Anda di halaman 1dari 19

Makalah Politik Dan Ekonomi Indonesia Pada Masa Reformasi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Reformasi merupakan suatu gerakan yang menghendaki adanya perubahan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara ke arah yang lebih baik secara konstitusional.
Adanya perubahan kehidupan dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, dan budaya
yang lebih baik, demokratis berdasarkan prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan.
Gerakan reformasi lahir sebagai jawaban atas krisis yang melanda berbagai segi
kehidupan. Krisis multidimensional yang meliputi krisis politik, ekonomi, hukum, sosial, dan
lain sebagainya merupakan faktor yang mendorong lahirnya gerakan reformasi. Bahkan,
krisis kepercayaan telah menjadi salah satu indikator yang menentukan.
Dengan semangat reformasi, rakyat Indonesia menghendaki adanya pergantian
kepemimpinan nasional sebagai langkah awal menuju terwujudnya masyarakat yang adil dan
makmur. Pergantian kepemimpinan nasional diharapkan dapat memperbaiki kehidupan
politik, ekonomi, hukum, sosial, dan budaya. Indonesia harus dipimpin oleh orang yang
memiliki kepedulian terhadap kesulitan dan penderitaan rakyat.
Dalam makalah ini, kami membahas tentang politik dan ekonomi yang berkembang
pada masa reformasi sebagai bentuk perbandingan dari masa sebelumnya, yaitu orde baru,
sehingga dapat memunculkan pandangan – pandangan yang dapat menjadi acuan sebagai
generasi muda yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa.

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa yang menyebabkan lahirnya orde reformasi?
2) Apa yang melatarbelakangi terjadinya krisis multidimensional?
3) Bagaimana peran pemuda Indonesia dalam menyikapi adanya krisis multidimensional?
4) Bagaimana perkembangan politik dan ekonomi Indonesia pada orde reformasi?
5) Bagaimana keadaan – keadaan pada saat reformasi ?
6) Permasalahan – permasalahan apa yang terjadi pada orde reformasi ?
7) Apa saja hikmah yang dapat diambil dari peristiwa – peristiwa yang terjadi pada akhir orde
baru dan orde reformasi?
8) Apa yang seharusnya dilakukan oleh generasi muda sebagai penerus bangsa untuk
melanjutkan reformasi demi membangun Indonesia?
1.3 Tujuan
1) Mengetahui lahirnya orde reformasi sebagai ujung tombak perubahan bangsa.
2) Mengidentifikasi krisis multidimensional dan penyebab terjadinya.
3) Mengetahui perkembangan politik dan ekonomi pada masa reformasi.
4) Mampu mengambil hikmah dari terjadinya krisis multidimensional dan lahirnya orde
reformasi.
5) Mampu mengambil gambaran dalam menunjukkan sikap sebagai bentuk partisipasi dan
kontribusi pemuda dalam orde reformasi sebagai generasi penerus kebanggaan bangsa.

1.4 Metode Penulisan


Dalam menyelesaikan makalah ini, adapun kami menggunakan metode literatur dan
studi kepustakaan melalui media cetak dan media elektronik. Referensi makalah ini
bersumber dari buku Sejarah Indonesia Kurikulum 2013 oleh Kementrian Pendidikan Dan
Kebudayaan Republik Indonesia dan buku pendamping Sejarah Indonesia oleh Intan
Pariwara. Kami juga memperoleh sejumlah informasi melalui media elektronik seperti, web,
blog dan perangkat media massa yang terdapat diinternet.

1.5 Sistematika Penulisan


Adapun makalah ini disusun menjadi tiga bab, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup.
Bab pendahuluan terbagi atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode
penulisan, dan sistematika penulisan. Sementara itu, bab isi dibagi berdasarkan subbab yang
berkaitan dengan kondisi Indonesia sebelum reformasi dan pada masa reformasi. Terakhir,
bab penutup terdiri atas kesimpulan dan saran.
BAB II
ISI
2.1 Periode Akhir Orde Baru
Orde baru berjalan hampir selama tiga decade, akan tetapi mulai goyah memasuki
akhir decade 1990-an. Pemerintahan Orde Baru tidak mampu menghadapi krisis
multidimensional yang berlangsung sejak 1997.

2.1.1 Krisis Multidimensional Menjelang Akhir Orde Baru


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) krisis artinya keadaan yang genting.
Multidimensional artinya mempunyai berbagai dimensi (kemungkinan, segi, dan bidang).
Dengan demikian, krisis multidimensional dapat diartikan sebagai kondisi genting pada suatu
Negara dalam berbagai bidang, baik moneter, ekonomi, politik, hukum, dan kepercayaan.
Berikut penjelasannya.

a. Krisis Moneter
Pada awal tahun 1997 krisis moneter melanda Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pada awal Juli 1997 rupiah Indonesia berada pada posisi nilai tukar Rp 2.500,00/US$ dan
terus mengalami kemerosotan hingga 9%. Bank Indonesia pun tidak mampu membendung
rupiah yang kian merosot hingga RP 17.000,00/US$. Kondisi ini berdampak pada jatuhnya
bursa saham Jakarta, bangkrutnya perusahaan – perusahaan besar di Indonesia, dan likuidasi
beberapa bank nasional.
Dalam situasi ini, Presiden meminta bantuan kepada IMF. IMF bersedia mengucurkan
dana kepada Indonesia dengan syarat Indonesia mencabut bantuan dana untuk subsidi bahan
pokok, listrik, BBM, dan menutup enam belas bank swasta. Saat krisis memanas, muncul
ketegangan – ketegangan masyarakat yang menunjukkan krisis sosial, seperti kerusuhan anti-
Tionghoa di sejumlah kota karena dianggap mendominasi perekonomian Indonesia, serta
kerusuhan dan penjarahan.

b. Krisis Ekonomi
Munculnya krisis moneter sejak 1997 berdampak pada perekonomian dan dunia
usaha. Sejumlah perusahaan bangkrut, sehingga menyebabkan terjadinya pemutusan
hubungan kerja (PHK) besar – besaran. Hal ini mengakibatkan lonjakan ke level yang belum
pernah tercapai sejak tahun 1960-an, yaitu sekitar 20 juta atau lebih dari 20% angkatan kerja.
Akibat PHK dan naiknya harga berang dengan cepat, jumlah penduduk di bawah garis
kemiskinan mencapai 50% dari total penduduk.

c. Krisis Politik
Setelah pelaksanaan pemilu 1997 perhatian asyarakat tertuang pada Sidang Umum
MPR pada bulan Maret 1998 yang menetapkan kembali Soeharto sebagai presiden untuk
masa jabatan 1998-2003 dengan B.J. Habibie sebagai wakilnya. Tanggal 10 Maret 1998
pidato pertanggungjawaban Presiden Soeharto diterima oleh MPR. Selanjutnya, pada 12
Maret 1998 Presiden Soeharto kembali dilantik sebagai presiden dan B.J. Habibie sebagai
wakilnya.
Pada hari yang sama muncul gerakan mahasiswa dan masyarakat yang menolak
pelantikan Soeharto sebagai presiden untuk ketujuh kalinya. Tuntutan mahasiswa dan
masyarakat ini dilatarbelakangi oleh banyaknya penyimpangan dalam bidang politik sebagai
berikut.
a. Demokrasi tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.
b. Banyak anggota DPR/MPR yang menerapkan sistem nepotisme.
c. Orientasi politik pemerintahan Orde Baru lebih condong ke Negara barat.
d. Terjadinya ketidakadilan dalam bidang hukum.

d. Krisis Hukum
Pada masa Orde Baru, hukum sering dijadikan alat pembenarn atas kebijakan
penguasa. Banyak rekayasa dalam proses peradilan. Oleh karena itu, seseorang yang
dianggap bersalah dapat bebas dari hukuman dan seseorang yang tidak bersalah masuk
penjara. Akibat penyimpangan tersebut, masyarakat menghendaki reformasi dalam bidang
hukum untuk meluruskan masalah pada posisi sebenarnya.
e. Krisis Kepercayaan

Munculnya krisis kepercayaan disebabkan


oleh adanya penyimpangan demokrasi pada masa
pemerintahan Orde Baru. Situasi tersebut
diperparah dengan banyaknya anggota
pemerintahan yang melakukan korupsi, kolusi, dan
nepotisme (KKN). Krisis ekonomi, politik, dan
hukum menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah Orde Baru. Krisis
kepercayaan ini juga semakin bertambah saat empat Mahasiswa Universitas Trisakti tewas
tertembak oleh keamanan saat proses demonstrasi, sehingga masyrakat menganggap
pemerintah Orde Baru telah melakukan pelanggaran HAM.

2.1.2 Tuntutan Dan Agenda Reformasi

Tuntutan reformasi di Indonesia dilatarbelakangi oleh krisis multidimensional yang


meliputi krisis moneter, krisis ekonomi, krisis sosial, krisis politik, krisis hukum, dan krisis
kepercayaan. Awalnya, gerakan reformasi hanya dilakukan di kampus – kampus besar. Akan
tetapi, tuntutan mereka tidak mendapatkan respons dari pemerintah. Akhirnya, para
mahasiswa harus turun ke jalan bersama organisasi massa lainnya yang juga menuntut
reformasi. Agenda utama gerakan reformasi adalah turunnya Presiden Soeharto dari kursi
kepresidenan. Selebihnya gerakan reformasitahun 1998 mempunyai enam agenda sebagai
berikut.
a. suksesi kepemimpinan nasional.
b. Amandemen UUD 1945.
c. Pemberantasan KKN.
d. Penghapusan doktrin dwifungsi ABRI.
e. Penegakan supremasi hukum.
f. Pelaksanaan otonomi daerah.
2.1.3 Peran Pelajar Dan Mahasiswa Menuntut Reformasi
Presiden Soeharto turun dari jabatannya setelah para mahasiswa mengajukan tiga
tuntutan rakyat (Tritura) pada tahun 1966. Pada tahun 1998 mahasiswa kembali menjadi agen
perubahan bangsa. Mahasiswa menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya dan
meminta agar pemerintah melaksanakan agenda reformasi.
a. Peran Pelajar Dan Mahasiswa Jakarta
1) Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia
Aksi pertama mahasiswa Universitas Indonesia dilakukan pada tanggal 19 Februari 1998,
tiga bulan sebelum Presiden Soeharto turun dari jabatannya. Keesokan harinya, aksi
dilakukan oleh lebih dari 10.000 orang berkeliling kampus dan berkahir di dekat gerbang
masuk UI, yang menyampaikan aspirasinya melalui baliho bertuliskan “turunkan harga!”,
“hapus monopoli, korupsi, dan kolusi!”, “tegakkan kedaulatan rakyat!”, “tuntut suksesi
kepemimpinan nasional!”, “mahasiswa dan rakyat bersatulah!”, dan mulai saat itu terpasang
tulisan “kampus perjuangan rakyat” tepat di bawah lambing UI.
2) Tragedi Trisakti
Pada tanggal 12 Mei 1998 mahasiswa Universitas Trisakti melakukan demonstrasi
menuntut turunnya Presiden Soeharto yang dilakukan sesuai dengan anjuran aparat. Akan
tetapi, kekangan aparat menyebabkan mahasiswa menuntut untuk berdemo di depan gedung
DPR agar aspirasi mereka bisa langsung disampaikan kepada pemerintah. Akhirnya, para
mahasiswa ini nekat sehingga aparat mengamankan mahasiswa menggunakan peluru tajam,
sehingga empat mahasiswa menjadi korban tewas, yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri
Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Tragedi ini memicu kerusuhan yang lebih
besar dan mengakibatkan aparat kewalahan, sehingga Presiden Soeharto pu berpidato bahwa
ia tidak mampu mengendalikan kerusuhan. Beliau pun gagal mendapat dukungan ulama dan
tokoh masyarakat, hingga akhirnya Presiden Soeharto mengundurkan diri.
b. Peran Mahasiswa Yogyakarta
Peristiwa bentrok di Yogyakarta dikenal dengan Tragedi Gejayan. Tragedi ini berawal
dari unjuk rasa mahasiswa pada beberapa universitas di Yogyakarta, seperti Sekolah Tinggi
Teknologi Nasional (STTNAS), Institut Sains dan Teknologi Akprind, Universitas Kristen
Wacana, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dan Kampus
IKIP Negeri Yogyakarta. Bentrokan mahasiswa di Yogyakarta ini menyebabkan ratusan
korban luka dan seorang mahasiswa tewas, yaitu Moses Gatotkaca.
c. Peran Mahasiswa Bandung
Aksi demonstrasi di Bandung dipelopori oleh Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan
Institut Teknologi Bandung (ITB). Gerakan mahasiswa yang didukung oleh masyarakat ini
menjadi salah satu kekuatan yang mampu melengserkan Presiden Soeharto dari jabatannya.
Pada saat itu Bandung relatif aman dari kerusuhan dan penjarahan. Slogan Anak Bandung
Cinta Damai menjadi pemersatu mahasiswa dan masyarakat untuk menjaga agar Kota
Bandung tetap aman dan kondusif.
d. Peran Mahasiswa Surakarta
Aksi mahasiswa Surakarta dipelopori oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) dan
Universitas Muhammadiyah Solo (UMS). Aksi tersebut dipicu oleh demonstrasi di wilayah
Jakarta dan Yogyakarta. Dalam demonstrasi ini terjadi tindakan anarkis aparat yang berupaya
meredakan demonstrasi. Ribuan demonstran akhirnya dapat diredam.
e. Peran Mahasiswa Surabaya
Pada tanggal 8 April 1998 aksi keprihatinan digelar secara damai oleh mahasiswa
Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Aksi tersebut dijawab anarkis oleh aparat
keamanan, sehingga menyebabkan jatuhnya korban. Steelah kejadian tersebut, hampir 20 ribu
mahasiswa gabungan enam belas perguruan tinggi Surabaya menggelar aksi serupa di
Universitas 17 Agustus Surabaya.
2.1.4 Pengunduran Diri Presiden Soeharto
Kondisi Indonesia yang tidak terkendali memak Presiden Soeharto mempercepat
kepulangannya dari Mesir. Akhirnya pada hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 Presiden Soeharto
mengundurkan diri dari jabatannya, dan sesuai pasal 8 UUD 1945 B.J. Habibie akan
melanjutkan sisa masa pemerintahannya sebagai Presiden Republik Indonesia ketiga, periode
1998-1999.

2.2 Perkembangan Politik Dan Ekonomi Indonesia Orde Reformasi


2.2.1 Pemerintahan B.J. Habibie (1998-1999)
Tanggal 21 Mei 1998, Prof. Dr. Bacharuddin Jusuf Habibie, terpilih menjadi Presiden
ke 3 Indonesia, dalam waktu singkat masa pemerintahannya, B J Habibie menunjukan
prestasi kerjanya yang sangat menakjubkan. Berhasil menyelamatkan krisis moneter dan
melengkapi lahirnya Bank Mu’amalah pada masa Presiden Soeharto, dengan ditambahkan
Bank Syariah. Hal ini sebagai pertanda Presiden Prof. Dr. Bacharuddin Jusuf Habibie, tidak
dapat diragukan juga kedekatannya dengan Ulama dan Santri, apalagi sebagai pendiri Ikatan
Cendikiawan Muslim Se-Indonesia, ICMI yang pertama
di Malang.
Keberhasilan menciptakan Pesawat CN 35 yang
mampu melakukan short take off and landing, hanya 400
meter, merupakan prestasi tanpa tanding, di kelasnya di
dunia. Diikuti dengan penciptaan Air Bus 600 yang
tercepat di dunia. Selain itu juga, telah merancang pesawat terbang yang tercepat di dunia,
diumumkan oleh B.J. Habibie sejak awal pembentukan ICMI di Malang, suatu pesawat sipil
dengan kecepatan jarak Jakarta NewYork hanya empat jam. Tentu, prestasi ini sangat
mencemaskan eksistensi negara industri pesawat terbang, terutama dari negara adikuasa
Barat. Sampai kini, pesawat produk dari Barat sekalipun, jarak Jakarta – Jeddah ditempuh
selama delapan jam.
Di bidang persenjataan, PINDAD yang dipimpin oleh Presiden Prof. Dr. B.J Habibie,
mampu menciptakan senjata yang mempunyai jarak tembak 1.000 meter dan sangat akurat.
Senjata produk barat, hanya mampu 750 meter jarak tembaknya. Senjata produk PINDAD
melampaui produk pabrik senjata dari Barat.
Pribadi Presiden Prof. Dr. B.J Habibie dengan kemampuan teknologinya yang tinggi
prestasinya, belum pernah dimiliki oleh seorangpun dari Presiden Amerika Serikat Walaupun
telah merdeka sejak 1775 hingga 2008 dan terjadi pergantian 86 Presiden. Demikian pula
negara barat lainnya, tidak mempunyai seorangpun Kepala Negarayang memiliki kemampuan
menciptakan teknologi pesawat terbang baru. Andaikata rancangan pesawatnya dapat
terwujud maka Indonesia akan menjadi negara yang memiliki kekuatan dirgantara yang luar
biasa.
Ketika Habibie mengganti Soeharto sebagai presiden tanggal 21 Mei 1998, ada lima
isu terbesar yang harus dihadapinya, yaitu:
1. masa depan Reformasi;
2. masa depan ABRI;
3. masa depan daerah-daerah yang ingin memisahkan diri dari Indonesia;
4. masa depan Soeharto, keluarganya, kekayaannya dan kroni-kroninya; serta
5. masa depan perekonomian dan kesejahteraan rakyat.
Berikut ini beberapa kebijakan yang berhasil dikeluarkan B.J. Habibie dalam rangka
menanggapi tuntutan reformasi dari masyarakat :
a. Kebijakan dalam bidang politik Reformasi dalam bidang politik berhasil mengganti lima
paket undang-undang masa Orde Baru dengan tiga undang-undang politik yang lebih
demokratis. Berikut ini tiga undang-undang tersebut.
1) UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik.
2) UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum.
3) UU No. 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan DPR/MPR.
b. Kebijakan dalam bidang ekonomi Untuk memperbaiki perekonomian yang terpuruk,
terutama dalam sektor perbankan, pemerintah membentuk Badan Penyehatan Perbankan
Nasional (BPPN). Selanjutnya pemerintah mengeluarkan UU No. 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat, serta UU No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen.
c. Kebebasan menyampaikan pendapat dan pers Kebebasan menyampaikan pendapat dalam
masyarakat mulai terangkat kembali. Hal ini terlihat dari munculnya partai – partai politik
dari berbagai golongan dan ideologi. Masyarakat bisa menyampaikan kritik secara terbuka
kepada pemerintah. Di samping kebebasan dalam menyatakan pendapat, kebebasan juga
diberikan kepada pers. Reformasi dalam pers dilakukan dengan cara menyederhanakan
permohonan Surat Izin Usaha Penerbitan (SIUP).
d. Pelaksanaan Pemilu Pada masa
pemerintahan Habibie, berhasil
diselenggarakan pemilu multipartai
yang damai dan pemilihan presiden
yang demokratis. Pemilu tersebut
diikuti oleh 48 partai politik.
Keberhasilan lain masa
pemerintahan Habibie adalah
penyelesaian masalah Timor Timur.
Usaha Fretilin yang memisahkan
diri dari Indonesia mendapat respon. Pemerintah Habibie mengambil kebijakan
untuk melakukan jajak pendapat di Timor Timur. Referendum tersebut dilaksanakan
pada tanggal 30 Agustus 1999 di bawah pengawasan UNAMET. Hasil jajak
pendapat tersebut menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Timor Timur lepas dari
Indonesia. Sejak saat itu Timor Timur lepas dari Indonesia. Pada tanggal 20 Mei 2002
Timor Timur mendapat kemerdekaan penuh dengan nama Republik Demokratik Timor Leste
dengan presidennya yang pertama Xanana Gusmao dari Partai Fretilin.
2.2.2 Pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2003)
Pada pemilu yang diselenggarakan pada 1999, partai PDI-P pimpinan Megawati
Soekarnoputri berhasil meraih suara terbanyak (sekitar 35%). Tetapi karena jabatan presiden
masih dipilih oleh MPR saat itu, Megawati tidak secara langsung menjadi presiden.
Abdurrahman Wahid, pemimpin PKB, partai dengan suara terbanyak kedua saat itu, terpilih
kemudian sebagai presiden Indonesia ke-4. Megawati sendiri dipilih Gus Dur sebagai wakil
presiden. Masa pemerintahan Abdurrahman Wahid diwarnai dengan gerakan-gerakan
separatisme yang makin berkembang di Aceh, Maluku dan Papua. Selain itu, banyak
kebijakan Abdurrahman Wahid yang ditentang oleh MPR/DPR.
Selain itu, di bawah Presiden K.H. Abdurrahman Wahid, dalam upayanya menarik
kembali wiraniagawan Cina yang eksodus dari Indonesia, dengan cara menghidupkan
kembali Kong Fu Tsu. Dengan cara ini, diharapkan proses pembauran Bangsa atau hubungan
etnis Cina – Non-Pribumi dengan etnis Indonesia – Pribumi lainnya, akan semakin akrab.
IAIN di ubah menjadi UIN dengan membuka fakultas dan jurursan yang sama dengan
fakultas dan jurusan yang dikelola oleh perguruan tinggi dari Diknas. Dengan demikian,
alumni pendidikan yang diselenggarakan Departemen Agama, dapat bekerja ke departemen
manapun. Institut Keguruan Ilmu Pendidikan IKIP berubah menjadi Universitas Pendidikan
Indonesia – UPI.
Selain itu, kepolisian tidak lagi menjadi satu kesatuan dengan ABRI. Kepolisian
bertanggung jawab atas keamanan dalam negeri Indonesia. Kementrian penerangan dan
kementrian sosial ditiadakan. Sedangkan Departemen Agama yang pernah diusulkan oleh
Rasuna Said dari kelompok komunis Tan Malaka, agar dibubarkan, tetap dipertahankan oleh
Presiden K.H. Abdurrahman Wahid. Barangkali karena eksistensi Departemen Agama secara
historis dirintis awalnya oleh ayahnya, Wachid Hasjim.
Pada 29 Januari 2001, ribuan demonstran berkumpul di Gedung MPR dan meminta
Gus Dur untuk mengundurkan diri dengan tuduhan korupsi. Di bawah tekanan yang besar,
Abdurrahman Wahid lalu mengumumkan pemindahan kekuasaan kepada wakil presiden
Megawati Soekarnoputri.Melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001, Megawati secara
resmi diumumkan menjadi Presiden Indonesia ke-5.

2.2.3 Pemerintahan Megawati Soekarnoputri (2001-2004)


Pembaharuan yang dilaksanakan secara drastis, menimbulkan kesulitan yang besar.
Berakhirlah masa kepresidenan K.H. Abdurrahman Wahid. Akhirnya, sidang DPR-MPR
memutuskan, mengangkat Wakil Presiden Megawati menjadi presiden, 23 Juli 2001.
Kebijakan Presiden Megawati diantaranya:
a. Memilih dan Menetapkan
Ditempuh dengan meningkatkan kerukunan antar elemen bangsa dan menjaga
persatuan dan kesatuan. Upaya ini terganggu karena peristiwa Bom Bali yang mengakibatkan
kepercayaan dunia internasional berkurang.
b. Membangun tatanan politik yang baru
Diwujudkan dengan dikeluarkannya UU tentang pemilu, susunan dan kedudukan
MPR/DPR, dan pemilihan presiden dan wapres.
c. Menjaga keutuhan NKRI
Setiap usaha yang mengancam keutuhan NKRI ditindak tegas seperti kasus Aceh,
Ambon, Papua, Poso. Hal tersebut diberikan perhatian khusus karena peristiwa lepasnya
Timor Timur dari RI.
d. Melanjutkan amandemen UUD 1945
Dilakukan agar lebih sesuai dengan dinamika dan perkembangan zaman.
e. Meluruskan otonomi daerah

Keluarnya UU tentang otonomi daerah menimbulkan penafsiran yang berbeda tentang


pelaksanaan otonomi daerah. Karena itu, pelurusan dilakukan dengan pembinaan terhadap
daerah-daerah. Tidak ada masalah yang berarti dalam masa pemerintahan Megawati kecuali
peristiwa Bom Bali dan perebutan pulau Ligitan dan Sipadan.

2.2.4 Pemerintahan S.B. Yudhoyono – Jusuf Kalla (2004-2009)


Demikian pula kehidupan lingkungan pesantren, melahirkan putra-putra terhormat
bagi nusa dan bangsa. Lingkungan keluarga Pondok Pesantren Termas Pacitan Keresidenan
Madiun, melahirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Demikian pula, Wakil presiden
Jusuf Kalla terlahir dari lingkungan kehidupan Pesantren di Makasar sebagai daerah
pengaruh Waliullah Syech Yusuf.
Dengan adanya pergantian sistem pemilihan langsung untuk Pemilu Presiden,
pasangan Megawati – Hasyim Muzadi, PDIP-NU gugur karena hanya memperoleh
42.833.652 suara atau 39,09%. Sedangkan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla, Partai
Demokrat – Partai Golkar, memperoleh suara rakyat mencapai jumlah 66.731.944 suara atau
60.91%.

Susilo Bambang Yudhoyono- SBY diangkat resmi sebagai Presiden RI, dan
Mohamad Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden, pada 20 Oktober 2004, untuk periode
kepresidenan 2004-2009 M. Untuk kedua kalinya, Presiden dari TNI AD.
Kebijakan Presiden Ssusilo Bambang Yudhayono diantaranya
a. Anggaran pendidikan ditingkatkan menjadi 20% dari keseluruhan APBN.
b. Konversi minyak tanah ke gas.
c. Memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai).
d. Pembayaran utang secara bertahap kepada badan PBB.
e. Buy back saham BUMN
f. Pelayanan UKM (Usaha Kecil Menengah) bagi rakyat kecil.
g. Subsidi BBM.
h. Memudahkan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia.
i. Meningkatkan sektor pariswisata dengan mencanangkan "Visit Indonesia 2008".
j. Pemberian bibit unggul pada petani.
k. Pemberantasan korupsi melalui KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

2.2.5 Pemerintahan S.B. Yudhoyono –


Boediono (2009-2014)
Masa pemerintahan SBY-Boediono
berlangsung sejak 2009-2014, prestasi – prestasi
yang telah dicapai adalah sebagai berikut.
1) Meningkatkan pelayanan publik.
2) Meningkatkan pelayanan hukum.
3) Upaya mewujudkan Good Governance.

2.2.6 Pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla (2014 – sekarang)

Dalam masa pemerintahannya Presiden Joko Widodo dan wakil presiden Jusuf Kalla
mengusung visi revolusi mental yang sasarannya sebagai berikut.
a) mengubah mind set, yaitu cara berpikir dan cara pandang dalam melakukan public service.
b) Struktur organisasi harus ramping dan tidak boleh ada orang – orang dalam pemerintahan
yang memiliki fungsi ganda.
c) Kultur budaya kerja harus disiplin, tanggung jawab, mengedepankan kebersamaan, dan
gotong royong.
2.3 Demokrasi Pada Masa Reformasi
2.3.1 Pelaksanaan Demokrasi Pada Masa Reformasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008), demokrasi adalah bentuk atau
sistem pemerintah yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantara wakilnya.
Pada era reformasi kehidupan demokratis ditandai dengan adanya kebijakan – kebijakan
sebagai berikut.
a) Keluarnya Ketetapan MPR-RI
Ketetapan tersebut antara lain Tap MPR RI No. X/MPR/1998 tentang Pokok – Pokok
Reformasi, Tap MPR RI No. VII/MPR/1998 tentang Pencabutan Tap MPR tentang
Referendum, Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih
Dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, dan Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang
Pembatasan Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
b) Otonomi Daerah
Otonomi daerah diberlakukan di Indonesia melalui UU No. 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah. Tujuan otonomi daerah adalah sebagai berikut.
1) Peningkatan pelayanan masyarakat.
2) Pengembangan kehidupan demokrasi.
3) Keadilan sosial.
4) Pemerataan wilayah daerah.
5) Pemeliharaan hubungan yang sesuai antara pusat dan daerah serta atntardaerah dalam rangka
menjaga keutuhan NKRI.
6) Mendorong pemberdayaan masyarakat.
7) Menumbuhkan prakarsa dan kreativitas masyarakat.
8) Mengembangkan peran dan fungsi DPRD.
c) Pemekaran Provinsi
Berikut adalah beberapa provinsi yang telah mengalami pemekaran sejak masa reformasi.
1) Maluku Utara dengan ibu kota Sofifi-Ternate dimekarkan dari Provinsi Maluku pada
Oktober 1999.
2) Banten dengan ibu kota Serang yang dimekarkan dari Jawa Barat pada Oktober 2000.
3) Kepulauan Bangka Belitung dengan ibu kota Pangkal Pinang pada 4 Desember 2000.
4) Gorontalo dengan ibu kota Gorontalo, dari Sulawesi Utara pada 22 Desember 2000.
5) Irian Jaya Barat dengan ibu kota Manokwari, dari Papua pada 21 November 2001.
6) Kepulauan Riau dengan ibu kota Tanjungpinang, dari Riau pada Oktober 2002.
7) Sulawesi Barat dengan ibu kota Mamuju, dari Sulawesi Selatan pada 5 Oktober 2004.
8) Kalimantan Utara dengan ibu kota Tanjung Selor, dari Kalimantan Timur pada Oktober
2012.
d) Partai Politik
Munculnya UU No. 2 tahun 1999 tentang Partai Politik memberikan semangat bagi
kehidupan politik di Indonesia. Semangat ini ditunjukkan dengan munculnya sistem
multipartai dalam pemilu. Pada Orde Baru hanya terdapat 3 partai. Pada Orde Reformasi
muncul banyak partai.

e) Amandemen UUD 1945


Dalam kurun waktu 1999-2002, UUD 1945 telah mengalami emapat kali amandemen yang
ditetapkan dalam Sidang Umum dan Sidang Tahunan MPR sebagai berikut.
1) Amandemen pertama, tanggal 14-21 Oktober 1999 pada sidang umum MPR 1999.
2) Amandemen kedua, tanggal 7-18 Agustus 2000 pada sidang tahunan MPR 2000.
3) Amandemen ketiga, tanggal 1-9 November pada sidang tahunan MPR 2001.
4) Amandemen keempat, tanggal 1-11 Agustus 2002 pada sidang tahunan MPR 2002.
2.3.2 Pelaksanaan Pemilu
a) Pemilu 1999
Pemilu 1999 diselenggarakan secara serentak pada tanggal 7 Juni 1999 untuk memilih 462
anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) Kabupaten/Kota se-Indonesia, periode 1999-2002 yang diikuti oleh 48 partai politik.
b) Pemilu 2004
Pemilu 2004 dimenangi oleh pasangan dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono
dan Jusuf Kalla yang meraih 60,9% suara.

c) Pemilu 2009
Pemilu 2009 dimenangi oleh pasangan dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono
dan Boediono yang meraih 60,8% suara.
d) Pemilu 2014
Pemilu 2014 dimenangi oleh pasangan dari PDI-P, Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang meraih
46,85% suara.

2.3.3 Kebebasan Pers Pada Masa Reformasi


Pada masa pemerintahan B.J. Habibie, bermunculan media cetak baru yang berjumlah
hingga 1.397 penerbit di seluruh Indonesia karena Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP)
tidak lagi diberlakukan. Selanjutnya, Presiden Abdurrahman Wahid meneruskan kebijakan
Habibie, jumlah penerbitan di Indonesia pun meningkat signifikan.
Pada masa pemerintahan Megawati,terjadi demokratisasi pers yang ditandai hadirnya
undang – undang pers dan undang – undang penyiaran. Undang – undang pers memiliki
dampak positif dan negatif. Disatu sisi munsul kebebasan dalam mengemukakan pendapat
dan disisi lain pers melahirka sejumlah media cetak yang tak terkendali. Kebebasan pers ini
berlangsung hingga saat ini.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Reformasi merupakan gerakan moral untuk menjawab ketidakpuasan dan
keprihatinan atas kehidupan politik, ekonomi, hukum, dan sosial. Reformasi bertujuan untuk
menata kembali kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang lebih baik
berdasarkan nilai – nilai luhur Pancasila. Dengan demikian, hakikat gerakan reformasi bukan
untuk menjatuhkan pemerintahan orde baru, apalagi untuk menurunkan Soeharto dari kursi
kepresidenan. Namun, karena pemerintahan orde baru pimpinan Soeharto dipandang tidak
mampu mengatasi persoalan bangsa dan negara, maka Soeharto diminta untuk
mengundurkan secara legawa dan ikhlas demi perbaikan kehidupan bangsa dan Negara
Indonesia yang akan datang.
Demi mewujudkan tujuan Negara dan cita – cita reformasi yang telah banyak
menimbulkan korban baik harta maupun jiwa, kita sebagai pelajar Indonesia wajib menjaga
kelangsungan reformasi agar berjalan sesuai dengan harapan para pahlawan reformasi yang
telah gugur mendahului kita.

3.2 Saran
Dengan adanya jaminan dalam melakukan kebebasan berpendapat diharapkankan
masyarakat Indonesia mampu menyampaikan hal-hal yang menjadi aspirasi demi
membangun bangsa dan Negara di segala aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara, sehingga mampu bersaing dengan negara – negara maju lainya.
Kebebasan berpendapat melalui berbagai media yang bertujuan sebagai sarana yang
menghubungkan antara pemerintah dan masyarakat diharapkan agar tidak disalahgunakan
dengan penyampaian yang berlebihan dan tidak bertanggungjawab sehingga berpotensi
memicu terjadinya kesalahpahaman pada pihak – pihak tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
Fauziah, Mutiara Shifa, Ringo Rahata, Melkisedek Bagas Fenetimura.2015.Sejarah
Indonesia.Klaten:Intan Pariwara
http://socio-politica.com/2012/05/14/gerakan-mahasiswa-gerakan-hati-nurani-bangsa-1/
http://bemfis.student.uny.ac.id/2013/06/14/mahasiswa-dalam-bingkai-reformasi/
http://fatian-suejiarto.blogspot.co.id/2012/03/peran-dan-partisipasi-mahasiswa-dalam.html

Anda mungkin juga menyukai