Anda di halaman 1dari 20

Nama Uyun Nailatul Mafaz

NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

BAB III
ASIDI-ALKALIMETRI

A. PRE LAB
1. Apa yang dimaksud dengan analisis volumetri?
Analisis volumetri disebut juga analisis titremeti. Analisis volumetri adalah metode
analisa kuantitatif yang dilakukan untuk menentukan banyaknya volume larutan yang
konsentrasinya sudah diketahui dengan tepat yang bereaksi dengan larutan yang dianalisis.
Penetapan sampel dengan analisa volumetri didasari pada hubungan stoikiometri sederhana
dari reaksi-reaksi kimia (Sumardjo, 2009).
2. Apa yang dimaksud dengan asidi-alkalimetri?
Asidimetri merupakan penetapan kadar terhadap senyawa-senyawa yang bersifat basa
dengan menggunakan larutan asam, sebaliknya alakalimetri adalah penetapan kadar-kadar
senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan larutan basa. Asidimetri dan
alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yaitu reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari
asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat
netral (Andari, 2013).
3. Apa yang dimaksud dengan larutan standar primer?
Larutan standar primer yaitu larutan dimana dapat diketahui kadarnya dan stabil pada
proses penimbangan dan pelarutan. Pembuatan larutan baku primer ini biasanya dilakukan
dalam labu ukur yang volumenya tertentu. Zat yang dapat dibuat sebagai larutan baku
primer adalah asam oksalat. Syarat dikatakan laruan standar primer apabila memiliki tingkat
kemurnian yang tinggi; mudah larut dalam air; mempunyai massa ekivalen yang tinggi
(Cairns, 2009).
4. Apa yang dimaksud dengan larutan standar sekunder?
Larutan standar sekunder yaitu larutan yang tidak dapat diketahui kadarnya dan
kestabilannya didalam proses penimbangan dan pelarutan. Larutan baku sekunder ini
konsentrasinya ditentukan berdasarkan standarisasi dengan cara titrasi terhadap larutan
baku primer. Larutan baku sekunder ini umumnya tidak stabil sehingga perlu distandarisasi
ulang. Syarat dikatakan laruan standar sekunder apabila memiliki derajat kemurnian lebih
rendah daripada larutan baku primer (Cairns, 2009).
5. Apa yang dimaksud dengan standarisasi/pembakuan larutan?
Pembakuan Larutan adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya secara teliti, dan
konsentrasinya biasa dinyatakan dalam satuan N (normalitas) atau M (molaritas). Normalitas
menunjukkan kepekatan dari suatu larutan yang dinyatakan dalam bentuk.jumlah ekuivalen
zat terlarut dalam tiap liter larutan. Molaritas menunjukkan dari suatu larutan yang
dinyatakan dalam bentuk jumlah molekul zat terlarut dalam tiap liter larutan (Kenkel, 2014).
6. Larutan apa yang digunakan untuk menstandarisasi larutan NaOH? Tuliskan persamaan
reaksinya!
Larutan yang digunakan untuk menstandardisasi larutan NaOH adalah asam oksalat dan
asam asetat.
Asam Oksalat. Reaksinya:
C2H4.2H2O(aq) + 2NaOH(aq)  Na2C2O4(aq) + 4H2O(l)
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1
Asam asetat. Reaksinya:
CH3COOH(aq) + NaOH(aq)  CH3COOH(aq) + H2O(aq) (Sujana, 2017).
6. Larutan apa yang digunakan untuk menstandarisasi HCl? Tuliskan persamaan
reaksinya!
Untuk menstandarisasi larutan HCl menggunakan boraks (Na2B4O7.10 H2O)
Persamaan reaksinya :
Na2B4O7.10 H2O + 2H2O 4B(OH)3 + 2NaCl + 5H2O (Sujana, 2017).
7. Jenis asam apa yang dominan terdapat pada asam cuka perdagangan? Tuliskan
persamaan reaksinya dengan NaOH!
Jenis asam yang paling dominan pada asam cuka adalah asam asetat (asam etanoat).
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang
dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus
empiris C2H4O2. Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana,
setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah.
Persaman reaksi NaOH (aq) + CH3COOH (aq)  CH3COONa(aq) + H2O(l) (Orey, 2007).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Prinsip dasar titrasi
Titrasi adalah salah satu metode yang dipakai dalam analisis kimia untuk
menentukan konsentrasi suatu larutan yang belum diketahui konsentrasinya dengan larutan
yang sudah diketahui konsentrasinya. Larutan yang akan ditentukan kadarnya disebut
sebagai “analit”, sedangkan larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut sebagai
“larutan standar atau titer”. Caranya adalah dengan menetesi (menambahi sedikit-sedikit)
larutan yang akan dicari konsentrasinya (analit) dengan sebuah larutan hasil standarisasi
yang sudah diketahui konsentrasi dan volumenya (titrant) (Maftuchah dkk, 2014).

2. Pengertian asidi-alkalimetri
Asidimetri merupakan penetapan kadar terhadap senyawa-senyawa yang bersifat
basa dengan menggunakan larutan asam, sebaliknya alakalimetri adalah penetapan kadar-
kadar senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan larutan basa (Andari,
2013).

3. Pengertian larutan standar primer dan sekunder beserta contohnya


Larutan standar primer yaitu larutan dimana dapat diketahui kadarnya dan stabil pada
proses penimbangan, pelarutan, dan penyimpanan. Pembuatan larutan baku primer ini
biasanya dilakukan dalam labu ukur yang volumenya tertentu. Zat yang dapat dibuat sebagai
larutan baku primer adalah asam oksalat. Syarat dikatakan laruan standar primer apabila
memiliki tingkat kemurnian yang tinggi; mudah larut dalam air; mempunyai massa ekivalen
yang tinggi. Contoh larutan standar primer kalium dikromat (K2Cr2O7), natrium klorida (NaCl),
asam oksalat, dan asam benzoat (Cairns, 2009).
Larutan standar sekunder yaitu larutan yang tidak dapat diketahu kadarnya dan
kestabilannya didalam proses penimbangan, pelarutan dan penyimpanan. Larutan baku
sekunder ini konsentrasinya ditentukan berdasarkan standarisasi dengan cara titrasi
terhadap larutan baku primer. Larutan baku sekunder ini umumnya tidak stabil sehingga
perlu distandarisasi ulang setiap minggu. Syarat dikatakan laruan standar sekunder apabila
memiliki derajat kemurnian lebih rendah daripada larutan baku primer. Contoh larutan
standar sekunder perak nitrat (AgNO3), kalium permanganat (KMnO4), besi(II) sulfat
(Fe(SO4)2) dan natrium hidroksida (NaOH) (Cairns, 2009).

4. Fungsi bahan dalam praktikum


Bahan bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu asam cuka komersial, NaOH,
HCL, indikator fenolftalein, borak, asam oksalat dan aquades. Fungsi Asam cuka komersial
yaitu sebagai larutan yang diuji, larutan NaOH yaitu sebagai larutan standar untuk
mentritrasi asam cuka (titran) dan sebagai pemberi suasana basa, larutan HCL yaitu sebagai
larutan sampel pada keadaan normal, indikator fenolftalein yaitu sebagai indikator asam –
basa sintetik yang memiliki rentang pH antara 8,00 – 10,0, Borak yaitu sebagai larutan yang
di uji, asam oksalat yaitu sebagai larutan yang diuji, aquades sebagai pelarut kristal,
indikator methyl orange yaitu sebagai indikator asam-basa yang berwarna merah dalam
suasana asam dan berwarna jingga dalam suasana basa, dengan trayek pH 3,1 – 4,4
(Cairns, 2009).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

5. Aplikasi titrasi asam-basa dalam bidang teknologi pertanian


Contoh penggunaannya dalam bidang teknologi pertanian dan pertanian yaitu
keasaman tanah yang berkaitan dengan kesuburan. Tanah yang bersifat asam dikenal
dengan istilah tanah masam. Tanah yang bersifat asam dapat disuburkan kembali dengan
cara menaburkan kapur dolomite yang mengandung CaCO3 dan MgCO3 ke dalam tanah.
CaCO3 akan bereaksi dengan air di dalam tanah hingga membentuk Ca(OH)2. Adapun
MgCO3 akan bereaksi dengan air di dalam tanah sehingga membentuk Mg(OH)2. Ca(OH)2
dan Mg(OH)2 merupakan senyawa basa yang dapat menetralkan sifat asam pada tanah.
Seperti halnya tanah masam, tanah yang terlalu basa akan mengganggu pertumbuhan
tanaman bahkan dapat membuat tanaman keracunan. Tanah yang bersifat basa dapat
dinetralkan dengan penambahan belerang atau bahan organic yang memiliki tingkat
keasaman tinggi. Pemberian belerang yang bersifat asam akan menetralkan sifat basa dari
tanah (Planck, 2007).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

C. DIAGRAM ALIR
1. Pembuatan larutan standar HCl 0.1 M

HCl Pekat

Dihitung konsentrasinya

Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL


Aquades

Dihomogenkan

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

2. Standarisasi larutan HCl


Na2B4O.10H2O

Ditimbang sebanyak 1,9 gram

Diletakan dalam gelas beker


Aquades

Dilarutkan

Dipindahkan ke labu ukur 100 mL


Aquades

Dihomogenkan

Diambil 10 mL

Dimasukkan ke dalam erlenmeyer


Indikator metil

Ditambahkan 1-2 tetes metil orange

Dititrasi dengan HCl

Diamati hingga perubahan warna

Dilakukan percobaan ulang

Dihitung M HCl

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

3. Pembuatan larutan standar NaOH 0.1 M


Kristal NaOH

Ditimbang sebanyak 0,4 gram dengan timbangan analitik

Dimasukkan ke dalam gelas beker


Aquades

Dilarutkan

Dipindahkan ke dalam labu ukur 100 mL


Aquades

Dihomogenkan

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

4. Standarisasi larutan NaOH

Asam Oksalat 0,05 M

Diambil 10 mL ke dalam erlenmeyer


Indikator PP

Ditambahkan 1-2 tetes

Dititrasi dengan NaOH

Diamati hingga terjadi perubahan warna

Dilakukan duplo

Dihitung M NaOH

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

5. Penggunaan larutan standar asam dan basa untuk menetapkan kadar asam asetat
pada cuka
Asam Cuka

Diambil sebanyak 10 mL

Dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL


Aquades

Dihomogenkan

Diambil sebanyak 10 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer


Indikator PP

Ditambahkan 2-3 tetes

Dititrasi dengan larutan NaOH dalam buret

Diamati hingga terjadi perubahan warna larutan dalam erlenmeyer

Dihitung kadar asam asetat

Dilakukan duplo

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

D. PEMBAHASAN
D.1 Analisa Prosedur

1. Membuat larutan standar HCl 0,1 M


Pertama, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan
larutan ini. Alat dan bahan yang digunakan adalah Labu ukur untuk (untuk menakar volume
pada suatu larutan), Pipet ukur (untuk mengambil larutan), Bulb (untuk menyedot larutan,
bulb digunakan bersama pipet ukur untuk meyedot larutan dengan volume tertentu), Gelas
beker (untuk wadah larutan), Pipet tetes (untuk mengambil larutan dalam jumlah tetesan
kecil) Larutan HCl (Larutan sekunder yang diidentifikasi konsentrasinya). Kedua, menghitung
volume HCl pekat yang dibutuhkan dengan menggunakan rumus pengenceran. Setelah
menghitung, membutuhkan 0,96 mL HCl pekat untuk diencerkan. Mengambil 0,96 ml HCl
pekat dengan menggunakan pipet ukur dan memasukkan ke dalam labu ukur 100 mL.
Menambahkan aquades hingga mencapai tanda batas. Menutup labu ukur dengan penutup
dan menghomogenkan larutan HCl 0,1 M. Didapatkan hasil berupa larutan standar HCl 0,1
M. Memasukkan larutan standar HCl 0,1 M ke dalam buret untuk di titrasi.

2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M dengan boraks (Na2B4O7.10H2O)


Pertama, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan
larutan ini. Alat dan bahan yang digunakan adalah timbangan analitik (untuk menimbang
massa), erlenmeyer (untuk wadah larutan), larutan HCl (larutan sekunder yang diidentifikasi
konsentrasinya), pipet volum (untuk mengambil larutan dengan volume tertentu), pipet tetes
(untukmengambil larutan dalam jumlah sedikit), boraks (larutan primer sebagai acuan dalam
mencari konsentrasi larutan sekunder), indikator metil orange (indikator asam basa dalam
titrasi). Kedua, menimbang massa boraks menggunakan timbangan analitik yang akan
digunakan untuk reaksi standarisasi dengan menggunakan rumus Molaritas. Didapatkan nilai
1,9 gram. Mengambil 10 mL larutan boraks menggunakan pipet volume dan memasukkan ke
dalam erlenmeyer. Menambahkan indikator metil orange sebanyak 2 tetes menggunakan
pipet tetes. Menitrasi larutan boraks dengan menggunakan HCl 0,1 M pada percobaan
sebelumnya. Mengamati hingga terjadi perubahan warna dari orange menjadi ungu.
Mencatat volume HCl yang digunakan untuk menitrasi larutan boraks. Melakukan duplo atau
percobaan yang sama sebanyak 2 kali untuk mendapatkan volume rata–rata HCl yang
dibutuhkan untuk menitrasi larutan boraks. Menghitung konsentrasi HCl. Didapatkan hasil
berupa larutan HCl yang telah terstandarisasi.

3. Membuat larutan standar NaOH 0,1 M


Pertama, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan
larutan ini. Alat dan bahan yang digunakan adalah kristal NaOH, timbangan analitik (untuk
menimbang massa), gelas beker (untuk wadah larutan), labu ukur (untuk menakar volume
pada suatu larutan) gelas arloji (menaruh bahan-bahan kimia), pengaduk (untuk mengaduk
larutan), aquades. Kedua menghitung berat kristal NaOH yang dibutuhkan untuk membuat
larutan standar NaOH 0,1 M. Menimbang kristal NaOH sebanyak 0,4 gram dengan
menggunakan timbangan analitik. Memasukkan kristal NaOH ke dalam gelas beker dengan
cara membilas gelas arloji dan selanjutnya menambahkan aquades secukupnya. Melarutkan
kristal NaOH dengan cara mengaduk larutan dengan pengaduk. Lalu memindahkan larutan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

NaOH ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan aquades hingga mencapai tanda batas.
Menghomogenkan larutan NaOH dan didapatkan hasil berupa larutan standar NaOH
sebesar 0,1 M. Memasukkan larutan standar NaOH 0,1 M ke dalam buret yang selanjutnya
digunakan untuk menitrasi asam okasalat.

4. Standarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam oksalat (H2C2O4.2H2O)


Pertama, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan
larutan ini. Alat dan bahan yang digunakan adalah asam oksalat (larutan primer sebagai
acuan dalam mencari konsentrasi larutan sekunder), erlenmeyer (alat yang digunakan untuk
proses titrasi dalam menampung larutan), pipet volume (untuk mengambil larutan dengan
volume tertentu), pipet tetes (untuk mengambil larutan dalam jumlah sedikit), indikator pp
(indikator asam basa dalam titrasi). Kedua, mengambil 10 mL asam oksalat menggunakan
pipet volume 0,05 M ke dalam erlenmeyer. Menambahkan indikator pp sebanyak 2 tetes
menggunakan pipet tetes. Menitrasi asam oksalat dengan menggunakan NaOH. Mengamati
hingga terjadi perubahan warna dari jernih menjadi ungu. Mencatat volume NaOH yang
digunakan untuk menitrasi asam oksalat. Melakukan duplo atau mengulangi percobaan
sebanyak 2 kali untuk mendapatkan volume rata–rata NaOH yang ditambahkan ke dalam
asam oksalat. Menghitung M NaOH. Didapatkan hasil berupa larutan NaOH yang telah di
standarisasi.

5. Penggunaan larutan standar basa untuk menetapkan kadar asam asetat pada cuka
Pertama, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan
larutan ini. Alat dan bahan yang digunakan adalah labu ukur (untuk menakar volume pada
suatu larutan), pipet volume (untuk mengambil larutan dengan volume tertentu), erlenmeyer
(alat yang digunakan untuk proses titrasi dalam menampung larutan). Kedua, mengambil
cuka sebanyak 10 mL, lalu memasukkan ke dalam labu ukur 100 mL, selanjutnya
menambahkan aquades hingga mencapai tanda batas. Menghomogenkan larutan cuka.
Mengambil sebanyak 10 mL larutan cuka dan memasukkannya ke dalam erlenmeyer.
Menambahkan indikator pp sebanyak 2–3 tetes. Menitrasi larutan cuka dengan
menggunakan larutan NaOH yang berada di dalam buret. Mengamati hingga terjadi
perubahan warna larutan dari jernih menjadi ungu. Mencatat volume NaOH yang digunakan
untuk menitrasi larutan cuka dan menghitung kadar asam asetat yang terkandung di dalam
cuka. Melakukan duplo.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

D.2 Analisa Hasil

1. Membuat larutan standar HCl 0,1 M


Pertama menghitung jumlah volume HCl 32% yang akan diencerkan dalam
percobaan pembuatan 100 ml larutan HCl 0,1 M dari larutan HCl 32% dengan menggunakan
rumus konsentrasi dan pengenceran larutan.
% x 10 x ƿ
M1 =
Mr
32% x 10 x 1,19
M1 =
36,5
M1 = 10,43
Selanjutnya, setelah di ketahui molaritas nya melakukan pengenceran dengan
menggunakan rumus :
M1 x V1 = M2 x V2
10,43 x V1 = 0,1 x 100
0,1 x 100
V1 = 10,43
= 0,96 ml
Sehingga di dapatkan hasil yang kita butuhkan yaitu 0,96 ml larutan HCl (Sutardi, 2017).

2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M dengan boraks (Na2B4O7.10H2O)


Standarisasi larutan HCl dilakukan dengan melakukan titrasi antara larutan HCl 0,1 M
sebagai larutan sekunder dengan boraks (Na2B4O7.10H2O) sebagai larutan primer.
Pertama menghitung massa boraks yang dibutuhkan untuk melakukan titrasi menggunakan
rumus :
Perhitungan:
m 1000
M = Mr x V
𝑚 1000
0,05 = 𝑥
381 100
m = 1,9 g

Titrasi dilakukan secara duplo. Yaitu pada percobaan pertama membutuhkan 12 ml


HCl. Dan pada percobaan ke dua dibutuhkan 13 ml HCl. Dan di tambahkan indicator metil
orange pada boraks sebelum melakukan standarisasi larutan HCl. Perbedaan volume HCl
yang di butuhkan untuk proses titrasi dapat dipengaruhi oleh banyak nya tetesan indikator
dalam proses titrasi.
Setelah diketahui volume HCl yang dibutuhkan untuk proses titrasi, dilakukan perhitungan
untuk mengetahui konsentrasi HCl perhitungan berikut :
1 M1+M2
V1 x M1 = V2 x M2 2
0,042 + 0,038
10 x 0,05 = 12 x M2 2
= 0,04
M2 = 0,042 M
2
V1 x M1 = V2 x M2
10 x 0,05 = 13 x M2
M2 = 0,038
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

Sehingga diketahui konsentrasi/molaritas larutan HCl hasil standarisasi adalah 0,04M


(Nugroho dan Rahayu, 2016).

3. Membuat larutan standar NaOH 0,1 M


Larutan standar NaOH 0,1 M didapatkan dengan cara melarutkan Kristal padat NaOH
dengan aquades. Untuk membuat larutan standar NaOH, massa Kristal NaOH yang
dibutuhkan dihitung dengan rumus
𝑚 1000
M= 𝑥
𝑀𝑟 𝑉
𝑚 1000
0,1 = 40 𝑥 100
m = 0,4 g
Setelah itu dilakukan pelarutan 0,4 gram kristal NaOH dengan 100 ml aquadest agar didapat
100ml larutan NaOH 0,1 M (Saraswati, 2015).

4. Standarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam oksalat (H2C2O4.2H2O)


Standarisasi larutan NaOH dilakukan dengan melakukan titrasi antara larutan NaOH 0,1 M
sebagai larutan sekunder dengan asam oksalat (H2C2O4.2H2O) sebagai larutan primer.
Titrasi dilakukan secara duplo. Yaitu pada percobaan pertama membutuhkan 12 ml NaOH.
Dan pada percobaan ke dua dibutuhkan 12,3 ml NaOH. Untuk membuat larutan ini dengan
dihitung dengan rumus
H2C2O4 + 2NaOH  Na2C2O4 + 2H20
𝑚 1000 1 𝑀1+𝑀2
M = 𝑀𝑟 𝑥 𝑉
V1 X M1 = V2 X M2 2
𝑚 1000 0,083 + 0,081
0,05 = 𝑥
90 100
12 X M1 = 2 x 10 x 0,05 2
= 0,082
m = 0,45 g M1 = 0,083
2
V1 x M1 = V2 x M2
12,3 x M1 = 10 x 0,05 x 2
M1 = 0,081
Adapun hal-hal yang mempengaruhi keberhasilan percobaan antara lain, kebersihan alat,
perhitungan yang akurat dan teliti, dan pengukuran larutan yang tepat. Teliti dalam melihat
perubahan warna pada saat titrasi (Minto, 2009).

5. Penetapan kadar asam asetat pada cuka


Dalam penetapan kadar asam cuka percobaan dilakukan secara duplo. Yaitu pada
percobaan pertama membutuhkan 1,5 ml NaOH. Dan pada percobaan ke dua dibutuhkan
1,6 ml NaOH. Dengan volume yang telah diketahui, konsentrasi asam cuka dapat dicari
dengan menggunakan rumus :
𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑋 𝐹𝑃 𝑀1+𝑀2
M1 = 𝑉 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑐𝑢𝑘𝑎
Mtotal = 2
0,082 𝑥 1,5 𝑥 100 1,23+1,312
= 10
= 2
= 1,271
= 1,23 M
𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑋 𝐹𝑃
M2 = 𝑉 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑐𝑢𝑘𝑎
0,082 𝑥 1,6 𝑥 100
= 10
= 1,312 M
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

Setelah konsentrasi di ketahui , selanjutnya adalah di cari massa dari asam asetat dengan
menggunakan rumus :
𝑚 1000
M= 𝑥
𝑀𝑟 𝑉
𝑚 1000
= 60
𝑥 10
m = 0,762 g
Dari rumus tersebut didapatkan bahwa berat larutan asam asetat adalah 0,762 gram.
Sehingga kadar larutan asam cuka dapat kita ketahui dengan perhitungan :
Kadar total asam (% b/v) =
𝑏 𝑚 0,762
%𝑣 = 𝑣
= 10
x 100%
= 7,62%
(Alfian, 2009).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

E. DATA HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN


1. Pembuatan larutan standar HCl 0,1 M
BJ HCl : 1,19
Kadar HCl : 32%
Volume HCl yang dibutuhkan : 0,96 ml
Perhitungan:
% x 10 x ƿ
M1 = Mr
32% x 10 x 1,19
M1 = 36,5
M1 = 10,43

M1 x V1 = M2 x V2
10,43 x V1 = 0,1 x 100
0,1 x 100
V1 = 10,43
= 0,96 ml
Mengapa dalam pembuatan larutan standar HCl, BJ HCl harus diperhitungkan?
Karena apabila berat jenis yang digunakan tidak sama akan menyebabkan ketidak akuratan
pada proses titrasi. Dalam HCl berat jenis sangat mempengaruhi konsentrasi molaritas
dalam penentuan HCl pekat yang dibutuhkan dalam pembuatan larutan standar HCl
(Sutardi, 2017).

2. Standarisasi larutan HCl 0,1 M


Volume HCl : 12 ml dan 13 ml
Molaritas HCl : 32%
Berat boraks : 1,9 g
BM boraks : 381
Molaritas larutan HCl hasil : 0,04 M
standarisai
Perhitungan:
m 1000 𝑀1+𝑀2
M = Mr x V
1
V1 x M1 = V2 X M2 2
𝑚 1000 0,042 + 0,038
0,05 = 𝑥
381 100
10 x 0,05 = 12 x M2 2
= 0,04
m = 1,9 g M2 = 0,042 M
2
V1 x M1 = V2 X M2
10 X 0,05 = 13 X M2
M2 = 0,038

Mengapa asam boraks digunakan untuk menstandarisasi larutan HCl?


Karena larutan Boraks dan HCL dapat bereaksi sempurna sehingga dapat menghasilkan
garam yang bersifat asam. Itu dikarenakan HCL yang bersifat asam kuat dan Borak bersifat
basa lemah. Pada percobaan ini, boraks merupakan larutan standar primer dan HCl
merupakan larutan standar sekunder. Hal ini disebabkan kerena Boraks adalah suatu garam
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

yang bersifat basa lemah, sifatnya yang tidak mudah teroksidasi, boraks cenderung stabil,
selain itu juga boraks ditemukan dalam keadaan murni, tidak korosif. Sedangkan HCl
merupakan larutan gas Cl dalam air . Hal ini memungkinkan kelarutannya mudah sekali
berubah terhadap perubahan suhu, perubahan kelarutan tersebut akan mempengaruhi
konsentrasinya (Nugroho dan Rahayu, 2016).

3. Pembuatan larutan standar NaOH


Berat NaOH : 0,402
Volume larutan NaOH : 100 ml
Molaritas larutan NaOH : 0,1 M
Perhitungan 𝑚 1000
:M= 𝑥 𝑀𝑟 𝑉
𝑚 1000
0,1 = 𝑥
40 100
m = 0,4 g

Mengapa larutan NaOH harus distandarisasi?


Karena logam Na merupakan logam yang sangat reaktif sehingga apabila langsung terkena
air dingin akan mengakibatkan perubahan tekanan, selain itu NaOH masih berbentuk
padatan sehingga harus dilakukan standarisasi terlebih dahulu. Mulai dari diencerkan hingga
sudah menjadi standar (Saraswati, 2015).

4. Standarisasi larutan standar NaOH


Berat Na-oksalat : 0,45 g
BM Na-oksalat : 90 g/l
Volume akuades : 100 ml
Volume larutan NaOH 0,1 M : 12 ml dan 13 ml
Molaritas larutan NaOH : 0,082 M
Perhitungan:
H2C2O4 + 2NaOH  Na2C2O4 + 2H20
𝑚 1000 1 𝑀1+𝑀2
M = 𝑀𝑟 𝑥 𝑉
V1 X M1 = V2 X M2 2
𝑚 1000 0,083 + 0,081
0,05 = 𝑥 12 X M1 = 2 x 10 x 0,05 = 0,082
90 100 2
m = 0,45 g M1 = 0,083
2
V1 x M1 = V2 x M2
12,3 x M1 = 10 x 0,05 x 2
M1 = 0,081

a. Mengapa standarisasi larutan NaOH menggunakan Na-oksalat?


Karena antara NaOH dan asam oksalat terjadi reaksi sempurna. NaOH ( basa kuat ) akan
bereaksi dengan asam oksalat (asam lemah ) membentuk garam yang bersifat basa. Dari
reaksi antara basa kuat dan asam lemah itu akan lebih mudah diamati titik akhir titrasinya.
Pada percobaan ini, asam oksalat merupakan larutan standar primer dan NaOH merupakan
larutan standar sekunder. Hal ini disebabkan kerena Asam oksalat adalah suatu asam
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

lemah, sifatnya yang tidak mudah menguap, asam oksalat cenderung stabil, selain itu juga
asam oksalat ditemukan dalam keadaan murni. Sedangkan NaOH memiliki sifat higroskopis,
yaitu mudah menyerap H2O atau CO2 sehingga mudah dilarutkan didalam air dan memiliki
kestabilan rendah. Mr dari NaOH hanya 40 (Minto, 2009).

b. Mengapa indikator yang digunakan adalah pp (fenolftalein)?


Indikator yang digunakan adalah indikator pp, karena range pH indikator ini 8,5-10,
mendekati range pH garam basa yang dihasilkan, maka dengan indikator ini dapat
menunjukkan titik akhir titrasi yang terbentuk dan ditunjukan dengan perubahan warna
(Minto, 2009).

5. Penetapan kadar asam asetat pada cuka


Volume larutan asam cuka : 10 ml
Volume NaOH (titrasi) : 1,5 ml dan 1,6 ml
Molaritas NaOH : 0,082 M
BM asam organik dominan : 60
Persamaan reaksi : NaOH + CH3COOH  CH3COONA + H2O
Kadar total asam (% b/v) : 7,62%
Perhitungan:
𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑋 𝐹𝑃 𝑚 1000
M1 = 𝑉 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑐𝑢𝑘𝑎
M = 𝑀𝑟 𝑥 𝑉
0,082 𝑥 1,5 𝑥 100 𝑚 1000
= 10
1,271 = 60
𝑥 10
= 1,23 M m = 0,762 g
𝑀 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑥 𝑉 𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑋 𝐹𝑃
M2 = 𝑉 𝑎𝑠𝑎𝑚 𝑐𝑢𝑘𝑎
0,082 𝑥 1,6 𝑥 100 𝑏 𝑚 0,762
= 10
%𝑣 = 𝑣
= 10
x 100%
= 1,312 M = 7,62%
𝑀1+𝑀2
Mtotal =
2
1,23+1,312
2
= 1,271
Apakah prinsip analisis kadar total asam bisa digunakan untuk menentukan keasaman
produk pangan yang lain? Jelaskan contoh aplikasinya!
bisa, misalnya pada produk minuman susu salah satunya adalah kefir. kefir memiliki
rasayang sangat asam, kita bisa menentukan kadar asamnya dengan prinsip analisis kadar
totala asam (Ayustaningwarno, 2014).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

F. KESIMPULAN
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui dan membuat larutan standar HCl 0,1 M,
membuat larutan standar sekunder NaOH 0,1 M dan standar primer H2C2O4, melakukan
standarisasi larutan HCl 0,1 M dan NaOH 0,1 M, menggunakan larutan standar NaOH 0,1 M
untuk menetapkan kadar asam asetat cuka perdagangan. Prinsip dasar percobaan ini ialah
titrasi asam basa digunakan prinsip rekasi penentralan untuk mngetahui kadar atau
konsentrasi larutan asam ditentukan menggunakan lartan asam basa. Titrasi asam basa
melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan
reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan
sebaliknya. Dalam pembuatan larutan 0,1 M HCl diperlukan 0,96 ml HCl. Sesuai dengan
prinsip dan langkah yang ditetapkan untuk menstandarisasi larutan HCl 0,1 M dengan
boraks (Na2B4O7.10H2O) di butuhkan 12,5 ml HCl dengan 1,19 gr boraks dengan hasil
Molaritas larutan HCl yang telah distandarisasi 0,04 M. Untuk membuat NaOH 0,1 M
ditimbang 0,4 gram NaOH. Sesuai dengan prinsip dan langkah yang ditetapkan untuk
menstandarisasi larutan NaOH 0,1 M dengan asam oksalat (H2C2O4.2H2O) dibutuhkan 12,15
ml NaOH dengan 0,45 gr berat Na-Oksalat dengan hasil molaritas NaOH 0,082 M. Dalam
penetapan kadar asam asetat pada cuka dibutuhkan 7,62% kadar asam asetat pada cuka.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

DAFTAR PUSTAKA
Andari, Silowati. 2013. Perbandingan Penetapan Kadar Ketoprofen Tablet Secara
Alkalimetri Dengan Spektrofotometri-UV. 3(2):69-137
Cairns, Donald. 2009. Intisari Kimia Farmasi. Jakarta: EGC
Kenkel, John. 2014. Analytical Chemistry For Technicians. Florida: CRC Press
Maftuchah dkk. 2014. Teknik Dasar Analisis Biologi Molekuler. Yogyakarta: Deepublish
Orey, Cal. 2007. Khasiat Cuka. Jakarta: Kensington Publishing Corp
Planck, Nina. 2007. Real Food. Yogyakarta: B-first
Sujana, Helmy. 2017. Kimia 7 Level. Yogyakarta: Deepublish
Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia. Jakarta: EGC
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas G
Kelompok G1

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Alfian, Zul. 2009. Kimia Dasar. Medan: USU press


Ayustaningwarno, Fitriyono. 2014. Aplikasi Pengolahan Pangan. Yogyakarta: Deepublish
Minto, Supeno. 2009. Interaksi Asam Basa. Medan: USU press
Nugroho dan Rahayu. 2016. Penuntun Praktikum Bioteknologi. Yogyakarta: Deepublish
Saraswati, Indah. 2015. Penuntun Praktikum Kimia. Yogyakarta: Deepublish
Sutardi. 2017. Cara Mudah Belajar Kimia. Yogyakarta: Deepublish