Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTEK TEKNOLOGI PEMINTALAN 2

“MESIN ROVING”

Nama : Safira Setia Puspa Kinanti


NPM : 17010075
Dosen : Roni S., S.ST., MT., MBA.
Asisten : Dodi M., S.ST.
Agus H., ST.

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2019
I. MAKSUD DAN TUJUAN

 Mahasiswa dapat mengetahui bagaian-bagaian mesin roving.


 Mahasiswa dapat mengetahui fungsi mesin roving.
 Mahasiswa dapat memahami mekanisme kerja mesin roving.
 Mahasiswa dapat mengoperasikan mesin roving.
 Mahasiswa dapat menghitung draft, produksi teoritis, dan TPM.

II. DASAR TEORI


Bahan yang dihasilkan mesin sebelumnya (drawing) yang disuapkan pada mesin
roving adalah sliver drawing. Proses pada roving bertujuan untuk mengecilkan sliver
drawing sekaligus menggulungnya pada bobbin roving sebagai bahan untuk
menyuplai kebutuhan mesin selanjutnya (ring spinning).

Ada 3 proses yang dilakukan mesin roving, yaitu :

- Peregangan (drafting) yang dilakukan oleh pasangan rol peregang


- Pemuntiran (twisting) yang dilakukan oleh putaran flyer
- Penggulungan (winding) yang dilakukan oleh putaran bobbin di atas kereta
Ketiga gerakan dia atas dilakukan secara bersamaan oleh mesin roving. Maka hasil
yang diperoleh adalah sliver drawing menjadi benang roving yang berdiameter lebih
kecil yang digulung rapi pada bobbin roving dan siap untuk disuapkan ke mesin ring
spinning.

Dalam rangka untuk memperoleh hasil benang yang baik ,maka sliver drawing
perlu diperkecil tahap demi tahap dengan menggunakan mesin roving/flyer.
Akibat pengecilan, sliver tersebut akan menjadi lemah dan untuk memperkuatnya
perlu diberikan sedikit twist (antihan) sebelum digulung pada bobbin. Berikut
adalah gambar skema mesin roving .
Sliver hasil passage terakhir mesin drawing ditempatkan satu persatu
dibelakang mesin roving, dan satu persatu ujung slivernya dimasukkan ke rol
peregang yang biasanya menggunakan 3-4 pasangan rol peregang. Setelah
mengalami peregangan, kemudian keluar dari rol depan terus dimasukkan
dibagian atas flyer terus kelengan flyer lalu dibelitkan pada pengantar roving,
kemudian digulung pada bobbin. Hasil dari proses ini disebut roving.
Karena perputaran flyer, maka terjadi twist pada roving, dan karena perbedaan
kecepatan putaran spindle dengan bobbin, maka terjadi penggulungan roving
pada bobbin. Mesin ini menggerakan bobbin sedemikian rupa sehingga pada
waktu lapisan gulungan roving sampai diatas, maka untuk lapisan gulungan yang
berikutnya diturunkan sebesar kuarng lebih satu diameter roving, dan pada
waktu lapisan berikutnya dinaikkan sebesar kurang lebih satu diameter roving.
Demikian seterusnya hingga gulungan roving penuh, maka mesin dihentikan
/berhenti secara otomatia yang kemudian regu doffer melakukan doffing dengan
jalan mengangkat flyernya satu persatu dan bobbin yang penuh diganti dengan
bobbin yang kosong hingga selesai seluruhnya.
Ujung roving yang membelit pada pengantar roving satu persatu dibelitkan
pada bobbin kosong, cone belt disetel kembali pada kedudukan semula kemudian
mesin dapat dijalankan.
Telah diketahui bahwa hasil dari mesin drawing berupa sliver yang lebih rata
dan letak serat-seratnya sudah sejajar satu sama lainnya. Walaupun dari bentuk
sliver dapat juga langsung dibuat menjadi benang, namun untuk memperoleh
hasil benang yang baik, maka sliver tersebut perlu diperkecil tahap demi tahap
dengan menggunakan mesin Flyer. Akibat pengecilan, sliver tersebut akan
menjadi lemah dan untuk memperkuatnya perlu diberikan sedikit twist (antihan)
sebelum digulung di bobin. Pada proses yang pertama dimesin Flyer yang
biasanya disebut mesin subbling, sliver hasil mesin passage terakhir ditempatkan
satu persatu dibagian belakang mesin subbling untuk setiap spindelnya, dan satu
persatu ujung slivernya dimasukkan ke rol peregang yang biasanya menggunakan
3 sampai dengan 4 pasang rol peregang. Setelah mengalami regangan, kemudian
keluar dari rol depan kemudian dimasukkan dibagian atas dari Flyer terus
kelengan Flyer lalu dibelitkan pada pengantar roving, kemudian digulung pada
bobin. Hasil dari proses ini disebut roving.
Pada mesin spinning yang memproses benang yang sangat halus maka hasil
roving bobin tersebut harus dikerjakan lebih lanjut pada mesin fine roving atau
jack frame. Proses yang terjadi pada mesin slubbing, intermediate, roving, dan fine
roving adal;ah sama yaitu meliputi peregangan (drafting), antihan (twisting) dan
penggulunag (winding). Karena roving beberapa kali mengalami proses pada
mesin flyer, maka besarnya draft dapat diatur sedikit demi sedikit, sedangkan
mengenai konstruksi semuanya sama hanya berbeda dalam beberapa ukuran.

Skema Mesin

1. Peregangan (drafting)
Proses peregangan ini terjadi pada 3 – 4 pasang rol peregang (draft rollers) dimana
kecepatan keliling dari rol depan (front roller) lebih besar daripada rol tengah
(midle roller) dan kecepatan keliling rol tengah lebih besar daripada rol belakang
(back roller). Akibat dari peregangan tersebut maka silver bentuknya berubah
menjadi roving yang belum mendapat antihan.

2. Antihan (twisting)
Setelah roving keluar dari rol depan terus mauk secara axial pada bagian atas dari
flyer, dan keluar secara radial melalui lobang terus membelit lengan Flyer. Karena
perputaran Flyer yang cepat sekali, maka sejak kapas keluar dari rol depan sudah
mulai mendapat twist sehingga pada waktu kapas meninggalakn lenga Flyer sudah
merupakan roving yang telah mempunyai cukup kekuatan untukdigulung pada
bobbin.
3. Penggulung pembuatan roving (winding)
Setelah kapas mengalami proses peregangan dan twisting, kemudiandigulungpada
bobbin. Proses penggulungan terjadi karena adanya perbedaan banyaknya putaran
spindle permenit.

TRICK BOX

Output Gear
51T

Tension
Change Gear

Rachet Gear

Terdapat 3 gerakan Trick Box yang mempengaruhi proses pembentukan gulungan


roving pada bobbin yaitu :
1. Pembalikkan kereta setelah menyelesaikan satu lapisan gulungan roving, yaitu
dari atas kebawah atau sebaliknya.
2. Memperpendek setiap lapisan gulungan roving berikutnya dengan jalan
menurunkan dan menaikkan gulungan kurang lebih setebal diameter roving.
3. Pergeseran belt pada kedua cone drum untuk mengurangi perputaran roda gigi
pengatur putaran dari bobin serta pergerakkan kereta.
Sumber gerakan dari trik box adalah bandul yang dihubungkan dengan poros
melalui tali. Dimana saat bandul bergerak kebawah akan timbul gaya putar terhadap
poros . Pada poros ini terhubung beberapa peralatan yang dapat menjalankan ketiga
fungsi diatas. Berikut penjelasan mekanisme fungsi-fungsi dari trik bok yaitu :

1. Gerakan naik turunya kereta


Saat kereta bergerak naik keatas batas peluncur terbawa dan stang bergeser
bergerak dan memutarkan batang bersayap secara perlahan kekanan dengan demikian
baut beralur akan bergerak lalu menekan tuil dengan menahan batang pemukul pada
lekukan atas.

Gerakan dari batang bersayap juga menarik rantai dan rantai menarik batang y.
tarikan dari rantai membantu melepaskan batang pemukul sehingga saat tuil lepas,
batang pemukul akan bergerak otomatis dan poros pun ikt bergerak dan poros yang
dihubungkan dengan roda gigi payung bergerak dan melepaskan batang pemukul,
sehingga kereta akan turun.

2. Gerakan memperpendek jarak setiap lapisan


Sumber gerakan yaitu dari poros x sehingga akan menggerakan stang bergeser.
Poros atas dihubungkan dengan poros yang terpasang sebuah bandul karena bandul,
beratnya memiliki gaya tarik kebawah dan menarik tal pada poros, akibatnya timbul
gaya putar pada poros ini.

Putaran roda gigi ratchet ditahan oleh pal penahan dan akan bergerak jika plat
bergerak semakin kebawah sehingga pal penahan kan terlepas dari rachet. Plat akan
bergerak saat tuil lepas dari lekukan batang pemukul. Pal penahan menahan roda ggi
ratchet dan saat pal lepas maka kesempatan ini digunakan oleh gaya putar poros untuk
berputar berlawanan arah yang selanjtnya memutarkan roda ggi payug bawah dan roda
gigi payung bawah menggerakkan poros sehingga roda gigi berputar searah dengan
putaran poros. Sehingga batang bergerak naik, akibatnya jarak naik turun kereta akan
berkurang sehingga gulungan pada bobbin pun berkurang 1 diameter atas dan 1
diameter bawah.

3. Pengaturan sudut gulungan pada roving


Sudut gulungan pada roving terjadi karena gerak traverse (pergeseran penyuapan
benang) oleh kereta bobin yang jaraknya semakin lama semakin menyempit.

Sama seperti pada proses naik turunnya kereta bobin pada saat sepatu lepas dari
landasan baik atas maupun bawah akan menyebabkan poros eksentrik akan berputar.
Berputarnya poros eksentrik kemudian diteruskan oleh roda-roda gigi C,D,E,F sehingga
menggerakkan penggeser belt yang berupa roda gigi papan. Pergeseran roda gigi papan
ini menyebabkan roda gigi G juga berputar. Putaran roda gigi G kemudian diteruskan
oleh roda gigi H dan I sehingga poros ulir juga berputar. Karena pada poros ulir terdapat
ulir ganda yang mempunyai arah yang berlawanan. Akibatnya pada saat poros ini
berputar maka jarak antara landasan sepatu bagian atas dan bagian bawah akan merapat.
Sehingga pergeseran naik turunya kereta bobin akan semakin pendek.

A Tention
Gear E
B
Cone drum aktif
I
Penggeser belt H
C D F
(roda gigi papan)

Ulir ganda
Cone drum pasif
sepatu
landasan

Poros ulir Poros


4. Pergeseran belt eksentrik

Sama seperti pada proses naik turunnya kereta bobin pada saat sepatu lepas dari
landasan baik atas maupun bawah akan menyebabkan poros eksentrik akan berputar.
Berputarnya poros eksentrik kemudian diteruskan oleh roda-roda gigi C,D,E,F sehingga
menggerakkan penggeser belt yang berupa roda gigi papan. Pergeseran roda gigi papan
ini menyebabkan kedudukan belt akan bergeser kekanan. Pergeseran belt ini akan
mengubah perbandingan diameter antara cone drum aktif dan pasif sehingga semakin ke
kanan maka kecepatan putar cone drum pasif semakin lambat.

Perhitungan Mesin Roving


𝑅𝑃𝑀 𝐹𝑙𝑦𝑒𝑟
 Produksi Teoritis/menit = 𝑇𝑃𝐼

𝑅𝑃𝑀 𝐹𝑙𝑦𝑒𝑟 𝑥 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑝𝑖𝑛𝑑𝑒𝑙


 Produksi Nyata/menit = 𝑇𝑃𝐼 𝑥 𝑛𝑜 𝑅𝑜𝑣𝑖𝑛𝑔

𝑆𝑆 𝐹𝑟𝑜𝑛𝑡 𝑅𝑜𝑙𝑙
 Main Draft = 𝑆𝑆 𝑀𝑖𝑑𝑑𝑙𝑒 𝑅𝑜𝑙𝑙

𝑆𝑆 𝑀𝑖𝑑𝑑𝑙𝑒 𝑅𝑜𝑙𝑙
 Break Draft = 𝑆𝑆 𝐵𝑎𝑐𝑘 𝑅𝑜𝑙𝑙

 Total Draft = 𝑀𝑎𝑖𝑛 𝐷𝑟𝑎𝑓𝑡 𝑥 𝐵𝑟𝑒𝑎𝑘 𝑑𝑟𝑎𝑓𝑡

III. ALAT DAN BAHAN

Alat :
 Mesin roving
 Neraca Digital
 Bobbin Roving

Bahan :
 Sliver Drawing

IV. MEKANISME PRAKTIKUM

1. Ketahui dahulu nama-nama bagian pada mesin roving


2. Buatlah gearing diagram mesin roving
3. Siapkan sliver drawing
4. Masukkan sliver drawing untuk di peroses pada mesin roving F4AISA
5. Jalankan mesin dan hitung waktunya
6. Perhatikan sliver roving yang masuk dan roving yang keluar
7. Hitung produksinya
V. DATA PENGAMATAN
Gearing Diagram
 Perhitungan pada Gearing Diargram

Data : CW1 = 62
CW2 = 33
CW3 = 57
CW4 = 44
CW5 = 46

140 33 62 34
 N front roll = 1058 x x 57 x 53 x 84 = 213,70 rpm
190
18
 N tension roll = 213,70 x 19 = 202,45 rpm
18 44
 N middle roll = 213,70 x x = 29,04 rpm
94 62
23 46
 N back roll = 29,04 x x 22 = 23,276 rpm
60

V front roll 213,70 x 28


 Drafting I = V tension roll = = 1,05
202,45 x 28
V tension roll 202,45 x 28
 Drafting II = = = 7,8
V middle roll 29,04 x 25

V middle roll 29,04 x 25


 Drafting III = = 23,276 x 28 = 1,1
V back roll

 Total draft = 1,05 x 7,8 x 1,1 = 9,009


160 54 38
 N Flyer = 1058 x x x = 725,81 rpm
190 78 29
Rpm Flyer 725,81
 TPM = = x 1000 = 38 twist/m
V Front roll 18.788,5

 Perhitungan Produksi

- Panjang Sliver Drawing = 6 Yard


- Berat Total Produksi = 400,4 gram
- Berat Bobin = 268,6 gram
Tabel -1. Data Berat Sliver Drawing.

No. Berat (gram)

1. 23,6

2. 23,8

3. 23,8

4. 23,5

5. 23,4

∑ 118,1

̅
X 23,62

Panjang (yard) 453,6 gram


 Ne1 masuk = x
Berat(gram) 840 yard

6 yard 453,6 gram


= x = 0,13
23,62 gram 840 yard

Tabel -2. Data Berat Roving

No. Berat (gram)

1. 2,8

2. 3,0

3. 2,8

4. 2,8

5. 2,8

∑ 14,2

̅
X 2,84
Panjang (yard) 453,6 gram
 Ne1 keluar = x
Berat(gram) 840 yard

6 yard 453,6 gram


= x = 1,14
2,84 gram 840 yard

 Produksi Nyata = 400,4 – 268,6 gram


= 131,8 gram

𝑘𝑔
213,70 𝑥 3,14 𝑥 28 𝑥 15 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 𝑥0,4536
𝑙𝑏𝑠
 Produksi Teoritis = 𝑚 𝑚𝑚
1,14 𝑥 768 𝑥1000
ℎ𝑎𝑛𝑘 𝑚
= 146 gram/15 menit

Produksi Nyata
 Efisiensi = Produksi Teori x 100%
131,8
= x 100%
146

= 90,3%

VI. DISKUSI
Pada praktikum mesin roving, kami mengamati mesin roving yang ada di lab
pemintalan. Prinsip kerja mesin ini, yaitu melakukan peregangan pada sliver
untuk mengecilkan diameter sliver serta memberi antihan pada hasil rovingnya,
dan menggulung roving pada bobbin. Sebelumnya, hasil dari mesin drawing
adalah berupa sliver yang rata dan letak serat-seratnya sudah sejajar satu sama
lain. Untuk mendapatkan benang yang baik dalam proses pemintalan maka sliver
tersebut perlu diperkecil diameternya hal ini dilakukan adalah untuk
memberikan twist atau antihan pada benang.Akibat dari pengecilan tersebut,
benang akan menjadi lemah dan sulit digulung, maka dari itu perlu diberi antihan
(twist) sebelum digulung pada bobbin.

Prinsip Kerja Fungsi Trick Box


1) Naik turun kereta
Saat kereta naik, poros utama berputar ke arah belakang, batang pendorong
bergerak ke kiri dan ketika sudah mencapai batas bawah maka batang pendorong
akan menyentuk roda gigi payung luar sehingga arah putaran poros utama
menjadi ke depan, kereta turun dan batang pendorong akan bergerak ke kanan
dan menyentuh roda gigi payung dalam.
2) Mengatur sudut gulungan
Batang ayun ke kiri, menarik batang bawah sehingga pal terlepas lalu roda gigi
rachet bergerak berlawanan arah jarum jarum dan pal kembali menjepit roda gigi
rachet. Roda gigi A bergerak berlawanan arah jarum jam, roda gigi B searah jarum
jam, roda gigi C berlawanan arah jarum jam, roda gigi D dan E berlawanan arah
jarum jam. Roda gigi E berputar menyentuh bar gerigi sehingga bar akan
bergerak ke kiri dan jangkauannya akan semakin pendek.
Semakin sedikit jumlah gigi rachet maka sudut gulungan yang terbentuk akan
semakin kecil/lancip.

3) Memperlambat putaran spindle/bobbin


Batang ayun ke kiri, menarik batang bawah sehingga pal terlepas. Roda gigi
rachet berputar berlawanan arah jarum jam, roda gigi A berlawanan arah jarum
jam, roda gigi B searah jarum jam, roda gigi C berlawanan arah jarum jam, roda
gigi D dan E searah jarum jam, roda gigi F searah jarum jam dan menggerakan
batang pulley ke kiri dan belt bergerak ke kiri. Ketika belt berputar di diameter
cone drum yang besar maka putaran spindle akan makin lambat.

VII. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa :
1. Produksi pada mesin roving ini didapat dari hasil perhitungan antara
seberapa cepat putaran flayer yang dibagi dengan jumlah TPI (Twist Per
Inchi) nya.
2. Antihan itu sendiri didapat dari hasil perbandingan antara kecepatan
putaran flayer dengan kecepatan permukaan front roll.
3. Setiap mesin pasti mempunyai efisiensi tertentu, dan tidak mungkin
melebihi 100%, dikarenakan tidak selalu mesin berjalan lancar, kadang
lambat beberapa detik, kadang berhanti beberapa detik, sehingga
mempunyai efisiensi tertentu.
4. Data Mesin Roving
 Drafting I = 1,05
 Drafting II = 7,8
 Drafting III = 1,1
 Total Draft = 9,009
 TPM = 38 twist/meter
5. Data Produksi Mesin Drawing Hongda FA 302
 Ne1 sliver drawing = 0,13
 Ne1 sliver roving = 1,14
 Produksi nyata = 131,8 𝑔/15𝑚𝑛𝑡
 Produksi teoritis = 146 𝑔/15𝑚𝑛𝑡
 Effesiensi = 90,3 %

VIII. DAFTAR PUSTAKA

- Pawitro,dkk,”Teknologi Pemintalan Bagian Kedua”, Institut Teknologi Tekstil, 1973


- http://seputar-tekstil.blogspot.com/p/roving.html
- www. Textile-technology.com.
- https://dokumen.tips/documents/lap-pemintalan.html