Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

SISTEM ZAT CAIR TIGA KOMPONEN

DIAGRAM TERNER

Oleh:
Kelompok VII
Kelas A

Farah Aulia Prihasti 1707122999


Ichsan Mahesa Hendri 1707122728
Ihsan Naufal Firdaus 1707114078
Meidhika Ghiona 1707113879

Asisten :
Wahyu Rahmadhan

Dosen Pengampu :
Dra. Silvia Reni Yenti, M.Si

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
2018
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIKA
Sistem Zat Cair Tiga Komponen Diagram Terner
Dosen pengampu praktikum kimia fisika dengan ini

menyatakan bahwa :

Kelompok VII

Farah Aulia Prihasti 1707122999


Ichsan Mahesa Hendri 1707122728
Ihsan Naufal Firdaus 1707114078
Meidhika Ghiona 1707113879

1. Telah melakukan perbaikan-perbaikan yang disarankan oleh Dosen


pengampu / Asisten Praktikum.
2. Telah menyelesaikan laporan lengkap praktikum Sistem Zat Cair Tiga
Komponen Diagram Terner dari praktikum kimia fisika yang disetujui
oleh Dosen Pengampu / Asisten Praktikum.

Catatan Tambahan :

Dosen Pengampu
Pekanbaru, Oktober 2018

Dra. Silvia Reni Yenti, M.Si


NIP. 19590824 198702 2 001

i
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iv

DAFTAR TABEL ..................................................................................................v

BAB I TEORI
1.1 Sistem ...........................................................................................................1
1.2 Kelarutan Zat ................................................................................................5
1.3 Aseton ..........................................................................................................6
1.4 Tert-Butanol .................................................................................................6
1.5 Sistem Zat Cair Tiga Komponen..................................................................6
BAB II METODOLOGI
2.1 Bahan-bahan yang Digunakan ...................................................................10
2.2 Alat-alat yang Digunakan ..........................................................................10
2.3 Prosedur Percobaan ....................................................................................10
2.4 Pengamatan ................................................................................................10

BAB III HASIL DAN DISKUSI

3.1 Hasil Pengamatan .......................................................................................12


3.2 Pembahasan ................................................................................................12
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan ................................................................................................15


4.2 Saran ...........................................................................................................15

BAB V TUGAS/JAWABAN PERTANYAAN

5.1 Pertanyaan dan jawaban .............................................................................16

ii
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................18

LAMPIRAN A LAPORAN SEMENTARA

LAMPIRAN B LEMBAR PERHITUNGAN

LAMPIRAN C DOKUMENTASI

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Diagram Terner ...................................................................................2

Gambar 1.2 Diagram fasa sistem tiga komponen ...................................................3

Gambar 1.3 Diagram Fasa Sistem Terner dengan Dua Cairan Tidak Saling

Larut A dan B ...........................................................................................................4

Gambar 1.4 Diagram Terner ...................................................................................8

Gambar 1.5 Diagram Terner Komponen Asam Asetat-Vinil Asetat-Air ...............9

Gambar 3.1 Diagram Terner .................................................................................13


Gambar 5.1 Diagram Terner .................................................................................17

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Hasil Percobaan Sistem Zat Cair Tiga Komponen Diagram Terner .....12
Tabel 5.1 Mol % tiap campuran ............................................................................16

v
BAB I
TEORI

1.1 Sistem
Sistem adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat-zat lain dalam suatu bejana inert,
yang menjadi pusat perhatian dalam mengamati pengaruh perubahan temperatur, tekanan serta
konsentrasi zat tersebut. Sedangkan komponen adalah yang ada dalam sistem,
seperti zat terlarut dan pelarut dalam senyawa biner. Banyaknya komponen dalam sistem C
adalah jumlah minimum spesies bebas yang diperlukan untuk menentukan komposisi semua
fasa yang ada dalam sistem. Definisi ini mudah diberlakukan jika spesies yang ada dalam sistem
tidak bereaksi sehingga kita dapat menghitung banyaknya. Fasa merupakan keadaan materi yang
seragam di seluruh bagiannya, tidak hanya dalam komposisi kimianya tetapi juga dalam keadaan
fisiknya (Sukardjo, 1997).
Contoh dalam sistem terdapat fasa padat, fasa cair dan fasa gas. Banyaknya
fasa dalam sistem diberi notasi P. Gas atau campuran gas adalah fasa tunggal, misalnya
kristal merupakan fasa tunggal dan dua cairan yang dapat bercampur secara total membentuk
fasa tunggal. Campuran dua logam adalah sistem dua fasa (P=2), jika logam-logam itu
tidak dapat bercampur, tetapi merupakan sistem satu fasa (P=1), jika logam-logamnya
dapat dicampur. Pada perhitungan dalam keseluruhan termodinamika kimia, J.W Gibbs menarik
kesimpulan tentang aturan fasa yang dikenal dengan Hukum Fasa Gibbs, jumlah terkecil
perubahan bebas yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem dengan tepat pada
kesetimbangan diungkapkan sebagai (Alberty, 1992):
V = C – P + 2…………………………………(1.1)
Keterangan :
V = jumlah derajat kebebasan
C = jumlah komponen
P = jumlah fasa
Kesetimbangan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, dan komposisi sistem. Jumlah derajat
kebebasan untuk sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap
dapat dinyatakan sebagai :
V = 3 – P…………………………………(1.2)

1
Jika dalam sistem hanya terdapat satu fasa maka V = 2 berarti untuk menyatakan suatu
sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua komponennya. Sedangkan bila dalam
sistem terdapat dua fasa dalam kesetimbangan, V = 1 berarti hanya satu komponen yang harus
ditentukan konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang lain sudah tertentu berdasarkan
diagram fasa untuk diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena itu sistem tiga komponen
pada suhu dan tekanan tetap punya derajat kebebasan maksimum = 2 ( jumlah fasa minimum =
1), maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu
segitiga sama sisi yang disebut diagram terner, diagram tersebut menggambarkan suatu
komponen murni. Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan
mendapatkan suatu kertas grafik segitiga. Konsentrasi dapat dinyatakan dengan istilah persen
berat atau fraksi mol. Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C = 3) sesuai dengan XA +
XB + XC = 1 (Syukri, 1999).
Diagram fasa yang digambarkan segitiga sama sisi, menjamin dipenuhinya sifat ini
secara otomatis, sebab jumlah jarak ke sebuah titik di dalam segitiga sama sisi yang diukur sejajar
dengan sisi-sisinya sama dengan panjang sisi segitiga itu, yang dapat diambil sebagai satuan
panjang. Puncak – puncak dihubungi ke titik tengah dari sisi yang berlawanan yaitu : Aa, Bb, Cc.
Titik nol mulai dari titik a, b, c dan A, B, C menyatakan komposisi adalah 100% atau 1, jadi garis
Aa, Bb, Cc merupakan konsentrasi A, B, C merupakan konsentrasi A, B, C. Jumlah fasa dalam
sistem zat cair tiga komponen bergantung pada daya saing larut antara zat cair tersebut dan suhu
percobaan (Syukri, 1999).
Prinsip penggambaran komposisi dalam diagram terner dapat dilihat pada gambar
di bawah ini :

C A 100%
XC
XA

c b

o
P
A B 100% B C 100%
XB a

Gambar 1.1 Diagram Terner


Fraksi mol tiga komponen dari sistem terner (C=3) sesuai XA + XB + Xc = 1.
Titik pada sisi AB : campuran biner A dan B
BC : campuran biner B dan C
AC : campuran biner A dan C

2
X% mol A, Y% mol B dan Z% mol C, X+Y+Z=100

Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga komponen bergantung pada daya
saling larut antara zat cair tersebut dan suhu percobaan. Andaikan ada tiga zat cair
A, B, dan C. Zat A dan B saling larut sebagian, sedangkan zat A dan C serta zat B
dan C saling larut sempurna. Penambahan zat C kedalam Zat A dan B dapat
memperbesar atau memperkecil daya saling larut zat A dan B.
Pada percobaan ini hanya akan ditinjau sistem yang memperbesar daya
saling larut A dan B. Gambar 1.2, berikut menyatakan kelarutan cairan C dalam
berbagai komposisi campuran A dan B pada suhu dan tekanan tetap. Daerah
dalam lengkungan (kurva binodal) merupakan daerah dua fasa. Salah satu cara
untuk menentukan kurva binodal atau kurva kelarutan ini dengan cara
menambahkan zat B kedalam berbagai komposisi campuran A dan C.

C 100%

100% A B 100%

Gambar 1.2 Diagram fasa sistem tiga komponen (Sukardjo, 1997)

Titik-titik pada lengkungan menggambarkan komposisi sistem pada saat


terjadi perubahan dari jernih menjadi keruh. Kekeruhan timbul karena larutan tiga
komponen yang homogen pecah menjadi dua larutan terner terkonjungasi
(Sukardjo, 1997).
Karena tidak mungkin membuat diagram dengan empat variable, maka
sistem tersebut dibuat pada tekanan dan suhu tetap. Sehingga diagram, hanya
merupakan fungsi komposisi. Harga derajat kebebasan maksimal adalah dua,
karena harga P hanya mempunyai dua pilihan satu fasa yaitu ketiga komponen
bercampur homogen atau dua fasa yang meliputi dua pasangan misibel (Alberty,
1992).

3
Untuk fasa tunggal bagi sistem tiga komponen terdapat empat derajat
kebebasan.
V =C–P+2
=3–1+2
=4
Sistem tiga komponen sebenarnya memiliki banyak kemungkinan dan
yang paling umum diantaranya adalah (Alberty, 1992):
1. Sistem tiga komponen yang terdiri atas zat cair yang saling bercampur
sebahagian.
2. Sistem tiga komponen yang terdiri atas dua komponen dalam fasa padat dan
satu komponen dalam fasa cair.
Diagram fasa dari sistem cairan terner memisahkan menjadi dua fasa, yang
diperlihatkan pada Gambar 1.3. Titik-titik pada kubah (kurva abcdefg), memiliki
komposisi dimana dua fasa terpisah.
C

c d
b e
f
a g
A B

Gambar 1.3.Diagram Fasa Sistem Terner dengan Dua Cairan Tidak Saling Larut
A dan B (Alberty, 1992)
Diatas kubah (kurva abcdefg) hanya terdapat satu fasa, maka disana ada
misibel lengkap. Pada komposisi yang digambarkan dibawah titik atau dibawah
kubah, sistem akan terpisah jadi dua tahap, yaitu posisi a dan posisi g. Gambar 3
menunjukkan bahwa terdapat sedikit misibel antara komponen A dan komponen
B. Jika tidak ada misibel maka titik a akan bertepatan dengan sudut A dan posisi g
akan bertepatan dengan sudut B. diagram juga menunjukkan bahwa komponen
ketiga C, benar-benar larut dengan baik pada komponen A dan B dalam semua
porsi. Dalam setiap fase diagram garis dasi sangat penting, mereka

4
menghubungkan konsentrasi dua fase eksperimental ditemukan dalam
kesetimbangan dengan komponen lainnya. Sebagai contoh, ketika campuran
dengan komposisi h dipisahkan menjadi dua tahap. Tahap sau memiliki komposisi
ditunjuk pada diagram oleh b. Tahap dua memiliki komposisi yang ditunjukkan
oleh f. Oleh karena itu, sekali diagram terner tersedia dapat digunakan untuk
menentukan komposisi dan proporsi dari tahapan yang akan terjadi ketika
campuran tertentu dari komposisi secara keseluruhan disusun (Syukri, 1999).

1.2 Kelarutan Zat


Kelarutan adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat terlarut (solute),
untuk larut dalam suatu pelarut solvent. Kelarutan dinyatakan dalam jumlah
maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada kesetimbangan. Zat-
zat tertentu dapat larut dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut.
Contohnya adalah etanol di dalam air (Syukri, 1999).
Pelarut umumnya merupakan suatu cairan yang dapat berupa zat murni
ataupun campuran. Zat yang terlarut, dapat berupa gas, cairan lain, atau padat.
Kelarutan bervariasi dari selalu larut seperti etanol dalam air, hingga sulit terlarut,
seperti perak klorida dalam air. Istilah tak larut insoluble sering diterapkan pada
senyawa yang sulit larut, walaupun sebenarnya hanya ada sedikit kasus yang
benar-benar tidak ada bahan yang terlarut (Syukri, 1999).
Hampir sebagian besar zat dapat melarut di dalam air, hanya ada yang
mudah dan bahkan ada pula yang sukar atau sedikit sekali larut. Kemampuan
melarut suatu zat di dalam sejumlah pelarut pada suhu tertentu berbeda – beda
antara satu dengan yang lainnya. Jumlah maksimal zat terlarut dalam sejumlah
pelarut pada suhu tertentu inilah yang disebut dengan kelarutan zat. Pada
umumnya turunnya suhu akan menurunkan kelarutan dari zat terlarutnya. Berbeda
dengan gas, kelarutan gas menurun dengan naiknya suhu di samping oleh
pengaruh tekanan di atas permukaan larutannya. Biasanya pernyataan kelarutan
zat selalu disertai dengan kondisi suhunya atau bila tanpa ada nilai suhunya berarti
kelarutannya dimaksudkan pada suhu kamar, sedangkan untuk gas-gas,
kelarutannya sering disertai dengan kondisi suhu dan tekanan udara permukaan
(tekanan totalnya) (Syukri, 1999).

5
1.3 Aseton
Aseton dikenal juga sebagai propanon, dimetil keton, 2-propanon adalah
senyawa berbentuk cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar dan memiki
titik didih 56oC. Ia merupakan keton yang paling sederhana. Aseton larut dalam
berbagai perbandingan dalam air, etanol, dietil eter, dan lain-lain. Ia sendiri juga
merupakan pelarut yang penting. Aseton digunakan untuk membuat plastik, serat,
obat-obatan dan senyawa kimia lainnya (Petrucci, 1987).
1.4 Tert-Butanol

Tert-Butil alkohol (TBA), juga disebut tert-butanol, adalah alkohol tersier


yang paling sederhana, dengan formula (CH3)3COH (direpresentasikan sebagai t-
BuOH). Ini adalah salah satu dari empat isomer butanol. Tert-Butil alkohol adalah
padatan tak berwarna, yang meleleh di dekat suhu kamar dan memiliki bau seperti
kapur barus. Hal ini tercampur dengan air, etanol dan dietil eter (Petrucci, 1987).

1.5 Sistem Zat Cair Tiga Komponen


Sistem adalah suatu zat yang dapat diisolasikan dari zat – zat lain dalam
suatu bejana inert, yang menjadi pusat perhatian dalam mengamati pengaruh
perubahan temperatur, tekanan serta konsentrasi zat tersebut sedangkan
komponen adalah yang ada dalam sistem, seperti zat terlarut dan pelarut dalam
senyawa biner. Banyaknya komponen dalam sistem C adalah jumlah minimum
spesies bebas yang diperlukan untuk menentukan komposisi semua fase yang ada
dalam sistem. Fasa merupakan keadaan materi yang seragam di seluruh
bagiannya, tidak hanya dalam komposisi kimia dalam keadaan fisiknya. Derajat
kebebasan sistem adalah bilangan terkecil dari variabel intensif yang harus
dispesifikasikan untuk mengepaskan nilai dari semua variabel intensif yang tersisa
(Dogra, 1990).
Fasa didefinisikan sebagai bagian dari sistem yang seragam atau homogen
diantara keadaan submakroskopisnya, tetapi benar-benar terpisah dari bagian
sistem yang lain oleh batasan yang jelas. Campuran padatan atau dua cairan yang
tidak dapat bercampur dapat membentuk fasa terpisah, sedangkan campuran gas-
gas adalah satu fasa karena sistemnya homogen. Simbol umum untuk jumlah fasa
adalah P (Dogra, 1990).

6
Dua fase dalam kesetimbangan harus selalu bertemperatur sama dan
tekanan yang sama, tetapi tidak terpisah oleh dinding keras atau oleh suatu antar
permukaan yang memiliki lengkung berarti. Sembarang zat yang dapat lalu-lalang
dengan bebas diantara kedua fase itu harus memiliki potensial kimia yang sama
didalamnya. Kriteria penting bagi kesetimbangan ini yang dinyatakan oleh sifat-
sifat intensif T, p dan µ, langsung menuju kepada aturan fase wiiliard gibbs
(Dogra, 1990).
Derajat kebebasan didefinisikan sebagai jumlah minimum variabel intensif
yang harus dipilih agar variabel intensif dapat ditetapkan. Variabel intensif dapat
berupa temperatur, tekanan, konsentrasi. Simbol umum untuk derajat kebebasan
adalah F. Derajat kebebasan merupakan invarian jika F=0, univarian jika F=1,
bivarian jika F=2, dan multivarian jika F ≥ 3 (Dogra, 1990).
Berdasarkan hukum fasa Gibbs, jumlah terkecil variabel bebas (varian)
yang diperlukan untuk menyatakan keadaan suatu sistem dengan tepat pada
kesetimbangan dinyatakan sebagai:

F = C +2 – P................................................. (1.3)

Aturan ini menyatakan bahwa untuk kesetimbangan apapun dalam sistem


tertutup. Jumlah variabel bebas, (derajat kebebasan F) sama dengan jumlah
komponen (C) dikurangi jumlah fasa (P) ditambah 2 (Anshory, 2003)
Jika sistem yang ditinjau memiliki tiga komponen maka persamaan 1
menjadi:

F = 3 – P + 2 = 5 – P …………........................... (1.4)

dan jika tekanan dan temperatur ditetapkan, persamaan 2 menjadi:

F = 3 – P ...................................................(1.5)

Jika pada sistem hanya terdapat satu fasa, maka F=2, berarti untuk
menyatakan keadaan sistem dengan tepat perlu ditentukan konsentrasi dari dua
komponennya. Sedangkan jika pada sistem terdapat dua fasa dalam
kesetimbangan maka F=1, berarti hanya satu komponen yang harus ditentukan
konsentrasinya dan konsentrasi komponen yang lain sudah tertentu berdasarkan

7
diagram fasa untuk sistem tersebut. Oleh karena sistem tiga komponen pada suhu
dan tekanan tetap mempunyai jumlah derajat kebebasan paling banyak dua, maka
diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu
segitiga sama sisi yang disebut diagram terner (Anshory, 2003)

Gambar 1.4 Diagram Terner (Anshory, 2003)

Titik A, B dan C menyatakan komponen murni. Titik-titik pada sisi AB,


BC dan AC menyatakan fraksi dari dua komponen, sedangkan titik didalam
segitiga menyatakan fraksi dari tiga komponen. Titik P menyatakan suatu
campuran dengan fraksi dari A, B dan C (Anshory, 2003).
Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga kompoen tergantung pada daya
saling larut antar zat cair. Andaikan ada tiga zat cair A, B dan C, A dan B saling
larut sebagian. Penambahan zat B kedalam campuran A dan C akan memperbesar
atau memperkecil daya saling larut A dan B. Dalam hal ini A dan C serta B dan C
saling larut sempurna. Kelarutan cairan C dalam berbagai komposisi campuran A
dan B pada suhu tetap dapat digambarkan pada suatu diagram terner (Anshory,
2003).
Contoh penerapan diagram terner pada sistem cair tiga komponen adalah
pada sistem asam asetat-vinil asetat-air.

8
Gambar 1.5 Diagram Terner Komponen Asam Asetat-Vinil Asetat-Air

(Alberty, 1992)
Cairan air-asam asetat dan asam asetat- vinil asetat dapat bercampur dan
air–vinil asetat tidak dapat bercampur. Tiap titik diatas kurva menyatakan suatu
campuran terner yang homogen. Sedangkan tiap titik dibawah kurva menyatakan
campuran terner yang terpisah menjadi dua buah fasa cairan (Dogra, 1990).
Campuran yang terdiri atas tiga komponen, komposisi (perbandingan
masing-masing komponen) dapat digambarkan di dalam suatu diagram segitiga
sama sisi yang disebut dengan Diagram Terner. Cara terbaik untuk
menggambarkan sistem tiga komponen adalah dengan mendapatkan suatu kertas
grafik segitiga (Dogra, 1990).

9
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat-alat yang digunakan


1. Aluminium Foil
2. Buret dan Klem
3. Corong
4. Erlenmeyer 250 ml
5. Gelas Ukur 100 ml
6. Piknometer 10 ml
7. Pipet Tetes
2.2 Bahan-Bahan yang digunakan
1. Aquadest (Zat C)
2. Aseton (Zat B)
3. Tert-Butanol (Zat A)
2.3 Prosedur Percobaan
1. Zat A (Tert-Butanol) dimasukkan kedalam erlenmeyer masing-masing
sebanyak 2 ml, 4 ml, 6 ml, 8 ml, 10 ml, 12 ml, 14 ml, 16 ml dan 18 ml.
2. Kemudian, zat C (Aquadest) dicampurkan dengan zat A yang berada
didalam erlenmeyer masing-masing sebanyak 18 ml, 16 ml, 14 ml, 12 ml,
10 ml, 8 ml, 6 ml, 4 ml dan 2 ml.
3. Masing-masing dua zat yang telah tercampur di erlenmeyer di titrasi dengan
menggunakan zat B (Aseton)
4. Rapat massa masing-masing cairan murni A, B, dan C dihitung dan dicatat.
2.4 Pengamatan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapt dilihat bahwa campuran antara
tert-butanol dan aquadest akan menghasilkan warna bening dan saling melarutkan
sempurna serta tidak timbul perbedaan fase. Disini yang berfungsi sebagai cairan
A adalah tert-butanol dan cairan C adalah aquadest. Kemudian, setelah larutan
tersebut (campuran cairan A dan C) dititrasi dengan cairan B yaitu aseton terjadi
perubahan pada larutan. Di dalam erlenmeyer terbentuk dua lapisan, yaitu lapisan

10
gel pada bagian atas sedangkan dibawahnya bening dan pada saat dilalukan titrasi
cairan tersebut menjadi keruh.
Selanjutnya untuk menghitung rapat massa masing-masing cairan dapat
digunakan piknometer dengan cara dimasukkan cairan yang akan dihitung rapat
massanya kemudian ditimbang. Berdasarkan percobaan, maka didapatlah rapat
massa masing-masing cairan. Dimana rapat massa aquadest lebih besar daripada
tert-butanol dan aseton. Oleh karena itu di dalam erlenmeyer aquadest berada
paling bawah dan diatasnya adalah tert-butanol.

11
BAB III

HASIL DAN DISKUSI

3.1 Hasil Percobaan

Hasil percobaan Sistem Zat Cair Tiga Komponen Diagram Terner dapat
dilihat pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Hasil Percobaan Sistem Zat Cair Tiga Komponen Diagram Terner
Volume
Titrasi Keterangan
Tert-Butanol Aseton
2 ml 18 ml 4 ml Kurang larut
4 ml 16 ml 1 ml Sedikit larut
6 ml 14 ml 6 ml Sedikit larut
8 ml 12 ml 3,8 ml Sedikit larut
10 ml 10 ml 2 ml Sedikit larut
12 ml 8 ml 1 ml Larut
14ml 6 ml 0,8 ml Larut
16 ml 4 ml 0,5 ml Larut
18 ml 2 ml 0,4 ml Sangat Larut

3.2 Diskusi

Percobaan kali ini adalah “Sistem zat cair tiga komponen diagram terner”
maksudnya adalah pada percobaan ini akan ditentukan kelarutan masing-masing
komponen dan selanjutnya akan digambarkan pada diagram terner. Diagram
terner merupakan suatu diagram fasa berbentuk segitiga sama sisi dalam satu
bidang datar yang dapat menggambarkan sistem tiga komponen zat dalam
berbagai fasa.
Untuk mengetahui kelarutan masing-masing komponen, pertama yang
dilakukan adalah mencampurkan aquadest dengan tert-butanol dengan
perbandingan volume yang tertera pada prosedur percobaan, kemudian dititrasi
dengan aquadest sampai larutan menjadi keruh. Aquadest mempunyai sifat polar,
sedangkan tert-butanol dan aseton mempunyai sifat semi polar. Oleh karena itu,

12
pada saat dicampurkan aquadest dengan tert-butanol akan saling melarutkan
disebabkan zat polar dapat larut dalam zat semipolar.
Selanjutnya campuran cairan aquadest dengan tert-butanol dititrasi dengan
menggunakan cairan aseton, maka dapat dilihat dapat terbentuk dua fase pada
campuran (warna campuran menjadi keruh dan terdapat lapisan yang menyerupai
gel di dasar erlenmeyer). Ketiga zat ini tercampur sebagian, lapisan bagian atas
merupakan tert-butanol karena memiliki rapat massa paling kecil yaitu 0,774
g/cm3.
Setelah dilakukan titrasi, didapatkan volume aseton yang terpakai untuk
mentitrasi campuran antara tert-butanol dengan aquadest sampai campuran
menjadi keruh. Dari percobaan ini maka didapatkanlah diagram ternernya seperti
dibawah ini

Gambar 3.1 Diagram Terner


Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa diagram yang terbentuk
bukanlah berbentuk setengah lingkaran hal ini terjadi karena beberapa kesalahan
yang dilakukan pada saat praktikum. Diantaranya kurang ketelitian dalam
membaca skala pada buret dan kesalahan pada saat melihat perubahan fasa
campuran cairan A dan C setelah dititrasi yang menyebabkan volume titran yang
diambil terlalu banyak.

13
Dalam praktikum ini juga dihitung rapat massa masing-masing cairan
menggunakan piknometer. Alat ini cara kerja nya adalah dengan memasukkan
volume sampel kedalam tabung piknometer kemudian ditutup dan ditimbang.
Sebelum itu dihitung terlebih dahulu massa dari piknometer yang masih kosong.
Secara umum rumus yang digunakan adalah sebagai berikut

(𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟+𝑐𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛)−𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔
𝜌= ............................................. (3.1)
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑐𝑎𝑖𝑟𝑎𝑛

Berdasarkan praktikum ini rapat massa yang didapat sedikit menyimpang


dari teorinya, dikarenakan beberapa faktor seperti suhu ruangan, kelembaban serta
tekanan atmosferik. Dimana suhu ruangan pada saat itu adalah 28℃ dan tekanan
atmosferik adalah 1 atm. Rapat massa yang dihasilkan dari praktikum ini adalah
untuk aquadest 0,994 g/cm3, tert-butanol 0,774 g/cm3, dan aseton 0,819 g/cm3.
Untuk rapat massa masing-masing cairan yang lebih tepat atau sesuai dengan teori
adalah untuk aseton 0,812 g/cm3, tert-butanol 0,785 g/cm3, dan aquadest 1 g/cm3
(Fessenden, 1982).

14
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Diagram terner yang didapat dari hasil praktikum tidak berbentuk setengah
lingkaran karena terjadi beberapa kesalahan saat praktikum
2. Cairan yang dipakai bersifat semipolar (tert-butanol dan aseton) dan polar
(aquadest).

4.2 Saran
Sebelum melakukan praktikum sebaiknya praktikan mengetahui sifat
kepolaran masing-masing zat dan kemungkinan sifat larutan yang akan terbentuk
dari pencampuran masing-masing cairan. Praktikan sebaiknya menggunakan
sarung tangan dan masker selama praktikum karena zat-zat yang digunakan
termasuk berbahaya. Pada saat titrasi harus hati-hati, karena proses titrasi harus
segera dihentikan saat terjadi perubahan warna.

15
BAB V

TUGAS/JAWABAN PERTANYAAN
5.1 Pertanyaan & Jawaban

1. Lakukan percobaan diatas untuk zat A, B, dan C sesuai tugas yang


diberikan asisten. Berdasarkan zat yang diberikan tentukan zat mana yang
memiliki sifat sebagai komponen A, B, dan C.
Jawab : Zat A = Tert-Butanol
Zat B = Aseton
Zat C = Aquadest

2. Hitung konsentrasi ketiga komponen dalam % mol untuk tiap campuran


ketika terjadi perubahan jumlah fasa.
𝑛𝐴 𝜌𝐴 . 𝑣𝐴
XA = 𝑛𝐴+𝑛𝐵+𝑛𝐶 𝑥 100% ; nA = 𝑀𝑟𝐴

Jawab :
Tabel 5.1 Mol % Tiap Campuran
Fraksi Mol Fraksi Mol Fraksi Mol
Tert-Butanol Aquadest Aseton
0,02 0,972 0,054
0,046 0,864 0,013
0,07 0,756 0,081
0,107 0,648 0,051
0,156 0,54 0,027
0,22 0,432 0,013
0,307 0,324 0,01
0,432 0,216 0,006
0,627 0,108 0,005

16
3. Buatlah grafik dan hubungkan kesembilan titiknya.
Jawab :

Gambar 5.1 Diagram Terner


4. Dapatkah penggambaran komposisi cairan dalam diagram terner
dinyatakan dalam % volume?
Jawab : Penggambaran pada giagram terner tidak dapat dinyatakan dalam %
volume. Karena masing-masing larutan memiliki rapat massa dan berat molekul
yang berbeda sehingga dalam penggunaannya tidak hanya dipengaruhi oleh
volume tetapi rapat massa dan berat molekul masing-masing larutan agar
diperoleh hasil yang akurat. Diagram terner hanya dapat dinyatakan dalam % mol
(fraksi mol) dan % berat.

17
DAFTAR PUSTAKA

Alberty, R. (1992). Kimia Fisika I. Jakarta: Erlangga.

Anshory, I. (2003). Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.

Dogra, S. (1990). Kimia Fisika dan Soal-soal. Jakarta: UI Press.

Petrucci. (1987). Kimia Dasar Jilid II. Jakarta: Erlangga.

Sukardjo. (1997). Kimia Fisika. Jakarta: Rineka Cipta.

Syukri. (1999). Kimia Dasar. Bandung: ITB.

18
LAMPIRAN B

LEMBAR PERHITUNGAN

Tabel B.1 Data Pengamatan


Larutan
Hasil Percobaan
Tert-Butanol Aquadest Aseton

2 ml 18 ml 4 ml

4 ml 16 ml 1 ml

6 ml 14 ml 6 ml

8m 12 ml 3,8 ml

Volume Larutan 10 ml 10 ml 2 ml

12 ml 8 ml 1 ml

14 ml 6 ml 0,8 ml

16 ml 4 ml 0,5 ml

18 ml 2 ml 0,4 ml

Densitas 0,781 g/cm3 0,972 g/cm3 0,79 g/cm3

Menghitung Ketiga Komponen dalam % mol untuk tiap campuran


Mr aquadest = 18
Mr aseton = 58
Mr Tert-Butanol = 74.123
𝑣1 𝜌1 𝑣2 𝜌2 𝑣3 𝜌3 𝑛1
𝑛1 = 𝑛2 = 𝑛3 = 𝑋1 =
𝑀𝑟1 𝑀𝑟2 𝑀𝑟3 𝑛1 𝑛2 𝑛3 𝑛4 𝑛5

Tabel B.2 Zat A (Tert-Butanol)


Konsentrasi (n) Fraksi Mol (% mol)
2𝑥0,781 0,021
𝑛1 = = 0,021 𝑥1 = 𝑥100% = 0,02
74,123 0,021 + 0,972 + 0,054
4𝑥0,781 0,042
𝑛2 = = 0,042 𝑥2 = 𝑥100% = 0,046
74,123 0,042 + 0,864 + 0,013
6𝑥0,781 0,063
𝑛3 = = 0,063 𝑥3 = 𝑥100% = 0,07
74,123 0,063 + 0,756 + 0,081
8𝑥0,781 0,084
𝑛4 = = 0,084 𝑥4 = 𝑥100% = 0,107
74,123 0,084 + 0,648 + 0,051

10𝑥0,781 0,105
𝑛5 = = 0,105 𝑥5 = 𝑥100% = 0,156
74,123 0,105 + 0,54 + 0,027
12𝑥0,781 0,126
𝑛6 = = 0,126 𝑥6 = 𝑥100% = 0,22
74,123 0,126 + 0,432 + 0,013
14𝑥0,781 0,148
𝑛7 = = 0,148 𝑥7 = 𝑥100% = 0,307
74,123 0,148 + 0,324 + 0,01
16𝑥0,781 0,169
𝑛8 = = 0,169 𝑥8 = 𝑥100% = 0,432
74,123 0,169 + 0,216 + 0,006
18𝑥0,781 0,19
𝑛9 = = 0,19 𝑥9 = 𝑥100% = 0,627
74,123 0,19 + 0,108 + 0,005

Tabel B.3 Zat C (Aquadest)


Konsentrasi (n) Fraksi Mol (% mol)

18𝑥0,972 0,972
𝑛1 = = 0,972 𝑥1 = 𝑥100% = 0,93
18 0,972 + 0,021 + 0,054

16𝑥0,972 0,864
𝑛2 = = 0,864 𝑥2 = 𝑥100% = 0,94
18 0,864 + 0,042 + 0,013
14𝑥0,972 0,756
𝑛3 = = 0,756 𝑥3 = 𝑥100% = 0,84
18 0,756 + 0,063 + 0,081
12𝑥0,972 0,648
𝑛4 = = 0,648 𝑥4 = 𝑥100% = 0,828
18 0,648 + 0,084 + 0,051
10𝑥0,972 0,54
𝑛5 = = 0,54 𝑥5 = 𝑥100% = 0,804
18 0,54 + 0,105 + 0,027
8𝑥0,972 0,432
𝑛6 = = 0,432 𝑥5 = 𝑥100% = 0,757
18 0,432 + 0,126 + 0,013
6𝑥0,972 0,324
𝑛7 = = 0,324 𝑥5 = 𝑥100% = 0,672
18 0,324 + 0,148 + 0,01
4𝑥0,972 0,216
𝑛8 = = 0,216 𝑥5 = 𝑥100% = 0,553
18 0,216 + 0,169 + 0,006
2𝑥0,972 0,108
𝑛9 = = 0,108 𝑥5 = 𝑥100% = 0,356
18 0,108 + 0,19 + 0,005

Tabel B.4 Zat C (Aseton)


Konsentrasi (n) Fraksi Mol (% mol)
4𝑥0,79 0,054
𝑛1 = = 0,054 𝑥1 = 𝑥100% = 0,0516
58 0,054 + 0,972 + 0,021
1𝑥0,79 0,013
𝑛2 = = 0,013 𝑥2 = 𝑥100% = 0,0141
58 0,013 + 0,864 + 0,042
6𝑥0,79 0,081
𝑛3 = = 0,081 𝑥3 = 𝑥100% = 0,09
58 0,081 + 0,063 + 0,756
3,8𝑥0,79 0,051
𝑛4 = = 0,051 𝑥4 = 𝑥100% = 0,0651
58 0,051 + 0,084 + 0,648
2𝑥0,79 0,027
𝑛5 = = 0,027 𝑥5 = 𝑥100% = 0,0401
58 0,027 + 0,105 + 0,54
1𝑥0,79 0,013
𝑛6 = = 0,013 𝑥2 = 𝑥100% = 0,0227
58 0,013 + 0,126 + 0,432
0,8𝑥0,79 0,01
𝑛7 = = 0,01 𝑥3 = 𝑥100% = 0,0207
58 0,01 + 0,148 + 0,324
0,5𝑥0,79 0,006
𝑛8 = = 0,006 𝑥4 = 𝑥100% = 0,0153
58 0,006 + 0,169 + 0,216
0,4𝑥0,79 0,005
𝑛9 = = 0,005 𝑥5 = 𝑥100% = 0,0165
58 0,005 + 0,108 + 0,19
LAMPIRAN C

DOKUMENTASI

NO Gambar Perbandingan Cairaan


A: C
1

2:18

4:16

6:14
4

8:12

10:10

12:8

14:6
8

16:4

18:4