Anda di halaman 1dari 51

a4 q KARAKTERISTIK FISIK DAN ORGANOLEPTIK TABLET

EFFERVESCENT PUTIH TELUR BERCITARASA LEMON


DENGAN KONSENTRASI EFFERVESCENT MIX
YANG BERBEDA

SKRIPSI
HENRY PURNAWIDYA HARTONO

PROGRAM STUD1 TEKNOLOGI HASIL TERNAK


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
RINGKASAN

HENRY PURNAWIDYA HARTONO. D14203054. 2007. Karakteristik Fisik


dan Organoleptik TabIet Effervescerzf Putih TeIur Bercitarasa Lemon dengan
Konsentrasi Effervescerzf Mix yang Berbeda. Skripsi. Program Studi Teknologi
Hasil Temak, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Zakiah Wulandari, S.TP., M.Si.


Pembimbing Anggota : Ir. B. N. Polii, SU.

Bagian terbesar telur ada 3 yaitu : putih telur, kuning telur dan kerabang
telur. Telur memiliki kandungan protein yang tinggi, sehingga dapat dijadikan
sumber protein. Protein yang utama ada di bagian putih telur dan kuning telur.
Kuning telur memiliki kandungan kolesterol cukup tinggi, sedangkan pada putih
telur tidak terkandung sama sekali. Penggunaan putih telur dalam bentuk sediaan
rninuman instan tablet effervescent putih telur diharapkan dapat menjadi altematif
bagi masyarakat yang menginginkan tambahan sumber protein bebas kolesterol.
Penggunaan essence bercitarasa lemon dan efek effervescent ini diharapkan dapat
ineningkatkan penerimaan minuman ini di masyarakat.
Tujuan penelitian ini mempelajari karakteristik fisik dan organoleptik
tablet effe~vescentputih telur yang dihasilkan. Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Januari sampai April 2007, di Bagian Teknologi Hasil Ternak Fakultas
peternakan Institut Pertanian Bogor, Pilot Plant, SEAFAST CENTER Institut
Pertanian Bogor dan Laboratorium Farmasi Angkatan Laut Jakarta.
Metode penelitian ini terbagi menjadi dua tahap, tahap pertama adalah
penelitian pendal~uluanyaitu mencari kelarutan terbaik dari tepung putih telur dan
tahap kedua adalah penelitian utamz yaitu proses pemhlitaii tablet <ffervescent
li~eaggunakanmetode granulasi basah dengan perlakuan konsentrasi effervescent
mix (campuran asam sitrat, asam tartrat dan natrium bikarbonat) yang berbeda
yaitu 55%, 60% dan 65%. Dikarenakan putih telur memiliki karakteristik susah
larut dalam air, maka dibuat modifikasi untuk mengatasinya yaitu dengan
menambahkan maltodekstrin. Maltodekstrin merupakan polisakarida yang sering
digunakan sebagai bahan pengisi dalam produk m a k a n ~ Penambahan .~
maltodekstrin yang digunakan dalam penelitian yaitu 5%, lo%, 15% dan 20%.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kelarutan tepung putih telur yang paling
baik kelarutannya adalah dengan penambahan maltodekstrin sebesar 20%, akan
tetapi agar bahan tidak kebanyakan bahan pengisi, sehingga penambahan 15%
ditetapkan sebagai acuan dalam penelitian utama. Rancangan percobaan yang
digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan perlakuan konsentrasi
effervescent mix yang berbeda dan kelompoknya periode pembuatan tablet
effervescent minggu I, 11, 111. Peubah yang diamati yaitu karakteristik fisik yang
terdiri atas kompresibilitas granul, keseragaman br,kst tablet, kekerasan tablet,
friabilitas tablet, keseragaman ukuran (tebal tablet dan tiiameter tablet), waktu
larut tablet dan pengujian organoleptik menggunakan uji hedonik. Peubah pada
pengujian organoleptik meliputi : bentuk tablet, aroma, waktu larut, warna, rasa
dan penilaian secara keseluruhan.
Berdasarkan hasil sidik ragam yang didapatkan perlakuan effervescent mix
yang berbeda tidak mempengaruhi pengujian karakteristik fisik granul maupun
tabletnya (P>0,05). Nilai rataan dari kompresibilitas granul sebesar 24,39%,
keseragaman bobot tablet 2,47 gram, kekerasan tablet 5,48 kg/cm2, fiiabilitas
0,41%, keseragaman ukuran tebal tablet 4,58 mm, sedangkan diameter tablet
26,17 mm dan waktu lamt tablet berkisar antara 7,67 menit. Hasil yang
didapatkan dari pengujian oraganoleptik menunjukkan bahwa perlakuan
konsentrasi effervescent mix yang berbeda tidak memberikan pengaruh terhadap
sifat organoleptik tablet effervescent putih telur (P>0,05). Penilaian rataan panelis
terhadap bentuk tablet, aroma, waktu larut, warna, rasa dan penilaian secara
keseluruhan b e r t u ~ t - t u adalah
~t 4,81 (suka); 4,49 (agak suka); 3,41 (tidak suka);
4,53 (suka); 4,11 (agak suka) dan 4,21 (agak suka).
Kata-kata kunci: citarasa lemon, karakteristik fisik dan organoleptik, tablet
effervescent, tepung putih telur
ABSTRACT

Physical and Sensory Properties of Lemon Flavored Albumen Effervescent


Tablet with Different Effervescent Mix of Concentration

Hartono, H. P., 2. Wulandari and B. N. Polii

Egg yolk contains high level of fat, that is different with albumen.
Albumen doesn't contain fat, only protein, water, carbohydrate and mineral.
Albumen effervescent tablet was made as a product that free cholesterol
beverages. The objective of this research were to analyze physical and sensory
properties of albumen effervescent tablets with addition of lemon essence. The
experiment design was randomized block with three treatments (different
effervescent mix concentration) and three groups. The result of Analysis of
Variance (ANOVA) from all parameters showed that different formulation white
egg effervescent tablet didn't have significant differences on granule
compresibility, weight tablets uniformity, tablets hardness, tablets friability,
tablets size thick, tablets diameter and tablets dissolving time (P>0,05). The
granule compresibility mean is 24,39%, weight tablets uniformity mean is 2,47 gr,
tablets hardness mean is 5,48 kg/cm2, tablets friablity mean is 0,41%, tablets size
thick mean is 4,58 mm, tablets diameter mean is 26,17 mm and tablets dissolving
time mean is 7,67 minutes. Concentration of effervescent mix also didn't have
significant effect on sensory property of the tablets that included tablets form,
flavor, dissolving time, color, taste and general value mean is 4,81 (like); 4,49
(rather like); 3,41 (not like); 4;53 (like); 4,11 (rather like) and 4,21 (rather like).

Key words : albumen powder, effervescent tablets, essence i,pinon


KARAKTERISTIK FISIK DAN ORGANOLEPTIK TABLET
EFFERVESCENT PUTIH TELUR BERCITARASA LEMON
DENGAN KONSENTRASI EFFERVESCENT MIX
YANG BERBEDA

HENRY PURNAWIDYA HARTONO


Dl4203054

Slcripsi ini merupaltan saiah satu eyarat untuk


memperolet~gelar Sarjana Peternakan pads
Pakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUD1 TEKNOLOGI HASIL TERNAK


PAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
KARAKTERISTIK FISIK DAN ORGANOLEPTIK TABLET
EFFERVESCENT PUTIH TELUR BERCITARASA LEMON
DENGAN KONSENTRASI EFFERVESCENT MIX
YANG BERBEDA

Oleh :
HENRY PURNAWIDYA HARTONO
Dl4203054

Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan


Komisi Ujian Lisan pada tanggal 26 Pebruari 2008

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota


n

S.TP., M.Si. (1r. B. Nenny Polii, SU.


NIP. 132 206 246 NIP. 130 816 350

ltas Peternakan

I%J-hdullah, M.Sc. Agr.


'"-----rm~.
131 955 531
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 13 Januari 1985 di Tuban, Jawa Timur.


Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Mundi
Hartono dan Ibu Khomsatun, S.Pd.
Penulis menyelesaikan pendidikan SD hingga SMU di Tuban. Pendidikan
Sekolah Dasar diselesaikan pada tahun 1997 di SD Negeri Kebonsari I Tuban.
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama diselesaikan pada tahun 2000 di SLTP Negeri
1 Tuban, dan Sekolah Menengah Umum diselesaikan pada tahun 2003 di SMU
Negeri 1 Tuban.
Selama mengikuti pendidikan, penulis aktif di beberapa kegiatan intra dan
ekstra kampus. Tahun 2003-2004 penulis aktif di Organisasi Mahasiswa Daerah
(OMDA) Tuban sebagai Wakil Ketua Umum dan selanjutnya di tahun 2004-2006
terpilih menjadi Ketua Umum. Tahun 2004-2005 penulis aktif di Departemen
Infokom, Forum Aktivitas Mahasiswa Muslim (FAMM) A1 An'aam sebagai staf.
Tahun 2005-2006 penulis aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas
Peternakan sebagai Ketua Departemen Minat dan Enterpreneurship. Penulis
pernah menjadi Asisten Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (MKU 111) pada
tahun 2005-2007. Kegiatan ekstra kampus yang penulis ikuti yaitu Perhilnpuiia~l
Petani dan Nelayan Seluruh Indonesia (PPNSI). Selama menempuh pendidikan di
IPB, pada tahun 2006 penulis juga berkesempatan bergabung dalam tim finalis
Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa
Nasional (PIMNAS) XIX di Universitas Mthammadiyah Malang dengan judul
proposal Pembuatan Egg Instant Drink dari Putih Telur dengan Penambahan Efek
Effervescent dan Cita Rasa Lemon dan pada tahun 2007 meraih medali perunggu
dengan judul proposal yang sama dalam Program Kreativitas Mahasiswa
Penulisan Ilmiah pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) XX di
Universitas Lanlpung.
I U T A PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, Rabb Yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang, yang telah memberikan karunia tak terhingga, sehingga Penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini dalam rangka penyelesaian studi di Departemen
Ilmu Produksi dan Teknologi Petemakan, Fakultas Petemakan, Institut Pertanian
Bogor. Sholawat serta salam semoga selalu terhaturkan kepada qudwah hasanah
kita Nabi Muhammad SAW.
Skripsi ini berjudul "Karakteristik Fisik dan Organoleptik Tablet
Effervescent Putih Telur Bercitarasa Lemon dengan Konsentrasi Effervescent Mix
yang Berbeda" yang berisikan tentang pembuatan minuman efervescent yang
berbahan baku dari putih telur. Putih telur mempakan produk asal hewani yang
mengandung gizi cukup tinggi, terutama pada proteinnya dan tidak mengandung
lemak. Harapannya produk yang baru ini dapat berguna dan diterima di kalangan
masyarakat.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempumaan. Penulis berharap semoga apa yang ditulis dapat memberikan nilai
guna bagi pembaca pada umumnya dan penulis khususnya.

Bogor, Maret 2008

Penulis
DAFTAR IS1
Halaman
..
RINGKASAN ................................................................................................... 11

ABSTRACT ...................................................................................................... iv
LEMBAR PERNYATAAN .............................................................................. v
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. vi
RIWAYAT HIDUP .......................................................................................... vii
...
KATA PENGANTAR ...................................................................................... Vlll

DAFTAR IS1 ..................................................................................................... ix


DAFTAR TABEL ............................................................................................. X

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xi


DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xii
PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
Latar Belakang ........................................................................................ 1
Tujuan ..................................................................................................... 2
TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 3
Telur ........................................................................................................ 3
Putih Telur ................................................................................ 3
Effervescent ............................................................................................. 5
Granu: ...................................................................................... 6
Tablet ....................................................................................... 7
Bahan Baku Tablet Effervescent ............................................... 7
Pembuatan Tablet Effervescent ............................................................... 9
Citarasa Jeruk Lemon .............................................................................. 10
Natriurn .................................................................................................... 10
Maltodekstrin ........................................................................................... 11
Pengerillg Semprot .................................................................................. 11
. .
Pentlaan Organoleptik ............................................................................ 12
METODE .......................................................................................................... 13
Lokasi dan Waktu .................................................................................... 13
Materi ...................................................................................................... 13
13
Alat ............................................................................................ 13
Rancangan Percobaan .............................................................................. 13
Prosedur ...................................................................................................14
Penelitian Pendahuluan ............................................................. 14
..
Penelltian Utama ....................................................................... 16
Peubah yang Diukui .................................................................. 18
..
Pelulaian Organoleptik ............................................................. 19
HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................
..
Penelit~anPendahuluan .........................................................................
..
Penel~t~anUtama ...................................................................................
...
Kompres~bihtasGranul .............................................................
Evaluasi Tablet Efervescent Putih Telur ..................................
..
Pengullan Organoleptik ............................................................
KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................
Kesimpulan .............................................................................................
Saran .......................................................................................................
UCAPAN TERIMAKASIH .............................................................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................
LAMPIRAN ......................................................................................................
DAPTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Komposisi Kimia Telur Ayam Ras ................................................. 3
2. Formula Penelitian Utama .............................................................. 16
3. Nilai Rataan Karakteristik Fisik Tablet Effervescent Putih Telur .... 21
4 . Nilai Rataan Uji Hedonik Tablet Efervescent Putih Telur ............ 26
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halanlan
1. Stmktur Telur ..................................................................................... 4
2 . Diagram Alir Pembuatan Tepung Putih Telur sebelum modifikasi .... 15
3 . Diagram Alir Pembuatan Tablet Effervescent Putih Telur .................. 17
4 . Tepung Putih Telur .......................................................................... 20
5. Tablet Effervescent Putih Telur dengan Formula yang Berbeda ......... 20
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. Format Penilaian Organoleptik Uji Skalar Garis ........................... 36
2. Analisis Ragam Uji Kompresibilitas Granul Tablet
Effervescent Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Mix
yang Berbeda ................................................................................. 37
3. Analisis Ragam Uji Keseragaman Bobot Tablet
Effervescent Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Mix
yang Berbeda ................................................................................. 37
4. Analisis Ragam Uji Kekerasan Tablet
Effervescent Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Mix
yang Berbeda ............................................................................ 37
5. Analisis Ragam Uji FriabilitasKeregasan Tablet
Effervescent Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Mix
yang Berbeda ................................................................................. 37
6. Analisis Ragam Uji Keseragaman Tebal Tablet
Effervescent Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Mix
yang Berbeda ................................................................................. 37
7. Analisis Ragam Uji Keseragaman Diameter Tablet
Effervescent Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Mix
yang Berbeda ........................................................................... 38
8. Analisis Ragam Uji Waktu Larut Tablet
Effervescent Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Mix
yang Berbeda ................................................................................. 38
9. Analisis Ragam Uji Organoleptik Tablet
Effervescent Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Mix
yang Berbeda ................................................................................. 38
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bahan pangan hasil ternak yang memiliki nilai nutrisi tinggi terutama
protein adalah telur. Telur ayam adalah salah satu bahan makanan asal ternak
yang bernilai gizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh manusia seperti protein, lemak, mineral serta memiliki
daya cerna yang tinggi. Telur terdiri atas tiga ko~nponenpenting yaitu putih telur,
kuning telur dan kerabang telur. Kandungan kolesterol telur hanya terdapat pada
kuning telur, sedangkan putih telur tidak mengandung kolesterol. Putih telur
memiliki kandungan protein yang tinggi, sehingga dapat dijadikan sumber protein
tersendiri yang bebas kolesterol.
Konsurnsi protein masyarakat Indonesia, khususnya protein hewani pada
saat ini masih tergolong rendah (dibawah 10 gradkapitafhari), apalagi bila
dibandingkan dengan negara - negara maju (50-80 grandkapitakari) (Rusfidra,
2005). Padahal, sebagian ahli menghubungkan tingkat konsumsi protein dengan
tingkat kecerdasan suatu bangsa secara tidak langsung. Salah satu alasan
rendahnya konszmsi protein masyarakat di samping masalah finansial adalah
karena citra produk peternakan khususnya produk-~oduktelur dan daging, yang
sangat identik dengan meja makan, sehingga seolah-olah produk petemakan
hanya layak dikonsumsi bersama nasi saja. Oleh karena itu, diperlukan inovasi
kreatif untuk memecahkan masalah ini dengan menciptakan suatu produk yang
lebih praktis dengan berbagai aktivitas masyarakat.
Minuman sumber protein yang berasal dari telur diharapkan menjadi
alternatif minuman protein bebas kolesterol bagi masyarakat. Minuman instan
berbentuk serbuk atau tablet saat ini banyak beredar di pasaran dan disukai oleh
konsumen karena lebih praktis daripada minuman berbentuk cair. Minuman
dengan penambahan sumber protein yang berasal dari telur diharapkan menjadi
altemaiive minurrian bebas kolesterol. Minuman eflerervcscent instan berbentuk
serbukltablet disukai karena mempunyai rasa sparkle yang khas dan mudah dalam
penyajian. Proses bereaksinya campuran asam dan basa dapat berlangsung
maksimal, apabila konsentrasi campuran asarn dan basanya tepat. Penampilan
fisik yang menarik serta daya terima di semua golongan umur masyarakat adalah
ha1 yang turut mendukung adanya penerimaan konsumen terhadap produk
tersebut.
Jeruk lemon merupakan bahan yang sudah digunakan secara luas sebagai
bahan penguat citarasa dan aroma. Aroma dan rasanya yang khas menjadi salah
satu daya pikat tersendiri bagi konsumen. Cita rasa jeruk lemon dan efek
effervescent yang digunakan dalam produk tablet effervescent putih telur ini
diharapkan dapat meningkatkan penerimaan jenis minuman baru ini di
masyarakat.

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari karakteristik
fisik dan organoleptik tablet effervescent putih telur bercitarasa lemon dengan
konsentrasi effervescent nzix yang berbeda.
TINJAUAN PUSTAKA

Telur
Telur adalah salah satu bahan makanan asal temak yang dikenal bemilai
gizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh
tubuh manusia seperti protein, lemak, mineral serta memilki daya cema yang
tinggi (Sirait, 1986). Selain itu, komponen protein penyusun dari telur ayam
mengandung asam amino esensial serta terdapat dalam jumlah yang banyak dan
seimbang, sehingga protein telur dapat digunakan untuk melengkapi kebutuhan
makanan lain (Anggorodi, 1985).
Sirait (1986) menyatakan bahwa struktur sebuah telur terdiri atas kuning
telur, yang dikelilingi oleh putih telur yang mengandung air dalam jumlah banyak,
bersifat elastis dan dapat mengabsorbsi goncangan yang mungkin terjadi pada
telur tersebut. Kedua komponen itu dilindungi oleh bagian kulit dan kerabang
telur dengan persentase berat masing-masing adalah kulit telur 1I%, kuning telur
32% dan putih telur 57%. Komposisi kimia telur ayam segar dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Kimia Telur Ayam Segar


Komposisi Kimia Telur Utuh Kuning Telur Putih ~ e l u r -
---------------o/o---------------

Air
Protein
Lemak
Abu 1,O 1,7 0,7
Sumber: Direktorat Gizi Departemen Kesehatan, 1979

Putih Telur
Menurut Powrie (1973), putih telur merupakan bagian pada telur segar
yang bersifat cairan kental tidak benuanla. Putih telur terdiri atas empat lapisan,
yaitu lapisan encer bagian luar (23,3%), lapisan kental (57,3%), lapisan encer
dalam (16,8%) dan kalaza (2,796). Bagian albumin diikat dengan- bagian kuning
telur oleh khalaza, yaitu serabut-serabut protein berbentuk spiral yang disebut
musin. Struktur albumin dibentuk oleh serabut-serabut protein yang terjalin
membentuk jala yang disebut ovomusin, sedangkan bagian yang cair diikat kuat di
dalamnya menjadi suatu bagian yang kental (Romanoff dan Romanoff, 1963).
Protein di dalam putih telur tnerupakan salah satu komponen yang terdapat
dalam jumlah besar. Beberapa jenis protein yang dikenal antara lain adalah
ovalbumin, konalbumin, ovomusin, globulin (GI, G2, Gj), ovomukoid,
flavoprotein, ovoglikoprotein, ovomakroglobulin, ovoinhibitor dan avidin.
Komponen protein putih telur yang lain meliputi : flavoprotein (8%),
ovoglikoprotein ( 5 % ovomakroglobulin (5%), ovoinhibitor (1%) dan avidin
(0,5%) (Powrie, 1973).
Pengetahuan komposisi kimia telur dan sifat-sifat fisikokimianya akan
berguna untuk menduga perubahan-perubahan yang terjadi pada telur selama
penyimpanan, pengawetan, pengeringan dan pendinginan telur. Perubahan-
perubahan komponen telur akan mencerminkan hilangnya fungsi dan keaktifan
bagian-bagian telur, seperti albumin untuk pengembang (daya buih) dan kuning
telur untuk penstabil buih (Powrie, 1973).

ALBUMEN/PUTIH TELUR KUNING TELUR

benih Blastodem

Iapisan kuning tdur


inner thin
Lapisan k u ~ n gtelur

KULIT TELURISHELL MEMBRAN KULIT/


MEMBRANE
Ruang uiJamluir cell
spang): cnlrnreous layer

Lapisan mammilarj
L Membran kulit Iuar/ourer
shell mcrnbru~~e

Membnn kulit &lam/


i m r stlet1 membrane

Gambar 1. Struktur Telur


Sumber :Buckle eta/., 1985
Effervescerzt
Effervescent didefinisikan sebagai bentuk sediaan yang menghasilkan
gelembung sebagai hasil reaksi kimia dalam larutan (Mohrle, 1989). Effervescent
juga dapat menghasilkan larutan yang jernih, rasa yang enak karena adanya
karbonat. Apabila diinginkan tablet menghasilkan larutan yang jenuh, maka obat
yang terkandung dalam tablet dapat larut pada pH netral atau pH sedikit alkalis,
dan semua pelincir atau aditif lain yang digunakan untuk mempermudah
pengempaan tablet hams dapat larut dalam air (Liebeman et a1.,1989).
Menurut Ansel (1989) flavored beverage effervescent adalah sediaan
effervescent yang digunakan untuk membuat minuman ringan secara praktis, yaitu
dengan cara mencampurkan tablet effervescent ke dalam air. Gas yang dihasilkan
saat pelarutan effervescent adalah karbondioksida sehingga dapat memberikan
efek sparkle (rasa seperti air soda). Reaksi yang terjadi pada pelarutan
effervescent adalah reaksi antara senyawa asam dan senyawa karbonat untuk
menghasilkan gas karbondioksida. Reaksi ini dikehendaki terjadi secara spontan
ketika effervescent dilarutkan di dalam air. Garam-garam effervescent biasanya
diolah dari suatu kombinasi asam sitrat dan asam tartrat daripada hanya satu
macam asam saja, karena pengguczan bahan asain tunggal saja akan
menimbulkan kesukaran. Apabila asam tartrat sebagai asam tunggal, granul yang
dihasilkan akan mudah kehilangan kekuatannya dan akan menggumpal. Asam
sitrat saja akan menghasilkan campuran lekat dan sukar menjadi granul.
Reaksinya adalah sebagai berikut :

H3C,jH507.H20 + 3 NaHC03 + Na3C6Hs07 + 4 H20 + 3 C02


Asarn sitrat Na-bikarbonat Na-sitrat air karbondioksida
H2C4H4O6 + 2NaHC03 + Na2C4H406 + 2 Hz0 + 2 C02
Asarn tartrat Na-bikarbonat Na-tartrat air karbondioksida

Reaksi di atas menunjukkan bahwa 3 moleku! natrium bikarbonat (NaHC03)


untuk menetralisir satu molekul asam sitrat.

A gram asam sitrat B gram natrium bikarbonat


--
Bobot Molekul (BM) asam sitrat 3 X Bobot Molekul (BM) natrium bikarbonat -
Reaksi tersebut tidak diharapkan terjadi sebelum tablet effervescent
dilarutkan, oleh karena itu perlu pengendalian kadar air bahan baku dan
kelembaban lingkungan agar tetap rendah untuk mencegah penguraian dan
ketidakstabilan produk. Ruang pencampuran bahan dan pencetakan yang memiliki
kelembaban malisimal 25% d m suhu maksimal 2 5 ' ~merupakan kondisi yang
baik untuk proses pembuatan tablet effervescent. Kelaruten yang tinggi
merupakan salah satu ha1 yang penting dalam pembuatan tablet effervescent agar
tablet dapat larut dengan cepat (Lieberman et al., 1992).
Produk effervescent yang beredar di pasaran meliputi dua produk, yaitu
granul dan tablet. Kebanyakan tablet digunakan pada pemberian obat secara oral
dan kebanyakan dari tablet ini dibuat dengan penambahan zat seperti : zat pengisi,
zat pengikat, zat penghancur, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok
(Ansel, 1989).

Granul
Granul adalah gumpalan-gumpalan dari partikel-partikel yang lebih kecil
dengan bentuk tidak merata dan menjadi seperti partikel tunggal yang lebih besar.
Umumnya granul dihasilkan dengan cara melembabkan serbuk .tau campuran
serbuk yang digiling. Granul yang dihasilkan tidak segera mengering seperti balok
bila dibandingkan dengan serbuknya, karena luas permukaan granul lebih kecil
dibandingkan serbuknya (Ansel, 1989).
Persyaratan yang hams dimiliki sebuah granula adalah bentuk dan warna
teratur, meiniliki distribusi butir yang sempit dan mengandung bagian berbentuk
serbuk lebih dari lo%, memiliki daya luncur yang baik, menunjukkan
kekompakan yang memuaskan, tidak terlampau kering(sisa lembab 3-5%) d m
hancur dengan baik dalam air (Voight, 1994). Granulasi dapat dibedakan menjadi
dua golongan besar, atas dasar digunakan atau tidaknya cairan untuk melamtkan
atau mengembangkan bahan pengikat, yaitu (a) granulasi basah bila menggunakan
caiian pengikat dan (b) granulasi kering bila seluruh bahan dicamp-tr dan dibuat
granul dalam keadaan kering (Lieberman et ul., 1992).
Evaluasi granul adalah suatu evaluasi terhadap bahan atau granul sebagai
bahan baku proses pembuatan tablet. Evaluasi granul ini sangat penting dilakukan
sebelum dilakukan proses pencetakan tablet, karena sifat massa tablet dapat
berpengamh pada tablet yang dihasilkan. Menurut Marshall (1989), sifat-sifat
karakteristik granul yang meliputi kemampuan pengempaan dan sifat aliran dari
bahan kasar akan memberikan pengaruh yang nyata pada pelaksanaan umtan
proses pentabletan dan sifat dari tablet yang dihasilkan.

Tablet
Tablet merupakan bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan
penambahan bahan tambahan farn~asi(obat-obatan) yang sesuai. Bentuk sediaan
tablet memiliki keuntungan, yaitu : (1) mempakan bentuk yang utuh dan
menawarkan kemampuan terbaik dari semua sediaan oral untuk ketepatan ukuran
serta variabilitas kandungan yang paling rendah, (2) ongkos pembuatannya paling
rendah, (3) bentuk sediaan oral yang paling ringan dan kompak, (4) bentuk
sediaan yang paling mudah dan mudah untuk dikemas serta dikirim, (5)
pemberian tanda pengenal produk pada tablet paling mudah dan murah, ( 6 ) bentuk
sediaan oral yang paling mudah diproduksi secara besar-besaran dan (7) bentuk
sediaan yang memiliki sifat pencampuran kimia, mekanik dan stabilitas
mikrobiologi yang paling baik. Kemgian tablet adalah beberapa obat tidak dapat
dikempa menjadi padat d m kompak, tergantung pada keadaan amorfnya,
flokulasi, atau rendahnya berat jenis (Lieberman et al., 1989).
Tablet-tablet dapat berbeda dalam ukuran, bentuk, berat, kekerasan,
ketebalan, daya hancumya, dan dalam aspek lainnya tergantung pada pemakaian
tablet dan metode pembuatannya. Proses pembuatan tablet dengan kualitas yang
baik dapat diperoleh dengan menambahkan zat tambahan. Akan tetapi, pemilihan
zat tambahan yang digunakan hams memperhatikan dosis, taraf dan sifat dari zat
tambahan (Ansel, 1989).

Bahan Baku Tablet Effervescent


Senyawa asam yang diperlukan dalam reaksi effervescent dapat diperoleh
dari tiga sumber utama yaitu asam makanan, asam anhidrida, dan garam asam.
Asam ini mempakan asam yang umum digunakan pada makanan dari secara alarni
terdapat pada makanan, contohnya adalah asam sitrat, asan tartrat, asam malat,
asam fumarat, asam adipat, dan asam suksinat (Liebeman et al., 1989).
Asam sitrat merupakan asam yang m u m digunakan sebagai asam
makanan dan harganya relatif murah. Asam ini memiliki larutan yang tinggi dan
7
tersedia dalam bentuk granular, anhidrous, dan bentuk monohidrat. Selain itu,
tersedia juga dalarn bentuk serbuk. Asam ini sangat higroskopis. Oleh karena itu,
penanganan dan penyimpanannya memerlukan perhatian khusus (Lieberman et
al., 1989).
Asam tartrat merupakan asam yang biasa digunakan sebagai sumber asam
effervescent. Asam tartrat kelarutannya lebih baik dan lebih higroskopis
dibandingkan asam sitrat. Kekuatan asamnya sama besar dengan asam sitrat
(Lieberman et al., 1989).
Senyawa karbonat yang paling banyak digunakan dalam formulasi
effervescent adalah garam karbonat kering karena kemampuannya menghasilkan
karbondioksida. Contoh garam karbonat adalah Na-karbonat, Na-bikarbonat, Na-
sesquikarbonat, Na-glisin karbonat, L-lisin karbonat dan arginin karbonat
(Lieberman et al., 1989). Natrium bikarbonat merupakan sumber utama penghasil
karbondioksida dalam sistem effervescent. Natrium bikarbonat larut sempuma
dalam air, nonhigroskopis dan harganya murah. Natrium bikarbonat sering juga
digunakan sebagai soda kue atau baking soda. Natrium bikarbonat dikenal juga
sebagai abu soda. Basa ini dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
effervescent (Liebeman et al., 1989).
Bahan pengisi diperlukan bila dosis tablet tidak cukup untuk membentuk
produk yang kompaklbulk (volume bahan yang terisi penuh tidak berongga pada
tablet). Pengisi dapat juga ditambahkan dengan alasan untuk memperbaiki daya
kohesi sehingga dapat dikempa langsung atau untuk memperbaiki aliran. Bahan
ini juga dimaksudkan untuk mencapai bobot tablet dan volume yang diharapkan.
Bahan pengisi yang biasa digunakan antara lain laktosa, glukosa dan
maltodekstrin. Hal-ha1 yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan pengisi
adalah sebagai berikut : (1) bersifat netral terhadap bahan yang berkhasiat; (2)
inert (stabil) secara fmakologi; (3) tidak boleh berbahaya, atau tidak tercampur
dengan bahan berkhasiat (Liebeman et al., 1989).
Bahan pengikat ditambahkan dalam formula tablet berfungsi sebagai
pengikat komponen-komponen tablet sehingga produk tidak pecah ketika
dikempa. Pemakaian bahan pengikat disesuaikan dengan bahan aktif, dalam
pembuatan tablet effervescent bahan pengikat yang biasa digunakan adalah PVP
(Polivinil pirolidon). Contoh bahan pengikat lain yang dapat digunakan adalah
gelatin, pasta amylum, sukrosa, avicel, dan lain-lain. Bahan pengisi dan bahan
pengikat ini ditambahkan dalam bentuk kering atau cairan selama granulasi basah
untuk membentuk granul atau menaikkan kekompakan kohesi bagi tablet yang
dicetak langsung (Lieberman et al., 1989).
Bahan penghancur ditambahkan untuk memudahkan pecahnya atau
hancumya tablet menjadi partikel-partikel kecil, sehingga luas permukaan
diperbesar dan absorbsi dipermudah. Bahan ini dapat ditambahkan pada saat
granulasi ataupun selama proses lubrikasi sebelum dicetak. Bahan penghancur
berdasarkan mekanisme kerjanya dibagi atas : (1) bahan penghancur yang daya
mengembangnya besar dalam air, contoh : Sodium starch glycolat, Ac-Di-Sol, dan
polyplasdon; ( 2 ) bahan penghancur yang dapat membentuk pori penetrasi air,
contoh : amylum, asam alginate, CMC Na; (3) bahan penghancur lain, misalnya
penghancur bersifat effervescent yang bekerja berdasarkan reaksi terbentuknya
gas bila dimasukkan dalam air (Lieberman et al., 1989).
Bahan pelincir, anti lekat dan pelicin mempunyai fungsi yang bersama
sehingga tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Suatu bahan anti lekat juga
memiliki sifat-sifat pelincir dan pelicin. Perbedaan ketiganya yaib-1, zat pelincir
diharapkan dapat mengurangi gesekan antara dinding tablet dengan dinding alat
pencetak, pada saat tablet ditekan ke luar dari alat pencetak. Anti lekat bertujuan
mengurangi melekatnya atau adhesi bubuk atau granul pada permukaan dinding
alat pencetak. Pelicin ditujukan untuk memperbaiki aliran serbuk atau granul
dengan jalan mengurangi gesekan diantara partikel-partikel. Bahan-bahan yang
biasa digunakan adalah talk 5%, tepung jagung 5-lo%, koloid-koloid silika seperti
Siloid, atau Aerosil0,25 - 3% (Lieberman et al., 1989).

Pembuatan Tablet Effervescer~i


Proses pembuatan tablet effervescent dapat dilakukan dengan tiga metode
yaitu metode granulasi kering, granulasi basah dan pencetakan langsung. Proses
pembuatan tablet effervescent pada penelitian ini adalah dengan menggunakan
metode granulasi basah.
Pada pembuatan tablet effervescent, suhu dan kelembaban/RH (relative
humidity) merupakan salah satu faktor yang sangat penting. RH yang rendah dan
suhu yang rendah sangat penting untuk mencegah proses granulasi dan
pembentukan tablet dari penyerapan uap air, yang bisa menyebabkan
ketidakstabilan tablet (Lieberman et al., 1989).
Tabletasi dilakukan setelah bahan obat dan bahan pembantu yang
diperlukan digranulasi, artinya partikel-partikel serbuk diubah menjadi butiran
granulat. Hasilnya berbentuk butiran-butiran, setiap partikel serbuknya memiliki
daya lekat, disamping itu daya alimya menjadi lebih baik, sehingga pengisian
ruang cetak dapat berlangsung secara kontinyu dail homogen (Voight, 1995).
Keseragaman bentuk granula menyebabkan pula keseragaman bentuk
tablet, sehingga akan dihasilkan massa tablet yang tetap dan ketepatan takaran
yang tinggi. Pada proses granulasi, luas permukaan total seluruh partikel serbuk
berkurang yang diikuti dengan penurunan daya adhesi (Voight, 1995).

Citarasa Jeruk Lemon


Buah jeruk lemon (Citrus lemon (Linn.) Burm.J) adalah jenis buah yang
tidak dapat langsung dikonsumsi. Pada unumnya diproses untuk menghasilkan
sari buah yang dapat diproses lebih lanjut menjadi konsentrat. Konsentrat jeruk
lemon dapat dijadikan sumber vitamin C (asam sitrat) (Heat dan Reineccius,
i966). Guenther (1990), mengungkapkan bal~.vaflavor minyak lemon digunakan
secara meluas dalam aneka jenis minuman, minuman ringan, bubuk dan tablet
minuman ringan, dan dalam produk makanan panggang seperti kue, pastries,
kembang gula, agar-agar, soft and hard centre candies. Penambahan flavor ke
dalam produk bertujuan untuk : (1) Memberi flavor pada produk yang tidak
memiliki flavor, (2) Memperkuat flavor yang l e i a h yang sudah terdapat dari
awalnya dan (3) Menggantikan flavor alami yang hilang pada waktu pengolahan
(Irwansyah, 2002).

Natrium (Na)
Natrium adalah kation utama dalam cairan ekstraseluler, 35-40% natrium
ada di dalam kerangka tubuh. Cairan saluran cerna, sarna seperti cairan empedu
dan pankreas, juga mengandung banyak natrium (Almatsier, 2002). Hampir
seluruh natrium yang dikonsumsi (3 hingga 7 gram sehari) diabsorpsi, terutama di
dalam usus halus. Natrium yang diabsorpsi dibawa oleh aliran darah ke ginjal.
Jumlah natrium dalam urin tinggi bila konsumsinya tinggi dan rendah bila
konsumsi rendah (Almatsier, 2002).
Makanan sehari-hari biasanya cukup mengandung natrium yang
dibutuhkan tubuh. Oleh karena itu, tidak ada penetapan kebutuhan natrium sehari.
Taksiran kebutuhan natrium sehari untuk orang dewasa adalah sebanyak 500 mg.
Kebutuhan natrium didasarkan pada kebutuhan untuk pertumbuhan, kehilangan
natrium melalui keringat dan sekresi lain. WHO (1990) menganjurkan
pembatasan konsumsi garam dapur (NaC1) hingga 6 gram sehari (ekivalen dengan
2400 mg natrium).

Maltodekstrin
Maltodekstrin didefinisikan sebagai produk hidrolisis pati (polimer
sakarida tidak manis) dengan panjang rantai rata - rata 5- 10 unit/molekul glukosa.
Maltodekstrin secara teori diproduksi dengan menggunakan hidrolisis terkontrol
melalui enzim (alfa-amilase) atau asam. Rumus umum maltodekstrin adalah
(C6HloOs),, Hz0 (Kennedy et al., 1995). Derajat polimerisasi (DP) dinyatakan
dengan kesetaraan dekstrosa (DE). Derajat polimerisasi didefinisikan sebagai
jumlah gula pereduksi total yang dinyatakan sebagai dekstrosa dan dihitung
sebagai persentase dari berat kering total (Biliaderis dan Eskin, i99ij.

Pengering Semprot
Master (1979) mendefinisikan pengeringan semprot sebagai proses
perubahan bahan dari bentuk cair ke bentuk partikel kering, oleh suatu
penyemprotan bahan ke dalam medium kering yang panas. Produk yang
dihasilkan dari pengeringan senlprot dapat b e ~ p tepung,
a butiran atau gumpalan
tergantung sifat fisik dan kimia bahan yang dikeringkan (Greenwald dan King,
1981). Pengering semprot mempunyai keunggulan dibanding dengan alat lain
yang sejenis yaitu produk jadi kering tanpa bersentuhan dengan permukaan logam
panas, suhu produk rendah meskipun suhu pengering tinggi, penguapan air terjadi
pada permukaan yang sangat luas sehingga waktu yang dibutuhkan untuk
pengeringan menjadi lebih cepat, produk akhir yang bempa bubuk memudahkan
penanganannya (Spicer, 1974).
Pengeringan semprot terdiri dari empat proses yaitu : (1) atomisasi bahan
sehingga dapat membentuk semprotan yang halus, (2) kontak antara partikel hasil
11
atomisasi dengan udara pengering, (3) penguapan air dan bahan, (4) pemisahan
bubuk kering dengan aliran udara yang membawanya (Master, 1979). Master
(1979), juga menyebutkan bahwa tingkat atomisasi bahan tergantung pada
beberapa faktor yaitu bentuk atomizer, kecepatan putaran, kecepatan aliran bahan
dan sifat bahan. Fungsi atomizer yaitu rnemecah bahan menjadi partikel yang
lebih kecil sehingga menghasilkan luas peimukaan yang lebih besar dan proses
penguapan yang lebih cepat (Heldrnan dan Singh, 1981).

Peniiaian Organoleptik
Penilaian organoleptik atau penilaian sensorik merupakan metode
penilaian yang sering digunakan karena dapat dilaksanakan secara cepat dan
langsung. Penerapan penilaian organoleptik dalam praktek nyata disebut uji
organoleptik yang dilakukan dengan prosedur tertentu. Sistein penilaian
organoleptik telah dibakukan dan telah dijadikan alat penilaian dalarn
laboratorium. Penilaian organoleptik sering digunakan sebagai metoda dalam
penelitian dan pengembangan produk pangan (Soekarto, 1985).
Pada penilaian organoleptik, indera yang berperan adalah indera
penglihatan, penciuman, pencicipan, peraba dan pendengaran. Indera yang paling
uniiln dig~iakanunhk penilaian penerimaan suatu makanan yaitu pencicipan dan
penglihatan, kemudian disusul perasa atau peraba. Selain itu untuk melakukan
penilaian organoleptik diperlukan panelis (orang yang menjadi anggota panel).
Panelis dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu panelis terbatas,
panelis terlatih, panelis agak terlatih, panelis tidak terlatih dan panelis konsumen.
Panelis dalam uji hedonik sebaiknya panelis tidak terlatih yang kemudian diminta
tanggapan pribadinya tentang kesukaan atau sebaliknya, ketidak sukaan dan juga
mengemukakan tingkat kesukaannya. Tingkat-tingkat kesukaan ini disebut skala
hedonik (Soekarto, 1985).
METODE

Lokasi dan Waktu


Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Januari sampai April 2007. Lokasi
penelitian dilakukan di pilot plant SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor,
Bagian Teknologi Hasil Temak, Fakultas Petemakan Institut Pertanian Bogor dan
Laboratorium Farmasi Angkatan Laut, Jakarta.

Materi
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah putih telur ayam segar
dan maltodekstrin sedangkan bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan
tablet effervescent dan analisis fisik adalah bahan pengikat polivinil
pirolidonIPVP, bahan peIincir polietilen glikol/PEG 6000, asam sitrat, asam
tartrat, natrium bikarbonat, bahan pemanis acesulfam, bahan pengisi (laktosa),
etanol 96%, khamir1Sacharomyces cerevisiae (femipan), essence citarasa lemon
(Keith Harris), pewarna kuning (tartrazine) dan alumunium foil.

Alat
Alat yang digunakan dalam pembu~jantablet effervescent putih teltu
adalah spray dryer merek Buche tipe B-190, oven tipe 11.15, ayakan (I 1 mesh),
desikator dan mesin pencetak tablet, sedangkan alat yang digunakan untuk analisa
terdiri atas gelas ukur 100m1, timbangan analitik dengan ketelitian 0,001 g, alat
penguji kekerasan (Erweka TBH 28), friabilator, jangka sorong, stopwatch, gelas
min'um, dan cawan.

Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok
(RAK) dengan kelompok periode waktu pembuatan tablet effervescent pada
minggu I, I1 dan 111. Perlakuan yang digunakan adalah konsentrasi effervescent
mix (nzirium -bikarbonat, asam sitrat dan asam tartrat) yang berbeda dengan
masing-masing konsentrasi yaitu: 55%, 60% dan 65%.
Model matematis (Steel dan Torrie, 1995) yang digunakan dalam
penelitian ini adalah :
Y-.
'J
= p + q + pj + ~ i j

Keterangan :
Yi : hasil pengamatan pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j

P : nilai rataan umum


Ti : pengaruh perlakuan konsentrasi effervescent mix ke-i

p, : pengaruh periode waktu ke-j

Eij : pengaruh acak pada perlakuan ke-i dan kelompok ke-j

Data pengamh perlakuan terhadap peubah yang diamati diuji dengan


analisis ragam (ANOVA) d m jika analisis menunjukkan pengaruh yang nyata
(P<0,05) maka akan diuji dengan uji Tukey (Steel dan Torrie, 1995).
Data hasil pengujian sifat organoleptik tablet effervescent putih telur
terhadap bentuk tablet, aroma, waktu larut, warna, rasa dan penilaian secara
keseluruhan dianalisis dengan menggunakan sidik ragam, tetapi data diuji terlebih
dahulu kenom~alannya.Hasil sidik ragam yang berpengaruh nyata (P<0,05) akan
dilanjutkan dengan uji Tukey (Steel dan Torrie, 1995).

Prosedur
Penelitian ini terdiri atas dua tahap. Tahap penelitian pendahuluan d m
tahap penelitian utama.

Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan ditujukan untuk mencari kelarutan terbaik dari
tepung putih telur dengan penambahan maltodekstrin pada konsentrasi: 5%; 10%;
15%; dan 20%. Hasil penepungan putih telur dengan kelarutan terbaik dan
memenuhi standar kelarutan bahan-bahan tablet effervescent (mudah larut dalam
air atau mudah dibasal~i oleh air) akan digunakm untuk mernbuat tablet
effervescent pada penelitian utama.

Persiapan Telur Segar. Telur yang digunakan merupakan telur ayam ras segar
berumur satu hari dengan kualitas AA atau A. Ciri-ciri fisiknya y a h kulitnya
tidak retak, bentuknya normal dengan nilai indeks Haugh Unit (HU) rata-rata
77,70 serta kisaran beratnya adalah 70 gram. Nilai Haugh Unit (HU) merupakan
perbandingan antara berat telur dengan tinggi putih telur. Telur diambil langsung
dari peternak ayam ras di daerah Darmaga, Bogor.

Pembuatan Tepung Putih Telur. Proses pembuatan tepung putih telur yang
dilakukan pada penelitian ini merupakan modifikasi dari Sukarno (1984).
Modifikasi dilakukan terhadap suhu pasteurisasi dan proses homogenisasi. Proses
pembuatan tepung putih telur yaitu : putih telur yang sudah dipisahkan dengan
kuningnya, dipasteurisasi, lalu difermentasikan dengan khamir S.cerevisiae
(fermipan) sebanyak 0,3% berat putih telur awal dan ditambahkan maltodekstrin
masing-masing pada setiap penepungan sebanyak 5%, lo%, 15% dan 20% berat
putih telur awal. Selanjutnya dihomogenkan selarna 5 30 menit dan dikeringkan
dengan menggunakan spray dryer dengan suhu inlet 1 8 0 dan
~ ~suhu outlet 11O'C.
Proses pembuatan tepung putih telur ini dapat dilihat pada Gambar 2.

I Putih Telur I
*
Pasteurisasi (menggunakan waterbath 5 7 ' ~ 5 menit)
1
Pendinginan pada suhu kamar
Penambahan Penambahan
khamir 0,3% ''4 maltodekstrin
Putih telur, khamir dan maltodekstrin
*
dihomogenkan 30 menit
4
Putih telur, kharnir dan maltodekstrin
difermentasi selama 3 jam

Dikeringkan dengan menggunakan alat


Spray Dryer dengan suhu inlet 180°C
dan suhu outlet 11O°C

Tepung putih telur

Gambar 2. Diagram Alir Pembuatan Tepung Putih Telur Hasil Modifikasi (Sukarno, 1984)
15
Penelitian Utama
Proses pembuatan tablet effervescent menggunakan metode granulasi
basah dengan perlakuan konsentrasi effervescent mix (natrium bikarbonat, asam
tartrat, asam sitrat) yang berbeda yaitu 55%, 60% dan 65%.

Pembuatan Tablet Effervesce~ztMetode Granulasi Basah. Metode granulasi


basah yang dilakukan meliputi pencampuran fase dalam dan fase lux. Tahapan
pembuatan tablet effervescent putih telur yaitu: (1) penimbangan bahan, (2)
pencampuran bahan fase dalam (NaHC03, PVP, laktosa, etanol), (3) pengayakan,
(4) pengeringan dengan suhu 50°-600c ,(5) pencampuran fase dalam dan fase luar
(asam sitrat, asam tartrat, tepung putih telur, acesulfam, tartrazine, citarasa
lemon), (6) pengayakan kering (7) pencetakan tablet. Formula yang digunakan
pada penelitian utama dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Formula Penelitian Utama


Bahan FI F2 F3
............................ o/O ...........................
Tepung putih telur 20 20 20
Effervescent mix :
NaHC03
Asam Tartrat
Asam sitrat
PVP
PEG 6000
Acesulfanl
Essence lemon
Pewarna
Laktosa
Total 100 100 100
Ketemngan : Persentase dihitung berdasarkan berat tablet yang diproduksi yaitu 2.5 gram. PVP,
NaHC03, laktosa dilarutkan dengan etanol 96% sebanyak 0,02 ml (menguap). F1,
E dan F3 adalah formula 1,2 dan 3.

Bahan fase dalam yang terdiri atas PVP, NaHCO3, laktosa dicampur dan
dilarutkan dengan menggunakan etanol 96% sebanyak 0,02 ml karena kerja bahan
pengikat (PVP) akan lebih efektif dalam bentuk cair. Penggunaan pelarut etanol
hams hati-hati tidak boleh terlalu basah dan tidak boleh terlalu kering. Apabila
dibasahi secara berlebihan biasanya menghasilkan granul yang terlalu keras untuk
dibuat tablet yang bagus, pembasahan yang kurang biasanya menghasilkan tablet
yang terlalu lunak
- dan cenderung mudah remuk. Campuran fase dalam tersebut
kemudian diayak dengan ayakan 11 mesh dan dikeringkan dengan menggunakan
oven bersuhu 50-60 OC selama 15 menit untuk menghilangkan pelarut yang
dipakai dan untuk mengurangi kelembaban sampai pada tingkat yang optimum.
Bahan fase luar yang terdiri dari tepung putih telur, asam sitrat, asam tartrat,
acesulfam, PEG 6000, essence lemon, tartrazine dicampur dan diayak kemudian
dimasukkan pada canlpuran fase dalam dan dicampur sampai rata lalu dicetak.
Proses pembuatan Tablet Effervescent dengan menggunakan metode granulasi
basah dapat dilihat pada Gambar 3.

NaHC03, PVP, Laktosa,


Etanol96% (fase dalam)

Dicampur dan diayak (1 1 mesh)


Tepung putih telur,

tartrat, acesulfam, PEG


Dikeringkan menggunakan oven dengan 6000, citarasa lemon,
suhc 50-60°C se!pmrl. 15 menit tartrazine (fase luar).

Campuran fase dalam dan fase luar

Tabletasi

I Tablet Effervescent Putih Telur

Gambar 3. Diagram Alir Pembuatan Tablet Effervescent Putih Telur


Peubah yang Diukur
Peubah yang akan diamati dalam karakteristik fisik sebelum pentabletan
yaitu uji kompresibilitas granul dan peubah yang digunakan untuk menentukan
kualitas tablet effetvescenr putih telur meliputi : visuallpenampakan umum
(Lachman et al., 1986), keseragaman bobot (Dep. Kes. RI,1979), kekerasan tablet
(Dep. Kes. RI, 1995), keregasadfriabilitas tablet (Dep. Kes. RI, 1995), ukuran
tablet (Dep. Kes. RI, 1979), dan waktu larut tablet.

Evaluasi Granul (Wells, 1987)

Kompresibilitas Granul. Lebih kurang 50 gram massa granul tablet dimasukkan


dalam gelas ukur 100 ml, lalu diukur volumenya (Vl). Berat jenis bulk = mN1.
massa dalam gelas ukur diketuk - ketuk sebanyak 300 kali dari ketinggian 2,s cm
sampai volume tetap (V2). Berat jenis mampat = mN2.

(Berat jenis mampat - Berat jenis bulk)


Kompresibilitas (%) = x 100%
Berat jenis man~pat

Kriteria Kompresibilitas :
40% : Istimewa 26-31% : Jelek
10- 15% : i3aik 32 - 37% : Sangat Jeiek
16 - 20% : Sedang > 38% : Sangat-Sangat Jelek
21 - 25% : Cukup Baik
Sumber : United State Pharmacopeia, 2005

Evaluasi Tablet Effervescent Putih Telur

Visual atau Penampakan Umum (Lachman ef al., 1986). Tablet yang


dihasilkan dinilai bentuknya secara keseluruhan oleh penulis, kemudian
ditentukan keadaan permukaannya (halus atau kasar, dan mengkilat atau tidak
mengkilat).

Keseragaman Bobot (Departemen Kesehatan RI, 1979). Sejumlah 20 tablet


ditimbang secara seksama satu persatu, kemudian dihitung bobot rata - rata dan
koefisien variasinya. Syarat dalam perhitungan keseragaman bobot yang sering
digunakal adalah range 3 - 5%, dengan standar i3%.
Kekerasan Tablet (Departemen Kesehatan, 1995). Tablet dimasukkan ke
dalam alat penguji kekerasan (Erweka TBH 28), kemudian alat diatur hingga
didapatkan angka atau nilai kekerasan dengan satuan kg/cm2 atau Kp. Tablet yang
baik kekerasannya antara 4 - 8 kg/crn2.

Keregasanmriabilitas Tablet (Departemen Kesehatan RI, 1995). Sejumlah


tablet yang telah ditimbang, dibebasdebukan dan dimasukkan ke dalam
friabilator, lalu diputar dengan kecepatan 25 rpm selama 4 menit. Tablet
dibebasdebukan kembali dan ditimbang. Selisih dihitung antara penimbangan
pertama dengan kedua dalam persentase adalah nilai keregasan tablet. Keregasan
tablet yang masih dapat diterima adalah sampai dengan 1%.

Ulturan Tablet (Departemen Kesehatan RI, 1979). Diameter tablet tidak lebih
dari 3x dan tidak kurang dari 1 113x tebal tablet. Pengukuran keseragaman tablet
dapat dilakukan dengan mengambil acak 10 tablet, kemudian diukur ketebalan
satu persatu dengan menggunakan alat jangka sorong atau alat ukur lainnya.
Rataan diameter dan tebal tablet dihitung nilainya dari hasil pengukuran tersebut.

Waktu Larut Tablet. Kelarutan diukur dengan menghitung waktu larut yang
diperlukan oleh tablet untuk suatu ukuran saji (serving size) sebanyak &u bvah
meaggunakan gelas ukur 500 ml. Tablet yang akan diukur waktu laritnya,
dimasukkan ke dalam 200 ml air dalam gelas ukur bersamaan dengan dimulainya
perhitungan waktu dengan menggunakan stopwatch. Tablet telah lan~tsempurna
jika reaksi effervescing telah selesai. Hal ini ditandai dengan telah melebumya
seluruh massa tablet menjadi larutan serta tidak muncul gelembung gas dalarn
larutan.

Penilaian Organoleptik (Soekarto, 1985). Sifat organ~leptiktablet effervescent


putih telur yang dihasilkan dianalisis dengan uji hedonik. Panelis memberikan
penilaian tingkat kesukaannya terhadap bentuk tablet, warna, aroma, waktu larut,
rasa dan kesan umux dari produk tablet yang dihasilkan. Skala yang digunakan !
sampai 7, yaitu (1) amat sangat tidak suka, (2) sangat tidak suka, (3) tidak suka,
(4) agak suka, (5) suka, (6) sangat suka dan (7) amat sangat suka. Pengujian
menggunakan panelis tidak terlatih sebanyak 50 orang.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan ditujukan untuk mencari kelarutan terbaik dari
tepung putih telur dengan bahan pengisi yang ditambahkan adalah maltodekstrin
pada konsentrasi: 5%; 10%; 15%; dan 20%. Hasil yang didapat dari penambahan
maltodekstrin 5% (87,84%), 10% (90,16%), 15% (92,42%) dan 20% (96,99%).
Penambahan 20% memiliki kelarutan terbaik, akan tetapi agar bahan tidak
kebanyakan bahan pengisi, sehiingga penentuan konsentrasi ditetapkan dengan
penambahan 15%, maka dijadikan patokan dalam membuat tablet effervescent
pada penelitian utama. Tepung putih telur yang dihasilkan mempunyai tekstur
halus dan penampakan wama krem. Aroma yang timbul dari tepung putih telur
adalah agak amis (bau khas telur). Gambar tepung putih telur yang dihasilkan
disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4. Tepung Putih Telur

Gambar 5. Tablet Tepung Putih Telur dengan Formula yang Berbeda


Penelitian Utama

Penelitian utama ini menggunakan perlakuan effervescent mix yang


berbeda yaitu formula 1 (55%), formula 2 (60%) dan formula 3 (65%). Perlakuan
yang diberikan diharapkan dapat memperbaiki karakteristik fisik dari tablet
effervescent putih telur yang dicetak. Gambar tablet yang dicetak dari ketiga
formula tersebut disajikan pada Gambar 5.
Hasil penelitian menunjukkan formula 1, 2 dan 3 memberikan pengaruh
yang tidak nyata (P>0,05) terhadap kompresibilitas granul, keseragaman bobot
tablet, kekerasan tablet, friabilitaskeregasan tablet, keseragaman ukuran tebal
tablet, keseragaman ukuran diameter tablet dan waktu larut tablet. Nilai rataan
karakteristik fisik tablet effervesceizt putih telur disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Nilai Rataan Karakteristik Fisik Tablet effervescent Putih telur


Peubah vang Diamati Formula 1 Formula 2 Formula 3 Rataan
Kompresibilitas granul (%)
Keseragaman bobot tablet (gram)
Kekerasan tablet (kg/cm2)
Friabilitaslkeregasan tablet (%)
Keseragaman tebal tablet (mm)
Keseragaman diameter tablet (mm)
Waktu larut tablet (menit)

Kompresibilitas Granul.
Kompresibilitas yaitu sifat fisik untuk membentuk massa yang stabil dan kompak
bila diberi tekanan (Lachinan et al., 1994). Pengujian kompresibilitas granul
menggunakan alat bulk density fester. Nilai rataan persentase kompresibilitas
granul dari ketiga formula terdapat pada Tabel 3. Rataan nilai persentase
kompresibilitas granul tablet effervescent putih telur dari ketiga formula yang
digunakan, yaitu sebesar 24,39%. Persentase kos~presibilitasgranul tertinggi
dihasilkan pada granul dengan formula 3, sedangkan formula 2 menghasilkan
persentase kompresibilitas terkecil. Namun, hasil sidik ragam menunjukkan
formula yang berbeda tidak memberikan pengaruh terhadap nilai persentase
kompresibilitas granul (P>0,05).
Berdasarkan kriteria Wells (1987), ketiga formula yang diujikan
menghasilkan granul effervescent putih telur yang memenuhi kriteria
kompresibilitas cukup baik. Kompresibilitas yang baik ditunjukkan oleh ukuran
dan bentuk partikel yang seragam sehingga akan memudahkan dalam pencetakan
<. dan menghasilkan tablet effervescent putih telur yang kompak pada saat dicetak.
Kompresibilitas yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kerapatan granul,
yaitu dari ukuran partikel dan bentuk partikel. Menurut Banker dan Anderson
(1994), partikel berbentuk bulat menyebabkan kerapatan bulknya meningkat,
sedangkan ukuran granul yang semakin besar menyebabkan kerapatan bulk
menurun. Granul yang keras dan padat memerlukan tekanan yang lebih besar
untuk menghasilkan massa yang kompak.

Evaluasi Tablet Effervescertt Putih Telur


Evaluasi terhadap tablet effervescent putih telur dilakukan untuk
mengetahui apakah tablet yang dihasilkan memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan atau tidak. Evaluasi yang diuji pada tablet efervescent putih telur
dengan formula yang berbeda meliputi visuallpenampakan umum, keseragaman
bobot, kekerasan, keregasan, keseragaman ukuran tebal, keseragaman ukuran
diameter dan waktu larut tablet.

VisualPenampakan Umum. Penampakan umum tablet eflrvescent putih telur


dilihat dari bentuknya yaitu tipis, keadaan permukaannya halus tetapi tidak
mengkilap. Tablet ini tergolong baik karena memiliki permukaan yang rata dan
halus, tidak kotor dan warnanya sama yaitu kuning.

Keseragaman Bobot. Keseragaman bobot merupakan parameter untuk


mengetahui variasi bobot dari tablet yang dihasilkan. Bobot tablet yang seragam
akan mengandung jumlah zat berkhasiat yang sama. Faktor utama yang
mempengaruhi keseragaman bobot yaitu keseragaman pengisian tempat
dikempanya granul menjadi :&let (die), yang berkaitan erat dengan sifat alir
massa tablet. Ansel(1989), menyatakan bahwa jumlah b h a n yang dimasukkan ke
dalam die yang akan ditekan menentukan berat tablet yang dihasilkan. Volume
bahan yang diisi granul ke dalam die harus disesuaikan dan alat hams diatur agar
diperoleh berat yang diinginkan. Pengaturan alat untuk memperoleh berat yang
diinginkan pada penelitian ini dilakukan selama proses pencetakan berjalan, baik
secara manual maupun otomatis.
Bobot tablet effervescent putih telur yang diharapkan dalam penelitian ini
adalah 2,50 gram. Nilai bobot tablet effervescent putih telur yang dihasilkan
berkisar antara 2,38 sampai2,53 gram dengan nilai rataan 2,47 gram. Hasil sidik
ragarn menunjukkan bahwa perbedaan formula tablet effervescent putih telur tidak
memberikan pengaruh terhadap keseragaman bobot tablet (P>0,05). Menurut
Departemen Kesehatan RI (1979) keseragaman bobot yang biasanya digunakan
adalah range 5 3-596, dengan standar i 33% (2,425 - 2,575 gram). Berdasarkan
kriteria Departemen Kesehatan RI (1979) tersebut, rataan keseragaman bobot
tablet effervescent sesuai dengan standar yang berlaku. Variasi bobot tablet yang
dihasilkan dapat disebabkan oleh ukuran dan distribusi ukuran granul yang tidak
tepat dan aliran yang buruk, sehingga menyebabkan jumlah massa tablet yang
masuk ke dalam cetakan berbeda-beda. Ukuran granul yang lebih besar dari
ukuran optimal untuk cetakan yang digunakan akan mempengaruhi variasi
besamya rongga antara granul saat pengisian die. Ukuran granul yang dihasilkan
adalah 11 mesh.

Kelterasan Tablet. Pengujian kekerasan pada peneiitian ini dilakukan terhadap


tablet yang sudah jadi. Pengujian terhadap kekerasan sangat dibutuhkan sebagai
parameter dari kekuatan mekanis tablet. Tablet effervescent putih telur umumnya
dirancang dengan kekerasan yang cukup agar cukup tahan terhadap guncangan
mekanis dan waktu hancur yang diharapkan relatif cepat.
Nilai rataan kekerasan tablet effervescent putih telur hasil penelitian adalah
5,48 kg/cm2 atau kP. Menurut Departemen Kesehatan RI (1995), kekerasan tablet
effervescent yang baik berkisar antara 4-8 kP. Kekerasan tablet pada formula 3
secara numerik mempunyai rataan yang cenderung lebih tinggi dibandingkan
dengan kedua periakuan yang lain. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa
perbedaan formuia tidak berpengaruh terhadap kekerasan tablet (P>0,05).
Kekerasan tablet ketiga formula memenuhi syarat kekerasan tablet menurut
Departemen Kesehatan RI (1995). Hal ini sangat dipengaruhi oleh penyetelan alat
pencetakan yang tepat.
FriabilitasKeregasan Tablet. Tablet dengan keregasan yang tinggi akan mudah
menjadi serbuk, sehingga dapat menimbulkan debu pada tempat produksi
dilakukan serta dapat menimbulkan variasi bobot tablet. Keregasan tablet dapat
menjadi salah satu kategori penilaian kemampuan terhadap bahan pengikat tablet.
Bahan pengikat yang digunakan pada penelitian ini sangat baik, karena
menghasilkan kehilangan bobot yang kecil. Ketahanan terhadap kehilangan bobot,
menunjukkan bahwa tablet tersebut mampu bertahan terhadap goresan ringan atau
kerusakan dalam penanganan, pengemasan dan transportasi (Ansel, 1989).
Hasil rataan keregasan tablet effervescent putih telur dari ketiga formula
yaitu 0,40%. Hal ini sesuai dengan standard Departemen Kesehatan RI (1995),
bahwa tablet effervescent hams memiliki friabilitas kurang dari 1%. Berdasarkan
sidik ragam, perbedaan formula tablet effervescent putih telur tidak memberikan
pengaruh terhadap keregasan tablet (Pz0,05).

Keseragaman Ukuran. Keseragaman ukuran merupakan salah satu parameter


yang mempengaruhi keseragaman sediaan. Semakin tinggi keseragaman ukuran
tablet yang dihasilkan, maka akan semakin baik kualitas tabletnya. Menurut
Departemen Kesehatan RI (1979), standard keseragaman ukurac tablet adalah
tebal table1 (TT)yaiiu berdiameter ridak lebih dari 3X dan tidak kurang dari 1%X
tebal tablet (1 %<TT<3).
Diameter tablet pada penelitian ini memiliki rataan sebesar 26,17 mm,
sedangkan tebal tablet pada setiap formula sedikit bervariasi dengan rataan 4,58
mm. Menurut Lachrnan et al. (1994), ketebalan tablet dapat di@ngaruhi oleh
jurnlah massa yang diisikan ke dalam die, kerapatan massa tablet yang dicetak
serta tekanan yang digunakan. Menurut Ansel (1989), untuk mendapatkan tablet
dengan tebal yang sama selama produksi dan diantara produksi untuk formula
yang sama, harus dilakukan pengawasan supaya volume bahan yang diisikan dan
tekanan yang diberikan tetap sama. Apabila tekanan pada mesin yang digunakan
konstan, mzka variasi ukuran tablet yang dihasilkan dipengzruhi oleh sifat alir
bahan tablet sehingga jumlah volume massa tablet harus terkontrol sampai
perbedaaii % 5%.
Tablet yang dicetak menghasilkan diameter yang konstan karena
dipengaruhi oleh ukuran die. Nilai yang tidak sesuai dengan standard dikarenakan
ketebalan dari tablet effervescent putih telur ini tergolong masih agak rendah, ha1
ini dipengamhi oleh bobot tablet yang diinginkan. Hasil sidik ragam
menunjukkan, bahwa perbedaan formulasi tablet effervescent putih telur tidak
memberikan pengaruh terhadap keseragaman ukuran tebal tablet maupun diameter
tablet (P>0,05).
Ketebalan tablet yang tidak sesuai dengan ketetapan, cukup berpengaruh
pada saat pengemasan tablet, apabila volume materi yang akan dikemas tidak
konsisten akan mengalami kesulitan dalam penggunaan inti dosis serta peralatan
pengemas yang lain. Perbedaan diameter dan ketebalan tablet yang dillasilkan
apabila dilihat dari segi fisik atau secara kasat mata tidak terlalu berpengaruh
terhadap bentuk dan daya terima konsumen.

Waktu Larut Tablet. Hasil rataan pengukuran waktu lamt dari tablet effervescent
putih telur dengan berat i 2,47 gram dalam 200 ml air adalah 7,67 menit. Apabila
dibandingkan dengan tablet effervescent yang dijual di pasaran, tablet effervescent
putih telur ini menunjukkan waktu larut yang sangat lama. Tablet effervescent
yang dijual di pasaran umumnya memiliki waktu larut 2 menit dalam 200 ml air
dengan berat satu tablet i 5 gram, ha1 ini sesuai dengar, pemyataan Liebeman el
ai. (1992), bahwa tablet effervescent akan hancur dan melebur dalam waktu 1 atau
2 menit.
Perbedaan waktu larut yang sangat lama ini disebabkan karena pada saat
proses pembuatan tablet effervescent ada beberapa tahapan metode granulasi
basah yang menggunakan RH atau kelembaban relatif i 25% dan suhu kamar
yaitu pada saat tahapan pengeringan, pencampuran fase luar dan pengempaan. Hal
ini dikarenakan alat yang tersedia pada mang dengan kondisi RH 25% dan suhu
2 5 ' ~tidak dapat digunakan untuk memenuhi produksi dalam skala penelitian
tetapi hanya dapat digunakan pada produksi dalam skala besar. Tablet effervescent
yang berada pada kondisi RH yang tinggi akan menyebabkan tablet dengan
mudah menyerap uap air dan menyebabkan asam dan basa (asam sitrat; asam
tartrat dan natrium bikarbonat) lebih mudah bereaksi menghasilkan C02 sehingga
saat dilarutkan daya karbonasinya sudah berkurang dan waktu larutnya menjadi
sangat lama.
Penilaian Organoleptik
Penilaian organoleptik berguna untuk mengetahui penerimaan panelis
terhadap produk yang dihasilkan. Uji organoleptik yang dilakukan adalah uji
hedonik. Uji hedonik dilakukan untuk mengetahui kesukaan panelis terhadap
produk yang dihasilkan dan memberikan kesannya sesuai dengan kriteria yang
disajikan (Rahayu, 1998). Uji hedonik yang dilakukan mencakup bentuk tablet,
aroma, waktu larut, warna, rasa dan penilaian secara keseluruhan. Skala hedonik
yang 'digunakan adalah 1 sampai 7, yaitu (1) amat sangat tidak suka, (2) sangat
tidak suka, (3) tidak suka, (4) agak suka, (5) suka, (6) sangat suka dan (7) amat
sangat suka dengan menggunakan 50 panelis tidak terlatih. Formulir uji hedonik
tablet effervescent putih telur dapat dilihat pada (Lampiran 1). Nilai rataan uji
organoleptik tablet effervescent putih telur disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Nilai Rataan Uji Hedonik Tablet effervescent Putih telur


Formula
Kriteria Penilaian
1 2 3 Rataan
Bentuk Tablet 4,80 + 0,69 4,82 + 0,62 4,80 + 0,60 4,81

Aroma 4,18*1,21 4,74*!,23 4,56*!,39 4>49

Waktu Larut 3,34+1,10 3,46*1,26 3,42+1,42 3,41

Wama 4,34 + 0,77 4,58 + 0,83 4,66 +,0,85 433

Rasa 4,10+1,07 4,06*1,00 4,18*1,04 4,ll


Penilaian Secara Keseluruhan 4,14 + 0,95 4,l4 + 0,90 4,36 + 0,94 4,2 1

Bentuk Tablet. Keadaan fisik pertama yang terlihat oleh konsumen adalah bentuk
tablet. Bentuk tablet effervescent putih telur hasil penelitian ini rnelnpunyai
diameter yang hampir sama dengan tablet effervescent yang banyak beredar di
pasaran, namun lebih tipis.
3asil rataan uji hedonik bentuk tablet menunjuidtan nilai 4,81 atau
mendekati nilai 5, artinya bahwa panelis suka terhadap bentuk tablet effervescent
putih telur ini. Hasil sidik ragam menunjukkan, bahwa dengan perbedaan formula
tidak mempengaruhi kesukaan panelis terhadap bentuk tablet (P>0,05). Hal ini
disebabkan karena semua formula menghasilkan tablet effervescent putih telur
berbentuk tipis, bulat dan berwarna kuning.

Aroma. Nilai rataan hasil uji hedonik terhadap aroma tablet effervescent putih
telur adalah 4,49 artinya panelis agak suka terhadap aroma yang ditirnbulkan oleh
tablet effervescent putih telur ini. Hasil sidik ragam menunjukkan, bahwa
perlakuan konsentrasi effervescent nzix yang digunakan tidak mempengaruhi
kesukaan panelis terhadap aroma tablet (P>0,05). Hal ini dikarenakan pada tablet
tersebut ditambalkan citarasa jeruk lemon, sehingga aroma amis yang dihasilkan
dari putih telur dapat tertutupi dan dapat diterima oleh panelis.

Waktu Larut. Waktu larut tablet adalah persyaratan utama yang harus dimiliki
ole11 tablet effervescent, sehingga harus diujikan ke panelis yang harapannya dapat
mengetahui penerimaan penelis terhadap produk ini. Hal ini dikarenakan, di
pasaran pada umumnya sangat menonjolkan waktu larut yang dimiliki oleh
produk tersebut.
Rataan nilai kesukaan panelis terhadap waktu larut tablet effervescent putih
telur adalah 3,41, yang berarti tidak suka. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa
perbedaan perlakuan konsentrasi effervescent mix tidak mempengaruhi kesukaan
panelis terhadap waktu larut tablet (P>0,05). Ketiga formula menghasilkan tablet
dengan waktu larut yang hampir sama dan cukup lama (5 7,67 menit), sehingga
tidak disukai oleh panelis. Hal ini disebabkan alat pengempaan yang tersedia pada
ruang RH 25% dan suhu 2 5 ' ~tidak dapat digunakan untuk memenuhi produksi
dalam skala penelitian tetapi hanya dapat digunakan pada produksi yang skala
besar, sehingga waktu larut menjadi lama dan mengakibatkan panelis kurang suka
terhadap produk.

Warna. Menurut Soekarto (1985), warna merupakan sifat produk yang paling
menarik perhatian konsumen dan paling cepat memberi kesan disukai atau tidak
disukai. Warna mempunyai arti dan peranan bagi suatu produk pangan antara lain
sebagai tanda kerusakan, petunjuk tingkat mutu dan pedoman proses pengolahan.
Warna suatu produk dapat dijadikan sebagai indikator bagi kesegaran/kematangan
produk tersebut, baik tidaknya cara pencampuran atau pengolahan, penyimpanan
dan pengawasan mutu produk. (Marliyati et aL, 1992).
Hasil rataan uji hedonik yang dilakukan panelis terhadap wama tablet
effervescent putih telur yaitu 4,53 berarti, bahwa panelis menyukai warna produk
tablet effervescent putih telur ini. Hasil sidik ragam menunjukkan, bahwa dengan
perlakuan perbedaan konsentrasi effervescent nzix yang berbeda tidak berpengaruh
pada kesukaan panelis terhadap warna tablet tablet effervescent putih telur
(P>0,05). Hal ini dikarenakan, wama yang dihasilkan, semuanya sama yaitu
kuning.

Rasa. Rasa merupakan salah satu faktor penentu daya terima konsumen
terhadap produk pangan. Hasil uji hedonik yang dilakukan memberikan nilai rata-
rata kesukaan panelis terhadap rasa minuman effervescent putih telur yaitu 4,11
yang berarti agak suka. Rasa yang dihasilkan dari perlakuan effervescent mix 65%
(formula 3) secara numerik mempunyai rataan yang cenderung lebih tinggi
dibandingkan dengan kedua perlakuan yang lain. Hasil sidik ragamnya
menunjukkan, bahwa perlakuan dengan konsentrasi effervescent mix yang berbeda
tidak mempengaruhi kesukaan terhadap rasa dari minuman effervescent putih telur
(P>0,05).
Rasa yang dihasilkan masih jauh berbeda dari rasa minuman effervescent
yang beredar dipasaran. Rasa manis dari tablet ini marih kurang begitu, maupun
dengan rasa asamnya sehingga panelis kurang begitu suka terhadap produk tablet
effervescent putih telur.

Penilaian Secara Keseluruhan. Penilaian secara keseluruhan diperoleh setelah


panelis menilai secara menyeluruh dari segi bentuk, aroma, waktu larut dan rasa
yang ditimbulkan oleh tablet effervescent putih telur. Penilaian ini adalah sebagai
bentuk penerimaan panelis terhadap produk yang baru ini.
Hasil rataan kesukaan panelis terhadap penilaian secara keseluruhan tablet
effervescent putih telur adalah 4,21. Artinya, bahwa panelis agak suka terhadap
produk tablet e,$"ervescent putih telur. Tablet effervescent yang dihasilkan dengari
menggunakan effervescent mix 65% (formula 3) lebih disukai dibanding kedua
perlakuan yang lain. Berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan, terlihat bahwa
perlakuan perbedaan konsentrasi .effervescent mix tidak berpengaruh terhadap
penilaian secara keseluruhan tablet effervescent putih telur (P>0,05).
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Pencampuran effei-vescenl mix sangat rnempengaruhi karakteristik fisik
putih telur. Hasil yang didapatkan bahwa tablet efervescent putih telur hampir
keseluruhan sesuai dengan standard Departemen Kesehatan RI yang ditetapkan
yaitu kompresibilitas granul (24,39%), keseragaman bobot tablet (2,47 gram),
kekerasan tablet (5,48 kg/cm2), friabilitas tablet (0,40%), keseragaman ukuran
teba1(4,58 mm) dan keseragaman ukuran diameter (26,17 mm), akan tetapi waktu
larutnya (7,67 menit) jauh dari standard tablet effervescent yang banyak beredar di
pasaran.

Saran
Tablet effervescent putih telur yang dihasilkan mempunyai kendala pada
waktu larut dari tablet tersebut. Oleh karena itu, disarankan agar memperbaiki
waktu larut dengan berbagai modifikasi, baik dari tepung maupun tabletnya.
UCAPAN TERIMAKASIH

Puji syukur selalu penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan hidayah, nikmat dan anugerah yang tak terhingga. Shalawat serta
salam tidak bosannya penulis sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW
beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya yang rnernbawa risalah Al
Islam hingga akhir zaman, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik.
Terimakasih penulis haturkan kepada kedua orang tua tercinta, bapak
Mundi Hartono dan ibu Khomsatun atas segala semangat, doa, kasih sayang,
kesabaran, nasehat dan semua bantuan baik materi, moral dan spiritual yang telah
diberikan. Terimakasih untuk kakakku Deny Susilo Hartono beserta kakak iparku
Fitriana Hayati yang selalu memberikan doa, petuah dan segalanya yang bisa
diberikan kepada penulis. Terimakasih juga untuk ustadz-ustadz yang selalu
mernberikan motivasi ruhiyah,jkriyah, tausiyah dan menzutaba 'aah selalu setiap
pekannya tentang perkembangan skripsi penulis.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Zakiah Wulandari, S.TP., M.Si.
selaku pembimbing utama skripsi, atas segala bimbingan, s x a n dan perhatian
yang telah diberikan pada penulis baik dalam penyusunan skripsi maupun
pembimbingan lomba PIMNAS. Terimakasih pula penulis ucapkan kepada
pembirnbing anggota skripsi Ir. B. N. Polii, SU atas birnbingan, saran dan
perhatian yang telah diberikan pada penulis selama penyusunan skripsi ini, tidak
lupa penulis sampaikan banyak-banyak terima kasih kepada Ir. Afton A., M.Si.
sebagai dosen pembimbing akadernik.
Ucapan jazakumullah penulis sampaikan kepada saudara-saudara LOJI,
I-D, MSI-D, MAZDA, DA-D, F3, BEM-D 2005-2006, tim PIMNAS UMM dan
UNILA (Dwi Yogo Wardoyo, Diah Rahayu Parnungkas, Niken Kumiawati dan
Ratnasari), kost Pondok Al Ihsan dan seluruh THT'40 terimakasih atas segala
ukhuwah, kcrja sama dan semangat yang diberikan. Kepada seluruh staf
Laboratoriurn Farmasi Angkatan Laut Jakarta (Pak Arsyadi, Pak Isnandar, Ibu
Yuli, Mbak Enna dan Mbak Tona), hagian Teknologi Hasil Ternak, Fakultas
Petemakan dan teknisi SEA FAST Center IPB (Pak Numanto) yang telah banyak
membantu dalam penelitian. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis, pembaca
dan umat ini.

Bogor, Maret 2008

Penulis
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Penerbit: PT Gramedia Pustaka


Utama, Jakarta.
Anggorodi, R. 1985. Kemajuan Mutakhir dalam Ilmu Makanan Ternak Unggas.
Penerbit: Universitas Indonesia, Jakarta.
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Terjemahan : Farida
Ibrahim. Edisi keempat. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Banker, G. S. Dan R. Anderson. 1994. Tablet. Dalam : L. Lachman, H. A.
Lieberman dan J. L. Kanig (Editor). Teori dan Praktek Farmasi Industri.
Edisi 11. Terjemahan : S. Suyatmi, Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Biliaderis, C. G. Dan N. A. M. Eskin. 1992. Carbohydrates. Dalam: Y.H. Hui.
(Editor). Encyclopedia of Science and Technology. Volume 1. John Wiley
and Sons, Inc., New York.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi
IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Greenwaid, C.G dan C.J.King. 1981. The effect of design and operating condition
on particle morphology for spray dried food. Journal Food Process
Engineering 4(3): 17.
Guenther, E. 1990. Minyak Atsiri I. Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Heat, H.B. dan G. Reineccius. 1986. Flavor Chemistry and Technology. Mac
Millan Publisher, Minnesota.
Heidman. R dan R.P.Sing11. 198i. Food Process Tech. The AVI Pubiishing. Co
West Port, Connecticut.
Hidayat, B dan A.B. Ahza. 2003. Optimasi proses produksi dan karakterisasi
maltodekstrin derajat polimerisasi moderat (DP 3-9) dari pati gandum.
Dalam: F.G Winarno, W. Lukito, Abdurracllim, M.M Ardana, dan B.
Wijaya (Editor). Kumpulan Hasil Penelitian Terbaik Bogasari Nugraha
1998-2001. Public Relation and Communication Departement PT. ISM
Bogasari Flour Mills, Jakarta.
Irwansyah. 2002. Upaya pemanfaatan limbah pengolahan jus jeruk lemon. Skripsi.
Fakultas Teknologi Pertanian. Insitut Pertanian Bogor, Bogor.
Kennedy, J. F., C. J. Knill dan D. W. Taylor. 1995. Maltodextrins. Dalam: M. W.
Keasley, dan S. Z. Dziedzic (Editors). Hand Book of Hydrolysis Product
and Their Derivates. Blackie Academic and Profesional, London.
Lieberman, H . A , L. Lachman dan J.B. Schwartz. 1989. Teori dm Praktek
Farmasi Industri. Volume 1. Marcel Dekker Inc. New York.
Liebeman, H.A., L. Lachman dan J.B. Schwartz. 1992. Pharmaceutical Dosage
Forms Vol 1. Marcel Dekker Inc. New York.
Marliyati, S.A., A. Sulaeman dan F. Anwar. 1992. Pengolahan Pangan Tingkat
Rurnah Tangga. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Marshall, K. 1989. Kompresi dan Konsolidasi Serbuk Bahan Padat. Dalam : L.
Lachman, H. A. Lieberman dan J. L. Kanig (Editor). Teori dan Praktek
Farmasi Industri. Edisi I. Tejemahan : S. Suyatmi, Universitas Indonesia
Press, Jakarta.
Martindale. 1989. The Extra Pharmacopoeia, 29'h edition. The Pharmaceutical
Press, London.
Master, K. 1979. Spray Drying Hand Book. John Wiley and Sons, New York.
Mohrle, R. 1989. Effervescent Tablets. Dalam: H.A. Lieberman, L. Lachman dan
J.B. Schwartz (Editors). Pharmaceutical Dosage Tablet. Volume 1, 2nd
Edition. Marcel Dekker Inc. New York.
Meirina, R. 2006. Pembuatan granul effervesce,zi susu kambing dengan metode
granulasi basah. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Pamungkas, D. R. 2007. Karakteristik Kimia dan Organoleptik Tablet
Effervescent Putih Telur Bercitarasa Lemon dengan Konsentrasi
Effeel.vescent Mix yang Berbeda. Skripsi. Fakultas Petemakan, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Powrie, W. D. 1973. Chemistry of Egg Products In: Stadelman, W.J., and Cotteril,
O.J. Egg Science and Technology. The AVI Publishing Co., Inc. West
Port, Conn.
Rahayu, W.P. 2001. Penuntun Praktikum Penilaian Organoleptik. Jurusan
Teknologi Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
?.amanoff, A.L dan A.J. Ramanoff. 1963. ?hc Avian Eggs. John Wiley and Sons,
Inc., New York.
Rusfidra, A. 2005. Urgensi Protein Hewani untuk Kecerdasan SDM. www.buna-
hatta.info/content.php?article.120. [1 1 Oktober 20051.

Said, N. 2005. Pembuatan tablet effervescent berbahan baku susu kambing sebagai
bahan tambahan (food supplement) dengan metode granulasi basah.
Skripsi. Fakultas Petemakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Sirait, C. H. 1986, Telur dan Pengolahannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Petemakan, Bogor.
Soekarto, S.T. 1985. Penilaian Organoleptik. Pusat Pengembangan Teknologi
Pangan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Spicer, A. 1974. Advances In Preconcentration and Dehidration of Food. Applied
Science Publ., Ltd. London.
Steel, R.G.D. dan J.H. Tome. 1995. Prinsip dan Prosedur Statistik. Terjemahan B.
Sumantri. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sukmo, 1984. Mempelajari sifat-sifat fisiko kimia tepung albumin telur ayam
leghorn putih selama penyimpanan. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farn~asi.Terjemahan : S.Noerono.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Wells, J. I. 1987. Pharmaceutical Preformulation : The Physicochemical
Properties of Drug Subtance. John Wiley and Sons, New York,
Chichester, Brisbane, Toronto.
WHO. 1990. "Diet Nutrition, and the Prevention of Chronic Diseases." WHO
Technical Report Series 797. Geneva: WHO.
Wills, R.B.H., Lim B.S.K., dan Orienfield, H.1985. Composition of Australian
foods. 28. citrus fruits. J. Food Technology in Australia Vol. 37. No.7,
Australia.
Winarn0,F.G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utarna,
Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Format Uji Hedonik Tablet Effervescerzt Putih Telur

Nama
Tanggal
jenis Contoh : Tablet Efervescent Putih Telur dengan Penambahan Citarasa Lemon
Instruksi : Nyatakan penilaian anda dengan menuliskan angka sesuai dengan
kriteria penilaian anda di bawah ini :

I 1. Amat sangat tidak suka

I 2. Sangat tidak suka

I 3. Tidak suka

I 4. Agak suka

I 5. Suka

1 6. Sangat suka
Lampiran 2. Analisis Ragam Uji Kompresibilitas Granul Tablet Effervescent
Putih Telur dengan Konsentrasi EflervescerttMix yang Berbeda
Sumber Jumlah Kuadrat
F hitung P
Keragaman DB Kuadrat Tengah
Perlakuan 2 6,69 3,48 0,18 0,842'"
Kelompok 2 113,26 56,63 2,93 0,164
Error 4 77,27 19,36 ....
Total 8 197,48
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata (P>0,05)

Lampiran 3. Analisis Ragam Uji Keseragaman Bobot Tablet Effervescerzt


Mix yang ~ e r b e d a
Putib Telur de&n ~C~nsentrasi~flervescent
Sumber Jumlah
Kuadrat F hitung P
Keragaman DB Kuadrat Tengah
Perlakuan 2 0.03735 0,01868 0.46 0.661'"
Kelompok 2 0100762 0,00381 0,09 0,9 12
Error 4 0,16262 0,04065
Total 8 0,20760
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata (P>0,05)

Lampiran 4. Analisis Ragam Uji Kekerasan Tablet Effervescertt Putih Telur


dengan Konsentrasi Effervescertt Miu yang Berbeda
Sumber Jumlah Kuadrat
DB P
Keragaman Kuadrat Tengah
Perlakuan 2 6,884 3,442 0,63 0,580'"
Kelompok 2 29,214 14,607 2,66 0,184
Error 4 21,982 5,496
Total 8 58,081
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata (P>0,05)

Lampiran 5. Analisis Ragam Uji FriabilitasKeregasan Tablet Effervescent


Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Mix yang Berbeda
Sumber Jumlah Kuadrat hilung
DB P
Keragaman Kuadrat Tengah
Perlakuan 2 0,03586 0,01793 0,61 0,586'"
Kelompok 2 0,88049 0,44025 15,06 0,014"
Error 4 0,11691 0,02923
Total 8 1,03327
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata (P>0,05)
n = berbeda nyata (P<0,05)

Lampiran 6. Analisis Ragam Uji Keseragaman Tebal Tablet Effervescei~t


-4'utih Telur dengan Konsentrasi Effervescent Miu yang Berbeda
Sumber Jumlah Kuadrat hitung
P
Keragaman DB Kuadrat Tengah
Perlakuan 2 0,8078 0,4039 1,19 0,394'"
Kelompok 2 11,4756 5,7378 16,83 0,011"
Error 4 1,3634 0,3408
Total 8 13,6468
Keterangan :tn = tidak berbeda nyata (P>0,05)
n = berbeda nyata (P<0,05)
37
Lampiran 7. Analisis Ragam Uji Keseragaman Diameter Tablet Effervesceltt
Putih Telur dengan Konsentrasi Effervescerzt Mix yang Berbeda
Sumber Jumlah Kuadrat F hitung P
Keragaman DB Kuadrat Tengah
Perlakuan 2 0.000289 0.000144 0.02 0.979'"
Kelompok 2 0i066422 0103321 1 4185 0,085
Error 4 0,027378 0,006844
Total 8 0,094089
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata (P>0,05)

Lampiran 8. Analisis Ragam Uji Waktu Larut Tablet Effervescettt Putih


Telur dengan Kousentrasi Effervescent Mix yang Berbeda
Sumber Jumlah Kuadrat hitung P
Keragaman DB Kuadrat Tengah
Perlakuan 2 0.1 169 0.0584 0.58 0.600'"
Kelompok 2 019525 014762 4174 0,088
Error 4 0,4019 0,1005
Total 8 1,4712
Keterangan :tn = tidak berbeda nyata (P>0,05)

Lampiran 9. Analisis Ragam Uji Organoleptik Tablet Effervescettt Putih


Telur dengan ~ i n s e n t r a s~yferve&etzt
i ~ i yang
x Berbeda
Sumber Jumlah Kuadrat
DB F hitung P
Keragaman Kuadrat Tengah
Perlakuan 2 1,613 0,807 0,93 0,397'"
Error 147 127,560 0,868
Total 1 4 9 , 129,173
Keterangan :tn = tidak berbeda nyata (P>0,05)