Anda di halaman 1dari 15

1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori dan Konsep

2.1.1 Stewardship Theory

Teori Stewardship mempunyai akar psikologi dan sosiologi yang didesain

untuk menjelaskan situasi dimana manajer sebagai steward dan bertindak sesuai

kepentingan pemilik (Donaldson, & Davis, 1991). Dalam teori stewardship

manajer akan berperilaku sesuai kepentingan bersama. Ketika kepentingan

steward dan pemilik tidak sama, steward akan berusaha bekerja sama daripada

menentangnya, karena steward merasa kepentingan bersama dan berperilaku

sesuai dengan perilaku pemilik merupakan pertimbangan yang rasional karena

steward lebih melihat pada usaha untuk mencapai tujuan organisasi.

Teori stewardship mengasumsikan hubungan yang kuat antara

kesuksesan organisasi dengan kepuasan pemilik. Steward akan melindungi dan

memaksimalkan kekayaan organisasi dengan kinerja perusahaan, sehingga

dengan demikian fungsi utilitas akan maksimal. Asumsi penting dari stewardship

adalah manajer meluruskan tujuan sesuai dengan tujuan pemilik. Namun

demikian tidak berarti steward tidak mempunyai kebutuhan hidup. (Raharjo,

2007). Teori ini juga menggambarkan hubungan yang kuat antara kepuasan dan

kesuksesan organisasi, di mana kesuksesan organisasi dapat tercapai dengan

memaksimalkan utilitas principals dan manajemen.

Steward yang dengan sukses dapat meningkatkan kinerja perusahaan

akan mampu memuaskan sebagian besar organisasi yang lain, sebab sebagian

besar shareholder memiliki kepentingan yang telah dilayani dengan baik lewat

peningkatan kemakmuran yang diraih organisasi. Oleh karena itu, steward yang
2

pro organisasi termotivasi untuk memaksimumkan kinerja perusahaan,

disamping dapat memberikan kepuasan kepada kepentingan shareholder.

Hubungan yang dijelaskan dalam teori stewardship adalah hubungan

antara principal dan steward. Dasar dari teori ini adalah psikologi dan sosiologi,

di manapara penerima amanah (steward) termotivasi untuk bertindak sesuai

dengan keinginan pihak pemberi amanah (principal). Perilaku steward tidak akan

meninggalkan organisasinya karena steward berusaha untuk dapat mencapai

sasaran organisasi tersebut (Khasanah, 2014). Dalam hubungannya dengan

pemerintahan, pemerintah berlaku sebagai pihak yang diberikan amanah dan

memiliki banyak informasi serta bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah

diberikan rakyat dan harus memiliki kesadaran untuk terus mewujudkan

transparansi dan akuntabilitas. Pemerintah harus berusaha secara maksimal

dalam menjalankan pemerintahannya untuk mencapai tujuan pemerintah, yaitu

meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tercapainya tujuan tersebut dapat

memberikan kepuasan atas kinerja pemerintahan yang baik terhadap rakyat

yang telah memberikan amanah pada saat pemilu.

Sistem pemberian intensif dan pengakuan atas wewenang yang diberikan

merupakan gabungan prinsip yang diperlukan dalam pengawasan. Kekuatan

personal melekat pada individu dalam konteks hubungan antara individu, yang

tidak dipengaruhi oleh posisinya. Keahlian dan kelebihan kekuasaan merupakan

karakteristik personal power, dimana kelebihan suatu individu dalam bekerja

dibandingkan dengan individu lainnya.

2.1.2 Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan, merupakan teori yang menjelaskan tentang terjadinya

konflikkepentingan yang terjadi antara pemilik perusahaan (stock holders) dan


3

manajer. Olehkarena itu, dibutuhkan auditor untuk menjadi pihak ketiga dalam

perseteruan tersebut. Dengan melakukan pemeriksaan laporan keuangan dalam

suatu perusahaan tanpa memihak kepada siapapun dan berdiri sendiri. Teori

keagenan (Agency Theory) adalah teori yang menjelaskan mengenai konflik

yang tercipta antara pihak manajemen perusahaan selaku agen dengan pemilik

perusahaan selaku principal. Principal sebagai pemilik perusahaan selalu ingin

mendapatkan segala informasi mengenai aktivitas perusahaan, terutama jika

aktivitas-aktivitas tersebut terkait dengan investasi atau dana yang mereka

investasikan dalam perusahaan tersebut. Melalui laporan pertanggungjawaban

yang dibuat oleh agen, principal memperoleh berbagai informasi yang

dibutuhkan sekaligus sebagai alat penilaian atas kinerja agen selama periode

tertentu. Namun, seringkali, agen cenderung melakukan berbagai tindakan

untuk membuat laporan pertanggungjawabannya terlihat baik dan menghasilkan

keuntungan bagi principal sehingga kinerjanya dianggap baik, walaupun

kenyataannya tidak demikian. Hal tersebut akan mengurangi asimetris informasi

yang terjadi antara pihak agen dengan principal (Marceliadkk, 2012).

Akuntabilitas publik sebagai kewajiban pihak pemegang amanah (agen)

untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan

mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya

kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak untuk meminta

pertanggungjawaban tersebut. Akuntabilitas publik terdiri dari dua macam, yaitu

: 1) pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih

tinggi (akuntabilitas vertikal), dan 2) pertanggungjawaban kepada masyarakat

luas (akuntabilitas horizontal) (Mardiasmo, 2004).

Berkaitan dengan masalah keagenan, praktek pelaporan keuangan

dalam organisasi sektor publik merupakan suatu konsep yang didasari oleh teori
4

keagenan. Dalam pelaporan keuangan, pemerintah yang bertindak sebagai

agen mempunyai kewajiban menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para

pengguna informasi keuangan pemerintah yang bertindak sebagai prinsipal

dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan baik keputusan ekonomi,

sosial, maupun politik serta baik secara langsung atau tidak langsung melalui

wakil-wakilnya.

Masalah keagenan auditor bersumber pada mekanisme kelembagaan

antara auditor dan manajemen. Disatu pihak, auditor ditunjuk oleh manajemen

untuk melakukan audit bagi kepentingan pemegang saham, namun dilain pihak,

jasa audit dibayar dan ditanggung oleh manajemen. Hal ini menciptakan

benturan kepentingan yang tidak dapat dihindari oleh auditor. Mekanisme

kelembagaan ini menimbulkan ketergantungan auditor kepada kliennya,

sehingga auditor merasa kehilangan independensinya dan harus

mengakomodasi berbagai keinginan klien, dengan harapan agar perikatan

auditnya di masa depan tidak terputus (Givous, 2007).

2.1.3 Tindak Lanjut Temuan BPK

Audit adalah proses pemeriksaan yang dilakukan secara sistematis untuk

mengetahui bagaimana sesungguhnya pelaksanaan ditetapkan (Pramono,

2003). Menurut Hall (2007) audit adalah bentuk dari pembuktian indepeden yang

dilakukan oleh ahli auditor yang menyatakan pendapat mengenai kewajaran

laporan keuangan perusahaan. Keyakinan publik pada keandalan laporan

keuangan yang dihasilkan secara internal bergantung secara langsung pada

validasi oleh auditor ahli yang independen. Audit dilakukan oleh auditor internal

dan eksternal. Audit eksternal seringkali disebut sebagai audit independen”

karena dilakukan oleh kantor akuntan publik (KAP) yang independen dari
5

manajemen perusahaan klienya. Auditor eksternal mewakili berbagai

kepentingan pemegang kepentingan pihak ke tiga atas perusahaan, seperti

pemegang saham, kreditor dan badan pemerintah (Hall, 2007).

Undang-Undang No.15 tahun 2004 (UU No.15/2004) tentang

Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara menyatakan

bahwa Pemeriksaan adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi

yang dilakukan secara independen, obyektif, dan profesional berdasarkan

standar pemeriksaan, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan

keandalan informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan

negara. Pemeriksaan keuangan negara dilakukan oleh Badan Pemeriksa

Keuangan (BPK) dan terdiri dari pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja

dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Hasil dari pemeriksaan yang dilakukan

BPK tersebut berupa opini, temuan, kesimpulan atau dalam bentuk

rekomendasi.

Perbaikan terhadap temuan audit tahun lalu akan mendorong

meningkatkan pengungkapan laporan keuangan dalam catatan atas laporan

keuangan sesuai dengan Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-

65/PB/2010 tentang Pedoman Pengusunan Laporan Keuangan

Kementrian/Lembaga yang telah diubah menjadi menjadi PER-55/PB/2012.

2.1.4 Kompetensi Sumber Daya Manusia

Kompetensi sumber daya manusia mencakup kapasitasnya, yaitu

kemampuan seseorang atau individu, suatu organisasi (kelembagaan), atau

suatu sistem untuk melaksanakan fungsi-fungsi atau kewenangannya untuk

mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Kapasitas harus dilihat sebagai
6

kemampuan untuk mencapai kinerja, untuk menghasilkan keluaran-keluaran

(outputs) dan hasil-hasil (outcomes).

Kompetensi merupakan suatu karakteristik dari seseorang yang memiliki

keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan kemampuan (ability) untuk

melaksanakan suatu pekerjaan (Havesi, 2005). Menurut beberapa pakar,

kompetensi adalah karakteristik yang mendasari seseorang mencapai kinerja

yang tinggi dalam pekerjaannya. Pegawai yang tidak mempunyai pengetahuan

yang cukup akan bekerja tersendat-sendat dan juga mengakibatkan pemborosan

bahan, waktu, dan tenaga.

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan potensi yang terkandung

dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai manusia yang adaptif

dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi

yang terkandung di alam menuju pencapaian kesejahteraan kehidupan dalam

tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Kompetensi menurut Guy et al.

(2002) adalah pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk menyelesaikan

tugas.

2.1.5 Kepemimpinan

Pemimpin sebagai “ orang yang mewujudkan arah, integritas, ketabahan

dan keberanian dalam pola perilaku yang konsisten yang mengilhami

kepercayaan, motivasi, dan tanggung jawab pada diri para pengikut yang pada

gilirannya mereka menjadi pemimpin.” ( Bennis, 2009). Didasarkan pada asumsi

menurut Bennis (2009) yang mengemukakan pendapat bahwa pemimpin adalah

orang yang mampu mengekpresikan diri seutuhnya. Mengekspresikan diri

seutuhnya ialah mereka mengetahui siapa diri mereka, apa kekuatan/kelebihan

dan kelemahan/kekurangan mereka, bagaimana sepenuhnya mengembangkan


7

kekuatannya dan mengimbangi kelemahannya. Mereka juga tahu apa yang

mereka inginkan, mengapa mereka menginginkannya, dan bagaimana

mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan kepada orang lain, agar bisa

bekerja sama dan memperoleh dukungan. Pada akhirnya, mereka tahu

bagaimana mencapai sasaran mereka.

Penelitian menunjukkan dan pengalaman menguatkan bahwa organisasi

dengan kepemimpinan yang kuat dan efektif di semua tingkatan mencapai hasil-

hasil bisnis yang superior, sedangkan organisasi-organisasi dalam

kepemimpinan yang tidak konsisten mencapai hasil-hasil bisnis yang tidak

konsisten, dan organisasi-organisasi dengan kepemimpinan yang inferior

mencapai hasil-hasil bisnis yang inferior. Pemimpin yang efektif dapat mengubah

perusahaan-perusahaan yang belum berpengalaman menjadi kompetitor yang

andal; pemimpin yang tidak efektif mengubah perusahaan yang semula

kompetitif menjadi target untuk diambil alih (Ulrich & Smallwood, 2008:104).

Bukti menunjukkan bahwa atribut, kualitas atau ciri personal pemimpin

sangat penting sehingga membedakan dengan yang bukan pemimpin

(Kirkpatrick & Locke, 2011). Lebih jauh, hasil penelitian yang dilakukan oleh

Andersen Consulting Institute For Strategic Change, nilai saham dari suatu

perusahaan yang memiliki kepemimpinan yang baik tumbuh sebanyak 900 %

dalam kurung waktu 10 tahun, dibandingkan dengan perusahaan dengan

kepemimpinan yang buruk hanya mengalami 74% dalam kurung waktu yang

sama (Bennis, 2005:8). Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang memiliki

visi yang jelas mengenai apa yang harus dicapai, semangat atau tingkat

komitmen pribadi yang mendalam, dan integritas (Bennis, 2009:33-34). Dengan

kata lain, organisasi memerlukan pemimpin yang lebih banyak dan lebih baik

(Lussier, 2002:229).
8

Kepemimpinan berawal dari siapa itu pemimpin (being), apa yang

pemimpin ketahui (knowing), dan apa yang dilakukan pemimpin (doing) sampai

kepada hasil, kinerja, dan kontribusinya. Yang dimaksud beingsama dengan

kualitas kepribadian pemimpin, knowing adalah kemampuan pemimpin dan

doing adalah perilaku (Kouzes dan Posner, 2007). Organisasi yang memiliki

kepemimpinan yang baik akan mudah dalam meletakkan dasar kepercayaan

terhadap anggota-anggotanya, sedangkan organisasi yang tidak memiliki

kepemimpinan yang baik akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari para

anggotanya. Organisasi tersebut akan mengalami kekacauan dan tujuan

organisasi tidak akan tercapai (Rivai dan Murni, 2009:284).

Kepemimpinan adalah sebuah tindakan, bukan sekedar jabatan.

Kepemimpinan bukan mengenai kepribadian; kepemimpinan mengenai perilaku

(Kauzes dan Posner, 2007). Menurut David Ulrich dkk (1999) dalam Kaswan

(2019:114), kebanyakan pemimpin yang efektif menunjukkan empat kategori

yang menonjol, yaitu: (1) menetapkan arah, (2) memobilisasi komitmen individu,

(3) mengembangkan kapabilitas organisasi, dan (4) menunjukkan karakter

pribadi. Kouzes dan Posner (2007) mengungkapkan lima praktik yang umum

bagi pengalaman pribadi terbaik dari kepemimpinan dan menjadi sebuah

panutan, yaitu menjadi model suatu jalan, menginspirasi visi bersama,

menantang proses, memberdayakan orang lain untuk bertindak, dan

menyemangati hati.

Kepemimpinan merupakan fenomena sosiologis atau proses yang

melibatkan penggunaan pengaruh oleh seorang terhadap satu orang lain atau

lebih, dalam upaya memandu aktivitas untuk mencapai sasaran bersama,

sasaran yang memerlukan tindakan interdependensi di antara para anggota

(Pierce dan Newstrom, 2011:10). Dengan demikian, kepemimpinan melibatkan

hal-hal berikut: (a) fenomena sosiologis (hubungan manusia), (b) penggunaan


9

pengaruh, (c) memandu aktivitas (mengorganisasi), (d) mencapai sasaran

kelompok/organisasi, dan (e) tindakan interdependensi (pembentukan tim).

Penelitian berkaitan dengan perilaku pemimpin bisa dideskripsikan

menurut duadimensi perilaku yang terpisah yang disebut pertimbangan

(consideration) dan memprakarsai struktur (initiating structure) (Kaswan,

2019:143). Yang dimaksud dengan pertimbangan adalah seberapa bersahabat

dan suportif seorang pemimpin terhadap bawahannya. Pemimpin yang tinggi

dalam pertimbangan terlihat dalam banyak perilaku yang berbeda yang

menunjukkan dukungan dan kepedulian. Adapun memprakarsai struktur berarti

seberapa sering pemimpin menekankan pemenuhan sasaran pekerjaan dan

penyelesaian tugas. Pemimpin yang tinggi dalam memprakarsai struktur terlibat

dalam banyak perilaku berbeda yang berkaitan dengan tugas.Selain itu, para

peneliti dari the University of Michigan berusaha mengidentifikasi perilaku

pemimpin yang berkotribusi terhadap kinerja efektif kelompok terdiri dari

dukungan pemimpin, fasilitas interaksi, penekanan pada sasaran, dan fasilitas

pekerjaan (Kaswan, 2019:144).

Para peneliti (Hughes, dkk, 2012;249) membuktikan bahwa pemimpin

yang menunjukkan tingkat pertimbangan yang tinggi atau perilaku yang berpusat

pada pekerja memiliki bawahan yang lebih puas. Pemimpin yang menetapkan

sasaran yang jelas, menjelaskan apa yang harus dilakukan pengikut dan

bagaimana menuntaskan pekerjaan, dan memantau hasil sering memiliki unit

kerja yang berkinerja tinggi.

Kepemimpinan yang handal sangat dibutuhkan organisasi demi

tercapainya tujuan, karena kepemimpinan adalah suatu proses dalam

mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha mencapai

tujuan. Pemimpin yang memiliki karakteristik selalu memiliki upaya untuk


10

menciptakan hal yang baru. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan

faktor kepemimpinan untuk dapat mencapai sasaran organisasi.

2.1.6 Pengungkapan Informasi dalam Laporan Keuangan

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2010, laporan

keuangan disusun dengan maksud untuk menyediakan informasi yang relevan

mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu

entitas selama satu periode pelaporan. Laporan keuangan digunakan untuk

mengetahui nilai sumber daya ekonomi yang dimanfaatkan untuk melaksanakan

kegiatan operasional pemerintahan, menilai kondisi keuangan, mengevaluasi

efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan, dan membantu menentukan

ketaatannya terhadap peraturan perundang-undangan

Laporan keuangan disajikan dengan tujuan sebagai sarana untuk

mengkomunikasikan informasi keuangan kepada pihak-pihak yang

berkepentingan guna untuk mempertanggungjawabkan kinerja dan aktivitas yang

telah dilakukan. Laporan keuangan menyediakan informasi mengenai

penggunaan sumber daya ekonomi, transfer, pembiayaan, sisa pelaksanaan

anggaran, saldo anggaran lebih, Laporan Operasional, aset, kewajiban,

ekuitas, dan arus kas suatu entitas pelaporan. Pengungkapan harus dapat

memberikan informasi yang material dan relevan agar dapat digunakan dalam

pengambilan keputusan. Pengungkapan yang baik juga harus disusun sesuai

dengan standar yang telah ditetapkan dan berlaku sebagai pedoman.

Pengungkapan harus dapat menambah nilai informasi dan bukan

menguranginya dengan adanya keterangan yang terlalu rinci dan sulit untuk

dianalisis.
11

Pengungkapan (disclosure) laporan keuangan harus memberikan

informasi dan penjelas yang cukup mengenai hasil aktivitas dari suatu unit

usaha, untuk dapat menggambarkan secara tepat mengenai kejadian-kejadian

ekonomi yang berpengaruh terhadap hasil operasi unit usaha tersebut. Tiga

konsep pengungkapan yang umum diusulkan adalah pengungkapan yang cukup,

wajar, dan lengkap (Ghozali&Chariri, 2007). Pengungkapan yang paling umum

untuk digunakan dari ketiga konsep ini adalah pengungkapan yang cukup.

Pengungkapan dengan kriteria cukup dapat mencakup pengungkapan minimal

yang harus dilakukan agar laporan keuangan tidak menyesatkan.

Wolk et al (2004) menyatakan bahwa pengungkapan laporan keuangan

berhubungan dengan keseluruhan informasi yang ada dalam laporan keuangan

(financial statement) dan komunikasi tambahan yang terdiri dari catatan kaki,

kejadian setelah tanggal neraca, analisis manajemen dan informasi tambahan di

luar biaya historis.

Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian

dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan

Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi

tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan

informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam

Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan

untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. Catatan atas

Laporan Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:

1) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan, ekonomi makro,

pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD, berikut kendala dan

hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target.

2) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan.


12

3) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan

kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-

transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya.

4) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar

Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan

keuangan.

5) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul

sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja

dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas.

6) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang

wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.

2.1.7 Opini Audit

Opini audit merupakan suatu pendapat yang disampaikan oleh seorang

auditor untuk menyimpulkan tentang laporan keuangan, dengan melalui

beberapa tahap–tahap yang berpedoman terhadap standar yang telah di

tentukan agar kesimpulan dalam laporan keuangan yang telah diperiksa tidak

bias. Opini auditor merupakan sumber informasi bagi pihak di luar perusahaan

sebagai pedoman untuk pengambilan keputusan. Hanya auditor yang berkualitas

yang dapat menjamin bahwa laporan (informasi) yang dihasilkannya reliable.

Menurut UU No.15 Tahun 2004 tentang Permeriksaan Pengelolaan dan

Pertanggungjawaban Keuangan Negara, opini audit merupakan pernyataan

profesional sebagai kesimpulan pemeriksa mengenai tingkat kewajaran informasi

yang disajikan dalam laporan keuangan.


13

Pendapat auditor (opini audit) merupakan bagian dari laporan audit yang

merupakan informasi utama dari laporan audit. Opini Audit diberikan oleh auditor

melalui beberapa tahap audit sehingga auditor dapat memberikan simpulan atas

opini yang harus diberikan atas laporan keuangan yang diauditnya.

Pendapatatau opini auditmerupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan

audit. Laporan audit penting sekali dalam suatu audit atau proses atestasi

lainnya karena laporan tersebut menginformasikan pemakai informasi tentang

apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya (Mima dan Indira,

2007).

Ramalan bahwa suatu perusahaan akan bangkrut atau tidak termasuk

dalam salah satu komponen atas keputusan tentang going concern. Akibatnya,

jika suatu perusahaan dinyatakan dalam kategori bangkrut oleh model keputusan

tersebut, hal ini akan membantu kepastian dalam opini auditor yang berkaitan

dengan kelangsungan hidup suatu bisnis. Adapaun kriteria dari opini audit (Mima

dan Indira, 2007), adalah sebagai berikut:

1. Wajar tanpa pengecualian, seringkali disebut sebagai opini bersih karena

tidak ada kondisi yang mensyaratkan kualifikasi atau modifikasi dalam opini

auditor.

2. Wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas, telah memenuhi

kriteria audit hasil yang memadai dan laporan keuangan yang

disajikandengan wajar, tetapi auditor yakin perlu menyediakan informasi

tambahan.

3. Opini dengan pengecualian, adalah laporan yang dihasilkan dari

pembatasan ruang lingkup auditor atau tidak diterapkan prinsip akuntansi

berlaku umum. Laporan opini auditor dapat dilakukan hanya saat auditor
14

menyimpulkan bahwa keseluruhan laporan keuangan dapat dinyatakan

dengan wajar.

4. Opini tidak wajar, digunakan hanya jika auditor yakin bahwa keseluruhan

laporan keuangan secara material telah salah saji atau menyesatkan karena

tidak dinyatakan dengan wajar sesuai posisi keuangan atau hasil operasi dan

aliran kas sesuai GAAP.

5. Tidak memberikan opini diterbitkan bila auditor tidak dapat meyakinkan

dirinya bahwa laporan keuangan secara keseluruhan dinyatakan dengan

wajar.

2.2 Tinjauan Empiris

Beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan tingkat

pengungkapan laporan keuangan dan opini audit di antaranya adalah:

Arifin (2014) melakukan penelitian tentang pengaruh tekanan isomorfis

terhadap tingkat pengungkapan wajib dalam laporan keuangan pemerintah

daerah di Indonesia serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat

pengungkapan tersebut. Pengujian tingkat pengungkapan LKPD dilakukan

dengan menggunakan GCI yang terdiri dari 57 item pengungkapan wajib yang

didasarkan pada SAP. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jumlah temuan audit

terbukti bukan prediktor dari tingkat pengungkapan wajib.

Martani dan Lestiani (2012) menguji dampak dari kualitas audit, insentif

manajemen dan karakteristik pemerintah daerah pada pengungkapan laporan

keuangan pemerintah daerah dengan menggunakan teori keagenan. Kualitas

audit yang diproksikan dengan jumlah temuan audit dan nilai temuan audit. Hasil

penelitian menyatakan jumlah temuan audit, kekayaan, dan kompleksitas


15

pemerintah daerah memiliki hubungan positif signifikan terhadap tingkat

pengungkapan laporan keuangan. Sedangkan nilai temuan audit,

ketergantungan pemerintah daerah dan tipe pemerintah daerah tidak memiliki

hubungan signifikan dengan pengungkapan laporan keuangan.