Anda di halaman 1dari 9

INVESTMENT

TUGAS MATA KULIAH AKUNTANSI KEUANGAN III

OLEH :

MUH ADNANDA SUWARSYAH FIQRIH (A031171505)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
A. AKUNTANSI ASET KEUANGAN
Aset keuangan adalah kas, investasi ekuistas dari perusahan lain
(misalnya saham biasa atau saham prefen) atau hak kontraktual untuk
menerima kas dari pihak lain (misalnya pinjaman, piutang dan obligasi).
Beberapa pengguna laporan keuangan mendukung pengukuran tunggal nilai
wajar untuk semua aset keuangan tetapi IASB memutuskan bahwa pelaporan
semua aset keuangan pada nilai wajar bukan pendekatan yang paling tepat
untuk memberikan informasi yang relevan bagi pengguna laporan keuangan.
IASB mencatat bahwa nilai wajar dan pendekatan berbasis biaya dapat
memberikan informasi yang berguna bagi pembaca laporan keuangan untuk
aset keuangan jenis tertentu dalam keadaan tertentu. Akibatnya, IASB
mewajibkan perusahaan mengklasifikasikan aset keuangan dalam dua
kategori yaitu biaya perolehan diamortisasi dan nilai wajar tergantung pada
keadaannya.

Dasar Pengukuran – Melihat Lebih Dekat


Secara umum, IFRS mengharuskan perusahan menentukan bagaimana
mengukur aset keuangan berdasarkan dua kriteria :
 Model bisnis perusahaan untuk mengelola aset keuangan.
 Karakteristik arus kas kontraktual dari aset keuangan.

Jika perusahaan memiliki model bisnis yang bertujuan untuk memiliki


aset dalam rangka untuk mengumpulkan arus kas kontraktual dan persyaratan
kontraktual dari aset keuangan yang memberikan tanggal tertentu untuk arus
kas yang semata mata merupakan pembayaran pokok dan bunga atas jumlah
pokok pinjaman, maka perusahaan harus menggunakan biaya perolehan
diamortisasi. investasi ekuitas umumnya dicatat dan dilaporkan pada nilai
wajar. investasi ekuitas tidak memiliki bunga tetap atau daftar pembayaran
pokok sehingga tidak dapat dicatat pada biaya perolehan diamortisasi.

B. INVESTASI UTANG
Investasi utang (debt investment) ditandai dengan pembayaran
kontraktual pada tanggal tertentu dari pokok dan bunga atas jumlah yang
terutang. Perusahaan mengukur investasi utang pada biaya perolehan
diamortisasi jika tujuan dari model bisnis perusahaan adalah untuk memiliki
aset keuangan untuk menerima arus kas kontraktual. Biaya perolehan
amortisasi (amortized cost) adalah jumlah pengakuan awal dari investasi
dikurangi pembayaran kembali, ditambah atau dikurangi amortisasi kumulatif
dan setelah dikurangi dengan pengurangan dari tidak tertagihnya. Jika kriteria
untuk pengukuran pada biaya perolehan diamortisasi tidak terpenuhi, maka
investasi utang dinilai dan dicatat sebesar nilai wajarnya. Nilai wajar (fair
value) adalah jumlah dimana aset dapat ditukar antara pihak yang
berpengetahuan dalam transaksi yang wajar.

Investasi Utang – Biaya Perolehan Diamortasasi


Investasi utang dapat diukur dengan biaya perolehan diamortisasi. Jika
perusahaan melakukan investasi dalam obligasi, maka akan menerima arus
kas kontraktual dari bunga selama umur obligasi dan pembayaran pokok pada
saat jatuh tempo. Perusahaan harus mengamortisasi premi atau diskonto
dengan menggunakan metode bunga efektif (effective interest method).
Perusahaan menerapkan metode bunga efektif untuk investasi obligasi dengan
cara yang sama dengan utang obligasi. Untuk menghitung pendapatan bunga,
perusahaan menghitung suku bunga efektif atau yield pada saat investasi dan
menerapkan suku bunga pada jumlah tercatat awal (nilai buku) untuk setiap
periode bunga. Jumlah tercatat investasi meningkat sebesar amortisasi
diskonto atau menurun sebesar amortisasi premi disetiap periode.
Terkadang perusahaan menjual investasi obligasi sebelum jatuh tempo.
Perusahaan dapat menjual efek sebagai bagian dari perusahaan strategi
investasi untuk berpindah dari investasi utang lima tahun. Strategi seperti ini
akan memungkinkan obligasi sering mengalami perubahan harga sebagai
respons terhadap perubahan suku bunga. Kredit ke investasi utang merupakan
nilai buku obligasi pada tanggal penjualan. Kredit ke keuntungan atas
penjualan investasi utang merupakan selisih antara harga jual dengan nilai
buku obligasi.
Investasi Utang – Nilai Wajar
Perusahaan yang menghitung dan melaporkan investasi utang pada nilai
wajar mengikuti jurnal akuntansi yang sama dengan investasi utang yang
dimiliki untuk ditagih selama periode pelaporan. Artinya, investasi utang
tersebut dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Namun, pada setiap
tanggal pelaporan, perusahaan menyesuaikan biaya perolehan diamortisasi ke
nilai wajar, dengan keuntungan atau kerugian akibat pemilikan yang belum
direlisasi dilaporkan sebagai bagian dari laba neto (metode nilai wajar – fair
value method). Keuntungan atau kerugian akibat pemilikan yang belum
direalisasi (unrealized holding gain or loss) adalah perubahan neto nilai wajar
pada investasi utang dari satu periode ke periode lainnya.

Investasi Utang Pada Nilai Wajar (Efek Tunggal)


Perusahaan menggunakan akun penilaian (Penyesuaian Nilai Wajar Efek
– Securities Fair Value Adjustment) daripada mendebit investasi utang untuk
mencatat investasi pada bilai wajar. Penggunaan penyesuaian nilai wajar efek
memungkinkan perusahaan untuk membuat pencatatan pada biaya perolehan
diamortisasi dalam akun tersebut. Oleh karena akun penilaian memiliki saldo
debit, dalam hal ini nilai wajar investasi utang perusahaan lebih tinggi dari
biaya perolehan diamortisasi. Akun keuntungan atau kerugian akibat
pemilikan belum direalisasi laba rugi dilaporkan pada bagian pendapatan dan
beban lain dalam laporan laba rugi sebagai bagian dari laba neto. Akun ini
ditutup pada laba neto setiap periode. Akun penyesuaian nilai wajar efek
tidak ditutup pada setiap periode dan hanya disesuaikan pada setiap periode
agar mendapat penilaian yang tepat. Saldo penyesuaian nilai wajar efek tidak
disajikan pada laporan posisi keuangan, tetapi hanya digunakan untuk
menyajikan kembali akun investasi utang pada nilai wajar. Selama umur
investasi obligasi, pendapatan bunga dan keuntungan atas penjualan adalah
sama dengan menggunakan biaya perolehan diamortisasi atau dengan
pengukuran nilai wajar. Namun dengan pendekatan dengan nilai wajar,
keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi dicatat setiap tahun sebagai
nilai wajar atas perubahan investasi. Pada intinya, keuntungan atau kerugian
neto sebesar nol.

Penjualan Investasi Utang


Jika perusahaan menjual obligasi sebagai nilai wajar investasi sebelum
tanggal jatuh tempo, maka harus membuat jurnal untuk menghapus akun
investasi utang atas biaya perolehan diamortisasi dari obligasi yang dijual.

Opsi Nilai Wajar


Perusahaan memiliki opsi untuk melaporkan sebagian besar aset
keuangan pada nilai wajar. Opsi ini diterapkan atas dasar instrumen per
instrumen yang umumnya hanya tersedia pada saat perusahaan pertama kali
melakukan pembelian aset keuangan atau terjadinya liabilitas keuangan.
Dengan memilih opsi nilai wajar untuk investasi utang, perusahaan mencatat
keuntungan dan kerugian dalam laba rugi, yang akan menyaling hapus
keuntungan dan kerugian yang dicatat pada liabilitas, sehingga memberikan
informasi yang lebih relevan tentang aset keuangan yang terkait.

C. INVESTASI EKUITAS
Investasi ekuitas (equity investment) merupakan hak kepemilikan, seperti
saham biasa, saham preferen, atau saham modal lainnya. Investasi ini juga
termasuk hak untuk memperoleh atau melepasakan kepemilikan pada harga
yang telah disepakati atau ditentukan. Biaya perolehan investasi ekuitas
diukur pada harga pembelian efek. Komisi broker dan biaya lain yang terkait
dengan pembelian dicatat sebagai beban. Tingkat dimana salah satu
perusahaan (investor) memperoleh hak saham perusahaan lain (investee)
umumnya menentukan perlakuan akuntansi untuk investasi setelah akuisisi.
Klasifikasi investasi tersebut tergantung pada presentase hak suara investee
yang dipegang oleh investor :
 Kepemilikan kurang dari 20 persen (metode nilai wajar) – investor
memiliki hak pasif.
 Kepemilikan antara 20 persen dan 50 persen (metode ekuitas) –
investor memiliki pengaruh signifikan.
 Kepemilikan lebih dari 50 persen (laporan konsolidasian) – investor
memiliki kepentingan pengendali.

Investasi Ekuitas Pada Nilai Wajar


Jika investor memiliki hak kurang dari 20 persen, maka dianggap
bahwa investor tersebut memiliki sedikit atau tidak ada pengaruh atas
investee. Berdasarkan IFRS, anggapan bahwa investasi ekuitas yang
dimiliki untuk diperdagangkan. Artinya, perusahaan memiliki efek tersebut
untuk mendapatkan keuntungan dari perubahan harga. Namun, beberapa
investasi ekuitas dimiliki untuk tujuan selain diperdagangkan. Akibatnya,
IFRS memungkinkan perusahaan untuk mengklasifikasikan beberapa
investasi ekuitas sebagai tidak diperdagangkan. Investasi ekuitas tidak
diperdagangkan (non – trading equity investments) dicatat sebesar nilai
wajar pada laporan posisi keuangan, dengan keuntungan dan kerugian yang
belum direalisasi akan dilaporkan dalam penghasilan komprehensif lain.

Investasi Ekuitas (Laba Rugi)


Laba neto yang diperoleh investee bukan merupakan dasar yang tepat
untuk mengakui laba rugi dari investasi oleh investor karena peningkatan
aset neto yang dihasilkan dari operasi yang menguntungkan dapat
dipertahankan secara permanen untuk digunakan dalam bisnis investee.
Oleh karena itu, investor memperoleh laba neto hanya jika investee
mengumumkan dividen tunai.

Investasi Ekuitas (OCI – Other Comprehensive Income)


Untuk investasi ekuitas tidak diperdagangkan, perusahaan melaporkan
keuntungan atau kerugian akibat kepemilikan yang belum direalisasi
sebagai pengahasilan komprehensif lain. Dengan demikian, akun berjudul
keuntungan atau kerugian akibat kepemilikan yang belum direalisasi
ekuitas yang digunakan. Singkatnya, akuntansi untuk investasi ekuitas yang
tidak diperdagangkan menyimpang dari ketentuan umum investasi ekuitas.
IASB mencatat bahwa nilai wajar memberikan informasi yang paling
berguna tentang investasi bagi investasi ekuitas, mencatat keuntungan atau
kerugian yang belum direalisasi dalam penghasilan komprehensif lain yang
lebih representatif untuk investasi ekuitas yang tidak diperdagangkan.

Metode Ekuitas
Dalam metode ekuitas (equity method), investor dan investee
mengakui hubungan ekonomi yang substantif. Perusahaan ini awalnya
mencatat investasi mencatat investasi pada biaya perolehan saham, tetapi
kemudian menyesuaikan jumlah setiap periode perubahan dalam aset neto
investee. Artinya, bagian proporsional dari laba (rugi) investee secara
berkala meningkatkan (menurunkan) jumlah tercatat investasinya. Metode
ekuitas mengakui bahwa laba investee meningkatkan aset neto investee,
dan bahwa kerugian investee dan dividen menurunkan aset neto.

Kelebihan Investee Melebihi Jumlah Tercatat


Jika saham investor dari kerugian investee melebihi jumlah tercatat
dari investasi, investor harus menghentikan penerapan metode ekuitas dan
tidak mengakui kerugian tambahan. Jika potensi kerugian investor tidak
terbatas sampai jumlah investasi aslinya (dengan jaminan obligasi investee
atau komitmen lainnya untuk memberikan dukungan keuangan) atau jika
imbal hasil mendekati sampai operasi yang menguntungkan investee yang
tampaknya meyakinkan, investor harus mengakui kerugian tambahan.

Konsolidasi
Jika salah satu perusahaan mengakuisisi hak kepemilikan lebih dari 50
persen pada perusahaan lain, maka dikatakan memiliki kepentingan
pengendali (controlling interest). Dalam hubungan tersebut, perusahaan
investor disebut sebagai entitas induk (parent) dan perusahaan investee
sebagai entitas anak (subsidiary). Perusahaan menyajikan investasi dalam
saham biasa entitas anak sebagai investasi jangka panjang pada laporan
keuangan tersendiri dari entitas induk. Jika entitas induk memperlakukan
entitas anak sebagai investasi, maka entitas induk umumnya membuat
laporan keuangan konsolidasian (consolidated financial statements).
Laporan keuangan konsolidatian memperlakukan entitas induk dan entitas
anak sebagai satu entitas ekonomik.

D. ISU ISU PELAPORAN LAINNYA


Kita telah mengidentifikasi isu isu dasar yang terdapat dalam
akuntansi untuk investasi pada efek utang dan ekuitas. Selain itu, isu isu
yang terkait dengan akuntansi untuk invetasi adalah sebagai berikut :
 Penurunan nilai
 Pengalihan antarkategori
 Kontroversi nilai wajar

Penurunan Nilai
Perusahaan harus mengevaluasi setiap investasi yang dimiliki
untuk ditagih, pada setiap tanggal pelaporan, untuk menentukan apakah
investasi tersebut telah mengalami penurunan nilai kerugian nilai pada
nilai wajar investasi dibawah nilai tercatatnya. Jika perusahaan
menentukan bahwa investasi mengalami penurunan nilai, perusahaan
menurunkan atas dasar biaya perolehan diamortisasi dari masing masing
efek untuk mencerminkan kerugian dalam nilai ini. Jika investasi turun
nilainya, perusahaan harus mengukur kerugian yang disebabkan oleh
penurunan nilai (impairment). Rugi penurunan nilai ini dihitung sebagai
selisih antara jumlah tercatat ditambah bunga yang masih harus dibayar
(accrued interest) dengan mendiskontokan arus kas masa depan yang
diharapkan pada suku bunga efektif historis dari investasi tersebut.

Pemulihan Rugi Penurunan Nilai


Setelah mencatat penurunan nilai, peristiwa atau kondisi ekonomi
dapat berubah sehinggah jumlah rugi penurunan nilai menjadi berkurang
(karena peningkatan dalam peringkat kredit debitur). Dalam situasi ini,
beberapa atau keseluruhan rugi penurunan nilai yang diakui sebelumnya
akan dibalik dengan mendebit ke akun investasi utang dan mengkredit
pemulihan rugi penurunan nilai.

Pengalihan Antarkategori
Pengalihan investasi dari satu klasifikasi ke klasifikasi yang lain harus
terjadi jika model bisnis untuk mengelola investasi juga berubah. IASB
berharap perubahan tersebut jarang terjadi. Perusahaan mencatat
pengalihan antarklasifikasi secara prospektif, pada awal periode akuntansi
setelah adanya perubahan model bisnis.

Kontroversi Nilai Wajar


Dalam model ini, beberapa investasi utang dihitung pada biaya
perolehan diamortisasi dan lainnya pada nilai wajar. Pihak lainnya
mendukung pengukuran nilai wajar untuk semua aset keuangan, dengan
keuntungan atau kerugian dicatat sebagai laba rugi.