Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukan 30%

kecelakaan kerja di Indonesia dari 100 ribu tenaga kerja terdapat pada

sektor industri konstruksi. King dan Hudson (1985) menyatakan bahwa

pada proyek konstruksi di negara-negara berkembang, terdapat tiga kali

lipat tingkat kematian dibandingkan negara-negara maju.

Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan Transmart Maguwo oleh

PT. Adhi Persada Gedung dengan nilai kontrak Rp 146,1 miliar di

Yogyakarta (Media Release 5M16, 2016). PT. Adhi Karya (Persero) Tbk.

sudah memperoleh bendera emas dan seterfikat audit dalam bidang Sistem

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) (Adhi News, 2014). Pekerjaan

pembangunan gedung Transmart Maguwo yang ditinjau mulai dari

pekerjaan pondasi sampai pekerjaan terakhir (April 2016 – September

2016). Metode yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan FMEA dan

sistem dinamik. Metode FMEA memberi identifikasi risiko kecelakaan,

karakteristik kritis (RPN) dan signifikan dengan penyebabnya (Hariadi,

2006). Sistem dinamik merupakan salah satu metode untuk memodelkan

interaksi antara elemen (variabel) sitem komplek dalam konteks K3

(Kontogiannis, 2012).
2

1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini antara lain :

1. Apa yang menjadi potensi risiko kecelakaan paling kritis (berdasarkan

nilai RPN tertinggi) dalam pembangunan gedung Transmart Maguwo

oleh perusahaan PT. Adhi Persada Gedung?

2. Bagaimana hubungan antara potensi kecelakaan kerja, dampaknya,

penyebabnya, dan perbaikan yang dapat dilakukan dengan metode

sisitem dinamik?

3. Bagaimana rekomen terbaik mengurangi tingkat risiko kecelakaan

yang dihasilkan dari model sistem dinamik berdasarkan sekenario yang

dilakukan untuk periode mendatang?

1.3. Batasan Masalah

Batasan masalah pada penelitian ini antara lain:

1. Risiko yang diteliti adalah kegiatan-kegiatan yang berpotensi

berbahaya pada pembangunan gedung Transmart (yang menerapkan

manajemen K3), pada tahap yang sudah terlaksana (periode tertentu).

2. Risiko kecelelakaan kerja secara teknis pada pekerja hanya dilihat dari

jasmani (fisik), tidak mengukur secara sosial dan mental.

3. Mengidentifikasi risiko-risiko yang berpotensi berdasarkan persepsi

responden kontraktor berpengalaman (terkait dengan proyek).


3

4. Identifikasi penyebab risiko hanya pada metode, material dan peralatan

(tidak pada kebiasaan buruk manuasia) sesusai dengan batasan yang di

pakai FMEA

5. Motode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode FMEA

yaitu failure mode, effect priority, dan fish bone. Sedangkan sistem

dinamik menggunakan casual loop dengan alternative sekenario

perbaikan.

6. Kecelakaan yang sangat minor sangat sulit diukur karena pengambilan

data hanya pada manajemen HSE.

1.4. Keaslian Penelitian

Berdasarkan pengamatan dan pengecekan oleh penulis, judul yang

digunakan untuk penelitian ini belum pernah digunakan sebelumnya.

1.5. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran potensi kecelakaan

kerja konstruksi dan penanggulangannya dengan studi kasus pembangunan

Transmart Maguo, yang dihasilkan model sistem dinamik dari sekenario

yang dibuat untuk periode mendatang.

1.6. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini antara lain :


4

1. Mengidentifikasi potensi risiko kecelakaan paling kritis (berdasarkan

nilai RPN tertinggi) dalam pembangunan gedung Transmart Maguwo

oleh perusahaan PT. Adhi Persada Gedung.

2. Membuat sebuah model sisitem dinamik yang menghubungkan antara

potensi kecelakaan kerja, dampaknya, penyebabnya, dan

perbaikannya.

3. Mendapatkan rekomen terbaik untuk mengurangi tingkat risiko

kecelakaan yang dihasilkan dari model sistem dinamik berdasarkan

sekenario yang dilakukan untuk periode mendatang.


5

BAB II

Tinjauan Pustaka

2.1. Kecelakaan dan Kesehatan Kerja (K3)

ILO (2003) mendefinisikan K3 adalah upaya pemeliharaan dan

peningkatan derajat kesehatan para pekerja baik secara fisik, mental, dan

sosial. Menurut Asiyanto (2005) faktor-faktor penyebab terjadinya

kecelakaan kerja konstruksi, sebagai berikut:

a) Pelaku-pelaku konstruksi

b) Material konstruksi

c) Peralatan konstruksi

d) Metode konstruksi

e) Desain konstruksi

2.2. FMEA

Failure modes and Effects Analysis (FMEA) adalah sebuah teknik

rekayasa yang digunakan untuk menetapkan, mengidentifikasi, dan untuk

menghilangkan kegagalan yang diketahui, permasalahan, error, dan

sejenisnya dari sebuah sistem, desain, proses, dan atau jasa sebelum

mencapai konsumen (Satamatis, 1995). Berikut langkah-langkah dalam

menggunakan metode FMEA menurut Kustiyaningsih (2011 ) :

1. Penjabaran produk atau proses beserta fungsinya


6

2. Membuat blok diagram, yaitu diagram yang menunjukan komponen

terhubung oleh garis yang menunjukan komponen berhubungan

3. Membuat formulir FMEA, berisi produk/sistem, subsitem/ subproses,

komponen, dan desain FMEA (dimodifikasi sesuai kebutuhan)

4. Mengidetifikasi potensi kegagalan, yaitu kondisi dimana komponen,

sub sitem, sistem, ataupun proses tidak sesuai desain seharusnya

5. Mendaftar setiap kegagalan secara teknis, untuk fungsi dari setiap

komponen atau langkah-langkah proses

6. Mendeskripsikan efek penyebab dari setiap kegagalan, sesuai dengan

persepsi konsumen

7. Menentukan faktor probabilitas, yaitu pembobotan numeric pada

setiap penyebab yang menunjukan setiap keseringan terjadi.

8. Indentifikasi kontrol yang ada, yaitu mekanisme yang mencegah

penyebab kegagalan terjadi

9. Review Risk Priority Number (RPN), yaitu hasil perkalian antara:

a) Keseringan terjadi kesalahan (occurance)

b) Alat kontrol akibat penyebab yang potensial (detection)

c) Keseriusan akibat kesalahan terhadap proses (severity)

10. Menentukan rekomendasi untuk kegagalan potensial yang memiliki

RPN tinggi

11. Mengidentifikasi rekomendasi yang telah dilakukan

12. Update FMEA apabila ada perubahan desain atau proses


7

Severity adalah penilaian seberapa besar dampak dari bentuk kegagalan

yang terjadi, dengan skala 1 sampai 10. Rangking penilaian untuk

serverity dilihat pada tabel 2.1. sesuai dengan standar “Incident Severity

Scale” (Priest, 1996) disesuaikan dengan proses yang dianalisis.

Tabel 2.1. Incident Severity Scale

Rangking Dampak Akibat Luka


10 Kematian beberapa invidu (masal)
Kehilangan nyawa atau
9 Kematian individu (sesorang)
merubah kehidupan
8 Perlu perawatan serius dan menimbulkan
individu
cacat permanen
7 Dirawat lebih dari 12 jam, dengan luka pecah
pembuluh darah, hilangan ingatan hebat,
Berdapak besar pada
kerugian besar, dll
individu sehingga tidak
6 Dirawat lebih dari 12 jam, patah tulang, tulang
ikut lagi dalam
bergeser, radang dingin, luka bakar, susah
aktivitas
bernafas dan lupa ingatan sementara, jatuh /
terpeleset
5 Dampah yang diterima Keseleo / terkilir, retak /patah ringan, keram
sedang (individu hanya atau kejang
4 1 sampai 2 hari tidak Luka bakar ringan, luka gores / tersayat,
ikut dalam aktivitas) frosnip (radang dingin/panas), hyperthermia
3 Melepuh, tersengat panas, keseleo ringan,
Dampak diterima kecil
tergelicir atau terpeleset ringan
(individu masih dapat
2 Tersengat matahari, memar, teriris ringan,
ikut dalam aktivitas)
tergores
1 Tidak berdapak Terkenah serpihan, tersengat serangga,
(individu tidak tergigit serangga
mendapat dapak yang
terasa)
Sumber : Priest, 1996

Occurance adalah frekuensi dari penyebab kegagalan secara spesifik dari

suatu proyek tersebut terjadi dan menghasilkan bentuk kegagalan yang

terjadi, dengan skala 1 sampai 10. Rangking penilaian occurance pada

tabel 2.2. sesuai dengan tabel “Crisp Ratings for Occurance of a Failure”

(Y.M. Wang, et al, 2009) disesuaikan dengan proses yang dianalisis.


8

Tabel 2.2. Occurance Rating

Probability of Occurance Occurance Ranking


Sangat tinggi :kegagalan hampir tidak bisa dihindari >1 in 2 10
1 in 3 9
Tinggi : umumnya berkaitan dengan proses terdahulu yang 1 in 8 8
pernah terjadi 1 in 20 7
Sedang : umumnya berkaitan dengan proses terdahulu yang 1 in 80 6
kadang terjadi tetapi tidak dalam jumlah besar 1 in 400 5
1 in 2.000 4
Rendah : kegagalan terisolasi yang berkaitan dengan proses 1 in 15.000 3
hampir identik
Sangat rendah : hanya kegagalan terisolasi yang berkaitan 1 in 150.000 2
dengan proses hampir identik
Remote : kegagalan mustahil, tak pernah ada kegagalan 1 in 1.500.000 1
terjadi dalam proses yang identik
Sumber : Y.M. Wang, et al, 2009

Detection adalah pengukuran terhadap kemampuan alat untuk mendeteksi

atau mengontrol kegagalan yang terjadi, dengan skala 1 sampai 10.

Rangking penilaian detection pada tabel 2.3. sesuai dengan tabel “Crisp

Ratings for Detection of a Failure” (Y.M. Wang, et al, 2009) disesuaikan

dengan proses yang dianalisis.


9

Tabel 2.3. Detection Ranking

Deteksi Kemungkinan Terditeksi Ranking


Hampir tidak Tidak ada alat pengontrol yang mampu mendeteksi 10
mungkin
Sangat jarang Alat pengontol saat ini sangat sulit mendeteksi bentuk dan 9
penyebab kegagalan
Jarang Alat pengontrol saat ini sangat sulit mendeteksi bentuk dan 8
penyebab kegagalan
Sangat rendah Kemampuan alat kontrol untuk mendeteksi bentuk dan 7
penyebab sangat rendah
Rendah Kemampuan alat kontrol untuk mendeteksi bentuk dan 6
penyebab rendah
Sedang Kemampuan alat kontrol untuk mendeteksi bentuk dan 5
penyebab sedang
Agak tinggi Kemampuan alat kontrol untuk mendeteksi bentuk dan 4
penyebab sedang sampai tinggi
Tinggi Kemampuan alat kontrol untuk mendeteksi bentuk dan 3
penyebab tinggi
Sangat tinggi Kemampuan alat kontrol untuk mendeteksi bentuk dan 2
penyebab sangat tinggi
Hampir pasti Kemampuan alat kontrol untuk mendeteksi bentuk dan 1
penyebab hampir pasti
Sumber : Y.M. Wang, et al, 2009

Risk Priority Number adalah produk matematis yang menunjukan tingkat

keparahan, tingkat keseringan atau kemungkinan terjadi yang akan

mempunyai pengaruh/ akibat, dan kemampuan kegagalan sebelum terjadi.

Nilai RPN didapat dari rumus dibawah ini :

RPN = S x O x D ……………………………………………………...(2.1)

Dimana,

S = Severity

O = Occurance

D = Detection
10

2.3. Sistem Dinamik

Menurut Kim (1999) salah satu pentingnya untuk memahami sistem

adalah mengetahui tujuannya, baik sebagai suatu entitas yang terpisah

maupun dalam kaitannya dengan sitem yang lebih besar tempat sistem

tersebut berada. Jay W. Forrester merupakan orang pertama kali

mengenalkan sistem dinamik pada sekitar tahun 1950-an, merupakan suatu

metode untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks yang timbul

karena adanya kecenderungan sebab akibat dari berbagai variabel dalam

sistem. Menurut Law dan Kelton (1991), Simulasi merupakan suatu teknik

meniru operasi-operasi atau proses- proses yang terjadi dalam suatu sistem

dengan bantuan perangkat komputer dan dilandasi oleh beberapa asumsi

tertentu sehingga sistem tersebut bisa dipelajari secara ilmiah. Secara

umum model sistem dinamik adalah sebuah pemodelan terhadap suatu

sistem yang dimana variabel-variabel didalamnya saling mempengaruhi

satu sama lainnya dengan batasan yang telah ditetapkan. Tahapan

pendekata sistem secara umum sebagai berikut :

a) Idetifikasi dan definisi masalah

b) Konseptualisasi sistem

c) Formalisasi model

d) Simulasi model

e) Analisa kebijakan

f) Implementasi kebijakan
11

Pada pendefinisian masalah untuk mengetahui dimana pemodelan sistem

diperlukan, tahap selanjutnya menetapkan tujuan dan batasan-batasan dari

sistem yang dimodelkan. Batasan sistem meliputi kegiatan di dalam sistem

sehingga perilaku yang dipelajari timbul karena interaksi komponen-

komponen dalam sistem (Purnomo, 2003).

Konseptualisasi model dilakukan pada permasalahan yang didefinisikan,

diawali dengan idetifikasi komponen atau variabel yang terlibat dalam

model. Konseptualisasi model dapat memberi kemudahan bagi pembaca

untuk mengikuti pola pikir yang tertuang dalam model untuk pemahaman

lebih mendalam tetang sistem (Purnomo, 2003).

Formalisasi model bertujuan untuk merumuskan setiap relasi dalam model

konseptual dengan cara memasukan data kuantitatif kedalam model.

Pemodelan yang dilakukan untuk mementukan nilai parameter dan

melakukan percobaan-percoban dalam pengembangan model dengan

mengkomunikasikan faktor-faktor yang terlibat, diformulasikan dengan

persamaan numerik (Purnomo, 2003).

Powersim merupakan program komputer untuk simulasi model

dikarenakan karena kemudahan dan kecagihan dalam penggunaannya terus

dikembangkan. Dalam powersim, model kuntitatif disajikan dalam bentuk

grafik dari satu atau lebih variabel terhadap waktu.

Simulasi terhadap model dan melakukan validasi model yang juga akan

menimbulkan umpan balik terhadap pemahaman sistem. Menurut

Muhammadi et al. (2001) simulasi model dilakukan untuk memahami


12

gejala atau proses sistem, membuat analisis dan peramalan perilaku gejala

atau proses tersebut di masa depan. Sedangkan validasi model dilakukan

untuk mengetahui kesesuaian antara hasil simulasi dengan gejala atau

proses yang ditirukan. Permasalahan yang dimodelkan dengan pendekatan

sistem dinamik sebaiknya mengandung dua karakteristik (Richardson dan

Pugh, 1986), yaitu :

a. Masalah yang akan dimodelkan mempunyai sifak dinamik, artinya

menyangkut kuantitas yang berubah menurut waktu, akan

direpresentasikan dalam grafik kuantitas terhadap waktu

b. Adanya sistem umpan balik

Sistem dinamik mengambarkan sebuah konsep umpan balik pada struktur

sistem yang dikenal dengan diagran kausal (causal loop diagram) atau

CLD. CLD terdiri dari variabel yang saling berhubungan dengan tanda

panah menandakan pengaruh penyebab diantara variabel. Tanda panah

pada diagram diberi tanda (+) atau (-) tergantung pada hubungan yang

terjadi apakah positif atau negatif. Tanda (+) digunakan untuk menyatakan

hubungan yang terjadi antara dua faktor yang berubah dalam arah yang

sama. Sedangkan tanda (-) digunakan jika hubungan yang terjadi antara

dua faktor tersebut berubah dalam arah yang berlawanan (Muhammadi et

al, 2001).
13

BAB III

Metode Penelitian

Metode penelitian sebagai landasan dan acuan dalam melakukan penelitian,

sehingga berjalan dengan sistematis, terstruktur, dan terarah sesuai dengan urutan

yang sudah disusun. Dalam penelitian ini permasalahan yang dibahas mengenai

kecelakaan kerja di proyek pembangunan Transmart Maguwo, Yogyakarta.

Pembangunan gedung Transmart Maguwo menggunakan pondasi tiang pancang,

setelah itu pembangunan lantai dasar sampai pekerjaan struktur terakhir

pembangunan lantai tiga. Tahap pembangunan yang menjadi periode penelitian

dimulai dari pekerjaan persiapan lahan, pekerjaan pondasi, sampai pekerjaan

terakhir (pekerjaan F1 / Lantai 1) dengan periode waktu April 2016 – September

2017. Objek penelitian ini adalah kecelakaan kerja pada semua tenaga kerja yang

terlibat pembangunan gedung Transmart Maguwo.

Dari flowchat pada Gambar 3.1. dibawah ini menunjukan tahapan-tahapan dalam

melakukan penelitian. Tahapan-tahapan ini diuraikan dan dijelaskan pada sub bab

berikut.
14

Gambar 3.1. Metode Penelitian


15

3.1. Rumusan Masalah

Tahap ini merupakan awal dari penelitian, pada tahap ini membuat

perumusan masalah yang akan diteliti tentang kecelakaan dan kesehatan

kerja pada pembangunan gedung Transmart Maguwo. Penetepan tujuan

dan batasan penelitian serta manfaat penelitian pada tahap ini sesuai

dengan ruang lingkup penelitian. Proses perumusan masalah didapat dari

data yang diperoleh dari pengumpulan data secara langsung dengan cara

bertanya langsung pada manajer HSE dan pengamatan langsung pada

kegiatan proyek.

3.2. Identifikasi Potensi Kecelakaan Kerja

Tahap ini mengidentifikasi potensi kecelakaan kerja yang mungkin terjadi

pada kegiatan pembangunan gedung. Langakah pertama yaitu membuat

kuisoner kemungkinan terjadi atau tidaknya potensi kecelakaan kerja

dengan studi literatur pada penelitian dan sumber berkaitan. Kuisoner

identifikasi potensi kecelakaan kerja disusun berdasarkan jenis pekerjaan

struktur pembangunan gedung Transmart Maguwo. Potensi kecelakaan

kerja pada kuisoner ini memuat semua kecelakaan bersifat minor dan

mayor (berdampak terganggunya pekerjaan dan tidak berdampak sama

sekali) Kuisoner ini diisi oleh orang-orang yang berkaitan dengan proyek

pembangunan gedung yang memliki pengalaman yang cukup dan terkait

dengan kecelakaan kerja, Jumlah kuisoner yang disebar berjumlah ganjil,


16

dimana potensi bahaya akan dianggap mungkin terjadi bila lebih banyak

yang mengisi potensi tersebut terjadi.

3.3. Menentukan Severity, Occurance, dan Detection (metode FMEA)

Tahap ini menentukan ranking untuk severity, occurance, dan detection

berdasarkan sumber terkait dengan melakukan studi litelatur dan survei

lapangan. Nazir (1983) mengungkapkan metode survei adalah penelitian

lapangan yang dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala

yang ada untuk mencari keterangan secara faktual. Tahap ini dilakukan

sesudah pengidentifikasian potensi kecelakaan kerja, bila tidak sesuai

dengan proyek ditinjau dilakukan kembali pengidentifikasian potensi

kecelakaan kerja. Berikut penentuan ranking atau skala severity,

occurance, dan detection :

1. Severity failure mode menunjukan tingkat keseriusan akibat yang

ditimbulkan. Skala / ranking yang digunakan dalam penelitian ini

bedasarkan standar Incident Severity Scale (Priest, 1996). Standar ini

memberi dampak dari potensi kecelakaan kerja mengenai luka yang

terjadi, penyakit, bahaya sosial, dan psychological, serta bahaya

terhadap mesin atau peralatan. Penelitian ini hanya melihat dampak

yang ditimbulkam dari potensi kecelakaan kerja berupa luka yang

ditimbulkan dan penyakit. Nilai untuk severity untuk potensi

kecelakaan kerja di dapat dari dikusi dan kuisoner yang dibagikan ke

staf HSE proyek pembangunan gedung Transmart Maguwo.


17

2. Occurance merupakan frekuensi dari penyebab kegagalan (potensi

kecelakaan kerja) secara spesifik dari suatu proyek tersebut terjadi dan

menghasilkan bentuk kegagalan. Skala yang digunakan dari 1 (hampir

tidak penah) sampai dengan 10 (hampir sering). Standar occurance

yang digunakan penelitian ini bedasarkan penelitian dari Y.M. Wang,

et al (2009). Nilai untuk occurance untuk potensi kecelakaan kerja di

dapat dari dikusi dan kuisoner yang dibagikan ke staf HSE proyek

pembangunan gedung Transmart Maguwo.

3. Detection merupakan pengukuran terhadap kemampuan mendeteksi

atau mengontol kegagalan (potensi kecelakaan kerja) yang bisa terjadi.

Skala yang digunakan dari 1 (alat bisa mengontrol atau mendeteksi

kegagalan) sampai dengan 10 (alat tidak bisa mengontrol atau

mendeteksi kegagalan). Standar detection yang digunakan penelitian

ini bedasarkan penelitian dari Y.M. Wang, et al (2009). Nilai untuk

detection untuk potensi kecelakaan kerja di dapat dari dikusi dan

kuisoner yang dibagikan ke staf HSE proyek pembangunan gedung

Transmart Maguwo.

3.4. Menghitung Nilai Risk Priority Number (RPN)

Nilai RPN didapat dari pekalian SOD (Severity, Occurance, Detection).

RPN dengan nilainya paling tinggi mempunyai prioritas penyelesaian yang

lebih tinggi (paling diperhatiakan dalam perbaikannya). Untuk nilai SOD


18

didapat dari nilai rata-rata diskusi dan kuisoner yang diisi staf HSE proyek

pembangunan Transmart Maguwo.

RPN = (severity) x (occurance) x (detection) ……………………...(3.1)

3.5. Pembuatan CLD dan SFD dari Potensi Kecelakaan Kerja (RPN

Tertinggi)

Tahap ini akan menditentifikasi penyebab terjadinya potensi kecelakaan

dengan nilai RPN tertinggi. Idetifikasi dilakukan dengan cara diskusi

dengan staf HSE pembangunan Transmart Maguwo dan mencari dari

literature (penelitian) yang ada. Sedangkan untuk permasalahan (level/

stock) yang dihadapi dalam sistem ini adalah tingkat risiko kecelakaan

yang ditunjukan dengan nilai RPN. Tahap ini menentukan variabel-

variabel yang mempengaruhi nilai RPN yang didapat dari pekalian SOD.

Sehingga dapat ditetapkan variabel rate (flow) untuk pemasalahan nilai

RPN adalah SOD (Severity, Occurance, Detection) yang mempengaruhi

langsung nilai RPN. Pada tahap ini juga dilakukan pemberiatan bobot atau

parameter terhadap variabel yang dipakai dalam model. Cara membuat

parameter variabel dengan kuisoner, diskusi, expert judgment, dan

pemantauan langsung kelapangan.

Setelah mengatahui variabel rate (SOD) dan level (RPN) serta variabel

lainnya, maka dapat ditentukan perbaikan terhadap tingkat kecelakaan

yang digunakan untuk pengembangan model selanjutnya. Pada tahap ini

juga dilakukan pembuatan model metal dengan diagram casual loop


19

diagrams kepada variabel-variabel yang mempengaruhi nilai RPN yang

saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lainnya. Struktur model

dilanjutkan dengan membangun diagram alir dengan alat SFD (stcok-flow

diagrams) sebagai bahasa bersama pemodelan SD. Penentuan variabel

atau parameter yang akan dijadikan stock (akumulasi) dan flow (aliran

yang dapat mengubah nilai stock). Lalu formulasi model simulasi dari

SFD menggunakan alat bantu program komputer Powersim.

3.6. Validasi dan Vertifikasi Model

Eriyatno (2003) menyebutkan bahwa verifikasi model adalah pembuktian

bahwa model komputer yang telah disusun pada tahap sebelumnya mampu

melakukan simulasi dari model abstrak yang dikaji. Secara umum dapat

diartikan bahwa proses untuk mengechek bahwa program komputer yang

dibuat sudah benar penerapannya. Cara yang dilakukan adalah menguji

sejauh mana program komputer yang dibuat telah menunjukkan perilaku

dan respon yang sesuai dengan tujuan dari model.

Validasi adalah proses penyimpulan apakah model sistem tersebut

merupakan perwakilan yang sah dari realitas yang dikaji, sehingga dapat

menghasilkan kesimpulan yang meyakinkan. Dalam proses pemodelan

validasi dan verifikasi dilakukan untuk setiap tahap pemodelan yaitu

validasi terhadap model konseptual, verifikasi terhadap model komputer

dan validasi operasional serta validitas data. Prosedurnya dengan

mengeluarkan nilai hasil simulasi variabel utama dengan


20

membandingkannya dengan pola perilaku data aktual. Uji statistik

dilakukan setelah secara visual meyakinkan dengan mengecek nilai error

antara data simulasi dan data aktual dalam batas deviasi yang

diperkenankan antara 5-10%. Ukuran relatif untuk menentukan nilai mean

error dari nilai absolute percentage error (APE) yang didefinisikan

dengan persamaan berikut (Makridakis et.al, 1991).

1 [𝑋𝑚−𝑋𝑑]
MAPE = ∑ 𝑥100% …………………………………...(3.1)
𝑛 𝑋𝑑

Dengan,

n = jumlah data observasi

X = nilai data actual

F = nilai data simulasi

3.7. Analisis Sistem Dinamik (Skenario)

Kebijakan merupakan aturan umum bagaimana status keputusan dibuat

berdasar pada informasi yang ada. Dalam sistem tingkat risiko kecelakaan

kerja pembangunan Transmart Maguwo, kebijakan-kebijakan dibangun

berdasarkan variabel-variabel terkait seperti : dampak, peluang kejadian,

alat pencegah kecelkaan, dan penyabab kecelakaan. Berdasarkan variabel-

variabel tersebut, nantinya akan dibangun skenario-skenario untuk

mengurangi nilai (RPN) tingkat risiko kecelakaan kerja. Skenario

kebijakan pada penelitian ini dilakukan sampai pekerjaan selesai yaitu

September 2016 - Maret 2017.