Anda di halaman 1dari 115

i

PENGARUH KOMITMEN ORGANISASI DAN


INTENSI WHISTLEBLOWING TERHADAP
PENCEGAHAN FRAUD
(Studi kasus Aparatur kantor desa di kab.bandung)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Skripsi


Pada Program Studi Akuntansi
Universitas Islam Bandung

Disusun oleh :
ZULKARNAEN SYARIF AL AKBAR
10090115132

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2018

i
ii

PENGARUH KOMITMEN ORGANISASI DAN


INTENSI WHISTLEBLOWING TERHADAP
PENCEGAHAN FRAUD
(Survei Pada Auditor Internal Bank BJB Kantor Pusat)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Ujian Sarjana (S1)


Pada Program studi Akuntansi
Universitas Islam Bandung

Disusun Oleh:
Zulkarnaen Syarif Al-Akbar
10090115132

Disetujui oleh:

Pembimbing 1 Pembimbing 2

Magnaz Lestira O, SE, M.Si, Ak, CA Dr. Pupung Purnamasari, SE., M.Si.,
Ak. CA

Mengetaui,
Ketua Prodi Akuntansi

Dr. Nurleli SE.,M.Si.,Ak.CA

ii
iii

ABSTRACT

This study shows the influence of organizational commitment and intention


Whistleblowing against Fraud Prevention apparatus Kab.Bandung office in the
village. This research is a quantitative research using primary data obtained
through questionnaires filled out by respondents,officials in 11 rural village office,
which was overwhelmed by the 3 districts in Kab.Bandung, The method used in this
research is descriptive and verification methods. The sampling technique used in
this study is the saturated sampling technique. The sample in this study amounted
to 55 respondents, which is a village officials in 11 rural offices. Data collection is
done by going direct the respondents ie apatur village office to fill out a
questionnaire. These results indicate that organizational commitment significantly
influence the Fraud Prevention apparatus Kab.Bandung office in the village. The
study also shows that the intention whistleblowing hasul significant effect on Fraud
Prevention apparatus to the village office in Kab.Bandung

Keywords: Organizational Commitment, Intention Whistleblowng, Fraud


Prevention

iii
iv

ABSTRAK

Penelitian ini menunjukkan pengaruh dari komitmen organisasi dan Intensi


Whistleblowing terhadap Pencegahan Fraud aparatur kantor desa di Kab.Bandung.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data primer
yang diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh responden yaitu aparatur di 11
desa kantor desa, yang terlingkupi oleh 3 kecamatan di wilayah kab.Bandung.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan
verifikatif. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
teknik sampling jenuh. Adapun sampel dalam penelitian ini berjumlah 55
responden, yang merupakan aparatur desa di 11 kantor desa. Pengumpulan data
dilakukan dengan mendatangi langsung para responden yaitu apatur kantor desa
untuk mengisi kuesioner. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa komitmen
organisasi berpengaruh signifikan terhadap Pencegahan Fraud aparatur kantor desa
di Kab.Bandung. Penelitian ini juga menunjukkan hasul bahwa Intensi
whistleblowing berpengaruh terhadap signifikan terhadap Pencegahan Fraud
aparatur kantor desa di Kab.Bandung

Kata Kunci: Komitmen Organisasi, Intensi Whistleblowng, Pencegahan Fraud

iv
v

PRAKATA

Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunianya

dalam proses pengerjaan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

yang berjudul “Pengaruh Komitmen Organisasi dan Etika Profesi terhadap Intensi

Melakukan Whistleblowing” (Studi Empiris pada Internal Auditor Bank BJB

Kantor Pusat) dengan baik.

Penelitian ini diajukan untuk menempuh ujian sarjana (S1) Program Studi

Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung. Dalam

penelitian ini masih terdapat banyak kekurangan dan keterbatasan yang peneliti

rasakan. Untuk itu, peneliti sangat mengharapkan kritik yang membangun dan saran

untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan

dari pihak-pihak yang telah membantu peneliti dalam proses penyusunan skripsi ini

baik dalam bentuk doa, motivasi, bimbingan, dukungan, dan saran yang tidak dapat

diukur secara materi.

Dalam penyusunan ini, peneliti banyak menerima kontribusi dari berbagai

pihak. Oleh karena itu, dengan sepenuh hati penulis menyampaikan ucapan terima

kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1) Allah SWT terima kasih atas segala nikmat yang telah Allah berikan yang

tidak dapat diukur oleh apapun.

2) Orangtua tersayang, terima kasih banyak atas semua motivasi, nasihat,

kepercayaan, pengorbanannya dan tekanan harus lulus tahun ini.

Terimakasih atas dukungan moril dan materiil serta doa yang tiada hentinya.

Bapa dan Mamah adalah alasan bagi penulis untuk dapat menyelesaikan

v
vi

studi. Semoga hasil ini dapat menjadi satu kebanggaan dan kebahagiaan

bagi Bapa dan Mamah.

3) Kakak-kakakku yang telah memberikan motivasi serta bantuan materiil

selama mengerjakan skripsi ini dan adikku Ilham Ibadurohman yang telah

menjadi alasan untuk memaksakan diri mengerjakan skripsi.

4) Dr. Hj. Nunung Nurhayati, SE., M.Si., Ak, CA selaku Dekan Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung,

5) Dr. Hj. Nurleli, SE., M.Si., Ak, CA selaku wali dosen dan Ketua Program

Studi Akuntansi Universitas Islam Bandung,

6) Magnaz Lestira O, SE, M.Si, Ak, CA selaku dosen pembimbing 1 yang telah

meluangkan waktu bimbingan, arahan, motivasi serta melebihkan batas

kesabaran dalam membimbing penulis yang keras kepala dalam penulisan

skripsi ini,

7) Dr. Pupung Purnamasari, SE., M.Si., Ak. CA. selaku Dosen Pembimbing 2

yang telah meluangkan waktu, bimbingan, arahan, motivasi serta kesabaran

lebih dalam membimbing penulis dalam penulisan skripsi ini.

8) Dr. Rini Lestari, SE., M.Si., Ak. CA selaku Dosen Mata Kuliah Metodologi

dan Penelitian yang juga telah bersedia memberikan waktu, tenaga, pikiran,

arahan, ilmu, serta motivasi kepada peneliti dalam proses penyusuan

proposal usulan penelitian skripsi ini.

9) Edi Sukarmanto,. SE., M.Si. selaku DosenAkuntansi yang telah mengkritisi

serta menjadi teladan sikap bagi penulis dalam mengerjakan skripsi.

vi
vii

10) Seluruh Dosen dan Staff Pengajar Universitas Islam Bandung Fakultas

Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan

wawasan selama peneliti berkuliah di Universitas Islam Bandung.

11) Sahabat seperjuangan selama perkuliahan yang memberikan dampak Positif

dan negative namun 99% negative bagi penulis yaitu Syahrul Id Yamani,

Reggy subagja, Rudi Hartono, Irfandi pratama, Nafrian Kharismadi, Lutfi,

Azmi, Rafly Prabowo.

12) Keluarga Besar Kajian Keilmuan Himpunan Mahasiswa Akuntansi

UNISBA, Mulki Maulana, Syahrul Alief, Samahita, Yolanda Sri Rezki,

Nadia Maharani, Nova Agnes Purnama, Wiwi Ratna Wangi, Firyal Khansa

Haura. Tak lupa seluruh pengurus Himpunan Mahasiswa Akuntansi periode

2017-2018.

13) Keluarga Besar Dewan Amanat Mahasiswa FEB UNISBA, Shania Naya,

Alfah Thoyibah Abdullah Azam, M.Ridho fadhilah, Mauri Gustari ,

Zulfitrah Sulton, Aliyah pratiwi, Nurul Ferliani, Ayu Saadatun, Irfan fauzi,

Rafvirna Haque, Ferry Tri Mulyana, Maima Rizkika, Ragum, Baykun yang

telah memotivasi peneliti.

14) Keluarga Revolution yang telah memberikan motivasi dan kopi gratis tiap

revisi.

15) Teman Sekawan untuk Menghancurkan Bangsa, Ari erlando, Indra Alam,

Alessandro Adam.

16) Teman Unisba yang telah Menghambat serta Menolak peneliti

mengerjakan Skripsi.

vii
viii

Dengan demikian, penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada semua pihak

dan apabila ada pihak yang tidak tersebutkan penulis memohon maaf, dengan besar

harapan semoga proposal usulan penelitian yang dituliskan oleh penulis ini dapat

memberikan manfaat khususnya bagi penulis sendiri dan umumnya bagi pembaca.

Bandung, Desember 2018

Penulis

Zulkarnaen Syarif Al-

Akbar

viii
2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Desa menurut UU No.6 Tahun 2015 adalah kesatuan masyarakat hukum yang

memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan

pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat,

hak asal usul, dan atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem

pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa memiliki kekuatan

hukum dalam menjalankan pemerintahannya dibawah kepala desa serta perangkat

desa lainnya yang juga diawasi oleh BPD atau Badan Permusyawaratan Desa.

Sesuai aturan Permendagri No.84 Tahun 2015 susunan organisasi dan tata kerja

(SOTK) susunan organisasi kantor desa terdiri dari, badan pengawas desa(BPD),

kepala desa, seketaris desa, kepala urusan keuangan(KAUR) keuangan, kepala

urusan pelayanan, kepala urusan kesejahtraan, kepala urusan (KAUR)

pemerintahan, kepala urusan (KAUR) umum, kepala dusun (KADUS)

Secara fugsi aparatur desa sebagai berikut: kepala desa mempunyai tugas

menyelengarakan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan pembederyaan

masyarakat, BPD membahas dan menyepakati rencana peraturan desa bersama

kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi dari masyarakat, dan

mengawasi kinerja kepala desa, seketaris desa membantu kepala desa menjalankan

tugasnya. Fungsi sekretaris meliputi menyiapkan dan melaksanakan pengelolaan

administrasi desa, membantu persiapan penyusunan peraturan desa dan bahan

untuk laporan penyelenggara pemerintah desa serta melaksanakan tugas lain yang

diberikan kepala desa, Berfungsi melaksanakan kegiatan berkaitan dengan


3

kependudukan, pertanahan, pembinaan ketentraman, dan ketertiban masyarakat,

kepala urusan (KAUR) Pelayanan Bertugas untuk membantu kepala desa dalam

menyiapkan teknis pengembangan ekonomi desa serta mengelola administrasi

pembangunan dan layanan masyarakat. Berfungsi untuk melaksanakan kegiatan

administrasi pembangunan, menyiapkan analisa dan kajian perkembangan ekonomi

masyarakat serta mengelola tugas pembantuan, kepala urusan (KAUR)

kesejahtraan rakyat Bertugas membantu kepala desa mempersiapkan perumusan

kebijakan teknis penyusunan program keagamaan dan melaksanakan program

pemberdayaan dan sosial kemasyarakatan. Berfungsi melaksanakan hasil persiapan

program keagamaan, pemberdayaan masyarakat dan sosial kemasyarakatan, kepala

urusan (KAUR) Keuangan Berfungsi untuk membantu sekretaris desa mengelola

sumber pendapatan, administrasi keuangan, penyusunan APB desa dan laporan

keuangan desa. Serta melakukan tugas lain yang diberikan sekretaris. Dalam

melaksanakan kegiatan operisional pemerintahan desa, mendapatkan sumber dana

dari pemerintah pusat yaitu dana desa yang di kelola oleh aparat desa bagian

keuangan.

Dana desa menurut UU No.6 tahun 2014 adalah dana yang bersumber dari

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa,

ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota dan

digunakan untuk membiayai penyelenggaran pemerintahan desa, pembangunan,

serta pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan pembangunan desa. Namun seiring

perkembangan dana desa banyak penyimpangan yang di lakukan oleh aparatur

desa. Fenomena yang terjadi yaitu kasus korupsi oleh kepala desa Tasikmalaya,

seperti yang dijelaskan sri tatmala wahani sebagai kepala kejaksaan tasikmalaya
4

bahwasanya terjadi penyelewengan uang dana desa sebesar Rp 878.747.654 juta

dari total alokasi sebesar 2.14 miliar yang diperuntukan untuk pembangunan sarana

dan prasana desa tersebut (kompas.com).

Kasus korupsi tersebut didasari karena adanya kesempatan serta rasionalisasi

untuk melakukan penggelapan dana desa, hal ini sejalan dengan pendapat tommic

and Aron (2006) bahwa penyebab terjadinya fraud salah satunya adalah adanya

kesempatan yang dimiliki oleh pelaku dalam menganalisa atas kelemahan

perusahaan, selain itu karena pelaku berada posisi yang sangat strategis di

perusahaan tersebut. Kasus korupsi diatas juga didasari tidak adanya komitmen

organisasi pada diri aparatur desa, sehingga tidak memelihara keanggotaan dalam

pekerjaan sebagai aparatur desa.

Komitmen organisasi merupakan keadaan dimana seorang karyawan memihak

pada satu organisasi dan tujuan-tujuannya, serta berniat untuk memelihara

keanggotaannya dalam organisasi tersebut (robins, 2010). Ketika aparatur memiliki

komitmen organisasi, maka aparatur desa akan memiliki keterikatan emosional dan

penyesuaian nilai-nilai dengan organisasi yang nantinya berdampak pada suatu

tindakan positif untuk membangun kantor desa. Hal tersebut mengakibatkan

aparatur mampu bekerja lebih keras dalam setiap pekerjaanya dan mampu

mendorong adanya intensi untuk menjaga kantor desa dari hal-hal yang merugikan.

Intensi menurut Sumaryono (2016) merupakan komponen dalam diri individu

yang mengacu pada keinginan untuk melakukan suatu perilaku, sedangkan perilaku

adalah tindakan nyata dari keinginan berperilaku tersebut. Intensi tersebut dapat

membuat individu melakukan suatu tindakan yang berpengaruh positip bagi kantor

desa.
5

Hal ini sesuai dengan hasil penelitian peneltian anggit purwitasari(2013)

mengemukakan terdapat pengaruh postif komitmen organisasi terhadap

pencegahan fraud. membuat karyawan terlibat dalam tugas aktivitas dan manfaat

serta merasakan kenyamanan di dalamnya dan memdukung nilai nilai, visi dan misi

organisasi dalam mencapai tujuan nya sehingga karyawan tersebut akan memiliki

ikatan emosional atau nilai yang sama dari bagian organisasi tersebut dapat

mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya tindak kecurangan.

Pencegahan korupsi dalam kantor desa harus dimulai dengan peningkatan intensi

whistleblowing oleh aparatur desa, hal tersebut sangat penting karena semua

aparatur menjadi pengawas dalam pelaksanaan pengelolaan dana desa.

Menurut Keraf (1998) bahwa Whistleblowing adalah tindakan oleh seorang

atau beberapa orang karyawan untuk membocorkan kecurangan entah yang

dilakukan perusahaan atau atasan kepada pihak lain. menjadi seorang

Whistleblower hingga saat ini menjadi suatu hal yang fenomenal baik di negara

berkembang seperti indonesia maupun di negara maju.

Di Indonesia sendiri whistleblowing sudah menjadi hal yang umum.

Whistleblowing merupakan pengungkapan praktik ilegal, tidak bermoral atau

melanggar hukum yang dilakukan oleh anggota organisasi (baik mantan pegawai

atau yang masih bekerja) yang terjadi di dalam organisasi tempat mereka bekerja.

Pengungkapan dilakukan kepada seseorang atau organisasi lain sehingga

memungkinkan dilakukan (eksternal). Internal whistleblowing terjadi ketika

seorang karyawan mengetahui kecurangan yang dilakukan karyawan lainnya

kemudian melaporkan kecurangan tersebut kepada atasannya. Sedangkan eksternal

whistleblowing terjadi ketika seorang karyawan mengetahui kecurangan yang


6

dilakukan perusahaan lalu memberitahukannya kepada masyarakat karena

kecurangan itu akan merugikan masyarakat.

Dalam prakteknya menjadi seorang whistleblower bukanlah hal yang mudah.,

dibutuhkan keberanian dan keyakinan untuk melakukannya. Hal ini dikarenakan

seorang whistleblower tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan teror dari

oknum-oknum yang tidak menyukai keberadaannya. Tetapi dengan adanya

orientasi etika yang dimiliki tiap individu, maka akan mendorong mereka untuk

berperilaku etis dan berpersepsi terhadap perilaku tidak etis yang terjadi di dalam

lingkungan mereka.

Hal ini sesuai dengan hasil hasil peneletian (Made Indra Dwi Putra Suastawan,)

terdapat pengaruh postif intensi whistleblowing terhadap pencegahan fraud Tidak

menutup kemungkinan bahwa ketika seseorang memiliki komitmen organisasi dan

intensi whistleblowing dapat melakukan pencegahan fraud di lingkungannya. Maka

berdasarkan latar belakang di atas bermaksud untuk meneliti bagaimana individu

dapat melakukan pencegahan fraud yang di tuangkan dalam skripsi “PENGARUH

KOMITMEN ORGANISASI DAN INTENSI WHISTLE BLOWING

TERHADAP PENCEGAHAN FRAUD”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan diatas masalah yang akan

diteliti selanjutnya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :

1. Apakah komitmen organisasi berpengaruh terhadap pencegahan fraud?

2. Apakah intensi whistleblowing berpengaruh terhadap pencegahan

fraud?
7

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini

adalah untuk mengetahui :

1. Pengaruh komitmen organisasi terhadap pencegahan fraud.

2. Pengaruh intensi whistleblowing terhadap pencegahan fraud.

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Aspek Teoris

Bagi peneliti lanjutan, dapat menjadi bahan referensi untuk melanjutkan

penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan

tambahan literatur terkait komitmen organisasi dan intensi whistleblowing terhadap

pencegahan fraud

1.4.2 Aspek Praktis

1. Bagi penulis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai pengaruh

komitmen organisasi dan intensi whistleblowing terhadap pencegahan

fraud.

2. Bagi universitas

Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan informasi dan

dengan pengaruh komitmen organisasi dan intensi whistleblowing terhadap

pencegahan fraud.
8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN

DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Komitmen Organisasi

Pengelolaan sumber daya organisasi yang baik adalah pengelolaan yang

memperhatikan segala aspek termasuk organisasional maupun individual, agar

tujuan ataupun visi dari organisasi dapat tercapai. Dalam aspek individual maka hal

mempengaruhi agar seorang mampu terlibat untuk mencapai tujuan adalah

komitmen organisasi. Namun sebelum membahas komitmen organisasi , kita harus

mempertimbangkan arti kata komitmen, pemahaman umum menyatakan bahwa

komitmen merupakan kesetujuan untuk melakukan sesuatu untuk diri sendiri,

orang lain, organisasi, kelompok. Secara terkhusus, komitmen merupakan sebuah

kekuatan yang mengikat seseorang dengan cara relevansinya tindakan pada satu

atau beberapa target (Robert kreitner.angelo, 2014;165) definisi tersebut

menjelaskan bahwa komitmen bisa di tunjukan kepada beberapa entitas. Misalnya

seseorang bisa berkomitmen pada pekerjaan, keluarga dll. Setelah kita mengetahui

definisi dari komitmen maka kita bisa mengetahui apa itu komitmen organisasi.

2.1.1.1 Pengertian Komitmen Organisasi

Robins (2006) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai keadaan dimana

seorang karyawan memihak pada satu organisasi dan tujuan-tujuannya, serta

berniat untuk memelihara keanggotaannya dalam organisasi tersebut. Komitmen

terhadap organisasi bukan hanya sekedar keanggotaan formal, karena meliputi


9

sikap meyukai organisasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan yang

berdampak positif bagi organisasi demi terwujudnya visi ataupun tujuan organisasi.

Semakin tinggi komitmen organisasi pada invidu maka semakin tinggi

keberpihakan individu terhadap organisasi, begitupun sebaliknya semakin rendah

komitmen maka semakin rendah keberpihakan terhadap organisasi.

Adapun pendapat lain sebagaimana di kemukakan oleh Robert kreitner &

angelo Kinicki (2014) komitmen organisasi merupakan pencerminan tingkatan

dimana seseorang mengenali sebuah organisasi dan terikat pada tujuan tujuan nya

. komitmen organisasi ini merupakan sikap kesediaan untuk bekerja lebih keras

demi mencapai tujuan organisasi dan memiliki hasrat yang lebih besar untuk tetap

bekerja di suatu perusahaan. Ketika pegawi memiliki komitmen organisasi yang

tinggi maka pegawai tersebut akan memiki keterikatan lebih dalam sehingga

mempunyai hasrat bekerja lebih keras untuk mencapai tujuan organsisasi.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa komitmen

organisasi merupakan keadaan dimana seseorang berafiliasi dengan nilai nilai

ataupun visi perusahaan yang berimplikasi pada tindakan. Guna terpelihara nya

keaggotaan nya dalam perusahaan

2.1.1.2 Jenis-Jenis Komitmen

1. Komitmen Sikap

Komitmen sikap berfokus pada proses bagaimana seseorang mulai

memikirkan mengenai hubungannya dalam organisasi atau menentukan sikapnya

terhadap organisasi. Hal ini dapat dianggap sebagai sebuah pola pikir dimana

individu memikirkan sejauh mana nilai tujuannya sendiri sesuai dengan organisasi

dimana ia berada. Komitmen sikap melibatkan pengukuran terhadap komitmen dan


10

variabel lain yang dianggap sebagai penyebab atau konsekuensi dari komitmen.

Tujuannya adalah untuk menunjukan bahwa komitmen yang kuat akan membentuk

tingkah laku anggota organisasi sesuai dengan yang diharapkan, dan juga bertujuan

untuk menunjukan karakteristik individu dan situasi kondisi seperti apa yang

memengaruhi perkembangan komitmen berorganisasi yang tinggi (Buchanan &

Steers Dalam Meyer & Allan,1997).

2. Komitmen perilaku

Komitmen perilaku berhubungan dengan proses dimana individu merasa

terikat kepada organisasi tertentu dan bagaimana cara mereka mengatasi setiap

masalah yang dihadapi. Komitmen perilaku, melihat anggota sebagai individu yang

berkomitmen terhadap tingkah laku tertentu, dan bukan hanya sebagai suatu entitas

saja. Sikap atau tingkah laku yang berkembang merupakan konsekuensi komitmen

terhadap tingkah laku. Tujuan dari komitmen perilaku ini adalah untuk menentukan

kondisi yang seperti apa yang membuat individu memiliki komitmen terhadap

organisasinya (Kiesler dan Salancik Dalam Meyer & Allen, 1997).

2.1.1.2 Ciri-Ciri komitmen organisasi

Mengenali individu yang mempunyai komitmen dapat tandai dengan beberapa

hal seperti dikemukakan oleh Michaels (2003) dalam prasetiyo (2014) ciri ciri

orang yang mempunyai komitmen terbagi 3 yaitu sebagai berikut:

1) Ciri-ciri komitmen pada pekerjaan

2) Ciri-ciri komitmen dalam kelompok

3) Ciri-ciri komitmen pada organisasi

Ciri ciri pada komitmen pekerjaan salah satunya adalah menyenangi pekerjaan,

tidak pernah melihat jam untuk segera bersiap-siap pulang, mampu berkonsentrasi
11

pada pekerjaan, tetap memikirkan pekerjaan walaupun tidak bekerja. Tapi sangat

memperhatikan bagaimana orang lain bekerja, selalu siap menolong teman kerja,

selalu berupaya untuk berinteraksi dengan teman kerja, memperlakukan teman

kerja sebagai keluarga, selalu terbuka pada kehadiran teman kerja baru. Adapun

ciri-ciri komitmen pada organisasi antara lain : selalu berupaya untuk

mensukseskan organisasi, selalu mencari informasi tentang kondisi organisasi,

selalu mencoba mencari komplementaris antara sasaran organisasi dengan sasaran

pribadi, selalu berupaya untuk memaksimalkan kontribusi kerja sebagai bagian dari

usaha organisasi keseluruhan, menaruh perhatian pada hubungan kerja antar unit

organisasi, berpikir positif pada kritik teman-teman, menempatkan prioritas di atas

departemen, tidak melihat organisasi lain sebagai unit yang lebih baik, memiliki

keyakinan bahwa organisasi tersebut memiliki harapan untuk berkembang, berpikir

positif pada pimpinan puncak organisasi.”

Maka dapat di simpulkan bahwa bahwa orang yang mempunyai komitmen

akan cenderung lebih aktif dalam melakukan tugas kerja serta memiliki tujuan

untuk membangun perusahaan sehingga ikut terlibat dalam pencegahan

penyimpangan yang dapat merugikan perusahaan.

2.1.1.3 Komponen-Komponen Pembentuk Komitmen Organisasi

Komitmen organisasi tidak terbentuknya dengan begitu saja, namun ada

beberapa komponen-komponen yang saling berhubungan sehingga terbentuk

komitmen organisasi.

Robert kreitner and angelo Kinicki (2014;165) mengemukakan ada 3

komponen utama, masing-masing komponen di pengaruhi oleh

antensenden/indikator terpisah yang membentuk komitmen organisasi yaitu:


12

Gambar 2.1
Komitmen Organisasi

1) Komitmen Afektif
a) Kongruen nilai
b) Karakteristik pribadi
c) Pengalaman bekerja

2) Komitmen Kontinuan
a) Kurangnya alternative pekerjaan
b) Investasi

3) Komitmen Normatif
a) Kontrak psikologis
b) Sosialisasi

Berdasarkan komponen dan gambar (2.1) diatas maka akan di uraikan sebagai

berikut:
13

1) Komitmen Afektif

Komitmen afektif merupakan pelekatan emosi pada perusahaan serta

identifkasi individu dengan organisasi dan keterlibatan pegawai dalam organisasi.

Individu yang memiliki komitmen afektif yang kuat akan terus bekerja untuk

perusahaan karena mereka menginginkanya.

Dari penjelasan tersebut ada faktor antesenden yang membentuk yaitu

Kongruen nilai yang merupakan keseuaian antara nilai-nilai personal dan nilai-nilai

organisasi atau system budaya suatu organisasi. Dimana adanya penerapan dari

nilai perusahaan seperti tanggung jawab, kejujuran dan professional pekerjaan.

Ketika individu mampu melakukan penyesuaian atau bisa setara dengan nilai nilai

organisasi akan mempengaruhi hasil-hasil positif seperti kepuasan bekerja, kinerja

yang meningkat serta berkurang nya tekanan.

Adapun antesenden berikut nya yaitu karakteristik pribadi Meliputi kepribadian

dan lokus kendali .Kepribadian merupakan kombinasi karakteristik fisik dan

mental yang stabil dan memberikan identitas kepada invidu sementara lokus

kendali merupakan keyakinan seseoranh mengendalikan peristiwa dan konsekuensi

yang mempengaruhi hidup seseorang contohnnya ,memiliki kepribadian ektraversi

karakteristik nya senang bergaul, suka berbicara dan mudah bersosialisasi. Sifat

berhati hati mempunyai karakteristk dapat diandalkann, bertanggung jawab,

berorientasi pada pencapaian, tekun.

Antesenden yang terakhir dari komitmen afektif yaitu pengalaman bekerja

merupakan merupakan sifat empiris yang di rasakan oleh individu dari pekerjaan

di massa lalu yang bersifat positif seperti orang tersebut pernah melaporkan kasus
14

korupsi di kantor terdahulu maka tindakan yang sama akan di lakukan juga pada

tempat kerja yang lain.

1) Komitmen Kontinuan

Komitmen kontinuan merupakan kesadaran akan kerugian karena

meninggalkan perusahaan. Individu yang hubungan dasarnya dengan perusahaan

pada komitmen kontinuan tetap harus bekerja karena tidak ada pilihan lain, jika

meninggalkan pekerjaan ini serta dapat menyebabkan kerugian.

Dari penjelasan tersebut ada factor antesenden yang mempengaruhi komitmen

continuan, yaitu kurangnya alternatif pekerjaan merupakan tidak adanya alternatife

pekerjaan lain selain pekerjaan sekarang yang membuat ketika meninggalkan

adalah suatu kerugian. Yang terakhir yaitu investasi meruapakan segala sesuatu

yang memperngaruhi jumlah nyata(kekayaan, tunjangan-tunjangan) dan psikologis

yang dimiliki seseorang dalam organisasi, sehingga ketika individu meninggalkan

organisasi akan mempengaruhi kekayaan serta kesejahtraan nya akan tetapi ketika

dia tidak keluar maka akan mendapatkan perekonomian yang mapan di karena

pendapatan atau bayaran dari organisasi tersebut.

2) Komitmen Normative

Komitmen normative merupakan pencerminan perasaan tanggung jawab untuk

bekerja. Individu yang memiliki komitmen normatif yang tinggi merasa bahwa

mereka harus tetap bekerja di perusahaan karena adanya tanggung moral kepada

pemberi kerja. Adapun antesenden pembentuk koitmen normative yaitu Sosialisasi

Merupakan proses ketika seseorang mempelajari nilai-nilai norma-norma dan

perilaku yang dibutuhkan yang memperbolehkan dirinya berpartspasi sebagai

anggota organisasi, secara terkhsusus hal tersebut berkaitan dengan sebuah


15

mekanisme kunci yang di gunakan oleh organisasi untuk melekatkan nilai-nilai

organisasi, singkatnya sosialisasi merupakan pengubahan orang-orang luar menjadi

orang dalam yang sepenuhnya berpungsi untuk memperkuat nilai-nilai dan

kepercayaan organisasi, selanjutnya kontrak psikologis yaitu persepsi seseorang

mengenai syarat dan ketentuan dari pertukaran timbal balik dengan pihak lain.

Dalam lingkungan organisasi , kontrak psikologis menunjukan keyakinan pegawai

mengenai apa yang akan dia terima atas apa dia berikan pada perusahaan contoh,

ketika seorang pegawai melaporkan suatu pelanggaran maka pegawai tersebut akan

di berikan bonus gajih. Itu adalah contoh dimana hubungan timbal balik antara

organisasi dan perusahaan.

Adapun pendapat lain tentang komponen pembentuk dari komitmen organisasi

robins (2010) mengemukakan bahwa komitmen organisasi terbentuk dari 3 faktor

yaitu:

1) Komitmen afektif

2) Komitmen kontinuan

3) Komitmen afeksi

Komitmen-komitmen organisasi jika dijabarkan adalah sebagai berikut:

1) Komitmen Afektif

Merupakan perasaan emosional untuk organisasi dan keyakinan dalam nilai

nilai nya . sebagai contoh , seorang karyawan Petco mungkin memiliki komitmen

aktip karena keterlibatan dengan hewan hewan yang titipkan oleh para pemilik.

Melihat contoh di atas bagaimana keterlibatan karyawan dalam perusahaan

berpengaruh terhadap komitmen organisasi sehingga mereka merasa adanya


16

keterikatan secara emosional serta nilai karena selalu di libatkan dalam setiap

pekerjaan.

2) Komitmen Kontinuan

Merupakan nilai ekonomi yang di rasa dari bertahan dalam suatu organisasi

bila di bandingkan dengan meninggalkan organisasi tersebut. Contoh , seorang

karyawan mungkin berkomitmen kepada pemberi kerja karena dia di bayar tinggi

dan merasa pengunduran diri dari perusahaan akan menghancurkan keluarga nya .

Hal tersebut mengemukan bahwa komitmen organisasi di pengaruhi oleh

besaran gaji, karena merasa bahwa gaji yang di dapatkan sudah sesuai dengan

harapan sehingga tidak ada alasan untuk mengundurkan diri, jika mengundurkan

diri akan mengakibatkan suatu kerugian ekonomis bagi individu.

3) Komitmen Normatif

Kewajiban bertahan dalam organisasi karena untuk alasan alasan moral atau

etis. Contoh, seorang karyawan yang memelopori sebuah inisiatif baru mungkin

bertahan dengan seorang pemberi kerja karena ia merasa meninggalkan seseorang

dalam keadaan yang sulit bila ia pergi.

Pendapat diatas mengemukakan bahwa komitmen organisasi di pengaruhi oleh

tanggung jawab moral dari individu terhadap organisasi sehingga seseorang karena

adanya tanggung jawab secara moral oleh individu yang membuat individu harus

bertahan dalam organisasi.

Berdasarkan penjelasan di atas penulis mensintesakan bahwa komitmen

organisasi tidak terbentuk dengan sendirinya namun ada beberapa komponen-

komponen yang membentuk, masing masing komponen di pengaruhi oleh sebuah

tatanan antesenden yang terpisah, dalam konteks ini antesenden adalah sesuatu
17

yang menyebabkan munculnya komitmen organisasi, maka komponen-komponen

komitmen organisasi sebagai berikut:

1. Komitmen Afektif
a) Kongruen nilai
b) Karakteristik pribadi
c) Pengalaman kerja
d) Keterlibatan dalam pekerjaan
2. Komitmen Kontinuan
a) Kurang nya alternative atas pekerjaan
b) Besaran gaji yang di bayar
c) Investasi
3. Komitmen normatif
a) Kontrak psikologis
b) Sosialisasi

2.1.2 Intensi Whistle Blowing

Sebelum membahas intensi whistle blowing maka alangkah baiknya kita

memahami intensi serta whistleblowing tersebut

2.1.2.1 Pengertian Intensi

Jogiyanto (2007) mengemukakan niat tidak selalu statis dan dapat berubah

seiring berjalannya waktu, dapat disimpulkan semakin panjang waktu makan

semakin besar kemungkinan niat seseorang dapat berubah. Konsep theory planned

behavior menjelaskan niat bisa terjadi atas dorongan kepercayaan-kepercayaan

yang dimiliki individu tersebut. Semakin besar kepercayaan perilaku (behavior

belief), kepercayaan normatif (normative belief), dan kepercayaan kontrol (control

belief) maka semakin besar kemungkinan niat berperilaku tersebut.

Adapula keyakinan para ahli yang mendefinisikan niat sebagai keinginan

untuk melakukan perilaku. Sumaryono (2016) mengemukakan niat merupakan

komponen dalam diri individu yang mengacu pada keinginan untuk melakukan

suatu perilaku, sedangkan perilaku adalah tindakan nyata dari keinginan

berperilaku tersebut.
18

Selain itu adapula Sulistiani (2012) yang mengemukakan niat erat kaitannya

dengan motivasi, yaitu dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau

tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan dengan tujuan tertentu, niat yang

baik akan mendorong timbulnya motivasi untuk berbuat baik.

Berdasarkan pengertian teori diatas penulis mengsintesakan niat sebagai

tindakan yang tidak selalu statis dan dapat berubah seiring berjalannya waktu, dapat

disimpulkan semakin panjang waktu makan semakin besar kemungkinan niat

seseorang dapat berubah adapun dorongan kepercayaan-kepercayan yang dimiliki

individu tersebut. Semakin besar kepercayaan perilaku (behavior belief),

kepercayaan normatif (normative belief), dan kepercayaan kontrol (control belief)

maka semakin besar kemungkinan niat berperilaku tersebut.

2.1.2.2 Faktor Faktor yang Mempengaruhi intensi

Tingkah laku seseorang dapat dipengaruhi oleh adanya niat seseorang untuk

melakukan perilaku tertentu dipengaruhi oleh beberapa beberapa faktor menurut

Jogiyanto (2007) sebagai berikut

1) Sikap
2) Norma norma subyektif
3) Kontrol perilaku persepsian
Jogiyanto (2007) sikap merupakan evaluasi kepercayaan (believ) atau perasaan

positif atau negatif dari seseorang jika harus melakukan perilaku yang akan

ditentukan. Sementara itu Hidayat (2010) mendefinisikan sikap sebagai perasaan

mendukung atau memihak atau perasaan tidak mendukung atau tidak memihak

terhadap suatu objek yang akan disikapi tersebut. Selain itu adapula norma-norma

subyektif, merupakan keyakinan individu mengenai harapan orang orang sekitar


19

yang berpengaruh baik perorangan ataupun perkelompok untuk menampilkan

perilaku tertentu atau tidak adapula faktor lain adalah Kontrol perilaku persepsian.

Jogiyanto (2007) mendefinisikan sebagai kemudahan atau kesulitan persepsian

untuk melakukan perilaku. Menurut Ajzen semakin besar sumber daya, kesempatan,

kepercayaan yang individu miliki, dan makin sedikit hambatan atau rintangan yang

mereka antisipasi untuk terjadi, semakin besar kemungkinan perilaku tersebut akan

dilakukan. Aturan umumnya adalah, semakin menarik sikap dan norma subyektif

terhadap suatu perilaku, dan semakin besar kontrol perilaku persepsian, semakin

kuat minat seseorang untuk melakukan perilaku yang sedang dipertimbangkan

(Jogiyanto, 2007). Dan faktor terakhir adalah pemahaman. Jogiyanto (2007)

mengemukakan pemahaman merupakan kondisi bagaimana seseorang

mempertahankan, membedakan, menduga, menerangkan, memperluas,

menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali,

dan memperkirakan. Seseorang yang memiliki pemahaman mampu menyimpulkan

atau menerangkan kembali terhadap sesuatu objek yang di pahami.

Berdasarkan penjelasan diatas mengenai faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi niat penulis mengsintesakan niat merupakan tindakan seseorang

ingin atau tidak melakukan dan dapat didorong oleh faktor-faktor seperti sikap,

norma-norma subyektif, kontrol perilaku persepsian dan yang terakhir adalah

pemahaman individu tersebut.

2.1.2.3 Definisi Whistle Blowing

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) (2008)

menyatakan bahwa Pelaporan pelanggaran (whistleblowing) adalah pengungkapan

tindakan pelanggaran atau pengungkapan perbuatan yang melawan hukum,


20

perbuatan tidak etis/tidak bermoral atau perbuatan lain yang dapat merugikan

organisasi maupun pemangku kepentingan, yang dilakukan oleh karyawan atau

pimpinan organisasi kepada pimpinan organisasi atau lembaga lain yang dapat

mengambil tindakan atas pelanggaran tersebut. Pengungkapan ini umumnya

dilakukan secara rahasia (confidential).

Menurut Boone and Kurtz (2000) menyatakan bahwa whistleblowing

merupakan pengungkapan seorang karyawan kepada badan pemerintah yang

berwenang atau media mengenai praktik-praktik organisasi yang illegal, amoral

atau tidak etis. Menurut Keraf (1998) bahwa Whistleblowing adalah tindakan oleh

seorang atau beberapa orang karyawan untuk membocorkan kecurangan entah yang

dilakukan perusahaan atau atasan kepada pihak lain.

Berdasarkan dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

Whistleblowing adalah merupakan pengungkapan oleh beberapa orang karyawan

untuk membocorkan praktik-praktik illegal, tidak bermoral atau melanggar hukum

yang terjadi di dalam organisasi tempat mereka bekerja dan dilakukan secara

rahasia.

Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran KNKG (2008) Whistleblowing

System adalah bagian dari sistem pengendalian internal dalam mencegah praktik

penyimpangan dan kecurangan serta memperkuat penerapan praktik good

governance.

Menurut Semendawai (2011) Whistlebolwing system dapat digunakan oleh

perusahaan maupun dalam mengembangkan manual system pelaporan pelanggaran

di masing-masing perusahaan. Whistleblowing system menyediakan akses 24 jam

dan 365 hari setahun yang dilengkapi dengan interview yang handal, agar
21

whistleblower dapat melaporkan sesuatu pelanggaran atau tindak pidana, tentu

diperlukan saluran komunikasi langsung atau khusus kepada pimpinan eksekutif

atau Dewan Komisaris.

Bedasarkan dari beberapa definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

Whistleblowing system adalah suatu system pelaporan pelanggaran untuk

mencegah bentuk-bentuk kecurangan yang berada di dalam suatu perusahaan.

2.1.2.4 Tujuan Whistleblowing System

Menurut Semendawai (2011) tujuan dari Whistleblowing system adalah untuk

mengungkap tindak pelanggaran atau pengungkapan yang melanggar hukum,

perbuatan tidak etis atau tidak bermoral atau perbuatan lain yang merugikan

organisasi maupun pemangku kepentingan, yang dilakukan oleh karyawan atau

pemimpin organisasi kepada pemimpin oraganisasi atau lembaga lain yang dapat

mengambil tindakan atas pelanggaran tersebut.

2.1.2.5 Manfaat Whistleblowing System

Adapun manfaat whistleblowing system menurut Komite Nasional Kebijakan

Governance (2008), antara lain:

1) Tersedianya cara penyampaian informasi penting dan kritis bagi perusahaan

kepada pihak yang harus segera menanganinya secara aman.

2) Timbulnya keengganan untuk melakukan pelanggaran, dengan semakin

meningkatnya kesediaan untuk melaporkan terjadinya pelanggaran, karena

kepercayaan terhadap sistem pelaporan yang efektif.

3) Tersedianya mekanisme deteksi dini (early warning system) atas kemungkinan

terjadinya masalah akibat suatu pelanggaran.


22

4) Tersedianya kesempatan untuk menangani masalah pelanggaran secara

internal terlebih dahulu, sebelum meluas menjadi masalah pelanggaran yang

bersifat publik.

5) Mengurangi resiko yang dihadapi organisasi, akibat dari pelanggaran baik dari

segi keuangan, operasi, hukum, keselamatan kerja, dan reputasi.

6) Mengurangi biaya dalam menangani akibat dari terjadinya pelanggaran.

7) Meningkatnya reputasi perusahaan di mata pemangku kepentingan, regulator,

dan masyarakat umum.

8) Memberikan masukan kepada organisasi untuk melihat lebih jauh area kritikal

dan proses kerja yang memiliki kelemahan pengendalian internal, serta untuk

merancang tindakan perbaikan yang di perlukan.

Memberikan masukan kepada organisasi untuk melihat lebih jauh area kritikal

dan proses kerja yang memiliki kelemahan pengendalian internal, serta untuk

merancang tindakan perbaikan yang diperlukan.

2.1.2.6 Jenis-jenis Whistleblowing

Menurut Brandon (2013), terdapat dua jenis whistleblowing, yaitu:

1) Whistleblowing internal

Terjadi ketika seseorang atau beberapa orang karyawan mengetahui

kecurangan yang dilakukan oleh karyawan lain atau kepala bagiannya, kemudian

melaporkan kecurangan itu kepada pimpinan perusahaan yang lebih tinggi.

Motivasi utama whistleblowing adalah motivasi moral demi mencegah kerugian

bagi perusahaan tersebut.


23

2) Whistleblowing eksternal

Whistleblowing eksternal menyangkut kasus dimana seorang pekerja

mengetahui kecurangan yang dilakukan perusahaannya lalu membocorkan kepada

masyarakat karena dia tahu bahwa kecurangan itu akan merugikan masyarakat.

Motivasi utamanya adalah mencegah kerugian bagi masyarakat atau konsumen.

2.1.2.7 Faktor-faktor Melakukan Whistleblowing

Dan menurut Schultz (1993) dalam Gandamihardja (2016) seseorang akan

melakukan whistleblowing di lihat berdasarkan keseriusan kasus, tanggung jawab

untuk melaporkan pelanggaran, intensi responden untuk melakukan tindakan

whistleblowing.

1) Keseriusan Karyawan Melaporkan Kasus Fraud

Menurut Keraf (2000) seseorang yang berkeinginan melakukan

whistleblowing maka dia harus melihat apakah kasus yang di laporkan itu sesuai

dengan kriteria pelanggaran atau kecurangan yang terjadi, seperti jenis kecurangan

korupsi, penyalah gunaan asset dan dampak kerugian bagi organisasi haruslah

besar, serius dan berakibat merugikan orang banyak. melihat keuntungan serta

kerugian organisasi tersebut dalam jangka pendek atau pun panjang akibat

kecurangan tersebut.

2) Tanggung Jawab Untuk Melaporkan

Menurut Semendawai (2011), dalam kasus whistleblowing kebanyakan dari

para karyawan atau siapapun yang mengetahui adanya kecurangan tidak melakukan

tindakan apa apa. hal tersebut karena adanya ancaman pembaalasan yang dia

terima. Dalam system social dimana melakukan whistle akan menempatka

karyawan dalam posisi yang sulit, secara moral aparatur desa untuk memutuskan
24

sendiri apakah membocorkan kecurangan itu atau tidak mebocorkan kecurangann

itu. Semendawai (2011) menyatakan bahwa seseorang akan bertanggung jawab

melaporkan pelanggaran apabila pilhan etis yang kuat merupakan dasar daari segala

motif whistleblower dalam mengungkap kejahatan dengan nilai nilai moralitas,

Komitmen professional dan sikap di yakini, seseorang whistleblower akhirnya

mampu “mendobrak” berbagai kejahatan yang biasanya terlindung secara rapi dan

terorganisir. dengan malaporkan kejahatan atau pelanggaran dengan disertai bukti

bukti, maka dapat mengungkap pelanggaran di Lembaga atau intansi. Serta

berlakunya system pelanggaran dan perlindungan dapat mendorong keberanian

seseorang untuk turut menjadi pengungkap fakta (Semendawai,2011)

3) Intensi responden untuk melakukan tindakan whistleblowing

Menurut Semendawai, dkk (2011;25) seseorang ingin melakukan tindakan

whisteblowing apabila dia mempunyai motif, motif itikad baik ingin

menyelamatkan Lembaga, persaingan pribadi. Apabila di suatu Lembaga menjaga

aspek kerahasiaan identitas whistleblower menjamin bahwa whistleblower dapat

perlakuan yang baik, seperti tidak di asingkan atau di pecat, perlu di pegang oleh

pimpinan oleh pimpinan eksekutif dan badan pengawas sangat penting. Dengan

demikian, peran pimpinan eksekutif dan badan pengawas sangat penting. Pimpinan

eksekutif atau badan pengawas juga berperan sebagai orang ya melindungi

whistleblower.

2.1.3 Pencegahan Fraud

Fraud berperngaruh secara langsung terhadap keuntungan perusahaan.

Sementara perusahaan bessar mungkin dapat bertahan akibat enam atau tujuh

macam fraud, sebuah perusahaan kecil atau organisasi nirlaba mungkin tidak akan
25

pernah dapat bertahan. Untuk bertahan dalam pasar yang kompetitif saat ini,

perusahaan harus proaktif dalam memerangi fraud. Ketika akuntan memikirkan

pencegahan fraud, mereka berpikir pengendalian intern. Pihak luar bertanya “Apa

yang dimaksud pengendalian intern?” pengendalian intern adalah seperangkat

aturan dan prosedur yang mengendalikan berjalannya perusahaan. Secara teori jika

prosedur ditetapkan dengan benar dan semua orang mengikutinya, kesalahan

terhindar dari fraud.

Masalahnya adalah orang yang melakukan fraud seringnya adalah orang yang

menganggap pengendalian intern sebagai bagian dari agenda mereka sendiri.

Mereka melanggar aturan ketika mereka melakukan fraud, dan kemudian biasanya

melanggar lebih banyak peraturan untuk menutupi fraud. Jadi Pengendalian Intern

ketika ditetapkan dengan benar dapat mencegah banyak fraud. Maka dari itu dalam

memahami pencegahan fraud maka alangkah baiknya kita mengenali definisi

pencegahan fraud itu sendiri . penjelasan akan di uraikan sebagai berikut:

2.1.3.1 Pengertian Fraud

Fraud merupakan suatu tindakan kecurangan yang di lakukan oleh seseorang secara

illegal atau melanggar hukum , adapun pendefinisian lain menurut para ahli sebut

saja teori tuankotta , ASA , ACFE maka di jelaskan seperti berikut ini:

Fraud menurut tuanakotta (2013) ialah:

“Any illegal act characterized by deceit. Concealment or violation


of trust. These acts are not dependent upon the application of
threats of violence or physical force. Fraud are perpetrated by
individuals, and organization to obtain money, property or service.
To avoid payment or lossof services, or to secure personal o
business advantage”.
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa fraud ialah setiap tindakan illegal yang

ditandai dengan tipu daya, penyembunyian atau pelanggaran kepercayaan.


26

Tindakan ini tidak tergantung pada penarapan ancaman kekerasan atau kekuatan

fisik. Penipuam yang dilakukan oleh individu dan organisasi untuk memperoleh

uang, kekayaan atau jasa untuk menghindari pembayaran atau kerugian jasa atau

untuk mengancam keuntungan bisnis pribadi.

Menurut standar audit ASA 240 yang dikutip oleh Coram , et al. (2008)

pengertian kecurangan adalah sebagai berikut :

“An Internasional act by one or more individuals among


management, those charged with governance, employees, or third
parties, involving the use of deception to obtain an unjust or illegal
advantage”.

Pernyataan tersebut menyatakan bahwa kecurangan adalah suatu tindakan yang

sengaja dilakukan oleh satu atau lebih individual dari manajemen yang terdiri dari

pihak pemerintah, karyawan dan pihak ketiga, yang melakukan tindak penipuan

untuk mendapatkan keuntungan secara illegal.

Menurut ACFE yang di kutip tommic and Singleton Aron (2006) fraud adalah

seseorang yang menggunakan pekerjaannya untuk memproleh dengan cara

penyalahgunaan atau mencuri sumber daya atau asset perusahaan.

Berdasarkan dari definisi para ahli di atas maka dapat di sintesakan bahwa

fraud adalah suatu tindakan penipuan atau pencurian sumber daya maupun asset

perusahaan yang di lakukan secara illegal.

2.1.3.2 Faktor Terjadinya Fraud

Lalu bagaimana fraud dapat terjadi , fraud dapat terjadi karena adanya tekanan

, peluang dan rasionalisasi atau yang kita kenal dengan segitiga fraud . pelaku fraud

biasa nya memaanfaatkan kelemahan dari perusahaan dan jabatan mereka. ini

sejalan dengan penetian creesey sebagai berikut:


27

Menurut creesey (1950) yang di kutip tommic and Singleton Aron (2006)

fraud terjadi karena adanya 3 hal yaitu:

1) Preasure (tekanan)

2) Opportunity(kesempatan)

3) Rationalization (rasionalisasi)

Sebagaimana penjelasannya adalah sebagai berikut :

Tekanan atau motivasi merupakan kejadian yang terjadi dalam kehidupan

pribadi seseorang sehingga mengakibatkan orang tersebut memiliki kebutuhan

yang sangat mendesak. Yang pada akhir nya mendorong seseorang untuk

melakukan pencurian. Biasanya keaadaan ini didorong oleh kebutuhan finansial ,

social dan politik dimana seseorang melakukan hal agar posisi kekuasaan nya dapat

di amankan dan kebutuhan untuk memenuhi status sosialnya sebagai orang kaya .

Opportunity (kesempatan). Dalam peneltian (cressy) menyatakan bahwa adanya

pengetahuan dan kesempatan yang di miliki oleh pelaku dalam menganalisa atas

kelemahan perusahaan yang di proleh karena pelaku berada posisi yang sangat di

strategis di perusahaan tersebut. Rationalization (rasionalisasi) merupakan alasan-

alasan di ungkapkan pelaku fraud sebagai pembenaran atas tindakan yang

dilakukannya.

2.1.3.3 Langkah-langkah Pencegahan fraud

Dimana segitiga fraud merupakan faktor-faktor kecurangan dalam setiap

perusahaan dalam hal ini maka perusahaan harus melakukan langkah pencegahan

kecurangan baik keuangan ataupun sumber daya yang ada dalam perusahaan

tersebut , tujuan pencegahan kecurangan sangat penting karena untuk

mengamankan asset yang ada dan menghindari perusahaan tersebut dari


28

kebangkrutan .pengendalin internal sangat penting dalam pencegahan fraud itu

sendiri namun tetap saja kadang masih terjadi kecurangan karena masalah nya

adalah orang orang tersebut menggangap pengendalian internal sebagai agenda

mereka sendiri . maka pandangan para ahli agar perusahaan dapat mencegah fraud,

perusahaan harus melakukan upaya upaya atau langkah langkah untuk mencegah,

berikut adalah langkah langkah pencegahan fraud :

Menurut Mark F.Zimbelman dan Conan C.Albrecht (2014;435) dalam

pencegahan Fraud harus menerapkan langkah langkah berikut yaitu

1. Menciptakan budaya kejujuran dan memberi dukungan


a) Memperkejakan orang yang jujur dan memberikan pelatihan kecurangan
b) Menciptakan lingkungan kerja positif
c) Implementasi program dukungan pegawai
2. Mengeliminasi kesempatan terjadinya kecurangan
a) Memiliki pengendalian internal yang baik
b) Mengurangi kerjasama antar pegawai dan pihak lain serta memberitahu
kontraktor terkait kebijakan perusahaan
c) Mengawasi pegawai dan mengimplementasikan saluran pengaduan
d) Membuat ekpetasi hukuman
e) Auditing kecurangan secara proaktip

Organisasi yang menggunakan langkah-langkah dan teknik di atas telah secara

signifikan mengurangi permasalahan kecurangan dibandingkan dengan yang tidak.

Perusahaan yang telah bekerja keras mengimplementasikan langkah-langkah ini

telah mengurangi kecurangan yang di ketahui terjadi rata-rata senilai lebih dari $20

juta pertahun menjadi $1 juta pertahun (Mark F.Zimbelman dan Conan C.Albrecht

2014;455). Penjelasan dari langkah langkah diatas sebagai berikut:

1) Menciptakan budaya kejujuran, keterbukaan dan memberi dukungan

Dalam menciptakan komponen ini perusahaan harus memperkerjakan orang

yang jujur dan memberi pelatihan kesadaran akan adanya kecurangan, hal tersebut

berkaitan dengan proses penyaringan terhadap calon pelamar kerja secara effektif
29

dan jujur dalam aspek ini bagaimana perusahaan memiliki standarisasi atas

rekruitmen pegawai, sehingga hanya calon pegawai yang jujur yang dapat diterima

dalam bekerja, serta perusahaan memberikan pelatihan kepada para karyawan

tentang bahaya ketika melakukan kecurangan atau pun cara mengatasi kecurangan,

sehingga karyawan mampu melihat ciri ciri red flags yang mengakibatkan

karyawan bersedia untuk melaporkan red flags tersebut kepada pihak yang

berwenang.

Lingkungan kerja yang postif tidak terjadi secara otomatis; mereka harus di

pupuk ada 2 elemen yang berkontribusi dalam penciptaan lingkungan kerja yang

positif yaitu menciptakan ekpetasi terkait kejujuran melalui kode etik yang di miliki

organisasi dan kemudian menyampaikan nya kepada seluruh karyawan, lalu dari

pada itu perusahaan memiliki kebijakan dan prosedur yang transparan. Hal terakhir

yang menjadi indiaktor implementasi program dukungan pegawai (EAP) dalam

segitiga fraud ada faktor tekanan, hal tersebut dapat diatasi dengan adanya program

EAP yang berguna untuk mengurangi tekanan kepada para pegawai sehingga

perusahaan dapat membantu pegawai menangani penyalahgunaan subtansial

seperti permasalahan alcohol, perjudian, manejemen uang dan hal lainnya.

2) Mengeliminasi kesempatan terjadinya kecurangan

Segitiga fraud di perkenalkan untuk menjelaskan mengapa fraud terjadi, ketika

segitiga fraud bergabung. Kemungkinan kecurangan meningkat drastis namun jika

satu dari ketiga faktor tersebut hilang kecurangan akan berkurang. Maka dari

perusahaan harus dapat mengeliminasi kesempatan terjadi nya kecurangan. ada

beberapa hal yang dapat membantu upaya mengeliminasi terjadi fraud.


30

Memiliki system pengendalian internal dapat mempengaruhi kesadaran orang

orang yang ada di dalamnya sehingga tidak mau melakukan fraud dimana

perusahaan melakukan pemisahan tugas, otorisasi yang sesuai , memiliki

pengendalian fisik, pengecekan independen serta memiliki system dokumentasi

yang baik. Sebagaimana di kemukakan COSO lingkungan pengendalian internal

yang baik menentukan sifat organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalian

orang-orang di dalamnya

Elemen kedua mengurangi kerja sama pegawai dan pihak lain dan

memberitahu pemasok dan kontraktor terkait kebijakan perusahaan merupakan

langkah untuk menghindari kolusi diantara pegawai serta pihak kontraktok, dalam

hal ini perusahaan harus mampu untuk mensosialisasikan kebijakan dari organisasi,

sehingga timbulah system keterbukaan kepada stakeholder yang ada, Hal lainnya

dalam mengeliminasi adalah dengan melakukan pengawasan secara langsung dan

adanya system whistleblowing, kebijakan tersebut sangat berpotensi untuk

menurunkan dan mencegah fraud karena dengan adanya pengawasan secara

langsung akan muncul rasa takut dari para pegawai untuk melakukan tindakan

penyimpangan serta system whistleblowing merupakan langkah yang effektif

dimana dalam study yang dilakukan oleh Deloite menyatakan bahwa 33%

pendeteksian kecurangan didapatkan dari laporan pegawai. Pendapat tersebut

mengemukakan bahwa peranan system whistleblowing sangat tinggi untuk

mencegah fraud, karena keterlibatan seluruh karyawan untuk melakukan

pengawasan kepada karyawan lain. Pada sisi lain langkah yang harus di terapkan

oleh perusahaan adalah dengan membuat ekspektasi hukuman, hal tersebut untuk

membuat rasa takut kepada para pegawai yang akan melakukan tindakan
31

kecurangan. pegawai di berikan ekpetasi ketika membuat kecurangan akan di

hukum ataupun diberi sanksi yang berat seperti contoh berlaku tidak jujur atau

peminjaman serta pembelian yang tidak terotorisasi oleh perusahaan tidak dapat di

toleransi dan sebagai sanksi di pecat dari perusahaan.

Hal terakhir dalam mengeliminasi kecurangan adalah dengan melakukan audit

kecurangan secara proaktif, top manajemen ataupun auditor internal melakukan

tindak lanjut terhadap segala sesuatu yang di anggap mencurigakan dan adanya

audit secara berkala, supaya dapat membuat takut para pegawai untuk tidak

melakukan kecurangan karena setiap bentuk kecil kecurangan akan di tindak lanjuti

dan tindakan para pegawai selau. Audit secara proakatif melingkupi audit

keuangan, operasional dan kepatuhan serta investigasi.

2.2 Kerangka Pemikiran dan Pengembangan Hipotesis

2.2.1 Pengaruh komitmen organisasi Terhadap Pencegahan Fraud

Komitmen terhadap organisasi bukan hanya sekedar keanggotaan formal,

karena meliputi sikap meyukai organisasi dan kesediaan untuk melakukan tindakan

yang berdampak positif bagi organisasi demi terwujudnya visi ataupun tujuan

organisasi (robins.2010). Pernyataan tersebut mengemukakan individu dengan

komitmen organisasi tinggi akan mempengaruhi tindakan dalam pekerjaan

sehingga seseorang akan bereaksi terhadap sesuatu yang dapat merugikan

organisasi karena merasa adanya keterikatan emosional dengan organisasi. hal ini

sejalan dengan pendapat Robert kreitner & angelo Kinicki (2014) sebagaimana

dikemukakan bahwa komitmen organisasi merupakan pencerminan tingkatan

dimana seseorang mengenali sebuah organisasi dan terikat pada tujuan tujuannya .

komitmen organisasi ini merupakan sikap kesediaan untuk bekerja lebih keras demi
32

mencapai tujuan organisasi dan memiliki hasrat yang lebih besar untuk tetap

bekerja di suatu perusahaan.

Menurut Robert kreitner & angelo Kinicki (2014) ketika individu mampu

melakukan penyesuaian atau bisa setara dengan nilai nilai organisasi akan

mempengaruhi hasil-hasil positif seperti kepuasan bekerja, kinerja yang meningkat

serta berkurangnya tekanan. Hal tersebut sejalan dengan pencegahan fraud dimana

mengeliminasi adanya tekanan kepada para pegawai, sehingga karyawan yang

memiliki komitmen organisasi tinggi akan dapat menghindari bentuk bentuk

kecurangan yang dilakukan atas dasar tekanan dari pihak ekternal maupun internal

dan individu akan lebih mampu untuk ikut terlibat dalam pencegahan fraud pada

organisasi.

Pernyataan tersebut di buktikan oleh penelitian Anggit Purwitasari (2013)

mengemukakan terdapat pengaruh postif komitmen organisasi terhadap

pencegahan fraud. membuat karyawan terlibat dalam tugas aktivitas dan manfaat

serta merasakan kenyamanan di dalamnya dan memdukung nilai nilai, visi dan misi

organisasi dalam mencapai tujuan nya sehingga karyawan tersebut akan memiliki

ikatan emosional atau nilai yang sama dari bagian organisasi tersebut dapat

mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya tindak kecurangan.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat di ajukan hipotesis sebagai berikut:

H1: Komitmen Organisasi Berpengaruh Terhadap Pencegahan Fraud

2.2.2 Pengaruh Intensi Whistleblowing Terhadap Pencegahan Fraud

Sumaryono (2016) mengemukakan niat merupakan komponen dalam diri

individu yang mengacu pada keinginan untuk melakukan suatu perilaku, sedangkan

perilaku adalah tindakan nyata dari keinginan berperilaku tersebut. aparatur


33

melakukan tindakan whistleblowing di landasi adanya keinginan serta motivasi

dalam diri yang terimplementasi pada satu tindakan nyata. Adanya intensi untuk

melakukan whistleblowing, maka aparatur ikut terlibat dalam pencegahan fraud.

Hal tersebut selaras dengan penelitian yang di lakukan oleh Deloite(singleton and

aron, 2006) dimana factor terbesar pencegahan fraud pada pelaporan oleh pihak

karyawan sebesar 33%.

Intensi whistleblowing pada aparatur desa sangat penting, karena dengan

adanya keterlibatan serta keinginan untuk mengungkapkan pelanggaran dapat

membuat lebih effektifnya pencegahan fraud dalam lingkungan desa. Seseorang

yang mempunyai intensi whistleblowing yang tinggi cenderung lebih berani untuk

melaporkan pelanggaran karena memiliki komitmen professional dan sikap yang di

yakini bahwa melaporkan kecurangan merupakan tindakan yang benar

Semendawai (2011).

Hal tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian yang d lakukan oleh (Made

Indra Dwi Putra Suastawan,) terdapat pengaruh postif intensi whistleblowing

terhadap pencegahan fraud dengan berdasarkan penjelasan di atas maka dapat

diajukan hipotesis sebagai berikut:

H2: Intensi Whitleblowing Berpengaruh Terhadap Pencegahan Fraud.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat digambarkan model analisis yang

menjelaskan hubungan antara variabel dependen dengan independen dalam

penelitian ini. Bagan kerangka pemikiran adalah sebagai berikut:


34

Komitmen
Organisasi

Pencegahan
Fraud

Intensi
Whistleblowing

Gambar 2. 2
Kerangka Pemikiran
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek dan Metode Penelitian yang Digunakan

3.1.1 Objek Penelitian

Objek penelitian merupakan sesuatu yang menjadi perhatian dalam suatu

penelitian, objek penelitian ini menjadi sasaran dalam penelitian untuk

mendapatkan jawaban ataupun solusi dari permasalahan yang terjadi. Adapun

pengertian objek penelitian menurut Sugiyono (2012:13) adalah objek penelitian

adalah sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu

tentang sesuatu hal objektif, valid, dan reliable tentang suatu hal (variabel tertentu).

Sedangkan menurut Suharsini Arikunto (2009:15) objek penelitain adalah variabel

penelitian yang merupakan inti dari problematika dalam penelitian tersebut.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa objek penelitian

adalah sasaran atau titik perhatian dalam suatu penelitian. Objek penelitian yang

diteliti yaitu komitmen organisasi , intensi whistleblowing serta pencegahan fraud.

Penelitian ini akan dilakukan kepada 4 jabatan ataupun bidang dalam kantor

desa sebagai subyek penelitian yaitu : kepala desa, kepala urusan keuangan , kepala

seksi pelayanan, kepala seksi kesejahtraan. Data kecamatan secara keseluruhan di

Kab.Bandung ada 31 kecamatan, dalam penelitian ini terdapat 3 kecamatan serta

12 desa yang berada di ketiga kecamatan tersebut sebagai sampel penelitian

diantaranya ada Kecamatan Pamengpeuk yang terdiri dari 6 desa dan dijadikan

sampel penelitian sebanyak 5 desa, Kecamatan Banjaran yang terdiri dari 11 desa

dijadikan sampel sebanyak 3 desa dan terakhir Kecamatan Baleendah yang terdiri

19
dari 8 desa di jadikan sampel sebanyak 3 desa. Untuk penjelasan terkait struktur

dan nama desa lebih jelas telihat pada gambar dan bab 3 tentang populasi yang

menjadi subyek penelitian skripsi ini.

Gambar 3.1
Struktur Kantor Desa

3.1.2 Metode Penelitian yang Digunakan

Menurut Sugiyono (2012:2) pengertian metode penelitian merupakan cara

ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode

penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan

verifikatif. Menurut Sugiyono (2012:29) metode deskriptif, adalah metode yang

digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi

tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dijelaskan bahwa motode deskriptif

verifikatif merupakan metode yang bertujuan mengumpulkan data, mengolah,

menganalisis dan menginterprestasi hasil penelitian serta menjelaskan tentang

hubungan antar variabel yang diteliti dengan cara pengujian hipotesis statistik.
Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif ini dapat diperoleh

deskripsi mengenai bagaimana pengaruh komitmen organisasi dan intensi

whistleblowing terhadap pencegahan fraud. Sedangkan penelitian verifikatif

dimaksudkan untuk menguji teori dengan pengujian suatu hipotesis apakah

diterima atau ditolak.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif

verifikatif dengan pendekatan survey melalui teknik pengumpulan data dengan

kuisioner yang disebarkan kepada aparatur di 11 desa kantor desa, yang terlingkupi

oleh 3 kecamatan di wilayah kab.Bandung. Penelitian ini dimaksudkan untuk

menguji pengaruh komitmen organisasi dan intensi whistleblowing terhadap

pencegahan fraud

3.1.2 Definisi dan Pengukuran Variabel Penelitian

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang terbentuk apa

saja yang di tetapkan oleh peneliti untuk di pelajari sehingga diperoleh informasi

tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (sugiyono, 2017:38)

Dalam penelitian ini variabel-variabel penelitian diklasifikasikan menjadi dua

kelompok variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen. Variabel

dependen pada penelitian ini adalah pencegahan fraud. Sedangkan variabel

independen adalah komitmen organisasi dan intensi whistleblowing

3.1.3 Variabel Bebas

Variabel independen sering disebut sebagai variabel stimuls, predictor,

antecedent. dalam Bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas. Variabel

bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan

atau timbulnya variabel dependen atau terikat (Sugiyono,2017:39).


Dalam penelitian ini, variabel independen yang digunakan penulis yaitu

komitmen organisasi sebagai variabel independen pertama (x1), whistleblowing

variabel independen kedua (x2), adapun penjelasan sebagi berikut:

a. Komitmen organisasi

Menurut robins, Robert kreitner & angelo Kinicki (2014) komitmen organisasi

merupakan pencerminan tingkatan dimana seseorang mengenali sebuah organisasi

dan terikat pada tujuan tujuan nya.

Robins dan Robert kreitner merumuskan ada 3 dimensi :

1) Komitmen Afektif

a) Kongruen nilai

b) Karakteristik pribadi

c) Pengalaman kerja

d) Keterlibatan dalam pekerjaan

2) Komitmen Kontinuan

a) Perserpsi kurang nya alternative atas pekerjaan

b) Besaran gaji yang di bayar

c) Investasi

3) Komitmen normatif

a) Sosialisasi

b) Kontral psikologis

b. Intensi whistleblowing

Menurut Schultz (1993) dalam gandamihardja (2016) seseorang akan

melakukan whistleblowing di lihat berdasarkan keseriusan kasus, tanggung jawab


untuk melaporkan pelanggaran, intensi responden untuk melakukan tindakan

whistleblowing

1) Keseriusan karyawan melaporkan kasus fraud

a. Jenis kecurangan

b. Keinginan melakukan komitmen atas prilaku

2) Tanggung jawab pelapor

a. Pilihan etis/resiko

b. System pelaporan pelanggaran

3) Intensi responden melakukan whistleblowing

a. Motif seseorang

b. Aspek kerahasian identitas whistleblower

c. Pencegahan fraud

Mark f.zimbelman and conan c.albrecht (2014) maka dapat di simpulkan

bahwa dalam pencegahan fraud ada 3 upaya yang dapat di lakukan yang

mempunyai indicator sebagai berikut :

1) Penciptaan budaya kejujuran keterbukaan dan memberi dukungan

a) .Memperkerjakan orang yang jujur dan menyediakan pelatihan kesadaran

akan adanya kecurangan.

b) Menciptakan lingkungan kerja yang positif

c) Mengimplementasikan program EAP

2) Mengeliminasi kesempatan terjadinya kecurangan

a) Memilki system pengendalian internal yang baik

b) Mengurangi kerja sama pegawai dan pihak lain dan memberitahu

pemasok dan kontraktor terkait kebijakan perusahaan

23
c) Mengawasi pegawai dan memiliki system whistle blowing

d) Membuat ekpetasi hukuman

e) Melakukan audit kecurangan secara proaktip

3.1.4 Variabel Terikat

Dalam penelitian ini, variabel dependen yang di gunakan oleh penulis yaitu

intensi whistleblowing, Intensi adalah harapan harapan, keinginan-keinginan,

ambisi, cita-cita rencana-rencana(sujanto,2014:100). Menurut jogiyanto(2007;25)

Whistle blowing adalah tindakan yang di lakukan oleh seorang atau beberapa orang

karyawan untuk membocorkan kecurangan entah yang di lakukan oleh perusahaan

atau atasannya kepada pihak lain.

Pengukuran nya sendiri menggunakan kuesioner dengan mencatumkan 12

pertanyaan kepada para pihak terkait.

Tabel 3. 1
Variabel Operational
VARIABEL DIMENSI INDIKATOR SKALA
a) kongruen nilai
b) Karakteristik pribadi
Komitmen c) Pengalaman Kerja
1. Komitmen Afektif Ordinal
organisasi (x1) d) Keterlibatan dalam
pekerjaan

robins, a) kurang nya alternative atas


Robert kreitner 2. Komitmen Kontinuan pekerjaan
& angelo b) b.besaran gaji
Kinicki (2014) c) c.investasi
3. Komitmen Normatif a) kontrak psikologis
b) sosialisasi
Pencegahan
a. memperkerjakan orang
Fraud
yang jujur dan
(Dependent Y)
2.penciptaan budaya menyediakan pelatihan
kejujuran keterbukaan kesadaran akan adanya
Sumber :
dan memberi dukungan kecurangan.
mark
b) Menciptakan lingkungan
f.zimbelman
kerja yang positif
and conan

24
c.albrecht c) mengimplementasikan
(2014) program EAP
a. memilki system
pengendalian internal yang
baik
b. mengurangi kerja sama
pegawai dan pihak lain dan
memberitahu pemasok dan
3.mengeliminasi kontraktor terkait kebijakan
kesempatan terjadinya perusahaan
kecurangan
c. mengawasi pegawai dan
memiliki system whistle
blowing
d. membuat ekpetasi hukuman
e. melakukan audit
kecurangan secara proaktip

Intensi 1. keseriusan karyawan a) jenis kecurangan Ordinal


Whistle melaporkan kasus fraud b) keinginan melakukan
Blowing komitmen atas prilaku
(x2)

Sumber :
(schltz, 1993)
(keraf, 1998)
(semendawai,
2011)
2.Tanggung jawab a) pilihan etis/resiko Ordinal
pelapor b) system pelaporan
pelanggaran
3.intensi responden a) motif seseorang
melakukan b) aspek kerahasian identitas
whistleblowing whistleblower

3.2 Sumber dan Teknik Pengumpulan Data

3.2.1 Sumber Data

Pada dasarnya terdapat dua jenis sumber data, yaitu sumber data primer dan

sumber data sekunder (Sugiyono, 2013:193). Menurut Sugiyono (2016:225)

sumber primer adalah sumber data yang langsung diberikan data kepada pengumpul

25
data. Sumber sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan

data kepada pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau berbentuk dokumen.

Penelitian ini menggunakan jenis data primer yang diperoleh secara

langsung dari obyek yang diteliti dan dikumpulkan sendiri oleh peneliti secara

langsung dari responden yang dalam hal ini adalah kantor desa kabupate Bandung.

Data primer diperoleh dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang

telah terstruktur untuk diisi oleh responden. Kuesioner adalah satu set pertanyaan

yang telah dirumuskan untuk mencatat jawaban dari responden (Sekaran, 2006).

Dengan sumber langsung tersebut diharapkan dapat benar-benar merepresentasikan

keadaan yang sesungguhnya terjadi di tempat pengambilan sampel. Data primer

dalam penelitian ini berupa:

1) Karakteristik responden yaitu nama, jenis kelamin, usia, posisi jabatan, jenjang

pendidikan dan masa kerja.

2) Jawaban kuesioner responden atas pernyataan tentang pengaruh komirmen

organisasi berpengaruh terhadap pencegahan fraud

3) Jawaban tentang pengaruh intensi whistleblowing terhadap pencegahan fraud

3.2.2 Teknik Pengumpulan Data

Dalam memperoleh data-data pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua

cara yaitu penelitian pustaka dan penelitian lapangan.

1) Penelitian pustaka (Library Research)

Peneliti memperoleh data yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti

melalui buku, jurnal, skripsi, tesis, internet, dan perangkat lain yang berkaitan

dengan judul penelitian.

2) Penelitian lapangan (Field Research)

26
Data utama penelitian ini diperoleh melalui penelitian lapangan. Data yang

akan dikumpulkan adalah jenis data primer. Menurut Husain (2009:42), data primer

adalah yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan

seperti hasil dari wawancara atau hasil pengisian kuesioner.

Metode pengumpulan data primer dilakukan dengan cara memberikan

kuesioner berupa pertanyaan yang menjadi instrumen variabel yang akan di bagikan

pada saat kunjungan ke kantor desa di kab. Bandung.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Pengertian populasi merupakan suatu wilayah generalisasi yang terdiri atas

obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2016:80).

Dengan definisi di atas saya melakukan redefinisi kembali menurut pandangan

saya bahwa populasi merupakan subjek atau objek secara keseluruhan untuk di teliti

dan di Tarik kesimpulan. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah

aparatur desa yang teridiri kepala desa, kepala urusan keuangan, kepala seksi

pelayanan, kepala seksi kesejahteraan 12 desa 3 kecamatan di kab.bandung.

Tabel 3. 2
Data Populasi

No Nama kecamatan Nama desa Aparatur


desa/responden

1 Kecamatan 3) Desa Rancamulya 5


pamengpeuk

4) Desa 5
Bojongkunci

27
5) Desa 5
Rancatungku

6) Desa Sukasari 5

7) Desa Langonsari 5

2 Kecamatan banjaran 8) Desa banjaran 5


wetan

9) Desa ciapus 5

10) Desa Taraju Sari 5

3 Kecamatan baleendah 11) Desa Andir 5

12) Desa 5
Rancamanyar

13) Desa 5
Bojongmalaka

Jumlah 55

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi

tersebut. Pengukuran sampel merupakan suatu langkah untuk menentukan besarnya

sampel yang diambil dalam melaksanakan penelitian suatu objek. Prosedur

penentuan sampel dilakukan secara non probabilitas (non probability sampling)

yaitu convenience sampling. Convenience sampling pengumpulan informasi dari

anggota populasi dengan mempertimbangkan kemudahan akses dan kedekatan

dengan peneliti (Castillo, 2009). Ini berarti convenience sampling merupakan

teknik penentuan sampel yang dilakukan secara tidak acak, tetapi menunjuk kepada

aparatur desa yang diperkirakan dapat memberikan informasi terkait penelitian ini.

Maka dari itu, sampel dari penelitian ini adalah aparatur desa yang berjumlah 48

orang.

28
3.4 Pengujian Instrumen Penelitian

Metode analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier

berganda. Analisis linier berganda meruapakan cara yang digunakan untuk

mengukur besarnya pengaruh antara dua variabel atau lebih variabel bebas terhadap

satu variabel terikat dan memprediksi variabel terikat dengan menggunakan

variabel bebas.

3.4.1 Uji Kualitas Data

Uji kualitas data digunakan untuk mendapatkan kepastian mengenai bahwa

instrumen yang digunakan sudah mengukur hal yang tepat atau tidak dan

memastikan bahwa hasil yang ada dapat menggambarkan keadaan yang

sesungguhnya. Selain itu, uji kualitas data dilakukan untuk melihat kelayakan data

yang ada sebelum diproses menggunakan alat analisis untuk menguji hipotesis. Uji

kualitas data terdiri dari uji reliabilitas dan uji validitas. Masing-masing akan

dijelaskan sebagai berikut:

3.4.1.1 Uji Validitas

Validitas diperlukan dalam pengujian hipotesis sebab pemrosesan data yang

tidak valid akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Untuk ituperlu dilakukan uji

validitas dalam mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner dengan melihat

apakah masing-masing pernyataan dari setiap indikator valid atau tidak. Pengujian

validitas dapat dilakukan dengan melihat nilai Corrected Item-Total Correlation.

Jika nilai r hitung lebih besar dari r tabel dan nilainya positif (pada taraf signifikansi

5% atau 0,05), maka pernyataan tersebut dikatakan valid dan sebaliknya (Ghozali,

2006). R table didapat dari df=n-2, n merupakan jumlah responden.

3.4.1.2 Uji Reliabilitas

29
Reabilitas adalah tingkat kepercayaan hasil pengeluaran yang dilakukan untuk

mengetahui derajat kepandaian ketelitian aas keakuratan yang ditujukan pada

instrument pengukuran (Sofianty dan Nurhayati, 2018:24). Uji reabilitas

dimaksudkan untuk menguji sejauh mana hasil suatu pengukuran kali atau lebih

terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama.

(Husein Umar, 2005 dalam Sofianty dan Nurhayati 2018:24) mengatakan bahwa:

“untuk mencari reliabilitas intrumen yang skornya bukan 0-1, tetappi merupakan

rentangan antara beberapa nilai, misalnya 0-10 atau 0-1000 skala 1-3, 1-5 atau 1-7

dan seterusnya dapat menggunakan rumus Cronbach’s Alpha:”

Rumus ini ditulis sebagai berikut:

𝑘 ∑ 𝑎𝑏2
𝑟11 =( ) (1 − 2 )
𝑘−1 𝑎𝑡

Dimana:

𝑟11 = reliabilitas instrument

𝑘 = banyak butir pertanyaan

𝑎𝑡2 = varians total

∑ 𝑎𝑏2 = jumlah varians butir

Untuk mencari varians, digunakan rumus sebagai berikut:

(∑ 𝑋)2
∑ 𝑋2
𝑎= 𝑛
𝑛

Dimana:

𝑛 = jumlah sampel

30
X = nilai skor yang dipilih

Untuk mengetahui tiap intrumen pernyataan reliabel atau tidak, maka nilai

koefisien reliabilitas (Alpha) tersebut dibandingkan dengan0,6. Dimana jika nilai

Alpha lebih besar dari 0,6 maka, instrument tersebut dinyatakan reliabel, begitu

pula sebaliknya.

3.5 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah cara menganalisis data penelitian, termasuk alat-

alat statistik yang relevan untuk digunakan dalam penelitian (Noor, 2011:163). Data

yang di perlukan dalam penelitian ini dukumpulkan menggunakan kuisioner.

Penyebaran kuesioner ini dilakukan dengan memberikan peryataan tertulis yang

disusun berdasarkan indikator-indikator yang terdapat pada masing-masing

variabel, dimana kedua variabel tersebut diukur dengan ukuran ordinal.

Sugiyono (2013:132) menyatakan bahwa skala likert digunakan untuk

mengukur sikap pendapatan dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang

fenomena social, fenomena social ini telah ditetapkan sevara spesifik oleh peneliti

dan disebut sebagai variabel penelitian. Skala likert membantu dalam mengukur

variabel yang dijabarkan oleh indikator variabel. Indikator tersebut dijadikan

sebagai tolak ukur untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa

pertanyaan maupun penyataan. Jawaban item intrumen yang menggunakan skala

likert mempunyai gradasi dari sangat potitif sampai sangat negatif (Sugiyono

2013:133).

31
Tabel 3. 3
Skala Pengukuran Variabel
No Keterangan Skor Positif

1 Sangat setuju 5
2 Setuju 4
3 Kurang setuju 3
4 Tidak setuju 2
5 Sangat tidak setuju 1
Sumber: Sugiyono (2013:133)

Berdasarkan tabel diatas hasil perhitungan skor kuesioner maka dapat ditentuka

nilai dari masing-masing variabel apakah sudah memenuhi kriteria atau belum. Hal

tersebut dapat diketahui dengan menentukan kelas interval, yaitu dengan skor

jawaban tertinggi dikurangi dengan skor jawaban terendah berbanding dengan

banyaknya kelas interval.

Panjang kelas interval = rentang / banyak kelas interval

Dimana;

Rentang = nilai tertinggi – nilai terendah

Komitmen organisasi

1 Pengelompokan kriteria mengenai komitmen organisasi sebagai berikut:

1.menentukan skor maksimal dan minimal

Skor maksimal = 21x5x55=4950

Skor minimal = 21x1x55=990

2 menentukan rentang

R=s kormaksimal-skor minimal

R= 4950-990=3960

3 menentukan banyak nya kelas(K)

32
pada penelitian ini menggunakan skala likert, sehingga kelas yang di

gunakan pun berdasarkan skala likert yang terdiri dari 5 jawaban

4 membuat Panjang interval kelas interval

interval = R/k=3960/5=792

Tabel 3. 4
Uji Interval Komitmen organisasi
No Interval Keterangan
1 990-1781 Sangat rendah
1782-2573 Rendah
2574-3364 Cukup tinggi
3364-4156 Tinggi
4155-4950 Sangat tinggi

Intensi Whistleblowing

1 Pengelompokan kriteria mengenai intensi whistleblowing sebagai berikut:

1.menentukan skor maksimal dan minimal

Skor maksimal = 17x5x55=4675

Skor minimal = 17x1x55=935

(1) menentukan rentang

R=skor maksimal-skor minimal

R=4675 - 935=3740

(2) Menentukan banyak nya kelas(K)

Pada penelitian ini menggunakan skala likert, sehingga kelas yang di

gunakan pun berdasarkan skala likert yang terdiri dari 5 jawaba

(3) membuat Panjang interval kelas interval

interval = R/k=3740/5=748

33
Tabel 3. 5
Uji Interval Intensi Whistleblowing
No Interval Keterangan
1 935-1682 Sangat rendah
2 1683-2430 Rendah
3 2431-3177 Cukup tinggi
4 3178-3925 Tinggi
5 3926-4675 Sangat tinggi

Pencegahan fraud

1 Pengelompokan kriteria mengenai intensi whistle blowing sebagai berikut:

1.menentukan skor maksimal dan minimal

Skor maksimal = 30x5x55=8250

Skor minimal = 30x1x55= 1650

2 menentukan rentang ®

R=skor maksimal-skor minimal

R= 8250-1650= 6.600

3 menentukan banyak nya kelas(K)

pada penelitian ini menggunakan skala likert, sehingga kelas yang di

gunakan pun berdasarkan skala likert yang terdiri dari 5 jawaba

4 membuat Panjang interval kelas interval

interval = R/k=6600/5=1320

Tabel 3. 5
Uji Interval Pencegahan Fraud
No Interval Keterangan
1 1650-2969 tidak memadai
2 2970-4289 Kurang memadai
3 4290-5609 Cukup memadai
4 5610-6929 Memadai
5 6930-8250 Sangat memadai

34
3.6 Rancangan Pengujian Hipotesis

3.6.1 Metode Successive Interval (MSI)

Data yang didapatkan dari kuesioner merupakan data ordinal, sedangkan untuk

menganalisis data diperlukan data interval, maka untuk memecahkan persoalan ini

perlu ditingkatkan data pengukurannya menjadi skala interval melalui MSI (Method

of Successive Interval). Mengolah data ordinal menjadi interval dengan interval

berurutan untuk variabel terikat (Hays dalam Umi Narimawati, 2010: 47).

Adapun langkah-langkah untuk melakukan transformasi data adalah sebagi

berikut:

1. Ambil data ordinal hasil kuesioner.

2. Untuk setiap pertanyaan, hitung proporsi untuk setiap kategori jawaban dan

hitung proporsi komulatifnya.

3. Menghitung nilai Z (tabel distribusi normal) untuk setiap proporsi komulatif.

Untuk data >30 dianggap mendekati luas daerah dibawah kurva normal.

4. Menghitung nilai densitas untuk setiap proporsi komulatif dengan

memasukkan nilai Z pada rumus distribusi normal.

5. Menghitung nilai data dengan rumus MSI (Method of Successive Interval)

sebagai berikut

(𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 𝑎𝑡 𝐿𝑜𝑤𝑒𝑟 𝐿𝑖𝑚𝑖𝑡)−(𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 𝑎𝑡 𝑈𝑝𝑝𝑒𝑟 𝐿𝑖𝑚𝑖𝑡)


Method of Interval = (𝐴𝑟𝑒𝑎 𝑈𝑛𝑑𝑒𝑟 𝑈𝑝𝑝𝑒𝑟 𝐿𝑖𝑚𝑖𝑡)−(𝐴𝑟𝑒𝑎 𝑈𝑛𝑑𝑒𝑟 𝐿𝑜𝑤𝑒𝑟 𝐿𝑖𝑚𝑖𝑡)

(Sumber: Umi Narimawati, 2010: 47)

Dimana:

Means of Interval = Rata-rata Interval

Density at Lower Limit = Kepadatan batas bawah

35
Density at Upper Limit = Kepadatan batas atas

Area Under Upper Limit = Daerah dibawah batas atas

Area Under Lower Limit = Daerah dibawah batas bawah

6. Menentukan nilai transformasi (nilai untuk skala interval) dengan menggunakan

rumus:

Nilai Transformasi = Nilai Skala + (Nilai Skala Minimum) + 1

(Sumber: Umi Narimawati, 2010: 47)

3.6.2 Uji Asumsi Klasik

Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi

klasik. Uji ini digunakan untuk menguji dan memastikan kelayakan model regresi

dalam penelitian ini. Adapun bentuk dari uji asumsi klasik adalah sebagai berikut:

1) Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel

pengganggu (residual) terdistribusi secara normal. Menurut Ghozali (2006), regresi

yang baik memiliki distribusi data yang normal atau mendekati normal. Data yang

terdistribusi normal akan memperkecil kemungkinan terjadinya bias. Pengujian

normalitas dilakukan dengan menggunakan metode grafik. Pada prinsipnya

normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu

diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya. Dasar

pengambilan keputusan:

1. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal

atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal maka model

regresi memenuhi asumsi normalitas.

36
2. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak

mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya

menunjukkan pola distribusi normal maka model regresi tidak

memenuhi asumsi normalitas.

2) Uji Heteroskedastistitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi

ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain (Ghozali,

2006). Untuk mendeteksi adanya heterokedatisitas adalah dengan melihat ada

tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot. Jika ada pola tertentu, seperti titik-

titik yang ada membentuk suatu pola yang teratur (bergelombang, melebar,

kemudian menyempit), maka mengindikasikan adanya heterokedatisitas. Jika tidak

ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 dan

sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedatisitas. Jika variabel independen signifikan

secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi

heteroskedastisitas.

3) Uji Multikolinearitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya

korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya

tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling

berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal (Ghozali, 2007:91). Untuk

mendeteksi adanya multikolinearitas, dapat dilihat dari Value Inflation Faktor

(VIF). Apabila nilai VIF > 10, maka terjadi multikolinearitas. Sebaliknya, jika VIF

< 10, maka tidak terjadi multikolinearitas (Wijaya, 2009:119).

37
3.6.3 Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh simultan dari

beberapa variabel bebas terhadap saru variabel terikat yang berskala interval.

Analisis regresi berganda membantu dalam memahami berapa banyak varians

dalam variabel terikat yang dijelaskan oleh sekelomook prediktor. Analisis regresi

berganda juga dilakukan untuk menelusuri anteseden kronologis (sequential

entecedents) yang menyebabkan variabel terikat melalui apa yang disebut sebagai

analisis jalur (path analysis) (Uma Sekaran, 2006: 299-311). Model analisis regresi

berganda yang digunakan oleh peneliti untuk menguji hipotesis adalah sebagai

berikut:

iw = α + β1 im + β2 se + e

Keterangan:

Y = pencegahan fraud

Α = Konstanta

X1 = komitmmen organisasi

X2 = intensi whistleblowing

β1-β2 = Koefisien Regresi

e = Standar Eror

3.6.4 Uji t

Untuk menguji apakah terdapat hubungan yang signifikan antara variabel X1

dan X2 dengan variabel Y, maka digunakan statistik uji t. pengelolaan data akan

dilakukan dengan menggunakan alat bantu aplikasi software IBM SPSS Statistics

agar pengukuran data yang dihasilkan lebih akurat.

38
Menurut Ghozali (2011) uji stastistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa

jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan

variabel dependen. Pada uji statistik t, nilai t hitung akan dibandingkan dengan nilai

t tabel, Pengujian dilakukan dengan menggunakan significance level 0,05 (α=5%).

Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :

1. Bila t hitung > t tabel atau probabilitas < tingkat signifikansi (Sig < 0,05),

maka variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen

2. Bila t hitung < t tabel atau probabilitas > tingkat signifikansi (Sig > 0,05),

maka variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen

Untuk menentukan t hitung dapat dilakukan dengan menggunakan statistik uji

t dengan rumus statistik sebagai berikut :

r√n − 2
Keterangan : 𝑡=
√1 − r 2
r = Koefisien korelasi

t = Nilai koefisien korelasi dengan derajat bebas (dk) = n-k-1

n = Jumlah sampel

3.6.5 Uji Simultan (Uji statistic F)

Uji F merupakan pengujian untuk menunjukan apakah semua variabel bebas

atau variabel independen yang telah dimasukan kedalam model mempunyai

pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2012:98).

Kriteria pengujiannya berdasarkan probabilitas sebagai berikut:

1) Jika nilai probabilitas signifikansi > 0, 05 artinya variabel bebas secara

simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

39
2) Jika nilai probabilitas signifikansi ≤ 0, 05 artinya bahwa variabel bebas secara

simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

3.6.6 Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (adjusted R2) berguna untuk menguji seberapa jauh

kemampuan model penelitian dalam menerangkan variabel dependen. Semakin

besar adjusted R2 suatu variabel independen, maka menunjukkan semakin dominan

pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai adjusted R2 yang

telah disesuaikan adalah antara 0 dan sampai dengan 1. Nilai adjusted R2 yang

mendekati 1 berarti kemampuan variabel-variabel independen memberikan hampir

semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen. Nilai

adjusted R2 yang kecil atau dibawah 0,5 berarti kemampuan variabel-variabel

independen dalam menjelaskan variabel dependen sangat kecil. Apabila terdapat

nilai adjusted R2 bernilai negatif, maka dianggap bernilai nol (Ghozali, 2011).

KD = R2 X 100%

Keterangan:

KD = Koefisien Determinasi

R = Koefisien Korelasi

40
41
42

BAB IV

PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada bagian ini disajikan hasil penelitian tentang Pengaruh komitmen

organisasi dan intensi whistle blowing terhadap pencegahan fraud. Hasil penelitian

akan diuraikan dalam beberapa bagian, yaitu: (1) gambaran umum unit analisis; (2)

tingkat pengembalian kuisioner; (3) deskripsi karakteristik responden; (4) analisis

deskriptif variabel penelitian; (5) hasil pengujian validitas dan realibitas data

penelitian, dan (6) analisis verifikatif yang memberikan gambaran tentang

Pengaruh komitmen organisasi dan intensi whistle blowing terhadap pencegahan

fraud terhadap aparatur desa pada 3 kecamatan yang terdiri dari 11 desa,

kab.bandung..

4.1.1 Gambaran Umum Unit Analisis

Yang di jadikan unit analysis dalam penelitian ini adalah 3 kecamatan di

kab.bandung yang terdiri dari 11 desa dengan jumlah sampel 55 orang aparatur desa

untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table 4.1.

Tabel 4.1
Sampel Penelitian

No Nama kecamatan Nama desa Aparatur


desa/responden
1 Kecamatan 1) Desa 5
pamengpeuk Rancamulya

2) Desa 5
Bojongkunci
3) Desa 5
Rancatungku
4) Desa Sukasari 5
43

5) Desa Langonsari 5
2 Kecamatan banjaran 6) Desa Banjaran 5
Wetan
7) Desa Ciapus 5
8) Desa Taraju Sari 5
3 Kecamatan baleendah 9) Desa Andir 5
10) Desa 5
Rancamanyar
11) Desa 5
Bojongmalaka
Jumlah 55

Kuisioner penelitian terdiri dari 73 item pernyataan yang di bagi kedalam 3

variabel, yaitu 21 pernyataan mengenai komitmen organisasi, 17 pernyataan

mengenai whistle blowing dan 35 pernyataan mengenai pencegahan fraud.

Kuisioner yang diserahkan kepada 11 desa adalah sebanyak 55 buah kuisioner, dan

kuisioner yang dapat diolah berjumlah 55 buah kuisioner sampai batas akhir

penerimaan kuisioner. Berikut ini merupakan tabel tingkat pengembalian kuisioner

(respon rate) dalam kurun waktu penelitian.

Tabel 4.2
Tingkat Pengembalian Kuisioner (Respon Rate)

Keterangan Jumlah Persentase

Total kuisioner yang disebarkan 55 100%

Total kuisioner yang tidak


- -
kembali

Total kuisioner yang kembali 55 100%


Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2019

Dari tabel di atas tampak bahwa kuisioner yang dapat diolah 55 kuisioner,

maka respon rate adalah 100%


44

4.1.2 Analisis Deskriptif

4.1.2.1 Deskriptif Karakteristik Responden

Data responden yang terkumpul dari penelitian ini adalah sebanyak 55

responden. Hasil gambaran deskripsi mengenai karakterisik responden adalah

sebagai berikut:

1) Karasteristik respoden berdasarkan jenis kelamin

Berikut ini merupakan tabel karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

pada 11 desa:

Tabel 4.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Persentase
Laki-Laki 35 64%
Perempuan 20 36%
Total 55 100%
Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2019

Berdasarkan hasil data yang terkumpul melalui kuisioner yang telah diisi oleh

responden dan didisajikan pada tabel 4.3 dapat diketahui profil responden

berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak berdasarkan jenis kelamin adalah

laki-laki. Data yang diperoleh menunjukan bahwa responden berjenis kelamin laki-

laki berjumlah 35 orang atau sebesar 64% dan responden yang berjenis kelamin

perempuan berjumlah 20 orang atau sebesar 36%.

2) Karakteristik responden berdasarkan umur

Berikut ini merupakan tabel karakteristik responden berdasarkan umur pada 11

desa:
45

Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Umur Jumlah Persentase

< 20 tahun 2 4%
21 – 25 tahun 8 15%
26 – 30 tahun 15 27%
31 – 35 tahun 10 18%
36 – 40 tahun 9 16%
41 – 45 tahun 5 9%
46 – 50 tahun 4 7%
> 50 tahun 2 4%
Total 55 100%
Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2019

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui profil responden berdasarkan umur.

Data yang diperoleh melalui kuisioner yang telah diisi oleh responden menunjukan

bahwa responden yang berumur <20 tahun berjumlah 2 orang atau 4%, berumur

21-25 sebanyak 8 orang atau 15%, umur 26-30 sebanayk 15 orang atau 27%, umur

31-35 sebanyak 10 orang atau 18%, umur 36-40 sebanyak 9 orang atau 16%, umur

41-45 sebanyak 5 orang atau 9% , umur 46-50 sebanyak 4 orang atau 7% dan

sisanya >50 orang yaitu sebanyak 2 orang atau 4% dari data di atas maka sebagian

besar aparatur desa yang mengisi quisioner itu di usia 26-30 tahun dengan

presentase 27%.

3) Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir

Berikut ini merupakan tabel karakteristik responden berdasarkan pendidikan

terakhir pada11 desa:


46

Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pendidikan Jumlah Persentase
SMA 18 33%
D3 15 27%
S1 17 31%
S2 5 9%
S3 0 0
Total 55 100%
Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2019

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui profil responden berdasarkan

pendidikan terakhir. Data yang diperoleh melalui kuisioner yang telah diisi oleg

responden menunjukan bahwa responden yang berpendidikan SMA sebanyak 18

orang atau 33%, D3 sebanyak 15 orang atau sebesar 27%, responden yang

berpendidikan S1 sebanyak 17 orang atau sebesar 31%, responden yang

berpendidikan S2 sebanyak 5 orang atau sebesar 9%. dari data di atas maka

sebagian besar aparatur desa yang mengisi quisioner berpendidikan SMA dengan

presentase 33%

4) Karakteristik responden berdasarkan pengalaman kerja

Berikut ini merupakan tabel karakteristik responden berdasarkan pengalaman

kerja pada11 desa:

Tabel 4.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja
Umur Jumlah Persentase
<1 Tahun 5 9%
1-2 Tahun 10 18%
3-4 tahun 31 56%
5-6 tahun 9 17%
Total 55 100%
Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2019

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui profil pengalaman aparatur desa

berdasarkan lamanya bekerja. Hasil data yang diperoleh melalui kuisioner yang

telah diisi oleh responden menunjukan bahwa responden yang memiliki pengalam
47

<1 Tahun sebanyak 5 orang atau 9%, pengalaman 1-2 tahun sebanyak 10 orang atau

18%, pengalaman 3-4 sebanyak 31 orang atau 56%, pengalaman 5-6 tahun

sebanyak 9 orang atau 17%. dari data di atas maka sebagian besar aparatur desa

yang mengisi quisioner itu adalah yang pernah mempunyai 3-4 tahun dengan

presentase 56%

4.1.2.2 Gambaran Mengenai Komitmen Organisasi (X1)

Variabel komitmen organisasi dalam penelitian ini diukur dengan

menggunakan 3 dimensi dan dibuat menjadi 21 butir pernyataan yang relevan.

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan menganai komitmen

organisasi adalah sebagai berikut:

1. Kongruen Nilai

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan menganai kongruen

nilai adalah sebagai berikut

Tabel 4.6
Hasil Responden Kongruen Nilai
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F
KONGRUEN NILAI
Aparatur desa percaya
terhadap nilai nilai atau
tujuan yang ada di kantor
1 desa karena sesuai dengan 0 0 3 37 15 232
prinsip hidup atau adat
istiadat aparatur desa.
Nilai kejujuran dalam kantor
desa selalu anda terapkan
2 0 0 2 35 18 236
dalam lingkungan kerja dan
keseharian anda

Total skor 0 0 5 72 33 468


48

2. Karakteristik individu

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan menganai

Karakteristik individu adalah sebagai berikut

Tabel 4.7
Hasil Responden Karakteristik individu
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F
Karakteristik individu
Aparatur desa akan merasa
3 berbahagia menghabiskan 0 0 5 39 11 226
karier di kantor desa
Aparatur desa selalu
melaporkan hasil kegiatan
4 0 0 6 38 11 225
kepada badan pengawas desa
atau pun kepala desa .

Total skor 0 0 11 77 22 451

3. Pengalaman Kerja

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan menganai

Pengalaman Kerja adalah sebagai berikut

Tabel 4.8
Hasil Responden Pengalaman Kerja
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F
PENGALAMAN KERJA
Aparatur desa memiliki
pengetahuan sebagai
5 pegawai desa , karena 0 0 1 40 14 233
aparatur desa pernah menjadi
pegawai desa sebelumnya
Aparatur desa cukup pandai
dalam mengerjakan tugas
6 bidang bidangnya di kantor 0 1 6 38 10 222
desa karena pengalaman
pada periode sebelumnya

Total skor 0 1 7 78 24 455


49

4. Keterlibatan dalam pekerjaan

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai

Keterlibatan dalam pekerjaan adalah sebagai berikut

Tabel 4.9
Hasil Responden Keterlibatan dalam pekerjaan
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F
Keterlibatan dalam pekerjaan
Aparatur desa benar-benar
“merasakan seakan”
7 permasalahan desa 0 0 7 36 12 225
merupakan permasalahan
aparatur desa juga
Aparatur desa merasa
8 menjadi bagian dari keluarga 0 0 2 38 15 233
di kantor desa.
Semua aparatur desa selalu
di libatkan dalam setiap
9 0 0 1 40 14 233
pengambilan keputusan di
kantor desa.

Total skor 0 0 10 111 41 681

5. perserpsi kurang nya alternative atas pekerjaan lain

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai perserpsi

kurang nya alternative atas pekerjaan lain adalah sebagai berikut

Tabel 4.10
Hasil Responden perserpsi kurang nya alternative atas pekerjaan lain
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F

perserpsi kurang nya alternative atas pekerjaan lain

Aparatur desa khawatir


terhadap apa yang mungkin
terjadi jika aparatur desa
10 0 0 0 43 12 232
berhenti dari pekerjaan tanpa
memiliki pekerjaan lain yang
serupa
50

Aparatur desa merasa bahwa


memiliki sedikit pilihan bila
meninggalkan kantor desa.
11 0 0 0 45 10 230

Jika anda melakukan


kecurangan maka pihak BPD
12 atau kepala desa akan
0 0 5 36 14 229
memberi sanksi berupa
pemberhentian sehingga
anda tidak punya pendapatan

Total skor 0 0 5 154 36 691

6. Besaran pendapatan

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai Besaran

pendapatan adalah sebagai berikut

Tabel 4.11
Hasil Responden Besaran pendapatan
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F

Besaran pendapatan

Aparatur desa tidak dapat


meninggalkan kantor desa
13 karena beranggapan 0 0 4 32 19 235
pendapatan dengan
pekerjaan sudah sepadan
Salah satu alasan aparatur
desa tidak meninggalkan
14 0 0 8 37 10 222
kantor desa adalah karena
gaji yang besar
Aparatur desa tidak akan
meninggalkan kantor desa ,
karena merasa kebutuhan
15 sudah tercukupkan dengan 0 0 7 37 11 224
bekerja di kantor desa sebab
sudah dapat mensjahtrakan
ekonomi keluarga.

Total skor 0 0 19 106 410 691


51

7. ekpetasi mendapatkan keuntungan dari kantor desa

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai ekpetasi

mendapatkan keuntungan dari kantor desa adalah sebagai berikut

Tabel 4.12
Hasil Responden ekpetasi mendapatkan keuntungan dari kantor desa
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F

ekpetasi mendapatkan keuntungan dari kantor desa

Saat ini tetap bekerja di


kantor desa merupakan
kebutuhan sekaligus juga
16 0 0 3 38 14 231
keinginan dalam
mensjahtrakan ekonomi
keluarga.
Jika aparatur desa
meninggalkan kantor desa
sekarang , maka akan sangat
17 berat karena dapat 0 1 8 36 10 220
mempengaruhi kondisi
ekonomi atau kesejahtraan
keluarga ke depannya.

Total skor 0 1 11 74 24 251

8. Kontrak psikologis

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai Kontrak

psikologis adalah sebagai berikut

Tabel 4.13
Hasil Responden Kontrak psikologis
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F

Kontrak psikologis

Aparatur desa merasa


bekerja di kantor desa telah
dapat meningkatkan
18 0 0 9 35 11 222
kesejahtraan keluarga
sehingga dapat
menyekolahkan anak.
52

Aparatur desa merasa belum


memberikan banyak
19 kontribusi bagi kantor desa 0 0 2 37 16 234
dalam bekerja bagi
masyarakat.

Total skor 0 0 11 72 27 256

9. Sosialisasi

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai Sosialisasi

adalah sebagai berikut

Tabel 4.14
Hasil Responden Sosialisasi
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F

Sosialisasi

Salah satu alasan utama


melanjutkan bekerja pada
kantor desa adalah bahwa
aparatur desa percaya
20 0 0 1 39 15 234
loyalitas penting dan oleh
sebab itu saya merasa tetap
bekerja di kantor desa
merupakan kewajiban.
Aparatur desa bertanggung
jawab dan bekerja keras
dalam pekerjaan supaya
21 0 1 5 39 10 223
dalam periode ke depan
masih bisa bekerja di kantor
desa.

Total skor 0 1 6 78 25 257

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan menganai komitmen

organisasi adalah sebagai berikut:


53

Tabel 4.15
Rekapitulasi Hasil Tanggapan Responden Mengenai komitmen organisasi
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F f F
KOMITMEN AFEKSI
Aparatur desa percaya
terhadap nilai nilai atau
tujuan yang ada di kantor
1 desa karena sesuai dengan 0 0 3 37 15 232
prinsip hidup atau adat
istiadat aparatur desa.
Nilai kejujuran dalam kantor
desa selalu anda terapkan
2 0 0 2 35 18 236
dalam lingkungan kerja dan
keseharian anda
Aparatur desa akan merasa
3 berbahagia menghabiskan 0 0 5 39 11 226
karier di kantor desa
Aparatur desa selalu
melaporkan hasil kegiatan
4 0 0 6 38 11 225
kepada badan pengawas desa
atau pun kepala desa .
Aparatur desa memiliki
pengetahuan sebagai
5 pegawai desa , karena 0 0 1 40 14 233
aparatur desa pernah menjadi
pegawai desa sebelumnya
Aparatur desa cukup pandai
dalam mengerjakan tugas
6 bidang bidangnya di kantor 0 1 6 38 10 222
desa karena pengalaman
pada periode sebelumnya
Aparatur desa benar-benar
“merasakan seakan”
7 permasalahan desa 0 0 7 36 12 225
merupakan permasalahan
aparatur desa juga
Aparatur desa merasa
8 menjadi bagian dari keluarga 0 0 2 38 15 233
di kantor desa.
Semua aparatur desa selalu
di libatkan dalam setiap
9 0 0 1 40 14 233
pengambilan keputusan di
kantor desa.

Total skor komitmen afektif 0 1 33 341 120 2065

Komitmen kontinuan

Aparatur desa khawatir


terhadap apa yang mungkin
10 0 0 0 43 12 232
terjadi jika aparatur desa
berhenti dari pekerjaan tanpa
54

memiliki pekerjaan lain yang


serupa

Aparatur desa merasa bahwa


11 memiliki sedikit pilihan bila 0 0 0 45 10 230
meninggalkan kantor desa.
Jika anda melakukan
kecurangan maka pihak BPD
atau kepala desa akan
12 0 0 5 36 14 229
memberi sanksi berupa
pemberhentian sehingga
anda tidak punya pendapatan
Aparatur desa tidak dapat
meninggalkan kantor desa
13 karena beranggapan 0 0 4 32 19 235
pendapatan dengan
pekerjaan sudah sepadan
Salah satu alasan aparatur
desa tidak meninggalkan
14 0 0 8 37 10 222
kantor desa adalah karena
gaji yang besar
Aparatur desa tidak akan
meninggalkan kantor desa ,
karena merasa kebutuhan
15 sudah tercukupkan dengan 0 0 7 37 11 224
bekerja di kantor desa sebab
sudah dapat mensjahtrakan
ekonomi keluarga.
Saat ini tetap bekerja di
kantor desa merupakan
kebutuhan sekaligus juga
16 0 0 3 38 14 231
keinginan dalam
mensjahtrakan ekonomi
keluarga.
Jika aparatur desa
meninggalkan kantor desa
sekarang , maka akan sangat
17 berat karena dapat 0 1 8 36 10 220
mempengaruhi kondisi
ekonomi atau kesejahtraan
keluarga ke depannya.
Total skor komitmen continuan 0 1 35 304 100 1823
Komitmen normative
Aparatur desa merasa
bekerja di kantor desa telah
dapat meningkatkan
18 0 0 9 35 11 222
kesejahtraan keluarga
sehingga dapat
menyekolahkan anak.
Aparatur desa merasa belum
memberikan banyak
19 kontribusi bagi kantor desa 0 0 2 37 16 234
dalam bekerja bagi
masyarakat.
55

Salah satu alasan utama


melanjutkan bekerja pada
kantor desa adalah bahwa
aparatur desa percaya
20 0 0 1 39 15 234
loyalitas penting dan oleh
sebab itu saya merasa tetap
bekerja di kantor desa
merupakan kewajiban.
Aparatur desa bertanggung
jawab dan bekerja keras
dalam pekerjaan supaya
21 0 1 5 39 10 223
dalam periode ke depan
masih bisa bekerja di kantor
desa.
Total skor komitmen normative 0 1 17 150 52 913
Total skor variabel komitmen
0 3 85 795 272 4801
organisasi
Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2019

4801

SR R CT T ST
990 1.782 2.574 3.364 4.155 4.950

Gambar 4.1
Garis Kontinum Dimensi Variabel komitmen organisasi

Pada Tabel 4.7 skor nilai jawaban 55 sampel aparatur desa mengenai variabel

komitmen organisasi sebesar 4801 dimana terletak pada kelas interval kategori

“Sangat Tinggi” (table 3.3). pernyataan tersebut menunjukan bahwa para aparatur

desa memeiliki komitmen yang tinggi. Hal ini di buktikan dengan para aparatur

banyak terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan kantor desa yang membuat para individu

merasa bahwa adanya kesesuaian antara nilai-nilai kejujuran dan profesioanlisme

yang di terapkan oleh organisasi dengan kepribadian mereka sehingga apparat

memiliki kepuasan bekerja dan tidak ada tekanan dalam pekerjaan, serta adanya

pelatihan yang dilakukan oleh BPD membuat para aparatur mempunyai

kemampuan serta pemahaman untuk mengelola kantor desa sebagai badan


56

pemerintahan. Para aparatur memiliki konvensasi yang sesuai denggan harapan

sehingga para aparat mempunyai tanggung jawab yang tinggi dalam berkerja untuk

memajukan kantor desa yang berakibat langsung terhadap pelaporan ataupun

kordinasi aparatur dalam menjalankan kegiatan kepada badan pengawas

desa(BPD).

4.1.2.3 Gambaran Mengenai intensi wishtle blowing (X2)

Variabel komitmen organisasi dalam penelitian ini diukur dengan

menggunakan 3 dimensi dan dibuat menjadi 17 butir pernyataan yang relevan.

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan menganai komitmen

organisasi adalah sebagai berikut:

1. jenis kecurangan

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai jenis

kecurangan adalah sebagai berikut

Tabel 4.16
Hasil Responden jenis kecurangan
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
jenis kecurangan
Korupsi dan penyalah gunaan asset merupakan
22 0 0 1 8 46 265
kerugian bagi kantor desa.
Jika saudara mengetahui adanya fraud atau korupsi
yang terjadi di kantor desa , maka saudara akan
23 0 0 2 24 29 247
berminat untuk melakukan tindakan pelaporan
pelanggaran(whistleblowing).
Penyerahan rutilahu dilakukan kepada pihak yang
24 0 1 3 24 27 242
tidak tepat merupakan bukan kecurangan.

Total skor 0 1 6 56 102 754

2. keinginan melakukan komitmen atas prilaku

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai keinginan

melakukan komitmen atas prilaku adalah sebagai berikut:


57

Tabel 4.17
Hasil Responden keinginan melakukan komitmen atas prilaku
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
keinginan melakukan komitmen atas prilaku
Saudara berencana melakukan tindakan pelaporan
pelanggaran (whistleblowing) untuk mengungkap
25 0 0 1 27 27 246
fraud atau korupsi yang terjadi di kantor desa
apabila saudara mengetahuinya .
Saudara akan mencoba melakukan tindakan
pelaporan pelanggaran(whistleblowing) jika saya
26 0 0 0 26 29 249
mengetahui ada nya fraud atau korupsi di kantor
desa.
Jika internal pelaporan pelanggaran tidak
memungkinkan, saudara akan berusaha keras untuk
27 0 0 0 25 30 250
melakukan tindakan pelaporan pelanggaran melalui
saluran luar baik kepolisian atau pun BPD
Total skor 0 0 1 78 86 695

3. pilihan etis/resiko

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai pilihan

etis/resiko adalah sebagai berikut:

Tabel 4.18
Hasil Responden pilihan etis/resiko
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
pilihan etis/resiko
Jika saudara mengalami dilema konflik
kepentingan ketika menemukan kecurangan di
28 kantor desa , maka saudara akan mengadukan 0 1 0 31 23 241
pelanggaran tersebut meskipun harus di keluarkan
dari kantor desa.
Jika saudara menemukan bukti pelanggaran yang
menyebabkan saudara menghadapi dilemma
29 konflik kepentingan, saudara tidak akan 0 1 4 39 11 225
menghindari/mengabaikan bukti pelanggaran
tersebut
Total skor 0 2 1 70 34 466
58

4. system pelaporan pelanggaran

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai system

pelaporan pelanggaran adalah sebagai berikut:

Tabel 4.19
Hasil Responden system pelaporan pelanggaran
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
system pelaporan pelanggaran
Kantor desa di tempat sodara bekerja memiliki
30 0 0 4 8 43 259
system pelaporan pelanggaran.
Jika saudara mengetahui adanya korupsi atau fraud
yang terjadi di kantor desa ,saudara akan berusaha
31 0 0 4 23 28 244
melakukan tindakan pelaporan melalui saluran
internal kantor desa ataupun ke pihak BPD.
Aparatur desa dan masyarakat disediakan nomer
32 penggaduan jika mau melaporkan adanya tindak 0 1 4 22 28 242
kecurangan

Total skor 0 1 12 53 99 745

5. motif seseorang

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai motif

seseorang adalah sebagai berikut:

Tabel 4.20
Hasil Responden motif seseorang
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
motif seseorang
saudara akan melaporkan segala bentuk kecurangan
33 0 0 2 25 28 246
karena dapat merugikan kantor desa.
Jika saudara melaporkan tindak kecurangan , maka
34 0 0 2 25 28 246
saudara merasa melakukan tindakan yang benar
Melaporkan kecurangan dapat memberi
35 kesempatan bagi kantor desa untuk memperbaiki 0 0 0 27 28 248
masalah yang terjadi di dalam kantor desa
tindakan melaporkan pelanggaran merupakan
36 0 1 0 30 24 242
tindakan kepahlawan.
Total skor 0 1 4 107 108 745
59

6. aspek kerahasian identitas whistleblower

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai aspek

kerahasian identitas whistleblower adalah sebagai berikut:

Tabel 4.21
Hasil Responden aspek kerahasian identitas whistleblower
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
aspek kerahasian identitas whistleblower
Saudara bisa menyamarkan identitas jika ingin
37 0 0 3 31 21 238
melaporkan adanya tindak kecurangan
Aparatur desa tidak takut untuk melaporkan
pelanggaran atau kecurangan yang terjadi karena
38 0 0 0 34 21 241
ada kebijakan mengenai perlindungan pelapor di
kantor desa
Total skor 0 0 3 65 42 479

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan menganai komitmen

organisasi adalah sebagai berikut:

Tabel 4.22
Rekapitulasi Hasil Tanggapan Responden Mengenai wishtle blowing
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
Keseriusan karyawan melaporkan kasus
Korupsi dan penyalah gunaan asset merupakan
22 0 0 1 8 46 265
kerugian bagi kantor desa.
Jika saudara mengetahui adanya fraud atau korupsi
yang terjadi di kantor desa , maka saudara akan
23 0 0 2 24 29 247
berminat untuk melakukan tindakan pelaporan
pelanggaran(whistleblowing).
Penyerahan rutilahu dilakukan kepada pihak yang
24 0 1 3 24 27 242
tidak tepat merupakan bukan kecurangan.
Saudara berencana melakukan tindakan pelaporan
pelanggaran (whistleblowing) untuk mengungkap
25 0 0 1 27 27 246
fraud atau korupsi yang terjadi di kantor desa
apabila saudara mengetahuinya .
Saudara akan mencoba melakukan tindakan
pelaporan pelanggaran(whistleblowing) jika saya
26 0 0 0 26 29 249
mengetahui ada nya fraud atau korupsi di kantor
desa.
Jika internal pelaporan pelanggaran tidak
memungkinkan, saudara akan berusaha keras untuk
27 0 0 0 25 30 250
melakukan tindakan pelaporan pelanggaran melalui
saluran luar baik kepolisian atau pun BPD
60

Total skor dimensi keseriusan karyawan melaporkan


0 1 7 134 188 1499
kasus
Tanggung jawab pelapor
Jika saudara mengalami dilema konflik kepentingan
ketika menemukan kecurangan di kantor desa ,
28 maka saudara akan mengadukan pelanggaran 0 1 0 31 23 241
tersebut meskipun harus di keluarkan dari kantor
desa.
Jika saudara menemukan bukti pelanggaran yang
menyebabkan saudara menghadapi dilemma
29 konflik kepentingan, saudara tidak akan 0 1 4 39 11 225
menghindari/mengabaikan bukti pelanggaran
tersebut
Kantor desa di tempat sodara bekerja memiliki
30 0 0 4 8 43 259
system pelaporan pelanggaran.
Jika saudara mengetahui adanya korupsi atau fraud
yang terjadi di kantor desa ,saudara akan berusaha
31 0 0 4 23 28 244
melakukan tindakan pelaporan melalui saluran
internal kantor desa ataupun ke pihak BPD.
Aparatur desa dan masyarakat disediakan nomer
32 penggaduan jika mau melaporkan adanya tindak 0 1 4 22 28 242
kecurangan
Total skor dimensi tanggung jawab pelapor 0 3 16 124 132 1210
Intensi aparatur melakukan whistleblowing
saudara akan melaporkan segala bentuk kecurangan
33 0 0 2 25 28 246
karena dapat merugikan kantor desa.
Jika saudara melaporkan tindak kecurangan , maka
34 0 0 2 25 28 246
saudara merasa melakukan tindakan yang benar
Melaporkan kecurangan dapat memberi
35 kesempatan bagi kantor desa untuk memperbaiki 0 0 0 27 28 248
masalah yang terjadi di dalam kantor desa
tindakan melaporkan pelanggaran merupakan
36 0 1 0 30 24 242
tindakan kepahlawan.
Saudara bisa menyamarkan identitas jika ingin
37 0 0 3 31 21 238
melaporkan adanya tindak kecurangan
Aparatur desa tidak takut untuk melaporkan
pelanggaran atau kecurangan yang terjadi karena
38 0 0 0 34 21 241
ada kebijakan mengenai perlindungan pelapor di
kantor desa
Total skor dimensi intensi aparatur melakukan
0 1 7 172 150 1461
whistleblowing
Total skor variabel 0 5 30 430 470 4170
Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2019
61

4.170

SR R CT T ST
935 1.682 2.430 3.177 3.925 4.675

Gambar 4.1
Garis Kontinum Dimensi Variabel Intensi Whistleblowing

Berdasarkan Tabel 4.8 skor nilai jawaban 55 responden aparatur desa mengenai

variabel intensi whistleblowing menunjukan sebesar 4170 dimana terletak pada

kelas interval kategori “Sangat Tinggi” (Tabel 3.4). Hal ini menunjukan bahwa

secara umum para aparatur desa memiliki niatan yang tinggi untuk melakukan

pelaporan kecurangan di kantor desa, pernyataan tersebut dibuktikan dengan

keyakinan aparatur desa bahwa tindakan kecurangan dapat menyebabkan kerugian

terhadap kantor desa sehingga aparat desa menganggap pentingnya untuk

melaporkan segala bentuk kecurangan, serta kantor desa telah menerapkan system

whistleblowing dan perlindungan terhadap whistleblower sehingga para aparatur

desa mempunyai keberanian untuk melaporkan kecurangan. selanjutnya aparat desa

mempunyai keyakinan bahwa tindakan melaporkan pelanggaran merupakan salah

satu cara untuk menyelamatkan kantor desa serta membangun kantor desa.

Namun tetap saja masih adanya kekurangan yang harus diperhatikan serta

ditingkat oleh kepala desa. Masih adanya kekurangan pemahaman untuk beberapa

aparatur desa dalam mengenali bentuk-bentuk maupun indikasi kecurangan dan

aparat desa memiliki keraguan untuk melaporkan pelanggaran ketika dihadapkan

dalam tekanan oleh atasan ataupun kepala desa, serta masih kurang tersosialisasikan

nya No penganduan pelaporan pelanggaran kepada sebagian aparatur desa.


62

4.1.2.4 Analisis Deskriptif Variabel pencegahan fraud

Berikut disajikan penjelasan mengenai tanggapan dari seluruh responden untuk

masing-masing pernyataan kuisioner pada setiap dimensi pecegahan fraud yaitu

sebagai berikut:

1. tata kelola perusahaan baik

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai tata kelola

perusahaan baik adalah sebagai berikut:

Tabel 4.23
Hasil Responden tata kelola perusahaan baik
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
tata kelola perusahaan baik

Dalam melakukan rekruitmen karyawan kantor desa


39 memiliki beberapa kriteria dan persyaratan tanpa 0 3 4 37 11 221
melihat aspek kekeluargaan.

Kantor desa memiliki tahapan tahapan dalam proses


40 0 0 5 36 14 229
penerimaan karyawan.

Total skor 0 3 9 73 25 250

2. Target keuangan di buat realistis.

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai Target

keuangan di buat realistis adalah sebagai berikut:

Tabel 4.24
Hasil Responden Target keuangan di buat realistis
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
Target keuangan di buat realistis.

Dalam melaksanakan tugas , aparatur desa diberikan


41 pelatihan tentang kesadaran kecurangan dan bagaimana 0 0 9 33 13 224
pencegahannya oleh kepala desa dan bpd
63

Kantor desa menyediakan layanan konsultasi untuk


42 aparatur desa dalam setiap agenda agenda agar 0 0 5 36 14 229
terhindar dari tekanan oleh atasan.

Total skor 0 0 14 69 27 253

3. Kebijakan dan procedure perusahaan yang transparan

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai Kebijakan

dan procedure perusahaan yang transparan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.25
Hasil Responden Kebijakan dan procedure perusahaan yang
transparan
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
Kebijakan dan procedure perusahaan yang transparan

Kantor desa menyediakan layanan konsultasi agar


43 0 0 2 40 13 231
terhindar dari kecurangan kegiatan operasional.

Adanya sanksi tertulis terhadap kegiatan


44 penyimpangan kode etik yang berlaku untuk semua 0 0 2 45 8 226
aparatur desa

Saudara selalu mencotoh dari tindakan kepala desa


45 dalam semua hal termasuk selalu bersikap jujur dan 0 0 0 36 19 239
melaporkan segala kegiatan kepada BPD

Total skor 0 0 4 121 40 696

4. memperkerjakan orang yang jujur dan menyediakan pelatihan

kesadaran akan adanya kecurangan

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan

mengenaimemperkerjakan orang yang jujur dan menyediakan pelatihan

kesadaran akan adanya kecurangan adalah sebagai berikut:


64

Tabel 4.25
Hasil Responden memperkerjakan orang yang jujur dan
menyediakan pelatihan kesadaran akan adanya kecurangan
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
memperkerjakan orang yang jujur dan menyediakan pelatihan kesadaran akan adanya kecurangan

Aparatur desa selalu melakukan sosialisasi kepada


masyakat terkait penerimaan dana desa, program
46 0 0 2 35 18 236
rutilahu dan tidak pernah meminta bayaran atas
pelayanan yang di berikan kepada masyarakat

Dalam membuat serta memutuskan kebijakan dan


procedure kantor desa , kepala desa melakukan
47 0 0 2 39 14 232
transparansi kepada aparatur desa yang lainnya dan
kepada masyarakat.

Kepala desa selalu memusywarahkan terkait kebijakan


48 0 0 2 37 16 234
yang akan di laksanakan bagi masyarakat

Total skor 0 0 6 111 48 702

5. Tersedia nya layanan konsultasi aparatur desa / EAP

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai Tersedia

nya layanan konsultasi aparatur desa / EAP adalah sebagai berikut:

Tabel 4.26
Hasil Responden Tersedia nya layanan konsultasi aparatur desa /
EAP
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
Tersedia nya layanan konsultasi aparatur desa / EAP

Dalam melaksanakan pekerjaan apparatur memiliki


pemisahan tugas, proses pembelian barang hanya di
49 0 0 3 32 20 237
lakukan oleh satu bidang atas sengetahuan dari kaur
keuangan dan seketaris desa

Aparatur desa mendapatkan tugas tugas sesuai dengan


50 0 0 3 33 19 236
jabatan dan fungsi masing masing bidang

Total skor 0 0 6 65 39 473


65

6. menciptakan lingkungan kerja yang positif

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai

menciptakan lingkungan kerja yang positif adalah sebagai berikut:

Tabel 4.27
Hasil Responden menciptakan lingkungan kerja yang positif
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
menciptakan lingkungan kerja yang positif

Dalam membuat pengambilan keputusan kantor desa


51 harus adanya sepengatahuan dan izin dari kepala desa 0 0 2 37 16 234
contoh pencairan dana bantuan bagi masyarakat

Hanya kepala desa dan bagian bendahara yang berhak


52 0 0 2 35 18 236
untuk melakukan pencairan dana.

Aparatur desa mendapatkan pemindahan tugas secara


berkala untuk mencegah kecurangan ( posisi kepala
53 0 0 3 36 16 233
pemerintahan di pindah tugaskan ke bidang
kesejahtraan)

Total skor 0 0 7 108 40 703

7. memilki system pengendalian internal yang baik

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai memilki

system pengendalian internal yang baik adalah sebagai berikut:

Tabel 4.28
Hasil Responden memilki system pengendalian internal yang baik
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
memilki system pengendalian internal yang baik

Kepala desa selalu memberikan kesempatan karyawan


54 untuk melakukan cuti karyawan untuk mengurangi 0 1 1 38 15 232
tingkat kejenuhan karyawan
66

Dalam melakukan perbaikan jalan maka pihak kantor


55 desa selalu mengadakan adu harga dengan pihak 0 0 5 34 16 231
kontraktor secara terbuka.

Aparatur desa mempunyai kebijakan dalam setiap


56 0 0 8 31 16 228
pembelian dan penjualan barang.

Aparatur desa selalu di awasi dan di mintai bukti dalam


57 setiap pembelian yang berkaitan dengan pengadaan 0 0 5 32 18 233
keperluan desa dan pengembangan program desa.

Kantor desa memiliki fasilitas untuk melaporkan segala


58 bentuk kecurangan seperti kotak surat atau pun nomor 0 0 2 38 15 233
pengadauan public

Sytem pelaporan pelanggaran sudah berjalan secara


59 0 0 2 42 11 229
maksimal.

Total skor 0 1 23 215 91 1386

8. mengurangi kerja sama pegawai dan pihak lain dan memberitahu

pemasok dan kontraktor terkait kebijakan perusahaan

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai

mengurangi kerja sama pegawai dan pihak lain dan memberitahu pemasok

dan kontraktor terkait kebijakan perusahaan adalah sebagai berikut:

Tabel 4.29
Hasil Responden mengurangi kerja sama pegawai dan pihak lain dan
memberitahu pemasok dan kontraktor terkait kebijakan perusahaan
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
mengurangi kerja sama pegawai dan pihak lain dan memberitahu pemasok dan kontraktor terkait
kebijakan perusahaan
BPD serta Kepala desa melakukan pengecekan secara
60 fisik terhadap asset kantor seperti mobil kantor desa 0 0 0 36 19 239
dan dana desa.

Kepala desa melakukan pengawasan secara langsung


61 terhadap aparatur desa dalam melakukan pekerjaannya 0 0 2 34 19 237
serta program program yang di lakukan.
67

Jika aparatur desa melakukan kecurangan di kantor


desa maka pihak BPD maupun kepala desa
62 0 0 3 31 21 238
memberikan ancaman sanksi sesuai peraturan yang
ada(contoh pemecatan dan hukuman penjara).

Total skor 0 0 5 101 59 714

9. mengawasi pegawai dan memiliki system whistle blowing

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai

mengawasi pegawai dan memiliki system whistle blowing adalah sebagai

berikut:

Tabel 4.30
Hasil Responden mengawasi pegawai dan memiliki system whistle
blowing
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
mengawasi pegawai dan memiliki system whistle blowing

BPD, Kepala desa serta bendahara desa selalu


63 menindaklajuti segala indikasi atau pelaporan dari 0 0 3 33 19 236
masyarakat terkait laporan adanya kecurangan.

Kepala desa dan seketaris desa melakukan pelaporan


64 kepada pihak yang berwenang yaitu polisi untuk setiap 0 0 2 36 17 235
kecurangan di kantor desa.

Badan pengawas desa selalu melakukan inpeksi secara


65 0 0 2 34 19 237
tidak terduga kepada kantor desa dan aparatur desa

Kepala desa melakukan pemeriksaan terhadap kegiatan


atau pekerjaan para pegawai desa secara tidak terduga
66 0 0 3 35 17 234
agar mencegah kecurangan di kantor desa( contoh
menghindari pemberian tips dari masyarakat)
Total skor 0 0 10 138 72 942

10. membuat ekpetasi hukuman

Adapun hasil tanggapan responden secara keseluruhan mengenai membuat

ekpetasi hukuman adalah sebagai berikut:


68

Tabel 4.31
Hasil Responden membuat ekpetasi hukuman

Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
membuat ekpetasi hukuman

BPD, Kepala desa serta bendahara desa selalu


63 menindaklajuti segala indikasi atau pelaporan dari 0 0 3 33 19 236
masyarakat terkait laporan adanya kecurangan.

Kepala desa dan seketaris desa melakukan pelaporan


64 kepada pihak yang berwenang yaitu polisi untuk setiap 0 0 2 36 17 235
kecurangan di kantor desa.

Badan pengawas desa selalu melakukan inpeksi secara


65 0 0 2 34 19 237
tidak terduga kepada kantor desa dan aparatur desa

Kepala desa melakukan pemeriksaan terhadap kegiatan


atau pekerjaan para pegawai desa secara tidak terduga
66 0 0 3 35 17 234
agar mencegah kecurangan di kantor desa( contoh
menghindari pemberian tips dari masyarakat)
Pengawas desa melakukan controlling audit internal
67 0 1 1 37 16 233
secara berkala terhadap kegiatan kantor desa
Kantor desa mendapat pengawasan BPD dan
68 0 0 0 36 19 239
ombudsman daerah secara penuh terkait dana desa
Total skor 0 1 11 211 107 1414

seluruh responden untuk masing-masing pernyataan kuisioner pada setiap

dimensi pecegahan fraud yaitu sebagai berikut:

Tabel 4.32
Rekapitulasi Hasil Tanggapan Responden Mengenai pencegahan fraud
Frekuensi Skor
Total
No Pernyataan STS TS KS S SS
Skor
F F F F F
Penciptaan budaya kejujuran keterbukaan dan memberi dukungan

Dalam melakukan rekruitmen karyawan kantor desa


39 memiliki beberapa kriteria dan persyaratan tanpa 0 3 4 37 11 221
melihat aspek kekeluargaan.

Kantor desa memiliki tahapan tahapan dalam proses


40 0 0 5 36 14 229
penerimaan karyawan.

Dalam melaksanakan tugas , aparatur desa diberikan


41 pelatihan tentang kesadaran kecurangan dan bagaimana 0 0 9 33 13 224
pencegahannya oleh kepala desa dan bpd
69

Kantor desa menyediakan layanan konsultasi untuk


42 aparatur desa dalam setiap agenda agenda agar 0 0 5 36 14 229
terhindar dari tekanan oleh atasan.

Kantor desa menyediakan layanan konsultasi agar


43 0 0 2 40 13 231
terhindar dari kecurangan kegiatan operasional.

Adanya sanksi tertulis terhadap kegiatan


44 penyimpangan kode etik yang berlaku untuk semua 0 0 2 45 8 226
aparatur desa

Saudara selalu mencotoh dari tindakan kepala desa


45 dalam semua hal termasuk selalu bersikap jujur dan 0 0 0 36 19 239
melaporkan segala kegiatan kepada BPD

Aparatur desa selalu melakukan sosialisasi kepada


masyakat terkait penerimaan dana desa, program
46 0 0 2 35 18 236
rutilahu dan tidak pernah meminta bayaran atas
pelayanan yang di berikan kepada masyarakat

Dalam membuat serta memutuskan kebijakan dan


procedure kantor desa , kepala desa melakukan
47 0 0 2 39 14 232
transparansi kepada aparatur desa yang lainnya dan
kepada masyarakat.

Kepala desa selalu memusywarahkan terkait kebijakan


48 0 0 2 37 16 234
yang akan di laksanakan bagi masyarakat

Total skor penciptaan budaya kejujuran keterbukaan


0 1 30 377 142 2310
dan memberi dukungan
Mengeliminasi kesempatan terjadinya kecurangan

Dalam melaksanakan pekerjaan apparatur memiliki


pemisahan tugas, proses pembelian barang hanya di
49 0 0 3 32 20 237
lakukan oleh satu bidang atas sengetahuan dari kaur
keuangan dan seketaris desa

Aparatur desa mendapatkan tugas tugas sesuai dengan


50 0 0 3 33 19 236
jabatan dan fungsi masing masing bidang

Dalam membuat pengambilan keputusan kantor desa


51 harus adanya sepengatahuan dan izin dari kepala desa 0 0 2 37 16 234
contoh pencairan dana bantuan bagi masyarakat

Hanya kepala desa dan bagian bendahara yang berhak


52 0 0 2 35 18 236
untuk melakukan pencairan dana.

Aparatur desa mendapatkan pemindahan tugas secara


berkala untuk mencegah kecurangan ( posisi kepala
53 0 0 3 36 16 233
pemerintahan di pindah tugaskan ke bidang
kesejahtraan)
70

Kepala desa selalu memberikan kesempatan karyawan


54 untuk melakukan cuti karyawan untuk mengurangi 0 1 1 38 15 232
tingkat kejenuhan karyawan

Dalam melakukan perbaikan jalan maka pihak kantor


55 desa selalu mengadakan adu harga dengan pihak 0 0 5 34 16 231
kontraktor secara terbuka.

Aparatur desa mempunyai kebijakan dalam setiap


56 0 0 8 31 16 228
pembelian dan penjualan barang.

Aparatur desa selalu di awasi dan di mintai bukti dalam


57 setiap pembelian yang berkaitan dengan pengadaan 0 0 5 32 18 233
keperluan desa dan pengembangan program desa.

Kantor desa memiliki fasilitas untuk melaporkan segala


58 bentuk kecurangan seperti kotak surat atau pun nomor 0 0 2 38 15 233
pengadauan public

Sytem pelaporan pelanggaran sudah berjalan secara


59 0 0 2 42 11 229
maksimal.

BPD serta Kepala desa melakukan pengecekan secara


60 fisik terhadap asset kantor seperti mobil kantor desa 0 0 0 36 19 239
dan dana desa.

Kepala desa melakukan pengawasan secara langsung


61 terhadap aparatur desa dalam melakukan pekerjaannya 0 0 2 34 19 237
serta program program yang di lakukan.

Jika aparatur desa melakukan kecurangan di kantor


desa maka pihak BPD maupun kepala desa
62 0 0 3 31 21 238
memberikan ancaman sanksi sesuai peraturan yang
ada(contoh pemecatan dan hukuman penjara).

BPD, Kepala desa serta bendahara desa selalu


63 menindaklajuti segala indikasi atau pelaporan dari 0 0 3 33 19 236
masyarakat terkait laporan adanya kecurangan.

Kepala desa dan seketaris desa melakukan pelaporan


64 kepada pihak yang berwenang yaitu polisi untuk setiap 0 0 2 36 17 235
kecurangan di kantor desa.

Badan pengawas desa selalu melakukan inpeksi secara


65 0 0 2 34 19 237
tidak terduga kepada kantor desa dan aparatur desa

Kepala desa melakukan pemeriksaan terhadap kegiatan


atau pekerjaan para pegawai desa secara tidak terduga
66 0 0 3 35 17 234
agar mencegah kecurangan di kantor desa( contoh
menghindari pemberian tips dari masyarakat)
Pengawas desa melakukan controlling audit internal
67 0 1 1 37 16 233
secara berkala terhadap kegiatan kantor desa
71

Kantor desa mendapat pengawasan BPD dan


68 0 0 0 36 19 239
ombudsman daerah secara penuh terkait dana desa
Total skor Mengeliminasi kesempatan terjadinya
0 2 52 700 346 4690
kecurangan
Total skor variabel pencegahan fraud 0 3 93 1259 570 7000
Sumber: Hasil Pengolahan Data Penelitian 2019

7000

TM KM CM M SM
1650 2969 4289 5609 6929 8250

Gambar 4.6
Garis Kontinum Dimensi Variabel pencegahan fraud

Pada Tabel 4.9 diproleh skor nilai jawaban 55 responden aparatur desa

mengenai variabel pencegahan fraud menunjukan sebesar 7000 dimana terletak

pada kelas interval kategori “Sangat Memadai”(Tabel 3.5). Hal ini menunjukan

bahwa secara umum kantor desa sudah melakukan langkah langkah pencegahan

fraud dengan sangat memadai sehingga resiko kecurangan dapat di minimalisir.

Pernyataan tersebut dibuktikan dengan berjalan penerapan budaya kejujuran

keterbukaan sehingga menyebabkan aparatur selalu melakukan musyawarah serta

transparansi pada setiap program, kebijakan maupun pendapatan desa khususnya

dana desa kepada masyarakat maupun BPD. Berjalannya pengawasan secara

langsung dalam bekerja oleh kepala desa dan BPD untuk menghindari adanya

pungutan liar oleh aparatur desa kepada masyarakat. Serta dalam kantor desa telah

diterapkan ekpetasi hukuman serta sanksi tegas terhadap para aparatur yang

melanggar ataupun melakukan kecurangan sehingga adanya ketakutan bagi para

oknum yang akan melakukan kecurangan, selanjutnya berjalannya audit

kecurangan secara berkala dari pihak berwenang yaitu SATGAS dana desa
72

terhadap asset desa khususnya dana desa hal tersebut bertujuan untuk menekan

tingkat kecurangan aparat desa. Selanjutnya adanya sistem pelaporan pelanggaran

yang di terapkan dalam kantor desa, serta pemisahan tugas dari tiap individu dalam

melakukan pekerjaannya sehingga ada otorisasi yang tersistem untuk melakukan

pembelian.

Adapun hal lainnya yang harus diperhatikan serta ditingkatkan oleh kepala

desa kurang effektifnya pelatihan yang dilakukan oleh BPD tentang bahaya fraud,

sehingga menyebabkan beberapa aparatur merasa masih kurangnya pemahaman

tentang indikasi-indikasi adanya fraud, serta hal lainnya yaitu masih kurangnya

profesionalisme dalam melakukan rekruitmen pegawai aparatur desa karena masih

adanya yang meragukan serta menggagap tidak setuju tentang rekruitmen dilakukan

secara benar tanpa melihat aspek kedekatan ataupun kekeluargaan.

4.1.3 Hasil Pengujian Instrumen

Sebelum melakukan pengujian hipotesis, data hasil penelitian terlebih dahulu

di uji validitas dan reliabilitasnya untuk menguji apakah alat ukur yang di gunakan

berupa butir item pernyataan yang di ajukan kepada responden telah mengukur

secara tepat, cermat dan benar pada penelitian ini. Instrument pengujian ini juga

digunakan untuk menguji data yang akurat.

4.1.3.1 Uji Validitas

Validitas diperlukan dalam pengujian hipotesis sebab pemrosesan data yang

tidak valid akan menghasilkan kesimpulan yang salah. Untuk ituperlu dilakukan uji

validitas dalam mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner dengan melihat

apakah masing-masing pernyataan dari setiap indikator valid atau tidak. Pengujian

validitas dapat dilakukan dengan melihat nilai Corrected Item-Total Correlation.


73

Jika nilai r hitung lebih besar dari r tabel dan nilainya positif (pada taraf signifikansi

5% atau 0,05), maka pernyataan tersebut dikatakan valid dan sebaliknya (Ghozali,

2006). R table didapat dari df=n-2, n merupakan jumlah responden.

Tabel 4.33
Hasil Uji Validitas Variabel komitmen organisasi
Butir
rhitung rkritis Keterangan
Pernyataan

Item 1 0.608 0.294 V

Item 2 0.751 0.294 V

Item 3 0.666 0.294 V

Item 4 0.706 0.294 V

Item 5 0.653 0.294 V

Item 6 0.506 0.294 V

Item 7 0.697 0.294 V

Item 8 0.718 0.294 V

Item 9 0.771 0.294 V

Item 10 0.853 0.294 V

Item 11 0.814 0.294 V

Item 12 0.584 0.294 V

Item 13 0.695 0.294 V

Item 14 0.542 0.294 V

Item 15 0.710 0.294 V

Item 16 0.632 0.294 V

Item 17 0.531 0.294 V

Item 18 0.560 0.294 V

Item 19 0.680 0.294 V

Item 20 0.701 0.294 V

Item 21 0.524 0.294 V

Sumber : Hasil Kuisioner ,diolah (2019)


74

Berdasarkan Tabel diatas menunjukan pernyataan-pernyataan pada

kuisioner telah memenuhi syarat validitas karena memiliki nilai korelasi lebih besar

dari 0,294 dan dapat digunakan untuk dijadikan data analisis selanjutnya.

Tabel 4.34
Hasil Uji Validitas wishtle blowing
Butir
rhitung rkritis Keterangan
Pernyataan

Item 1 0.437 0.294 V

Item 2 0.848 0.294 V

Item 3 0.815 0.294 V

Item 4 0.860 0.294 V

Item 5 0.843 0.294 V

Item 6 0.841 0.294 V

Item 7 0.751 0.294 V

Item 8 0.571 0.294 V

Item 9 0.492 0.294 V

Item 10 0.754 0.294 V

Item 11 0.821 0.294 V

Item 12 0.829 0.294 V

Item 13 0.744 0.294 V

Item 14 0.771 0.294 V

Item 15 0.725 0.294 V

Item 16 0.426 0.294 V

Item 17 0.434 0.294 V

Sumber : Hasil Kuisioner ,diolah (2019)

Berdasarkan Tabel diatas menunjukan pernyataan-pernyataan pada kuisioner

telah memenuhi syarat validitas karena memiliki nilai korelasi lebih besar dari

0,294 dan dapat digunakan untuk dijadikan data analisis selanjutnya.


75

Tabel 4.35
Hasil Uji Validitas pencegahan fraud
Butir
rhitung rkritis Keterangan
Pernyataan

Item 1 0.722 0.294 V

Item 2 0.688 0.294 V

Item 3 0.886 0.294 V

Item 4 0.706 0.294 V

Item 5 0.739 0.294 V

Item 6 0.792 0.294 V

Item 7 0.739 0.294 V

Item 8 0.620 0.294 V

Item 9 0.771 0.294 V

Item 10 0.725 0.294 V

Item 11 0.426 0.294 V

Item 12 0.434 0.294 V

Item 13 0.560 0.294 V

Item 14 0.680 0.294 V

Item 15 0.701 0.294 V

Item 16 0.524 0.294 V

Item 17 0.879 0.294 V

Item 18 0.792 0.294 V

Item 19 0.739 0.294 V

Item 20 0.839 0.294 V

Item 21 0.722 0.294 V

Item 22 0.688 0.294 V

Item 23 0.886 0.294 V

Item 24 0.708 0.294 V

Item 25 0.739 0.294 V

Item 26 0.620 0.294 V

Item 27 0.788 0.294 V

Item 28 0.721 0.294 V


76

Item 29 0.428 0.294 V

Item 30 0.818 0.294 V

Sumber : Hasil Kuisioner ,diolah (2019)

Berdasarkan Tabel diatas menunjukan pernyataan-pernyataan pada kuisioner

telah memenuhi syarat validitas karena memiliki nilai korelasi lebih besar dari

0,294 dan dapat digunakan untuk dijadikan data analisis selanjutnya.

4.1.3.2 Uji Reabilitas

Reabilitas adalah tingkat kepercayaan hasil pengeluaran yang dilakukan

untuk mengetahui derajat kepandaian ketelitian aas keakuratan yang ditujukan pada

instrument pengukuran (Sofianty dan Nurhayati, 2018:24). Uji reabilitas

dimaksudkan untuk menguji sejauh mana hasil suatu pengukuran kali atau lebih

terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang sama. Untuk

mengetahui tiap intrumen pernyataan reliabel atau tidak, maka nilai koefisien

reliabilitas (Alpha) tersebut dibandingkan dengan0,6. Dimana jika nilai Alpha lebih

besar dari 0,6 maka, instrument tersebut dinyatakan reliabel, begitu pula sebaliknya.

Tabel 4.36
Hasil Uji Reliabilitas
Alpha Nilai
Variabel Hasil
Cronbach Kritis
Komitmen organisasi (X1) 0,783 0,294 Reliable
Intensi Wishtle blowing
0,846 0,294 Reliable
(X2)
Pencegahan fraud (Y) 0,790 0,294 Reliable
Sumber : Hasil Kuisioner ,diolah (2019)
77

Berdasarkan Tabel diatas diketahui bahwa ketiga variabel masing-masing

memiliki nilai Cronbachs's Alpha lebih besar dari 0,60 yang berarti semua item

pertanyaan adalah reliabel.

4.1.4 Hasil Pengujian Hipotesis

4.1.4.1 Uji Asumsi Klasik

Sebelum melakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi

klasik. Uji ini digunakan untuk menguji dan memastikan kelayakan model regresi

dalam penelitian ini. Adapun bentuk dari uji asumsi klasik adalah sebagai berikut:

A. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel

pengganggu (residual) terdistribusi secara normal. Menurut Ghozali (2006), regresi

yang baik memiliki distribusi data yang normal atau mendekati normal. Data yang

terdistribusi normal akan memperkecil kemungkinan terjadinya bias. Pengujian

normalitas dilakukan dengan menggunakan metode grafik. Pada prinsipnya

normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu

diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya. Dasar

pengambilan keputusan:

1. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal

atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal maka model

regresi memenuhi asumsi normalitas.

2. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak

mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya

menunjukkan pola distribusi normal maka model regresi tidak

memenuhi asumsi normalitas.


78

Gambar 4.4

Berdasarkan data di atas maka data berdistribusi normal.

B. Uji Heteroskedastistitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi

ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain (Ghozali,

2006). Untuk mendeteksi adanya heterokedatisitas adalah dengan melihat ada

tidaknya pola tertentu pada grafik scatter plot. Jika ada pola tertentu, seperti titik-

titik yang ada membentuk suatu pola yang teratur (bergelombang, melebar,

kemudian menyempit), maka mengindikasikan adanya heterokedatisitas. Jika tidak

ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 dan

sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedatisitas. Jika variabel independen signifikan

secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi

heteroskedastisitas.
79

Gambar 4.5

Berdasarkan gambar di atas maka tidak terjadi heterokedastisitas, karena

data menyebar, tidak mebentuk pola tertentu.

C. Uji Multikolinearitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya

korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya

tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling

berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal (Ghozali, 2007:91). Untuk

mendeteksi adanya multikolinearitas, dapat dilihat dari Value Inflation Faktor

(VIF). Apabila nilai VIF > 10, maka terjadi multikolinearitas. Sebaliknya, jika VIF

< 10, maka tidak terjadi multikolinearitas (Wijaya, 2009:119).


80

Tabel 4.37
Multikolinieritas

Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 (Constant)
Komitmen 0,702 1,425
organisasi
Intensi 0,702 1,425
whistle
blowing

Berdaasrkan tabel di atas VIF < 10, maka tidak terjadi multikolinearitas (Wijaya,

2009:119).

4.1.4.2 Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi berganda digunakan untuk menguji pengaruh simultan dari

beberapa variabel bebas terhadap saru variabel terikat yang berskala interval.

Analisis regresi berganda membantu dalam memahami berapa banyak varians

dalam variabel terikat yang dijelaskan oleh sekelomook prediktor. Analisis regresi

berganda juga dilakukan untuk menelusuri anteseden kronologis (sequential

entecedents) yang menyebabkan variabel terikat melalui apa yang disebut sebagai

analisis jalur (path analysis) (Uma Sekaran, 2006: 299-311). Model analisis regresi

berganda yang digunakan oleh peneliti untuk menguji hipotesis adalah sebagai

berikut:

iw = α + β1 im + β2 se + e
81

Tabel 4.38
Analisis regresi berganda
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients Correlations
Std. Zero-
Model B Error Beta t Sig. order Partial Part
1 (Constant) 2,616 8,850 0,296 0,769
Komitmen 1,667 0,155 0,880 10,765 0,000 0,869 0,831 0,737
organisasi
Intensi 0,043 0,179 0,020 5,240 0,011 0,461 0,033 0,016
whistle
blowing

Berdasarkan pada tabel diatas, dapat diketahui bahwa persamaan regresi

berganda untuk data penelitian yang digunakan ini adalah sebagai berikut :

𝑌 = 2,616 + 1,667𝑥1 + 0,043𝑥2 + 𝑒

Dari persamaan regresi diatas, dapat diinterpretasikan sebagai berikut :

α = Nilai Konstanta 2,616 memiliki arti apabila variabel komitmen organisasi

dan wishtle blowing bernilai nol, maka nilai pencegahan fraud sebesar

2,616

b1 = Nilai koefisien regresi komitmen organisasi (X1) sebesar 1,667 memiliki arti

apabila komitmen organisasi meningkat sebesar 1 persen dengan anggapan

variabel lainnya konstan, maka pencegahan fraud meningkat sebesar 1,667

persen.

b2 = Nilai koefisien wishtle blowing (X2) sebesar 0,043 memiliki arti apabila

wishtle blowing meningkat sebesar 1 persen dengan anggapan variabel

lainnya konstan, maka pencegahan fraud meningkat sebesar 0,043 persen.


82

4.1.4.3 Uji Simultan (Uji statistic F)

Uji F merupakan pengujian untuk menunjukan apakah semua variabel bebas

atau variabel independen yang telah dimasukan kedalam model mempunyai

pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Ghozali, 2012:98).

Kriteria pengujiannya berdasarkan probabilitas sebagai berikut:

1) Jika nilai probabilitas signifikansi > 0, 05 artinya variabel bebas secara

simultan tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

2) Jika nilai probabilitas signifikansi ≤ 0, 05 artinya bahwa variabel bebas

secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

Tabel 4.39
Uji f
ANOVAa
Sum of Mean
Model Squares Df Square F Sig.
1 Regression 19557,396 2 9778,698 80,606 .000b
Residual 6308,366 52 121,315
Total 25865,762 54
a. Dependent Variabel: Y
b. Predictors: (Constant), X2, X1

Berdasarkan tabel diatas maka variabel komitmen organisasi dan wishtle

blowing berpengaruh terhadap pencegahan fraud karena nilai sig 0,000<0,005.

4.1.4.4 Uji t

Untuk menguji apakah terdapat hubungan yang signifikan antara variabel X1

dan X2 dengan variabel Y, maka digunakan statistik uji t. pengelolaan data akan

dilakukan dengan menggunakan alat bantu aplikasi software IBM SPSS Statistics

agar pengukuran data yang dihasilkan lebih akurat.

Menurut Ghozali (2011) uji stastistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa

jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan


83

variabel dependen. Pada uji statistik t, nilai t hitung akan dibandingkan dengan nilai

t tabel, Pengujian dilakukan dengan menggunakan significance level 0,05 (α=5%).

Penerimaan atau penolakan hipotesis dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :

1) probabilitas < tingkat signifikansi (Sig < 0,05), maka variabel independen

berpengaruh terhadap variabel dependen

2) probabilitas > tingkat signifikansi (Sig > 0,05), maka variabel independen

berpengaruh terhadap variabel dependen

Tabel 4.40
Uji t
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients Correlations
Std.
Model B Error Beta T Sig. Zero-order Partial Part
1 (Constant) 2,616 8,850 0,296 0,769
Komitmen 1,667 0,155 0,880 10,765 0,000 0,869 0,831 0,737
organisasi
Intensi 0,043 0,179 0,020 5,240 0,011 0,461 0,033 0,016
whisle
blowing

4.1.4.4.1 Pengaruh kommitmen Organisasi Terhadap pencegahan farud

Komitmen organisasi (X1) berpengaruh terhadap pencegahan farud (Y).

Berdasarkan pada tabel 4.26, dapat diketahui bahwa probabilitas signifikansi untuk

komitmen organisasi sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0.05, maka

dapat disimpulkan bahwa variabel komitmen organisasi (X1) berpengaruh secara

signifikan terhadap pencegahan fraud(Y).

4.1.4.4.2 Pengaruh wishtle blowing Terhadap pencegahan farud

Wishtle blowing (X2) berpengaruh terhadap pencegahan farud (Y).

Berdasarkan pada tabel 4.27, dapat diketahui bahwa probabilitas signifikansi untuk

komitmen organisasi sebesar 0.011 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0.05, maka
84

dapat disimpulkan bahwa variabel wishtle blowing (X2) berpengaruh secara

signifikan terhadap pencegahan fraud(Y).

4.1.4.5 Pengujian Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur seberapa jauh

kemampuan model dalam menjelaskan variasi variabel terikat (Ghozali, 2006).

Untuk mendapatkan koefisien determinasi tersebut, dapat dilihat dari tabel model

summary dalam menggunakan program SPSS versi 24 sebagai berikut

Tabel 4.41
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Adjusted
R R Std. Error of
Model R Square Square the Estimate
1 .870a 0,756 0,747 11,01429689

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, diperoleh nilai R = 0.756, nilai ini

menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat antara variabel independen secara

simultan dengan variabel dependen. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.756

menunjukkan bahwa komitmen organisasi dan wishtle blowing secara simultan

berpengaruh sebesar 75,6% terhadappencegahan fraud. Nilai sisa sebesar 23,4%

dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti oleh peneliti.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengaruh komitmen Organisasi Terhadap pencegahan farud

Komitmen organisasi (X1) berpengaruh terhadap pencegahan fraud (Y).

Berdasarkan pada tabel 4.17, dapat diketahui bahwa probabilitas signifikansi untuk

komitmen organisasi sebesar 0.000 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0.05, maka

dapat disimpulkan bahwa variabel komitmen organisasi (X1) berpengaruh secara

signifikan terhadap pencegahan fraud(Y). Hal tersebut didukung oleh data


85

rekapitulasi jawaban responden aparatur desa terhadap variabel komitmen

organisasi (Tabel 4.7) dan jawaban responden mengenai variabel pencegahan

fraud(4.9)

Adapun skor keseluruhan pada variabel komitmen organisasi yaitu sebesar

4801 yang berarti dalam kriteria sangat tinggi. Artinya para aparatur desa di kab

bandung telah memiliki komitmen organisasi yang tinggi , Hal ini menunjukan

bahwa para aparatur memiliki sikap memihak kepada organisasi dan tujuan-

tujuannya karena memiliki keinginan untuk mempertahankan jabatan sebagai

struktural desa dan rekapitulasi jawaban responden aparatur desa terhadap variabel

pencegahan fraud dapat di lihat(tabel 4.9) bahwa skor keseluruhan yaitu sebesar

7000 yang di terletak pada kategori “Sangat Memadai”. Hal ini menunjukan bahwa

kantor desa sudah melakukan langkah langkah pencegahan dengan sangat memadai

sehingga resiko kecurangan dapat di minimalisir. secara keseluruhan artinya bahwa

semakin tinggi komitmen organisasi, maka semakin tinggi keberpihakan aparat

terhadap kantpr desa serta tujuan-tujuannya yang berdampak pada keinginan untuk

mencegah sesuatu yang dapat merugikan kantor desa guna keberlangsungan kantor

desa. sehingga para aparatur akan berperan serta terlibat untuk membantu

mencegah serta menekan terjadinya fraud dalam kantor desa .

Pernyataan diatas di landasi dengan berjalan nilai-nilai kejujuran dan

professional pada kantor desa yang telah diterapkan pada pekerjaan serta keseharian

para aparatur desa, hal tersebut membuat suatu budaya kejujuran dan profesional

pada kantor desa yang memukinkan para aparatur akan bersikap terbuka sehingga

menekan resiko fraud seperti kolusi antar pegawai dan kontraktor ataupun kolusi

antar aparat desa dengan kepala desa dalam dana desa selain itu budaya kejujuran
86

dan profesionalisme akan menghilangkan kesempatan fraud pada rekruitmen yang

tidak baik . Adapun para aparatur desa sudah mendapatkan konvensasi sesuai yang

diharapkan sehingga akan mengurangi salah satu faktor dari fraud yaitu tekanan

serta rasionalisasi karena secara kebutuhan sudah tercukupkan. Hal lainnya dimana

para aparatur memeiliki pemahaman dan kemampuan dalam mengelola sistem

pemerintahan desa yang berakibat pada terciptanya kordinasi serta pelaporan yang

baik terhadap masyarakat maupun BPD hal tersebut bakal menekan resiko dari

adanya fraud karena terciptanya trasnparansi atas semua hal. selanjutnya yaitu para

aparatur mempunyai tanggung jawab untuk memajukan kantor desa sehingga dapat

berdampak. terhadap pelaporan ataupun kordinasi aparatur dalam menjalankan

kegiatan kepada badan pengawas desa(BPD). peryantaan tersebut akan

berpengaruh terhadap effektifitas adanya sistem whistleblowing yang diterapkan

oleh perusahaan karena mereka beranggapan bahwa suatu fraud adalah tindakan

yang dapat menghancurkan kantor desa. maka dari itu mereka akan melaporkan

tindakan tersebut karena dianggap merugikan dan menghambat kemajuan.

Berdasarkan pernyataan diatas, dapat di simpulkan bahwa semakin tinggi

komitmen organisasi yang di miliki aparatur desa maka pencegahan fraud akan

semakin baik dan begitupun sebaliknya semakin kecil aparatur melakukan fraud,

karena adanya kesadaran dari aparatur untuk tidak melakukan kecurangan , sebalik

aparatur desa akan ikut aktip terlibat dalam mencegah serta mengurangi fraud di

kantor desa.

Menurut Robert kreitner & angelo Kinicki (2014) Ketika individu mampu

melakukan penyesuaian atau bisa setara dengan nilai nilai organisasi akan

mempengaruhi hasil-hasil positif seperti kepuasan bekerja, kinerja yang meningkat


87

serta berkurang nya tekanan. Hal tersebut sejalan dengan pencegahan fraud dimana

mengeliminasi adanya tekanan kepada para pegawai, sehingga karyawan yang

memiliki komitmen organisasi tinggi akan dapat menghindari bentuk bentuk

kecurangan yang di lakukan atas dasar tekanan dari pihak ekternal maupun internal

dan individu akan lebih mampu untuk ikut terlibat dalam pencegahan fraud pada

organisasi.

Hal tersebut di buktikan dengan hasil penelitian yang di lakukan oleh (anggit

purwitasari) terdapat pengaruh postif komitmen organisasi terhadap pencegahan

fraud. Karena dengan membuat karyawan terlibat dalam tugas aktivitas dan

manfaat serta merasakan kenyamanan di dalamnya dan memdukung nilai nilai , visi

dan misi organisasi dalam mencapai tujuan nya sehingga karyawan tersebut akan

memiliki ikatan emosional atau nilai yang sama dari bagian organisasi tersebut

sehingga dapat mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya tindak

kecurangan.

4.2.2 Pengaruh intensi wishtle blowing Terhadap pencegahan farud

Intens Wishtle blowing (X2) berpengaruh terhadap pencegahan farud (Y).

Berdasarkan pada tabel 4.27, dapat diketahui bahwa probabilitas signifikansi untuk

intensi whistleblowing sebesar 0.011 lebih kecil dari tingkat signifikansi 0.05, maka

dapat disimpulkan bahwa variabel wishtle blowing (X2) berpengaruh secara

signifikan terhadap pencegahan fraud(Y). hal tersebut didukung oleh hasil data

rekapitulasi jawaban responden aparatur desa terhadap variabel intensi

whistleblowing(4.8) dan rekapitulasi jawaban responden aparatur desa terhadap

variabel pencegahan fraud


88

skor nilai jawaban 55 responden aparatur desa mengenai variabel intensi

whistleblowing menunjukan sebesar 4170 dimana terletak pada kelas interval

kategori “Sangat Tinggi” (Tabel 3.4). Hal ini menunjukan bahwa para aparatur desa

memiliki niatan yang tinggi untuk melakukan pelaporan kecurangan di kantor desa

dan Pada rekapitulasi jawaban responden aparatur desa terhadap variabel

pencegahan fraud dapat di lihat(tabel 4.9) bahwa skor keseluruhan yaitu sebesar

7000 yang di terletak pada kategori “Sangat Memadai”. Hal ini menunjukan bahwa

kantor desa sudah melakukan langkah langkah pencegahan dengan sangat memadai

sehingga resiko kecurangan dapat di minimalisir, Artinya semakin timggi intensi

whistle blowing pada aparatur desa akan menekan tingkat kecurangan karena

adanya suatu keyakinan ataupun niatan yang mendorong terjadinya prilaku untuk

melaporkan tindakan kecurangan. pernyataan di buktikan dengan aparat desa

mempunyai keyakinan bahwa fraud dapat menyebabkan kerugian sehingga

keyakinan tersebut akan mendorong tindakan untuk tidak melakukan kecurangan ,

namun ketika ada kecurangan aparatur akan melaporkan hal tersebut karena

dorongan keyakinan yang dimiliki, serta adanya system whistle blowing

menyebabkan muculnya keberanian pada aparatur desa untuk melaporkan

kecurangan yang berimplikasi mengurangi ataupun menekan terjadinya fraud serta

adanya keyakinan dari aparatur desa bahwa melaporkan kecurangan dapat

menyelamatkan dan memperbaiki kantor desa dari kerugian. Ketika adanya ikatan

emosional untuk menyelamatkan dan memperbaiki kantor desa, maka para aparatur

akan ikut terlibat dalam megawasi asset perusahaan sehingga akan mengakibatkan

tekanan secara psikis kepada para oknum-oknum yang mempunyai niat melakukan
89

kecurangan karena merasa terus diawasi yang pada akhirnya menutup faktor

kesempatan bagi para oknum.

Namun tetap masih adanya kekurangan yang harus di perhatikan oleh

kepala desa, karena kurang effektifnya pelatihan yang dilakukan oleh BPD tentang

bahaya fraud, sehingga menyebabkan beberapa aparatur merasa masih kurangnya

pemahaman tentang indikasi-indikasi adanya fraud yang menybabkan peluang bagi

para oknum-oknum yang akan melakukan kecurangan, serta hal lainnya yaitu masih

kurangnya profesionalisme dalam melakukan rekruitmen pegawai aparatur desa

karena masih adanya yang meragukan serta menggagap tidak setuju tentang

rekruitmen dilakukan secara benar tanpa melihat aspek kedekatan ataupun

kekeluargaan. Hal tersebut sangat riskan karena berdampak timbulnya kolusi serta

nepotisme di dalam kantor desa.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tingggi intensi

whistleblowing yang dimiliki aparatur desa, maka semakin memadai juga

pencegahan fraud. Hal tersebut disebabkan karena keterlibatan para aparatur untuk

melakukan pengawasan dan melaporkan kecurangan sehingga dapat mengeliminasi

terjadi fraud.

.Intensi whistleblowing pada aparatur desa sangat penting, karena dengan

adanya keterlibatan serta keinginan untuk mengungkapkan pelanggaran dapat

membuat lebih effektifnya pencegahan fraud dalam lingkungan desa. Seseorang

yang mempunyai intensi whistleblowing yang tinggi cenderung lebih berani untuk

melaporkan pelanggaran karena memiliki komitmen professional dan sikap yang di

yakini bahwa melaporkan kecurangan merupakan tindakan yang benar

Semendawai (2011)
90

hasil penelitian ini sejalan dengan yang di lakukan Hal tersebut sejalan dengan

penelitian yang dilakukan Deloite (Mark F.Zimbleman and Albrecht) bahwa 33%

pendeteksian kecurangan di dapatkan dari laporan pegawai dan (Made Indra Dwi

Putra Suastawan,) terdapat pengaruh postif intensi whistleblowing terhadap

pencegahan fraud.
91

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah disajikan pada Bab

IV, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan kesimpulan penelitian sebagai

berikut :

1) Komitmen Organisasi dalam penelitian ini terbukti berpengaruh signifikan

terhadap Pencegahan Fraud pada Aparatur Kantor Desa di Kab.Bandung

2) Intensi Whistleblowing dalam penelitian ini terbukti berpengaruh signifikan

terhadap Pencegahan Fraud pada Aparatur Kantor Desa di Kab.Bandung

5.2 Saran

1) Memberikan traning tentang fraud baik pencegahan, indikasi terjadi fraud

secara berkala, hal tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman lebih

sehingga system pencegahan fraud dapat lebih effektif.

2) BPD lebih aktip dalam melakukan pengawasan dan membuat pedoman kode

etik secara tertulis untuk para aparatur termasuk diantaranya rekruitmen

aparatur desa.
92

R PUSTAKA

1) Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). 2008. Pedoman Umum

Good Corporate Governance Indonesia. Jakarta.

2) Sugiyono. 2010. Metodologi Penelitian, Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.

Bandung: Alfabeta

3) Tuanakotta. 2007. Akuntansi Forensik dan Audit Investigasi, Lembaga

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta

4) Jones, T.M. (1991). "Ethical decision making by individuals in

organizations: An issuecontingent model". Academy of Management

Review16, 366-395

5) Dr. Sonny keraf.(2000,172) Etika Bisnis tuntutan dan relevansinya,

6) Mark F.zimbleman & Conan C.Albrecht. 2014. Akuntansi Forensik.

Terjemahan Novita Puspasari, Suherti dan Ratna Saraswati. Jakarta

selatan.Salemba Empat

7) Robert Kreitner & Angelo Kinicki. 2014. Prilaku organisasi. Terjemahan

Biro Bahasa Alkemis.Jakarta Selatan. Salemba Empat

8) Singleton, Tommie and Singleton Aron. 2006. Fraud Auditing and Forensic

Accounting. Canada; John wiley &amp; Sons, Inc.

9) Stephen P.Robbins & Timothy A.judge. 2014. Perilaku organisasi. Jakarta

Selatan. Salemba Empat