Anda di halaman 1dari 2

1.

0 JALAN INSPEKSI (PERANCANGAN KEAIRAN)


Jalan inspeksi direncana, dibangun dan dipelihara oleh dinas pengairan. Jalan
ini terutama digunakan untuk memeriksa, mengeksploitasi dan memelihara
jaringan irigasi dan pembuang, yakni saluran dan bangunan-bangunan
pelengkap. Akan tetapi, di kebanyakan daerah pedesaan, jalan-jalan ini juga
sekaligus berfungsi sebagai jalan utama dan oleh karena itu juga digunakan
pada kendaraan-kendaraan komersial dengan pembebanan as yang lebih
berat dibandingkan dengan kendaraan-kendaraan inspeksi.

Jalan inspeksi dibuat untuk memantau sepanjang saluran yang dilewati jalan
tersebut. Jadi apabila ada kerusakan atau kehilangan barang-barang
infrastrukstur apalagi yang bersifat vital, dapat ditangani secepatnya sebelum
terjadi kerusakan yang lebih parah dan merugikan. Jalan inspeksi bisa dibangun
melintasi saluran, ataupun dengan menyusuri saluran tersebut.

Semua jalan inspeksi digolongkan sebagai jalan kelas III atau lebih
rendah lagi menurut standar Bina Marga No.13/1970 (BINA MARGA,1970b)
dan merupakan jalan satu jalur. Untuk jalan-jalan yang berada di bawah
wewenang Direktorat Irigasi, Standar Bina Marga telah diperluas lagi menjadi
:

Kelas I Jalan nasional (Standar Bina Marga)

Kelas II Jalan Provinsi (Standar Bina Marga)

Kelas III Jalan Kabupaten, jalan desa, jalan inspeksi utama (Standar Bina Marga)
Kelas IV Jalan penghubung, jalan inspeksi sekunder (Standar Bina Marga)

Kelas V Jalan setapak/jalan orang

Lebar jalan dan perkerasan untuk jalan-jalan kelas III, IV, dan V (yang
punya arti penting dalam suatu proyek irigasi) disajikan pada tabel 1.1

Jalan kelas III dengan perkerasan, jalan kelas IV boleh dengan


perkerasan ( untuk yang lebih penting ) atau tanpa perkerasan. Kelas V
umumnya tanpa perkerasan.

Tabel lebar standar jalan

Lebar total jalan Lebar perkerasan


Kelas III 5m 3m
Kelas IV 5m 3m
Kelas V 1,5 m

Sumber : Depertemen PU, 1986, “Kriteria Perencanaan bagian Bangunan KP-04”, CV Galang
Persada, Jakarta.