Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Nama Protista berarti “ yang paling pertama “memiliki inti sel sejati

sehingga disebut eukariota Merupakan organisme bersel satu ( uniselluler )

yang bukan hewan, tumbuhan, atau fungi, Protista pertama kali digunakan

oleh Ernst Haeckel tahun 1866. Protista dapat hidup di berbagai lingkungan

seperti di perairan. Banyak protista yang seperti Alga yang merupakan

organisme yang dapat berfotosintesis, plankton yang hidup di laut, ada juga

Protista Kinetoplastids dan Apicomplexa yang dapat menyebabkan sakit

seperti Malaria dan penyakit tidur.

Kingdom Protista adalah kingdom yang anggotaanya sangat beragam mencakup

semua makhluk hidup eukariotik (intinya mempunyai selaput/membran inti) yang

sebagian besar bersel satu (uniseluler) sampai bersel banyak (multiseluler) yang

sederhana/belum ada diferensiasi sel.

Protista dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar :

1. Protista mirip hewan (protozoa).

2. Protista mirip tumbuhan (alga/ganggang) .

3. Protista mirip jamur (jamur lendir/dan jamur air).

Berdasarkan cara memperoleh makanan, protista dikelompokkan atas:

1. Protista autototrof, yaitu protista yang mempunyai klorofil sehingga dapat

membuat makanan sendiri melalui fotosintesis. Fotosintesis adalah proses

{Jamur Lendir Myxomycota} 1


pembentukan senyawa organik dari senyawa anorganik menggunakan

energi cahaya. Contohnya : Alga/ganggang.

2. Protista heterotrof, yaitu protista yang tidak dapat membuat makanan

sendiri sehingga memerlukan makanan organik dari lingkungannya. dengan

cara :

a. Fagositosis, yaitu proses memakan makhluk hidup lain (misal : bakteri)

dengan cara memasukkan makhluk hidup yang dimakan tersebut ke

dalam sel atau melalui membran sel. Contohnya : Protozoa.

b. Protista saprofit dan parasit, saprofit artinya mencerna makanan

organik di luar sel dari sisa-sisa makhluk hidup yang telah mati dan

parasit artinya menyerap sari-sari makanan dari makhluk hidup inangnya.

Contoh : Jamur .

Protista mirip jamur tidak dimasukkan ke dalam fungi karena struktur tubuh

dan cara reproduksinya berbeda. Reproduksi jamur mirip fungi, tetapi gerakan

pada fase vegetatifnya mirip amoeba. Meskipun tidak berklorofil, struktur

membran jamur ini mirip ganggang Protista karena dalam stadium muda atau

dewasa mampu bergerak aktif seperti hewan. Klasifikasi Protista menyerupai

jamur dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut :

1. Myxomycota ( Jamur lendir tidak bersekat ).

2. Acrasiomycota ( Jamur lendir bersekat ).

3. Oomycota ( Jamur air ).

{Jamur Lendir Myxomycota} 2


B. Rumusan Masalah

1. Jelaskan ciri-ciri Jamur Myxomycota ?

2. Bagaimana membandingkan Jamur Myxomycota dengan makhluk

hidup lain ?

3. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi Jamur Myxomycota ?

4. Jelaskan bagaimana cara reproduksi Jamur Myxomycota ?

5. Jelaskan peranan Jamur Myxomycota bagi kehidupan ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui ciri-ciri Jamur Myxomycota.

2. Untuk mengetahui perbandingan antara Jamur Myxomycota dengan

makhluk hidup lain.

3. Untuk mengetahui klasifikasi Jamur Myxomycota.

4. Untuk mengetahui cara reproduksi Jamur Myxomycota.

5. Untuk mengetahui peranan Jamur Myxomycota bagi kehidupan.

{Jamur Lendir Myxomycota} 3


BAB II

PEMBAHASAN

1. Ciri - ciri Jamur Lendir (Myxomycota)

Myxomycota adalah salah satu protista yang menyerupai jamur/fungi.

Myxomycota berasal dari kata myxo yangt artinya lendir dan mykes yang

artinya cendawan. Maka dari itu, myxomycota disebut juga jamur lendir

plasmodial.memiliki dinding sel sporangium yang disebut peridium, dan

bergerak secara amoeboid. Struktur tubuh vegetatifnya berbentuk seperti

lendir yang disebut plasmodium. Habitat myxomycota adalah di tempat yang

lembab atau bahkan basah seperti, kayu busuk, tanah lembab, sampah

basah, hutan basah, daun mati, dapat juga di pada benda-benda organik.

Jamur Lendir Plasmodial (Plasmodial Slime Mold) disebut juga

Myxomycota (jamur lendir tidak bersekat). Jamur lendir ini memiliki ciri- ciri,

yaitu sebagai berikut.

1. Tidak bersekat

2. Bersifat heterotrof fagosit.

3. Tidak mempunyai klorofil.

4. Jamur lendir dapat menelan bakteri, hama, spora, dan berbagai

komponen organik dari lingkungannya.

5. Ada yang bersel satu (uniseluler) dan bersel banyak (multiseluler).

6. Memiliki dinding sel sporangium disebut peridium.

{Jamur Lendir Myxomycota} 4


7. Habitat Myxomycota adalah tempat yang lembab dan basah, seperti

kayu busuk, daun mati, dan dapat juga di benda-benda organik.

8. Struktur tubuh vegetatif : berbentuk seperti lendir atau plasmodial, yaitu

suatu`massa protoplasma tanpa dinding sel yang berinti banyak (multinukleat).Pada

fase vegetatif sifat-sifat jamur lendir mirip dengan Amoeba , tetapi reproduksinya

mirip fungi.

9. Memiliki tahapan (fase) makan berbentuk massa ameboid (seperti

Amoeba) dalam siklus hidupnya. Massa ameboid tersebut dinamakan

plasmodium. Namun, perlu diingat bahwa plasmodium yang dimaksud

di sini bukanlah plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria.

Plasmodium Myxomycota merupakan massa tunggal sitoplasma yang

tidak terbagi bagi oleh membran (tidak bersekat) sehingga mengandung

banyak nukleus dan dapat tumbuh hingga diameter beberapa sentimeter.

Nukleus pada plasmodium umumnya bersifat diploid (2n) dan dapat

membelah secara mitosis secara bersamaan.

10. Berpigmen kuning, jingga atau warna terang lain.

11. Alat gerak berupa pseudopodia atau flagellum.

12. Terkadang plasmodium berbentuk seperti jaringan untuk memperluas

permukaan tubuh sehingga dapat memperoleh makanan dan oksigen

lebih banyak.

{Jamur Lendir Myxomycota} 5


2. Cara membandingkan Jamur Myxomycota dengan makhluk hidup lain

Jamur Myxomycota dapat dibandingkan dengan melihat ciri-ciri yang

dimiliki, misalnya gambar pada Jamur Myxomycota, Jamur Chytridiomycota,

Jamur Oomycota, dan Jamur Ascrasiomycota.

1. Jamur Myxomycota memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Jamur lendir terdapat banyak di hutan basah, batang kayu yang membusuk,

tanah lembab, sampah basah, kayu lapuk.

Arcyria

Fuligo septica

Tubifera ferruginosa

{Jamur Lendir Myxomycota} 6


Physarium sp

1. Jamur Chytridiomycota memiliki ciri-ciri yaitu sebagai berikut :

a. Tubuh umumnya uniseluler dan mampu bergerak aktif dan kebanyakan

hidup di lingkungan akuatik.

a. Banyak yang hidup parasit pada algae, tanaman dan insekta, sebagian l

ain ada yang saprofor.

b. Reproduksi seksual dengan gametogami dan aseksual dengan zoospore

berflagela.

Citridiales sp

3. Oomycota (jamur air) dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Tubuh berupa benang hifa tidak bersekat melintang di dalamnya berinti

banyak, kebanyakan hidupnya di akuatik dan terrestrial.

2. Dinding sel dari selulose.

{Jamur Lendir Myxomycota} 7


3. Reproduksi aseksual membentuk zoospora berflagel untuk berenang.

Saprolegnia sp

1. Acrasiomycota, dengan ciri - ciri sebagai berikut :

a. Dalam keadaan lingkungan normal, tubuh berupa miksamuba

uninukleat (berinti satu).

b. Dapat membentuk pseudoplasmodium multinukleat (berinti banyak)

dapat membentuk sporangia bertangkai yang berisi spora.

c. Reproduksi dengan membentuk spora, pada saat kotak spora matang,

kotak spora melepaskan spora ke udara. Spora tersebut terdiri dari sel

yang haploid. Contoh : Dictyostelium sp, Discoideum sp

Dictyostelium discoideum

3. Klasifikasi Jamur Lendir ( Myxomycota)

{Jamur Lendir Myxomycota} 8


Jamur lendir (Mycomycota) dibedakan menjadi dua tipe, yaitu sebagai

berikut.

a. Acrasiomycota (Jamur Lendir Bersekat)

Acrasiomycota dinamakan juga jamur lendir bersekat. Pada saat

Plasmodium membesar dan inti sel membelah sel individu tetap terpisah

saat bergabung membentuk pseudoplasmodium. Saat makanan

berkurang zat kimia yang dikeluarkan oleh Amoeba akan bergabung

membentuk Plasmodium. Plasmodium akan bergerak ke arah cahaya.

Pada saat ada makanan, Plasmodium akan berhenti bergerak dan

membentuk tubuhnya yang mengandung spora reproduksi. Pada saat

kondisi menguntungkan, spora yang tertinggal akan membentuk Amoeba

baru dan siklus akan berulang.

b. Myxomycota (Jamur Lendir Tidak Bersekat)

Myxomycota merupakan jamur lendir yang tidak bersekat. Jamur ini

berinti banyak, setiap intinya tidak dipisahkan oleh adanya sekat, bersifat

uniseluler ataupun multiseluler, dan dapat bergerak bebas. Jamur lendir

hidup di batang kayu yang membusuk, tanah lembap, sampah basah,

kayu lapuk, dan di hutan basah. Jamur lendir dapat berkembang biak

dengan cara vegetatif dan generatif. Fase vegetatif Plasmodium

bergerak amoeboid mengelilingi dan menelan makanan berupa bahan

organik. Makanan dicerna dalam vakuola makanan. Sisa yang tidak

dicerna ditinggal sewaktu plasmodium bergerak. Jika telah dewasa,

Plasmodium membentuk sporangium (kotak spora). Sporangium yang masak

{Jamur Lendir Myxomycota} 9


akan pecah dan spora tersebar dengan bantuan angin. Spora yang

berkecambah akan membentuk sel gamet yang bersifat haploid, kemudian

sel gamet ini melakukan singami. Singami adalah peleburan dua gamet yang

bentuk dan ukuran nya sama (yang tidak dapat dibedakan jantan dan betinanya).

Hasil peleburan berupa zigot dan zigot tumbuh dewasa.

Pada Myxomycota, massa berinti banyak yang disebut Plasmodium (jangan

dikacaukan dengan plasmodium penyebab malaria), bergerak berpindah

tempat di tanah atau sepanjang dasar hutan, di daun, kayu busuk untuk

memakan bakteri. Plasmodium mempunyai banyak inti, tetapi tidak dapat

dibagi menjadi beberapa sel-sel terpisah. Myxomycota yang sedang

bergerak dapat seukuran buah anggur. Saat Plasmodium membesar, intinya

membelah. Sebaliknya, pada Acrasiomycota, sel-sel individu tetap terpisah saat

mereka bergabung membentuk pseudoplasmodium atau massa multiseluler.

Sub Divisi Myxomycota dibagi menjadi 3 Kelas yaitu : Pseudomyxomycetes,

Plasmodiophoromycetes, dan Myxomycetes

a. Kelas Pseudomyxomycetes

Organisme yang masuk dalam klas ini di alam bebas tidak mudah dikenal,

karena tubuh-tubuhnya hanya tampak sebentar saja, karena kecilnya talus pada tahap

vegetative, dan biasanya karena keseluruhannya kurang menarik perhatian. Pada

tahap vegetatif Pseudomyxomycetes terdiri atas satu sel yang tidak berdinding,

sedang intinya satu haploid. Sel ini berupa satu tetes protoplasma mirip dengan suatu

amoeba dan oleh karena itu disebut miksamuba. Makanannya pun mirip dengan apa

yang dimakan amoeba, yaitu bakteri dan zat-at organik lainnya. Pseudomyxomycetes

{Jamur Lendir Myxomycota} 10


tidak menghasilkan sel yang berflagel, cara bergeraknya miksamuba sama dengan

bergeraknya amoeba.

Pada suatu waktu tertentu miksamuba-miksamuba berkumpul menjadi satu

kelompok lendir, namum tiap-tiap sel masih tetap tampak sendiri-sendiri. Oleh karena

itu, kelompok lendir ini tidak merupakan suatu plasmodium, melainkan

pseudoplasmodium. Klas Pseudomyxomycetes dibagi menjadi dua ordo yaitu Ordo

Acrasiales dan Ordo Labyrinthulales.

1. Ordo Acrasiales

Tubuh buah Acrasiales disebur sorokarp, yaitu suatu bentuk yang terdiri atas

suatu himpunan “buah-buah”. Pada Guttulinopsis tumbuhan itu kecil, hanya

tampak jelas jika dilihat dengan mikroskop. Pada polysphondylium tubuh buah

itu bercabang-cabang dan besarnya sampai lebih dari 1 cm. Pada beberapa

spesies tertentu sorokarp itu sederhana, terdiri atas satu tangkai yang

membawakan satu kelompok spora diujungnya. Pada beberapa spesies yang lain

sporokarp bercabang-cabang, dan pada tiap ujung cabang terdapat satu

kelompok spora.

Oskar Brefeld (1869), seorang ahli jamur bangsa Jerman, adalah sarjana

pertama yang membicarakan jamur lendir bersel. Organisme yang disebut ialah

Dictyostelium mucoroides. E.W. Olive (1902) menyusun monografi tentang

jamur lendir bersel ini. Perhatian tentang jamur ini bertambah terus-menerus dan

Bonner (1959) menghimpun hasil penelitian para ahli selama setengah abad

dalam bukunya “The Cellular Slime Molds” (1959)

{Jamur Lendir Myxomycota} 11


Siklus hidup Acrasiales berawal dari spora yang terlepas dari sorokarp dan

berkecambah menjadi bentuk serupa amoeba (miksamuba). Miksamuba ini

berkembangbiak, dan keturunannya tetap berkelompok sehingga terbentuklah

suatu kelompok protoplasma dengan banyak inti. Masing-masing inti adalah

haploid. Berhubung batas antara amuba-amuba tetap ada, maka kelompok

protoplasma itu merupakan apa yang telah disebutkan di depan, yaitu

pseudoplasmodium. Pseudoplasmodium yang kecil-kecil berkerumun dan

bergabung menjadi pseudoplasmodium yang besar disuatu tempat tertentu.

Bentuk sorokarp berbeda-beda menurut spesiesnya, dan berdasarkan

perbedaan itu ordo Acrasiales diklasifikasikan sebagai berikut. Ordo Acrasiales

dibagi atas 4 famili, yaitu :

1. Famili Sappiniaceae dengan sorokarp yang sederhana. Kepala

sorokarp berupa gada. Antara tangkai dan kepala tidak tampak batas

yang jelas. Genus Sappinia mempunyai 1 spesies.

2. Famili Guttulinaceae dengan sorokarp berupa bola atau serupa

gelembung. Antara tangkai dan kepala tampak batas yang jelas.

Sebagai contoh ialah : Guttulina dengan 4 spesies, Guttulinopsis

dengan 3 spesies, Acrasis dengan 2 spesies.

3. Famili Acytosteliaceae dengan sorokarp yang tidak terdiri atas sel.

Pada pangkal tangkai terdapat semacam kepingan sebagai landasan.

Contoh dari famili ini ialah : Protostelium dengan 1 spesies,

Acytostelium dengan 1 spesies.

{Jamur Lendir Myxomycota} 12


4. Famili Dictyosteliaceae dengan sorokarp yang langsing. Tangkai

panjang, tunggal atau majemuk, bercabang-cabang lateral atau diujung.

Pangkal tangkai serupa kepingan atau serupa bongkol. Kepala sorokarp

kecil, serupa bola. Contonya adalah : Dictyostelium dengan 6 spesies,

Polysphondylium dengan 2 spesies, dan Coenonia dengan 1 spesies.

2. Ordo Labyrinthulales

Labyrinthulales adalah ordo kecil terdiri atas organisme-organisme

penghuni perairan (terutama laut) maupun darat. Organisme ini boleh

dianggap sebagai koloni dari sel-sel yang bentuknya serupa kumparan atau

serupa telur. Sel-sel itu tidak berinding, dan tiap sel berinti satu. Sel-sel

tersebut terhimpun menjadi satu kelompok oleh benang-benang dari lendir,

dan sel-sel dapat bergerak lewat benang-benang tersebut. Benang-benang

merupakan suatu jaring-jaring tempat koloni bersemayam.

Kebanyakan Labyrinthulales hidup dilaut sebagai parasit pada

bangsa ganggang, misalnya Ulva, atau pada tumbuhan tinggi seperti

Zostera, suatu rumput laut. Dari semua spesies yang sudah diketahui hanya

Labyrinthula minuta yang sel-selnya berbentuk seperti telur, lainnya

mempunyai sel-sel berbentuk kumparan. Dari Labyrinthula algeriensis

diketahui, bahwa organisme ini menghasilkan zoospora yang berflagel 2 tak

sama panjang. Sel-selnya berinti satu, dalam inti terdapat nukleolus. Sel

membelah diri secara mitosis, sedang arahnya transversal. Sejumlah sel

berkelompok di suatu tempat tertentu dalam jaring-jaring lendir. Tiap sel

{Jamur Lendir Myxomycota} 13


membesar dan berubah menjadi sporosit yang mengandung enam, delapan,

atau lebih spora. Spora-spora ini berselaput lendir dan berflagel dua.

Setelah terlepas dari sporosit, spora tersebut berenang-renang

sebentar, lalu menanggalkan flagel serta membelah diri berkali-kali hingga

terbentuk satu koloni baru. Selaput spora berkembang menjadi benang-

benang lendir. Sel pada Labyrinthula minuta membelah dua kali berturut-turut,

yang pertama secara membujur. Dengan demikian terjadi satu kelompok yang

terdiri atas 4 sel. Keempat sel ini kemudian berceraian dan masing-masing

membelah diri lagi seperti diuraikan di atas.

Ordo Labyrinthulales terdiri atas 4 genus dengan 11 spesies. Genus yang

terkenal ialah Labyrinthula dengan contoh-contohnya Labyrinthula minuta, L.

algeriensis, L.vitellina, L. macrocystis. Kebanyakan hidup di laut. Ordo yang

terkenal kedua ialah Labyrinthorhiza. Pada umumnya Labyrinthoriza adalah

penghuni air tawar.

4. Cara reproduksi Jamur Lendir (Myxomycota)

Myxomycota hidup pada dua fase, yaitu fase ameboid (bebas) dan fase dewasa

(reproduksi). Myxomycota hidup sebagai agregat dengan sitoplasma berinti sel

banyak yang disebut plasmodium. Plasmodium mendapat makanan dengan menelan

organisme lain secara fagositosis. Pada fase dewasa, jamur lendir bereproduksi

secara aseksual atau seksual.

a. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara membelah diri, fragmentasi, atau

{Jamur Lendir Myxomycota} 14


pembentukan spora berflagel (myxoflagel) yang akan menjadi myxamoeba.

b. Reproduksi seksual dilakukan dengan cara peleburan dua myxamoeba

menjadi amebozigot.. Contoh: Dictystelium discoideum, Physarium sp.

Reproduksi dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut :

a. Vegetatif : membelah diri dan fragmentasi.

b. Sporik : selalu dalam keadaan haploid dan dibentuk oleh tubuh buah atau

langsung oleh plasmodium dewasa.

c. Gametik : Pada dasarnya merupakan tipe isogami-zoogami. Gamet pada cara

pembiakan ini adalah miksamuba dan sel kembara.

5. Peranan Jamur Lendir ( Myxomycota) bagi kehidupan

a. Peranan Jamur lendir (Myxomycota) yang menguntungkan bagi kehidupan

manusia sebagai pembersih sampah organik dan berperan sebagai

pemakan bakteri, protozoa, dan organisme lainnya, dengan kata lain dapat

membantu manusia dalam pembersihan lingkungan. Di samping itu, jamur lendir

berguna sebagai bahan studi tentang protoplasma dan morfonenesis dalam

laboratorium. Bagi penggemar jamur lendir, warna dan bentuk tubuh buah yang

dimiliki oleh jamur lendir dianggapnya sangatlah menarik.

{Jamur Lendir Myxomycota} 15


Contoh dari peranan yang menguntungkan lainnya adalah pengurai

bangkai hewan/tumbuhan dalam air tawar. Contoh dari myxomycota adalah

Fuligo sp., Aethalium septicum, Physarum, Arcyria, Stemonitis, dan

Dictydium.

b. Peranan Jamur Lendir (Myxomycota) yang merugikan bagi tanaman, yaitu

sebagai berikut.

1. Peranan Phytophthora faberi (parasit pada tanaman karet).

2. Phytophthora infestas (parasit pada kentang).

3. Saprolegnia (pengurai bangkai hewan/tumbuhan dalam air tawar)

Sama halnya dengan jamur air, beberapa jamur lendir jika hidup parasit pada

tanaman akan menginfeksi akar tanaman yang menyebabkan pembengkakan akar dan

penyakit yang dikenal dengan ‘bengkak akar’. Tanaman yang terserang jamur ini akarnya

akan membusuk dan lama kelamaan akan mati. Infeksi terjadi bila zoospora menembus

anak akar tanaman inangnya dan segera menjadi miksamoeba (organisme amoeboid yang

telanjang) yang tumbuh menjadi plasmodium.

Selanjutnya, plasmodium akan tumbuh sehingga ukurannya bertambah yang

mengakibatkan akar-akar tanaman inang membengkak. Saat infeksi itu berlangsung,

spora-spora pun ikut terbentuk dan akan menghuni sel-sel tanaman inang sampai sel-

sel itu menjadi busuk, kemudian spora-spora dibebaskan dan siap menginfeksi bibit

tanaman baru, seperti pada kubis dan kentang yang dapat rusak sehingga menyebabkan

tanaman menjadi kerdil dan akhirnya akan mati sebelum waktunya. Misalnya, Phytium

penyebab penyakit rebah semai yang merusak bibit tanaman.

{Jamur Lendir Myxomycota} 16


BAB III

PENUTUP

1. Myxomycota atau jamur lendir adalah jamur protista yang memiliki ciri - ciri, yaitu

bersifat heterotrof fagosit, berpigmen kuning, jingga atau warna terang lain, alat

gerak berupa pseudopodia atau flagellum,tidak bersekat, tidak mempunyai

klorofil. Jamur lendir dapat menelan bakteri, hama, spora, dan berbagai

komponen organik dari lingkungannya. Ada yang bersel satu (uniseluler) dan

bersel banyak (multiseluler), memiliki dinding sel sporangium disebut peridium

{Jamur Lendir Myxomycota} 17


dan habitat Myxomycota adalah tempat yang lembab dan basah, seperti

kayu busuk, daun mati, dan dapat juga di benda-benda organik.

2. Jamur Myxomycota dapat dibandingkan dengan melihat bentuk fisik,

habitat, cara berkembang biak, bereproduksi, dan jenisnya misalnya jamur

air (Oomycota) dan jamur lendir (Myxomycota).

3. Klasifikasi Jamur Lendir dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu

a. Acrasiomycota (Jamur Lendir Bersekat)

b. Myxomycota (Jamur Lendir Tidak Bersekat).

4. Cara reproduksi Jamur Lendir dbedakan menjadi 2, yaitu sebagai berikut.

a. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara vegetatif, yaitu membelah diri,

fragmentasi, atau pembentukan spora berflagel (myxoflagel) yang akan

menjadi myxamoeba.

b. Reproduksi seksual dilakukan dengan cara peleburan dua myxamoeba

menjadi amebozigot.. Contoh: Dictystelium discoideum, Physarium sp.

Sporik : selalu dalam keadaan haploid dan dibentuk oleh tubuh buah atau

langsung oleh plasmodium dewasa. Gametik : Pada dasarnya merupakan tipe

isogami-zoogami. Gamet pada cara pembiakan ini adalah miksamuba dan sel

kembara.

5. Peranan Jamur Lendir (Myxomycota) bagi kehidupan manusia, yaitu berperan

sebagai pembersih sampah organik dan juga berperan sebagai pemakan

bakteri. Peranan bagi kehidupan tanaman, yaitu sebagai parasit pada

tanaman karet (Phytophthora faberi), sebagai parasit pada kentang dan

{Jamur Lendir Myxomycota} 18


kubis (Phytophthora infestas), dan sebagai pengurai bangkai hewan atau

tumbuhan dalam air tawar (Saprolegnia).

{Jamur Lendir Myxomycota} 19