Anda di halaman 1dari 19

Nama Uyun Nailatul Mafaz

NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

DIAGRAM ALIR

A. Pembuatan Media Agar

Bahan Media

Dihitung berat yang di butuhkan

Kertas aluminium foil dipotong dan diletakkan diatas timbangan

Timbangan dinolkan

Media diambil secukupnya

Diletakkan diatas kertas aluminium foil

Ditimbang sesuai kebutuhan


Aquades
Dilarutkan dalam Erlenmeyer

Dipanaskan sampai mendidih

Didinginkan di dalam baskom berisi air

Disumbat dengan kertas kapas, dibungkus dengan kertas payung, diikat dengan karet

Disterilkan pada suhu 121°C

Didinginkan dalam baskom berisi air

Dituang dalam cawan petri steril

Diinkubasi di inkubator selama 24 jam

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

B. Pembuatan Media Broth

Bahan media

Dihitung berat yang dibutuhkan

Kertas aluminium foil dipotong dan diletakkan diatas timbangan

Timbangan dinolkan

Media diambil secukupnya

Diletakkan di atas kertas aluminium foil

Ditimbang sesuai kebutuhan


Aquades
Dilarutkan dalam erlenmeyer

Dipanaskan sampai mendidih

Didingkinkan dalam baskom air

Dimasukkan kedalam tabung reaksi

Disumbat dengan kapas, dibungkus kertas payung, dan diikat dengan karet

Disterilisasi pada suhu 121°C

Diinkubasi di inkubator selama 24 jam

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2
DATA HASIL PENGAMATAN

1. Gambarkan hasil pengamatan anda !

Nama Media : APDA Nama Media : PCA


Metode Pembuatan : Media Racik Metode Pembuatan : Media Jadi
Perhitungan: Perhitungan :
15 15
𝑥 39 = 0,058 𝑔𝑟𝑎𝑚 𝑥 23,59 = 0,3589 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000 1000
Keterangan : Kuning bening, tidak Keterangan : Kuning bening, tidak
terkontaminasi terkontaminasi

Nama Media : Pepton


Metode Pembuatan : Media Jadi
Perhitungan :
10
𝑥 15 = 0,15 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
Keterangan : Kuning bening, tidak
terkontaminasi
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

ANALISA PROSEDUR

I. Preparasi
a. Media APDA
Pada preparasi media APDA, hal pertama yang harus dilakukan adalah
menyiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan pada preparasi ini antara lain
timbangan analitik dan aluminium foil. Setelah mempersiapkan alat dan bahan
kemudian menghitung massa yang dibutuhkan dari masing-masing bubuk media
dengan rumus sebagai berikut:
15
𝑥 39 = 0,058 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
Setelah menghitung massa yang dibutuhkan, langkah selanjutnya adalah
memotong aluminium foil berbentuk persegi panjang. Setelah itu, timbang bahan-
bahan yang dibutuhkan menggunakan timbangan analitik sesuai massa yang
dibutuhkan berdasarkan perhitungan. Sebelum melakukan penimbangan, tempat untuk
menimbang bahan harus dibersihkan terlebih dahulu agar debu dan kotoran tidak
mengganggu proses penimbangan sehingga penimbangan menjadi akurat. Langkah
selanjutnya adalah mengalibrasi timbangan analitik. Kalibrasi bertujuan untuk
memastikan validitas atau keakuratan timbangan. Caranya adalah letakkan aluminium
foil di atas tempat menimbang bahan. Tunggu beberapa saat hingga penimbangan
sudah stabil (ditandai dengan angka yang sudah tidak berubah-ubah), kemudian tekan
tombol kalibrasi “Cal”. Setelah angka pada timbangan analitik menunjukkan angka 0,
letakkan sedikit demi sedikit bubuk media ke atas aluminium foil tersebut sambil
melihat angka pada timbangan. Apabila sudah menunjukkan massa yang dibutuhkan,
angkat bubuk media di atas aluminium tersebut, bungkus media tersebut dengan
melipat-lipat aluminium foil dengan rapat, dan beri nama sesuai nama bahan yang
terdapat di dalam bungkusan tersebut dengan menggunakan label.
b. Media PCA
Pada preparasi media PCA, hal pertama yang harus dilakukan adalah
menyiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan pada preparasi ini antara lain
timbangan analitik dan aluminium foil. Setelah mempersiapkan alat dan bahan
kemudian menghitung massa yang dibutuhkan dari masing-masing bubuk media
dengan rumus sebagai berikut:
15
𝑥 23,59 = 0,3589 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000

Setelah menghitung massa yang dibutuhkan masing-masing bubuk media,


langkah selanjutnya adalah memotong aluminium foil berbentuk persegi panjang.
Setelah itu, timbang bahan-bahan yang dibutuhkan menggunakan timbangan analitik
sesuai massa yang dibutuhkan berdasarkan perhitungan. Sebelum melakukan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

penimbangan, tempat untuk menimbang bahan harus dibersihkan terlebih dahulu agar
debu dan kotoran tidak mengganggu proses penimbangan sehingga penimbangan
menjadi akurat. Langkah selanjutnya adalah mengalibrasi timbangan analitik. Kalibrasi
bertujuan untuk memastikan validitas atau keakuratan timbangan. Caranya adalah
letakkan aluminium foil di atas tempat menimbang bahan. Tunggu beberapa saat
hingga penimbangan sudah stabil (ditandai dengan angka yang sudah tidak berubah-
ubah), kemudian tekan tombol kalibrasi “Cal”. Setelah angka pada timbangan analitik
menunjukkan angka 0, letakkan sedikit demi sedikit bubuk media ke atas aluminium
foil tersebut sambil melihat angka pada timbangan. Apabila sudah menunjukkan massa
yang dibutuhkan, angkat bubuk media di atas aluminium tersebut, bungkus media
tersebut dengan melipat-lipat aluminium foil dengan rapat, dan beri nama sesuai nama
bahan yang terdapat di dalam bungkusan tersebut dengan menggunakan label.
c. Media Pepton
Pada preparasi media pepton, hal pertama yang harus dilakukan adalah
menyiapkan alat dan bahan. Alat yang digunakan pada preparasi ini antara lain
timbangan analitik dan aluminium foil. Setelah mempersiapkan alat dan bahan
kemudian menghitung massa yang dibutuhkan dari masing-masing bubuk media
dengan rumus sebagai berikut:
10
𝑥 15 = 0,15 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000

Setelah menghitung massa yang dibutuhkan masing-masing bubuk media,


langkah selanjutnya adalah memotong aluminium foil berbentuk persegi panjang.
Setelah itu, timbang bahan-bahan yang dibutuhkan menggunakan timbangan analitik
sesuai massa yang dibutuhkan berdasarkan perhitungan. Sebelum melakukan
penimbangan, tempat untuk menimbang bahan harus dibersihkan terlebih dahulu agar
debu dan kotoran tidak mengganggu proses penimbangan sehingga penimbangan
menjadi akurat. Langkah selanjutnya adalah mengalibrasi timbangan analitik. Kalibrasi
bertujuan untuk memastikan validitas atau keakuratan timbangan. Caranya adalah
letakkan aluminium foil di atas tempat menimbang bahan. Tunggu beberapa saat
hingga penimbangan sudah stabil (ditandai dengan angka yang sudah tidak berubah-
ubah), kemudian tekan tombol kalibrasi “Cal”. Setelah angka pada timbangan analitik
menunjukkan angka 0, letakkan sedikit demi sedikit bubuk media ke atas aluminium
foil tersebut sambil melihat angka pada timbangan. Apabila sudah menunjukkan massa
yang dibutuhkan, angkat bubuk media di atas aluminium tersebut, bungkus media
tersebut dengan melipat-lipat aluminium foil dengan rapat, dan beri nama sesuai nama
bahan yang terdapat di dalam bungkusan tersebut dengan menggunakan label.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

II. Prosedur Pembuatan


1. Proses Pembuatan Media APDA
Dalam membuat medium APDA alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain bubuk
PDA, pengaduk kaca, kapas, kertas payung, autoklaf, karet, erlenmeyer, cawan petri, pipet
tetes, bunsen, korek api, alkohol 70%, aquades, dan asam tartarat. Pengaduk kaca
digunakan untuk mengaduk/melarukan bubuk dengan aquades didalam gelas beker. Pipet
tetes untuk menuangkan asam tartarat setelah di autoklaf dan sebelum dituangkan ke cawan
petri. Kapas dan kertas payung digunakan untuk menyumbat mulut Erlenmeyer pada saat
akan di autoklaf. Karet digunakan untuk mengikat pada kapas dan kertas payung yang
sudah di bungkus. Erlenmeyer digunakan untuk meletakkan larutan yang akan di autoklaf.
Cawan petri digunakan untuk menuangkan larutan yang sudah di autoklaf dari erlenmeyer.
Bunsen untuk membantu memanaskan.
Setelah mengetahui massa bubuk media yang dibutuhkan yaitu 0,058 gram PDA,
tambahkan 15 ml aquades ke dalam gelas beker dan dilarutkan bubuk dengan
menggunakan pengaduk, lalu dipindahkan ke erlenmeyer untuk dipanaskan. Setelah
dingin, sumbat erlenmeyer menggunakan kapas dengan rapat dilanjutkan dengan
membungkusnya dengan kertas payung serta mengikatnya dengan karet. Kemudian
disterilisasi menggunakan autoklaf dengan suhu 1210C dan tekanan 1 atm selam 15 menit.
Sterilisasi bertujuan untuk mematikan mikroba sehingga media steril dari mikroba. Setelah
itu, tuang larutan media ke cawan petri. Sebelum melakukan penuangan, tambahkan asam
tartarat sebanyak 2-3 tetes. Praktikan harus melakukan aseptis diri dan lingkungan dengan
cara menyemprotkan alkohol ke pergelangan tangan dan meratakannya sampai punggung
tangan (seluruh permukaan tangan) serta dengan menyemprotkan alkohol ke meja kerja
dan dilap dengan tisu secara searah. Pada saat media akan dituangkan ke dalam cawan
petri, mula-mula satu tangan memegang cawan petri sambal diputar-putar di dekat api
bunsen, sementara tangan yang lain memegang erlenmeyer dan memanaskan mulut
erlenmeyer di api bunsen. Pastikan kapas tidak diletakkan di meja saat dilepas dari mulut
erlenmeyer tetapi diselipkan di antara jari-jari tangan agar tidak terkontaminasi. Setelah
seluruh bagian pinggir cawan petri dan mulut erlenmeyer sudah terkena panas seluruhnya,
cawan petri dibuka dengan jari dan larutan media dituangkan dari erlenmeyer ke cawan
petri dengan cepat. Dalam melakukan penuangan tersebut, pastikan peralatan tetap di dekat
api untuk mencegah adanya kontaminan. Setelah larutan tertuang ke dalam cawan petri,
tutup cawan petri tetapi masih diberi sedikit ruang terbuka hingga larutan di dalam cawan
petri tersebut tidak panas (mendingin). Setelah agak dingin, tutup cawan dengan rapat dan
tunggu hingga larutan media berubah menjadi gel. Setelah berubah menjadi gel, bungkus
cawan petri menggunakan kertas payung dan karet dengan cara dan metode yang sama
ketika saat cawan petri akan disterilisasi. Jika sudah selesai dibungkus, beri nama
kelompok pada label yang ditempelkan pada bungkusan cawan petri tersebut kemudian
simpan cawan petri tersebut di dalam ruang laf selama kurang lebih 24 jam.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

2. Proses Pembuatan Media PCA


Dalam membuat medium PCA alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain bubuk
PCA, pengaduk kaca, kapas, kertas payung, autoklaf, karet, erlenmeyer, cawan petri,
bunsen, korek api, alkohol 70%, dan aquades. Pengaduk kaca digunakan untuk
mengaduk/melarukan bubuk dengan aquades didalam gelas beker. Kapas dan kertas
payung digunakan untuk menyumbat mulut erlenmeyer pads saat akan di autoklaf. Karet
digunakan untuk mengikat pada kapas dan kertas payung yang sudah di bungkus.
Erlenmeyer digunakan untuk meletakkan larutan yang akan di autoklaf. Cawan petri
digunakan untuk menuangkan larutan yang sudah di autoklaf dari erlenmeyer. Bunsen
untuk membantu memanaskan.
Setelah mengetahui massa bubuk media yang dibutuhkan yaitu 0,3589 gram PCA,
tambahkan 15 ml aquades ke dalam gelas beker dan dilarutkan dengan menggunakan
pengaduk Lalu dipindahkan ke Erlenmeyer untuk dipanaskan. Setelah dingin, sumbat
erlenmeyer menggunakan kapas dengan rapat dilanjutkan dengan membungkusnya dengan
kertas payung serta mengikatnya dengan karet. Kemudian disterilisasi menggunakan
autoklaf dengan suhu 1210C dan tekanan 1 atm selam 15 menit. Sterilisasi bertujuan untuk
mematikan mikroba sehingga media steril dari mikroba. Setelah itu, tuang larutan media
ke cawan petri. Sebelum melakukan penuangan, praktikan harus melakukan aseptis diri
dan lingkungan dengan cara menyemprotkan alkohol ke pergelangan tangan dan
meratakannya sampai punggung tangan (seluruh permukaan tangan) serta dengan
menyemprotkan alkohol ke meja kerja dan dilap dengan tisu secara searah. Pada saat media
akan dituangkan ke dalam cawan petri, mula-mula satu tangan memegang cawan petri
sambal diputar-putar di dekat api bunsen, sementara tangan yang lain memegang
erlenmeyer dan memanaskan mulut erlenmeyer di api bunsen. Pastikan kapas tidak
diletakkan di meja saat dilepas dari mulut erlenmeyer tetapi diselipkan di antara jari-jari
tangan agar tidak terkontaminasi. Setelah seluruh bagian pinggir cawan petri dan mulut
erlenmeyer sudah terkena panas seluruhnya, cawan petri dibuka dengan jari dan larutan
media dituangkan dari erlenmeyer ke cawan petri dengan cepat. Dalam melakukan
penuangan tersebut, pastikan peralatan tetap di dekat api untuk mencegah adanya
kontaminan. Setelah larutan tertuang ke dalam cawan petri, tutup cawan petri tetapi masih
diberi sedikit ruang terbuka hingga larutan di dalam cawan petri tersebut tidak panas
(mendingin). Setelah agak dingin, tutup cawan dengan rapat dan tunggu hingga larutan
media berubah menjadi gel. Setelah berubah menjadi gel, bungkus cawan petri
menggunakan kertas payung dan karet dengan cara dan metode yang sama ketika saat
cawan petri akan disterilisasi. Jika sudah selesai dibungkus, beri nama kelompok pada label
yang ditempelkan pada bungkusan cawan petri tersebut kemudian simpan cawan petri
tersebut di dalam ruang laf selama kurang lebih 24 jam.
3. Proses pembuatan pepton
Dalam membuat medium pepton alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain bubuk
pepton, pengaduk kaca, kapas, kertas payung, autoklaf, karet, erlenmeyer, tabung reaksi,
cawan petri, pipet ukur, alkohol 70%, dan aquades. Pengaduk kaca digunakan untuk
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

mengaduk/melarukan bubuk dengan aquades didalam gelas beker. Kapas dan kertas
payung digunakan untuk menyumbat mulut tabung reaksi. Erlenmeyer digunakan untuk
melarutkan dan memindahkan larutan pepton ke tabung reaksi. Karet digunakan untuk
mengikat tabung reaksi pada kapas dan kertas payung yang sudah di bungkus.
Setelah mengetahui massa bubuk media yang dibutuhkan yaitu 0,15 gram pepton,
tambahkan 10 ml aquades ke dalam erlenmeyer dan dilarutkan dengan menggunakan
pengaduk Lalu dipindahkan ke tabung reaksi dan dipanaskan. Setelah itu sumbat tabung
reaksi menggunakan kapas dengan rapat dilanjutkan dengan membungkusnya dengan
kertas payung serta mengikatnya dengan karet. Kemudian disterilisasi menggunakan
autoklaf dengan suhu 1210C dan tekanan 1 atm selam 15 menit. Sterilisasi bertujuan untuk
mematikan mikroba sehingga media steril dari mikroba. Setelah itu ambil tabung reaksi
dari autoklaf
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

ANALISA HASIL

1. Media APDA
Potato Dextrose Agar (PDA) merupakan media padat, yaitu media yang
mengandung agar sehingga setelah dingin media tersebut akan menjadi padat. PDA
digunakan untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dapat juga
digunakan untuk enumerasi yeast dan kapang dalam suatu sampel atau produk
makanan. PDA cocok untuk pertumbuhan jamur. PDA mengandung sumber
karbohidrat dalam jumlah cukup yaitu terdiri dari 20% ekstrak kentang dan 2% glukosa
sehingga baik untuk pertumbuhan kapang dan khamir tetapi kurang baik untuk
pertumbuhan bakteri. Apabila PDA ditambahkan asam tartarat menjadi APDA (Acid
Potato Dextrose Agar). Adanya asam tartarat dan pH rendah maka pertumbuhan bakteri
terhambat. Pada percobaan pembuatan media ini, didapatkan hasil berupa media
berwarna kuning bening dan tidak terkontaminasi. Hal-hal tersebut menandakan bahwa
pembuatan media APDA ini sudah sesuai dengan literature (Dina, 2011). Perhitungan
massa yang dibutuhkan dari bubuk media dengan rumus sebagai berikut:
15
𝑥 39 = 0,058 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
2. Media PCA
Pate Count Agar (PCA) merupakan media padat, yaitu media yang mengandung
agar sehingga setelah dingin media tersebut akan menjadi padat. Penggunaan Plate
Count Agar (PCA) sebagai media untuk menghitungjumlah total dari bakteri.
Komposisi Plate Count Agar (PCA) dapat bervariasi, tetapi biasanya mengandung :
0,5% trypton, 0,25% ekstrak ragi, 0,1% glukosa, 1,5% agar-agar. Plate Count Agar
(PCA) mengandung glukosa dan ekstrak ragi yang digunakan untuk menumbuhkan
semua jenis bakteri. Pada percobaan pembuatan media ini, didapatkan hasil berupa
media berwarna kuning bening dan tidak terkontaminasi. Hal-hal tersebut menandakan
bahwa pembuatan media PCA ini sudah sesuai dengan literature (Dina, 2011).
Perhitungan massa yang dibutuhkan dari bubuk media dengan rumus sebagai berikut:
15
𝑥 23,59 = 0,3589 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
3. Media Pepton
Pepton merupakan media cair, yaitu bila ke dalam media tidak ditambahkan zat
pemadat. Umumnya dipergunakan untuk pembiakan mikroalgae, kadang-kadang
bakteri dan ragi. Pada percobaan pembuatan media ini, didapatkan hasil berupa media
berwarna kuning bening dan tidak terkontaminasi. Hal-hal tersebut menandakan bahwa
pembuatan media pepton ini sudah sesuai dengan literature (Dina, 2011). Perhitungan
massa yang dibutuhkan dari bubuk media dengan rumus sebagai berikut:
10
𝑥 15 = 0,15 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

PEMBAHASAN

1. Mengapa media mikroorganisme harus steril? Apa yang terjadi bila media mikroorganisme
tidak disterilisasi?

Media mikroorganisme harus dalam keadaan steril untuk menghindari adanya


kontaminan yang dapat mengganggu pertumbuhan mikroorganisme didalamnya. Jika
pertumbuhan mikroorganisme terhambat oleh adanya kontaminan, maka kualitas hasil
dari percobaan tersebut akan menurun. Pada saat penelitian, media harus steril supaya
mikroba yang diamati adalah benar-benar mikroba murni tanpa adanya kontaminan. Jika
terdapat kontaminan, maka mikroba kontaminasi akan mendominasi media dan
menyerap nutrisi yang ada pada media sehingga mikroba biakan akan mati. Selain itu,
jika medium tidak disterilkan terlebih dahulu, maka akan menyebabkan bakteri tumbuh
dan menyebabkan kekeruhan medium, sehingga sulit untuk mengetahui perubahan yang
terjadi pada media. Karena pada dasarnya adalah apabila ingin menumbuhkan kultur
murni, maka media dan alat yang digunakan harus steril agar kultur yang diinginkan
tumbuh dan kultur pengganggu bisa diminimalisir bahkan tidak akan tumbuh
(Ardiansyah, 2008).

2. Apakah semua jenis media harus disterilisasi dengan autoklaf? Beri contoh media yang
tidak disterilisasi dengan autoklaf! Jelaskan alasan anda!

Tidak semua jenis media harus disterilisasi dengan autoklaf. Ada beberapa media yang
cukup hanya dididihkan saja untuk mendapatkan kesterilannya. Media ini yaitu VRBA.
Apabila VRBA ini dipanaskan dengan suhu 121oC selama 15 menit, akan merusak
komposisi bahan tersebut. VRBA mengandung yeast ekstrak, pepton, empedu, glukosa,
NaCl, agar, kristal violet, serta neutral red. Bahan bahan ini tidak tahan terhadap panas.
Selain itu, autoklaf merupakan metode yang tidak cocok untuk mensterilkan minyak.
Produk yang dibuat dengan bahan dasar minyak atau bahan-bahan lain yang mempunyai
sedikit lembab atau tidak sama sekali. Media-media yang tidak tahan terhadap panas
seperti vitamin dan antibiotik juga tidak boleh disterilisasi dengan autoklaf karena jika
media-media tersebut dikenai suhu panas akan menyebabkan denaturasi (kerusakan)
yang akan menghilangkan kandungan nutrisi pada media itu sendiri (Waluyo, 2008).

3. Bagaimana cara memastikan bahwa media hasil sterilisasi tidak terkontaminasi oleh
mikroorganisme?

Pada umumnya sterilisasi media menggunakan autoklaf dengan tekanan 1 atm dan suhu
121ºC selama kurang lebih 15 menit untuk membunuh mikroorganisme dan endospora
yang masih ada. Tetapi, untuk memastikan tidak adanya kontaminan pada media hasil
sterilisasi bisa dilakukan dengan cara menyimpan media yang sudah disterilisasi di dalam
ruang penyimpanan media ber-AC (suhu 24°-26°C) selama 3 hari sebelum digunakan.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Setelah tiga hari disimpan maka bisa dilihat bahwa media yang steril tidak akan
ditumbuhi mikroba atau jamur, sedangkan media yang terkontaminasi pasti akan terdapat
mikroba atau jamur yang tumbuh pada media tersebut yang juga dapat dilihat dari ada
tidaknya perubahan warna pada media (Dina, 2011).

4. Jelaskan perbedaan media diperkaya, media selektif dan media diferensial! Sebutkan pula
contoh dan kegunaannya!

Ketiganya memiliki komponen dasar yang dibutuhkan pada media untuk pertumbuhan
mikroba tapi pada masing-masing media memiliki fungsi yang berbeda.
 Media diperkaya
Media diperkaya adalah media yang ditambahkan zat-zat tertentu misalnya serum darah,
ekstrak tumbuhan dan lain-lain sehingga dapat digunakan untuk menumbuhkan mikroba
heterotrof digunakan untuk memberikan kesempatan terhadap suatu jenis/kelompok
mikroba untuk berkembang lebih cepat dari yang lainnya yang bersama dalam satu
sampel. Media diperkaya diperlukan untuk organisme yang memerlukan makanan
tambahan. Media diperkaya juga bersifat selektif untuk mikroba tertentu. Mikroba yang
ditumbuhkan dalam media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi sederhana untuk
berkembang biak, tetapi membutuhkan komponen kompleks, misalkan pada media
kaldu selenit/kaldu tetrationat dalam waktu 18-22 jam mikroba lain akan
terhambat/terhenti pertumbuhannya sedangkan Salmonella akan tetap hidup. Bile agar
merupakan sumber karbohidrat bagian enterobactericeae seperti e coli namun
menghambat bakteri gram positif (Ardiansyah, 2008).
 Media selektif
Media selektif adalah medium yang sengaja ditambahkan zat tertentu yang bersifat
selektif untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain, misalnya medium yang
mengandung kristal violet pada kadar tertentu dapat mencegah pertumbuhan gram
positif tanpa mempengaruhi gram negatif. Luria Bertani medium yang ditambahkan
Amphisilin untuk merangsang E.coli resisten antibiotik dan menghambat kontaminan
yang peka ampiciline, serta media VRBA yang mengandung empedu untuk sumber
karbohidrat gram negatif antara lain enterobactericeae dan menghambat gram negatif
(Ardiansyah, 2008).
 Media diferensial
Media diferensial adalah media yang ditambahkan reagen/zat kimia tertentu yang
menyebabkan suatu mikroba membentuk pertumbuhan atau mengadakan perubahan
tertentu sehingga dapat untuk membedakan bakteri himolitik dan non himolitik.
Pembedanya berdasarkan hasil metabolit yang muncul berbeda warna.
Contohnya adalah EMBA yang mengandung laktosa untuk menumbuhkan
mikroorganisme yang memfermentasi laktosa untuk menumbuhkan organisme yang
memfermentasi laktosa, bagi yang dapat memfermentasi laktosa seperti bakteri coliform
akan menghasilkan perubahan warna yaitu hijau metalik pada coliform fekal misalnya
E.Coli dan berwarna merah muda pada coliform non fekal misalnya E. Aerogenes dam
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

nerwarma transparan pada mikroorganisme yang tidak dapat memfermentasi laktosa


(Ardiansyah, 2008).

5. Mengapa pada prosedur pour plate, suhu media agar yang akan digunakan tidak boleh
melebihi 50oC? Jelaskan!

Karena pada metode pour plate, media yang digunakan berbentuk cair sehingga jika
dipanaskan dengan suhu yang tinggi akan merusak nutrisi-nutrisi yang ada di media tersebut
sehingga tidak bisa digunakan untuk menumbuhkan mikroba. Jika suhu yang digunakan
diatas 50ºC, mikroba/bakteri akan mengalami kerusakan atau bahkan mati pada mikroba
yang tidak tahan panas/suhu tinggi. Selain itu, jika agar memadat akan terjadi kondensasi
yang berlebihan pada cawan pentri serta mempercepat pembekuan agar. Suhu harus diatur
sesuai dengan suhu optimal media agar yang dibuat. Jika suhu melebihibatas optimal, maka
media agar yang digunakan akan berbentuk cairan serta merusak nutrisi yang terkandung
pada media. Apabila suhu dikondisikan dibawah suhu optimal, maka agar akan
menggumpal dan tidak dapat dituang. Oleh karena itu, suhu harus selalu dijaga agar media
tidak memadat dan mikroba bisa diratakan pada cawan (Lay, 2010)

6. Mengapa pada media APDA ditambahkan larutan asam tartarat konsentrasi 10%? Jelaskan
hubungannya dengan pertumbuhan mikroorganisme!

Asam tartarat memiliki fungsi sebagai pengatur pH sehingga dengan penambahan asam
tartarat kedalam media nantinya akan membantu untuk menjaga agar pH berada di
kisaran toleransi mikroba yang dibiakan sehingga mikroba biakan akan tumbuh dengan
baik. Nilai pH akan mempengaruhi pertumbuham mikroorganisme. Mikroorganisme
yang hidup di lingkungan pH yang tidak sesuai akan sulit untuk tumbuh optimal, oleh
karena itu media yang digunakan harus memiliki pH yang sesuai. Di dalam media APDA,
mikroorganisme yang akan ditumbuhkan adalah khamir dan yeast. Dengan penambahan
asam tartarat ini, suasana media akan menjadi asam, karena khamir dan yeast akan
tumbuh lebih baik pada suasana asam dengan kisaran pH antara 3,5 hingga 4 (tahan
asam). Penambahan asam ini juga digunakan untuk mencegah tumbuhnya bakteri supaya
tidak ikut tumbuh di dalam media, dimana pH bakteri sekitar 6,5-7 (Dina, 2011).

7. Sebutkan macam-macam dan konsentrasi larutan pengencer yang saudara ketahui!


Sebutkan pula fungsi larutan pengencer tersebut!

- Akuades
Akuades berfungsi untuk mempertahankan isotonis larutan agar sel tidak lisis
(Nufailah, 2009).
- Pepton
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Pepton berfungsi sebagai penyedia nutrisi karena mengandung protein, melarutkan


beef ekstrak, dapat melarutkan agar, serta mencegah kematian bakteri selama proses
pertumbuhan dan perkembangan bakteri (Nufailah, 2009).
- Larutan buffer fosfat
Larutan buffer fosfat berfungsi untuk menyeimbangkan pH media agar sel
mikroorganisme tidak mengalami kerusakan akibat naik/turunnya pH (Nufailah, 2009).
- NaCl 8,85%
NaCl berfungsi sebagai pengencer pada perhitungan koloni jamur dan peralatan yang
digunakan seperti autoklaf (Nufailah, 2009).
- Alkaline peptone water
Alkaline peptone water adalah media pengencer yang digunakan untuk menumbuhkan
bakteri, NaCO3 yang bersifat basa sebagai pengatur Ph media 8,5-9,5, serta berperan
dalam menjaga tekanan osmotik media (Nufailah, 2009).
- KH2PO4 atau kalium monohidrogen fosfat
Kalium monohidrogen fosfat memiliki senyawa kalium dan fosfat yang sangat berguna
untuk pemberian nutrisi pada sel mikroorganisme (Nufailah, 2009).

8. Bagaimana mekanisme kerja senyawa kimia penghambat pertumbuhan mikroorganisme


yang terdapat pada media selektif ?

Media ini selain mengandung nutrisi juga ditambah suatu zat tertentu sehingga media
tersebut dapat menekan pertumbuhan mikroba lain dan merangsang pertumbuhan
mikroba yang diinginkan juga dapat menandai adanya hasil reaksi enzimatis sehingga
terbetuk warna atau fluoresensi sehingga media tersebut lebih spesifik lagi. Contohnya
adalah Luria Bertani medium yang ditambah Amphisilin untuk merangsang E. Coli
resisten antibotik dan menghambat kontaminan yang peka, Ampiciline Salt broth yang
ditambah NaCl 4% untuk membunuh Streptococcus agalactiae yang toleran terhadap
garam (Lay, 2010).

9. Menurut saudara, apa perbedaan makronutrien dan mikronutrien mikroorganisme?


Sebutkan pula contoh dan peranannya!

Makronutrien adalah nutrisi-nutrisi yang diperlukan organisme dalam jumlah besar untuk
pertumbuhannya, dibutuhkan untuk pembentukan struktur sel dan metabolisme sel, serta
dapat menghambat pertumbuhan atau bahkan letal jika nutrisi ini tidak tercukupi
(Nufailah, 2009).
Contoh dan peranan makronutrient adalah sebagai berikut (Nufailah, 2009):
- Phosphor (P) digunakan untuk sintesis pada asam nukleat phospholipida
- Sulfur(S) digunakan untuk sintesis asam amino yaitu sistein, methionine
- Magnesium (Mg) digunakan untuk stabilisasi membran, ribosom
- Kalsium(Ca) digunakan untuk stabilitas dinding sel Endospora terhadap panas
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

- Sodium (Na) digunakan untuk pertumbuhan bakteri halofilik


- Zat besi (Fe) merupakan komponen sitokrom pada sistem respirasi
- Potasium diguakan dalam sintesis protein semua organisme
- Karbon (C) berikatan dengan O (oksigen) dan hidrogen membentuk karbohidrat
sebagai sumber energi.
- Protein sebagai zat yang membantu pertumbuhan sel.
- Sulfur (S), membantu sintesis asam amino dan merupakan unsur penyusun vitamin.
Mikronutrien adalah nutrisi-nutrisi yang hanya sedikit diperlukan mikroorganisme untuk
pertumbuhannya, dibutuhkan untuk membantu kerja enzim, serta mikroorganisme masih
dapat hidup apabila nutrisi ini tidak tercukupi (Nufailah, 2009).
Contoh dan peranan mikronutrient adalah sebagai berikut (Nufailah, 2009):
- Boron (B) berfungsi sebagai antibiotik poliketid
- Manganase (Mn) sebagai aktifator kebanyakan enzim.
- Cobalt (Co) membantu proses ttranskarboksilase dan merupakan penyusun vitamin
B12.

10. Jelaskan peranan media selektif untuk pertumbuhan mikroorganisme! Apa saja aplikasi dari
media selektif pada bidang pangan?

Media selektif atau media penghambat adalah media yang ditambah zat kimia
tertentu yang bersifat selektif berperan untuk mencegah pertumbuhan mikroba lain
sehingga dapat mengisolasi mikroba tertentu. Peranan media selektif sangat penting
karena dapat mempercepat pertumbuhan kultur murni yang diinginkan dengan
menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain yang dapat mengganggu kultur murni
(Herritage, 2007).
Aplikasi pada bidang pangan adalah pada pengujian sampel makanan untuk
menguji mikroba perusak bahan pangan dan bisa juga untuk fermentasi. Fermentasi
terdeteksi oleh perubahan warna dan pengendapan pH pewarna seperti tetes. Aplikasi
lainnya dalam bidang pangan yaitu untuk mengetahui mikroba penyebab kerusakan dan
keracunan makanan. Misalnya pada MSA, koloni Staphylococcus aureus akan berbentuk
cembung, berwarna kuning dan warna media berubah menjadi bening. Pada TCBS agar
yang mengandung vibrio cholerae akan tampak koloni besar (2-3 mm), halus, kuning,
datar (agak pipih), bagian tengah keruh dan disekelilingnya transluceus di bawah
mikroskop (Herritage, 2008).

11. Bagaimana seorang analis mikrobiologi menentukan tingkat pengenceran atau dilusi suatu
sampel dan pengenceran mana yang akan ditanam ke dalam media pada cawan? Jelaskan!

Tujuan dari teknik ini pada prinsipnya adalah untuk melarutkan atau melepaskan
mikroba dari substratnya ke dalam air sehingga lebih mudah penanganannya. Teknik
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

pengenceran sangat penting di dalam analisa mikrobiologi. Karena hampir semua metode
perhitungan jumlah sel mikroba mempergunakan teknik ini, seperti TPC (Total Plate
Count). Analis mikrobiologi menentukan tingkat pengenceran tergantung kepada
perkiraan jumlah mikroba dalam sampel. Contoh dengan jumlah mikroba terbaik
sehingga mudah diamati yaitu antara 30 sampai 300 sel mikroba tiap ml. Jika di bawah
30 maka menunjukkan bahwa pengenceran terlalu tinggi sehingga jumlah mikroba yang
ada hanya sedikit, sementara jika di atas 300 maka menunjukkan bahwa pengenceran
terlalu rendah sehingga jumlah mikroba terlalu banyak. Pengenceran biasanya dilakukan
dengan perbandingan 1:10, 1:100, dan 1:1000 dan seterusnya. Pengenceran yang baik
untuk media pada cawan petri adalah pengenceran dengan perbandingan 1:10 (Lay,
2010).

12. Pengujian total mikroorganisme pada produk keju dilakukan pada suhu 30oC selama 3 hari.
Apakah suhu inkubasi tersebut sudah tepat? Mikroba tipe apa yang tidak terdeteksi pada
suhu tersebut? Jelaskan alasan anda!

Sudah, tetapi kurang optimal karena mikroba yang ada dalam keju memerlukan media
yang kaya dan kompleks, paling tidak separuh hasil akhir dari metabolisme karbon adalah
laktat. Suhu pertumbuhan optimal adalah 30–40oC. Cawan seharusnya diinkubasi pada
suhu ruang (30oC) selama 3-5 hari dan siap dilihat morfologinya di mikroskop dengan
perbesaran 200x atau 400x. Bakteri yang tidak terdeteksi pada suhu 30ºC adalah
Moraxella catarrhalis, klasifikasi ilmiahnya (Lay, 2010):
Kerajaan: Bakteri
Filum: Proteobacteria
Kelas: Gammaproteobacteria
Urutan: Pseudomonadales
Keluarga: Moraxellaceae
Genus: Moraxella
Spesies: M. Catarrhalis
Bakteri ini akan terdeteksi mulai suhu 37ºC selama 24 jam. Selain itu, mikroba termofilik
dan psikopil tidak akan terdeteksi karena rentang suhu bakteri termofilik untuk tumbuh
yaitu 40-70ºC dengan suhu optimum 55-60ºC, sedangkan bakteri psikofilik memiliki
rentang suhu antara -5ºC – 20ºC dengan suhu optimum 10ºC sehingga tidak akan
terdeteksi juga (Lay, 2010).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

KESIMPULAN
Tujuan praktikum ini adalah mampu memahami jenis dan fungsi medium bagi
mikroorganisme, mampu melakukan perhitungan kebutuhan media jadi dan racik, mampu
membuat medium jadi dan medium racik.
Media racik adalah pembuatan komposisi media dengan bahan dasar yang terpisah
atau harus diekstrak terlebih dahulu untuk menumbuhkan mikroorganisme dengan kondisi
tertentu. Sementara itu, media jadi adalah media yang telah mengandung komposisi standar
dan banyak dijual oleh perusahaan kimia dengan ciri atau karakter yang dimiliki oleh media
jadi. Prinsip dari media racik dan jadi adalah penimbangan dan pelarutan bahan dengan
aquades yang selanjutnya disterilisasi dan disimpan/didiamkan hingga terbentuk media yang
sesungguhnya sebagai pendukung perkembangbiakan atau perbanyakan
identifikasi/pemeliharaan organisme.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, media racik yang digunakan adalah APDA
yang menghasilkan media agar padat berwarna kekuningan dan tidak terkontaminasi.
Sementara itu, media PCA menghasilkan media agar padat berwarna kekuningan dan tidak
terkontaminasi. Dan media pepton menghasilkan media cair berwarna kekuningan dan tidak
terkontaminasi
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Ardiansyah, 2008. Analisis Mikrobiologi Laboratorium. Pekanbaru: Universitas Riau


Dina, Atikah. 2011. Mikrobiologi Pangan Jilid II. Jakarta: Bumi Aksara
Herritage, J. 2008. Introducy Microbiology. Melbourne: Cambridge University Press
Lay, Santika. 2010. Dasar- dasar Mikrobiologi. Jakarta: Jambatan
Machmud, M. 2008. Teknik Penyimpanan dan Pemeliharaan Mikroba. Bogor: Institut
Pertanian Bogor
Nufailah, Dina. 2009. Uji Aktivitas Anti-Bakteri. Semarang: Universitas Diponegoro.
Waluyo, Lud. 2008. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Komponen Penilaian LKP:


Jenis Penilaian Nilai Nilai yang
Maksimal diperoleh

Diagram Alir 10

Data Hasil Pengamatan 10

Pembahasan laporan 70

Kesimpulan 10

TOTAL 100

Kompetensi Mahasiswa dan Nilai Maksimal Tiap Kompetensi


No Kompetensi Bisa Tidak

1. Mampu menyebutkan beberapa jenis media


pertumbuhan mikroorganisme

2. Mampu membedakan media racik dengan media jadi

3. Mampu mebuat media racik

4. Mampu membuat media jadi

5. Mengetahui faktor konversi masing-masing media yang


dibuat

6. Mampu menghitung dan menimbang kebutuhan media


pertumbuhan mikroorganisme

7. Mampu membuat berbagai media mikoorganisme


dengan benar

8. Mampu menganalisis kesesuaian antara jenis mikroba


dan media pertumbuhannya

9. Mengetahui cara sterilisasi berbagai jenis media

10. Mampu membedakan anatar media selektif dengan


media diferensial

TOTAL 100
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2