Anda di halaman 1dari 3

Hubungan kadar gula darah dengan hipertensi

Kadar gula darah secara normal ada di dalam darah, dimana kadar gula adalah jumlah
kandungan glukosa dalam plasma darah. Glukosa adalah salah satu jenis karbohidrat dalam
bentuk monosakarida dan merupakan aldoheksosa yang sering disebut juga dekstrosa. Kadar
gula darah normal manusia berkisar dibawah 200mg/dl untuk pemeriksaan gula darah sewaktu
yang dapat diambil pada waktu kapan saja, dibawah 126mg/dl untuk pemeriksaan gula darah
puasa yang diambil setelah dilakukan puasa atau tidak makan sama sekali minimal 8 jam, dan
dibawah 200mg/dl untuk pemeriksaan gula darah 2 jam post prandial yang diambil 2 jam
setelah mengkonsumsi makanan. Dimana apabila pada pemeriksaan kadar gula darah
didapatkan angka di atas batas tersebut maka dikenal dengan kondisi hiperglikemi dimana
kadar glukosa di dalam darah terjadi peningkatan. Dimana terdapat beberapa penyebab yang
dapat mengakibatkan peningkatan kadar gula darah tersebut, yakni diantaranya:
- Lupa atau ketidak teraturan dalam mengkonsumsi obat penurun gula dan insulin.
- Makan terlalu banya karbohidrat.
- Sedang mengalami infeksi.
- Tidak melakukan kegiatan fisik dalam jangka lama

Peningkatan kadar gula darah ini erat dikaitkan dengan kejadian diabetes melitus yang terbagi
menjadi 2 tipe, diabetes melitus tipe 1 yang terjadi karena penyakit autoimmune yang
menyebabkan sel beta pancreas tidak dapat menghasilkan insulin dan diabetes melitus tipe 2
yang terjadi akibat menurunnya fungsi beta pancreas dalam menghasilkan insulin dan beberapa
factor penyebab lainnya. Untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus itu sendiri diperlukan
adanya gejala klasik, beberapa keluhan penyerta lain, dan hasil pemeriksaan gula darah.
- Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang
tidak dapat dijelaskan sebabnya.
- Keluhan lain: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada
pria, serta pruritus vulva pada wanita.
Tabel kriteria diagnosis diabetes melitus

Menurut Tanto dan Hustrini (2014) diabetes melitus yang ditandai dengan adanya
hiperglikemia merupakan salah satu faktor resiko terjadinya hipertensi. Berdasarkan ADA
(2017) dua orang dari 3 orang penderita diabetes melitus memiliki tekanan darah tinggi.
Cheung et al (2012) menyebutkan bahwa hiperglikemia sering disertai dengan timbulnya
sindrom metabolik yaitu hipertensi, dislipidemia, obesitas, disfungsi endotel, dan faktor
protrombotik yang kesemuanya itu akan memicu dan memperberat komplikasi kardiovaskuler.
Salah satu komplikasi makroangiopati diabetes dapat terjadi karena perubahan kadar gula
darah, kadar gula darah yang tinggi secara terus menerus akan menempel pada dinding
pembuluh darah. Setelah itu terjadi proses oksidasi dimana gula darah bereaksi dengan protein
dari dinding pembuluh darah yang menimbulkan Advanced Glycosylated Endproducts (AGEs).
AGEs merupakan zat yang dibentuk dari kelebihan gula dan protein yang saling berikatan.
Keadaan ini merusak dinding bagian dalam dari pembuluh darah, dan menarik lemak yang
jenuh atau kolesterol menempel pada dinding pembuluh darah, sehingga reaksi inflamasi
terjadi. Leukosit dan trombosit serta bahan-bahan lain ikut menyatu menjadi satu bekuan plak,
yang membuat dinding pembuluh darah menjadi keras, kaku dan akhirnya timbul penyumbatan
yang mengakibatkan perubahan tekanan darah. (Tandra, 2009)

Daftara pustaka
Perkeni 2015
Tanto C., Hustrini NM. Hipertensi. Kapita selekta kedokteran. 2014. Ed ke-4. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Indonesia.
Tandra H. 2009. Kiss diabetes goodbye. Surabaya: Jaring Pena.
Cheung BMC, Li C. 2012. Diabetes and hypertension: is there a common metabolic pathway.
PMC. 12(2): 160-166. Published online 2012 Jan 27.
https:??www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3314178/