Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

LARUTAN NON ELEKTROLIT

HUKUM RAOULT

Oleh:
Kelompok VII
Kelas A

Arbi Arba’a Hermawan 1707111257


Muhammaad Shaza 1707113692
Rahmatul Aulia 1707113845
Rona Uli Br Gaol 1707111142

Asisten :
Wahyu Rahmadhan

Dosen Pengampu :
Dra. Silvia Reni Yenti, M.Si

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
2018
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA
LARUTAN NON ELEKTROLIT HUKUM RAOULT

Dosen pengampu praktikum kimia fisika dengan ini

menyatakan bahwa :

Kelompok VI

Arbi Arba’a Hermawan 1707111257


Muhammaad Shaza 1707113692
Rahmatul Aulia 1707113845
Rona Uli Br Gaol 1707111142

1. Telah melakukan perbaikan-perbaikan yang disarankan oleh Dosen


pengampu / Asisten Praktikum.
2. Telah menyelesaikan laporan lengkap praktikum Larutan Non Elektrolit
Hukum Raoult dari praktikum kimia fisika yang disetujui oleh Dosen
Pengampu / Asisten Praktikum.

Catatan Tambahan :

Dosen Pengampu
Pekanbaru, September2018

Dra. Silvia Reni Yenti, M.Si


NIP. 19590824 198702 2 001

i
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... i

DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ iv

DAFTAR TABEL ............................................................................................. v

BAB I TEORI
1.1 Hukum Raoult ......................................................................................... 1
1.2 Larutan Ideal ........................................................................................... 1
1.3 Penyimpangan Hukum Raoult ................................................................ 3
1.4 Aseton ..................................................................................................... 5
1.5 Etil Asetat ................................................................................................ 6
1.6 Larutan Non Elektrolit ............................................................................ 7
1.7 Sifat Koligatif Larutan ............................................................................ 8

BAB II METODOLOGI
2.1 Alat-alat yang Digunakan ..................................................................... 12
2.2Bahan-bahan yang Digunakan ............................................................... 12
2.3 ProsedurPercobaan ................................................................................ 12

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan .................................................................................. 14

3.2 Pembahasan ........................................................................................... 14

3.2.1Grafik ............................................................................................ 16

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan ........................................................................................... 18


4.2 Saran ...................................................................................................... 18

ii
BAB V TUGAS/JAWABAN PERTANYAAN

5.1 Pertanyaan ............................................................................................. 19


5.2 Jawaban ................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN A LAPORAN SEMENTARA

LAMPIRAN B LEMBAR PERHITUNGAN

LAMPIRAN C DOKUMENTASI

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Aseton ............................................................................................ 5

Gambar 1.2 Etil Asetat ...................................................................................... 7

Gambar 1.3 Tekanan uap jenuh larutan (P) lebih rendah daripada tekanan uap
jenuh pelarut murni (P°); .................................................................................... 9

Gambar 2.1 Rangkaian Alat Refluks…………………………………………12

Gambar 3.1 Grafik Hubungan Antara Fraksi Mol Etil Asetat Dengan Titik Didih
Campuran ..................................................................................................... ….16

Gambar 5.1 Grafik Hubungan Antara Fraksi Mol Etil Asetat Dengan Titik Didih
Campuran .......................................................................................................... 19

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Larutan Non Elektrolit Hukum Raoult ............... 14

v
BAB I
TEORI

1.1 Hukum Raoult


Dalam larutan ideal, semua mengikuti kompenen (pelarut dan zat terlarut)
mengikuti hukum Raoult pada seluruh selang konsentrasi. Bunyi dari hukum
Raoult adalah: “tekanan uap larutan ideal dipengaruhi oleh tekanan uap pelarut
dan fraksi mol zat terlarut yang terkandung dalam larutan tersebut”. Secara
matematis ditulis sebagai:
Plarutan= Xterlarut . Ppelarut……………………………(1)
Dalam semua larutan encer yang tidak mempunyai interaksi kimia diantara
komponen-komponennya, hukum Raoult berlaku bagi pelarut, baik ideal maupun
tidak ideal. Tetapi hukum Raoult tidak berlaku bagi larutan tidak ideal
encer.Perbedaan ini bersumber pada kenyataan molekul-molekul pelarut yang luar
biasa banyaknya. Hal ini menyebabkan lingkungan molekul terlarut sangat
berbeda dalam lingkungan pelarut murni. Zat terlarut dalam larutan tidak ideal
encer mengikuti hukum Henry, bukan hukum Raoult (Atkins, 1997).

1.2 Larutan Ideal

Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik menarik molekul-molekul


komponennya sama dengan gaya tarik menarik anatara molekul dari masing-
masing komponennya. Jadi, bila larutan zat A dan B bersifat ideal, maka gaya
tarik antara molekul A dan B, sama dengan gaya tarik antara molekul A dan A
atau antara B dan B (Sukardjo, 1990).

Bila dua cairan bercampur, maka ruang diatasnya berisi uap kedua cairan
tersebut. Tekanan uap jenuh masing-masing komponen di ruangan itu lebih kecil
daripada tekanan uap jenuh cairan murni, karena permukaan larutan diisi oleh dua
jenis zat sehingga peluang tiap komponen untuk menguap berkurang. Peluang itu
setara dengan fraksi molnya masing-masing.

Campuran ideal adalah sebuah campuran yang menaati hukum Raoult.


Sebenarnya tidak ada campuran yang bisa dibilang ideal. Tapi beberapa campuran

1
larutan kondisinya benar-benar mendekati keadaan yang ideal. Berikut ini adalah
contohnya:

 hexana dan heptana


 benzena dan methylbenzena
 propan-1-ol dan propan-2-ol
Dalam campuran dua larutan yang dapat menguap, hukum Raoult juga dapat
digunakan (Jim, 2007).

Dalam sebuah larutan, beberapa molekul yang berenergi besar dapat


menggunakan energinya untuk mengalahkan daya tarik intermolekuler permukaan
cairan dan melepaskan diri untuk kemudian menjadi uap. Semakin kecil daya
intermolekuler, semakin banyak molekul yang dapat melepaskan diri pada suhu
tertentu. Pada suhu tertentu, sebagian dari molekul-molekul yang ada akan
mempunyai energi yang cukup untuk melepaskan diri dari permukaan larutan
(Jim, 2007).

Pada sebuah campuran ideal dari kedua larutan tersebut, kecenderungan dari
dua macam molekul di dalamnya untuk melepaskan diri tidak berubah. Jadi,
apabila proporsi dari tiap jenis molekul yang melepaskan diri tetap sama maka
hanya ada separuh dari tiap jenis molekul yang dapat melepaskan diri dari
campuran larutan pada suatu waktu tertentu. Apabila komposisi tersebut berubah,
kecenderungan molekul untuk melepaskan diri juga akan berubah. Oleh karena
itu, campuran yang disebut larutan ideal biasanya adalah campuran dua jenis zat
yang memiliki besar molekul yang hampir sama dan mempunyai daya tarik Van
der Waals yang sama. Namun besar molekul keduanya tidak persis sama sehingga
walaupun campuran ini mendekati campuran ideal, tetap saja bukan merupakan
campuran ideal (Jim, 2007).

Campuran ideal dari dua larutan akan mempunyai energi entalpi sebesar nol.
Jadi, apabila suhu campuran naik atau turun pada saat keduanya dicampur berarti
campuran tersebut bukan campuran ideal (Jim, 2007).

2
Menurut hukun Raoult tekanan uap Parsial A berlaku:

PA = XA PoA ...............................................................(2)

Sedangkan untuk tekanan uap parsial B berlaku :

PB = XB PoB ...............................................................(3)

PoA = tekanan uap A ( yaitu cairan murni )

PoB = tekanan uap B

XA = mol A/ jumlah mol A dan B

XB = mol B/ jumlah mol A dan B

XA dan XB disebut fraksi mol.

Jumlah tekanan uap (P) menurut hukum Dalton adalah:

P = PA + PB ................................................................(4)

1.3 Penyimpangan Hukum Raoult


Penyimpangan Hukum Raoult terjadi karena perbedaan interakasi antara
partikel sejenis dengan yang tak sejenis. Misalnya campuran A dan B, jika daya
tarik A- B lebih besar dari A-A atau B-B maka kecenderungan bercampur lebih
besar, akibatnya jumlah tekanan uap kedua kedua zat lebih kecil daripada larutan
ideal, ini disebut dengan penyimpangan negatif.

Penyimpangan positif terjadi bila daya tarik A-B lebih kecil daripada daya
tarik A-A dan B-B, akibatnya tekanan uapnya menjadi lebih besar dari larutan
ideal. Sifat suatu larutan mendekati sifat pelarutnya jika jumlahnya lebih besar.
Akan tetapi larutan dua macam cairan dapat berkomposisi tanpa batas, karena
saling melarutkan. Kedua cairan dapat sebagai pelarut atau sebagai zat terlarut
tergantung pada komposisinya (Syukri, 1999).

Larutan non ideal dapat menunjukkan penyimpangan positif (dengan


tekanan uap lebih tinggi daripada yang diprediksikan oleh hukum Raoult) atau
penyimpangan negatif (dengan tekanan uap lebih rendah). Pada tingkat molekul

3
penyimpangan negatif muncul bila zat terlarut menarik molekul pelarut dengan
sangat kuat, sehingga mengurangi kecenderungannya untuk lari ke fase uap.
Contoh penyimpangan negatif terjadi pada campuran aseton dan air.
Penyimpangan positif muncul pada kasus kebalikkannya yaitu bila molekul
pelarut dan zat terlarut tidak saling tertarik satu sama lain. Contoh penyimpangan
positif terjadi pada campuran etanol dan n–hekasana (Oxtoby, 2001).

Apabila sebuah larutan mempunyai tekanan uap yang tinggi pada sebuah
suhu, ini berarti bahwa molekul-molekul yang berada dalam larutan tersebut
sedang melepaskan diri dari permukaan larutan dengan mudahnya. Apabila pada
suhu yang sama, sebuah larutan lain mempunyai tekanan uap yang rendah, ini
berarti bahwa molekul-molekul dalam larutan tersebut tidak dapat dengan mudah
melepaskan diri.

Ada dua cara untuk melihat hal ini, yaitu:

1. Apabila molekul-molekul dalam larutan sedang melepaskan diri dengan


mudahnya dari permukaan larutan, ini berarti bahwa daya tarik intermolekuler
relatif lemah. Dengan demikian, tidak perlu memanaskannya dengan suhu
terlalu tinggi untuk memutuskan semua daya tarik intermolekuler tersebut dan
membuat larutan ini mendidih. Larutan dengan tekanan uap yang lebih tinggi
pada suatu suhu tertentu adalah larutan yang titik didihnya lebih rendah.
2. Larutan akan mendidih ketika tekanan uapnya menjadi sama dengan tekanan
udara luar. Apabila sebuah larutan mempunyai tekanan uap yang tinggi pada
suhu tertentu, tidak perlu menambah tekanan uapnya supaya menjadi sama
dengan tekanan udara luar. Di lain pihak, apabila tekanan uapnya rendah,
harus meningkatkan tekanan uapnya setinggi-tingginya sampai besarnya
menjadi sama dengan tekanan udara luar.

Larutan dengan tekanan uap yang lebih tinggi pada suatu suhu tertentu
adalah larutan yang titik didihnya lebih rendah. Sekali lagi, dua larutan pada suhu
yang sama. Larutan dengan tekanan uap yang lebih tinggi adalah larutan yang titik
didihnya lebih rendah (Hiskia, 1996).

4
1.4 Aseton

Aseton, CH3COCH3, merupakan salah satu senyawa alifatik keton yang


sangat penting. Pada umumnya aseton digunakan sebagai solven untuk beberapa
polimer. Penggunaan yang bersifat komersial adalah penggunaan sebagai senyawa
intermediet dalam pembuatan methyl methacrylate, bisphenol A, diaseton alkohol
dan produk-produk lain.

Aseton dikenal juga sebagai propanon, dimetil keton, 2-propanon adalah


senyawa berbentuk cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar dan memiki
titik didih 56oC. Ia merupakan keton yang paling sederhana. Aseton larut dalam
berbagai perbandingan dalam air, etanol, dietil eter, dan lain-lain. Ia sendiri juga
merupakan pelarut yang penting. Aseton digunakan untuk membuat plastik, serat,
obat-obatan dan senyawa kimia lainnya (Petrucci, 1987).

Aseton dapat dibuat dari alkohol sekunder dengan cara oksidasi. Apabila
alkohol primer dioksidasi, maka akan terbentuk senyawa aldehid. Sedangkan
apabila alkohol sekunder dioksidasi, maka akan terbentuk senyawa keton. Aseton

adalah zat yang tidak berwarna dengan berat jenis 0.812 g/mL pada suhu 0°C.

Aseton juga merupakan senyawa yang memiliki bau khas. Aseton juga merupakan
suatu pelarut yang baik bagi zat-zat organik. Aseton biasanya digunakan dalam
pembuatan plastik, serat, obat-obatan, serta senyawa kimia lainnya. Aseton juga
dugunakan dalam pembuatan mesiu yang tidak berasap dan pembuatan sel koloid
yang berguna sebagai bahan asal bagi senyawa-senyawa penting, seperti
kloroform dan iodoform (Fessenden, 1982)

5
Gambar 1.1 Aseton

1.5 Etil Asetat

Banyak senyawa ester yang terdapat dialam memilki aroma, seperti metil
butanoat yang merupakan minyak dalam buah nanas dan isopentil asetat yang
terdapat dalam buah pisang. Senyawa ester sitesis dalam industri digunakan untuk
berbagai macam produk. Reaksi asam karboksilat dengan alkohol menghasilkan
senyawa ester melalui reaksi yang dikenal dengan nama esterifikasi, dan biasanya
menggunakan katalis asam. Reaksi akan berlangsung dengan baik jika direfluks
bersama sedikit asam sulfat atau asam klorida (Riswiyanto, 2009).
Etil asetat merupakan senyawa yang dihasilkan dari pertukaran gugus
hidroksil pada asam karboksilat dengan gugus hidrokarbon yang terdapat
pada etanol. Etil asetat seringkali disintesis dengan menggunakan katalisator air
berupa asam sulfat. Penggunaan katalistor asam sulat dapat menghasilkan
konversi yang cukup tinggi yaitu dapat mencapai 98%. Konversi tertinggi
diperoleh pada suhu 550C, rasio alkohol/asam lemak 6,13 dan konsentrasi
katalisator 2,2% massa yaitu sebesar 96% (Nuryoto, 2008).
Etil asetat juga dkenal dengan nama acetc ether adalah pelarut yang banyak
digunakan pada industri cat, tinta, plastik, farmasi dan industri kimia organik. Etil
asetat adalah cairan bening yang tidak berwarna dan berbau khas. Pada skala
industri, etil asetat diproduksi dari reaksi esterifikasi antara asam asetat
(CH3COOH) dan etanol (C2H5OH), dengan bantuan katalis dalam suasana asam
(H2SO4). Selain melalui reaksi di atas, etil asetat juga diprduksi secara komersil
melalui reaski antara eilen dan asam asetat. Namun dari sisi keekonomian, etil
asetat dari etanol dan asam asetat lebih kompetitif (Fuad, 2012).
Proses pembuatan etil asetat biasanya melalui suatu reaksi bolak-balik
(reversible) antara asam asetat dengan etanol dalam suasana asam. Dalam proses
pembuatan etil asetat ini, reaksi memiliki konversi yang rendah, sehingga sulit
mendapatkan kemurnian etil asetat yang tinggi. Selain itu, terbentuk azeotrop
antara senyawa rektan dan produk sehingga sulit untuk mencapai kemurnian yang
tinggi. Pada proses pembuatan etil asetat ini ada empat buah bentuk azeotrop yaitu
EtOH-EtAc, EtOH-H2O, EtAc-H2O dan EtOH-EtAc-H2O. Dari keempat titik

6
azeotrop ini, bentuk EtOH-EtAc-H2O memiliki titik didih paling kecil (Bambang,
2006).
Asam asetat merupakan komoditas penting yang digunakan dalam beberapa
industri, dengan sekitar 6 juta ton dunia menuntut per tahun. Penggunaan utama
dari bahan kimia ini berada di pembuatan berbagai macam ester asetat, fungisida
dan juga sebagai pelarut untuk banyak senyawa organik, penyusunan produk
farmasi (misalnya aspirin), selulosa asetat yang penting dalam pembuatan film
dan plastik barang, parfum, dan serat sintesis (Riyanto, 2005).

Gambar 1.2 Etil Asetat

1.6 Larutan Non Elektrolit


Suatu larutan adalah campuran homogen dari molekul, atom ataupun ion
dari dua zat atau lebih. Suatu larutan disebut suatu campuran karena susunannya
dapat berubah-ubah. Disebut homogen karena susunannya begitu seragam
sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan
dengan mikroskop sekalipun. Dalam campuran heterogen permukaan-permukaan
tertentu dapat dideteksi antara bagian-bagian atau fase-fase yang terpisah (Dogra,
1990).
Biasanya dengan larutan dimaksudkan fase cair. Lazimnya adalah satu
komponen (penyusun) larutan semacam itu adalah suatu campuran sebelum cairan
itu dibuat. Cairan ini disebut medium pelarut atau solven. Zat yang terlarut
disebut solute (Dogra, 1990).
Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus
listrik dan tidak menimbulkan gelembung gas. Pada larutan non elektrolit

7
molekul-molekulnya tidak terionisasi dalam larutan, sehingga tidak ada ion yang
bermuatan yang dapat menghantarkan arus listrik (Oxtoby, 2001).

1.7 Sifat Koligatif Larutan


Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tergantung pada jumlah
partikel zat terlarut dalam larutan, tetapi tidak tergantung pada jenis pelarutnya.
Berikut akan dibahas sifat koligatif larutan yang meliputi penurunan tekanan uap,
kenaikan titik didih, penurunan titik beku larutan, dan tekanan osmosis (Dogra,
1990).
A. Penurunan tekanan uap

Apabila ke dalam suatu pelarut dilarutkan zat yang tidak mudah menguap,
ternyata tekanan uap jenuh larutan menjadi lebih rendah daripada tekanan uap
jenuh pelarut murni. Dalam hal ini uap jenuh larutan dapat jenuh dianggap hanya
mengandung uap zat pelarut, (lihat Gambar 1.3). Selisih antara tekanan uap jenuh
pelarut murni dengan tekanan uap jenuh larutan disebut penurunan tekanan uap
jenuh (ΔP). Jika tekanan uap jenuh pelarut murni dinyatakan dengan P° dan
tekanan uap jenuh larutan dengan P, maka

ΔP = P° – P...................................................(5)

Pada tahun 1880-an F.M. Raoult, seorang ahli kimia Prancis, menyatakan
bahwa melarutkan zat terlarut mempunyai efek menurunkan tekanan uap dari
pelarut. Adapun bunyi hukum Raoult yang berkaitan dengan penurunan tekanan
uap adalah sebagai berikut :

a. Penurunan tekanan uap jenuh tidak bergantung pada jenis zat yang dilarutkan,
tetapi tergantung pada jumlah partikel zat terlarut.
b. Penurunan tekanan uap jenuh berbanding lurus dengan fraksi mol zat yang
dilarutkan.

Hukum Raoult tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.


ΔP = P0 . XB..................................................(6)

8
Keterangan:
ΔP = penurunan tekanan uap jenuh pelarut
XB = fraksi mol zat terlarut
P° = tekanan uap pelarut murni
𝑛𝐵
𝑥𝐵 𝑛𝐴=𝑛𝐵..................................................(7)

Jika larutannya encer, nB<<nA, sehingga nA+ nBdapat dianggap sama dengan nA,
jadi:
ΔP = P0 . nB
nA .............................................(8)

Dalam larutan terdapat zat terlarut dan pelarut, sehingga:


x A + x B= 1
xB= 1 – xA...................................................(9)
Jika tekanan uap pelarut dilambangkan P, di mana P <P°, maka:
ΔP = P° – P
P° – P = (1 – xA)PA°
P° – P = P° – xA. P°
P = xA .P°.................................................(10)
Keterangan:
P = tekanan uap larutan
xA= fraksi mol pelarut
P° = tekanan uap pelarut murni
Hukum Raoult telah diuji kebenarannya dengan membandingkan harga P
hasil eksperimen dengan P hasil hitungan berdasarkan rumus di atas. Antara hasil
eksperimen dengan hasil hitungan terdapat perbedaan yang kecil karena kesalahan
dalam pengamatan.

9
Gambar 1.3 Tekanan uap jenuh larutan (P) lebih rendah daripada tekanan uap
jenuh pelarut murni (P°);
P = P° – P…………………………………..(11)
B. Kenaikan titik didih ( ΔTb) dan penurunan titik beku ( ΔTf)

Setiap zat cair pada suhu tertentu mempunyai tekanan uap jenuh tertentu
dan mempunyai harga yang tetap. Zat cair akan mendidih dalam keadaan terbuka
jika tekanan uap jenuhnya sama dengan tekanan atmosfer. Pada saat udara
mempunyai tekanan 1 atm, air mendidih pada suhu 100°C, tetapi jika dalam zat
cair itu dilarutkan suatu zat, maka tekanan uap jenuh air itu akan berkurang.
Penurunan tekanan uap jenuh larutan yang lebih rendah dibanding tekanan uap
jenuh pelarut murni menyebabkan titik didih larutan lebih tinggi daripada titik
didih pelarut murni.

Selisih antara titik didih suatu larutan dengan titik didih pelarut murni
disebut kenaikan titik didih larutan ( Tb).
ΔTb= Tb larutan - Tb pelarut murni……………..(12)
Jadi, tekanan uap larutan lebih rendah daripada tekanan uap pelarut murni.
Hal ini menyebabkan penurunan titik beku larutan lebih rendah dibandingkan
dengan penurunan titik beku pelarut murni. Selisih temperatur titik beku larutan

dengan titik beku pelarut murni disebut penurunan titik beku (ΔTf).

ΔTf= Tf pelarut murni - Tf larutan…………………(13)


Menurut Hukum Backman dan Raoult bahwa penurunan titik beku dan
kenaikan titik didih berbanding langsung dengan molalitas yang terlarut di
dalamnya. Hukum tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.

10
Tb= m x Kf……………………………………………(14)
Tf= m x Kf……………………………………………(15)
Keterangan:
Tb = kenaikan titik didih
Kb = tetapan kenaikan titik didih molal
Tf = penurunan titik beku
Kf = tetapan titik beku molal
M = molalitas

Syarat Hukum Backman dan Raoult adalah sebagai berikut :


a. Rumus di atas berlaku untuk larutan nonelektrolit.
b. ΔTb tidak berlaku untuk larutan yang mudah menguap.
c. Hanya berlaku untuk larutan yang sangat encer, pada larutan yang pekat
terdapat penyimpangan.

C. Tekanan osmosis larutan

Osmosis adalah peristiwa mengalirnya molekul-molekul pelarut ke dalam


larutan secara spontan melalui selaput semipermeabel, atau peristiwa mengalirnya
molekul- molekul zat pelarut dari larutan yang lebih encer kelarutan yang lebih
pekat. Proses osmosis terdapat kecenderungan untuk menyetimbangkan
konsentrasi antara dua larutan yang saling berhubungan melalui membran. Jika
kita memperhatikan osmometer yang diisi larutan gula, kemudian dimasukkan ke
dalam gelas kimia yang berisi air, ternyata permukaan larutan gula pada
osmometer naik. Akan tetapi, jika di atas torak diberi beban tertentu, maka aliran
air ke dalam osmometer dapat dicegah. Gaya yang diperlukan untuk mengimbangi
desakan zat pelarut yang mengalir melalui selaput semipermeabel ke dalam
larutan disebut tekanan osmosis larutan. Hubungan tekanan osmosis dengan
kemolaran larutan oleh Van’t Hoff dapat dirumuskan sebagai berikut:
PHI = M.R.T.............................................(16)

11
Keterangan:
PHI = tekanan osmosis (atm)
M = molaritas (mol/liter)
T = suhu mutlak (K)
R = ketetapan gas (0,082) L.atm.mol–1K–1
Hukum Van’t ini hanya berlaku pada larutan non elektrolit.

12
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat yang digunakan


1. Alat refluks
2. Termometer
3. Heating mantel
4. Batu didih
5. Klem & Statip
6. Gelas ukur 2 buah (10ml)
7. Corong

Keterangan:

1. Statif
2. Klem
3. Labu Didih
4. Kondensor
5. Termometer
6. Air Keluar
7. Air Masuk
8. Alat sirkulasi
air
9. Heating
Mantel

Gambar 2.1 Rangkaian Alat Refluk


2.2 Bahan yang digunakan
1. Etil asetat
2. Aseton
2.3 Prosedur Kerja
1. Dipasang alat refluks, yang terdiri dari labu leher dua 500 ml dan sebuah
pendingin yang dipasang terbalik. Hal yang perlu diperhatikan dalam
merangkai alat refluks :

13
a. Termometer tercelup ditengah-tengah cairan, namun jangan
sampai menyentuh dinding gelas labu refluks. Jangan lupa
tambahkan batu didih.
b. Setiap kali memasukkan kedua cairan, sumber panas/ listrik harus
dimatikan, mengingat cairan organik yang dipakai mudah
terbakar.
2. Dituangkan 10 ml etil asetat dimasukkan ke dalam labu refluk dengan
corong melalui lubang pemasukan cairan. Dipanasakan sampai
mendidih dan catat suhunya.
3. Stop kontak listrik dicabut, ditunggu larutan agak dingin selanjutnya
dituangkan 2 ml aseton ke dalam labu. Dipanaskan perlahan-lahan
sampai mendidih dan setelah suhu tetap dicatat suhunya.
4. Demikian seterusnya diulangi setiap kali dengan penambahan 2 ml
aseton sampai jumlah aseton yang ditambahkan mencapai 10 ml, setiap
kali sesudah penambahan, campuran dipanaskan serta dicatat titik
didihnya.
5. Kemudian dituangkan campuran ke dalam wadah kosong yang tertutup
rapat dan aman.
6. Labu refluks dikeringkan dengan cara diangin-anginkan
7. Setelah kering, dituangkan 10 ml aseton ke dalam labu refluks, panaskan
dan catat suhunya didihnya.
8. Mantel pemanas dimatikan, ditunggu larutan agak dingin lalu
ditambahkan 2 ml etil asetat, dipanaskan perlahan-lahan dan dicatat
suhunya. Demikian seterusnya sampai jumlah etil asetat yang
ditambahkan mencapai 10 ml. Setiap kali penambahan etil asetat, dicatat
suhu didihnya.

14
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Larutan Non Elektrolit Hukum Raoult


Volume Fraksi Mol
Titik Didih
Etil Asetat Aseton Etil Asetat
10 ml 0 ml 1 76°C
10 ml 2 ml 0,791 73°C
10 ml 4 ml 0,655 69°C
10 ml 6 ml 0,558 65°C
10 ml 8ml 0,486 59°C
10 ml 10ml 0,431 57°C
8 ml 10ml 0,377 55°C
6 ml 10 ml 0,313 53°C
4 ml 10 ml 0,233 51°C
2 ml 10 ml 0,131 48°C
0 ml 10 ml 0 46°C

3.2 Pembahasan

Percobaan ini menggunakan etil asetat dan aseton. Sesuai dengan referensi
yang ada, bahwa titik didih etil asetat sebesar 76 oC sementara titik didih aseton
sebesar 56oC. Berdasarkan titik didih yang dijadikan sebagai referensi atau
pembanding, maka percobaan ini mengamati titik didih larutan etil asetat terhadap
penambahan Aseton atau pengamatan titik didih Asetom terhadap komposisi etil
asetat yang lebih banyak.

Pencampuran kedua larutan tersebut tetap memperhatikan sifat-sifat larutan


masing - masing, maksudnya apakah kedua larutan tersebut dapat membentuk
campuran ideal atau tidak. Campuran ideal adalah campuran yang menaati
Hukum Raoult. Campuran ideal memiliki gaya tarik menarik yang sangat kuat
antara larutan yang dicampurkan daripada gaya tarik menarik larutan sejenis.

15
Gaya antar molekul yang berikatan mempengaruhi tekanan uap dari larutan
tersebut.

Percobaan dimulai dengan merangkai alat refluks. Alat refluks terdiri dari
labu didih leher 2 dengan ukuran 500 ml dan kondensor. Kondensor dipasang
secara terbalik agar larutan atau campuran yang menguap terkondensasi kembali
ke labu didih. Larutan etil asetat sebanyak 10 ml dimasukkan ke dalam labu didih.
Selanjutnya dimasukkan batu didih dan dipasang termometer untuk mengukur
suhu larutan saat mendidih. Kemudian mantel pemanas dihidupkan untuk
memanaskan etil asetat hingga mendidih. Titik didih larutan diukur dan
dicatat.Prosedur dilakukan secara berulang kali dengan mengubah komposisi
larutan yang berbeda-beda.

Pemanasan dilakukan dengan komposisi larutan etil asetat : aseton sebanyak


10 ml : 0 ml, 10 ml : 2 ml, 10 ml : 4 ml, 10 ml : 6 ml, 10 ml : 10 ml. Kemudian
dimatikan pemanas dan didinginkan alat refluks. Setelah dingin, dilakukan
prosedur yang sama akan tetapi dengan komposisi yang berbeda dari sebelumnya.
Komposisi campuran larutan etil asetat : aseton sebanyak 8 ml : 10 ml, 6 ml : 10
ml, 4 ml : 10 ml, 2 ml : 10 ml, 0 ml : 10 ml. Setiap campuran diukur suhu titik
didihnya dan dicatat.

Berdasarkan hasil percobaan yang didapat, titik didih campuran mengalami


penurunan pada larutan etil asetat yang ditambahkan aseton dan kenaikan pada
larutan aseton yang ditambahkan etil asetat. Hal ini menunjukkan bahwa
komposisi dari larutan memiliki pengaruh terhadap titik didih campuran. Dari
hasil percobaan, titik didih dari etil asetat diperoleh 76oC dan aseton sebesar 46oC.
Dalam Hal ini titik didih teoritis aseton memiliki titik didih 56oC.Sebab
penyimpangan ini dikarenakan mantel pemanas yang masih panas saat aseton 10
ml dimasukkan kedalam labu didih sehingga pembacaan suhu pada termometer
kurang teliti dan penetuan titik didih aseton terjadi penyimpangan.

Titik didih larutan dipengaruhi oleh fraksi mol. Perubahan fraksi mol zat
terlarut mengakibatkan perubahan titik didih campuran.Semakin tinggi titik didih
campuran maka semakin tinggi atau besar pula jumlah fraksi mol zat tersebut,
namun apabila titik didih larutan menurun maka menandakan pula bahwa fraksi

16
mol juga kecil. Dapat dikatakan bahwa antara komposisi dengan titik didihnya
berbanding lurus (Clark,2007)

3.2.1 Grafik

80

70

60
Titik Didih

50
oC

40

30

20

10

0
1 0.791 0.655 0.558 0.486 0.431 0.377 0.313 0.233 0.131 0
Fraksi Mol Etil Asetat

Gambar 3.1 Grafik Hubungan Antara Fraksi Mol Etil Asetat Dengan Titik Didih
Campuran

Dari grafik diatas ini maka dapat dilihat dengan meningkatnya fraksi mol
etil asetat dan aseton juga meningkat. Pada saat fraksi mol etil asetat sama dengan
1 itu menunjukkan bahwa hanya etil asetat yang dipanaskan hingga mencapai titik
didihnya atau bisa dikatakan bahwa volume aseton sama dengan 0.
Selanjutnyasaat fraksi etil asetat sama dengan 0, itu menunjukkan bahwa hanya
aseton yang dipanaskan mencapai titik didihnya atau bisa dikatakan volume etil
asetat sama dengan 0.

Selain itu dari grafik juga dapat dilihat bahwa pada pencampuran larutan di
dapat titik didih campuran meningkat seiring dengan meningkatnya fraksi mol etil
asetat. Pada saat penambahan aseton kedalam etil asetat atau komposisi etil asetat
dipertahankan konstan sebanyak 10 ml sementara komposisi aseton divariasikan
jumlah volumenya, titikdidihetilasetatsemakin lama semakin menurun dari suhu

17
sebesar 76oC. Namun pada saat volume aseton yang dijaga konstan namun
volume etil asetat divariasikan maka titik didih campuran naik dari suhu 46oC.

Dari grafik dibawah ini juga dapat dilihat, dengan meningkatnya fraksimol
etil asetat menyebabkan titik didih campuran etil asetat dan aseton jugameningkat.
Dari grafik dapat disimpulkan bahwa penyimpangan yang terjadiadalah
penyimpangan positif. Hal ini disebabkan karena ikatan campuran antaraetil asetat
dan aseton lebih lemah/kecil daripada ikatan molekul sejenis (etil asetat-etil asetat
atau aseton-aseton) sehingga menyebabkan tekanan uap pelarutcampuran lebih
besar daripada tekanan uap pelarut murni. Maka reaksi yangterjadi adalah bersifat
endotermis (∆H positif). Di percobaan ini terjadi kesalahandisaat pemanasan 10
ml aseton dan penambahan etil asetat 2 ml sampai 8 ml dimana titik didih terjadi
dibawah 57oC. Itu dikarenakan kelalaian dari praktikan kerena tidak
mendinginkan mantel pemanas saat melakukan variasi kedua sehingga labu didih
cepat panas dan larutan aseton sudah mendidih dengan suhu termometer rendahdi
keadaan tersebut.

18
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
1. Hubungan antara komposisi etil asetat dengan titik didih campuran adalah
berbanding lurus. Semakin besar fraksi mol etil asetat, maka titik didih
campuran juga semakin tinggi atau meningkat.
2. Pengaruh gaya antar molekul terhadap tekanan uap campuran adalah
apabila gaya antar molekul pada larutan campuran lebih lemah/kecil
daripada gaya antar molekul pada molekul sejenisnya sehingga
menyebabkan tekanan uap campuran lebih besar daripada tekanan uap
pelarut murni begitu juga sebaliknya. Ketika tekanan uap campuran besar
maka akan terjadi penyimpangan positif.
4.2 Saran
1. Sebaiknya Praktikan mendingingan dahulu saat akan melakukan
percobaan lain.
2. Sebaiknya praktikan memakai masker saat akan memasukkan etil asetat
kedalam labu didih.

19
BAB V

TUGAS/JAWABAN PERTANYAAN
5.1 Pertanyaan
1. Bagaimana sifat campuran dalam percobaan ini, ideal atau tidak? Kalau
tidak ideal, penyimpangan mana yang dapat dilihat?
Jawaban
Sifat campuran dalam percobaan ini merupakan larutan tidak ideal, dan
penyimpangan yang terjadi adalah penyimpangan positif karena grafik
yang diperoleh sesuai dengan grafik penyimpangan positif.

80

70

60
Titik Didih

50

40

30

20

10

0
1 0.791 0.655 0.558 0.486 0.431 0.377 0.313 0.233 0.131 0
Fraksi Mol Etil Asetat

Gambar 5.1 Grafik Hubungan Antara Fraksi Mol Etil Asetat Dengan Titik Didih
Campuran

Penurunan titik didih hanya terjadi apabila fraksi mol yang didapat juga
kecil, sebaliknya apabila terjadi kenaikan titikdidih yang signifikan itu
menandakan fraksi mol larutan tersebut besar atau tinggi. Sesuai grafik yang
dibuat, penyimpangan Hukum Raoult yang terjadi adalah penyimpangan positif.
Penyimpangan positif Hukum Raoult terjadi apabila interaksi dalam masing –
masing zat lebih kuat daripada interaksi dalam campuran zat ( A – A, B – B > A –
B). Penyimpangan ini menghasilkan entalpi campuran (ΔHmix) positif
(endotermik) dan mengakibatkan terjadinya penambahan volumecampuran

20
(ΔVmix > 0). Dari penyimpangan tersebut dapat diketahui bahwa pencampuran
antara etil asetat dan aseton bukan campuran yang ideal. Gaya antar molekul yang
terjadi pada aseton sendiri adalah gaya London, sementara gaya antar molekul
yang terjadi pada etil asetat sendiri adalah gaya Van der waals. Perbedaan gaya
antar molekul tersebut dapat mempengaruhi ikatan antar molekul campuran. Hal
inilah yang menyebabkan bahwa ikatan antar molekul campuran antara etil asetat
dan aseton sangat lemah atau kecil, namun ikatan antar molekul sejenisnya sangat
besar dan kuat(Syukri, 1999).

21
DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P. W. 1997. Kimia Fisika II. Edisi IV. Jakarta: Erlangga.

Bambang. (2006). Parameter Pengendalian Untuk Sistem Destilasi Reaktif Etil


Asetat Menggunakan Model Pengendali Prediktif. Semarang : UNDIP.
Clark, Jim. 2007. Hukum Raoult. http://www.chem-is-try.org. Diakses Tanggal
Oktober 2018.

Dogra, S. (1990). Kimia Fisika dan Soal-soal. Jakarta: UI Press.

Fessenden. (1982). Kimia Organik JIlid I. Jakarta: Erlangga.

Hiskia Achmad, 1996, Kimia Larutan. Bandung, Citra Aditya Bakti.

Nuryoto. (2008). Studi Kinerja Katalisator Lewatit Monoplus S-100 pada Reaksi
Esterifikasi antara Etanol dan Asam Asetat. Jurnal rekayasa proses, 2
(1),24.
Oxtoby. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Petrucci. (1987). Kimia Dasar Jilid II. Jakarta: Erlangga.

Riswiyanto. (2009). Kimia Organik. Jakarta : Erlangga.


Riyanto. (2005). Produksi Asam Asetat Dari Etanol Oleh Elektrolisis
(Electrosynthesis). Yogyakarta : Universitas Islam Indonesia.
Sukardjo. 1990. Kimia Fisika. Jakarta : Rineka Cipta.

Syukri. 1999. Kimia Dasar. ITB Press. Bandung.


LAMPIRAN B
PERHITUNGAN

Tabel B.1 Berat molekul dan masa jenis senyawa


Senyawa BeratMolekul Massa jenis
Etil asetat 88,11 g/mol 0,903 g/cm3
Aseton 58,08 g/mol 0,784 g/cm3

B.1 Menghitungfraksi mol etil asetat


a) Campuran 10 ml etil asetat dengan 0 ml aseton
𝑛 𝑚𝑒 𝜌𝑒×𝑉𝑒 0,903 𝑔/𝑐𝑚3 ×10𝑐𝑚3
𝑒= = = = 0,1024 𝑚𝑜𝑙
𝑀𝑟𝑒 𝑀𝑟𝑒 88,11 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = 1

b) Campuran 10 ml etil asetat dengan 2 ml aseton

0,903 𝑔/𝑐𝑚3 . 2 𝑐𝑚3


𝑛𝑎 = = 0,0269 𝑚𝑜𝑙
58,08 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑛𝑒 0,1024 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = = 0,791
𝑛𝑒 + 𝑛𝑎 0,1024 𝑚𝑜𝑙 + 0,0269 𝑚𝑜𝑙

c) Campuran 10 ml etil asetat dengan 4 ml aseton

0,903 𝑔/𝑐𝑚3 . 4 𝑐𝑚3


𝑛𝑎 = = 0,0539 𝑚𝑜𝑙
58,08 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑛𝑒 0,1024 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = = 0,655
𝑛𝑒 + 𝑛𝑎 0,1024 𝑚𝑜𝑙 + 0,0539 𝑚𝑜𝑙

d) Campuran 10 ml etilasetatdengan 6 ml aseton

0,903 𝑔/𝑐𝑚3 . 6 𝑐𝑚3


𝑛𝑎 = = 0,0809 𝑚𝑜𝑙
58,08 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑛𝑒 0,1024 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = = 0,5586
𝑛𝑒 + 𝑛𝑎 0,1024 𝑚𝑜𝑙 + 0,0809 𝑚𝑜𝑙
e) Campuran 10 ml etil asetat dengan 8 ml aseton

0,903𝑔/𝑐𝑚3 . 8 𝑐𝑚3
𝑛𝑎 = = 0,1079 𝑚𝑜𝑙
58,08 𝑔/𝑚𝑜𝑙
0,1024 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = 0,4869
0,1024 𝑚𝑜𝑙 + 0,1079 𝑚𝑜𝑙

f) Campuran 10 ml etil asetat dengan 10 ml aseton

0,903 𝑔/𝑐𝑚3 . 10 𝑐𝑚3


𝑛𝑎 = = 0,1349 𝑚𝑜𝑙
58,08 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑛𝑒 0,1024 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = = 0,4315
𝑛𝑒 + 𝑛𝑎 0,1024 𝑚𝑜𝑙 + 0,1349 𝑚𝑜𝑙

g) Campuran 8 ml etil asetat dengan 10 ml aseton

0,903 𝑔/𝑐𝑚3 . 8 𝑐𝑚3


𝑛𝑒 = = 0,0819 𝑚𝑜𝑙
88,11 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑛𝑒 0,0819 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = = 0,377
𝑛𝑒 + 𝑛𝑎 0,0819 𝑚𝑜𝑙 + 0,1349 𝑚𝑜𝑙

h) Campuran 6 ml etil asetat dengan 10 ml aseton

0,903 𝑔/𝑐𝑚3 . 6 𝑐𝑚3


𝑛𝑒 = = 0,0615 𝑚𝑜𝑙
88,11 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑛𝑒 0,0615 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = = 0,313
𝑛𝑒 + 𝑛𝑎 0,0615 𝑚𝑜𝑙 + 0,1349 𝑚𝑜𝑙

i) Campuran 4 ml etil asetat dengan 10 ml aseton

0,903𝑔/𝑐𝑚3 . 4 𝑐𝑚3
𝑛𝑒 = = 0,0409 𝑚𝑜𝑙
88,11 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑛𝑒 0,0409 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = = 0,233
𝑛𝑒 + 𝑛𝑎 0,0409 𝑚𝑜𝑙 + 0,1349 𝑚𝑜𝑙

j) Campuran 2 ml etil asetat dengan 10 ml aseton

0,903𝑔/𝑐𝑚3 . 2 𝑐𝑚3
𝑛𝑒 = = 0,0205𝑚𝑜𝑙
88,11 𝑔/𝑚𝑜𝑙
𝑛𝑒 0,0205 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = = 0,1319
𝑛𝑒 + 𝑛𝑎 0,0205 𝑚𝑜𝑙 + 0,1349 𝑚𝑜𝑙

k) Campuran 0 mL etil asetat dengan 10 ml aseton

𝑛𝑒 0 𝑚𝑜𝑙
𝑥𝑒 = = =0
𝑛𝑒 + 𝑛𝑎 0𝑚𝑜𝑙 + 0,1349 𝑚𝑜𝑙
LAMPIRAN C

DOKUMENTASI

Gambar B.1larutan Aseton Gambar B.2 Larutan Etil


Asetat

Gambar B.4 Larutan Aseton


Gambar B.3 2 ml Larutan
dimasukkan kedalam labu
Aseton
didih
Gambar B.5 Rangkaian Alat Gambar B.6 2 ml Larutan
saat labu didih dipanaskan Etil Asetat

Anda mungkin juga menyukai