Anda di halaman 1dari 21

Nama Uyun Nailatul Mafaz

NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

DIAGRAM ALIR

Buatlah diagram alir cara melakukan Teknik Isolasi, Kultivasi, dan Preservasi Kultur.

1. Metode Streak Plate Goresan Kuadran

Cawan berisi media

Dibuat pembagian sektor 4 kuadran

Dipijarkan ose

Diambil 1 ose kultur dari agar miring (aseptis)

Digoreskan secara zig-zag dari sektor 2 ke 3 dan 3 ke 4

Cawan petri diberi label

Diinkubasi suhu 30°C 24 jam

Hasil

2. Metode Spread Plate


Sampel Mikroba

Diencerkan

Diambil suspensi sampel 0,1 mL

Diinokulasikan pada cawan yang berisi media agar padat

Diratakan sampel pada permukaan agar dengan spreader

Cawan petri diberi label

Diinkubasi suhu 30°C 24 jam

Hasil

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

3. Metode Pour Plate


Sampel Mikroba
Sampel

Diambil suspensi sampel 1 mL

Diinokulasikan pada cawan petri kosong

Dituangkan media agar steril bersuhu 40-50oC

Diputar cawan mengikuti pola angka delapan

Diinkubasi suhu 30°C 24 jam

Hasil

4. Transfer Kultur dari Tabung Reaksi ke Tabung Reaksi


 Medium Agar Miring ke Medium Agar Miring

Sampel
Ose dipijarkan

Diambil 1 ose kultur dari tabung reaksi media agar miring

Diinokulasikan pada tabung reaksi berisi agar miring secara zig-zag dari bawah ke atas

Diinokulasi suhu 30°C 24 jam

Hasil
 Medium Agar Miring ke Medium Agar Tegak
Hasil

OseSampel
dipijarkan

Diambil 1 ose kultur dari tabung reaksi media agar miring

Diinokulasikan pada tabung reaksi berisi agar tegak dengan menusuk tepat3/4 bagian
dasar media

Diinokulasi suhu 30°C 24 jam


Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Hasil
 Medium Agar Miring ke Medium Broth
Sampel

Ose dipijarkan

Diambil 1 ose kultur dari tabung reaksi media agar miring

Diinokulasikan ke dalam tabung berisi media broth

Diinokulasi suhu 30°C 24 jam

Hasil

5. Teknik Preservasi Kriogenik


Alat dan Bahan

Dibuat larutan stok gliserol konsentrasi 60%

Dimasukkan 0,5 mL kultur dan 0,5 mL gliserol ke dalam tube steril

Divortex

Dibekukan suhu (-80°C)

Hasil
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

DATA HASIL PENGAMATAN

1. Gambarlah bentuk pertumbuhan kultur yang saudara transfer pada agar miring!

Asal Isolat : Lactobacillus casei


Keterangan : Terbentuk koloni bakteri, bebentuk putih, berbentuk
bulat

Asal Isolat : Bacillus Subtilis


Keterangan : Tumbuh dipermukaan, berwarna putih kecoklatan

2. Gambarlah bentuk pertumbuhan kultur yang saudara transfer pada agar tegak!

Asal Isolat : Lactobacillus Casei


Keterangan : Terbentuk koloni bakteri, berwarna putih di dalam
agar, terbentuk di bagian tusuk
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Asal Isolat : Bacillus Subtilis


Keterangan : Tumbuh ditengah dan atas agar yang ditusuk
ose, berwarna putih kecoklatan

3. Gambarlah bentuk pertumbuhan kultur yang saudara transfer pada agar cair!

Asal Isolat : Lactobacillus Casei


Keterangan : Terbentuk koloni bakteri, berwarna putih berada di
dasar, agar bewarna keruh

Asal Isolat : Bacillus Subtilis


Keterangan : Tumbuh di bawah, warna pudar

4. Bandingkan pertumbuhan kultur yang anda lakukan pada agar tegak, agar miring, dan
media cair.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Tipe media yang Nama Media Pertumbuhan Kontaminasi


digunakan (+) atau (-) (+) atau (-)
Agar Tegak MRSA + -
Agar Miring MRSA + -
Broth MRSB + -

Tipe media yang Nama Media Pertumbuhan Kontaminasi


digunakan (+) atau (-) (+) atau (-)
Agar Tegak NA + -
Agar Miring NA + -
Broth NB + -

5. Bahas data yang anda peroleh pada ketiga media yang digunakan!

1. Teknik inokulasi dari medium agar miring ke agar miring dengan


menggunakan media MRSA
 Mikroorganisme: Lactobacillus Casei
Setelah diinkubasi selama 1 hari pada suhu 30ºC dengan teknik inokulasi dari
medium agar miring ke agar miring, dihasilkan Lactobacillus Casei yang
tidak terkontaminasi. Koloninya berwana putih berbentuk bulat yang
memiliki karakteristik pertumbuhan spreading (menyebar) dengan pola zig-
zag yang lebar. Menurut (Curtis, 2009), bakteri tidak terkontaminasi jika tidak
ada mikroorganisme lain yang tumbuh selain kultur yang ingin ditumbuhkan.
Koloni yang dapat tumbuh di permukaan agar tersebut menandakan bahwa
Lactobacillus Casei dapat hidup dan tumbuh dengan adanya oksigen.
 Mikroorganisme: Bacillus Subtilis
Setelah diinkubasi selama 1 hari pada suhu 30ºC dengan teknik inokulasi dari
medium agar miring ke agar miring, dihasilkan Bacillus Subtilis yang tidak
terkontaminasi. Koloninya berwana putih kecoklatan. Menurut (Curtis, 2009),
bakteri tidak terkontaminasi jika tidak ada mikroorganisme lain yang tumbuh
selain kultur yang ingin ditumbuhkan. Koloni yang dapat tumbuh di
permukaan agar tersebut menandakan bahwa Bacillus Subtilis dapat hidup dan
tumbuh dengan adanya oksigen.
2. Teknik inokulasi dari medium agar miring ke agar tegak dengan
menggunakan media MRSA
 Mikroorganisme: Lactobacillus Casei
Setelah diinkubasi selama 1 hari pada suhu 30ºC dengan teknik inokulasi dari medium
agar miring ke agar tegak, dihasilkan Lactobacillus Casei yang tidak terkontaminasi.
Koloninya berwana putih yang memiliki karakteristik terdapat bekas tusukan jarum
ose dinding tabung pada ¾ bagian media agar tegak. Kemampuan koloni untuk hidup
dibuktikan dengan tumbuhnya koloni yang berada di tengah-tengah (dalam) agar
(bukan di permukaan) (Mc Cance, 2014).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

 Mikroorganisme: Bacillus Subtilis


Setelah diinkubasi selama 1 hari pada suhu 30ºC dengan teknik inokulasi dari
medium agar miring ke agar tegak, dihasilkan Bacillus Subtilis yang tidak
terkontaminasi. Koloninya berwana putih kecoklatan yang tumbuh di tengah
dan atas agar yang memiliki karakteristik terdapat bekas tusukan jarum ose
dinding tabung pada ¾ bagian media agar tegak. Kemampuan koloni untuk
hidup dibuktikan dengan tumbuhnya koloni yang berada di tengah-tengah
(dalam) agar (bukan di permukaan) (Mc Cance, 2014).
3. Teknik inokulasi dari medium agar miring ke medium broth dengan
menggunakan media MRSB
 Mikroorganisme: Lactobacillus Casei
Setelah diinkubasi selama 1 hari pada suhu 30ºC dengan teknik inokulasi dari
medium agar miring ke media broth, dihasilkan Lactobacillus Casei yang
tidak terkontaminasi. Koloninya berwana putih yang terbentuk di dasar dan
agar bewarna keruh. Lactobacillus casei adalah genus bakteri gram-positif,
anaerobik fakultatif atau mikroaerofilik. Dengan begitu, Lactobacillus Casei
merupakan mikroba yang bersifat anaerob fakultatif, yaitu mikroorganisme
yang dapat hidup dan tumbuh dengan atau tanpa adanya oksigen (Curtis,
2009).
 Mikroorganisme: Bacillus Subtilis
Setelah diinkubasi selama 1 hari pada suhu 30ºC dengan teknik inokulasi dari
medium agar miring ke media broth, dihasilkan Bacillus Subtilis yang tidak
terkontaminasi. Koloninya berwana pudar dan tumbuh dibawah. Bacillus
subtilis merupakan bakteri yang berbentuk batang yang gram positif bersifat
aerob (Curtis, 2009).

6. Gambar bentuk sel-sel mikroba yang saudara isolasi pada cawan petri dengan pensil warna!

Asal Isolat : L. Casei (Streak Plate)


Keterangan : Tumbuh koloni bakteri di
kuadran 1, tumbuh di dasar
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Asal Isolat : Bacillus Subtilis (Streak Plate)


Keterangan : Banyak tumbuh dikuadran3, berwarna
putih

Asal Isolat : Lactobacillus Casei (Spread Plate)


Keterangan : Tumbuh koloni bakteri tetapi tidak di
seluruh permukaan, tumbuh di dasar

Asal Isolat : Bacillus Subtilis (Spread Plate)


Keterangan : Tumbuh di permukaan, berwarna putih
kecoklatan

Asal isolat : Lactobacillus Casei (Pour Plate)


Keterangan : tumbuh koloni, media berwarna keruh
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Asal Isolat : Bacillus Subtilis (Pour Plate)


Keterangan : tumbuh merata pada seluruh bagian media,
koloni bewarna putih kecoklatan

7. Pilihlah salah satu koloni yang terpisah, jelaskan ciri-ciri nya (lihat Gb. 8 modul praktikum)
dan identifikasi bakteri tersebut.

Bentuk Pertumbuhan Koloni Keterangan


Bentuk dari atas Halus mengkilap Tidak Kontaminasi
Bentuk dari pinggir Entire Tidak Kontaminasi
Bentuk penonjolan Circular Tidak Kontaminasi Bacillus Subtilis
Ukuran koloni Point Tidak Kontaminasi
Warna Koloni Putih Tidak Kontaminasi

Bentuk Pertumbuhan Koloni Keterangan


Bentuk dari atas Berkerut Tidak Kontaminasi
Bentuk dari pinggir Undulate Tidak Kontaminasi Lactobacillus Casei
Bentuk penonjolan Circular Tidak Kontaminasi
Ukuran koloni Point Tidak Kontaminasi
Warna Koloni Putih Tidak Kontaminasi

8. Bahas data yang anda peroleh dilihat dari bentuk pertumbuhan koloninya.
Berdasarkan hasil pengamatan pada media tersebut, 3 media yang digunakan yaitu
dengan kultur L.Casei adalah hasil dari kelompok A2. Sedangkan media dengan kultur
Bacillus Subtilis adalah hasil percobaan dari kelompok A6. Hasil dari percobaan pada
teknik agar miring-agar miring, kultur L. Casei memiliki keadaan terbentuk koloni
berwarna putih dan berbentuk bulat sedangkan Bacillus Subtilis memiliki keadaan
tumbuh dipermukaan dan berwarna putih kecoklatan. Untuk teknik agar miring-agar
kultur L.casei berwarna putih di dalam agar dan terbentuk di bagian yang ditusuk,
sedangkan pada B. Subtilis tumbuh di tengah dan atas agar yang di tusuk ose dan berwarna
putih kecoklatan
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Untuk teknik agar cair-broth kultur dengan L.Casei yang memiliki keadaan berwarna
putih berada di dasar dan agar berwarna keruh, sedangkan B.Subtilis tumbuh dibawah dan
warna pudar. Untuk teknik pada cawan petri yaitu metode streak plate pada L. Casei
menghasilkan koloni bakteri di kuadran 1, sedangkan Bacillus subtlis banyak tumbuh di
kuadran 3 berwarna putih. Untuk metode spread plate pada kultur L.Casei menghasilkan
koloni yang tumbuh di dasar sedangkan pada kultur B. Subtilis tumbuh dipermukaan dan
berwarna putih kecoklatan. Untuk metode pour plate pada kultur L.Casei menghasilkan
koloni bakteri berwarna putih yang terdapat di dasar dan agarnya berwarna keruh, sedangkan
pada kultur B.Subtilis menghasilkan koloni bakteri yang tumbuh dibawah dan berwarna
pudar

9. Kesimpulan apakah yang dapat ditarik dari praktikum ini ?

Prinsip teknik isolasi dan preservasi kultur adalah memisahkan satu jenis
mikroba dengan meikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam
mikroba dengan tujuan memisahkan mikroba dari kultur mikroba campuran sehingga
akan dihasilkan kultur murni. Terdapat beberapa contoh teknik isolasi yaitu teknik
streak plate, spread plate, dan pour plate. Metode kultivasi adalah metoda untuk
melipatgandakan jumlah mikroba dengan membiarkan mereka berkembang biak
dalam media biakan yang telah disiapkan di bawah kondisi laboratorium terkendali.
Terdapat beberapa contoh metode kultivasi yaitu metode streak plate, spread plate,
dan pour plate. Teknik preservasi mikroba adalah upaya penyimpanan dan
pemeliharaan mikroba dalam jengka waktu tertentu dan apabila suatu saat diperlukan
maka dapat dengan mudah diperoleh kembali dengan kondisi yang relatif stabil.
Terdapat 2 jenis preservasi yaitu preservasi jangka pendek dan jangka panjang.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk dapat melakukan berbagai teknik
transfer kultur secara aseptis dan mampu melakukan teknik isolasi kuktur dengan
metode goresan kuadran.
Berdasarkan percobaan, praktikan berhasil melakukan berbagai teknik
transfer kultur dan teknik isolasi kultur yang ditandai dengan tidak adanya
kontaminan. Pada teknik agar miring-agar miring, kultur L. Casei memiliki keadaan
terbentuk koloni berwarna putih dan berbentuk bulat sedangkan Bacillus Subtilis
memiliki keadaan tumbuh dipermukaan dan berwarna putih kecoklatan. Untuk
Teknik agar miring-agar kultur L.casei berwarna putih di dalam agar dan terbentuk
di bagian yang ditusuk, sedangkan pada B. Subtilis tumbuh di tengah dan atas agar
yang di tusuk ose dan berwarna putih kecoklatan.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

Untuk teknik agar cair-broth kultur dengan L.Casei yang memiliki keadaan berarna
putih berada di dasar dan agar berwarna keruh, sedangkan B.Subtilis tumbuh dibawah dan
warna pudar. Untuk teknik pada cawan petri yaitu metode streak plate menghasilkan koloni
bakteri di kuadran 1, sedangkan Bacillus subtlis banyak tumbuh di kuadran 3 berwarna putih.
Untuk metode spread plate pada kultur L.Casei menghasilkan koloni yang tumbuh di dasar
sedangkan pada kultur B. Subtilis tumbuh dipermukaan dan berwarna putih kecoklatan.
Untuk metode pour plate pada kultur L.Casei menghasilkan koloni bakteri berwarna putih
yang terdapat di dasar dan agarnya berwarna keruh, sedangkan pada kultur B.Subtilis
menghasilkan koloni bakteri yang tumbuh dibawah dan berwarna pudar
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

PEMBAHASAN

1. Pada teknik isolasi, apa perbedaan koloni mikroba yang tumbuh pada masing-masing
kuadran ? Mengapa demikian ? Jelaskan.
Pada teknik isolasi goresan kuadran (streak plate), kuadran I memiliki jumlah koloni
paling banyak dan tebal. Jumlah koloni akan semakin sedikit dan tipis pada kuadran II
dan III hingga dihasilkan 1 kultur murni pada kuadran IV. Hal tersebut terjadi karena
kultur yang diambil hanya 1 kali saja dan digorekan secara zig-zag mengitari kuadran
yang dibentuk pada cawan petri serta di setiap perpindahan kuadran terjadi pemanasan
(pembakaran) jarum ose sehingga pada kuadran terakhir jumlah mikroba hanya tersisa 1
koloni saja yang dapat bertahan pada perlakuan-perlakuan yang dilakukan (Ganjar,
2008).
2. Apa yang dimaksud dengan ”selective media” ? Mengapa media tersebut digunakan dalam
teknik isolasi ? Jelaskan. Sebutkan contoh ”selective media” sebanyak 2.
Media selektif adalah media yang mengandung zat tertentu yang dapat mematikan,
mencegah, dan menghambat tumbuhnya mikroorganisme lain selain yang diperuntukkan
bagi media tersebut. Media selektif banyak digunakan dalam teknik isolasi karena dapat
menumbuhkan mikroorganisme yang ingin ditumbuhkan saja, sedangkan mikroba lain
yang tidak diinginkan akan mengalami kegagalan replikasi yang pada akhirnya akan mati.
Contoh dari media selektif adalah SSA (Salmonella Shigella Agar) yang hanya
menumbuhkan bakteri Salmonella dan Shigella (Atlas, 2010).
3. Apakah koloni yang terpisah pada teknik isolasi merupakan pertumbuhan dari satu sel
mikroba ? Apakah koloni tersebut dapat dikatakan sebagai kultur murni ? Jelaskan.
Koloni yang terpisah merupakan pertumbuhan dari satu sel mikroba. Sehingga, adanya
koloni yang terpisah pada teknik isolasi yang tampak setelah terjadinya proses inkubasi
adalah berasal dari sel tunggal. Namun, dalam koloni yang terpisah tersebut cenderung
masih megnandung mikroorganisme campuran. Proses isolasi inilah yang merupakan
upaya untuk memisahkan kultur murni dari kultur campuran. Namun, jika terjadi
kontaminasi, koloni yang tumbuh tidak berasal dari satu sel mikroba. Oleh karena itu
pada teknik isolasi harus mengutamakan metode aseptis dan semua media yang dipakai
harus dalam keadaan steril (Goldman, 2009).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

4. Apa keunggulan metode Streak Plate dan Spread Plate pada teknik isolasi mikroba?
Jelaskan pula tentang Loop Dilution.
Pada metode streak plate, jika dilakukan dengan benar, akan dihasilkan kultur murni.
Selain itu, metode streak plate juga sederhana karena tidak memerlukan banyak peralatan.
Sedangkan pada metode spread, koloni akan tumbuh pada permukaan sehingga
memudahkan pengamatan dan perhitungan sehingga metode spread dapat digunakan
untuk menumbuhkan bakteri yang bersifat aerob (Ganjar, 2006).
Loop dilution adalah metode pengenceran yang dilakukan sebelum melakukan metode
spread dan pour plate. 1 ml kultur akan dilarutkan dalam 9 ml pelarut seperti pepton,
kemudian hasil percampuran tersebut akan diambil lagi 1 ml untuk diencerkan ke pelarut
berikutnya sampai diperoleh konsentrasi yang diinginkan. Metode ini berguna untuk
mengurangi jumlah kandungan mikroba dalam larutan yang terbentuk karena terdapat
beberapa percobaan yang mengharuskan mikroba tidak dalam jumlah yang terlalu banyak
(Mehrotra, 2009).
5. Apa kegunaan penambahan gliserol pada proses preservasi kultur? Jelaskan.
Penambahan gliserol pada proses preservasi kultur berguna untuk menjaga kultur dari
kerusakan pada saat proses pembekuan. Gliserol dapat berperan sebagai zat anti beku
yang mencegah kerusakan akibat terbentuknya kristal es dan memastikan viabilitas sel
tetap terjaga saat dicairkan kembali. Gliserol dengan konsentrasi rendah dapat
melindungi aktivitas anti mikroba dengan meningkatkan stabilitas struktur protein asli
dari mikroba sehingga dapat memecah protein dari proses termal dan agregasi. Gliserol
dapat menyerap air di permukaan protein sehingga terjadi proses hidrasi yang
menyebabkan terlindungnya protein dari kerusakan serta untuk mengurangi dampak
negatif pembekuan (Ganjar, 2008).
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

ANALISA PROSEDUR

Sebelum melakukan praktikum, terlebih dahulu menyiapkan media yang digunakan


pada tahap preparasi. Alat dan bahan yang digunakan pada tahap preparasi adalah tabung reaksi
untuk membuat media agar miring, tegak, dan media broth, cawan petri untuk membuat media
padat, erlenmeyer sebagai wadah larutan media sebelum dituang pada cawan petri, pengaduk
kaca untuk mengaduk larutan media, timbangan analitik untuk menimbang media, kertas
payung, kapas, dan plastik PE untuk menyumbat dan membungkus tabung reaksi dan cawan
petri pada saat akan disterilisasi, serta bahan media yang akan digunakan untuk menumbuhkan
kultur. Pada tahap preparasi ini, media yang akan digunakan yaitu MRSA dan MRSB. Pertama
MRSA ditimbang menggunakan timbangan analitik sebanyak 4,2264 gr. Setelah ditimbang
dimasukkan kedalam alumunium foil. Lalu dilarutkan media yang sudah ditimbang dengan
aquades secukupnya di erlenmeyer dengan diaduk menggunakan pengaduk kaca. Setelah itu
dipanaskan di atas kompor listrik sambil di aduk hingga mendidih. Setelah mendidih angkat
erlenmeyer yang berisi MRSA menggunakan tisu lalu masukkan ke 2 tabung reaksi masing-
masing sebanyak 5ml dan 7ml menggunakan pipet ukur untuk media agar tegak dan media agar
miring. Setelah itu di sumbat denga kapas dan di bungkus menggunakan kertas payung.
Sedangkan untuk dicawan petri ambil sebanyak 16ml menggunakan pipet ukur untuk tiap
cawan petri dengan metode strike dan spread dan untuk pour cawan petri dikosongkan. Setelah
itu ditutup dan dibungkus menggunakan kertas payung. Untuk MRSB sama seperti MRSA,
pertama ditimbang sebanyak 0,5472 gram setelah itu dilarutkan media menggunakan aquades
dan diaduk di erlenmeyer. Setelah itu dipanaskan menggunakan kompor listrik sambil diaduk
searah. Lalu setelah mendidih angkat erlenmeyer dan ambil 10ml menggunakan pipet ukur dan
masukkan ke dalam tabung reaksi untuk media broth. Setelah itu disumbat dengan kapas dan
dibungkus menggunakan kertas payung. Setelah selesai cawan petri diikat mnjadi satu dan 3
tabung reaksi diikat menjai satu untuk di sterilisasi ke autoklaf lalu disimpan dalam ruang laf.
Tujuan dari praktikum teknik isolasi, kultivasi dan preservasi kultur yaitu agar
mahasiswa mampu melakukan berbagai teknik transfer kultur secara aseptis dan agar
mahasiswa mampu melakukan teknik isolasi kultur dengan metode goresan kuadran. Hal yang
pertama harus dilakukan oleh praktikan yaitu mempersiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan pada praktikum ini. Peralatan yang digunakan pada praktikum ini antara lain tabung
reaksi, erlenmeyer, cawan petri, jarum ose, rak tabung, Bunsen, korek api, beaker glass, mikro
pipet, mikrotip, kompor listrik, tisu, kapas, kertas payung, karet dan autoklaf. Tabung reaksi
merupakan suatu alat berbentuk tabung yang terbuat dari kaca bening. Fungsi dari tabung reaksi
pada praktikum ini adalah sebagai tempat media dan bahan-bahan yang mendukung lainnya.
Enlemeyer adalah suatu alat yang berbentuk tabung hanya saja diameter dari enlemeyer ini
lebih besar dibandingkan dengan gelas beaker serta memiliki leher untuk memudahkan bila
dipegang. Biasanya enlemeyer digunakan sebagai wadah media agar yang selanjutnya akan
dilakukan pemanasan agar. Cawan petri adalah suatu alat yang terbuat dari kaca bening dan
berbentuk lingkaran. Alat ini digunakan sebagai tempat media atau pertumbuhan
mikoorganisme dengan metode spread, streak dan pour plate. Selanjutnya adalah jarum ose di
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

mana terdapat 2 jenis jarum ose yang digunakan pada praktikum ini yaitu ose berbentuk jarum
dengan bulat diujung (ose loop) yang digunakan pada agar miring dan jarum ose yang berbentuk
jarum sepenuhnya (ose tegak) yang digunakan pada agar tegak. Fungsi dari jarum ose adalah
untuk memindahkan kultur pada media. Rak tabung yang terbuat dari kayu berfungsi untuk
menempatkan tabung reaksi agar tidak tumpah dan tertata rapi. Bunsen berfungsi sebagai
sumber pemanas agar kita dapat bekerja dengan kultur murni dan untuk mencegah terjadinya
kontaminasi. Biasanya untuk menyalakan api Bunsen ini dibutuhkan korek api. Beaker glass
adalah alat yang berbahan dasar gelas dimana ukuran diameter dari gelas beaker ini lebih besar
dari tabung reaksi. Beaker glass digunakan untuk menempatkan suatu larutan dan untuk
pemanasan, akan tetapi gelas beaker yang digunakan pada praktikum ini yaitu untuk
menempatkan mikropit yang sudah digunakan untuk memindahkan cairan. Mikropit
merupakan alat yang terbuat dari plastik dengan ukuran berwarna kuning 0,1 ml dan yang biru
1 ml. Mikropit berfungsi untuk wadah pemindahan cairan di mana dalam penggunaannya akan
membutuhkan mikropipet. Mikro pipet merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan
cairan dengan jumlah mikro mili, biasanya digunakan dengan mikropit. Kompor listrik adalah
sejenis kompor yang dapat menghasilkan panas tanpa adanya bahan bakar tetapi cukup dengan
menghubungkannya pada arus listrik. Tisu berfungsi sebagai alat bantuan untuk aseptis
lingkungan dan peralatan. Kapas digunakan untuk menyumbat mulut tabung reaksi atau
glassware lainnya. Kertas payung berfungsi untuk membungkus peralatan yang kemudian
dieratkan dengan karet. Alat terakhir yang digunakan pada percobaan ini yaitu autoklaf, yaitu
alat yang memiliki fungsi untuk sterilisasi serta mendestruksi semua alat, bahan, dan agar untuk
membunuh semua mikroorganisme pada alat yang digunakan.
Selain alat-alat yang telah disebutkan diatas terdapat pula bahan-bahan yang diperlukan
pada percobaan ini seperti alkohol 70%, MRSA, MRSB. Bahan terakhir yaitu mikroorganisme
atau kultur murni yang akan diinokulasikan pada praktikum ini. Mikroorganisme yang
digunakan yaitu Lactobacillus casei dan Bacillus Subtilis. Setelah semua alat dan bahan telah
siap maka langkah berikutnya yaitu melakukan aseptis diri dan lingkungan menggunakan
alkohol dan tisu untuk aseptis lingkungan (meja), sedangkan untuk aseptis diri lakukan
penyemprotan alkohol pada tangan dan usapkan pada seluruh permukaan tangan hingga
punggung tangan. Setelah dilakukan aseptis maka selanjutnya adalah melakukan percobaan
transfer kultur.
a. Transfer kultur dari tabung reaksi ke tabung reaksi
- Media agar miring ke agar miring
Untuk melakukan percobaan ini, siapkan tabung reaksi dan jarum ose loop
yang akan digunakan. Pegangi tabung reaksi yang berisi kultur stok atau
Lactobacillus Casei dan tabung reaksi berisi agar miring yang akan diinokulasikan.
Ambil ose loop untuk mengambil kultur dari tabung reaksi yang berisi agar miring.
Sebelum menggunakan ose tersebut, panaskan ose dengan api bunsen dan celupkan
terlebih dahulu pada alkohol 70% serta lakukan terus secara bergantian hingga
berakhir pada pemanasan 3 kali saja. Setelah ose dipanaskan, biarkan ose menjadi
dingin terlebih dahulu dengan diangin-anginkan. Pendinginan ini bertujuan agar
kultur tidak mati akibat ose yang panas. Sebelum jarum ose dimasukkan, buka tutup
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

kapas pada tabung reaksi yang berisi kultur stok dengan menjapitnya diantara jari
kelingking dengan jari manis dan pada tabung reaksi tempat kultur yang akan
dipindahkan dengan jari manis dan jari tengah, kemudian bakar mulut tabung
dengan api bunsen. Setelah ose sudah cukup dingin, masukkan ose kedalam tabung
reaksi hingga ke ujung permukaan dan tarik jarum ose secara zig-zag. Kemudian,
panaskan kembali jarum ose dan celupkan pada alkohol agar tidak ada
mikroorganisme yang tersisa pada ose. Selanjutnya, panaskan mulut tabung dan
tunggu hingga cukup dingin kemudian tutup mulut tabung dengan menggunakan
kapas dan letakkan kembali pada rak tabung reaksi. Kemudian, bungkus tabung
reaksi dengan kertas payung dan eratkan dengan karet. Jika sudah terlaksana dengan
baik, inkubasikan tabung reaksi yang sudah diinokulasi pada inkubator. Tunggu
hingga kultur tumbuh sekitar 24 jam
- Media agar miring ke agar tegak
Untuk melakukan percobaan ini, siapkan tabung reaksi dan jarum ose tegak
yang akan digunakan pada rak. Pegangi tabung reaksi yang berisi kultur stok atau
Lactobacillus Casei dan tabung reaksi berisi agar tegak MRSA yang akan
diinokulasikan. Ambil jarum ose untuk mengambil kultur dari tabung reaksi yang
berisi agar miring. Sebelum menggunakan ose, panaskan jarum ose dengan api
bunsen dan celupkan terlebih dahulu pada alkohol 70% serta lakukan terus secara
bergantian hingga berakhir pada pemanasan 3 kali saja. Setelah ose dipanaskan,
biarkan ose menjadi dingin terlebih dahulu dengan diangin-anginkan. Pendinginan
ini biasanya memakan waktu kurang lebih 10 sampai 20 detik sebelum menyentuh
kultur yang akan dipindahkan. Pendinginan ini bertujuan agar kultur tidak mati
akibat ose yang panas. Namun perlu diperhatikan bahwa ose yang digunakan adalah
ose berbentuk jarum. Sebelum jarum ose dimasukkan, buka tutup kapas pada tabung
reaksi yang berisi kultur stok dengan menjepitnya di antara jari kelingking dengan
jari manis dan pada tabung reaksi tempat kultur yang akan dipindahkan dengan jari
manis dan jari tengah, kemudian bakar mulut tabung dengan api bunsen. Setelah ose
cukup dingin, masukkan ose kedalam tabung reaksi hingga ke ujung permukaan dan
tarik ose untuk mengambil kultur. Pastikan terlihat ada media yang terambil pada
jarum ose. Setelah itu panaskan kembali mulut tabung pada api bunsen agar media
tidak terkontaminasi oleh mikroorganisme lainnya. Setelah itu, tutup kembali kapas
tabung media dan kembalikan kembali pada rak tabung. Ambil tabung reaksi berisi
media agar tegak MRSA dan lakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan
sebelumnya tanpa harus memanaskan jarum ose karena ose terdapat
mikroorganisme yang akan ditransfer pada media agar tegak. Panaskan mulut
tabung pada api bunsen agar terhindar dari kontaminasi mikroorganisme lainnya.
Setelah itu, tunggu hingga cukup dingin lalu masukkan ose yang memiliki kultur ke
media agar tegak dengan cara ditusukkan pada media agar tepat pada bagian tengah
hingga 3/4 dasar media, lalu tariklah ose dari media agar secara vertikal. Panaskan
kembali ose dan celupkan pada alkohol 70% agar tidak ada mikroorganisme yang
tersisa pada jarum ose. Selanjutnya, panaskan mulut tabung dan tunggu hingga
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

cukup dingin kemudian tutup mulut tabung dengan menggunakan kapas dan
letakkan kembali pada rak tabung reaksi. Kemudian, bungkus tabung reaksi dengan
kertas paying dan eratkan dengan karet. Jika sudah terlaksana dengan baik,
inkubasikan tabung reaksi yang sudah diinokulasi pada inkubator. Tunggu hingga
kultur tumbuh sekitar 24 jam atau sekitar dua hari.
- Media agar miring ke agar broth
Untuk melakukan percobaan ini, siapkan tabung reaksi dan ose loop yang akan
digunakan. Pegangi tabung reaksi yang berisi kultur stok atau Lactobacillus Casei
dan tabung reaksi berisi media broth MRSB yang akan diinokulasikan dengan
tangan kiri secara berdampingan atau bisa dilakukan dengan memegang satu per
satu terlebih dahulu. Pegang tabung reaksi berisikan kultur pada tangan kiri. Ambil
ose untuk mengambil kultur dari tabung reaksi yang berisi agar miring. Sebelum
menggunakan ose, panaskan jarum ose dengan api bunsen dan celupkan terlebih
dahulu pada alkohol 70% serta lakukan terus secara bergantian hingga berakhir pada
pemanasan 3 kali saja. Setelah ose dipanaskan, biarkan ose menjadi cukup dingin
dengan diangin-anginkan. Pendinginan ini biasanya memakan waktu kurang lebih
10 sampai 20 detik sebelum menyentuh kultur yang akan dipindahkan. Pendinginan
ini bertujuan agar kultur tidak mati akibat ose yang panas. Sebelum jarum ose
dimasukkan, buka tutup kapas pada tabung reaksi yang berisi kultur stok dengan
menjapitnya diantara jari kelingking dengan jari manis dan pada tabung reaksi
tempat kultur yang akan dipindahkan dengan jari manis dan jari tengah, kemudian
bakar mulut tabung dengan api bunsen. Setelah ose cukup dingin, masukkan jarum
ose kedalam tabung reaksi hingga ke ujung permukaan dan tarik ose untuk
mengambil kultur. Pastikan terlihat ada media yang terambil pada loop ose. Setelah
itu panaskan kembali mulut tabung pada api bunsen agar media tidak terkontaminasi
oleh mikroorganisme lainnya. Setelah itu, tutup kembali kapas tabung media dan
kembalikan pada rak tabung reaksi. Ambil tabung reaksi berisi media broth NB dan
lakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan sebelumnya tanpa harus
memanaskan jarum ose karena ose terdapat mikroorganisme yang akan ditransfer
pada media agar broth. Panaskan mulut tabung pada api bunsen agar terhindar dari
kontaminasi mikroorganisme lainnya. Setelah itu tunggu hingga menjadi cukup
dingin lalu masukkan ose yang mengandung kultur ke media broth dan campurkan
pada media dengan mengaduk ose secara perlahan hingga kultur terlepas dari jarum
ose. Kemudian, panaskan kembali ose dan celupkan pada alkohol agar tidak ada
mikroorganisme yang tersisa pada ose. Selanjutnya, panaskan mulut tabung dan
tunggu hingga cukup dingin kemudian tutup mulut tabung dengan menggunakan
kapas dan letakkan kembali pada rak tabung reaksi. Kemudian, bungkus tabung
reaksi dengan kertas paying dan eratkan dengan karet. Jika sudah terlaksana dengan
baik inkubasikan tabung reaksi yang sudah diinokulasi pada incubator. Tunggu
hingga kultur tumbuh sekitar 24 jam atau sekitar dua hari.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

b. Transfer kultur dari tabung reaksi ke cawan petri


- Metode streak plate
Untuk melakukan percobaan ini, siapkan cawan petri dan jarum ose yang
akan digunakan. Metode streak plate sendiri yaitu terdapat tiga macam yaitu
goresan langsung, radian dan kuadran. Pada percobaan metode streak plate ini
metode yang digunakan yaitu metode goresan kuadran. Untuk memulai percobaan
metode goresan kuadran hal pertama yang harus dilakukan yaitu membuat
pembagian wilayah dengan menggunakan spidol permanen pada dasar cawan petri
yang mengandung media. Metode ini dilakukan dengan membagi cawan petri yang
telah berisikan media MRSA menjadi 4 bagian/kuadran. Metode streak plate
dilakukan di dalam laf jamur dengan isolat yang berasal dari tanah. Metode ini
dilakukan pada laf jamur karena pada isolat tanah belum diketahui jenis
mikroorganisme apa saja yang dikandungnya, sedangkan laf di dalam laboratorium
khusus mikroorganisme bakteri. Di dalam laf jamur, terlebih dahulu melakukan
aseptis diri dan lingkungan. Aseptis diri dilakukan dengan menyemprotkan alkohol
70% ke seluruh bagian tangan, kemudian dilanjutkan dengan aseptis lingkungan
dengan cara menyemprotkan alkohol 70% ke meja kerja lalu dilap dengan tisu
searah, kemudian dilakukan aspetis diri kembali. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi
kontaminasi saat ingin mengisolasi kultur. Setelah itu diaseptis bunsen dengan
memanaskannya pada api bunsen hingga memijar lalu dicelupkan ke dalam alkohol
70% sebanyak 3 kali. Kemudian diambil suspensi kultur dari cawan yang berisikan
media MRSA dengan menggunakan jarum ose. Lalu cawan petri yang berisikan
media MRSA diaseptis dengan memanaskan pinggirannya sambil diputar pada api
bunsen. Kemudian dibuka sedikit tutup cawan, dan dibuat goresan ose dari mulai
kuadran I sampai kuadran IV. Setiap pergantian kuadran diselingi dengan aseptis
cawan petri dan jarum ose untuk meminimalisir terjadinya kontaminasi dan untuk
dapat membedakan perbedaan jumlah mikroorganisme pada tiap kuadran saat
diamati nantinya. Setelah itu, bungkus kembali cawan petri dengan kertas payung
dan ikat dengan karet kemudian diinkubasi pada suhu 30℃ selama 2 hari. Lakukan
pengamatan morfologi pertumbuhan koloni pada media agar.
- Metode spread plate
Untuk melakukan percobaan ini, siapkan cawan petri dan spreader yang akan
digunakan. Metode spread plate adalah memasukkan kultur pada media di cawan
petri dan diinokulasikan dengan cara meratakannya. Untuk mengisolasi bakteri
dengan metode spread plate dilakukan dengan cara mengaseptis cawan petri yang
berisikan media MRSA dengan memanaskan sisi pinggir cawan petri di dekat api
bunsen sambil diputar-putar agar merata. Sebelum digunakan, mikropipet terlebih
dahulu diaseptis dengan cara menyemprotkannya dengan alkohol 70% dan dilap
dengan menggunakan tisu secara searah. Setelah itu dipasangkan mikrotip yang
telah disterilisasi. Kemudian, kultur Lactobacillus Casei yang telah dicairkan
diambil dengan menggunakan mikropipet yang telah dipasangi mikrotip sebanyak
0,1 ml. Pengambilan kultur ini dilakukan dengan cara menekan bagian atas
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

mikropipet, lalu diambil kultur sebanyak 0,1 ml dengan melepas tekanan pada
tombol mikropipet secara perlahan. Setelah itu dituang pada media MRSA dalam
cawan petri dengan menekan tombol bagian atas mikropipet. Kemudian, mikrotip
dilepaskan dengan menekan tombol bagian samping pada mikropipet. Setelah itu,
kultur yang telah dituang ke dalam cawan petri diratakan dengan menggunakan
spreader. Spreader diaseptis terlebih dahulu sebelum digunakan dengan
memanaskannya di atas api bunsen lalu dicelupkan ke dalam alkohol 70% sebanyak
3 kali. Kultur diratakan di dekat api bunsen agar tidak terkontaminasi sambil diputar
cawan petrinya. Setelah itu, bungkus kembali cawan petri dengan kertas payung dan
ikat dengan karet kemudian diinkubasi pada suhu 30℃ selama 1 hari. Lakukan
pengamatan morfologi pertumbuhan koloni pada media agar.
- Metode pour plate
Untuk melakukan percobaan ini, siapkan cawan petri yang akan digunakan.
Metode pour plate adalah suatu metode yang digunakan untuk mentransfer kultur
tetapi dengan cara menuangkan kultur dan agar broth kedalam cawan petri. Untuk
mengisolasi bakteri dengan metode pour plate, ambil kultur yang telah dicairkan
dalam media MRSB menggunakan mikropipet sebanyak 1 ml. Sebelum digunakan,
mikropipet terlebih dahulu diaseptis dengan cara menyemprotkannya dengan
alkohol 70% dan dilap dengan menggunakan tisu secara searah. Setelah itu,
dipasangkan mikrotip yang telah disterilisasi. Kemudian, kultur Lactobacillus Casei
yang telah dicairkan diambil dengan menggunakan mikropipet yang telah dipasangi
mikrotip sebanyak 1 ml. Pengambilan kultur ini dilakukan dengan cara menekan
bagian atas mikropipet, lalu diambil kultur sebanyak 1 ml dengan melepas tekanan
pada tombol mikropipet secara perlahan. Lalu dituang pada cawan petri yang telah
di aseptis dengan memanaskan bagian pinggirnya dan dipanaskan kembali
setelahnya. Setelah itu, dibuka sumbat erlenmeyer yang berisikan media MRSA
steril cair suhu 40-50oC, dan dibakar mulut erlenmeyer sambil diputar pada api
bunsen. Sumbat kapas yang digunakan untuk menyumbat erlenmeyer tidak boleh
diletakkan pada meja. Selanjutnya dituang media MRSA steril tersebut ke dalam
cawan petri yang berisi kultur. Setelah itu, homogenkan kultur dengan media dengan
menggerakkannya/menggeserkannya mengikuti pola angka delapan sebanyak
setidaknya 3 kali. Setelah itu, bungkus kembali cawan petri dengan kertas payung
dan ikat dengan karet kemudian diinkubasi pada suhu 30℃ selama 1hari. Lakukan
pengamatan morfologi pertumbuhan koloni pada media agar.
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

KESIMPULAN

Prinsip teknik isolasi dan preservasi kultur adalah memisahkan satu jenis mikroba
dengan meikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba dengan tujuan
memisahkan mikroba dari kultur mikroba campuran sehingga akan dihasilkan kultur murni.
Terdapat beberapa contoh teknik isolasi yaitu teknik streak plate, spread plate, dan pour plate.
Metode kultivasi adalah metoda untuk melipatgandakan jumlah mikroba dengan membiarkan
mereka berkembang biak dalam media biakan yang telah disiapkan di bawah kondisi
laboratorium terkendali. Terdapat beberapa contoh metode kultivasi yaitu metode streak plate,
spread plate, dan pour plate. Teknik preservasi mikroba adalah upaya penyimpanan dan
pemeliharaan mikroba dalam jengka waktu tertentu dan apabila suatu saat diperlukan maka
dapat dengan mudah diperoleh kembali dengan kondisi yang relatif stabil. Terdapat 2 jenis
preservasi yaitu preservasi jangka pendek dan jangka panjang.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk dapat melakukan berbagai teknik transfer kultur
secara aseptis dan mampu melakukan teknik isolasi kuktur dengan metode goresan kuadran.
Berdasarkan percobaan, praktikan berhasil melakukan berbagai teknik transfer kultur
dan teknik isolasi kultur yang ditandai dengan tidak adanya kontaminan. Pada teknik agar
miring-agar miring, kultur L. Casei memiliki keadaan terbentuk koloni berwarna putih dan
berbentuk bulat sedangkan Bacillus Subtilis memiliki keadaan tumbuh dipermukaan dan
berwarna putih kecoklatan. Untuk Teknik agar miring-agar kultur L.casei berwarna putih di
dalam agar dan terbentuk di bagian yang ditusuk, sedangkan pada B. Subtilis tumbuh di tengah
dan atas agar yang di tusuk ose dan berwarna putih kecoklatan. Untuk teknik agar cair-broth
kultur dengan L.Casei yang memiliki keadaan berarna putih berada di dasar dan agar berwarna
keruh, sedangkan B.Subtilis tumbuh dibawah dan warna pudar. Untuk teknik pada cawan petri
yaitu metode streak plate L. Casei menghasilkan koloni bakteri di kuadran 1, sedangkan
Bacillus subtlis banyak tumbuh di kuadran 3 berwarna putih. Untuk metode spread plate pada
kultur L.Casei menghasilkan koloni yang tumbuh di dasar sedangkan pada kultur B. Subtilis
tumbuh dipermukaan dan berwarna putih kecoklatan. Untuk metode pour plate pada kultur
L.Casei menghasilkan koloni bakteri berwarna putih yang terdapat di dasar dan agarnya
berwarna keruh, sedangkan pada kultur B.Subtilis menghasilkan koloni bakteri yang tumbuh
dibawah dan berwarna pudar
Nama Uyun Nailatul Mafaz
NIM 175100107111002
Kelas A
Kelompok A2

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN


Atlas, Ronald M. 2010. Handbook of Microbiological Media, Fourth Ed. Boca Raton: CRC
Curtis, Helena, Barnes, N. Sue. 2009. Biology 5th edition. Worth Publisher Inc. New York
Goldman, Emanuel. 2009. Practical Hanbook of Microbiology Second Edition. Florida: CRC
Pres
Mahesh B dan S Satish. 2008. Antimicrobial Activity of Some Important Medicinal Plant
Againts Plant and Human Pathogens. World Jurnal oF Agricultural Sciences. Vol. 4
McCance, Kathryn L dkk. 2014. Pathophysiology: the Biologic Basis for Disease in Adults
and Children, Seventh Ed. Missouri: Elsevier
Mehrotra. 2009. Principle of Microbiology. New Delhi: Tata McGraw Hill