Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Keanekaragaman hayati yang tersebar di hutan Kalimantan sangat besar dan
memiliki banyak manfaat serta belum tergali secara maksimal. Potensi yang belum
tergali maksimal tersebut diantaranya adalah potensi jenis tumbuhan yang berhasiat
sebagai obat. Kekayaan hayati tersebut jika dimanfaatkan secara bijaksana tentunya
akan memberi manfaat yang tidak ternilai terutama bagi kesehatan bangsa.
Masyarakat tradisional di Kalimantan yang hidup di dalam maupun di sekitar hutan
masih menggantungkan hidupnya pada hutan yang ada disekitar mereka.
Mengumpulkan berbagai hasil hutan termasuk memanfaatkan jenis tumbuhan yang
berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit melalui pengobatan tradisional yang
mereka lakukan. Dalam hal perawatan kesehatan, umumnya masyarakat tradisional
di Kalimantan saat ini sudah memanfaatkan fasilitas puskesmas yang ada. Namun,
jika perawatan tidak kunjung sembuh atau beberapa penyakit ringan seperti demam,
batuk dan sakit kepala, mereka menggunakan ramuan tumbuhan melalui pengobatan
tradisional yang dikuasai oleh kaum tua atau tokoh adat setempat. Pengetahuan
pengobatan tradisional ini sulit untuk didokumentasikan dan kurang begitu dihargai
(FWI dan GFW, 2001). Kegiatan eksplorasi menyangkut pohon-pohon hutan yang
berpotensi sebagai bahan baku obat-obatan masih sangat minim (Setyawati, 2009a).
Masyarakat di sekitar kawasan hutan yang kehidupannya sangat tergantung
pada hutan, mengetahui pengetahuan tradisional dalam pemanfaatkan tumbuhan atau
bahan alami untuk pengobatan. Pengetahuan tentang tumbuhan obat, mulai dari
pengenalan jenis tumbuhan, bagian yang digunakan, cara pengolahan sampai dengan
khasiat pengobatannya merupakan kemampuan alami dari masing-masing
masyarakat disekitar hutan.
Indonesia memiliki sekitar 370 etnis (penduduk asli) yang hidup di dalam
atau di sekitar kawasan hutan, baik itu yang berstatus hutan lindung, hutan produksi
maupun kawasan cagat alam. Mereka umumnya memiliki pengetahuan tradisional
dalam pengunaan tumbuhan berkhasiat obat ini merupakan dasar pengembangan
obat-obatan modern (Supriadi et al, 2001).
1.2 Batasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada mengidentifikasi kandungan senyawa
metabolit sekunder apa
1.3 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Golongan senyawa kimia apa saja yang terdapat dalam
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Mengidentifikasi senyawa metabolit sekunder uji fitokimia, uji antioksidan,
kandungan vitamin C pada ekstrak metanol buah terung asam (Solanum Ferox Linn).

1.5 Manfaat Penilitian


1. Hasil penelitian yang diperoleh melalui penelitian diharapkan dapat menjadi dasar
atau metode, teknik pemisahan dan identifikasi komponen metabolit sekunder
pada buah terung asam.
2. Sebagai bahan pertimbang dalam pelestarian.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Deskripsi Tentang Tumbahuan Terung Asam
2.1.1 Deskripsi
1. Batang
Pokok herba atau pokok renek yang kecil, ketinggian antara 1-2 m,
mempunyai bulu lebat, biasanya mempunyai duri yang lurus dan tajam.
Batangnya berwarna hijau dan agak berbulu dan bertukar separa keras
dengan warna hijau coklat.
2. Daun
Daun berwarna hijau berbentuk ovate dengan ukuran 5-40 cm panjang x
3-40 cm lebar serta biasanya ada 4-6 penjuru tajam agak berbulu.
3. Bunga
Bunga nya mempunyai 5 kelopak berwarna putih dan bahagian tengah
yang kekuningan.
4. Buah dan biji
Buah terung dayak berbentuk bulat atau bulat leper, berwarnna hijau
ketika muda bertukar kepada kuning oren kemerahan apabila cukup
matang. Saiz sebiji terung antara 5-6 cm ukurlilit x 7-8 cm panjang. Satu
tangkai mempunyai purata antara 1-2 biji buah. Buah yang terlalu masak
jika tidak dipetik akan gugur.
5. Akar

2.1.2 Habitat

Tempat asal terung bulu tumbuh tidak jelas diketahui. Taburannya ialah dari
India hingga ke bahagian Papua New Guinea, termasuklah semua negara
sekitar Asia Tenggara. Terung bulu ada yang ditanam dan ada juga yang
tumbuh liar.

2.1.3 Kandungan Kimia


Buah terung asam mengandungi air, karbohidrat, protein, lemak, serat,
mineral dan vitamin
2.1.4 Penggunaan Obat Tradisional
2.2 Klasifikasi Tumbuhan Terung Asam
3 Terung Asam/Bulu
Sebuah lukisan ringkas terung
asam.

Pengelasan saintifik

Alam: Tumbuhan

(tiada peringkat): Angiosperma

(tiada peringkat): Eudikot

(tiada peringkat): Asterids

Order: Solanales

Famili: Solanaceae

Genus: Solanum

Spesies: S. ferox

Nama binomial

Solanum ferox
(L.)

Sinonim

Solanum lasiocarpum[1]

Terung Bulu, terung


3.1 Pendekatan yang dilakukan
3.1.1 Pendekatan Kimia Bahan Alam
Kandungan kimia yang terdapat pada makhluk hidup berdasarkan pada cara
pembentukan dan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok
yaitu :
a. Senyawa organik yang terlibat dalam posisi metabolisme makhluk hidup
seperti protein, asam lemak dan asam – asam organik, karbohidrat yang
terlibat dalam siklus asam karboksilat disebut metabolit primer.
b. Metabolit sekunder merupakan hasil samping proses metabolit seperti
alkaloid, steroid, terpenoid, flavonoid, fenolik, kumari, kuinon, lignin,
glikosida dan lainnya dikenal sebagai senyawa kimia bahan alam. Fungsi
metabolit sekunder ini dalam makhluk hidup sangat bervariasi antara lain
sebagai pelindung dan pertahanan terhadap gangguan atau serangan
makhluk lain seperti racun, allelopati dan antibiotik. Ada juga fungsi
sebagai penarik serangga yang diperlukan untuk membantu penyerbukan
atau perkembangan biak, serta ada juga yang berfungsi sebagi alat
komunikasi seperti feromon.

3.1.2 Pendekatan Etnobotani


Etnobotani adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia
dan tumbuhan. Penelitian etobotani diawali oleh para ahli botani yang
memfokuskan tentang persepsi ekonomidari suatu tumbuhan yang
digunakan oleh masyarakat lokal. Ahli etnobotani bertugas
mendukumentasikan dan menjelaskan hubungan kompleks antara budaya
dan penggunaan tumbuhan dengan fokus utama pada bagaimana tumbuhan
digunakan, dikelola, dan dipersepsikan pada berbagai lingkungan
masyarakat misalnya sebagai makanan dan obat. Pendekatan etnobotani
mengarah kepada sasaran untuk mengembangkan sistem pengetahuan
masyarakat lokal terhadap tanaman obat sehingga dapat menemukan
senyawa kimia baru yang berguna dalam pembuatan obat – obatan . hal ini
karena metabolit sekunder tertentu, seperti bahan-bahan yang berbau khas
biasanya diduga mengandung senyawanterpenoid atau aromatik ( Arbain
dan Tamin dalam Emilda, 2008 ).

3.1.3 Pendekatan Fitokimia


Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah
segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan,
termasuk sayuran dan buah – buahan. Fitokimia merupakan ilmu
pengetahuan yang menguraikan aspek kimia suatu tanaman. Kajian
fitokimia meliputi uraian yang mencangkup aneka ragam senyawa organik
yang dibentuk dan disimpan oleh organisme, yaitu struktur kimianya,
biosintesisnya, perubahan serta metabolismenya, penyebarannya secara
alamiah dan fungsi biologisnya, isolasi dan perbandingan komposisi
senyawa kimia dari bermacam-macam jenis tanaman (Harborne, 1987;
Sirait, 2007).
Fitokimia biasanya digunakan untuk merujuk pada senyawa yang
ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsi normal
tubuh, tapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau
memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Pendekatan fitokimia yang
dilakukan adalah uji keberadaan suatu kelompok senyawa organik secara
kualitatif dengan metode tertentu. (Arbain dan Tanin:1995).

3.2 Pengujian Kandungan Kimia Metabolit Sekunder


Dari sifat kimia yang khas dari gugus fungsi kelompok metabolit sekunder akan dapat
didekteksi keberadaan kelompok metabolit sekunder dalam bagian tumbuhan
tersebut. Faktor yang terpenting adalah kadar atau jumlah metabolit sekunder dalam
sampel.
3.2.1 Ekstraksi
Ekstraksi adalah jenis pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu
padatan atau cairan. Proses ekstraksi bermula dari penggumpalan ekstrak
dengan pelarut kemudian terjadi kontak antara bahan dan pelarut sehingga
pada bidang datar antarmuka bahan ekstraksi dan pelarut terjadi
pengendapan massa dengan cara difusi. Bahan ekstraksi yang telah
tercampur dengan pelarut yang telah menembus kapiler-kapiler dalam suatu
bahan padat dan melarutkan ekstrak larutan dengan konsentrasi lebih tinggi
di bagian dalam bahan ekstraksi dan terjadi difusi yang memacu
keseimbangan konsentrasi larutan dengan larutan di luar bahan (Sudjadi,
1988).

3.2.2 Pelarut yang digunakan


1. Etanol
Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, atau alkohol, adalah
sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan
merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan
rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Etanol sering disingkat
menjadi EtOH, dengan "Et“ merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5).
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan
kimia yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia.
Contohnya adalah pada parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-
obatan. Dalam kimia, etanol adalah pelarut yang penting sekaligus
sebagai bahan untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya
etanol telah lama digunakan sebagai bahan bakar. Ethanol merupakan
senyawa yang tidak terdapat secara bebas di alam. Zat ini adalah
golongan alkohol biasa atau alkohol primer yang dibuat dari glukosa atau
jenis gula yang lain dengan jalan peragian.
 Sifat-sifat:
a. Ethanol merupakan zat cair jernih dan dapat tercampur dengan
air dalam semua perbandingan (bersifat missible).
b. Dapat melarutkan senyawa organik.
 Bahan baku
Bahan baku untuk memproduksi ethanol dengan cara
fermentasi dapat di produksi dari 3 macam karbohidrat,
yaitu, Bahan-bahan yang mengandung gula atau disebut juga
sustansi sakharin, rasanya manis seperti misalnya gula tebu, gula bit,
molase (tetes), macam-macam sari buah-buahan dan lain-
lain. Bahan yang mengandung pati, misalnya: padi-padian, jagung,
gandum, kentang sorgum, malt, barley, ubi kayu dan lain-
lain.Bahan-baha yang mengandung selulosa, misalnya: kayu, cairan
buangan pabrik pulp dan kertas (waste sulfite liquor).
Gambar 2. Struktur Etanol
(http://rumushitung.com/2013/02/28/rumus-kimia-etanol/)

2. DPPH

3. Vitamin C
3.3 Senyawa Metabolit Sekunder
3.3.1 Terpenoid
Terpenoid merupakan derivat dehidrogenasi dan oksigenasi dari
senyawa terpen. Terpenoid merupakan suatu golongan hidrokarbon yang
banyak dihasilkan oleh tumbuhan dan sebagian kelompok hewan. Rumus
molekul terpen adalah (C5H8)n. Terpenoid disebut juga dengan isoprenoid.
Hal ini disebabkan karena kerangka karbonnya sama seperti senyawa
isopren. Secara struktur kimia terpenoid merupakan penggabungan dari unit
isoprena, dapat berupa rantai terbuka atau siklik, dapat mengandung ikatan
rangkap, gugus hidroksil, karbonil atau gugus fungsi lainnya. Terpenoid
merupakan komponen penyusun minyak atsiri. Minyak atsiri berasal dari
tumbuhan yang pada awalnya dikenal dari penentuan struktur secara
sederhana, yaitu dengan perbandingan atom hidrogen dan atom karbon dari
suatu senyawa terpenoid yaitu 8 : 5 dan dengan perbandingan tersebut dapat
dikatakan bahwa senyawa tersebut adalah golongan terpenoid. Minyak
atsiri bukanlah senyawa murni akan tetapi merupakan campuran senyawa
organic yang kadangkala terdiri dari lebih dari 25 senyawa atau komponen
yang berlainan. Sebagian besar komponen minyak atsiri adalah senyawa
yang hanya mengandung karbon dan hidrogen atau karbon, hidrogen dan
oksigen. Minyak atsiri adalah bahan yang mudah menguap sehingga mudah
dipisahkan dari bahan-bahan lain yang terdapat dalam tumbuhan. Salah satu
cara yang paling banyak digunakan adalah memisahkan minyak atsiri dari
jaringan tumbuhan adalah destilasi. Dimana, uap air dialirkan kedalam
tumpukan jaringan tumbuhan sehingga minyak atsiri tersuling bersama-
sama dengan uap air. Setelah pengembunan, minyak atsiri akan membentuk
lapisan yang terpisah dari air yang selanjutnya dapat dikumpulkan. Minyak
atsiri terdiri dari golongan terpenoid berupa monoterpenoid (atom C 10) dan
seskuiterpenoid (atom C 15). Masing-masing golongan terpenoid itu
penting, baik dalam pertumbuhan dan metabolisme maupun pada ekologi
tumbuhan. Terpenoid merupakan unit isoprena (C5H8). Terpenoid
merupakan senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan
isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 siklik yaitu
skualena.
Berdasarkan klasifikasi terpenoid, sebagian besar terpenoid
mengandung atom karbon yang jumlahnya merupakan kelipatan lima.
Penyelidikan kimia selanjutnya menunjukkan bahwa sebagian besar
terpenoid mempunyai kerangka karbon yang dibangun oleh dua atau lebih
unit C-5 ini dinamakan karena kerangka karbonnya sama seperti isopren.
Penyelidikan yang lebih seksama lagi mengenai struktur molekul
terpenoid telah mengungkapkan bagaimana unit-unit isoprene tersebut
saling berkaitan secara teratur, dimana “kepala” dari unit yang satu berkaitan
dengan “ekor” dari unit lain. Cara penggabungan “kepala ke ekor” dari unit-
unit isoprene dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2. Struktur Terpenoid


Pada gambar diatas dapat dijelaskan bahwa kaidah ini merupakan
ciri khas dari sebagian besar terpenoid sehingga dapat digunakan sebagai
hipotesa dalam menentukan struktur terpenoid. Tetapi pada beberapa
monoterpen tidak mengikuti kaidah isoprene.
Secara umum terpenoid terdiri dari unsur-unsur C dan H dengan
rumus molekul umum (C5H8)n. Klasifikasi biasanya tergantung pada nilai n.
Dari rumus di atas sebagian besar terpenoid mengandung atom
karbon yang jumlahnya merupakan kelipatan lima. Penyelidikan selanjutnya
menunjukan pula bahwa sebagian besar terpenoid mempunyai kerangka
karbon yang dibangun oleh dua atau lebih unit C5 yang disebut unit isopren.
Unit C5 ini dinamakan demikian karena kerangka karbonnya seperti
senyawa isopren. Wallach (1887) mengatakan bahwa struktur rangka
terpenoid dibangun oleh dua atau lebih molekul isopren. Pendapat ini
dikenal dengan “hukum isopren”.

2.6.3 Fenolik
Fenolik merupakan senyawa yang banyak ditemukan pada
tumbuhan. Fenolik memiliki cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus
hidroksi (OH-) dan gugus-gugus lain penyertanya. Senyawa ini diberi nama
berdasarkan nama senyawa induknya, fenol. Senyawa fenol kebanyakan
memiliki gugus hidroksi lebih dari satu sehingga disebut sebagai polifenol.
Fenol biasanya dikelompokkan berdasarkan jumlah atom karbon pada
kerangka penyusunnya.
Kelompok terbesar dari senyawa fenolik adalah flavonoid, yang
merupakan senyawa yang secara umum dapat ditemukan pada semua jenis
tumbuhan. Biasanya, satu jenis tumbuhan mengandung beberapa macam
flavonoid dan hampir setiap jenis tumbuhan memiliki profil flavonoid yang
khas. Kerangka penyusun flavonoid adalah C6–C3–C6. Inti flavonoid
biasanya berikatan dengan gugusan gula sehingga membentuk glikosida yang
larut dalam air. Pada tumbuhan, flavonoid biasanya disimpan dalam vakuola
sel. Secara umum, flavonoid dikelompokkan lagi menjadi kelompok yang
lebih kecil (sub kelompok), yaitu:
Senyawa fenolik meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari
tumbuhan yang mempunyai ciri sama, yaitu cincin aromatik yang
mengandung satu atau dua gugus OH. Senyawa fenolik di alam terdapat
sangat luas, mempunyai variasi struktur yang luas, mudah ditemukan di
semua tanaman, daun, bunga dan buah. Ribuan senyawa fenolik alam telah
diketahui strukturnya, antara lain flavonoid, fenol monosiklik sederhana,
fenil propanoid, polifenol (lignin, melanin, tannin), dan kuinon fenolik.
Banyak senyawa fenolik alami mengandung sekurang-kurangnya satu gugus
hidroksil dan lebih banyak yang membentuk senyawa eter, ester atau glioksida
daripada senyawa bebasnya. Senyawa ester atau eter fenol tersebut memiliki
kelarutan yang lebih besar dalam air daripada senyawa fenol dan senyawa
glioksidanya.
Dalam keadaan murni, senyawa fenol berupa zat padat yang tidak berwarna,
tetapi jika teroksidasi akan berubah menjadi gelap. Kelarutan fenol dalam air
akan bertambah, jika gugus hidroksil makin banyak.

3.3.2 Steroid
Sebagaimana senyawa organik lainnya, tata nama sistematika dari
steroid didasarkan pada struktur dari hidrokarbon steroid tertentu. Nama
hidrokarbon steroid itu ditambahi awalan atau akhiran yang menunjukkan
jenis substituen. Sedangkan, posisi dari substituen itu ditunjukkan oleh
nomor atom karbon, dimana substituen itu terikat. Penomoran atom karbon
dalam molekul steroid adalah sebagai berikut :

Gambar 4. Kerangka Siklopentana perhidro fenantrena

Berdasarkan struktur umum steroid tersebut, maka jenis-jenis hidrokarbon


induk dari steroid adalah sebagai berikut:

Senyawa triterpenoid/steroid merupakan salah satu kandungan


metabolit sekunder yang banyak digunakan sebagai obat antara lain untuk
mengobati gangguan kulit, diabetes, gangguan menstruasi, malaria dan
antiinflamasi. Sedangkan senyawa triterpenoid/steroid saponin banyak
digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan hormon steroid, dan sampai
sekarang usaha pencarian tumbuhan penghasil sapogenin semakin banyak
dilakukan.

Pada umumnya steroid berfungsi sebagai hormon. Perbedaan jenis


steroid yang satu dengan steroid yang lain terletak pada gugus fungsional
yang diikat oleh keempat cincin ini dan tahap oksidasi tiap-tiap cincin.

3.3.3 Fenolik
Senyawa fenolik merupakan senyawa yang banyak ditemukan pada
tumbuhan. Fenolik memiliki cincin aromatik satu atau lebih gugus hidroksi
(OH) dan gugus – gugus lain penyertanya.Senyawa ini diberi nama
berdasarkan nama senyawa induknya, fenol. Senyawa fenol kebanyakkan
memiliki gugus hidroksil lebih dari satu sehingga disebut polifenol.
Senyawa fenolik meliputi aneka ragam senyawa yang berasal
dari tumbuhan yang mempunyai ciri sama, yaitu cincin aromatik yang
mengandung satu atau dua gugus OH. Senyawa fenolik di alam terdapat
sangat luas,mempunyai variasi struktur yang luas, mudah ditemukan
di semua tanaman,daun, bunga dan buah.Ribuan senyawa fenolik alam
telah diketahui strukturnya,antara lain flavonoid, fenol monosiklik
sederhana, fenil propanoid, polifenol(lignin, melanin, tannin), dan
kuinon fenolik. H
H
H
Banyak senyawa fenolik alami mengandung
H sekurang-kurangnya
satugugus
H H hidroksil dan lebih banyak yang membentuk senyawa eter, ester
H H
atauglioksida daripada senyawa bebasnya.Senyawa ester atau eter fenol
tersebutmemiliki kelarutan yang lebih besar dalam air daripada senyawa
fenol dansenyawa glioksidanyBanyak senyawa fenolik alami mengandung
sekurang-kurangnya satugugus hidroksil dan lebih banyak yang membentuk
senyawa eter, ester atauglioksida daripada senyawa bebasnya.Senyawa ester
atau eter fenol tersebutmemiliki kelarutan yang lebih besar dalam air
daripada senyawa fenol dansenyawa glioksidanya. Senyawa fenolik
memiliki aktivitas biologik yang beraneka ragam, danbanyak digunakan
dalam reaksi enzimatik oksidasi kopling sebagai substratdonor H. Reaksi
oksidasi kopling, selain membutuhkan suatu oksidator juga memerlukan
adanya suatu senyawa yang dapat mendonorkan H. Senyawafenolik
merupakan contoh ideal dari senyawa yang mudah mendonorkan atom H.

Gambar. 9 Struktur Fenolik


(http://robbyputrakapuasbloggmasboy.blogspot.co.id/2011/12/makalah-
fenolik.html)

3.3.4 Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat
pada tanaman hijau, kecuali alga. Flavonoid yang lazim ditemukan pada
tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan
C- dan O-glikosida, isoflavon C- dan O-glikosida, flavanon C- dan O-
glikosida, khalkon dengan C- dan O-glikosida, dan dihidrokhalkon,
proantosianidin dan antosianin, auron O-glikosida, dan dihidroflavonol O-
glikosida. Golongan flavon, flavonol, flavanon, isoflavon, dan khalkon juga
sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya Menurut Markham (1988),
flovonoid tersusun dari dua cincin aromatis yang dapat atau tidak dapat
membentuk cincin ketiga dengan susunan C6-C3-C6.
Gambar 3. Kerangka flavonoid

3.3.5 Alkaloid
Alkaloid tidak mempunyai tatanama sistematik,oleh karena itu suatu
alkoida dinyatakan dengan nama trivial, misalnya kuinin, morfin dan stiknin
hamper semua nama trivial ini berakir dengan yang mencirikan alkoida.
Alkaloid menurut Winterstein dan Trier didefinisikan sebagai senyawa yang
bersifat basa, mengandung atom nitrogen yang berasal dari tumbuhan dan
hewan. Alkaloid seringkali beracun bagi manusia dan banyak yang
mempunyai kegiatan fisiologi yang menonjol, jika digunakan secara luas
dalam bidang pengobatan. Alkaloid biasanya tidak bewarna, seringkali
bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal hanya sedikit yang
berbentuk cairan (misalnya nikotina) pada suhu kamar (Rizal, 2011).
Alkaloid dapat digolongkan dalam 3 golongan yaitu(Rizal, 2011) :

1. Alkaloid sejati yaitu senyawa yang mempunyai cincin nitrogen


heterosiklik, bersifat basa dan berasal dari asam amino.
2. Alkaloid gabungan yaitu turunan asam amino, atom nitrogennya tidak
dalam bentuk cincin heterosiklik. Alkaloid gabungan bersifat basa,
dialam diturunkan dari biosintesis asam amino itu sendiri. Contohnya
meskalina.
3. Alkaloid semu yaitu basa tumbuhan yang mengandung nitrogen
heterosiklik, memiliki aktifitas dan tidak mempunyai hubungan
biosintesis dengan asam amino.

Alkaloid semu diturunkan dari senyawa-senyawa terpenoid turunan


asam asetat dan asam poliketonlifatik. Contohnya kafein yang terdapat pada
kopi.
Hampir semua alkaloida yang ditemukan dialam mempunyai
keaktifan biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang
sangat berguna dalam pengobatan. Misalnya kuinin, morfin dan stiknin
adalah alkaloida yang terkenal dan mempunyai efek sifiologis dan
psikologis. Alakaloida dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan
seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Alakloida umumnya ditemukan
dalam kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang
rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan.
(http://endiferrysblog.blogspot.co.id/2012/02/senyawa-metabolit-
sekunder.html)

Alkaloida tidak mempunyai tatanam sistematik, oleh karena itu,


suatu alkaloida dinyatakan dengan nama trivial, misalnya kuinin, morfin dan
stiknin. Hampir semua nama trivial ini berakhiran –in yang mencirikan
alkaloida. Beberapa contoh senyawa alkaloida.

Gambar. 4 ( Struktur Alkaloid


(http://endiferrysblog.blogspot.co.id/2012/02/senyawa-metabolit-
sekunder.html)

3.3.6 Saponin
Saponin adalah segolongan senyawa glikosida yang mempunyai
struktur steroid dan mempunyai sifat-sifat khas dapat membentuk larutan
koloidal dalam air dan membui bila dikocok. Glikosida saponin bisa berupa
saponin steroid maupun saponin triterpenoid.

Gambar. 7 (Bagan Pembagian Saponim)

Saponin merupakan senyawa berasa pahit menusuk dan


menyebabkan bersin dan sering mengakibatkan iritasi terhadap selaput
lendir. Saponin juga bersifat bisa menghancurkan butir darah merah lewat
reaksi hemolisis, bersifat racun bagi hewan berdarah dingin, dan banyak
diantaranya digunakan sebagai racun ikan. Saponin bila terhidrolisis akan
menghasilkan aglikon yang disebut sapogenin. Ini merupakan suatu
senyawa yang mudah dikristalkan lewat asetilasi sehingga dapat dimurnikan
dan dipelajari lebih lanjut. Saponin yang berpotensi keras atau beracun
seringkali disebut sebagai sapotoksin.
(https://nadjeeb.wordpress.com/2009/10/31/saponin/)
1) Struktur Kimiawi
Berdasarkan struktur aglikonnya (sapogeninnya), saponin dapat
dibedakan menjadi 2 macam yaitu tipe steroid dan tipe triterpenoid.
Kedua senyawa ini memiliki hubungan glikosidik pada atom C-3 dan
memiliki asal usul biogenetika yang sama lewat asam mevalonat dan
satuan-satuan isoprenoid. Glikosida saponin dibagi menjadi 2 jenis
berdasarkan pada struktur bahan kimia dari aglycone (sapogenin).
Saponin pada hidrolisis menghasilkan suatu aglycone yang dikenal
sebagai “sapogenin”.
2) Biosintesis Glikosida Saponin
Berdasarkan struktur dari aglikon maka glikosida dan saponin dapat
dibagi 2 golongan yaitu saponin netral yang berasal dari steroid dengan
rantai samping spiroketal dan saponin asam yang mempunyai struktur
triterpenoid. Biosintesa saponin triterpenoid lebih kurang diketahui bila
dibandingkan dengan saponin steroid tetapi dapat dikatakan bahwa
keduanya mempunyai tidak tolak yang sama yaitu yang berasal dari
asetat dan mevalonat. Rantai samping terbentuk sesudah terbentuknya
squalen. Sebagian terjadi inti steroid spiroketal dan yang lain
membentuk triterpenoid pentasiklik. Gugus gulanya dapat berdiri 1 – 55
gula dan dalam beberapa hal aglikon tak diikat dengan gula tetapi dengan
asam uronat.
(https://nadjeeb.wordpress.com/2009/10/31/saponin/)
Salah satu contoh saponin jenis ini adalah Asparagosida (Asparagus
sarmentosus), Senyawa ini terkandung di dalam ttumbuhan Asparagus
sarmentosus yang hidup dikawasan hutan kering afrika. Tanaman ini
juga biasa digunkan sebagai obat anti nyeri dan rematik oleh orang afrika
(Anonim, 2009).
Gambar. 8 Struktur Saponim
(http://pemula-awaliharimu.blogspot.co.id/2012/12/pengertian-
saponin-makalah-saponin.html)

3.4 Antioksidan
Antioksidan merupakan substansi nutrisi maupun non-nutrisi yang terkandung dalam
bahan pangan, yang mampu mencegah atau memperlambat terjadinya kerusakan
oksidatif dalam tubuh. Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron (elektron
donor) atau reduktan/reduktor. Antioksidan mampu menghambat reaksi oksidasi
dengan cara mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif sehingga
kerusakan sel dapat dicegah. Senyawa ini mempunyai berat molekul kecil
tapi mampu menginaktivasi reaksi oksidasi dengan mencegah terbentuknya radikal
(Winarsi, 2007). Tamat et al. (2007) menyatakan bahwa antioksidan merupakan
zat yang dapat menunda, memperlambat dan mencegah terjadinya proses oksidasi.
Antioksidan sangat bermanfaat bagi kesehatan dan berperan penting dalam
mempertahankan mutu produk pangan.
Tubuh manusia mempunyai sistem antioksidan yang diproduksi secara kontinue
untuk menangkal atau meredam radikal bebas, seperti enzim superoksida dismutase
(SOD), katalase dan glutation peroksidase. Bila jumlah senyawa radikal bebas
melebihi jumlah antioksidan alami dalam tubuh maka radikal bebas akan
menyerang komponen lipid, protein dan DNA. Sehingga tubuh kita membutuhkan
asupan antioksidan yang mampu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas
tersebut (Prakash, 2001; Winarsi, 2007; Hapsari, 2008).

3.4.1 Manfaat Antioksidan


Antioksidan penting untuk kesehatan dan kecantikan serta
mempertahankan mutu produk pangan. Di bidang kesehatan dan kecantikan,
antioksidan berfungsi untuk mencegah penyakit kanker dan tumor,
penyempitan pembuluh darah, penuaan dini, dan lain-lain (Tamat et al.
2007). Antioksidan juga mampu menghambat reaksi oksidasi dengan cara
mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif sehingga
kerusakan sel dapat dicegah. Reaksi oksidasi dengan radikal bebas sering
terjadi pada molekul protein, asam nukleat, lipid dan polisakarida (Winarsi,
2007).
Konsumsi antioksidan dalam jumlah memadai mampu menurunkan
resiko terkena penyakit degeneratif seperti kardiovaskuler, kanker,
aterosklerosis, osteoporosis dan lain-lain. Konsumsi makanan yang
mengandung antioksidan dapat meningkatkan status imunologi dan
menghambat timbulnya penyakit degeneratif akibat penuaan. Kecukupan
antioksidan secara optimal dibutuhkan oleh semua kelompok umur
(Winarsi, 2007).
Di bidang industri pangan, antioksidan dapat digunakan untuk
mencegah terjadinya proses oksidasi yang dapat menyebabkan
kerusakan, seperti ketengikan, perubahan warna dan aroma, serta
kerusakan fisik lainnya (Tamat et al., 2007). Antioksidan sangat penting
sebagai inhibitor peroksidasi lipid sehingga dapat digunakan untuk
mencegah terjadinya peroksidasi lipid pada bahan pangan. Peroksidasi lipid
merupakan reaksi kimia yang sering terjadi pada bahan pangan yang
memproduksi asam, aroma tak sedap dan tosik selama proses pengolahan
dan penyimpanan sehingga mempengaruhi mutu dan keamanan produk
pangan (Heo et al., 2005).
3.4.2 Uji Aktivitas Antioksidan
Metode pengujian aktivitas antioksidan dikelompokkan
menjadi 3 golongan. Golongan pertama adalah Hydrogen Atom Transfer
Methods (HAT), misalnya Oxygen Radical Absorbance Capacity Method
(ORAC) dan Lipid Peroxidation Inhibition Capacity Assay (LPIC).
Golongan kedua adalah Electron Transfer Methods (ET), misalnya Ferric
Reducing Antioxidant Power (FRAP) dan 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil
(DPPH) Free Radical Scavenging Assay.
Golongan ketiga adalah metode lain seperti Total Oxidant
Scavenging Capacity (TOSC) dan Chemiluminescence (Badarinath et al.,
2010). Salah satu metode yang paling umum digunakan untuk menguji
aktivitas antioksidan adalah dengan menggunakan radikal bebas 1,1-
diphenyl-2- picrylhydrazil (DPPH). Pengukuran antioksidan dengan metode
DPPH merupakan metode pengukuran antioksidan yang sederhana, cepat
dan tidak membutuhkan banyak reagen seperti halnya metode lain. Hasil
pengukuran dengan metode DPPH menunjukkan kemampuan antioksidan
sampel secara umum, tidak berdasar jenis radikal yang dihambat (Juniarti et
al., 2009). Pada metode lain selain DPPH membutuhkan reagen kimia yang
cukup banyak, waktu analisis yang lama, biaya yang mahal dan tidak selalu
dapat diaplikasikan pada semua sampel (Badarinath et al., 2010).
Pada metode ini, larutan DPPH berperan sebagai radikal bebas yang
akan bereaksi dengan senyawa antioksidan sehingga DPPH akan berubah
menjadi 1,1- diphenyl-2-picrylhydrazin yang bersifat non-radikal.
Peningkatan jumlah 1,1- diphenyl-2-picrylhydrazin akan ditandai dengan
berubahnya warna ungu tua menjadi warna merah muda atau kuning pucat
dan dapat diamati menggunakan spektrofotometer sehingga aktivitas
peredaman radikal bebas oleh sampel dapat ditentukan (Molyneux, 2004).
Pengukuran aktivitas antioksidan dengan metode DPPH
menggunakan prinsip spektrofotometri. Senyawa DPPH dalam metanol
berwarna ungu tua terdeteksi pada panjang gelombang sinar tampak sekitar
515-517 nm. Parameter untuk menginterpretasikan hasil pengujian
DPPH adalah dengan nilai IC50 (Inhibitor Concentration). IC50
merupakan konsentrasi larutan substrat atau sampel yang mampu
mereduksi aktivitas DPPH sebesar 50%. Semakin kecil nilai IC50 berarti
semakin tinggi aktivitas antioksidan. Secara spesifik suatu senyawa
dikatakan sebagai antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 50
ppm (IC50< 50 ppm), kuat (50 ppm < IC50 < 100 ppm), sedang (100 ppm
< IC50 < 150 ppm), lemah (150 ppm < IC50 < 200 ppm), dan sangat lemah
(IC50 > 200 ppm). Strukur DPPH radikal bebas dan DPPH yang telah
bereaksi dengan antioksidan disajikan pada Gambar 4. (Molyneux, 2004).

a. 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil b. 1,1- diphenyl-2-picrylhydrazin


Gambar 4. Struktur DPPH (a) Radikal Bebas dan (b) Radikal Bebas yang
Telah Bereaksi dengan Antioksidan (Molyneux, 2004).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian

3.2 Tempat dan Waktu


Penelitian ini dilakukan dilaboratorium Pendidikan Kimia Universitas Palangka Raya.
Adapun yang menjadi alasan dari pemilihan tempat bahwa peneliti merupakan
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan MIPA, Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan sehingga untuk memudahkan akses penelitian.

3.3 Alat dan Bahan


3.3.1 Alat
Peralatan yang digunakan pada penelitian ini antara lain yaitu pisau,
sendok, neraca analitik, kaca arloji, blender, gelas kimia 50 mL, labu takar 100
mL, kertas saring, pipet, labu erlenmeyer 250 mL, gelas ukur 100 mL, spatula,
rak tabung reaksi, pipet tetes, corong kaca, pipet ukur+karet, keranjang, plat
tetes, gunting, aluminium foil, tisu, rotary evavorator, dan spektrofotometer
UV-Vis.

3.3.2 Bahan Tumbuhan


Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain yaitu buah
terung asam, akuades, metanol (MeOH), asam klorida (HCl), besi (III)
klorida(FeCl3), serbuk magnesium(Mg), asam sulfat (H2SO4).

3.3.3 Bahan Kimia


3.4 Prosedur Kerja
3.4.1 Pembuatan Sampel Pada Buah Terung Asam
Diambil buah terung asam bagian buah yang segar, dibersihkan kemudian diiris
kecil – kecil. Buah terung asam siap diblender sampai halus dalam bentuk
serbuk, sampel buah terung asam siap di maserasi.

3.4.2 Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder Pada Buah Terung Asam


Menggunakan Pelarut Etanol
a. Pembuatan ekstrak buah Terung Asam
Ditimbang 10 gram sampel buah terung asam lalu dimasukkan kedalam
masing-masing botol gelap. Diambil 100 ml larutan metanol dengan
menggunakan gelas ukur, kemudian dimasukkan kedalam botol yang berisi
sampel buah. Ditutup botol tersebut menggunakan alumunium foil serapat
mungkin dan diikat bagian ujung botol dengan karet gelang serta
mengelilingi botol dengan lakban. Didiamkan ekstrak tersebut 3x24 jam.
Sampel yang sudah siap disaring untuk memisahkan kotoran yang ada pada
sampel. Filtrat hasil penyaringan dipekatkan dengan rotary evavorator,
disimpan untuk perlakuan selanjutnya.

b. Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder


1. Identifikasi Alkaloid.
Lapisan ekstrak metanol dipipet 1 mL dimasukkan kedalam tabung
reaksi kemudian ditambahkan beberapa tetes pereaksi Meyer
Dragendorff. Jika terdapat alkaloid akan terbentuk endapan putih
berwarna jingga atau coklat, hasil ini menunjukkan uji positif untuk uji
alkaloid.

2. Identifikasi Terpenoid.
Diambil estrak metanol 5 tetes ke lubang plat tetes dibiarkan sampai
kering, dan ditambahkan 3 tetes asam sulfat pekat (H2SO4) terbentuknya
warna merah atau ungu menunjukkan uji positif untuk uji terpenoid.

3. Identifikasi Saponin
Diambil 1 mL estrak metanol dimasukkan kedalam tabung reaksi
kemudian dikocok kuat-kuat, bila terbentuknya busa yang permanen
selama ±15 menit menandakan positif adanya saponin.

4. Identifikasi Flavonoid
Diambil 1 mL estrak metanol dimasukkan kedalam tabung reaksi
ditambahkan 2 potong serbuk logam Mg dan 3 tetes HCl pekat.
Terbentuknya warna orange sampai merah menunjukkan uji positif
untuk uji flavonoid.
5. Identifikasi Fenolik
Diambil 1 mL estrak metanol dimasukkan kedalam tabung reaksi
kemudian ditambahkan FeCl3. Jika terbentuk warna biru, hijau, merah,
ungu dan hitam yang kuat menandakan positif adanya senyawa fenolik.

3.4.3 Identifikasi Antioksidan Menggunakan DPPH


a. Penentuan Panjang Gelombang DPPH
Larutan DPPH yang digunakan dibuat dengan cara menimbang seksama
lebih kurang 5 mg serbuk DPPH kemudian dilarutkan dengan metanol p.a
dalam labu ukur 50 mL dan dicukupkan dengan metanol p.a hingga tanda
batas sehingga didapat larutan DPPH 100 ppm. Larutan ini ditentukan
spektrum serapannya menggunakan spektrofotometer UV pada panjang
gelombang 400 nm hingga 800 nm kemudian ditentukan panjang gelombang
optimumnya.

b. Pembuatan Larutan Blanko


Pembuatan larutan blanko dilakukan dengan cara metanol p.a dipipet
sebanyak 3 mL kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan 1,0 mL larutan DPPH lalu dikocok sampai homogen,
diinklubasi pada suhu 370C selama 30 menit.

c. Pembuatan Larutan Kuersetin Sebagai Pembanding


1. Pembuatan larutan induk kuersetin konsentrasi 1000 µg/Ml
Sebanyak 10 mg kuersetin ditimbang dan dilarutkan dalam 10 mL
metanol p.a kemudian dikocok hingga homogen.
2. Pembuatan larutan kuersetin konsentrasi
Dipipet 0,1; 0, 25; 0,5; 1 ; 2 mL larutan induk kuersetin masing-masing
kedalam labu ukur 10 mL, ditambahkan metanol p.a hingga tanda batas.
Selanjutnya dipipet 1,0 mL masing-masing ke dalam 6 tabung reaksi.
Pada masing-masing tabung ditambah dengan 1,0 mL DPPH kemudian
ditambahkan lagi 2,0 mL metanol p.a dikocokhingga homogen
kemudian diinklubasi pada suhu kamar selama 30 menit.

d. Pembuatan Serapan Sampel


1. Pembuatan larutan induk sampel konsentrasi 1000 µg/mL.
Sebanyak 10 mg ekstrak ditimbang dan dilarutkan dalam 10,0 mL
metanol p.a kemudian dikocok dan dilarutkan hingga homogen.
2. Pembuatan larutan seri bahan uji konsentrasi 0,1; 0, 25; 0,5; 1 ; 2 µg/Ml
Dipipet 0,1; 0, 25; 0,5; 1 ; 2 mL larutan induk bahan uji masing-masing
kedalam labu ukur 10,0 mL, ditambahkan metanol p.a hingga tanda
batas. Selanjutnya dipipet 1,0 mL masing-masing 6 tabung reaksi. Pada
masing-masing tabung ditambahkan dengan 1,0 mL DPPH kemudian
ditambahkan lagi 2,0 mL metanol p.a dikocok hingga homogen
kemudian diinkubasi pada suhu kamar selama 30 menit.
3. Serapan dari larutan tersebut diukur pada panjang gelombang 517 nm.

e. Uji Aktivitas Penangkapan Radikal Bebas dengan Metode DPPH (1,1


difenil-2 pikrilhidrazil)
Sebanyak 1 mL larutan sampel pada ekstrak metanol kasar buah terung
asam dengan variasi konsentrasi 10, 25, 50, 100, 200 ppm dicampurkan
dengan 1 mL larutan DPPH, kemudian campuran didiamkan selama 30
menit pada suhu kamar. Absorbansinya diukur pada Amaks 517 nm dengan
menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Kekuatan inhibisinya dihitung.
Sejumlah 10 mg masing-masing ekstrak dari terung asam (ekstrak
metanol) dilarutkan dalam metanol p.a dengan konsentrasi 1000 ppm
sebagai larutan induk kemudian dibuat dalam berbagai konsentrasi (0,1; 0,
25; 0,5; 1 ; 2 ppm) untuk masing-masing ekstrak yang diperoleh, selanjutnya
dimasukkan kedalam tabung reaksi, dalam tiap tabung reaksi ditambahkan
1,0 mL DPPH kemudian ditambahkan lagi 2,0 mL metanol kemudian
diinklubasi pada suhu 370C selama 30 menit selanjutnya serapan diukur
pada panjang gelombang 517 nm. Sebagai pembanding digunakan kuersetin
(konsentrasi 0,1; 0, 25; 0,5; 1 ; 2 ppm). Nilai IC50 dihitung masing-masing
dengan menggunakan rumus persamaan regresi.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Hasil Pengamatan
4.2 Pembahasan
4.2.2 Penggunaan Sampel Menggunakan Estrak Etanol
4.2.2 Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder Pada Batang Dan Akar Pacing
1. Alkaloid
2. Steroid
3. Fenolik
4. Flavanoid
5. Saponin

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA