Anda di halaman 1dari 27

2013

PETUNJUK PRAKTIKUM
FARMAKOLOGI

LABORATORIUM FARMAKOLOGI
PROGRAM STUDI D3 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
BANJARMASIN
2013
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

PRAKATA

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya atas terbitnya buku petunjuk praktikum farmakologi ini.
Buku praktikum ini disusun secara sederhana dengan maksud agar dapat
memberi panduan bagi mahasiswa dalam melaksanakan praktikum farmakologi.
Mata praktikum ini merupakan bagian terpenting dalam proses belajar
mahasiswa Diploma III Farmasi. Oleh karenanya bimbingan serta evaluasi
kegiatan praktikum ini harus dilakukan dengan cermat.
Teori lebih lanjut mengenai hal-hal yang berhubungan dengan praktikum
dapat dipelajari dalam kuliah atau literatur farmakologi.
Semoga buku petunjuk praktikum farmakologi ini dapat bermanfaat
sebagai salah satu evaluasi praktek mahasiswa. Segala kritik dan saran untuk
penyempurnaan buku ini, kami terima dengan senang hati. Akhirnya kepada para
mahasiswa kami ucapkan : “ Selamat praktikum dan sukses”

Banjarmasin, Februari 2013

Penyusun

ii
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL...........................................................................................i
PRAKATA..........................................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................iii
TATA TERTIB PRAKTIKUM FARMAKOLOGI..............................................1
FORMAT LAPORAN.........................................................................................3
PERCOBAAN I.................................................................................................4
Cara Bekerja Dengan Binatang Percobaan
PERCOBAAN II.............................................................................................11
Pengaruh Cara Pemberian Terhadap Absorbsi Obat
PERCOBAAN III............................................................................................13
Metabolisme Obat
PERCOBAAN IV............................................................................................17
Analgetika
PERCOBAAN V.............................................................................................19
Efek Tonik
PERCOBAAN VI............................................................................................22
Anti Inflamasi

iii
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

TATA TERTIB PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

A. DI LABORATORIUM
1. Mahasiswa harus datang 15 menit sebelum praktikum dimulai, terlambat
lebih dari 10 menit dengan alasan apapun tidak diijinkan mengikuti
praktikum.
2. Mahasiswa memasuki ruangan praktikum jika laboran memperbolehkan
masuk.
3. Ijin ketidakhadiran hanya berlaku jika sakit (disertai keterangan dokter),
keluarga (bapak, ibu, adik atau kakak) ada yang meninggal dunia, dan
sebab keadaan darurat berkaitan jiwa dan mahasiswa wajib mengganti
praktikum pada hari lain.
4. Mahasiswa wajib menggunakan jas praktikum dan tanda pengenal/cocard
(berisi NAMA dan NPM), jika tidak maka dikenakan sanksi tidak
diperbolehkan mengikuti praktikum.
5. Selama praktikum berlangsung mahasiswa tidak diperbolehkan membuka
ponsel.
6. Setiap mahasiswa wajib membawa perlengkapan yang diperlukan pada
saat praktikum seperti kain lap, sarung tangan, masker, kalkulator, dll.
7. Mahasiswa harus aktif dan berinisiatif sendiri mencari pengumuman
berkaitan dengan tugas dan laporan, kesalahan menerima informasi
menjadi tanggung jawab mahasiswa.
8. Pretes diadakan di awal praktikum sesuai dengan percobaan yang telah
ditentukan.
9. Syarat mengikuti praktikum : Laporan sementara yang telah disetujui oleh
pembimbing masing-masing serta laporan resmi praktikum sebelumnya.
10. Bila terjadi luka gigitan binatang maka segera dilakukan pembersihan dan
pengobatan pada luka menurut cara-cara pertolongan pertama pada
kecelakaan.
11. Selesai praktikum mahasiswa wajib menuliskan data hasil praktikum
dilembar yang telah disediakan kemudian meminta paraf pada dosen yang

1
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

jaga dan diperbolehkan pulang jika ruangan sudah dibersihkan dan dalam
keadaan rapi seperti semula.

B. DI RUANG TUTORIAL
1. Mahasiswa wajib datang 15 menit sebelum praktikum dilakukan.
2. Syarat memasuki ruangan dengan menunjukkan data hasil praktikum di
laboratorium yang telah di paraf oleh dosen yang jaga pada saat itu.
3. Data hasil praktikum tersebut harus dibuat dalam bentuk power point dan
harus di presentasikan meliputi judul percobaan, tujuan praktikum dan
hasil perhitungan berdasarkan kelompok masing-masing.
4. Setelah itu di buat laporan resmi dan dikumpulkan pada saat praktikum
selanjutnya di laboratorium.

2
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

FORMAT LAPORAN PRAKTIKUM

A. LAPORAN SEMENTARA
- Cover (Kertas Polio Bergaris)
1. Nama Mahasiswa
2. NPM
3. Golongan
4. Hari dan Tanggal Praktikum
- Bagian Isi
I. Judul Percobaan
II. Tujuan Percobaan
III. Dasar Teori
IV. Bahan dan Alat yang digunakan
V. Cara Kerja

B. LAPORAN RESMI
- Cover (dengan kertas hvs dan dilapis mika plastik berwarna sesuai yang
ditentukan)
- Isi cover seperti laporan sementara
- Bagian isi mencantumkan laporan sementara (I-V) dengan penambahan
VI. Perhitungan Hasil Percobaan
VII. Pembahasan
VIII. Kesimpulan
IX. Daftar Pustaka.

Banjarmasin, ………..2013
Praktikan,

( Tanda tangan dan Nama Lengkap)

3
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

PERCOBAAN 1
CARA BEKERJA DENGAN BINATANG PERCOBAAN

A. Tujuan
1. Mahasiswa mampu bekerja dengan binatang percobaan
2. Mahasiswa mampu menghitung dosis pemberian pada binatang percobaan
dan membuat stok obat.

B. Pendahuluan
1. Setiap bekerja di laboratorium dengan menggunakan binatang percobaan
sebaiknya membaca :
a) Petunjuk memelihara dan menggunakan binatang percobaan.
b) Dasar – dasar pemeliharaan binatang percobaan.
2. Perlakukan binatang percobaan dengan kasih sayang dan jangan sekali-kali
disakiti.
3. Tiap binatang mempunyai karakteristik spesifik. Oleh karena itu dalam
memperlakukannya harus disesuaikan dengan karakternya tersebut.
a) Kelinci dan marmot, jangan sekali-kali memegang telinga kelinci karena
syaraf dan pembuluh darah dapat terganggu.
b) Tikus dan mencit, dipegang bagian ekor. Untuk menghindari gigitan tikus
atau mencit selain ekor perlu juga dipegang bagian leher belakang dekat
kepala dengan ibu jari dan telunjuk. Bila perlu gunakan sarung tangan dari
kulit atau karet untuk melindungi tangan dari gigitan binatang.

HAL- HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA PENELITIAN


DENGAN BINATANG PERCOBAAN
1. Binatang percobaan biasanya memberikan hasil dengan deviasi yang lebih
besar bila dibandingkan dengan percobaan in-vitro, karena adanya variasi
biologis. Maka untuk menjaga agar variasi biologis minimal digunakan
binatang dengan spesies dan strain yang sama, jenis kelamin yang sama dan
dapat dipelihara dengan kondisi yang sama.
4
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

2. Binatang percobaan harus diberi makan sesuai dengan makanan standar


untuknya dan diberi minum ad libitum
3. Binatang dipuasakan semalam sebelum percobaan dimulai dan hanya
diperbolehkan minum air ad libitum
4. Bagi yang bekerja dengan binatang percobaan disarankan imunisasi tetanus,
apabila terkena gigitan harus segera dibersihkan dan diobati sesuai dengan
cara-cara pada pertolongan pertama pada kecelakaan.
5. Apabila percobaan telah selesai binatang dapat dibunuh dengan memberikan
anastetik over dosis ; inhalasi menggunakan kloroform, karbon dioksida,
nitrogen dan lain-lain dalam wadah tertutup; menyembelih binatang tersebut
dan dibungkus dengan rapat, dikubur atau diabukan.

PEMBERIAN OBAT PADA BINATANG PERCOBAAN


I. Alat Suntik
1. Tabung dan jarum suntik harus steril jika akan digunakan pada kelinci,
marmot dan anjing. Tetapi tidak perlu steril melainkan sangat bersih untuk
tikus dan mencit
2. Setelah penyuntikan, cuci tabung dan jarum suntik tersebut, semprotkan
cairan ke dalam beker, dan jarum suntik dipegang erat-erat. Ulangi cara ini
tiga kali
II. Heparinisasi
1. Untuk heparinisasi (mencegah penggumpalan darah) dipakai 10 unit
heparin per 1 ml darah
2. Untuk mencegah penggumpalan darah, sebelum dipakai tabung dan jarum
suntik dicuci dahulu dengan larutan jenuh natrium oksalat steril.

5
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

Tabel 1. Volume maksimum larutan obat yang diberikan pada binatang

Volume maksimum
Binatang Cara Pemberian
i.v i.m i.p s.c p.o
1. Mencit 20-30 0.5 0.05 1.0 0.5-1.0* 1.0
2. Tikus 100g 1.0 0.1 2.0-5.0 2.1-5.0* 5.0
3. Hamster 50 g - 0.1 1.0-5.0 2.5 2.5
4. Marmot 250 g - 0.25 2.0-5.0 5.0 10.0
5. Merpati 300 g 2.0 0.5 2.0 2.0 10.0
6. Kelinci 2.5 g 5.0-10.0 0.5 10.0-20.0 5.0-10.0 50.0
7. Kucing 3 Kg 5.0-10.0 1.0 10.0-20.0 5.0-10.0 50.0
8. Anjing 5 Kg 10.0-20.0 5.0 20.0-50.0 10.0 100.0

Ket: * didistribusikan ke daerah yang lebih luas

Tabel 2. Konversi perhitungan dosis antar jenis hewan (Laurence & Bacharach,
1964)
Subyek Mencit Tikus Marmut Kelinci Kera Anjing Manusia
20 g 200 g 400 g 1,5 kg 4 kg 12 kg 70 kg
Mencit
1,0 7,0 12,25 27,8 64,1 124,2 387,9
20 g
Tikus
0,14 1,0 1,74 3,9 9,2 17,8 56,0
200 g
Marmut
0,08 0,57 1,0 2,25 5,2 10,2 31,5
400 g
Kelinci
0,04 0,25 0,44 1,0 2,4 4,5 14,2
1,5 kg
Kera
0,016 0,11 0,19 0,42 1,0 1,9 6,1
4 kg
Anjing
0,008 0,06 0,10 0,22 0,52 1,0 3,1
12 kg
Manusia
0,0026 0,018 0,031 0,07 0,16 0,32 1,0
70 kg

CARA PEMBERIAN OBAT

1. PEMBERIAN PER ORAL


Kelinci dan marmot
Cairan diberikan dengan pertolongan kateter yang menggunakan mounth
block (pipa kayu berbentuk silinder dengan ukuran panjang sekitar 12 cm),
diameter luar 3 cm dan diameter lubang 7 mm) dipasang ketika binatang dalam
posisi duduk. Sewaktu memasang tekan rahang binatang dengan ibu jari dan
telunjuk.

6
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

Celupkan cateter karet ke dalam parafin cair kemudian masukkan ke


dalam oesofagus melalui lubang mounth block. Kateter harus dimasukkan sekitar
20-25 cm. Untuk mengetahui apakah kateter sudah masuk esofagus dan bukan
trakea, celukan ujung luar kateter ke dalam air. Jika timbul gelembung-gelembung
udara berarti kateter tersebut tidak masuk ke esofagus.
Bila obat berbentuk padat (tablet, kapsul) diberikan kepada binatang dalam
posisi duduk dengan pertolongan pipa plastik dan alat pendorong . Pipa tersebut
dimasukkan ke dalam Pharynk, dan obat didorong masuk
Tikus dan Mencit
Pemberian obat dalam bentuk suspensi, larutan atau emulsi kepada tikus
dan mencit dilakukan dengan pertolongan jarum suntikyang ujungnya tumpul

2. PEMBERIAN SECARA INTRAVENA


Kelinci
Bulu-bulu telinga disekitar pembuluh vena marginalis dicabut, lalu
digosok dengan kapas yang dibasahi dengan xilol, atau dipanasi dengan sedikit
api. Tekan pembuluh darah tersebut pada pangkal telinga dekat dengan kepala.
Jarum suntik beserta obatnya dimasukkan pelan-pelan searah dengan aliran darah
vena dengan bevel\menghadap ke atas. Untuk memastikan jarum telah terinservi
kedalam vena dengan benar lakukan aspirasi perlahan-lahan. Kemudian putar
jarum pelan-pelan sehingga bevel menghadap kebawah. Gunakan jarum yang
panjangnya 0.5 inchi dengan ukuran 26 gauge. Setelah penyuntikan, bekas
suntikan ditekan dengan kapas bersih dengan pertolongan penjepit.

3. PEMBERIAN SECARA INTRAPERITONEAL


Kelinci
Pegang tengkuk kelinci dengan kuat dan pelan-pelan ditekan sehingga
kepalan mendongak ke belakang. Teman bekerja menginjeksikan obat ke bagian
¼ kiri bawah ke daerah abdominal dengan jarum yang membentuk sudut 45.
Gunakan jarum yang panjang 1 inchi dengan ukuran 2 gauge.

7
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

Tikus dan Mencit


Peganglah tikus dan mencit pada ekornya dengan tangan kanan biarkan
mereka mencengkeram anyaman kawat dengan kaki depannya. Dengan tangan
kiri jepitlah tengkuk tikus/mencit diantara jari telunjuk dan jari tengah ( bisa juga
dengan jari telunjuk dan ibu jari). Pindahkan ekor tikus dari tangan kanan ke jari
kelingking tangan kiri. Tikus atau mencit siap diinjeksi pada abdominal area.
Gunakan jarum 5/8 inchi 24 gauge.

Gambar 1. Urutan tata cara mengambil mencit dari kandang

2. Tata cara pemberian peroral

8
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

Gambar 3. Tata cara pemberian intraperitonial

Gambar 4. Tata cara pemberian subkutan

Gambar 5. Tata cara pemberian intravena

9
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

CONTOH PERHITUNGAN DOSIS dan PEMBUATAN STOK OBAT

1. Dosis Sodium pentobarbital 75 mg/kgBB, diberikan pada hewan uji mencit


yang memiliki bobot 20 gram.
a) Dosis pemberian untuk mencit (20 g) adalah :
20 g/ 1000 g x 75 mg = 1,5 mg/20 gram mencit.
= 1,5 mg / 0,5 ml volume pemberian peroral. Maka dalam 0,5 ml larutan
yang diberikan mengandung 1,5 mg Sodium pentobarbital. Jika bobot
mencit 25 gram, maka dosis pemberiannya adalah :
25 gram/ 20 gram x 1,5 mg = 1,875 mg. Jika obat tersebut diberikan
peroral maka volume pemberiannya adalah :
25 gram/ 20 gram x 0,5 ml = 0,625 ml.
b) Pembuatan stok Sodium Pentobarbital
Misalkan membuat 100 ml stok.
Stok untuk pemberian peroral = 1,5 mg/ 0,5 ml = 300 mg/ 100 ml
Pembuatan stok : ditimbang 300 mg sodium pentobarbital dilarutkan
dengan aquadest ad 100 ml.
Stok untuk pemberian iv = 1,5 mg/0,25 ml = 600 mg/100 ml
Stok untuk pemberian im = 1,5 mg/ 0,025 ml = 6 gram / 100 ml
2. Dosis parasetamol pada manusia 70 kg adalah 500 mg, jika akan diberikan
secara peroral pada hewan uji tikus BB 200 g, maka :
a. Dosis pemberian untuk tikus (200 g)
Faktor konversi manusia (70 kg) ke tikus (200 g) = 0,018
Dosis pemberiannya adalah = 0,018 x 500 mg = 9 mg/200 gBB
= 45 mg/kgBB
b. Volume pemberian peroral
9 mg/200 g = 9 mg/ 2,5 ml ( 2,5 ml adalah setengah volume maksimal
pemberian peroral pada tikus 200 g)
c. Pembuatan stok
Jika akan dibuat stok sebanyak 250 ml maka :
9 mg/ 2,5 ml = 900 mg/ 250 ml
Pembuatannya : ditimbang sebanyak 900 mg parasetamol dan dilarutkan
dengan pelarut ad 250 ml.

10
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

PERCOBAAN II
PENGARUH CARA PEMBERIAN TERHADAP ABSORBSI OBAT

A. Tujuan
Mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan berbagai cara pemberian
obat terhadap kecepatan absorpsinya, menggunakan data farmakologi sebagai
tolak ukurnya.

B. Pendahuluan
Untuk mencapai efek farmakologis seperti yang diinginkan, obat dapat
diberikan dengan berbagai cara. Diantaranya melalui oral, subkutan, intra
muskular, intra peritoneal, rektal, intra vena. Masing-masing cara pemberian
ini memiliki keuntungan dan manfaat tertentu. Suatu senyawa atau obat
mungkin efektif jika diberikan melalui salah satu pemberian, tetapi tidak atau
kurang efektif jika diberikan melalui cara lain. Perbedaan ini salah satunya
dapat disebabkan oleh adanya perbedaan dalam hal kecepatan absorpsi dan
berbagai cara pemberian tersebut, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap
efek atau aktivitas farmakologinya..

C. Cara Percobaan
1. Bahan
a. Natrium pentobarbital 3,5 % atau natrium tiopental, Natrium
heksobarbital
b. Alkohol 70 %
c. Aqua (WFI)
2. Alat
a. Spuit injeksi dan jarum (1-2 ml)
b. Jarum berujung tumpul (untuk per oral)
3. Hewan Uji : Mencit
4. Cara Kerja
a. Tiap kelas dibagi menjadi 3 kelompok
b. Masing – masing kelompok mendapat 9 mencit
11
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

c. Berturut – turut kelompok I, II, III mengerjakan percobaan oral, sub


kutan dan intra peritoneal
d. Mencit diberi tanda kemudian ditimbang, dan diperhitungkan volume
obat yang akan diberikan, dengan dosis 35 mg/kg BB
e. Berturut-turut tiap mencit mendapat perlakuan :
i. Oral, melalui mulut dengan jarum ujung tumpul
ii. Sub kutan, masukkan sampai di bawah kulit pada tengkuk hewan
uji dengan jarum injeksi
iii. Intra peritoneal, suntikkan ke dalam rongga perut. Hati-hati jangan
sampai masuk ke dalam usus
D. Pengamatan
Setelah hewan uji mendapat perlakuan, amati dan catat waktu hilangnya
reflek balik badan ditandai dengan hilangnya kemampuan hewan ujiuntuk
membalikkan badan dari keadaan telantang.
Tabel Pengumpulan Data Hasil Percobaan

No. Cara Reflek balik badan


Hewan Pemberian Pemberian Hilang Kembali Onset

E. Analisa Data
Hitung onset waktu tidur sodium pentobarbital dan masing-masing
kelompok percobaan, dan bandingkan hasilnya menggunakan uji statistik “
analisa varian pola searah” dengan taraf kepercayaan 95 %

F. Bahan Bacaan
1. Holck, H.G.O., 1959, Laboratory Guide in Pharmacology, Burgess
Publishing Company : Minnesotta, 1-3

2. Levine, R.R., 1978, Pharmacology : Drug actions and Reactions, 2nd


edition, Little, Brown & Company, Boston

12
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

PERCOBAAN III
METABOLISME OBAT

A. Tujuan
Mempelajari pengaruh beberapa senyawa kimia terhadap enzim
pemetabolisme obat dengan mengukur efek farmakologinya

B. Pendahuluan
Metabolisme obat sering juga disebut biotransformasi. Walaupun antara
keduanya juga sering dibedakan. Sebagian ahli mengatakan bahwa istilah
metabolisme hanya diperuntukkan bagi perubahan-perubahan
biokimia/kimiawi yang dilakukan oleh tubuh terhadap senyawa endogen
sedang biotranspormasi peristiwa yang sama bagi senyawa eksogen
(xenobiotika).
Pengetahuan tentang metabolisme obat menempati posisi penting dalam
evaluasi keamanan dan kemanfaatan suatu obat. Selain untuk mengetahui
bagaimana obat dimetabolisir dan di deaktivasi, juga untuk mengenal jalur dan
kecepatan distribusi dan eliminasi obat serta metabolitnya.
Reaksi-reaksi yang terjadi selama proses metabolisme dapat dibagi
menjadi dua, yakni : reaksi fase I meliputi reaksi-reaksi oksidasi, reduksi dan
hidrolisis ; dan fase II atau reaksi konjugasi. Reaksi-reaksi enzimatik yang
berperan dalam proses tersebut sebagian besar terjadi di dalam sel-sel hepar
dansisanya terjadi di organ-organ lain seperti saluran cerna, paru, ginjal, dan
darah. Mikroflora gastrointestinal lebih berperan dalam reduksi daripada
oksidasi, dan hidrolisis daripada konjugasi.
Tempat terjadinya reaksi-reaksi oksidasi sebagian besar di dalam
retikulum endoplasmik sel. namun proses tersebut juga bisa dikatalisir oleh
enzim-enzim yang berbeda di dalam sitosol ataupun mitokondria. Sedang
reaksi fase II (konjugasi) umumnya terjadi di dalam sitosol, kecuali reaksi
glukuronidasi.

13
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

Jalur metabolism obat oleh enzim hepar :


1. Reaksi Fase I
a ) Oksidasi
- hidrolisa - desulfurasi
- dealkilasi - dehalogenasi
- pembentukan oksida - deaminasi

b) Reduksi
- reduksi aldehida
- reduksi azo
- reduksi nitro

c) Hidrolisa
- Deesterifikasi

2. Reaksi Fase II
a) Konjugasi glukuronida
b) Asilasi (termasuk asetilasi)
c) Metilasi
d) Pembentukan asam merkapturat
e) Konjugasi sulfat

Banyak obat-obatan yang mengalami deaktivasi dengan reaksi konjugasi,


yaitu suatu suatu biosintesa dengan penempelan senyawa endogen (asam
glukuronat, gugus-gugus sulfat, metil dan asetil). Jika molukel obat sangat
larut dalam lipid dan tidak mempunyi gugus aktif untuk konjugasi, maka
berbagai biotrasformasi (oksidasi, reduksi, dan hidrolisis) akan terjadi terlebih
dahulu.
Dalam konjugasi dengan asam glukuronat ( reaksi fase II yang paling
lazim), koenzim antara (uridine diphospoglucuronic acid ; UDPGA) bereaksi
dengan obat dengan adanya enzim glukuronil-transferase untuk memindahkan
glukuronida ke atom O pada alkohol, phenol, atau asam karboksilat, atau atom
S pada senyawa tiol, atau senyawa N pada senyawa-senyawa amina dan
sulfonamida. Dalam konjugasi obat-obat dengan asas-asam amino ( misal ;
glisin dan glutamin), terjadi reaksi antara obat yang mempunyai gugus
karboksilat dan telah diaktivasi dengan koenzim A. Dalam konjugasi dengan
glutation, epoksida atau aren oksida yang sangat reaktif bereaksi dengan

14
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

glutation, dan kemudian dimetabolisir lebih lanjut menjadi asam-asam


merkapturat (non – toksik).
Enzim-enzim mikrosom hepar, mukosa usus dan jaringan lain, berperan
dalam oksigenasi xenobiotika dan senyawa-senyawa endogen (asam-asam
lemak, kolesterol dan hormon-hormon steroid). Dalam hidroksilasi, satu atom
O akan berikatan dengan atom-atom C, N, dan S dan molekul obat. Reaksi ini
dikatalisis oleh sekelompok enzim retikulum endoplasmik hepar (mixed
function oxidases system = MFO )yang melibatkan sitokrom P-450 dan
reduktase NADPH-sitikrom-C.

Induksi dan penghambatan enzim


Banyak obat mampu menaikkan kapasitas metabolismenya dengan induksi
enzim (menaikkan kecepatan sintesis enzim). Kenikan aktivitas enzim
metabolisme ini menyebabkan lebih cepatnya metabolisme dan yang pada
umumnya merupakan proses deaktivasi obat sehingga mengurangi kadarnya di
dalam plasma dan memperpendek waktu paro obat. Karena itu intensitas dan
durasi efek farmakologinya berkurang.
Sekobarbital, pentobarbital, alobarbital dan fenobarbital menaikkan kadar
sitokrom P-450, serta meningkatkan kecepatan beberapa reaksi metabolisme
seperti deetilasi fenasetin, demetilasi aminopirin, 4-hidroksilasi bifenil dan
hidroksilasi heksobarbital.
Pengaruh induksi dan penghambat enzim terhadap efek farmakologi dan
toksisitas cukup besar, sehingga perlu diperhatikan oleh para praktisi. Sebagai
contoh pemberian fenobarbital dengan warfarin akan mengurangi efek
antikoagulasinya. Demikian pula pemberian simetidina suatu antagonis
reseptor H-2, akan menghambat aktivitas sitokrom P-450 dalam
memetabolisis obat-obat lain.
Induksi enzim menunjukkan variasi yang besar antara spesies, dan balikan
antar keturunan dalam sama spesies. Selain itu variasi juga terjadi antara
jaringan sama dengan yang lain didalam tubuh binatang.

15
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

Pengetahuan tentang pengaruh induktor dan inhibitor enzim terhadap laju


metabolisme obat akan sangat membantu dalam memperkirakan perubahan-
perubahan yang terjadi pada efek farmakodinamiknya

C. Cara Percobaan
a. Bahan dan Alat
1. Induktor enzim : fenobarbital
2. Penghambat enzim : simetidin
3. Jarum suntik oral (ujung tumpul)
b. Hewan Uji : mencit
c. Cara kerja :
1. Tiap kelas dibagi 3 kelompok, masing-masing mendapat 9 ekor hewan
uji.
2. Kelompok I ( kontrol ) : hewan uji diberi perlakuan hexobarbital 100
mg/kg BB dosis tunggal
Kelompok II : hewan uji diberi hexobarbital 100 mg/kg BB, i.p.,dosis
tunggal yang sebelumnya diberi praperlakuan fenobarbital 80mg/kg
BB,p.o 1 jam sebelumnya.
Kelompok III : seperti kelompok III, yang diberikan bersama – sama
dengan simetidina 80mg/kg BB,p.o 1 jam sebelumnya

D. Pengamatan : Lama waktu sampai terjadi hipnosis serta lama waktu tidur
karena heksobarbital dengan parameter righting reflex.

E. Analisis Data
a. Induksi enzim (fenobarbital 80 mg/kg BB, p.o)
b. Inhibisi Enzim (simetidina 80 mg/kg BB, p.o., 1 jam sebelumnya)

F. Bahan Bacaan

La Du, BR, Mandel, H.G. dan Way, E.L,1971, Fundamentals of drug


Metabolism and drug Disposition. The Williamns & Wilkins Company,
Baltimore, pp 149-578

16
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

PERCOBAAN IV
ANALGETIKA

A. Tujuan
Mengenal, mempraktekkan dan membandingkan daya analgetik asetosal
dan parasetamol menggunakan metode rangsang kimia.

B. Pendahuluan
Analgetik adalah obat atau senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi
rasa sakit atau nyeri. Secara umum analgetika dibagi dalam dua golongan,
yakni nalgetika narkotika atau visceral analgetics (misal:morfin ) dan
nalgetika non-narkotika atau integumental analgetics (misal : asetosal,
parasetamol.
Analgetik yang diberikan kepada penderita untuk mengurangi rasa nyeri
yang dapat ditimbulkan oleh berbagai rangsang/mekanis, kimia dan fisis. Rasa
nyeri tersebut terjadi akibat terlepasnya mediator-mediator nyeri (misalnya
bradikinin, prostaglandin) dan jaringan yang rusak yang kemudian
merangsang reseptor nyeri di ujung syaraf perifer ataupun di tempat lain. Dan
tempat-tempat ini selanjutnya rangsang nyeri diteruskan ke pusat nyeri di
korteks serebri oleh syaraf sensoris melalui sumsum tulang belakang dan
thalamus.
Berdasarkan atas rangsang nyeri yang dipergunakan, maka terdapat
berbagai metode penetapan daya analgetik suatu obat. Salah satu diantaranya
menggunakan rangsang kimia sebagai penimbul rasa nyeri , seperti yang akan
dipraktekkan disini.

C. Cara Percobaan
a. Bahan
1. Larutan tilosa dalam air 1%
2. Suspensi asetosal 1% dalam tilosa 1%
3. Suspensi parasetamol 1 % dalam tilosa 1%
4. Larutan steril asam asetat 1%

17
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

b. Hewan uji : mencit, umur 40-60 hari, berat 20-30 g


c. Alat
1. Spuit injeksi (0.1-1 ml)
2. Jarum oral (ujung tumpul)
3. Beker glass
d. Cara kerja
1. Mencit 27 ekor, dibagi menjadi 3 kelompok
2. Mencit kelompok 1 (kontrol), diberi larutan tilosa 1%, melalui oral
dengan volume sama dengan larutan pembawa obat pada kelompok
tikus perlakuan
3. Mencit kelompok II, diberi suspensi parasetamol 1%, dosis 300 mg/kg
BB, melalui oral
4. Mencit kelompok III, diberi suspensi asetosal 1%, dosis 300 mg/kg
BB, melalui oral
5. Setelah ketiga kelompok hewan uji mendapat perlakuan, 5 menit
kemudian seluruh hewan disuntik intra peritoneal larutan steril asam
asetat 1% v/v dengan dosis 300 mg/kg BB. Beberapa menit kemudian
mencit akan menggeliat (perut kejang dan kaki ditarik kebelakang).
6. Catat jumlah kumulatif geliat yang timbul setiap selang waktu 5 menit
selama 60 menit. Hitung % daya analgetik dengan rumus :

% daya analgetik = 100- (P/K x 100)

Dengan :
P = jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi obat analgetik
K = jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi tilosa (kontrol)

D. Analisis Data
Bandingkan daya analgetik asetosal dan parasetamol dengan uji t dengan
taraf kepercayaan 95 %

E. Bahan Bacaan
Domer, F.R. 1971, Animal experiment in pharmacological analysis, 1st ed.,
Charles C.thoznas Publisher, Illinois, 275-316

18
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

PERCOBAAN V
EFEK TONIK

A. Tujuan
1. Mahasiswa mampu melakukan uji farmakologi obat-obat stimulansia
2. Mahasiswa mampu mengolah data yang diperoleh sekaligus
menganalisanya

B. Pendahuluan
Efek tonik, yaitu efek yang memacu dan memperkuat semua system dan
organ serta menstimulan perbaikan sel-sel tonus otot. Efek tonik ini terjadi
karena efek stimulant yang dilakukan terhadap system syaraf pusat.
Senyawa psikotimulansia dapat meningkatkan aktivitas psikis,
menghilangkan rasa kelelahan dan penat, serta meningkatkan kemampuan
berkonsentrasi dan kapasitas yang bersangkutan (Mutschler, 1986). Stimulan
adalah senyawa kimia yang bekerja pada system syaraf yang dapat
meningkatkan system syaraf tersebut. Stimulan juga mempengaruhi jaringan-
jaringan dan organ-organ lain baik secara langsung maupun tidak langsung.
Obat-obat tersebut dapat menginduksi stimulasi perilaku dan perangsangan
psikomotor. Jika digunakan secara tidak berlebihan, stimulasi tersebut dapat
mengatasi kelelahan dan meningkatkan kewaspadaan.
Kafein merupakan ksantin yang paling kuat, menghasilkan stimulasi
korteks dan medulla dan bahkan stimulasi spiral pada dosis yang besar,
sedangkan teobromin merupakan stimulant system saraf pusat yang paling
lemah dan mungkin bahkan tidak aktif pda manusia. Kafein merupakan
senyawa yang memberikan efek psikotonik yang paling kuat yang dapat
menghilangkan gejala kelelahan dan meningkatkan kemampuan
berkonsentrasi dan kapasitas yang bersangkutan (Mutschler, 1986). Orang
yang mengkonsumsi kafein merasakan berkurangnya rasa mengantuk, lelah
dan daya pikirnya lebih cepat dan lebih jernih (Sunaryo, 1995).

19
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

C. Cara Percobaan
a. Bahan
1. Senyawa uji kaffein
2. Aquadest
3. Minuman berenergi
b. Alat
1. Reservoir : 50 x 25 x 30 cm berisi air 18 cm
2. Spuit oral
3. Jarum peroral
c. Hewan Uji : Mencit
d. Cara Kerja
1. Tiap golongan di bagi menjadi 3 kelompok dan masing-masing
kelompok mendapatkan 9 ekor hewan uji.
2. Sebelum diberi sediaan, hewan uji terlebih dahulu dimasukkan ke
dalam reservoir berisi air yag diberi gelombang.
3. Hewan uji diangkat dari reservoir setelah timbul lelah (yang ditandai
dengan hewan uji membiarkan kepalanya di bawah permukaan air
selama lebih dari 7 detik) dan dicatat waktu lelah.
4. Hewan uji diistirahatkan selama 30 menit sambil dikeringkan. Setelah
itu, hewan uji diberi perlakuan sediaan peroral,
HU I : diberi perlakuan dengan kaffein 100 mg/kgBB
HU II : diberi perlakuan dengan aquades peroral 0,5ml/20 gBB
HU III : diberi perlakuan dengan minuman berenergi
5. 30 menit kemudian hewan uji direnangkan kembali dan dicatat waktu
lelah. Data efek tonik adalah data penambahan daya tahan yang
diperoleh dari selisih waktu lelah pada hewan uji setelah perlakuan dan
sebelum perlakuan.

20
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

D. Analisa Data
Data kuantitatif yakni penambahan daya tahan dianalisis dengan metode
statistik parametrik yakni analisis varian satu jalan pada tingkat kepercayaan
95%, dilanjutkan uji t.

E. Bahan Bacaan
Mutschler, E., 1986, Dinamika Obat : Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi,
Edisi V, diterjemahkan oleh : Mathlida B.Widianto dan Anna Setiadi Ranti,
Penerbit ITB, Bandung, 156-159.

21
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

PERCOBAAN VI
ANTI INFLAMASI

A. Tujuan
Mempelajari aktivitas obat anti inflamasi pada binatang percobaan yang
mengalami inflamasi.

B. Pendahuluan
Inflamasi adalah reaksi tubuh terhadap benda asing yang masuk ke dalam
tubuh, kerusakan jaringan yang disebabkan invasi mikroorganisme, bahan
kimia yang berbahaya dan atau faktor fisik. Tanda inflamasi berupa
kemerahan, panas, bengkak, sakit dan gangguan beberapa fungsi organ
(Baratawidjaja, 2000).
Lima ciri khas inflamasi dikenal dengan tanda-tanda utama inflamasi,
adalah kemerahan (eritema) terjadi akibat adanya sel darah merah yang
terkumpul pada daerah cedera jaringan dan terjadinya dilatasi arteriol, panas
(kolor) terjadi karena bertambahnya pengumpulan darah dan dimungkinkan
juga adanya pirogen (substansi yang menimbulkan demam) yang
mengganggu pusat pengatur panas pada hipotalamus, pembengkakan (udema)
akibat merembesnya plasma sel ke dalam jaringan intestinal pada tempat
cedera, nyeri (dolor) terjadi karena pelepasan mediator-mediator nyeri
(histamin, kinin dan prostaglandin), dan terganggunya fungsi (functio laesa)
karena adanya gangguan nyeri dan penumpukan cairan sehingga mengurangi
mobilitas pada daerah itu.
Pengobatan pasien dengan inflamasi mempunyai 2 tujuan utama. Pertama
meringankan rasa nyeri, yang sering kali merupakan gejala awal yang terlihat
dan keluhan utama yang terus-menerus dari pasien. Kedua memperlambat atau
membatasi proses perusakan jaringan (Katzung, 2002). Obat-obat
antiinflamasi nonsteroid (AINS) merupakan obat-obat seperti aspirin yang
menghambat sintesis prostaglandin, mempunyai efek analgesik dan antipiretik
yang berbeda, terutama sebagai agen antiinflamasi untuk meredakan inflamasi
dan nyeri (Kee dan Hayes, 1996). Obat-obat antiinflamasi nonsteroid (AINS)

22
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

merupakan suatu grup obat yang secara kimiawi tidak sama dan berbeda
aktivitas antiinflamasinya. Obat-obat ini bekerja dengan jalan menghambat
enzim siklooksigenase tetapi tidak menghambat enzim lipooksigenase (Mycek
dkk., 2001).

C. Cara Percobaan
a. Bahan
1. Karagenin 1% (Kontrol positif )
2. Tilosa 1% (Kontrol negatif )
3. Klorpromazin Hcl 1%
4. Novalgin 1%
5. Asetosal 1% dalam tilosa 1%
b. Alat
1. Pletismometer 2. Alat suntik (± 1 ml)
c. Hewan uji : tikus jantan (bobot 200-300 gram).
d. Cara Kerja
1. Tikus ditimbang dan diberi no pada ekor sedangkan pada kedua kaki
belakang diberi tanda di atas lutut.
2. Tikus control (n=3)
a) Telapak kaki kanan disuntik dengan karagenin 0,1 ml dan ukurlah
segera volume udem dengan mencelupkan telapak kaki (sampai ke
tanda) ke dalam air raksa pada alat pletismometer. Pengukuran
diulangi 2,5 jam kemudian.
b) Telapak kaki kiri disuntik dengan 0,1 ml tilosa 1% dan diukur volume
telapak kaki seperti di atas.
3. Tikus perlakuan
a) Tikus dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing sebanyak 9 ekor.
Tiap kelompok diberi obat intra peritoneal dengan volume suntikan 40
ml/kgBB, seperti berikut :
- Asetosal 300 mg/kgBB
- Novalgin 300 mg/kgBB
- Klorpromazin Hcl 50 mg/kgBB
23
Petunjuk praktikum farmakologi
STIKES Muhammadiyah Banjarmasin

b) Satu jam setelah pemberian obat, tikus disuntik dengan karagenin pada
kaki kanan tikus. Pengukuran volume udem dilakukan segera dan 2,5
jam setelah pemberian karagenin.

D. Analisa Data
Hitung % penghambatan inflamasi untuk tiap obat pada tiap dosis uji.
Dilakukan dengan uji anava 1 arah.

E. Bahan Bacaan
Baratawidjaja, K. G., 2000, Imunologi Dasar, Edisi Keempat, Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Katzung, B. G., 2002, Farmakologi Dasar dan Klinik, Buku 2, 449-462,


diterjemahkan oleh Dripa, S., Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga, Salemba Merdeka, Jakarta.

Kee, J. L. dan Hayes, E. R., 1996, Farmakologi Pendekatan Proses


Keperawatan, 310-317, diterjemahkan oleh Peter, A., EGC, Jakarta.

Mycek, M. J., Harvey, R. A., dan Champe, P. C., 2001, Farmakologi Ulasan
Bergambar, Edisi 2, 404-417, diterjemahkan oleh Azwar, A., Widya
Medika, Jakarta

24
Petunjuk praktikum farmakologi