Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kromatografi digunakan untuk memisahkan campuran dari

substansinya menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi

bekerja berdasarkan prinsip yang sama. Seluruh bentuk kromatografi memiliki

fase diam (berupa padatan atau cairan yang didukung pada padatan) dan fase

gerak (cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa

komponen-komponen dari campuran bersama-sama. Komponen-komponen yang

berbeda akan bergerak pada laju yang berbeda pula. Kita akan melihat alasannya

pada halaman selanjutnya. Dalam kromatografi kertas, fase diam adalah kertas

serap yang sangat seragam. Fase gerak adalah pelarut atau campuran pelarut yang

sesuai.

Dalam penggolongan kromatografi yang didasarkan pada teknik yang

digunakan, terdapat kromatografi kertas. Kromatografi kertas merupakan bagian

khusus dari kromatografi cairan-cairan di mana cairan stasionernya merupakan

lapisan pelarut yang terabsorpsi pada kertas. Keuntungan dari metode ini adalah

kesederhanaannya, karena pekerjaan yang perlu dilakukan adalah menitikkan

sampel di dekat tepian kertas, lalu mencelupkan ujung kertas tersebut ke

dalam pelarut elusi. Dengan pereaksi yang sensitif, metode ini sesuai untuk
2

memisahkan dan mengidentifikasi senyawaan dalam campuran yang tidak

kompleks.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah :

a. Untuk mengetahui dan memahami tekhnik pemisahan dengan metode

kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis.

b. Untuk melakukan pemisahan logam-logam Pb2+, Mn2+, Cu2+, dan Hg2+atau

protein/ karbohidrat dalam campuran larutan dengan teknik kromatografi

kertas dan kromatografi lapis tipis.

c. Untuk menentukan komponen-komponen yang dipisahkan dengan tekhnik

kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis dan mengidentifikasi zat

yang dipisahkan berdasarkan nilai Rf tiap-tiap unsur.

C. Prinsip Percobaan

Prinsip percobaan dalam praktikum ini adalah pemisahan berdasarkan

perbedaan migrasi analit dalam dua fase yaitu fase diam dan fase gerak, dimana

analit yang menyukai fase gerak maka laju alirnya (Rf) akan besar, dan

sebaliknya bila analit menyukai fase diam maka laju alirnya (Rf) akan kecil atau

dengan kata lain like dissolved like.


3

BAB II

TEORI PENDUKUNG

Kromatografi kertas merupakan kromatografi cairan-cairan di mana

sebagai fase diam adalah lapisan tipis air yang diserap dari lembab udara oleh

kertas. Jenis fase caira lainnya dapat digunakan. Teknik ini sangat sederhana. Ada

dua ciri khas dari pemisahan dengan kromatografi yaitu perbedaan migrasi dari

berbagai senyawa dalam cuplikan dan penyebaran sepanjang kolom dari molekul

senyawa tertentu. Perbedaan migrasi berhubungan dengan perbedaan kecepatan

gerak dari senyawa-senyawa berbeda sepanjang kolom. Pada gambar, senyawa A

bergerak paling cepat dan keluar kolom paling awal. Senyawa C bergerak paling

lambat dan meninggalkan paling akhir. Perbedaan migrasi merupakan dasar

pemisahan kromatografi, tanpa perbedaan dalam kecepatan migrasi dari dua

senyawa, tidak mungkin terjadi pemisahan (Ishikawa, 2001).

Gordon, Martin, dan Sygne telah melakukan kromatografi partisi dengan

menggunakan kertas sebagai adsorbennya. Oleh karena itu cara kromatografi ini

disebut kromatografi kertas. Suatu campuran zat-zat yang akan dipisahkan berupa

tetesan kecil diteteskan beberapa cm dan tepi secarik kertas saring. Kemudian tepi

ujung kertas saring yang paling berdekatan dengan tetesan campuran zat tersebut

dicelupkan dalam suatu sistem pelarut sedemikian sehingga tetesan itu sendiri

tidak tercelup (Wypych, 2001).


4

Stronsium (Sr) adalah logam alkali tanah golongan II-A dengan nomor

atom 38 dan berat atom Sr stabil 87,62. Sifat kimia Sr mirip dengan logam alkali

tanah yang lain terutama Ca dan Ba, pada suhu kamar berwujud padat berwarna

putih perak dengan titik lebur 771°C dan titik didih 1360°C, mempunyai isotop
90 -
dengan nomor massa 81,8 sampai 97.Isotop Sr merupakan pemancar β murni
90 2+
dengan energi maksimum sebesar 0,544 MeV bervalensi +2 ( Sr ). Stronsium-90

merupakan salah satu radionuklida hasil belah 235U dan mempunyai waktu paro

28,1 tahun. Stronsium-90 memiliki radiotoksisitas yang tinggi dan bersifat retensi

dalam tubuh (Cotton, 1989).

Pemisahan dengan kromatografi didasarkan pada perbedaan

kesetimbangan komponen-komponen campuran di antara fase gerak (fasa mobil)

dan fasa diam. Kesetimbangan ini dapat dijelaskan secara kuantitatif dengan istilah

koefisien partisi, K, yang untuk kromatografi dirumuskan sebagai:

𝐶𝑆
K =
𝐶𝑀

Dengan Cs menyatakan bahwa konsentrasi (molar) komponen di dalam fasa diam

dan CM menyatakan konsentrasi (molar) di dalam fasa gerak. Dalam keadaan

ideal, perbandingan partisi adalah tetap dalam rentang konsentrasi yang luas; jadi

Cs berbanding lurus dengan CM. Kadang-kadang hubungan yang tak lurus (non

liniar) ditemukan (Sulaiman, 2007).


5

Dari skema langkah awal yang harus dilakukan adalah menetapkan jenis

sorben yang akan digunakan sekaligus eluennya. Secara umum dapat dikatakan

bahwa bila identitas cuplikan sudah diketahui akan memudahkan analisis dengan

Kromatografi lapis tipis (KLT). Untuk cuplikan yang relatif murni misalnya

sediaan farmasi yang hanya mengandung dua atau tiga senyawa dapat langsung

diaplikasikan pada KLT. Sedangkan cuplikan kotor seperti hasil ekstrak bahan

biologis kadangkala terlalu banyak jumlah senyawa penyusunnnya sehingga

perlu dimurnikan lebih dahulu misalnya dengan kromatografi kolom atau lapis

tipis (KLT) (Hajnos, 2003).


6

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

1. Alat

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah adalah :

a. Chamber 2 buah

b. Kertas saring whatman 2 buah

c. Plat KLT 2 buah

d. Pentotol 7 buah

e. Gelas kimia 1 buah

f. Pipet volum 25 mL 1 buah

g. Filler 1 buah

h. Sprayer 1 buah

i. Labu ukur 100 mL 2 buah

j. Batang pengaduk 1 buah

k. Gelas ukur 50 mL 2 buah

l. Pensil, mistar, gunting dan benang

m. Lampu UV
7

2. Bahan

Bahan yang digunakan adalah:

a. Aseton

b. Aquades

c. Asam asetat glasial

d. Butanol

e. Larutan standar logam-logam Pb2+, Mn2+, Cu2+, dan Hg2+

f. Larutan standar karbohidrat (sukrosa dan laktosa)

g. Asam klorida

3. Prosedur Kerja

I. Kromatografi Kertas

a) Disiapkan bejana kromatografi (chamber) isi dengan fase gerak eluen

sampai ketinggian 0.5 cm dari dasar wadah

b) Disiapkan kertas saring whatman dengan ukuran 7.5 x 15 cm dua lembar.

c) Dibuat garis batas (secara melintang) dengan pensil sekitar 1.5 cm dari

tepi kanan kertas dan 1.5 cm dari pinggir atas kertas.

d) Kemudian diukur melintang (buat titik) 1.5 cm dari tepi kiri dan 1.5 cm

dari tepi kanan kertas. Jarak antara dua titik dibagi dua, lalu ditengah

kertas diberi tanda untuk batas penotolan larutan sampel yang akan

dipisahkan dengan larutan standar.

e) Disiapkan pipa kapiler yang bersih untuk menotolkan sampel dan standar.
8

f) Dilakukan penotolan sampel dan standar pada kertas yang telah diberi

batas pada masing-masing bagian.

g) Dicelupkan kertas tersebut dalam chamber.

h) Diukur jarak setiap warna dari garis bawah kertas. Lalu hitung Rf dari

masing-masing komponen terpisah.

i) Dari masing-masing noda yang teridentifikasi dan harga Rf yang

diperoleh tentukan komponen sampel yang terpisah.

II. Kromatografi Lapis Tipis

a) Disiapkan bejana kromatografi (chamber) isi dengan fase gerak eluen

sampai ketinggian 1 cm dari dasar wadah

b) Disiapkan plat KLT dengan ukuran 7.5 x 15 cm dua lembar.

c) Dibuat garis batas (secara melintang) dengan pensil sekitar 1.5 cm dari

tepi kanan kertas dan 1.5 cm dari pinggir atas kertas.

d) Kemudian diukur melintang (buat titik) 1 cm dari tepi kiri dan 1.5 cm dari

tepi kanan kertas. Jarak antara dua titik dibagi dua, lalu ditengah kertas

diberi tanda untuk batas penotolan larutan sampel yang akan dipisahkan

dengan larutan standar.

e) Disiapkan pipa kapiler yang bersih untuk menotolkan sampel dan standar.

f) Dilakukan penotolan sampel dan standar pada plat KLT yang telah diberi

batas pada masing-masing bagian.

g) Dicelupkan plat tersebut dalam chamber.


9

h) Diukur jarak setiap warna dari garis bawah plat KLT. Lalu hitung Rf dari

masing-masing komponen terpisah.

i) Dari masing-masing noda yang teridentifikasi dan harga Rf yang

diperoleh tentukan komponen sampel yang terpisah.


10

BAB IV

HASIL PENGAMATAN

A. Data Pengamatan

1. Kromatografi Kertas

Tabel 1. Hasil pengamatan pemisahan ion logam

Perlakuan Pengamatan
Larutan standar logam Pb2+, Mn2+, Cu2+, Hg Warna larutan bening
2+
dan Campuran dimasukkan dalam gelas
kimia
Totolan Warna tidak tampak
1. Pb2+
2. Mn2+
3. Cu2+
4. Hg 2+
5. Campuran logam
Masing-masing ditotolkan pada kertas
whatman
Kertas whatman dimasukkan ke dalam Terjadi elusi
chamber yang berisi eluen (fasa gerak)
Kertas whatman dikeluarkan lalu Sampel tampak yaitu Pb2+,
dikeringkan kemudian diberikan sinar Mn2+, Cu2+, Hg 2+ dan
tampak UV Campuran logam
11

Tabel 2. Pemisahan Karbohidrat

Perlakuan Pengamatan
Larutan standar karbohidrat (laktosa, sukrosa, Warna larutan bening
dan sampel campuran) dimasukkan dalam
gelas kimia
Totolan Warna tidak tampak
1. sukrosa
2. laktosa
3. sampel campuran
Masing-masing ditotolkan pada kertas
whatman
Kertas whatman dimasukkan ke dalam Terjadi elusi
chamber yang berisi eluen (fasa gerak)
Kertas whatman dikeluarkan lalu Tidak ada noda yang tampak
dikeringkan kemudian diberikan sinar
tampak UV

2. Kromatografi Lapis Tipis

Tabel 3. Pemisahan ion logam

Perlakuan Pengamatan
Larutan standar logam Pb2+, Mn2+, Cu2+, Hg Warna larutan bening
2+
dan Campuran dimasukkan dalam gelas
kimia
Totolan Warna tidak tampak
1. Pb2+
2. Mn2+
3. Cu2+
4. Hg 2+
5. Campuran logam
Masing-masing ditotolkan pada plat PLT
Plat PLT dimasukkan ke dalam chamber Terjadi elusi
yang berisi eluen (fasa gerak)
Plat PLT dikeluarkan lalu dikeringkan Sampel tampak yaitu Pb2+,
kemudian diberikan sinar tampak UV Mn2+, Cu2+, Hg 2+ dan
Campuran logam
12

Tabel 4. Pemisahan karbohidrat

Perlakuan Pengamatan
Larutan standar karbohidrat (laktosa, sukrosa, Warna larutan bening
dan sampel campuran) dimasukkan dalam
gelas kimia
Totolan Warna tidak tampak
4. sukrosa
5. laktosa
6. sampel campuran
Masing-masing ditotolkan pada plat KLT
Plat KLT dimasukkan ke dalam chamber Terjadi elusi
yang berisi eluen (fasa gerak)
Plat KLT dikeluarkan lalu dikeringkan Sampel tampak yaitu sukrosa
kemudian diberikan sinar tampak UV dan laktosa

B. Perhitungan

1. Kromatografi Kertas

a. Pemisahan Ion Logam

1. Rf logam Pb2+

Jarak eluen = 6,7 cm

Jarak noda ion Logam Pb2+ = 0 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡


𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

0 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝑃𝑏 2+ = =0
6,7 𝑐𝑚

2. Rf logam Mn2+

Jarak eluen = 6,7 cm

Jarak noda ion Logam Mn2+ = 4,4 cm


13

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡


𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

4,4𝑐𝑚
𝑅𝑓𝑀𝑛2+ = = 0,657
6,7𝑐𝑚

3. Rf logam Cu2+

Jarak eluen = 6,7 cm

Jarak noda ion Logam Mn2+ = 0,7 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡


𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

0,7 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝐶𝑢2+ = = 0,104
6,7𝑐𝑚

4. Rf logam Hg2+

Jarak eluen = 6,7 cm

Jarak noda ion Logam Hg2+ = 2,4 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡


𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

2,4 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝐻𝑔2+ = = 0,358
6,7𝑐𝑚

5. Rf campuran logam

Jarak eluen = 6,7 cm

Jarak noda ion Logam Hg2+ = 0,5 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡


𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
14

0,5 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝐶𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛 = = 0,074
6,7𝑐𝑚

b. Pemisahan Karbohidrat

Jarak eluen = 7,1 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡


𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

𝑅𝑓𝑆𝑢𝑘𝑟𝑜𝑠𝑎, 𝑙𝑎𝑘𝑡𝑜𝑠𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 = 0 (𝑛𝑜𝑑𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑡𝑎𝑚𝑝𝑎𝑘)

2. Kromatografi Lapis Tipis

a. Pemisahan Ion Logam

1. Rf logam Pb2+

Jarak eluen = 5,4 cm

Jarak noda ion Logam Pb2+ = 1,3 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑧𝑎𝑡𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

1,3 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝑃𝑏 2+ = = 0,24
5,4 𝑐𝑚

2. Rf logam Mn2+

Jarak eluen = 5,4 cm

Jarak noda ion Logam Pb2+ = 0 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑧𝑎𝑡𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
15

0 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝑀𝑛2+ = 5,4 𝑐𝑚 = 0 (noda tidak nampak)

3. Rf logam Cu2+

Jarak eluen = 5,4 cm

Jarak noda ion Logam Pb2+ = 1,5 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑧𝑎𝑡𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

1,5 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝐶𝑢2+ = = 0,277
5,4 𝑐𝑚

4. Rf logam Ag2+

Jarak eluen = 5,4 cm

Jarak noda ion Logam Pb2+ = 1,4 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑧𝑎𝑡𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

1,4 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝐴𝑔2+ = = 0,26
5,4 𝑐𝑚

5. Rf campuran logam

Jarak eluen = 5,4 cm

Jarak noda ion Logam Pb2+ = 0,5 cm


16

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑧𝑎𝑡𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

0,5 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝐶𝑎𝑚𝑝𝑢𝑟𝑎𝑛 = = 0,09
5,4 𝑐𝑚

b. Pemisahan Karbohidrat

1. Rf sukrosa

Jarak eluen = 6,6 cm

Jarak noda sukrosa = 1,4 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑧𝑎𝑡𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

1,4 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝑆𝑢𝑘𝑟𝑜𝑠𝑎 = = 0,21
6,6 𝑐𝑚

2. Rf Laktosa

Jarak eluen = 6,6 cm

Jarak noda ion Logam Pb2+ = 0,4 cm

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑧𝑎𝑡𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

0,4 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝐿𝑎𝑘𝑡𝑜𝑠𝑎 = = 0,06
6,6 𝑐𝑚

3. Rf campuran

Jarak eluen = 6,6 cm

Jarak noda campuran = 0 cm


17

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑧𝑎𝑡𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
𝑅𝑓 =
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
0 𝑐𝑚
𝑅𝑓𝑃𝑏 2+ = 6,6 𝑐𝑚 = 0 (noda tidak nampak)

C. Pembahasan

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan suatu teknik kromatografi

sederhana dengan menggunakan lempeng kaca yang ditutupi penyerap bentuk

lapis tipis dan kering seperti silika gel, alumina, selulosa dan poliamida. Unsur

atau komponen terdistribusi di antara dua fase yaitu fase gerak dan fase diam.

Dan umumnya yang bertindak sebagai fase diam adalah padatan, padatan yang

dimaksud adalah plat KLT (fruktosa dan laktosa) dan fase geraknya adalah

cairan.

Untuk percobaan ini kita akan mengamati distribusi analit di antara dua

fase sehingga terjadi perbedaan migrasi analit, dengan menggunakan Aseton dan

air dengan perbandingan 9 : 1 begitu pula dengan kromatografi kertas, dan yang

menjadi fasa diamnya adalah fruktosa, laktosa dan sukrosa, itu untuk uji

karbohidrat. Untuk uji ion logam, kami menggunakan Pb2+, Mn2+, Cu2+ dan Hg2+.

Sebelum ditotolkan pada plat lapis tipis dan kerta, diberi jarak ±1 cm digaris

dengan pensil, plat dibagi menjadi tiga dan diberi tanda.

Setelah sampel ditotolkan pada KLT dan KKT, KLT dan KKT tersebut

dikeringkan. Pengeringan ini bertujuan agar sampel teradsorbsi dengan baik oleh

fasa diam (KLT dan KKT. Dan pada proses ini sebelum KLT dan KKT
18

dimasukan dalam chamber terlebih dahulu chamber berisi aseton dan air, dimana

air merupakan fase gerak pada proses ini.

Dari hasil pengamatan didapatkan beberapa hasil, pada beberapa

sampel KLT dan KKT, ada yang tidak terjadi pemisahan dan juga ada beberapa

terjadi pemisahan. Adanya sampel yang tidak terpisah disebabkan karena bahan-

bahan yang kurang teliti dibuat oleh praktikan, atau pada saat penotolan terdapat

beberapa larutan yang melebihi batas penotolan.


19

BAB V

SIMPULAN

Dari data pengamatan tersebut dapat disimpulkan bahwa :

1. Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan

pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen

(berupa molekul) yang berada pada larutan.

2. Untuk melakukan pemisahan ion logam dan karbohidrat/ protein dapat dilakukan

dengan cara kromatografi kertas dan Kromatografi lapis tipis.

3. Nilai Rf pada ion logam Pb2+ = 0, Mn2+ = 0.657, Cu2+ = 0.104 dan Hg2+ = 0.358.

Nilai Rf pada karbohidrat/protein laktosa = 0.21, sukrosa = 0.06 dan laktosa = 0.


20

DAFTAR PUSTAKA

Cotton, F., A., Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. UIP. Jakarta.
Hajnos, et. Al. 2003. Thin Layer Chromatography In Phytochemistry. McGraw-Hill.
New York.
Ishikawa, et. Al. 2001. Dimerization of penicillin V as deduced by frontal derivative
chromatography. Volume 1(132) : 213 – 216.
Sulaiman, et.al. 2007. Pemisahan dan Karakteristik Spesi Senyawa Kompleks
Ytriunm-90 dan Stronsium dengan Kromatografi Kertas. JPPSH. Volume
1(2) : 26-64
Wypych, George. 2001. Book Of Solvent. ChemTec Publishing. Toronto.
21

Larutan Aseton – Air


9:1

- Dimasukan dalam chamber


- dijenuhkan

Chamber Jenuh
- Dimasukan kromatografi kertas (larutan
standar Fe3+, Cu2+, Ni2+).
- dielusi

Zat yang sudah dielusi


- dikeringkan
- dimasukan dalam chamber berisi
larutan NH4OH 6 M)
- dikeluarkan dari chamber pada saat fase
gerak merambat sampai batas atas
kertas

Kromatografi kertas +
Noda-noda yang tampak.

- dikeringkan
- diukur jarak noda dari garis bawah
kertas.
- Dihitung laju alir masing-masing
sampel
-
Rf masing-masing senyawa
= …..
- ?