Anda di halaman 1dari 112

Karya Indonesia

EDISI KHUSUS 2013

Batik
Nusantara
Batik of the Archipelago
dari meja redaksi
Batik telah ada dalam masyarakat Indonesia sejak pertengahan abad ke-18, khususnya di Jawa, bahkan telah
menjadi warisan budaya yang turun temurun. Kerajinan batik terkait dengan identitas budaya rakyat Indonesia,
melalui arti simbolik dari warna dan desain yang mengungkapkan kreativitas dan spiritualitas mereka.
Keragaman macam pola batik nusantara mencerminkan berbagai pengaruh, mulai dari kaligrafi Arab, karangan
bunga Eropa, phoenix China, bunga sakura Jepang dan merak India atau Persia. Walaupun batik berasal dari
istana Jawa, beberapa daerah lain di Indonesia juga memiliki batik dengan gaya mereka sendiri batik. Saat ini
sudah ada 23 propinsi di Indonesia yang memiliki corak mereka sendiri seperti dari Aceh, Kalimantan dan Papua.
Bahkan, Kain Batik ini juga banyak dipakai di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.
Batik secara resmi telah diakui sebagai salah satu warisan budaya Indonesia oleh UNESCO dan Indonesia kini
memiliki hari batik yang selalu dirayakan setiap 2 Oktober sejak tahun 2009. Jenis batik yang tercatat sebagai
Warisan Dunia adalah jenis “batik tulis” (baik tulis tangan) dan bukan “batik cap” (printed batik) Selain
dicatatkan dalam UNESCO, salah satu cara lain pemerintah Indonesia untuk melindungi budaya tradisional
Indonesia yang berlangsung di bidang batik adalah melalui “Batik Mark”. Salah satu tujuan adalah untuk
membangun persepsi dunia bahwa batik, yang meliputi praktek mewarnai kain menggunakan metode lilin,
berasal dari Indonesia.
Dengan hadirnya KINA Edisi Khusus 2013, yang menggambarkan batik nusantara dari 23 propinsi ini.
Diharapkan pembaca akan memperoleh inspirasi dan gambaran secara lebih jelas bagaimana batik sebagai
warisan budaya tak benda dapat berkembang di Indonesia. Selamat membaca.

Batik has clung in Indonesian society since mid 18th century, particularly Javanese, it was inherited
culturally. Batik craft is intertwined with cultural identity of Indonesian people and, through the
symbolic meanings of its colours and designs, expresses their creativity and spirituality.
The wide diversity of Indonesian batik patterns reflects a variety of influences, ranging from Arabic
calligraphy, European bouquets and Chinese phoenixes to Japanese cherry blossoms and Indian or
Persian peacocks. While batik originated in Javanese courts, some other regions in Indonesia also have
their own styles of batik. Currently there are 23 provinces in Indonesia has their own motifs such as from
Aceh, Kalimantan and Papua. Moreover, Batik is also widely worn in neighbouring countries such as
Malaysia, Singapore and Thailand.
Batik has officially been acknowledged as one of Indonesian cultural heritage by UNESCO and now
Indonesia has batik day which has been celebrated on every October 2nd since 2009. Type of batik
reinforced as World Heritage is a type of “batik tulis” (hand-written batik) and not “batik cap”
(printed batik). Other than inscripted in UNESCO, one of the Indonesian government’s ways
of protecting its traditional Indonesian heritage takes place in the field of batik is
through ‘Batik Mark’. One goal is to establish the world’s perception that batik-
patterned textile, which includes the traditional practice of dying
cloth through wax-resist methods, originates from
Indonesia.
With “Batikmark”, Indonesia somewhat
combines the concepts of collective and
certification marks. Only batik manufacturers who already
passed their test and sell their products under a registered trademark can
obtain a “Batikmark” certification.
With the presence KINA Special Edition 2013, which describes the batik archipelago of 23
provinces. We hope the readers will gain inspiration and a clearer picture of how batik as an
intangible cultural heritage can flourish in Indonesia. Happy reading.
Daftar Isi Contents

Aktualita insert
Batik Past, Present and Future 6 Museum Batik Pekalongan 68
Sentra Batik Trusmi 70
made in indonesia Kampoeng Batik Laweyan Solo 72
Batik Aceh, Raised After Tsunami Disaster 10
International Batik Center (IBC) 74
Tebingtinggi , The City of Batik in North Sumatra 12
Balai Besar Kerajinan Batik Yogya 76
Padangsari, Batik of The West Sumatra 14
UNIKAL 78
Besurek, Batik of Indigenous People of Bengkulu 16
The uniqueness of Batik Riau 18 Aksesoris Batik
Batik Songket of Palembang 20 Canting Supini 80
The Tremendeous Beauty of Batik Jambi 22 Canting Cap ANALISA 82
Sembagi, The Treasure of Batik Lampung 24 Kancing Batok Kelapa 84
Batik Banten Going Globally 26 Batik Geek 86
The Classic Art of Batik Betawi 28 Dan Liris 88
Batik of The Shrimp City 30 De Living 90
The Glory of Garutan Batik 32 Gitar Batik 92
The Eco Batik from Banyumas 34
Edge of The River Batik 36 Lintas Berita
Traditional Batik of Yogyakarta 38 Gelar Batik Nusantara 2013 94
Classical Batik of Pakualaman 40 Solo Carnival 95
Batik Craft of Jombangan 42
Batik Gedog from Tuban 44 opini
Coastal Batik, Batik Madura 46 Sandiaga S Uno 96
The Beauty of Balinese Batik 48 Carmanita 100
Batik Sasambo-NTB, The Mixture ff “Sasak , Samawa , and Mbojo” 50
Inspiration Motif s of Batik from West Kalimantan 52 APA & SIAPA
Maintaining The Growth of Batik Palangkaraya 54 Batik Komar 104
Batik Sasirangan, Batik of The Royals 56 Dea Valencia 106
Conserving The Unique Pattern of Batik Dayak 58
Bomba Batik from Central Sulawesi 60 TOKOH
The Woven Batik of Southeast Sulawesi 62 Jultin Harlotina Ginandjar Kartasasmita 109
Dobonsolo, Traditional Batik of Papua 64
Natural Dyes of Batik 66

REDAKSI
Karya Indonesia
Pemimpin Umum: Ansari Bukhari | Pemimpin Redaksi: Hartono | Wakil Pemimpin Redaksi : Feby Setyo Hariyono |
Redaktur Pelaksana: Siti Maryam | Editor: Intan Maria | Photografer: J. Awandi | Anggota Redaksi: Hafizah Larasati,
EDISI KHUSUS 2013

Betty Yarsita, Silvano Armada, Dewi Meisni, I Nyoman Wirya Artha

Alamat Redaksi
Pusat Komunikasi Publik, Gedung Kementerian Perindustrian, Lt 6, Jl. Gatot Subroto Kav. 52-53, Jakarta

Batik
Nusantara
Telp: (021) 5255609, 5255509, Pes. 4074, 2174.

Redaksi menerima artikel, opini, surat pembaca. Setiap tulisan hendaknya diketik dengan spasi rangkap dengan panjang naskah 6000 - 8000
karakter, disertai identitas penulis. Naskah dikirim ke redaksi-mi@kemenperin.go.id
Batik of the Archipelago
Majalah ini dapat diakses melalui:
www.kemenperin.go.id

4 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aktualita

Batik
Past, Present and Future
Batik telah secara resmi diakui sebagai salah satu
warisan budaya Indonesia oleh UNESCO, kata
batik itu sendiri berasal dari bahasa Indonesia, dari
suku kata “ba” dan “tik”,artinya ada titik-titik.

Batik has officially been acknowledged as one of


Indonesian cultural heritage by UNESCO. The
word of batik itself comes from Indonesia, from
the syllables “ba” and “tik”, meaning that there
are lots of dots.

T
idak bisa dipungkiri lagi, bahwa batik mengakui batik sebagai warisan budaya Indonesia.
lingkungan kerajaan (keraton) kemudian berubah
merupakan warisan budaya tak benda Pada tanggal 2 Oktober 2009batik Indonesia menjadi fungsi ekonomis di masyarakat, bahkan
bangsa Indonesia.Hal ini sudah diakui memperoleh pengakuan dunia, padahal negara politis karena perkembangan batik di Indonesia
secara internasional melalui organisasi lain pun bisa mengklaimnya. Tapi kata batik itu juga sejalan dengan perkembangan demokrasi di
pendidikan dan kebudayaan dunia yang berada sendiri berasal dari bahasa Indonesia, dari suku tanah air.Karena siapapun kini bisa membuat batik,
di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa kata “ba” dan “tik”,artinya ada titik-titik. Di negara padahal pada awalnya pembuatan batik hanya
(PBB), yaitu UNESCO.Pengakuan internasional lain namanya bukan batik dan cara pembuatannya tertutup/terbatas di lingkungan keraton saja.
ini sangat membanggakan sekaligus merupakan pun berbeda. Namun sampai saat ini tidak pernah
batu loncatan (milestone) yang sangat strategis Bahkan kini sudah sangat terbuka.Kerajinan
ditemukan catatan sejarah tentang asal muasal
bagi bangsa Indonesia mengingat peranan batik batik yang semula hanya terbatas di beberapa
canting dan malam.
yang kini tidak hanya sekadar peninggalan budaya daerah di pulau Jawa, kini tersebar ke 27 provinsi
Pengakuan UNESCO ternyata sangat penting dan masyarakat di tiap daerah merasa memiliki
melainkan juga memiliki fungsi ekonomis yang
dan strategis khususnya sebagai sarana promosi batik mereka. Misalnya, di Tarakan, Kaltim, mereka
sangat penting.
dan marketing.“Kita terperangah, semua langsung membuat batik dengan motif yang diambil dari
Demikian benang merah dari wawancara bikin batik, semua jadi seneng batik. Sampai negara budaya dan lingkungan sekitar seperti flora (daun
majalah KINA dengan Dirjen Industri Kecil Menengah lain pun ikutan, karena dengan terangkatnya batik tanaman atau bunga) dan fauna (jenis-jenis
(IKM) Kementerian Perindustrian, Euis Saedah semua nebeng promosi di situ. Ini merupakan salah binatang tertentu yang khas di sana). Motif-motif
seputar masalah perbatikan di kantornya belum satu batu loncatan (milestone). batik yang ada di suatu daerah tidak akan diklaim
lama ini.Walaupun batik mungkin bukan berasal
Perilaku batik Indonesia cukup unik, perjalanan oleh daerah lainnya karena mereka memang
dari budaya asli bangsa Indonesia, namun budaya
sejarahnya konsisten berevolusi dari hanya terbatas memiliki kekhasannya masing-masing. Seperti batik
batik yang sudah tertanam kuat dalam masyarakat
pada lingkungan keraton hingga meluas ke kalangan Papua, walaupun dibuatnya di Solo, tapi memiliki
adat Indonesia secara berkesinambungan selama
masyarakat umum.Demikian juga dengan fungsinya motif yang khas dan tidak akan diklaim oleh daerah
berabad-abad cukup membuat masyarakat dunia
berevolusi dari hanya sebagai penanda budaya di lain.

6 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aktualita

“Menurut saya batik itu memiliki latar belakang produksi pun menurun. Produksi baru bisa kembali
multidimensi, tidak hanya latar belakang ekonomi, lagi setelah kalangan usia muda tertarik untuk
tapi sosial, budaya, politik dan lain-lain.Jadi, dalam terjun ke industri batik. Itulah dinamika industrinya.
batik itu terkandung makna yang sangat luas bagi “Saya pernah melakukan analisa pada rantai
masyarakat Indonesia.Batik bisa berbicara tentang suplai (supply chain) batik, ternyata industri ini
sesuatu. Karena setiap motif itu memiliki filosofi rentan di hampir semua titik.Ini yang harus kita
tersendiri, termasuk mengapa dibuat motif tertentu, jaga.Misalnya, untuk gondorukem saya langsung
apa tujuannya dan kenapa menggunakan warna panggil Perhutani untuk mengalokasikan pasokan Euis Saedah,
tertentu. Ada yang fanatik menggunakan warna gondorukem ke para perajin batik supaya tidak Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM)
alam dll.,” Euis menjelaskan. semua diekspor walaupun permintaan di pasar Kementerian Perindustrian
Berbicara batik sebagai industri dimana industri ekspor memang tinggi.Pemerintah c.q. Kemenperin
itu merupakan proses peningkatkan nilai tambah, mencoba mengatasi rantai nilai yang mengalami
heritage (budaya), Kemendikbud harus menjaga,
maka batik pun dapat disebut sebagai industri kemandegan. Rantai inilah yang menjadi alat ukur
bahkan para maestro batik itu harusnya dijamin
karena disitu ada nilai tambah. Karna itu, sebagai untuk memonitor industri batik dan industri lain
kehidupannya,” kata Euis.
industri, batik juga dapat dirunut sebagai rantai pada umumnya,” tutur Euis.
nilai, mulai dari bahan baku, produksi (ada SDM Tenaga kerja di industri batik seperti di
Dari sisi ekonomi, batik mengalami peningkatan
yang merancang dan mengoperasikan kegiatan Pekalongan, lanjut Euis, juga berhak mendapatkan
kontribusi terhadap perekonomian nasional secara
produksi), ada teknologi (cap, canting atau sekarang kesejahteraan yang layak seperti tenaga kerja
cukup signifikan dalam satu dekade terakhir ini.
ada printing), ada satandard dan Haki.Disitu juga industri lainnya.Sedangkan untuk batik kreatif yang
Kontribusi industri batik terhadap perekonomian
ada kegiatan/proses promosi dan penjualan, serta terutama dimotori kalangan anak muda, umumnya
nasional dapat dilihat dari dua sisi.Pertama, dari
kelembagaan dan akses ke permodalan. lebih menonjolkan unsur seninya sehingga apa
sisi batik pakem yang cukup besar pengaruhnya
saja dibatik. Sepatu dibatik, mobil dibatik dan lain-
Kalau rantai produksi stabil, maka batik sebagai dan kontribusinya kini meningkat.Kedua, dari sisi
lain.“Ini juga disebut batik kontemporer seperti
industri akan terus eksis. Tapi kalau tiba-tiba terjadi perkembangan batik menjadi tiga segmen, yaitu
batik fraktal dan lain-lain.Umumnya batik ini tidak
goncangan di salah satu mata rantainya, misalnya batik budaya, batik industri dan batik kreatif.
peduli dengan filosofi, dalam hal ini pelakunya lebih
di sisi bahan bakunya, seperti beberapa waktu lalu “Di lapangan faktanya seperti itu.Tetapi mementingkan batik sebagai ungkapan seni.Karena
pernah terjadi kelangkaan gondorukem (bahan memang agak riskan kita memkotak-kotakkan itu, ada kalanya berbagai motif batik dicampur
untuk pembuatan malam), sehingga sebagian seperti itu walaupun faktanya di lapangan untuk mendapatkan batik sebagai seni.Biasanya
perajin batik terpaksa tidak bisa berproduksi. Itu demikian.Orang resisten terhadap perubahan dan produksinya hanya tiga empat buah, tapi harganya
baru dilihat dari simpul bahan baku yang terganggu, tetap fanatik bahwa batik itu harus seperti begini- mahal karena unik.”
belum lagi kalau sisi SDM, seperti misalnya ketika begitu. Tapi masyarakat kan berubah, apalagi sudah
kebanyakan perajin batik sudah berusia tua, maka demokratis seperti ini, suka-suka saja. Untuk batik

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 7


Aktualita

I
t can not be denied, batik is one of the production process is also different. But to date
national cultural heritages. Batik has been the historical records about the origins of canting
recognized internationally by UNESCO, and wax is never found.
the International educational and cultural The UNESCO recognition, in fact is very
organization under the auspices of the United important and strategic, in particular as a
of Nations (UN). This international recognition means of promotion and marketing. “We are all
has given the pride as well as a very strategic flabbergasted, and all people immediately make
milestone to Indonesia, since batik is not merely batik, everybody loves batik. Even, other countries
a cultural heritage but also represents a very follow and emulate to make it, since the raising
significant economic function. of batik popularity leads everyone enjoy the provinces and every community in each region
That is the conclusion drawn from the promotion. It is one of the milestone. assumes their own batik. For example, in Tarakan,
interview Kina magazine with Euis Saedah, the The behavior of Indonesian batik is quite East Kalimantan, they make batik with the
Director General of Small and Medium Industries unique. Historically, it was only used exclusively motifs taken from their culture and surrounding
(SMI) of the Ministry of Industry, in her office by the royal families, but over the course of history environment such as flora (plant, leaf, or flower)
recently. Eventhough batik might not be inherited then evolved into clothing for the general public. and fauna (specific animal found there). The batik
from indigenous Indonesian culture, but the batik Likewise with its function, it has also evolved from motif in certain regions will not absolutely be
culture embedded in Indonesian communities just a cultural characteristic in the palace and claimed by the others because they have their own
for centuries has led International community then changed to act economic function, and even motifs that are different to that of other regions.
to recognize batik as the Indonesian cultural act politically since the development of Indonesian Given the Papua batik, although it is made in Solo
heritage. batik is also in line with the development of the the region, but it has a typical motif differs from other
On October 2 2009 Indonesian batik gained Indonesian democracy. Everyone can now make regions’ .
world recognition, though other countries could and wear batik, whereas initially made and used “I think batik has a multidimensional
claim it. But the word of batik itself comes from in certain area, like in the palace. background, not just economic background, but
Indonesia language, from the syllables “ba” and Currentlay, Batik has widely open. Batik also social, cultural, political background and so
“tik”, meaning that there are lots of dots. In industry which is initially produced at certain forth. So, it implies a very broad meaning for the
other countries, that is not called batik and the area in Java, it has now been produced in 27 Indonesian people. Batik can talk about anything

8 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aktualita

since each motif has its own philosophy, including in the batik industry. That’s the dynamics of the “Thus that is the reality. But a bit risky when
why a certain motif is created, what the purpose industry. we have to compartmentalize like that. Many are
is and why certain colors are selected. There are “I have experienced in doing analysis on reluctant to change and they tend to be fanatics
many that favor to use natural colors fanatically, batik supply chain, in fact it is very vulnerable that batik should be as so-so. But in the currrent
etc, “Euis explained. in all aspects. Therefore, we should maintain it democratic era, the people must change to get a
Speaking batik as an industry, it has a carefully. For example, when there is a problem better life of what they like to be. For the batik
significant contribution to create added value to of gondorukem availability I immediately get in as a cultural heritage, however, the Ministry
national economy. As an industry, batik can also touch with Perhutani to allocate part of its supplies of Education and Culture has to maintain its
be traced as the value chain, from raw materials, to batik industry so not all are exported even the development. Even for batik experts their life
production process, technologies (stamp, canting, export demand is high. The central government should be borne by the goverment, “said Euis.
dyes, printing), standardization, and “Haki”. cq the Ministry of Industry has been trying to “The workforce employed in the batik industry
There are also marketing/promotionno and selling overcome the value chain problems. Such a value such as in Pekalongan, Euis added, are entitled to
activities, as well as organization and access to chain is an instrument to monitor the development receive adequate welfare as other industries. While
capital. of batik industry and other industries in general, for creative batik industry driven primarily by
If the value chain is in stable condition, then “said Euis. young entrepreneurs, they prefer to emphazise to
batik as an industry will be existed continuesly. From the economic aspect, batik industry has the element of arts, so that all things can be objects
But if there is a sudden shock in one of the experienced a significant contribution to national for batik, such as shoes, cars, and so on.” This is
chains, for example, in raw materials such as the economy in the last decade ini. Its contribution referred to what is called as a contemporary batik,
experience of gondorukem scarcity (materials for can be seen from two aspects. First, from the such as fractal batik. In general, a contemporary
making dyes) some time ago which led most batik “batik pakem” (genuine batik) aspect, it has a batik is not concerned with the philosophy,
artisans stopped the production. It is only one considerable influence and its contribution to contemporer batik artisan prefers to emphasize
problem when raw materials are disturbed. Why the national economy incrases steadily. Second, on the expression of arts. That is why, in some
if the problem refers to HRM, such as when most from the development of batik industry aspect, cases, various motifs were mixed to obtain batik
batik artisans are getting old, the productivity, batik industry grows into three segments, namely as an art. Normally, they produce only in limited
of course will decrease. Production will start cultural batik, batik industry, and creative batik number, three or four pieces, but each is costly
increasing when there are the young ages workfoce respectively. because it is considered to be unique. “

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 9


Made in Indonesia

Batik
Aceh
Raised After Tsunami Disaster
Dekranasda Provinsi Aceh berupaya
mendongkrak batik motif Aceh yang
sempat mati suri supaya bisa dikenal luas
di pasar domestik dan internasional. Kini
sudah sekitar 400 motif batik Aceh yang
siap dipasarkan.

M
asyarakat Aceh tak mau berlama-lama larut dalam sutra super, sutra timbul, sutra ATM dan sutra ATBM. “Karena
kesedihan pasca gempa bumi dan tsunami yang produksinya hand made (buatan tangan) maka harga batik Aceh
menghantam Bumi Serambi Mekkah pada 26 sedikit lebih mahal,” imbuhnya.
Desember 2004 lalu. Begitu pun Dewan Kerajinan Berbagai tantangan dihadapi dalam upaya mengembangkan
Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Aceh dalam mengangkat warisan budaya Tanah Rencong. Salah satunya, kata Wakil Ketua
Batik Aceh. Bidang Pengembangan Usaha Dekranasda Aceh Nur Asma,
Selepas tsunami, Dekranasda langsung bergerak menghidupkan karakter dan budaya masyarakat Aceh yang kurang telaten,
kembali industri Batik Aceh yang sempat mengalami mati suri di sementara dalam memproduksi batik membutuhkan ketelitian
era 90-an. Wakil Sekretaris Dewan Kerajinan Nasional Daerah yang tinggi.
(Dekranasda) Aceh, Elita mengatakan, pihaknya mulai merekrut “Memproduksi batik butuh kesabaran dan ketelitian. Sementara
sebanyak 30 orang dari berbagai daerah. orang Aceh lebih suka memasarkan barang jadi yang siap jual,”
“Mereka dilatih dan diberi pendampingan di Dekranasda kata Nur. Kendati demikian, Nur tak pantang menyerah. Sosialisasi
selama tiga bulan supaya mendapatkan keahlian membuat batik. tetap dilakukan supaya masyarakat mau mengembangkan dan
Sedangkan tenaga ahli yang mengajarkan mereka didatangkan berminat menggunakan hasil karya daerahnya sehingga motif
dari pulau Jawa,” ujarnya kepada Media Industri di Balai Rumah dapat lebih dikenal luas secara nasional maupun internasional.
Batik, Banda Aceh. Menurutnya, motif Batik Aceh mulai mendunia sejak
Ada ratusan jenis motif yang berkembang di kota Aceh. Dalam kedatangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing
satu kabupaten/kota saja, Elita bilang, bisa muncul sekitar 20 jenis mendatangi Aceh memberikan bantuan usai gempa dan tsunami.
batik bermotif Aceh. Sementara Provinsi Aceh sendiri memiliki 23 Sayangnya, keberadaan Non Governmental Organization (NGO)
kabupaten dan kota. itu ternyata tidak berdampak terhadap peningkatan pesanan batik
Menurutnya, motif batiknya yang paling diminati adalah ke luar negeri.
rencong, pintu Aceh dan gayo. “Motif batik di Aceh selalu Untuk mendongkrak popularitas batik, lanjutnya,pemerintah
berkembang dan tidak memiliki pakem seperti motif batik asal kabupaten/kota telah memesan untuk pakaian wajib tambahan
pulau Jawa. Ada produk batik yang motifnya campuran dari motif para pegawai negeri sipil di daerah itu. Pihak swasta seperti
tenun Aceh, ” jelasnya. perbankan juga didorong menggunakan seragam batik motif Aceh.
Adapun harga kain batik motif Aceh, kata Elita lagi, antara “Ibu-ibu pejabat di daerah Aceh juga rutin mempromosikan
Rp150.000 hingga Rp1 juta, tergantung dari jenis kainnya. batik motif Aceh untuk melestarikan warisan budaya kami,”
Jenis kain yang sering digunakan yaitu katon morry, doby, piscos, ujarnya.

10 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

A
cehnese people won’t be feel too long in
grief on post-earthquake and tsunami
disaster which hit Bumi Serambi
Mekkah or Aceh on 26th December
2004. So did the Dekranasda in bringing out Batik
Aceh.
After the tsunami, Dekranasda immediately
moved to revive Batik industry in Aceh which
had suspended in 90th era. Deputy Secretary of
Dekranasda Aceh, Elita said, her side started to
recruit around 30 peoples from different region.
“They were trained and supervised in
Dekranasda for three days to get the expertise in
making batik. While the experts who taught them
came from Java Island,” he said to Media Industri
in a Great Batik Hall, Banda Aceh.
There are hundreds type of motif developed
in Aceh. In only one county/city, Elita said, can
appear around 20 types of batik with motif of Aceh.
Meanwhile, the Aceh Province alone has 23 cities.
According to her, the motif in batik which has
the most interest is rencong, pintu Aceh, and gayo.
“These batiks’ motifs in Aceh always grow and not
have standards like Javanese motifs. There is a batik
product which motifs are the combination of motifs
from Aceh’s weaves,” she explained.
painstaking, while in producing batik, we need a
There is also the price for batik with Aceh’s really high accuracy.
motif, Elita said again, in between 150000 Rupiah
“Producing batik needs patience and accuracy.
and 1 million, depending on the type of fabric used.
While people in Aceh prefer to market ready-to-sell
The types of fabric are katon morry, doby, piscos,
Regional office of National Craft super-silk, timbul-silk, ATM-silk, and ATBM-
objects,” Nur said.
Council (Dekranasda) Aceh Province silk. “Because it is produced with hands, therefore Despite of this, Nur doesn’t easily give up.
attempts to boost batik Aceh which Aceh’s batik is relatively expensive,” she stated. Socialization is still on progress so that the society
had temporary inactive to be widely Several challenges faced on the effort of
wants to develop and is interested in using their
known in domestic and internatinal province’s creation so that the motifs can be widely
developing this cultural heritage of Tanah
market, and currently 400 batik known nationally and internationally.
Rencong. One of them, Head Deputy of Business
motif from Aceh are ready for Development in Dekranasda Aceh Nur Asma said, She thought, Batik Aceh started to become
market. the character and culture of people in Aceh are not worldwide since the arrival of foreign non-
governmental organizations which gave helps to
Aceh after the earthquake and tsunami. However,
the existence of these organizations (NGO) didn’t
give any impact to the number of orders of batik to
outside of the country.
To push the popularity of batik, she continued,
the government has ordered additional compulsory
uniforms to civil servants in this area. Private
parties such as banks are also pushed to wear batik
uniforms from Aceh.
“The official’s partners in Aceh are also
promoting batik Aceh in routine to conserve our
cultural heritage,” she said.

informasi | information »
Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Propinsi Naggroe Aceh Darussalam
Jl. Pocut Baren No.11 Banda Aceh
Tel: 0651-32428; 32429
Fax: 0651-32428

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 11


Made in Indonesia

Batik
Tebingtinggi
Tebingtinggi, THe City of Batik in North Sumatra

Keinginan para penggiat

C
batik di Sumatera Utara agar
Tebingtinggi memiliki Batik Tulis ampurtangan pemerintah pusat masih Tebingtinggi menjadi Kota Batik. Rasanya cita-cita
sangat diharapkan agar cita-cita tersebut tersebut tidaklah berlebihan. Pasalnya, daerah itu
Khas Tebingtinggi, akan menjadi
bisa menjadi kenyataan dan industri batik sangat kaya akan ornamen dan corak serta motif
kenyataan. Bahkan tahun 2013,
khas daerah Sumatera Utara tersebut yang bisa dikembangkan dan pasti laku dijual.
akan menjadi tahun kebangkitan dapat tumbuh dan berkembang. Tidak hanya itu, melalui Batik Khas Tebingtinggi,
bagi industri batik di kota lemang
Pemerintah Kota Tebingtinggi, Sumatera kekayaan budaya nasional yang ada di daerah-
tersebut.
Utara melalui Dinas Koperasi UKM Perindustrian daerah akan dapat diperkenalkan melalui batik.
The desire of batik activists in dan Perdagangan telah memanggil pengrajin Trend pakaian bermotif batik belakang ini memang
North Sumatra to promoteTebing batik dari Medan untuk melatih 25 warga remaja menjadi kebutuhan baru bagi para fashoiner di tanah
Tinggi to produce its own batik putri Tebingtinggi agar bisa tampil dan terampil air. Bahkan budaya ciri khas Indonesia ini sangat
menghasilkan motif batik khusus kota lemang itu. digandrungi sampai ke mancanegara sehinggga
tulis will become the reality. Even
Kepala Bidang Industri, Disperindag Kota keberadaan pengrajin batik tanah air menjadi
in 2013, it will be the year of revival
Tebingtinggi, Khadidjah didampimgi Prof Amroini inspirator bagi sejumlah Kabupaten/Kota menggelar
for batik industry in the city of pelatihan batik, agar mampu menghasilkan batik
Dradjat dan Efi Amroini selaku instrukstur saat
lemang (traditional dish made from bermotif khusus khas daerah masing masing.
ditemui di Pusat Pelatihan Batik Tebingtinggi
sticky rice).
menyebut, mereka sudah siap menjadikan Hanya saja lanjut Khadidjah, gerakan mereka

12 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
di daerah untuk bisa melaju kencang mewujudkan The fabric purchased from Java in fact is much
cita-cita luhur tersebut sering terbentur karena cheaper than from Medan. For example, the fabric
keterbatasan fasilitas. ‘’Kami saja hingga sekarang purchased from Pekalongan is only Rp 20,000
masih meminjam meja untuk digunakan para siswa per meter, much cheaper than from Medan which
untuk latihan,’’ jelas Khadidajah. Selain itu, guna costs about Rp 80,000 per meter. Therefore to
mendukung segala kegiatan, mereka masih harus minimize the increasing costs, they really expect
mendatangkan seluruh peralatan dan bahan baku the central government supports, both budgets and
industri batik dari Pulau Jawa. Mulai dari kompor, other facilities. The cultural-based industries, in
kuali, centingan, zat pewarna, lilin sampai pada kain, addition to lift the North Sumatra reputation, can
masih harus diimpor dari Pulau Jawa. potentially produce new entrepreneurs who also
Tentang kain batik dikatakan jika harus dibeli contribute to strengthen both the local economic
di Medan, harganya jauh lebih tinggi dibanding position and the national economy in general.
jika dibeli di Pulau Jawa. Kain batik yang mereka The abstract motif nuanced produced by the
peroleh dari Pekalongan dengan harga Rp 20.000 per talented young women is depicted over cotton fabric
meter, di Medan harganya mencapai Rp 80.000. Nah, cotton with a large flower motif while showing a
untuk meminimalisasi biaya yang membengkak itu, parrot, the struggle monument of December 13,
mereka sangat mendambakan uluran tangan serta bamboo trees as one of the main icons of the Lemang
dukungan pemerintah pusat, baik dana maupun city, By depicting the characteristic of the regions,
fasilitas lainnya. Industri berbasis budaya daerah itu it is expected that the presence of its own batik will
selain dapat mengangkat nama harum Sumatera be accepted by local community and at the same
Utara, juga sangat potensial untuk melahirkan time it will be able to attract local consumers to
wirausaha-wirausaha baru yang sekaligus berperan have it. It is highly possible that Tebing Tinggi
memperkuat posisi ekonomi daerah yang berdampak traditional batik will also enrich the Indonesian

B
positif terhadap ekonomi nasional. batik culture and foreign tourists are expected to be
ut the intervention of central government interested in wearing batik Tebing Tinggi as well.
Motif batik bernuansa abstrak hasil karya remaja is still expected to realize the dream, and
putri berbakat itu dituangkan melalui kain jenis katun This step is one of efforts to secure government
the traditional North Sumatra batik
dengan motif bunga besar sembari menampilkan program on One Village One Product (OVOP).
industry will grow and thrive.
burung beo, tugu perjuangan 13 Desember, pohon ‘’ This is one of the near future main product of
The local government of Tebing Tinggi City, Tebing Tinggi,’’ explained Khadidjah. Handmade
bambu sebagai salahsatu ikon kota lemang, geronak
North Sumatra through the Local Ministry of batik made in Tebing Tinggi is expected not to
lemang dan esa hilang dua terbilang. Dengan
Industry and Trade had called batik craftsmen replicate other region’s patterns so that needs to
menampilkan ciri-ciri daerah diharapkan kehadiran
from Medan to train 25 young women residents be patented soon.
batik tersebut akan semakin dapat diterima oleh
of Tebing Tinggi to acquire the skills and knowledge
masyarakat setempat dan sekaligus mampu
of producing typical Lemang batik design.
menarik minat konsumen lokal untuk memilikinya.
Tidak mustahil juga batik khas Tebingtinggi akan The Head of Industrial sector, Local Ministry
memperkaya khasanah budaya batik di Indonesia of Industry and Trade of Tebing Tinggi, Khadidjah,
dan diharapkan turis-turis mancanegara akan accompanied by Prof. Efi Amroini Amroini Dradjat
tertarik juga untuk mengenakan batik Tebingtinggi. as instructors in Batik Tebing Tinggi Training
Center stated that they’re ready to promote Tebing
Langkah ini juga merupakan salah satu upaya
Tinggi to become Batik City. It seems this dream
untuk mengamankan program pemerintah One
is not excessive since this region owns so many
Village One Produk (OVOP). ‘’Inilah nanti salah satu
ornaments, patterns, and motives that could be
produk unggulan Tebingtinggi,’’ jelas Khadidjah.
economically developed.
Motif batik tangan karya Tebingtinggi tersebut
diharapkan tidak meniru corak daerah lain sehingga Not only those mentioned above, through
perlu untuk segera dipatenkan. Typical Tebing Tinggi batik, the national cultural
assets scattered in many regions can be introduced
through batik. The trend of batik clothing becomes
a new business opportunity for fashionista in the
country. The typical Indonesian culture is highly
favored even for foreign countries so that the
availability of batik craftman leads a number of
Districts/Cities conduct the batik training in order
to produce its own typical batik motif.
Khadidjah added, their actions to speed up in
realizing their dreams often face the problem of informasi | information »
limited facilities. ‘’We still borrow the tables for
student’s training activities,’’ explained Khadidjah. Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Propinsi Sumatera Utara
In addition, to support all training activities, they Jl. Putri Hijau No.6 Medan 20001
still have to bring in the equipments and raw Telp: 061-4514648; 4522471; 4525655
materials for batik from Java such as stoves, pots, Fax: 061-450067; 4525566
centingan, dyes, wax, and fabric. Fax: 0761-28066

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 13


Made in Indonesia

Batik Padang
Padangsari, Batik of The West Sumatra
Sumatera Barat memang lebih dikenal dengan kerajinan tenunannya.
Namun bukan berarti kerajinan batik tidak mendapat tempat di
provinsi tersebut. Kerajinan batik secara perlahan tapi pasti kini
bermunculan di daerah-daerah di Sumatera Barat.

West Sumatra has known as province of the woven crafts . However, it


doesn’t mean that the batik is not be admired. Batik has slowly to be
emerged in some West Sumatra regions.

M
ereka pun mengembangkan motif- satu motif seperti motif tanaman sawit atau Menurutnya, besarnya antusias masyarakat ini
motif yang bercirikan kehidupan gabungan dari motif tanaman sawit dengan motif tentunya menjadi modal bagi perajin batik Sumatera
masyarakat di daerah tersebut, baik itik pulang patang. “Semua itu bergantung pada Barat untuk terus menggali motif-motif baru yang
dari sisi budaya maupun kekayaan pesanan,” jelasnya. mencerminkan kekayaan budaya dan kekayaan
alamnya. Dalam proses produksi, Nurkholis membuat alam dari provinsi tersebut. “Potensi ini harus
Salah satu perajin batik yang mengusung sendiri desain motif-motif yang akan diluncurkan dimanfaatkan oleh para perajin batik di Sumatera
motif budaya dan kekayaan alam Sumatera Barat pada kain batik. Setelah motif ditulisnya di atas Barat, termasuk batik Padang Sari,” paparnya.
adalah Nurkholis. Pria setengah baya ini menggeluti kain primisima atau sutera, penyelesaian akhirnya
kerajinan batik di Dharmasraya, salah satu dikerjakan oleh karyawannya.
kabupaten di Provinsi Sumbar.“Saya baru tiga tahun Dalam sehari, dia mampu menghasilkan 10
terjun di sektor kerajinan batik,” ujarnya. Nurkholis lembar kain batik tulis dan 15 lembar kain batik
merupakan satu dari dua perajin batik yang ada di cap. Walaupun keberadaannya belum lama, namun
Kabupaten Dharmasraya. batik Padang Sari sudah banyak dikenal masyarakat
Besarnya minat masyarakat, khususnya di di Sumatera Barat. Ini dibuktikan dengan banyaknya
Sumatera Barat, terhadap kain batik menjadi pemicu pesanan yang datang dari sejumlah daerah di provinsi
Nurkholis untuk terjun sebagai perajin batik. “Saya tersebut.“Pesanan mulai banyak. Ada yang untuk
melihat banyak masyarakat yang gemar batik . keperluan pribadi dan ada juga untuk keperluan
Sayangnya kebanyakan batik yang beredar adalah seragam kantor,” paparnya.
batik dengan motif dari daerah lain,” katanya. Tak puas bermain di pasar daerah, Nurkholis pun
Karena cintanya terhadap tanah kelahirannya, berusaha untuk memperluas pasar batik Padang Sari.
Nurkholis pun memilih untuk membuat batik dengan “Saya ingin memperkenalkan batik Sumatera Barat
mengutamakan motif-motif yang menggambarkan secara lebih luas tidak hanya kepada masyarakat di
kekayaan budaya dan alam Minangkabau. Maka, Sumatera Barat saja, tetapi juga masyarakat yang
kain batik yang dihasilkan Nurkholis dengan merek ada di daerah lainnya,” ungkap Nurkholis.
dagang Batik Padang Sari kebanyakan bermotifkan Sejumlah pameran kerajinan batik yang digelar
daun kelapa sawit, ketok palu padang balimbiang, di sejumlah kota di Indonesia pun diikutinya.
itik pulang patang dan sangkiang. Apalagi Dinas Industri dan Perdagangan Kabupaten
Menurutnya, motif kelapa sawit dipakai untuk Dharmasraya ikut memberikan dukungan terhadap
menggambarkan kemakmuran dan keberadaan batik Padang Sari dengan mempromosikannya
tanaman tersebut di Sumatera Barat, khususnya di dalam beberapa kegiatan pameran.
Dharmasraya. “Sedangkan motif ketok palu padang Nurkholis mengakui kalau sambutan masyarakat
balimbiang dan itik pulang patang menggambarkan dari berbagai daerah terhadap batik Sumatera Barat
keindahkan seni ukir masyarakat di daerah ini,” cukup besar. Hal ini terlihat dari antusias masyarakat
jelasnya. untuk membeli batik Padang Sari dalam berbagai
Untuk selembar kain batik, dia bisa membuat pameran.

14 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

T
hey also explored their own motifs that in West Sumatra, particularly in Dharmasraya. said Nurkholis.
reflecting the lives of people like a culture Whereas, ketok palu padang balimbiang and itik He was participated of batik exhibitions which
and natural resources. pulang patang and sangkiang motifs represent the held in several cities in Indonesia. Moreover,
A person who made the Cultural and beautifulness of artcraft. the Industry and Commerce local agency of
Natural motifs of West Sumatra is Nurkholis. He For one sheet of batik, he could make just one Dharmasraya District has also contributed to the
involves Batik industry in Dharmasraya, one of the motif only, such as palm motif or even combination developing of Padang Sari batik by conducting
districts in West Sumatra province. “I have been of palm motif and itik pulang patang. “It all depends promotion through many exhibition activities.
involving in batik industry since three years ago” on the request,” he explained. Nurkholis argues that West Sumatra batik has
He said. Nurkholis is one of two batik Craftmans In the process of production, Nurkholis creates been accepted in other provinces. It can be shown
in the Dharmasraya district. his own design motifs which will be drawn on batik. from large number of selling Padang Sari batik in
The High interest of the people at West Sumatra After designing motif on primisima or woven silk various exhibitions.
has motivated Nurkholis to dedicate his life as batik has been finished, the next steps for each process The huge of public enthusiasm to Padang Sari
craftman. “I know there are a lot of people here love will handled by his employees. batik, of course becoming the motivation for batik
batik, but unfortunately, most of the sold batik is At one day, he could make 10 sheets of batik craftman to continuously explore new motifs that
coming from other province, “he said. tulis and 15 sheets of printed batik. Although his reflecting the cultural and natural resources of
Due to his love for his hometown, Nurkholis existence has not been long, but Padang Sari batik West Sumatra. “The large potential market is a
prefers to make batik with priority to the motifs has been much known in West Sumatra region. It big opportunity especially for the batik craftman
that describing the cultural and local natural of can be seen by the number of orders from some of in West Sumatra, includes Padang Sari batik,” he
Minangkabau. Thus, the batik which has made regions in the province. “The orders are increasing, explained.
by Nurkholis with “Padang Sari” trademark both for personal and also for the office uniform
are mostly identified by palm leaves motif, ketok need, “he said. informasi | information »
palu padang balimbiang, itik pulang patang and He is not satisfied in selling at local market, he Batik Padang Sari
sangkiang motifs. tried to expand the market of Padang Sari batik. “I Jorong Padang Sari, Nagari Tabiang Tinggi
He explained, the palm motifs are used to describe would like to introduce Padang Sari batik not only Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya
the prosperity and the existence of these plants in West Sumatera, but also to other provinces,” Telp/Fax: 081275137378

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 15


Made in Indonesia

Batik Bengkulu
Besurek, Batik of Indigenous People of Bengkulu

K
ekayaan seni budaya berbagai suku dan pengetahuan/keterampilan membatik yang
Bangsa Indonesia memang bangsa itu menyimpan potensi ekonomi diwariskan secara turun temurun, Hj. Rosmani
memiliki seni budaya yang sangat yang sangat besar apabila dikembangkan memberanikan diri membuka usaha tersebut.
kaya. Banyaknya suku bangsa dengan baik dan secara professional. Dengan mempekerjakan 12 orang karyawan, Hj.
yang mendiami wilayah Indonesia Salah satu contoh kekayaan seni budaya itu Rosmani setiap minggunya mampu memproduksi
ternyata makin memperkaya adalah kain Besurek Bengkulu. Kain tradisional yang kain Besurek tulis sebanyak 100 meter. Untuk
khazanah kebudayaan nasional satu ini tidak lain adalah kain batiknya masyarakat pembuatan kain Besurek tulis ini, Hj. Rosmani
yang terbentang mulai dari adat yang ada di wilayah Bengkulu. Sebab, semua biasanya menggunakan bahan kain katun dan
Sabang sampai Merauke. proses pembuatan kain besurek sama persis dengan sutera. Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan
proses pembuatan kain batik di pulau Jawa. Yang pasar, Rosmani juga memproduksi kain Besurek
Indonesia has many diverse cultures membedakan hanyalah motif atau corak dan printing yang terbuat dari bahan sun wash sekitar
of arts. So many ethnic groups pemilihan warna pada batik yang lebih banyak 7.500 meter per tahun. Namun kain Besurek printing
inhabiting the Indonesian regions in mengambil motif atau warna warni yang sesuai tersebut tidak diproduksi sendiri oleh Hj. Rosmani
turns increasingly enrich the wealth dengan nilai seni budaya setempat. melainkan diproduksi oleh pabrik kain printing di
of Indonesian cultures spreaded Pulau Jawa atas pesanan desain dan motif dari Hj.
Secara harfiah, kata Besurek sendiri berarti
from Sabang to Merauke. Rosmani.
menulis. Karena itu, yang disebut dengan kain
Besurek pada awalnya selalu diasosiakan dengan “Sebelumnya kami sempat memiliki karyawan
kain batik tulis. Namun dewasa ini banyak juga sebanyak 25 orang yaitu tepatnya pada tahun
berkembang kegiatan produksi kain Besurek cap dan 2000. Jumlah karyawan itu sengaja kami kurangi
Besurek printing. karena pesanan kain Besurek kami juga mengalami
Adalah Hj. Rosmani Adjis, sosok seorang penurunan. Hal itu terjadi karena di Bengkulu sendiri
pengusaha wanita, yang memulai memelopori kini makin banyak orang menerjuni usaha kerajinan
pengembangan kain Besurek Bengkulu tersebut. kain Besurek. Jadi, kini makin banyak pemain baru
Pada tahun 1968 Hj. Rosmani mulai merintis usaha di industri kerajinan kain Besurek ini, tapi bagi kami
pengembangan industri kerajinan kain Besurek itu tidak menjadi masalah, kita bagi-bagi rejekilah,”
Bengkulu itu dari nol. Dengan berbekal semangat tutur Hj. Rosmani.

16 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
Produk kain Besurek buatan Hj. Rosmani
cukup dikenal di kalangan masyarakat Bengkulu.
Di pasaran, kain Besurek buatan Hj. Rosmani dijual
dengan menggunakan merek ‘Limura’. Hj. Rosmani
mengaku sampai saat ini pemasaran kain Besureknya
masih terbatas di wilayah Bengkulu. Namun pada
waktu-waktu tertentu banyak juga pembeli yang
datang dari daerah lain untuk berbelanja kain
Besurek.
Hj. Rosmani biasanya menjual kain Besurek tulis
dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan
kain Besurek printing. Sebagai perbandingan, satu stel
bahan kain Besurek printing biasanya dijual dengan
harga Rp 50.000 sampai Rp 75.000, sedangkan kain
Besurek tulis yang terbuat dari bahan sutera dijual
dengan harga paling tidak Rp 1,25 juta.

T
he wealth of arts and cultures due to the decrease of orders. It happened since the
embedded in the various ethnic groups number of artisans producing Besurek clothes
hold enormous economic potential when has been continually increasing. So, more and
they are properly and professionally more new players coming in and engage in the
developed. competition, but for us it is not the problem, we
An example of art and culture is Besurek share profits, “said Hj. Rosmani.
Bengkulu. This Traditional cloth is none other than Besurek products made Hj. Rosmani are well
indigenous batik that is exist in Bengkulu region, known in Bengkulu region. In the market, they are
since all of the production processes are exactly the sold by using ‘Limura’ brand. Hj. Rosmani has
same as that in Java. What distinguishing them is claimed that her products are only marketed in
only motif or pattern and color selection in which the local market, only in Bengkulu. But at certain
Besurek Bengkulu is more colorful in line with the occasions many buyers from other regions coming
local value of art and culture. to buy her products.
Literally, the word Besurek itself means She usually sells Besurek hand-writing clothes
writing. Therefore, the so-called Besurek cloth with a more expensive price than the Besurek
is initially always associated with hand-writing printed clothes. For comparison, a new set of
batik. But today the production of stamps and Besurek printed clothes usually are sold at a price
printing Besurek are also growing. of Rp 50,000 to Rp 75,000, while Besurek hand-
She is Hj. Rosmani Adjis, the tough woman writing clothes made from silk materials are sold
entrepreneur, who started pioneering the at a price of at least USD 1.25 million.
development of the Bengkulu Besurek. In 1968 Hj.
Rosmani began to run her business from scratch.
Armed with the high spirit and batik knowledge
and technique inherited from her predecessors, she
started opening the business.
By employing 12 workers, Hj. Rosmani can
produce Besurek for about 100 meters per week. For
the production of Besurek hand-writing batik, the
raw materials used are cotton and silk materials.
To meet the market demand, in addition, she also
produces Besurek printed clothes made of sun wash
in amount of about 7,500 meters per year. However,
Besurek printed clothes are not produced by Hj.
Rosmani herself, but they are manufactured by informasi | information »
printed batik factory in Java-in which the design Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah,
and motif are determined by Hj. Rosmani. Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Bengkulu
Jl. S. Parman No.21 Bengkulu
“Previously, we employed 25 people in 2000. Telp. (0736) 21275; 21287
The number of employees was deliberately reduced Fax (0736) 342875, 26272

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 17


Made in Indonesia

Batik Riau
S
The uniqueness of Batik Riau
alah satunya adalah Provinsi Riau yang
kini turut melekatkan warisan budaya itu
dengan nama batik Riau.
Muhammad Rizki, Manager Batik pada
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda)
Provinsi Riau mengatakan bahwa Gedung
Dahulu, batik merupakan Long time ago, batik was as one Dekranasda yang berada di Jalan Sisingamangaraja
salah satu tradisi dari produk of the traditional clothes from the Nomor 140, Pekanbaru, merupakan tempat bagi
kebudayaan Tanah Jawa yang Javanese culture and its production para perajin batik Riau pemula. Mereka melatih
hingga hari ini terus berkembang currently has been developed keterampilan dalam mendesain dan mengukir motif-
dengan begitu pesat. Perlahan, significantly. Slowly, several motif di atas kain. Saat ini para perajin batik yang
provinces outside Java also adopted terlatih, tersisa delapan orang dengan hasil produksi
berbagai wilayah luar Jawa juga
yang tidak begitu banyak.
turut mengadopsi batik namun this Batik with their individual
dengan pola dan motif yang unique pattern and motif that makes Menurut ceritanya, batik Riau telah hadir sejak
they have special characteristics. 1985 melalui ide untuk melestarikan desain dan
berbeda-beda hingga memiliki
budaya Riau Melayu melalui kain dan pakaian adat
cirikhas tersendiri.
bercirikhas. Namun dengan berbagai kendala, Batik
Riau baru diluncurkan pada tahun 2005.

18 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
Sejak diluncurkan, batik Riau telah memberikan
manfaatkan yang cukup besar bagi daerah maupun
masyarakat sekitar. Meski kerap berganti-ganti
perajin, demikian Rizki, batik Riau tidak pernah
“luntur” dari cirikhasnya, yakni baduan warna dan
desain motif yang berbeda dengan batik-batik pada
umumnya.
Kalau batik Jawa identik dengan keris dan
wayangnya yang begitu melegenda serta memiliki
banyak variasi motif, batik Riau justru lebih terkesan
harmonis dengan motif bunga-bunga berpadu
dengan nuansa warna yang lembut serta alur tegak
lurus yang disebut sebagai tabir.
Dengan motif alur tegak lurus ini, menurut
dia, akan memberikan kesan mewah dan pengena
pakaian batik khas ini akan tampak lebih langsing.
Sampai saat ini, menurut Rizki, batik Riau telah
memiliki lebih dari 300 motif dengan perpaduan

A
warna-warna lembut.
Namun diantara sekian banyak motif tersebut, s an examples is Batik from Riau berhias, matahari bertabur kuntum, mekar kuntum
yang telah dipatenkan haknya adalah sebanyak 39 province that expresses the traditional bersanding, kapas putri berhias, matahari bertabur
motif, semisal motif kembang berisi keluk anak, culture named Batik Riau. kuntum, and cengkeh mekar penuh.
kembang penuh putri berhias, daun paku buluh Muhamad Rizki, manager of Batik at Until now, according to Muhammad
bertunas, kembang berhias tumpang tindih, bunga National Regional Craft Council (Dekranasda) at Rizki, Riaunese Batik has already known not
matahari mutiara bersusun, bunga mekar kuntum Riau province says that the Dekranasda building only in domestic but also internationally with
bersanding, bunga kapas putri berhias, bunga located in 140 Sisingamangaraja Street, Pekanbaru “travelling around” the world from the time
matahari bertabur kuntum, dan motif bunga cengkeh is a place where amateur batik craftsmen/artisans it was initially launched. By participating in
mekar penuh serta masih banyak lagi. learn Batik. They trained in designing and making international promotion periodically such as at
Sampai saat ini, menurut Muhammad Rizki, such motifs on fabric in order to create particular Japan, Netherlands, France, Belgium, Malaysia,
Batik Riau telah dikenal tidak hanya di dalam negeri, Batik products. Now, sadly, there are only eight Singapore, and many others through a government
namun secara mancanegara dengan “berkeliling” of expertized craftman remaining in this building. event.
dunia sejak awal diluncurkan. Dengan berulang kali Based on his story, Batik Riau has existed Although well-known around many developed
mengikuti promosi mancanegara seperti ke Jepang, since 1985 with the idea of conserving the culture countries, the market area for this Batik is still
Belanda, Prancis, Belgia, Malaysia, Singapura, dan of Riau Melayu through these fabrics and unique “circling around” inside its own region where it
sejumlah negara lainnya lewat ragam kegiatan traditional costumes. However, with all of the was made with constantly decreasing customers.
pemerintah. problems that happened, Batik Riau was just only Moreover, the government of Riau Province
Meski telah dikenal luas di berbagai negara- launched at 2005. nowadays has a difficulty in marketing this kind
negara maju, pangsa pasar batik Riau tetap Since the launch, Batik Riau has given a of Batik into a wider range. “One of the problem is
“berputar-putar” di daerah sendiri dengan jumlah great benefit to a big part of society even though a limited knowledge of the society about Batik and
peminat yang terus menurun. Bahkan pemerintah sometimes, craftman come and leave, Riau Batik the tight competition in the industry”, Rizki said.
daerah saat ini kesulitan untuk memasarkan batik has never been “fading” from its unique patterns The price that is relatively high makes the
Riau secara luas dengan berbagai kendala. “Salah either in the combination of the colours or the motifs public to show a less interest. “Only a part of
satunya, minimnya pengetahuan masyarakat design which differ from the other Batik in general. community who can be counted as rich is able to
tentang batik dan persaingan industri yang begitu afford batik Riau”, he thought. Even so, he said,
If the Javanese Batik is identical with icons such
ketat,” katanya. the spirit to keep this cultural heritage must still
as “keris” and “wayang” that are well-known from
Harga yang begitu mahal membuat batik Riau time to time and have many variations in it pattern, exist with the tricks in the development. One of
tidak begitu diminati kalangan masyarakat secara Batik Riau gives an impression of harmony with them is to teach the children across the country to
luas. “Hanya golongan masyarakat kaya raya yang the flower’s motifs mixed with smooth colours and afterwards develop batik in where they come from
bisa membeli batik Riau,” ujarnya. Kendati demikian, a perpendicular plot known as “tabir”. individually. It is really hoped that Riaunese batik
kata dia, semangat untuk mempertahankan warisan is not only travelling the world, but also successes
With this perpendicular plot, the Batik will
budaya tersebut harus tetap ada dengan kiat-kiat in getting the profit with widening the market area
give a classy-look impression and the wearer of this
pengembangan. Salah satunya yakni melatih anak- up to outside the country.
Batik will also look better in shape. Until now, based
anak daerah untuk kemudian mengembangkannya
on Rizki, Batik Riau has had more than 300 motifs
di daerah masing-masing. Sangat diharapkan,
with a combination of smooth colours.
demikian Rizki, batik Riau tidak hanya sekedar informasi | information »
berkeliling dunia, tetapi juga berhasil meraup However, around these many motifs, there
keuntungan dengan meluaskan pangsa pasar hingga are only 39 motifs are patented such as flowers Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Riau
ke mancanegara. motif include keluh anak, penuh putri berhias, Jl. Jend Sudirman No.460 Gedung Menara
palu buluh bertunas, tumpang tindih, matahati Lancang Kuning Lt.5 Pekanbaru, Riau
Telp: 0761-22900; 23200; 23300
mutiara , mekar kuntum bersanding, kapas putih
Fax: 0761-28066

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 19


Made in Indonesia

Batik Songket of Palembang

Batik Selama ini, Palembang lebih


dikenal sebagai Kota Pempek dan
penghasil songket. Namun, siapa
sangka ternyata kota tersebut
juga menyimpan kekayaan seni

Palembang
batik yang tidak kalah dengan
daerah lain di Indonesia.

Palembang, so far is known as


the City of Pempek and “songket”
producer. Evidently, this city also
holds batik arts that are not inferior
to other regions in Indonesia.

Y
ang menarik, motif batik Palembang tidak “Ada juga pembeli yang datang ke lokasi
ada yang bergambar binatang. Hal itu pembuatan batik langsung,” tegasnya. Batik dengan
disebabkan pengaruh ajaran Islam yang merek dagang Lela Songket itu dijual dengan harga
melarang simbol manusia dan binatang Rp100.000—Rp350.000 per pieces yang disesuaikan
untuk dijadikan hiasan. Motif batik Palembang yang dengan bahan kainnya. Paling mahal Rp350.000 per
terkenal motif Lasem dan motif Bunga Teh. Motif pieces untuk batik songket benang emas.
Lasem ramai dihiasi dengan simbol tanaman atau Produsen batik yang berlokasi di Jalan KH
bunga dan dihiasi pula dengan garis-garis simetris, Azhari 4 Ulu Laut Lorong Kamasan RT 21 No 1367
sedangkan motif Bunga Teh kainnya dipenuhi dengan Palembang ini mampu menjual 300 potong kain batik
gambar bunga teh. dan memiliki omzet tak kurang dari Rp10 juta per
Motif batik Palembang lainnya, seperti Kembang bulan.“Bila digabung dengan souvenir, penjualannya
Jepri, Sisik Ikan, Gribik, Encim, Kembang Bakung, mencapai Rp12 juta tiap bulan. Kami juga sering
Kerak Mutung, Sembagi, dan Salahi. Menurut salah memberikan pelatihan-pelatihan kepada UMKM
seorang pengrajin, Masayu Lela, batik Palembang (usaha mikro kecil dan menengah),” ungkapnya.
menggunakan beberapa bahan, mulai dari sutra, Di tengah kurang tenarnya nama batik
organdi, jumputan, katun, hingga blongsong. Bahan Palembang di mata masyarakat, dia mencoba untuk
baku batik tersebut diperolehnya dari Surabaya, Jawa terus menyosialisasikannya dengan mengikuti
Timur, berupa bahan polos sutra dan semisutra. sejumlah kegiatan regional maupun nasional, seperti
Setelah diperoleh, kemudian kain tersebut dicelup. Pekan Raya Jakarta (PRJ) atau pameran yang digelar
Dalam pembuatannya, batik Palembang sedikit Kementerian Perindustrian dan kementerian lainnya.
berbeda dengan pembuatan batik di Jawa pada “Perlu waktu yang lama untuk memperkenalkan
umumnya. “Kalau di Jawa, kain yang akan dibatik kembali batik Palembang,” tuturnya.Menurutnya,
cukup disampirkan kemudian dibatik. Akan tetapi, memang tidak mudah untuk menemukan pebatik
kalau batik Palembang, kainnya dibentangkan khas Palembang yang mau menggunakan media
dengan kencang, baru kemudian dibatik,” ujarnya. canting atau menulis kain sehingga jadi batik saat ini.
Pengrajin batik yang biasa disapa Cek Lela ini Pengrajin batik Palembang sedikit sulit untuk
menuturkan pewarnaan biasanya menggunakan ditemui. Karena itu, perlu dukungan beberapa pihak
warna cerah khas Melayu, seperti merah, kuning, untuk tetap melestarikan seni budaya batik ini.
dan hijau terang. Pihak Kesultanan Palembang berupaya melestarikan
Batik yang diproduksinya dipasarkan ke toko- kekayaan seni dan budaya peninggalan nenek
toko besar, seperti supermarket. Pemasarannya moyang mereka tersebut, tentunya dengan menggali
meliputi di provinsi Sumatera Selatan sendiri dan dan mengumpulkan serta memproduksi kembali
bahkan sudah ke luar provinsi, Jambi dan Jakarta. batik tulis.

20 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

I
nterestingly, there are no animal patterns for is Rp350.000 per pieces for Songket Batik with gold
Palembang batik. It is due to the influence thread.
of Islam forbiding the symbol of people and The batik producers locating in Jalan KH
animals to be used as garnish. The famous Azhari 4 Ulu Laut Lorong Kamasan RT 21 No.
motifs used in Palembang batik are Lasem motif, 1367 Palembang is able to sell 300 pieces of batik
and Tea Flower (Bunga Teh) motif. The Lasem motif cloth and has a turnover more than Rp 10 million
is decorated with lots of plant pictures or flowers per month. “When the sale of souvenirs is added,
and also added with symmetrical lines, while the Tea the sales reached Rp12 million per month. We also
Flower motif contains full of flower tea. often provide training to MSMEs (micro, small and
Other motifs are, for examples, Kembang Jepri, medium enterprises), “she said.
Sisik Ikan, Gribik, Encim, Kembang Bakung, Kerak In order to promote the popularity of Palembang
Mutung, Sembagi, and Salahi. According to an batik in the society, she has tried to continuously
artisan, Masayu Lela, Palembang batik uses several promote it by following a number of regional and
materials such as silk, organdy, jumputan, cotton, national events, such as the Pekan Raya Jakarta
and blongsong. The batik raw materials are obtained (PRJ) or exhibitions organized by the Ministry of
from Surabaya, East Java, in the form of plain silk Industry and other ministries.
and semi-silk. After raw materials are ready, then
“It takes time to re-introduce Palembang batik,”
they are dyed.
she explained. According to her, it is not easy to find
In the production process, there is a quite typical Palembang batik artisan who is ready to use
different between producing Palembang batik and the canting media or writing directly on fabric to
Java batik. “Java batik, the fabric to be made batik is be batik.
simply draped and then painted to be batik. However,
The number of Palembang batik artisans are
for Palembang batik, the fabric is stretched tightly,
limited. Therefore, it requires supports from various
then painted, “he said.
parties to preserve and develop Palembang batik. The
One of Palembang batik artisan, commonly Sultanate of Palembang has tried to preserve the
called Cek Lela argues that dyeing process usually wealth of art and cultural heritage of their ancestors,
uses bright colors typical of Malay, such as red, of course by developing and producing Palembang
yellow, and green light. Her products is sold to the batik.
big stores, such as supermarkets. Its market includes
the area of South Sumatra province itself and other
province such as Jambi and Jakarta. informasi | information »
“There are also buyers who come directly to the Dinas Perindustrian dan Perdagangan
site of production,” she said. Her batik with “Lela Propinsi Sumatra Selatan
Songket” trademark is sold at the price of 100,000- Jl. Kapten A. Rivai No. 408 Palembang
Telp: 0711-310447; 350408; 350302
Rp350.000 per pieces, and the most expensive one
Fax: 0711-310447

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 21


Made in Indonesia

THE TREMENDEOUS BEAUTY OF BATIK JAMBI

Jambi
Pada zaman dahulu batik Jambi
hanya dipakai sebagai pakaian
adat bagi kaum bangsawan/raja
Batik
M
otif batik yang diterapkan pada waktu
itu berupa motif-motif ragam hias
seperti terlihat pada ukiran rumah adat
Jambi dan pada pakaian pengantin,
“Motif pokok pada batik Jambi sangat sederhana,
tidak rumit dan cenderung konvensional. Mencirikan
watak asli masyarakat Melayu Jambi. Jika ada motif
batik Jambi yang rumit dan detailnya kompleks, maka
Melayu Jambi, hal ini berawal motif ini masih dalam jumlah yang terbatas. bisa jadi itu adalah motif pengembangan baru yang
Penggunaan motif batik Jambi, pada dasarnya muncul pada dekade 80-an,” katanya mantan Kepala
pada tahun 1875, Haji Muhibat
sejak dahulu tidak dikaitkan dengan pembagian Taman Budaya Jambi ini.
beserta keluarga datang dari
Jawa Tengah untuk menetap kasta menurut adat, namun sebagai produk yang Asianto Marsaid dalam bukunya Pesona
masih eksklusif pemakaiannya dan masih terbatas Batik Jambi yang diterbitkan oleh Kantor Wilayah
di Jambi dan memperkenalkan
di lingkungan istana. Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi pada
pengolahan batik
Sejalan dengan perkembangan waktu dan 1998, berupaya menjabarkan makna filosofis dari
A long time ago, Batik Jambi is jaman, batik Jambi kini muncul dengan berbagai lima motif pokok batik Jambi.
used only as a custom clothing for motif menarik, bahkan hampir setiap kabupaten di Lima motif pokok yang diurainya itu termasuk
Aristocrates and King of Jambi Jambi mempunyai motif batik dengan kekahasannya motif kuno dan tertua yang pernah ada di Jambi. Lima
masing-masing. motif itu meliputi Durian Pecah, Merak Ngeram,
Malay, it begins in 1875 when Hajj
Karakter dan kearifan lokal masyarakat Melayu Kuao Berhias, Kapal Sanggat dan Tampuk Manggis.
of Muhibat and his family came
from Central Java to settle in Jambi Jambi dulu, tersimbolisasi dalam berbagai karya seni, Ja’far Rasuh yang intens meneliti ragam hias
salah satunya dalam motif batik Jambi. daerah Jambi menyatakan hingga kini, satu-satunya
and introducing batik processing.
Meski belum dilakukan kajian mendalam tentang ciri khas motif batik Jambi yang dapat dipertanggung
makna filosofis berbagai motif, namun menurut jawabkan orisinalitas keberbedaan penciptaannya
budayawan Jambi Ja’far Rassuh, penggambaran adalah kesederhanaan bentuk dan kemandirian
motif tersebut merupakan representasi watak dan objek motif tersebut.
karakter masyarakat Melayu Jambi dengan tipikalnya Artinya, tidak seperti motif batik dari daerah lain
yang sederhana, egaliter dan terbuka terhadap yang cenderung berangkai dan membentuk kesatuan
hal-hal lain di luarnya, meski cenderung lamban yang utuh serta berulang-ulang, motif batik Jambi
merespon perubahan. berdiri sendiri (ceplok-ceplok), terlepas dari yang

22 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

T
lainnya, tidak berangkai dan merangkai, sehingga he applied motif was decorative motifs of Industry and Trade of the Province of Jambi
banyak ruang kosong di antaranya. as seen in carving traditional house of in 1998, its trying to describe the philosophical
Pada batik Jambi kontemporer, ruang kosong itu Jambi and their traditional wedding meaning of five motifs of batik Jambi.
biasanya diberi isian (ragam hiasan) yang berbentuk dress, the motive is still in limited The five main motifs includes the ancient and
tabur titik, tabur bengkok, dan atau belah ketupat. quantities. oldest motifs that ever made in Jambi, namely
Dan tak jarang pula ruang itu dibiarkan kosong, Basically, the motif used in batik Jambi, was Durian Pecah, Merak Ngeram, Kuao Berhias,
namun diberi sentuhan warna dasar terang, hijau, not related with a tradition of caste divisions, it Kapal Sanggat and Tampuk Manggis.
merah atau biru. is more as an exclusive products with limited use Ja’far Rasuh, who is intense on researching
“Warna dasar terang juga merupakan ciri lain at the palace. Jambi decorative stated that until now, the only
batik Jambi klasik dan kontemporer,” katanya. Along with the development, today batik Jambi characteristic of batik Jambi motif that can be
Dalam bukunya Ragam Hias Daerah Jambi (2008) appear with a variety of interesting motifs, almost justified its original diversity is the simplicity of its
Ja’far Rassuh menuliskan, sedikitnya terdapat sekitar in every regency of Jambi has its own characterisic. creation and independence form the motif objects.
50 macam motif pada batik Jambi yang ditengarai The character and local wisdom of Jambi Malay It means, unlike the motif of other region that
merupakan motif lama dan pengembangan. peoples in the past was symbolized in various of art, tend to be sequential and forming a unified whole
Di antaranya adalah motif Daun Kangkung, one of them is in batik jambi motifs. as well as repetitive, Jambi batik motifs stand alone
Riang-riang, Kaca Piring, Pucuk Rebung, Bungo Although none of depth study has been done (fried-fried), apart from the others, not sequential
Durian, Melati, Bungo Jatuh, Bungo Cengkeh, Tabur about the philosophical meaning of various motifs, and stringing, so a lot of empty space in between.
Bengkok, Tabur Intan, Tabur Titik dan lain sebagainya. but Humanist Rassuh Ja’far explained that the In the contemporary of batik Jambi, the empty
Batik Jambi dengan motif apapun dapat dipakai motif is kind of character and representing the space is usually filleld with a decoration in the form
kapan saja, oleh siapa saja, dan dimana saja. Tidak Ethnic of Jambi Malay which is simple, egalitarian of point sow, sow crooked, and lozenges. And not
ada ketentuan yang mengaturnya, karena itu hingga and moderate, even slowly in response on changing. infrequently the space left empty, but a touch of
kini belum dapat dipastikan motif apa saja yang The main motif on Batik Jambi is very simple, bright primary colors, green, red or blue.
merupakan motif tertua atau motif pokok dalam not complicated and conventional. Describing the “The bright basic color is also other characteristic
khasanah batik di Jambi. characteristic of human nature of Jambi Malay. of classic and contemporary batik Jambi,” he said.
Pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian If found details and complex motifs, it may a new In his book The Variety of Batik Jambi (2008)
dan dinas terkait lainnya hingga kini terus melakukan pattern that emerged in the decade of 80s, “said the Ja’far Rassuh written that, at least there are about
pembinaan terhadap para pembatik agar mampu former head of the Jambi Cultural Park. 50 kinds of motifs in Jambi batik motif is sometimes
meningkatkan kualitas dan ragam serta corak batik Asianto Marsaid in his book “Enchantment a long and development.
Jambi sehingga bisa menembus pasar dan makin Batik Jambi” that published by the Regional Office Among these are “Daun Kangkung, Riang-
disukai. riang, Kaca Piring, Pucuk Rebung, Bungo Durian,
Melati, Bungo Jatuh, Bungo Cengkeh, Tabur
Bengkok, Tabur Intan, Tabur Titik” and etc.
Batik Jambi with any motif can be used at any
time, by anyone, anywhere. There is no provision
that set, because it has yet to be ascertained what
is the motive motive or motif oldest staple in the
repertoire of batik in Jambi.
Local government through local office of
Ministry of Industry and other relevant agencies
until now continues to provide training batik
craftsman in order to improve the quality and
variety as well as Jambi batik patterns that can
penetrate the market and increasingly popular.

informasi | information »
Dinas Perindag Propinsi Jambi
Jl. Letjen Suprapto No.28
Telanaipura, Jambi 36122
Telp. (0741) 65529; 64979, 63137
Fax. (0741) 62627

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 23


Made in Indonesia

Sembagi, THE TREASURE OF Batik Lampung

Batik Lampung
R
aswan Tapis, Pemilik Rumah Kain Raswan pembuatan, menjadikannya sulit berkembang. sebagai penghormatan budaya.
yang memfokuskan diri peduli kepada “Ini karena pembuatan titik-titik kecil sangat luar Sebagai orang daerah, Raswan mengaku
semua bentuk kain-kain Lampung biasa. Banyak yang tidak punya kemampuan untuk mempunyai tanggung jawab untuk mempromosikan
menjelaskan, bahwa sembagi Lampung membuatnya, bisa menghabiskan waktu dua hingga dan mempedulikan wastra Lampung. “Kalau ada
memiliki motif geometris flora dan tersusun satu. lima bulan karena tingkat kesulitannya yang tinggi,” orang yang mengagumi dan memakai berarti kita
Sembagi bisa digunakan untuk pria dan wanita katanya. berhasil di tingkat nasional. Jika ada orang asing
serta terdapat motif, diantaranya sekebar, kaca Batik sembagi, ujarnya juga, memiliki dua menyukai dan memakainya berarti kita berhasil di
piring, sedundun dan cina. Sekebar ialah motif paling tumpal (geometris berbentuk bidang segitiga) di tingkat internasional,” kata dia lagi.
besar dan digunakan untuk raja-raja, lalu sedundun ujung selendang. Itu, merupakan ciri yang berbeda Raswan mengaku, sudah banyak membuat batik
bermotif bunga sedundun, kaca piring bermotif dengan batik Jawa yang memiliki satu tumpal. sembagi tapi kalah pasar. “Karena secara image
bunga kaca piring, dan sembagi cina motifnya Hal lain yang membuat sembagi tidak tahunya siger, ditawarkan sembagi mereka tidak
diambil dari bunga teratai. berkembang, menurut dia juga, ialah adanya batik mau,” ujarnya. Motif sembagi, ucapnya lagi, tidak
Sembagi yang memiliki tingkat kesulitan yang dibuat untuk kepentingan komersial, bukan ada di daerah lain. Namun saat ini banyak diambil

24 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

Lampung, bagian nusantara, memiliki keragaman dan keunikan


wastra (kain). Batik sembagi ialah salah satunya, namun modernisasi
dan komersialisasi yang mengabaikannya, membuatnya berpotensi
menjadi dongeng.
Lampung is a part of the country, has diverse and unique fabrics/cloths.
Batik sembagi is one of them, but modernization and commercialization
making a potentially to be a legend only.

R
aswan Tapis, the owner of the Raswan wearing, then we are successful in national level.
fabric house who focuses on himself If there are foreigners who adore and wear then,
caring to all of fabric-form in Lampung we have been successful at the international level,”
explains that sembagi Lampung owns he said again.
a geometrical motive of flora and organized as one.
Raswan also admitted that he has made many
Sembagi can be worn by men and women and batik sembagi but lost in the market. “Because
also has motives; some of them are sekebar, kaca on the image they thought its siger, so if offered
piring, sedundun, and cina. Sekebar is the most sembagi, they rejected,” he said. Motif of sembagi,
used motive for the kings, and sedundun that has can not find in other part of country. But nowadays,
sedundun flowers as its motive, kaca piring motives this motif is taken by Javanese batik craftman even
with its kacang piring flowers, and sembagi cina though the truth is that it’s a motif from Lampung.
that motive is taken from lotus flower.
He hopes goverment play an important role
Sembagi has a level of complexity in the such as introducing sembagi through books and
production then it makes to be hard for development. seminar, also worn by the officers considering the
“This is because the small dots pattern which is artistic value, and there is a story behind it, and it
unbelievable. Many do not have the capability to cannot be regarded as cheap.
pembatik dari Jawa, padahal itu motif Lampung. make this. It can also spend two to five months
Sembagi, is one of Lampungnese batik which
Ia berharap pemerintah dapat berperan lebih because of the high complexity,” he said.
has a classical artistic value that is worthy to wear
besar, seperti mengenalkan sembagi melalui buku
Batik sembagi, he also said, has two “tumpal” and adopt to the surface reminding the philosophy
dan seminar, juga digunakan para pejabatnya
(geometrical shapes of triangle) at the ends. That and aesthetic of it. If not, for sure there is only one
mengingat nilai klasik sangat berbeda, ada ceritanya,
is the different characteristic with Javanese Batik word: gone. Then, on the next generation, knowing
dan itu tidak boleh dimurahkan.
that has only one “tumpal”. it as only a legend.
Sembagi, adalah salah satu batik Lampung
The other thing that stops sembagi from
yang memiliki nilai seni klasik yang layak dipakai
developing, is batik which is produced for
dan diangkat ke permukaan mengingat filosofi dan
commercial interest, not as a cultural respect.
informasi | information »
estetikanya. Jika tidak, tentu hanya ada satu kata:
hilang. Lalu generasi mendatang, mengenalnya
Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan
As a local people, Raswan admitted he has Jl. Cut Mutia No.23B Bandar Lampung
sebagai dongeng. responsibility to promote and care about batik Telp: 0721-487310; 487311
Lampung. “If there are people admiring and Fax: 0721-481440

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 25


Made in Indonesia

Batik Banten Going Globally

Batik Banten
Nama batik Banten memang baru terdengar dalam beberapa tahun
terakhir seiring dengan diresmikannya Provinsi Banten pada tahun
2,000 lalu.
Name of Batik Banten is not familiar until the opening of Banten province
in years of 2000.

P
adahal, seni hias batik di provinsi tersebut
sudah ada sebelum abad ke-17 dan
kemudian tenggelam bersamaan dengan
pudarnya kejayaan Kesultanan Banten.
Kini, dengan pesona yang dimilikinya, batik Banten
mulai bangkit lagi. Upaya menghidupkan kembali
geliat batik Banten telah dilakukan Pemerintah
Provinsi Banten melalui Surat Keputusan Gubernur
Banten pada Oktober 2003 tentang pembentukan
panitia peneliti batik Banten.
“Melalui SK itu telah dilakukan pengkajian
motif, Hasil dari pengkajian motif tersebut kemudian
dipresentasikan di depan para arkeolog nasional,
budayawan, dan pemerintah Banten pada September
2004,” ujar Uke Kurniawan, mantan wakil ketua dari
panitia penelitian batik Banten.
Menurutnya, berdasarkan penelitian,telah
ditemukan 75 ragam hias yang menjadi motif batik
Banten.Sebagian besar motif batik tersebut berasal
dari sejarah dan kearifan lokal masyarakat Banten.
“Batik Banten memiliki identitas dan ciri khas
tersendiri karena beberapa motifnya diadopsi dari
benda-benda sejarah artefak. Inilah tatanan aset
yang menjadi ciri khas batik Banten tersebut,”
ujarnya.
Salah satu pesona batik Banten terdapat dalam
batik yang bermotif datulaya. Motif ini memiliki dasar
belah ketupat berbentuk bunga dan lingkaran dalam
figura sulur-sulur daun. Warna yang digunakan,
motif dasar berwarna biru, variasi motif pada figura
sulur-sulur daun berwarna abu-abu, pada dasar kain
berwarna kuning.
“Nama datulaya ini diambil dari tempat tinggal
pangeran. Datu itu artinya pangeran, laya artinya
tempat tinggal,” jelas Uke.
Karena ciri khas yang dimilikinya itu, batik
Banten saat ini telah memasuki kancah internasional.
Hal itu tercermin dari penghargaan yang diperoleh
batik Banten dalam pertemuan para arkeologi dari
52 negara di Malaysia akhir Januari 2005.

26 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
“Dari Indonesia kita membawa hasil kajian Sekarang karyawannya berjumlah ratusan. “Awalnya
mengenai batik Banten dan memperoleh predikat memang masyarakat kurang antusias, tapi seiring
terbaik. Hingga motif datulaya mendapat tanda perkembangannya, masyarakat mulai tertarik untuk
tangan dari Menteri Dalam Negeri Malaysia,” belajar membuat batik Banten,” katanya.
paparnya. Adapun batik yang diproduksinya adalah batik
Bahkan, ungkap Uke, batik Banten merupakan cap, printing, maupun tulis. “Untuk batik tulis
batik pertama yang memiliki hak paten di United pembuatannya memakan waktu yang cukup lama.
Nations Educational, Scientific and Cultural Dalam waktu dua minggu hanya dapat diproduksi
Organization (UNESCO), sebuah lembaga PBB satu batik,” jelasnya.
yang bergerak di bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Meski usahanya masih baru, namun apresiasi
Kebudayaan masyarakat terhadap produk batik yang dihasilkan
Untuk memperkenalkan batik Banten lebih luas Uke sangatlah besar. Hal ini terlihat dari banyaknya
lagi kepada masyarakat, Uke telah memberanikan masyarakat Banten dan sekitarnya yang menyukai
diri untuk terjun dalam produksi batik. Pria setengah batik Banten.
baya ini memulai usahanya di tahun 2004 dengan Selain itu, batik Banten produksinya juga sudah
modal Rp 100 juta. Kemudian usahanya berkembang merambah pasar internasional. “Pembeli kami sudah
setelah mendapatkan dana pendampingan dari mencapai Malaysia, Finlandia, Korea dan sejumlah
sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). negara Eropa,” ucapnya.
Awalnya Uke hanya memiliki puluhan karyawan.

W
hile in fact, batik art had been existed
in the province prior to the 17th century
and disappeared along with the fall of
Sultan Banten.
Now with its fascination, batik Banten is began to
rebirth. The efforts to revive batik Banten has been done
by Banten Provincial Government through the Decree
of the Governor of Banten in October 2003 regarding
Uke added that In fact, Batik Banten is the first
the establishment of the committee investigators of Batik
batik which have had a patent from the United Nations
Banten.
Educational, Scientific and Cultural Organization
“Through the decree, motif assessment has been (UNESCO), a UN agency working in the field of
conducted, the results of the assessment motive then Education, Scientific, and Cultural
presented to the national archaeologists, humanist and
In order to introduce batik Banten to wider
Banten provincial government in September 2004,” said
community, Uke has ventured to plunge in the production
Uke Kurniawan, a former vice-chairman of the committee
of batik. This middle-aged man started his business
study of Batik Banten.
in 2004 with a capital of USD 100 million. Then its
According to him, based on research, has found 75 developed after getting funding assistance from a number
ornaments of Batik Banten. The motif originated from the of State-Owned Enterprises (SOEs).
history and local wisdom of Banten’s people.
Initially, Uke has only a dozens of employees. Now
“Batik Banten has its own identity and characteristics, his employees numbering in hundreds. “At first the people
some of motifs is adopted from artifacts of historical was not enthusiastic, but as the development, people began
objects. Here’s the structure asset that characterized Batik wanting to learn to make batik Banten,” he said.
Banten, “,he said.
He produces batik cap, printing, and tulis. “For batik
One of the fascination of Batik Banten is a pattern tulis needs a longer time. Within two weeks it can only
of datulaya. This motif has the basic rhombus-with flower produce one batik,” he explained.
and circles shapped inside figura leaf tendrils. The colors
Although his business is still new, but public
used are blue for basic motif, and gray for leaf tendrils
appreciation on his batik products is enormous. It
figura on yellow-colored fabric.
is reflected by the support of Banten people and its
“Datulaya name is taken from the prince residence. surrounding communities .
Datu means prince ad laya means shelter,” said Uke.
In addition, his production also has penetrated to
By its characteristics, Batik Banten has now entered international market. “Our buyers have reached Malaysia,
into international arena. This is reflected the awards Finland, Korea and several European countries,” he said.
earned in the meeting of archeology from 52 countries in
Malaysia in the end of January 2005.
informasi | information »
“From Indonesia we bring the results of a study
on the batik Banten and we got the best predicate. while Griya Batik Banten
datulaya motif signatured by The Minister of Home Jalan Raya Tunjung Teja, Negla Sari Nomor 36,
Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang, Banten
Affairs of Malaysia,” he said.
Telp/Fax: 0254 213 616, 0813 1859 7097

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 27


Made in Indonesia

Batik Betawi
The Classic ART of Batik Betawi
Batik Betawi yang cikal bakalnya lahir di Jakarta, yang dulu dikenal
dengan wilayah Batavia, mulai berkembang sejak sekitar tahun
’80 an dan ’90 an harga tanah di Jakarta semakin
lama semakin tinggi. Sejalan dengan tingginya
kesadaran terhadap kelestarian lingkungan sekitar,
1930’an sampai tahun 1940’an. Usaha pembatikan dilakukan baik
maka Pemda DKI mulai menertibkan wilayah yang
dalam skala perorangan di industri rumahan ataupun di industri
sebagian ada industri batiknya. Limbah batik yang
pembatikan yang cukup besar.
dibuang ke sungai, disadari mulai mengganggu
The Embryo of Batik Betawi borned in Jakarta, formerly known as Batavia pemandangan dan kehidupan masyarakat di daerah
region, it was developed since 1930’s until 1940’s. Batik businesses are alirannya tersebut. Akhirnya usaha kami berjalan
carried out either in individual scale within home industries or bigger secara sembunyi-sembunyi, dan lambat laun mereka
industrial scale. mulai mengalihkan industrinya dari wilayah Jakarta

S
ke daerah di luar Jakarta, tetapi masih menempel
aat menceritakan kisahnya perihal Kacang. Batik di masa itu juga digarap di daerah dengan ibukota seperti daerah Tangerang, Bekasi,
upayanya mencari “batik klasik’ di daerah Kebayoran Lama. Motif yang banyak waktu itu dan Depok.”
Jakarta yang biasa dikenal sebagai batik adalah Pucuk Rebung dan Buket. Ketika UNESCO tahun 2011 mengakui batik
Betawi klasik, Emma Amalia Agus Bisrie Pada masa itu, masyarakat Betawi juga sudah sebagai warisan budaya takbenda, maka hal
menceritakan, kalau dirinya tidak hanya mengoleksi mulai mengenal berbagai teknik membatik, baik tersebut juga membawa pengaruh positif bagi
batik Betawi, melainkan juga sebagai kolektor Kain yang caranya sederhana, ataupun juga teknik batik berkembangnya batik Betawi, khususnya di daerah
Antik Nusantara, termasuk juga berbagai benda seni cap halus. Bahkan pada masa tersebut, mereka juga Pulogadung (Jakarta Timur), mulai banyak yang
dan artefak. Karena sebenarnya lebih sulit mencari piawai menggunakan pewarna alam, seperti dari menggarap batik. Tokoh Betawi Ridwan Saidi kembali
kain batik Betawi antik atau batik Betawi tempo dulu, akar mengkudu untuk warna merah. Kualitas warna mengupayakan agar batik Betawi marak lagi, melalui
dibanding mencari batik dari daerah Jawa lainnya. merah dari mengkudu tersebut, dikenal juga dengan penggunaan motif asli Betawi seperti flora dan fauna
Pada masa itu daerah di Batavia yang banyak batik Palmere, bahkan mendekati warna merah kain berbentuk gambar ikan, burung Bondol, dan burung
daerah pembatikannya tersebar seperti pembatikan batik dari Lasem, “jelas ibu dari 5 putera ini. Ulung-Ulung, serta buaya.
di Karet Tengsin, yang menggarap batik cap dan Emma yang sejak tiga tahun terakhir ini Motifnya juga kian dilengkapi dengan berbagai
batik tulis. Selain itu ada juga daerah Palmerah di berkonsentrasi pada batik Betawi melanjutkan, lokasi bersejarah di Jakarta seperti arus Kali Ciliwung,
Jl. Berdikari, Bendungan Hilir, dan daerah Kebon “Setelah tahun 1970’an, yakni memasuki era tahun Tugu Monas, Jembatan Gantung, corak rumah adat

28 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
Betawi, model rumah kebaya, model gudang, model Pulogadung area (East Jakarta). Betawi figures Ridwan
Salak, Batik Delman Hias, Becak, Ondel-Ondel, dan Saidi returned to strive for baik Betawi batik to rebound,
hiasan gigi balang. through Betawi originated flora and fauna motives such
Sejak tahun ’90 an berbagai lembaga sudah as fish, Scaly-breasted birds, Ulung Ulung bird, and
saling kerjasama seperti dengan Taman Ismail crocodiles.
Marzuki (TIM), untuk memproduksi ikon-ikon kota The motives enriched by various historical locations
Jakarta seperti ondel-ondel, delman, Burung Bondel, in Jakarta, such as Ciliwung River flows, Monas,
yang semuanya bebas dilakukan untuk memperkaya Jembatan Gantung, Betawi traditional house, kebaya
corak batik Betawi. house model, warehouse models, Salak model, Delman
Saya turut memperjuangkan kepada Yayasan Hias, Becak, Ondel-Ondel, and garnish teeth.
Batik Indonesia, bahwa batik Betawi itu memang Since 90’s there are mutual cooperation betweeen
ada, sehingga perlu dijaga kelestariannya. Hasilnya agencies such as with Taman Ismail Marzuki (TIM),
kini sudah ada delapan lokasi yang diakui memang to produce batik with Jakarta icons such as ondel-ondel,
menjadi lokasi pembatikan asli Jakarta, yakni Seraci delman, Bondel Birds, all of which are freely made to
Batik Betawi, Mawar Batik Betawi, Kebon Bawang enrich the Betawi batik patterns.
Batik Betawi, Gandaria Batik Betawi, Warung None I also proposed to Yayasan Batik Indonesia, to show
Batik Betawi, Surya Cipta Batik Betawi, Terogong that the Batik Betawi is exists, so it needs to be preserved.
Batik Betawi, dan Milla House. The result now there are eight recognized location as
“Saya sendiri dari Batik Milla sejak tahun the site of originated batik Jakarta, namely Seraci Batik
1990’an sudah memindahkan usaha kami ke daerah Betawi, Mawar Batik Betawi, Kebon Bawang Batik
Bekasi Barat, dan bekerjasama dengan 12 pembatik, Betawi, Gandaria Batik Betawi, Warung None Batik
menggarap batik tulis yang produksinya diperkirakan Betawi, Surya Cipta Batik Betawi, Terogong Batik

W
sekitar 3 minggu sd 1 bulan untuk satu produksi batik Betawi, and Milla House.
halus. Sedang untuk batik cap, kami menggarapnya hen telling her story in searching “I’m from Batik Milla since 1990’s have moved
secara unik karena bisa dikerjakan dalam waktu 4 “classical batik” in Jakarta commonly our business location to West Bekasi area, and in
hari untuk satu kain. known as clasical batik, Emma Amalia collaboration with 12 batik craftsman, we produce batik
Agus Bisrie explained, that she does not tulis which is takes around 3 weeks to 1 month for one
Sebagai desainer batik Betawi, saya telah
only collect batik Betawi, but also as a collector of Kain fine batik tulis. While for Batik Cap (Batik Stamp) can
mengusulkan kepada Gubernur DKI Joko Widodo,
Antik Nusantara, as well as various objects of arts and be finished within 4 days for one fabric.
khusus untuk penggunaan seragam di lingkungan
artifacts. Coleccting batik Betawi antique or oldies batik
Pemda DKI. Motif yang dipilih adalah Pucuk Rebung, As the designer of Batik Betawi, I have proposed
is actually much more difficult rather than that of other
yang maknanya sebagai penolak bala, dengan to Governor DKI Jakarta, Joko Widodo, to select Pucuk
batik from other regions of Java.
harapan depan DKI Jakarta terbebas dari bencana Rebung motives for the uniforms of local government.
banjir. Ia juga mengharapkan lebih banyak lagi In the past, batik produced in several scattered areas The meaning of Pucuk Rebung motives is as repellent
mereka yang mau menggeluti batik Betawi, sehingga , such as Karet Tengsin that produced printed batik of reinforcements, with the hope of DKI Jakarta free
kehadirannya lebih semarak dan menggambarkan and hand-writing batik, Palmerah located on Berdikari from floods. She also expects more people are willing to
karakteristik khas budaya Betawi, kata Emma Street, Bendungan Hilir, Kebun Kacang and Kebayoran involve into Batik Betawi, so its presence will be more
Amalia Agus Bisrie mengakiri wawancara dengan Lama. The famous motives were Pucuk Rebung and enlightening the characteristics of Betawi culture. Said
Majalah KINA. Buket. Emma Amalia Agus ending the interview with KINA
At that time, Betawi people have recognized various magazine.
techniques of batik, either the simple or too delicate batik
technique. They are also good in using natural dyes, such
as from Morinda citrifolia (Mengkudu) root for the red
color. The quality of red color of the Morinda citrifolia,
also known as batik Palmere, even close to the red color
of batik Lasem, “said the mother of 5 sons.
Emma who focusing on Batik Betawi in the last
three years continued, “After 1970s, entering an ‘80s
and early ‘90s, Jakarta land prices was higher and higher.
In line with the increased awareness of the preservation
of the environment, The local government of Jakarta
began to regulate areas where batik industry is existed.
Batik waste which is dumped into the river, begining
disrupted the environment and social life along the
stream area. Eventually the industry run clandestinely,
and gradually the industry shifted from Jakarta to the
informasi | information »
outer regions of Jakarta, such as Tangerang, Bekasi and
Depok”. Batik Betawi - Ibu Emma Amelia
Milla House Jl. Panglima Polim V/12 A, Jak 12160
When batik recognized as an intangible cultural Telp (021) 7266184
heritage by UNESCO in 2011, it also bring a positive email : rumahkebayamilla@yahoo.com ;
effects to the development of Batik Betawi, particularly in Website : www.millahousekebaya.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 29


Made in Indonesia

Batik Cirebon
Batik of The Shrimp City
Desa Trusmi terkenal sebagai
objek wisata belanja batik khas
Trusmi Village is a famous tourist
destination for shopping Batik

D
Cirebon. Di sinilah juga sentra Cirebon. The village is known as
perajin batik kota udang. batik center of the ‘Shrimp City’. eretan showroom batik meramaikan sisi
kanan dan kiri desa Trusmi. Beberapa
showroom juga merangkap pabrik atau
workshop pembuatan batik. Salah satu
perajin batik Trusmi yang terkenal adalah Katura.
Usaha batik milik keluarganya itu telah melewati
beberapa generasi.
Katura telah membatik mulai dari usia 11 tahun.
Kini, ia sudah hampir menginjak usia 61 tahun. Pada
usia 22 tahun, Katura sudah membuka usaha sendiri
dengan dibantu oleh lima orang tenaga kerja, dan
usaha tersebut terus berkembang sampai saat ini
dengan memiliki karyawan sebanyak 30 orang. Selain
itu, Katura telah menghasilkan beberapa design
motif batik yang telah di produksi dan dipasarkan
oleh para pengusaha batik Kabupaten Cirebon.
Katura sering disebut-sebut sebagai seniman
batik Cirebon. Berbagai penghargaan telah ia terima.
Salah satunya adalah penghargaan Upakarti di tahun
2009. Penghargaan tersebut diserahkan langsung
oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pria
kelahiran 15 Desember 1952 ini menerima Upakarti
karena jasanya dalam pelestarian bidang industri
batik.
Salah satu cara pelestarian batik yang ia
lakukan adalah dengan mendirikan sanggar batik.
Setiap orang yang ingin belajar batik khas Cirebon
dapat mampir dan berlatih di sanggar miliknya.
Bahkan, sanggar itu pun terbuka untuk wisatawan.
“Banyak turis yang datang untuk belajar di sini.
Kami selalu sediakan kain seukuran sapu tangan
untuk mengajarkan mereka cara membatik. Walau
hanya sebentar, tapi ini adalah usaha kami untuk
melestarikan batik,” ungkap Katura.
Pesanan yang datang pun tak hanya dari lokal
melainkan juga mancanegara. Baru-baru ini, Katura
menerima pesanan dari Jepang. Uniknya, semua batik
produksi Katura merupakan batik tulis. Bayangkan
waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap
lembar kain batik tulis ada yang mencapai satu tahun
lebih. Tentu saja, harganya pun lumayan mahal jika
dibanding dengan batik cap. Justru kekhasan itu yang
menjadi incaran para kolektor batik dalam maupun
luar negeri.

30 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

“Ciri khas batik Cirebon adalah garis-garis


tipis yang halus dan tidak putus. Tapi sayangnya
sudah mulai jarang para perajin sekarang yang bisa
membuat garis sehalus ini, karena perlu kesabaran,
keuletan, dan ketelitian. Sementara yang penting
dari pengusaha batik sekarang adalah cepat jadi dan
menghasilkan banyak,” paparnya sambil menunjuk
garis halus di salah satu batik karyanya.
Menurut Katura, secara garis besar motif
batik khas Cirebon dapat dikelompokkan menjadi
dua kategori, yaitu motif keratonan dan pesisiran.
“Ornamen-ornamen batik yang menampilkan
motif alam untuk menunjukan batik khas pesisiran,
sedangkan beberapa motif lainnya menggunakan
ornamen-ornamen di keraton untuk menunjukkan
dua keraton Cirebon yaitu Kasepuhan dan Kanoman,”
ungkapnya. Warna gading juga menjadi warna khas
batik Cirebon. Sementara itu, motif batik khas Cirebon
yang telah dikenal masyarakat luas diantaranya
Mega mendung, Singa Barong, dan Wadasan atau
batu cadas.

T
he rows of batik showroom enliven The orders coming not only from local but batik Cirebon. Other typical of batik Cirebon that
along the right and left side of Trusmi foreign as well. Recently, Katura received orders widely known among other are Mega Mendung,
Village. Some of the show room are from Japan. Interestingly, all Katura batiks are Singa Barong, and Wadasan or Batu Cadas.
also serves as batik workshop. One of batik tulis (Traditional painting) production.
the famous Batik craftman is Katura. The batik’s Imagine that to complete each piece of batik tulis,
enterprenuer whose owned by his family thorugh certain batik needs one year or more, the prices is
a number of generations. quite expensive when compared with batik stamp.
Katura has started as batik craftman since 11 Such uniqueness is the target of batik collectors
years of age, now his age is about 61 years. When both domestic and abroad.
he was 22 years, he had opened his own business “The Characteristic of batik Cirebon is smooth
assisted by five workers, and to date the business thin lines instead of dot lines. Unfortunately,
continues to thrive by having 30 people staff. currently there are not many craftman that make
Katura has produced a number of design patterns a smooths lines, because it requires patience,
that have been in production and marketed by perseverance, and thoroughness. While the batik
batik entrepreneurs in Cirebon. entrepreneurs now more concerned to be quick
Katura is known as famous batik craftman and productive”, he said ,while apointing to one
from Cirebon. He has received numerous awards, of the fine lines of his collection.
one is Upakarti award in 2009 that was presented According to Katura, in general the motives of
by President Susilo Bambang Yudhoyono. The Cirebon batik can be grouped into two categories,
men who borned in 15th December, 1952 was namely keratonan (palace) and pesisiran (coastal)
received Upakarti for his services in the field of motifs. “The nature ornamen is to show the
preservation of batik industry. typical of batik pesisiran, while the other motif,
One way of preserving batik that he did was a palace ornamen used to show the two palaces
setting up a batik studio. Any person who wants to of Cirebon, namely Kasepuhan and Kanoman,”
learn batik Cirebon can stop by and practicing in he said. The ivory color is also a typical color of
his studio, moreover the studio is open for tourists.
“Many tourists come to study here. We always
provide handkerchief sized cloth to teach them how
to make a batik, eventhough in briefly, but this is
our effort to preserve batik,” said Katura.

informasi | information »
Batik Trusmi Cirebon
Dekranasda Propinsi Jawa Barat
Gedung Jabar Craft Center (JCC), Jl. Ir. H. Juanda No.19,
Bandung 40116

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 31


Made in Indonesia

The Glory of Garutan Batik

Batik Garutan
Industri kerajinan batik Garutan di Kabupaten Garut, Jawa Barat
sempat mengalami jatuh bangun beberapa kali. Sempat berkembang
dengan baik dan bisa dibilang mencapai masa keemasan pada masa
penjajahan Hindia Belanda, industri batik Garutan mengalami kelesuan
pada masa penjajahan Jepang.

D
i era kemerdekaan pun industri an, namun sempat mengalami kevakuman karena
kerajinan batik Garutan tidak luput berbagai alasan, khususnya karena kondisi pasar
dari pengalaman jatuh bangun. Setelah yang masih lesu. Namun pada dekade tahun 2000-
sempat tertidur lelap selama masa sulit an situasi pasar produk kerajinan batik di dalam
di era awal kemerdekaan hingga dekade tahun 1970- negeri mulai bergairah sehingga mendorong Rajib
an, industri kerajinan batik Garutan kembali harus untuk mulai menekuni industri kerajinan batik. Maka
berjalan tertatih-tatih pada 1980-an ketika keluarga berdirilah industri kerajinan batik Garutan yang diberi
para perajin batik Garutan mencoba untuk bangkit nama “RPG” Tenun Sutera & Batik Tulis.
kembali dari tidur panjangnya. Rajib mengatakan industri kerajinan batik
Adalah Rajib Nasrudin (37), seorang pengusaha Garutan yang digelutinya menggunakan dua jenis
batik tulis, batik cap dan batik semi tulis dan cap kain dasar, yaitu kain primisima dan kain tenun
asal kota Garut yang sejak tahun 2005 berusaha sutera. Selain melayani permintaan produk batik
membangun kembali kejayaan industri kerajinan tulis, Rajib juga melayani permintaan produk batik
batik Garutan yang pernah digeluti kakek buyut dan cap serta kombinasi batik tulis dan cap. “Kami tetap
leluhur Rajib. memproduksi batik cap dan batik kombinasi cap dan
Menurut Rajib, industri kerajinan batik Garutan tulis karena memang ada permintaan di pasar.”
mulai dikembangkan kembali pada tahun 1980- Menurut Rajib, batik Garutan umumnya

32 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
dicirikan dengan dominasi tiga jenis warna utama, Rajib yang kini memiliki dua gerai batik di Garut potong kain batik semi tulis dan 300-400 potong kain
yaitu warna biron (biru), sogan (merah bata) yang sering mengikuti kegiatan pameran batik di dalam batik cap serta 300 potong kain tenun sutera yang
merupakan pengaruh batik Yogyakarta dan Cirebon, negeri. Melalui pameran itu pula Rajib kini memiliki belum dibatik.
serta warna gading. Dalam beberapa hal menyangkut banyak pelanggan yang tersebar di berbagai kota Kendala utama yang dihadapi Rajib dalam
motif/desain maupun warna, batik Garutan banyak besar di tanah air, termasuk di Jakarta. “Sampai saat memenuhi permintaan produk kerajinan batik
mendapatkan pengaruh paduan dari Belanda, ini alhamdulilah permintaan cukup banyak, bahkan adalah adanya keterbatasan jumlah perajin batik.
Jepang, dan China. untuk Jakarta saja seringkali permintaan tidak dapat Rajib merasakan bahwa selama ini pelatihan batik
Selain paduan pengaruh tersebut, batik Garut kami penuhi seluruhnya. Karena itu, sampai saat ini bagi masyarakat terutama bagi para calon perajin
juga memiliki kelebihan lain dibandingkan produk kami belum sempat melangkah lebih jauh untuk batik sangat kurang. Demikian juga sosialisasi
batik lainnya di tanah air, yaitu adanya proses melakukan ekspor, karena permintaan di dalam yang dilakukan pemerintah maupun dunia usaha
pembatikan yang dilakukan terhadap kedua sisi negeri saja tidak bisa kami penuhi.” mengenai industri kerajinan batik masih sangat
kain (proses pembatikan secara bolak-balik) baik sisi Saat ini Rajib memiliki 20 orang perajin batik kurang. “Bahkan, sampai saat ini di Kabupaten Garut
depan maupun belakang sehingga kedua sisi kain yang bekerja di bengkel kerja RPG. Dengan dibantu belum ada satu pun sekolah batik. Karena itu, tidak
batik Garutan memiliki tampilan yang sama satu 20 orang perajin itu, Rajib setiap bulannya mampu mengherankan jika kalangan anak muda sekarang
sama lain. memproduksi 10-15 potong kain batik tulis, 300-400 tidak banyak yang berminat untuk membatik.”

Batik craft industry in Garut regency, West Java had experienced ups and
downs from time to time. Had time developed properly and reached the
golden age during the colonial era of Dutch East Indies and declined during
Japanese occupation.

E
ven in the era of independence was also demand for batik tulis, batik cap and a combination planned for export, since we can not meet the
experienced ups and downs, after being of batik cap and tulis. “We still produce batik cap domestic demand “
asleep during difficulty times in the and a combination of cap and tulis since there is Rajib has currenly 20 batik craftman working
early of independence era to the decade demand in the market.” in RPG workshops. With the assistance of 20
of the 1970s, the Garutan’s batik had hobbled in He added that The Garutan is generally people, each month he can produce 10-15 pieces
the 1980s when the batik craftman tried to rise-up characterized by the dominance of three main of batik tulis, 300-400 pieces of batik combination,
from sluggishness colors, namely Biron ( blue), Sogan (red brick) as 300-400 pieces of batik cap and 300 pieces of
There is Rajib Nasrudin (37), a businessman influences of Yogyakarta and Cirebon batik, and woven silk fabric that have not batik processed yet.
of batik tulis (handmade), batik cap (stamp/block ivory. In some cases, a motif/design and colors of For Rajib, the main obstacles to meet the
printed) and cap-handmade combination from batik Garutan is heavily influenced by a blended batik’s demand is a limited number of batik
city of Garut which is since 2005 had tried to of the Netherlands, Japan, and China. craftman. He felt that batik traning for public,
rebuild the glory of Garutan who had cultivated In addition to the influence of the above especially the potential craftmen are very limited,
by his ancestor cultures, Batik Garutan has also another even the socialization by goverment and private
According to Rajib, Garutan craft industry characteristics over other batik products in the sector concerning batik crafts. “In fact, to date
was rebuild in the 1980s, even had experienced country, namely the batik process is carried out there is no batik school in Garut regency, therefore
a vacuum for many reasons, particularly because on both sides of the fabrics (back and forth) so the it is not surprising that young people are not
of the sluggish market conditions. But in the both sides are equal looks each other. much interested in batik.
decade of the 2000s the market situation began Rajib who has currently two batik outlets in
to increased and encouraging him to establish Garut is oftenly participates in batik exhibitions informasi | information »
the batik Garutan businesess, namely “RPG”, in the country. Through the exhibition Rajib has
Batik Garutan
Weaving Silk and Batik Tulis. now many customers from many cities in the RPG Tenun Sutra & Batik Tulis
Rajib said that his Batik Garutan is using two country, including Jakarta. “Thanks God, we have Jl. Pembangunan Blkg. Siknas Kp. Citeureup 03/03
type of fabrics namely primisima and weaving many requests, even from Jakarta that we can not No. 414 Tarogong-Garut 44151
silk, even more Rajib has also serving customer fulfilled entirely. Therefore, to date we do not have Telp. (0262) 543684-081323035863
e-mail: ralisha@gmail.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 33


Made in Indonesia

D
Batik
aya khayal si pembatik dalam
menggambarkan sebuah motif sangat
mempengaruhi hasil akhir motif. Dan
karena itu pula maka hampir tidak pernah
terjadi ada dua kain panjang batik dengan satu motif
batik, yang hasilnya sama dan serupa. Seni batik itu
sendiri merupakan perpaduan antara seni motif atau

Banyumas
ragam hias dan seni warna yang diproses melalui
pencelupa dan lilin batik sebagai perintangnya.
Batik telah menyertai kehidupan bangsa
Indonesia sepanjang masa dan telah mendarah
daging. Batik digemari, disenangi, dan selalu ingin
dimiliki dan dipakai, baik sebagai hasil kesenian
maupun sebagai bahan sandang dan kebutuhan hidup
lainnya. Pada umumnya kain batik digunakan untuk
bermacam- macam keperluan baik rumah tangga,
busana maupun hiasan. Pemakaian batik yang biasa
kita lihat adalah untuk kain batik nyamping atau
kain bebad (Jawa: Jarit, jarik), kain batik sarung,
ikat kepala, taplak meja, sprei, selendang, gorden,
busana, dan untuk keperluan lainnya. Sehingga batik
mempunyai nilai ekonimis yang bisa dikategorikan

The Eco Batik from Banyumas sebagai produk budaya.


Kita semua tahu bahwa persoalan yang timbul
pada proses pembuatan batik yang menggunakan
Batik adalah ekspresi kreatifitas budaya yang memiliki makna bahan pewarna sintetis adalah masalah pencemaran
simbolis yang unik dan nilai estetika yang tinggi. Keunikan lingkungan, oleh karena itu seiring dengan
yang indah itu merupakan salah satu perwujudan karakter si berjalannya waktu dan pengetahuan para pembatik
pembatik, karena dalam nenciptakan motif-motif yang unik itu serta kesadaran akan pelestarian lingkungan, maka
para pembatik sudah mulai kembali menggunakan
akan lebih banyak melibatkan perasaan atau suasana hati.
pewarna alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan
seperti yang digunakan oleh para pendahulu kita.
Batik is an expression of cultural creativity having a unique
Dengan menggunakan bahan pewarna alam tidak
symbolic meaning and aesthetic value. The uniqueness is a
hanya menghasilkan produk yang ramah lingkungan,
manifestation of the character of craftman, because feelings tetapi juga proses produksi serta orang yang terlibat
and moods are more involved when he creates the unique didalamnya akan terbebas dari masalah pencemaran
motifs. lingkungan.
Bicara mengenai pelestarian lingkungan pada

34 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
proses pembuatan batik dengan pewarna alam, dan ketekunannya sehingga bisa mencetak para
tidak hanya mengatasi masalah limbah tetapi juga pecanting baru dari hasil didikannya.
menyangkut penghematan dalam menggunakan Diawali dengan memberikan pelatihan terutama
air tanah. Karena produk yang dihasilkan dari batik kepada kaum perempuan agar bisa melukis di
warna alam aman bagi lingkungan, sehingga air atas kain dengan menggunakan lilin yang biasa
bekas cucian kain bisa langsung dimasukan ke dalam disebut ‘mencanting’, sehingga bisa memberikan
lobang resapan yang jaraknya tidak jauh dari sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.
air bersih dalam hal ini sumur. Sehingga ketersediaan
Keterlibatan kaum muda dalam proses produksi
air bersih akan tetap terjaga.
banyak memberi penyegaran dalam desain, sehingga
Adalah Ibnu Subyandono, seorang pengrajin terkumpul corak-corak batik baru. Dengan demikian,
batik dengan merek “Batik Tata” dari Sumpiuh, selain batik-batik bercorak tradisional, motif-motif
kabupaten Banyumas, propinsi Jawa Tengah yang kontemporer juga tampil signifikan dalam kreasi-
konsisten menggunakan bahan pewarna alam, kreasi Batik Tata.
sehingga batik yang dihasilkan mempunyai ciri khas
Dengan diadakannya pelatihan secara terus
tersendiri baik dari segi warna maupun motif.
menerus kepada generasi baru pembatik di desa ini,
Ibnu Subyandono adalah tipikal pengusaha diharapkan akan meningkatkan kesadaran budaya
muda yang tidak mudah menyerah. Dengan batik tulis sehingga dapat mendukung pelestarian
pengetahuan yang sangat minim mengenai seluk warisan budaya Indonesia, dan yang penting akan
beluk batik karena latar belakang yang bukan membantu pemerintah dalam penyediaan lapangan
dari keturunan pembatik, tetapi berkat kerja keras pekerjaan.

T
he craftman imagination describing environmentally friendly as well as production especially for the housewife in order to be able to
batik motif greatly affects the final process, while the people involved will be free from paint on cloths using wax called ‘mencanting’, so
result. That is why, it is almost never environmental pollution problems. that they can provide additional income for their
the case one motif can produces the two Talking about environmental preservation in families
or more batik that are exactly the same. The batik batik processing with natural dyes, this process Young involvement in the production process
art it self is a blend of motif design, decoratives, not only solves the waste problems but saves the could give a fresh view of design alternatives so
and colors processed through dieying and waxing. use of ground water as well. Due to the fact that that many new designs can be created. Thus , in
Batik has been a part of the Indonesian cultural the use of natural dyes is safe for the environment, addition to the traditional motifs, contemporary
heritage. Most people love and own batik for some the waste water for washing batik cloth can be motifs also takes place a significant appearance in
reasons. Batik can be used for the the purpose directly flowed into the leach pit not far away from Batik Tata.
of clothes, the collection of art products, home the source of water for daily use, which is wells. With the continous training to a new batik
decoratives and other necessities. As a cultural So that the water supply will be maintained. generation in his village, he expects the awareness
heritage, batik has significant economic value. Ibnu Subyandono is one of batik craftman of handmade batik will significantly increase,
Batik is used for “batik nyamping for women ” with the brand “ Batik Tata” from Sumpiuh, so the preservation of cultural heritage can be
or “batik bebed for men”, for saroeng, headband, Banyumas, Central of Java that consistently uses maintained. Last but not least, it can help the
tablecloths, bedsheets, scarves, shawls, curtains, natural dyes, so that batik produced has its own government in creating work opportunities.
clothing, and so on. characteristics in terms of both color and motif.
We all know that the problems arising in the He is a typical young entrepreneur who does
process of producing batik using synthetic dyes is
informasi | information »
not easily give up. With limited knowledge of
the problem of environmental pollution, therefore batik industry as his background is not from the Batik ‘Tata’ Banyumas
to preserve the environment, batik industry have Jl. Tata No. 14
batik communitis, but with his dilligence hard
Sumpiuh-Banyumas 53195
started using natural dyes derived from herbs work attitute he can create many new craftmen. Jawa Tengah
as used by our predecessors. By using natural Email: batiktata@live.com
This activity is carried out by giving training
dyes, the industry will produces batik that are

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 35


Made in Indonesia

Batik Sragen
batik girli (river’s edge)

D
ua sub sentra tersebut memiliki beberapa
Kabupaten Sragen, adalah sentra produksi batik terbesar setelah desa penghasil batik. Letak mereka pun
Pekalongan dan Surakarta. Di Sragen, terdapat dua sub sentra batik berdekatan, saling berseberangan di sisi
yakni Kecamatan Plupuh dan Masaran. utara dan selatan Sungai Bengawan Solo.
Desa Pilang, Sidodadi, dan Kliwonan, terletak di
Sragen regency is known as the largest batik production centers following selatan Bengawan Solo dan berada dalam wilayah
Pekalongan and Surakarta. There are two main batik sub-centers in Sragen, Kecamatan Masaran. Karena berada di pinggiran
Plupuh sub-district and Masaran sub-district. sungai atau kali --dalam bahasa Jawa, industri
Batik di kawasan tersebut juga dikenal dengan
sebutan Batik Girli (Pinggir Kali). Di dua sub sentra
batik tersebut terdapat 4.817 perajin batik dengan
menyerap sekurangnya 7.072 tenaga kerja.

36 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
Aksesibilitas
Sebagian besar perajin batik tinggal di desa
Kliwonan. Kuantitas produksi batik yang dihasilkan
perajin Kliwonan pun paling besar. Oleh sebab itu,
kawasan penghasil batik di Sragen kemudian lebih
dikenal dengan sebutan sentra batik Kliwonan.
Pemerintah Kabupaten Sragen lalu menetapkan
sentra batik itu sebagai kawasan wisata terpadu,
yang dinamakan Desa Wisata Batik Kliwonan. Desa
Kliwonan sekaligus diditetapkan menjadi pusat
pengembangan, pelatihan, dan pemasaran batik.
Kawasan Desa Wisata Batik Kliwonan terletak
sekitar 12 KM sebelah selatan pusat kota Kabupaten
Sragen, 15 KM sebelah timur laut kota Solo atau
13 kilometer dari pusat kota Kabupaten Sragen dan
telah dilengkapi dengan infrastruktur dan sarana
to that of Solo style, especially in the ‘80s. This
publik yang memadai. Kala tiba di desa wisata batik,
is not surprising, because the pioneers of batik
pelancong tidak hanya dapat berbelanja. Wisatawan
in Sragen had previously experienced working
juga dapat melihat proses pembatikan, seperti proses
as laborers in Solo batik industries. Sragen batik

T
penjemuran, pewarnaan, pemberian motif, pelapisan
industries then develop their own characteristic
dengan sejenis parafin, dan pembatikan.
hese two batik sub-centers are successfully, different from those of Yogyakarta
Gaya batik Sragen awal mulanya identik dengan supported by many batik home and Surakarta batik.
batik Surakarta, terutama di era 80-an. Ini tak industriy vilages, located adjacent
The Sragen batik craftman generally produce
mengherankan, sebab para pionir kerajinan batik each other. These two batik sub-center
various types of batik, handmade (hand-writing),
di Sragen umumnya pernah bekerja sebagai buruh are neighbors and only separated by Bengawan
stamps, printing, and the combinations. However,
batik di perusahaan milik juragan batik Surakarta. Solo river, Plupuh in north-side and Masaran in
most of the craftman still maintain hand-writing
Namun kemudian, batik Sragen berhasil membentuk south-side respectively,
batik on primisma cloth. This traditional
ciri khas yang berbeda dari gaya Yogyakarta dan The villages of Pilang, Sidodadi, and techniques (Sragen hand-writing batik) has
Surakarta. Kliwonan are located in the south of Bengawan showed the remarkable ability to survive within
Perajin di Sragen umumnya memproduksi Solo river and part of Masaran sub-district. Due the high competition recently. By maintaining its
batik dengan teknik tulis, cap, printing, dan to being located alongside the river (Bengawan traditional technique, Kliwonan batik craftman
kombinasinya. Namun, sebagian besar perajin masih Solo river) – they are called “Girli” (Pinggir Kali- are considered as rare exotic assets that has to be
mempertahankan teknik tulis di atas kain primisma. Javanese language) and their batik home industies preserved. This is really the appeal of Kliwonan
Teknik tradisional ini menunjukkan kemampuan are also known as “Batik Girli” (Edge of the River batik tourism village.
luar biasa batik tulis Sragen dalam bertahan di era Batik). There are about 4,817 batik craftman in
The high competitiveness of Sragen batik is
modern ini. Masih dipegangnya cara tradisional their two batik sub-centers and employing at least
not a mere figment. Although carried out only
para pembatik di kawasan Kliwonan ini merupakan 7,072 workers
by home industry-based products located in rural
eksotisme yang langka dijumpai. Inilah daya tarik Accessibility villages, their production capacities can not be
desa wisata batik Kliwonan. Most Batik craftman live in Kliwonan village. underestimated. It can be seen, that the cotton
The quantity of products produced by Kliwonan type batik produced in 2005 achieved about
Soal daya saing batik Sragen memang bukan
craftman is the largest one. Therefore, the area 50,000 pieces, while silk type batik of manual
isapan jempol semata. Walaupun berupa industri
producing batik in Sragen region is later better loom machines reached 365,000 pieces. Not
rumahan dan berlokasi di pedesaan, kapasitas
known as Kliwonan batik center. The Sragen local surprisingly that Sragen could be the contender
produksi batik yang dihasilkan tidak bisa dianggap
government, then established it as an integrated of Pekalongan and Surakarta as the major regions
enteng. Lihat saja, produksi batik jenis katun yang
tourism area, which is called the tourism village of batik producers.
dihasilkan pada 2005 mampu menembus angka
50.000 potong, sementara batik jenis sutera dari alat of Batik Kliwonan. Kliwonan village is once Indeed, their success do not lead Sragen batik
tenun bukan mesin mencapai 365.000 potong. Tak appointed to be the center of the developing, craftman to forget themselves. The people living
mengherankan apabila Sragen mampu membayang- training, and marketing of batik. in “Girli” batik centers area are known to be a
bayangi Pekalongan dan Surakarta sebagai daerah The Tourism Village of Kliwonan Batik is religious community. They are also to be friendly,
produsen batik. located about 12 KM south of Sragen city, 15 KM courteous, and please to guests. The Islam - the
northeast of Solo city and has been equipped with religion of the majority population in Girly
Toh, kesuksesan tersebut tidak lantas membuat batik center - teachs to honour guests. That is
adequate public infrastructures and facilities.
para perajin batik menjadi lupa diri. Masyarakat the doctrine that has really been a lifeline to be
When arriving at this tourism batik village, the
sentra batik Girli itu dikenal sebagai komunitas implemented in their daily life .
tourism can not go for shopping, they can also
yang religius. Mereka juga dikenal ramah, sopan,
watch the batik processing closely, such as the
dan terbuka terhadap tamu. Ajaran Islam -agama
drying process, dyeing process, motif design,
informasi | information »
mayoritas penduduk sentra batik Girli untuk
coating process with paraffin, and the final process Batik Sragen
memuliakan tamu yang disampaikan turun temurun Dinas Perindustrian Koperasi dan UMKM Kabupaten
of making batik.
oleh pendahulu mereka benar-benar dipegang teguh. Sragen, Jl. Raya Sukowati No. 21 Sragen
The Sragen Batik style was originally similar Telp/Fax. (0271) 891050

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 37


Made in Indonesia

Kota Yogyakarta sejak puluhan tahun yang lalu sudah


dikenal sebagai produsen batik yang cukup terkenal di
tanah air. Karenanya, tidaklah mengherankan apabila
banyak wisatawan, baik lokal maupun internasional
banyak yang memburu batik Yogyakarta untuk berbagai
keperluan.
Since decades ago, Yogyakarta has been known as a well
known producer of batik in the country. It is not surprisingly
that many tourists, both domestic and foreign who hunt
Yogyakarta batik for various purposes.

T
idak saja untuk dimanfaatkan sendiri, tetapi
juga sebagai souvenir atau buah tangan
sebagai pertanda pernah berkunjung ke
Yogyakarta. Bahkan, tidak sedikit wisatawan
yang menjadikan batik Yogyakarta sebagai lahan
bisnis di dalam maupun luar negeri.
Peluang bisnis batik di pasar dalam negeri
memang masih cukup terbuka untuk dimanfaatkan,
mengingat produk batik memiliki penggemar di
berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung,
Semarang, Surabaya, Bali, Makasar, dan sebagainya.
Dari ribuan produsen dan pedagang batik di
Yogyakarta terdapat salah satu produsen/pedagang
batik yang mampu bertahan dalam kondisi persaingan
yang semakin ketat pada waktu belakangan ini.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa, semakin
banyak produsen/pedagang di suatu kota/daerah,
dipastikan bakal memunculkan persaingan dagang
yang “ cukup seru “ diantara mereka. Terlebih-lebih
dalam era global dewasa ini, persaingan dagang tidak
saja terjadi diantara sesama produsen/pedagang
lokal Yogyakarta, tetapi juga datang dari produsen
batik impor, seperti halnya batik China, Malaysia,
Traditional Batik of Yogyakarta dan sebagainya.

Batik
Batik Pertiwi yang dikomandani Siti Utami
Pertiwi, adalah produsen sekaligus pedagang batik
yang bisa bertahan atau tetap eksis ditengah-
tengah persaingan dagang yang kian tajam di pasar
Yogyakarta. Menurut pengakuan sang pemilik, Siti
Utami Pertiwi, resep yang cukup ampuh untuk tetap
bertahan adalah kreatifitas dan inovasi. Ini berarti,
tambah Siti Utami Pertiwi, upaya menciptakan motif

Jogyakarta
atau desain baru menjadi hal penting untuk terus
dilakukan. Tidak hanya motif, penggunaan bahan
baku yang tepat dan effisien, juga menjadi factor
yang ikut menentukan eksis tidaknya usaha batik di
pasar Yogyakarta. Sebaliknya, bila kita mengabaikan
kreatifitas dan inovasi dalam berbisnis batik, hampir
bisa dipastikan kita bakal ditinggalkan konsumen.
“Dalam situasi persaingan yang sangat
ketat dewasa ini, ditambah dengan keterbatasan
penghasilan konsumen pada umumnya,
menyebabkan konsumen memilih batik dengan
harga yang terjangkau,” ujar Siti Utami Pertiwi

38 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
kepada reporter majalah KINA belum lama ini
ditempat kerjanya. Ia menambahkan, jarang sekali
konsumen yang mengunjungi show-room Batik
Pertiwi memilih yang kualitasnya bagus.
Untuk mensiasati kondisi pasar seperti itu,
sejak beberapa tahun belakangan ini Batik Pertiwi
memproduksi berbagai jenis dan corak batik guna
memenuhi permintaan pasar. Tidak saja konsumen/
pembeli dari kalangan menengah-kebawah, tetapi
juga konsumen kelas menengah dan kelas atas.
Dengan strategi seperti itu, Batik Pertiwi tetap
mempunyai pembeli dari berbagai kalangan. Bahkan,
tercatat beberapa instansi pemerintah daerah,

N
menjadi pelanggan untuk keperluan pengadaan baju
ot only for their own use, but also as business owner, Siti Pertiwi Utami, creativity and
seragam dinas di instansinya.
souvenirs or gifts as a proof they have innovation are the key success factors to compete.
Menjawab pertanyaan terkait kemampuan visited Yogyakarta. In fact, there are Specifically, added Utami, an effort to create new
produksi dalam jumlah besar dan dengan harga many tourists who comercialize the motives or designs should be continuously carried
yang bersaing, ia menjawab bisa memenuhinya Yogyakarta batik at domestic and foreign markets. out. Not only the motif and design, the proper and
asalkan diberikan waktu pembuatan yang cukup. efficient use of raw materials is also significant
Batik business opportunities in domestic
Sikap optimis seorang Siti Utama Pertiwi memang factor to determine the success of running
market is still widely open to be exploitated,
cukup beralasan. Pasalnya, saat ini ia memiliki 70 batik industry. By ignoring the creativity and
given there are lots of potential consumers for
karyawan, baik produksi, marketing maupun tenaga innovation aspects in batik industry, most likely
batik scattered in many big cities such as Jakarta,
administrasi dalam jumlah yang memadai. Demikian the customers will leave us, stressed Utami.
Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Makassar,
pula tenaga desainer yang berpengalaman tersedia
and so on. “In fierce competition, coupled with limited
dalam jumlah yang cukup. Belum lagi dukungan dari
From thousands of batik manufacturers and purchasing power of consumers in general, the
mitra kerja Batik Pertiwi yang berjumlah 7 pengrajin.
traders in Yogyakarta, Pertiwi batik is one of the consumers prefer to choose batik with lower
“Kesemuanya ini menjadi andalan Batik price,” said Utami to Kina reporter in her office.
manufacturers / traders that is able to survive in
Pertiwi dalam rangka memenuhi permintaan pasar She added that only a few consumers visiting her
the current tight competition. All people know
dalam jumlah besar,“ ujarnya mengakhiri bincang- batik gallery that buy batik with high quality.
that, the more producers / traders running the
bincanganya bersama reporter Majalah KINA.
business, the competition among them will be To anticipate such market conditions, in the
increasingly intense. In today’s global era, trade last few years Batik Pertiwi has started producing
competition occurs not only among producers/ various kinds of batik motives to meet various
local traders, but also comes from imported batik, market demand, from lower, middle up to upper
like China batik, Malaysia batik and so on. class. With such strategy, Batik pertiwi able
Siti Pertiwi Utami, a producers and seller of to meet its customer loyalty. Even, there are
Pertiwi batik is one that can survive and able to many local government agencies to be the main
compete in Yogyakarta market. According to the customers for procuring the uniforms.
Answering the questions related to the
production capacity for large number of products
with competitive prices, Utami confidently
responds that she has a capability to meet the order
if buyer gives enough time to produce. Optimist
attitude shown by Utami is quite reasonable
since nowadays she has 70 employees, a sufficient
number to conduct production, marketing and
administration. She also employs enough number
of experienced designers. She is also supported by
7 craftmen as business partners.
All of them are the assets of Batik pertiwi to fulfill
the large number of market demand, said Utami
while closing the talk with Kina Magazine.

informasi | information »
Batik Ndalem Pertiwi
Jl Singoranu 542, Tegalrejo,
Yogyakarta 55244
Telp: 0274- 370171; 385678
Fax : 0274-370171

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 39


Made in Indonesia

the Classical Batik of Pakualaman

Batik Pakualaman Yogyakarta yang ketika era kerajaan Nusantara pernah dikenal sebagai
ibukota kerajaan Mataram dalam sejarah dikenal sebagai daerah
tempat asal muasal munculnya kerajinan dan seni batik di tanah air.
In the ancient kingdom era, Yogyakarta, initially known as the
capital kingdom of Mataram, historically has been recognized as the
origin of the emergence of batik art in the country.

menantu Paku Alam IX, untuk memperkenalkan Pakualaman yang sangat indah, klasik dan banyak
berbagai karya seni peninggalan Pakualaman kepada mengandung makna filosofis. Setiap lembar kain
masyarakat luas melalui wahana seni kerajinan batik. batik tulis Pakualaman membutuh waktu pengerjaan
Karena itu, sejak empat tahun silam Atika mulai selama 3-6 bulan. Karya seni batik Pakualaman
menyadur, menciptakan dan mengembangkan tersebut sudah mulai diperkenalkan kepada publik
berbagai motif batik Pakualaman yang bersumber melalui beberapa pameran batik di tanah air.
dari naskah-naskah peninggalan para pujangga dan Beberapa karya seni batik Pakualaman yang
empu Pakualaman. Di luar dugaan, upaya Atika sudah berhasil dibuat Atika diantaranya motif batik
ini banyak mendapatkan sambutan hangat dari Wijaya Kusumajana, motif batik Sestra Lukita, seri
berbagai kalangan, baik masyarakat umum, pecinta batik asthabrata (motif Batara Indra, Batara Yama,
dan kolektor batik, akademisi, pakar dan peneliti, Batara Surya, Batara Candra, Batara Bayu, Batara
kalangan pemerintah, bahkan dari Paku Alam IX Wisnu, Batara Brama, Batara Baruna dan motif batik
sendiri. Sari Makara Uneng.
Dengan dibantu empat perajin batik, Atika kini Atika mengatakan pihaknya mencoba
sudah berhasil membuat sejumlah karya seni batik membangkitkan kembali dan mengembangkan

K
arena itu, tidak mengherankan jika di
Yogyakarta tumbuh dan berkembang
industri kerajinan batik dengan baik dan
menjadi acuan industri kerajinan batik
yang ada di daerah lainnya di tanah air.
Namun demikian industri kerajinan dan seni
batik yang berkembang di Yogyakarta selama ini
lebih banyak mengacu kepada kerajinan dan seni
batik yang bersumber dari seni budaya yang berasal
dari keraton Yogyakarta. Padahal di Yogyakarta juga
terdapat Puro Pakualaman yang berada di Kadipaten
Pakualaman yang juga banyak menyimpan
peninggalan naskah-naskah seni dan kesusateraan
bernilai tinggi yang selama ini nyaris tidak banyak
dikenal masyarakat Indonesia maupun dunia.
Sebagian peninggalan naskah-naskah seni dan
kesusateraan Kadipaten Pakualaman itu selama ini
tersimpan rapi di Perpustakaan Pakualaman.
Kebijakan Puro Pakualaman yang kini dipimpin
Paku Alam IX untuk semakin membuka pintu Puro
Pakualaman bagi partisipasi masyarakat agar
Kadipaten Pakualaman lebih banyak memberikan
manfaat kepada masyarakat luas, telah mendorong
B. R. Ay. Atika Suryodilogo yang tidak lain adalah

40 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
batik Pakualaman pada awalnya karena terdorong
oleh banyaknya pertanyaan yang diajukan
masyarakat kepadanya mengenai batik Pakualaman.
Karena itu, Atika akhirnya memutuskan untuk
memproduksi kembali batik-batik kuno peninggalan
Puro Pakualaman dan motif-motif batik kuno yang
ada di dalam naskah-naskah peninggalan Kadipaten
Pakualaman. Tujuannya adalah melestarikan motif-
motif batik kuno peninggalan kerajaan dan sekaligus
mengembangkannya. Langkah awal yang dilakukan
Atika adalah mengumpulkan semua naskah-
naskah kuno kerajaan Pakualaman untuk kemudian
menyadurnya ke dalam karya seni batik.
Sejauh ini Atika belum mengkomersialkan
industri kerajinan batiknya. Kain-kain batik yang
dibuatnya tidak diperjualbelikan, namun hanya
digunakan secara intern untuk acara-acara tertentu
seperti untuk penari Puro Pakualamanm, abdi dalem,

T
untuk koleksi Puro Pakualaman dan lain-lain.
herefore, it is not surprising that created by Atika are Wijaya Kusumajana motif,
Kendati demikian, Atika memang berencana
Yogyakarta batik industry has been Sestra Lukita motif, Asthabrata series motives
untuk terjun lebih jauh ke dalam dunia bisnis batik
growing and developing well, and (Batara Indra, Yama Batara, Batara Surya, Candra
mulai tahun depan dengan mengkomersialkan
becoming the benchmark of batik Batara, Batara Bayu, Vishnu Batara, Batara
batik Pakualaman. Hal itu dilakukan agar batik
industry in other regions. Brama, Batara Baruna), and also Sari Uneng
Pakualaman Yogyakarta dapat menjadi tuan rumah
In fact, the development of batik industry in Makara motif.
di negeri sendiri sekaligus untuk melestarikan dan
mengembangkan batik Pakualaman. Yogyakarta has been mainly influenced by arts Atika said that the initial triger to revive and
and culture of Yogyakarta palace. Whereas there develop Pakualaman batik was due to so many
“Saya ingin menjadi pengusaha batik namun
is also Puro Pakualaman located in the Duchy of questions from the public posed to her about
dengan tetap mempertahankan dan memegang
Pakualaman which has also kept so many historical Pakualaman batik. Hence, she finally decided to
teguh pakem yang ada. Dengan demikian batik
heritages such as high-value manuscripts of arts reproduce the ancient batiks inherited by Puro
yang akan kami produksi adalah batik tulis klasik
and literatures that have been barely known Pakualaman and ancient batik motives derived
yang kaya akan filosofi dengan warna-warna yang
by Indonesian people and others. Some of those from the manuscripts of Pakualaman Duchy
indah dan menarik. Saya ingin batik Pakualaman
manuscripts of arts and literatures inherited by heritages. The goal is of course, to preserve and
Yogyakarta dikenal tidak hanya di Indonesia, tetapi
Pakualaman Duchy have been neatly arranged in also develop the ancient batik motives inherited by
juga di seluruh dunia,” tuturnya.
Pakualaman Library. the royal palace. The first step done by Atika was
The Puro Pakualaman, now led by Paku Alam to collect all the ancient manuscripts and then to
IX who engage with community participation, be transcribed into the batik artwork.
in order to give more benefits to the community. Moreover, she has a plan to further dedicate
It was motivated B. R. Ay. Atika Suryodilogo, herself into the batik business next year by
daughter in law of Paku Alam IX, to introduce commercializing Pakualaman batik. It should be
various artworks of Pakualaman heritages to the done in the hope Pakualaman batik of Yogyakarta
public through the media of batik arts. can be hosted in its own city as well as to preserve
Therefore, since four years ago Atika has and develop Pakualaman batik.
started to transcribe, create and develop various “I want to be batik entrepreneur by still
Pakualaman batik motives derived from the maintaining and upholding the original patern.
heritage of the manuscripts of Pakualaman writers. Thus the batik we are going to produce is a clasical
Surprisingly, her effort has been widely appreciated hand-made batik enriched with the philosophical
by many parties, such as the general public, batik meanings as well as the beautiful and interesting
lovers and collectors, academics, experts and colors in it. I expects Pakualaman batik of
researchers, government officials, even from Paku Yogyakarta will be widely known not only in
Alam IX himself. Indonesia, but also around the world, “explained
With the help of four batik artisans, she has Atika.
now successfully created a number of beautiful
Pakualaman batiks characterized by classic shades
and meaningful philosophy. To produce a piece informasi | information »
of hand-made Pakualaman batik cloth, it takes
B. R. Ay Atika Suryodilogo
about 3-6 months. The Pakualaman batik has been nDalem Pura Pakualaman, Jl. Sultan Agung
introduced to the public through several batik Yogyakarta, 55112
exhibitions in this country. Telp. +62274582152
HP: +6281575822554
Some Pakualaman batik motives artworks
e-mail: atikabimo@yahoo.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 41


Made in Indonesia

‘SEKARJATI’

Batik Jombangan
Batik tak hanya berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah, tetapi Jombang (Jawa Timur)
juga banyak memiliki industri batik. Bahkan kerajinan asal ‘Kota Santri’ ini dikenal
ramah lingkungan karena pewarnaannya tidak pernah menggunakan unsur kimia.
Batik is not only from Pekalongan, Central Java, Jombang (East Java) has also a lot of
batik industry. Even the original craft of ‘Kota Santri’ is known for its environmentally
friendly coloring process that never used chemical element.

P
roduk batik yang diberi nama Batik
Jombangan ini lebih banyak mengandalkan
warna-warna alami yang bahan
pewarnanya diambil dari bahan sisa
(limbah) yang diolah dalam paduan aneka motif khas
Jombangan. Ririn Asih Pindari, pemilik Batik Sekar
Jati, di Desa Jati Pelem, Kecamatan Diwek, Jombang
mengatakan, ide memadukan warna alam ini
sudah lama ia rancang. Keuntungan menggunakan
warna alam ini karena cocok bagi siapa saja yang
menggunakannya.
Alergi dengan bahan kimia membuat Ririn
Asih Pindari justru membuka peluang usaha baru.
Mengusung nama Batik Sekar Jati, ia mengkhususkan
untuk memproduksi kain batik yang murni
menggunakan bahan-bahan alam. Keseriusannya
membuat pakaian produksinya selalu diborong oleh
masyarakat dan para pejabat pemerintahan. “Jadi
memakai pakaian dari Batik Jombangan ini tidak
pernah ada keluhan karena alergi atau gatal-gatal.
Warna alam ini jauh lebih aman,” kata Ririn
Ririn menjelaskan, warna alam yang digunakan
adalah perpaduan dari beberapa tumbuh-tumbuhan
maupun buah-buahan yang ada di alam ini. Salah
satunya adalah menggunakan kulit rambutan. “Kami
juga terus melakukan eksperimen dari bermacam-
macam tanaman. Yang pasti dijamin bahwa batik
Jombangan ini tak kalah dengan batik-batik lainnya,”
kata Ririn.
Batik Sekar Jati juga menampilkan motif khas
Jombangan. Salah satunya adalah motif Candi Arimbi.
Motif ini, katanya, telah dipatenkan oleh Pemkab
Jombang sehingga motif Candi Arimbi ini hanya
milik batik Jombangan. Selain motif Jombangan,
pihaknya juga sedang mengembangkan batik dengan
motif hewan sehingga produksi batik tulisnya ini lebih

42 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
bervariasi. Hasilnya pun tidak sia-sia.
Menurutnya, pada awal pembuatan, ia
mengakui kesulitan dalam menjual karena tampilan
warnanya yang kelihatan pudar dan harganya
lebih tinggi dibandingkan batik yang menggunakan
warna kimia. Namun di balik kesulitan itu, banyak
konsumen luar negeri yang menyenangi pakaian
batiknya. Pembelinya yang di Indonesia, sering
membawa batik buatannya ke luar negeri, seperti
Jepang, Australia, Jerman dan Amerika.
Dalam memasarkan produknya ini secara aktif
ia mengikuti berbagai pameran dalam skala nasional
maupun skala internasional. “Selain di kota-kota
di Indonesia, kami juga sering mengikuti pameran
di Jerman, Australia dan Jepang. Kalau untuk luar
negeri, pasar yang paling bagus adalah Jepang,
terutama batik dengan corak alam,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah lebih memfasilitasi
tiap upaya yang dilakukan dalam mempromosikan
batik Jombangan. Batik, katanya,adalah warisan
leluhur dan bagian dari budaya bangsa Indonesia.

Batik Sekar Jati also show Jombangan motif.


One of them is Candi Arimbi motif. This motif, he
said, has been patented by the regency of Jombang
so this Candi Arimbi batik motif belongs only to
Jombangan. In addition with Jombangan motif,
she also developing batik with animal motif so her
batik tulis will be more varies. The result was not

B
in vain.
atik product, called Batik Jombangan
According to her, at the beginning of creation,
rely more on natural colors which
she acknowledged the difficulty in selling because
material taken from the waste materials
of the color display that looks fade and the price is
(waste) that is processed in various
higher than the batik using chemical colors. But
motives of typical Jombangan. Ririn Asih
behind the difficulties, many overseas customers
Pindari, the owner of Batik Sekar Jati, in Desa Jati
who enjoyed batik clothing. Indonesian buyers
Pelem, District Diwek, Jombang said, the idea of
often bringing her homemade batik abroad, such
combining natural colors had been designed long
as Japan, Australia, Germany and America.
time ago. The advantage of using natural color is
suitable for anyone who used it. In marketing her products she actively
participated in various exhibitions nationally
Allergic to chemical material makes Ririn
and internationally. “In addition to the cities in
Asih Pindari created new business opportunities.
Indonesia, we also often following exhibitions in
With brand ‘Batik Sekarjati’, she specializes
Germany, Australia and Japan. If for overseas,
in producing batik cloth using pure natural
most prominent market is Japan, especially batik
ingredients. Her seriousness made clothing
with shades of nature,” she said.
production is always hired by public and
government officials. “Wearing batik Jombangan He also hoped the government facilitates
has never been received any complaint of allergies every effort made to promote batik Jombangan.
or hives. Natural color is much more secure,” Batik, she said, is part of the heritage and culture
Ririn said. of Indonesia.

Ririn explained, the natural colors came from informasi | information »


a blend of several herbs and fruits that existed in
Batik Sekarjati
nature such as rambutan skin. “We also continue
Workshop: Jl. Jatipelem No.37 Jombang-Jawa Timur
to conduct experiments on a variety of plants. Showroom: Grand City Mall Lt.2 (Indonesian Heritage)
Which surely guaranteed that Batik Jombangan Surabaya
is not inferior to others,” Ririn said. Telp: 081331215918

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 43


Made in Indonesia

Batik Gedog from Tuban


Tidak banyak yang tahu, jika ternyata Batik Gedog Tuban yang ‘asli’,
mengandung unsur-unsur alam, termasuk kapasnya tumbuh dan
berkembang di satu desa tepatnya Kecamatan Kerek, Kabupaten
Tuban, Jawa Timur.
Only few people know that Batik Gedog from Tuban Batik contains
natural materials, including the cotton material produced from a village
located in Kerek, Tuban Regency, East Java.

Batik Tuban
M
ulai dari produksi benang yang
kapasnya sudah dari potensi
setempat, dijadikan tenunan kain,
sebelum akhirnya diproses menjadi
batik. Seperti yang dituturkan oleh Siti Fatimah,
Dalam satu bulan produksi dengan ATBM dapat
menghasilkan sekitar 20 lembar kain. Sementara
kain kami yang kapasnya saja masih dipintal menjadi
benang dan dijadikan kain, pertama kali akan terasa
lebih kasar permukaannya, seperti kain sarung.
kebanyakan berasal dari pewarna alam seperti Indigo
(untuk biru), kayu mahoni (merah), warna dari tanah
liat dan juga pelepah pisang,” jelasnya didampingi
staf yang bertugas, Lifa.
Kapas yang tumbuh di wilayah Tuban ini,
warga asli Tuban yang kini memiliki usaha galeri Dengan proses manual, satu bulannya kami hanya biasanya ditanam di sela-sela tegalan (pematang)
“Aftrees,” dan khusus menjual tenun, Batik Gedog dapat menghasilkan satu lembar kain. sawah, di antara tanaman jagung atau kacang tanah.
Tuban, yang motifnya pesisiran. Tetapi jangan salah tanggap, karena berdasarkan Lamanya proses penanaman sampai menghasilkan
Bagi mereka yang tahu bagaimana perbedaan penelitian secara ilmiah, kain kami yang seratnya buah biasanya tiga bulan. Jika sudah menjadi benang,
kualitas yang dihasilkan mesin gedog dengan mesin murni dari alam dan tidak menggunakan katun sama beratnya sekitar ¾ kg, harganya berkisar antara Rp
ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), tentu mengerti sekali ini, baik sekali digunakan oleh mereka yang 20 ribu s.d Rp 25 ribu, tergantung beratnya. Untuk
mengapa selisih harga keduanya bisa mencapai kulitnya kerap mengalami alergi. Riset ini juga kian kami, kebutuhan per bulannya diperkirakan sekitar
1/3 lebih murah. Kain yang menggunakan ATBM, membuktikan penggunaan bahan non kimiawi justru 60 kg untuk menghasilkan sekitar 30 s/d 40 potong
biasanya langsung diproses batik dengan bahan aman untuk kulit yang sering bermasalah, karena kain tenun yang akhirnya dijadikan kain batik.
kain yang diambil dari daerah Jepara (Jawa Tengah). bebas bahan nilon. Begitu juga dengan pewarnanya,

44 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
Fatimah menambahkan, usahanya yang dimulai
dari sekitar tahun 2000 ini berkembang sebelum batik
Tuban dikenal orang. Waktu itu sebetulnya di daerah
Tuban tersebut belum banyak yang menekuni tenun
dan batik Tuban, sehingga pada pameran-pameran
besar di Jakarta, batik Tuban kurang dihargai
keberadaannya. Padahal menilik sejarahnya,
Mantan Menteri Sosial Siti Hardiyanti Rukmana pada
sekitar tahun 1985, pernah bekerjasama dengan
Departemen Perindustrian kala itu, membina para
perajin batik dan tenun gedog selama sekitar 3 bulan.
Baru akhirnya sejak tahun 2000 hingga sekarang
diperkirakan sudah ada sekitar 100 orang pembatik.
“Dari perusahaan saya saja, jumlah pekerja

A
untuk pembatikan dan tenun sekitar 80 orang,
tetapi lebih mudah memperoleh tenaga pembatik,
s explained by Siti Fatimah the only few people in Tuban was actually dealing
karena mereka yang usianya lebih muda dan
production process of Gedog Batik, with weaving and crafting batik so when
kuat masih mau menggarap batik. Sementara
is started from the cotton yarn the exhibitions held in Jakarta, Batik Tuban
ini lebih sulit mendapatkan tenaga kerja untuk
harvested by the local farmers, then experienced less appreciation. Whereas, based on
yang mau menenun dengan mesin gedog, karena
it is processed into woven cloth before finally its history, in 1995 former Social Affairs Minister,
pengerjaannya juga lebih berat. Saya sendiri juga
processed into batik. Fatimah now is the residents Siti Hardiyanti Rukmana in cooperation with the
ingin supaya penyebaran batik Tuban ini lebih luas
of Tuban running the business of “Aftrees” Department of Industry have trained the craftmen
lagi, tidak terbatas pada Kecamatan Kerek saja.
Gallery, specialized in selling woven cloth Gedog for 3 months. It is estimated there are now about a
Bicara tentang motif, yang paling khas dari batik Tuban with coastal motif. hundred batik craftmen in Tuban.
Tuban adalah motif Guntingan yang kisahnya diambil
For certain peoples, they understand the Fatimah’s company employs 80 workers for
dari sayap atau daun yang sudah dimodifikasi,
quality differences of product that made from weaving and batik. As explained by Fatimah, it
sehingga tampilannya menjadi terkesan lancip atau
Gedog machines and ATBM (non-woven is much easier to recruit workers for batik rather
tajam. Secara umum, motif atau corak yang paling
machines), even more the prices is approximately than weaving since weaving process is more
umum di daerah pesisiran ini adalah desain dari
one third more expensive. The other Batik is difficult and needs more physical power. In order
alam seperti burung Hong, pohon Kembang Kapas,
usually produced directly by using the cloth to promote Gedog Batik she expects Gedog Batik
Ceplok Bunga, dan hasil laut seperti ikan, udang,
bought from Jepara, Central of Java. In a month, can also be produced widely in other regions
dan kepiting. Kendati ada yang menampilkan motif
20 pieces of cloth can be produced by ATBM. outside Kecamatan Kretek.
kontemporer, tetapi ciri khas Tuban seperti gambar
Meanwhile it needs a month to produce a piece of Talking about the motif, the most typical
buket di tengah atau ceplok bunga, bahkan pucuk
cloth for Gedog Batik. The cloth for Gedog Batik of Tuban Batik is Guntingan motif, inspirated
burung, tetap ada di sisi tepi kain. Pendeknya kini
is characterized by it’s surface that appears a bit by the wings or leaves that have been modified,
sudah ada ratusan motif batik Tuban, seperti Lokcan,
rough, like saroeng. With a manual process, one so it delivers impression of pointy or sharply. In
Cuken, dan Krompol.
month we can only produce one sheet of cloth. general, the most common motives or patterns in
Konsumen batik Tuban pada awalnya adalah
“But, do not mistaken since based on the coastal area is the design pattern derived from
warga Belanda dan Jepang yang menggunakan kain
the scientific research, the cloth containing of nature features such as Hong bird, the tree of
sebagai bahan pakaian. Belakangan orang Amerika
natural materials is better used for those who Kembang Kapas, Ceplok flower, and sea products
Serikat mulai mengoleksi kain Tuban sebagai kain
often experience skin allergies. This research is such as fish, shrimp, and crabs. Eventhough
hiasan atau dekorasi interior rumah. Kini sudah
increasingly proving that the use of non-chemical there are some contemporary motives, the typical
banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui
materials is safe for those with problematic skin motives as mentioned earlier such as Ceplok
dan mencintai batik Tuban sebagai warisan budaya
because of the free nylon material. The dye usage flower, Hong bird remains exist usually in the
bangsa Indonesia.
is mostly derived from natural dyes such as Indigo border of cloth. Recently, there are more than a
(for blue), mahogany (for red), the color of the hundred motives for Tuban Batik, including
clay and also banana leaf”, as Fatimah further Lokcan, Cuken, and Krompol.
explained. The Customers of Tuban Batik was firstly
Cotton growing in Tuban area is usually Dutch and Japanese citizens. Later, the United
planted on the sidelines of the moor fields, States citizens started collecting Tuban batik as
among maize or peanuts. It takes three months parts of material for home interior decoration.
from planting to harvest. Every cotton tree can Now, so many Indonesian people recognize
produce yarn weighing about ¾ kg, with the price and love Tuban Batik as a cultural heritage of
ranges from Rp 20 thousand to Rp 25 thousand Indonesia.
depending on the quality. According to Fatimah,
60 kg yarn is needed to produce 30 to 40 pieces of informasi | information »
woven cloth for batik.
Batik Sekar Ayu - Aftrees - Tuban
Fatimah added that her business starting Jl. Pejuangan No. 24, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
around the year of 2000 was run before Tuban Telp (021) 5355995
Batik getting popularity as now. At that time, Fax (021) 5359195

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 45


Made in Indonesia

Ketika melihat guratan dan


corak Batik Madura, maka yang
paling membedakannya dari
daerah lainnya adalah Batik
Madura senantiasa menggunakan
garis-garis tegas dan rata-
rata didominasi (cenderung)
menggunakan warna merah.
When looking at the sketch and
pattern of Batik Madura, what most
sets it apart from other regions is
Batik Madura is always using firm
lines and commonly dominated by
red colors (likely).

Coastal Batik

Batik
P
Madura
enggunaan warna pada Batik Madura
hampir identik dengan warna merah,”
kata Achmad Rizki, pemilik merek Safwa
Batik yang sudah menggeluti industri
batik tulis dan batik cap, namun masih menggunakan
pewarna kimia, karena pewarna alam cenderung
butuh modal lebih besar.
Ada tiga jenis motif batik, yakni jenis klasik; jenis
batik rumahan, sejak tahun 2003. Memiliki tenaga
kontemporer; dan jenis desain modern. “Saya sendiri
pembatik sendiri yang bekerja padanya 5 orang,
menganut motif klasik kontemporer, sementara ibu
sementara itu jika banyak pesanan, ia kerap
saya menganut paham motif klasik secara penuh
mempekerjakan ‘tenaga borongan’ yang jumlahnya
(full). Pada motif batik yang klasik biasanya setiap
bisa mencapai 30 orang. Selain itu, ia juga biasa
motif tersebut biasanya terkandung nama motifnya,
menggarap sistem kemitraan dengan para pekerja,
makna motif tersebut, dan juga peruntukannya
mengingat di Pamekasan terdapat kurang lebih 28
untuk acara apa (kegunaan).
kampung batik.
Seperti salah satu motif yakni Motif Sabet Manik
Semula saya ikut ibu saya (Faiqah Ismail) yang
(nama), maknanya adalah laki-laki harus bertanggung
sejak tahun 1994 sudah lebih dulu mengembangkan
jawab kepada keluarganya, menggambarkan cinta
merek batik ‘Fiesta Madura’ di Pamekasan, Madura.
yang abadi, serta peruntukannya adalah sebagai
Batik Madura yang termasuk jenis batik pesisiran,
seserahan jelang pernikahan secara adat. Motif ini,
berbeda dengan jenis batik kerajaan atau pedalaman.
tambah Rizky, sudah dikenal sejak zaman Kerajaan
Sifat Batik Madura yang bebas dan cenderung
Majapahit, artinya motif tersebut juga dikenal berasal
mencerminkan karakter daerah, terutama pada
dari wilayah Jawa Tengah.
jenis batik tulisnya,” papar Rizky yang produksinya

46 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
Padahal batik yang motifnya berasal dari daerah
Jawa Tengah, biasanya juga dikerjakan dengan
sentuhan yang halus, karena karakter orang Jawa
Tengah yang sifatnya gemulai, dan lebih
sabar ketika membatik. Sementara karakter orang
Madura yang tersebar di beberapa daerah yakni
Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep,
rata-rata dikerjakan dengan lebih tegas, sehingga
kesannya jelas. Sejumlah motif lain hasil garapan
yang dikenalnya seperti Jagat Puri Keper (kupu-
kupu), Tasek Malaja, dan Fajar Menyingsing.
“Dalam satu minggu ide-ide kreatif kami dapat
menghasilkan sekitar 200 motif di daerah Pamekasan.
Sebab di wilayah ini saja terdapat 12 s/d 15 ribu
pembatik, dengan jumlah perajinnya antara 500 s/d
750 orang. Motif batik sendiri sudah dikenal sejak
lama, seperti tahun 1950, ada motif yang dinamakan
Daun Palasan. Berdasarkan mitos yang dipercaya
secara turun-temurun, pohon Palasan ini pernah
berjasa kepada salah seorang tokoh kerajaan yang
berkaitan dengan kisah Rumah Batik Jawa Timur.
Namun demikian motif yang dikenal secara umum

T
di sana adalah motif umum yang sifatnya figuratif,
semi figuratif, dan non figuratif. Ditambahkannya he use of color in Batik Madura is Whereas the motive batik from Central Java,
batik tulis yang mereknya dibangun oleh sang ibu almost identical to the red color,” said usually done with a delicate touch, because the
“FIESTA MADURA,” khusus batik tulisnya, telah Ahmad Rizki, brand owners of Safwa character of the Central Java that are graceful, and
memperoleh sertifikat Batik Mark sejak tahun 2010 Batik who already join home batik more patient when make batik. While the character
dari Balai Besar dan Kerajinan Batik Yogyakarta. industry since 2003. Having 5 people as his Madura people that are scattered in several areas
Ia menambahkan seharusnya pemerintah lebih employees working for him, he often employs ‘ namely Bangkalan, Sampang, Pamekasan, and
banyak mensosialisasikan penandaan Batik Mark contract labor ‘ that number could reach 30 people Sumenep, on average performed more strongly, so
ini, sehingga baik para pengusaha batik dan juga while if receive a lot of orders. In addition, it is it felt obvious. A number of other motives familiar
masyarakat pengguna batik mengerti apa gunanya also common to work in partnership with workers, claim results as Jagat Puri keper (butterfly), Tasek
upaya pemerintah menjaga kelestarian batik melalui considering there are about 28 batik villages in Malaya, and Fajar Menyingsing.
upaya ini. Pamekasan. “Within one week our creative ideas can be
Initially I joined my mother (Faiqah Ismail) generated about 200 motives in Pamekasan area.
who is since 1994 had already been developing Because in this region there are 12 to 15 thousand
a batik brand ‘Fiesta Madura’ in Pamekasan, batik maker, with the number of craftsmen between
Madura. Batik Madura includes coastal types 500 to 750 workers. Motif batik has been known
batik, with different types of batik with inland for a long time, such as in 1950, there Palasan
batik. Batik Madura free nature is tend to reflect Leaf motif. Based on the myth which is believed by
the character of the area, especially on the type of generations, Palasan tree was once credited to one
batik tulis, “Rizky said the production of batik of the characters related to the story of the royal
tulis and batik cap, still using chemical dyes, house of East Java Batik.
because natural dyes tend to need more capital. However, in general a well-known motif
There are three types of batik, which is kind of are common motives that are figurative, semi-
a classic, the kind of contemporary, and modern figurative and non-figurative. He added special
design types. “I embrace contemporary classical batik tulis which was built by his mother brand
motives, while my mother adopts full classic “FIESTA MADURA,” has obtained a certificate
motif.. In classical batik motives every motives of Batik Mark since 2010 from Handicraft and
usually contained the name of its motives, the Batik Center Yogyakarta. He added that the
meaning of motives, and also the intention to use government should socialize more Batik Mark
(usability). tagging, so both the employers and the batik user
As if one of the motives name Motif Sabet Manik community understand what is the government’s
(name), the meaning is a man should be responsible attempt to preserve batik through this effort.
to his family, describing the eternal love, and the
designation is as gift ahead of customary marriage. informasi | information »
This motif, added Rizky, has been known since the
days of the Majapahit Kingdom, meaning that the Batik UD Fiesta
Jl. Raya Proppo No. 71 A, Pamekasan - Madura
motif is also known from Central Java. Email : acriz2000@yahoo.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 47


Made in Indonesia

Batik Bali
The beauty of Balinese Batik

Keindahan Batik Bali belum dapat dinikmati perkembangannya secara


baik di Provinsi Bali, karena kebanyakan para pengrajin lebih banyak
menekuni industri pertenunan.
The beauty of Batik Bali cannot be enjoyed properly in Bali Province,
because most of the craftsmen more focusing on weavings industry.

S
eperti yang dilakukan oleh Ida Bagus Made dalam kitab pewayangan.
Adnyana yang selama ini mendampingi
Sementara itu proses pengerjaan membatik,
istrinya Ida Ayu Ngurah Puniari yang
mulai dari melukis corak, sampai pembatikan
mengerjakan tenun songket warna alami
diperlukan waktu sekitar dua minggu. Itu karena
dan kain Bebali dengan merek “Tuhu Batu.” “Saya
proses pencelupan warna dilakukan sampai lima
sendiri dulunya adalah pelukis, sementara istri
kali, baru warna aslinya muncul ke permukaan.
yang menggeluti usaha tenun sejak tahun 2005”,
Saya sendiri baru pada bulan Juni ini bersama
tambahnya.
anak saya, mencoba produksi batik tersebut, tetapi
Menurut Bagus, selama ini ia membantu belum dikomersilkan. Karena menghadapi kendala
istrinya mencari bahan untuk kain pewarna alam. bagaimana menjadikan Batik Bali ini menjadi industri
“Dari sini saya menemukan akar Mengkudu untuk rumahan, yang nantinya juga diharapkan meningkat
menghasilkan warna merah dan kuning; juga daun lagi menjadi industri yang lebih berkembang, kami
Tarum untuk memperoleh warna biru. Warna coklat harapkan Kementerian Perindustrian pusat ataupun
diambil dari tanaman Mahogani, dan warna kuning Dinas Industri dan Perdagangan setempat memberi
juga bisa diambil dari Kayu Nangka. Motif yang ada arahan, agar industri ini ke depannya lebih baik.
kebanyakan adalah berbagai corak bunga. Setelah itu
”Apalagi selama ini teknik pewarnaan di Bali
saya belajar ilmu membatik di atas kain dari seorang
cenderung lebih banyak menggunakan pewarna
kawan, Tjok, namanya yang selama ini banyak
sintetis, yang produksinya relatif lebih sederhana
menggeluti atau bergerak di Yayasan Pencinta Kain
dibanding menggunakan pewarna alam. Karena
Bebali. Yayasan ini berusaha melestarikan kain tenun
itu saya meminta dukungan dari instansi setempat
dari Bali, termasuk juga di dalamnya koleksi berbagai
agar mendukung penggunaan pewarna alam,
Batik Nusantara.
yang kelihatannya lebih berpihak pada lingkungan
Dari hasil belajar tersebut, saya memperoleh dibanding penggunaan pewarna dari bahan kimia.
pengalaman membatik, terutama yang dilakukan Kami juga belum terbiasa menggunakan canting
di atas kain sutera dan kain katun. Jadi saya tidak seperti para pembatik yang ada di wilayah Jawa,
membatik di atas kain mori. Untuk dapat dibatik, karena alat membatik ini belum dapat ditemui secara
kain sutera dan katun tersebut perlu direndam mudah di wilayah Bali. Kami harus membelinya
dengan kemiri, selama lebih kurang satu minggu. dengan harga “agak mahal” karena canting tersebut
Sebab kalau waktunya kurang dari satu minggu, harus diambil dari daerah di wilayah Jawa. Itu
kain tersebut tidak dapat menyerap zat warna alam. sebabnya kami perlu diarahkan lagi, termasuk dalam
Dilihat dari penggunaannya, kain batik ataupun kain hal perhitungan ekonominya, berapa harga bahan
tenun digunakan sebagai kain lapis kedua, yang biasa baku, pengolahan, sampai aspek pemasaran,” papar
dipakai dalam upacara-upacara adat harian ataupun Bagus yang produksinya berada di daerah Sukawati,
upacara khusus hari-hari besar agama Hindu. Adat Gianyar, Bali.
kami juga membiasakan penggunaan kain adat

48 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

A
s what was done by Ida Bagus Made From the lesson, I gained the experience to hoped to increase to be a bigger industry, we hope
Adnyana who has been accompanying batik, including the one executed on a silk and that the Ministry of Industry or the agency of
his wife, Ida Ayu Ngurah Puniari cotton fabric. So, I did not batik on a mori fabric. Industry and Trade on the area gives a direction,
working on woven songket with To be able to batik, silk and cotton’s fabric has to so that this industry in the future can be better.
natural dyes and Bebali fabric with brand “Tuhu be soaked with kemiri leafs, for the duration of less Moreover, all this time, the dyeing technic
Batu”. I, myself was a painter, while my wife than a week, this fabric cannot absorb the natural in Bali tends to use more synthetic colourings,
worked on the weaving business since 2005. dyes. As can be seen by its use, batik fabric or which the production is relatively simple
Based on Bagus, at all this time he has been woven fabric is used as a second layer, which is compared to using natural dyes. Because of that,
helping his wife looking for materials for natural usually worn in traditional ceremony or special I ask for supports from the agency in this area to
dyes fabric.” From here I found Mengkudu’s root ceremony especially in a Hindu notable day. Our support the use of natural dyes, which looks more
to produce a red and yellow colour; also Tarum’s culture is also accustomed to use traditional cloth environmental-sided than chemical colourings.
leaf for blue colour. Brown colour can be taken in the book of “pewayangan”. We also have not been adapted of using “canting”
from Mahogany, and yellow colour can also be Meanwhile the process of making batik, like batik artisans in Java, because this equipment
taken from Jackfruit’s wood. The motifs are mostly starting from painting the pattern until the end is not easily found around Bali. We need to buy it
various flowers’ shapes. After that, I studied the requires around two weeks of time. That is because with a “quite expensive” price because this canting
science of patterning batik on a fabric from a the process of dyeing is repeated five times, then is supplied from Java. That is the reason why we
friend, Tjok, the name who until now has wrestled the original colour reaches the surface. I with my need a direction again, including on the economy-
or moved in the Foundation of Pecinta Kain child on June tried to produce this kind of batik, side, how much is the materials, the process, until
Bebali. This foundation tries to conserve woven but this has not been commercialized. Because the market aspect,” said Bagus whose production
fabric from Bali, including also the collection of facing the problem of how to make this Balinese is around Sukawati, Gianyar, Bali.
various Batiks across the country. Batik to be a home-industry, which soon to be

informasi | information »
Batik bali - tuhu batu
BR. Gede Batuan, Sukawati, Gianyar, Bali, Indonesia
Hp 0819 360 26802
Tuhubatu@yahoo.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 49


Made in Indonesia

BATIK SASAMBO-NTB, THE MIXTURE OF “SASAK , SAMAWA, AND MBOJO”

Batik Sasambo
Yang cukup menarik dari Batik yang merupakan gabungan tiga etnis di
wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) ini masing-masing Suku Sasak di
Lombok, suku Samawa di Sumbawa, dan Mbojo di NTB, menjadi asal
kata lahirnya istilah Sasambo.

The most interesting thing from this batik is the name of “Sasambo” which
borned from initial letters of three ethnic groups in West Nusa Tenggara
(NTB) that are Sasak from Lombok, Samawa from Sumbawa, and Mbojo in
NTB,

S
eperti dikemukakan salah seorang
pengrajin B. Like Budayati Japa, pemilik
merek Kepeng Mas, yang dijumpai di salah
satu stand pameran Inacraft di Jakarta,
beberapa waktu yang lalu.
“Tidak dapat dipungkiri lagi, memang istilah
batik, sampai teknik membatik yang dikenal di sini,
memang berasal dan dilakukan oleh orang Jawa.
Bahkan pengadaan semua bahan baku yang kami
perlukan mulai dari kain untuk membatik dan juga
alat canting, semuanya kami dapat dari Pulau
Jawa. Mereka bekerjasama dengan para desainer
mengajari kami membatik, tuturnya.
Saya sudah memulai usaha pembatikan ini sejak
empat tahun silam. Untuk kain seperti yang diajarkan
para pelatih dari Jawa, kami menggunakan media
kain mori. Sementara untuk pewarnaan kami masih
menggunakan pewarna sintetis/kimia, karena dalam
hal teknik menggunakan pewarna alam bagi kami
masih sulit. Walaupun demikian, ada juga produksi
kami yang merupakan kombinasi antara produksi
batik dan tenun.
Sekarang saya sudah memiliki sekitar 12 perajin
batik di sini. Kendati kami belajar membatik dari
“nol,” tetapi tetap saja kami tidak mampu membuat
batik dengan kualitas sehalus yang dihasilkan di
Jawa. Akhirnya kami menghasilkan batik tulis yang
dibuat di atas kain sutera, dan hasilnya diterima
pasar dengan harga sekitar Rp1,5 juta per lembar.
Ada juga yang kainnya katun atau kain mori dengan
kualitas bukan batik tulis dengan harga antara Rp
150 ribu s/d Rp 500 ribu,- per lembar.
Dalam hal teknik dan masa pengerjaan, untuk
batik tulis agak lama, sekitar dua minggu s/d 1 bulan,
sementara untuk batik cap bisa diproduksi secara

50 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
massal. Kami menganggap ‘demam batik’ saat ini cukup mempersulit kami sebagai pengusaha
dan perajin, karena kami sendiri sebenarnya tidak pandai membuat batik. Namun karena
pemerintah sudah mencanangkan batik sebagai warisan budaya Nusantara, maka hampir setiap
daerah yang memiliki batik sebagai kerajinan tradisional, harus mengembangkan batik tersebut.
“Padahal di sisi lain kami lebih pandai (ahli) memproduksi kain tenun. Jadi sering sudah terjadi,
diadakan pelatihan, akhirnya karena memang keahliannya menenun, sulit sekali belajar membatik,
yang harus dilakukan dengan proses yang makan waktu. Selain Jawa yang menjadi kiblat dalam
teknik pembatikan, kami juga sudah harus bersaing dengan Bali yang dalam segala hal seperti
budaya, tradisi, dan kesenian sudah mendunia dan dikenal dunia. Jadi kami mengembangkan
saja, motif yang memang khas dari daerah kami. Bali juga sudah lebih maju dalam penggunaan
pewarna alam, dan mereka sudah lebih ahli dalam memunculkan pewarna alam. Motif batik
Sasambo biasanya berupa rumah adat, lumbung padi, hewan, dan ragam kesenian,” jelasnya.
Ada Motif Kerang, Motif Nyale, Daun Kangkung Biru, Cabe Besar, Daun Bebele, Daun Bebele
Orange, Daun Bebele Pink, Daun Kangkung Ungu, Motif Laut, Motif Peresean, Motif Sebie, dan
Seribu Mesjid.
Biasanya motif Batik Sasambo sebagai berikut, yaitu Motif Made Sahe (mata sapi), motif
Kakando, dan Uma Lengge (rumah tradisional dengan kubah yang bentuknya menyerupai
kerucut). Dengan demikian perbedaan dari masing-masing daerah biasanya terlihat dari corak
dan warna yang dihasilkannya. Seperti misalnya motif cicak yang kami pahami, akhirnya memang
berbeda dengan gambar cicak yang ada di Jawa. Begitu pula dengan berbagai gambar topeng,
yang juga salah satu ciri khas Batik Sasambo, biasanya menjadi media ukir di atas kayu sebagai
produk kerajinan.

L
ike Budayati Japa, the owner of Kepeng having batik industries should be on develop them.
Mas brand, who was asked in one of the “Yet, on the other hand, we are more expert
exhibition stand Inacraft in Jakarta, some to produce woven fabric. So because more familiar
time ago. with weaving skills, it is very difficult and need
“It can’t be denied, the term of batik and batik much more time to learn batik processing. Beside a
technique known here is originated and made by competition with Javanese craftman as a benchmark
The Javanese. Even the raw materials such as fabric of batik technique, we also have another copetition
for batik as well as canting are coming from Java with the Balinese in some aspects such as culture,
Island. They collaborate with some designers to tradition, and arts which is well known in the
teach us how to make batik” she said. world. So we should develop the motifs that were
originally came from NTB regions. Bali is leading
I’ve been started batik business since four years
in using of natural dyes, and they have more skill
ago. We use fabric “Mori” as the main materials
in eliciting natural colors. Motifs of Sasambo batik
for batik as taught by our Javanese instructors. For
are usually in the form of rumah adat (custom
the time being, we use synthetic/chemical dyes for
house), lumbung padi (granaries), animals, and
colourings since technical difiiculties in natural
variety of arts, “He explained. There are motifs like
dyes. Eventhough we also producing a combination
Shellfish, Nyale, Blue Swamp Cabbage Leaf, Large
of batik and woven.
chilli, Bebele Leaf, Bebele Orange Leaf, Bebele Pink
Although we learned batik from zero, Leaf, Purple Kale Leaf, Sea, Peresean, Sebie, and
but currently I have employed 12 craftman, Thousand of Mosques motif.
eventhough we haven’t been able to produce batik
Usually, Sasambo Batik motifs are include
with the quality as good as Javanese made. Now, we
Made Sahe (cow’s eye), Kakando, and Lengge Uma
produce handmade batik on silk, and the products
(traditional house with a dome that look like a cone).
are accepted by the market with a price of about Rp.
Thus the differences of each region is usually showed
1, 5 million per sheet. There are also printed batik
by the design and color produced. Like a lizard
with Mori or cotton materials at a price of Rp 150
motif which we understand is definitely different
thousand to Rp 500 thousand per sheet.
from the picture of lizard in Java. Similarly for
In terms of techniques and time period, it needs varied picture of masks, which are also the typical
longer time for handmade (written) batik, about of Sasambo batik. These characteristics are also
two weeks to 1 month, but for printed batik it can crafted on wood as a Handicraft.
be mass productions. We consider that ‘batik-fever’
currently have led us in dillemma condition due informasi | information »
to the limitation of our capabilities to make high Kepeng Mas
quality of batik. However, because the government Jl. Adisucipto 2A, Mataram, Lombok
has launched that batik as one of National cultural Telp. (0370) 3070642678 ; 081 8088 39451
heritages and as consequences to all regions whose Email : kepeng_mas@yahoo.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 51


Made in Indonesia

Inspiration Motifs from West Kalimantan

Batik
Kalimantan Barat
Ruang pamer di galeri Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda)
Provinsi Kalimantan Barat di Jalan Ahmad Yani Pontianak, terpampang
bermacam-macam produk khas lokal, termasuk di antaranya batik
hasil warga lokal, mulai dari motif etnis Melayu, Dayak, Tionghoa atau
campuran etnis.
The galery exhibition hall of National Crafts Council, of West Kalimantan
(Dekranasda) of West Kalimantan at Jalan Ahmad Yani Pontianak,
displayed a variety of traditional local products, including batik which is
result of local residents, ranging from the motives of ethnic Malay, Dayak,
Chinese or mixed ethnicity.

P
engunjung bisa memilih apa saja yang
berciri khas lokal. Harganya pun bervariasi
dari ratusan ribu hingga jutaan. Khusus,
untuk motif batik khas Kalbar, sungguh
sebuah kekayaan yang melimpah. Inspirasi motif
dari berbagai budaya etnis yang ada seperti tak ada
habisnya.
“Yang kurang di sini, jumlah pembatiknya,”
kata Wiro Sarwanto, seorang pendesain motif batik
Kalbar juga pemilik galeri Wahyu Art.
Wiro, yang berasal dari Laweyan Solo dan
sudah menetap di Pontianak sejak tahun 1970-
an, mengungkapkan penjelajahannya di berbagai
tempat di Kalbar menunjukkan inspirasi motif batik
di provinsi ini sungguh melimpah. Apalagi dari etnis
Dayak, yang memiliki ratusan subetnis menunjukkan
kekhasannya masing-masing.
Istrinya yang berasal dari Sintang Kalbar itu
mengungkapkan, batik-batik khas Kalbar yang
ada di galeri Wahyu Art Jalan M Sohor Pontianak
diminati pembeli, khususnya luar kota. Bahkan
ada di antaranya dari Brunei Darussalam dan
Malaysia.Ia dan isterinya, telah berusaha mendidik
beberapa orang, tapi sangat sedikit yang konsisten
menekuninya.
Instansi pemerintah, khususnya Unit Pelatihan
Industri Kecil Menengah (UPT IKM), Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Kalbar, merupakan
instansi yang terus mendorong berkembangnya
industri perbatikan di provinsi ini. “Industri batik di

52 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

V
sini terus dibangkitkan dan didorong berkembang. isitors can choose anything
Dan kita bekerjasama dengan Dekranasda Provinsi, distinctively local. The price also varies
terus membina orang-orang yang mau membatik from hundred thousands to millions.
atau mengembangkan usaha batik khas Kalbar,” Special, to motif typical ordinance,
kata Zubaidi, Kepala UPT -IKM Disperindag Kalbar. indeed an abundant wealth. Inspiration motives
Zubaidi mengakui kerajinan membatik bukan of various ethnic cultures that exist as endless.
asli warga Kalbar, namun ketika mengerjakan batik “What is lacking here, the number of batik
mulai dikembangkan mengikuti usaha tenun yang craftsman,” says Wiro Sarwanto, a motif designer
sudah lama ada, maka menjadi lebih mudah. Motif- from Kalbar who is also the owner of art gallery”.
motif batik bisa diambil dari motif tenun. Wiro, who comes from Laweyan Solo and
Inspirasi motif batik Kalbar, menurut dia, secara has lived in Pontianak since the 1970s, revealing
garis besar berasal dari motif tenun, flora-fauna, dan exploration at various places in West Kalimantan
bangunan rumah khas Kalbar. Sementara coraknya show inspired motif is quite abundant in the
bisa dari etnis Dayak, Melayu atau Tionghoa, yang province. Moreover, from the ethnic Dayak, who
komunitasnya cukup besar di provinsi ini. has hundreds sub ethnic showed peculiar to each.
Yang berasal dari flora-fauna umumnya juga His wife are from West Kalimantan Sintang
sudah digunakan di motif tenun, di antaranya revealed, Kalbar typical batik which is in Revelation
pucuk rebung bunga pasak (bermakna keindahan Art Gallery Road M Sohor Pontianak favoured by
dan kesuburan), burung merak ekor bersambung buyers, especially outside the cities. In fact some of
(bermakna keterikatan pria dan wanita yang sudah them from Brunei Darussalam and Malaysia. He
menikah), buaya (dari etnis Dayak yang bemakna and his wife have tried to educate some people, but
keperkasaan), babi imak/ hutan (dari etnis Dayak very few are consistent at it.
yang bermakna hubungan kekeluargaan masyarakat Government agencies, particularly the Small
yang saling terkait), dan mayang murang (agar diberi and Medium Industry Training Unit (UPT
kemudahan dalam segala hal). SMI), The regional offices of Ministry of Industry
Corak batik Kalbar yang belakangan berkembang and Trade . Is an institution that continues to then it becomes easier. Batik motives can be taken
seperti motif ikan arwana. Di Pontianak yang kerap encourage the development of batik industry in from woven motif.
digunakan di kegiatan beramai-ramai yaitu corak the province. “Batik industry is encouraging to Inspiration motif for “Batik Kalbar”, is largely
insang, sedang di Singkawang dikembangkan batik raise and grow, By cooperation with Dekranasda derived from weaving motives, flora and fauna, and
motif Tidayu, yang merupakan campuran Tionghoa, Province, we continuesly nurture the people who the typical home from Kalbar. While his feature can
Dayak dan Melayu. wants developing batik business or traditional be from ethnic Dayak, Malay or Chinese, a sizable
Dengan segala keterbatasannya, batik khas Kalimntan batik “said Zubaidi, Head of Unit-IKM community in the province.
Kalbar memang sudah wujud. Kini semua pihak Disperindag Kalbar.
Flora-fauna motif has also commonly used
perlu terus merawat agar perkembangannya bisa Zubaidi admitted that batik craft is not a native in weaving motives, including “Pucuk rebung
meningkat dan menjadi kebanggaan masyarakat of West Kalimantan people, but when batik being bunga pasak” (meaning for beauty and fertility),
Kalbar. developed following a loom that has long existed, “Burung merak ekor bersambung” (meaning for
engagement of men and women who are married),
crocodile (from ethnic Dayak meaning for mighty),
pig imak/forest pig (from the ethnic Dayak meaning
for family relationships which related each other),
and mayang murang (in order to be facilitated in
every way).
The later motif that evolved is arwana motif,
in Pontianak the motif that oftenly used in public
activities is gills pattern while in Singkawang is
Tidayu motif which is a combination of Chinese,
Dayak and Malay.
Anyway, with all its limitations, the traditional
Batik of West Kalimantan is already existed. Now,
all related parties need working together in order
to raise its development and Kalbar batik become
the pride of Kalimantan people.

informasi | information »
Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Propinsi Kalimantan Barat
Jl. Sutan Syahrir No.2 Pontianak
Telp: 0561-732610; 766127
Fax: 0561-766128

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 53


Made in Indonesia

Maintaining The Growth of Batik Palangkaraya

Batik
Palangkaraya
Perkembangan batik kini tidak hanya dapat ditemui The development of batik is now not only can
di wilayah Jawa saja, tetapi juga sudah merambah be found in Java, but also has penetrated up to
sampai ke wilayah ‘Borneo.’ Seperti Palangkaraya, ‘Borneo.’ As Palangkaraya, the capital of Central
ibukota Kalimantan Tengah, saat ini tidak hanya Kalimantan, is currently not only a region known
menjadi wilayah yang dikenal sebagai penghasil rotan, as rattan producer, but batik Dayak as well.
melainkan juga menghasilkan batik khas Dayak.

54 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

K
eistimewaan Batik Benang Bintik yang
merupakan warisan luhur masyarakat
setempat, diabadikan sebagai salah satu
corak, karena motif yang ditampilkan
adalah berupa batang garing ataupun pohon
kehidupan. Menurut Sinta selaku pemilik ‘Griya
Benang Bintik,’ dirinya tinggal meneruskan usaha
industri batik dari kakaknya, yang menjual kain khas
corak Kalteng sekaligus usaha penjahitannya.
“Kami mengembangkan berbagai jenis motif
khas daerah mulai dari motif Batang Baring (Pohon
Kehidupan), Pasukmelu, motif Tameng, Saluang
Murik (ikan Saluang), dan Jawet. Beberapa motif
tersebut juga banyak terdapat di anyaman rotan yang
memang selama ini digeluti masyarakat setempat.
Karakter dari batik ini terlihat pada motif-motif
etniknya yang khas sekaligus menjadi ciri pembeda
dari jenis batik lainnya. Selain itu, hasil kerajinan
tangan suku Dayak ini juga memiliki banyak
pilihan motif maupun model, yang relevan dengan
kebutuhan zaman. Jika pada awalnya batik ini hanya
dikenakan pada upacara adat atau pernikahan, kini
Batik Benang Bintik sering dipakai dalam berbagai
kegiatan penting seperti festival dan kegiatan seni

T
dan budaya daerah lainnya.
he privileged of Batik Benang Bintik In the area, there are 11 other batik craftman
Selain itu, semua motif yang digarap memiliki which is the noble heritage of the local and on average they have two to three workers.
makna, sehingga tidak dikerjakan secara asal saja,
community is enshrined as one of the Labor for this type of batik cap and batik tulis
melainkan melalui proses pengerjaan yang tidak
pattern, because the pattern shown is a from Griya Benang Bintik only about 40 people.
mudah. Namun sayangnya berbagai motif tersebut,
crisp stems or tree of life. According to Sinta, the With the existing conditions, the production is
belum ada yang dipaten atau mendapat pengakuan
owner of ‘Griya Benang Bintik,’ she continues her still limited. Besides more depend on orders for
sebagai karya intelektualnya. Mengapa demikian,
sister’s business in selling traditional cloth as well the purposes of uniform, batik is produced only 10
karena untuk pengurusan satu merek saja memakan
as tailoring business. yards away in every kind.
waktu antara 2 s/d 3 tahun,” jelasnya.
“We are developing various types of The selling price varies from 2 meters Rp
Dalam proses produksinya bahan baku seperti
traditional motives ranging from Batang Baring 100 thousand, - to Rp 4.5 million for the types
kain mori harus diambil dari Jepara, Pekalongan, dan
motif (Tree of Life), Pasukmelu, Tameng motif, of batik tulis sarimbit which is made by non-
Solo. Di luar bahan baku kain, bahan penunjangnya
Saluang Murik (Saluang fish), and Jawet. Some woven machines (ATBM). Here the price is also
seperti obat untuk membatik, canting, dan lilin
of these motives are also found in wicker that is determined by the color and complexity of tone.
malam, sudah dapat diperoleh dari Palangkaraya.
cultivated by local community. The characterisic Although marketing has been up to Sampit and
Hal-hal seperti ini menjadikan harga jual kain batik
of these batik can be seen in its traditional ethnic Muarateweh area, but it is still expected from
khas bercorak dari Palangkaraya menjadi mahal,
motives as well as the distinguishing feature government in helping SMEs like promotional
karena biaya produksinya tinggi. Padahal usaha
tersebut sudah dilakukan secara turun-temurun. of other types of batik. In addition, the dayak products through exhibitions, Sinta added.
crafts has alo many motives and model which are
Di sentra wilayah tersebut terdapat juga 11
relevant with the needs of the times. If at first batik
pembatik lainnya, dan rata-rata mereka memiliki
was only worn at ceremonies or weddings, Batik
antara dua s/d tiga orang pekerja. Tenaga kerja
Benang Bintik is now often used in a variety of
pembatik untuk jenis batik cap dan batik tulis dari
important events such as festivals and arts and
Griya Benang Bintik saja sekitar 40 orang. Dengan
cultural activities of other regions
kondisi yang ada tersebut, maka produksi yang
dihasilkan juga masih terbatas. Selain lebih banyak In addition, all the motives have a meanings,
bergantung dari pesanan seperti untuk keperluan so it is not done at random, but rather through a
seragam, batik tersebut hanya diproduksi 10 meter process that is not easy work. But unfortunately
saja setiap jenisnya. no one of the motives, has been patented or
recognized as intellectual work. Why is that,
Harga jual bervariasi mulai dari yang ukuran 2
because to proceed one brand it takes 2 to 3 years,
meter Rp 100 ribu,- sampai Rp 4,5 juta untuk jenis
he explained.
batik tulis sarimbit yang dibuat dengan Alat Tenun
Bukan Mesin (ATBM). Di sini harga juga ditentukan All the material for production such as mori
oleh warna dan kerumitan garapan coraknya. Kendati fabric should be imported from Jepara, Pekalongan
informasi | information »
pemasarannya sudah sampai ke wilayah Sampit dan and Solo while others such as chemical, canting
Muarateweh, tetapi masih diharapkan juga bantuan and wax can be obtained in Palangkaraya. All Batik Palangkaraya - Griya Benang Bintik - Berkat Indah
Jl. Jend. Ahmad Yani No. 52, Langkai, Pahandut,
keberpihakan pemerintah dalam membantu promosi these high cost made Batik Palangkaraya to be
Palangkaraya 73111
produk UKM seperti melalui pameran, tambah Sinta. expensive while the business has been done for Telp (02536) 323 4469
generations,

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 55


Made in Indonesia

Kain Sasirangan dikenal banyak dipakai


oleh para bangsawan, atau para saudagar
Banjar, Sebagaimana pernah diceritakan
dan sambil diperagakan oleh mendiang
Ajamuddin Tifani, sastrawan Banjar dalam
sebuah acara informal di Taman Budaya
Kalimantan Selatan.

Batik Sasirangan
Batik of The Royals

K
ain sasirangan dulunya oleh para lelaki juga di kalangan masyarakat umum, terutama ketika busana desainer ternama,” cetus Hasan Zainuddin.
digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga mulai dipopulerkan kembali pada pertengahan tahun Menurut Yulia yang menjual kain itu di tokonya
sebagai sabuk laksana ikat pinggang. Oleh 80-an, ketika para pegawai negeri sipil diwajibkan di Pasar Inpres Kebun Sayur, Balikpapan, setidaknya
kaum perempuan sasirangan dijadikan memakai kain batik sasirangan setiap hari Jum’at. ada 16 motif sasirangan yang dikenal sekarang
selendang, kakamban (kerudung), atau udat Beberapa lama kemudian menyusul para murid yaitu ada yang disebut Iris Pudak, Kambang Raja,
(kemben) dengan tapih bumin (kain sarung). Kain dan siswa, hingga akhirnya menjadi kelaziman. Bayam Raja, Kulit Kurikit, Ombak Sinapur Karang,
ini adalah bahan untuk pakaian adat guna dipakai Belakangan, di tengah keberagaman Indonesia dan Bintang Bahambur, Sari Gading,...” sebut Yuli. Yang
pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan dunia, kain sasirangan pun menjadi kebanggaan. lain adalah Kulit Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan,
pada pengobatan orang sakit. “Sasirangan itu punya Kain ini menjadi pun satu simbol dan penanda Turun Dayang, Kambang Tampuk Manggis, Daun
makna dan kekuatan magis, supranatural seperti budaya Banjar sehingga Denny Indrayana, Wakil Jaruju, Kangkung Kaombakan, Sisik Tanggiling,
khasnya warna kuning Banjar,” tutur Paman Pani, Menteri Hukum dan HAM yang menghabiskan dan Kambang Tanjung. Pola-pola ini sudah pula
panggilan akrab Ajamuddin Tifani. masa SMA-nya di Banjarbaru, kerap terlihat didaftarkan hak patennya sebagai warisan budaya
Seiring berjalannya waktu, Kain sasirangan, mengenakan kemeja sasirangan untuk menegaskan Banjar dari Kalimantan Selatan.
atau kadang disebut batik sasirangan tidak lagi kebanjarannya. “Perkembangan terakhir, sasirangan
terbatas di kalangan bangsawan dan adat saja tetapi kini juga menjadi pilihan bahan untuk rancangan

56 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

Sasirangan is a traditional fabrics


that widely used by nobles or trader
of Banjar, South Kalimantan. As
being told and performed by the
deceased Ajamuddin Tifani, Banjar
writer in an informal ceremony
at the Cultural Park of South
Kalimantan.

S
asirangan fabric was initially used by
men as a headband (Laung), as well as a
belt. For women, it was used as scarves,
kakamban (veil), or udat (tank) with tapih
bumin (sarong). It is a material for traditional
clothings generally used for ceremonies, even
used in the treatment of the sick. “Sasirangan has
a meaning and magical power, supernatural as the
peculiarity of yellow collor of Banjar,” said Uncle
Pani, the nickname of Ajamuddin Tifani.
With the passages of time, sasirangan fabric,
or sometimes called sasirangan batik has no
longer exclusively be consumed by the nobles and
custom clothings, but also among general public,
especially when it began to be popularized in the
mid 80s, when civil servants were required to wear
sasirangan batik in every Friday.
Then the students were also required to wear
batik as their uniforms, and eventually wearing
batik becomes a norms. Later, amid the diversity
of Indonesia and the world, sasirangan fabric has
become a pride. This fabric stands for a symbol and
a cultural traits of Banjar so that Denny Indrayana,
Deputy Minister of Justice and Human Rights
who spent his high school years in Banjarbaru,
often wears sasirangan shirts to confirm of his
banjarnese. “In recent developments, sasirangan
has now become the choice materials for the clothing
design of leading designers,” Hasan said
According to Yulia who sell her pdocucts in her
store in Pasar Inpres, Kebun Sayur, Balikpapan,
there are at least 16 popular sasirangan motifs
namely Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja,
Kulit Kurikit, Ombak Sinapur Karang, Bintang
Bahambur, Sari Gading Sari, etc.” said Yuli. Others
are Kulit Kayu, Naga Balimbur, Jajumputan,
Turun Dayang, Kambang. These motifs have also
been patented as the cultural heritage of Banjar,
South Kalimantan.

informasi | information »
Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Propinsi Kalimantan Selatan
Jl. DI Panjaitan No.41 Banjarmasin
Telp: 0511-3354219
Fax: 0511-3354219

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 57


Made in Indonesia

Batik A
conserving the unique pattern of Dayak
dalah Sani Rachman, salah satu pelopor
hadirnya batik tulis di Kalimantan Timur
(Kaltim). Dimulai sejak 1982, Sani Rachman
atau akrab dipanggil Agustin mencoba
membangun usaha kecil di Kota Samarinda, dengan
nama “Batik Tulis Mitaka”. Mitaka merupakan
gabungan dari nama kedua putri Agustin, yakni Mita
dan Ika. Misinya adalah pengenalan budaya Kaltim

Dayak
berupa corak khas ukiran Suku Dayak yang dibatik
di atas selembar kain.
Kisaran 1990, perlahan transformasi
pengetahuan seni membatik dari luar daerah Kaltim
tersebut direalisasikan. Mitaka mulai dikenal sebagai
produsen batik tulis khas Kaltim dengan ragam corak
ukiran Dayak. Orderan pertama Batik Kaltim Mitaka
diterima saat mengikuti pameran pada momen hari
kemerdekaan RI. Kala itu Agustin menerima pesanan
untuk kegiatan peresmian pabrik Pupuk Kaltim di
Bontang.
Agustin mengaku usaha ini juga mengenal
pasang surut. Dia mengaku dalam membesarkan
usaha ini juga mengandalkan modal dari pihak
perbankan. Adalah Bank Pembangunan Daerah
(BPD) Kaltim yang meloloskan bantuan keuangan
untuk pengembangan awal Mitaka senilai Rp5 juta
di awal 1990-an.
Dalam dekade 90-an tersebut, Mitaka juga
memperoleh penghargaan Upakarti dari Presiden
Soeharto atas invoasi batik tulis Kaltim dan juga
sebagai pelestari budaya Kaltim. Secara bersamaan
di tahun yang sama diterima pula penghargaan
dari Iwan Tirta yang dikenal sebagai sosok pelopor
pelestarian budaya batik di Indonesia.
Meski brand ini telah dikenal hingga manca
negara, Mitaka terus berupaya mempertahankan
kualitas dan eksistensinya. Pun memperkenalkan
seni membatik dengan corak budaya Dayak ini
kepada generasi muda dengan mendirikan lembaga
kursus dan pelatihan keterampilan kreatif bidang
membatik motif khas Kaltim.
Ia menuturkan, berbeda dari seni ukir lainnya,
batik tulis memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.
Terlebih ketika terbentur dengan kebutuhan
pelanggan dengan adanya keterbatasan dari
karakter bahan yang digunakan serta keahlian para
perajin batik.
Tidak seperti batik printing yang sangat mudah
Sebagai warisan budaya As an Indonesian cultural dilakukan dan diproduksi secara masal. Batik tulis
Indonesia, batik kian popular di heritage, batik became more harus ditekuni dengan teliti. Berbagai tahapan
masyarakat luas baik dalam dan popular amongst domestic dan proses produksi harus dilakukan dengan sabar agar
luar negeri. Seni membatik yang international countries. The art membawa hasil yang baik. Alhasil buah tangan karya
kerap identik dengan budaya of batik which is identical with perajin dihargai dengan harga yang sepadan.
Jawa secara perlahan mulai Javanese culture is slowly adapted Berada di segmen menengah ke atas, harga setiap
diadaptasi ke dalam corak khas into the other unique pattern, produk yang dihasilkan Batik Tulis Mitaka ditawarkan
daerah, termasuk motif ukiran including motif of Dayak’s carving dengan harga yang relatif tinggi. Untuk bahan satin
Dayak asal Kalimantan Timur from East Kalimantan. di pasarkan mulai dari Rp400.000, sedangkan ukiran
batik corak Dayak yang menggunakan bahan sutra
ditawarkan dengan harga mulai dari Rp1 juta.

58 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

S
Saat ini mempertahankan kualitas dan eksistensi ani Rachman is one of the pioneers of batik and produce in mass. Batik tulis or written Batik
dalam memproduksi batik tulis di Kaltim, hanya bisa tulis in East Kalimantan. It was starting should always be carefully thought. Several steps
dilakukan beberapa industri kecil di Bumi Etam. in 1982, Sani Rachman or more familiar in the process must be done with patience to make
Tak terkecuali bagi Mitaka yang sampai kini masih called Agusin tried to build a small-scaled the best result. Therefore, the outcome from these
melayani para pencinta batik tulis khas Kaltim. Saat business in Samarinda with the name, “Batik Tulis batik craftman is priced fairly to the amount of
ini, bisnis Mitaka dipegang oleh putri kedua Agustin Mitaka”. Mitaka is a combination of two of her work given.
yang juga jebolan dari sekolah kriya di salah satu daughters’ name: Mita and Ika. The mission was to Being on the middle to up segment, the price of
perguruan tinggi di luar Kaltim. introduce East Kalimantan culture through Dayak every product produced by Batik Tulis Mitaka is
Dia mengakui, jumlah pembatik untuk melayani unique pattern on Baik tulis. offered with a relatively high price. For a satin, it
pemesanan memang masih sangat terbatas. Namun The transformation of batik art into Kalimantan is marketed starting from 400,000 Rupiah, whereas
adanya lembaga pelatihan batik tulis binaan Mitaka then realized around 1990s. Mitaka started to be woven Batik with Dayak’s pattern that uses silk as
diharapkan akan terus meningkatkan minat generasi known as a producer of unique batik from Kaltim its material, is offered with the price starting from
muda untuk berkarya di bidang kriya pada masa with various Dayak’s pattern. The first order of 1 million rupiah.
mendatang. Agustin juga berharap pengembangan Batik Kaltim Mitaka was accepted when they took At this time, to maintain the quality and
motif khas Kaltim terus berkibar dan menjadi tuan a part in National Independence’s Day exhibition. existence in producing batik tulis in Kaltim can
rumah di wilayah tersebut. At the time, Agustin received the order for the only be done by certain small industries in Bumi
Berkomitmen pada batik tulis bagi Agustin adalah opening of Kaltim fertilizer’s Plant in Bontang. Etam. With no exception, including Mitaka that
sebuah harga mati, ditambah dengan kecintaan pada Like other business, she admitted that this kind until now still serves Kaltim unique batik to their
dunia fashion dan kecantikan. Meski cukup sulit of business is also up and down. In developing this lovers. Now, Mitaka business is run by the second
mendapatkan tenaga kerja dengan keterampilan business, she relies on funding from the bank. It daughter of Agustin who also was graduated from
membatik yang baik, hal itu tak menjadi alasan bagi is Pembangunan Daerah Bank (BPD) which gave an art school in one of the university outside Kaltim.
Agustin untuk terus memperkenalkan karya batik funding as an initial development of Batik Mitaka She admitted, the number of batik craftsman to
tulis Kaltim, dan melestarikannya kepada kalangan at 5 million rupiah at the start of 1990. serve orders is still limited. However, the existence
muda. In the same period, Mitaka has also received of training institution for batik tulis run by Mitaka
Upakarti award from President Soeharto for is hoped to increase the interest of young generation
its batik innovation and as a conservationist to work on crafts in the future. Agustin hopes that
of Kaltim’s culture. On the same year, she also the development of Kalimantan motives will be
recieved appreciation from Iwan Tirta who is fluttered and become a mark of the region.
known as pioneer of batik culture in Indonesia. To commit on batik tulis for Agustin is a
Even though this brand has been known fixed price, summing up with her love in fashion
overseas, Mitaka still tries to keep its existence and beauty world. Although it is quite hard to
and quality. They also introduce the art of batik get employees with a good skill, this fact is not a
with Dayak’s pattern to young generation by reason for Agustin to keep introducing batik tulis of
establishing courses institution and creative Kaltim, and conserving it to the young generation.
craftsmanship lesson on patterning batik from
Kaltim.
She said, different than any other art of craving,
batik has a high level of complexity; especially informasi | information »
when it has crashed with the needs of customer,
Dinas Perindustrian dan Perdagangan
the limitation of the material, and the expertise of Propinsi Kalimantan Timur
batik craftsmen. Jl. Basuki Rachmat no 55 Samarinda
Unlike batik printing that is really easy to do Telp: 0541-742482, 747161
Fax: 0541- 742495

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 59


Made in Indonesia

Dari sekian banyak Provinsi penghasil batik, Sulawesi Tengah


mencatatkan namanya sebagai salah satu produsen batik yang cukup
diperhitungkan di luar pulau jawa dalam percaturan bisnis batik di
pasar dalam negeri.

B
atik asal Sulawesi Tengah ini dikenal ruangan pada Unit Pelayanan Teknis (UPT) milik bomba juga dipercaya menjadi baju dinas beberapa
dengan nama Batik Bomba, yakni batik Dinas Perindagkop, di kota Palu, yang dilengkapi Instansi Pemerintah Daerah di Sulawesi Tengah.
yang bermotifkan bunga dan dengan peralatan produksi. Sejak kedatangannya di kota Palu, Karenanya, tambah Adi Pitoyo, pada periode itulah
trend warna yang cerah. Sulawesi Tengah (2009), ia pun mulai memberikan batik bomba boleh dibilang mengalami era kejayaan.
Adi Pitoyo, adalah seorang pengrajin/pengusaha pelatihan kepada beberapa warga masyarakat di Tanpa menyebut angka yang pasti, ia menyebut omzet
batik asal Pekalongan, Jawa Tengah yang dapat seputar UPT, termasuk warga Pekalongan yang penjualan pada tahun 2011 dan 2012, rata-rata di
dikatakan sebagai yang pertama mengembangkan tinggal di kota Palu. atas seratus lima puluh juta rupiah. Suatu jumlah
’batik-bomba’. Menurut penuturannya, pada tahun Setelah kerja keras menggeluti batik selama yang tergolong cukup besar, mengingat kehadiran
2008-2009 ia yang kala itu menjadi pengusaha hampir dua tahun, akhirnya Adi Pitoyo mampu batik bomba di pasaran lokal masih tergolong muda
batik Pekalongan, diminta Dinas Perindagkop Tk I memproduksi batik bomba bermotif bunga dan atau “pendatang baru”.
Sulawesi Tengah, untuk merintis dan kemungkinan dengan warna yang cerah. Bunga, dalam bahasa Tanpa dukungan penuh pemerintah daerah,
mengembangkan batik asli Sulawesi Tengah. Ajakan daerah disebut bomba. Maka sejak saat itu kain batik tambah Adi Pitoyo, batik bomba yang sudah menjadi
untuk merintis dan mengembangkan batik di Sulawesi yang diproduksinya diberinama “batik bomba” yang ikon masyarakat Sulawesi Tengah sejak bertahun-
Tengah memang cukup beralasan, mengingat di pada akhirnya menjadi kebanggaan masyarakat tahun , akan bisa menghilang dari peredaran pasar
daerah ini tidak memliki tenaga-tenaga pembatik. Sulawesi Tengah. akibat kalah bersaing. Ia juga mengaku, ditempat
Padahal, daerah ini ingin mengembangkan batik Dikatakan menjadi kebanggaan, sebab batik usahanya sekarang ini, selain menjual batik bomba,
yang memiliki cirri-khas, sama seperti daerah lain produk Adi Pitoyo selain mampu mengangkat juga membantu memasarkan kain tenun asli
yang sudah lebih dahulu memproduksi batik. nama Provinsi Sulawesi Tengah dalam percaturan Sulawesi Tengah milik tiga pengrajin kota Palu yang
Ajakan untuk mengembangkan batik dari Dinas batik nasional, juga sangat disukai masyarakat. Ia dalam sebulan laku terjual 5 kodi.
Perindagkop Sulawesi Tengah itu akhirnya diterima mengisahkan, pada waktu itu sekitar tahun 2010-
Adi Pitoyo. Pada saat itu pula (2009) ia menempati 2012, selain digunakan masyarakat umum, batik

60 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

Batik
Sulawesi Tengah
Batik Bomba from Central Sulawesi
Among provinces producing batik, Central Sulawesi province is one of
producers outside Java Island which should be taken into account within
domestic batik market constellation.

T
he Batik from CentralSulawesi is Bomba batik is recognized to be the pride since
widely known as Bomba Batik, which it can lift up the popularity of Central Sulawesi
is characterized by the flower motive within national batik constellation, as well as is
with a bright color trend. highly favored by the public. He further explained,
Adi Pitoyo is an artisan/entrepreneur came around the year 2010-2012, in addition to be used
from Pekalongan, Central of Java who can be by general public, bomba batik was also required
regarded as a pioneer who developing ‘bomba to be the uniforms of some Local Government
batik’. He explained, in 2008-2009 when he was Agencies in Central of Sulawesi. Therefore, in that
a batik craftman in Pekalongan, he asked by period bomba batik had experienced the golden era.
Regional office of Ministry of Industry, Trade and Without citing the exact numbers, he estimated
Cooperaives, Central of Sulawesi to pioneer and sales turnover in 2011 and 2012 reached over
develop typical batik of Central of Sulawesi. The one hundred and fifty million dollars per year, a
challenge to pioneer and develop batik in Central considerable amounts, considering the presence of
of Sulawesi was quite reasonable since there were batik bomba in the local market was still relatively
no batik craftman in this area. Meanwhile, like young or “newcomer”.
other provinces, Central Sulawesi was interested Without the full support of the local government,
to develop and produce its own typical batik. added Adi Pitoyo, bomba batik which has already
The challenge to develop Central of Sulawesi become an icon of Central Sulawesi region for
batik was finally accepted by Adi Pitoyo. Soon in many years, could be out from the market due to
2009 he occupied a space in the Technical Services its lose in competition. He also admitted that in the
Unit (UPT) own by Perindagkop Palu, which workshop, beside selling bomba batik, he also helps
was equipped with production facilities. Since to sale traditional woven cloth of Central Sulawesi
his arrival in Palu, Central of Sulawesi (2009), produced by three Palu artisans in which about 100
he begun to give training to people living around pieces are sold in a month.
the UPT, including Pekalongan people who living
in Palu.
After striving almost two years to learn,
informasi | information »
eventually he was able to produce bomba batik Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah,
characterized by flower motif with bright colors.
Perindustrian dan Perdagangan
Propinsi Sulawesi Tengah
Flower, in local language is called bomba. Therefore, Jl. Kartini No. 17 Palu 64111
the batik produced is then named “bomba batik” and Telp. : (0451) 425265; 454564; 422330
it has become the pride of Central Sulawesi people. Fax. : (0451) 454564

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 61


Made in Indonesia

Woven batik from Southeast Sulawesi

Batik tenun khas Sulawesi Tenggara (Sultra) seperti


kain khas Tolaki, Buton dan Muna, hingga kini masih
terabaikan di negeri sendiri. Masyarakat setempat
sebagai pemilik hasil karya dari warisan leluhur itu,
belum memanfaatkannya sebagai bahan pakaian yang
digunakan sehari-hari.

The unique woven of batik from Southeast Sulawesi such as


Tolaki, Buton, and Muna until now looks have been forgotten
in their home town. The local people as the owner of the
heritage product wouldn’t wearing it as their daily clothing.

K
ami tidak paham mengapa penggunaan Kabid Industri kecil dan Menengah Disperindag
batik khas daerah ini, belum membudaya Sultra, Safoan.
di kalangan masyarakatnya. Masyarakat, Selain itu ujarnya, bahan yang digunakan dalam
baru memakai batik khas daerah, membatik ragam hias mua, yaitu benang emas
ketika menggelar pesta adat,” kata Kepala Dinas yang dibentuk dengan motif garis halus dan kesan
Perindustian dan Perdagangan Provinsi Sultra, H bunga kecil. “Di dalam tatanan masyarakat Tolaki,
Saemu Alwi di Kendari baru-baru ini. motif dalam batik tenun daerah mengandung mitos
Padahal ujarnya, Pemerintah Provinsi Sultra yang menjadi lambang corak budaya masyarakat
sendiri sudah berupaya mendorong minat masyarakat setempat,” katanya.
untuk memakai batik khas daerah dalam kehidupan Sementara itu, anggota DPRD Sultra, Nursalam
sehari-hari. Justeru kata Saemu, batik khas Sultra Lada, menilai kurangnya minat masyarakat memakai
seperti khas Tolaki, Buton dan Muna saat ini telah pakaian batik khas daerah dalam kehidupan sehari
menjadi primadona bagi setiap tamu dan wisatawan hari akibat, kain ternun tradisional tersebut kalah
yang berkunjung ke daerah itu. bersaing dengan produk-produk kain dari industri
Pada setiap kesempatan berkunjung di daerah ini maupun bahan impor.
tuturnya, para tamu atau wisatawan mancanegara Selain itu kata dia, Masyarakat, Sultra khususnya
selalu membeli kain batik khas daerah sebagai dan Indonesia pada umumnya, yang lebih suka dan
cendera mata ketika kembali ke daerah asal atau bangga menggunakan produk-produk asing dari pemerintah sekali dalam lima hari kerja.
negaranya.”Batik khas daerah yang banyak diburu pada memakai hasil karya sendiri. Namun seyogyanya upaya tersebut diikuti
tamu atau wisatawan, adalah ragam hias mua, batik dengan tindakan nyata Pemerintah Provinsi,
Nursalam sangat mengapresiasi upaya
tenun khas Tolaki. Motif ini biasanya berwarna jingga mendorong para perajin batik khas daerah untuk
Pemerintah Provinsi Sultra yang telah membudayakan
muda, kelabu, biru laut, kuning susu, hijau lumut, menciptakan corak dan motif kain yang menarik
pemakaian batik khas daerah di lingkungan instansi
dan merah samar,” kata Saimu yang dibetulkan selera konsumen.”Kalau corak dan motif kain batik

Batik
tenun khas daerah dibuat lebih menarik, masyarakat
akan gemar memakai pakaian khas daerah,” katanya.
Lanjut Saemu Alwi, Kadis Perindag Sultra,
mengatakan prospek batik khas Sultra ke depan
terus mengalami kemajuan yang cukup berkembang.
“Pada setiap ada even nasional yang diselenggarakan
di daerah ini, kami meminta para perajin agar
memproduksi kain batik khas daerah lebih banyak,

Sulawesi Tenggara
untuk dijual kepada tamu-tamu yang menjadi peserta

62 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia
Meanwhile, a member of DPRD Sultra, Nursalam
Lada appraised that a minimum interest of people in
wearing Batik clothing on their daily life is because the
traditional woven fabric lost in competition with the
other fabric products from industry or imports.
Furthermore, he said, People, especially in Sultra
and Indonesia generally, they prefer and are proud to
wear product from outside of the country than to wear
their own product.
Nursalam really appreciated the effort of the
government of Sultra which cultivating the use of batik
in five working days in every government office.
However, these attempts should be followed by a
real action from the government of the province, to push
the craftsman to invent some new patterns and motifs
that attract consumers. “If the patterns and motifs of
the fabric are more attractive appearance, public will be
keen on wearing this kind of traditional clothes,” he said.
Saemu Alwi, head of Deperindag of Sultra region,
stated that batik from Sultra has a fairly good prospect
in the future. “In every national event which held in
this area, we ask for the craftsman to make much more
of batik, to be sold to any guests who become as the
participant of those events,” he said.
The woven batik from Sultra, such as woven batik
Tolaki, Buton, and Muna, is highly profitable, but still
not considered as a promising business in the future.
The problem is with using hands or known as alat
tenun bukan mesin (ATBM), a batik craftsman can only
finish a fabric with four meters length and one meter
width in a month for a maximum of three fabrics. One
of the batik weavers, Wa Marwia (26), who was just met
in Kendari says that one batik fabric from Sultra is sold
about Rp 320.000 to Rp350.000.

W
Wa Marwia admitted that unique woven batik of
dari kegiatan nasional tersebut,” katanya. ee have no idea why the use of Sultra, cannot currently be made as a main source of
Kain batik tenun tradisional khas Sultra, seperti traditional batik yet entrenched in the her family income to live every day. “That’s why, the
kain batik tenun khas Tolaki, Buton dan Muna, community. People only wearing batik average of the artisans do the weavings as a part-time
berharga tinggi, namun belum digeluti sebagai usaha when attending a traditional event,” job, not as a permanent profession which can act as a
yang menjanjikan masa depan. said the head of local office of industry and trade of full support for the family income,” she said ending the
Southeast Sulawesi, H Saemu Alwi at Kendari on interviews with KINA.
Masalahnya, dengan menggunakan alat tenun
present day.
bukan mesin (ATBM) atau alat tenun tradisional,
seorang perajin hanya bisa menyelesaikan kain Although, he said, the Government of Southeast
tenun ukuran panjang empat meter dan lebar satu Sulawesi has tried to encourage local people to be
meter, maksimal tiga lembar dalam sebulan. Salah interested to traditional Batik for daily life. Saemu said,
seorang penenun batik khas Sultra, Wa Marwia (26), In fact, batik from Sultra such as Tolaki, Buton, and
yang ditemui di Kendari baru-baru ini, mengatakan Muna has became more popular for guest and tourist.
satu helai kain batik tenun khas Sultra dijual seharga When visitors or tourist visiting the area, they
Rp320 ribu hingga Rp350 ribu. always buy traditional batik as a souvenir. The hunted
Wa Marwia mengaku kerajinan kain tenun khas motifs are usually ‘hias mua’ a traditional woven batik
Sultra, belum bisa dijadikan sebagai sumber utama from Tolaki, the coloured are light orange, gray, sea blue,
pendapatan keluarga “Makanya, rata-rata perajin dark green, and faint red,” said Saimu who was agreed
mengerjakan kerajinan menenun kain ini, hanya by Safoan, the head of small and medium scaled Industry
sebagai sambilan, belum ditekuni sebagai profesi Disperindag Sultra.
informasi | information »
yang bisa menjadi penopang pendapatan keluarga,” Moreover, the material that use for ‘mua decorative’
katanya mengakhiri wawancara dengan majalah was golden thread shaped with smooth lines and small Dinas Perindustrian dan Perdagangan
KINA. flowers motifs. “Tolaki people believe that motifs in the Propinsi Sulawesi Tenggara
Jl. Drs H. Abdullah Silondae No.116 Kendari 93111
woven batik contain myth which has become the symbol Telp: 0401-3121339; 3121783
of culture of the people,” he said. Fax: 0401-3121783

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 63


Made in Indonesia

papua batik

Seolah tidak ingin ketinggalan dengan daerah lainnya di tanah air,


masyarakat perajin batik di Papua, khususnya di Kabupaten Sentani
dan sekitarnya terus berupaya mengembangkan industri kerajinan
batik di daerahnya dengan mengembangkan motif-motif asli daerah
Sentani.
In order to pursue other regions in term of batik development, the batik
communities in Papua, especially in Sentani District and its surrounding
areas continue to develop batik industry by developing Sentani traditional
motifs.

Dobonsolo, Traditional Batik of Papua

B
Papua
erbagai motif asli milik masyarakat adat
budaya Papua yang unik dan indah kini

Batik
sudah banyak yang menjelma menjadi
motif batik Papua.
Berbagai motif asli masyarakat adat Papua pun
kini banyak yang sudah dituangkan ke dalam seni
kerajinan batik yang dikembangkan sendiri oleh
masyarakat asli Papua. Salah satu perajin batik
Papua adalah Maria Pulanda, seorang ibu rumah
tangga yang menceburkan dirinya dalam usaha
pengembangan motif-motif asli Papua khususnya
motif Sentani di wilayah Kabupaten Papua. Untuk
mengembangkan batik dengan motif asli masyarakat
Papua khususnya motif Sentani, Maria bersama
sesama perajin batik motif Sentani lainnya di
Kabupaten Jayapura bergabung membentuk KUB
Dobonsolo.
Manurut Maria, industri kerajinan batik di
tanah Papua sudah mulai dikembangkan cukup
lama, yaitu sejak dekade tahun 1980-an. Namun
sayangnya perkembangan industri kerajinan batik di
tanah Papua terhitung sangat lamban. Lambannya

64 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

T
perkembangan industri kerajinan batik Papua ini he uniqueness and beautifulness of
dapat dilihat dari volume produksi maupun jumlah various Papua’s traditional motifs has
perajin yang menggeluti industri kerajinan ini yang now been transformed into Papua batik
masih sangat terbatas. motifs.
Di Kabupaten Jayapura saja misalnya, The various Papuan indigenous motifs are now
berdasarkan data Dinas Perindustrian dan represented into Papuan batik developed by local
Perdagangan Kabupaten Jayapura, saat ini terdapat craftman. One of the batik artisan is Maria Pulanda,
sekitar 10 perajin batik Papua. Mereka hingga a housewife specializing in the development of
saat ini masih melakukan produksi kerajinan traditional Papuan motifs, particularly Sentani’s
batik berdasarkan order yang masuk. Jika tidak motifs. To develop traditional batik, Sentani’s
ada order, maka tidak ada produksi. Hal itu tejadi motifs in particular, Maria with her fellow
karena masih banyaknya keterbatasan yang dimiliki artisan established a batik cooperative called KUB
para perajin khususnya keterbatasan dalam modal Dobonsolo.
usaha, keterbatasan sumber daya manusia dan Acoording to Maria, batik industry in
keterbatasan kemampuan manajemen serta masih Papua have developed since decade of 1980s.
lemahnya jiwa wirausaha. Unfortunately, the development of batik industry
Sebetulnya pesanan (order) pembuatan batik in Papua is considered slow. The slow development
dengan motif asli Papua (Sentani) yang diterima para can be seen from the volume of production and
perajin cukup banyak setiap bulannya. Pesanan itu number of artisan dealing with batik industry that
antara lain datang dari pemerintah daerah, gereja, are still very limited.
dan masyarakat umum. Namun keterbatasan In Jayapura district, for example, based on the
kemampuan produksi menjadi kendala terbesar yang data from Ministry of lndustry and Trade of local
dihadapi industri kerajinan batik Papua dewasa ini. goverment, there are currently around 10 Papuan
Hal itu terutama terjadi karena tingginya tingkat batik craftmen. They produce batik by order only,
perputaran perajin (tenaga kerja) di industri ini di otherwise, there is no production activities. It is
Papua. Tingkat keluar masuknya perajin di industri due to many constraints they face, especially the
kerajinan batik di Papua sangat tinggi sehingga lack of capital, human resource constraints, the
tenaga kerja yang berkecimpung di industri ini jumlah limitation of management skills, and also the weak
selalu berubah-ubah. Padahal untuk membentuk of entrepreneurial abilities.
tenaga kerja yang handal dan trampil butuh waktu
Actually, the monthly order to Papuan
untuk membinanya.
batik with Sentani’s motifs is quite significant
Dilihat dari sisi permintaan, pasar produk in number. The orders usually come from local
kerajinan batik Papua sebetulnya sangat terbuka luas. government, churches, and public. However,
Bahkan, Pemda provinsi Papua sudah mewajibkan the limited production capacity to be the biggest
para pegawai negeri sipil di wilayah Papua untuk obstacle faced by the batik industry in Papua at this
menggunakan pakaian batik dua hari seminggu. moment. This is true due to the the high turnover
Namun permintaan yang besar itu tidak dapat rate of craftmen in Papuan batik industry so that
dipenuhi industri kerajinan batik setempat karena the readiness of the craftmen when the order has
berbagai kendala di atas. Akhirnya, untuk memenuhi to be served is questionably. On the other hand, it
permintaan yang besar itu, didatangkanlah dari Jawa takes time to traine and produce skillfull craftmen.
pakaian berbahan kain printing dengan motif batik
From the demand side, the market opportunity
Papua.
for Papuan batik is widely open. Even, the
Selain itu, industri kerajinan batik di Papua pada provincial government of Papua has obligated
umumnya masih sangat tergantung kepada pasokan the employee to use batik clothes two days a week. In addition, the batik industry in Papua
bahan baku dan bahan penolong lainnya dari Jawa. Unfortunately, the demand can not be met by depends heavily on the supply of raw materials and
Selama ini para perajin batik di Papua menggunakan local batik industry due to the existing various other supporting materials from Java such as cloth
hampir semua bahan baku dan bahan penolong yang constraints as mentioned before. Finally, to meet (mori), canting, wax, dyes and others.
didatangkan dari Jawa mulai dari kain dasar (mori), the demand, the order are fulfilled by Java printing In fact, the use of natural dyes is still very
canting, lilin, bahan pewarna dan lain-lain. clothes with Papuan batik motifs. limited. The use of natural dyes is not well developed
Memang pernah dicoba agar para perajin batik due to market demand that prefers to use synthetic
Papua menggunakan bahan pewarna alami yang dyes. It is associated with high market demand in
sumbernya banyak terdapat di sekitar Papua sendiri. Papua batik cloth with bright and striking colors.
Namun penggunaan bahan pewarna alami ini tidak These kind of collors can not be served by natural
berkembang dengan baik karena permintaan pasar dyes which tends to produce soft collors.
memang lebih menginginkan penggunaan bahan
pewarna sintetis. Hal ini terkait dengan tingginya informasi | information »
permintaan pasar di Papua akan kain batik dengan
warna yang cerah dan mencolok. Padahal pewarna KepengDobonsolo
Batik Mas
Kompleks
Jl. Adisucipto
BPKB
2A, Kemiri
Mataram,
Sentani
Lombok
alami umumnya tidak menghasilkan warna yang Telp.BOX
PO (0370)
99352,
3070642678
Jayapura, ;Papua.
081 8088 39451
cerah. Email
HP No.: kepeng_mas@yahoo.com
081344387165

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 65


Made in Indonesia

Natural Dyes of Batik

Batik
Pohon
Sejak batik diakui oleh UNESCO sebagai salah satu kekayaan budaya
Indonesia dan menjadi warisan budaya tak benda dunia,peluang bisnis
batik di dalam negeri makin berkembang.

P
eluang ini pun ditangkap oleh Candra dihasilkan sejumlah warna untuk kain batik,” Untuk mendapatkan warna yang kuat dan tahan
Diana dengan terjun ke bisnis batik pada ujar Chandra yang menjual produknya dengan lama, dibutuhkan 30 hingga 40 kali proses celup
tahun 2009. Namun, dalam memproduksi merek dagang Batik Pohon. Misalnya saja untuk dan jemur, Proses pembuatan batik dengan pewarna
batik, wanita ini lebih mengutamakan mendapatkan warna kuning, bisa digunakan kayu alam itu bisa memakan waktu tiga pekan untuk
penggunaan bagian-bagian pohon dalam pewarnaan tegeran. Untuk warna coklat, bahan baku yang sehelai kain batik.
kain batiknya. digunakan adalah kayu tinggi dan untuk menghasilkan Soal ketahanan warna pada kain, dia bisa
“Saya memilih pewarnaan kain berupa pewarna warna merah, dapat digunakan bagian kayu dari menjamin kalau warna dari bahan pewarna alam
alam karena ingin membantu penerapan program pohon mahoni dan secang. pada kain batik yang dibuatnya tidak akan cepat
go green di pelbagai bidang, termasuk dalam Selain menggunakan bahan baku dari tanaman, pudar. “Warnanya akan tetap melekat sepanjang
bidang pembuatan batik,” ujar wanita lulusan proses pewarnaan pada kain batik juga dilakukan umur kain tersebut asalkan diperlakukan dengan
TeknikArsitektur, UniversitasDiponegoro tahun 1993 secara tradisional, khususnya ketika pewarna kimia benar,” ucapnya.
ini. belum masuk ke Indonesia. Misalnya untuk proses Dalam proses produks sehari-harii, dengan
Penggunaan pewarna alam juga dilakukan fiksasi (penguatan warna), cukup memanfaatkan dibantu oleh tujuh karyawannya, saat ini Chandra
sebagai suatu strategi untuk bisa eksis di pasar. larutan kapur dan larutan serbuk karat besi yang hanya mampu memproduksi kain batik dengan
“Sebagai pemain baru, agak sulit untuk bisa langsung cukup ramah lingkungan. pewarna alam bermerek Batik Pohon sekitar 25-50
eksis di pasar jika kita tidak memiliki keunikan dalam Adapun proses pembuatan warna alam dilakukan helai kain setiap bulannya.
produk yang dihasilkan,” ujarnya. dengan mencacah bagian pohon yang digunakan Adapun kain batik yang dihasilkannya itu dijual
Pohon yang dijadikan pewarna alam yang menjadi bagian-bagian kecil. Setelah itu, cacahan ke pasar dengan kisaran harga Rp 100 ribu hingga
digunakan Chandra adalah pohon yang ada di tersebut direbus selama 1 jam. Rebusan tersebut Rp 3,6 juta setiap helainya. Dengan keunikan yang
Indonesia. Misalnya saja pohon mahoni, pohon kemudian diendapkan selama semalam. diusungnya, produk Batik Pohon kini sudah memiliki
rambutan, pohon mangga, pohon secang, kayu Langkah berikutnya, air rebusan cacahan penggemar tersendiri. Walaupun pasarnya masih
tinggi, kayu tegeran dan sebagainya. Adapun bagian bagian pohon yang sudah diendapkan itu disaring di dalam negeri, namun banyak warga asing yang
dari pohon yang digunakan mulai dari akar, batang, dalam sebuah ember. “Air saringan itu lah yang menyukai batik dengan pewarna alami itu. “Pembeli
dahan hingga kulit buah tanaman itu. digunakan untuk mewarnai kain batik dengan cara asing banyak yang datang ke workshop atau outlet
“Dari bagian-bagian pohon tersebut, bisa mencelupkannya berulang kali,” ujarnya. kami,” ujar Chandra Diana.

66 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Made in Indonesia

T
his opportunity was catched by Candra weeks for a piece of batik cloth.
Diana by engaged into batik business in For fabric color durability, she could guarantee
2009. In batik production, she prefer to that the color of batik natural dyes that she made will
use natural dyes in coloring the batik. not quickly fade. “The color will remain unchanged
“I prefer to use natural dyes in coloring the throughout the life of the fabric as long as treated
batik because, I want to implement green industry properly,” he said.
in various fields, include in producing batik,” said In the dailyproduction, Chandra has assisted
the lady who graduated from architec of Dipenogoro by seven employees, and currently the production
University in 1993. capacity of batik natural dyes is around 25-50
The use of natural dyes is also as a strategy to pieces per month with brand “Batik Pohon”
exist in the market. “As a new player, a bit difficult The batik selling price is ranging from Rp.100
to be directly exist in the market if we do not have thousand up to Rp. 3,6 million per piece. By its
uniqueness in the products,” she said. characteristic now “Batik Pohon” has its own
The natural dyes is taken from Indonesian tree customers. Althouh the market is still in domestic
such as mahogany trees, rambutan trees, mango market, but many foreigner loves batik with natural
trees, secang trees, tinggi wood, wood tegeran and dyes. “There are many foreigner buyer come to our
so on while the part of tree that can be used ranging workshop and outlet” Chandra Diana said.
Since batik officially recognized by
from the roots, stems, branches or bark of the three
UNESCO as one of the Indonesian
cultural trasure and became the “From the parts of trees, can produce a number
of colors for batik cloth,” said Chandra who sells
world’s intangible cultural heritage,
its product under the brand “Batik Pohon” For
batik business opportunities in the
example tegeran wood for yellow color, tinggi wood
country is growing. for brown color, mahogany wood and secang for a
red color.
Other using tree as raw material, the dyeing
process of batik cloth can be done in traditional way.
Especially when chemical dyes had not entered
to Indonesia, for example, for fixation process
(strengthening color), that using a lime solvent and
rust powder solvent which are environmentally
friendly.
While the natural dying process is is done
by cutting the trees into chips. Then, the chopped
boiled for 1 hour and precipitated overnight.
The next step is, the precipitated of chopped
boiled water filtered into a bucket. “The filtered informasi | information »
water that is used to dye the batik cloth by dipping
it repeatedly,” she said. Batik Pohon
Jl. Benda Gg. Bambu Kuning No. 7E
To get a strong nd and durable color, it takes Kemang, Cilandak Timur, Jakarta 12560
about 30 to 40 times of dyeing and drying process. Telp : 021 782 1861
The making process of natural dyes could take three Website: www.batikpohon.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 67


Insert

Pekalongan batik museum

Museum Batik
Pekalongan
Anda ingin mengenal dan
mengetahui lebih jauh tentang
batik?anda dapat melihat
berbagai jenis batik dari waktu
ke waktu di Museum Batik
Pekalongan.

P
ekalongan dikenal sebagai “The World`s dapat mengamati perkembangan batik mulai dari Pembangunan Museum Batik Indonesia
City Of Batik” wajarlah apabila kota ini zaman Belanda saampai dengan pengaruh Jepang dibangun dengan memanfaatkan gedung bekas
memiliki sebuah museum batik. Lokasi pada periode Perang Dunia Kedua dengan motif Balai Kota Pekalongan. Bangunan itu direkonstruksi
museum ini sangat mudah dicapai Jawa Hokokai nya. menjadi Museum Batik Indonesia, karena dianggap
dengan menggunakan berbagai macam moda Pekalongan batik banyak dipengaruhi oleh sebagai salah satu bangunan bersejarah. Di dalam
transportasi. asimilasi unsur-unsur lokal yaitu bahasa Arab, Cina, gedung, ada beberapa kamar yang luas dengan
Museum Batik Pekalongan telah menerima dan seorang Belanda warisan budaya tak ternilai pintu dan jendela yang besar, menghasilkan
penghargaan “Cipta Pesona Wisata Award 2012” harganya. Ada juga batik dari luar Jawa khususnya nuansa sejarah tinggi yang begitu dalam. Lokasi
kategori daya tarik wisata budaya dan unsur dari Sumatera yang dipengaruhi oleh budaya Islam sangat mudah untuk dicapai dengan menggunakan
pengelolaan dari pemerintah. Museum ini memiliki menyerupai kaligrafi tulisan Arab. Kita bisa melihat beberapa alat transportasi. Pekalongan batik
koleksi berbagai macam motif Batik, desain batik antik berusia lebih dari 100 tahun di museum banyak dipengaruhi oleh asimilasi unsur-unsur
Pekalongan dan daerah sekitarnya. Terletak di Jl. ini. Ada juga kebaya encim yang biasa dikenakan lokal yaitu bahasa Arab, Cina, dan seorang Belanda
Jetayu No 1 pengunjung dapat melihat berbagai oleh wanita Cina di Indonesia. Ada banyak koleksi warisan budaya tak ternilai harganya.
jenis batik dari waktu ke waktu di museum ini. Kita menarik yang bisa Anda lihat di museum ini.

68 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Insert

see the antique batik aged of more than 100 years in


this museum. There is also a regular encim kebaya
worn by Chinese women in Indonesia. There are
many other interesting collections you can see at
this museum.
The building of this Indonesian Batik Museum
was built by utilizing the former building
of Pekalongan City Hall. The building was
reconstructed into the Indonesian Batik Museum,
as it is considered to be one of the historical building.
Inside the building, there are several spacious
rooms with large doors and windows, producing
the high historical nuance feel so deep.

T
he Museum has received “Cipta Pesona
Tourism Award 2012” for cultural
and tourism attraction category. This
Museum has a collection of wide range
You want to know and learn more
of Batik motives and design of Pekalongan and the
about batik?you can see various surrounding area. Located at Jl. Jetayu No. 1 visitors
kinds of batik from time to time can see various kinds of batik from time to time in
at ‘the world’s city of batik” this museum. We can observe the development of
Pekalongan and there is a great batik starting from the Dutch era to the influence
batik museum there. The location of Japan in the periode of Second World War with
is very easy to reach using several its Hokokai Javanese motives. Pekalongan batik is
means of transportation. much affected by the assimilation of local elements
i.e. Arabic, Chinese, and Dutch-a priceless cultural
heritage.
There are also batiks from outside Java
especially from Sumatra affected by Islamic culture
resembling the Arabic script calligraphy. We can

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 69


Insert

Sejarah batik di Cirebon Pusat Sejarah dan Belanja Batik Cirebon

Trusmi
terkait erat dengan
pengaruh asimilasi
atau pertukaran
budaya serta tradisi
religius. Diperkirakan,
hal itu terjadi sejak
Sunan Gunung Jati
menyebarkan agama
Islam di Cirebon pada
abad ke-16.

The History of batik in


Center for History and Shopping Batik Cirebon
Cirebon closely related
to the influence of
assimilation or cultural
exchange and religious

M
traditions. It’s estimated
that it has happened enurut para budayawan, sejarah batik Masnedi, berinisiatif untuk menggali kembali motif
since Sunan Gunung Jati Cirebon berawal ketika Pelabuhan Muara keratonan dan pesisiran yang ada dan menuangkannya
Cirebon disseminated Jati (kini disebut Cirebon) dijadikan tempat dalam lembaran-lembaran kain batik tulisnya. “Pada
Islam in the 16th century. persinggahan para pedagang asing seperti saat itu, Pak Masina mendapat pesanan batik dari
dari Tiongkok, Arab, Persia, dan India. Masuknya para seorang pejabat tinggi di Jakarta. Awalnya, batik pesanan
pedagang asing ini menciptakan proses asimilasi dan tersebut mau dinamakan batik Trusmi, tetapi dilarang oleh
akulturasi beragam budaya yang menghasilkan banyak Pak Masina karena beliau ingin masyarakat luas dapat
tradisi baru seperti batik Cirebon. mengenal dengan sebutan batik Cirebon,” ujar Masnedi
Untuk mengenali batik Cirebon perlu mengetahui yang merupakan putra pertama Masina.
sejarah desa Trusmi, sebuah desa di kabupaten Cirebon Peran alm. Masina tak bisa dilepaskan dari
yang kini menjadi sentra batik di kota udang tersebut. Jarak perkembangan bisnis batik di desa Trusmi. Ia sempat
desa Trusmi sekitar tujuh kilometer dari stasiun Cirebon ke merintis pendirian Koperasi Batik Budi Tresna di desa
arah Plered. Di desa Trusmi dan sekitarnya terdapat banyak Trusmi. Menurut Masnedi, masa keemasan kerajinan
tenaga kerja atau pengrajin batik yang berasal dari desa batik di daerah ini terjadi pada kurun waktu 1950-1968.
Gamel, Kaliwulu, Wotgali, dan Kalitengah. Tak heran bila sebuah koperasi di tingkat lokal, Koperasi
Sedikitnya ada 40 showroom di Kampung Batik Trusmi, Batik Budi Tresna yang menaungi perajin batik desa Trusmi,
mulai dari showroom EB Batik, Batik Gunung Jati, Nofa sanggup membangun gedung koperasi yang cukup megah
Batik, Katura Batik, Koperasi Batik Budi Tresna sampai dan sejumlah sekolah mulai dari tingkat SD, SLTP hingga
di ujung desa Trusmi Kulon terdapat sederet sentra batik SLTA di sekitar desa Trusmi. Saat ini, jumlah anggota
milik keluarga Masina, salah satu leluhur perajin batik di Koperasi Batik Budi Tresna sebanyak 693 orang yang
desa Trusmi. diantaranya terdiri dari 250 pengrajin batik.
Masnedi Masina, salah satu perajin batik tulis di desa Keterampilan Masina dalam membatik ditularkan
Trusmi yang juga menjabat sebagai Sekretaris Koperasi kepada para kerabat dan anak-anaknya. Dari delapan anak
Batik Budi Tresna menceritakan, kala itu, sang leluhur Masina, enam diantaranya mendirikan usaha batik di desa
sering mengerjakan batik dengan motif dari ornamen Trusmi. Jaraknya pun berdekatan di daerah Trusmi Kulon.
sekitar keraton. Misalkan gapura keraton, pot keraton atau Showroom Masnedi, anak tertua Masina, diapit juga oleh
motif-motif suasana keraton lainnya yang inspirasinya showroom milik adik-adiknya.
didapat dari dua keraton yang ada (Kasepuhan dan Beberapa kerabat keluarga Masina juga membuka
Kanoman). Sayangnya, hanya orang keraton saja yang usaha batik secara turun temurun. Sebut saja Katura
boleh memakai batik dengan motif tersebut. Sementara yang mulai mewarisi usaha sang kakek sejak berusia 25
si perajin dan kerabatnya tidak boleh memakainya. Oleh tahun. Usaha batik tulis Katura tersebut berjarak sekitar
karena itu, leluhur Trusmi yang juga perajin batik membuat 100 meter dari usaha keluarga Masina.
motif lainnya untuk dipakai sehari-hari. “Dari situlah lahir Tak jauh dari tempat Katura, terdapat pengrajin
motif pesisiran,” ujar Masnedi. batik tulis, cap dan printing Abed Menda yang memiliki
Keterampilan membatik dari leluhur terus showroom CV Batik Gunung Jati. Abed yang kerap disapa
dikembangkan oleh keluarganya, termasuk teknik Pak Haji ini masih berkerabat dengan Edi Baredi, pemilik
membatik dua sisi (bolak-balik). Pada tahun 1953, pewaris EB Batik yang terkenal sebagai aktivis pengembang
kerajinan batik Cirebon yang bernama Masina, orangtua kerajinan batik di Cirebon.

70 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Insert

the order would be named batik Trusmi, but it was


objected because he wanted the publics recognozed
it as batik Cirebon, “said Masnedi who is the first
son of Masina.
The role of late Masina is inseparable from
the development of batik business in the Trusmi
village. He pioneered the establishment of Batik
Cooperatives Budi Tresna in Trusmi village.
According to Masnedi, the golden age of batik crafts
was in the period of 1950-1968. Not surprisingly
when a local cooperative, Batik Budi Tresna
Cooperatives that organize Batik Trusmi artisans,

A
has been able to build a magnificient cooperative
ccording to historians, the history of artisans in the Trusmi village. building and a number of schools ranging from
batik Cirebon started when the Port Masnedi Masina, one of batik artisans in the elementary, junior high school until senior high
of Muara Jati (now called Cirebon) Trusmi village who also acting as cooperatives school around the Trusmi village. Currently, the
was used as a transit point of the secretary of Budi Batik Cooperatives pointed out members of Batik Cooperatives Budi Tresna is 693
foreign traders such as Chinese, Arabic, Persian, that at that time, the ancestors oftenly painted batik people, include 250 batik artisans.
and Indian. The influx of foreign traders created with an ornaments around the palace. Such as the Masina skills in batik has been spreaded to
a process of assimilation and acculturation of palace gate, pot palace or other motifs of palace relatives and their children. From eight children,
cultural diversity that has produced a lot of new atmosphere all were inspired by the two kingdom six of them established a batik businesses in Trusmi
traditions such as batik Cirebon. (Kasepuhan and Kanoman). Unfortunately, only village. The distance is close each other while the
To know more about batik Cirebon, we have aristocratic palace are allowed to wear the batik Masnedi’s showroom, Masina eldest son, also
to know the history of Trusmi Village, a village in with such motifs. While the artisans and their flanked by elder brother/sister’s showrooms.
the district of Cirebon currently known as batik relatives should not be wearing it. Therefore, the Some of Masina’s relatives has also continued a
center of the shrimp city. The distance of Trusmi ancestral of Trusmi who also the batik artisans, batik business from generations to generations. One
village is about seven kilometers from Cirebon made another motifs for daily use. “That was of them is Katura who inherited his grandfather’s
station heading to Plered. In the Trusmi village a begining of Pesisiran or coastal motif “ said businesses since he was 25 years old. The distance
and suroorunding area there are plenty of batik Masnedi. of Katura’s batik is about 100 meters away from
artisans originated from the village of Gamel, Batik skills of the ancestors continue to be the Masina business.
Kaliwulu, Wotgali, and Kalitengah. developed by his family, including batik techniques Close to Katura’s place there are another batik
There are at least 40 showroom in Trusmi on both sides (back and forth). In 1953, the heir of artisans of painting, stamp and printing namely
village, ranging from showroom EB Batik, Batik batik Cirebon called Masina, Masnedi parents took Abed Menda who owned CV Batik showroom
Gunung Jati, Nofa Batik, Batik Katura, Batik the initiative to re-elaborate keratonan (palaces) Gunung Jati. Abed who oftenly called Pak Haji is
Cooperatives of Budi Tresna up to the end of dan pesisiran (costal) motifs and pour-out into a relatives of Edi Baredi, the owner of famous EB
Trusmi Kulon village there is a batik center owned batik cloths. ““At that time, Mr. Masina got orders batik and known as famous batik businessman in
by Masina family, one of the ancestors of batik batik from a high-rank official in Jakarta. Initially, Cirebon.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 71


Insert

MULAI BERBENAH UNTUK SIAP JADI OVOP

KAMPOENG
BATIK LAWEYAN
Batik Laweyan’s village begins to tidy up to be an OVOP.

Seiring dengan penetapan wilayah Kampoeng Batik Laweyan


sebagai salah satu pusat tradisi batik dan warisan budaya
Jawa Tengah, wilayah tersebut mulai berbenah.
In time with the establishment of Kampoeng Batik Laweyan or Batik
Laweyan’s village as a centre of batik and cultural heritage of Central Java,
the village begins to tidy up.

M
ulai dilirik sebagai sentra industri yang sudah Dilihat dari unsur geografisnya, hampir kebanyakan rumah di
menjadi klaster, sehingga layak dijadikan one sini, memiliki semacam “paviliun” atau teras samping rumah
village one product, Laweyan tidak hanya untuk membatik, serta ruang tamu yang sekaligus menjadi
menata wilayahnya saja, melainkan juga mulai galeri di rumahnya.
peduli pada alam sekitarnya.
“Karena itu penting bagi generasi di bawah kami
Seperti dituturkan oleh Ketua Forum Pengembangan untuk mulai melestarikan tradisi batik. Seperti misalnya
Batik Kampoeng Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono berusaha mereproduksi batik lawasan halus yang sangat
yang didampingi oleh Sekretaris Forum Pengembangan klasik. Masalahnya sekarang ini sangat sulit mencari tenaga
Batik Laweyan pendamping UMKM, Widhiarso, pembenahan reproduksi batik yang usianya relatif muda, tetapi mampu
dimulai dari kesadaran para perajin batik untuk mulai melakukan hal tersebut, mengingat saat ini tenaga repro-nya
menggunakan pewarna alam. Sejalan dengan hal tersebut, sudah jarang, dan kalaupun ada usianya sangat tua.
sejumlah perusahaan besar juga mulai menawarkan kerjasama
Padahal kami ingin membuat semacam museum atau pusat
untuk penanaman bahan pewarna alam, sebagai bagian dari
pengembangan batik, yang sangat memerlukan dukungan
program sosial kepedulian perusahaan.
tenaga-tenaga repro batik lawasan tersebut. Kami ingin
Alpha mengakui tidak mudah bagi para pengusaha dan menekankan pentingnya penghargaan dengan pengelolaan
pembatik tersebut, untuk menggunakan instalasi pengolah yang benar, ” kata Widhiarso. Berdasar data sementara saat
limbah, karena memang dari dulu limbah industri batik ini total jumlah pengusaha batik tradisional Laweyan mencapai
tersebut, selalu dibuang ke sungai (kali). “Jadi sempat dikenal 45 pengusaha untuk batik cap, dan sekitar 45 pengusaha batik
daerah ini ada yang disebut dengan Kawasan Batik Girli tulis, di mana untuk batik cap, mereka mempekerjakan 5 orang
(pinggir kali). Itu sebabnya menjadi concern sejumlah pihak pembatik, dan untuk batik tulis sekitar 3 orang.”
untuk menjadikan program kali bersih. Upaya ini tidak mudah
Alpha melanjutkan, guna meningkatkan kecintaan dan
mengingat instalasi pengolahan limbah baru dilakukan secara
regenerasi tersebut, mereka sepakat mengadakan sejumlah
komunal, karena kendala tingginya biaya, sehingga dianggap
pelatihan kewirausahaan, termasuk menunjukkan concern-
cukup membebani mereka,” papar Alpha yang di rumahnya
nya pada bidang teknologi informasi. Bahkan dengan
menjadi ‘juragan’ Batik Mahkota - Laweyan.
kedatangan salah satu produsen perangkat lunak merek dunia
Bentuk kepedulian kami sebagai komunitas forum terutama ke Laweyan, mereka menunjukkan kepeduliannya pada industri
berupaya melestarikan batik di wilayah ini, mengingat wilayah kecil dan menengah bidang batik. Akhirnya mereka memberi
ini sempat mengalami “mati suri” pada tahun 2004. Sebab pelatihan, dan membangun pusat IT (Information Technology)
secara alamiah wilayah Laweyan yang dihuni para juragan di Laweyan. “Jadi secara umum kami menunjukkan kepedulian
sekaligus pembatik ini, dilihat dari sejarahnya memang sudah pada lingkungan, sekaligus sadar pentingnya IT bagi persiapan
sejak lama menggarap batik. Bahkan tradisi tersebut sudah menghadapi persaingan di tingkat dunia,” katanya.
dimulai sejak masa terbentuknya kerajaan-kerajaan di Jawa.

72 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Insert

S
tarting to be glanced as a cluster of Geographically, most of the houses Laweyan has a
industrial center, so that it deserves to kind of pavilion or side-terrace to do batik, and also
be one village one product (OVOP) , guest room for a gallery inside the house.
Laweyan does not only tidy up its area, “Therefore, it is important for the next
but also the environment. generation to start conserving batik’s tradition;
As said by the chairman of development for instance, making efforts in producing classical
forum of Batik Kampoeng Laweyan, Alpha Febela batik of “lawasan halus”. The problem now is that
Priyatmono accompanied by the secretary of it is really hard to find young craftmen who are
development forum of Batik Kampoeng Laweyan make reproduction, if any, the ages are already
involving UMKM, Widhiarso, the program started very old.In fact, we want to develop a museum or
from the awareness of batik craftman to use natural batik development centre, which needs supports
dyes. While some big corporation has also started from craftmen who are to do reproduction. We
to offer cooperation for planting natural dyes’ want to emphasize the importance of awards in
material, as a part of corporate social resposibility correct executions/processes,” Widhiarso said.
programs of the in companies. Based on the temporary data, the total number
Alpha admitted that it is not easy for the of batik entrepreneurs in Laweyan has gone up
entrepreneurs and craftman to use waste processing to 45 entrepreneurs for batik cap ( stamped batik
installation, since long time ago, the industrial ), and around 45 for batik tulis ( hand-writting
waste always throw away to the river. “So, this batik ), , For the stamped batik, they employ five
area once is known as Batik Girli Area (river-side). batik craftsmen, and for hand-painted batik, three
Some parties are concerned on this and create a people.”
‘clean river’ program. It’s hard to implement the Alpha resumed, to increase our devotion and
program since the waste treatment program should regeneration, they has had decided to organize a
be muplemented by communally and needs high number of entrepreneurial training, including
cost so that it will burden them, said Alpha who showing their concerns in information and
has become ‘juragan’ or ‘skipper’ of Batik Mahkota technology areas. Even, with the presence of one
– Laweyan in where he lives. world-branded software producers in Laweyan,
On main concern as a forum community is they have showed their concerns to small-medium informasi | information »
especially making an effort to conserve batik in this scaled industries in batik. Finally, they gave
Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan
region, since this area was temporary suspended trainings, and built an IT-centre in Laweyan. “So,
Sayangan Kulon 9, Laweyan Solo 57148.
in 2004. Because, naturally, Laweyan was being generally, we have shown a concern to our society, Telp (0271) 712276
populated by enterpreneur and artisans, as can as well as realized the importance of IT to prepare Fax (0271) 738724
facing an international competition,” he said. Email : febela2006@yahoo.co.id
be seen from its history, the tradition has been
www.kampoenglaweyan.com
started in the beginning of java kingdom history.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 73


Insert

International
Batik Center (IBC)
Memadukan Konsep Budaya dan Bisnis Dalam Satu Tempat

Kerajinan batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Indonesian Batik craft has been known
Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. since of Majapahit era and continued to
grow since after. The expansion of batik
Mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia
to be belong to Indonesia, and Java in
dan khususnya suku Jawa adalah setelah akhir abad ke-XVIII atau particularly is started in the end of XVIII
awal abad ke-XIX. or early of XIX.

B
atik yang dihasilkan awalnya adalah batik “IBC didirikan untuk memfasilitasi serta menerapkan persyaratan ketat bagi pengrajin yang
tulis dan disusul batik cap yang mulai memberikan kemudahan bagi para pengrajin batik ingin masuk ke IBC. Persyaratan yang harus dipenuhi
dikenal sekitar tahun 1920. Salah satu nusantara untuk mendapatkan kesempatan yang itu antara lain batik yang dihasilkan pengrajin
daerah yang dikenal sebagai sentra batik sama dalam memasarkan serta memperkenalkan haruslah batik tulis dan batik cap.
adalah Pekalongan. Di daerah ini, terdapat ribuan masing-masing produknya kepada pelanggan dalam Syarat ini, ungkap Imammudin, sejalan dengan
pengrajin batik, baik yang bermodal besar maupun suatu area perdagangan terpadu,” ujar Imammudin upaya pendiri IBC untuk memajukan budaya batik di
pengrajin bermodal kecil.Sebagai salah satu sentra Syarief, Manajer Operasi IBC. masyarakat Indonesia dan internasional.Jika budaya
batik nasional, Pekalongan tentunya membutuhkan Menurutnya, IBC bukanlah sekadar tempat batik dapat dikenal masyarakat, nantinya akan
sebuah tempat transaksi serta promosi bagi batik- transaksi dan promosi biasa yang banyak terdapat muncul keinginan masyarakat untuk memiliki batik
batik yang dihasilkan pengrajin. di sejumlah daerah yang lebih mementingkan konsep tersebut. “Dengan begitu, bisnis batik asli Indonesia
Di antara tempat transaksi dan promosi pengrajin bisnis.IBC menerapkan gabungan antara konsep dapat berjalan baik,” tuturnya.
batik yang ada di Pekalongan, salah satunya adalah budaya dengan konsep bisnis. Saat ini di IBC terdapat 184 stand yang sudah
International Batik Center (IBC). Pusat transaksi dan “Kami memiliki tujuan untuk melestarikan terisi penuh oleh pengrajin batik dari kelas kecil
promosi batik ini telah beroperasi sejak awal Maret budaya batik sekaligus mendorong transaksi dan hingga pengrajin kelas atas. Kegiatan pembangunan
2012 . promosi batik yang dihasilkan pengrajin,” katanya. penambahan stand terus dilakukan dan ditargetkan
Dengan menerapkan gabungan antara konsep pada tahun depan jumlah stand yang ada di pusat
budaya dan bisnis itu, maka manajemen IBC batik itu mencapai 400 stand.

74 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Insert

T
Untuk menarik pengunjung, manajemen IBC juga he production was originally batik community. If all the people knows batik, then
telah melakukan sejumlah strategi. Misalnya saja tulis and followed by batik cap around the public has a desire to have batik. “By that way,
menjalin kerjasama dengan pihak biro perjalanan 1920. One of the city that is known as the business of original Indonesian batik can run
atau hotel-hotel yang ada di wilayah Pekalongan batik center is Pekalongan. There are well,” he said.
dan sekitarnya. thousands of batik artisans, starting from small to Currently there are 184 booths at IBC, fully
“Kami juga mendapat dukungan dari pemerintah, large capital. As one of batik center, Pekalongan is occupied by small class to upper-class batik
seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian certainly needs a place for the transaction as well artisans. The construction of additional stand is
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan selalu as the promotion of batik artisans produced. being implemented and it was targeted to reach 400
dilibatkan dalam perjalanan atau misi dagang ke One of the transaction and promotion center for booths next year.
luar negeri,” papar Imammudin. batik in Pekalongan is International Batik Center To attract visitors, the management of IBC
Sedangkan untuk lebih mengenalkan budaya (IBC) which was established since beginning of has also conducted a number of strategies. Such as
batik kepada masyarakat, pihak manajemen secara march 2012. creating cooperation with travel agencies or hotels
rutin juga menggelar kegiatan praktik membuat “IBC was established to facilitate and provide in Pekalongan and surrounding areas.
batik tulis atau batik cap serta mengadakan kursus convenience for batik craftmen in the country “We have a support from the government,
membatik bagi masyarakat. to have equal opportunities in introducing and such as the Ministry of Industry and the Ministry
Dengan upaya yang gencar itu, jumlah marketing their products to customers in an of Tourism and Economic Creative by always
pengunjung IBC terus mengalami peningkatan. integrated trade area,” said Imammudin Syarif, involving us into trade missions abroad,” said
Saat ini rata-rata jumlah pengunjung IBC mencapai Operations Manager of IBC. Imammudin.
22.500 pengunjung per bulan. Ditargetkan jumlah According to him, IBC is not only an ordinary While to introduce batik culture to communities,
itu meningkat menjadi sekitar 35.000 pengunjung place for dealing and promotions as other places the management conduct a regular program such
per bulan pada tahun depan seiring dengan adanya in a number of areas that are more concerned as practising to make hand writing batik and
penambahan stand. in business ceoncept only, but IBC is place that stamped batik, and also batik course for public.
applying a combination of culture and business
With vigorous efforts, the number of visitors
concept.
IBC continues to increase. Currently the average
“We have the goal to preserve a culture of batik number of ICB visitors has reached 22,500 visitors
and encourage promotion and transactions of batik per month. In pararel with additional stand
that produced by craftmen,” he said. construction, It was targeted to increase about
By applying a combination of culture 35,000 visitors per month next year.
and business concept, IBC management has
implemented stricter regulation for craftsmen who
want to joint with IBC. One of the regulation that
is applied is, the batik must be hand writing batik informasi | information »
and stamped batik
International Batik Center (IBC)
Imammudin said that this requirement, is in Jl. Achmad Yani No 573, Pekalongan, Jawa Tengah
line with objective of IBC founder to promote a Telp : 0285 4416985 - 0285 7865846
batik culture in Indonesian and internasional Fax: 0285 4416705
Website: www.internationalbatik.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 75


Insert

SEBAGIAN BESAR IKM BATIK SUDAH BANYAK GUNAKAN PEWARNA ALAM

Balai Besar Kerajinan Batik


Most Of Sme’s Batik Has Used Natural Dyes

S
eperti dikemukakan Kepala Balai Besar dan pelatihan dengan praktek di lapangan tentu berbeda,
Penggunaan bahan pewarna alam Kerajinan Batik Yogyakarta, Zulmalizar, kadang hasilnya tidak seperti yang diharapkan.
sudah mulai digunakan sebagian dengan kesadaran tinggi mereka meminta Intinya beda antara memproses satu kain dengan
besar pembatik di Indonesia. diadakannya pelatihan penggunaan produksi lebih dari satu, apalagi untuk produksi yang
Selain lebih mudah diolah zat pewarna alam. Sementara materi pelatihan lebih banyak volumenya (produksi massal). Perlu
limbahnya, para IKM tersebut mencakup antara lain pengetahuan manajemen tahu bagaimana kualitas kain atau bahan sebagai
produksi, SNI batik, uji proses, sampai perhitungan media, karena berbeda antara grade (tingkatan)
sudah mulai tinggi kesadarannya,
ekonomis. pertama dan grade di bawahnya, agar tahan luntur,
penggunaan pewarna alam
Dalam prakteknya penggunaan pewarna alam perlu mengetahui teknik pewarna alam.
artinya lebih ramah lingkungan.
tidak semudah yang diperkirakan, karena beberapa Perlu juga pendalaman tentang pengetahuan
The use of natural dyes have been faktor. Sebab untuk menggunakan lilin malam desain dan pola, karena dari kain tersebut diproses
used by most of batik craftsman pewarna alam harus tepat, karena perlu dilakukan membatiknya, si pembatik sudah harus tahu
in Indonesia. In addition to the test pengujian sampai beberapa kali. “Para pembatik nantinya kain tersebut akan dipergunakan untuk
more easily waste processed, perlu tahu dalam proses pembatikan warna alam, apa. Ide tersebut dianggap penting karena menurut
ada kunci atau tahapannya seperti bagaimana Zulmalizar, corak yang tergambar pada kain tersebut,
batik craftsman know that the
mengikat warnanya agar kain tidak luntur. pada akhirnya menjadikan fungsi kain tersebut akan
use of natural dyes are more
Karena hasil yang diperoleh selama proses dijadikan sebagai apa nantinya, sebagai bagian dari
environmentally friendly. filosofi makna kain.

76 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Insert
Batik Mark dan SNI
Dalam kesempatan sama, Zulmalizar yang
juga didampingi sejumlah kepala bidang yang
menangani masing-masing bidang seperti bidang
uji sertifikasi dan kalibrasi; bidang sarana riset dan
standardisasi; dan kepala seksi sarana riset batik,
menuturkan, pihaknya masih mendorong pengusaha
batik agar dapat memperoleh sertifikat penggunaan
‘Batikmark.’ Batikmark “batik Indonesia” adalah
satu tanda yang menunjukkan identitas dan ciri batik
Indonesia, terdiri atas tiga jenis yakni batik tulis, batik
cap, dan batik kombinasi tulis dan cap, dengan hak
cipta No. 034100 tanggal 5 Juni 2007. Zulmalimar
Penggunaan batikmark yang dapat memberi Kepala Balai Besar dan Kerajinan Batik
jaminan mutu batik Indonesia dan sebagai Yogyakarta
perlindungan hukum batik Indonesia dari berbagai

A
persaingan tidak sehat bidang Hak Kekayaan
Intelektual dan perdagangan dalam negeri dan s stated by the Head of Balai Besar batik, printed batik, and combination batik), as
internasional, diharap memberi kepastian hukum dan Kerajinan Batik Yogyakarta, sated in the copyright No.034100 dated June 5,
baik bagi produsen dan konsumen Indonesia Zulmalizar, they need training in 2007.
terhadap keaslian dan mutu sebagai pembeda batik the use of natural dyes. The training
The use of Batikmark that gives the quality
Indonesia dengan batik buatan negara lain. Saat materials consisting of production management,
assurance and legal protection of Indonesian batik
ini Balai Besar Industri Kerajinan dan Batik yang SNI batik, quality control, and economic
from unfair competition on the field of intellectual
diberi tugas memproses sertifikasi Batikmark, telah calculations.
property rights in domestic and international
mengeluarkan 106 sertifikat, dan jumlahnya terus In a practically, the use of natural dyes is not trade, is expected to provide legal certainty for
meningkat dengan kian tingginya pemanfaatan modestly, due to several factors. The use of natural both producers and consumers to the authenticity
Batikmark. dyes wax should be precise, and several times of and quality as a differentiator between Indonesian
Zulmalizar menambahkan Direktorat Jenderal experiments are needed. “The batik craftsman is batik and others. Currently Balai Besar Industri
Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin need to know that in the process of using natural Kerajinan dan Batik asssigned to conduct
mulai tahun 2014, akan menganggarkan sekitar Rp dyes there are steps and procedures should be taken, Batikmark certification, has issued 106 certificates,
200 juta dari APBN, untuk membantu sekitar 100 such as how to make the color does not easyly faded. and the numbers continue to increase paralel with
IKM guna memproses sertifikasi Batikmark. Besarnya the increase of Batikmark utilization.
The knowledge acquired during the training
tarif jasa layanan batikmark Batik Indonesia adalah
session of course is different with the actual Zulmalizar added that starting in the year
Rp 1.700.000,- yang ditetapkan sesuai Peraturan
problems faced in business practices, sometimes the 2014 the Directorate General of Small and Medium
Pemerintah RI No. 47 tahun 2011 tentang Jenis dan
results are not as expected. The point is that there Industry (SMI) Ministry of Industry will allocate
Tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang
are significant differences between processing a about USD200 million from the state budget,
berlaku pada Kementerian Perindustrian.
piece of cloth and the mass production. The quality to help about 100 SMEs in order to process the
Untuk memperoleh batikmark, perusahaan selain of cloth and materials should be well understood, Batikmark certification. The tariffs of service to
telah memiliki merek terdaftar, juga memiliki ukuran, because there is a differences beetween the first obtain Batikmark is Rp 1.700.000, - based on the
sifat mengkerut, tahan gosok warna dan tahan luntur grade and the lower. To keep the collors from faded, Government Regulation No. 47/2011 dealing with
warna terhadap pencucian dengan Standar Nasional the techniques of using natural dyes is required. Types and Tariffs on Non Tax Revenue types that
Indonesia (SNI) sebagai acuan. Batik tersebut juga apply to the Ministry of Industry.
memiliki ciri apakah sebagai batik tulis, batik cap, The knowledge of design and pattern slould
atau kombinasi antara tulis dan cap dengan SNI also be explored. When the cloth is ready to be To obtain Batikmark, the company, besides
sebagai acuan. Kementerian Perindustrian juga processed, the craftsman should already knows having registered brand, has also to have the size,
tengah melakukan revisi SNI batik yang dibuat sejak the batik product what will be in used. Acoording nature of shrink, rubbed color resistance, and color
tahun 1989, untuk penyempurnaannya. to Zulmalizar, this idea is so important since the faded resistance from washing with the Indonesian
design and pattern depicted on the cloth will reflect National Standard (SNI) as a reference. This Batik
a certain features as a part of the philosophy of batik. has to have the characteristic whether as handmade
batik, printed batik, or a combination batik with
SNI as a reference. The Ministry of Industry is
Batik Mark and SNI
also conducting the revision of SNI batik released
In the same occasion, Zulmalizar which is in 1989.
accompanied by a number of Head Div. dealing
with the certification and calibration, research informasi | information »
facilities and standardization explained that she
encourages batik entrepreneurs to obtain the Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta
Jl. Kusumanegara No. 7, Yogyakarta 55166
certificate of the use of’ Batikmark. Batikmark as
Telp (0274) 546111, fax (0274) 543582
“Indonesian batik” is a mark that indicating the website : www.batik.go.id ,
identity and characteristics of Indonesian batik, email : bbkb_depperin@yahoo.com
which consists of three types of batik (handmade Website: www.internationalbatik.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 77


Insert

Prodi D3 Teknologi Batik


Unikal B
Menjaga Nilai-nilai Budaya Batik Indonesia

Batik memang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia


erangkat dari kondisi itu, Universitas Pekalongan
(Unikal) membuka Program Studi D3 Teknologi
Batik yang kegiatan belajar mengajarnya telah
diresmikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan
dan internasional. Namun, pengenalan tentang batik baru Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional RI pada tanggal 24
September 2011.
sebatas komoditas saja. Sementara pengenalan mengenai
“Universitas Pekalongan sebagai lembaga pendidikan
ilmu pengetahuan tentang batik kepada masyarakat masih tinggi terdepan di Kota Pekalongan memperoleh kepercayaan
minim. dan tugas dari Pemerintah Republik Indonesia untuk ikut
Batik has ben known by both Indonesian and international communities. However, berpartisipasi mentransfer ilmu pengetahuan, teknologi seni
dan budaya perbatikan kepada masyarakat Indonesia dan
the introduction of batik is only simply assuming batik as a commodity, while the
mengembangkannya secara luas ke seluruh dunia,” kata
promotion of batik knowledge to community is still very limited.
Kepala Program Studi Teknologi Batik Unikal, Zahir Widadi.

78 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Insert
Menurutnya, keputusan UNESCO menjadikan
batik sebagai warisan tak benda, harus diikuti
dengan langkah-langkah melestarikan budaya
batik yang sesungguhnya. “Pasalnya, saat ini
banyak produksi batik yang dibuat dengan cara
yang tidak sesuai dengan budaya batik Indonesia
yang sesungguhnya,” ujarnya seraya merujuk pada
pembuatan batik dengan cara printing oleh pabrik.
Budaya batik Indonesia sesuai dengan kriteria
UNESCO, ungkapnya, harus diinformasikan secara
tepat kepada masyarakat luas. Jangan sampai budaya
batik Indonesia dirusak oleh pihak-pihak tertentu
yang akhirnya membuat derajat batik Indonesia di
mata internasional menjadi rendah.
Karena itu, Unikal sebagai sebuah lembaga
pendidikan yang berlokasi di kota Pekalongan yang
terkenal sebagai kota Batik, berkewajiban untuk
menjaga agar nilai-nilai budaya batik Indonesia
dapat terjaga dan masyarakat dapat mengetahui
tentang budaya batik Indonesia secara lebih luas,
baik dari sisi sejarah maupun produksinya.
“Jika masyarakat mampu membuat batik

I
dengan proses yang benar, itu merupakan suatu
pekerjaan yang telah memberikan kontribusi bagi n order to promote and develop batik mostly about the batik as an Indonesian culture.
penyelamatan batik Indonesia,” ucap Zahir. knowledge, the University of Pekalongan “The courses we address, among others, are
(Unikal) carries out D3 study program for about the design, batik philosophy, the history of
Menurutnya, dalam Program Studi D3 Teknologi
batik technology, firstly inaugurated by the batik, production techniques, entrepreneurship and
Perbatikan Unikal, mata kuliah yang diajarkan
Director General of Higher Education, Ministry of the concept of cultural-based batik production,” he
kepada mahasiswa atau mahasiswi lebih mengarah
National Education on 24 September 2011. explained. In the second semester of this program
kepada batik sebagai budaya Indonesia.
“As the leading university in Pekalongan, students are required to craft batik on cloth with a
“Mata kuliah yang kami ajarkan antara lain
Unikal is given the opportunity to be actively pattern and color given by the teacher. While in the
soal desain, filsafat batik, sejarah batik, teknik
involved in the development of batik knowledge third semester, they are given the obligation to craft
pembatikan, kewirausahawan serta konsep
and diseminates it to both local and international batik with their own materials, motives, and colors.
produksi batik berbasis budaya,” paparnya. Dalam
communities”, said Zahir Widadi, Chief of Batik With a such study program, Unikal expects
program studi itu, pada semester II mahasiswa atau
Technology Study Program, Unikal. to produce the graduates having expertise in
mahasiswi diwajibkan membuat batik tulis di atas
kain dengan motif serta warna yang telah ditentukan According to him, the decision of UNESCO batik design, craftmen, entrepreneurs, counselor,
oleh pihak pengajar. Sedangkan pada semester III, to adopt Indonesian batik as intangible cultural teachers and so on.
diberikan kewajiban untuk membuat batik dengan heritage should be followed by the real actions to Start opening in 2011, the number of students
penentuan bahan, motif dan warna dilakukan sendiri preserve it. “In fact, currently a lot of batik products pursuing the study of batik technology reached
oleh mahasiswa atau mahasiswi. are produced by neglecting the real Indonesian 37 students. The background of the students are
culture” said Zahir by giving example about the businessman, undergraduates and high school
Dengan sistem pendidikan seperti itu, Prodi
production process of printed batik. graduates.
Teknologi Batik Unikal ingin menghasilkan lulusan
yang mampu menjadi perancang batik, pengrajin He added, The Indonesian batik culture, as the To pursue the disemination of batik knowledge
batik, pengelola usaha batik atau menjadi pendidik criteria of UNESCO has to be correctly informed and batik culture covering the broader area in
atau penyuluh. to the general public. Do not let the Indonesian Indonesia, Zahir expects there is closer partnership
batik culture is destroyed by certain parties between Unikal and some government agencies
Sejak dibuka pada tahun 2011, jumlah
who ultimately downgrade the Indonesian batik including the Ministry of Industry.
mahasiswa dan mahasiswi yang mengambil studi
internalionally.
teknologi batik di Unikal mencapai 37 orang. Adapun “The Ministry of Industry has already helped
latar belakang mahasiswa atau mahasiswi itu adalah Therefore, Unikal as an university located in us a lot and we hope it can give more, for example, by
pengusaha batik, sarjana dan lulusan SMA. Pekalongan city, which is prominently called the continuously sending a large number of employees
city of Batik, has obligated to keep the cultural to Unikal to learn batik,” he explained.
Agar kegiatan transfer mengenai ilmu
values of Indonesian batik to be maintained and
pengetahuan dan budaya batik bisa menjangkau
the public can learn more about the culture of batik,
wilayah yang lebih luas di Indonesia, Zahir berharap informasi | information »
both in terms of its history and production process.
adanya kerjasama yang lebih erat antara Unikal
dengan instansi-instansi pemerintah, termasuk “If the people have been able to produce batik Prodi D3 Teknologi Batik Unikal
Kementerian Perindustrian. with the Indonesian way, it means they have Jalan Sriwijaya Nomor 3 Kota Pekalongan,
already contributed to preserve Indonesian batik,” Jawa Tengah 51111
“Kementerian Perindustrian memang telah Telp : 0285 421 096
said Zahir.
banyak membantu kami dan kami ingin bantuan itu Fax : 0285 421 096
bisa lebih luas lagi misalnya dengan program utusan According to him, the course materials taught Website : www. Unikal.ac.id
to the student of the D3 Batik Technology are Teknologibatik.unikal.ac.id
daerah untuk belajar batik di Unikal,” paparnya.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 79


Aksesoris Batik

“YOGYA CANTING”

CANTING BATIK YOGYA


Sebagai salah satu Kota Batik, Yogyakarta juga memiliki banyak
industri pendukungnya seperti industri canting yang dibuat di industri
rumahan yang sederhana, di Pedukuhan Wiloso, Desa Mojosari,
Kecamatan Panggang, Kelurahan Girikarto, Kabupaten Gunung Kidul,
Yogyakarta.

D
i rumah tersebut, Supini/Pini (48 tahun) Canting dibuat dengan bahan campuran antara Pelajaran membuat canting ini didapat dari
bersama suaminya Igun, memproduksi tembaga dan kuningan, serta gagang (pegangan) suami saya, yang waktu muda bekerja di salah
canting khas Yogyakarta yang berbeda canting dibuat dari kayu Trembolo yang terletak satu produsen canting di Kotagede, Yogyakarta,
dengan canting lainnya dari Solo atau dekat pantai. Selain Trembolo, sebenarnya masih ada papar Supini. Kalau ditanya, sebenarnya saya ingin
Pekalongan tuturnya. Sejak tahun 1989 mereka bahan kayu alternatif, yaitu dari kayu Waru dan kayu pemerintah bisa membantu pengadaan alat produksi
berdua memproduksi canting dalam tiga jenis, Putih. Jika tidak dari kayu, sebenarnya masih dapat mesin gagang kayu untuk canting ini. Harapan
yakni jenis Cecek (ukuran terkecil), Lowong (ukuran menggunakan bambu dari cendana ataupun glagah, saya sebenarnya juga ingin, kalau pada akhirnya
sedang), dan Tembok (besar untuk bidang batik yang tetapi banyak toko yang tidak mau menerimanya. generasi di bawah saya, meneruskan usaha produksi
lebih luas). “Setiap minggu, saya harus membeli bahan- canting secara sederhana. Sebab dari setiap canting,
“Di desa ini hanya saya berdua dengan suami bahan seperti 2 liter bensin untuk produksi 500 sebenarnya masih ada untung sekitar Rp 500,- per
yang menggarap produksi canting. Saya sendiri sudah buah canting. Selain itu membeli gagang dari kayu, buah, tetapi itu belum memperhitungkan tenaga
berupaya mengajak warga desa yang lain untuk tembaga/kuningan, perak, patri tembaga, dan saya untuk produksi canting.
membuat canting, tetapi kenyataannya mereka lebih kawat. Diperkirakan biaya produksi per minggu Misalnya pesanan canting sedang sepi, saya
tertarik menjadi petani, peternak, dibanding membuat sekitar Rp 150 ribu. Sedang harga canting yang ‘nyambi’ meronce bunga melati, terutama untuk
canting. Kalau dapat pesanan dalam jumlah besar, sudah jadi antara Rp 1.500,- s/d Rp 2.000,- per buah. kepentingan pernikahan. Sebab canting saya hanya
baru saya mengajak tetangga membantu pekerjaan Sampai di Yogyakarta atau di toko alat-alat membatik dapat digunakan di wilayah Yogja saja, mengingat
ini,” jelas Pini seraya memperagakan teknik produksi harganya menjadi berkisar antara Rp 3.000,- s/d canting dari Solo dan Pekalongan berbeda
canting dengan mesin sederhana. Rp3.500,- per buah. bentuknya,” jelas Supini.

80 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aksesoris Batik

As one of the famous Batik city,


Yogyakarta has many supporting
industries, such as ‘canting’, which
is a home made industry located
in Pedukuhan Wiloso, Mojosari
Village, Panggang, Gunung Kidul
Yogjakarta

I
n the small house, Supini / Pini (48 y.o), people to make canting, but they are not interested as Waru and white wood. In case there is no woods,
together with her husband Igun, they made and prefer to be farmers or breeders than making there is another alternatives such as cendana and
a distinctive and typical Yogyakarta canting canting. In case we got much order, I just took the glagah, but canting from these materials are not
which is different with other product from neighbors to help us to make the order, “said Pini accepted in the shops.
Solo or Pekalongan. Since 1989 they have made while doing to make canting with simple machines. “To produce 500 canting, in every week, I have
three types of canting, namely cecek (smallest size), to buy 2 liters of petrol grips from woods, copper /
lowong (medium size), and wall (biggest size for brass, silver, copper solders, and metal wires. The
“Canting” has made from a mixture of copper
a wider cloth). estimation of production cost per week is around
and brass, and the handle (grip) is from Trombolo
In this small village, I’am the only people who wood which is planted in coastal area. Beside Rp150.000. while the price of Canting is between
made canting. have been tried to encourage other Trembolo, there are other alternatives woods such Rp1.500 to Rp2.000/piece. But in Yogyakarta the
price bacame between Rp 3,000, - to Rp3.500, -
per piece.
“The technique how to make canting, I learned
from my husband, who used to be worked at one
of the canting maker in Kota Gede, Yogyakarta,”
said Supini. If I had been asked, I actually need
government support in machinery procurement,
a machine to make canting grips.I hope my next
generation, can continue running this business in
the future. Economically, there is still a significant
profits for about Rp 500, - per piece, not including
the labor cost.
When there is no incoming orders, I take part-
time job, especially arranging jasmine flower for
marriage party. My cantings are used exlusively by
craftman in jogyakarta region, and they don’t use
other craftman from Solo and Pekalongan due to
different designs which they are not familiar with.
This is the reason of why the market of my canting
is quite limited, “said Supini.

informasi | information »
Canting Supini
Wiloso Girikarto RT 06, RW 04, Panggang, Gunung Kidul.
Hp 087 839 385 132

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 81


Aksesoris Batik

Pekalongan CANTING

Industri Canting
Cap Analisia

Perkembangan batik di The Development of batik in


Indonesia tak bisa dilepaskan Indonesia can not be separated from
dari keberadaan canting. Tanpa the existence of canting. Without a
adanya canting, kegiatan canting, there is no batik tulis and
pembuatan batik tulis ataupun batik cap.
batik cetak tidak bisa dilakukan.

C
anting untuk membuat motif batik terdiri dengan dibantu 8 orang karyawannya memproduksi ketika digunakan, motif batik dalam cetakan itu bisa
atas canting tulis dan canting cetak. canting cap yang terbuat dari tembaga dan kayu. tercetak merata di permukaan kain.
Canting tulis, yang biasa disebut lilin pena, Untuk canting cap berbahan baku tembaga, dia Proses serupa juga dilakukan dalam pembuatan
adalah wadah tembaga kecil dengan bisa menyelesaikan satu canting cap dalam tempo canting cap dari kayu. Hanya saja proses
tabung kecil yang terpasang pada pegangan bambu. 10 hari. Sementara untuk canting berbahan baku pembuatannya tidak serumit dengan menggunakan
Wadah tembaga ini diisi dengan lilin meleleh dan kayu, setiap hari dia bisa memproduksi sebanyak lima lempengan tembaga. “Canting cap dari tembaga
perajin menggunakan canting untuk menggambar buah canting cap. “Pembuatan canting dari tembaga memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, yakni ketika
lilin ke kain. memang lebih rumit sehingga membutuhkan waktu menyusun lempengan tembaga menjadi suatu motif
Sementara canting cap adalah sebuah alat yang lebih lama dalam pembuatannya,” ujarnya, batik,” papar Achmad.
berbentuk semacam stempel besar yang telah Untuk membuat sebuah canting cap, langkah Dalam memproduksi canting cap, dia kebanyakan
digambar motif batik. Pada umumnya pola pada pertama yang dilakukan Achmad Ibaweh dan membuat sendiri motif batik yang ada dalam canting
canting cap ini dibentuk dari bahan dasar tembaga, karyawannya adalah membuat motif atau desain cap itu. “Memang ada juga pembeli yang membawa
tetapi ada pula yang dikombinasikan dengan besi. batik dalam sehelai kain atau kertas. sendiri motif batiknya, namun jumlahnya tidak
Dari jenis produksi batik cap ini, pembatik bisa banyak,” jelasnya.
Setelah itu, motif batik itu kemudian dituangkan
menghemat tenaga, dan tak perlu menggambar
dalam bentuk cetakan dengan menggunakan Soal harga jual, Achmad Ibaweh mematok harga
motif atau desain di atas kain.
lempengan tembaga. Motif batik itu kemudian canting cap dari tembaga dengan kisaran harga Rp
Seperti industri batik, industri canting cap ditempelkan pada kerangka besi . Cetakan motif batik 500. 000 hingga Rp 1 juta per buah, tergantung pada
biasanya dilakukan secara turun temurun, seperti itu lalu direndam di dalam cairan gondorukem selama tingkat kerumitan motif yang ada di canting tersebut.
yang dilakukan Achmad Ibaweh di Pekalongan. lima menit. “Perendaman dengan gondorukem Sementara untuk canting dari kayu, harga jualnya
Pria setengah baya ini telah mengikuti jejak kakek diperlukan agar cetakan motif batik yang terdapat sekitar Rp 20.000 hingga Rp40.000 per buah.
buyutnya untuk memproduksi canting cap. “Saya dalam canting cap tidak goyang,” kata Ahmad Achmad Ibaweh menjamin kalau produk canting
merupakan generasi ketiga dari keluarga saya yang Ibaweh. cap dari tembaga yang diproduksinya dapat bertahan
meneruskan usaha pembuatan canting cap,” ujarnya.
Setelah direndam cairan gondorukem, canting tujuh turunan. Sedangkan untuk canting cap dari
Dengan merek dagang Analisa, Achmad Ibaweh itu lalu diamplas bagian permukaannya sehingga kayu, bisa bertahan minimal tiga bulan lamanya.

82 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aksesoris Batik

T
here are two type of canting,canting 10 days per piece while canting cap with wooden design by him self “some of buyers bring their own
tulis and stamp.The Canting tulis, material is 5 pieces per day. “The canting cap with motif design, but not many”
sometimes called a wax pen, is a small copper material is more complicated, it takes longer Achmad Ibaweh has sell the copper canting
copper container with a small tube time in production”. He said ranging from Rp 500. 000 to Rp 1 million per piece,
mounted on a bamboo handle. The copper container To develop canting cap, the first step taken by depending on the complexity of the motifs on the
is filled with melted wax and the artist uses the Achmad Ibaweh and staff is preparing the motif or canting. As for the canting of the wood, the selling
canting to draw the wax onto the cloth. batik design on the fabric or paper. price of around Rp 20,000 to Rp 40,000 per piece.
While canting cap is a copper stamp with batik Next, the batik motif is poured out into a mold He guarantee that the copper canting cap that
motif. In general the pattern of canting cap is made shape, the motif was then attached to the metal he made can stand until seven generation while
from copper or iron but can be a combination of frame. The batik molding were then immersed in the wooden canting cap can stand at least three
copper and iron. By using stamp, the craftsmen can liquid gondorukem for five minutes. “The Soaking months.
work efficiently and do not need draw the motif in gondorukem is needed in order the batik molding
on the fabric. inside the canting cap is not shifted,” said Ahmad
As well as batik industries, canting cap business Ibaweh.
is also developed from generation to generation, as After soaked into liquid gondorukem, the
did by Achmad Ibaweh in Pekalongan, the middle- surface of canting was then sanded, so when it
age men who has been hollowing his encestor to used, the batik motif can be printed on the surface
produce canting cap. “I am the third generation of of the fabric evenly.
my family who continue the canting cap business
A similar process is carried out for wooden
“ he said.
canting cap but the process ist not as complicated informasi | information »
With trademark ‘Analysis’, Achmad Ibaweh as copper plates. “Canting cap copper is more
with 8 employees has produce canting cap made Industri Canting Cap Analisa
complicated, especially when preparing a piece of
Jalan Irian Gg 2 Nomor 41 Kebulen, Pekalongan
of copper and wood. copper into a motif,” Achmad said. Telp: 085740841801
Copper canting cap could be finished within In the production, he usually made the motif Email : cantingcapanalisa@yahoo.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 83


Aksesoris Batik

Kancing Batok Kelapa


S
alah satu produk pendukung atau asesoris batok kelapa untuk produk baju batik mereka,” ujar
pakaian batik yang mendapat berkah dari Soetarko.
Besarnya animo masyarakat
booming pakaian batik adalah industri Menurutnya, pembuatan kancing baju dari
untuk mengenakan pakaian batik
kancing baju dari batok kelapa. batok kelapa sebenarnya cukup sederhana. Langkah
baik dalam acara formal maupun
Potensi bisnis kancing baju dari batok kelapa pertama yang dilakukan adalah batok kelapa yang
non formal telah memberikan
dalam beberapa tahun terakhir ini sangat besar. kering diamplas hingga halus. Setelah itu batok kelapa
dampak positif bagi produk Apalagi pangsa pasar dari produk ini masih terbuka dicetak menjadi kancing dengan menggunakan bor.
pendukung pakaian batik. lebar. Hal ini tercermin dari geliat usaha Starco Walaupun prosesnya mudah, namun tidak
The curiosity of public interest Handycraft dalam memproduksi kancing baju dari banyak pelaku usaha yang bergerak di industri
batok kelapa.
to wear batik both in formal and kancing baju dari batok kelapa ini. Hal ini disebabkan
non-formal events have a positive “Permintaan kancing baju dari batok kelapa terus sulitnya mendapatkan mata bor untuk membuat
impact on supporting product of mengalami peningkatan seiring makin banyaknya kancing dengan berbagai ukuran.
masyarakat yang memakai pakaian batik,” ujar
batik cloths “Saya sendiri mendesain sendiri ukuran mata
Soetarko, pemilik Starco Handycraft, yang bergerak bor dan kemudian membawanya ke tukang bubut
di industri asesoris batik. untuk dibuatkan menjadi mata bor,” papar Soetarko.
Soetarko memulai usaha pembuatan kancing Hingga kini, dia telah membuat 99 mata bor yang
baju dari batok kelapa pada tahun 1998. Minatnya digunakan untuk mencetak 99 ukuran dan bentuk
untuk terjun ke industri kancing baju dari batok kancing baju dari batok kelapa.
awalnya karena adanya permintaan rekannya, Dengan keahliannya itu, Soetarko kebanjiran
produsen tas untuk dibuatkan kancing tas dari batok permintaan dari pengusaha batik di pelbagai daerah
kelapa. seperti Yogyakarta, Tuban, Tangerang, Cirebon dan
Namun dalam perjalanannya, justru permintaan pengusaha batik dari Pekalongan.
untuk membuat kancing dari batok kelapa kebanyakan Dengan karyawan sebanyak 70 orang, Starco
datang dari pelaku usaha batik.”Banyak pengusaha Handycraft setiap harinya memproduksi kancing
batik yang datang untuk dibuatkan kancing baju dari baju dari batok kelapa dengan berbagai ukuran dan

84 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aksesoris Batik

the difficulty of getting the drill bit with different


sizes to make a buttons
“I designed the sizes of drill bit by my own,
then bring it to turner to be made the bit drill, “
said Soetarko. Until now, he has made 99 drill bit
that is used to print the 99 sizes and shape of a
coconut shell buttons.
With that expertise, Soetarko has receivedmany
requests from batik entrepreneurs in various region
such as Yogyakarta, Tuban, Tangerang, Cirebon
and Pekalongan.
With employee of 70 people, every day Starco
Handicrafts produces a coconut shell buttons with

O
various size and shape. The selling price of the
ne of the supporting products or products ranging from Rp 30,- to Rp 750 per seed.
accessories that obtained postive To meet the market demand and the
impact of batik booming industry is sustainability of production, Starco Handicraft
coconut shell buttons. requires minimum supply of coconut shells 250
bentuknya. Adapun harga jual dari produknya itu The potential of coconut shell buttons business kilograms per day or about 9 tons per month.
mulai dari Rp30 per biji hingga Rp750 per biji. is very prospective in recent years. Moreover, the Soetarko has no difficulties in getting the
Untuk memenuhi permintaan pasar dan market share of these products is still widely open. coconut sell, because he has been cooperating with
kelangsungan kegiatan produksi, Starco Handycraft This is reflected by Starco Handicraft who produces coconut milk producer, coconut gatherers even a
membutuhkan pasokan batok kelapa minimal coconut shell buttons. restaurants.
sebanyak 250 kilogram setiap harinya atau sekitar “The demand of coconut shell buttons Soetarko has does not a headache to think the
9 ton setiap bulannya. continuesly increasing parallel with increasing waste of coconut shell buttons because many people
Soal pasokan batok kelapa ini, Soetarko mengaku people wearing batik clothes,” said Soetarko, the willing to collect it. “The waste of coconut shells
tidak mengalami kesulitan karena dia telah menjalin owner of Starco handicratf, a company which that are not used anymore can be sold to insect
kerjasama dengan pengusaha santan kelapa, engaged with accessories industry. repellent manufacturers or charcoal producer,” he
pengumpul batok kelapa hingga rumah makan. Soetarko, starting the business of making explained.

Soetarko juga tidak perlu pusing memikirkan coconut shell buttons since 1998. His was initiall Considering the increasing use of batik in
limbah batok kelapa dari sisa pembuatan kancing baju engaged with the industry when received an order the community, Soetarko optimistic that business
karena banyak pihak yang bersedia menampungnya. fom his friends, a bag producer for coconut shell of coconut shell buttons will remain prospective.
“Limbah batok kelapa yang tidak terpakai lagi bisa buttons “Batik clothes and buttons industry will go hand
dijual kepada produsen obat nyamuk atau pengusaha Further, the request of coconut shell button was in hand. If the one going forward, then the other
arang,” jelasnya. mostly coming from batik entrepreneurs. “Many will also goin forward, “he said.

Melihat penggunaan batik yang terus meningkat batik entrepreneurs came asked for coconut shell
di masyarakat, Soetarko optimis kalau usaha kancing buttons for their batik products,” said Soetarko.
baju dari batok kelapa akan tetap cerah. “Industri According to him, manufacturing a coconut informasi | information »
pakaian batik dan kancing baju dari batok akan shell buttons is actually pretty simple. The first
Starco Handycraft
berjalan beriringan. Jika yang satu maju, maka yang step, coconut dried is sanded until smooth, then the Jalan Melati 216, Desa Wonopringgo,
lainnya juga akan ikut maju,” ucapnya. coconut shell drilled become a buttons. Kecamatan Wonopringgo, Pekalongan
Although the process is simple, but not a lot of Telp : 08156915767
Email : starcocraft@yahoo.com
businesses engaged in this industry. This is due to

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 85


Aksesoris Batik

Batikgeek
Aksesoris Gadget Khas Indonesia
Berawal dari tugas kuliah untuk menyusun rencana bisnis, pilihan
untuk memproduksi aksesoris gadget berdesain batik dengan bahan
dasar bambu pun mulai ditekuni. Bukan hanya diminati pembeli dalam
negeri, buyer dari Eropa pun mulai melirik

K
HAS Indonesia namun sudah masuk pasar Lita dan Afrizal adalah mahasiswa semester
dunia. Fakta bahwa kreativitas anak muda delapan di Institute Manajemen Telkom Bandung.
Indonesia di industri kreatif yang tiada Saking asyiknya berbisnis, mereka mengaku masih
habisnya. Aksesoris gadget bermotif betah untuk kuliah dan belum berniat untuk segera
batik ini pun sudah pernah dibawa ke pameran di lulus. “Belum mau lulus, masih betah,” tegasnya.
Marseille, Prancis, Desember 2012 lalu. “Produk ini Ada ragam corak yang dapat dipilih oleh
sudah pernah dibawa kawan kami untuk pameran konsumen, misalnya barong vs rangda untuk galaxy
di Marseille, Prancis. Dan responnya lumayan untuk S3 dengan harga Rp 250 ribu. Ada juga model barong
produk yang baru dibuat satu tahun ini,” tegas vs rangda untuk iPhone 4/4s dengan harga yang
entrepreneur muda Afrizal Rahadian Sodiq disela- murah, hanya Rp 200 ribu.
sela acara Trademark Market yang diselenggarakan
Ada model tribal ruit untuk iPhone, harganya
di Bandung sejak tanggal 2 hingga 5 Mei 2013.
Rp 200 ribu. Ada pula model barong dance dengan
Adalah tugas kuliah menyusun business plan harga Rp 200 ribu. Semua produk itu dapat
di Institute Manajemen Telkom Bandung, tempat dipesan dan dikerjakan dengan cepat. Biasanya
kedua entrepreneur muda yaitu Nurulita Wijayanti hanya satu minggu saja, produk itu sudah tiba di
dan Afrizal Rahadian Sodiq mengambil studi, yang konsumen.”Pengerjaannya sendiri butuh 1 sampai
mendorong keduanya memilih mengajukan bisnis 3 harian. Dari China kan masih dalam bentuk polos.
memproduksi aksesoris gadget berbahan dasar Kami sendiri pesan dari China 100 pieces per dua
bambu yang unik tersebut. “Awalnya kami mau bulan. Jadi barang dasarnya sudah ada. Bila ada
memproduksi aksesoris gadget dari plastik. Tapi order, langsung dikerjakan dan butuh waktu tiga
hitung-hitungan biaya produksinya lumayan mahal, harian, setelah itu kirim, jika sudah dibayar,” jelasnya.
ratusan juta, kami tidak berani, akhirnya kami
Bagi konsumen, tak perlu bingung. Pesan bisa
memilih menggunakan bahan dasar bambu,” tegas
dilakukan melalui e-mail, facebook, twitter dan
Afrizal.
sms. Demikian juga dengan pembayarannya, bisa
Hanya saja, diakui Afrizal, bahan dasarnya masih melalui BNI, BCA dan Mandiri, semuanya mudah.
diimpor. Hal itu terjadi karena belum ada pemasok di Pengiriman barang, jangan takut tidak sampai,
Indonesia yang mampu memenuhi mereka. “Bahan karena hingga saat ini, Lita dan Afrizal mengaku Terkait dengan produk mereka, sebagai anak
dasarnya bambu dan kami masih impor dari China. belum pernah ada komplain dari pemesan terkait muda yang sadar lingkungan, Lita dan Afrizal pun
Pengennya kami sih bisa buat di Indonesia seratus dengan keterlambatan produk. “Pernah ada menjamin produk mereka ini ramah lingkungan.
persen. Namun sudah pernah dicoba memesan ke kerusakan, dua kali, kami ganti dan kini kami sudah Sebagai gambaran produk, batikgeek itu memakai
Yogyakarta, Solo, Jepara dan di Bandung, tidak ada perbaiki di pengemasan. Pokoknya semua sistem shape slinder yang penuh, sehingga sisi samping
yang sanggup memenuhi spesifikasinya,” jelas Lita. diperbaiki dan ditingkatkan pelayanannya. Kami dari gadget pun dapat ditutup. Selain itu, sudah di-
Brand batik, jelas Lita, dipilih mereka sebagai sendiri untuk pengiriman bekerjasama dengan coating transparan tipis, jadinya tidak segelap kayu,
bentuk kecintaannya pada Indonesia. “Kami, salah satu perusahaan jasa pengiriman barang yang karena materialnya memang seratus persen bambu.
anak muda, sangat menyadari, kecintaan kepada terkemuka,” tandasnya. Tebal materialnya kira-kira 3-4 mm.
Indonesia harus dikemas dalam kreasi yang mungkin Aksesoris untuk gadget seperti galaxy S2 dan Untuk masalah panas, menurut Afrizal, itu
berbeda, salah satunya dengan produk yang kami iPhone 3G/3Gs pun tersedia produknya. Lita mengakui tergantung pengguna iPhone itu sendiri. Kalau
hasilkan,” tegasnya. jika pihaknya terus mengembangkan produk, agar memang untuk bermain games atau penggunaan
Ide bisnis ini pula yang mengantarkan Afrizal benar-benar dapat memuaskan pelanggan. yang tinggi, pasti akan menghasilkan panas. Hanya
dan Lita, menjadi juara dua dalam sebuah lomba Bagi konsumen, selain bisa memesan langsung saja, selama ini jika kena panasnya dari iPhone
yang diselenggarakan School of Business and via sms, facebook, twitter dan e-mail, batikgeek juga sendiri, masih bisa ditolerir, bahkan lebih adem bila
Management, Institut Teknologi Bandung (ITB). bisa dipesan di tokobagus.com. Karena batikgeek dibandingkan menggunakan casing berbahan dasar
“Alhamdulillah kami raih ini pertengahan tahun 2012 telah menjadi member tokobagus.com sejak 18 Juli plastik. “Gambarnya pun dijamin tidak luntur dan
lalu, lomba membuat business plan,” katanya. 2012. tidak bikin lecet,” katanya.

86 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aksesoris Batik

T
his product is typical Indonesian There are also tribal ruit model for iPhone,
but it has already entered to the world with the price of Rp 200 thousand and barong
market. It shows the evidence that the dance model with the price of Rp 200 thousand.
creativity of young Indonesian people All products can be ordered and produced quickly,
in creative industries continues to grow. This usually it takes only one week to produce and
gadget accessories with batik motif had already deliver the product to consumers. “The production
been introduced in the exhibition held in Marseille, process requires about 1 to 3 days. The raw material
France, in December 2012. “This product had imported from China is still in the form of plain.
already been introduced by my friends in France, We order 100 pieces per two months. Due to the
in 2012 and as a newly product developed within readiness of raw material, when orders are received
only this year, the response is good, “said Afrizal we can immediately process them and to be delivered
Rahadian Sodiq, a young entrepreneur at the soon as the order was already paid, “she explained.
Trademark Market event held in Bandung from In order to give the excellent services to
May 2 until May 5, 2013. consumers, the order can be sent by e-mail, facebook,
That was a coursework for preparing a twitter, and even sms. In term of payment, it can be
business plan in Institute of Management, Telkom accomplised through BNI bank, BCA bank and also
Bandung, where the two young entrepreneurs Mandiri bank. We guarantee the delivery of orders
Nurulita Wijayanti and Afrizal Rahadian Sodiq are safe and timely. Lita and Afrizal claimed that
take studies. The coursework was the main trigger up to now there is no complaint for delivery time.
for both to run the business by producing unique “There were complaints about damage of product
gadget accessories with raw material from bamboo. to be delivered, twice, and we gave a change, and
“Initially we want to produce plastic gadget we then upgraded our packaging process. Indeed,
accessories. But the calculation of production cost all of the aspects associated with our business have
is quite expensive, even hundreds million, we do been better improved to enhance our services. We
not want to take a risk, and finally we prefer to use have made an agreement with some leading freight
bamboo as raw material, “said Afrizal. forwarders as well, “she said.
Unfortunately, such raw material is still Product accessories for gadgets such as Galaxy
imported. There is no domestic suppliers which are S2 and the iPhone 3G/3GS are also available. Lita
able to serve them. “We have to prepare our raw admitted they continue developing their products
material by importing bamboo from China. In fact, to satisfy the consumers.
we expect to produce our products by using 100% For consumers, besides the availability of direct
local bamboos, and we had tried to use bamboo from order through sms, facebook, twitter and e-mail,
Yogyakarta, Solo, Jepara, and Bandung but no one batikgeek can also be ordered via tokobagus.com.
can meet the specifications, “Lita explained. since it has been its member since July 18, 2012.
As Lita explained, “batikgeek” brand is choosen Associated with their products, as young
Initially started from the coursework to as a form of love and commitment to Indonesia. people who are environmentally aware, they also
prepare a business plan, the opportunity “We, the young people, realize that loving home guarantee their product are environmentally
to produce gadget accessories with country can be realized by various creations that friendly. As seen from the product features,
batik design by using bamboo as raw may be different each other, and one of them is by batikgeek uses full of cylinder shape, so that the side
material started to be carried out. Not producing unique Indonesian gadget accessories,” of the gadget can be closed. Moreover, it had already
only favouring the domestic customers, she said. been coated by thin transparent coating so that it is
buyers from Europe has began to take This business idea also led Afrizal and Lita to not as dark as woods, since the raw material is one
interest. win the 2nd place in the competition organized hundred percent bamboos. The material thickness
by School of Business and Management, Institut is approximately 3-4 mm.
Teknologi Bandung (ITB). “Thank God we won it For the matter of heat, according to Afrizal, it
on the mid-year 2012, the competition of making fully depends on the user of iPhone. If it is to play
business plan ,” she said. games or intense usage, it would of course generate
Lita and Afrizal are the eighth semester heating. Based on our experience, so far if the heat is
students in the Institute of Management, Telkom generated from the iPhone itself, it is still tolerably,
Bandung. By their hectic in running business, they even it remains cooler than using casing with pastic
prefer to keep studying in the college and do not raw material. “The picture is also guaranteed not to
intend to graduate soon. “Not willing to graduate fade and not to cause blisters,” he said.
soon, we still enjoy being students ,” she added.
Many variety of designs can be chosen by the informasi | information »
consumers, such as Barong vs Rangda for galaxy
S3 with the price of Rp 250 thousand, or Rangda
BatikGeek
Bandung Jawa Barat
vs Barong for iPhone 4/4s for a cheap price, only +62 85641333258
Rp 200 thousand. e-mail: contact@batikgeek.com www.batikgeek.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 87


Aksesoris Batik

DAN LIRIS corp. EXPANDING TO fashion retail business of batik SOLO

BATIK SOLO
Perubahan gaya hidup kelas menengah yang banyak memanfaatkan
kafe sebagai tempat kumpul dan ‘nongkrong’ atau kongkow-kongkow,
kini mulai dilirik oleh industri tekstil dan produk tekstil.

The transformation of middle-class lifestyle that prefers to use a place


like Cafe for gathering and mingle now is being flirted by small textiles
industries and their products.

J
ika selama ini orang mengenal PT Dan Liris putra Kasom, Handoko dan Handiman Tjokrosaputro PT Efrata Retailindo, kami memfokuskan lagi usaha
sebagai perusahaan tekstil terintegrasi mulai yang kemudian mengembangkan bisins pada bidang di bidang batik fesyen dan T-shirt. Melalui brand
dari pemintalan benang, tenun sampai menjadi produksi tekstil. Blankonn Solo, kami berusaha memenuhi kebutuhan
produk akhir seperti motif tekstil, motif batik Akhirnya perusahaan memilih nama PT Dan generasi muda. Dengan konsep culturally chick,
tradisional atau modern, kini perusahaan yang Liris, yang diambil dari bahasa Jawa, Udan Liris yang kami berupaya tetap menjaga kelestarian batik,
berdiri sejak tahun 1974 ini, mulai mengembangkan berarti hujan rintik atau gerimis yang mengawali namun berupaya mengisi ceruk yang masih terbuka.
bisnisnya pada bidang ritel fesyen Batik Solo. turunnya musim hujan. Filosofinya menjadi harapan Saat ini toko yang ada baru satu yang terletak di
Seperti dituturkan oleh GM Human Resources dimulainya musim tabur benih sebagai landasan Jl. Dr. Radjiman No. 470, Solo, tetapi rencananya
& GA Division PT Dan Liris, Ony Widijanto yang yang bertumbuh kuat serta kokoh. Bisnis ini sendiri kami akan membuka juga toko serupa tidak saja di
didampingi Sandra Maharani selaku Humas/ awalnya dimulai dari divisi penenunan (weaving) wilayah Jawa, tetapi sampai ke luar Jawa. Karenanya
Sekretariat perusahaan PT Dan Liris, sejak bulan April pada April 1974, akhirnya berkembang pada bisnis selain Motif khas Solo, kami juga menekuni berbagai
tahun ini, perusahaan mengembangkan bisnis ritel pemintalan (spinning), pencelupan dan pewarnaan motif lainnya seperti Motif Minangkabau, Papua, dan
bertitel “Blankonn” – Dari Solo, Oleh Solo, dan Asli (dyeing), penyempurnaan akhir (finishing), serta Dayak.
Solo. Menurut Sandra, perusahaan mengembangkan pencetakan tekstil bermotif (printing), serta Berbagai bentuk blankon lainnya sudah kami
bidang ritel karena melihat potensi permntaan yang pembuatan pakaian jadi (garmen) tahun 1976. modifikasi, tetapi tetap bermotif dasar batik, sehingga
cukup besar, terutama untuk jenis garmen berbahan “Salah satu jenis kain yang dihasilkan di sini juga budaya setempat masih terpelihara. Sebab orang
batik. adalah pesanan kain batik, khusus untuk penggunaan datang ke Solo, pasti mencari batik khas setempat,
“Sebenarnya bagi kami, ini bukan bidang yang seragam sejumlah perusahaan besar, dan mereka yakni Motif Lawasan, dengan ciri khas warna Yogja
sepenuhnya baru, mengingat cikal bakal berdirinya juga mendaftarkan desain dan hak ciptanya dalam putih dan hitam, sedang untuk Solo hitam dan warna
Dan Liris dimulai dari penjualan PT Batik Keris di upaya melindungi kekayaan intelektualnya. Selain sogan.
tahun 1971. Tahun 1928 Kasom Tjokrosaputro untuk pasar dalam negeri yang cukup besar, kami Kami berupaya menjual suasana kenyamanan
memulai bisnis industri rumahan dengan menjual juga mengikat kerjasama dengan sejumlah merek berbelanja, di mana sambil berbelanja fesyen dan
batik dari rumah ke rumah di Solo, Jawa Tengah. besar dunia seperti Marks & Spencer Plc (UK), Sanrio aneka produk jadi berbahan batik, mereka juga
Seiring dengan berkembangnya bisnis, akhirnya Company Ltd. (Jepang), dan juga produsen boneka PT dapat menikmati aneka minuman seperti kopi dan
dipilihlah nama Keris yang dimulai sejak tahun 1971, Mattel Indonesia yang memproduksi boneka Barbie. sejenisnya. Ibaratnya kami ingin menjadikan lokasi
dan dikenal sebagai Batik Keris hingga kini. Barulah Itu sebabnya sejak 28 April 2013, melalui bendera ini sebagai “one stop shopping,” papar Sandra.

88 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aksesoris Batik

D
AN LIRIS company, as an integrated was started since 1971, and known as Batik Keris in to fashion and t-shirt made from Batik. With
textile company from spinning till now. Further the son of Kasom, Handoko and trademark ‘Blankonn’ we try to meet the needs of
yarn, weaving, and further process Handiman Tjokrosaputro developed this business young generation. With the concept of culturally
to final product such as textile’s in textile sector. chic, we try to protect batik conservation. while to
motifs, traditional or modern batik’s motifs, which Finally the company name was decided to PT fill the opportunity that has not been opened. At
established since 1974 now is start to developing Dan Liris, which is taken from Javanese, Udan this moment the only shop is at 470 Dr. Radjiman
business in a fashion retail sector of Batik Solo. Liris meaning drizzle which initiates the rainy Street, Solo, but we have a plan to open a similar
As stated by H Ony Widijanto, GM Human season. Its philosophy is a hope of the beginning shop not only in Java, but spread out as soon. Beside
Resources and GA Division PT. Dan Liris, who of sowing as a foundation of growing strong and the motif from Solo, we also developing some other
accompanied by Sandra Maharani. Public Relation/ solid. This business was started from a weaving motifs like Minangkabau, Papua, and Dayak.
Secretariat of PT Dan Liris, since April this year, division on April 1947. That the end has developed Some of types are modiefied by us, but still
the company has been developing retail business to be spinning, dyeing, finishing, and printing, as based on batik’s motifs, so that the their cultures
“Blankonn” from Solo, by Solo, and originally Solo. well as designing clothes (garment) in 1976. is still conserved. People who visit Solo, they must
Sandra thought that this company develops in this “One of the types that produced by the company be looking for batik from this region, which had
retail sector because of looking on the big potential is uniform for anumber of big companies, they motif of Lawasan, with the characteristic of black
demand, especially for the type of garment based have registered the design and its right in order and white colours, whereas for Solo, black and
on batik. to protect their their intellectual property. Besides brown colours.
“In fact, this kind of business is not completely for big domestic market , we have also signed We try to provide a comfort atmosphere to our
new for us, since the embryo of this company a contract with several famous-brands in the shop. While doing shopping of fashion and batik
was also started by selling out PT. Batik Keris world such as Mark & Spencer Plc (UK), Sanrio products, they can also enjoy various beverages
in 1971. On 1928, Kasom Tjokrosaputro started Company Ltd. (Japan), and also doll production PT such as coffee and others. In other words, we want
home-based industry by selling batik door to door Mattel Indonesia which produced Barbie. to make this location as one stop shopping,” Sandra
in Solo, Central Java. Since the business has That’s why since 28th April 2013, through said.
growing up, finally it picked the name Keris which PT Efrata Retailindo, we expand our business

informasi | information »
PT Dan Liris
Kel. Banaran, Kec. Grogol Sukoharjo, Solo 57100
Telp (0271) 740888, 714400 (hunting)
Fax (0271) 7352222, 740777

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 89


Aksesoris Batik

de Living
Interior business with batik patterns from Yogyakarta
Pengembangan usaha bisnis
interior asesoris bercorak batik,
kini mulai berkembang, sejalan
dengan berkembangnya interior
desain di Indonesia.

BISNIS INTERIOR CORAK BATIK DARI YOGYAKARTA

S
eperti yang dilakukan oleh Arfianti, produk-produk pesanan (customized), maka yang dari pameran seperti ini dapat terlihat trend yang
pengelola usaha craft dan home decoration membedakan usahanya dengan yang lain adalah sedang berlangsung, sebab tidak hanya kesulitan
“de living,” saat ditemui KINA di salah satu dalam hal desain. Dengan demikian, produk yang pengerjaan, namun selera konsumen juga menjadi
stand pameran “Inacraft 2013,” baru-baru dihasilkan harus berbeda dengan yang dihasilkan faktor yang turut menentukan tingginya permintaan,
ini. Secara umum usaha produksi standing decoration produsen sejenis lainnya. dalam bisnis interior home accessories.
(dekorasi hiasan rumah) ini baru dimulainya sejak “Apalagi sebagian konsumen kami selain dari
dua tahun lalu. Usahanya sendiri sebenarnya sudah daerah Yogyakarta dan sekitarnya, juga kebanyakan
dimulai sejak 10 tahun lalu, tetapi waktu itu dimulai dari kawasan Asia seperti dari Malaysia dan Taiwan.
dengan produksi barang kebutuhan interior seperti Kelihatannya para pembeli asing ini lebih tertarik
pernak-pernik yang disebut wall decoration dan pada produk-produk natural atau alamiah yang kami
belakangan dua tahun ini lebih dalam lagi menggeluti produksi, tetapi mereka melihat kami mengangkat
home accessories, yang di antaranya menggeluti juga sejumlah motif batik, seperti pohon kehidupan,
ukiran dan kayu hiasan rumah motif batik. Di luar pesanan salah satu BUMN ini.
divisi wall decoration ini, masih ada lagi divisi kain
Untuk menghasilkan satu produk standing
tekstil yang menggarap asesoris di luar bahan baku
decoration seperti ini, biasanya membutuhkan
kayu.
proses pengerjaan yang agak lama, sekitar satu
“Hiasan dalam rumah tersebut dibuat dari bahan minggu lamanya. Perwarnanya menggunakan
kayu mahoni, dan ada juga yang bahannya dari jenis bahan cat untuk sablon. Selain hanya memiliki satu
MDF (Medium Density Fiber). Bedanya kalau yang orang desainer dalam pengerjaan produk handicraft,
dibuat dari kayu biasanya tahan air, dan warnanya pengerjaan ini juga dibantu oleh dua orang pengukir
tahan (tidak cepat pudar). Sementara sebaliknya kayu, dan seluruh pekerja untuk bidang asesoris ini
yang berbahan baku MDF rentan terhadap air, dan sekitar delapan orang. Dalam pengadaan bahan
juga prosesnya melalui pengeringan. Dari segi harga, baku, jenis bahan MDF untuk mebeler diambil dari
jelas yang diproduksi dari MDF lebih ekonomis, dan satu pemasok yang ada di daerah Yogyakarta, yakni
selisihnya berkisar antara 20 s/d 30 persen, tambah PT Arumbai. Sementara kayu mahoni diambil dari UD
Arfianti. Djakarta yang juga berlokasi di Yogyakarta.
Saat ditanya, bagaimana situasi persaingan bisnis Karenanya agar dapat mengembangkan
sejenis di Yogyakarta, dirinya mengatakan sebenarnya usahanya lebih mulus lagi, Arfiani kerap mengikuti
sudah banyak usaha seperti itu di Yogyakarta. pameran sejenis Inacraft, dan kehadirannya di
Tetapi karena yang dikerjakan oleh biasanya adalah pameran ini sudah yang keenam kalinya. Artinya

90 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aksesoris Batik

The development of interior accessories When we ask about how is the competition complexity of the execution, but consumer’s taste
business with batik motifs are now of this business in Yogyakarta, she answered is also one of the factors of high demand in interior
that actually there are many simmilar businesses home accessories business.
growing pararelly with the development
in Yogyakarta. But, since the orders are mostly
of design interior in Indonesia. customized products, so what distinguishes this
business with the other is in the design. Therefore,
the end products must be different with the others.

A
“Moreover, a part of our consumers besides
s what is done by Arfianti, the owner coming from Yogyakarta and around, a lot of them
of craft and home decoration business are from Asia such as Malaysia, and Taiwan. It
“de living”, when was interviewed looks like these international consumers are more
by KINA in one of the exhibition interested to natural products that we made, but
stand “Inacraft 2013”, this recent, in general, the they saw us bringing up some of batik motifs, such
business of standing decoration (home-decoration) as the tree of life, one of the orders in the goverment
has just started since 2 years ago. In fact her own owned company.
business has started 10 years ago, but at that time
To produce one standing decoration product,
she started with the production of interior objects
it usually requires a considerably long working
such as trinkets which is called wall decoration
process, around one week long. The colouring
and these two years, she has been focusing home
is using paints for screen printing. Besides only
accessories and wood carvings for home decoration
having one designer to work on handicrafts’
with batik motifs
product, this process is also helped by two wood
“The interior decorations inside the house are carvers, and all the workers in accessories section
made from mahogany wood, and also some from are is around eight peoples.
MDF (Medium Density Fiber). The difference is,
wood is waterproof, and the colour does not easily
In order to further develop her business, Arifiani informasi | information »
often attend is similar exhibition as Inacraft, and
fade. Meanwhile, MDF is prone to water, with de Living
this event is her 6th presence in this exhibition.
drying process. On the price side, it is clear that Desa Wisata Kasongan Area (Sblh kanan jembatan)
From these exhibitions, we can look at the trend Telp (0274) 780 1345
MDF is more economical, and the difference is
happening at the moment, because not only the Email ; de.living@yahoo.com
about 20-30%,” Arfianti added.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 91


Aksesoris Batik

batik on a wooden leaf

Gitar Batik Produktama


UJI PROSES BATIK DI ATAS MEDIA KAYU

Guna melindungi produknya sebagai kekayaan


intelektual, pengusaha gitar batik berupaya mengajukan
permohonan pengujian proses pembatikan di atas media
kayu kepada pemerintah.
To protect its product as an intellectual property right , guitar batik
entrepreneur who making batik on a guitar has made a serious effort to
propose certification of batik on a wooden leaf to goverment.

K
omisaris Utama PT Gitar Batik Produktama Haryo
Sasongko Santoso yang berjiwa seni, menjadikan usaha
produksi gitar batik yang dalam proses pengerjaannya
dilakukan di Jakarta, Semarang, dan Yogjakarta.
Sebelumnya pada bulan Oktober 2011, perusahaan sudah
mendaftarkan ciptaannya ini kepada Direktorat Jenderal Hak atas
Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia
(Hukum dan HAM). Karenanya saat ini tinggal pengesahan dari
kementerian. Nantinya lembaga berwenang akan mengeluarkan
surat pernyataan, kalau gitar batik tersebut memang melalui
proses pengerjaan batik.
“Gitar batik ini hanya diproduksi berdasarkan pesanan,
mengingat harga jualnya yang cukup tinggi sekitar US$ 1.000
per unit. Itu sebabnya kebanyakan importir yang memesan berasal
dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Irlandia, dan Italia.
Tetapi selain diekspor langsung, ada juga yang diekspor melalui
negara ketiga seperti India. Biasanya gitar batik ini diekspor
bersama dengan produk kerajinan berbasis kayu lainnya, dan
setiap bulan kira-kira nilai ekspornya sekitar Rp 40 juta” papar
Agus Jati Kumara yang membatik gitar ini di Sanggar Punokawan,
Krebet, Bantul, Yogyakarta.
Proses membatik harus dilakukan dengan membatik tulis
secara halus, dan juga menggunakan bahan pewarna kimia.
Sebab teknik pewarnaan menggunakan pewarna alam justru
hasilnya tidak optimal. Membatik di atas gitar ini juga tidak bisa
menggunakan batik cap. Lamanya proses pengerjaan membatik
gitar ini sekitar ½ hari untuk membatik, dan sisanya adalah
waktu untuk mengeringkan cat batiknya. Di sini Agus yang sudah
memulai membatik gitar sejak sebelum tahun 2000, bersama
dengan 10 orang tenaga pembatik, tetapi jika volume pesanan
tinggi, maka bisa meminta bantuan tenaga di desa sekitar.
Di sisi lain, Gitar Batik Produktama sendiri didirikan sejak
15 tahun silam. Gitar yang diproduksi dari bahan kayu mahoni
tersebut, digarap di Jakarta dan Yogyakarta, mulai dari pembuatan
gitarnya sampai dituangkan batik halus dan penyelesain sentuhan
akhir dilakukan di dua kota tersebut. Haryo menambahkan kayu
mahoni tersebut tekstur permukaannya cukup tebal dan sifat kayu
adalah keras, sehingga daya serap ‘malam batik’nya juga berbeda,
apabila batik tersebut dituang di atas media kain.

92 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Aksesoris Batik

C
Para konsumen gitar batik tersebut kebanyakan hief Commissioner of PT Gitar Batik “This guitar batik is only produced based on
adalah para kolektor benda seni, sehingga mereka Produktama, Haryo Sasongko Santoso, request, because of the high cost which is around
tidak peduli dengan tingginya harga. “Kami yang has run gitar batik business and the 1000 US dollars per unit. That’s why most of the
menerima pesanan ini juga memperlakukan mereka production process is carried out in orders from USA, Ireland, and Italy. Not just for
secara eksklusif, sehingga tidak ada produk yang Jakarta, Semarang, and Yogjakarta. directly exported, there are also products exported
serupa. Setiap gitar batik yang dihasilkan, tidak In October 2011, the company had registered through a third country such as India. Usually,
ada yang desainnya sama persis, apalagi batiknya this creation to General Directorate of Intellectual this guitar batik is exported altogether with the
adalah batik tulis. Di dalam negeri sebetulnya animo Property Rights, Ministry of Law and Human other wood-based crafts, and on every month the
terhadap gitar batik ini cukup besar. Ada permintaan Rights. Because of that, now the process left is value of the export is around 40 million Rupiah,”
yang datangnya dari Museum Musik di Malang, only an endorsement from the government. Next, said Agus Jati Kumara who works on this guitar
tetapi mereka mengharapkan supaya harganya tidak the authorized institution will issue a statement batik at Punokawan Art Studio, Krebet, Bantul,
terlalu tinggi, artinya ada subsidi untuk kepentingan letter, if this Guitar Batik has through usual batik Yogyakarta.
melestarikan budaya, dan ditaruh di museum.” processing, because the products are exported to The batik processing is carried out by hand
countries in Europe. writing teehnique, and using chemical dyes,
because if the colouring teehnique uses a natural
dye, the result will not be optimal. Batik on guitar
cannot also use stamping. The duration of the
process of the process of patterning batik on guitar
is around half a day for creating the motifs, and the
last step is drying the paint., Agus has started this
batik on guitar since before 2000 with ten workers,
but if the order volume is highly, he can ask for help
to the locals around.
On In the other side, Gitar Batik Produktama
alone was established since 15 years before. The
guitar made from mahogany wood is produced
in Jakarta and Yogyakarta, starting from making
the guitar until pouring the smooth batik and the
final touches are done in these two cities. Haryo
added mahogany wood has a thick enough and
hard texture, so it has different absorption “malam
batik” than if this batik is poured on a fabric.
The customers of this guitar batik are mostly art
collectors, so they do not care about how high is the
price. “We receiving their orders try to give them
an exclusively service, so there cannot be similar
products. In every guitar batik produced, there is
not exactly the same design, and moreover, because
the batik is a hand-writing batik. This country is
actually has a pretty high interest in this guitar.
There were orders coming from Musical Museum
in Malang, but they hoped that the price is not
too high, which means it should be subsidized for
a cultural conservation matter, and shown in the
museum.

informasi | information »
CV. Sanggar Punokawan
Krebet, RT 04, Sendangsari, Pajangan, Bantul 55751,
Yogyakarta
Telp (0274) 6466730
Fax (0274) 367257
Email : punakawan_krebet@yahoo.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 93


Lintas Berita

Gelar Batik Nusantara 2013


Batik of The Archipelago Exhibition

P P
residen Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono resident of the Republic of Indonesia, Susilo
didamping oleh Menteri Perindustrian MS. Hidayat Bambang Yudhoyono accompanied by the Minister
membuka secara langsung Gelar Batik Nusatara, of Industry MS. Hidayat officially opened ‘Gelar
ajang tahunan yang telah dihelat selama delapan kali. Batik Nusantara’ the annual event has been held
Pada tahun 2013 ini pameran yang diprakarsai oleh Yayasan for eight times. The event that initiated by Indonesian Batik
Batik Indonesia (YBI) telah berlangsung dari 17 – 21 Juli 2013 di Foundation (YBI) was held from 17 to 21 July 2013 in the
Assembly Hall, Plenary Hall, Cendrawasih Room dan Main Lobby Assembly Hall, Plenary Hall, Paradise Room and Main Lobby
Balai Sidang Jakarta Convention Center Gelar Batik Nusantara Jakarta Convention Center
2013 mengambil tema “Innoquality”, dengan tema ini diharapkan The theme of Batik Nusantara 2013 is “Innoquality”, in
tampilnya inovasi-inovasi baru di bidang perbatikan Indonesia. which new innovation is expected raising in Indonesian batik.
Dalam pengertian yang lebih luas mencakup aspek design, In a broader sense it includes aspects of design, materials, and
material, teknologi hingga pemanfaatan penggunaan batik yang technology to a wider use of batik, not just as clothes and fashion
lebih luas, bukan hanya sebagai busana dan fashion tetapi juga only but to interior as welll.
fungsi batik dalam interior dan tata saji.
Gelar Batik Nusantara 2013 is designed to be an icon
Gelar Batik Nusantara 2013 dirancang untuk menjadi of various dimensions of batik displays - arts and crafts,
ikon dalam menampilkan berbagai dimensi batik – seni dan engineering and technology, marketing and business - all over
kerajinan, teknik dan teknologi, pemasaran dan bisnis – ke Indonesia and the world.
seluruh Indonesia dan dunia. Sebagai pemrakarsa Yayasan Batik
As the initiator, Indonesian Batik Foundation seeks to
Indonesia berupaya mewujudkan visi dan misinya dalam upaya
realize its vision and mission in an effort to encourage skills
mendorong berkembangnya kemampuan para perajin/pengusaha
development of the of artisans / batik entrepreneurs including
batik termasuk pencipta/seniman, dan diharapkan GBN 2013
creator / artist. Gelar Batik Nusantara are expected to be one
berperan serta menjadi salah satu bagian dari puncak peristiwa
part of the peak events of Indonesian culture.
budaya Indonesia.

94 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Lintas Berita

R S
uas Jalan Slamet Riyadi Solo sepanjang lebih dari tiga lamet Riyadi street along more than 3 km became
kilometer menjadi semacam catwalk panjang, Sabtu a kind of long catwalk on Saturday, 29 June 2013.
29 Juni 2013. Sekitar 150 orang berkostum Solo Batik About 150 people dressed Solo Batik Carnival
Carnival berlenggok memamerkan pakaiannya.
dancing over the street showing off his clothes.
Gelaran Solo Batik Carnival saat ini merupakan kali keenam
This is the 6th Solo Batik Carnival since years of 2008. The
diselenggarakan sejak tahun 2008. Pada tahun 2013, Solo
Batik Carnival menggunakan tema Earth to earth. Tema ini theme of Solo Batik Carnival 2013 is ‘Earth to earth’. Reflecting
mencerminkan 4 elemen dasar bumi yaitu Air, Udara (Angin), Api four basic elements of earth, namely Water, Air (Wind), Fire
dan Tanah (Bumi). Keempat elemen dasar itu memperlihatkan and the Land (Earth). The fourth basic element shows that the
bahwa Kehidupan manusia dalam raganya tidak terlepas dari body of human life can not be separated from its basic elements
elemen dasar atas dasar keseimbangan lingkungan. Keempat
of environmental balance. The four elements will be going to
unsur tadi akan saling mendukung, saling melengkapi dan saling
support each other, complement each other and influence each
mempengaruhi.
other.
Solo Batik Carnival atau yang biasa disingkat SBC adalah
event tahunan yang diadakan di Kota Solo. Solo Batik Carnival Solo Batik Carnival or commonly abbreviated as SBC is an
merupakan sebuah karnaval dimana peserta menggunakan annual event held in Solo. It is a carnival where participants use
batik sebagai tema utama baik berkaitan dengan busana dan batik as either the main theme relates to fashion and appearance
penampilannya (fashion carnival on street). Solo Batik Carnival
(fashion carnival on the street). It is a tools of media presentation
merupakan sebuah sarana untuk mem-presentasi-kan dan
to visualize a huge potential of Batik Solo to Solo citizens the
mem-visual-kan potensi batik yang luar biasa dalam kehidupan
masyarakat Solo dan sekitarnya. surrounding communities.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 95


opini

Sandiaga S Uno
strategi membangun industri batik nasional
Pengusaha nasional pemilik Saratoga Capital ini, diakui sebagai sosok yang peduli dan
mencintai batik. Dalam berbagai kegiatan formal dan informal, baik di dalam maupun luar
negeri, batik menjadi pakaian khas yang selalu dikenakannya.

K
epada tim redaksi Majalah Kina, Sandi, demikian sapaan
akrabnya, menguraikan gagasannya tentang strategi
mengembangkan industri batik nasional ke depannya. Kunci
suksesnya ada pada sinergi stakeholder terkait, mulai dari
hulu hingga hilir industri batik nasional. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana perkembangan batik nasional saat ini menurut


Anda?
Sangat menggembirakan, dari banyak sisi kita bisa melihat
perkembangannya cukup bagus. Nilai omsetnya di tahun 2012, kalau
tidak salah sudah mencapai Rp 1 triliun. Menunjukkan perkembangan
yang lumayan, walau tentu masih harus ditingkatkan mengingat
pasarnya yang sangat besar.
Sementara, dari sisi segmen konsumen, batik kini sudah semakin
menasional dan anak muda pun sudah menjadikan batik sebagai
pakaian keseharian. Modelnya sudah beragam dan tentu impact-
nya cukup besar, khususnya bagi para pengrajin yang umumnya dari
kalangan Industri Kecil dan Menengah (IKM). Meski tentu, tantangan
untuk mengembangkannya juga cukup besar.

Tantangan yang Bapak maksud seperti apa?


Misalnya serbuan produk China yang sudah membanjiri pasaran,
bahkan hingga ke pelosok desa, dengan harga yang murah. Ini menjadi
tantangan untuk bagaimana dilakukan edukasi tentang produk batik
yang berkualitas dan karya Indonesia asli. Juga bagaimana kita
memproduksi batik yang berkualitas dengan harga terjangkau.
Selain itu, kondisi sumber daya manusianya juga harus menjadi
perhatian. Karena untuk memproduksi batik yang murah dan
berkualitas, dibutuhkan sumber daya manusia terbaik. Sekarang kan
banyak yang sudah pada tua, regenerasinya tidak terjadi. Pemerintah,
baik Kementerian Perindustrian, Kementerian Negara Koperasi dan
UKM, Kementerian Perdagangan serta Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan harus bersinergi untuk memberikan pendidikan khusus
agar muncul tenaga kerja muda yang ahli membatik. Bila perlu masuk
dalam kurikulum SMK, di level perguruan tinggi, misalnya di STT Tekstil,
masuk menjadi mata kuliah wajib. Agar ada kaderisasi. Karena jika
pun alatnya ada, pasarnya besar, sementara tidak ada pengrajinnya,
menjadi tidak berguna bukan?
Tantangan lain dilihat dari sisi kemampuan produksi dan inovasi
produk. Ini terkait dengan sumber daya manusia dan alat yang
dipergunakan. Peran pemerintah, sangat penting. Plus bagaimana
promosi batik terus dilakukan, bukan hanya di Indonesia, tapi di ke
berbagai negara di dunia.

96 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


opini

Ketiga, peran perbankan dalam hal pembiayaan. Tentu saja ini


penting, sebagai darah dari industri batik nasional. Memang selama ini
sudah ada, tapi jumlahnya harus lebih besar, dengan bunga rendah.

Selain itu?
Tak kalah penting adalah riset terkait dengan produk dan teknologi
produksinya. Ini hanya mungkin jika ada sinergi dengan kalangan
perguruan tinggi. STT Tekstil harus dimaksimalkan posisinya, termasuk
perguruan tinggi lain, seperti desain ITB dan yang lainnya.
Bukannya apa, ada beberapa negara yang juga tengah
mengembangkan batik, untungnya kita ini menjadi “global home of
batik”. Jadi kalau tidak dilakukan pengembangan di dalam negeri,
UNESCO bisa saja menilai kita tidak sungguh-sungguh mengembangkan
batik.
Kemudian bagaimana para desainer juga harus dilibatkan. Ini
terkait dengan inovasi, promosi dan gengsi produk. Karya perajin batik
di daerah sangat luar biasa, dengan semakin dipromosikan, tentu saja
Belum lagi tantangan globalisasi ekonomi dan pembentukan
akan semakin naik kelas. Jadi, nantinya diharapkan lahir batik bermerk
kawasan ekonomi. Batik itu, bukan hanya diproduksi di Indonesia,
selain Danar Hadi, Komar dan yang lainnya.
Thailand dan Malaysia juga memiliki batik dengan coraknya yang khas.
Dan jangan dilupakan lagi adalah hak cipta. Tentu ini tugas dari
Anda dikenal sebagai pengusaha yang mencintai batik, Kementerian Hukum dan HAM agar proses pengurusannya cepat
bagaimana itu bisa terjadi? dilakukan. Saat ini, berbagai karya batik di Indonesia sudah didaftarkan
dengan logo BatikMark “Batik Indonesia”. semakin banyak yang
Bagi saya, batik itu memiliki nilai historis dan bagian terpenting
memiliki hak cipta, ribuan kalau perlu, semakin baik. Selama ini kan
dari nilai budaya bangsa. Bukan sekedar pakaian, batik itu adalah
jumlahnya baru seratusan lebih. Jumlah ribuan mencirikan begitu
warisan leluhur bangsa yang wajib dijaga dan dikembangkan baik
kayanya inovasi produk batik nasional, jadi harus didorong optimal.
dari sisi desain, corak dan tentu industrinya. Sudah ratusan tahun lalu,
bangsa Indonesia mengenal batik. Di berbagai daerah, ada ragam
Terkait dengan peringatan hari batik, menurut Anda?
motif dan corak batik, sangat kaya. Jika saya selalu mengenakan
batik, ini bagian dari sikap penghormatan kepada luluhur, kecintaan Peringatan hari batik tiap tanggal 2 Oktober harus dijadikan
kepada budaya bangsa, kebanggaan sebagai anak Indonesia dan tentu momentum kebangkitan batik nasional. Bukan sekedar kegiatan
keberpihakan kepada pengrajin batik yang rata-rata Usaha Mikro, Kecil seremoni, tapi benar-benar menjadi aksi. Ingat, ini bukan hanya tugas
dan Menengah (UMKM). Ini bentuk kecintaan kepada produk karya salah satu kementerian, tapi seluruh stakeholder, seluruh bangsa,
anak bangsa, nasionalisme ekonomi. Kita tentu, khususnya pengusaha karena batik adalah ciri khas Indonesia.
dan generasi muda, harus memiliki keberpihakan dan aksi yang nyata.
Bagaimana dengan kebijakan pengembangan industri batik
Untuk mengembangkan industri batik nasional, tentu saja nasional selama ini?
bukan sekedar kecintaan, diperlukan langkah stratejik, Sepertinya belum sinergis. Mesti diingat bahwa dari hulu hingga
menurut Anda? hilir kebijakan dan pengembangannya dilakukan secara integratif.
Ya, memang seharusnya demikian. Saya kira, kita semua adalah Estapetanya harus jelas, jangan sampai tidak nyambung, karena tentu
para pemangku kepentingan, stakeholder dari industri batik. Harus tidak akan maksimal. Dimulai dari sumber daya manusia pengrajin,
duduk bersama, bersinergi, bergandengan tangan untuk membangun peralatan, pembiayaan, pembinaan, riset dan pengembangan,
industri batik nasional. Ada beberapa langkah stratejik yang dapat promosi dan pemasaran, semuanya harus bersinergi. Grand desain
dilakukan, antara lain, pertama, penguatan dan memperbanyak pengembangan batik nasional harus disusun untuk jangka panjang,
koperasi pengrajin dan pengusaha batik. Harus semakin banyak dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi global. Jika
lembaga yang menjadi tempat berasosiasi dan menguatkan fungsi bersinergi, akan menjadi kekuatan besar dengan impact yang sangat
pemberdayaannya. Memang sudah ada Gabungan Koperasi Batik besar untuk kesejahteraan rakyat.
Indonesia (GKBI), tapi ada baiknya semakin banyak. Kalau perlu ada Jadi, duduk bersama, buat grand desain untuk jangka panjang,
di tiap daerah yang ada pengrajin batik. Ini penting untuk memudahkan beraksi secara sinergis dan pastikan, pelaku usaha batik dari hulu hingga
pembinaan, pembiayaan dan mendorong sebanyak mungkin pengrajin hilir bertumbuh dan berkembang dengan baik serta siap menghadapi
batik naik kelas ke usaha menengah dan besar. kerasnya tantangan bisnis global. Karena jika penjual batik itu juga lebih
Kedua, harus ada sinergi antara pemerintah daerah dan senang jadi importir, efeknya tidak baik. Demikian pula, jika pengrajin
kementerian terkait dalam hal pembinaan. Hal ini penting, agar batik tidak mampu meningkatkan produktivitas dan kualitasnya, akan
jangan terjadi pembinaan yang hanya dilakukan ke kelompok pengrajin ada pasar yang kosong dan itu diisi oleh produsen batik dari negara lain.
tertentu, sementara pengrajin lain tidak dibina. Agar terjadi pemerataan Sekali lagi perlu saya tekankan, hindari ego sektoral, bergandengan
pembinaan. Pemerintah daerah dan kementerian juga harus terus tangan seerat mungkin, ibarat rantai yang tak terputus, kebijakan
melakukan promosi atas produk batik yang ada di daerahnya masing- pengembangan industri batik nasional harus tersambung dari hulu
masing. hingga hilir.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 97


opini

Sandiaga S Uno
Strategy for Building National Batik Industry
National business entrepreneur, the What do you think about the development been wearing batik as their daily clothing.
owner of Saratoga Capital is recognized of national batik industry today? Moreover, the models of batik are varied
Very encouraging, from many aspects and certainly it has a considerably influence
as someone who really cares about batik.
we could see that good progresses are very on growth, especially for craftsmen who are
In both formal and informal activities, mostly from the Small and Medium Industry
promising. The value of turnover in the year
either at home or abroad, he always 2012 reached about Rp 1 trillion. It showed (SMI). Although of course, there are many
wears batik as his favourite clothes. To a significant progress, although of course it challenges to be faced to promote them.
Kina Magazine reporter, Sandi, his remains to be improved due to the enormous
What kind of challenges do you mention
familiar nickname, describes his idea market.
about?
about the national strategy to develop Meanwhile, from the aspect of consumer
For example, the invasion of Chinese
batik industry in the future. The key segment, batik is now growing in popularity
products have flooded the entirely domestic
success factor is the synergy among the and even young people have already
market, including remote villages with lower
stakeholders involved, starting from prices. It’s the challenge of how we are able to
upstream to downstream industries. The assist SMI to produce the better quality of their
excerpts of the interview are as follows: domestic products with the affordable prices
to compete with exported products.
In addition, the quality of human resources
should also be a concern. To produce the batik
with high quality and affordable price, the
qualified human resources are indespensable.
Now, so many qualified craftmen have
already been getting old, regeneration process
has not run properly. The government, such
as the Ministry of Industry, the Ministry of
Cooperatives and SMEs, the Ministry of Trade
and the Ministry of Education and Culture
should coordinate and work together to
provide the specific training and education
to produce the skillful craftmen for batik. If
necessary the batik course should be included
in the vocational curriculum at the SMK,
also at the college level. At the STT Textile,

98 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


opini

for example, batik should be a compulsory work together hand in hand to promote the with the logo of Batikmark “Batik Indonesia”.
course to pursue the regeneration process. batik industry. There are some strategic actions The more the number of copyrighted batiks,
As underlined by Sandi, the availability that can be done, among other things, first, thousands if possible, the better. Nowadays
of machines and tools and also market strengthening the batik craftmen cooperatives the number of copyrighted batiks are still
opportunities are meaningless in the absence and mutiplying the number of entrepreneurs. limited, more than a hundred, and it should
of the qualified batik craftsmen. The more institutions are required as the be pushed until thousands to promote and
Another challenge is dealing with the partner of craftmen cooperatives to strengthen label that Indonesia is very inovative and
production process and product innovation. the function of empowerment. Eventhough, productive for producing batik.
This is associated with the human resources Indonesian Batik Cooperatives Association
(GKBI) has been already exist, but the With regard to the batik day celebration,
and the tools involved. The government has
growing number of other batik associations what do you think?
a positif role. In addition, how the promotion
of indonesian batik should be carried out, will be better for the developmenf of the Batik day celebration held on October
not only in domestic market, but also to all industry especially in the regions with so 2 should become the momentum for the
countries around the world. many batik craftsmen. It will be beneficial to revival of national batik industry. Not merely
facilitate the training process, financing, and ceremonial activities, it should really be
Other challenges are economic
promoting as many as posible craftmen from an action. Remember, this is not only the
globalization and the establishment of
small businesses to medium and even to large task of one ministry, but all stakeholders
economic zones. Batik, in fact, is not only
business entrepreneurs. should actively involve, even for the whole
produced in Indonesia. Thailand and
Second, there must be a synergy between Indonesian people since batik is one of the
Malaysia are their owner batik with their
local government and relevant ministries in Indonesian identities.
typical patterns.
dealing with empowerment. This is important
What do you think about the national
You are recognized as an entrepreneur to assure that all the craftmen will have an
policy for the development of the batik
who loves batik, how does it happen? opportunities to get the training and assistance.
industry?
For me, batik has a historical value and the Local governments and the related ministries
should continuously conduct promotion for It doesn’t seem synergistic yet. It must
most important part of the nation’s cultural
the batik produced by their local craftmen. be remembered that both the policies and
values. Batik is not just simply clothes, it is also
the development of batik industry from
the nation’s heritage that must be preserved Third, the role of banks in terms of financing
the upstream to downstream should be
and developed both in terms of design, is very fundamental. Their contribution in
integrated. The relay race should be clear, it has
pattern, and of course its industry. Indonesian financing would be as the blood of the national
to be interconnected to maximize the result.
people have been familiar with batik since batik industry. Their contribution has, of
All of the aspects consisting of craftsmen,
several hundred years ago. In many regions, course, been already significant, but it should
equipments, financing, training, research
there are so many various batik motifs and be increased in the amount with the lower
and development, promotion and marketing
patterns. I always wear batik because it is a interest rates.
should collaborate and coordinate each others.
part of my tribute to my ancestors, devotion
Besides that? Grand design for the development of batik
to the national culture, the pride of nationality
industry should be prepared for the long-term
and, of course, my partiality to batik craftsmen Not less important is the research related
basis by taking into account the development
which most of them are MSMEs. It is also a to the products and processing technology. It
of the global economy. By being synergy, it
form of my devotion to the domestic products is only possible if there is a partnership with
will be a great power to pursue the growth
produced by Indonesian people. Certainly, as the universities. Textile College (STT) should
of batik industry and eventually it could
entrepreneurs and a part young generation, be maximized their contribution, including
contribute to the national wellfare.
we should have alignments and real action. other universities, such as ITB for batik design.
This is the challenge because many other By sitting down together, making long-
To develop a national batik industry, countries have already developed the batik as term grand design, and acting synergistically,
of course not just about love, it needs takes well. Fortunately, we have already become “a it could be guaranteeed that all entrepreneurs
strategic actions, do you agree? global home of batik”. Developing Indonesian from upstream to downstream industries
Yes, it should. I think, we are all batik is a must, otherwise, UNESCO may judge will enjoy the growth and be ready to face
stakeholders, stakeholders from the batik Indonesian not developing the batik seriously. the global business challenges. In fact, it is
industry. We should sit together, collaborate, not wise when the batik seller also acts as an
Then, how the designers should also be
importer. Similarly, if the batik craftsmen are
involved. It is associated with innovation,
not able to increase their productivity and
promotion and product qualities. The
quality there will be an empty market that
product quality of batik in many regions is
could be served by foreign batik producers.
extraordinary. With more intense promotion,
If so, it will be a disaster.
of course, the products will be increasingly
popular as the high-class Danar Hadi batik, Once again, I need to emphasize for
Komar and others. avoiding the sectoral ego, holding hands
together tightly as an unbroken chain, and the
And do not forget to mention copyright
national batik industry development policies
matters. This is certainly the task of the
must be really connected from upstream to
Ministry of Justice and Human Rights to speed
downstream.
up the administration process. Currently,
various product of batik have been registered

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 99


opini

Eksistensi batik Indonesia


kini tidak hanya di dalam
negeri saja. Batik juga sudah
merambah dunia internasional.

Carmanita
Perajin Batik Perlu Diberi Insentif

A
palagi setelah UNESCO (Organisasi Salah satu perancang ternama Indonesia, Dikatakannya bahwa masih banyak masyarakat
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Carmanita, tak bisa dilepaskan dari meluas dan Indonesia yang belum memahami secara benar
Kebudayaan PBB) mengukuhkan batik kokohnya eksistensi batik Indonesia. Karya-karya mengenai apa yang dimaksud dengan batik dan
sebagai warisan budaya dunia dan kain batiknya serta kegiatannya di Yayasan Batik belum merasa bangga untuk mengenakan busana
menjadikannya sebagai representasi budaya, tak Indonesia, menegaskan kalau wanita ini memiliki batik dalam kehidupan sehari-harinya.
benda warisan manusia (Intangible Cultural Heritage perhatian penuh terhadap perkembangan batik.
Menurutnya, batik bukanlah sekadar kain,
of Humanity) pada 2 Oktober 2009 lalu. Carmanita mengatakan, pengukuhan UNESCO bahan, corak atau warna. Batik adalah proses dan
Pengakuan dunia internasional terhadap batik terhadap batik merupakan suatu hal yang positif terdapat arti filosofis didalamnya. Dengan begitu,
tak lepas dari upaya keras dari para pemangku bagi perkembangan industri batik di dalam negeri. jika negara lain mengklaim bahwa batik berasal dari
kepentingan di dalam negeri, baik dari instansi Namun pengukuhan tersebut juga jangan membuat negaranya, tentu akan mudah dipatahkan karena
pemerintah, pengusaha dan pencinta batik dan masyarakat dan pemerintah Indonesia terlena negara tersebut akan mengalami kesulitan untuk
masyarakat lainnya. sehingga pihak-pihak lain dapat mengklaim budaya menjelaskan filosofi-filosofi yang terdapat dalam
tersebut. kain batik.

100 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


opini

Dengan keunggulan yang dimiliki Indonesia


terhadap batik, maka batik bisa menjadi salah satu
potensi yang bisa dimanfaatkan masyarakat Indonesia
untuk meningkatkan pendapatan ekonominya serta
mengembangkan budaya yang ada di berbagai
daerah.
Potensi pengembangan batik sangat besar
mengingat Indonesia memiliki banyak hal yang
bisa dituangkan menjadi motif di dalam kain batik.
Inspirasi untuk membuat motif batik bisa datang dari
mana saja. Bisa berupa budaya yang ada di suatu
daerah, adat istiadat bahkan motif juga bisa datang
dari kondisi alam di suatu daerah. Saat ini sudah ada
23 provinsi di Indonesia yang telah mengembangkan
batik sessuai dengan ciri khas provinsi tersebut.
Selain dari dalam negeri, potensi batik juga
bisa digali dengan menggandeng budaya dari luar
Indonesia. Misalnya saja kain sari dari India yang
dapat dijadikan dasar bagi pembuatan berbagai
motif batik.
Untuk menggali potensi yang terdapat dalam batik,
tentunya diperlukan pula dukungan dari pemerintah.
Pemerintah perlu menerapkan kebijakan-kebijakan
yang sifatnya mendorong pengembangan industri
batik di dalam negeri dan meningkatkan pangsa
pasar batik Indonesia di luar negeri.
Untuk mendorong pengembangan industri batik,
keberadaan bahan baku batik merupakan hal yang
utama. Saat ini, banyak perajin batik yang mengalami
kesulitan untuk mendapatkan kain yang berkualitas,
seperti sutra. Padahal, Indonesia dengan hutan yang
sangat luas, memiliki potensi besar bagi produksi
bahan baku kain sutra. Potensi yang ada tersebut
hingga kini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Ketersediaan bahan baku sangat penting karena
hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas kain batik
yang dihasilkan. Jika kain yang digunakan adalah kain
yang kualitasnya buruk, maka batik yang dihasilkan
juga akan memiliki kualitas yang buruk. Misalnya saja
kain batik itu cepat rusak atau warna dan motifnya
cepat pudar, tentunya batik yang dihasilkannya akan
berkualitas rendah. batik dari kegiatan penjiplakan hasil karya. Dengan Insentif bisa dilakukan dalam berbaai bentuk,
adanya perlindungan terhadap hasil karya, maka misalnya saja pemberian bantuan dana secara
Alam Indonesia juga memiliki potensi besar untuk
perajin akan makin terpacu untuk menciptakan hasil rutin kepada perajin batik dan keluarganya atau
digunakan sebagai pewarna bagi kain batik. Banyak
karya-hasil karya terbarunya. memberikan fasilitas yang dibutuhkan dalam
tumbuhan, baik itu daun atau buahnya, yang bisa
kegiatan produksi batik.
dimanfaatkan sebagai pewarna dalam produksi batik. Yang lebih penting lagi, pemerintah juga
perlu membeikan insentif bagi perajin batik. Saat Pemberian insentif memang membutuhkan
Pengawasan yang ketat terhadap masuknya
ini, jumlah perajin batik di dalam negeri dapat anggaran, namun, jika hal itu dilakukan secara
batik printing dari luar negeri juga perlu dilakukan
dikatakan masih minim. Salah satu penyebabnya selektif dan terprogram, dampak positif yang
oleh pemerintah. Membanjirnya produk impor
adalah kurang terjaminnya kehidupan perajin batik diperolehnya jauh lebih baik dibandingkan dengan
tersebut dapat mengganggu kelangsungan hidup
dan keluarganya. Minimnya jumlah perajin batik itu dana yang harus dikeluarkan pemerintah.
perajin batik di dalam negeri.
tentunya akan menghambat upaya pengembangan
Jika hal-hal diatas dapat dilakukan dan
Selain itu, upaya pengembangan batik di dalam potensi batik Indonesia.
diperkuat lagi dengan dukungan masyarakat melalui
negeri juga perlu dilakukan dengan melindungi dan
Ada baiknya jika pemerintah mau memberikan kecintaannya berbusana batik, maka potensi yang
memberikan kenyamanan bagi perajin batik untuk
insentif kepada perajin batik di dalam negeri sehingga terdapat dalam komoditas batik dapat digali dan
menuangkan karyanya dalam selembar kain.
mereka tetap bisa eksis di perbatikan dan generasi dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat
Penerapan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) muda juga tetap berhasrat untuk berkecimpung di banyak serta terjaganya hasil karya luhur bangsa
perlu dilakukan guna melindungi hasil karya perajin industri perbatikan. Indonesia ini.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 101


opini

Carmanita
Incentives should be given to Batik artisans

The existence of Indonesian


batik is now not only in
domestic market, but
international market as well,
especially after UNESCO
(United Nations Educational,
Scientific and Cultural
Organization) acknowledged
batik as a world intangible
cultural heritage for humanity
on October, 2009.

T
he interntional recognition on
Indonesian batik is reached as hard effort
of all stakeholder in the country such as
government agencies, entrepreneurs,
batik lovers and others.
Carmanita, the famous Indonesian designer,
is one who taking part in the strong existence
and development of Indonesian batik. Her batik
creations as well as her activities in the Indonesian
Batik Foundation has affirmed that she has given
the full attention to the development of Indonesian
batik.
Carmanita argued the acknowledgement of
UNESCO to Indonesian batik obviously giving a
positive impact to the development of Indonesian
batik industry. However it should not make people
complacent that right cause other countries claim
batik as theirs.
She describes that many Indonesian people
doesn’t really understood about batik and not be
proudly in wearing batik in their daily lives.
According to her, batik is not just an ordinary
cloth, material, style or color. Batik is a process and
having a philosophical values. This is as averment
if another country claims about batik ownership, it
can be easily rejected since that country couldn’t

102 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


opini

batik motifs can be inspired from anything. It can be drawn


from local culture, customs, even from nature of the regions.
Now there are about 23 provinces in Indonesia developing and
producing batik with their own characteristics.
Besides from the domestic resources, the potential of
Indonesian batik can also be enriched with foreign cultures. As
an example, Sari cloth from India can be used as material in
developing batik motives.
To explore the potential of batik industry , government
support is required. The Indonesian government needs to adopt
policies that are able to encourage the development of batik
industry both in domestic market and internationally.
To encourage the development of batik industry, the
availability of raw materials is the most important aspect.
Nowadays, lots of batik craftsman having difficulties in obtaining
high quality of cloths, such as silks. Whereas, with its vast forests,
Indonesia posseses a great potentials for producing silk cloth.
Unfortunately, these huge potentials has not been fully explored.
The availability of raw materials is important since it will
affect the quality of batik. If the fabric uses a poor quality, the
quality of batik produced will also be poor. For example, if the
fabric used is easily broken or the color and motif are quickly
faded, the batik produced will, of cource, be poor quality.
Indonesia natural resources has also a great potential to be
used as a dye for batik motif. Many plants, whether it leaves or
fruit, can be used as a dye in batik production.
The strict controls over the entry of foreign printing batiks
should also be carried out by the government. A lot of imported
products will be bad influence to batik craftsman in domestic
market.
Furthermore, in order to encourage batik industry in domestic
market, government has to provide a protection and comfort to
batik craftmans so they will be keep sustained in creating Batik.
The implementation of intellectual property rights (IPR)
should be also carried out to protect the works of batik craftsman
from cribbings. By the protection of the works, they will be more
motivated to work and produce the new creations.
Even more importantly, the government must allocate
incentives for batik craftsman. Currently, the number of batik
craftsman are still very limited. One of the reasons is the social
welfare of batik craftsman that aren’t enough economically. The
limited number of batik craftsman will certainly hamper the
efforts to develop Indonesian batik industry.
It would be better if the government providing incentives to
batik craftsman so that they can be motivated and enjoy working
in batik industry and young people can also be easily directed to
be involved in this industry.
Incentives can be provided in various forms, such as by
giving routine grants to batik craftsman and their families or
by providing production facilities,
Giving incentives, of course, need much budgets. However,
if it can be implemented selectively and good planned program,
explain the philosophy of batik. the positive result much be higher than the money which spent
With some of advantages that Indonesian have about batik, by the government.
batik could be as one of potential resources that is useful to If all above could be done and even be reinforced by the
increase economic revenue and develop culture of Indonesian support of people through favoring batik as their clothes, the
people in various region. potential of batik commodity could be more explored and utilized
There are huge potentials in developing Batik, since. for the benefit of the people welfare and preserving one of the noble
Indonesia has a lot of things can be poured on the cloths. Creating work of the nation.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 103


Apa & Siapa

Komar Kudiya
Pengusaha Batik yang Serba Bisa
Multi talented Batik entrepreneurs
Memang tidak mudah membangun industri batik yang handal dan
kuat. Demikian juga tidak mudah mempromosikan dan memasarkan
produk batik hingga dikenal luas masyarakat.
Developing strong and reliable batik industry is not as easy as promoting
and marketing the batik it self.

S
emua itu hanya dapat dilakukan melalui dengan menggunakan desain batik orang tuanya segmen pasar tersendiri bagi produk Batik KOMAR.
kerja keras yang bermuara pada inovasi sebagai dasar. Desain batik hasil pengembangan Untuk membangun industri batik yang handal
dan kreatifitas agar produk yang dihasilkan Komar itu kemudian disimpan di dalam komputer Komar juga sangat menyadari pentingnya industri
memiliki daya saing tinggi dalam berbagai dalam bentuk clip art. pendukung batik yang kuat dan efisien. Karena
aspek termasuk dalam hal desain, kualitas, dan harga Pergaulan Komar yang cukup luas telah itu, Komar pun menciptakan dan membuat sendiri
produk. membawanya bertemu dengan banyak orang berbagai peralatan pendukung industri batik yang
Filosopi industri seperti itulah yang diterapkan termasuk dosen marketing UNPAD, dosen seni lebih efisien, seperti peralatan kompor gas untuk
Komarudin Kudiya, seorang pengusaha batik rupa ITB, seniman pematung, pelukis dan kalangan membatik dan peralatan batik cap. Untuk menciptakan
kelahiran kota udang Cirebon 28 Maret 1968 praktisi bisnis. Semua itu turut membentuk Komar desain motif batik, Komar pun telah memanfaatkan
yang kini berhasil mengembangkan industri batik menjadi seorang entrepreneur yang berwawasan bantuan teknologi komputer sekaligus untuk
di Bandung, Jawa Barat. Walaupun terlahir dari luas yang mampu menganalisa, merancang dan mendokumentasikan dan menyimpannya di dalam file
keluarga pengusaha batik, Komar, panggilan akrab mengimplementasikan rencana bisnis secara komputer. Bahkan, dalam mendukung idealismenya
Komarudin yang namanya kini menjadi merek matang. untuk melestarikan sekaligus mengembangkan seni
dagang produk batiknya “Batik KOMAR”, sempat Atas saran seorang dosen seni rupa ITB, pada tahun kerajinan dan industri batik nasional Komar tidak
malang melintang bekerja di bidang usaha di luar 1997 Komar mengikuti Lomba Cipta Selendang Batik pernah pelit membagi ilmunya kepada sesama
batik. Internasional di Yogyakarta yang diselenggarakan pengusaha batik maupun kepada generasi muda
Namun takdir tak bisa dipungkiri, Komar akhirnya Yayasan Batik Indonesia (YBI) bekerjasama dengan yang ingin terjun menggeluti bisnis batik.
bergelut juga dengan industri batik. Bahkan Komar Kementerian Pariwisata dan Telekomunikasi. Komar Berkali-kali Komar terjun ke daerah untuk
menemukan kesuksesannya di industri batik tanpa pun berhasil menyabet predikat Juara I dan Juara mengajar batik di Aceh, Riau, Sumatera Barat,
harus meninggalkan amanat orang tuanya menuntut Harapan I. Dari situlah Komar banyak berkenalan Sulawesi Selatan, Jambi dan lain-lain. Di workshop
ilmu setinggi-tingginya. Ilmu yang diperoleh Komar dengan pejabat pemerintah, tokoh dan pakar batik Batik KOMAR di Jl. Cigadung Raya Timur I No. 5
di bangku kuliah justru menjadi bekal berharga dalam nasional. Bandung, Komar juga menyelenggarakan program
mendukung pengembangan usaha industri batiknya. Komar yang kini sedang menempuh program kursus membatik yang diberi nama “Eduwisata
Latar belakangan pendidikan ilmu admnistrasi doktoral di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB mulai Batik”. Melalui program tersebut para peserta
logistik dan Hubungan Internasional dari UNPAD betul-betul terjun ke industri batik di Bandung pada dapat belajar banyak soal batik dari A sampai Z,
serta ilmu desain dari Institut Teknologi Bandung tahun 1998. Awalnya dengan hanya dibantu tiga mulai dari bagaimana membatik hingga bagaimana
(ITB), disamping pengalaman dan kerja kerasnya orang karyawan, Komar memulai usaha industri menjalankan bisnis batik. Para peserta didiknya tidak
di industri batik, telah membentuk Komar menjadi batiknya dengan mengembangkan motif batik hanya datang dari berbagai daerah di tanah air, tapi
pengusaha batik yang handal. hasil karya ciptanya sendiri. Seiring dengan makin juga dari berbagai negara seperti Inggris, Belanda,
Selepas menamatkan pendidikannya dari D3 berkembang usaha batiknya, sejak tahun 2000 Jepang, Korea dan lain-lain. Selain itu, Komar juga
Administrasi Logistik UNPAD tahun 1992, Komar Komar pun mulai mendaftarkan merek Batik Komar menyelenggarakan pelatihan gratis khusus untuk
sempat bekerja di perusahaan swasta di Jakarta ke Ditjen HKI Kementerian Hukum dan HAM. Hingga mencetak tenaga kerja terampil dan ahli dalam
yang bergerak dalam toll equipment and system. kini sudah ratusan motif Batik KOMAR yang telah pembuatan peralatan cap untuk membatik.
Namun di sela-sela hari liburnya (Sabtu dan Minggu) didaftarkan hak ciptanya ke Ditjen HKI. Masih ada satu angan-angan Komar yang
Komar masih menyempatkan diri menjual batik motif Berbagai produk Batik KOMAR kini sering tampil belum terwujud dalam upaya melestarikan sekaligus
Cirebonan produksi orang tuanya. dalam berbagai pameran batik di tanah air dan telah mengembangkan industri batik nasional dan
Dari kegiatan berdagang batik itulah Komar memiliki pelanggan tetap yang cukup fanatik. Hal entrepreneurship di bidang batik, yaitu mendirikan
banyak bertemu konsumen sehingga Komar itu terutama karena produk Batik KOMAR memiliki The Indonesian Batik Institute (TIBI). Rencananya,
mengetahui persis batik yang dibutuhkan konsumen. kualitas yang sangat bersaing di pasar. Desain dan setelah menyelesaikan program doktoralnya di ITB,
Dengan bekal ilmu yang diperolehnya di bangku motifnya yang khas dan unik ditambah dengan Komar akan mendirikan TIBI pada tahun 2015 atau
kuliah, Komar pun mulai membuat desain batik sendiri kombinasi warna yang menarik telah menciptakan 2016.

104 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Apa & Siapa

I
t all can be done only through hard working UNPAD, ITB lecturer art, artist sculptor, painter equipment. To create a batik design, Komar has
that leads to innovation and creativity, so the and business practitioners. All that helped shape exploited the computer technology as well as to
product resulted has a high competitiveness Komar being an entrepreneur insightful in documenting and store it in a computer. In fact,
in various aspects, including in terms of analyzing, designing and implementing business in favor of idealism to preserve and develop the
design, quality, and price of the product. plans carefully. art of batik craft and industry of national Komar
Such kind of industry philosophy that is applied On the advice of a Professor of Fine Arts ITB, never stingy to share his knowledge to fellow
by Komarudin Kudiya, a batik entrepreneur born in in 1997 Komar follows Batik Shawl Competition entrepreneurs batik and to young people who want
Cirebon on March 28, 1968 which now has succeed International Settlements in Yogyakarta held to jump in the business of batik.
in developing batik industry in Bandung, West by Indonesian Batik Foundation (YBI) in Komar repeatedly involve in some region to
Java. Although borned from batik entrepreneurs collaboration with the Ministry of Tourism and teach batik such as in Aceh, Riau, West Sumatra,
family, Komar, whose name has now become the Telecommunications. Komar also successfully won South Sulawesi, Jambi and others. The workshop
product trademark “Batik Komar”, had extended the title of Champion and Runner I. At this event “Batik Komar” on Jl. East Raya No. I Cigadung.
experienced working in the field of business outside Komar much acquainted with government officials, 5 Bandung, Komar also organizes courses in batik,
of batik. leaders and experts of national batik. named “Eduwisata Batik”. Through the program,
Eventhough, the destiny can not be denied, Komar who is currently pursuing a Ph.D. at the participants can learn more about batik from
Komar finally entered into batik industry. Komar the Faculty of Art and Design ITB started to really A to Z, from how to run a business batik. The
even find success in the batik industry without plunge into batik industry in Bandung in 1998. learners not only come from domestic, but also from
having to leave his studied. Komar knowledge Assisted initially with only three employees, Komar international such as Britain, the Netherlands,
acquired in college, became valuable in supporting starting business in batik industry by developing Japan, Korea and others. In addition, Komar also
the provision of business development batik batik motif with creating his own designs. Along organizes free training specifically for printing
industry. His education background in logistic with growing the business of batik, since 2000 skilled and skilled labor in the manufacture of
administration and International relation of Komar began registering brand Batik Komar equipment for batik stamp.
UNPAD and design from the Institut Teknologi to the Ministry of Justice and the Directorate There is still one Komar’s obsession in an effort
Bandung (ITB), in addition to the experience and General of Intellectual Property Rights. Until to preserve and develop national batik industry and
hard working in batik industry, has made Komar now had hundreds of Batik Komar motifs that have entrepreneurship in the field of batik, i.e. establish
to be a reliable batik entrepreneurs. registered the copyright to the Directorate General The Indonesian Batik Institute (TIBI). He plans to
After graduated from UNPAD in 92, Komar of Intellectual Property Right. to establish after completing his doctoral program
was working in a private company in Jakarta The all of Batik Komar now is very often appear at ITB, Komar will establishing TIBI in 2015 or
engaged in toll equipment and systems. But on the in various batik exhibitions in the country and has 2016.
sidelines of his days off (Saturday and Sunday) had regular customers whose fanatical. The main
Komar still managed to sell batik motifs production reason is because the products have good quality
Cirebonan parents. and very competitive in the market. The Designs
From trading activities he met with many and motifs which is typical and unique coupled informasi | information »
consumers and Komar knows exactly what they with an attractive colors has created a certain
Batik Komar
need. With the knowledge gained in college, Komar market segments.
Showroom 1 Jl. Sumbawa No 22 Bandung 40113
began making his own batik designs with using To build a reliable batik industry, Komar has Telp. (022) 4237688
his parent’s design as an example. Design Batik also aware of the importance of supporting Batik Fax. (022) 4210720
Workshop dan Showroom 2 Jl. Cigadung Raya Timur I
Komar development results were then stored in the Industry which is strong and efficient. Therefore,
No. 1 Bandung 40191
computer in the form of clip art. Komar also create and develop a variety of ancillary Telp./Fax. (022) 2514788.
Socially ample Komar has brought him to equipment batik industry which is more efficient, Email: batikkomar@ymail.com,
many people including lecturers marketing of such as gas stoves appliances for batik and batik website: www.batik-komar.com, www.wisatabatik.com

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 105


Apa & Siapa

Usianya baru 19 tahun, namun


kiprah Dea Valencia di dunia
perbatikan nasional sudah
mendapat pengakuan dari
banyak kalangan.
She is still 19 years old, but Dea
Valencia has received many recognition
from various parties for her commitment
in Indonesian batik.

D
emi melestarikan budaya batik
Indonesia, wanita cantik berkulit putih
ini rela menyusuri berbagai daerah untuk
mendapatkan ‘batik-batik lawas’ yang
diinginkannya. “Sudah tiga tahun saya menekuni
profesi sebagai kolektor batik lawas,” ujar Dea.
Apa sebenarnya Batik Lawasan? “Lawasan”
diambil dari kata “lawas” dalam bahasa Jawa yang
berarti lama atau tua. Warna dari batik ini sangat
khas, yaitu berwarna lusuh, mengingat sejarahnya.
Batik lawasan ini secara harfiah memang benar-
benar batik yang sudah disimpan lama atau tua.
Warna batik lawasan yang unik, membuat batik ini
menjadi incaran para kolektor batik, tidak hanya dari
Indonesia tapi juga di luar negeri.
Ketertarikan Dea terhadap batik lawas muncul
setelah dia membantu ibunya yang juga berprofesi
sebagai kolektor batik. Seringkali Dea menemani
ibunya untuk mencari koleksi batik lawas, terkadang
dia juga diminta ibunya menjual koleksi batik lawas
ibunya yang sudah menumpuk di rumahnya di
kawasan Gombel, Semarang .
“Suatu ketika saya diminta untuk menjual salah
satu koleksi ibu saya. Batik itu sungguh menarik. Saya
pikir mengapa tidak saya saja yang membelinya?”
kata Dea mengenang pertama kali dia menjalani
profesinya sebagai kolektor batik lawas.
Berawal dari pembelian batik lawas milik ibunya
itu, Dea mulai mencari koleksi batik-batik lainnya
dari pelbagai daerah. Sejumlah daerah yang selama
ini dikenal memiliki sejarah perbatikan, seperti Jawa
Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, dan beberapa
kota lainnya di Idonesia, telah dijelajahinya.

Dea Valencia
Agak sulit memang untuk mendapatkan batik-
batik yang dibuat pada masa lalu, namun, berkat
kesenangannya menggeluti profesinya itu serta
didorong niatnya untuk melestarikan budaya batik
Indonesia, Dea mampu mendapatkan batik-batik
dengan tahun pembuatan yang berbeda-beda.

Jadi Pengusaha Batik Terkenal “Walau pun sulit, saya tetap berusaha
mendapatkan kain batik lawas demi menjaga
warisan budaya kita. Apalagi saat ini banyak batik
lawas Indonesia yang dibawa kolektor ke luar negeri
karena mereka tahu nilai dan sejarah batik tersebut,”
jelasnya.

106 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Apa & Siapa

I
n order to preserve the Indonesian batik, cultural heritage. Moreover, currently many
this young beautiful women has voluntary Indonesian batik lawasan have been brought out
traveled in many regious only to find ‘batik from the country by collectors because they know
lawasan’ that she really wants. “I have been the value and history of batik, “she explained.
three years as collector of ‘batik lawasan’ she said. Thanks to the persistence, now the number of
What is Batik Lawasan? “Lawasan” is taken batik lawasan collection have reached 800 pieces,
from the word “old” in the Java language, which the oldest years of the making is 1880 and the
means old or older. The color of batik is very typical, newest is 1948. Most of her batik collection is
ie colored shabby, due to it’s history. literally ‘batik ‘enciman’ or ‘pesisiran’ ant she is still not satisfied
lawasan’ is batik stored for longer time or old. The with the current number. “I will continue to add
unique colors of batik Lawasan, made lawasan my collection of batik lawasan,” said Dea who has
being a target of batik collectors, not only from not been satisfied with what she has gained at this
Indonesia but foreigners as well. time.
She started to be interested on ‘batik lawasan’ In searching for batik lawasan, She does not
since she assisted her mother who also a batik only buy a batik which is still in good condition,
collector. Sometimes Dea accompanied her mother but defected batik as well, such as part of it torned,
in finding a batik lawasan, sometimes she also asked “The defected batik still can be used to make a batik
to sell her mother’s collection of batik lawasan clothes,” she said.
that had accumulated in her home in the Gombel, The technique is, the defected of batik lawasan
Berkat keuletannya itu, jumlah koleksi batik Semarang. is cutted off into severa parts, but discard the
lawas yang dimilikinya saat ini telah mencapai 800 “One time I was asked to sell one of my mother’s defective parts in advance. “The pieces of such
potong, tahun pembuatan yang paling lama adalah collection. The batik was really interesting. I batik cloth was then combined with other fabrics
tahun 1880 dan yang terbaru adalah tahun 1948. thought why not me who bought it? “Said Dea to be made into a batik shirt for women,” she said.
Kebanyakan koleksi batiknya adalah batik enciman recalls the first time she walked on her profession The cClothing collection which is a combination
atau batik pesisir. Jumlah koleksi yang dimiliki as a collector of batik lawasan. of new fabrics and batik lawasan evidently attacts
itu belum membuatnya puas. “Saya akan terus Since she purchased her mother’s batik lawasan, women interest. There are great demand from
menambah koleksi batik lawas saya,” papar Dea Dea began to searching other batik collection numbers of regions on Dea batik collection.
yang belum puas dengan apa yang telah diperolehnya around the region. Number of areas that have been Dea did not the opportunity. By using the
saat ini. known with batik history, such as Central Java, online system, she serves the orders everyday.
Dalam mencari batik lawas, Dea tidak hanya East Java, Yogyakarta, Bali, and several other cities “Currently, I have 2,500 pcs of clothes with batik
membeli batik lawas yang masih baik kondisinya. in Indonesia, has been explored. lawas combination”, she explained. The price range
Kain batik yang cacat, seperti ada bagian yang It is hard to get batik made in the past, however, between Rp250 thousand to $ 1 million per piece.
sudah robek, masih diterimanya. “Kain batik yang with her pleasure to cultivate a profession and Although just holding a bachelor’s degree of
cacat masih bisa digunakan untuk membuat pakaian encourage her intention to preserve the culture of IT from a foamous university in Semarang, but
batik,” ujarnya. Indonesia batik, Dea has been able to obtain batiks the lady who borned in 1994, will continue to be
Caranya, kain batik lawas yang cacat itu which were made in different years. involved in batik. “I want to be a batik entrepreneurs
dipotong-potong menjadi beberapa bagian dengan “Although there were tough, I was still trying like Batik Keris and Danar Hadi.” She said about
terlebih dulu membuang bagian yang cacat. to get the batik lawasan in order to maintain our her obsession to be accomplished someday.
“Potongan kain batik itu kemudian dikombinasikan
dengan kain lainnya untuk dibuat menjadi baju batik
untuk wanita,” ungkapnya.
Koleksi baju dengan kombinasi kain baru dengan
kain batik lawas itu ternyata banyak diminati oleh
kalangan wanita. Banyak permintaan dari sejumlah
daerah terhadap koleksi baju kombinasi batik lawas
yang diproduksi Dea itu.
Peluang itu tidak disia-sia kan Dea. Dengan
menggunakan sistem online, setiap hari dia melayani
permintaan kalangan pembeli. “Saat ini, koleksi baju
dengan kombinasi kain batik lawas yang saya miliki
mencapai 2.500 potong,” jelasnya. Adapun baju
kombinasi batik lawas itu dijual dengan kisaran harga
Rp250 ribu hingga Rp 1 juta per potong.
Walaupun baru saja menyandang gelar sarjana
informatika dari sebuah universitas di Semarang,
namun wanita kelahiran 1994 itu masih akan terus
bergelut dengan batik.” Saya ingin menjadi pengusaha
batik sekelas Batik Keris dan Danar Hadi,” ungkap
Dea tentang obsesi yang ingin dicapainya kelak.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 107


Tokoh

108 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Tokoh

Sang Pejuang Batik Indonesia

Jultin Harlotina
Ginandjar Kartasasmita
Mencintai batik sudah menjadi bagian dari kehidupan Jultin Harlotina
Ginandjar Kartasasmita. Bagi tokoh batik istri politikus kawakan Partai
Golkar, Ginandjar Kartasasmita ini batik sudah menjadi bagian penting
yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kesehariannya.

K
arena, sebagian besar waktunya kini Selang beberapa tahun kemudian, atas saran dan dua kegiatan pameran reguler, yaitu Pameran Batik
dicurahkan demi perkembangan dan ajakan Dipo Alam (sekretaris Bappenas ketika itu) di Plaza Pameran Kementerian Perindustrian yang
kemajuan dunia batik Indonesia. dan Firdaus Ali (Dirjen Industri Aneka Departemen digelar setiap tahun, serta Gelar Batik Nusantara
Kecintaannya terhadap batik sudah Perindustrian ketika itu), Jultin bersama sejumlah yang merupakan pameran batik dua tahunan di JCC.
dirasakannya sejak dia masih kecil. Kecintaan pakar dan tokoh batik nasional serta rekan-rekan Selain itu, YBI juga selalu mengikutsertakan perajin/
itu tumbuh karena Jultin memang dibesarkan di sesama pecinta batik mendirikan Yayasan Batik pengusaha batik binaannya dalam berbagai ajang
tengah-tengah keluarga yang berkecimpung dalam Indonesia (YBI), tepatnya pada tanggal 28 Oktober pameran lain dimana YBI diundang di dalamnya
bisnis batik. Jultin sudah mengenal dan mencintai 1994. Sejak berdirinya yayasan hingga saat ini, Jultin seperti Fashion Week, dan berbagai pameran tekstil
batik sejak usia belia. Karena, waktu masih kecil -- dipercaya rekan-rekan dan koleganya di YBI untuk dan garment, pameran di kedutaan besar dan lain-
tahun1950-an-- Jultin muda sering diajak ibundanya memimpin yayasan nir laba itu selaku ketua umum. lain.
berkeliling daerah sentra industri batik di Jawa Barat, Sebaliknya melalui yayasan inilah Jultin justru Apa yang dilakukan Jultin bersama kolega di YBI
khususnya di Ciamis dan Tasikmalaya. Ibunda Jultin menemukan wahana yang sangat tepat untuk makin dan jajaran pemerintah sedikit demi sedikit mulai
adalah saudagar batik yang menampung batik menyalurkan perjuangannya dalam melestarikan, membuahkan hasil. Secara perlahan tapi pasti, batik
produksi para perajin batik di daerah untuk dijual melindungi, mengembangkan dan memasyarakatkan menjadi semakin populer dan diminati masyarakat.
kembali kepada konsumen di kota Bandung. batik Indonesia sekaligus memajukan batik dan Tidak hanya di kalangan orang dewasa/tua, tapi
Namun, sejak memasuki dunia sekolah hingga usaha kerajinan batik sebagai kegiatan usaha bernilai juga di kalangan anak muda dan remaja. Mereka
menikah, Jultin sudah tidak pernah berinteraksi lagi tambah tinggi. kini tidak malu lagi menggunakan batik, bahkan
dengan dunia batik. Hingga akhirnya pada tahun “Pada awalnya saya bertanya-tanya dalam hati mereka merasa bangga menggunakannya. Karena,
1983 sang suami Ginandjar Kartasasmita ditunjuk apakah saya bisa mengemban kepercayaan dari batik memang memiliki keindahan, keunikan dan
Presiden RI ke-2 Soeharto menjadi Menteri Muda teman-teman para pemerhati dan pecinta batik. nilai seni yang tinggi. Bahkan banyak pula kalangan
Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Karena saya merasa pengetahuan saya tentang orang asing yang ‘kepincut’ dengan batik Indonesia.
Negeri. Sebagai istri menteri yang otomatis menjadi batik secara detil masih kurang. Namun karena YBI pun berhasil mengorbitkan sejumlah
Ketua Dharmawanita di kementerian yang dipimpin didorong semangat untuk mendukung tugas suami, pengusaha batik kecil menjadi pengusaha batik yang
suaminya, Jultin tentu harus mendukung penuh tugas alhamdulillah saya dengan learning by doing akhirnya sukses dan punya nama besar. Kendati demikian Jultin
suami dalam menggalakkan penggunaan produk- bisa juga memimpin yayasan ini sampai sekian puluh mengaku masih banyak yang harus dilakukan untuk
produk dalam negeri, termasuk salah satunya batik. tahun,” tutur wanita kelahiran Bandung, 17 Juli 1946 mengembangkan batik nasional. Salah satunya
Sejak itulah interaksi Jultin kembali menjadi sangat ini. adalah bagaimana agar generasi muda mau terjun
intens dengan dunia batik nasional. Jultin pun banyak Apalagi bagi Jultin, YBI bukanlah satu-satunya ke industri batik mengingat kebanyakan perajin batik
berinteraksi dengan kalangan desainer nasional dan organisasi yang dia pimpin. Masih ada sejumlah yang ada saat ini sudah pada tua. Upaya yang perlu
mengarahkan mereka untuk menggunakan kain batik organisasi lain yang juga harus dia kelola, seperti digalakkan antara lain memperkenalkan pelajaran
dalam pembuatan rancangan mode pakaiannya. Perkumpulan Pemberantasan Tuberculosis Indonesia, batik pada kurikulum sekolah.
Jultin pun turut tampil di barisan terdepan Yayasan Bina Putera Sejahtera dan Dharmawanita. “Jadi, setelah kita mendapatkan pengakuan
dalam mempromosikan batik kepada khalayak luas Belum lagi keluarganya yang juga membutuhkan dari UNESCO, kita tidak boleh diam saja. Kita
agar dipergunakan oleh seluruh lapisan masyarakat, perhatian dan kasih sayangnya. harus lebih giat melestarikan dan mengembangkan
mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Selain mempromosikan batik kepada khalayak, batik nasional agar kita dapat mempertahankan
“Sebab, sebelumnya batik itu lebih dikenal sebagai Jultin dengan YBI-nya juga giat membantu dan pengakuan itu,” tutur Jultin yang memiliki lebih dari
barangnya para orang tua. Ketika itu memang hanya membina perajin dan pengusaha batik, serta turut 600 koleksi batik. Pada 24 Nopember 2012 lalu Jultin
kalangan orang tua saja yang menggunakannya. memasarkan produk mereka. Salah satu sarana meluncurkan buku karyanya berjudul “Dunia Batik
Penggunaannya pun terbatas hanya pada saat promosi dan pemasaran yang cukup efektif adalah Seorang Jultin yang berisi ulasan batik Jawa Barat
acara resmi seperti pernikahan, upacara adat dan melalui ajang pameran. Karena itu, YBI menggelar hasil koleksinya selama hampir 20 tahun.
lain-lain,” tutur Jultin.

Karya Indonesia Edisi Khusus 2013 109


Tokoh

The Batik Warrior

Jultin Harlotina Ginandjar Kartasasmita


Loving batik has become a part
of Jultin Harlotina Ginandjar Jultin has already been familiar since young age. For Jultin herself, YBI is not the only
Kartasasmita life. As the Batik In 1950s - a young Jultin was often invited by her organization she leads. There are many other
figure, the wife of former Golkar mother going around in the batik industry centre in organizations she has to manage, such as Anti-
Party politician, Ginandjar West Java, especially in Ciamis and Tasikmalaya. Tuberculosis Association, the Foundation of Bina
Kartasasmita, batik can not be Her mother was a merchant of batik, buying from Putera Sejahtera, Dharmawanita. Not to mention
separated from her everyday life. batik artisans from many regions to be resale to her families which also need attention and affection.
consumers in Bandung.
However, since the start of school till married, In addition to promoting batik to public,
Jultin had never interacted again with batik Jultin with her YBI has also actively helped and
environment. Until finally in 1983 her husband, fostered batik artisans and entrepreneurs, as
Ginandjar Kartasasmita was appointed by the well as supported to market their products. One
2nd President Suharto as Yunior Minister for means of effective promotion and marketing is
Increased Use of Domestic Product. As a minister’s through exhibitions. Therefore, YBI holds two
wife who automatically became the Chairman regular exhibitions, the Batik Exhibition at Plaza
Dharmawanita, Jultin should, of course support Exhibition Ministry of Industry, yearly, as well
her husband tasks in promoting the use of domestic as Batik Nusantara exhibition held at the JCC
products, including batik. Since then she has been every two years. Moreover, YBI also include batik
intensively involved in the world of national batik. artisans/ entrepreneurs trained partners in various
She has also built a close interaction with national exhibitions where YBI was invited as a participant
designers and directed them to use batik in their in it such as Fashion Week, various textile and
fashion products. garment exhibitions, exhibitions in embassies and
Moreover, Jultin steps forward in the forefront others.
in promoting batik in order to be used by all people The efforts of YBI and the government has
in all level of the society, ranging from children, gradually showed the results. Slowly but surely,
teenagers and adults. “Previously, batik was better batik has become increasingly popular and
known as goods that are belong to old people since attracted the public interest. Not only among
only them who used them. Its use was still limited adults/old people favor batik, but also among young
for formal occasions such as weddings, ceremonies people and adolescents. They are now no longer
and others, “said Jultin. ashamed to use batik, even they feel proud to use
A few years later, based on an advice and request it. Because, batik does have beauty, uniqueness and
of Dipo Alam (former Bappenas secretary) and high artistic value. Even many among foreigners
Firdaus Ali (former Director General of Various ‘smitten’ with Indonesian batik.
Industry). Jultin, together with some batik experts YBI also successfully promoted many small
and leaders of national batik as well as batik lovers scale batik entrepreneurs to become successful batik
established the foundation of Indonesian Batik entrepreneurs with big names. Nevertheless Jultin
(Yayasan Batik Indonesia), precisely on October argued there are many things to be done to develop
28, 1994. Since the establishment of the foundation, national batik. One of them is how the young people
Jultin has been appointed to lead YBI nonprofit are interested to pursue batik industry since most
foundation as a chairman. of the batik artisans now are getting old. An effort
Through this foundation, indeed she has found needed to be realized is, for example, by introducing
a appropriate vehicle to struggle for preserving, batik knowledge as a compulsary course in school
protecting, developing and promoting Indonesian curriculum.
batik, at once encouraging Indonesian batik to be “So, following the international recognition
an industry with high value-added. by UNESCO, we must not be silent. We should

B
“At first I wondered to myself whether I am be actively preserve and develop national batik so
ecause, most of her time has now been able to carry out the stakeholder’s mandate, since I that we can maintain that recognition, “said Jultin
devoted to the development of Indonesian felt my knowledge of batik in detail is still limited. which stores more than 600 collections of batik.
batik. However, in order to totally support my husband, On November 24, 2012 Jultin launched his book
Her favor to batik has grown since thank God, with learning by doing I have eventually entitled “A World of Batik of Jultin” containing
she was a child. It has grown as Jultin was raised been able to lead the foundation for many decades, the review of West Java batik , her batik collection
in the family engaged in the batik industry. So “said a woman born in Bandung, July 17, 1946. for nearly 20 years.

110 Karya Indonesia Edisi Khusus 2013


Tokoh

bangga menggunakan
PRODUK INDONESIA
Kreasi
Batik
Nusantara

issn: 2303204

K E ME NTERIAN P ERIND USTRIAN


w ww.kemenperin.go .id