
Langkah persiapan model pembelajaran penemuan (discovery learning) adalah
sebagai berikut:
a. Menentukan tujuan pembelajaran
b. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat,
gaya belajar, dan sebagainya)
c. Memilih materi pelajaran.
d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari
contoh-contoh generalisasi)
e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi,
tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa
6
f. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari
yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik
g. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

2. Langkah Pelaksanaan
Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan discovery learning di kelas, ada
beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara
umum sebagai berikut.
1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang
menimbulkan tanda tanya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi
generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu
guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran
membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan
pemecahan masalah.
2) Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutnya adalah guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-
agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya
dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas
pertanyaan masalah) (Syah 2004:244). Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya
harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan
sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis
permasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam
membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.
3) Data Collection (Pengumpulan Data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para
siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini
berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya
hipotesis.

7
Dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)
berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek,
wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan
sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian
secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang
telah dimiliki.
4) Data Processing (Pengolahan Data)
Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya,
semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung
dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu
(Djamarah, 2002:22). Data processing disebut juga dengan
pengkodean/kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan
generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan
baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian
secara logis.
5) Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan
alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244).
Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan
baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh
yang ia jumpai dalam kehidupannya.
Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada,
pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek,
apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
6) Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah
kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua
kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah,
2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang
mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan
8
proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas
makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman
seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-
pengalaman itu.

2.5. Pengaruh Strategi Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Pemahaman


Konsep IPA dan Sikap Ilmiah Siswa

Penguasaan ilmu pengetahuan sangat dibutuhkan seseorang dalam mengarungi


kehidupan dengan permasahan yang semakin kompleks ini. Ilmu pengetahuan itu
diantaranya adalah IPA. Melalui IPA sebenarnya telah memberikan bekal dalam
memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari, mengingat IPA merupakan ilmu
yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala
alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, perubahan dan dinamika
alam. Pembelajaran IPA bukan hanya untuk menguasai sejumlah pengetahuan, tetapi
juga harus menyediakan ruang yang cukup untuk tumbuh berkembangnya sikap ilmiah,
berlatih melakukan proses pemecahan masalah, dan penerapannya dalam kehidupan
nyata (Depdiknas, 2005).
Namun, kenyataannya secara keseluruhan pada saat ini pembelajaran IPA masih
jauh dari harapan. Kondisi seperti itu jika direfleksi dari hasil pengamatan para peneliti
selama ini, kemungkinan disebabkan karena pembelajaran kurang memperhatikan dari
segi proses. Pembelajaran yang lebih berorientasi pada ulangan atau ujian saja,
mengingat keberhasilan pendidikan hanya dilihat dari hasil tes atau ujian. Sehingga
pembelajaran yang terjadi hanya sekadar transfer informasi dari guru ke siswa. Belajar
seolah-olah hanya untuk kepentingan menghadapi ulangan atau ujian, terlepas dari
permasalahan-permasalahan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, siswa dalam belajar
sifatnya hanya menghafalkan konsep-konsep, teori-teori, ataupun rumus-rumus yang
telah ada, sehingga tidak memberikan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang
dipelajari.
Berdasarkan hal tersebut, guru perlu merancang suatu pembelajaran IPA untuk
mengubah paradigma lama dan mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut agar
terwujudnya tujuan pembelajaran IPA yang diharapkan. Harapan yang utama dalam
pembelajaran IPA agar siswa aktif dalam membangun pengetahuannya sendiri, serta
mampu menggunakan penalarannya dalam memahami dan memecahkan masalah yang
9
dihadapi. (Kemendikbud, 2013). Temuan permasalahan seperti ini didukung oleh
beberapa kalangan yang berpendapat bahwa pembelajaran IPA belum memberikan
kesempatan pada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri
(Ilahi, 2012). Siswa harus menemukan sendiri dan mentrasformasikan informasi
kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya
apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai (Melani, 2012).
Pembelajaran yang menekankan pada pembelajaran siswa aktif dalam
menemukan konsep sendiri diantaranya adalah metode discovery (Kemendikbud,
2013). Pembelajaran discovery (discovery learning) merupakan suatu model
pembelajaran yang dikembangkan oleh J. Bruner berdasarkan pada pandangan kognitif
tentang pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivis (Depdiknas, 2005). Siswa
belajar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru
mendorong siswa untuk mendapatkan pengalaman dengan melakukan kegiatan yang
memungkinkan mereka menemukan konsep dan prinsip-prinsip untuk diri mereka
sendiri (Slavin, 1994).
Di dalam discovery learning siswa didorong untuk belajar sendiri secara mandiri,
sebagaimana diungkapkan oleh Ilahi (2012: 30). Pada dasarnya discovery learning
tidak jauh berbeda dengan pembelajaran inquiry, namun pada discovery learning
masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh
guru, sehingga siswa tidak harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya
untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian
(Kemendikbud, 2013).
Penerapan model discovery learning dalam IPA diduga dapat memberikan
konstribusi terhadap masalah-masalah pembelajaran IPA yang dialami siswa,
khususnya dalam peningkatan pemahaman konsep-konsep maupun pengembangan
sikap ilmiah (Depdiknas, 2005: 8).
Beranjak dari uraian tersebut, maka dapat dilihat bahwa model discovery learning
akan berbeda dengan model pengajaran langsung seperti yang sering diterapkan.
Perbedaan ini dapat dilihat dari sintaks-sintaks model tersebut. Dengan perbedaan-
perbedaan antara model discovery learning dan model pengajaran langsung diyakini
memberikan efek yang berbeda terhadap pemahaman konsep IPA dan sikap ilmiah
siswa.

10
Fenomena seperti ini sejalan dengan temuan yang diperoleh dari penelitiannya
Melani, R., bahwa metode guided discovery learning lebih baik daripada pembelajaran
konvensional untuk meningkatkan sikap ilmiah siswa dan hasil belajar Biologi.
Penelitian itu dilakukan pada pembelajaran biologi SMA.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh Widiadnyana I W., Sadia I W.,
Suastra I W., bahwa ada pengaruh model discovery learning terhadap pemahaman
konsep IPA dan sikap ilmiah siswa. Terdapat perbedaan pemahaman konsep IPA dan
sikap ilmiah siswa secara bersamaan antara siswa yang mengikuti model discovery
learning dengan siswa yang mengikuti model pengajaran langsung. Hal ini mungkin
dikarenakan discovery learning didasari oleh teori konstrutivis, siswa harus
membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Pengetahuan yang diperoleh
dapat bertahan lebih lama dan dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan
untuk berpikir. Selain itu, langkah-langkah dari model discovery learning seperti yang
disebutkan pada pembahasan sebelumnya dapat mengembangkan sikap ilmiah dan
pemahaman konsep.
Pada model discovery learning, rasa ingin tahu dapat muncul pada setiap sintak
model pembelajaran ini. Mulai dari awal pada sintak stimulation, dengan
menghadapkan permasalahan tentang topik yang akan dipelajari, siswa sudah
terangsang ingin mengetahui lebih banyak. Kemudian pada sintak problem statement,
siswa akan merasa penasaran akan kebenaran hipotesis yang dirumuskan. Selanjutnya
pada sintak data collection, antusias siswa untuk mengetahui sangat besar terkait
dengan apa yang terjadi dari kegiatan eksperimen yang dilakukan. Begitu pula pada
sintak data processing, verification, maupun generalization. Sintak-sintak ini
memunculkan rasa ingin tahu siswa karena melalui sintak-sintak ini siswa akan dapat
mengetahui hasil dari proses ilmiah yang telah dilakukan.

11
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1) Berdasarkan pengertian IPA menurut Depdiknas dan beberapa ahli, dapat


disimpulkan bahwa IPA adalah hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan,
konsep, dan ilmu tentang alam sekitar yang tersusun secara sistematis, yang
diperoleh dengan metode khusus melalui serangkaian proses ilmiah seperti
pengamatan, penyelidikan, penyusunan hipotesis yang diikuti dengan pengujian
gagasan-gagasan.
2) Sementara itu, pembelajaran discovery learning adalah suatu model atau strategi
untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri,
menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam
ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa.
3) Sama halnya dengan model pembelajaran pada umumnya, discovery learning
juga memiliki banyak kelebihan dan juga kelemahan yang patut menjadi
pertimbangan guru untuk memilih model pembelajaran yang sesuai dengan
situasi dan kondisi yang ada.
4) Langkah-langkah operasional dalam pelaksanaan strategi pembelajaran discovery
learning, yaitu: stimulation, problem statement, data collection, data processing,
verification, dan generalization. Namun, sebelum melaksanakan langkah-langkah
tersebut, diperlukan suatu persiapan yang cukup matang dari seorang guru
maupun siswa.
5) Penerapan model pembelajaran discovery learning dalam pembelajaran IPA
diduga dapat memberikan konstribusi terhadap masalah-masalah pembelajaran
IPA yang dialami siswa, khususnya dalam peningkatan pemahaman konsep-
konsep maupun pengembangan sikap ilmiah

3.2 Saran
Mengingat pentingnya peran discovery learning dalam pembelajran IPA, saran
yang kami ajukan, yaitu: (1) model pembelajaran discovery learning sebaiknya
dijadikan model pembelajaran di sekolah, terutama bagi sekolah yang situasi dan
kondisinya sesuai untuk menerapkan model ini, (2) dalam penerapan model discovery

12
learning, hendaknya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sesuai prosedurnya
serta adanya persiapan guru dan siswa untuk memperoleh hasil yang optimal; (3)
pihak sekolah hendaknya dapat mengakomodasi dan memfasilitasi untuk optimalisasi
implementasi discovery learning; (4) pihak pemerintah dapat mengupayakan dalam
penyediaan fasilitas dan sarana pembelajaran IPA sekolah.

13