Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengambil sampel darah di daerah pembuluh darah vena bukanlah

pekerjaan mudah, tetapi begitulah tugas sehari-hari yang harus dilakukan oleh

seorang analis yang bertugas di laboratorium kesehatan. Meskipun terlihat sangat

sederhana, terdapat berbagai tahap yang harus dilakukan dengan benar apabila

ingin mendapatkan hasil yang sempurna (Kurniawan, 2013).

Tugas utama seorang phlebotomis adalah untuk mendapatkan spesimen

darah untuk tes diagnostik, baik dengan penusukan vena, penusukan kulit, atau

penusukan arteri. Tiap langkah dalam proses phlebotomi berpengaruh pada

kualitas spesimen dan sangat berperan dalam mencegah terjadinya kesalahan hasil

laboratorium, kecelakaan pada pasien dan bahkan kematian. Phlebotomi harus

melaksanakan tugasnya dengan kompeten yaitu pada saat mengumpulkan sampel

darah harus dengan sikap trampil, aman dan dapat dipercaya. Tujuan phlebotomi

adalah memperoleh sampel darah dalam volume yang cukup untuk pemeriksaan

yang dibutuhkan (Kurniawan, 2013).

Agar dapat diperoleh spesimen darah yang memenuhi syarat uji

laboratorium, maka prosedur pengambilan sampel darah harus dilakukan dengan

benar, mulai dari persiapan peralatan, pemilihan jenis antikoagulan, pemilihan

letak vena, dan teknik pengambilan. Persiapan pasien dan pengambilan sampel

1
merupakan awal tahapan pra analitik yang harus diperhatikan penerapannya

melalui teknik sampling yang benar (Kurniawan, 2013).

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari percobaan ini adalah bagaimana cara

pengambilan darah vena menggunakan wing needle ?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara

pengambilan darah vena menggunakan wing needle.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat

mengetahui cara pengambilan darah vena menggunakan wing needle.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Phlebotomy

Flebotomi atau dalam bahasa Ingris disebut Phlebotomy berasal dari kata

Yunani phleb dan tomia. Phleb berarti pembuluh darah vena, dan tomia berarti

mengiris/memotong (cutting). Dulu dikenal istilah venasectie (Belanda),

venesection (Inggris) (Kiswari, 2014).

2.2 Tujuan phlebotomy

Tujuan phlebotomy adalah memperoleh sampel darah dalam volume yang

cukup untuk pemeriksaan yang dibutuhkan, dengan menusuk vena (venipunctur)

dengan jarum dan peralatan pendukungnya. Agar mendapatkan darah untuk

pemeriksaan laboratorium maka harus memperhatikan proses pengambilan darah

tersebut diantaranya yaitu peralatan yang akan dipakai dan lokasi pengambilan darah

vena (Kurniawan, 2013).

2.3 Macam – Macam Tabung Vakum

1. Tabung tutup merah.

Gambar 2.3.1 Tabung Tutup Merah

Tabung ini tanpa penambahan zat additive, darah akan menjadi beku

dan serum dipisahkan dengan pemusingan. Umumnya digunakan untuk

3
pemeriksaan kimia darah, imunologi, serologi dan bank darah (crossmatching

test)

2. Tabung tutup kuning.

Gambar 2.3.2 Tabung Tutup Kuning

Tabung ini berisi gel separator (serum separator tube/SST) yang

fungsinya memisahkan serum dan sel darah. Setelah pemusingan, serum akan

berada di bagian atas gel dan sel darah berada di bawah gel. Umumnya

digunakan untuk pemeriksaan kimia darah, imunologi dan serologi

3. Tabung tutup hijau terang.

Gambar 2.3.3 Tabung Tutu Hijau Terang

Tabung ini berisi gel separator (plasma separator tube/PST) dengan

antikoagulan lithium heparin. Setelah pemusingan, plasma akan berada di

bagian atas gel dan sel darah berada di bawah gel. Umumnya digunakan untuk

pemeriksaan kimia darah.

4
4. Tabung tutup ungu atau lavender.

Gambar 2.3.4 Tabung Tutup Ungu

Tabung ini berisi EDTA. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan

darah lengkap dan bank darah (crossmatch)

5. Tabung tutup biru.

Gambar 2.3.5 Tabung Tutup Biru

Tabung ini berisi natrium sitrat. Umumnya digunakan untuk

pemeriksaan koagulasi (mis. PPT, APTT)

6. Tabung tutup hijau.

Gambar 2.3.6 Tabung Tutup Hijau

Tabung ini berisi natrium atau lithium heparin, umumnya digunakan

untuk pemeriksaan fragilitas osmotik eritrosit, kimia darah.

5
7. Tabung tutup biru gelap.

Gambar 2.3.7 Tabung Tutup Biru Gelap

Tabung ini berisi EDTA yang bebas logam, umumnya digunakan untuk

pemeriksaan trace element (zink, copper, mercury) dan toksikologi.

8. Tabung tutup abu-abu terang.

Gambar 2.3.8 Tabung Tutup Abu-abu Terang

Tabung ini berisi natrium fluoride dan kalium oksalat, digunakan untuk

pemeriksaan glukosa.

9. Tabung tutup hitam.

Gambar 2.3.9 Tabung Tutup hitam

Tabung ini berisi bufer sodium sitrat, digunakan untuk pemeriksaan

LED (ESR).

6
10. Tabung tutup pink.

Gambar 2.3.10 Tabung Tutup Pink

Tabung ini berisi potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan

imunohematologi.

11. Tabung tutup putih.

Gambar 2.3.11 Tabung Tutup Putih

Tabung ini berisi potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan

molekuler/PCR dan bDNA (Kiswari, 2014).

2.4 Definisi Wing Needle

Wing needle adalah ujung spuit atau jarum yang digunakan untuk

pengambilan secara vakum. Needle ini bersifat mudah diganti sehingga mudah

dilepas dari spuit sertacontainer vacuum. Penggantian needle dimaksudkan untuk

menyesuaikan denganbesarnya vena yang akan diambil atau untuk kenyamanan

pasien yang menghendaki pengambilan dengan jarum kecil.

Wing needle dilengkapi dengan saluran Fleksibel dan berfungsi

menghindarkan kerusakan pada sample karena guncangan selama prosedur

7
dilaksanakan. Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum “kupu-kupu”

hampir sama dengan jarum vakutainer seperti yang disebutkan di atas.

Perbedaannya adalah, antara jarum anterior dan posterior terdapat dua buah

sayap plastik pada pangkal jarum anterior dan selang yang menghubungkan

jarum anterior dan posterior. Jika penusukan tepat mengenai vena, darah akan

kelihatan masuk pada selang (flash) (Kiswari, 2014).

2.5 Indikasi (Kegunaan)

Karena wing needle memiliki ukuran jarum yang relatif kecil dan pendek,

makakegunaan dari jarum ini pun khusus. Tidak setiap vena diambil dengan

wing needle. Indikasinya adalah sebagai berikut :

1. Vena yang kecil pada anak-anak/bayi dan orang tua.

2. Penderita luka bakar yang cukup berat.

3. Untuk pengobatan IV (Intra Vena)

4. Pada seseoang yang memiliki vena tipis, rapuh atau diakses

5. Untuk meminimalkan nyeri ketika Insersi ideal pada Neonatus anak atau

lansia dengan vena yang rapuh dan tidak kuat (Kiswari, 2014).

2.6 Kelemahan Wing Needle

1. Aliran darah kurang lancar.

2. Darah cepat membeku dan menyumbat selang.

3. Kemungkinan hemolisis tinggi (Kiswari, 2014).

8
2.7 Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Pengambilan Darah Vena

1. Pemasangan torniquet yang terlalu lama dan keras dapat menyebabkan

hemokonsentrasi dan peningkatan kadar substrat. Jangan melepas torniquet

sesudah jarum dilepas karena dapat menyebabkan hematoma.

2. Jarum dilepaskan sebelum tabung vakum terisi penuh sehingga

mengakibatkan masuknya udara kedalam tabung dan merusak eritrosit.

3. Penusukan berkali-kali menyebabkan masuknya cairan jaringan sehingga

dapat mengakibatkan pembekuan dan berpotensi menyebabkan hematom

4. Kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol menyebabkan hemolisis sampel

akibat kontaminasi oleh alkohol, rasa terbakar dan nyeri pada pasien saat

dilakukan penusukan (Rusdin, 2015).

2.8 Masalah Yang Berkaitan Dengan Flebotomi

1. Pasien menolak untuk tindakan. Sebaikanya tidak memaksa untuk tetap

melakukan tindakan, melainkan dengan bijaksana meninggalkan ruangan,

selanjutnya melaporkannya kepada supervisor, disertai catatan alasan

penolakan tersebut.

2. Darah tidak terisap. Disebabkan ujung jarum tidak berada pada lumen vena,

kemungkinana karena tusukan kurang dalam atau sebaliknya terlalu dalam.

Bila kurang dalam, telusuri limen vena, sebaliknya bila terlalu dalam tariklah

sedikit jarum keluar.

3. Vena bergerak-gerak saat ditusuk. Lakukan penekanan pada sebelah

bawahnya sehingga cukup kuat untuk memfiksasi vena tersebut. Meskipun

9
jarum dapat leluasa menusuk ke segala arah, hindarkan tusukan yang

berulang-ulang karena hal tersebut dapat menyebabkan hematoma, terlebih

bila terjadi tusukan dinding vena pada kedua sisinya.

4. Volume darah yang terisap tidak cukup. Hal ini biasanya terjadi saat memakai

evacuated blood tube. Volume darah yang terisap kurang dari jumlah yang

dikehendaki, sementara takaran antikoagulan yang ada dalam tabung telah

disesuaikan dengan volume darah yang hendak diambil dalam jumlah tertentu

sehingga akan menyebabkan perbandingan antikoagulan dan darah menjadi

tidak tepat (antikogulan terlalu banyak) (Kiswari, 2014).

2.9 Macam – Macam Vena

1. Vena cephalica merupakan pembuluh yang terletak superficial dan tidak

sejajar dengan pembuluh nadinya. Tempat ini paling baik untuk

pengambilan darah.

2. Vena basilica, muncul dari sisi luar pada punggung tangan, membentuk

kurve sekitar sisi medial lengan (sebagai vena basilika lengan),

berkomunikasi dengan vena sefalika melalui vena kubiti median, dan

melewati ke sisi medial lengan untuk bergabung dengan vena aksilaris.

3. Median cubital, karena vena ini terletak lebih dekat dengan permukaan

kulit,cukup besar,dan tidak ada pasokan saraf besar (Kiswari, 2014).

10
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Pelaksanaan praktikum Phlebotomi dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 April

2019. Tempat pelaksanaan praktikum Pengambilan Darah Vena Menggunakan

Wing Needle dilaksanakan dilaboratorium Fitokimia Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan (STIKES Bina Mandiri Gorontalo).

3.2 Metode pengambilan darah vena

Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara

vakum. Cara manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syring),

sedangkan cara vakum dengan menggunakan tabung vakum (vacutainer).

3.2 Prinsip kerja

Pengambilan specimen dalam metode tusukan vena, dimana jarum

diarahkan 30° dan disesuaikan arah pada pembuluh vena mediana cubiti (pangkal

siku) serta posisi jarum menghadap keata, dengan menggunakan vacutainer.

pembentukan pembuluh darah vena dilakukan agar pembuluh darah tampak jelas

dan dengan mudah dapat ditusuk sehingga didapatkan sampel darah.

3.4 Pra Analitik

1. Persiapan Alat

Persiapan alat dan bahan yang digunakan adalah wing needle,

Torniquet, Kapas alkohol, Kapas kering dan Spuit 5 ml

11
2. Persiapan pasien

Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah; usahakan pasien

senyaman mungkin, Identifikasi pasien dengan benar sesuai dengan data di

lembar permintaan., Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi

obat. Catat bila pasien minum obat tertentu, tidak puasa dsb, Minta pasien

meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak melakukan aktifitas, minta

pasien mengepalkan tangan

3.5 Analitik

1. Menyiapkan peralatan yang akan digunakan.

2. Melepaskan bagian jarum yang berpelindung karet

3. Melapaskan jarum spuit

4. Memasang slang wing needle pada ujung spuit dengan cara memutar searah

jarum jam hingga kencang.

5. Melakukan perabaan (palpasi) pada lengan pasien untuk menemukan lokasi

vena yang akan ditusuk.

6. Pasang tourniquet kurang lebih 3 jari diatas liat siku.

7. Melakukan desinfeksi pada lokasi vena yang akan ditusuk, dengan

menggunakan kapas alkohol 70% dengan sekali usap.

8. Melakukan usapan dari dalam ke luar atau melawan arah jarum jam.

9. Menusuk bagian vena yang tampak pada permukaan kulit dengan lubang

jarum menghadap ke atas, dengan kemiringan antara jarum dengan kulit 15-

30°.

12
10. Setelah volume darah cukup, lepaskan tourniquet dan pasien diminta

membuka kepalan tangannya.

11. Lepaskan atau tarik jarum dan segera letakkan kapas kering diatas bekas

suntikan.

12. Menutup kembali jarum dengan penutupnya.

13
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan pada tanggal, 13 April

2019 di peroleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.1 Hasil Praktikum


No. Nama Sampel Gambar Keterangan

1. Darah vena Ciri-ciri darah yang

didapatkan yaitu berwarna

merah kehitam-hitaman

dengan volume darah yang

didapatkan yaitu 4 ml,

menggunakan spuit 5 ml.

4.2 Pembahasan

Pada pengambilan darah vena dengan menggunakan wing needle

dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan besarnya vena yang akan diambil atau

untuk kenyamanan pasien yang menghendaki pengambilan dengan jarum kecil.

Penggunaan Wing Needle dapat dilakukan pada vena yang kecil kuhususnya pada

anak-anak/bayi dan orang tua, penderita luka bakar yang cukup berat, dan pada

seseoang yang memiliki vena tipis dan rapuh.

14
Pada pengambilan darah vena menggunakan wing needle dapat

menggunakan vacutainer dan spuit, pada praktikum kemarin kami

menggunakan spuit yang berukuran 5 ml yang disambungkan pada wing needle.

Sebelum melakukan pengambilan darah vena menggunakan wing needle,

langkah pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan peralatan yang akan

digunakan. Kemudian melepaskan bagian jarum yang berpelindung karet,

kemudian melepaskan jarum spuit, kemudian memasang slang wing needle

pada ujung spuit dengan cara memutar searah jarum jam, Melakukan perabaan

pada lokasi vena yang akan ditusuk, tujuannya untuk mempermudah saat

melakukan pengambilan darah. Meminta pasien untuk mengepalkan tangannya.

Memasangkan tourniquet kurang lebih 3 jari diatas liat siku. Melakukan

desinfeksi pada lokasi vena yang akan ditusuk, dengan menggunakan kapas

alkohol 70% dengan sekali usap, tujuan menggunakan alkohol 70% yaitu untuk

membunuh bakteri yang terdapat di permukaan kulit, sedangkan alkohol yang

diatas konsentrasi 70%, hanya dapat membentuk gelembung gas, gelembung

gas tersebut yang akan membungkus bakteri sehingga bakterinya tidak dapat

terbunuh. Mengusapnya dari dalam ke luar atau melawan arah jarum jam,

tujuannya agar bakteri dapat terbawa keluar. Menusuk bagian vena yang

tampak pada permukaan kulit dengan lubang jarum menghadap ke atas, dengan

kemiringan antara jarum dengan kulit 15-30°. Ketika volume darah yang

diambil telah cukup sesuai volumenya, lepaskan torniquet dan pasien diminta

membuka kepalan tangannya. Langkah selanjutya yaitu lepaskan atau tarik

15
jarum dan segera berikan kapas kering dan menutup bekas suntikan

menggunakan plester. Kemudian setelah dilakukan pengambilan darah vena,

spuit yang telah digunakan diletakkan di safety box.

16
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam pengambilan darah vena, pembuluh

darah yang paling baik diambil pada pasien yaitu vena cephalica dan vena

median cubital, karena letaknya tidak sejajar dengan pembuluh nadi, lebih dekat

dengan permukaan kulit, cukup besar, dan tidak ada pasokan saraf besar.

5.2 Saran

Dalam memasang tourniquet, sebaiknya tidak terlalu lama dalam


membendungnya agar darah yang diambil dari pasien tersebut tidak rusak/lisis.

17
LAMPIRAN

Needle Destroyer Plester Kapas Alkohol

Tourniquet Savety Box Suntik 10 mL

Wing Needle

18