Anda di halaman 1dari 26

KONSUMSI, TABUNGAN DAN INVESTASI

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
KELOMPOK 4

1. MARIA SITORUS 7183144025


2. RANI SARTIKA BR SEMBIRING 7181144025
3. RADA SOFIA MANURUNG 7183344007

DOSEN PENGAMPU : MUNZIR PHONA, S.Pd., M.Si


MATA KULIAH : PENGANTAR EKONOMI MAKRO
PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
B (REGULER)
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat-Nya kepada Penulis, sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah tentang
”Konsumsi, Tabungan Dan Investasi” dengan lancar. Penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada dosen pengampu, yaitu Munzir Phona, S.Pd, M.Si. Atas bimbingannya sehingga
Penulis dapat memenuhi tugas mata Kuliah Pengantar Ekonomi Makro. Semoga makalah ini
memenuhi syarat yang diharapkan.
Seperti sebuah peribahasa tak ada gading yang tak retak, Penulis menyadari bahwa
makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena memiliki banyak kekurangan, baik dalam
hal isi maupun istematika penulisan. Oleh sebab itu Penulis sangat mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang
membacanya

Medan, Maret 2019

Kelompok 4

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................. 1
DAFTAR ISI ................................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latarbelakang masalah............................................................................................ 3
1.2 Rumusan masalah .................................................................................................. 3
1.3 Tujuan .................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Analisis Permintaan dan Penawaran Agregat........................................................ 4
2.2 Konsumsi Tabungan dan Investasi ......................................................................... 15
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ............................................................................................................ 23
3.2 Saran ....................................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 25

2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Teori konsumsi diperkenalkan oleh John Maynard Keynes sesudah terjadinya Depresi
Ekonomi tahun 1929-1930 melalui bukunya yang berjudul ” The General Theory of
Employment, Interest dan Uang ”. Berbagai kritikan dan penyempurnaan terhadap teori ini
kemudian bermunculan, antara lain kritikan yang datang dari ” Keynesian” Simon Kuznets
dengan konsumsi jangka panjangnya. Teori Konsumsi kemudian juga dikembangkan
oleh Milton Friedman dengan Permanent Income Hypothesis, yang setuju dengan pemikiran
Adam Smith tentang kebebasan pasar . Franco Modigliano dengan teori life cycle Hypothesis
- LCH), dan James Duesenbery yang mempelopori teori konsumsi melalui Relative Income
Hypothesis – RIH adalah ahli ekonomi yang sealiran dengan Keynes.
Kata consumption dilambangkan dengan huruf C adalah bagian dari pendapatannya yang
dibelanjakan sedangkan bagian pendapatan yang tidak dibelanjakan
disebut tabungan dilambangkan dengan huruf S (saving). Apabila pengeluaran-pengeluaran
konsumsi semua orang dalam suatu Negara dijumlahkan, maka hasilnya adalah pengeluaran
konsumsi masyarakat Negara yang bersangkutan. Disisi lain jika tabungan semua orang di
suatu Negara dijumlahkan, maka hasilnya adalah tabungan masyarakat Negara tersebut.
Selanjutnya, tabungan masyarakat bersama-sama dengan tabungan pemerintah membentuk
tabungan nasional. Yang terakhir ini, tabungan nasional merupakan sumber dana investasi.
Konsumsi seseorang berbanding lurus dengan pendapatannya. Secara makroagregat,
pengeluaran konsumsi masyarakat berbanding lurus dengan pendapatan nasional. Semakin
besar pendapatan, semakin besar pula penggeluaran konsumsi.
Perilaku tabungan juga begitu. Jadi, bila pendapatan bertambah, baik konsumsi maupun
tabungan akan sama-sama bertambah. Perbandingan besarnya tambahan pengeluaran
konsumsi terhadap tambahan pendapatan disebut hasrat marjinal untuk berkonsumsi (marginal
propensity to consume, MPC). Sedangkan nisbah besarnya tambahan tabungan terhadap
pendapatan dinamakan hasrat marjinal untuk menabung ( marginal propensity to save, MPS).
Pada masyarakat yang kehidupan ekonominya relative belum mapan, biasanya angka MPC
mereka relative besar, sementara angka MPS mereka relative kecil. Artinya, jika mereka
memperoleh tambahan pendapatan, maka sebagian besar tamabhan pendapatan itu akan
teralokasikan untuk konsumsi

3
1.2 Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan
pada makalah ini adalah:
1. Bagaimana Teori Konsumsi dan Tabungan?
2. apa Fungsi Konsumsi dan Tabungan?
3. Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsumsi dan Tabungan
4. Bagaimana Teori Investasi?
5. Apa saja Faktor-faktor yang mempengaruhi Investasi?
1.3 TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui Permintaan dan Penawaran Agregat
2. Mengetahui dan memahami Teori Konsumsi dan Tabungan
3. Mengetahui dan memahami Fungsi Konsumsi dan Tabungan
4. Mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsumsi dan Tabungan
5. Mengetahui dan memahami Teori Investasi
6. Mengetahui dan memahami Faktor-faktor yang mempengaruhi Investasi

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Analisis Permintaan dan Penawaran Agregat
Permintaan Agregat - Berikut ini merupakan pembahasan tentang Permintaan
Agregat, adapun pembahasannya meliputi Permintaan Agregat, Kurva Permintaan Agregat,
Permintaan agregat (Aggregate demand), Penawaran agregat (Aggregate supply),
Guncangan (Shocks), Guncangan permintaan (Demand shocks), Guncangan penawaran
(Supply shocks), Kebijakan stabilisasi (Stabilization policy), Pergeseran Kurva Permintaan,
Penawaran Agregat, Kurva Penawaran Agregat-Vertikal, Kliring Pasar dalam Pasar Tenaga
Kerja, Kurva penawaran agregat-vertikal memenuhi dikotomi klasik, Ekuilibrium Jangka-
Panjang, Penurunan Permintaan Agregat, Kebijakan Stabilisasi, Guncangan pada Permintaan
Agregat, Guncangan pada Penawaran Agregat.
Model makroekonomi ini memungkinkan kita memeriksa bagaimana tingkat harga
agregat dan jumlah output agregat ditentukan dalam jangka pendek. Ini juga menyediakan
suatu cara untuk membedakan bagaimana kinerja perekonomian dalam jangka panjang dan
dalam jangka pendek.

Analisis Permintaan dan Penawaran Agregat

Permintaan Agregat
Permintaan Agregat (Aggregate demand, AD) adalah hubungan antara jumlah output
diminta dan tingkat harga agregat. Ini menyatakan jumlah barang dan jasa yang orang ingin
beli pada tiap tingkat harga tertentu.
Ingat Teori Kuantitas Uang (MV=PY), di mana M adalah jumlah uang beredar, V
adalah perputaran uang, P adalah tingkat harga, dan Y adalah jumlah output.
Tidak realistis, namun asumsi yang memudahkan yaitu perputaran uang adalah

5
konstan. Juga, ketika memahami persamaan ini, ingat persamaan kuantitas dapat ditulis ulang
dalam istilah penawaran dan permintaan untuk keseimbangan uang riil : M/P = (M/P)d = kY,
di mana k = 1/V adalah parameter penentu berapa banyak uang orang ingin pegang untuk tiap
dolar pendapatan. Persamaan ini menyatakan bahwa penawaran keseimbangan uang M/P sama
dengan permintaan dan bahwa permintaan adalah proporsional terhadap output. Asumsi
perputaran konstan sebanding dengan asumsi permintaan konstan akan keseimbangan uang riil
per unit output.
Kurva Permintaan Agregat
Kurva Permintaan Agregat (AD) menunjukkan hubungan negatif antara tingkat
harga P dan jumlah barang dan jasa yang diminta Y, digambarkan untuk nilai jumlah uang
beredar M tertentu. Kurva ini miring ke bawah : semakin tinggi tingkat harga P, semakin
rendah tingkat keseimbangan riil M/P, dan karenanya semakin rendah jumlah barang dan jasa
yang diminta Y.
Seiring tingkat harga menurun, kita bergerak ke bawah sepanjang kurva AD.
Tiap perubahan pada M atau V akan menggeser kurva AD. Ingat permintaan output riil
bervariasi berbanding terbalik dengan tingkat harga.
Mengapa kurva permintaan agregat miring ke bawah?
Pikirkan tentang penawaran dan permintaan keseimbangan uang riil. Jika output lebih
tinggi, orang terlibat transaksi lebih banyak dan butuh keseimbangan riil M/P lebih tinggi.
Untuk jumlah uang beredar M tetap, keseimbangan riil lebih tinggi berdampak tingkat harga
lebih rendah. Sebaliknya, jika tingkat harga lebih rendah, keseimbangan uang riil lebih tinggi;
tingkat keseimbangan riil lebih tinggi memungkinkan volume transaksi yang lebih besar, yang
berarti jumlah output diminta lebih besar.
Lebih Banyak tentang Kurva Permintaan Agregat
Kurva permintaan agregat digambar untuk nilai tertentu dari jumlah uang beredar.
Dengan kata lain, ini menyatakan kombinasi-kombinasi yang mungkin dari P dan Y untuk nilai
M tertentu. Jika Bank Sentral mengubah jumlah uang beredar, maka kombinasi yang mungkin
dari P dan Y berubah, yang berarti kurva permintaan agregat bergeser. Mari kita lihat
bagaimana.
Pergeseran Kurva Permintaan
Penurunan jumlah uang beredar M mengurangi nilai output nominal PY. Untuk tiap
tingkat harga P tertentu, output Y jadi lebih rendah. Jadi, penurunan jumlah uang beredar
menggeser kurva AD ke dalam dari AD ke AD'.

6
Pergeseran Kurva Permintaan
Peningkatan jumlah uang beredar M meningkatkan nilai output nominal PY. Untuk tiap tingkat
harga P tertentu, output Y jadi lebih tinggi. Jadi, peningkatan jumlah uang beredar menggeser
kurva AD ke luar dari AD ke AD'.

Pergeseran Kurva Permintaan

Penawaran Agregat
Penawaran Agregat (Aggregate Supply, AS) adalah hubungan antara jumlah barang
dan jasa yang ditawarkan dan tingkat harga. Karena perusahaan yang menawarkan barang
dan jasa memiliki harga fleksibel dalam jangka panjang tapi harga kaku dalam jangka
pendek, hubungan-hubungan pada penawaran agregat bergantung pada horizon waktu.
Ada dua kurva penawaran agregat berbeda :

7
kurva penawaran agregat jangka-panjang (long-run aggregate supply curve, LRAS) dan
kurva
penawaran agregat jangka-pendek (short-run aggregate supply curve, SRAS). Kita juga
harus mendiskusikan bagaimana perekonomian membuat transisi dari jangka pendek ke jangka
panjang. Tapi, pertama-tama, kita buat kurva penawaran jangka-panjang (LRAS).
1. Keseimbangan dalam Jangka Pendek
Figur 4 mengilustrasikan keseimbangan jangka pendek dimana agregat yang diminta
sama dengan jumlah ouput yang ditawarkan. Dimana kurva permintaan agregat jangka pendek
AD dan kurva penawaran agregat jangja pendek AS berpotongan dititik E.
Tingkat keseimbangan output agregat Y* dan tingkat harga keseimbangan sama dengan
P*.Ketika tingkat harga (katakanlah P”) berada di atas tingkat harga keseimbangan P*, maka
jumlah ouput yang ditawarkan akan lebih besar daripada jumlah output yang diminta
(kelebihan penawaran).
Sebaliknya ketika tingkat harga (katakanlah P’) berada dibawah tingkat harga
keseimbangan P*, maka jumlah output yang diminta lebih besar daripada jumlah output yang
ditawarkan (kelebihan permintaan).

Keseimbangan dalam Jangka Pendek


Keseimbangan terjadi pada titik E pada perpotongan kurva permintaan agregat AD
dan kurva penawaran agregat jangka pendek AS.
2.Keseimbangan dalam Jangka Panjang
Pada panel (a) Figur 5, keseimbangan awal terjadi pada titik 1, perpotongan kurva
permintaan agregat AD dan kurva penawara agregat awal jangka pendek AS1. Karena tingkat
output keseimbangan Y1 lebih besar daripada tingkat alamiah Yn, pengangguran lebih rendah
daripada tingkat alamiahnya dan kekakuan yang berlebihan terjadi di pasar tenaga kerja.

8
Kekakuan ini mendorong tingkat upah untuk meningkat, menaikkan biaya produksi,
dan menggeser kurva penawaran agregat AS2. Keseimbangan sekarang berada pada titik 2,
dan output menurun ke Y2. Karena output agregat Y2 masih berada di tingkat alamiah Yn,
upah terus didorong naik dan secara perlahan-lahan menggeser kurva penawaran agregat ke
AS3.
Keseimbangan yang dicapai pada titik 3 berada pada kurva penawaran agregat jangka
panjang yang vertical (LRAS) pada Yn dan merupakan keseimbangan jangka panjang. Karena
output tidak ada kecenderungan lebih lanjut bagi kurva penawaran agregat untuk bergeser.
Pergerakan pada panel (a) menunjukkan bahwa perekonomian tidak akan tetap pada
tingkat output yang lebih besar daripada tingkat alamiah karena kurva penawaran agregat
jangka pendek akan bergeser kekiri, meningkatkan tingkat harga dan menyebabkan
perekonomian (kekseimbangan) meluncur naik sepanjang kurva permintaan agregat hingga
mencapai titik di sepanjang kurva penawaran jangka panjang pada tingkat output natural Yn.
Pada panel (b) keseimbangan awal pada titik 1 adalah salah satu dimana output Y1
berada dibawah tingkat alamiah. Karena pengangguran lebih tinggi daripada tingkat
alamiahnya, upah menurun, yang menggeser kurva penawaran agregat jangka pendek ke kanan
hingga berada pada AS3. Perekonomian (keseimbangan) meluncur turun di sepanjang kurva
permintaan agregat hingga mencapai keseimbangan jangka panjang titik 3, yaitu perpotongan
kurva permintaan agregat (AD) dan kurva penawaran agregat jangka panjang (LRAS) pada
Yn. Disini sebagaimana pada panel (a), perekonomian tidak lagi bergerak ketika output telah
kembali lagi ke tingkat alamiah. Hal yang menonjol dari kedua panel Figur 5 bahwa terlepas
dimana output awalnya berbeda, secara perlahan-lahan output kembali ke tingkat alamiahnya.
Sifat ini dijelaskan dengan mengatakan bahwa perekonomian mempunyai mekanisme koreksi
diri ( self-correcting mechanism). Pada kedua panel, keseimbangan jangka pendek awal adalah
pada titik 1 pada perpotongan AD dan AS1. Pada panel (a), Y1>Yn sehingga kurva penawaran
agregt jangka pendek terus bergeser ke kiri hingga mencapai AS2, dimana output telah kembali
ke Yn.
Pada panel (b), Y1<Yn sehingga kurva penawaran agregat jangka pendek terus bergeser
ke kanan hingga output kembali ke Yn lagi. Dengan demikian dalam kedua kasus,
perekonomian menampilkan suatu mekanisme koreksi diri yang mengembalikannya lagi ke
tingkat output alamiah.

9
Keseimbangan dalam Jangka Panjang
Kliring Pasar dalam Pasar Tenaga Kerja
Kita mulai pada kesempatan kerja penuh, n*, dengan upah W/P0.
Sekarang kita lihat bagaimana pekerja bereaksi ketika ada kenaikan tiba-tiba pada tingkat
harga.
Pada upah riil baru yang lebih rendah ini, pekerja akan mengurangi jam kerja.
Tapi, pada saat yang sama, pemberi kerja meningkatkan permintaan mereka pada pekerja

10
Kliring Pasar dalam Pasar Tenaga Kerja

Jadi, sekarang pasar tenaga kerja ada pada “disekuilibrium” di mana jumlah yang diminta
melebihi jumlahyang ditawarkan.Kita akan melihat bagaimana “upah fleksibel” akan
memungkinkan pasar tenaga kerja kembali ke ekuilibrium, pada kesempatan kerja penuh, n*.
Untuk mempekerjakan lebih banyak pekerja, pemberi kerja harus meningkatkan upah riil ke
2W.

Mekanisme yang baru kita telaah akan membantu kita membentuk kurva penawaran jangka
panjang kita.

11
Kurva penawaran agregat-vertikal memenuhi dikotomi klasik, karena menunjukkan
tingkat output tak tergantung jumlah uang beredar. Tingkat output jangka-panjang ini, Y,
disebut kesempatan kerjapenuh (full-employment) atau tingkat output alami (natural).
Ini adalah tingkat output di mana sumber-sumber daya perekonomian dikaryakan
sepenuhnya, atau lebih realistis, di mana pengangguran berada pada tingkat wajarnya.

Ekuilibrium Jangka-Panjang

12
Dalam jangka panjang, perekonomian ada pada perpotongan kurva penawaran agregat
jangka panjang dan kurva permintaan agregat. Karena harga-harga telah disesuaikan pada
tingkat ini, SRAS memotong titik ini pula.
Penurunan Permintaan Agregat

Perekonomian mulai pada ekuilibrium jangka-panjang di titik A. Maka, penurunan


permintaan agregat, mungkin disebabkan penurunan jumlah uang beredar M, menggeser
perekonomian dari titik A ke titik B, di mana output di bawah tingkat alaminya. Seiring harga
turun, perekonomian pulih dari resesi, bergerak dari titik B ke titik C.
Kebijakan Stabilisasi
Perubahan eksogen pada penawaran atau permintaan agregat disebut guncangan
(shocks). Guncangan yang mempengaruhi penawaran agregat disebut guncangan penawaran
(supply shock). Guncangan yang mempengaruhi permintaan agregat disebut guncangan
permintaan (demand shock). Guncangan-guncangan ini yang mengganggu perekonomian
mendorong output dan pengangguran menjauh dari tingkat alaminya. Satu tujuan dari model

13
penawaran/permintaan agregat adalah untuk membantu menjelaskan bagaimana guncangan
menyebabkan fluktuasi ekonomi. Ekonom memakai istilah kebijakan stabilisasi (stabilization
policy), merujuk pada aksi kebijakan yang diambil untuk mengurangi tekanan fluktuasi
ekonomi jangka pendek. Kebijakan stabilisasi mencoba memperkecil siklus bisnis dengan
menahan output dan kesempatan kerja sedekat mungkin dengan tingkat alaminya. Model pada
bab ini adalah versi lebih sederhana dari model yang akan kita lihat pada bab-bab berikutnya.
Guncangan pada Permintaan Agregat

Perekonomian mulai dalam ekuilibrium jangka-panjang di titik A. Kenaikan


permintaan agregat, akibat peningkatan perputaran uang, menggerakkan perekonomian dari
titik A ke titik B, di mana output di atas tingkat alaminya. Seiring harga naik, output berangsur-
angsur kembali ke tingkat alaminya, dan perekonomian bergerak dari titik B ke titik C.
Guncangan pada Penawaran Agregat

Guncangan penawaran yang memperburuk meningkatkan biaya dan harga.


Jika AD dipertahankan konstan, perekonomian bergerak dari titik A ke titik B, mengarah
pada stagflas kombinasi kenaikan harga dan penurunan tingkat output. Akhirnya, seiring
harga turun, perekonomian kembali ke tingkat alami pada titik A.
Mengakomodasi Guncangan Penawaran yang Memperburuk

14
Menanggapi guncangan penawaran yang memperburuk, Bank Sentral bisa meningkatkan
permintaan agregat untuk mencegah penurunan output. Perekonomian bergerak dari titik A ke
titik B. Biaya dari kebijakan ini adalah tingkat harga yang lebih tinggi secara permanen
Demikianlah pembahasan yang meliputi :
Permintaan agregat (Aggregate demand), Penawaran agregat (Aggregate supply),
Guncangan (Shocks), Guncangan permintaan (Demand shocks), Guncangan
penawaran (Supply shocks), Kebijakan stabilisasi ( Stabilization policy)

2.2 Teori Konsumsi dan Tabungan


Konsumsi berasal dari bahasa Inggris yaitu (Consumption) adalah pembelanjaan atas bar
ang-barang dan jasajasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan dari orang yang melakukan pembelanjaan tersebut. Pembelanjaan
masyarakat atas makanan, pakaian, dan barang-
barang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan atau konsumsi. baran
g yang diproduksi untuk digunakan oleh masyarakatuntuk memenuhi kebutuhannya dinam
akan barang konsumsi (Dumairy, 2004).
John Maynard Keynes dalam bukunya yang berjudul ” The General Theory of
Employment, Interest dan Uang ”. Menyatakan bahwa semakin besar pendapatan seseorang
maka akan semakin banyak tingkat konsumsinya pula, dan tingkat tabungannya pun akan
semakin bertambah. dan sebaliknya apabila tingkat pendapatan seseorang semakin kecil, maka
seluruh pendapatannya digunakan untuk konsumsi sehingga tingkat tabungannya nol.
Pendapatan suatu negara terdiri atas dua hal, yaitu : (1). Pendapatan Perseorangan ( Y=C+S)
dan (2). Pendapatan Perusahaan (Y=C+I). Apabila pendapatan berubah, maka perubahan
tersebut akan berpengaruh terhadap konsumsi dan tabungan

15
Rumus Persamaan nya adalah : C = a + By

Keterangan:
C = konsumsi
Y = pendapatan disposibel
A = konstanta
B = kecenderungan mengkonsumsi marginal (Mankiw, 2003)
Tabungan ialah sisa dari pendapatan yang telah digunakan untuk pengeluaran
pengeluaran konsumsi. Atau dengan kata lain saving ialah bagian daripada pendapatan yang
tidak dikonsumsi. Dalam lingkup makro ekonomi saving dapat didefinisikan sebagai bagian
dari pada pendapatan nasional per tahun yang tidak dikonsumsi.
Tabungan adalah bagian dari pendapatan dapat dibelanjakan (disposable income) yang
tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Ini merupakan tabungan masyarakat. Tabungan pemerintah
adalah selisih positif antara penerimaan dalam negeri dan pengeluaran rutin. Kedua macam
tabungan ini membentuk tabungan nasional, merupakan sumber dana investasi. Pendapatan
dimanfaatkan untuk konsumsi dan tabungan sehingga rumus umumnya:
Keterangan:
Y = Pendapatan
C = Konsumsi
S = saving (tabungan)
Karena Y = C + S maka S = Y – C, Jika kita subtitusikan dengan fungsi konsumsi, maka:
S = Y–C
S = Y – (a + BY)
S = Y – a – BY
S = –a + (1 – b)Y
Dalam fungsi saving juga mengenal Marginal Propensity to Save (MPS), yaitu perbandingan
antara bertambahnya saving dengan bertambahnya pendapatan nasional yang mengakibatkan
bertambahnya saving termaksud. Di mana perumusannya adalah sebagai berikut :
Keterangan:
S = Tambahan tabungan
Y = Tambahan pendapatan
MPS = Marginal Propensity to Save

16
Di dalam fungsi konsumsi S = –a + (1 – b)Y, maka besarnya MPS = 1 – b Karena b = MPC,
maka MPS = 1 – MPC atau MPS + MPC = 1. Untuk fungsi saving berbetuk garis lurus besarnya
nilai S, yaitu marginal propensity to save, pada semua tingkatan pendapatan nasional adalah
sama.
Kendati pada dasarnya semua sisa pendapatan yang tidak dikonsumsi adalah tabungan,
namun tidak seluruhnya merupakan tabungan sebagaimana yang dikonsepsikan dalam makro
ekonomi. Hanya bagian yang dititipkan pada lembaga perbankan sajalah yang dapat dinyatakan
sebagai tabungan, karena secara makro dapat disalurkan sebagai dana investasi. Sisa
pendapatan tidak dikonsumsi yang disimpan sendiri (istilah umumnya celengan) tidak
tergolong sebagai tabungan.
Angka tabungan nasional sendiri merupakan hasil penaksiran pula, yaitu PDB dikurangi
Nilai Konsumsi Akhir Sektor Rumah Tangga dan Sektor Pemerintah, ditambah Pendapatan
Netto Faktor Produksi terhadap Luar Negeri. Jadi, karena kesulitan teknis penafsiran,
metodologi perhitungannya dibalik. Bukannya tabungan masyarakat ditambah tabungan
pemerintah menghasilkan tabungan nasional, melainkan tabungan nasional dikurangi tabungan
pemerintah menghasilkan tabungan masyarakat. Kepraktisan metodologis semacam ini tentu
saja merupakan kelemahannya.
Tabungan masyarakat bersama-sama tabungan pemerintah dan dana dari luar negeri
merupakan sumber pembiayaan investasi. Dalam rangka menggalakkan peran serta masyarakat
dalam pembangunan, tabungan masyarakat senantiasa diupayakan untuk terus meningkat.
A. Fungsi Konsumsi dan Tabungan
Fungsi konsumsi Keynes adalah fungsi konsumsi jangka pendek. Keynes tidak
mengeluarkan fungsi konsumsi jangka panjang karena menurut Keynes ” in the long run we’re
all dead.” , bahwa di dalam jangka panjang, kita semua akan mati, sehingga jangka panjang
tidak perlu diprediksi. Fungsi konsumsi Keynes dapat dijelaskan sebagai berikut
Fungsi konsumsi Keynes adalah:
C = a + c Yd
Dimana
c = Marginal Propensity to Consume (MPC) 0 < MPC < 1
a = Konstanta atau autonomous consumption
Yd = Pendapatan Disposable atau pendapatan yang siap dikonsumsi
Yd = Y – Tx + Tr
Tx = Pajak
Tr = Subsidi

17
Fungsi konsumsi Keynes adalah fungsi konsumsi jangka pendek. Keynes
tidakmengeluarkan fungsi konsumsi jangka panjang karena menurut Keynes in the long r
un we’re alldead. Bahwa di dalam jangka panjang, kita semua akan mati, sehingga jangk
a panjang tidak perludiprediksi.
Tabungan ialah sisa dari pendapatan yang telah digunakan untuk
pengeluaranpengeluaran konsumsi. Atau dengan kata lain saving ialah bagian daripada
pendapatan yang tidak dikonsumsi. Dalam lingkup makro ekonomi saving dapat didefinisikan
sebagai bagian daripada pendapatan nasional per tahun yang tidak dikonsumsi. Pendapatan
dimanfaatkan untuk konsumsi dan tabungan sehingga rumus umumnya:

Keterangan:
Y = Pendapatan
C = Konsumsi
S = saving (tabungan)
Karena Y = C + S maka S = Y – C, Jika kita subtitusikan dengan fungsi konsumsi,
maka:
S=Y–C
S = Y – (a + BY)
S = Y – a – BY
S = –a + (1 – b)Y
Oleh karena itu kelebihan tabungan ini akan menyebabkan over investasi atau
penimbunan, sehingga menimbulkan pengangguran. Apakah ini berarti perekonomian akan
kembali ke depresi ?Perbandingan antara perkiraan (prediksi) dengan hasil aktual
menunjukkan bahwa : Konsumsi adalah dibawah prediksi Tabungan adalah lebih tinggi dari
yang diramalkan Implikasinya : Faktor penentu utama dalam persamaan perilaku konsumsi
harus dihilangkan
B. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Konsumsi dan Tabungan
1) Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga, antara
lain :
a. Faktor Ekonomi
 Pendapatan Rumah Tangga (Household Income )
 Kekayaan Rumah Tangga ( Household Wealth )
 Tingkat Bunga ( Interest Rate )

18
 Perkiraan Tentang Masa Depan (Household Expectation About The Future)
Faktor-faktor internal yang dipergunakan untuk memperkirakan prospek masa depan
rumah tangga antara lain pekerjaan, karier dan gaji yang menjanjikan, banyak anggota keluarga
yang telah bekerja. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi antara lain kondisi
perekonomian domestic dan internasional, jenis-jenis dan arah kebijakan ekonomi yang
dijalankan pemerintah.
b. Faktor Demografi
 Jumlah Penduduk
 Komposisi Penduduk

c. Faktor-faktor Non Ekonomi


 Faktor social budaya masyarakat. Misalnya saja, berubahnya pola kebiasaan makan,
 Perubahan etika dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang
dianggap lebih hebat/ideal.

2) Faktor yang memengaruhi Tabungan (S), yaitu:


a. Pendapatan yang diterima
Semakin banyak pendapatan yag diterima berarti semakin banyak pula
pendapatan yang disisihkan untuk saving.
b. Hasrat untuk menabung (Maginal Propensity to Save) Hal ini didorong dengan
keinginan masing-masing individu dalam mengalokasikan
pendapatannya untuk ditabung karena pertimbangan keamanan.
c. Tingkat suku bunga bank
Semakin tinggi tingkat suku bunga simpanan maka semakin banyak masyarakatuntuk
menabung (saving).
C. Teori Investasi
Investasi adalah keputusan menunda konsumsi sumber daya atau bagian penghasilan demi
meningkatkan kemampuan, menambah / menciptakan nilai hidup (penghasilan dan kekayaan).
Investasi bukan hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga non fisik, terutama peningkatan
kualitas sumber daya manusia.
Dalam teori ekonomi makro yang dibahas adalah investasi fisik. Dengan pembatasan
tersebut maka definisi investasi dapat lebih dipertajam sebagai pengeluaran-pengeluaran yang
meningkatkan stok barang modal. Stok barang modal adalah jumlah barang modal dalam suatu
perekonomian pada saat tertentu.
19
1. Investasi Dalam Bentuk Barang Modal dan Bangunan
Yang tercakup dalam investasi barang modal dan bangunan adalah pengeluaran-
pengeluaran untuk pembelian pabrik, mesin, peralatan produksi, bangunan/gedung yang baru.
Karena daya tahan madal dan bangunan umumnya lebih dari setahun, seringkali investasi ini
disebut sebagai investasi dalam bentuk harta tetap (fixed investment).
Di Indonesia, istilah yang setara dengan fixed investment adalah pembentukan modal tetap
domestic bruto (PMTDB). Supaya lebih akurat, jumlah investasi yang perlu diperhatikan
adalah investasi bersih yaitu PMTDB dikurangi penyusutan.
2. Investasi Persediaan
Perusahaan seringkali memproduksi barang lebih banyak daripada target penjualan. Hal
ini dilakukan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Tentu saja investasi persediaan
diharapkan meningkatkan penghasilan/keuntungan. Persediaan barang tersebut dikatakan
sebagai investasi yang direncanakan atau investasi yang diinginkan karena telah direncanakan.
Selain barang jadi, investasi dapat juga dilakukuan dalam bentuk persediaan barang baku dan
setengah jadi.
Nilai Waktu dari Uang
a. Nilai Sekarang ( Present Value )
Nilai nominal dari sejumlah mata uang belum tentu akan lebih berharga dimasa datang.
Hal ini sangat tergantung dari tingkat pengembalian investasi yang diinginkan.

V = X Ket : V = Nilai yang akan datang


(1+r) X = Nilai sekarang
t = Waktu
r = Faktor diskonto

b. Nilai Masa Mendatang ( Future Value )


Menghintung nilai masa mendatang adalah kebalikan dari menghitung nilai sekarang dari
output investasi yang direncanakan. Sekalipun melihat dari sudut pandang yang bertolak
belakang, keputusan yang dihasilkan tetap sama.

F = A (1+r) Ket : F = Nilai masa mendatang yang diharapkan


A = Investasi awal
t = Waktu
Kriteria Investasi
20
1. Payback Period
Payback period adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan dapat
dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu yang
dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik. Kendatipun demikian, kita
harus berhati-hati menafsirkan kriteria payback period ini. Sebab ada investasi yang baru
menguntungkan dalam jangka panjang (> 5 tahun).
2. Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio)
B/C ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding hasil
(output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan dengan C (cost). Output yang
dihasilkan dinotasikan dengan B (benefit). Keputusan menerima atau menolak proposal
investasi dapat dilakukan dengan melihat nilai B/C. Umumnya, proposal investasi baru
diterima jika B/C > 1, sebab berarti output yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang
dikeluarkan.
3. Net Present Value (NPV)
Perhitungan dengan menggunakan nilai nominal dapat menyesatkan, sebab tidak
memperhitungkan nilai waktu dari uang. Untuk membuat hasil lebih akurat, maka nilai
sekarang didiskontokan. Keuntungan dari menggunakan metode diskonto adalah kita dapat
langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih.
Selisih inilah yang disebut net present value. Suatu proposal investasi akan diterima jika NPV
> 0, sebab nilai sekarang dari penerimaan total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya
total.
4. Internal Rate of Return (IRR)
Internal rate of return adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung pada saat NPV
sama dengan nol. Keputusan menerima/menolak rencana investasi dilakukan berdasarkan hasil
perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang diinginkan (r).
D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Investasi
1. Tingkat Pengembalian yang Diharapkan (Expected Rate of Return)
 Kondisi Internal Perusahaan
Kondisi internal adalah faktor-faktor yang berada di bawah kontrol Perusahaan,
seperti tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi. Sedangkan faktor non-teknis,
seperti kepemilikkan hak dan atau kekuatan monopoli, kedekatan denga pusat
kekuasaan, dan penguasaan jalur informasi.
 Kondisi Eksternal Perusahaan

21
Kondisi eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan
akan investasi utama adalah perkiraan tentang tingkat produksi dan pertumbuhan
ekonomi domestic maupun internasional.
2. Biaya Investasi
Hal yangpaling menentukan adalah tingkat bunga pinjaman. Makin tinggi
tingkat bunganya maka biaya investasi makin mahal. Akibatnya minat akan investasi
makin menurun. Namun tidak jarang, walaupun tingkat bunga pinjaman rendah, minat
akan investasi tetap rendah. Hal ini disebabkan biaya total investasi masih tinggi dan
faktor yang mempengaruhi adalah masalah kelembagaan.
3. Marginal Efficiency of Capital (MEC), Tingkat Bunga, dan Marginal
Efficiency of Investement (MEI)
 Marginal Efficiency of Capital (MEC), Investasi, dan Tingkat Bunga MEC adalah
tingkat pengembalian yang diharapkan dari setiap tambahan barang modal.
 Marginal Effeciency of Capital (MEC) dan Marginal Efficiency of Investment (MEI

22
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Konsumsi adalah pembelanjaan atas barang-barang dan jasa-
jasa yang dilakukan oleh rumah tangga dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
dari orang yang melakukan pembelanjaan tersebut.
2. Semakin besar pendapatan seseorang maka semakin banyak tingkat konsumsinya pula, dan
tingkat tabungannya pun akan semakin bertambah. Begitu pula sebaliknya apabila tingkat
pendapatan seseorang semakin kecil, maka seluruh pendapatannya digunakan untuk
konsumsi sehingga tingkat tabungannya nol.
3. Pendapatan suatu negara terdiri atas dua hal, yaitu : (1). Pendapatan Perseorangan (
Y=C+S) dan (2). Pendapatan Perusahaan (Y=C+I). Apabila pendapatan berubah, maka
perubahan tersebut akan berpengaruh terhadap konsumsi dan tabungan
4. Konsumsi adalah dibawah prediksi, Tabungan adalah lebih tinggi dari yang
diramalkanImplikasinya
5. Fungsi konsumsi Keynes adalah fungsi konsumsi jangka pendek. Keynes tidak
mengeluarkan fungsi konsumsi jangka panjang karena menurut Keynes bahwa di dalam
jangka panjang, kita semua akan mati
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga, antara
lain
 Faktor Ekonomi
 Faktor Demografi
 Faktor-faktor Non Ekonomi
7. Faktor yang memengaruhi Tabungan (S), yaitu:
 Pendapatan yang diterima
 Hasrat untuk menabung (Maginal Propensity to Save) Hal ini didorong
 Tingkat suku bunga bank
8. Investasi adalah keputusan menunda konsumsi sumber daya atau bagian penghasilan demi
meningkatkan kemampuan, menambah / menciptakan nilai hidup (penghasilan dan
kekayaan). Investasi bukan hanya dalam bentuk fisik, melainkan juga non fisik, terutama
peningkatan kualitas sumber daya manusia

23
3.2 SARAN
3.3 Jika ada kesalahan dan kekeliruan pada makalah ini maka kami mohon kritik maupun saran
yang sifatnya membangun dari pembaca demi kesempurnaan kedepan.

24
DAFTAR PUSTAKA
Modul Pengantar Ekonomi Makro Universitas Negeri Medan
https://wardayadi.wordpress.com
http://untukkita.blogspot.com

25