Anda di halaman 1dari 10

Nama Uyun Nailatul Mafaz

NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

PEMBAHASAN

1. Jika anda mendapatkan stok kultur murni dari laboratorium mikrobiologi, hal apa saja yang
harus diperhatikan agar stok kultur tidak terkontaminasi ? Jelaskan
Agar kultur murni tidak terkontaminasi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan
antara lain peralatan yang digunakan, medium pertumbuhan, dan lingkungan tempat
percobaan. Peralatan yang akan digunakan harus disterilisasi terlebih dahulu, begitu
juga dengan medium pertumbuhan yang akan digunakan. Medium pertumbuhan harus
dalam keadaan steril dan tertutup agar kontaminan tidak masuk ke dalam medium
pertumbuhan. Jika ingin membuka penutup medium pertumbuhan, harus didekatkan
dengan api bunsen dan jangan biarkan medium pertumbuhan terbuka terlalu lebar dan
terbuka dalam waktu yang terlalu lama untuk mencegah adanya kontaminan yang
masuk. Lingkungan tempat kita melakukan percobaan juga harus dijaga kesterilannya
dengan cara melakukan aseptis diri dan lingkungan menggunakan alkohol 70% sebelum
memulai percobaan (Mahmud, 2008).
2. Mengapa media yang akan digunakan harus disterilisasi terlebih dahulu? Bagaimana cara
sterilisasi media? Jelaskan
Media yang akan digunakan harus dalam keadaan steril agar sampel tidak
terkontaminasi sehingga sampel dapat tumbuh sesuai dengan apa yang diharapkan tanpa
adanya penghambat. Sterilisasi media dapat dilakukan dengan cara dipanaskan dengan
menggunakan kompor listrik. Pemanasan dilakukan untuk menjaga media agar tetap
segar dan baik. Selanjutnya media tersebut dapat disterilisasi menggunakan autoklaf
(Money, 2014).
3. Mengapa sterilisasi dengan suhu tinggi tidak cocok digunakan untuk sterilasi larutan
vitamin dan metode sterilisasi apakah yang cocok? Jelaskan alasan anda
Karena larutan vitamin sensitif terhadap panas. Jika larutan vitamin disterilisasi pada
suhu tinggi, vitamin tersebut akan rusak terutama vitamin yang larut dalam air. Metode
sterilisasi yang cocok untuk larutan vitamin dan larutan jenis lain yang tidak tahan
panas adalah metode filtrasi. Sterilisasi dengan cara filtrasi dilakukan dengan cara
menghilangkan mikroorganisme melalui proses penyaringan. Mikroorganisme tidak
dimatikan tetapi hanya disaring. Larutan vitamin dilewatkan pada filter yang pori-
porinya sangat kecil sehingga hanya larutan vitamin tersebut yang dapat lolos
sementara mikroba tidak bisa lewat (Haryadi, 2010).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

4. Bagaimana teknik sterilisasi jarum ose yang benar ?


Pertama–tama, jarum ose dicelupkan terlebih dahulu ke dalam alkohol 70%. Kemudian,
jarum ose ditiriskan hingga tidak ada alkohol yang menetes. Setelah itu, jarum ose
dipanaskan di atas api bunsen sampai jarum ose menimbulkan bara api. Ulangi langkah-
langkah tersebut hingga jarum ose telah mengalami pencelupan dan pemanasan
sebanyak 3 kali (Ozer, 2014).
5. Bagaimana teknik penggunaan pipet mikro yang benar ? Apakah pipet mikro tersebut perlu
di sterlilisasi terlebih dahulu? Jelaskan jawaban anda.
Pertama–tama tentukan skala pada mikropipet sesuai jumlah kultur yang akan
digunakan untuk diisikan ke mikrotip dengan memutar skala ke kanan. Kemudian
tancapkan mikropipet ke mikrotip yang sudah disterilkan pada beaker glass. Buka kapas
penutup pada beaker glass untuk mengambil mikrotip. Pada saat membuka kapas, tidak
boleh terlalu lebar agar tidak terjadi kontaminasi pada mikrotip yang sudah steril.
Tancapkan mikrotip ke mikropipet, kemudian kencangkan ujung pada mikrotip agar
mikrotip tidak terlepas dari mikropipet. Masukkan mikrotip ke dalam tabung reaksi
yang berisi sampel kultur cair dengan cara menekan dan menahan tombol utama pada
mikropipet sebelum dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu lepaskan perlahan tombol
utama pada mikropipet, sampel kultur cair akan terambil ke dalam mikrotip secara
otomatis sesuai skala yang telah ditentukan sebelumnya. Selanjutnya sampel kultur cair
diinjeksi ke dalam cawan petri yang sudah disterilkan dengan cara menekan tombol
utama pada mikropipet secara perlahan agar cairan di dalam mikrotip dapat diinjeksi ke
dalam cawan petri. Setelah itu lepaskan mikrotip dari mikropipet dengan cara menekan
tombol sekunder pada mikropipet. Mikrotip yang sudah digunakan tidak boleh
diletakkan kembali ke dalam gelas beaker yang berisi mikrotip steril karena dapat
menyebabkan terjadinya kontaminasi pada mikrotip yang masih steril.
Sebelum digunakan, mikropipet perlu disterilkan terlebih dahulu untuk mencegah
adanya kontaminan dengan cara menyemprotkan alkohol 70% pada mikropipet
kemudian dilap menggunakan tisu secara searah hingga kering (Susilowati, 2012).
6. Apabila tidak tersedia pipet mikro, alat apa yang akan saudara siapkan untuk mengambil
sampel kultur cair, secara aseptis ?
Jika di dalam laboratorium tidak tersedia pipet mikro, pengambilan sampel kultur cair
dapat dilakukan menggunakan pipet ukur atau pipet tetes. Penggunaan pipet ukur atau
pipet tetes untuk mengambil sampel kultur cair harus disterilisasi terlebih dahulu
menggunakan autoklaf untuk mencegah terjadinya kontaminasi pada pipet ukur/pipet
tetes (Money, 2014).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

7. Apa perbedaan antara Destruksi dan Sterilisasi. Jelaskan


Destruksi dilakukan setelah praktikum berlangsung. Destruksi dilakukan agar
mikroorganisme hasil percobaan yang akan dibuang tidak berbahaya bagi lingkungan
dengan cara membunuh mikroorganisme hasil percobaan pada suhu 121oC dan tekanan
0,1 mPa selama 10 menit (Rakhmawati, 2013).
Sedangkan sterilisasi dilakukan sebelum praktikum berlangsung. Sterilisasi dilakukan
untuk memusnahkan mikroorganisme pada alat–alat yang akan digunakan agar
percobaan dapat dilakukan dengan lancar tanpa adanya hambatan dari kontaminan.
Sterilisasi dilakukan dengan cara memanaskan alat–alat yang akan digunakan untuk
praktikum pada suhu 121oC dan tekanan 0,1 mPa selama 15 menit (Rakhmawati,
2013).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

ANALISA PROSEDUR

1. Autoklaf
Cara menggunakan autoklaf yang pertama yaitu menyiapkan alat–alat yang akan
disterilisasi dengan autoklaf. Kemudian, untuk beberapa glassware seperti Erlenmeyer, tabung
reaksi, dan cawan petri harus dilakukan beberapa perlakuan terlebih dahulu saat akan
disterilisasi (Erlenmeyer dan tabung reaksi disumbat mulutnya dengan kapas steril lalu
dibungkus dengan kertas payung, sementara cawan petri dibungkus terlebih dahulu dengan
kertas payung). Masukkan peralatan tersebut ke dalam plastik PE, keluarkan udara yang ada
di dalam plastik tersebut, diikat ujung plastik dengan karet gelang, dan letakkan ke dalam
keranjang autoklaf. Cek akuades yang ada di dalam autoklaf. Jika akuades kurang dari tanda
batas (jumlah akuades tidak sampai sejajar/rata dengan bagian yang berlubang-lubang pada
penyanggah keranjang), tambahkan akuades hingga tanda batas tersebut. Penggunaan
akuades/air hasil destilasi yang tidak mengandung mineral lain bertujuan untuk menghindari
terbentuknya kerak dan karat. Masukkan keranjang autoklaf ke dalam autoklaf yang telah
berisi akuades dan silangkan bagian pegangan keranjang agar keranjang mudah diambil saat
autoklaf sudah selesai digunakan. Tutup autoklaf dan kencangkan 2 baut
berseberangan/diagonal secara bersamaan agar penutupan autoklaf dapat dilakukan dengan
seimbang. Buka klep pengaman dan longgarkan baut-baut yang terdapat pada tutup autoklaf
agar uap air yang dihasilkan dapat keluar sedikit. Nyalakan autoklaf dengan menekan tombol
“on” yang terletak pada bagian belakang autoklaf. Atur timer selama 15 menit untuk sterilisasi
dan 10 menit untuk destruksi dengan suhu 121 oC. Tunggu hingga jarum penunjuk tekanan
mencapai 0,1 mPa kemudian klep pengaman ditutup dan baut-baut pada tutup autoklaf
dikencangkan dengan bantuan kain agar tangan tidak langsung terkena panas. Jika alarm telah
berbunyi, matikan autoklaf lalu tunggu tekanan turun (hingga jarum penunjuk tekanan
menunjukkan angka nol). Setelah suhu dan tekanan turun (tekanan sudah 0 mPa), buka baut
penutup autoklaf dengan tetap secara berseberangan/diagonal. Setelah itu tutup autoklaf
dibuka perlahan dari belakang untuk mencegah praktikan terkena uap panas dan sanggah
tutup dari autoklaf tersebut dengan baut pengencang tutup autoklaf. Tunggu hingga kira-kira
uap panas sudah keluar semua dari autoklaf. Setelah itu, keluarkan keranjang yang berisi alat–
alat yang sudah disterilisasi. Jangan meletakkan keranjang diatas lantai karena dapat
menyebabkan alat yang sudah disterilisasi terkontaminasi kembali.
2. Aseptis Diri dan Lingkungan
Sebelum melakukan praktikum, kita harus melakukan aseptis diri dan aseptis
lingkungan terlebih dahulu untuk menjaga kondisi tetap steril. Alat dan bahan yang
dibutuhkan untuk aseptis diri dan lingkungan adalah alkohol 70% dan tisu. Untuk aseptis diri,
hal pertama yang harus dilakukan adalah menyemprotkan alkohol 70% ke telapak tangan.
Kemudian, gosokkan/ratakan alkohol tersebut ke telapak tangan, punggung tangan, hingga ke
sela–sela jari (seluruh permukaan tangan). Untuk aseptis lingkungan, hal pertama yang harus
dilakukan adalah membersihkan/membereskan meja kerja dari segala peralatan. Kemudian,
semprotkan alkohol 70% ke meja kerja tersebut. Setelah itu, lap meja kerja yang sudah
disemprot dengan alkohol 70% tersebut menggunakan tisu hingga kering. Pengelapan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

dilakukan secara satu arah untuk menghindari adanya kontaminan yang tetap menempel pada
meja kerja.
3. Aseptis Cawan Petri
Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan aseptis cawan petri adalah cawan
petri yang akan diaseptis dan api bunsen. Hal pertama yang harus dilakukan adalah
menyalakan api bunsen. Kemudian, cawan petri diaseptiskan dengan cara memanaskan
pinggir–pinggir cawan petri pada api bunsen. Pegang cawan petri menggunakan tangan kiri
dengan 3 jari menahan bagian bawah cawan petri, jari telunjuk untuk memutar cawan petri,
dan ibu jari untuk menahan bagian atas cawan petri. Dekatkan cawan petri pada api bunsen.
Pastikan bagian pinggir cawan petri terkena api bunsen sambil diputar-putar menggunakan
jari telunjuk hingga seluruh bagian pinggir cawan petri telah terkena api bunsen. Jika sudah,
buka tutup cawan petri menggunakan ibu jari dengan jari telunjuk menahan sisi cawan petri
yang lain (hindari membuka cawan petri terlalu lebar untuk menghindari adanya kontaminan
yang dapat masuk), kemudian dekatkan cawan ke api bunsen sambil memasukkan mikroba
yang akan digunakan.
4. Aseptis Tabung Reaksi
Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan aseptis cawan petri adalah tabung
reaksi yang akan diaseptis dan api bunsen. Hal pertama yang harus dilakukan adalah
menyalakan api bunsen. Kemudian, tabung reaksi diaseptis dengan cara memanaskan
pinggir–pinggir (mulut) tabung reaksi pada api bunsen. Pastikan bagian ujung (mulut) tabung
reaksi terkena api bunsen sambil diputar-putar dengan tangan kiri hingga seluruh bagian
ujung (mulut) tabung reaksi telah terkena api bunsen.
5. Aseptis Jarum Ose
Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan aseptis jarum ose adalah jarum ose
yang akan diaseptis, tabung reaksi, alkohol 70%, dan api bunsen. Hal pertama yang harus
dilakukan adalah memasukkan alkohol 70% ke dalam tabung reaksi sampai alkohol pada
tabung reaksi dapat membasahi seluruh bagian logam jarum ose (alkohol dimasukkan dengan
ukuran tingginya sesuai dengan panjang bagian logam jarum ose). Kemudian, celupkan jarum
ose hingga seluruh bagian logam pada jarum ose tercelup di alkohol. Angkat dan tiriskan
jarum ose dari alkohol hingga tidak ada alkohol yang menetes. Setelah itu, jarum ose
dipanaskan di atas api bunsen sampai bagian logam jarum ose menimbulkan bara api secara
keseluruhan. Pastikan seluruh bagian logam jarum ose terkena api bunsen dan menimbulkan
bara api yang tidak hanya di satu titik saja. Setelah itu, diamkan beberapa saat dan celupkan
jarum ose ke dalam alkohol kembali (hindari memasukkan jarum ose saat keadaan masih
terlalu panas untuk menghindari adanya percikan saat memasukkan jarum ose ke alkohol).
Ulangi langkah mencelupkan jarum ose ke alkohol hingga memanaskan jarum ose pada api
bunsen sampai jarum ose telah mengalami pencelupan dan pemanasan sebanyak 3 kali.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

6. Aseptis Spreader
Teknik aseptis spreader sama dengan jarum ose. Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk
melakukan aseptis spreader adalah spreader yang akan diaseptis, beaker glass 100 ml, alkohol
70%, dan api bunsen. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memasukkan alkohol 70% ke
dalam beaker glass 100 ml kira-kira sampai alkohol pada tabung reaksi dapat membasahi
setidaknya 1/5 bagian spreader. Kemudian, celupkan spreader terutama bagian ujungnya ke
dalam alkohol. Angkat dan tiriskan spreader dari alkohol hingga tidak ada alkohol yang
menetes. Setelah itu, spreader dipanaskan di atas api bunsen sampai kira-kira bagian spreader
yang terkena api tersebut (terutama bagian ujungnya) cukup panas. Pastikan setidaknya 1/5
bagian spreader terkena api bunsen secara merata. Setelah itu, diamkan beberapa saat dan
celupkan spreader ke dalam alkohol kembali (hindari memasukkan spreader saat keadaan
masih terlalu panas untuk menghindari adanya percikan saat memasukkan spreader ke
alkohol). Ulangi langkah mencelupkan spreader ke alkohol hingga memanaskan spreader
pada api bunsen sampai spreader telah mengalami pencelupan dan pemanasan sebanyak 3
kali.
7. Aseptis Mikropipet
Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan aseptis mikropipet adalah mikropipet
yang akan diaseptis, alkohol 70%, dan tisu. Hal pertama yang harus dilakukan adalah
menyemprotkan alkohol 70% pada mikropipet. Kemudian, lap mikropipet yang telah
disemprotkan alkohol tersebut menggunakan tisu hingga kering. Pengelapan dilakukan secara
satu arah untuk menghindari adanya kontaminan yang tetap menempel pada mikropipet.
8. Pembungkusan Glassware untuk Sterilisasi
Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan pembungksan glassware untuk
sterilisasi adalah glassware yang akan disterilisasi, sumbat kapas steril, kertas payung, karet,
dan plastik PE. Cara membuat sumbat kapas yang baik adalah lembaran kapas steril disusun,
kemudian bagian-bagian pinggir kapas steril (serabut-serabutnya) dirapihkan. Setelah itu,
bagian ujung-ujung dari kapas dilipat hingga bertemu di bagian tengah kapas lalu digulung
dengan rapih. Tanda bahwa sumbat kapas telah terbentuk dengan rapih dan cukup padat (agar
tidak ada faktor eksternal yang dapat masuk ke dalam glassware tersebut yang dapat
mempengaruhi sterilisasi) untuk menutupi bagian mulut glassware adalah kapas yang sudah
menyumbat mulut glassware apabila ditarik keluar maka akan menghasilkan bunyi dan saat
ditarik tersebut bentuk kapas tetap sama seperti awal. Beberapa glassware yang akan
disterilisasi harus disumbat dengan kapas steril dan dibungkus menggunakan kertas payung
terlebih dahulu.
Untuk tabung reaksi, hal pertama yang harus dilakukan yaitu menyumbat lubang
(mulut) tabung reaksi menggunakan sumbat kapas steril. Tabung reaksi yang ujungnya sudah
disumbat dengan kapas kemudian dibungkus dengan kertas payung. Untuk kertas payung,
bagian yang diletakkan di luar adalah bagian yang permukaannya licin. Bagian luar dari
kertas payung yang permukaanya licin tersebut berfungsi untuk menahan air agar tidak
meresap masuk saat proses sterilisasi berlangsung. Tabung reaksi yang sudah ditutup
menggunakan kapas dan dibungkus dengan kertas payung kemudian diikat menggunakan
karet hingga erat agar kertas payung yang membungkus tabung reaksi tersebut tidak lepas.
Setelah tabung reaksi terbungkus dengan kertas payung dan dieratkan dengan karet, tabung
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

reaksi dimasukkan ke dalam plastik PE kemudian udara yang ada di dalam plastik dikeluarkan
dan plastik PE diikat dengan karet.
Pembungkusan erlenmeyer mirip dengan tabung reaksi, dimana erlenmeyer disumbat dengan
menggunakan kapas. Erlenmeyer yang ujungnya sudah disumbat dengan kapas kemudian
dibungkus dengan kertas payung. Untuk kertas payung, bagian yang diletakkan diluar adalah
bagian yang permukaannya licin. Bagian luar dari kertas payung yang permukaanya licin
berfungsi untuk menahan air agar tidak meresap masuk. Erlenmeyer yang sudah ditutup
menggunakan kapas dan dibungkus dengan kertas payung kemudiandiikat menggunakan karet
hingga erat agar kertas payung yang membungkus erlenmeyer tersebut tidak lepas. Setelah
erlenmeyer terbungkus dengan kertas payung dan dieratkan dengan karet, erlenmeyer
dimasukkan ke dalam plastik PE kemudian udara yang ada di dalam plastik dikeluarkan dan
plastik PE diikat dengan karet.
Pembungkusan pipet ukur dilakukan dengan cara memasukkan pipet ukur ke dalam
plastik PE namun tetap menyisakan sebagian plastik pada kedua ujung untuk kemudian diikat.
Setelah itu, keluarkan udara di dalam plastik PE tersebut dengan memutar pipet ukur yang
sudah berada di dalam plastik secara searah (seperti bungkus permen) sehingga plastik yang
membungkus tersebut seperti menempel pada pipet. Hindari mengeluarkan seluruh udara di
dalam plastik untuk mencegah pecahnya pipet ukur akibat tekanan yang ada saat proses
sterilisasi. Kemudian, ikat kedua ujung plastik yang terdekat dengan kedua ujung pipet
dengan karet hingga erat. Tujuan dari pengikatan dengan karet adalah agar plastik yang
membungkus pipet ukur tersebut tidak lepas/terbuka.
Pembungkusan cawan petri dilakukan dengan cara membungkusnya menggunakan
kertas payung. Letakkan cawan petri secara terbalik pada kertas payung untuk menghindari
adanya pengembunan. Peletakkan cawan petri di atas kertas payung dilakukan dengan bagian
kertas payung yang licin berada di bagian luar. Tujuan dari penggunaan kertas paying di mana
bagian permukaannya yang licin diletakkan di luar adalah untuk menahan air agar tidak
meresap masuk. Cara membungkus cawan petri yang pertama adalah meletakkan cawan petri
tepat di tengah tengah lembaran kertas payung. Kemudian, kedua pinggir dari kertas payung
dilipat ke tengah sehingga saling bertemu. Kedua pinggir yang bertemu tersebut kemudian
dilipat beberapa kali ke salah satu arah (kanan/kiri) untuk mengencangkan pembungkusan.
Ujung-ujung bagian atas dan bawah dari cawan petri kemudian dilipat sehingga membentuk
segitiga lalu bentuk segitiga tersebut dilipat ke arah bawah cawan petri. Setelah itu, cawan
petri yang sudah dibungkus diikat dengan menggunakan karet dengan ikatan silang agar karet
tidak mudah lepas. Cawan petri yang sudah dibungkus dan diikat kemudian dimasukkan ke
dalam plastik PE kemudian udara yang ada di dalam plastik dikeluarkan dan diikat dengan
karet.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

9. Pembungkusan Mikrotip untuk Sterilisasi


Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan pembungkusan mikrotip untuk
sterilisasi adalah mikrotip yang akan disterilisasi, beaker glass, kapas steril, kertas payung,
karet, dan plastik PE. Hal pertama yang harus dilakukan adalah meletakkan kapas steril pada
bagian dasar beaker glass. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya kontak langsung antara
mikrotip dengan beaker glass. Setelah itu, letakkan mikrotip dengan bagian ujung (bagian
runcing) menghadap ke kapas di bawahnya. Kemudian, letakkan kapas steril lagi di bagian
atas mikrotip hingga menutupi seluruh permukaan untuk mencegah adanya faktor luar yang
dapat masuk dan menghambat/mempengaruhi proses sterilisasi. Setelah itu, bungkus bagian
mulut beaker glass menggunakan kertas payung. Untuk kertas payung, bagian yang diletakkan
di luar adalah bagian yang permukaannya licin. Bagian luar dari kertas payung yang
permukaanya licin tersebut berfungsi untuk menahan air agar tidak meresap masuk saat
proses sterilisasi berlangsung. Beaker glass yang sudah ditutup menggunakan kapas dan
dibungkus dengan kertas payung kemudian diikat menggunakan karet hingga erat agar kertas
payung yang membungkus beaker glass tersebut tidak lepas. Setelah beaker glass berisi
mikrotip tersebut terbungkus dengan kertas payung dan dieratkan dengan karet, beaker glass
dimasukkan ke dalam plastik PE kemudian udara yang ada di dalam plastik dikeluarkan dan
plastik PE diikat dengan karet.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

KESIMPULAN
Metode aseptis merupakan sistem cara bekerja dengan menjaga sterilitas saat
menangani pengkulturan mikroorganisme untuk mencegah kontaminasi terhadap kultur
yang diinginkan. Tujuan dari metode aseptis adalah untuk mencegah adanya kontaminasi.
Prinsip dari metode aseptis adalah mencegah adanya mikroba pengontaminasi atau
mempertahankan keadaan steril dengan melakukan aseptis diri menggunakan alkohol 70%
dan aseptis alat menggunakan alkohol 70% dan api bunsen.
Sterilisasi adalah proses untuk mematikan semua organisme pada suatu benda.
Tujuan dari sterilisasi adalah untuk menghilangkan/menghancurkan mikroorganisme
beserta spora dari mikroba patogen sehingga peralatan/media yang akan digunakan terbebas
dari kontaminan. Prinsip dari sterilisasi adalah mematikan semua mikroorganisme yang
terdapat pada alat dengan melibatkan biosidal agen dan proses fisik sehingga mencegah
kontaminasi. Sterilisasi terbagi menjadi 2 yaitu sterilisasi termal dan sterilisasi non termal.
Sterilisasi termal terdiri dari sterilisasi dengan autoklaf, sterilisasi dengan direct flame, dan
sterilisasi dengan oven kering. Sterilisasi non termal terdiri dari sterilisasi dengan metode
filtrasi, sterilisasi dengan bahan kimia, dan sterilisasi dengan metode radiasi. Sebelum
melakukan sterilisasi, peralatan harus diberi perlakuan khusus terlebih dahulu seperti
disumbat dengan kapas, dibungkus dengan kertas payung, dan dimasukkan ke dalam plastik
PE. Perlakuan-perlakuan yang diberikan disesuaikan dengan jenis dan bahan dari alat itu
sendiri.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN


Haryadi, P. 2010. Sterilisasi UHT dan Pengemasan Aseptik. Bogor: Institut Pertanian Bogor
Money, Nicholas P. 2014. Microbiology :A Very Short Introduction. Oxford: Oxfor University
Press
Mahmud, M. 2008. Teknik Peyimpanan dan Pemeliharaan Mikroba. Bogor: Balai Penelitian
Bioteknologi Tanaman Pangan
Ozer, A. 2014. Radiation Sterilization of New Drug Delivery Systems. Ankara: Hacettepe
University
Rakhmawati, A. 2013. Praktik Layanan Kegiatan Praktikum Biologi. Yogyakarta: Universitas
Negeri Yogyakarta
Susilowati. 2012. Metode Sterilisasi. Jayapura: Universitas Cendrawasih