Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem Terbentuk dari sel-sel putih, sumsu tulang belakang dan jaringan limfoid
yang mencakup mkelenjar timus, kelenjar limfe, tonsil serta adenoid. Di antara sel-sel
darah putih yang terlibat dalam imunitas terdapat limfotik B (sel B) dan limfosit T (sel T).
kedua ini berasal darilimfosit yang dibuat dalm sumsum ulang. Limfosit B mencapai
maturitasnya dalam sumsum tulang kelenjat timus tempat sel-sel tersebut menapai
maturitasnya menjadi beberapa jenis sel yang dapat melaksanakan berbagai fungsi yang
berbeda.
Sistem integumen adalah sutu sistem penyusun tubuh makhluk hidup yang
berhubungan langsung dengan lingkungan luar. Fungsinya antara lain yaitu sebagai
pelindung, respirasi an termoregulasi. Cahaya matahari mengandung sinar ultraviolet dan
melindungi terhadap mikroorganisme serta menjada keseimbangan tubuh, misalnya
menjadi pucat, kemerahan, atau suhu tubuh meningkat. Gangguan psikis juga data
mengakibatkan kelainan atau perubahan pada kulit misalnya stress, ketakutan dan keadaan
marah akan mengakibatkan perubahan pada kulit wajah.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan sistem integumen ?
2. Apa fungsi dari sistem integumen ?
3. Bagaimana pencegahan dari gangguan sistem integumen?
4. Apa saja pemeriksaan diagnostic sistem integumen ?
5. Bagaimana asuhan keperawatan pada sistem integumen ?
6. Apa definisi dari sistem imun?
7. Apa fungsi dari sistem imun tersebut ?
8. Apa sifat khas dari respon imun tersebut?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Secara umum makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang
anamnesa gangguan sistem integument dan sistem imun.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari sistem imun
b. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dari sistem integumen
c. Mahasiswa dapat mengetahui pencegahan dari gangguan sistem integumen

1
d. Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan diagnostic sistem integumen
e. Mahasiswa dapat mengetahui asuhan keperawatan pada sistem integumen
f. Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari sistem imun
g. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi dari sistem imun tersebut
h. Mahasiswa dapat mengetahui sifat khas dari respon imun tersebut

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. STRUKTUR DAN FUNGSI INTEGUMEN

Kulit merupakan jaringan pembuluh darah, saraf, dan kelenjar yang tidak terujung, semuanya
memiliki potensi untuk terserang penyakit. Luas kulit orang dewasa 1,5 m2 dengan berat kira-kira
15% dari berat badan. Secara mikroskopis struktur kulit terdiri dari tiga lapisan yaitu:

1. Lapisan epidermis
Lapisan paling atas dari kulit, tidak mengandung pembuluh darah dan syaraf. Sel
mendapat makanan melalui proses difusi dari jaringan dibawahnya. Bagian terluar terdiri

2
dari stratum korneum, stratum lusidum, stratum granolusum, stratum spinosum, dan
stratum basale.
2. Lapisan dermis
a. Pars papilare, bagian yang menonjol ke epidermis. Berisi ujung serabut saraf dan
pembuluh darah yang menyokong dan memberi nutrisi pada epidermis.
b. Pars retikulare, bagian bawah yang menonjol ke arah subkutis. Terdiri atas serabut-
serabut kolagen, elastin, dan retikulin.
3. Lapisan subkutis
Bantalan untuk kulit, isolasi untuk mempertahankan suhu tubuh, dan tempat
penyimpanan energi.

A. Fungsi Kulit
a. Fungsi proteksi
Melindungi tubuh dari trauma, benteng pertahanan terhadap gangguan kimiawi bakteri,
virus, dan jamur.
b. Fungsi absorpsi
Sifat permiabel-selektif, kulit menyerap bahan-bahan tertentu seperti gas dan zat yang
larut dalam lemak, sedangkan air dan elektrolit sukar masuk melalui kulit.
c. Fungsi ekskresi
Kelenjar kulit mengeluarkan sisa metabolisme dalam bentuk sebum dan keringat.
Sebum dan keringat dapat merangsang pertumbuhan bakteri pada permukaan kulit.

d. Fungsi persepsi
Kulit mengandung ujung ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis yang peka
terhadap rangsangan panas , dingin, rabaan,dan tekanan.
e. Fungsi pengaturan suhu tubuh
Kemampuan vasokonstriksi pada suhu dingin sehingga meningkatkan suhu tubuh,
kemampuan vasodilatasi pada suhu panas sehingga menurunkan suhu, serta
kemampuan termorigulasi melalui evaporasi atau berkeringat.
f. Fungsi pembentukan pigmen
Sel pembentuk pigmen di sebut melanosit. Dengan bantuan sinar matahari dan
beberapa enzim dalam tubuh, melanosit akan di ubah menjadi melonosom, selanjutnya
di ubah lagi menjadi melanin. Jumlah melanin inilah yang akan menentukan warna kulit
seseorang.
g. Fungsi pembentukan vitamin
Dihidroksi kolestrol dapat terjadi dengan pertolongan sinar matahari sehingga
terbentuk vitamin D.

B. Gangguan sistem integument


1. Efek Psikologis Masalah Kulit

3
Apabila kulit mengalami kelainan atau timbul penyakit pada kulit, akan terjadi
perubahan penampilan. Perubahan penampilan tersebut dapat menimbulkan reaksi
psikologis. Sebagian besar klien dengan masalah kulit memiliki perasaan yang lebih
sensitive sehingga timbul perasaan kurang dihargai, rendah diri, dianggap jijik dan
perasaan dikucilkan. Ketika hal itu terjadi, perawat tidak boleh memperlihatkan
gerakan nonverbal maupun verbal yang negative.
2. Masalah Utama Kulit
Banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit ini. Di antaranya adalah
faktor kebersihan, daya tahan tubuh (imunitas), kebiasaan, atau perilaku sehari-hari
(makanan, pergaulan, atau pola hubungan) seksual, faktor fisik, bahan kimia,
mikrobiologi, serta faktor lingkungan. Banyak klien dengan masalah penyakit kulit
lebih senang berobat jalan dan dirawat dirumah, karena merasa tdak bermasalah secara
klinis, dan baru mau menjalani perawatan dirumah sakit jika kondisi penyakitnya sudah
parah. Ini perlu diperhatikan oleh perawat maupun klien menjalani peawatan dirumah.
Klien perlu dibekali dengan pengetahuan tentang proses penyakit., cara perawatan lesi,
prosedur pengobatan, maupun pola hidupnya. Hal ini perlu dilakukan agar penyakit
klien tidak menjadi kronis dan klien dapat berobat secara tuntas sehingga tidak
menulari angota keluarga atau orang lain.

C. Pencegahan gangguan kulit


1. Untuk mencegah gangguan kulit tindakan yang harus dilakukan adalah sebagai
berikut :
a. Mempertahankan kulit sehat.
b. Hindari penggunaan sabun, deterjen, atau bahan allergen yang dapat menimbulkan
iritasi.
c. Pertahankan kulit cukup hidrasi, gunakan krim pada daerah yang kering, dan
jangan terus-menerus menggunakan tatarias yang tebal.
d. Cegah menggaruk kulit yang keras dan kasar.
e. Keringkan daerah yang selalu lembab.
f. Pakai pakaian yang longgar dan dapat menyerap keringat pada hari-hari yang
panas.
2. Menghindari bahan penyebab penyakit kulit
a. Menghindari bahan-bahan yang merusak kulit pada kebanyakan orang. Contohnya
sinar matahari yang terik, sebaiknya gunakan payung untuk melindungi kulit.
b. Mencegah bahan spesifik yang diketahui merusak kulit atau menimbulkan alergi
untuk orang tertentu (mis, bahan-bahan kosmetik).
c. Gunakan krim tabir surya.

4
3. Observasi perubahan kulit:
a. Amati kulit secara keseluruhan dan sering. Gunakan cermin untuk melihat seluruh
tubuh.
b. Catat dan konsultasikan perubahan warna, ukuran, dan keadaan cedera kulit yang
sudah ada.
4. Hindari terapi sendiri:
a. Jangan gunakan resep lama pada cedera kulit baru atau lesi yang lain, serta jangan
gunakan obat yang tidak diketahui secara pasti kegunaannya.
b. Segera dapatkan nasihat medis atau kunjungi tempat pelayanan kesehatan bila
terjadi gangguan kulit (Long, 1996).
c.
D. Pemeriksaan diagnostic
Biopsi kulit. Mengambil contoh jaringan dari kulit yang terdapat lesi. Apabila
jaringan yang diambil cukup dalam, kita perlu menggunakan anestesi local. Digunakan
untuk menentukan ada keganasan atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.
Uji kultur dan sensitivitas. Untuk mengetahui adanya virus, bakteri, atau jamur
pada kulit yang diduga mengalami kelainan. Uji ini juga digunakan untuk mengetahui
mikroorganisme tersebut resisten terhadap obat-obatan tertentu. Cara pengambilan bahan
untuk uji kultur adalah dengan mengambil eksudat yang terdapat pada permukaan lesi.
Alat yang digunakan untuk mengambil eksudat harus steril.
Pemeriksaan dengan menggunakan pencahayaan khusus. Mempersiapkan
lingkungan pemeriksaan dengan pencahayaan khusus sesuai dengan kasus yang dihadapi.
Hindari ruangan pemeriksaan yang menggunakan lampu berwarna-warni karena hal ini
akan mempengaruhi hasil pemeriksaan. Pada kasus tertentu, pencahayaan dengan
menggunakan sinar matahari (sinar untraviolet) justru sangat membantu dalam
menentukan jenis lesi kulit.
Uji temple. Dilakukan pada klien yang diduga menderita alergi untuk mengetahui
apakah lesi tersebut ada kaitannya dengan faktor imunologis, juga untuk mengidentifikasi
respon alerginya. Misalnya, untuk membedakan apakah klien menderita dermatitis kontak
alergi atau dermatitis kontak iritan. Uji ini menggunakan bahan kimia yang ditempelkan
pada kulit. Selanjutnya, kita lihat bagaimana reaksi local yang ditibulkan. Apabila
ditemukan kelainan atau ada perubahan pada kulit, hasil uji ini positif.

5
E. ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM
INTEGUMEN

A. Pengkajian
1. Anamnesis
a. Tanggal dan waktu pengkajian
b. Biodata: nama, umur (penting mengetahui angka prevelensi), jenis kelamin,
pekerjaan (pada beberapa kasus penyakit kulit, banyak terkait dengan factor
pekerjaan, [misalnya, dermatitis kontak alergi]).
c. Riwayat kesehatan: meliputi masalah kesehatan sekarang, riwayat penyakit
dahulu, status kesehatan keluarga, dan status perkembangan.

Menurut Bursaids (1998), disamping menggali keluhan-keluhan diatas, anamnesis harus


menyelidiki 7 ciri lesi kulit yang membantu anda membuat diagnosis, yaitu :

1. Lokasi anatomis, tempat lesi pertama kali timbul, jika perlu digambar.
2. Gejala dan riwayat penyakit yang berhubungan.
3. Urutan waktu perkembangan perubahan kulit atau gejala sistemik yang berkaitan.
4. Perkembangan lesi atau perubahan lesi sejak timbul pertama kali
5. Waktu terjadinya lesi, atau kondisi seperti apa yang menyebabkan lesi.
6. Riwayat pemaparan bahan kimia dan pemakaian obat-obatan
7. Efek terpapar sinar matahari.
d. Riwayat pengobatan atau terpapar zat: obat apa saja yang pernah dikonsumsi atau
pernahkah klien terpapar faktor-faktor yang tidak lazim. Terkena zat-zat kimia atau
bahan iritan lain, memakai sabun mandi baru, minyak wangi atau kosmetik yang
baru, terpapar sinar matahari.
e. Riwayat pekerjaan atau aktifitas sehari-hari: bagaimana pola tidur klien, lingkungan
kerja klien untuk mengetahui apakah klien berkontak dengan bahan-bahan iritan,
gaya hidup klien (suka begadang, minum-minuman keras, olah raga atau rekreasi,
pola kebersihan diri klien).
f. Riwayat psikososial: Stress yang berkepanjangan

2. Pemeriksaan Kulit
a. Peubahan menyeluruh
Kaji ciri kulit secara keseluruhan. Informasi tentang kesehatan umum klien
dapat diperoleh dengan memeriksa turgor, tekstur, dan warna kulit.

6
Turgor kulit umumnya mencerminkan status dehidrasi. Pada klien yang
dehidrasi dan lansia, kulit terlihat kering. Pada klien lansia, turgor kulit
mencerminkan hilangnya elastisitas kulit dan keadaan kekurangan air ekstrasel.
Tekstur kulit pada perubahan menyeluruh perlu dikaji, karena tekstur kulit
dapat berubah-ubah di bawah pengaruh banyak variabel. Jenis tekstur kulit dapat
meliputi kasar, kering atau halus.
Perubahan warna kulit juga dipengaruhi oleh banyak variabel. Gangguan
pada melanin dapat bersifat menyeluruh atau setempat yang dapat menyebabkan
kulit menjadi gelap atau lebih terang dari pada kulit yang lainnya. Kondisi tanpa
pigmentasi terjadi pada kasus albino. Ikterus adalah warna kulit yang kekuningan
yang disebabkan oleh endapan pigmen empedu didalam kulit, sekunder akibat
penyakit hati atau hemolisis sel darah merah. Sianosis adalah perubahan warna
kulit menjadi kebiruan; paling jelas terlihat pada ujung jari dan bibir. Sianosis ini
disebabkan oleh desiturasi hemoglobin.
Pada teknik palpasi, gunakan ujung jari untuk merasakan permukaan kulit
dan kelembapannya. Tekan ringan kulit dengan ujung jari untuk menentukan
keadaan teksturnya. Secara normal, tekstur kulit halus, lembut dan lentur pada
anak dan orang dewasa. Kulit telapak tangan dan kaki lebih tebal, sedangkan kulit
pada penis paling tipis. Kaji turgor dengan mencubit kulit pada punggung tangan
atau lengan bawah lalu lepaskan. Perhatikan seberapa mudah kulit kembali seperti
semula. Normalnya, kulit segera kembali ke posisi awal . pada area pitting tekan
kuat area tersebut selama 5 detik dan lepaskan. Catat kedalaman pitting dalam
millimeter, edema +1 sebanding dengan kedalaman 2 mm, edema +2 sebanding
dengan kealaman 4 mm.

b. Perubahan setempat
Mula-mula, lakukan pemeriksaan secara sepintas ke seluruh tubuh.
Selanjutnya, anjurkan klien untuk membuka pakaiannya dan amati seluruh tubuh
klien dari atas kebawah, kemudian lakukan pemeriksaan yang lebih teliti dan
evaluasi distribusi, susunan, dan jenis lesi kulit. Distribusi lesi dan komposisi kulit
sangat bervariasi dari satu bagian tubuh kebagian tubuh lainnya. Lesi yang timbul
hanya pada daerah tertentu menandakan bahwa penyakit tersebut berkaitan dengan
keistimewaan susunan kulit daerah tersebut. Pada daerah kulit yang lembab

7
permukaan kulit bergesekan dan mengalami maserasi dan mudah terinfeksi jamur
superficial. Kondisi ini banyak kita jumpai pada daerah aksila, lipat paha, lipat
bokong, dan lipatan di bawah kelenjar mamae.
Pada daerah kulit yang kaya keratin, seperti siku, lutut, dan kulit kepala,
sering tejadi gangguan keratinisasi. Misalnya psoriasis, yaitu kelainan kulit pada
bagian epidermis yang berbentuk plak bersisik.
Mengenai susunan lesi, tanyakan bagaiman pola lesinya. Lesi kulit dengan
distribusi sepanjang dermatom menunjukan adanya penyakit herpes zoster. Disini,
lesi vesikuler timbul tepat pada daerah distribusi saraf yang terinfeksi. Linearitas
merupakan lesi yang terbentuk garis sepanjang sumbu panjang suatu anggota tubuh
yang mungkin mempunyai arti tertentu. Garukan pasien merupakan penyebab
tersering lesi linear. Erupsi karena poison iny, seperti dermatitis kontak, berbentuk
linear karena iritannya disebabkan oleh garukan yang bergerak naik-turun.
Peradangan pembuluh darah atau pembuluh limfe dapat menyebabkan lesi linear
berwarna merah. Sedangkan parasit scabies dapat membuat liang-liang pendek
pada lapisan epidermis, terutama pada kulit di antara jari-jari tangan, kaki, atau
daerah lain yang memiliki lapisan epidermis tipis dan lembap sehingga akan
membentuk lesi linear yang khas berupa garis kebiru-biruan.
Lesi satelit adalah suatu lesi sentral yang sangat besar yang dikelilingi oleh
dua atau lebih lesi serupa tetapi lebih kecil yang menunjukan asal lesi dan
penyebarannya, seperti yang dijumpai pada melanoma malignum atau infeksi jamur.
Tapi lesi merupakan cirri penting yang berguna dalam menegakkan diagnosis. Lesi
berbatas tegas adalah lesi yang mempunyai batas yang jelas, sedangkan lesi terbatas
tidak tegas adalah lesi kulit yang menyatu tanpa batas tegas dengan kulit yang
normal.

c. Ruam kulit
Untuk mempelajari ilmu penyakit kulit, mutlak diperlukan pengetahuan
tentang ruam kulit atau ilmu yang mempelajari lesi kulit. Ruam kulit dapat berubah
pada waktu berlangsungnya penyakit. Kadang-kadang perubahan ini dapat
dipengaruhi oleh keadaan dari luar, misalnya trauma garkan dan pengobatan yang
diberikan., sehingga perubahan tersebut tidak biasa lagi. Perawat perlu menguasai
pengetahuan tentang ruam primer atau ruam sekunder untuk digunakan sebagai

8
dasar dalam melaksanakan pengkajian serta membuat diagnosis penyakit kulit
secara klinis.
Ruam primer adalah kelainan yang pertama timbul, berbentuk macula,
papula, plak, nodula, vesikula, bula, pustule, irtika, dan tumor. Ruam sekunder
adalah kelainan berbentuk skuama, krusta, fisura, erosion, ekskoriasio, ulkus, dan
parut.
d. Data objektif yang mungkin ditemukan
1. Terjadi perubahan warna kulit, turgor, elastisitas, kelembapan, kebersihan, dan
bau.
2. Terdapat lesi primer misalnya macula, papula, vesikula, pustule, bula, nodula,
atau urtikaria.
3. Terdapat lesi sekunder, misalnya krusta, skuama/sisik, fisura, erosi, atau lkus.
4. Ditemukannya tanda-tanda radang (rubor/kemerahan, dolor/nyeri, kalor/panas,
tumor/benjolan dan fungsieolesa/perubahan bentuk).
5. Dari pemeriksaan penunjang (kultur kulit, biopsy, uji alergi atau pemeriksaan
darah) didapatkan kelainan.

Keluhan :

1. Mengeluh kulit gatal, nyeri, kemerahan, berminyak, kering, kasar, tidak rata, terkelupas,
lepuh, panas, dingin, perubahan warna kulit dan timbul borok.
2. Adanya riwayat alergi, kontak dengan bahan-bahan tertentu (kosmetik, sabun, obat,
tanaman, bahan kimia)
3. Riwayat keluarga atau tetangga dengan penyakit kulit.
4. Adanya perubahan pola kebiasaan sehari-hari.
5. Ditemukan data psikologis yang berkaitan dengan masalah kulit (rasa malu, dikucilkan
orang lain, harga diri rendah, takut tidak sembuh, dan cemas

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan masalh integument
adalah :
1. Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan kerusakan jaringan, gangguan
kekebalan tubuh, atau infeksi.

9
2. Gangguan rasa nyaman yang berhubungan dengan proses peradangan, terbukanya
ujung-ujung saraf kulit, atau tidak adekuatnya pengetahuan tentang pelaksanaan nyeri.
3. Gangguan citra tubuh yang berhubungan dengan perubahan anatomi kulit atau bentuk
tubuh.
4. Gangguan harga diri yang berhubungan dengan penyakit yang tidak teratasi dengan
mudah.
5. Kecemasan yang berhubungan dengan penyakit kronis, perubahan kulit, atau potensial
keganasan.
6. Resiko infeksi yang berhubungan dengan tidak adanya perlindungan kulit.
7. Defesiensi pengetahuan tentang factor penyebab timbulnya lesi, cara pengobatan, dan
perawatan diri
8. Gangguan istirahat tidur yang berhubungan dengan rasa gatal atau nyeri pada kulit.
9. Isolasi sosial yang berhubungan dengan penolakan dari oranglain karena perubahan
bentuk kulit.

PERENCANAAN KEPERAWATAN

NAMA PASIEN :
NO. MR :

Perencanaan
Diagnosa
No
Keperawatan Tujuan
( NOC )
Kerusakan Setelah dilakukan tindakan Pressure Management
integritas kulit
keperawatan 2 x 24 jam, maka di
berhubungan 1. Anjurkanpasienuntukmengg
dendan cedera dapatkan dengan KriteriaHasil :
kiniawi kulit unakanpakaian yang longgar
(luka bakar) 2. Hindarikerutanpadatempatti
1. Integritaskulit yang
dur
baikbisadipertahankan
3. Jagakebersihankulit agar
(sensasi, elastisitas,
tetapbersihdankering
temperatur, hidrasi, 4. Mobilisasipasien
pigmentasi) (ubahposisipasien) setiapdua
2. Tidakadaluka/lesipadakulit
jam sekali
3. Perfusijaringanbaik
5. Monitor
4. Menunjukkanpemahamand
kulitakanadanyakemerahan
alam proses
6. Oleskan lotion
perbaikankulitdanmencega
atauminyak/baby oil
hterjadinyacederaberulang
padadaerah yang tertekan

10
Mampumelindungikulitdanmemper 7. Monitor
tahankankelembabankulitdanperaw aktivitasdanmobilisasipasien
8. Monitor status nutrisipasien
atanalami
9. Memandikanpasiendengansa
bundan air hangat

Insision site care

1. Membersihkan,
memantaudanmeningkatkan
proses
penyembuhanpadaluka yang
ditutupdenganjahitan,
klipataustrapless
2. Monitor proses kesembuhan
area insisi
3. Monitor
tandadangejalainfeksipada
area insisi
4. Bersihkan area
sekitarjahitanatau staples,
menggunakanlidikapassteril
5. Gunakanpreparat antiseptic,
sesuai program

1. Kontrol nyeri
 Mengenali kapan nyeri terjadi
 Menggambarkan faktor
penyebab
Nyeri akut  Menggunakan tindakan Managemen nyeri
berhubungan
agen cidera pengurangan (nyeri) tanpa
fisik(nanda,hal  Melakukan pengkajian
analgesik
469)
 Menggunakan analgesik yang komprehensif yang
direkomendasikan meliputilokasi,karakteristik,on
 Mengenali apa yang terkait set/durasi,frekuensi, kulaitas,
dengan gejala nyeri intensitas atau beratnya nyeri

11
 Melaporkan nyeri yang dan faktor pencetus
 Menggunakan strategi
terkontrol
komunikasi terapeutik untuk
1. Tingkat nyeri
mengetahui pengalaman nyeri
 Nyeri yang dilaporkan
 Panjangnya episode nyeri dan saampaikan penerimaan
 Ekspresi nyeri wajah pasien terhadap nyeri
 Mengerinyit  Menggali pengetahuan dan
 Fokus menyempit
keeprcayaan pasien mengenai
nyeri
 Memberikan informasi
mengenai nyeri seperti
penyebab nyeri, berapa lama
nyeri akan dirasakan, dan
antisipasi dari
ketidaknyamanan akibat
prosedur
 Mengajarkan prinsip-prinsip
manajemen nyeri (Seperti:
Teknik Relaksasi Nafas Dalam,
Distraksi/mengalihkan
perhatian, dan imajinasi
terbimbing)
 Menganjurkan pasien untuk
memonitor nyeri dan
menangani nyerinya dengan
tepat
 Menganjurkan pasien untuk
menggunakan obat-obatan
penurun nyeri yang adekuat
sesuai resep dokter
 Menggunakan tindakan
pengontrol nyeri sebelum nyeri
sebelum nyeri bertambah berat.
1) Pengalihan
 Menyarankan teknik

12
pengalihan yang sesuai dengan
tingkat energi, kemampuan,
kesesuaian usia, tingkat
perkembangan, ,dan
keefektifan penggunaannya
 Menyarankan pasien untuk
berlatih teknik
distraksi/pengalihan sebelum
waktu yang dibutuhkan

Risiko infeksi
(nanda ,405)

kontrol infeksi (nic 134)


1. Bersihkan ligkungan yang
baik setelah digunakan
pasien
2. Ganti peralatan er pasien
3. Isolssikan yang terkena
penyakit menular
4. Batasi jumlah pengunjung
5. Anjurkan pasen meminum
antibiotic

Keparahan infeksi (noc.145)


1. Lihat kemerahan tidak ada
2. Caira / luka yang berbau
busuk
3. Demam tidak ada
4. Hipotermia tidak ada
5. Gejala grjala gastro
intestinal tidak ada
6. Nyeri tidak ada

13
7. Peningkatan jumlah sel
darah putih sedang

F. SISTEM IMUN DAN GANGGUAN IMUN

A. Pengertian Sistem Imun


Sistem Imun dan Gangguan Imun Merupakan semua mekanisme yang digunakan
badan untuk mempertahankan keutuhan tubuh, sebagai perlindungan terhadap bahaya yang
dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup yang berguna untuk :
1. Pertahanan
2. Homeostasi
3. Pengawasan

Dalam pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme, timbul respon imun.

Ada 2 macam RI, yaitu :

1. RI Spesifik : deskriminasi self dan non self, memori, spesifisitas.


2. RI non Spesifik : efektif untuk semua mikroorganisme
Sel-sel yang berperan dalam sistem imun / respon imun :
1. Sel B
2. Sel T
3. Makrofag
4. Sel dentritik dan Langerhans
5. Sel NK
6. Sebagai mediator : sitokin
7. Limfosit B
terdapat pada darah perifer (10 20%), sumsum tulang, jaringan limfoid perifer, lien, tonsil.

Adanya rangsangan, sel B, berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma, yang mampu
membentuk Ig : G, M, A, D, E

1. Limfosit T
Terdapat pada darah perifer (60 70 %), parakortek kel limfe, periarterioler lien.
Punya reseptor : T cell receptor (TCR), untuk mengikat Ag spesifik.
Mengekspresikan mol CD4, CD8
2. Sel natural killer
sell null (non B non T) ok TCR (-), dan tak menghasilkan AB. 10 20 % limfosit perifer
mampu membuat lisis sel tumor. Mengekspresikan CD16, CD56 pada permukaan bentuk

14
> besar dibanding sel B dan T, mempunyai granula azurofilik dalam sitoplasma : large
granula limphocyt.
3. Sel dentritik dan langerhans.
a. Sel dentritik : pada jar limfoid.
b. Sel langerhans : pada epidermis.
Termasuk sel APC (antigen presenting cell) / sel penyaji.
4. Sitokin.
Merupakan messenger molecule dalam sistem imun. Regulasi RI perlu interaksi antara
limfosit, monosit, sel radang, sel endotel perlu mediator agar terjadi kontak antar sel. Co :
IL 1 17, IFN ? g, TNF, TGF.
a. Kategori Sitokin :
1. Mediator imunitas humoral, yang berfungsi sebagai pelindung terhadap inf. Virus
(interveron), memicu RI non spesifik terhadap radang (IL -1, TNF ?, IL
2. Berhubungan dengan regulasi pertumbuhan, aktivasi dan deferensiasi limfosit (IL
-2, IL -4, TGF B)
b. Mengaktifkan sel radang (IFN g, TNF ?, IL -5, faktor penghambat migrasi)
c. Merangsang hemopoisis (CSF, GM-CSF, IL -3, IL -7)

B. Respon Imun
Respon imun berawal sewaktu sel B atau T berikatan, seperti kuci dengan anak
gemboknya, dengan suatu protein yang diidentifikasi oleh sel T atau B sebagai benda
asing. Selama perkembangan masa janin di hasilkan ratusan ribu sel B dan sel T yang
memilki potensi yang berikatan dengan protein spesifik. Protein yang dapat berikatan
dengan sel T dan B mencakup protein yang terdapat di membran sel bakteri, mikoplasma,
selubung virus, atau serbuk bunga, debu, atau makanan tertentu. Setiap sel dari seseotang
memilki proitein-protein permukaan yang dikenali berbagai benda asing oleh sel T atau B
milik orang lain. Protein yang dapat berikatan dengan sel; atau B di sebut deengan antigen,
apabila suatu antigen menyebabkan sel T atau B menjadi aktif bermultiplikasi dan
berdeferensiaasi lebih lanjut, maka antigen tersebut dapat bersifat imunogenik. antigen
banyak benda asing jika dimasukkan ke dalam tubuh hospes berkali-kali, respon yang
ditimbulkan selalu sama. Namun, ada benda asing tertentu yang mampu menimbulkan
perubahan pada hospes sedemikian rupa sehingga reaksi selanjutnya berbeda daripada
reaksi sewaktu pertama kali masuknya benda asing tersebut. Respon yang berubah
semacam itu dipihak hospes disebut sebgai respon imunologis dan benda-benda asing yang
menyebabkan reaksi tersebut dinamakan antigen atau imunogen. Tujuan utama respon
imun adalah menetralkan , menghancurkan atau mengeluarkan benda asing tersebut lebih
cepat dari biasanya.

15
C. Sifat Khas Respon Imun

1. Tujuan respon imun


Untuk melenyapkan benda yang bersifat antigenik dengan cepat, hal ini dilakukan oleh
tubuh melalui dua macam cara:
a. Respon imun humoral, dipengaruhi oleh imunoglobulin, gammaglobulin dalam
darah, yang disintesis oleh hospes sebagai respon terhadap masuknya benda
antigenik.
b. Reaksi imunologis kedua, respon imun selular, dilakukan secara langsung oleh
limfasit yang berproliferasi akibat amsuknya antigen tersebut. Sel-sel ini bereaksi
secara spesifik antigen (tanpa intervensi dari imunoglobulin).

D. Jaringan Imunoreaktif
Bagian respon imun yang mengakibatkan pembentukan antibody imunoglobulin atau
proliferasi sel-sel reakstif antigen kadang-kadang disebut sebagai fase aferen atau fase
induksi dari respon imun. Limfosit dan makrofag adalah sel-sel yang terutama bertanggung
jawab atas bagian respon ini. Lebih khusus, apa yang dinamakan jaringan limfosit tubular
yang terlihat. Sekali antibodi sudah disintesis atas sel-sel reaktifan/antigen sudah
berproliferasi, maka mereka akan tersebar secara luas sembarang tempatdapat terjadi
reaksi imunologis yang efisien.

E. Imunodefesiensi
Respon imun berkurang / ? tidak mampu melawan infeksi secara adekuat. Ada 2 bentuk:
1. Primer
a. Herediter
b. gejala : 6 bulan 2 tahun
2. Sekunder
perubahan Fs. Imunologik : inf, malnutrisi, penuaan, imunosupresi, kemoterapi dll.

F. Imunopatologi
Rx hipersensitivitas : respon imun berlebihan.
Imunodefisiensi : respon imun berkurang
Autoimun : hilangnya toleransi diri : rx sistem imun terhadap jaringan sendiri

16
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem integumen adalah suatu sistem organ yang membedakan, memisahkan,
melindungi, dan menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Komponen dari
sistem ini merupakan bagian sistem organ yang terbesar yakni :
1. kulit merupakan lapisan terluar pada tubuh manusia. Terdiri dari dua bagian yaitu kulit
tipis dan kulit tebal.
2. Rambut merupakan organ seperti benang yang tumbuh di kulit hewan, terutama
mamalia.
3. Bulu merupakan struktur keratin yang karakteristiknya terdapat pada bangsa aves
dianggap sebagai modifikasi dari sisik.
4. Kuku, adalah bagian tubuh binatang yang terdapat atau tumbuh di ujung jari.
5. Kelenjar keringat, berupa saluran melingkar dan bemuara pada kulit ari dan berbentuk
pori-pori halus.

Sistem kekebalan tubuh ( imunitas ) adalah sistem mekanismepadaorganismeyang


melindungi tubuh terhadap pengaruhbiologis luar dengan mengidentifikasi dan
membunuhpatogen serta seltumor.sistem imun terbagi dua berdasarkan perolehannya atau
asalnya,yaitu :

1. Sistem imun Non Spesifik (Sistem imun alami)


2. Sistem imun Spesifik (Sistem imun yang didapat/hasil adaptasi)

B. Saran
Makalah ini hanya mencakup materi-materi umum Sistem Integumen dan sistem
imun sehingga masih diperlukan referensi-referensi lain dalam menyusun makalah maupun
pembuatan tugas.

17
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer, S. C., Bare, B. G. 2001 Buku Ajar Keperawatan medikal-bedah Brunner & suddarth-Ed. 8.
Vol 3. Jakarta: EGC

Syaifuddin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan-Ed. 2. Jakarta: Salemba
Medika

Taylor, C. M., Ralph, S. S. Diagnosis Keperawatan: Dengan Rencana Asuhan-Ed. 10. Jakarta: EGC

18

Anda mungkin juga menyukai